Tag Archive | Yonghwa

First Love Story

Title: First Love Story
Author: Kim Hwayeon (OC)

Cast:
Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Romance.
Rating: G
Length: oneshoot

Note:

Holla, ketemu lagi sama author. Maaf ya lama banget ga muncul. Lagi ga mood, tugas juga numpuk. Ini aja author bikin ngebut deh, kasian sama kalian yang menunggu terlalu lama *PD* hehe. Nanti I’m in Lovenya bakal author update lagi chapter selanjutnya. Tapi sabar ya. Author sibuk nih, banyak tugas sama ulangan, mana lagi galau berat juga. huhuhu sedih. Okedeh, malah jadi curcol wkwk. Langsung dicek aja. Maaf kalo pendek, dan kurang memuaskan. Author bikinnya sambil teler nih. ngantuk hihi. Awas typo bertebaran. oke.

Happy reading, jangan lupa kasih jejak dongse~

pay pay

-o0o-

Apakah sebenarnya cinta itu? Aku rasa aku mencintaimu, tapi entahlah. Aku sendiripun bingung mendeskripsikan perasaanku sendiri.
Aku merasa begitu terpesona akan dirimu, kau sudah seperti candu bagiku. Sehari tanpa melihatmu membuatku gila. Tidak bersamamu membuatku sakit, tapi melihatmu tidak bahagia bersamaku membuatku hancur. Apa perasaan seperti itu bisa didefinisikan sebagai cinta? Kalau iya, bolehkah aku menyimpan perasaan cinta itu untuk diriku sendiri?

Bolehkah? Bolehkah aku bersikap egois seperti itu? Bolehkah aku memiliki hatimu? Aku tau aku tidak bisa memiliki ragamu, tapi bisakah kalau hatimu menjadi milikku saja?

Apakah aku salah? Apa perasaanku ini salah? Apa aku tidak berhak memiliki perasaan ini? Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa harus kita yang menjalani takdir seperti ini?Aku mencintaimu, Kau pun mencintaiku. Tetapi kenyataannya, takdir berkata lain.Kita tetap tidak bisa bersama.
Aku sudah berusaha, sungguh. Aku sudah mencoba, aku sudah berjuang. Tapi tetap, aku tidak bisa mencurangi takdir.Pada akhirnya kau akan tetap pergi, meninggalkanku disini sendirian dengan serpihan serpihan hatiku yang patah, dengan beribu ribu kenangan dan jutaan mimpi kita yang terpendam.

Aku merasa begitu lemah. Aku merasa begitu tak berdaya. Ingin rasanya aku mencegahmu melangkah pergi dari genggamanku. Tapi apa daya? Apa yang bisa kulakukan? Melarangmu pergi? Tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak akan melarangmu untuk pergi. Aku akan membiarkanmu pergi.
Walaupun aku tidak rela, walaupun aku sakit, walaupun aku hancur. Aku tetap tidak akan melarangmu untuk pergi. Karena aku mencintaimu, aku menghargai keputusanmu. Jadi pergilah, aku berjanji akan berusaha melepasmu.
Tapi satu hal… aku mohon dengan sangat. Biarkan aku memilikimu, sebentar saja. Aku janji hanya sebentar. Setelah itu, aku tidak akan menuntut apapun darimu… aku berjanji

.

“Aku dijodohkan” dua kata itu otomatis membuat seluruh kinerja tubuhku berhenti seketika.

“M-maksudmu?”
“Aku dijodohkan, aku akan segera menikah…” aku diam dan menatap kedalam matanya, mata yang biasanya selalu menyorotkan kehangatan kini telah lenyap digantikan dengan mata yang penuh sorotan ketidakberdayaan.

“T-tapi kenapa?” aku menundukkan kepalaku, tak sanggup lagi menatap matanya. “Kenapa tiba-tiba? Kenapa sekarang? Kau membhongiku kan?” tanyaku penuh harap. Aku membuka mataku dengan segera, kembali menatap matanya. Mata yang biasanya selalu meneduhkan hatiku. Aku berharap ia segera mengatkn kalau ia hanya bercanda, karena lelucon ini benar-benar tidak lucu.

Aku menggigit bibirku, menelan segumpal kekecewaan saat aku melihat matanya. Mata yang selalu kukagumi, mata yang selalu membuatku… jatuh cinta, kini tidak lagi memancarkan sinarnya. Aku menunduk, hatiku sakit… tentu saja. Ingin rasanya aku berteriak tept didepan wajahnya, supaya ia mau mengakui kalau ia memang sedang berbohong. Atau mungkin saja ini kejailannya, seperti kamera tersembunyi mungkin? Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Kenapa? Karena matanya mengatakan semuanya. Dia tengah berkata jujur, dan dia sama terlukanya dengan diriku sendiri. tentu saja.Aku sekarang bahkan tidak memiliki tenaga lebih hanya untuk mengangkat kepalaku dan menatapnya.

