Tag Archive | Super Junior

The Most

Title: The Most

Genre: Hurt, Drama.

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Find by yourself ^^

 

Hwayeon’s Note:

Hello, this is me again. Maaf kalau udah lama banget author ga ngepost. Yah, author lgi kena penyakit keras yang pasti dialami semua penulis. Writer’s block yaitu males. Yeah, berhubung author juga masih males bikin yang lain. Author iseng aja bikin ff ini. Tengah malem gini, gara-gara insomnia. Oke then, cukup cuap cuapnya. Selamat menikmati okeh? Jangan lupa komen guys.

Happy Reading

 

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

 

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa. Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, hanya itu. jadi kau tidak perlu berhubungan dengannya sembunyi-sembunyi.”

“-karna itu menyakitiku saat mengetahuinya.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau ia menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya mengatakan sebaliknya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. DIa yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap saat kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, matanya kosong dan tubuhnya kaku.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. aku akan sakit, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itu rasa cintaku padamu.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

 

.

 

Hwayeon menatap jemari tangannya yang terpasang cincin kawin dengan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Tidak sekalipun Kyuhyun menghubunginya, tidak sekalipun Kyuhyun mencoba mencarinya. Jauh dilubuk hatinya, ia mengharapkan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Sehari terasa seperti seabad bagi Hwayeon. Rasanya sungguh menyiksa.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.”

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh dengan mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun 3 tahun lalu datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya.

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendiri yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, kecewa. Dan satu hal yang pasti, Hwayeon saat ini tengah sedih, terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihatnya,sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “tentu. Kajja.”

Hyera membawa Hwayeon ke meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan secepatnya pindah saat aku sudah mendapatkan rumah supaya aku tidak menyusahkan kalian lebih lama.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kami keluargamu ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini.” Donghae menatap Hwayeon tajam, sedangkan Hyera menyikut perut Donghae.

Tangan hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud. Tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana jam 3.”

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Ia akhirnya memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba member Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir.”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, ia merasa lega.

Mungkin seharusnya ini yang dia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya ia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat diamana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah menyuruh Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaan tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon. Dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana.

Rasa rindu membuncah di dadanya, melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil menabrak Hwayeon.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, Hwayeon tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bending.

“TELEPON AMBULANCE! KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. orang-orang kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae cemas

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panic

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia sangat mengkhaawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan. Yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melkukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya sudah kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih. “bayinya.” Lirih Kyuhyun, “bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka menangis berdua, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera coba menenangkan.

Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

 

.

 

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali.” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia bisa mendengar suara Kyuhyun dalam tidurnya, dan ia memaafkan Kyuhyun. Ia juga sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh bebannya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dia, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya samapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-FIN-

 

Advertisements

Tell me what is love // part 1

Tittle: Tell me what is love

Author: Kim Hwa Yeon

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other cast:

Other Sj member | Park Hyera (oc)

Genre: Romance

Length: 1 of ?

Rating: G

note:

oke, ini dia… author persembahkan ff baru. Karena udah tahun baru, jadi ff baru juga keluar deh hehehe. Berhubung find my love udah masuk babak akhir, jadi author post ff baru ini. ditunggu aja oke endingnya find my love. Tapi maaf kalau author agak lama ngepostnya. Lagi males hehe.

Oke udah dulu cuap-cuapnya, dibaca aja. jangan lupa comment.

Paypay ^.~

.

.

.

 

Hwayeon mendesah pelan, merasa lelah karena perkejaannya yang tidak kunjung selesai sedari tadi. Gadis itu kemudian mengernyit saat rasa pening mulai menyerang kepalanya.

Tok tok tok

Hwayeon membenarkan posisi duduknya dalam sekejap, dan merapihkan penampilannya. Ia kemudian menekan sebuah tombol di samping kanannya, dan pintu ruangannya terbuka. Hwayeon membuka mulutnya, hendak menyapa asistennya yang baru saja menerobos masuk ruangannya.

“Kau memiliki rapat bersama dengan para investor tentang resort baru kita yang berada di Jeju sekitar 15 menit lagi, lalu kau akan bertemu dengan perwakilan dari SJ Tv pukul tiga sore, setelah itu kita harus survey Blue Sapphire Hotel pukul lima, dan yang terakhir kau punya janji makan malam dengan keluargamu di Restoran Itali yang biasa kau kunjungi pukul delapan.” Hwayeon mengerjap kemudian menghela nafas lelah.

Park Hyera, asisten yang merangkap sahabatnya itu mendesah prihatin. Tanpa kata, Hyera melangkah mendekati Hwayeon yang sedang memejamkan matanya. Raut kelelahan tampak jelas di wajah Hwayeon, membuat Hyera merasa iba.

“Gwaenchana?” tanya Hyera lembut seraya mengusap lembut kepala Hwayeon.

Hwayeon membuka matanya, menatap memelas pada Hyera, sahabatnya. “Aku lelah eonni.” Keluh Hwayeon pelan. Hyera kembali menghela nafas, ia merasa iba sekaligus khawatir pada sahabatnya yang satu ini. Hwayeon sudah bekerja diperusahaan selama hampir 3 tahun, tapi yeoja itu terlihat semakin kurus dan semakin lemah setiap harinya sejak setahun yang lalu.

Pipi Hwayeon yang awalnya gembul sekarang menjadi tirus, wajahnya yang awalnya cerah sudah berubah menjadi suram. Hyera tau semua itu bukan hanya ditimbulkan karena tuntutan pekerjaan, tapi juga karna sesuatu yang lain. Hyera ingin sekali membantu, tapi sayang ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya itu, walaupun ia ingin.

“Haruskah aku membatalkan seluruh janjimu untuk hari ini?” tawar Hyera berbaik hati. Hwayeon menatap Hyera, tergiur dengan tawaran Hyera. Tapi kemudian wajah Hwayeon berubah sendu, “Aniya, aku akan diamarahi appa jika membatalkan semua janjiku seenaknya. Apa lagi, kau tau sendiri kan bagaimana sulitnya mencocokkan jadwalku dengan perwakilan dari SJ Tv itu.”

Hyera mendesah, “Kau benar.”

Hwayeon tersenyum, “Sudahlah, aku tidak apa-apa eonni. Ah, bukankah kau bilang aku ada rapat sekarang. Lebih baik kau siapkan dokumen-dokumennya, aku akan siap dalam 5 menit.” Hyera mengangguk, lalu berjalan tak yakin ke luar ruangan.

Senyum Hwayeon menghilang seiring dengan menghilangnya tubuh Hyera dari pandangannya. Gadis itu kemudian membuka laci mejanya, mengambil sebuah foto yang menampakkan gambar dirinya versi kecil yang sedang tersenyum lebar bersama dengan seluruh anggota keluarganya.

Hwayeon menyapukan ibu jarinya kearah gambar sosok yeoja paruh baya yang juga tersenyum lebar di samping dirinya versi kecil dengan sangat perlahan. Air mata mulai membayang di pelupuk mata Hwayeon. “Eomma, bogoshipo.” bisiknya lirih.

Tanpa disadarinya, air mata mulai menetes membasahi pipi tirusnya. Hwayeon tersenyum kecut, kemudian mengusap air matanya dengan kasar. “Sudahlah, semuanya akan baik-baik sajakan?” tanya Hwayeon entah pada siapa.

Hwayeon tersenyum, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Disimpannya foto itu kembali ke laci mejanya, kemudian berdiri sembari membenarkan penampilannya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap menuju keluar ruangannya, dan ia disambut oleh tangan Hyera yang terangkat, bersiap mengetuk pintu ruangannya.

“Ah kau sudah siap? Kajja. Kau sudah ditunggu, dan emm… ayahmu juga akan ikut hadir di rapat kali ini.” Ujar Hyera tak yakin. Hwayeon memandang Hyera dengan tatapan kosong, kemudian mengangguk singkat. “Baiklah, kau sudah siapkan seluruh dokumennya?” tanya Hwayeon lagi sambil mulai berjalan kearah lift.

Hyera mengangguk, “Ne, kita akan membahas tentang resort kita yang berada di Jeju, kita mendapat beberapa masalah. Bahan-bahan yang dipakai tidak sesuai dengan perjanjian, harusnya mereka memakai kualitas nomor 1 tapi mereka malah memilih kualitas nomor 3 dan mereka mengatakan kalau dana yang kita berikan kurang. Kurasa pihak kontruksi melakukan penggelapan dana. Maka dari itu direktur utama akan ikut dalam rapat kali ini.” Jelas Hyera disambut kernyitan kening oleh Hwayeon.

Hwayeon diam, tidak menjawab, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam lift. “Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk memantau semuanya disana? Dan juga, aku ingat kalau kita baru saja mengirimkan dana tambahan bulan lalu bukan? Masih kurang? Itu bahkan sudah melebihi dari yang tercantum di surat perjanjian. Dan juga, kenapa bahannya bisa tidak sesuai?” Tukas Hwayeon bingung.

Hyera juga merasa ada yang janggal disini. Pasalnya, baru bulan lalu pihak kontruksi meminta tambahan dana, dan Hyera sudah menyuruh bawahan Hwayeon untuk mengirimkannya, sesuai perintah Hwayeon. Harusnya itu sudah lebih dari cukup, bahkan jika mereka tidak curang dan menurunkan kualitas bahan. Tapi kenapa kurang?

Hyera mengerjap, sesuatu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia menoleh kearah Hwayeon, dan ternyata Hwayeon juga sedang menatapnya dengan seringaian menyeramkan tercetak jelas di bibir Hwayeon.

“Ada yang berusaha bermain-main denganku rupanya.” Ujar Hwayeon dingin. Hyera tersenyum gugup, kemudian berdoa dalam hati. Oh oh, malangnya nasibmu -siapapun dirimu. Salahmu sendiri, kenapa berani-beraninya bermain-main dengan Kim Hwayeon? Siapapun kau, kudoakan supaya Hwayeon tidak terlalu kejam padamu batin Hyera

Lift berhenti, dengan cepat Hwayeon berjalan ke meeting room. Hwayeon membuka pintu ruang meeting, dan suasana ramai yang sedari tadi mendominasi ruangan langsung hilang dalam sekejap. Seluruh peserta rapat langsung duduk dikursinya masing-masing, dan membenarkan penampilan mereka.

Hening

Hwayeon masuk dengan langkah tegas dan percaya diri. Suara gemeletuk high heels dan lantai yang saling berbenturan seketika mendominasi ruang meeting tersebut.

Hwayeon mendudukkan dirinya di tampatnya sendiri, dan memberi isyarat agar rapat segera dimulai. Hyera dengan sigap menyodorkan ipad yang berisi materi rapat dan beberapa dokumen pada Hwayeon.

Rapat dimulai, Hyera berdiri di belakang Hwayeon dengan setia. Gadis itu sesekali membisikkan sesuatu pada Hwayeon yang selalu di balas anggukan oleh Hwayeon. Hwayeon mencoret sesuatu di dokumen yang dibacanya dan menuliskan sesuatu di sana.

Hwayeon kemudian mengangkat tangannya, membuat orang yang menjelaskan presentasinya menghentikan ucapannya dengan segera. Semua peserta rapat seketika memandangi Hwayeon, dan topeng dingin sudah terpasang sempurna di wajah gadis itu.

“Baiklah, aku sudah mendengar semua yang kau presentasikan. Kau hanya mengulang apa yang kutau, sama sekali tidak ada informasi lebih.” Ujar Hwayeon dingin. Namja yang memimpin rapat tadi menegang, “Mi-mianhae sajangnim.” Cicit namja itu takut.

Hwayeon mengangguk, “Yasudah, presentasimu sudah cukup bagus. Aku menghargainya. Sekarang kembali ketempatmu.” ujar Hwayeon acuh. Namja yang memimpin rapat tadi kembali ke tempatnya dengan segera.

“Baiklah, seperti yang kalian tau. Resort kita mendapati beberapa hambatan. Yang pertama, bahan tidak sesuai, dan yang kedua dana kurang mencukupi.” Hwayeon memutus ucapannya, dan menebarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Beberapa orang mengangguk menyetujui ucapan Hwayeon, beberapa orang mengernyit tidak suka, dan satu orang terlihat gelisah.

Hwayeon menyeringai, Gotcha! Batin Hwayeon.

“Hanya ada 2 pilihan. Pihak kita yang menggelapkan dana, atau pihak kontruksi.” Hwayeon menyeringai saat melihat namja yang sedari tadi diperhatikannya tersentak. Hwayeon menyantaikan duduknya, dan memandang Min Jun Jae –namja yang sedari tadi ia perhatikan- dengan tajam.

“Nah, bagaimana menurutmu Min Jun Jae-ssi? Apa menurutmu pihak kontruksi yang menggelapkan dana? Atau ada seseorang dari pihak kita yang mencoba bermain-main denganku?” tanya Hwayeon sakratik. Jun Jae yang merasa disebut namanya langsung tersentak kaget. Seluruh peserta rapat memandang Jung Jae dengan tajam, meminta jawaban. “N-ne? a-ah, kurasa pi-pihak kontruksi yang m-menggelapkan dana. Y-ya, kurasa mereka yang menggelapkan dana.” Keringat mulai bercucuran di wajah Jung Jae, padahal udara di meeting room tersebut sangat dingin.

Hwayeon tidak berkomentar, hanya menatap Jun Jae sambil melotot garang. Hwayeon menengadahkan tangannya tanpa melepas pandangannya dari Junjae. Hyera dengan segera menyerahkan ipad yang dipegangnya ke tangan Hwayeon.

Hwayeon berdehem, “Baiklah kalau itu jawabanmu.” Min Jun Jae tanpa sadar mendesah lega, membuat seringaian Hwayeon semakin bertambah lebar dan Hyera menatapnya iba.

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan padaku. Bagaimana mungkin tabunganmu bertambah beberapa milyar dalam 1 hari? Ah, kebetulan itu terjadi di hari yang sama saat aku memintamu untuk mengirimkan dana tambahan ke Jeju. Hmm… membeli mobil keluaran terbaru dari luar negeri untuk setiap anakmu, memberi apartemen mewah untuk setiap anakmu, well, bukankah anakmu ada 5? Bukankah itu sedikit terlalu banyak untukmu? Aku yakin gajimu tidak sebesar itu.” Tandas Hwayeon pura-pura polos.

Skak Matt batin Hyera iba.

Jun Jae terdiam ditempatnya, menunduk. Seluruh mata memandang tajam kearahnya. Hwayeon tersenyum puas, “Baiklah, kurasa kita sudah menemukan biang keroknya. Kurasa, aku sendiri yang harus turun tangan untuk proyek ini karena ini adalah proyek gabungan terbesar kita. Aku benar-benar akan sangat sangat sangat sangat sangat marah kalau kejadian ini sampai terulang lagi. Dan aku akan sangat sangat saangat sangat sangat menyeramkan jika aku marah.” Ujar Hwayeon penuh penekanan dengan seringaiannya.

“Rapat selesai.” Putus Hwayeon. Hwayeon berdiri, kemudian berjalan keluar. Namun tepat di depan pintu, ia berbalik, hampir membuat Hyera menabraknya. “Ah, dan satu lagi. Min Jun Jae-ssi, anda saya pecat.” Tukas Hwayeon santai, kemudian keluar dari ruangan rapat. Meninggalkan para peserta rapat yang memandangnya kagum, sekaligus ngeri.

Kim Young Woon, sang direktur utama yang merangkap appa Hwayeon hanya diam, memandang punggung anak gadisnya yang menghilang dibalik pintu. Kim Young Woon, namja yang biasa dipanggil Kangin itu kemudian menghela nafas. Jin Hee-ya, apa yang harus kulakukan pada anak kita? Kenapa kau meninggalkan kami secepat ini? Lihatlah anakmu, dia membutuhkanmu sayang batin Kangin sedih.

Kangin menghembuskan nafasnya, “aku yakin anak keras kepala itu akan menolak mentah-mentah permintaanku nanti malam.” Ujar Kangin lirih. Eotteokhae Jin Hee-ya?

 

….

 

Hwayeon menatap high heels yang dipajang di etalase dengan penuh minat. Hyera yang sedari tadi berada di sampingnya tertawa kecil melihat binar-binar di mata Hwayeon. “Eonni, bagaimana menurutmu sepatu itu? Bukankah itu sangat indah?” tanya Hwayeon sambil berdecak kagum.

Hyera mengangguk membenarkan sambil tersenyum, “Ne, sepatu itu memang indah.”

Hwayeon menoleh kearah Hyera kemudian bertepuk tangan kecil, “Ayo, aku mau membelinya hehehe.” Hyera pasrah saja saat Hwayeon menyeretnya masuk ke toko yang berada di depan mereka itu untuk membeli sepatu yang Hwayeon maksud.

Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam Pusat perbelanjaan Seoul. Setelah mensurvey Blue Sapphire hotel, mereka memutuskan untuk membuang penat dengan berbelanja. Mereka punya waktu lebih untuk berbelanja karna tadi pihak dari SJ Tv itu membatalkan janji mereka tiba-tiba.

Hwayeon tertawa girang saat sudah mendapatkan sepatu yang diingankannya tadi. Hwayeon sendiri membeli 2 pasang high heels, sebuah tas tangan, 2 gaun pesta, 3 gaun tidur, 1 buah lingerie entah buat apa. Sedangkan Hyera membeli sepasang high heels, sebuah tas tangan, 3 gaun pesta, 2 gaun tidur, bedanya Hyera tidak membeli lingerie seperti Hwayeon.

“Yah buat apa kau membeli lingerie seperti itu? Kau bahkan tidak punya pacar.” Ejek Hyera sambil tertawa geli. Hwayeon mendengus kemudian memanyunkan bibirnya, “biar saja, aku hanya iseng kok. Lagipula, kenapa kau tidak beli sekalian? Kau juga jomblo kan, jadi jangan mengejekku! Cih!”

Kali ini gantian Hyera yang mendengus, “Ya! Aku ini single bukan jomblo! Memangnya dirimu? Ditinggal ke pelaminan? Menyedihkan!” cibir Hyera sambil terkikik.

Hwayeon melotot, “Yak! Kenapa eonni membahas itu lagi! Itu bahkan sudah 5 tahun yang lalu, yang benar saja.” Hwayeon mencebik. Gadis itu kemudian menghentak-hentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. Hyera tertawa keras saat melihat Hwayeon yang merajuk.

Hwayeon semakin mengeruhkan wajahnya saat tawa Hyera tidak kunjung berhenti, malah semakin lama semakin keras. Sampai-sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Ish, dasar eonni bodoh.” Maki Hwayeon tepat didepan wajah Hyera yang masih sibuk tertawa, lalu angkat kaki dari tempat itu.

Hwayeon berjalan cepat sambil menghentak-hentakkan kakinya tanpa melihat jalan.

Duk!

“Omo!” Hwayeon jatuh tersungkur dengan tidak elitnya saat ia menabrak seorang namja. “Appo.” Ringis Hwayeon sambil mengelus jidatnya yang sukses mencium lantai dengan keras.

“Tidak! PSP-KU! Yak! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat hasil perbuatanmu! PSPku rusak!” Hwayeon mendengus saat mendengar makian orang di depannya. Hwayeon bangkit berdiri sambil meringis menahan pusing. “Ya! Orang tolol juga tau kalau jalan itu pake kaki bukan pake mata! Lagipula kau juga tidak melihat jalan kan? Kenapa aku yang disalahkan? Kau sendiri juga salah!” bentak Hwayeon balik.

Namja itu melongo, kemudian melotot sambil mendesis geram. “Yak! Jadi kau menyalahkanku begitu?!”

“Apa aku bilang begitu?!” tanya Hwayeon balik sambil balas melotot.

“Tapi maksud kata-katamu begitu!”

“Itu perasaanmu saja!”

“Yah! Yeoja bar-bar! Kau berani padaku?!”

“Kenapa aku harus takut padamu? Dasar ahjussi bodoh!”

