Tag Archive | Wonshik

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Advertisements

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Title: I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Author: Jung Yoonhee

Cast:

~ Jung Yoonhee (OC)

~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:

~ Other VIXX member

Genre: romance, comedy

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

Happy Anniversary my bias, VIXX 
Moga-moga suka dan enjoy.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

Kita bagaikan sepasang sayap yang selalu terbang bersama. Jika salah satu diantara kita hilang, yang satu lagi pasti tidak akan bisa terbang sendiri. Begitulah kisah cinta kita.
-Kim Wonshik & Jung Yoonhee-

*Yoonhee POV*

Aku menarik koperku, lalu duduk disebuah bangku.

-flashback-

“Choi ahjumma!”

“Nona Jung, kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabari aku. Kalau mengabariku kan kau bisa kujemput.”

“Baru tadi subuh sampai. Ahjumma pasti sedang tidur. Jadi, bagaimana kabarmu ahjumma?”

“Sangat baik, sangat bahagia, dan sangat terkejut.”

Aku tesenyum kearahnya. Tidak ada yang berbeda disini. Bangunan dual anti dengan taman buatan disekelilingnya. Choi ahjumma, pembantu andalan keluarga kami yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Hanya usianya sajalah yang bertambah.

“Masuklah nona.”

Choi ahjumma mengambil semua bawaanku.

“Kenapa Tuan dan Nyonya Jung tidak ikut?”

“Setelah kuliah, aku kembali untuk bekerja. Eomma dan appa tetap di Amerika untuk mengurus perusahaan.”

“Arraseo. Anda mau makan apa nona?”

“Hoamm.. aku lebih baik tidur.”

“Masih jet lag?”

“Hem, aku tidur ya ahjumma.”

Aku naik ke kamarku. Setelah beres-beres dan mandi, aku tidur.

Drtt drtt

“Nugusaeyo?”

“Ini aku Nona Jung, Tuan Hwang.”

“Tuan Hwang annyeonghasaeyo.”

“Annyeong. Suaramu serak, ada apa?”

“Hehe, baru bangun tidur.”

“Ohh.. hahaha.. Janji kita nanti siang jadi.”

“Jadi, apa alamatnya sudah Tuan berikan?”

“Nanti ada mobil yang menjemput. Nona Jung saja yang berikan alamatnya ke saya.”

“Baiklah.”

“Selamat pagi Nona Jung. Maaf mengganggu.”

“Gwaenchanha, annyeonghasaeyo.”

Aku terpaksa bangun. Aku berjalan gontai ke bawah.

“Ahjumma, bisa buatkan aku 2 gelas kopi?” kududukan diriku dikursi meja makan.

“Untuk apa nona?” tanya Choi ahjumma bingung.

“Aku sangat mengantuk, sedangkan aku harus siap-siap kerja.”

“Oh, arraseo. Tunggulah sebentar nona.”

Satu jam berlalu. Semua yang kusiapkan sudah selesai.

Din din

Sebuah mobil van putih terparkir didepan rumahku.

“Ahjumma, aku sudah dijemput. Aku pergi dulu ya.” pamitku seraya berjalan keluar.

“Baiklah nona. Hati-hati.” dia mengantarku sampai pintu.

Sang supir membukakan pintunya untuuku. Kurang lebih 15 menit dari rumahku ke tempat tujuan.

Citt

“Wae?! Kenapa berhenti mendadak.” bentakku kaget.

“Mianhae, tapi orang-orang didepan sangat membuat rusuh.”

“Aish..”

Klek

Bam

Aku keluar dari mobil, dan mencoba menerobos masuk.

“Pemisi. Maaf, permisi. Aww! Hey, berhenti menginjak!”

Percuma, tubuhku terlalu pendek jika dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang, aku sudah ada diluar kerumunan lagi.

Ish!

“Yeobusaeyo Tuan Hwang. Aku sudah ada didepan entertaimentmu, tapi disini penuh sekali. Aku tidak bisa masuk.”

“Maaf karena itu. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengawalmu. Tunggulah sebentar.”

“Kamsahamnida Tuan Hwang.”

Cukup lama, sampai akhirnya kerumunan itu terbelah.

Dua orang lelaki tinggi besar menghampiriku.

“Nona Jung?” tanyanya tegas.

“Ne.”

“Ikutlah kami.”

Mereka berdua mengawalku sampai masuk kedalam gedung.

“Maaf, aku ingin ke toilet.” pintaku canggung.

“Apa perlu kami antar?” tanya mereka dengan wajah datar.

“Tidak perlu!”

“Kalau begitu, anda ditunggu Tuan Hwang di ruang latihan lantai 3.”

“Baiklah.”

Setelah dari toilet, aku lansung ke lantai 3.

“Ini ruangan.. ehmm.. bukan. Yang ini ruangan….bukan bukan.”

Aku berjalan mengendap-endap bak seorang pencuri. Tempat ini terlalu luas, dan terlalu banyak ruangan disini.

“Yak! Bagaimana bisa fans masuk kesini?” seseorang memergokiku.

“Mwo? Aku?” aku membalikan badan ke arah si tukang tuduh.

Dia seorang lelaki. Badannya tinggi kurus dibalut oleh hoodie hitam. Dia membawa sebotol air mineral dan juga badanya penuh dengan keringat.

“Keluarlah sebelum aku panggil pengawal.” suruhnya dingin.

“Panggil saja. Aku ingin keruang latihan, ada perlu. Lagipula aku fans siapa?” lawanku tak mau kalah.

“Lebih baik kau keluar.” suruhnya dengan lebih dingin lagi.

“Andwe.”

Aku melepaskan tangannya yang terus mendorongku.

“Lepas atau aku akan berteriak!” ancamku marah.

“Silahkan saja kalau berani.”

“AAAA!!!! TOLONG ADA PENCULIK DISINI!!!”

Beberapa orang keluar dari ruangannya. Mereka semua mengerumuni kami.

“Nona Jung.” pangil salah seorang.

“Tuang Hwang. Lelaki ini terus mencoba mengusirku.” aku berjalan mendekati Tuan Hwang.

“Apa itu sesuatu yang pantas, Wonshik?” tanya Tuan Hwang pada lelaki tadi.

“Wonshik?” ulangku berbisik.

“Masuklah.” Tuan Hwang mengajakku masuk keruangan latihan yang cukup besar.

“Ini Nona Jung. Dan Nona Jung ini VIXX.” dia memperkenalkanku pada enam orang.

“Tuan Hwang, Yoonhee saja tolong.” bisikku malu-malu.

“Oh, baiklah Yoonhee. Aku ada sedikit keperluan. Kau bisa bertanya atau berkenalan dulu sebelum rekaman.”

“Arraseo. Annyeonghasaeyo Tuan Hwang.”

“Annyeonghasaeyo.”

Tuan Hwang meninggalkan kami bertujuh.

“Hemm.. baiklah. Seperti yang sudah Tuan Hwang beritahu tadi, aku adalah Jung Yoonhee. Aku sudah bersekolah musik sejak SMA. Aku tinggal di Amerika dan sengaja kesini karena ada tawaran dari Tuan Hwang untuk menjadi composer dan juga produser kalian. Ngomong-ngomong siapa kalian tadi?”

“VIXX.” ucap salah satu diantara mereka.

“Aku tidak tahu siapa kalian. Jadi mari berkenalan.”

Mereka membuat baris melintang. Aku mendekati orang pertama.

“Siapa namamu?”

“Aku Jung Taekwoon atau Leo. Posisiku vocalist.”

Terlalu dingin dan cuek. Taekwoon itu menakutkan. Begitu kesan pertamaku.
Aku berjalan ke orang kedua.

“Aku Lee Jaehwan, stage nameku Ken. Aku juga vocalist.”

Begitu semangat dan energik. Pasti susah berhenti untuk bicara. Itu kesan pertama yang Ken beri padaku.

Aku berjalan ke orang ketiga.

“Aku Lee Hongbin, aku vocalist dan juga rapper.”

Cool, tampan, tapi bukan tipeku.

Aku berjalan ke orang selanjutnya.

“Aku Cha Hakyeon, stage nameku N. Aku leader, vocalist dan juga dancer disini.”

Tidak ada aura leader, adanya dia lebih terlihat sebagai orang yang banyak sekali aegyo. Seperti perempuan berkulit gelap. Itulah N menurutku.

Aku menatap orang kelima.

“Akh.. kau itu Wonshik. Iya kan?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Ne. Namaku Kim Wonshik, stage nameku Ravi. Aku rapper. Maaf atas kejadian tadi.” dia membungkuk padaku.

“Gwaenchanha.”

Wonsik memberikan kesan pertama yang buruk padaku. Skip saja.

Aku mendekati orang yang terakhir.

“Yang terakhir?”

“Aku Han Sanghyuk, panggil aku Hyuk saja. Aku ini vocalist dan juga dancer.”

Imut, tampan, seperti anak kecil, menarik, garis wajah tegas. Terlalu banyak aku memujimu Hyuk, tapi memang itulah dirimu.

“Hemm.. aku harus panggil kalian siapa?” aku kembali kedepan.

“Oppa saja!” seru Ken.

“Oppa, apa kalian tidak keberatan?”

“Tidak.” ucap semuanya.

“Bisakah kau ceritakan tentang dirimu pada kami?” sela Hyuk.

“Simpel saja. Aku Jung Yoonhee. Aku baru saja lulus kuliah. Aku suka musik, awalnya sebagai hobi, tapi sekarang malah jadi pekerjaan. Aku tinggal di Amerika sudah 18 tahun.”

“Masalah cintamu?” Hyuk menyela lagi.

“Cinta? Aku tidak begitu suka pria barat. Aku lebih memilih pria Asia untuk jadi pasangan. Seumur hidupku ini akku belum pernah berpacaran.”

“Umurmu?” tanya mereka penasaran.

“19.” ucapku enteng.

“Wah…” mereka berdecak kagum.

“Sudah cukup? Sekarang ayo seriusnya. Semuanya pemanasan. Vocalist dengan vocalist, rapper dengan rapper.”