“Tapi kenapa?” Aku membawa kedua telapak tanganku untuk menutupi wajahku, menyamarkan air mata yang tiba-tiba saja menerobos keluar dari dalam pelupuk mataku. Menjebolkan pertahananku yang selama ini kupertahankan mati-matian. Aku tidak mau ada yang melihatku menangis, melihatku rapuh, terlebih lagi… orang yag ku cintai. “A-aku tidak mengerti. Ini semacam pernikahan bisnis. Aku juga tidak tau! Aaarrghh!!! Kumohon, mengertilah.. aku- aku juga bingung. Aku juga terluka…” Oke, kali ini aku benar-benar menangis. Pertahananku benar-benar runtuh.
Mendengar suaranya yang penuh akan sarat kesedihan membuatku semakin terluka. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan isakanku sekuat tenaga agar ia tidak bisa mendengarnya.
Aku menahan tanganku kuat-kuat saat tiba-tiba saja kedua pergelangan tanganku di genggam olehnya dan memaksaku memperlihatkan wajahku. Aku menatap sendu kearahnya sambil tetap mengigit bibirku saat ia berhasil menyingkirkan tanganku dari wajahku, memperlihatkan wajahku yang sudah pasti berantakan oleh air mata. “Sayang…” lirihnya pelan sambil memaku mataku.
Tubuhku bergetar hebat, aku terguncang. Jelas saja, aku tidak bisa. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini?

Aku kembali menunduk, akhirnya membiarkan isakan yang sudah kutahan sedari tadi terlepas begitu saja di hadapan orang yang kucintai, untuk yang pertama kalinya. “hiks… hiks.. hiks.. o-oppa.. oppa hiks hiks.. op-pa hiks hiks.”

Tangisanku bertambah keras saat tiba-tiba saja Kyuhyun oppa merengkuhku. Mendekapku dengan erat di dalam rengkuhnnya. Memberikanku kehangatan, kehangatan favoritku… yang sebentar lagi tidak akan pernah kurasakan lagi.. Memikirkan kalau sebentar lagi ia akan dimiliki oleh yeoja lain sungguh membuatku tertekan. Apa yang harus kulakukan? Hatiku sakit sekali. Sangat sakit. Sungguh.

Aku mengeratkan pelukanku ditubuhnya. Menenggelamkan kepalaku semakin dalam di dada bidangnya. Membiarkan diriku sendiri terlena di dalam kenyamanan ini. Entah sudah berapa lama aku menangis di dalam rengkuhannya, ia sama sekali tidak protes. Semua yang ia lakukan hanyalah mendekapku erat seolah olah akulah yang akan pergi meninggalkannya, mencium puncak kepalaku, dan mengelus elus rambutku sambil mengucapkan kata ‘mianhae’, ‘saranghae’, dan ‘uljima’.
Saat akhirnya aku sudah sedikit tenang, aku tetap diam di posisiku. Sama sekali tidak berniat untuk melepaskan diri dari kehangatan yang Kyuhyun oppa berikan. Aku sepenuhnya bertopang padanya, karena tubuhku rasanya sudah lemas sekali dan kepalaku sudah pusing. Aku benar-benar sudah terlalu banyak menangis.

“oppa…” panggilku pelan. “hmm?” jawabnya lembut. Aku menguatkan hatiku sebelum aku mengungkapkan pertanyaanku. Sepertinya aku harus bersiap menangis lagi, mataku bahkan sudah terasa perih lagi. “Berapa lama lagi?” setelah aku menanyakan hal itu, aku dengan segera kembali menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Sama sekali tidak siap dengan jawaban yang akan ia lontarkan.

Hening

Aku bisa merasakan tubuhnya menegang. “3 bulan”, jawabnya pelan. Aku memejamkan mataku, lagi lagi mataku terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum. Tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan sakitnya hatiku. Seperti di tikam oleh sebilah pisau ribuan kali. Hatiku, benar-benar terasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak aku ingin menjerit. Tapi lagi lagi yang keluar dari mulutku hanyalah isak tangis.

Aku kembali hancur, kembali terluka, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya. Tidak dengan luka yang satu ini. “Jangan menangis lagi, kumohon… kau sudah terlalu banyak menangis. Kumohon sayang… kumohon..”

Akhirnya aku meledak, bagaimana mungkin dia melarangku menangis di saat yang bisa kulakukan hanyalah menangis? “Hikss..hiks..hikss, kenapaa? Bagaimana b isa hal seperti ini terjadi?? Kenapa hiks kau baru memberitahuku? Hiks hiks kenapa?? KENAPA?!!!!” aku menjerit kalap. Aku memberontak di dalam dekapannya. Mencoba memukul dadanya dengan membabi buta, mencoba lari dari dekapannya.

Aku benar benar merasa hancur. Bagaimana bisa dia memberitahuku selambat ini. Bagaimana mungkin dia… bagaimana…

“mianhae, aku tidak sanggup memberitahumu lebih awal. Aku-“ aku memejamkan mataku, mencoba mengerti maksud semua ini. Tapi…

Tapi tetap saja, hatiku terasa sangatlah sakit. “mianhae.” Ujarnya lagi pada akhirnya. “Haaaaaaaaahhhh!!! Kenapa harus kita yang mengalami hal seperti ini?! Kenapa harus kita?! KENAPA?!!??” aku menggenggam erat kemejanya,kembali mencoba untuk menjauhkan diriku dari dirinya.

“Hentikan jebal” lirihnya pelan sambil berusaha untuk kembali mendekapku yang terus saja memberontak. “KUMOHON HENTIKAN! TIDAK HANYA KAU YANG MENDERITA! TIDAK HANYA KAU YANG TERLUKA! AKU JUGA SAKIT! AKU JUGA MENDERITA! AKU JUGA TERLUKA! Chagi jebal.. mengertilah… aku tau ini sulit tapi-“

“TIDAK!!! AKU TIDAK MAU!!! DIAM!!! JANGAN TERUSKAN!!! AAAAAAAAAAHHHH!!!!” aku berteriak keras, berusaha menutup kedua telingaku agar tidak bisa mendengar semua yang ia katakan. “chagi-“

“KUBILANG DIAM!!!” teriakku kalap. Aku tau dia juga terluka, aku tau dia juga menderita. Tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa. Ini terlalu tiba-tiba, terlalu berat, terlalu-”

Cup!