“Mwo?!” Namja itu melotot, matanya seakan bersiap keluar dari tempatnya. Bukannya takut, Hwayeon malah balas melotot, sama sekali tidak merasa gentar dengan namja yang didepannya.

Hyera yang baru menyusul Hwayeon langsung melongo melihat debat mulut antara Hwayeon dan namja yang ditabraknya.

“Yah! Kau benar-benar tidak takut ya?! Kau tidak tau siapa aku?!” tuding namja itu marah. Hwayeon berdecak malas, membuat namja itu semakin marah.

“Memangnya kau siapa? Artis? Pejabat? Apa peduliku? Memangnya kau siapa?!”

“MWOYA! AKU CHO KYUHYUN KAU TAU?!”

“AKU KIM HWAYEON, JADI APA?! MEMANGNYA AKU PEDULI? DASAR AHJUSSI! SOK TENAR!”

“YAK!”

“MWO!”

“CUKUUUUUUUUUUUUPP!!!!!!!” Hwayeon dan namja yang mengaku bernama Cho Kyuhyun itu kemudian menatap kaget pada Hyera yang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kau Kim Hwayeon! Cepat minta maaf!” Hwayeon melotot tak terima. “Shireo!”

Hyera melotot, Hwayeon juga melotot, Kyuhyunpun melotot. Akhirnya Hwayeon mengalah, “Mianhae.” Ujarnya ketus. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, Hyera sendiri mendengus kemudian tersenyum meminta maaf pada Kyuhyun.

“Maafkan adikku, dia memang kadang kekanakan. Tolong beritahu cara menghubungimu, biar kami bisa menganggti barangmu yang rusak.” Mohon Hyera sopan.

Hwayeon mendelik, sama sekali tidak suka dengan apa yang Hyera katakan. Baru ia membuka mulutnya untuk membantah, Hyera kembali melotot padanya. Hwayeon kemudian mengatupkan mulutnya kembali dan mendengus.

Kyuhyun merogoh saku nya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu nama dari sana. “Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku untuk menggantikan PSPku yang dirusak adikmu itu. Kau yakin bisa menggantinya? Itu limited edision, dan itu tidak murah.” Ucap Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon yang mendengarnya otomatis mendelik. “Yah! Kami bukan orang miskin dasar ahjussi sombong yang sok tenar!” bentak Hwayeon penuh amarah.Kyuhyun hanya mengangkat alisnya dan dengan bijak mengabaikan Hwayeon.

Hyera buru-buru mengambil kartu nama yang di sodorkan Kyuhyun dan mengopernya ke Hwayeon yang diterima Hwayeon dengan ogah-ogahan. “Ne, sekali lagi maafkan kelakuan adikku. Kami permisi dulu. Kajja.”Hyera menunduk, memberi salam pada Kyuhyun. Hyera juga memaksa Hwayeon memberi salam yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Kyuhyun memandang Hwayeon dan Hyera yang menjauh dengan pandangan berminat. Namja itu kemudian terkekeh saat melihat Hwayeon menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saat diseret dengan tidak berperi kemanusiaan oleh Hyera.

“Gadis gila.” Gumam Kyuhyun sambil mendengus geli. Pandangan Kyuhyun kemudian tertuju pada sebuah gelang yang tergeletak di lantai. Kyuhyun dengan ragu mengambilnya, kemudian memperhatikannya. Ornamen-ornamen di gelang tersebut membentuk sebuah kata.

Kim Hwayeon

“Jadi ini miliknya? Well, baiklah. Kurasa kita akan segera bertemu kembali Kim Hwayeon-ssi. .”gumam Kyuhyun lirih sambil menyeringai. Entah apa yang dipikirkan oleh namja itu.

 

……

 

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena telinganya terus menerus menangkap kikikan Hyera disampingnya. Sejak mereka meninggalkan mall 10 menit yang lalu, Hyera tidak henti-hentinya menertawakan Hwayeon.

“Oh ya ampun.. astaga-ahahahahaha Ya Tuhan, kau tidak lihat tadi bagaimana wujudmu saat bertengkar dengan namja tampan tadi. Menggelikan sekali hahahahaha. Demi apa, kemana Kim Hwayeon yang selalu ditakuti orang-orang eoh? Ahahaha, jinjja. Itu tadi sungguh menggelikan.” Hwayeon mendengus, gadis itu melirik Hyera dari sudut matanya kemudian menggeram tak terima.

Eonni bodoh itu! Maki Hwayeon dalam hati.

Hyera melirik Hwayeon yang merajuk di sampingnya sambil tersenyum geli. “Hei, tidak usah merajuk seperti itu. Aku hanya bercanda.”

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan eonni. Sudahlah, ini sudah jam 8 lewat, kita pasti sudah dittunggu oleh appa.” Hyera menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan Hwayeon.

Hwayeon seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang yeoja itu bisa menjadi sosok yang begitu menggemaskan, manja, dan egois. Tapi disisi lain, yeoja itu juga bisa menjadi sosok yang begitu berwibawa, bertanggung jawab, mandiri, dan penuh percaya diri.

Seperti saat dikantor misalnya, siapa yang tidak segan dengan Kim Hwayeon? Tidak ada! Yah, mungkin Hyera dan sang appa tidak masuk hitungan. Hwayeon bisa menjadi sangat dictator jika sudah menyangkut pekerjaan, dan kadang bisa membuat Hyera kelimpungan sendiri. Tapi berbeda jika Hwayeon sudah berada bersama sahabat-sahabatnya, atau oppanya, ia bisa menjadi sangat manja.

Hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana sifat Hwayeong yang ‘sebenarnya’. Hyera salah satunya.

“Nah, sudah sampai. Kajja.” Hyera dan Hwayeon kemudian melepas seat belt mereka, dan beranjak keluar dari dalam mobil dengan sedikit terburu-buru.

Hyera berjalan mendahului Hwayeon. Sedangkan Hwayeon sendiri hanya diam mengikuti Hyera dari belakang sembari sibuk membenarkan penampilannya yang sedikit acak-acakan.

Hyera membimbing Hwayeon masuk ke dalam ruang privat di restoran tersebut.

“Oppa!” pekik Hwayeon riang sesasat setelah mereka melangkah masuk kedalam ruangan. 3 orang namja yang berada di ruangan tersebut sontak mengalihkan pandangan mereka pada Hwayeon, dan senyuman otomatis tersemat di masing-masing bibir mereka.

Heechul berdiri, mengampiri Hwayeon dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. “Aiish, bogoshipo chagiya. Kau semakin kurus saja eoh? Apa kau tidak makan dengan benar eum? Apa pekerjaanmu membebanimu? Apa kau tersiksa?” Hwayeon terkekeh saat mendengar Heechul yang memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Anniya oppa, aku tidak terbebani dengan pekerjaanku. Aku mulai menyukainya. Dan masalah makan, aku hanya tidak nafsu saja oppa. Lagi pula, dulu oppa kan bilang aku gendut ish! Sekarang aku sudah kurus, kenapa oppa masih protes, dasar.” Cibir Hwayeon.

Heechul tergelak, “Terserahmu sajalah. Yasudah, kajja. Tak biasanya kau terlambat, kami sudah menunggumu dari tadi.” Hwayeon hanya menurut saat Heechul membimbingnya untuk duduk di sebelahnya. Hyera yang sedari tadi berdiri pun akhirnya ikut duduk di samping Kibum yang sedari tadi diam sambil membaca sebuah modul.

Suasana canggung seketika menyelimuti ruangan. Hwayeon melirik sang ayah yang sedari tadi hanya memandanginya dengan ragu. “A-annyeong ap-pa.”

Heechul yang mengamati interaksi antara ayah dan anak itu akhirnya jadi keki sendiri. Suasana ini lebih menyeremkan daripada kuburan batinnya sebal.

“Annyeong. Baiklah, karena semuanya sudah lengkap. Kita bisa makan sekarang.” Ujar Kangin sambil memberi kode pada pelayan yang berada di sudut ruangan. Kibum hanya mengangguk tak peduli kemudian sibuk kembali dengan modulnya, sedangkan Hwayeon mulai sibuk dengan ponselnya. Heechul berdecak malas, sebenarnya suasana seperti ini sudah tidak asing lagi untuknya semenjak kematian sang eomma. Hanya saja, ia sekarang merindukan Hwayeon yang dulu.

Hwayeon yang dulu tidak akan tahan dengan suasana hening seperti ini. Ada saja tingkah gadis itu agar membuat suasana ramai dan menyenangkan. Entah itu celotehan riangnya, atau pekikkan senangnya, atau gerutuannya. Tapi semuanya sudah menghilang, lenyap, sejak eomma pergi meninggalkan mereka 1 tahun yang lalu.

Kangin berdehem, sedikit risih dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Namja itu melirik anak gadisnya, merasa kecewa saat melihat gadis itu malah sibuk dengan ponselnya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan perwakilan dari SJ Tv tadi Hwayeon-ah?” tanya Kangin membuka percakapan.

Hwayeon yang merasa terpanggil kemudian meletakkan ponselnya diatas meja, dan memandang sang appa. “Euumm, mereka membatalkan janji temu kami tadi.” Jawab Hwayeon tak yakin.

Kangin mengerutkan keningnya, merasa tak puas dengan jawaban Hwayeon. Tapi kemudian namja itu menghela nafas, mengerti. “Baiklah, jadwalkan ulang janji temu kalian. Lalu, apa yang kau lakukan dengan Min Jun Jae?”

Hwayeon tanpa sadar mengerucutkan bibirnya saat mengingat kejadian menyebalkan dikantor tadi siang. “Aku memecatnya, tentu saja. Aku tabungan dan aset miliknya. Yah, berkat Hyera eonni, aku menyisakan sedikit tabungannya, dan beberapa asetnya. Hanya saja, cih, jangan harap dia bisa menunjukkan wajahnya lagi di hadapanku. Aku jamin dia akan sulit mendapatkan pekerjaan setelah ini.” Jelas Hwayeon panjang lebar sambil berdecih.

Kangin hanya mengangguk, sedikit ragu, tapi selebihnya ia percaya dengan Hwayeon.

“Baiklah, terserahmu saja. Aku yakin kau tau keputusan yang paling tepat.” Hwayeon mengangguk antusias, merasa senang saat mendapat kepercayaan dari Kangin. Heechul disisi lain mendengus tak terima, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kangin dan Hwayeon.

“Min Jun Jae? Nugu?” tanya Heechul langsung.

“Orang.” Jawab Hwayeon santai. Heechul mendesis, “tentu saja orang! Aku juga tau itu!”

Hwayeon mengerjap, “Nah, kalau oppa sudah tau, buat apa bertanya? Dasar pabbo.” Ledek Hwayeon sambil terkikik. Kibum, Kangin, dan Hyera yang mendengarnya menahan senyum. Sedangkan Heechul sendiri malah melongo seperti orang bodoh, “aish, terserahmulah.”

Tawa mereka akhirnya pecah, membiarkan Heechul yang tersenyum kecut.

Suara ketukan pintu menginterupsi mereka. Beberapa orang yang mengenakan seragam pelayan berjalan masuk, menghidangkan makan malam mereka dengan rapih di atas meja. ‘Gomawo’ gumam Hwayeon pelan.

Kali ini suasana ruangan tersebut tidak lagi hening. Dentingan sendok dan piring sesekali terdengar diantara obrolan mereka. Hyera dan Kibum yang sedari tadi diam pun ikut terlibat percakapan kecil.

Hanya Hwayeon yang makan dalam diam, Kangin yang memang sejak awal memperhatikan Hwayeon akhirnya menghela nafas. “Hwayeon-ah.” Panggil Kangin lembut. Hwayeon hanya bergumam kecil menanggapi panggilan Kangin.

Semuanya diam, menatap Kangin dengan pandangan bertanya. “Sebenarnya, appa mengajak kalian semua berkumpul untuk makan malam hari ini karena appa ingin menyampaikan sesuatu.” Perhatian Hwayeon kini sepenuhnya sudah teralih pada Kangin.

Kangin meletakkan sendok garpu yang dipegangnya, dan beralih meremas kedua tangannya. “Ini sebenarnya permintaan mendiang ibumu, dia… dia menginginkanmu untuk segera menikah dan berumah tangga.”

“Uhuk-uhuk” Hwayeon tersedak, dengan panik ia mengambil gelas yang berada di tangan Heechul dan meneguknya rakus. Hwayeon kemudian bernyengit saat rasa pahit menjalari kerongkongannya. Kibum dengan santai mengulurkan gelas berisi air putih pada Hwayeon, dan Hwayeon menandaskannya dalam sekejap.

“Mwo? Tapi aku masih muda appa.” Sangkal Hwayeon tak terima, “Lagipula aku tidak memiliki kekasih” lanjutnya.

“Appa tau, hanya saja. Umurmu sudah 25 tahun, kau sudah cukup umur untuk menikah. Lagipula, appa tidak mau kau bernasib seperti para oppamu. Sudah tua, tidak ada pikiran untuk menikah sama sekali. Cih.” Heechul dan Kibum yang merasa tersindir melayangkan tatapan protes pada Kangin, yang tentu saja diabaikan oleh namja paruh baya tersebut.

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Jadi aku harus bagaimana? Aku belum punya calon.” Tukasnya santai.

Kangin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kaku, “Itu… sebenarnya appa sudah menyiapkan calon untukmu. Hmmm, ini kesepakatan ibumu dengan sahabatnya sebenarnya. Jadi kau tidak perlu khawatir masalah calon.”

Hwayeon diam.

Gadis itu berusaha menyerap perkataan Kangin. “Tunggu dulu, apa appa sedang mengatakan padaku kalau aku sekarang dijodohkan?” pekik Hwayeon kaget, marah.

“Y-ya, itu keinginan eommamu, appa tidak bisa menolak. Kau mau kan?” tanya Kangin penuh harap.

“SHIREO!!!” pekik Hwayeon kesal sambil menggebrak meja, membuat Heechul disebelahnya mengutuk karena kaget.

Kangin menghela nafas, sama sekali tidak kaget dengan reaksi Hwayeon. “Appa tau kau tidak menyukainya, Tapi… appa mohon, demi eommamu. Eommamu tidak mungkin sembarangan menjodohkanmu, appa yakin eomma tau pasti seleramu. Eomma hanya ingin yang terbaik untukmu, begitu juga appa. Karena itu, setidaknya kau harus bertemu dengan calonmu. Jika seiring berjalannya waktu, dan kau masih merasa tidak cocok. Appa akan mengerti, appa tidak akan memaksakan perjodohan ini. Hanya saja, cobalah terlebih dulu. Demi eomma, nak.”

Hwayeon kembali terdiam. Semua mata kini tertuju pada Hwayeon yang diam dengan pandangan kosong. Kibum dan Heechul saling berpandangan dalam diam. “Dengar Hwayeon-ah, jika kau memang tidak mau, tidak apa. Oppa yakin appa akan mengerti, begitu juga dengan eomma. Kau tidak perlu melakukan semuanya dengan terpaksa. Kalau kau memang tid-“

“Baiklah.” Potong Hwayeon. Heechul memandang Hwayeon ragu. Sekali lagi, namja itu melirik Kibum yang juga sudah meliriknya. Saat Kibum mengangguk padanya, akhirnya Heechul menyerah.

Kangin yang mendengar jawaban Hwayeon tersenyum lega. Appa dan eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Hwayeon-ah batin Kangin sedikit sedih.

Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang, melanjutkan percakapan mereka tanpa menyinggung Hwayeon sedikitpun. Kibum menatap Hwayeon tajam, menelisik kedalaman mata sang adik. Merasa iba dengan adik kesayangannya itu.

Apa seberat itu bebanmu saeng? Kenapa kau tidak pernah mau berbagi pada kami eoh?Kami keluargamu. Kenapa kau selalu menyimpan bebanmu seorang diri? Apa kami tidak ada artinya bagimu? Ujar Kibum dalam hati.

.

Hwayeon menatap laporan dihadapannya dengan pandangan tidak berminat. Ingin rasanya gadis itu kabur dari segala urusan kantor yang membelenggunya, dan melakukan kegiatan yang ia sukai. Tapi sayangnya ia tidak bisa.

Kehidupannya yang sekarang, bukanlah kehidupan yang ia impikan. Tidak pernah terbesit dipikirannya kalau pada akhirnya ia akan menjalani pekerjaannya yang sekarang. Tidak pernah sama sekali.

Ia harus menjalani ini semua, membuang seluruh impiannya jauh-jauh kedasar demi membahagiakan kedua oppanya. Mereka hanya 3 bersaudara. Jika Heechul dan Kibum menolak mentah-mentah untuk meneruskan perusahaan appa, otomatis dialah yang akan meneruskannya.

Harusnya, kursi yang sekarang ia pakai ini menjadi kursi Heechul. Tapi Heechul dengan tegas menolak untuk mendudukinya, namja itu lebih memilih untuk menjadi seorang desaigner perhiasan. Begitupula dengan Kibum, namja itupun sama tegasnya dalam hal menolak menduduki kursi jabatan yang seharusnya menjadi milik Heechul, dan lebih memilih untuk berkecimpung di dunia medis.

Hwayeon sama sekali tidak membenci kedua oppanya. Hwayeon tau, kedua oppanya itu sama seperti dirinya. Tidak suka dikekang, mereka semua memiliki jiwa yang liar dan bebas.

Karena itu, Hwayeon bisa mengerti. Karena itu, Hwayeon rela memasrahkan dirinya untuk menjalani tugasnya sekarang. Gadis itu tidak perduli jika ia merasa tidak bahagia, tidak masalah, asalkan kedua oppanya bisa bebas. Asalkan kedua oppanya bisa bahagia.

Sudah 3 tahun Hwayeon melepas seluruh angan-angannya, memendamnya dalam-dalam, jauh ke dasar. Demi oppanya, orang yang begitu berharga dihidupnya. Tapi rasanya sulit sekali menjalani hari-harinya.

Apa lagi sejak saat itu… sehari terasa seperti seabad. Terasa begitu menyiksa, begitu menyakitkan.

Tok tok tok

Hwayeon tersadar dari lamunannya, dengan cepat gadis itu menekan sebuah tombol disamping kanannya, mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

Hyera muncul dari balik pintu dengan ragu. Hwayeon yang melihat tingkah ragu-ragu Hyera, sontak bertanya. “Waeyo eonni? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Hwayeon khawatir.

Hyera menatap Hwayeon intens, membuat Hwayeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan Hyera. Hyera akhirnya menghela nafas, “Perwakilan dari Cho corp sudah datang.” Hwayeon mengangguk singkat, kemudian keningnya mengernyit. “Cho corp? Ah, kerja sama resort di Jeju?” Hyera mengangguk kaku.

“Baiklah, persilahkan mereka masuk ke ruanganku.” Hyera tetap diam, memandang Hwayeon dengan ragu.

Hwayeon yang mendapati Hyera masih diam di hadapannya menatap Hyera balik dengan pandangan bertanya. Cukup lama mereka berpandangan, akhirnya Hyera mengalah. Hyera keluar dari ruangan Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ada apa dengannya?” gumam Hwayeon bingung.

Hwayeon menggendikkan bahunya, kemudian beralih membersihkan mejanya dari tumpukan-tumpukan dokumen yang berserakan.

“Silahkan masuk, anda sudah ditunggu.” Terdengar suara Hyera dari luar ruangan.

“Terimakasih.” Balas seorang namja.

Hwayeon sontak mengangkat kepalanya saat sebuah sapaan terdengar di gendang telinganya. “Silahkan du-“ Hwayeon melotot saat matanya menangkap sosok namja yang sekarang berdiri di depan pintu ruangannya dengan sebuah seringaian di bibirnya.

“KAU!!! Sedang apa kau disini?!” pekik Hwayeon kaget. Kyuhyun yang tadi berdiri di depan into ruangan Hwayeon kemudian tersenyum manis- atau lebih tepatnya menyeringai sok manis- lalu melenggang masuk ruangan Hwayeon dengan santai, membuat Hwayeon mendelik padanya.