Mereka melakukan pemanasan. Selanjutnya aku menyuruh mereka untuk tampil didepanku. Para vocalist menyanyi, dan rapper melakukan rap, tentunya.

“Dalam rangka menyambut anniversary kalian, aku disuruh untuk membantu kalian membuat album yang berbeda. Aku telah memutuskan dan menyepakatinya bersama dengan Tuan Hwang. Satu lagu bersama, dan sisanya kalian semua harus bernyanyi sendiri-sendiri. Perlu diingat. Kalian harus membuat lagunya juga sendiri, aku hanya membantu kalian. Temanya adalah STARLIGHT, itu nama fans kalian?”

“Ne.”

“Para rapper juga harus bernyanyi. Ya, sedikit tapi harus ada.”

Semuanya diam.

“Ada yang keberatan?” tanyaku ragu-ragu.

Semuanya menggeleng.

“Kita akan mulai rekaman esok hari. Ini lagunya, aku baru saja membuat lagunya dan membagi-baginya. Semuanya kebagian menyanyi. Hongbin dan Wonshik kalian tidak keberatan kan?”

“Ani.” ucap keduanya.

“Aku hanya tidak bisa membuat lirik rap. Disini siapa yang biasanya membuat lirik rap?”

Wonshik mengangkat tangannya.

“Ayo kita bertemu dan buat lirik rap utuk lagu ini. Sepulang dari sini ke rumah ku. Apa bisa?”

Dia mengangguk.

“Sekian untuk hari ini. Wonshik oppa, kjja.”

Kami diantar oleh supir untuk sampai kerumahku.

“Aku pulang ahjumma.” sapaku saat masuk rumah.

“Eomma?” bisik Wonshik tragu-ragu.

“Jelas-jelas aku panggil ahjumma. Dia pembantuku.” balasku berbisik.

“Oh, ahjumma.” sapanya.

“Ini siapa nona?” tanya Choi ahjumma heran.

“Rekan bisnis. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Ohh..”

Aku dan Wonshik naik dan masuk ke ruang kerjaku.

“Ini sangat canggung.” Wonshik berbicara pelan.

“Wae?”

“Aku masih merasa bersalah karena tadi, tapi ada yang lain. Sesuatu mengganjal membuatku canggung.”

“Apa itu? Tidak biasa berdua dengan perempuan?”

“Entahlah.”

“Akh.. sudahlah kita selesaikan saja pekerjaan kita.”

Berjam-jam kami habiskan diruangan ini untuk membuat lirik rap. Choi ahjumma juga sudah bulak balik membawakan makanan dan juga minuman.

“Matamu sangat bagus.” Wonshik mencari topic.

“Menyindir?” aku menatapnya.

“Matamu besar, namun ada lingkaran hitam. Kau belum tidur?”

“Jet lag. Tahu lah. Aku jadi bingung, harus tidur jam berapa.”

“Tidurlah kalau begitu. Ini sudah jam 7.”

“Jinjja? Sudah jam 7 lagi? Hoamm..”

“Tidurlah. Aku yang akan selesaikan, sekalian untuk membuat lagu. Apa tidak apa-apa jika aku sampai malam disini.”

“Silahkan saja. maaf membebani pekerjaanku padamu.”

“Gwaenchanha.”

Aku mulai tertidur.

“Hoamm..” aku duduk dimeja makan dalam keadaan setengah sadar.

“Selamat pagi Nona Jung.”

“Wonshik mana?”

“Baru saja pulang jam 4.”

“Memang sekarang jam berapa?”

“6, nona.”

“Aku ada janji jam 7 nanti. Bisa buatkan aku bekal, jus, dan jua kopi?”

“Tentu saja.”

Aku segera mandi dan menyiapkan keperluan pekerjaan.

Mobil van putih itu sudah menunggu didepan rumahku pada pukul 7.

“Kurasa aku akan pulang malam.” pesanku pada Choi ahjumma.

Aku segera pergi.

“Selamat pagi Wonshik oppa.” sapaku sesampainya di gedung entertainment.

“Selamat pagi juga. Tidur nyenyak semalam?”

“Lumayan. Oppa bagaimana?”

“Cukup lah. Maaf sempat ketiduran dirumahmu kemarin.”

“Gwaenchanha.”

Hari itu kami memulai rekaman. Perlu waktu dua hari, sampai akhirnya rekaman suara itu menjadi benar-benar bagus.

“Aku akan membantumu mengaransement.” Wonshik kembali ingin membantuku.

“Boleh.”

4 hari berlalu. Dan lagu VIXX pertama sudah selesai. Cukup cepat. Tapi kurasa kita akan dikejar deadline. Tanggal lirisnya 2 bulan setengah lagi.

“Besok ini kita akan membuat MV.”

Begitu pesan Tuan Hwang. Kita akan menginap di pulau Jeju selama 3 hari.

Pagi-pagi benar aku sudah berkumpul di gedung entertainment bersama Tuan Hwang, VIXX, beberapa cameramen, make up artist, wardrobe artist dan juga seorang yeoja yang tidak kukenal.

“Siapa dia?” tanyaku pada Hyuk.

“Model MV kita. Dia itu salah satu fans beruntung yang terpilih.” jelas Hyuk.

“Ohh..”

Kami akhirnya pergi ke Jeju dan mulai membuat MV.

“Apa benar? Enak sekali dia. Di MV ini dia diperebutkan 6 orang?” gumamku.

“Cemburu eoh?” tanya Wonshik mendekat.

“Ani.”

“Tenanglah. Dia itu hanya fans Hyuk yang fanatic saja. Dia tidak akan macam-macam dengan member lain.”

“Lalu? Apa yang harus kutenangkan?”

Wonshik meninggalkanku untuk mengambil gambar.

Keesokkan harinya adalah hari terakhir di Jeju.

“Hari ini akan menjadi hari bebas kalian.” seru Tuan Hwang yang sontak mendapat sorakan dari semuanya.

“Ayo kita naik paralayang.” ajak Hongbin.

Para member VIXX, aku dan juga fans beruntung itu pergi ke sebuah bukit untuk paralayang.

“Satu paralayang untuk dua orang.” perintah sang coach.

“Ya berarti yeoja dengan yeoja saja.” N mengambil keputusan.

“Andwe! Aku mau dengan Hyuk.” si fans fanatik itu menggengam lengan Hyuk.

Cih, sangat centil.

“Kalau begitu Yoonhee denganku.” Wonshik menarik tanganku lalu kami naik kesalah satu paralayang.

Dalam hitungan ketiga, kami semua terbang bersama.

Semua pemandangan disini sangat indah dari atas, kecuali itu.

“Cemburu?” tanya Wonshik sembari terkekeh.

“Kau selalu bertanya apa aku cemburu atau tidak. Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Kalau kau tidak cemburu, untuk apa memperhatikan merka berdua?”

Aku kembali meluruskan pandanganku pada Hyuk dan yeoja itu yang terbang dibawah kami.

“Iya, aku cemburu.” ungkapku mengaku.

“Sejak kapan suka Hyuk?”

“Sejak awal bertemu.”

“Wow.”

“Jangan bilang-bilang.”

“Oke. Rahasiamu aman padaku.”

Kami terbang dalam waktu yang cukup lama. Dan sampai akhirnya kami mendarat.

Kami kembali ke hotel untuk check out, lalu makan siang, dan kembali ke Korea.

“Aku duduk disini ya.” Wonshik duduk disampingku.

“Mereka sudah jadian. Fans itu dan Hyuk. Jangan beritahu siapa-siapa, ini sangat rahasia.”

“Lalu kenapa kau memberitahuku?” tanyaku heran.

“Aku merasa kalau kau pantas tahu.”

“Biarkan saja. Mereka sangat pantas dan serasi. Sama-sama menarik, sama-sama tinggi. Aku juga setuju.”

Kami bertatapan.

“Sakit hati?” wonshik mengernyitkan dahinya.

“Ani.” ucapku polos.

“Bagusnya aku suka pada perempuan yang tidak terlalu tinggi.” Wonshik mengelakkan pandangannya dariku.

“Hah?”

“Ani, tidurlah. Perjalannannya cukup jauh.”

“Tap..”

Wonshik memegang pipiku dan mernaruh kepalaku ke bahunya.

“Tidur saja. Jangan banyak bicara.”

Aku mulai memejamkan mataku.

“Kita sampai.” Wonshik membangunkanku.

“Apa besok kita akan mulai rekaman lagi?” tanya Leo didepan semua member yang lain.

“Ne. Kurasa akan lebih mudah bila dimulai dari Leo, Ken, N, Hyuk, Hongbin dan yang terakhir Wonshik.” jelasku.

“Oh, baiklah.” ucap Leo mengerti.

“Ngomong-ngomong, kenapa hanya Ravi saja yang dipanggil dengan nama asli? Kalian ada apa-apa ya? Kalian pacaran?” Ken mulai penasaran.

“Ani!” ucapku dan Wonshik dengan serempak.

“Aku hanya lebih suka panggil Ravi oppa Wonshik saja. Lebih enak.” jelasku sejelas-jelasnya.

“Aduhh.. kalian ini lucu sekali.” Hyuk ikut-ikutan.

“Akh, sudahlah. Aku pulang ya semua. Annyeonghasaeyo.” aku berpamitan lalu pulang.

“Selamat datang nona. Apa kau lelah?”

“Aku ingin teh hangat. Tolong kirimkan kekamarku ya.”

Aku naik kekamarku untuk mandi dan melanjukan pekerjaanku.

Knock knock

“Ne.”

“Nona, ini tehnya.”

“Kamsahamnida ahjumma.”

“Apa ada yang salah nona?”

“Menurutmu aku ini kenapa ahjumma?”

“Wajahmu seperti orang yang patah hati.”

“Jinjja? Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Apa anda sedang bertengkar dengan lelaki yang kemarin datang ke rumah?”

“Siapa? Wonshik? Dia hanya temanku.”

“Kelihatannya lebih nona.”

“Hah?”

“Maaf nona, bukannya saya ingin ikut campur. Kalau begitu, saya permisi.”