“Ennghhhh” aku meremas erat kemejanya. Kyuhyun oppa menciumku, tidak menciumku dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan. Ia menciumku dengan kasar, penuh akan sarat kekecewaan. Aku tau dia melampiaskan semuanya dalam ciumannya ini.
Air mataku mengalir begitu saja di tengah semua ini, aku memejamkan mataku. Melingkarkan tanganku di lehernya, dan mulai membalas ciumannya. Aku semakin mengeratkan rengkuhan tanganku dilehernya saat aku mendengarnya mengerang frustasi akibat ulahku yang berani membalas ciumannya. “chagiiii” desahnya frustasi saat ia melepaskan ciumannya. Ak menatapnya, menatap matanya. “Jangan berani-beraninya kau melakukan hal itu pada namja lain selain aku.” Ujarnya gusar.

Aku tersenyum samar, si posesif kembali menampakkan diri rupanya. “Tentu saja oppa. Aku tidak akan melakukan itu pada namja lain” tentu bukan? Karena hanya dia satu-satunya orang yang ku cintai. Dialah cinta pertamaku, dan aku benar-benar berharap dia jugalah yang menjadi cinta terakhirku. Aku benar-benar mengharapkan sebuah keajaiban.
“Shit!” lirihnya frustasi. “Bagaimana mungkin aku menjadi lelaki brengsek seperti ini? Aku akan menikah tidak lama lagi, tapi aku bahkan tidak bisa merelakan kau bersama namja lain. Aku bisa gila jika melihatmu bersama dengan namja lain sayang. Aku benar-benar tidak bisa, aku-“

Cup

Aku tersenyum saat melihat matanya membulat sambil menatapku. “Tenanglah, hanya oppa. Aku berjanji.” Well, aku tidak mengatakan ini hanya untuk menenangkannya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memiliki rencana, sebenarnya… ini rencana teregois yang pernah terpikirkan olehku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berfikir hal lain. Mungkin suatu saat aku akan menyesal, atau mungkin saja tidak. Aku tidak tau. Tapi yang aku tau sekarang, aku yakin dengan pilihanku, dan aku tidak akan menyesal. Mungkin sekarang aku memang tidak tau bagaimana ini akan berlanjut, tapi aku yakin. Semuanya akan berakhir dengan baik, entah bagaimana hasil akhirnya.. aku akan menerimanya, walaupun aku tidak bisa. Aku harus bisa. Entah bagaimanapun caranya…

Aku tidak memungkiri kalau aku juga bahagia saat melihat binar-binar kebahagiaan dimatanya setelah aku mengucapkan janjiku tadi. “Aku benar mencintaimu, ya Tuhan. Aku tidak sanggup melepasmu.” Ucapnya lirih sambil lagi-lagi membawaku ke dalam rengkuhannya. “aku tau, aku juga mencintaimu.”

“Aku benar-benar ingin memiliku.. hanya untukku” aku menghela nafas. Aku juga menginginkan hal yang sama. Hal yang tidak mungkin bisa kudapatkan.. “Kalau gitu lakukanlah…” ucapku pelan. Aku mendongak, menatap wajahnya yang mengernyit bingung. “Lakukan? Lakukan apa maksudmu?”
Aku menghela nafas. Kenapa dia bodoh sekali? Masa aku harus jelaskan? Kan malu! Ish!
“Lakukan.. Kau bilang kau ingin memilikiku hanya untukmu bukan? Kalau begitu, lakukanlah.. “ aku menguatkan diriku sendiri saat melihat matanya melotot horror padaku. Sepertinya dia sudah mengerti maksudku. “You’re kidding me.” Ucapnya tak percaya. Aku tersenyum meyakinkan, “No. I’m serious”

Aku melihatnya mendesah frustasi, lalu mengacak” rambutnya kasar. “Dengar, walaupun aku menginginkan hal itu, bahkan sangat, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau merusakmu! Aku bahkan akan menikah tidak lama lagi, demi Tuhan. Tidakkah kau berfikir kalau aku semakin tidak akan bisa melepaskanmu setelah kita melakukannya? Lalu bagaimana kalau kau hamil? Aku pasti akan bertanggung jawab, tapi bagaimana bisa aku bertanggung jawab kalau- ya Tuhan! Kau tau keadaannya! Kenapa kau malah mengajukan- aish!” aku sungguh tidak menyangka kalau reaksinya akan seperti ini.

Maksudku, dia selalu sangat mesum. Tapi kenapa begitu aku menawarkan diri dia malah seperti ini. Aku mengerti juga sih sebenarnya. Aku juga tidak tau ide gila ini berasal dari mana. Tapi aku juga ingin dia memilikiku, manandaiku sebagai miliknya. Waalaupun dia tidak bisa menjadi milikku, setidaknya dia memiliku.

Oh Tuhan, aku tidak tau kalau aku bisa mempunyai pikiran sekotor itu.

“Aku tau.. aku mengerti, tapi aku ingin kau memilikiku…”
Aku melihatnya menaikkan sebelah alisnya, “Yah, tapi kau sudah menjadi milikku tanpa kita harus melakukannya.” Huh, bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu jika dia sendiri terlihat tidak yakin dengan jawabannya sendiri. “Jadi kau tidak mau?” tanyaku datar.