“Yaa! Siapa yang menyuruhnya masuk!” bentak Hwayeon kesal. Kyuhyun terkekeh dibuatnya, “asistenmu yng menyuruhku masuk tadi.” Balas Kyuhyun santai sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa berbentuk L di ruangan Hwayeon tersebut.

“Jadi kau- aish!” Kyuhyun terkekeh saat umpatan Hwayeon menyapa gendang telingnya. Dengan kasar Hwayeon mendudukkan dirinya di sofa lain di samping Kyuhyun dengan kasar.

“Jadi kita akan membicarakan kerjasama kita sekarang?” tanya Hwayeon malas, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Kyuhyun yang melihat tingkah menggemaskan Hwayeon hanya tersenyum kecil.

“Ani, kita tidak membahas pekerjaan sekarang. Aku hanya disuruh datang ke sini oleh appamu, Orangtuaku masih berada di ruangan Kangin appa. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul ke sini. Kita akan membicarakan pertunangan kita” Hwayeon terdiam, mencoba mencerna ucapan Kyuhyun dengan baik.

Orang tua? Kangin appa? Menyusul? Pertunangan? Hwayeon mengerjap, “Tunggu dulu, jangan bilang ka-“

“Yuhuuuuu, calon menantuku annyeong!!! Omo!! Kau cantik sekali, manis pula aiigoo, kau seperti duplikat Jin Hee. Ah, kau sudah bertemu anakku? Bagaimana? Kau menyukainya kan? Jadi kapan kalian mau menikah? Omo omo, aku ingin segera menimang cucu.”

 

To be continued…

Find My Love // Part 9a [Secret]

Previous chapter…

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

Title: Find my love part 9a ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Nah, bertemu lagi dengan author yang manis #pret. Ini sudah author bikinin ff kebut banget. Baru beres, langsung author publish deh, jadi kalian ga menunggu teerlalu lama. Author baik kan? Oh tentu 😀
Oke deh, langsung dicek aja ceritanya. Maaf kalau jelek dan ga memuaskan. Author udh berusaha sekuat tenaga. Jadi hargain oke? Tinggalkan jejak kalian ~
Happy reading

-o0o-

Chapter 9a
Secret

Air mata tanpa kusadari terjatuh di pipiku. Aku mengusapnya cepat, berharap tidak ada orang lain yang melihatnya. Memalukan! “Waeyo chagi? Kau menangis eoh? Shhh, uljima.” Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam pelukan Kyuhyun oppa. Lampu mulai menyala dan ruang teater yang awalnya gelap dan sepi kini sudah terang dan ramai.

Aku tetap duduk di kursiku sambil menyembunyikan wajahku yang basah karna air mata di dada Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa sendiri mengelus-ngelus rambutku dengan lembut sekali. “Dasar cengeng, begitu saja nangis.” Aku memukul dadanya pelan, lalu mengerucutkan bibirku. Sudah kuduga, dia akan mengolokku. Menyebalkan sekali.

“Biar saja, filmnya memang sedih kok. Wajar saja jika aku menangis.” Sangkalku membela diri. Itu memang benar bukan? Jalan ceritanya sangat menyedihkan, aku terus menerus menangis saat menontonnya. Coba saja kalian bayangkan, di film itu, ada sepasang kekasih. Aku mengerti kalau mereka berdua saling mencintai, semua tergambar jelas di film itu. Awalnya semua berjalan dengan baik, semuanya terasa begitu indah. Tapi tak berselang lama, mulai banyak kejadian kejadian menyebalkan yang terjadi di film itu.
Tokoh utama namja di film itu tiba-tiba saja menghilang, membuat tokoh yeojanya sedih dan tertekan. Tokoh yeoja itu berusaha melupakan si namja pabbo itu, yeoja itu bahkan mencoba untuk berkencan dengan beberapa namja lain. Tapi tetap saja, setiap yeoja itu pulang, kembali ke kamarnya.. yeoja itu kembali menangisi si namja pabbo itu. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk pergi ke Negara asing untuk bekerja. Nah, bagian paling menyebalkannya ada di bagian sini.

Ternyata, namja pabbo yang merupakan tokoh utama itu selama ini hilang ingatan. Karena hilang ingatan itulah, namja itu sama sekali tidak tau kalau ada orang yang dicintainya di Seoul. Jadi saat mereka bertemu di tempat kerja, sang namja sama sekali tidak mengenali yeoja tersebut. Malahan, namja itu sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.

Sudah bisa dipastikan, tokoh utama yeoja itu sangat sakit hati dan terpuruk. Yeoja itu mulai menyeleweng, mabuk-mabukan, pergi ke bar, berkali kali tidur dengan lelaki acak yang ditemui yeoja itu di bar. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan sampai akhir hayat gadis itu pun… namja yang dicintainya itu tidak pernah mengingatnya lagi. Sadis sekali.

“sudahlah, kenapa kau malah melamun. Itu hanya film sayang, tidak perlu di pikirkan. Ayo kita keluar dari sini sebelum kita diusir.” Aku tersadar dari lamunanku dan bangkit berdiri, membiarkan Kyuhyun oppa menggenggam tanganku dan menuntunku ke luar gedung teater. “Sekarang kita mau kemana oppa?” tanyaku bingung saat Kyuhyun oppa malah menuntunku ke halte bis. Aku menengok, menatap wajah Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum, jujur saja membuatku sangat penasaran.

“Kau akan tau begitu kita sampai.”
Hanya itu jawaban yag kudapat dari Kyuhyun oppa bahkan setelah aku merengek-rengek padanya. “Oppa… kita akan pergi kemana sebenarnya?” tanyaku lagi untuk yang kesekian kalinya. Kudengar Kyuhyun oppa yang duduk disebelahku menghela nafasnya. Lalu Kyuhyun oppa kemudian menoleh padaku sambil cemberut, “Kau ini cerewet sekali. Tidak usah banyak bertanya, aku jamin kau akan menyukainya. Arraseo? Duduk diam dan tenanglah, sebentar lagi kau akan tau.” Akhirnya aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat rasa penasaranku.

Selama perjalanan kami hanya diam, Kyuhyun oppa duduk sambil merangkulku, membuat tubuh kami tidak berjarak barang 1 cm pun. Aku sih hanya pasrah saat dia merangkulku begini. Aku sendiri hanya duduk dengan diam, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memainkan jemari tangan Kyuhyun oppa yang menganggur.

Haaahh…. Rasanya waktu berjalan cepat sekali ya… AKu tidak sadar, tau-tau saja sudah 1 bulan sejak kejadian itu terjadi.

Yah… kalian pasti mengerti kejadian mana yang kumaksud. Hah, kira-kira apa yang terjadi degan gadis itu ya? Aku penasaran sekali. Tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang bersedia memberitahuku. Cih, mereka selalu bersekongkol. Menyebalkan

Drrtt drrtt

Aku tersentak saat hanphone dalam sakuku bergetar. Dengan malas aku meraih handphoneku, Ravi oppa menelpon ternyata.

“Eoh, yeobosaeyo. Waeyo oppa?” jawabku memulai percakapan.
“Kau ada dimana chagi?”

“Aku sedang berada di dalam bus. Waeyo?”
“Hah? Bis? Kau menggunakan bis? Untuk apa? Memangnya mobilmu kemana? Kau mau pergi kemana? Kenapa tidak menggunakan taksi saja? Atau minta Kyuhyun mengantarmu. Ini sudah malam, tidak baik kalau kau pergi sendirian, apa lagi menggunakan kendaraan umum seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kau mengerti tentang rute-rute bis.”

Aku memutar bola mataku malas. Berlebihan sekali, menyebalkan. “Ish, oppa cerewet sekali. Mobilku tidak kemana-mana, dan aku tidak tau aku sekarang ini mau pergi kemana. Aku sedang berkencan dengan Kyuhyun oppa tau? Oppa menganggu.”
“Ah, begitu rupanya. Yasudah… Jadi kau sedang bersama Kyuhyun kan? Coba berikan telepon ini ke Kyuhyun, oppa mau bicara.”

Aku menyipitkan mataku, mencoba memilah-milah. Haruskah kuberikan telepon ini pada Kyuhyun oppa? Apa yang kira-kira akan mereka bicarakan. Kenapa Ravi oppa tidak mau menyampaiannya padaku saja. “Yeobeosaeyo? Kau masih di sana?” Aku tersentak kembai saat mendengar suara Ravi oppa di ujung telepon. “E-eoh, baiklah. Sebentar.”
“Siapa?” tanya Kyuhyun oppa saat aku menurunkan handphoneku dari telinga. “Ravi oppa. Nih, dia bilang dia mau berbicara denganmu.”
Kyuhyupun oppa mengerutkan keningnya, lalu meraih ponselku. “Eo hyung, waeyo?”

“…”
Aku menatap Kyuhyon oppa dengan bingung saat kerutan kerutan di wajah Kyuhyun oppa terlihat semakin dalam. “Hmm, lalu?”

“…”
“Ah jinjjayo? Baguslah, chukkae. Aku ikut senang.”

“…”
“ah… haruskah?” aku mengerutkan keningku saat Kyuhyun oppa melirikku dari sudut matanya. Apa-apaan, apa sih yang mereka bicarakan sebenarnya?

“…”
“Arraseo, itu memang tugasku. Sekali lagi, chukkaeyo hyung.”

“…”
“Ne, arraseoyo.”

“…”
“Hahahaha jinjja? Haha arraseo. Ah, apa kau mau berbicara dengan adikmu lagi?”

“…”
“Ah, geurae.. Arraseo arraseo, selamat bersenang-senang hyung. Anyeong.”

“…”
Aku mengambil ponselku yang tadi disodorkan oleh Kyuhyun oppa dan kembali memasukkannya ke dalam kantong celanaku. Aku menatap Kyuhyun oppa bingung, “Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyaku spontan.
Kyuhyun oppa kembali tersenyum dan menggeleng, “Aniya, bukan apa-apa. Kau tidak perlu tau. Itu urusan namja.” Aku berdecak kesal. Cih, apa-apaan itu? Urusan namja? Bah, menyebalkan sekali mereka itu. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Aku curiga, pasti ada yang mereka sembunyikan. Apa mungkin Yoonhee eonni tau? Haruskah aku menelponnya sekarang? Haruskah?

“Aniya, kami tidak menyembunyikan apapun darimu. Tenanglah.” Oke, jadi mereka mau bermain sembunyi-sembunyi? Baiklah, kalau begitu biar aku yang mencari tau. Kuambil lagi ponselku, kemudian menelpon speed dial nomor 5. “Siapa yang kau telfon?” tanya Kyuhyun oppa penasaran. Aku merengut, tapi aku tidak menjawabnya… biar saja.

“Yeobosaeyo, ada apa menelponku malam-malam begini Hwayeon-ah?”
“Ah mian eonni, aku hanya ingin bertanya… Apa Ravi oppa sedang bersamamu?”

“Ne, bukankah tadi dia menelponmu? Ada apa?”

“Ah… tadi dia berbicara dengan Kyuhyun oppa. Mereka tidak mau memberitahuku. Apa eonni tau apa yang mereka bicarakan?”

“Ah jinjja? Tadi sih mereka berbicara tentang-”

“YAK! MATIKAN TELFONNYA MATIKAN!”

“Kau ini kenapa sih? Aku sedang berbicara dengan adikmu.”

“Sudah matikan saja telfonnya, cepat.”

“Tapi aku sedang- YAK!”

Tuuuutttt

Aku menatap ponselku dengan kesal. Apa-apaan itu tadi? Kenapa Ravi oppa sampai segitunya? Apa sih yang mereka sembunyikan sebenarnya? Aku mendengus, kemudian menjauhkan diriku dari Kyuhyun oppa dengan kesal. Bisa kuengar suara kekehan Kyuhyun oppa di sebelahku. “Waeyo tuan putri? Merajuk hemm?” Aku melipat tanganku di dada, mempertegas kalau aku saat ini memang sedang merajuk.

Author POV

Kyuhyun kembali terkekeh saat melihat kekasihnya itu melipat tangan di atas dadanya dan menolak untuk melakukan kontak mata dengannya. “Ayolah… kita sedang berkencan sekarang, jangan merajuk eoh?” Kyuhyun menusuk-nusuk pipi chubby Hwayeon dengan gemas, sampai Hwayeon memelototinya dan raut wajah menggemaskan. “Diamlah kau menyebalkan! Aku membencimu!” Kyuhyun kembali terkekeh, lalu dengan cepat namja itu memaksa untuk merangkul Hwayeon yang masih merajuk.

“Arraseo mianhae, jangan merajuk. Kita sudah hampir sampai loh.” Bujuk Kyuhyun sambil tersenyum geli. “Apa peduliku?” Oh-oh, rupanya Hwayeon masih tetap pada pendiriannya dan terus merajuk. Kyuhyun tersenyum simpul, dengan cepat namja itu meraih dagu Hwayeon dan memaksa gadis itu agar menatapnya. “Jadi kau tidak peduli hmm?”
Hwayeon diam, terpaku oleh mata Kyuhyun yang saat ini tengah menyorot tajam padanya. “Y-ya, a-aku tidak p-peduli.” Jawab Hwayeon sambil tergagap.
Kyuhyun tertawa dalam hati, merasa puas telah membuat kekasihnya itu terperosok kembali ke dalam pesonanya. “Begitukah?” tanya Kyuhyun pelan dengan suara parau.

Glek

Hwayeon menelan salivanya gugup, matanya bergerak gerak gelisah. “Y-ya.” Kyuhyun menyeringai, “Kau yakin?” tanya namja itu lagi sambil mempersempit jarak diantara wajah mereka. Hwayeon mengangguk panic, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa ia lihat, kecuali mata Kyuhyun.
“Begitu rupanya, yasudah kalau begitu kita pulang saja. Buat apa kita melanjutkan kencan jika kau bahkan tidak peduli?” Kyuhyun menjauhkan wajahnya, dan bersiap-siap berdiri. Yah, hanya pura-pura juga sih sebenarnya. Hwayeon mengerjapkan matanya, lalu menggeleng panic. “MWO? ANDWAE! Arraseo, mianhae! Aku tidak akan merajuk lagi!” pekik Hwayeon cepat.

Kyuhyun tersenyum puas saat Hwayeon mencengkram erat kemejanya sampai kusut. “Benar? Katanya kau tidak peduli?” goda Kyuhyun lagi. Hwayeon menggeleng cepat dengan mata memelas, “aniya, aku hanya bercanda. Jangan pulang sekarang, aku masih ingin bersamamu.” Kyuyun tersenyum kemudian kembali membawa Hwayeon ke dalam pelukannya. “Arra” jawab namja itu pelan.

.

“Huaaaaaaaaa!!!!! Indah sekali!!!!!” Kyuhyun tersenyum senang saat melihat senyum lima jari terpasang sempurna di wajah kekasihnya. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower, kalian tahu jelas kan tempat apa itu. Hwayeon sendiri sudah berlari kearah pagar dengan mata terbuka lebar. Berkali-kali decakan kagum terdengar dari bibirnya.
Kyuhyun menghampiri Hwayeon, lalu memeluk yeoja itu dari belakang. “Bagaimana? Kau suka?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon mengangguk-ngangguk antusias sebagai jawaban, jangan lupakan matanya pun berbinar-binar senang. “Suka! Aku sangat suka! Gomawo, sudah membawaku kemari… ini indah sekali” jawab Hwayeon dengan suara tercekat.
Hwayeon menolehkan kepalanya ke samping, membuatnya bertatapa dengan mata Kyuhyun. “gomawo oppa, jeongmal gomawo” lirih Hwayeon pelan. Kyuhyun terdiam, namja itu terus memaku mata Hwayeon, sampai akhirnya… entah siapa yang memulai. Kedua belah bibir mereka akhirnya bertemu.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba meredam perasaan memabukkan yang saat ini tengah melandanya. Perasaan yang membuat jantungnya terus bertalu dengan cepat. Mereka berdua terus berciuman, memadu kasih mereka, tanpa memperdulikan posisi mereka yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian.

Entah berapa lama mereka terus berada di dalam posisi intim itu. Sampai akhinya Kyuhyun berinisiatif untuk melepaskan cumbuannya. Kyuhyun menatap Hwayeon yang sibuk meraup udara dengan senyum puas. Hwayeon sendiri sibuk meraup nafas sebanyak-banyaknya, sambil berusaha menahan rasa malu yang tiba-tiba saja bersarang di otaknya saat menyadari kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi.
Kyuhyun merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah gembok berbentuk hati dan sebuah spidol. Hwayeon sepertinya masih belum menyadarinya, karna gadis itu masuh sibuk menteralkan deru nafasnya berkat ‘pertarungan’ mereka tadi.

“Chagiii…” panggil Kyuhyun lembut. Hwayeon menoleh, mata gadis itu kemudian kembali melebar saat melihat benda yang ada di tangan Kyuhyun. “Omo! Gembok cinta!” pekik Hwayeon girang, tapi kemudian gadis itu mengerutkan keningnya bingung, membuat Kyuhyun ikutan bingung. “Wae?” tanya Kyuhyun penasaran saat Hwayeon menoleh ke bawahnya seakan mencari-cari sesuatu. “kenapa gemboknya cuma satu? Apa oppa menjatuhkannya? Kok tidak ada?” tanya Hwayeon bingung sambil tetap celingak celinguk mencari gembok yang ia yakini mungkin saja jatuh di suatu tempat.

Kyuhyun mengerjap, kemudian namja itu tersenyum geli. “Ah, aniya. Aku tidak menjatuhkan apapun kok. Aku memang hanya menyiapkan satu.” Hwayeon menatap Kyuhyun dengan bingung, membuat Kyuhyun gemas sendiri. “Wae? Kita kan ada dua.” Tanya Hwayeon semakin bingung.
Kyuhyun menghela nafas, kemudian namja itu menggenggam kedua tangan Hwayeon dengan lembut. “Aku memang hanya menyiapkan sebuah gembok. Kau tau kenapa?” Hwayeon menggeleng polos. Kyuhyun kembali tersenyum simpul. “Kau tau, sebuah gembok memiliki dua sisi yang berbeda. Depan dan belakang. Benar?” Hwayeon mengangguk bingung, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Kyuhyun dengan perumpamaan itu.

“Hah, jadi… gembok itu melambangkan kita.” Jelas Kyuhyun singkat, padat, namun tidak jelas. Setidaknya itu menurut Hwayeon.

Dia pasti tidak mengerti batin Kyuhyun geli setengah jengkel.

“Maksudku, gembok itu seperti kita. Gembok memiliki dua sisi yang berbeda, sama seperti kita yang bertolak belakang, berbanding terbalik. Kau bodoh, aku pintar. Kau polos, aku tidak. Yah seperti itu contohnya. Kita memang saling bertolak belakang, semua yang ada di dalam diri kita berbeda. Semuanya. Tapi tetap saja, entah bagaimana caranya. Kita menjadi satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan, entah oleh apapun. Mungkin kita bisa terpisah, tapi pada akhirnya… kita tetap akan menemukan potongan diri kita yang satu lagi. Dan kenapa aku memilih untuk menyiapkan gembok dengan bentuk hati? Karena gembok ini akan melambangkan cinta kita. Hati, cinta, dan satu. Kau mengerti maksudku?” ujar Kyuhyun panjang lebar. Hwayeon masih melongo, mencoba mencerna seluruh perkataan namja itu. Tapi sebagian besar, yeoja itu mengerti maksud Kyuhyun dengan semua ini.

Tiba-tiba saja mata Hwayeon memanas. Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan panic saat tiba-tiba saja air mata terjatuh dari mata Hwayeon. “Y-ya! Kenapa malah menangis? Aigooo!!” Hwayeon berhambur ke dalam pelukan Kyuhyun, dan disambut dengan baik oleh namja itu. “Cup cup, sshhh. Uljima.” Kyuhyun bingung juga sebenarnya. Entah apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada gadis semacam Hwayeon. Karena seperti yang ia bilang tadi, mereka berdua benar benar berbeda, alias bertolak belakang.