Choi ahjumma keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa ahjumma mengatakan hal seperti itu? Apa aku dengan wonshik cocok? Mana mungkin. Sudahlah lupakan. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk.

“Selamat pagi semuanya.”

“Pagi Yoonhee. studio Rekamannya bagus sekali.” puji N.

“Jinjja? Ini milikku.”

“Jinjja?! Kau anak orang kaya ya?” duga Ken cepat.

“Tidak juga. kita bahas lagi nanti ya. Leo oppa, masukklah.”

Rencanaku hari ini adalah hari percobaan. Semuanya mencoba bernyanyi. Sisanya kubantu merombak atau juga menambahkan.

Barulah keesokan harinya, rekaman dimulai. Hari ini adalah hari bagi Leo untuk rekaman suara. Butuh waktu 3 hari untuk rekaman dan juga 2 hari untuk aransement. Selanjutnya Ken. Bagusnya dia cepat. 4 hari untuk rekaman dan juga lagunya sudah diaransemen. Setelah Ken, ada N. 4 hari rekaman dan 3 hari aransemen. Lalu ada Hyuk, 3 hari rekaman, 3 hari aransemen. setelah itu Hongbin. Dia cukup sulit 6 hari rekaman, 3 hari aransemen. Yang terakhir yang menurutku paling sulit.

“Oppa, seriuslah sedikit. Sudah satu minggu lebih kita rekaman. Tapi tidak ada yang bagus.” ucapku mulai putus asa.

“Mianhae. Ini yang terakhir. Aku janji.”

Akhirnya pekerjaanku selesai. Wonshik membutuhkan waktu 8 hari untuk rekaman dan juga 3 hari untuk aransemen.

“Setelah ini kau mau apa?” tanya Wonshik setelah selesai rekaman.

Aku mengangkat bahuku.

“Kita makan yuk.”

Wonshik mengajakku ke restoran local didekat studio.

“Untukmu.”

“Igo mwo-ya?”

Aku memperhatikan kotak hadiah pemberian Wonshik.

“Kalung?” tanyaku seusai membuka kotak itu.

“Platina. Aku harap kau suka bentuknya.”

“Wing?”

“Ne. Kau suka?”

“Sangat.”

“Biar kupasangkan.”

Wonshik berpindah ke belekangku. Diambilnya kalung itu, lalu dipakaikan pada leherku.
“Dalam rangka apa kau memberikan kalung ini padaku?”

“Hadiah saja. Jaga baik-baik ya.”

-skip time-

Tepat di hari anniversary VIXX. Album itu liris.

“Igo.” semua member VIXX berkunjung kerumahku.

“Album? Dan tanda tangan?”

“Ne. Kami ingin kau menyimpan album itu satu. Ngomong-ngomong, apa besok kau bisa makan bersama dengan kami dan juga Tuan Hwang?”

“Mian. Aku pulang ke Amerika malam ini.”

“Yah.. sayang sekali. Kalau begitu kami semua pamit ya.”

Semua member pulang, kecuali satu.

“Yoonhee, aku ingin rekaman.” pinta Wonshik singkat.

“Untuk lagu yang mana?” tanyaku penasaran.

“Laguku.”

Kami berdua naik taksi untuk sampai ke studioku.

“Baiklah. Kita mulai.”

Lampu rekaman menyala.

Lagu yang dia bawakan ini menceritakan seorang lelaki yang mengagumi seorang wanita yang mengagumi orang lain. Singkatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Baru kali ini aku mendengar Wonshik menyanyi sebagus ini. Semuanya lancar dan mulus-mulus saja.

“Bagus sekali oppa.” aku hendak mematikan tombol rekaman itu.

“Jangan lepaskan headphonemu Yoonhee.” pintanya.

Aku kembali duduk dan membenarkan headphone ku.

“Waegeurae?” tanyaku bingung.

“Aku tahu kalau kita baru kenal. Dan aku ingin mengenalmu lebih lagi. Aku tidak melarangmu untu ke Amerika lagi, dan aku juga tidak mau basa-basi. Aku suka padamu sejak pandangan pertama. Membentakmu di entertainment, dan menuduhmu sebagai fans kami hanyalah siasatku untuk bicara denganmu. Memang kedengarannya bodoh, hehe.. Aku mulai berani untuk mendekatimu. Aku sangat senang bisa kerumahmu dan membantumu. Tapi akhirnya aku tahu kalau kau menyukai orang lain. Hatiku sakit, tapi ternyata hati kita terluka secara bersamaan. Hyuk memiliki wantia lain. Mungkin Tuhan berpihak padaku. Kalung wing yang kuberikan itu, itu adalah kalung pasangan. Kau punya bagian kanan, dan aku bagian kirinya. Kalau kau mau lihat, nih. Aku selalu memakainya, berharap kita bisa selalu bersama seperti sepasang sayap yang terbang bersama. Kali-kali, ayo kita terbang bersama lagi. Dan inilah yang terakhir yang dapat kuberikan padamu. Lagu ciptaanku sendiri yang khusus tertuju untukmu. Judulnya “I’m Your Fans.” Karena memang itu aku, mengagumimu. Sifat dan juga fisikmu. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

“Oppa..” panggilku lirih.

Air mataku mulai berlinang.

“Haduh Yoonhee, maaf banyak bicara. Apa kau tidak akan ketinggalan pesawat.”

“Oppa..” panggilku lebih keras lagi.

“Ne Yoonhee.”

“Apa aku harus menjawabnya?” tanyaku ragu-ragu.

“Jujur aku sangat pesimis. Tapi itu terserah padamu.”

“Aku tidak mau fansmu mengejarku dan juga mengincarku. Hubungan kita hanya sebatas profesionallitas pekerjaan saja ya. Mianhae.”

“Gwaenchanha. Kau boleh matikan rekaman ini. Aku akan mengantarmu ke bandara.”

Kami keluar dari studio. Wonshik meminjam mobil entertainment untuk mengantarku.

Dan disinilah kita sekarang berdiri. Bandara.

“Sampai disini kita?” tanya Wonshik mencoba tegar.

“Mianhae.” ucapku super merasa bersalah.

Wonshik mengulurkan tangannya, aku pun membalas.

Syutt

Wonshik menarikku lalu mendekapku.

“Oppa!” seruku kaget.

Cup

Wonshik mulai menciumku dan perlahan melumatnya. Aku pun membalas.

“Oppa.” Aku menghentikan kegiatan itu.

“Sampai jumpa Yoonhee.”

“Sampai jumpa Wonshik oppa.”

-flashback end-

1 tahun berlalu semnjak kejadian itu. Disinilah aku, duduk dibandara sembari menonton acara talkshow Korea.

“Jadi Ravi. Kau sudah punya pacar?” tanya sang MC.

“Calon pacarku takut jika para fans membencinya.”

“Tragis sekali. Apa ada salam untuk orang yang kau suka atau para fans?”

“STARLIGHT, aku menyukai seorang gadis. Dia sangat baik. Tetapi dia menolakku demi kalian. Aku sebenarnya sangat mencintainya, aku memohon kepada kalian semua STARLIGHT. Tolong restuilah kami.”

“Wah.. itu pesan untuk STARLIGHT yang sangat berani.” puji sang MC.

“Ada lagi.”

“Apa itu? Pesan untuk orang yang kau suka?”

“Changi. Kapan kau ke Korea lagi? Jika sudah sampai. Kabari aku, aku akan menjemputmu. Jangan naik taksi. I miss you, Saranghae.”

Aku terkekeh melihat tingkah genit Wonshik.

“Baru menontonnya?” bisik orang disebelahku.

Aku menoleh kesumber suara.

Cup

Bibir kami bertemu sekilas.

“Oppa?” aku menarik bibirku dari bibir Wonshik.

“Ayo pulang.” Wonshik menarik tanganku untuk berdiri.

“Kenapa kau tahu aku ada di Korea?”

“Choi ahjumma memberitahuku. Oh iya, apa pertanyaanku satu tahun lalu sudah dipikirkan lagi?”

“Yang mana?”

“Memintamu untuk menjadi pacarku.”

“Entahlah.”

Aku meninggalkan Wonshik.

“Yoonhee jawablah.”

“Tentu saja iya! Dasar tidak peka!” aku membentaknya kecewa.

“Jinjja?!” wonshik membulatkan matanya.

“Bawakan koperku! Aku ingin makan oppa.” pintaku ketus.

Wonshik membawa koperku dan berlari mengejarku.

“Apa kata-katamu tadi sungguh-sungguh?” tanya Wonshik yang belum percaya.

“Kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran.”

“Apa yang membuatmu menerimaku?”

Aku memperlihatkan kalung pemberian Wonshik.

“Kalau aku tidak menyukaimu, ini sudah aku buang.” ucapku enteng.

Hug

“Yak! Seorang fans tidak boleh begitu pada idolnya.” ucapku dingin.

“Saranghae.” ucapnya tulus.

“Nado oppa.” balasku.

Wonshik melepaskan pelukannya.

“Ayo kita makan. Biar oppa yang traktir. Mau makan dimana?” tanyanya antusias.

“Rumahku, boleh?”

“Sangat boleh. Oppa juga ingin menceritakan ini pada Choi ahjumma. Kjja.”

Wonshik menggenggam tanganku untuk keluar.

“Besok kita ke Jeju untuk naik paralayang lagi?” tanya Wonshik ditengah perjalanan.

“Lagi?”

“Aku kan sudah bilang. Kita pasti akan terbang bersama lagi.”

“Baiklah, jika itu yang oppa mau.”

“Terimakasih sudah menerimaku Yoonhee.”

“Ani, terimakasih sudah mencitaiku oppa.”

“Saranghae.”

“Aku sudah muak mendengarnya oppa.”

“Yak, kita kan suah berpacaran. Jangan ketus begitu dong dengan pacarmu ini.” bentak Wonshik.

“Ne oppa. Arraseo, jangan ketus.” turutku.

“Saranghae oppa.” ujarku sembari mengecup pipinya.