“Tidak!” bah, sok tegas sekali. Kita lihat saja siapa yang kalah huh.
“Kau yakin?”

“Ya!”
“Serius?”

“Tentu saja.”
“Yasudah.”

“Mwo?”
“Aku bilang yasudah.”

“…”
“Kalau kau tidak mau, yasudah. Aku mau pergi saja, aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang dia mau me-“

“APAAAA???!!!??” aku tersentak kaget saat mendengar teriakannya. Apa-apaan dia itu.
“Aku bilang.. aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang mau mengajakku ma-“

“SIAPA YANG BILANG KAU BOLEH PERGI DENGAN NAMJA THAILAND ITU EOH? KAU SELINGKUH DENGANNYA?! YANG BENAR SAJA?!? APA BAGUSNYA NAMJA ITU!”

“Dia? Ehh.. dia tampan, tidak kalah tampan daarimu kok, dia juga tinggi, dia juga pandai bermain music, dia juga tidak kalah pintar dengamu, lalu-“

“YAK! KENAPA MALAH DI JAWAB PABBO?!” haduuh, kenapa dia berteriak terus sih? Aku kan tidak budek. Dasar namja bodoh.

“Loh? Oppa kan bertanya.” Jawabku bego

“ya tapi kan- aish! Tidak boleh! Kau harus disini bersamaku! Batalkan saja janjimu dengan namja Thailand itu!” cih, kecemburuannya itu benar-benar menggelikan hahaha. Padahal aku kan hanya bercanda, hihihi. Makan itu Cho Kyuhyun! Huh!

“shireo. Kau kan tidak mau tadi, aku sama nickhun oppa saja.” Ucapku memanasi. Ha, aku yakin dia akan mencak-mencak tidak karuan deh. Dasar bodoh, tidak mungkin aku akan kabur bersama namja lain sedangkan ada kau disini. Orang yang kucintai, yang bahkan hanya bisa kumiliki dalam kurun waktu yang sangat singkat. Hah…

Grep!

Brukk!!

“Awwhh.. appo..” ringisku pelan. Aku melotot pada Kyuhyun oppa, hendak memarahinya karena mendorongku tiba-tiba sampai punggungku membentur tembok. Oke, aku telan lagi semua kalimat celaan yang baru saja ingin ku lontarkan saat aku melihat sorot matanya yang begitu tajam. O-ow, dia benr-benar marah karena cemburu sepertinya.

Matilah kau, Kim Hwayeon.

“Kau benar-benar minta di makan rupanya eoh?”

Glekk

Mwoya, kenapa dia serius sekali? Lagipula, siapa juga yang minta di makan? Cih, menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini makanan apa? Dasar bodoh.
“Baiklah, kau sendiri yang meminta. Hmm, kau sudah membangunkan serigala tertidur. Siap-siapa di tikam eoh?” ujarnya sambil menyeringai. Oh-oh, jangan seringaian yang satu itu. “aku akan mulai, dan aku akan sulit berhenti, tidak akan berhenti sebelum aku mencapai kepuasanku lebih tepatnya. Jadi… mau kabur? Aku beri kebebasan jika kau mau menarik kata-kata lancangmu tad-“

Cup

Aku menciumnya kilat, lalu beralih memeluknya. Aku merasakan ia membalas pelukanku, melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling tubuhku. “Kuanggap itu sebagai ya.” Bisiknya di telingaku. Aku mengalungkan tanganku di sekeliling lehernya saat ia menggendongku bridal style menuju kamarnya. Kami bahkan tidak memperdulikan panggilan Heechul ahjumma saat kami dalam perjalanan ke kamar tadi karena sibuk bercumbu.

Sreeett

Bruukk

“aahh, emmhhh.” Aku kembali mengalungkan tanganku di lehernya sesudah ia melemparkanku ke kasur dan menindihku, lalu kembali menciumku. Aku benar-benar harus belajar mengimbangi cumbuannya karena, demi Tuhan. Dia benar-benar pecumbu ulung!

Aku menatapnya lekat saat ia mengambil sebungkus kondom dari laci nakas d samping kiriku. “Jangan pakai kondom. Aku mau kau keluarkan di dalam oppa.” Ucapku cepat, mencegahnya memakaikan benda karet itu di miliknya yang sudah berdiri entah sejak kapan. Dan omong-omong.. kapan dia menelanjangi diriku dan dirinya sendiri? Aku tidak ingat.

“Mwo? Bagaimana kalau kau hamil? Kau tau sendiri aku-“

“Tenanglah. Aku sudah minum pil jika itu yang kau takutkan.” Maafkan aku. Aku harus berbohong supaya rencanaku bisa sukses. Mianhae, jebal. Jangan membenciku setelah ini.. mianhae, saranghae.

Dia mengernyitkan keningnya, tampak ingin mendebatku. Lalu kemudian ia menghela nafas dan membuang kondom itu ke lantai, ”baiklah baiklah, terserahmu saja.” Ucapnya pasrah. Aku tersenyum dan merentangkan tanganku. “Peluk?” tanyaku manja. Kyuhyun ppa tersenyum lalu dengan cepat merangkak kearahku dan memelukku. “Saranghae baby”, “nado saranghae oppa..”

Dan terjadilah yang seharusnya terjadi~~~ *mian, author males nulis NC, NCnya kapan kapan aja ya, hehe*

-o0o-

Dan disinilah aku, Seattle.