“Hikss..hiksss, gomawo oppa. Aku benar-benar terharu. Hiks hiks, aku mencintaimu oppa.”
“Arrayo.. aku juga mencintaimu. Jja, sekarang tenanglah. Jangan menangis. Lebih baik kita pasang gembok tadi, tapi sebelum itu.. tulis harapanmu d salah satu sisi gembok ini. Cepat.” Hwayeon mengangguk cepat saat Kyuhyun meyodorkan gembok dan spidol padanya. Kemudian gadis itu menjauh bersama dengan gembok dan spidol di tangannya. Kyuhyun mengamati dari jauh saat Hwayeon mulai menulis sesuatu di salah satu sisi gembok.

Tidak lama berselang, Hwayeon kembali dan menyodorkan gembok itu kembali pada Kyuhyun. “jja, sekarang oppa yang harus menulis harapan oppa. Jangan mengintip punyaku loh ya, awas saja.” Kyuhyun mengambil gembok dari tangan Hwayeon dan mulai menulis di sisi gembok yang kosong.

Aku harap kami akan hidup dan berbagi kebahagiaan bersama-sama untuk selamanya

-Kim Hwayeon

Kan kujadikan dirimu wanita paling bahagia di dunia dengan seluruh kemampuanku

-Cho Kyuhyun

Namja itu kemudian mengajak Hwayeon untuk memasangkan gembok itu, mereka berjalan menyusuri sekitar pagar berusaha mencari tempat kosong untuk memasang gembok mereka. “Disini saja oppa!” ujar Hwayeon sambil menunjuk sebuah spot kosong diantara padatnya gembok-gembok cinta.

Kyuhyun melihat tempat tersebut, dan keduanya memutuskan untuk memasang gembok cinta mereka disana. Kyuhyun menggantungkan gembok mereka diantara jutaan gembok yang berada di sana, kemudian mereka membuang kunci mereka di tempat yang sudah disediakan.
“Apa yang oppa tulis tadi?” tanya Hwayeon penasaran saat mereka sudah berada di halaman depan rumah Hwayeon. “Itu rahasia, kalau kukatakan, nanti tidak terkabul.” Hwayeon berdecak sebal lalu mengerucutkan bibirnya. “Yasudah.” Gerutunya sebal. Kyuhyun tersenyum. tanpa aba-aba, namja itu kemudian menanamkan sebuah keupan singkat di bibir Hwayeon. “Gomawo, sudah mau menemaniku hari ini.” Lirih Kyuhyun pelan sambil membawa Hwayeon ke dalam rengkuhannya.

Hwayeon balas melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Kyuhyun, kemudian gadis itu mengangguk pelan. “Harusnya aku yang berterima kasih padamu oppa. Gomawo, sudah mengajakku berkencan. Aku bahagia sekali.”
“Ne, apapun untukmu sayang.”

Mereka berdua berpelukan dalam diam. “Hah, rasanya aku tidak rela harus melepasmu sekarang.. Aku masih ingin bersamamu.” Wajah Hwayeon sontak memanas dengan sendirinya saat ia mendengar gerutuan Kyuhyun. “Kalau begitu oppa menginap saja.” Ujar Hwayeon tiba-tiba. Mwoya, apa-apaan itu tadi Kim Hwayeon. Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu. Aigo, eotteokhae? Batin Hwayeon nelangsa.

“Kau benar. Aku menginap saja, kajja kalau begitu. Kita masuk” Hwayeon kaget bukan main saat Kyuhyun tiba-tiba mneyeretnya masuk kedalam rumah. Belum sempat Hwayeon melayangkan protesnya, mereka sudah berhenti di ruang tamu. “Omo, annyeeonghaseyo ahjumma, ahjussi.” Sapa Hwayeon spontan. Gadis itu kemudian menunduk dengan sopan.
“Eomma dan appa sedang apa disini?” kali ini Kyuhyun yang bersuara. Heechul berdecih, “memangnya kenapa kalau eomma kesini? Tidak boleh?” tanya Heechul sengit. Kyuhyun mengerjapkan matanya pelan kemudian menggaruk tengkuknya bingung, “Ani, hanya saja a-“
“Aaaah sudahlah, kau diam saja. Sana pulang, sudah malam tau. Kluyuran saja.” Potong Heechul. Kyuhyun menggeram tidak suka. Namja itu melayangkan pandangan sengit pada sang eomma, dan dibalas dengan tak kalah sengit dengan sang eomma. Hangeng yang melihat kelakuan istri dan anaknya tertawa kecil, begitupun dengan Leeteuk dan Kangin. “Sudahlah kalian berdua, apa kalian tidak malu? Lihatlah umur kalian, seperti anak kecil saja.” Sindir Kangin, appa Hwayeon, sambil tertawa geli.

Baru saja Kyuhyun dan Heechul sama-sama membuka mulut untuk protes, Leeteuk sudah memotongnya. “Sudah, tidak perlu berdebat lagi. Ini sudah malam. Kyu, kalau bisa… tolong menginap disini, kami berempat harus pergi sekarang karena harus mengurus beberapa hal. Dan ravi, oppa Hwayeonpun saat ini sedang tidak ada di rumah. Sedang pergi dengan Yoonhee katanya. Tolong jaga Hwayeon untuk kami ne? Kami harus pergi sekarang, kajja yeobo. Kajja hangeng, heechul-ah, kita berangkat sekarang. Annyeong chagi, baik-baik ne.” Kyuhyun dan Hwayeon menyaksikan dengan bingung saat Leeteuk menarik Kangin, Hangeng, dan Heechul keluar dengan paksa. Mereka berempat terus berdebat, sampai akhirnya mereka berempat menghilang dibalik pintu.

“Apa-apaan sebenarnya mereka itu? Cih, menyebalkan.” Gumam Hwayeon pelan.
“Sudahlah, tidak perlu memikirkan mereka. Ayo, kita tidur sekarang. Kau pasti lelah.” Hwayeon hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Kyuhyun menuju kamarnya sendiri.

Kamar Hwayeon

“Oppa mau tidur menggunakan kemeja itu?” seakan tersadar, Kyuhyun menoleh kearah pakaiannya kemudian mendesah.
“Ah benar, masa aku harus tidur menggunakan kemeja ini? Mana nyaman?” gumam Kyuhyun lebih untuk dirinya sendiri.

“Aaaah, aku tau!” Kyuhyun memandang Hwayeon bingung saat tiba-tiba saja Hwayeon berlari kearah lemarinya sendiri di sudut kamar. Beberapa lama, hwayeon seperti mencari sesuatu. Lalu gads itu kemudian kembali sambil membawa sepasang piyama lelaki dan memberikannya pada Kyuhyun. “Igo.” Kyuhyun menerima baju yang Hwayeon serahkan dengan bingung. “ini milik siapa? Ravi hyung?” tanyanya penuh selidik. Hwayeon dengan polos menggeleng. “Aniya itu milikku, aku membelinya.. itu piyama couple. Aku punya yang warna pink, akan ku pakai. Oppa gantilah baju itu disini, aku akan ganti di kamar mandi. Oke?”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hwayeon langsung melesat kedalam kamar mandi sambil membawa piyama yang sama seperti yang Kyuhyun bawa, hanya saja berbeda warna dan ukuran. Kyuhyun dan Hwayeon sama-sama menyelesaikan ritual mengganti bajunya. Hwayeon berjalan dari kamar mandi dengan wajah merah padam sambil melipat tangannya di depan dada.

Kyuhyun mengamati Hwayeon yang berjalan kearahnya dalam diam. Manis batin Kyuhyun.
“Eoh? Kenapa kau melipat tanganmu seperti itu?” tanya Kyuhyun bingung. Hwayeon tersentak, “E-eoh? Ah itu aku,-“ gadis itu kemudian menunduk, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. “Ah, aku tau. Tidak perlu dilanjutkan. Yasudah, ayo kita tidur. Kemarilah.” Hwayeon berjalan kaku kearah ranjang. Kyuhyun menunggu Hwayeon mendekat dengan sabar. Lalu saat Hwayeon sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan sigap Kyuhyun memeluknya.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.” Hwayeon mengangguk pelan. Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya sendiri pada Kyuhyun, lalu balas memeluk tubuh Kyuhyun dan menyandarkan kapanya di dada bidang namja itu.

“Jaljayo oppa” gumam hwayeon pelan sambil mulai memejamkan matanya. “Jaljayo baby.”

-o0o-

Hwayeon menggeliat, kemudian kedua matanya mulai terbuka secara perlahan. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambutnya, membuat gadis itu terpaksa menutup kembali matanya. Hwayon kemudian mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangannya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang baru bangun dari tidurnya dengan senyum mengembang. “good morning princess.” Sapa Kyuhyun lembut.

Cup

Hwayeon tersenyum lalu balas menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Good morning juga prince.” Balas Hwayeon dengan suara serak. Kyuhyun mengangkat tangannya ke wajah Hwayeon, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jadi ke wajah gadis itu. “Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan ini padamu.” Ujar Kyuhyun tiba-tiba.
Hwayeon mengerutkan keningnya bingung. “Ne? Maksud oppa? Mengatakan apa?”

Kyuhyun mendekatkan wajah mereka kembali, membuat wajah mereka hampir tidak berjarak. Kyuhyun berhenti tepat di permukaan bibir Hwayeon. “Happy birthday princess.”

Cup

Mata Hwayeon melebar. Happy birthday? Tunggu dulu, apa aku berulang tahun hari ini? Memangnya tanggal berapa hari ini? Batin Hwayeon bingung.

“A-“

BRAAKKK

“Saengil chukkahamnida… saeingil chukkahamnida… Saranghaneun, uri Hwayeon-ie… Saengil chukkahamnida.”
Hwayeon melongo saat segerombolan makhluk-makhluk memasuki kamarnya. Semua sahabatnya ada disana, Ravi, orangtuanya dan orang tua kyuhyun juga berada disana. Bahkan Lee dan Song ahjummapun berada disana. Belum sempat Hwayeon bereaksi, Kyuhyun tiba-tiba saja kembali mengecup cepat bibirnya di hadapan semua orang.

Cup

“Saengil chukkae baby. Semoga seluruh harapnmu bisa terkabul. Panjang umur dan sehat selalu, Tuhan menyertaimu.” Kyuhyun tersenyum lembut, begitu juga semua yang ada disana. “gomawo semuanya… Aku sungguh, ah.. aku bahkan tidak mengingat kalau hari ini aku berulang tahun. Jeongmal gomawoyo, semuanya. Oppa, eomma, appa, ahjumma, ahjussi, eonni… gomawo semuanya.” Semuanya berhamburan di sekitar kasur Hwayeon. Mereka mengobrol dan bersenda gurau bersama dengan posisi mengelilingi Kyuhyun dan Hwayeon.
“Ahhh! Kita melupakan sesuatu!” pekik Heechul secara tiba-tiba, mengagetkan yang lain.

“Apa maksudmu chulie-ah.” Tanya Leeteuk bingung.
“KADO!!!” pekik Yoonhee, Eunhye, dan Hyojin secara bersamaan. Hwayeon melongo.

“Tunggu, kalian-”
“AKU DULUAN NE!!!” pekik Heechul memotong ucapan Hwayeon. Heechul kemudian tiba-tiba saja berlari keluar kamar Hwayeon dengan cepat.

“Ke-“
“Ini dia!” Hwayeon kembali melongo saat Heechul mengacungkan sebuah amplop padanya.
“Ini! Ini hadiah dariku dan Hangeng. Jja, terimalah.” Hwayeon menerima amplop sodoran Heechul dengan bingung.

“Ini-“
“Sekarang aku!” kali ini Eunhye yang bersuara. Gadis itu kemudian keluar, dan masuk kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah darah berukuran cukup besar. “Ini hadiah dariku untukmu, kau harus memakainya nanti malam.”
Hwayeon menerima kotak pemberian Eunhye dengan bingung. Gadis itu membuka kotak tersebut dan terbelalak, “tunggu, kenapa kau memberiku sepatu? Memangnya harus kupakai untuk apa? Aish, kenapa kalian aneh sekali. Aku-“

“Ini dariku.” Potong Hyojin cepat. Hwayeon menghentikan ocehannya dan menatap kotak yang diberikan Hyojin padanya. Berbeda dengan kotak yang Eunhye berikan, kotak dari Hyojin berukuran lebih besar, namun kotak tersebut lebih pendek. Hwayeon menyerah, mencoba untuk tidak protes. Gadis itu membuka kado pemberian Hyojin. “Dan… kenapa kau memberiku gaun? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan sih?!” sungut Hwayeon kesal.
Tidak ada satupun yang menganggapi ocehan Hwayeon. Yoonhee sekarang yang menyodorkan sebuah kotak pada Hwayeon.

Hwayeon melihatnya dengan jengkel. “Apa lagi yang kau berikan padaku eonni?” tanya Hwayeon sebal. “Buka saja, cerewet.” Hwayeon berdecih, lalu gadis itu membuka kado pemberian Hwayeon. “Bedak, eyeshadow, lipstick, parfum… Yah, kenapa pula kau memberikan barang seperti ini padaku eonni?”tanya Hwayeon kali ini benar-benar jengkel.
Tapi lagi-lagi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan itu, termasuk Kyuhyun. Ravi bangkit berdiri tiba-tiba lalu berjalan keluar kamar. Tidak selang berapa lama, Ravi datang sambil membawa boneka panda super jumbo. “Nih, untuk adik oppa yang manis. Aku berikan kau kembaran.” Hwayeon melongo, menatap boneka panda super besar di depannya dengan bingung.

“Karena kau suka sulit tidur, oppa memberimu teman untuk tidur. Kau dengan boneka itu sama. Sama-sama memiliki mata panda. Jadi jika kau sulit tidur lagi, peluk saja boneka itu. Anggap saja boneka itu oppa atau siapapun terserah padamu. Oppa yakin kau bisa tidur dengan mudah dan nyenyak.” Hwayeon menatap lekat-lekat boneka panda yang duduk dihadapannya, lalu memeluk boneka itu. “Gomawo oppa…” lirih yeoja itu pelan.

Ravi dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Hwayeon. “Jja, kalau begitu tingga eomma dan appa yang belum member hadiah. “Jja, ini untukmu.” Hwayeon mengangkat sedikit kepalanya, mengintip kado pemberian Leeteuk dan Kangin.
Leeteuk da Kangin memberikan hwayeon sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Hwayeon mengangkat kepalanya degan benar, lalu menatap Leeteuk lekat-lekat. Gadis itu tau benar apa yang ada di dalam kotak beludru tersebut. “Eomma…”

“Anak eomma sudah besar sekarang. Kau dan oppamu akan segera menikah. Sudah waktunya eomma memberikanmu benda ini, Pakailah ne? Jaga baik-baik.” Leeteuk tersenyum, tapi air mata tetap saja mengalir dari mata yeoja itu. “Eommaaaaa” Hwayeon dengan cepat berhambur ke dalam pelukan Leeteuk saat gadis itu melihat sang eomma mulai menitiskan air mata. “Eomma uljimaaa” lirih gadis itu pelan.
Seumur hidupnya, Hwayeon tidak pernah tahan melihat airmata sang eomma. Eommanya yang begitu berharga… “Arraseo, mianhae… Harusnya eomma tidak menangis. Jja, jagalah ini baik-baik. Pakailah ini untuk nanti malam.” Hwayeon merengut saat lagi-lagi mendengar kaliat itu kembali terucap.

Hwayeon menarik diri dari pelukan eommanya, lalu menatap semua yang ada disana dengan tatapan menuduh. “Kalian menyembunyikap apa sebenarnya dariku. Kenapa kalian semua membicarakan nanti malam terus menerus? Memangnya ada apa nanti malam? Kenapa aku tidak tau apa-apa?” tanya Hwayeon dongkol.

Tapi seperti tadi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan Hwayeon. “Ah, kita harus bersiap-siap untuk nanti malam. Kajja, biarkan mereka berdua dulu.” Hwayeon merengut saat semua orang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan tadi Ravi menepuk-nepuk kepalanya.

Tiba-tiba saja suasana kamar Hwayeon sepi karena semua orang sudah keluar. Menyisakan Hwayeon dan Kyuhyun yang sejak tadi membisu. “Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan?” lirih Hwayeon bingung. Gadis itu menatap kembali hadiah-hadiah yang di dapatkannya yang masih berada di ranjang dengan bingung.
“Hah… sudahlah, mereka memang aneh.” Gumam hwayeon pasrah. Gadis itu kemudian membereskan kado-kado yang diterimanya, lalu menumpuknnya dengan rapih di sisi kasur, termasuk boneka panda yang diterimanya dari ravi.

Hwayeon akhirnya menoleh pada Kyuhyun. Kyuhyun dari tadi hanya diam, duduk bersender pada kepala ranjang dan mengamati Hwayeon. “Oppa tidak memberikanku hadiah seperti mereka?” tanya Hwayeon penasaran. Gadis itu kemudian merangkak mendekati Kyuhyun, dan berakhir di dalam pelukan namja itu. “Kau menginginkan hadiah dariku?” tanya Kyuhyun balik.

Hwayeon menggeleng, “Ani, aku hanya penasaran saja.” Jawabnya pelan. “Kalau kau mau tau hadiah dariku, kau harus ikut bersamaku ke suatu tempat nanti malam.”
Hwayeon menghela nafas dengan keras. “Jadi kalian memang merencakan semua ini, cih. Menyebalkan sekali.”
Kyuhyun tersenyum simpul. “Jadi kau tidak mau?”

“Tentu saja aku mau.” Jawab Hwayeon cepat.
“Kalau begitu terima saja, semua ini sudah kusiapkan susah payah untukmu tau…”

“iish, arraseo. Gomawo ne?”
“Kau bahkan tidak tau apa kado dariku.”

“Cih, aku kan hanya berterimakasih.”
“Ya tetap saja. Kau tau hadiah dariku saja tidak.”

“Kau itu cerewet sekali! Yasudah! Kutarik lagi ucapan terimakasihku tadi!”
“Yak! Mana bisa seperti itu?!”

“Tentu saja bisa!”
“Yak! Gadis nakal ini!”

“Ish berisik!”
“Ck! kau ini!”


To be continued…

Find My Love // Part 8 [Come Back to Me]

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”
“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

“Kau kekanakan!”
“Kau juga!”

“Aku mempercayaimu.”
“Kau memang harus mempercayaiku.”


“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

“Kau keterlaluan.”

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

“Kau pantas mati!”

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

Title: Find my love part 8 ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Ciiiia, ketemu lagi nih sama author. Berhubung author lagi baik, jadi author lanjutkan ff ini, yang udah agak lama terbengkalai. Maaf kalau kurang memuaskan, author juga jarang update. soalnya bnyak tugas sama ulangan nih. Bentar lagi juga mau UAS. setresssss. Oke deh, kalian baca aja ini. Lanjutannya . jangan protes ya kalau kurang memuaskan atau kurang panjang dll.
Nah yauda, Happy reading okeh? Jangan lupa comment. Author tunggu loh. Trims~

-o0o-

Chapter 8
Come Back to Me

Byuuurrrr!!!!!!

Aku kembali membuka mataku dengan sisa sisa kekuatanku. Dan aku melihat seseorang tengah berenang kearahku dengan raut cemas. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena darah dari perutku menutupi pandanganku. Air laut menjadi berwarna merah akibat darahku yang terus bercucuran.

Apa itu Kyuhyun oppa? Atau Ravi oppa? Atau malah appa? Hikss… sakit sekali.
Uuuuugh, sakit sekali… Eomma appa… Tolong aku…

Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi tetap saja. Luka tusuk yang dibuat oleh yeoja gila di perutku terasa sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan kalau kesadaran direnggut paksa dariku setiap detiknya.
Mataku mengabur, dan aku membiarkan kesadaranku hilang saat tanganku ditarik oleh orang lain. Ah… ternyata begini rasanya mati…

Author POV

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” Hwayeon terlihat membungkukkan tubuhnya. Haneul melemparkan seringaian puasnya pada Hwayeon tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pisau yang saat ini menancap di perut Hwayeon.
Disaat bersamaan, Kyuhyun dan yang lainnya yang baru saja tiba melihat Hwayeon dengan wajah ngeri dan pucat pasi.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” teriak Ravi ngeri. Wajahnya yang sudah pucat dari awal menjadi semakin pucat. Setelah teriakan Ravi berteriak, para tamu berdatangan sambil berlari dan kemudian llangkah kaki mereka terhenti saat melihat Hwayeon dan Haneul yang ada di ujung geladak kapal.