—END—

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 5)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13


Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

“Akh.” aku berjalan cepat ke kamar mandi. Rutinitasku sehabis bangun tidur, buang air kecil.

“Huah…” Ravi tengah meregangkan tubuhnya saat aku keluar dari kamar mandi menyelesaikan rutinitas tadi.

“Pagi sekali kau bangun.” tanyanya.

“Kau juga.” jawabku tak mau kalah.

“Kemari.” pinta Ravi sembari melambaikan tangannya padaku.

Aku berjalan mendekatinya.

“Wae?”

“Aku…”

Ravi menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran.

“Apa jahitannya terbuka lagi? Apa perutnya sakit lagi? Apa ada bagian lain yang sakit? Apa sih dia? Membuatku penasaran saja.” pertanyaan tadi hanya tertahan sampai tenggorokanku. Sekarang otakku dipenuhi pertanyaan pada diriku sendiri.

“..mau..”

“Apa yang kau mau? Palli, beri tahu aku!” ucapku jengkel.

“..buang air kecil. Eotteokhae?”

Aku membuang nafas berat karena putus asa. Ya Tuhan, dia begitu…aish..

“Buang saja.” jawabku mulai naik darah.

“Bagaimana caranya? Kalau aku berdiri lagi nanti jahitannya terbuka. Nanti kau akan mencoba untuk membunuhku lagi.”

Aku membuka lemari kecil disamping ranjangnya.

“Igo.”

“Igo mwo-ya? Apa aku harus buang air didalam jerigen?”

“Itu memang tempat untuk buang air. Masukkan saja lalu pipis seperti biasa.”

Mukanya perlahan pasrah.

“Kenapa wajahmu.”

“Ani.” elaknya cepat.

Dia memasukkan “tempat penampungan itu” kebalik selimut.

“Ehmm…” dia bergeming cukup keras.

“Berisik!” aduku yang mulai terganggu.

“Selang infusnya begitu pendek. Tanganku yang sebelah harus memegang benda ini dan yang diinfus ini harus memegang benda yang itu. Bantu aku.”

“MWO?! KAU KIRA AKU APA?!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahan.” dia mebujukku manja.

“Lakukan dengan cepat, dan sampai mengenaiku.” aku merebut “tempat penampungan itu” yang masih bersembunyi dibalik selimut secara kasar.

“Siap. Tahan disana ya.” ucapnya penuh kemenangan.

Aku menempatkan diriku lebih dekat lagi dengan ranjangnya. Tanganku sebelah kanan memegang “tempat penampungan itu” sedangkan arah tubuhku membelakanginya.

“Eh.. ehmm..ah…” Ravi menggeliat geliat diranjang dalam posisi terlentang. Kau tahu kan dia sedang apa? Apa lagi kalau bukan berusaha mengeluarkan ehem..

“Permisi, Ravi Kim anda.. ups, maaf.”

Shyt! Pasti suster Lee dan Lee ahjumma salah paham!

“Tunggu, sedikit lagi!” ronta Ravi karena tubuhku langsung reflek mengejar mereka.

“Karena kau, suter Lee dan Lee ahjumma salah paham!”

“Mian tapi aku benar-benar harus buang air, dan kau benar-benar harus membantuku… akh lega rasanya.. Sudah selesai. Gomawo ne.”

“Ikh!” aku langsung melepaskan “tempat penampungan itu” dari tanganku dan berjalan keluar.

“Suster Lee.” aku memanggil suster Lee yang sedang duduk bersebelahan dengan Lee ahjumma didepan.

“Mian atas kejadian tadi, kami tidak tahu.” suste Lee memasang muka bersalahnya.

“A-ani jangan salah paham suster Lee i-itu tadi hany-hanya..”

“Gwaenchanha. Kami akan tutup mulut.”

“Bukan begitu!”

“Yoonhee! Ambil jerigen ini sebelum kutendang dan isinya keluar semua.” teriak Ravi dari dalam.

“Tunggu sebentar cerewet.” balasku teriak.

“Dokter Jung. Aku akan pulang. Tolong titip ini, ini pesanan Tuan Kim.” Lee ahjumma memberikanku dua kotak makan dan juga satu keresek pakaian.

“Oh, baiklah.”

Aku perlahan beranjak. Sebelum itu, aku membalikkan badanku menatap suster Lee dan Lee ahjumma yang sedang menahan tawanya.

“Suster Lee!”suster Lee menatapku ragu-ragu.

“Shhh…” lanjutku sembari menempelkan jari telunjuk ke bibirku.

“Ne. Shhh…” suster Lee melakukan hal yang sama.

“Ini pesananmu yang diantarkan Lee ahjumma. Dia langsung pulang tadi.” aku mendekati Ravi yang tengah asik dengan laptopnya.

“Ohh.. didalam ada baju beserta dengan dalamannya. Ambil lah. Itu milikmu.” ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop.

“Milikku? Kapan aku minta?”

“Ambil saja. Anggap saja hadiah dariku karena sudah merawatku selama ini. Sekarang kau mandi.”

Aku membawa keresek baju itu masuk. Ada celana jeans dan juga sepotong kaos hitam yang cukup bermerek, dan mahal pastinya. Ditambah ini.

“Pakaian dalam?” tanyaku dalam hati.

Aku mengeluarkan satu pasang pakaian dalam berwarna hitam yang berkilap.

“Bagaiman apa dalamannya sempit?” tanya Ravi sesudah aku mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang Ravi berikan tadi.

“Tidak. Kau tahu ukurannya dari siapa?”

“Aku hanya menebak-nebak saja. Kalau tidak seukuran dengan Hwayeon ya lebih kecil.”

“Tapi kenapa pakaian dalamnya harus berkelip.”

“Uhuk..uhukk..” Ravi langsung tersedak mendengar perkataanku tadi.

“Itu aku…” belum selesai Ravi bicara, seseorang membuka pintu kamar ini. Ternyata itu suster Lee.

“Dokter Jung! Ada kecelakaan beruntun yang cukup parah. Semua korban yang jumlahnya 11 orang mengalami luka berat. Bahkan salah satu diantaranya mengalami luka yang cukup serius dekat jantung.” jelas suster Lee gelisah.

“Segera hubungi dokter spesialis jantung.”

“Sudah kami lakukan. Dia ada diperjalannan sekarang.”

“Huft… baiklah.”

Aku mengambil jas dokterku, lalu berlari keluar.

“Semoga beruntung pabbo!” teriak Ravi.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari sepanjang koridor. Akhirnya sampai juga diruang operasi. Setelah melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa aku lakukan sebelum operasi, aku menghampiri pasien itu.

Beruntungnya dia, kaca yang menembus dadanya tidak lebih kekiri. Jika itu terjadi, dia pasti sudah mati seketika.

“Maaf terlambat.” ucap dokter yang baru masuk.

“Ternyata kau oppa.”

“Yoonhee-ya. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

“Senang juga bisa bekerja sama denganmu oppa.”

Selama 3 jam lebih kami melakukan operasi itu. Aku, dokter ahli bedah dibantu oleh Hyunwoo, dokter ahli jantung dan juga beberapa dokter junior.

Tidak sampai disitu. Masih ingat? Masih ada 10 lagi orang yang harus kuoperasi.

“Huft..” aku mendudukan diriku dibangku depan kamar operasi.

Drtt drtt

“Eonni pabbo! Kenapa sulit sekali untuk menghubungimu sih?”

“Mianhae. Tadi ada banyak operasi.”

“Kau tahu kan kita pulang dari Jeju besok siang?”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa jemput kami dibandara jam 1 siang?”

“Kalau tidak ada operasi.”

“Andwe! Kosongkan jadwalmu besok jam 1.”

“Ne, arraseo.”

“Jangan lupa!”

“Ne.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Aku menyimpan HPku kembali kekantong celana.

“Yoonhee.” panggil orang disampingku.

“Omo, oppa! Sejak kapan duduk disini?”

“Maaf atas kejadian kemarin.” Hyunwoo menyederkan badannya ke bagku.

“Kemarin?”

“Membentakmu, memarahimu, terlalu posesif, dan terlalu mengekangmu. Aku baru ingat, kau adalah tipe orang yang paling benci itu semua.” jelasnya sembari menatapku.

“Gwaenchanha. Justru aku yang ingin minta maaf. Sangat tidak sopan. Berteriak, membentakmu. Emosiku sedang tidak baik kemarin.” jelasku juga.

“Mari sepakati ini. Lupakan masalah itu.”

“Oke. Kita lakukan semuanya seperti biasa, seperti tidak perah terjadi apa-apa.”
“Baiklah. Apa kau mau makan. Ini sudah jam 7, dan kita belum makan dari siang. Ani, bahkan pagi mungkin.”

“Menawarkan Yoonhee makan? Yakin akan aku tolak?”

“Akh, Yoonhee yang sekarang masih suka makan juga ya.”

Kami memutuskan untuk makan bersama di kantin rumah sakit.

“Bagaimana pasienmu, si Ravi itu.” tanya Hyunwoo ditengah-tengah makan.

“Baik. Tumben bertanya.”

“Hanya bertanya. Habis ini kita masih ada operasi kan?”

“Lagi?”

“Ada pasein yang dikirim dari rumah sakit lain. Apa tidak ada yang memberitahumu?”

“Hah.. tidak ada yang memberitahuku, padahal aku yang melakukan operasi.”

“Haha..” Hyunwoo mengusap kepalaku.

“..cepat habiskan. Operasi itu mulai 10 menit lagi.”

“Arraseo oppa.” aku tersenyum padanya. Akhirnya senyuman itu keluar lagi.

Sehabis makan, kami langsung kembali ke ruang operasi.

“Kau tadi keren sekali oppa, dapat menunjukan dengan jelas apa pe..” belum selesai aku bicara, Hyunwoo sudah menarik tanganku ke sisi pojok belakang.

Brak

Hyunwoo menempatkan kedua lengannya diantaraku.

“Oppa..” tanyaku mulai takut.

Hyunwoo hanya diam menatapku. Perlahan wajahnya didekatkan kewajahku.

“Oppa! Kau mau apa?” tanyaku dengan nada yang lebih keras.