Sudah 5 tahun sejak aku memutuskan untuk meninggalkan Seoul, dan memulai hidup baruku di sini, di Seattle.. bersama dengan keluargaku dan tentu saja, malaikatku. Putriku tercinta, Kim Han Na. Buah hatiku dengan seorang namja bodoh bernama Kyuhyun yang saat ini berada di Seoul dengan keluarganya sendiri.

Setelah kejadian terakhir, aku akhirnya bercinta dengan Kyuhyun oppa. Aku memutuskan untuk pergi dari Korea, bersama dengan cabang bayiku yang baru saja terbentuk. Sebenarnya, hari itu adalah tanggal suburku. Jadi aku langsung hamil walaupun kami hanya melakukannya sekali.
Aku pergi tanpa sepengetahuannya tentu saja. Awalnya pun aku pindah sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuaku. Tapi entah bagaimana caranya, mereka mengetahui keberadaanku dan keadaanku pula.

Aku tau mereka kecewa dengan keputusanku. Tapi mereka tetap menghargai keputusanku. Aku benar-benar bersyukur karena appa dan eomma bisa menerima Hanna dengan baik, bahkan mereka lah yang paling menyayangi Hanna.

Mereka juga yang mebantuku menjawab pertanyaan Hanna seputar ayah kandungnya. Tidak mungkin aku mengatakan pada anakku itu kalau ayahnya sudah memiliki keluarga lain di Seoul sana bukan? Putriku yang malang, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku begitu menyayangi putriku, buah hatiku dengan satu satunya orang yang ku cintai. Dia hadir karena keegoisanku, tapi aku sungguh tidak pernah menyesal. Kehadiran Hanna sungguh menjadi anugrah terbesar dalam hidupku. Aku sangat bahagia bisa memilikinya, malaikatku.

“Hwayeon-ah, cepatlah naik ke atas panggung. Sudah waktunya.” Aku tersentak saat mendengar suara Yonghwa oppa dari belakangku. Aku berbalik dan mengangguk padanya. “Arraseo, sebentar.” Aku kembali memutar badanku, menghadap pada buat hatiku yang saat ini sibuk memakan ice cream strawberrynya. “Chagi, eomma tinggal dulu sebentar ne? Nanti Yonghwa ahjussi akan menemanimu disini seperti biasa. Baik-baiklah eoh?” ujarku sembari mengelus lembut kepala malaikatku ini.
“Ne eomma, arraseo.”

“Anak pintar.” Aku bangkit berdiri lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

Di Seattle ini aku bekerja ke perusahaan appa, tapi setiap hari Sabtu aku selalu bekerja di café milik Yonghwa oppa. Aku hanya menyanyi beberapa lagu saja, dan kadang aku membantu bekerja juga jika pelanggan hari itu banyak. Café Yonghwa oppa ini khusus menjual makanan dan minuman khas korea yang hampir tidak bisa ditemukan di manapun di Seattle.

Aku memberikan tanda oke pada Yonghwa oppa, dan Yonghwa oppa pun bergegas menghampiri Hanna yang tampaknya masih asik memakan ice cream kesukaannya itu.
Aku naik ke atas panggung dan duduk di kursi yang ada d atas sana. Aku membenarkan posisi mike, dan memberi aba-aba pada para pemain music. Yah, aku mengenal mereka juga, karena mereka teman-teman Yonghwa oppa sekaligus pelayan di sini pula.

Lagu yang akan kunyanyikan sekarang ini adalah lagu kesukaanku akhir akhir ini. Aku tidak pernah absen membawakan lagu ini tiap saat aku bernyanyi.

Nothing has ever broken me like you did
No one I ever wanted more than you
Nobody else can make a woman so weak
Make her fall in love so deep Baby

No one has ever known me like you did
There’s just no other boy to see me through
And every single memory I know
Reminds me that I’m all alone, all alone

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Thought I’ve seen enough to know it all
But not enough to know how it feels to fall
But the kind of pain you left me with
It never seems to heal
And it never lets me go

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Aku melihatnya.. Aku melihat sosoknya, sosok yang begitu kucintai dan begitu ku rindukan. Tapi dia tidak sendiri. Dia bersama dengan nya, dengan istrinya. Aku tidak membenci istrinya, aku hanya… aku hanya tidak sanggup melihat mereka berdua, seperti sekarang.
Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk melarikan diri. Tapi kenapa? Kenapa sekarang dia malah bisa sampai di sini? D tempat ini? Apa ini memang kebetulan? Atau dia memang kesini untuk menemuiku?
Ah, kurasa option terakhir sangatlah tidak mungkin. Mungkin mereka sedang berlibur dan menemukan tempat ini. Ya mungkin saja.
Tapi kenapa jantungku malah berdetk tidak karuan? Aku ingin sekali memeluknya. Aku merindukan sentuhannya…

Tell me how do I live with tainted love?
Tell me how can I feel no feelings?
Is there a way to leave it all behind?

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
Just tell me how to walk away
Away from loving you And I Would

“Kim Hwayeon…”

“Cho Kyuhyun…”

“Appa!!!”

“Jung Yonghwa…”

“Seo Joohyun…”

FIN

Advertisements

Crazy Idea~

Tittle : Crazy idea~

Cast  :

Cho Hyo Jin

Jung  Yonghwa (Yonghwa CN Blue)

Other :

Park Eun Hye

Jung Yoon Hee

Kim Hwa Yeon

Cho Kyuhyun

Genre        : romance, school life , smut

Ratt   : G

Author       : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~

Anyeong readers!!!!

Author bawa cerita tentang Yonghwa oppa~

Entah kenapa otak yadong Auhtor sedang berjalan lancar tanpa buffering..