Kyuhyun sendiri hanya berdiri kaku ditempatnya dengan mata tertuju pada luka tusuk di perut Hwayeon. Mulutnya menganga dengan mata membulat lebar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Kangin dan Leeteuk sendiri seakan tidak mampu bersuara. Leeteuk bersandar pada Kangin seakan ia mau pingsan.

“Aaaaarghh!!!!!!” Hwayeon berteriak saat tiba-tiba Haneul itu menarik pisau itu dari perutnya sambil berbisik lirih tepat di telinga Hwayeon. “Kau pantas mati.” Gumam Haneul pelan, jadi hanya mampu di dengar oleh mereka berdua.
Tubuh Hwayeon linglung akibat rasa sakit dan kaget, Haneul memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan mendorong Hwayeon ke laut.

“ANDWAEEEE!!!!”

Brukkk!!!

Haneul jatuh ke lantai akibat dorongan Kyuhyun, karena saat namja itu melihat kekasihnya didorong, ia dengan sigap berlari menghampiri Hwayeon. Yang lain akhirnya mengikuti Kyuhyun berlari untuk melihat keadaan Hwayeon tanpa memperdulikan Haneul yang masih tersungkur di lantai.

Hwayeon masih bertahan, menggantung di ujung kapal karena Kyuhyun berhasil menangkap pergelangan tangannya, atau lebih tepat… gelangnya. Kyuhyun terus berusaha menahan Hwayeon sambil tersenyum menguatkan padahal air mata sudah menggenang di pipinya.
Kyuhyun terus mempertahankan pegangannya sambil memanjatkan doanya supaya kekasihnya itu bisa selamat. Awalnya Hwayeon hanya memandang Kyuhyun dengan ekspresi kesakitan yang kentara di wajahnya. Tapi kemudian, gadis itu melirik kebawah dan tubuhnya kontan bergetar, membuat pegangan Kyuhyun di gelangnya hampir saja terlepas. Kyuhyun menggeleng panic dan air mata semakin deras mengaliri pipi namja itu.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” Hwayeon kembali menatap Kyuhyun, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatap Hwayeon dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” Hwayeon mencoba mengulurkan tangannya yang terbebas, namun tidak sampai. Berkali kali gadis itu mencoba meraih tangan Kyuhyun, tapi tetap saja tidak bisa. Perutnya sangat sakit, membuat gerakannya jadi sangat terbatas. Hwayeon kemudian mengenakan upaya terakhirnya, dan menyembabkan dia hampir saja terjatuh.

“Aku tidak bisa!” isak Hwayeon lemah, terlihat jelas kalau gadis itu tengah putus asa saat ini.
“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!” teriak Kyuhyun berusaha memberi kekasihnya itu semangat.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” kali ini Hwayeon yang berteriak putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahanya untuk menggenggam tangan Kyuhyun tidak kunjung berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Hwayeon memandang Ravi yang juga mengulurkan tangannya kebawah. Hwayeon berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi ia gagal. “Aku tidak bisa oppa.” Hwayeon memandang semua orang yang berusaha membantunya dengan air mata bercucuran. Leeteuk dan Heechul sama sama menangis histeris di pelukan suami mereka masing masing.

Kangin sendiri menangis dalam diam sambil menenangkan Leeteuk, begitupula dengan Hangeng. Ravi masih berusaha meraih tangan Hwayeon. Yoon Hee, Eun Hye dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. “Mianhae.” gumam Hwayeon lirih saat gelang ditangan gadis itu akhirnya putus.

“TIDAK!!! TIDAK TIDAK TIDAK!!! HWAYEON TIDAK!!” Kyuhyun berteriak histeris dan bersiap untuk melompat, menjemput Hwayeon. Ravi dengan sigap menahan Kyuhyun yang terus meneruss berusaha melompat dengan susah payah.

“LEPASKAN!!! AKU HARUS MENCARINYA!!! HYUNG!!! AKU HARUS MENCARI HWAYEON, DIA PASTI KETAKUTAN!! JEBAL! BIARKAN AKU MENCARINYA!!” teriak Kyuhyun dengan suara pilu. Semua tamu yang melihat kejadian itu bungkam, mengerti betul kalau kejadian seperti ini sangatlah berat.

Suasana kapal berubah semakin panas. Leeteuk dan Heechul sama sama pingsan saat Hwayeon jatuh. Kangin dan Hangeng sibuk menenangkan istri mereka masing masing. Sambil mengamati Kyuhyun yang terus menerus berusaha untuk melompat.
“Kyu! Pergilah, cari Hwayeon. Appa sudah menyuruh orang untuk menurunkan sekoci penyelamat. Turunlah bersama mereka. Cari Hwayeon sampai ketemu. Appa juga sudah menyuruh kapal ini dihentikan. Sana! Selamatkan menantu appa.” Seru Hangeng tiba-tiba sambil tetap mendekap Heechul yang masih pingsan.

Kyuhyun menatap Hangeng penuh terima kasih. “Tolong, temukan putriku.” Tambah Kangin dengan suara parau. Kyuhyun mengangguk patuh dan dengan cepat melesat pergi diikuti oleh Ravi. Keheningan langsung menyerbu mereka begitu Kyuhyun dan Ravi menghilang dalam jarak pandang mereka.
Kini semua mata tertuju pada Haneul yang masih terduduk di lantai dengan senyum pongahnya. Kangin menghampiri Haneul dengan wajah merah padam setelah ia menititipkan sang istri yang sejak tadi pingsan ke Yoonhee dan Eunhye.

Haneul kembali tersungkur dengan keras saat Kangin menggamparnya. Beberapa tamu terkesiap kaget dan mulai berbisik bisik sembari melirik Haneul dengan raut jijik. “Pergi dari tempat ini sebelum aku membunuhmu!” teriak Kangin berang. Haneul bangkit berdiri sembari berdecih. Ia kemudian menatap Kangin penuh kebencian dan mulai melangkah. Baru beberapa langkah maju, ia kemudian terhenti saat Hangeng berhenti tepat dihadapannya dengan raut marah dan kecewa.

Plak!!!

Hangeng menggampar Haneul, kemudian menyuruh gadis itu pergi dari sana. “Jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di sekeliling kami! Atau aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan! Camkan itu!” desis Hangeng dingin dengan suara rendah. Haneul dengan cepat melangkah pergi dari sana, melupakan pisaunya yang ia gunakan untuk menusuk Hwayeon di lantai. Hangeng menatap pisau yang tergeletak itu dengan nanar. “Amankan pisau itu, lapor pada polisi sekarang.” Ujar Hangeng dingin. Beberapa orang langsung mengamankan situasi, menyuruh para tamu untuk kembali ke kabinnya masing masing dan membersihkan noda darah yang ada di sana.

Di sisi lain, Kyuhyun dan Ravi saat ini berada di sekoci penyelamat bersama dengan 2 orang pengawal Hangeng. Kyuhyun memerintahkan mereka untuk menyusuri tempat dimana Hwayeon tercebur tadi.
Tidak butuh waktu yang lama, Kyuhyun menangkap bayangan Hwayeon yang mulai tenggelam ke kedalaman. Tanpa banyak pikir, Kyuhyun langsung menceburkan dirinya… mengabaikan teriakan Ravi.

Byuuurr!!!

Kyuhyun menajamkan indra penglihatannya seketika berada di laut. Mengabaikan tubuhnya yang mulai menggigil karena dinginnya air laut. Kyuhyun berenang dengan cepat kearah Hwayeon yang sudah tidak sadarkan diri, dan menarik gadis itu dengan cepat ke permukaan dengan panic.

Bertahanlah sayang, jebal. Jangan tinggalkan aku

“Cepat!! Bantu aku!!!” Kyuhyun segera berteriak saat ia sudah sampai kepermukaan, lalu dengan bantuan Ravi dan para pengawal itu mereka berhasil menaikkan tubuh tak sadarkan diri Hwayeon keatas perahu.

“Sayang… bangunlah kumohon!!” gumam Kyuhyun putus asa, kemudian namja itu mulai menekan nekan dada Hwayeon.

1 kali

2 kali

3 kali

“Sialan!” geram Kyuhyun sengit saat tak ada reaksi dari Hwayeon. Kyuhyun kemudian mengambil nafas dalam dalam, menutup lubang hidung Hwayeon, dan mulai memberikan nafas buatan lewat mulut. Ravi memandang Hwayeon dengan cemas, Kyuhyun terus memberikan nafas buatan untuk Hwayeon sambil sesekali beralih untuk melakukan CPR lagi. “Bangunlah sayang, ayolah.. kumohon..” Kyuhyun kembali menekan dada Hwayeon, berusaha membuat jantung gadis yang dicintainya itu kembali berdetak. “Kumohon…kumohon..” Kyuhyun terus menerus merapalkan kalimat itu, sampai tanpa disadari namja itu, air mata sudah menggenang di pipinya.

“Uhukk Uhukk” Kyuhyun dan Ravi sama sama menghembuskan nafas lega saat Hwayeon mulai terbangun. Memuntahkan cairan yang sudah ia telan saat tenggelam tadi. Kyuhyun segera membawa tubuh menggigil Hwayeon ke dalam dekapannya. “Terimakasih Tuhan, kau selamat.” Lirih Kyuhyun pelan.

“Oppa appo… hikss…” Kyuhyun tersentak kaget saat Hwayeon kembali menangis dalam dekapannya. Kyuhyun kembali menatap Hwayeon, dan beralih pada perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Stttt… kau akan baik-baik saja. Yoon Hee pasti bisa menangani ini arra? Bertahanlah, kita sudah sampai. Bertahanlah.” Kyuhyun terus merapalkan kalimat itu di telinga Hwayeon sampai akhirnya mereka berdua naik kembali ke kapal.

Kyuhyun membawa tubuh Hwayeon yang kembali tak sadarkan diri di gendongannya. Namja itu berlari sepanjang jalan menuju ke kabin Yoon Hee sambil berteriak, menyuruh orang yang menghalangi jalannya untuk minggir.

Tok Tok Tok Tok Tok!!!!!

YoonHee dengan cepat membuka pintu kamarnya. Kyuhyun yang sedang menggendong Hwayeon dengan cepat menyelonong masuk dan membaringkan Hwayeon di kasur. Kemejanya sudah bersimbah darah Hwayeon.
“Tolong, selamatkan Hwayeon, kumohon.” Suara Kyuhyun pecah, mencerminkan betapa takutnya namja itu. “Selamatkan adikku Yoon Hee-ya, jebal.” Lirih Ravi dari sebelah Kyuhyun.

Yoon Hee menatap dua laki-laki yang ada di kamarnya itu dengan prihatin. “Arra, sekarang kalian minggir lah, jangan ada di dekat kasur.” Perintah Yoon Hee tegas.
Kyuhyun dan Ravi dengan tau diri beringsut menjauh dari kasur. Yoon Hee dengan cekatan mengambil kotak hitam berukuran lumayan besar, dan meletakkannya di samping tubuh Hwayeon. Yoon Hee membuka kotak itu, dan ternyata isinya adalah alat-alat kedokteran.
Yoon Hee dengan cepat memakai sarung tangan putih dan mulai bekerja. Merobek baju Hwayeon, menyuntikkan obat bius, menyayat, dan kemudian menjahit. Ravi menyaksikan dengan mual, dia sudah pernah menyaksikan secara langsung operasi kecil seperti itu. Oh tentu saja, dia pernah di operasi tanpa obat bius oleh Yoon Hee. Kejam memang.
Tapi melihat adik satu-satunya, kesayangannya, dioperasi seperti itu membuat Ravi sedih. Perasaan bersalah benar-benar menghantuinya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan benar, bahkan mereka bertengkar tadi. Hwayeon pergi dengan perasaan kecewa dengannya karena ia tidak mempercayai adiknya itu.. ia malah mengatakan kalau adiknya itu berlebihan dan sangat kekanakan, dan adiknya itu malah berakhir disini… dengan luka menganga di perutnya.

Terkutuklah aku, kakak macam apa aku ini? Harusnya tadi aku mempercayai Hwayeon, harusnya tadi aku menghibur hwayeon. Jadi semua ini tidak akan terjadi. Ravi terus bergelut dengan pikirannya, tanpa menyadari kalau pekerjaan Yoon Hee sudah hampir selesai.

“Nah, sudah. Kau bisa memindahkannya ke kamar kalian sekitar 3 jam lagi, karena kita harus menunggu darah yang kuberikan tadi habis. Beruntunglah aku membawa cadangan kantong darah, untuk berjaga-jaga jika ada kejadian seperti ini. Saat memindahkannya nanti, kalian harus berhati-hati supaya jahitannya tidak terbuka ne? Lukanya cukup dalam, tapi tenang saja… dia tidak akan kenapa kenapa. Dia akan tertidur sampai kurang lebih 5 jam. Selebihnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jelas Yoon Hee panjang lebar.

“Ne, gomawo.” Ujar Kyuhyun pelan. “Cheonma”

Kyuhyun mendekat kearah Hwayeon dan mendudukan dirinya di samping Hwayeon. Mengelus rambut Hwayeon dengan sayang. “Mianhae chagi, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Ucap Kyuhyun lirih, tapi masih terdengar jelas di telinga Ravi dan Yoon Hee.
Ravi dan Yoon Hee dengan cepat keluar dari kamar itu diam diam, memberikan Kyuhyun ruang untuk meluapkan perasaannya pada Hwayeon. Waktu Yoonhee dan ravi keluar kamar, mereka langsung dihadapkan dengan EunHye, Hyo Jin, Heechul, Leeteuk, Kangin, Hangeng, dan yang lainnya.

“Bagaimana keadaan anakku?”

“Apa anakku baik baik saja?”

“Menantuku baik baik saja bukan?”

“Uri magnae baik baik saja kan?”

“Bagaimana keadaan Hwayeon?”

“Aku ingin menemui menantuku.”

“Biarkan aku masuk.”

Yoon Hee dan Ravi berusaha menjelaskan keadaan Hwayeon kepada mereka. “Hwayeon baik baik saja. Semua nya sudah di atasi, sekarang Hwayeon masih tertidur karna obat bius. Ada Kyuhyun didalam, biarkan mereka berdua dulu saja.” Saran Yoon Hee.
Mereka tidak terlihat puas dengan jawaban Yoon Hee, tapi akhirnya mereka mengalah dan kembali ke kabin mereka masing masing.

Kyuhyun POV

Kupandangi wajah pucat Hwayeon dengan sedih. Ini semua terjadi karena aku. Kalau saja aku mempercayainya, kalau saja dari awal aku mempercayainya, dan menjaganya dengan benar.. maka kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Akulah yang membuatnya seperti ini, akulah yang membuat Haneul bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Hwayeon dan menyakitinya. Akulah penyebabnya, akulah dalangnya.
Aku merasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak, melihat orang yang begitu kucintai terbaring lemah seperti ini. Kuakui, aku bingung. Mengingat bagaimana kami bertemu, lalu berkenalan, lalu akhirnya bisa menjadi seperti ini.

Kami bahkan baru kenal dalam waktu beberapa hari, dan aku sudah berani melamarnya. Memberikannya kalung warisan dari eomma dengan mudah padanya. Membuatnya menjadi calon istriku. Semua ini terasa sangat membingungkan.

Aku, Cho Kyuhyun, bukanlah namja yang romantic. Bisa dibilang aku sangat kaku. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik. Tapi semuanya berbeda saat bersamanya, Hwayeo, pujaan hatiku. Aku berubah menjadi namja yang kelewat romantic, bahkan mungkin sedikit menggelikan. Aku pun selalu mengungkapkan apa yang ada di hatiku dengan cepat padanya, bahkan tanpa kusadari.

Semua yang kuinginkan hanyalah membuatnya tertawa, bahagia. Aku ingin melihat senyum manisnya itu terus tergores d wajahnya. Aku ingin ia bahagia, aku menginginkannya.

Tapi…

Karena aku lah, satu-satu wanita yang kucintai kini terbaring tak berdaya. Aku yang meyeretnya kedalam masalah seperti ini. Sampai akhirnya, psikopat gila yang bahkan merupakan mantan tunanganku berusaha melukainya.
Sialan, aku hampir melupakannya. Yeoja itu, sialan kuadrat. Dimana yeoja itu sekarang? Tidak mungkin dia berenang untuk sampai ke pelabuhan kan? Bunuh diri namanya, tapi aku tidak peduli. Lebih baik kalau dia menghilang. Jauh-jauh dari kehidupan kami. Aku benar-benar tidak mau gadis manisku terluka lagi, apa lagi karena hal yang sama. Aku akan membunuh diriku sendiri jika itu sampai terjadi.

Hah…

Kenapa dia tak kunjung sadar juga? Aku merindukannya.

Ku genggam tangannya yang dingin, mencoba memberinya kehangatan. “Kumohon bangunlah sayang. Aku sekarat disini tanpamu..”

Tes

Tes

Tes

Sial.. lagi lagi air mataku menetes tanpa bisa kucegah. Bagaimana mungkin ini terjadi? Entah sudah berapa kali aku menangisinya hari ini. Aku benar-benar sakit melihatnya seperti ini. Andaikan aku bisa, aku ingin menanggung semuanya. Biar aku saja yang berada di posisinya, aku tidak ingin dia terluka sama sekali. Aku tidak ingin melihatnya tersakiti, oleh seujung kuku sekalipun.

Aku memejamkan mataku, mengusir pening yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Aku lupa, aku belum mengganti bajuku sejak tadi. Pantas saja aku pusing sekarang. Pasti masuk angin. Haah, yasudahlah.. sudah terlanjur. Bajuku bahkan sudah kering karena dinginnya kamar.

Uuugh..

Pusing sekali..

Kuputuskan untuk merebahkan diriku sejenak di samping kasur sambil tetap menggenggam tangan Hwayeon. Sebentar saja, aku hanya akan beristirahat sebentar…

Aku terbangun saat merasakan usapan dikepalaku. “Oppa…” tunggu, aku mengenal suara itu. Suara siapa ya? Bukankah tadi aku sedang- Oh sial!
Dengan cepat aku menegakkan tubuhku. Hwayeonku… “Oh Tuhan, akhirnya kau bangun. Aku mencemaskanmu…” dengan segera aku memeluknya, berusaha untuk tetap berhati-hati pada lukanya. Ya ampun, kenapa tubuhnya lemah sekali seperti ini…

“Mian, sudah membuatmu mencemaskanku.”

“Bodoh, gadis bodoh. Kenapa kau bisa membiarkan yeoja itu melukaimu hah? Kenapa kau tidak melawan? Ya Tuhan. Bagaimana kalau kau tadi- Ya ampun.” Aku memejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran anehku yang menakutkan.

“Oppa… tidak mempercayaiku.”

Deg

“A-“

“Oppa… lebih mempercayainya”
“Sayang, itu aku-“

“Oppa lebih mimilihnya daripada aku.”
“Apa? Tidak! Aku-“

“Oppa lebih memilih pergi bersamanya daripada tinggal bersamaku.”
“Tidak sayang! Tidak, itu aku-“

“Oppa tidak mencintaiku”
“APA?! TIDAK! Dengar! Aku-“

“Oppa mencintainya”

Jedeerrrr

Apa-apaan. Bagaimana mungkin dia berfikir seperti itu?

“Sayang… Itu semua tidak benar! Aku-“
“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, meninggalkanku sendirian..”

Author POV

“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, oppa aka-“ Kyuhyun menatap Hwayeon tak percaya.
“Hentikan! Itu semua tidak benar! Bagaimana mungkin kau mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu?!” bentak Kyuhyun marah. Kyuhyun sungguh kecewa karena Hwayeon menganggapnya seperti itu.