“Sebentar saja. Aku ingin sekali menciummu.” suaranya mendadak parau. Astaga, dia sangat…seksi?

“Ini tempat umum oppa. Lagipula, kau ini kenapa?” kudorong dada bidang Hyunwoo agar pergi dan menghentikan aksinya ini.

“Sekali saja.”

Hyunwoo menarik daguku, dan menempelkan dahinya kedahiku.

“Oppa jebal!”

“Sekali, hanya sekali.” paksanya.

“Op..”

Cup

Ciuman ini bahkan lebih ganas dari 10 tahun lalu, lebih romantis daripada kemarin, bahkan lebih panas dari musim panas di Korea.

“Opp-oppa.. hen-ti..kan!” pintaku disela-sela ciuman panas kami itu.

Hyunwoo memindahkan tanganku keatas bahunya. Dia ingin agar aku melingkarkan tangannya di leher Hyunwoo. Tubuh Hyunwoo mulai mendesakku, dia perlahan maju dan meletakkan tangannya dipinggulku.

“Op..”

Rintihanku harus terhenti kembali. Hyunwoo mengigit bibir bawahku. Otomatis aku langsung membuka mulutku. Belum sempat aku menutupnya kembali Hyunwoo sudah memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Tak pernah Hyunwoo menciumku seperti ini. Serasa dia sedang meluapkan segala rindu dan emosinya padaku.

Panas ditubuhku mulai meningkat. Aura yang dia pancarkan tak pernah membuatku bosan. Kupejamkan mataku dan mencoba untuk menikmati ciuman yang membabi buta ini dan coba mengikuti alurnya.

“Yoonhee!” kudengar suara lain memanggilku.

Cepat-cepat kudorong Hyunwoo dan kulepaskan ciumannya itu.

“Ravi oppa. Ini bukan seperti, tunggu.. siapa yang membolehkanmu untuk berjalan-jalan?”

Ravi berjalan mendekat. Dadanya mulai naik turun.

Buk

“Oppa!”

Aku mendorong Ravi yang baru saja menonjok Hyunwoo sampai hidungnya berdarah.

“Apa kau gila?!” bentakku.

“Kau yang gila Yoonhee! Sedang apa tadi?! Menjual diri? Murahan!”

Plak

“Jaga bicaramu. Memangnya tidak boleh berbuat seperti itu kepada orang yang kita cintai? Ini hidupku, harga diriku. Urus saja milikmu sendiri. Jangan ikut campur.” aku menampar Ravi dan mencoba memperingatkannya.

Ravi menatapku dalam.

“Aku hanya ingin memberitahumu. Dia itu bukan namja baik-baik, dia..”

Plak

“Sekali lagi bicara yang bukan-bukan, aku akan menamparmu lagi. Kjja oppa.” aku menarik Hyunwoo ke ruanganku. Meninggalkan Ravi yang tengah tertunduk disana.

“Aw, apa ada yang patah?” tanya Hyunwoo sembari sedikit mendongak.

Kami sedang duduk berhadapan di sofa ruanganku. Di pangkuanku ada sekotak obat dan juga beberapa kapas yang penuh dengan darh dari hidung Hyunwoo.

Aku melihat, apa yang terjadi pada hidung Hyunwoo yang terus mengalirkan darah.

Kumiringkan kepalaku dan sedikit menunduk.

“Tidak ada. Sudah kubilang, jangan coba-coba menciumku. Jadinya begini kan.”

“Biarlah, yang jelas aku bahagia atas ciuman yang tadi.”

“Bahagia? Kau sangat nafsu oppa.”

“Tapi kau menikmatinya bukan?”

Aku tersenyum miring.

“Sudahlah.” aku mengganti kapas dari hidung Hyunwoo. Darahnya sudah mulai berhenti sekarang.

“Sekali lagi?” tanya Hyunwoo sembari mengangkat alisnya.

Puk

Aku menepuk dahinya pelan.

“Sudah begini, masih berani mencium ku lagi?”

“Siapa takut.”

Hyunwoo memindahkan kotak obat itu kesamping tubuhku.

Dia mulai menaiki tubuhku, lalu dia menimpaku.

Cup

Benar katanya. Dia berani menciumku lagi.

Hyunwoo kembali melakukan aksinya yang sempat terhenti.

“Kalian benar-benar pasangan mesum.” Ravi tengah berdiri didepan pintu sembari mengamati kami berdua.

“Op..” aku memukul dada Hyunwoo yang tidak mau melepaskan ciuman itu.

“Terus saja lanjutkan kegiatan “mulia” kalian itu. Sama-sama yadong memang serasi.”

“Oppa, tunggu!” akhirnya aku berhasil lepas dari ciuman Hyunwoo.

Kukejar Ravi yang tengah berjalan menuju kamarnya.

“Oppa, tunggu!” panggilku keras.

Ravi langsung berhenti, lalu membalikkan tubuhnya kearahku.

“Aku tidak menyangka kalau kau seperti ini.”

“Oppa, kenapa kau marah?”

“Apa tidak boleh? Apa aku harus diam saja? Melihat kau bersama namja lain membuatku.. akh lupakan. Aku sudah muak padamu Yoonhee. Tadinya aku menyusul untuk minta maaf, tapi ternyata, kau lebih cabul daripada yang kukira.”

“Oppa,aku bisa jelaskan.”

“Jangan-bicara-lagi-padaku. Aku muak melihat wajahmu Yoonhee. Sekarang pergi.”

Ravi segera masuk kekamarnya, lalu mengunci pintu itu.

“Oppa, dengarkan dulu.” pintaku sembari mengebrak-gebrak pintu dari luar.

“Baik, kau boleh marah padaku. Kau boleh menganggapku wanita murahan atau apapun itu, tapi kau tidak boleh mendiamkan aku. setidaknya dengar penjelasanku dulu oppa!”

Tidak ada respon dari dalm. Selama apapun aku menunggu, Ravi benar-benar tidak mendengarku.

“Oppa!” panggilku sekali lagi.

Aku mersakan sesuatu keluar dari diriku. Air mata tanpa sebab itu keluar lagi. Aku menyekanya, namun air mata itu tidak berhenti mengalir. Kali ini untuk apa air mata itu? Apa karena aku malu? Apa karena aku…

“Oppa! Buka lah, kumohon.” teriakku lagi.

Aku mencoba mengebrak pintu itu lagi. Tapi jawabanya tetap sama. Diam membisu.

Aku menyandarkan diriku kepintu. Air mata tanpa sebab ini masih keluar.

Aku kaui aku memang salah. Tapi apa urusannya dengan Ravi? Kenapa bisa-bisanya dia marah sampai begitu?

“Kumohon oppa, biarkan aku masuk, dan maafkanlah aku.” bisikku penuh dengan isakkan.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” taya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

—TBC—

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 4)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela. Aku melakukan peregangan, lalu bangkit dari tidurku. Kutatap Hyunwoo dikamar sebelah yang masih tertidur. Jam berapa sekarang? Oh.. jam 5.

Hari ini merupakan hari bebas. Aku bisa kemana saja sesukaku. Oke, aku putuskan untuk mandi, lalu berjalan-jalan keluar semebari cari kudapan dan juga beberapa oleh-oleh.

Aku berjalan perlahan, aku tidak mau membangunkan Hyunwoo yang sepertinya tidak tahu kalau aku sudah bangun.

Pemandangan yang indah. Awal musim semi kali ini banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya sejak pagi.

Perhatianku teralihkan pada sebuah benda.

Tapi bagaimana ini, aku ada di negara orang.. akh, baru ingat. Aku bisa bahasa Jepang, hehe.

“Apa ini?” tanyaku dalam bahasa Jepang.

“Sa-ru-bo-bo.” eja sang pedagang.

“Sarubobo?” Aku mengambil boneka sarubobo yang warnanya menarik perhatianku.

“Sarubobo warna pink untuk keberuntungan dalam hal cinta.”

“Cinta?”

Pedagang itu mengeluarkan sarubobo yang lainnya.

“Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja, sarubobo hijau untuk kesehatan, sarubobo kuning untuk keberuntungan dalam hal kekayaan, serta sarubobo hitam untuk menghilangkan kesialan.” jelasnya.

Aku mengamati benda itu sebentar, menarik.

Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku kembali ke hotel.

Klek

“Dari mana saja?” Hyunwoo sudah berdiri mendekatiku saat aku membuka pintu.

“Hanya jalan-jalan.”

“Kau tahu betapa khawatirnya aku. Apa kata appa jika kau hilang.” bentaknya semakin keras.

“Mianhae. Sudahlah, jangan marah-marah. AKu tidak suka dimarahi.”

Hug

“Mwo-ya?” rontaku.

“Jangan ketus begitu. Maaf sempat membentakmu tadi.”

“Gwaenchanha.”

Aku melepaskan pelukan Hyunwoo dan perlahan mundur.

“Aku akan berkemas. Jam 12 nanti kita pulang kan?”

“Ne.”

Jam 10 kami check out. Kami segera ke bandara, dan menunggu disana.

“Kau marah padaku?” Hyunwoo yang tidak tahan suasana ini mulai angkat bicara.

Aku menggeleng pelan.

“Lalu kenapa sikapmu berubah setelah aku menyatakan persaanku. Atau kau marah karena aku cium?”

Aku mengangkat bahuku.

“Yoonhee..” ucapnya lirih.

“Oppa.” balasku tak mau kalah.

“Jangan marah lagi.”

Drtt drtt

“Abeoji.”

“Kau pulang hari ini?”

“Ne. Jam 12 nanti pesawatnya take off.”

“Appa jemput ya, sekalian kita makan bersama seperti yang kamu mau.”

“Oke. Dengan eomeoni kan?”

“Pasti. Ajak juga Hyunwoo.”

“Arraseo. Aku tutup teleponnya ya.”

“Ne. Annyeong.”

Tut

“Oppa, appa mengajakmu makan bersama kami.” laporku.

“Tidak masalah.”

Panggilan untuk pesawat kami diumumkan.

Kami berjalan masuk.