Jadi yah, FF-nya ceritanya G tapi ada smut nya sedikit hehe…

Makasih yang udah mau baca FF nista dari Author 2*terharu*

Author tau ini sedikit(mungkin banyak) mainstream tapi ini yang bisa Author berikan *jijik*

Oh ya, Author nyelipin lagu Amber feat Eric Nam yang Just Wanna karna so sweet banget liriknya^^

Coba dengerin lagu itu sambil baca FF ini pasti.. gak nyambung hha~

Yah, lebih baik kita mulai ceritanya..

Happy reading!!!!

———————————————————————————-

‘Kau tidak usah bernyanyi, desahanmu sudah sangat merdu ditelingaku~’ –Yonghwa-

.

“Ya! Jung Yonghwa!! Kau harus bertanggung jawab,eoh!!!” suara melengking itu datang dari ketiga  yeoja yang baru memasuki suatu kamar dengan wajah shock. Sangat berbeda dengan seorang namja dibelakangnya. Terlihat sang namja yang tersenyum bangga. Suaranya sampai membangunkan kedua insan yang tadinya masih terlelap dengan damai.

“K-kalian..” Sang yeoja tergagap melihat teman-temannya menatap garang padanya.

“Sudah bangun, Cho Hyo Jin?” tanya Kyuhyun dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. Yah, nama yeoja itu Hyo Jin. Dan namja di sebelahnya pasti kalian sudah tau karana disebut diawal cerita. Ya, Yonghwa.

“T-tenang.. aku bisa jelaskan ini.” Entah sejak kapan Yonghwa sudah bangun. Ia mengambil nafas dalam lalu berkata,

“Sebenarnya….”

*Flashback on*

Hyo Jin merasa sedih karna keadaannya sekarang ini. Ia sedang sakit tenggorokan sehingga ia tidak mencapai nada tinggi saat berlatih menyanyi tadi. Akhirnya Hyo Jin sampai di apartementnya. Yah, ini adalah apartementnya bersama tiga sahabatnya.

“Hyo Jin-ah~” panggil Yonghwa yang merupakan senior dan oppa dari salah satu sahabatnya, Yoon Hee.

“Waeyo, oppa?” tanya Hyo Jin sambil menutupi suara seraknya.

“Kau sudah tau tentang konser universitas kita?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Belum. Memang kenapa?”

“Kita akan bernyanyi bersama. Ini lagu yang akan kita bawakan.” Yonghwa mengulurkan tangannya untuk memberi partitur lagu yang akan mereka bawakan.

“Omona~ ini lagu Just Wanna? Aku suka sekali lagu ini!! Neomu joha~~” Hyo Jin berteriak sehingga suara seraknya terdengar Yonghwa.

“Hyo Jin, gwaenchana?”

“Sebenarnya aku sedang sakit tenggorokan. Bisakah oppa membantuku?” Hyo Jin menggunakan puppy eyesnya.

Andai ia tau kalau Yonghwa sudah tidak tahan untuk tidak ‘memakan’nya. Sebenarnya ia sudah memendam perasaan suka pada Hyo Jin sejak kecil. Mereka bertiga- Yonghwa,Yoon Hee, dan Hyo Jin- merupakan teman kecil.

Cling(?)

Kalau ini cartoon pasti sudah terlihat lampu yang bersinar diatas kepala Yonghwa.

“Aku tau bagaimana menghilangkan suara serak itu. ini semua karna kau jarang pemanasan. Kajja aku akan mengajarimu pemanasan suara yang benar. “ Yonghwa menarik tangan Hyo Jin kedalam kamar Hyo Jin.

“Benarkah? Oppa baik sekali. Aku harus bagaimana?” Hyo Jin berkata dengan polos. Ia tak sadar bahwa ada yang sedang mengincar tetesan darah keperawanannya. –ini bukan horror-

“Yoon Hee, Hwa Yeon dan Eun Hye mana?” tanya Yonghwa.

“Eh? Eun Hye sedang ada kelas, sedangkan maknae pabbo itu sedang jalan dengan Kyu oppa.Yoon Hee sedang ada penelitian kan? Kau ini aneh sekali. Kau kan oppa nya Yoon Hee.” kata Hyo Jin.

“Aigo, aku lupa. Kapan mereka akan kembali?” tanya Yonghwa.

“Molla~ tapi kata mereka mungkin besok siang mereka sudah datang.” Jawab Hyo Jin polos.

“Baiklah. Ini akan mudah dilakukan.” Bisik Yonghwa.

“Mudah? Memang kita kan apa?” Sayang sekali Hyo Jin tidak menyadari adanya bahaya yang mengincarnya.

“Mudah saja. Kita nyanyikan lagu itu dengan posisi kau dipangkuanku. “ Yonghwa duduk di sofa panjang itu. Hyo Jin masih terdiam.

“Apa itu bisa membuat suaraku kembali?” ia menatap tak percaya pada Yonghwa.

“Tentu. Kalau kau tidak percaya, kita buktikan saja.”

Hyo Jin duduk dipangkuan Yonghwa dengan posisi saling berhadapan. Awalnya ia merasa sedikit merasa aneh. Namun, demi suaranya ia rela.

“Baik. Akan kumulai. “ Music minus one itu terdengar dari handphone Yonghwa. Yonghwa menarik nafasnya lalu bernyanyi sambil menatap Hyo Jin lekat. Ia ingin setiap lirik yang ia ucapkan tersampaikan pada Hyo Jin.