Tubuh Hwayeon perlahan bergetar. Kemudian tanpa aba-aba, air mata mulai bercucuran dari mata sipitnya. “Dia bilang oppa tidak mencintaiku, dia bilang oppa akan meninggalkanku. Dia-“ Kyuhyun dengan cepat merengkuh Hwayeon kembali. Menenangkan gadisnya yang terlihat sangat terguncang. “Kenapa kau mempercayai semua omongannya? Kau tau itu semua tidaklah benar. Aku hanya mencintaimu.” Terang Kyuhyun cepat, berusaha menampik kekecawaannya.

Hwayeon tidak mempercayaiku. Kyuhyun benar-benar sedih sekaligus kecewa mengetahui hal itu.

Hwayeon menatap Kyuhyun dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar hebat, memperlihatkan seberapa terguncangnya mental gadis itu. “Oppa lebih memilihnya daripada aku.” Lirihnya dengan suara bergetar.
Shit! Kyuhyun mempererat rengkuhannya pada tubuh ringkih Hwayeon, menanamkan kecupan kecupan lembut diatas puncak kepala gadis itu. “Aku memilihmu.. Aku hanya mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku, maaf…”

Akhirnya Hwayeon menangis di dalam pelukan Kyuhyun, sampai akhirnya gadis itu kembali tertidur…

Mianhae, jeongmal mianhae… geurigu saranghae

-o0o-

Hwayeon POV

“Omo Hwayeon!! Apa kau baik-baik saja? Kami semua mencemaskanmu.” Aku mendudukkan diriku di kursi restoran di bantuoleh Kyuhyun oppa. Aku menyamankan posisi dudukku lalu memandang semua orang dan tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku.” Aku bisa mendengar semua orang menghela nafas lega dari sini.
Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja. Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Saranghae” ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget, tentu saja. Kurasa semua orang yang duduk di meja ini juga sama kagetnya sepertiku. “Nado saranghae.” Jawabku pelan. Kurasakan wajahku memanas. Oh-oh, janngan sampai wajahku memerah, memalukan!

“Berhentilah mengumbar kemesraan kalian didepanku. Kalian membuatku iri.” Aku menoleh mendengar cibiran Ravi oppa, lalu tersenyum geli. “Wae oppa? Kau cemburu?” aku tertawa dalam hati saat melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah. “Tidak, kenapa juga aku harus cemburu!” Kyuhyun oppa terkekeh geli di sampingku, dan akupun mencoba untuk tidak tertawa walaupun rasanya sulit sekali karena Ravi oppa sangat lucu.

“Aaah, aku tau. Oppa sirik kan? Kenapa? Apa Yoonhee eonni tidak suka kalian mengumbar kemesraan seperti ini?” aku terkekeh saat melihat Yoonhee eonni melotot galak kearahku. Haduh haduh, mata besarnya itu sampai terlihat mau copot. Hahaha. “Diamlah kau Hwayeon.” Desis Yoonhee eonni dengan wajah merah padam.”

“Eonni, wajahmu seperti kepiting rebus tau?”
“Diamlah Hwayeon, jangan menggodanya seperti itu.” Senyumku semakin bertambah lebar saat mendengar teguran Ravi oppa. Hah, dia masuk perangkapku. “Memangnya kenapa?” tanyaku pura-pura bodoh. Ravi oppa memandangku cemberut, “Aku tidak suka orang lain melihat wajahnya menggemaskannya saat ia sedang tersipu. Pemandangan seperti itu hanya diperuntukkan untukku.” Aku melongo mendengar penjelasannya. Aku baru tersadar saat Kyuhyun oppa tertawa dengan keras.

“Apa-apaan itu hyung, kau menjijikan.” Ejek Kyuhyun oppa frontal. Mau tidak mau aku tersenyum, apa lagi saat melihat Ravi oppa kelabakan menjelaskan dengan wajah merah padam. “Ah, eh, i-itu… maksudku emm.. “ aku semakin tertawa saat melihat Yoonhee eonni menundukkan kepalanya.

“Kalian sungguh lucu.” Sindirku sakratis. Semua orang di meja kami tertawa bersama, memandangi Yoonhee eonni dan Ravi oppa dengan raut wajah terhibur. “DIAMLAH!” ujar mereka kompak.
Kami semakin memperkeras tawa kami. Kyuhyun oppa merangkulku, dan aku tertawa di dalam rangkulannya. “Bocah sialan.” Desis Ravi oppa sebal. Tapi tak ayal, aku melihat senyum lebar terkembang diwajahnya itu.

Hah, akhirnya semua kembali dengan benar. Aku sempat takut kalau yeoja itu masih berada disini. Tapi kulihat-lihat, sepertinya yeoja itu sudah pergi dari sini. Aku senang, karena semua tamupun terlihat sudah tidak sekaku tadi pagi, saat mereka baru melihatku semenjak aku… yah, kalian tau lah.

Ravi oppa sendiri, semalam ia menemuiku. Mengajakku berbicara 4 mata dengannya. Ravi oppa meminta maaf padaku, karena tidak mempercayaiku dan malah mengatakanku berlebihan serta kekanakan.
Sebenarnya aku sudah tidak mempersalahkan hal itu, tapi Ravi oppa tetap bersikeras ingin minta maaf. Jadi aku memaafkannya, walaupun aku sebenarnya sudah memaafkannya sejak awal, tanpa perlu ia minta. Kuharap semua ini berjalan dengan lancer sampai seterusnya. Aku sendiri penasaran, bagaimana kelanjutan hubungan antara Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Semalam Ravi oppa juga memberitahuku tentang rencanya yang ingin membawa Yoonhee eonni berlibur dan melamarnya. Au tidak tau Ravi oppa akan membawa Yoonhee eonni berlibur kemana, karena Ravi oppa sama sekali tidak berniat membcorkannya. Walaupun aku sudah merengek padanya.

Aku benar-benar berharap Ravi oppa bisa berhasil menjalankan misinya, jadi akupun bisa segera menikah dengan Kyuhyun oppa. Aku tidak ingin lagi terpisah dengan Kyuhyun oppa. Benar-benar tidak mau. Apa lagi melihat Kyuhyun oppa bersama dengan wanita lain? Tidak terimakasih. Kyuhyun oppa hanya boleh untukku.
Kami kemudian melanjutkan makan siang kami setelah puas menggoda Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Aku dan Kyuhyun oppa pamit terlebih dahulu. Aku dan Kyuhyun oppa akan pulang lebih dahulu dari yang lain, ini semua permintaan Kyuhyun oppa. Aku sih hanya menurut saja.

Tadi malam Kyuhyun oppa sudah membereskan barang-barang kami. Jadi kami hanya tinggal berangkat pulang saja. Hangeng ahjussi sudah membantu kami menyiapkan kapal lain yang akan kami pakai untuk pulang. Hangeng ahjussi dan Heechul ahjumma juga meminta maaf kepadaku, yang seharusnya tidak perlu. Semua kejadian ini kan bukan salah mereka. Ini toh bukan salah siapapun, bukan juga salah Haneul. Haneul melakukan ini karena dibutakan oleh cintanya pada Kyuhyun oppa. Jadi aku tidak sampai hati untuk menyalahkannya. Aku tidak tau bagaimana nasib gadis itu, karena Kyuhyun oppa tidak mau memberitahuku sama sekali. Ia hanya menyuruhku untuk diam, “Diamlah, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan mengurus semuanya, aku akan menjagamu.” Begitulah yang Kyuhyun oppa katakan semalam saat aku menanyakan perihal Haneul padanya.

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

-tbc-

First Love Story

Title: First Love Story
Author: Kim Hwayeon (OC)

Cast:
Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Romance.
Rating: G
Length: oneshoot

Note:

Holla, ketemu lagi sama author. Maaf ya lama banget ga muncul. Lagi ga mood, tugas juga numpuk. Ini aja author bikin ngebut deh, kasian sama kalian yang menunggu terlalu lama *PD* hehe. Nanti I’m in Lovenya bakal author update lagi chapter selanjutnya. Tapi sabar ya. Author sibuk nih, banyak tugas sama ulangan, mana lagi galau berat juga. huhuhu sedih. Okedeh, malah jadi curcol wkwk. Langsung dicek aja. Maaf kalo pendek, dan kurang memuaskan. Author bikinnya sambil teler nih. ngantuk hihi. Awas typo bertebaran. oke.

Happy reading, jangan lupa kasih jejak dongse~

pay pay

-o0o-

Apakah sebenarnya cinta itu? Aku rasa aku mencintaimu, tapi entahlah. Aku sendiripun bingung mendeskripsikan perasaanku sendiri.
Aku merasa begitu terpesona akan dirimu, kau sudah seperti candu bagiku. Sehari tanpa melihatmu membuatku gila. Tidak bersamamu membuatku sakit, tapi melihatmu tidak bahagia bersamaku membuatku hancur. Apa perasaan seperti itu bisa didefinisikan sebagai cinta? Kalau iya, bolehkah aku menyimpan perasaan cinta itu untuk diriku sendiri?

Bolehkah? Bolehkah aku bersikap egois seperti itu? Bolehkah aku memiliki hatimu? Aku tau aku tidak bisa memiliki ragamu, tapi bisakah kalau hatimu menjadi milikku saja?

Apakah aku salah? Apa perasaanku ini salah? Apa aku tidak berhak memiliki perasaan ini? Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa harus kita yang menjalani takdir seperti ini?Aku mencintaimu, Kau pun mencintaiku. Tetapi kenyataannya, takdir berkata lain.Kita tetap tidak bisa bersama.
Aku sudah berusaha, sungguh. Aku sudah mencoba, aku sudah berjuang. Tapi tetap, aku tidak bisa mencurangi takdir.Pada akhirnya kau akan tetap pergi, meninggalkanku disini sendirian dengan serpihan serpihan hatiku yang patah, dengan beribu ribu kenangan dan jutaan mimpi kita yang terpendam.

Aku merasa begitu lemah. Aku merasa begitu tak berdaya. Ingin rasanya aku mencegahmu melangkah pergi dari genggamanku. Tapi apa daya? Apa yang bisa kulakukan? Melarangmu pergi? Tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak akan melarangmu untuk pergi. Aku akan membiarkanmu pergi.
Walaupun aku tidak rela, walaupun aku sakit, walaupun aku hancur. Aku tetap tidak akan melarangmu untuk pergi. Karena aku mencintaimu, aku menghargai keputusanmu. Jadi pergilah, aku berjanji akan berusaha melepasmu.
Tapi satu hal… aku mohon dengan sangat. Biarkan aku memilikimu, sebentar saja. Aku janji hanya sebentar. Setelah itu, aku tidak akan menuntut apapun darimu… aku berjanji

.

“Aku dijodohkan” dua kata itu otomatis membuat seluruh kinerja tubuhku berhenti seketika.

“M-maksudmu?”
“Aku dijodohkan, aku akan segera menikah…” aku diam dan menatap kedalam matanya, mata yang biasanya selalu menyorotkan kehangatan kini telah lenyap digantikan dengan mata yang penuh sorotan ketidakberdayaan.

“T-tapi kenapa?” aku menundukkan kepalaku, tak sanggup lagi menatap matanya. “Kenapa tiba-tiba? Kenapa sekarang? Kau membhongiku kan?” tanyaku penuh harap. Aku membuka mataku dengan segera, kembali menatap matanya. Mata yang biasanya selalu meneduhkan hatiku. Aku berharap ia segera mengatkn kalau ia hanya bercanda, karena lelucon ini benar-benar tidak lucu.

Aku menggigit bibirku, menelan segumpal kekecewaan saat aku melihat matanya. Mata yang selalu kukagumi, mata yang selalu membuatku… jatuh cinta, kini tidak lagi memancarkan sinarnya. Aku menunduk, hatiku sakit… tentu saja. Ingin rasanya aku berteriak tept didepan wajahnya, supaya ia mau mengakui kalau ia memang sedang berbohong. Atau mungkin saja ini kejailannya, seperti kamera tersembunyi mungkin? Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Kenapa? Karena matanya mengatakan semuanya. Dia tengah berkata jujur, dan dia sama terlukanya dengan diriku sendiri. tentu saja.Aku sekarang bahkan tidak memiliki tenaga lebih hanya untuk mengangkat kepalaku dan menatapnya.

“Tapi kenapa?” Aku membawa kedua telapak tanganku untuk menutupi wajahku, menyamarkan air mata yang tiba-tiba saja menerobos keluar dari dalam pelupuk mataku. Menjebolkan pertahananku yang selama ini kupertahankan mati-matian. Aku tidak mau ada yang melihatku menangis, melihatku rapuh, terlebih lagi… orang yag ku cintai. “A-aku tidak mengerti. Ini semacam pernikahan bisnis. Aku juga tidak tau! Aaarrghh!!! Kumohon, mengertilah.. aku- aku juga bingung. Aku juga terluka…” Oke, kali ini aku benar-benar menangis. Pertahananku benar-benar runtuh.
Mendengar suaranya yang penuh akan sarat kesedihan membuatku semakin terluka. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan isakanku sekuat tenaga agar ia tidak bisa mendengarnya.
Aku menahan tanganku kuat-kuat saat tiba-tiba saja kedua pergelangan tanganku di genggam olehnya dan memaksaku memperlihatkan wajahku. Aku menatap sendu kearahnya sambil tetap mengigit bibirku saat ia berhasil menyingkirkan tanganku dari wajahku, memperlihatkan wajahku yang sudah pasti berantakan oleh air mata. “Sayang…” lirihnya pelan sambil memaku mataku.
Tubuhku bergetar hebat, aku terguncang. Jelas saja, aku tidak bisa. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini?

Aku kembali menunduk, akhirnya membiarkan isakan yang sudah kutahan sedari tadi terlepas begitu saja di hadapan orang yang kucintai, untuk yang pertama kalinya. “hiks… hiks.. hiks.. o-oppa.. oppa hiks hiks.. op-pa hiks hiks.”

Tangisanku bertambah keras saat tiba-tiba saja Kyuhyun oppa merengkuhku. Mendekapku dengan erat di dalam rengkuhnnya. Memberikanku kehangatan, kehangatan favoritku… yang sebentar lagi tidak akan pernah kurasakan lagi.. Memikirkan kalau sebentar lagi ia akan dimiliki oleh yeoja lain sungguh membuatku tertekan. Apa yang harus kulakukan? Hatiku sakit sekali. Sangat sakit. Sungguh.

Aku mengeratkan pelukanku ditubuhnya. Menenggelamkan kepalaku semakin dalam di dada bidangnya. Membiarkan diriku sendiri terlena di dalam kenyamanan ini. Entah sudah berapa lama aku menangis di dalam rengkuhannya, ia sama sekali tidak protes. Semua yang ia lakukan hanyalah mendekapku erat seolah olah akulah yang akan pergi meninggalkannya, mencium puncak kepalaku, dan mengelus elus rambutku sambil mengucapkan kata ‘mianhae’, ‘saranghae’, dan ‘uljima’.
Saat akhirnya aku sudah sedikit tenang, aku tetap diam di posisiku. Sama sekali tidak berniat untuk melepaskan diri dari kehangatan yang Kyuhyun oppa berikan. Aku sepenuhnya bertopang padanya, karena tubuhku rasanya sudah lemas sekali dan kepalaku sudah pusing. Aku benar-benar sudah terlalu banyak menangis.

“oppa…” panggilku pelan. “hmm?” jawabnya lembut. Aku menguatkan hatiku sebelum aku mengungkapkan pertanyaanku. Sepertinya aku harus bersiap menangis lagi, mataku bahkan sudah terasa perih lagi. “Berapa lama lagi?” setelah aku menanyakan hal itu, aku dengan segera kembali menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Sama sekali tidak siap dengan jawaban yang akan ia lontarkan.

Hening

Aku bisa merasakan tubuhnya menegang. “3 bulan”, jawabnya pelan. Aku memejamkan mataku, lagi lagi mataku terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum. Tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan sakitnya hatiku. Seperti di tikam oleh sebilah pisau ribuan kali. Hatiku, benar-benar terasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak aku ingin menjerit. Tapi lagi lagi yang keluar dari mulutku hanyalah isak tangis.

Aku kembali hancur, kembali terluka, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya. Tidak dengan luka yang satu ini. “Jangan menangis lagi, kumohon… kau sudah terlalu banyak menangis. Kumohon sayang… kumohon..”

Akhirnya aku meledak, bagaimana mungkin dia melarangku menangis di saat yang bisa kulakukan hanyalah menangis? “Hikss..hiks..hikss, kenapaa? Bagaimana b isa hal seperti ini terjadi?? Kenapa hiks kau baru memberitahuku? Hiks hiks kenapa?? KENAPA?!!!!” aku menjerit kalap. Aku memberontak di dalam dekapannya. Mencoba memukul dadanya dengan membabi buta, mencoba lari dari dekapannya.

Aku benar benar merasa hancur. Bagaimana bisa dia memberitahuku selambat ini. Bagaimana mungkin dia… bagaimana…

“mianhae, aku tidak sanggup memberitahumu lebih awal. Aku-“ aku memejamkan mataku, mencoba mengerti maksud semua ini. Tapi…

Tapi tetap saja, hatiku terasa sangatlah sakit. “mianhae.” Ujarnya lagi pada akhirnya. “Haaaaaaaaahhhh!!! Kenapa harus kita yang mengalami hal seperti ini?! Kenapa harus kita?! KENAPA?!!??” aku menggenggam erat kemejanya,kembali mencoba untuk menjauhkan diriku dari dirinya.

“Hentikan jebal” lirihnya pelan sambil berusaha untuk kembali mendekapku yang terus saja memberontak. “KUMOHON HENTIKAN! TIDAK HANYA KAU YANG MENDERITA! TIDAK HANYA KAU YANG TERLUKA! AKU JUGA SAKIT! AKU JUGA MENDERITA! AKU JUGA TERLUKA! Chagi jebal.. mengertilah… aku tau ini sulit tapi-“

“TIDAK!!! AKU TIDAK MAU!!! DIAM!!! JANGAN TERUSKAN!!! AAAAAAAAAAHHHH!!!!” aku berteriak keras, berusaha menutup kedua telingaku agar tidak bisa mendengar semua yang ia katakan. “chagi-“

“KUBILANG DIAM!!!” teriakku kalap. Aku tau dia juga terluka, aku tau dia juga menderita. Tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa. Ini terlalu tiba-tiba, terlalu berat, terlalu-”

Cup!

“Ennghhhh” aku meremas erat kemejanya. Kyuhyun oppa menciumku, tidak menciumku dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan. Ia menciumku dengan kasar, penuh akan sarat kekecewaan. Aku tau dia melampiaskan semuanya dalam ciumannya ini.
Air mataku mengalir begitu saja di tengah semua ini, aku memejamkan mataku. Melingkarkan tanganku di lehernya, dan mulai membalas ciumannya. Aku semakin mengeratkan rengkuhan tanganku dilehernya saat aku mendengarnya mengerang frustasi akibat ulahku yang berani membalas ciumannya. “chagiiii” desahnya frustasi saat ia melepaskan ciumannya. Ak menatapnya, menatap matanya. “Jangan berani-beraninya kau melakukan hal itu pada namja lain selain aku.” Ujarnya gusar.