Setelah 2 jam perjalanan udara, akhirnya kami kembali ke kampung halaman.

“Eomeoni!” aku berlari kearah eommaku yang berdiri disamping appa.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya appa.

“Menyenangkan.” jelasku singkat.

Kami berempat memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran di taman kota.

“Hyunwoo, apa Yoonhee nakal disana?” tanya eomma sesaat sebelum pesanan kami datang.

“Dia sempat kabur tadi pagi.” adu Hyunwoo enteng.

“Yoonhee-ya! Kau ini, mau hilang di negara orang?!” bentak eomma dan appa berbarengan.

“Eomeoni, abeoji! Tenanglah, buktinya aku masih ada disini.”

Aku menatap Hyunwoo yang duduk disampingku.

“Dasar pengadu.” desisku.

Hyunwoo hanya tersenyum tak bersalah.

“Oh iya, eomeoni, abeoji. Igo.” aku memberikan dua boneka sarubobo berwarna hijau kepada mereka.

“Igo mwo-ya?” tanya mereka berbarengan.

“Namanya sarubobo. Sarubobo hijau akan membawa keberuntungan dalam hal kesehatan. Aku mendoakan agar kalian sehat selalu.”

“Gomawo anakku.”

“Ne. Cheonma.”

Aku mengambil satu lagi sarubobo dari tasku.

“Apa oppa mau juga?”

“Ani. Oppa tidak percaya pada hal seperti itu.”

Aku menyimpan sarubobo itu kembali ke tempatnya.

“Abeoji, bagaimana rumah sakit saat aku pergi?” aku mencoba mengalihkan topik.

“Begitulah. Pasienmu, Ravi Kim sangat lucu.”

“Lucu?”

“Iya, dia lugu dan juga sangat pabbo. Sama sepertimu.”

“Hahaha..”

“Tapi dia kurang ajar.” sela Hyunwoo dingin.

“Mwo?!” tanyaku tak menyangka.

“Dari kemarin, pasien Yoonhee yang bernama Ravi itu terus menganggu.”

“Benar begitu Yoonhee?” ucap eomma seakan mau marah.

“Dia hanya menelponku. Itu saja.” jawabku membela.

“Tapi dia menganggumu dan juga oppa.”

“Dia pasienku oppa. Kenapa kau jagi menyebalkan begini sih?”

“Kau yang kenapa jadi begini.”

“Eitss, cukup sudah. Apa kalian sedang bertengkar?” appa menghentikan cekcok kami.

Aku membuang muka. Dadaku daritadi naik turun menahan amarah. Hyunwoo benar-benar bukan Hyunwoo yang kukenal.

Drtt drtt

“Suster Lee, waegeurae?”

“Dokter, pasien kita, Ravi Kim wajahnya pucat sekali.”

“Pucat? Kenapa bisa begitu? Apa ada infeksi?”

“Aku juga kurang tahu. Keringat dingin juga terus keluar.”

“Baiklah, aku akan kesana segera.”

Aku menutup telepon itu, lalu berdiri.

“Abeoji, eomeoni. Maaf ada pasien yang mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi sekarang. Maaf acara makan ini tidak berjalan lancar karenaku. Aku akan menebusnya lain kali.”

“Kalau begitu, mau appa antar?”

“Gwaenchanha abeoji. Aku akan naik taxi.”

“Kalau begitu oppa ikut.” Hyunwoo ikut-ikutan berdiri.

“Andwe. Tunggu disini. Setidaknya gantikan aku, dan temani abeoji dan eomeoni untuk makan.”

Hyunwoo kembali duduk.

“Aku pergi, Abeoji, eomeoni, oppa.” aku membungkuk, lalu segera berlari keluar.

“Ravi oppa!” panggilku ketika memasukki kamarnya.

Benar saja apa yang dikatakan suster Lee. Muka pucat, keringat dingin.

“Sejak kapan kau begini?” tanyaku resah.

“Sejak kemarin malam.” jawabnya lemah.

“Pabbo, kenapa tidak beritahu appaku?”

“Aku takut padanya.”

“Aishh, bisa-bisanya kau takut. Apa ada yang sakit?”

“Perut.”

“Apa karena jahitannya? Ada infeksi?”

“Bukan..”

“Lalu?”

“…lapar.”

“Aish, hadapkan badanmu kekiri.”

Ravi menuruti perintahku. Kini dia membelakangiku.

“Kenapa kau tidak mencoba untuk buang angin.”

“Memangnya harus aku coba ya? Aku kira tunggu sampai angin itu keluar secara alami.”

“Pabbo!”

“Yak, aku lebih tua daripadamu Yoonhee.”

“Mianhae oppa.”

“Akhirnya minta maaf juga kau.”

“Bukan masalah itu.”

“Lalu?”

Plak

“YAK!” jerit Ravi.

Prett

“Akhirnya!” ucapku lega.

“Mianhae.” ucap Ravi malu.

Dia mengusap pantatnya yang mungkin meninggalkan tanda telapak tanganku disana.

“Selamat! Akhirnya kau buang angin juga! Sekarang kau boleh makan.”

“Yoonhee..”

Secara tak sadar aku memeluk Ravi. Apa-apaan aku ini? Dia pasien pertama yang kupeluk?

“Ehmm.. mian.” ucapku canggung.

“Tunggu sebentar.” aku berjalan keluar dan mendapati suster Lee berjalan melewati kamar ini.

“Suster Lee. Tolong bawakan pasien Ravi Kim makanan ya.”

“Baiklah. Apa dia sudah sembuh?”

“Dia pucat karena lapar. Pabbo memang.”

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku ambilkan makananya.”

“Gomawo.”

Aku kembali masuk. Ravi yang masih tidur miring sedang mengusap pantatnya.

“Mianhae. Apa sakit?”

“SANGAT! PABBO! SUATU SAAT LAGI AKU PASTI AKAN MEMBALASNYA!”

“MWO?! MEMBALAS? KAU MAU PUKUL PANTATKU? SILAHKAN. KAU PUKUL PANTATKU, KUBUNUH KAU!”

“Hehehe.. bercanda. Damai.”

“Lupakan. Igo.”

“Igo mwo-ya?”

“Tidak baik kalau kau langsung makan. Mulailah dengan memakan yang manis dulu.”

Ravi mengambil botol yang kuberikan.

“Air gula.”

“Air gula?”

“Eommaku dulu sering membuatkannya untukku.”

“Apa enak?”

“Sudah, minum saja, cerewet.”

Ravi langsung meneguk air gula pemberianku.

“Pelan-pelan pabbo. Nanti tersedak.”

Ravi memelankan tegukannya itu sampai pada tegukan terakhir.

“Yak pabbo. Berhenti memanggilku pabbo. Aku ingatkan sekali lagi, aku lebih tua.”

“Yasudah. Kalau begitu aku akan memanggilmu oppa pabbo.”

“Maaf menganggu, tapi makan sudah datang.” suster Lee menghampiri kami. Dia menyerahkan sebaki penuh makanan kepada Ravi.

“Makanlah. Ayo suster Lee.” aku menarik suster Lee untuk keluar.

“Tunggu! Bisa bantu aku untuk duduk?”

Aku membantunya. Ravi menyimpan kedua tangannya kebahuku. Tanganku melingkar di dadanya. Sekali dorongan.

“Gomawo.” Ravi sudah duduk.

“Sudah? Kalau ada apa-apa panggil aku atau suster saja ya.”

Belum ada tiga langkah kami keluar.

“Yoonhee!”

“Mwo?” tanyaku jengkel.

“Temani aku makan.”

“Huft.. suster Lee. Bisakah kau temani aku juga sebentar?” aku ikut-ikutan meminta.

Aku dan suster Lee duduk dipinggir ranjang. Menyaksikan “pangeran” Ravi menyantap makannya.

“Oh iya. Suster Lee ini untukmu.”

“Boneka?”

“Sarubobo. Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja.”

“Kamsahamnida dokter, tapi maaf dokter. Aku masih ada kerjaan.” pamit suster Lee sembari berdiri.

“Baiklah suster. Maaf menganggu.”

“Gwaenchanha. Aku pergi dulu ya dokter.”

Suster Lee keluar dari kamar. Hanya tersisa kami berdua.

“Mana untukku?” tagih Ravi.

“Kau mau? Bukankah para namja menganggap kalau benda seperti ini bodoh?”

“Aku tidak.”

“Iya, aku lupa. Kau kan bukan namja.”

“Yak! Kau ini menyebalkan sekali. Cepat beri aku satu.”

“Igo.”

“Hitam?”

“Mencegah dirimu dari segala kesialan.”

“Kau mengata-ngataiku?”

“Ani. Itu memang kenyataan.”

“Aku ingin yang lain.”

“Tidak ada lagi.”

Aku menunjukkan semua sarubobo yang kupunya.

“Kurasa yang cocok untukmu sudah aku berikan kepada eomma dan appaku.” ucapku menjelaskan.

“Aku mau yang ini.” dia mengambil sarubobo pink dari dalam tasku.

“Tidak boleh!” aku merebutnya.

“Wae? Itu ada sepasang.”

“Itu punyaku.”

“Untukmu dan namjachingumu?” duganya cepat.

“Dia tidak mau. Dia bilang ini benda bodoh.” aku tertunduk, lalu menyimpan sarubobo itu kembali kedalam tasku.

“Wajahmu jadi muram.”

“Jinjja?”

“Aku salah bicara ya? Mianhae.”

“Gwaenchanha.”

“Yoonhee, bisa minta tolong?”

“Ada apa lagi?”

“Karena Hwayeon pergi aku belum membasuh tubuhku. Bisa tolong kau yang basuhkan?”

“Hah?!”

“Hanya bagian atas saja. Bagian bawahnya biar aku saja.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Aku berjalan kekamar mandi dan mengambil baskom berisi air hangat beserta dengan handuknya.

“Biar aku yang buka.”

Aku membukakan kancing baju rumah sakit milik Ravi. Kutanggalkan baju itu dari tubuhnya.

“Jadi ini yang namanya masalah? Berbuat mesum dirumah sakit?” suara yang tiba-tiba datang itu
mengagetkanku.