When I first walked in the room

I saw your face

Baby girl i was so amazed

I caught you smilling back at me

But i didn’t know what to say

Ia bernyanyi sambil menyentuh wajah Hyo Jin. Hyo Jin yang terlena akan sentuhan Yonghwa hanya memejamkan matanya. Tangan Yonghwa mulai bergerak nakal.

Sekarang giliran Hyo Jin yang bernyanyi. Ia menatap Yonghwa. Sebenarnya ia sudah menyukai Yonghwa sejak kecil juga. Mereka ternyata saling mengejar.

Sama seperti Yonghwa ia ingin Yonghwa tau kalau ia sangat mencintainya.

Hey now baby boy

Don’t you know

I’m ready for you,you,you

Now boy what you gonna do

Yonghwa menangkap pesan dari Hyo Jin. Ia membelai rambut Hyo Jin.

(Eric Nam )Cause i know you the one i’ve been searching for

(Amber)I know with you my life means more

(Eric Nam)I wish i could say these things to you

(Amber) Come here baby boy let me listen to you

Tak hanya suara mereka yang beradu. Mata mereka saling beradu. Melemparkan tatapan sayang satu sama lain. Entah kenapa mereka baru sadar jika mereka sudah tidak menggunakan sehelai baju. Rona merah mulai menjalar di kedua pipi Hyo Jin. Yonghwa mengangkat wajah Hyo Jin. Memandangnya intens.

I just wanna love you

Give me that chance wanna hold

Baby you know that i need you i need you

And i’m wondering all the time

Yonghwa menyanyikan itu sambil terus mengusap pipi Hyo Jin. Hyo Jin tersenyum dan membalasnya dengan nyanyiannya

If you love come on over get to know me

Baby cause i know you need me, you need me

And i want you in my life

Hyo Jin memeluk Yonghwa. Yonghwa melepaskan pelukannya dan mematikan lagu dari handphonenya.

“Hyo Jin, saranghae.”

“Nado saranghae, Yonghwa oppa”

“Can i?” Yonghwa menghirup

“Sure. I’m yours.”

“Thanks.”

Ciuman pun bisa dilewatkan pasangan ini. Memang awalnya hayna sebuah frech kiss biasa. namun semakin lama semakin menuntut  sehingga Yonghwa sudah berada diatas Hyo Jin dengan tangan yang berkeliaran liar.

Hyo Jin menimatinya. Ia disentuh oleh orang yang ia pikir tidak dapat ia dapatkan. Seorang Jung Yonghwa.

Tinggalah desahan- desahan yang menemani mereka.

 *Flashback off*

“Aish, jinjja! Solusi macam apa itu sebagai calon dokter itu tidak masuk akal!” teriak Yoon Hee. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya.

“Jinjja.. Hyo Jin eonni, neon jongmal pabboya!!!” Hwa Yeon memukul kepala Hyo Jin.

“Aw.. Appoyo~ tapi itu berhasil. Buktinya suaraku sudah tidak serak lagi!” Hyo Jin mengelus kepalanya. Lalu Yonghwa mencium pucuk kepala Hyo Jin dengan lembut yang berakibat banyaknya decihan dari keempat orang yang berada disitu.

“Bisakah kalian tidak pamer kemesraan? Kau tau kan disini ada yang ehemjombloehem.” Kyuhyun mengecilkan suaranya di akhir kalimat. Yah, ia sedang mengejek Eun Hye.  Sedangkan yang diejek hanya mengerjapkan matanya polos hingga..

PLUK

“Ya!! Oppa !!! Sini kau!! Akan kupotong kecil-kecil kau!!”  Jurus tenaga kuda Eun Hye pun keluar. Yah, itu kata yang paling cocok. Tenaga kuda.

“Ya, sudah hentikan dulu! Kenapa kau polos sekali,eoh? Aku saja langsung tau kalau kau akan berakhir di ranjang saat mendengar cerita Yonghwa.” Hwa Yeon bertanya.

“Itu semua karna aku masih polos. Tidak sepertimu! Kau sudah tercemar dari Oppa pabboku! Kau itu pelupa tapi untuk urusan yadong tak pernah lupa! Kalian adalah pasangan yadong!!” Hyo Jin berkata.

Yah, Hwa Yeon sudah sekitar dua tahun berpacaran dengan Kyuhyun. Yang merupakan oppa dari Hyo Jin.

“Memang kau tidak yadong? “ Yoon Hee menatap Hyo Jin dengan tatapan meremehkan. Hyo Jin merasakan kalau akan ada yang terjadi padanya.

“Lalu ini apa?!” Yoon Hee membuka laptop Hyo Jin dan membuka folder yang tertulis ‘Innocent’. Dan omona!! Itu folder yang berisikan video yadong! Yonghwa hanya tekaget melihatnya.

“Pantas saja kau terlihat sangat ahli saat women on top.” Yonghwa menggoda Hyo Jin. Wajah Hyo Jin memerah.

“Ya! Kau membongkar aibku!” Hyo Jin memukul kapala Yoon Hee.

“Aw~ Siapa suruh kau bermasturbasi setiap malam sambil memanggil oppaku, eoh?” Yoon Hee semakin memojokan Hyo Jin.

“Wah? Jinjjayo?” Eun Hye berpekik kaget.

“Ne! Berisik sekali! Aku bahkan merekamnya. Dengarkan ini!”

Yoon Hee membuka handphonenya dan memutar rekaman suara Hyo Jin.