Aku tersenyum samar, si posesif kembali menampakkan diri rupanya. “Tentu saja oppa. Aku tidak akan melakukan itu pada namja lain” tentu bukan? Karena hanya dia satu-satunya orang yang ku cintai. Dialah cinta pertamaku, dan aku benar-benar berharap dia jugalah yang menjadi cinta terakhirku. Aku benar-benar mengharapkan sebuah keajaiban.
“Shit!” lirihnya frustasi. “Bagaimana mungkin aku menjadi lelaki brengsek seperti ini? Aku akan menikah tidak lama lagi, tapi aku bahkan tidak bisa merelakan kau bersama namja lain. Aku bisa gila jika melihatmu bersama dengan namja lain sayang. Aku benar-benar tidak bisa, aku-“

Cup

Aku tersenyum saat melihat matanya membulat sambil menatapku. “Tenanglah, hanya oppa. Aku berjanji.” Well, aku tidak mengatakan ini hanya untuk menenangkannya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memiliki rencana, sebenarnya… ini rencana teregois yang pernah terpikirkan olehku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berfikir hal lain. Mungkin suatu saat aku akan menyesal, atau mungkin saja tidak. Aku tidak tau. Tapi yang aku tau sekarang, aku yakin dengan pilihanku, dan aku tidak akan menyesal. Mungkin sekarang aku memang tidak tau bagaimana ini akan berlanjut, tapi aku yakin. Semuanya akan berakhir dengan baik, entah bagaimana hasil akhirnya.. aku akan menerimanya, walaupun aku tidak bisa. Aku harus bisa. Entah bagaimanapun caranya…

Aku tidak memungkiri kalau aku juga bahagia saat melihat binar-binar kebahagiaan dimatanya setelah aku mengucapkan janjiku tadi. “Aku benar mencintaimu, ya Tuhan. Aku tidak sanggup melepasmu.” Ucapnya lirih sambil lagi-lagi membawaku ke dalam rengkuhannya. “aku tau, aku juga mencintaimu.”

“Aku benar-benar ingin memiliku.. hanya untukku” aku menghela nafas. Aku juga menginginkan hal yang sama. Hal yang tidak mungkin bisa kudapatkan.. “Kalau gitu lakukanlah…” ucapku pelan. Aku mendongak, menatap wajahnya yang mengernyit bingung. “Lakukan? Lakukan apa maksudmu?”
Aku menghela nafas. Kenapa dia bodoh sekali? Masa aku harus jelaskan? Kan malu! Ish!
“Lakukan.. Kau bilang kau ingin memilikiku hanya untukmu bukan? Kalau begitu, lakukanlah.. “ aku menguatkan diriku sendiri saat melihat matanya melotot horror padaku. Sepertinya dia sudah mengerti maksudku. “You’re kidding me.” Ucapnya tak percaya. Aku tersenyum meyakinkan, “No. I’m serious”

Aku melihatnya mendesah frustasi, lalu mengacak” rambutnya kasar. “Dengar, walaupun aku menginginkan hal itu, bahkan sangat, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau merusakmu! Aku bahkan akan menikah tidak lama lagi, demi Tuhan. Tidakkah kau berfikir kalau aku semakin tidak akan bisa melepaskanmu setelah kita melakukannya? Lalu bagaimana kalau kau hamil? Aku pasti akan bertanggung jawab, tapi bagaimana bisa aku bertanggung jawab kalau- ya Tuhan! Kau tau keadaannya! Kenapa kau malah mengajukan- aish!” aku sungguh tidak menyangka kalau reaksinya akan seperti ini.

Maksudku, dia selalu sangat mesum. Tapi kenapa begitu aku menawarkan diri dia malah seperti ini. Aku mengerti juga sih sebenarnya. Aku juga tidak tau ide gila ini berasal dari mana. Tapi aku juga ingin dia memilikiku, manandaiku sebagai miliknya. Waalaupun dia tidak bisa menjadi milikku, setidaknya dia memiliku.

Oh Tuhan, aku tidak tau kalau aku bisa mempunyai pikiran sekotor itu.

“Aku tau.. aku mengerti, tapi aku ingin kau memilikiku…”
Aku melihatnya menaikkan sebelah alisnya, “Yah, tapi kau sudah menjadi milikku tanpa kita harus melakukannya.” Huh, bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu jika dia sendiri terlihat tidak yakin dengan jawabannya sendiri. “Jadi kau tidak mau?” tanyaku datar.

“Tidak!” bah, sok tegas sekali. Kita lihat saja siapa yang kalah huh.
“Kau yakin?”

“Ya!”
“Serius?”

“Tentu saja.”
“Yasudah.”

“Mwo?”
“Aku bilang yasudah.”

“…”
“Kalau kau tidak mau, yasudah. Aku mau pergi saja, aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang dia mau me-“

“APAAAA???!!!??” aku tersentak kaget saat mendengar teriakannya. Apa-apaan dia itu.
“Aku bilang.. aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang mau mengajakku ma-“

“SIAPA YANG BILANG KAU BOLEH PERGI DENGAN NAMJA THAILAND ITU EOH? KAU SELINGKUH DENGANNYA?! YANG BENAR SAJA?!? APA BAGUSNYA NAMJA ITU!”

“Dia? Ehh.. dia tampan, tidak kalah tampan daarimu kok, dia juga tinggi, dia juga pandai bermain music, dia juga tidak kalah pintar dengamu, lalu-“

“YAK! KENAPA MALAH DI JAWAB PABBO?!” haduuh, kenapa dia berteriak terus sih? Aku kan tidak budek. Dasar namja bodoh.

“Loh? Oppa kan bertanya.” Jawabku bego

“ya tapi kan- aish! Tidak boleh! Kau harus disini bersamaku! Batalkan saja janjimu dengan namja Thailand itu!” cih, kecemburuannya itu benar-benar menggelikan hahaha. Padahal aku kan hanya bercanda, hihihi. Makan itu Cho Kyuhyun! Huh!

“shireo. Kau kan tidak mau tadi, aku sama nickhun oppa saja.” Ucapku memanasi. Ha, aku yakin dia akan mencak-mencak tidak karuan deh. Dasar bodoh, tidak mungkin aku akan kabur bersama namja lain sedangkan ada kau disini. Orang yang kucintai, yang bahkan hanya bisa kumiliki dalam kurun waktu yang sangat singkat. Hah…

Grep!

Brukk!!

“Awwhh.. appo..” ringisku pelan. Aku melotot pada Kyuhyun oppa, hendak memarahinya karena mendorongku tiba-tiba sampai punggungku membentur tembok. Oke, aku telan lagi semua kalimat celaan yang baru saja ingin ku lontarkan saat aku melihat sorot matanya yang begitu tajam. O-ow, dia benr-benar marah karena cemburu sepertinya.

Matilah kau, Kim Hwayeon.

“Kau benar-benar minta di makan rupanya eoh?”

Glekk

Mwoya, kenapa dia serius sekali? Lagipula, siapa juga yang minta di makan? Cih, menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini makanan apa? Dasar bodoh.
“Baiklah, kau sendiri yang meminta. Hmm, kau sudah membangunkan serigala tertidur. Siap-siapa di tikam eoh?” ujarnya sambil menyeringai. Oh-oh, jangan seringaian yang satu itu. “aku akan mulai, dan aku akan sulit berhenti, tidak akan berhenti sebelum aku mencapai kepuasanku lebih tepatnya. Jadi… mau kabur? Aku beri kebebasan jika kau mau menarik kata-kata lancangmu tad-“

Cup

Aku menciumnya kilat, lalu beralih memeluknya. Aku merasakan ia membalas pelukanku, melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling tubuhku. “Kuanggap itu sebagai ya.” Bisiknya di telingaku. Aku mengalungkan tanganku di sekeliling lehernya saat ia menggendongku bridal style menuju kamarnya. Kami bahkan tidak memperdulikan panggilan Heechul ahjumma saat kami dalam perjalanan ke kamar tadi karena sibuk bercumbu.

Sreeett

Bruukk

“aahh, emmhhh.” Aku kembali mengalungkan tanganku di lehernya sesudah ia melemparkanku ke kasur dan menindihku, lalu kembali menciumku. Aku benar-benar harus belajar mengimbangi cumbuannya karena, demi Tuhan. Dia benar-benar pecumbu ulung!

Aku menatapnya lekat saat ia mengambil sebungkus kondom dari laci nakas d samping kiriku. “Jangan pakai kondom. Aku mau kau keluarkan di dalam oppa.” Ucapku cepat, mencegahnya memakaikan benda karet itu di miliknya yang sudah berdiri entah sejak kapan. Dan omong-omong.. kapan dia menelanjangi diriku dan dirinya sendiri? Aku tidak ingat.

“Mwo? Bagaimana kalau kau hamil? Kau tau sendiri aku-“

“Tenanglah. Aku sudah minum pil jika itu yang kau takutkan.” Maafkan aku. Aku harus berbohong supaya rencanaku bisa sukses. Mianhae, jebal. Jangan membenciku setelah ini.. mianhae, saranghae.

Dia mengernyitkan keningnya, tampak ingin mendebatku. Lalu kemudian ia menghela nafas dan membuang kondom itu ke lantai, ”baiklah baiklah, terserahmu saja.” Ucapnya pasrah. Aku tersenyum dan merentangkan tanganku. “Peluk?” tanyaku manja. Kyuhyun ppa tersenyum lalu dengan cepat merangkak kearahku dan memelukku. “Saranghae baby”, “nado saranghae oppa..”

Dan terjadilah yang seharusnya terjadi~~~ *mian, author males nulis NC, NCnya kapan kapan aja ya, hehe*

-o0o-

Dan disinilah aku, Seattle.

Sudah 5 tahun sejak aku memutuskan untuk meninggalkan Seoul, dan memulai hidup baruku di sini, di Seattle.. bersama dengan keluargaku dan tentu saja, malaikatku. Putriku tercinta, Kim Han Na. Buah hatiku dengan seorang namja bodoh bernama Kyuhyun yang saat ini berada di Seoul dengan keluarganya sendiri.

Setelah kejadian terakhir, aku akhirnya bercinta dengan Kyuhyun oppa. Aku memutuskan untuk pergi dari Korea, bersama dengan cabang bayiku yang baru saja terbentuk. Sebenarnya, hari itu adalah tanggal suburku. Jadi aku langsung hamil walaupun kami hanya melakukannya sekali.
Aku pergi tanpa sepengetahuannya tentu saja. Awalnya pun aku pindah sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuaku. Tapi entah bagaimana caranya, mereka mengetahui keberadaanku dan keadaanku pula.

Aku tau mereka kecewa dengan keputusanku. Tapi mereka tetap menghargai keputusanku. Aku benar-benar bersyukur karena appa dan eomma bisa menerima Hanna dengan baik, bahkan mereka lah yang paling menyayangi Hanna.

Mereka juga yang mebantuku menjawab pertanyaan Hanna seputar ayah kandungnya. Tidak mungkin aku mengatakan pada anakku itu kalau ayahnya sudah memiliki keluarga lain di Seoul sana bukan? Putriku yang malang, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku begitu menyayangi putriku, buah hatiku dengan satu satunya orang yang ku cintai. Dia hadir karena keegoisanku, tapi aku sungguh tidak pernah menyesal. Kehadiran Hanna sungguh menjadi anugrah terbesar dalam hidupku. Aku sangat bahagia bisa memilikinya, malaikatku.

“Hwayeon-ah, cepatlah naik ke atas panggung. Sudah waktunya.” Aku tersentak saat mendengar suara Yonghwa oppa dari belakangku. Aku berbalik dan mengangguk padanya. “Arraseo, sebentar.” Aku kembali memutar badanku, menghadap pada buat hatiku yang saat ini sibuk memakan ice cream strawberrynya. “Chagi, eomma tinggal dulu sebentar ne? Nanti Yonghwa ahjussi akan menemanimu disini seperti biasa. Baik-baiklah eoh?” ujarku sembari mengelus lembut kepala malaikatku ini.
“Ne eomma, arraseo.”

“Anak pintar.” Aku bangkit berdiri lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

Di Seattle ini aku bekerja ke perusahaan appa, tapi setiap hari Sabtu aku selalu bekerja di café milik Yonghwa oppa. Aku hanya menyanyi beberapa lagu saja, dan kadang aku membantu bekerja juga jika pelanggan hari itu banyak. Café Yonghwa oppa ini khusus menjual makanan dan minuman khas korea yang hampir tidak bisa ditemukan di manapun di Seattle.

Aku memberikan tanda oke pada Yonghwa oppa, dan Yonghwa oppa pun bergegas menghampiri Hanna yang tampaknya masih asik memakan ice cream kesukaannya itu.
Aku naik ke atas panggung dan duduk di kursi yang ada d atas sana. Aku membenarkan posisi mike, dan memberi aba-aba pada para pemain music. Yah, aku mengenal mereka juga, karena mereka teman-teman Yonghwa oppa sekaligus pelayan di sini pula.

Lagu yang akan kunyanyikan sekarang ini adalah lagu kesukaanku akhir akhir ini. Aku tidak pernah absen membawakan lagu ini tiap saat aku bernyanyi.

Nothing has ever broken me like you did
No one I ever wanted more than you
Nobody else can make a woman so weak
Make her fall in love so deep Baby

No one has ever known me like you did
There’s just no other boy to see me through
And every single memory I know
Reminds me that I’m all alone, all alone

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Thought I’ve seen enough to know it all
But not enough to know how it feels to fall
But the kind of pain you left me with
It never seems to heal
And it never lets me go

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Aku melihatnya.. Aku melihat sosoknya, sosok yang begitu kucintai dan begitu ku rindukan. Tapi dia tidak sendiri. Dia bersama dengan nya, dengan istrinya. Aku tidak membenci istrinya, aku hanya… aku hanya tidak sanggup melihat mereka berdua, seperti sekarang.
Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk melarikan diri. Tapi kenapa? Kenapa sekarang dia malah bisa sampai di sini? D tempat ini? Apa ini memang kebetulan? Atau dia memang kesini untuk menemuiku?
Ah, kurasa option terakhir sangatlah tidak mungkin. Mungkin mereka sedang berlibur dan menemukan tempat ini. Ya mungkin saja.
Tapi kenapa jantungku malah berdetk tidak karuan? Aku ingin sekali memeluknya. Aku merindukan sentuhannya…

Tell me how do I live with tainted love?
Tell me how can I feel no feelings?
Is there a way to leave it all behind?

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
Just tell me how to walk away
Away from loving you And I Would

“Kim Hwayeon…”

“Cho Kyuhyun…”

“Appa!!!”

“Jung Yonghwa…”

“Seo Joohyun…”

FIN

I’m in Love [Date] // Part 3

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon (Super Junior) a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo (Super Junior) a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng (Super Junior) a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul (Super Junior) a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)
  • Bae Suzy (Miss A)

I'm in Love

Warning:

Typo bertebaran teman-teman, berhati-hatilah hehehe

Note:

Aloha, maap author lama ga muncul. Lagi repot pindahan kemarin-kemarin, jadi ga sempet bikin ff untuk kalian deh. Maap ya *bow* . Nah, jadi sekarang author kasih lanjutannya I’m in love, ini dia part 3 nya. Maaf kalau pendek dan kurang menarik. Tapi jangan salahkan author kalau ceritanya tidak akan seperti yang kalian pikirkan kkkkkk *smirk*.

Oke, cukup basa basinya. Silahkan dinikmati. Jangan lupa tinggalkan comment, author tunggu. Semakin banyak respon, semakin cepet ff ini bakalan author update. Oce?

Ah, 1 lagi.. ada cast baru muncul di part ini, dan Kyuhyun tidak muncul di sini ^^

Pai pai~!

Terimakasih ^^

***

 

I’m in Love Part 3

Date

Hwayeon berjalan tergesa-gesa ke café yang dimaksud Leeteuk. Jarak rumah mereka dengan café yang Leeteuk maksud tidaklah jauh, maka dari itu Hwayeon lebih memilih untuk berjalan kaki, lagi pula… Jika sekarang ia ingin kencan, untuk apa membawa mobil? Ia yakin pihak namja itu pasti akan membawa mobil. Kalau tidak yaaaaa, yasudahlah. Masih ada kendaraan umum ini.

Kriiing

Hwayeon melangkah masuk ke dalam café itu dan memilih tempat yang berada di ujung, disebelah kaca. Hwayeon kemudian mendudukkan dirinya disana. Seorang pelan datang menghampirinya. “Mau pesan apa agasshi?” tanya pelayan itu sopan.

Hwayeon menatapnya lalu tersenyum sopan pula. “Vanila lattenya 1. Gomawo.” Ujar Hwayeon ramah. Pelayan itu tersenyum sejenak lalu membalikkan dirinya.

Kriiing

Perhatian Hwayeon teralih saat mendengr suara bel yang menandakan ada orang lain yang masuk ke dalam café. Hwayeon menunggu dengan tegang ditempatnya. Kira-kira seperti apa teman kencannya sekarang? Baikkah? Tampankah? Seperti yang eommanya bilang semalam?

Kebetulan Hwayeon memilih kursi yang membelakangi pintu masuk, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang datang. Sampai tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.

Hwayeon menoleh dengan gugup, dan apa yang kini tengah ia hadapi sungguh membuatnya bingung dan merasa sedikit mengganjal.

“Oppa?” sapa Hwayeon bingung. Orang yang tadi menyentuh pundak Hwayeon sepertinya juga terkejut.

“Omo! Bukankah kau Kim Hwayeon? Adik dari Yesung hyung?” ujar pria itu dengan nada ramah. Seulas senyum juga mulai tampak menghiasi bibir pria itu.

“Ne, benar.” Jawab Hwayeon sambil tersenyum tak kalah ramah.

“Ah aku yang akan menjadi teman kencanmu hari ini jika kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Kibum oppa…” ujar Hwayeon lembut. Hwayeon mempersilahkan Kibum untuk duduk dihadapannya. Mereka berdua terdiam sambil menyelami mata masing-masing.

Kibum tersenyum simpul, ia memperbaiki duduknya dan memandang Hwayeon intens, “Aku tidak tau kalau kibum oppa anak dari Heechul ahjumma.” Ujar Hwayeon memecah keheningan ditengah tengah mereka.

Kibum terkekeh pelan, kemudian menggaruk tengkuknya canggung. “Aku memang bukan anak mereka Hwayeon-ah.” Jawab Kibum sambil tersenyum maklum. Hwayeon merengut bingung. “Tapi kata eomma aku berkencan dengan anaknya Heechul ahjumma. Tidak mungkin kan eomma berbohong?” tanya Hwayeon lebih kepada dirinya sendiri.

Kibum kembali terkekeh saat melihat wajah menggemaskan Hwayeon yang berada di hadapanya. Hwayeon merengut saat lagi-lagi pendengarannya menangkap suara kekehan Kibum. “Itu… Anak mereka adalah sahabat oppa, ia berhalangan hadir… maka dari itu oppa disuruh untuk menggantikannya. Kau tidak keberatan bukan?”

Hwayeon menggeleng polos sambil mengerjapkan matanya. “Tentu saja tidak. Lagi pula Kibum oppa tampan kok. Hehehehe… Tapi, kalau boleh tau, siapa anak Heechul ahjumma sebenarnya?”

Kibum mengangkat salah satu sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah seringaian yang entah kenapa malah membuat Hwayeon merona sendiri. “Kau akan tau nanti… Kurasa, Heechul ahjumma tidak akan diam saja saat tau anaknya tidak datang untuk berkencan denganmu hari ini. Mungkin Heechul ahjumma akan segera menjadwal ulang acara kencanmu dengan anaknya…” jawab Kibum sambil tersenyum miring.

Hwayeon kembali merengut saat jawaban Kibum malah semakin membangkitkan jiwa penasarannya. “A-“

“Ini pesanannya, selamat menikmati.” Ucapan Hwayeon terhenti saat seorang pelayan datang untuk mengantarkan pesanannya dan… pesanan kibum mungkin?

Hwayeon memandang pelayan yang sibuk menata hidangan dengan bingung. “Aaah, chogiyo, bukankah aku hanya memesan segelas vanilla latte ya?” tanya Hwayeon bingung.

Lagi!!!

Kibum kembali terkekeh. Lama-lama Hwayeon merasa kalau kekehan Kibum terdengar sangat menyebalkan ditelinganya, kenapa? Tentu saja karena hanya mendengar kekehan Kibum saja Hwayeon malah merona sendiri. Hwayeon mendelik sebal kearah Kibum, membuat kekehan Kibum menjadi semakin parah. “Aish!” gumam Hwayeon sebal, gadis itu kemudian menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalari pipinya.