“Oppa…” panggilku lirih.

“Keluar. Aku ingin bicara.”

Aku mengikuti apa yang dia mau.

“Kau ini apa-apaan?!” bentaknya tak kira-kira.

“Oppa, pelankan suaramu.” aku mencoba menenagkan.

“Apa harga dirimu sudah habis?!”

“Oppa!”

“Mianhae. Oppa hanya tidak suka kau dekat-dekat namja itu. Dia bukan orang baik-baik.”

“Kenapa kau berkata seperti itu. Dia itu oppa dari temanku.”

“Pokoknya jauhi dia.”

“Terserah oppa.”

Dengan cepat aku langsung masuk ke kamar Ravi, lalu mengunci pintunya.

Tak kuindahkan segala gebrakan dari Hyunwoo.

“Yoonhee! Maaf membentakmu. Aku hanya cemburu.”

Aku menutup kedua telingaku lalu berjalan mendekati Ravi.

“Sini. Biar aku basuh tubuhmu.”

“Mianhae. Karenaku..”

“Lupakan. Oh iya. Igo.”

“Tapi katamu sarubobo ini milikmu.”

“Ambilah. Berikan ini untuk orang yang kau suka.”

“Tapi..”

“Kurasa saat ini aku perlu sarubobo hitam. Aku sangat sial hari ini.”

“Tidurlah disini. Temani aku.”

“Hah?”

“Aku kesepian. Tidurlah disofa. Hwayeon bilang sofanya sangat empuk, dan pakai ini. Malam hari disini sangat dingin.”

“Oppa..”

“Jika kau ingin mandi, kurasa bajuku yang pembantuku bawakan masih ada beberapa potong. Kalau kau ingin sikat gigi juga semua perlengkapannya ada dikamar mandi. Pakai handuk yang dilaci. Itu belum kupakai..”

“Oppa!”

“Ne?”

“Kamsahamnida.”

“Cheonma.”

Setelah membasuh badan Ravi, aku segera mandi. Meninggalkan Ravi yang sdedang sibuk membasuh tubuh bagian bawahnya.

“Yoonhee, mau makan?” tanya Ravi sekeluarnya aku dari kamar mandi.

“Tidak aku tidak berselera.” tolakku halus.

“Kau belum makan daritadi.”

“Tak apa. Aku tidak lapar.”

“Ngomong-ngomong..”

“…kau lucu sekali memakai bajuku. Semuanya kepanjangan, tapi..”

“Wae?”

“Kenapa kau memakai jaket. Dan kenapa juga kau melipat tanganmu didada?”

Perlahan wajahku memerah.

“Itu..”

“Ohh.. sudah cukup. Aku mengerti. Kau tidak memakainya saat malam ya? Sama seperti Hwayeon.” potong Ravi tergagap-gagap. Untungnya kali ini dia tidak pabbo seperti biasanya.

“Kalau yang satu lagi?” lanjut Ravi bertanya.

“Satu lagi?” tanyaku bingung.

“Dalam bagian bawah.” jelasnya.

“Ohh.. tadi aku mengorek-ngorek tasku. Ternyata ada cadangan.”

“Lucu juga. Menyimpan cadangan di tas.”

“Yak oppa pabbo. Jangan bahas itu lagi.”

“Arraseo.”

Aku duduk disofa yang mirip seperti kasur itu.

Sekarang sudah jam 7 malam lagi. Akhirnya aku bisa tidur lebih awal.

Ravi masih duduk dengan laptop diatas pangkuannya.

“HP ku, tolong.” pintanya sembari menunjuk HPnya yang ada di meja samping ranjang.

“Igo.”

Dia mulai mengotak atik HPnya dan mulai menelpon orang.

“Lee ahjumma, tolong belikan aku pakaian wanita beserta dengan dalamnya.”

“…”

“Aeh.. jangan berpkiri yang macam-macam. Pokoknya belikan saja. Aku mau barang itu besok pagi. Oh iya, aku juga titip sarapan untuk besok pagi. 2 porsi ya.”

“…”

“Jangan tanya kenapa dan buat siapa. Yang penting buat saja. Oke ahjumma? Kamsahamnida.”

“Kau menelpon siapa?”

“Pembantuku.”

Drtt drtt

“Taengi oppa.”

“Yoonie, kata Jung ahjumma kau bertengkar dengan Hyunwoo?”

“Ne.”

“Wae?”

“Dia menyebalkan itu saja. Sudahlah oppa. Aku tidak ingin membahas itu sekarang. Aku mau tidur”

“Tumben kau tidur jam 7. Tidur dimana kau?”

“Rumah sakit.”

“Ohh.. jaga dirimu baik-baik ya. Dan juga jangan bertengkar dengan Hyunwoo lagi. Arraseo?”

“Ne. Arraseo. Annyeong.”

“Annyeong.”

“Nugu?” tanya Ravi penasaran.

“Saudaraku.”

“Itu panggilan sayang kalian?”

“Iya.”

“Lucunya. Seandainya aku punya satu darimu.”

“Mwo?”

“Ani. Kau tidurlah. Kelihatannya kau lelah sekali hari ini.”

“Sedikit.”

“Tidur lah kalau begitu. Selamat malam.”

“Ne. Selamat malam, oppa pabbo.”

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

—TBC—

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 3)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Aku merasakan tangan Hyunwoo menutup jendela disampingku. Aku juga merasakan selimut yang Hyunwoo pakaikan padaku mulai membuat tubuhku hangat. Dan ada lagi yang hangat..

“Saranghae Yoonhee-ya..”

Cup

Pipiku..

Tak lama Hyunwoo memelukku , lalu tertidur.

Sungguh, aku tidak ingin suasana ini segera berakhir.

“Yoonhee-ya, kita sudah sampai.” Hyunwoo mengusap rambutku lembut, namun hal itu bisa membangunkanku.

Akhirnya kita sampai juga dengan selamat di Jepang.

Dia membantuku untuk berdiri. Masih jam 1 subuh disini. Jelas, aku masih mengantuk.

Hyunwoo menuntunku ke bandara.

“Duduklah, aku yang akan ambilkan kopernya.” Aku menunggu disebuah bangku panjang dibandara, sedangkan Hyunwoo mengambil koperku dan juga kopernya.

“Ayo ke hotel.” kami berjalan keluar. Didepan Hyunwoo membberhentikan sebuah taksi, kami berdua masuk.

“Grand Paradise.” ucap Hyunwoo pada sang supir.

Tak lama taksi mulai bergerak.

Kami berhenti disebuah hotel mewah dan besar yang sudah disewa oleh penyelengara acara.

“Atas nama Yoonhee Jung dan Hyunwoo Kim.” ucap Hyunwoo kepada sang resepsionis dengan bahasa Inggris.

Sang resepsionis memberikan dua buah kunci. Kamar 312 dan juga 314.

Kami berjalan memasukki lift.

“Yoonhee..”

“Ne.”

Hyunwoo menunjuk sebuah papan yang ada.

Lift sedang dalam perbaikan.

“Kurasa kita haru naik tangga.” Hyunwoo tersenyum kearahku.

Dengan susah payah, aku menarik koperku kekamar. Meskipun ada dilantai 3, tapi tetap saja yang namanya tangga. Melelahkan.

“Berat?” tanya Hyunwoo saat aku berusaha menaiki anak tangga pertama.

“Ne.”

Satu lantai akhirnya aku lewati. Penyiksaan ini namanya.

“Perlu bantuan?” tanya Hyunwoo yang berjalan cukup jauh didepanku.

“Ani. Gwaenchanha.”

“Pabbo.” Hyunwoo berhenti, lalu menyimpan kopernya dipinggir.

“Kjja.” Hyunwoo mengangkat koperku dan menyimpannya disamping kopernya.

“Yoonhee, ayo duduk dulu sebentar.”

Aku duduk disamping Hyunwoo yang tengah duduk juga. Kami ada ditengah-tengah lantai 2 dan 3.

“Yoonhee..”

“Hem?”

“Jika ada di tangga bersamamu, aku jadi ingat sesuatu.”

Aku memutar otakku. Kejadian di tangga apa yang kita..

“Yak oppa!” rontaku protes. Perlahan wajahku memerah.

“Wae? Wajahmu mulai matang.” Hyunwoo menunjuk pipiku yang paling merah.

“Lupakan kejadian itu!” aku meronta makin keras.

“Wae? Itu adalah saat-saat terbaik dihidupku. Apa harus kita ulang?”

“Andwe!” aku berdiri, lalu kembali mengangkat koperku.

“Pabbo! Oppa pabbo!!” keluhku sembari berteriak.

Akhirnya sampai lah kita dilantai 3.

“Mau kamar 312, 314, diluar, atau satu kamar denganku?” goda Hyunwoo.

“Yak oppa, jangan bercanda! Aku mau 314.”

“Ini tuan putri.” dia memberikan kunci kamar 314 ketanganku.

Kami berjalan ke kamar kami masing-masing.

“Bersebelahan?” tanyaku sesampainya didepan kamar.

Memang, kamar 312 dan 314 itu bersebelahan.

“Bukalah.” perintah Hyunwoo.

Aku membuka kamar itu. Diawali dari kamar mandi yang cukup luas. Pancuran, bathtub, kaca besar didepan wastafel, dan tak ketinggalan klosetnya. Lalu ada lemari yang didalamnya ada sepasang handuk mandi. Dibawahnya terdapat rak yang menyimpan beberapa pasang sandal. Semakin kedalam, ada televisi plasma, kulkas kecil, dua buah sofa, meja bundar kecil, dan yang terbaik adalah satu kasur queen size.

“Bagus..” decak Hyunwoo. Dia berkeliling kamarku.

“Yoonhee, ada ini ternyata.” dia menunjuk sebuah pintu seukuran pintu pada biasanya.

“Igo mwo-ya?” tanyaku pada Hyunwoo.

“Fellingku.” dia memutar kunci yang ada pada pintu itu.

Krek

“Benarkan.” ucap Hyunwoo bangga.