“ehmm.. ahhh.. ssh.. lebih.. moreh.. deeper,, akh! Disith~ yah, disituh.. Akh, Yonghwa oppa.. Shh~ Ahh.. F-faster.. like that~ ah~ Aku hampir,.. sampaih.. Ahh..ah.. Ah.. oppa!~ Ahh~ Feels good~”

Rekaman itu selesai. Yonghwa yang sedang menahan ‘adik’nya yang hendak bangun mendengar suara Hyo Jin.

“Aigoo~ ternyata kau juga nakal, Jinie~” panggil Kyuhyun.  Hyo Jin? Ia sedang berusaha menutupi rona merah pipinya di dada Yonghwa.

Saat hendak memarahi Yoon Hee lagi, tiba-tiba..

KRINGG KRINGGG

“Omo! Ravi Oppa! Yeoboseyo!! Oppa~” Yoon Hee segera keluar kamar dengan bahagia. Hyo Jin hanya mengutuk Ravi yang menelpon Yoon Hee disaat yang tidak tepat-baginya-

FYI, Ravi itu adalah namjachingu Yoon Hee yang sekarang berada di Amerika karna perjalanan bisnis. Dan merupakan sepupu dari Hwa Yeon.

“Chagi, apa kau mau ‘olahraga’ pagi?” tanya Kyuhyun sambil menaik turunkan alisnya itu. Hwa Yeon memukul manja lengan Kyuhyun dan langsung menari Kyuhyun ke kamar mereka-kamar Hwa Yeon lebih tepatnya-

“Eun Hye-ah, kau tidak keluar?” tanya Yonghwa sambil menatap Eun Hye yang sudah badmood.

“Kalau aku keluar kalian akan melakukan lagi kan? Daripada aku frustasi di kamar lebih baik aku melihat secara live saja. Tak usah malu-malu.” Eun Hye menyamankan duduknya.

“Kau tau saja. Aku sudah sangat hard mendengar desahan Hyo Jin tadi. Ternyata desahannya memang lebih merdu daripada suaranya.” Yonghwa menggoda Hyo Jin.

“Oppa~ jangan begitu aku malu” Hyo Jin makin memeluk Yonghwa.

“Jadi kau mau nonton live? Boleh saja. Mari kita beri pertunjukan yang hebat unutk Eun Hye! ”  Yonghwa tersenyum. Berbeda dengan Hyo Jin.

“Andwae!! Ah~” Teriakan Hyo Jin berubah menjadi desahan saat Yonghwa memainkan nipple Hyo Jin.

“Akh!! Aku tak sanggup!!” Eun Hye sudah berlari terbirit-birit menuju luar rumah. Kamar ini bukan tempat yang aman untuknya dan juga otak polosnya.

Hyo Jin dengan Yonghwa , Kyuhyun dan Hwa Yeon yang sama berisiknya dengan Hyo Jin.

Eun Hye pergi mengungsi ke kamar Yoon Hee. Dan itu adalah pilihan yang sangat sangat tidak tepat.

“Yoon Hee, aku ingin disini dulu. Aku tidak betah dengan desahan dua couple itu. Mereka berisik sekali.. kau tau? Mereka bahkan menunjukan sec-“

Eun Hye menatap keadaan sekelilingnya.

  1. Cairan yang entah apa dan darimana
  2. Yoon Hee yang tertidur dengan nafas yang tidak teratur
  3. Sebuah alat yang tertanam di’dalam’ Yoon Hee.
  4. Desahan dari Yoon Hee

Dari ciri-ciri diatas En Hye langsung keluar dari kamar itu menuju luar rumah. Tetap dengan teriakannya.

“AAAAA!!!!!”

Ternyata Yoon Hee sedang..

.

.

.

melakukan phone sex…..

Mirisnya hidup Eun Hye.

BRUK

“Mianhae. Aku tidak melihatmu tadi.” Seorang namja membantu Eun Hye bangun. Eun Hye menatap namja itu sampai tidak berkedip.

“Kau tidak apa-apa, Agasshi?” tanya namja itu khawatir.

“Gwaenchanayo. Bolehkah kutau namamu?” Eun Hye merasa jantungnya berdegup dengan cepat saat melihat namja ini.

“Tentu. Ini kartu namaku. Disitu ada nomer handphoneku. Senang mengenalmu…”

“Eun Hye. Park Eun Hye.”  Jawab Eun Hye antusias.

“Baiklah, Eun Hye. Aku harus pergi. Aku tunggu telponmu^^” namja itu meninggalkan Eun Hye yang masih tersenyum dan tak bisa tau harus bagaimana.

“Apa ini yang namanya jatuh cinta? Aku? Jatuh cinta? Yay~~~~” Eun Hye berteriak di tengah jalan.  Ia melihat kartu nama itu. ia mengeja namanya.

“ Kim.. Tae..hyung, Kim Taehyung!!! Kau akan jadi milikku!!” Teriak Eun Hye.

Tanpa Eun Hye sadari, ada lima orang yang sedang melihat tingkah bodohnya itu.

“Sepertinya karna ini lah  Eun Hye eonni  tidak boleh jatuh cinta.”- Yoon Hee

“Itu Eun Hye eonni? Eh? Eun Hye eonni itu siapa?”-Hwa Yeon

“Neon nuguya?  Nan molla~”-Hyo Jin.

Kita tinggalkan saja Eun Hye bergila ria.

END

Bagaimana? Rame gak?

Comment sama likenya diharapkan nih^^

Gomawo yang nyempetin baca FF ini

Sampai ketemu di FF selanjutnya^^

~Cho Hyo Jin