Ohh.. ternyata ini pintu antara bilik. Pintu yang langsung tehubung dengan kamar Hyunwoo.

“Bagus.” bisik Hyunwoo.

“Mwo? Apa oppa mengatakan sesuatu tadi?”

“Ani.”

“Aeh.. kau memikirkan sesuatu yang kotor ya?”

“Pabbo. Bukan!”

“Aku mau tidur.” aku berbalik dan mulai berbaring dikasurku.

“Tidurlah.” Hyunwoo menyusul, lalu duduk disofa kamarku.

“Kenapa disini? Tidur sana.” perintahku.

“Disini juga aku bisa tidur.”

“Kau kan punya kasur disebelah, tidurlah dikasur, bukan disofa.”

“Kalau begitu, geser sedikit.”

“Mwo?! Kau mau macam-macam?”

“Bercanda Yoonhee, jangan marah. Aku akan tidur disofa. Jika aku tidur bersamamu, bisa-bisa appa marah dan menghapusku dari daftar mantu.”

“Mantu.. sana tidur! Di kasurmu.”

“Tapi..”

“Sana oppa! Jangan manja, atau aku akan marah.”

“Ne. Arraseo. Aku akan tidur dikasurku. Jangan marah-marah, nanti cepat tua..”

Hyunwoo beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekatiku.

“..selamat tidur.”

Cup

Dia mengecup keningku, lalu pergi kekamarnya.

Pintu lintas itu sengaja kami biarkan terbuka, yah.. itulah kesepakata kami. Aku pasti membutuhkan Hyunwoo untuk membangunkanku, berguna bukan?

Akhirnya kami berdua tertidur.

“Yoonhee, sudah jam 5. Kita harus siap-siap.” Hyunwoo membangunkanku, seperti yang sudah aku bilang.

Kami berdua bersiap-siap, lalu pergi ke balai pertemuan yang sudah ditetapkan.

Seminar ini sangat berarti bagiku. Setelah penelitian selama 5 tahun tentang masalah penyakit salah satu organ dalam, akhirnya aku berhasil. Dan sekaranglah saatnya bagiku untuk menunjukannya kepada mata dunia.

“Presentasi anda tadi begitu luar biasa dokter Jung.” beberapa dokter senior menjabat tanganku.

“Kau berhasil! Yoonhee jjang!” Hyunwoo memberikan kedua jempolnya padaku sesudah aku selesai presentasi.

Aku hanya tersenyum membalas pujian itu.

“Ayo kita makan. Seminar selanjutnya akan dimulai saat sore hari.” Hyunwoo membawaku keluar dari balai pertemuan.

Dia membawaku ke sebuah kedai ramen.

“Maaf pinggir jalan. Tapi aku tahu, tempat seperti ini adalah gayamu.”

Aku terkekeh. Hyunwoo memang paling bisa membuatku tertawa seperti ini.

Drtt drtt

“Abeoji!”

“Bagaimana presentasimu?”

“Berjalan dengan sangat lancar dan pendapatku diterima banyak orang.”

“Selamat anakku. Apa Hyunwoo bersamamu?”

“Ne. Hyunwoo oppa yang menjagaku dengan baik disini.”

“Baguslah. Berikan HPmu sebentar ke Hyunwoo.”

Aku menyodorkan HPku pada Hyunwoo.

“Appa.” ucapku singkat.

Hyunwoo mengangguk, lalu menerima telepon itu.

“Abeoji.”

“…”

“Ne. Arraseo.”

“…”

“Ne abeoji. Annyeong.”

Hyunwoo mengembalikan HPnya padaku.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Biasa, menyuruhku untuk menjaga bayi besar yang satu ini.”

“Aishh.. appa ini. Aku kan sudah besar.”

Drtt drtt

“Telepon lagi?” tanya Hyunwoo heran.

Aku tersenyum menanggapinya.

Panggilan masuk dari nomor asing?

“Nugusaeyo?” tanyaku hati-hati.

“Yoonhee!”

“Kau lagi. Wae?”

“Dimana kau? Bukannya kau yang harusnya mengecekku pada pagi hari?” nada suaranya mengebu-gebu.

“Aku sedang pergi.”

“Kemana? Kenapa harus pergi? Karena kau pergi, dokter Jung tua cerewet ini yang harus melakukan pengecekan setiap paginya.”

“Dokter Jung tua cerewet mana maksudmu?!”

“Ituloh, dokter direktur disini. Jung Yoonmo kalau tidak salah. Ekh tunggu, jangan-jangan..”

“Ne. Dia appaku tahu!!”

“Oh, ja-jadi dia appamu?” suaranya mulai pelan.

“Ne. Kenapa? Ada masalah?”

“Mi-mian, aku tidak tahu.”

“Kalau tidak tahu janagn sok tahu.”

Tut

“Nugu?” tanya Hyunwoo heran.

“Pasien kurang ajar.” aku membanting HP ku ke meja.

“Kukira namjachingumu.” ucapnya enteng.

“Aishh, mana mau aku dengan namja seperti itu.”

Drtt drtt

“Apa lagi?!”

“Yoonhee. Mianhae, aku tidak bermaksud.”

“Makanya punya mulut jangan dipakai untuk ceplas ceplos begitu saja!”

“Aku benar-benar tidak tahu. Oh iya, ngomong-ngomong kau..”

“Yoonhee, ramennya datang. Makan dulu sebelum dingin.” Hyunwoo menyela percakapan kami.

“Ne oppa.” turutku.

“Tutup teleponnya, sekarang.” suara Hyunwoo makin tegas.

“Ne oppa.”

“Siapa itu? Namjachingumu?” Ravi kembali bicara keras.

“Memangnya apa urusannya denganmu?” ketusku.

“Tunggu, aku belu..”

Tut

“Siapa sih dia?” Hyunwoo bertanaya serius.

“Pasienku dan juga oppanya temanku.” ucapku pelan.

“Ohh.. oppa tidak begitu menyukainya. Dia sangat menganggu.”

Aku hanya mengangguk pelan. Hyunwoo sedang marah?

“Yoonhee, makan.” Hyunwoo menyuruhku lagi.

“Ne oppa. Aku akan makan dengan baik.”

Suasana menjadi canggung. Apa ini salahku? Ani. Ini semua salah Ravi.

“Terimakasih untuk makannya.” ucap kami serempak.

“Hyunwoo oppa, kau marah?” tanyaku mencoba memcah suasana canggung ini.

“Ani. Aku ingin berjalan-jalan. Mau ikut.”

Aku mengangguk antusias.

Sore datang terlalu cepat. Setelah berjalan-jalan, kami ke hotel untuk mandi. Baru akhirnya kami kembali ke seminar.

“Seminar selesai.” ucap Hyunwoo senang.

“Tapi kita harus pulang dan kembali bekerja.” aku menyeret diriku dari lobby hotel ke lift. Sekarang liftnya sudah sembuh.

“Aku ingin diam dikamarmu dulu. Ayo minum the malam-malam.” ajak Hyunwoo.

Aku segera mengiyakan ajakan Hyunwoo itu.

Aku membuka pintu kamar, dan kami berdua masuk.

Hyunwoo sedang asik meracik the, sedangkan aku baru selesai membasuh tubuh.

“Ini. Manis seperti dirimu.” goda Hyunwoo sembari memberikan secangkir the padaku.

Kami berjalan kebalkon. Hari ini adalah bulan purnama. Malam indah yang tidak boleh dilewatkan.

“Malam yang indah.” ucap Hyunwoo sependapat denganku.

“Hem..” aku mengirup teh itu, lalu meminumnya.

“Bagimana kalau kita menyelesaikan masalah kita yang belum selesai.”

Aku berhenti meminum teh itu.

“Apa harus?” tanyaku.

“Aku hanya benci semua itu berakhir dengan mudahnya.”

“Itu namanya takdir oppa.”

“Kalau saja aku tidak meninggalkanmu. Maafkan aku.”

“Sudah kubilang, lupakan masalah itu.”

“Ayo kita mulai dari awal…”

Aku menatap Hyunwoo, begitupun dia.

“Saranghae Yoonhee-ya.”

Drtt drtt

“Aish.. menggangu sekali.” Hyunwoo mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Yeobusaeyo?” tanyaku ditelepon.

“Yoonhee, kau belum jawab aku. Apa tadi itu namjachingumu?”

“Huft.. Ravi-ssi..”

“Oppa saja, tolong.”

“Ravi oppa. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi tolong jangan ganggu aku.”

“Jawab aku dulu.”

“Hm… ne. Dia namjachinguku.”

Ravi terdiam sejenak.

“Baiklah kalau begitu. Maaf menggangumu.”

Ravi menutup teleponnya terlebih dahulu.

“Dia lagi?” duga Hyunwoo.

Aku mengangguk pelan. Baru kali ini aku mendengar suara Ravi sesendu itu.

Drtt drtt

“Biar oppa.” Hyunwoo merebut HP dari tanganku.

“Yeobusaeyo.” tanyanya tegas.

“…”

“Oh, Taehyung. Sebentar ya.”

Hyunwoo menekan tombol speaker.

“Yoonie!” teriak Taehyung.

“Taengi oppa!” balasku.

“Kau sedang dengan Hyunwoo hyung?”

Aku menatp Hyunwoo sekilas, lalu kembali menjawab.

“Ne.”

“Wah.. lihat Yoonie oppa. Pasti kau kembali ceria.”

“Hehe..”

“Hyung, aku titip saudaraku yang paling kusayang ini ya.”

“Serahkan padaku.”

“Aku tidak ingin menggangu. Annyeong.”

“Annyeong.” ucap kami serempak.

Aku menutup telepon itu dan menyimpannya disaku celanaku.

“Sampai dimana kita tadi?” tanya Hyunwoo kembali serius.

“Sampai di..”

Cup

Omo! Hyunwoo mengecupku..? Ini, ciuman yang sama saat 10 tahun lalu? Hal ini kembali terulang? Tunggu, tapi ada yang berbeda. Desakan ini. Hatiku yang terdalam sepertinya merasakan sesuatu.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

—TBC—