Kibum tersenyum pada pelayan yang memandang Hwayeon bingung, lalu mengusirnya lembut lewat isyarat tangannya. “Itu aku yang memesan tadi sebelum aku menghampirimu. Kita akan berkencan, jadi lebih baik kalau perutmu terisi penuh kan?” Hwayeon mengangguk malas, lalu mulai menikmati hidangan yang ada didepannya. Kibum memesankan pasta untuk mereka berdua, dan segelas capucino untuk dirinya sendiri.

Mereka berdua menikmati makannya dalam diam. Tidak ada percakapan yang terjalin diantara mereka. Kibum menyelesaikan makannya lebih dulu. Kibum hanya menghabiskan waktunya menunggu Hwayeon selesai makan dengan memandangi gadis itu.

Ada setitik rasa kagum di dalam hatinya saat melihat Hwayeon. Entah kenapa, Kibum merasa ada sesuatu tentang Hwayeon yang harus ia pecahkan… entah apa itu…

“Hwayeon-ah…” panggil Kibum lembut.

“Ne?”

“Sudah selesai?” Hwayeon mengangguk singkat sebagai jawaban. Kibum bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya kearah Hwayeon. Hwayeon menyambut uluran tangan Kibum lalu ikut bangkit berdiri.

Kibum membimbing Hwayeon keluar café setelah namja itu membayar makanan mereka. Hwayeon berdecak kagum saat ia sebuah mobil audi R-8 terparkir manis di hadapannya. Mobil itu berwarna silver metalik, dengan bodynya mulus yang membuat Hwayeon terpana.

Hwayeon sebenarnya bukanlah seorang penggila mobil, ia bahkan tidak mengerti apapun tentang dunia otomotif seperti itu, hanya saja… Ia sangat menginginkan mobil itu. Ia sudah menyukainya sejak mobil itu pertama kali diluncurkan. Sebut saja, ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada mobil itu.

Hwayeon menyaksikan Kibum yang membuka pintu mobil itu dengan raut kagum. “Mobil ini milik mu oppa?” pekik Hwayeon senang. Kibum tersenyum simpul, “Ya, ini milik oppa. Ayo, cepat naik.”

Hwayeon masuk ke dalam mobil dengan semangat, senyum lima jari terukir jelas di kedua belah bibirnya. Kibum yang sudah masuk ke dalam mobil ikut tersenyum senang saat melihat senyum manis milik gadis itu.

“Pakai seat beltmu, atau… mau oppa yang pakaikan?” goda Kibum pelan. Hwayeon dengan buru-buru memakai seat beltnya dengan wajah merona. Bukan… bukan karena godaan Kibum, tapi karena ingatannya berkelana ke kejadian kemarin saat Kyuhyun memakaikan seat beltnya.

Pada saat itu, ia sangat kaget. Ia kira Kyuhyun berniat menciumnya. Eh ternyata, Kyuhyun hanya memakaikan seat belt untunya. Dia memang namja sialan batin Hwayeon yakin. “Ah, kita mau kemana oppa?” tanya Hwayeon tiba-tiba.

Kibum tersenyum miring, lalu menjawab tanpa menatap Hwayeon. “Menurutmu?” tanyanya singkat. “Aku tak tau!!! Makanya aku bertanya. Kita mau kemana?” tanya Hwayeon manja sambil melancarkan aegyonya.

Kibum melirik Hwayeon dari ekor matanya, dan dengan cepat memfokuskan pandangannya kembali kearah jalan saat ia mendapati raut wajah Hwayeon yang menurutnya menggemaskan. “Kita akan bermain ke Lotte World. Kau suka?”

“OMO?!? JINJJAYO?!? KYA!!! OPPA MEMANG YANG TERBAIK!!!” pekik Hwayeon senang sambil menggoyang-goyangkan lengan Kibum. “H-hey! Jangan seperti itu! Kau mau kecelakaan ya?!” kali ini Kibum yang memekik kaget karena mobil mereka hampir saja oleng jika ia tidak cepat tanggap.

Hwayeon tersenyum tanpa dosa. “Ah mianhae, aku terlalu senang.” Jawab Hwayeon polos. Kibum menghela nafasnya saat mendapati ucapan polos gadis itu, Kekanakan sekali… tapi ia pantas berlaku seperti itu batin Kibum bingung.

Hwayeon masih tersenyum senang sampai ia mengingat satu hal. “Eh, tapi-“.

Kibum menoleh, menanti lanjutan ucapan Hwayeon, tapi Hwayeon malah terdiam. Tapi… Jantungku bagaimana? Apa kuat? Ah, semoga saja kuat. Aku akan segera meminum obatnya. Hah, jangan sampai jantungku kambuh saat bersama Kibum oppa. Bisa gawat nanti. Ahhh semoga Tuhan menyertaiku hari ini batin Hwayeon dalam diam.

“Tapi apa Hwayeon-ah?” Hwayeon kembali terseret ke dunia nyata saat Kibum bertanya. “Ah, a-aniya.” Jawab Hwayeon terbata-bata. Kibum mengangguk singkat, Ada sesuatu yang dia sembunyikan ujar Kibum dalam hati.

Hening

“Sepi sekali… Boleh aku menyalakan lagu oppa?” tanya Hwayeon tak yakin. Kibum menoleh singkat pada Hwayeon kemudian mengangguk mengiyakan. Hwayeon dengan cepat membuka tasnya dan mencari sesuatu

Tada!

Ketemu!

Hwayeon kemudian mencolokkan Flashdisk yang ditemukannya di tasnya. Dan tanpa menunggu lama, suara lembut para sekumpulan namja mulai membelai gendang telinga mereka berdua.

Georeooneun ne moseubeul damgoman
Sipeunde haruedo su baek beonssik
Eojjeodaga ireoke dwaenneunji
Teong bin nae maeumi
Sumeul swige haneun neoigie

I want to capture the image of you walking to me, hundreds of times a day
How did I become like this? You’re the one who makes my empty heart breathe

Aju jogeuman aswiumdo
Geu seounhamdeuldo arajuji motaenneunji
Nal yongseohae, nal yongseohae baby
Nuni majuchineun oneureun kkok hal mal inneunde

But I didn’t know your smallest disappointments or sadness
Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Kkumiramyeon jokesseo kkumiramyeon meomchwojwo
Don’t leave me, don’t leave me
Jadagado neol bulleo ajikdo apeunga bwa
Don’t leave me, don’t leave me

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there
Don’t leave me, don’t leave me
I call out to you even in my sleep, I’m still hurting
Don’t leave me, don’t leave me

Hyujitonggwa gachi neol biwobwado
Sseudi sseun yakcheoreom neol baeteobwado
Saebyeongnyeoke chwihae neol tohaebwado
Manggajin sigyecheoreom doedollyeobwado

I try emptying you out along with my trash can
I try spitting you out like bitter medicine
I try vomiting you by getting drunk
I try turning time back like a broken clock

Kamkamhan bam, chagaun gonggi, dal geurimja
Geu soge i gireul honja geotneun guna
Ne nunbit, ttaseuhan sumsori, yeppeun eolgul
Jeo eodum soge sarajyeo ganeun guna

On a dark night, cold air, shadowed moon
I’m walking alone
Your eyes, warm breath, pretty face
It’s disappearing into the darkness

Aju jogeuman aswiumdo
Geu seounham deuldo pureojuji motaenneunji
Nal yongseohae, nal yongseohae forgive
Uri majuchineun
Oneureun kkok hal mal inneunde

But I didn’t comfort your smallest disappointments or sadness
Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Kkumiramyeon jokesseo kkumiramyeon meomchwojwo
Don’t leave me, don’t leave me
Jadagado neol bulleo ajikdo apeunga bwa
Don’t leave me, don’t leave me

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there
Don’t leave me, don’t leave me
I call out to you even in my sleep, I’m still hurting
Don’t leave me, don’t leave me

Naega baraneun daero haji anhado joha
Meori sogeun ontong neoro gadeuk hae baby
Neoro inhae himina
Jigeum jabeun du son nochima
Nan yeogiseo neol wihae inneun geol

You don’t have to do what I want
My head is filled with you baby
I get strength from you, don’t let go of my hands
I’m right here for you

Saldaga jichil ttaedo neoreul bomyeo useosseo
Stay with me, stay with me
Eonjena gippeul ttaedo nega meonjeo tteoolla
Stay with me, stay with me

When I’m tired from life, I smile by looking at you
Stay with me, stay with me
Whenever I’m happy, I think of you first
Stay with me, stay with me

Don’t leave me, tteonajima

Don’t leave me, don’t leave me

[Super Junior – Don’t Leave Me]

Eh? Kenapa lagu pertama udah lagu mellow kayak begini? Parah hahahaha batin Hwayeon. Hwayeon melirik kearah Kibum, gadis itu sontak meringis saat melihat Kibum mengerutkan keningnya.

Hwayeon mencoba tenang, menunggu lagu berikutnya terputar. Semoga bukan lagu yang aneh batin Hwayeon berharap.

(Hey Hey Well.. Hey Hey)

(Hey Hey Well.. Hey Hey)


Jigeum naega haryeoneun mari
Jom isanghalji molla
Waeinji neon jom eoryeowoseo
Nan neul jjeoljjeolmaenikka
Itorok wonhage doego
Oh baby baby Please don’t go
Dangsin ape mureup kkulhneun geosdo
I modeun ge neomu jayeonseureowo

What I’m about to say, might sound strange
I don’t know why but, you’re a bit hard for me, I’m always struggling
I want you so bad, oh baby baby please don’t go
Everything, even kneeling before you feels so natural now


Haneopsi jakku aewonhage hae
Jenjang jamjocha mot jage dwae
Dodaeche I gamjeongi mwonji moreugessjanha

I keep begging you, endlessly
Dammit, I can’t even fall asleep
I can’t figure out what this feeling is


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji Neon chago tteugeowo

You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again You’re cold and hot


Eoneu nal mariya nega
Oerowo ul ttaee
Naega geu nunmul dakkajulge
Budi heorakhandamyeon
Byeoreun unmyeongeul deonjyeo
Ganjeolhi jeolhi wonhage dwaesseo
Onjongil galguhae tto jeolmanghae
Wa modeun ge nollaul ppuniya


One day, when you’re lonely and crying
I’ll wipe away those tears, if you would allow me
The stars show my fate and now I desperately want you
All day, I’m in desire and despair, everything is just so amazing


Eotteon susigeorodo bujokhan
Romaentikboda jom deo bokjaphan
Dodaeche I gamjeongi mwonji moreugessjanha

No word is enough to describe this
A bit more complicated than romantic
I can’t figure out what this feeling is


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji
Neon chago tteugeowo

You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again
You’re cold and hot


Mok taoreuneun da jeoksyeooneun
Masbogo sipeun geudaeya
Deureojwo deureojwo
Badajwo badajwo
I say naneun geunyang da joha
Naneun geunyang da joha
I say ne modeun ge da joha
Ne modeun ge da joha
And I say areumdaun neo
Areumdaun neo
And I say nae geosi doeji

My throat is burning up, I wanna taste the wet you
Listen to me (listen to me) Accept me (accept me)
I say, I just like it all (I just like it all)
I say, I like everything about you (I like everything about you)
And I say, beautiful you (beautiful you) . And I say, be mine


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji


You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again


Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Moktaoge haji
Neon devil tteugeowo

You’re cold and hot
You’re cold and hot
You’re cold and hot
You burn up my throat, you’re a devil, so hot

[Super Junior – Devil]

*sekalian promosi, ayo ELF di tonton yah MVnya!!! Download juga lagunya di melon, naver atau apapun lah. Kita dukung uri oppa!!! KYA!!! Di tonton ya MVnya, jangan lupa dilike. Tapi nontonnya yang official yaaah. SMTWON. Okeh? Pay pay*

Hwayeon lagi-lagi meringis. Apa lagunya tidak ada yang wajar? Gadis itu lagi-lagi menoleh kea rah Kibum dan sukses kembali meringis saat melihat kerutan di kening kibum semakin dalam.

Hwayeon kemudian menunduk dengan wajah memerah menahan malu. Wajahnya semakin memerah saat ia mendengar Kibum berdeham di sampingnya dengan canggung. Pabboya rutuk Hwayeon dalam hati.

Hening…

Suasana hening seketika. Aura di dalam mobil tiba-tiba berubah canggung, apa lagi saat lagu sistar – touch my body mulai melantun, memenuhi seluruh penjuru mobil.

“Ekhem” Hwayeon spontan menoleh saat lagi-lagi ia mendengar suara dehaman kibum. Kibum melirik Hwayeon lewat sudu matanya, lalu tersenyum singkat. “Selera lagumu cukup bagus.” Ujar Kibum tiba-tiba diiringi dengan senyum menawannya.

Hwayeon sontak tertawa canggung saat mendengar ucapan Kibum. Baru saja ia mau memblas perkataan kibum,

Deg!

Hwayeon sontak menahan nafasnya dan mencengkram seat beltnya dengan sangat erat saat tiba-tiba dadanya terasa nyeri.

Deg!

Deg!

Deg!

Hwayeon memejamkan matanya dan menggigit bibirnya saat rasa sakit itu semakin menyerang dadanya dengan membabi buta. Kibum yang bingung karena Hwayeon tidak membalas ucapannya akhirnya menoleh.

Namja itu mengerutkan keningnya bingung saat ia melihat Hwayeon memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya dan menggenggam seat belt dengan sangat erat. Jangan lupa, wajahnya juga menunjukkan ekspresi kesakitan.

“Hey Hwayeon-ah, ada yang salah?” tanya kibum curiga. Dan kecurigaannya semakin menjadi-jadi saat melihat Hwayeon yang tiba-tiba membuka matanya dan memasang ekspresi baik-baik saja yang sudah jelas terlihat kalau itu hanyalah acting

Hwayeon memandang Kibum singkat lalu mengalihkan pandangannya dengan cepat sambil meredam rasa sakit di dadanya. “Ah, gwaencahana. Aku hanya pusing.” Kilah Hwayeon cepat.

Kibum mengangguk, pura-pura mengerti. Diam-diam Hwayeon merogoh tasnya, mencoba mencari obat miliknya. Ketika Hwayeon berhasil menemukannya, ia membuka botolnya dari dalam tas, dan mengambil obatnya dengan cepat.

Ia melirik kesekeliling mobil, dan berhenti pada Kibum. “Oppa, kau memiliki air?” tanya Hwayeon cepat, sedikit terlalu cepat. “Ya tentu saja, ada di kursi belakang.” Jawab Kibum santai.

Hwayeon dengan cepat memutar badannya menghadap belakang dan mengambil debuah botol minuman yang masih tersegel. Ia membukanya dengan cepat. Secepat kilah ia memasukkan obatnya yang tadi sudah ia ambil diam-diam ke dalam mulut dan mulai meneguk obat itu dengan bantuan air yang baru saja ia dapatkan.

Tanpa Hwayeon sadari, Kibum sedari tadi menangkap seluruh kegiatan Hwayeon. Aku semakin yakin, ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan batin Kibum sambil tetap menatap lurus jalanan didepannya.

Hwayeon diam sejenak sambil memejamkan matanya, membiarkan obatnya suapaya bereaksi. Dadanya berdebum menyakitkan secara tak karuan. Setelah beberapa lama, akhirnya gadis itu bernafas lega saat rasa sakit di dadanya mulai mereda.

Hwayeon mulai membuka matanya, kemudian mencoba menimbang nimbang sesuatu. “Oppa, kurasa kita tidak perlu ke Lotte World.” Ujar Hwayeon 100% bohong. Demi apa, dia ingin sekali ke Lotte World, tapi tidak dengan keadaannya yang melemah seperti ini!

Ia tidak mau mengambil konsekuensi jika saat bermain nanti jantungnya tiba-tiba berulah. “Apa? Kenapa? Kauu tidak suka? Tapi tadi kau semangat sekali?” tanya Kibum bertubi-tubi. Hwayeon bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur? HELL NO!

“Aku hanya merasa kurang sehat.” Jawab Hwayeon pelan. Well, dia tiba bohong kan masalah itu? “Hah, baiklah… lalu kau ingin kita kemana?” tanya Kibum akhirnya mengalah.

“Bagaimana kalau pantai?” tanya Hwayeon tiba-tiba antusias saat memikirkan indahnya pantai. “Baiklah, kita kepantai.” Putus Kibum akhirnya. “Yeaaayyy!!! Gomawo oppa, saranghae!!!” pekik Hwayeon riang.

Kibum tersenyum dalam diam, wajahnya bersemu dan jantungnya berdegup kencang saat mengingat kalimat terakhir Hwayeon tadi. Dasar bocah batin Kibum gemas.

Perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama. Mereka kini sudah berada di pantai. Pantai yang Kibum pilih lumayan terpencil, tidak banyak pengunjung disana. Hanya ada beberapa turis yang terlihat berjemur disana, ada yang berselancar melihat ombaknya cukup besar. Ada juga banyak bocah yang bermain layangan ataupun berlari-lari dan membuat istana pasir di bagian pantainya.

Kibum dan Hwayeon berjalan berdampingan. High heels yang tadi diapakai Hwayeon saat pergi sudah dilepas, dan ditenteng oleh gadis itu.

Mereka kemudian duduk di tengah-tengah pasir, berjemur dengan teriknya sinar matahari. Mereka berdua terdiam, membiarkan keheningan menarik mereka berdua kedalam buaiannya.

Tiba-tiba saja Kibum berdiri. “Oppa mau kemana?” tanya Hwayeon bingung. “Berselancar.” Jawab Kibum singkat tanpa menoleh. Hwayeon bersedekap bingung. Berselancar? Berselancar…? Tunggu… apa tadi Kibum bilang? Berselancar?!

“Oppa bisa berselancar?!” Pekik Hwayeon keras dengan suara melengkik tinggi. Kibum yang sudah berada jauh didepan meringis. “Tentu saja aku bisa. Tidak perlu terkejut seperti itu.” Ujar Kibum sok.

Hwayeon mencibir saat mendengar jawaban Kibum, tpi tak ayal ia mulai merasa Kibum… Entahlah, Kibum selalu membuat dirinya terpana sejak mereka pertama kali bertemu di sekolah waktu itu.

Hwayeon akhirnya ikut bangkit berdiri dan berlari-lari kecil menghampiri Kibum. “tunggu aku!” pekik gadis itu tertahan. Kibum menghela nafasnya dalam dalam, tidak perlu memekik seperti itu terus kan bisa cibirnya gemas dalam hati.

Hwayeon mengekori Kibum saat Kibum menyewa sebuah papan selancar. Hwayeon tidak mengomentari apapun, gadis itu hanya mengekori Kibum kemanapun Kibum pergi, membuat Kibum gemas sendiri.

“Kenapa kau mengekoriku terus sih?” tanya kibum gemas. Hwayeon hanya menatap Kibum polos, “Memangnya tidak boleh?”. Kibum terdiam, iya juga ya? Kan tidak ada yang melarang?

Tapi tetap saja, rasanya tidak nyaman diekori seperti itu. Kibum Menggaruk tengkuknya bingung sekaligus frustasi. “Kau..” ujar kibum tiba-tiba.

Hwayeon mengerjap, yeoja itu kemudian mengangkat telunjuknya dan menunjuk wajahnya sendiri dengan tampang kelewat polos. “Aku? Aku kenapa?” tanyanya bingung. “Diam disini oke? Jangan kemana-mana.” Tegas Kibum.

Hwayeon memutar bola matanya malas lalu menjawab dengan lunglai. “Baiklah-baiklah dasar menyebalkan.” Gumam gadis itu pelan. Kibum mengernyitkan dahinya, “Apa tadi kau bilang?”

“Ah aniya, lupakan. Sana ppergi, aku ingin melihatmu berselancar.” Kibum menyeringai mendengar nada meremehkan dalam kalimat itu. Dengan peraya diri namja itu bergegas ke dalam air.

Hwayeon duduk di hamparin pasir tanpa melepaskan pandangannya dari Kibum. Kibum terus berjalan kedalam air dan berhenti saat air sudah menutupi bagian pinggan dan paha kebawah.

Kibum naik keatas papan selancar dan duduk disana. Hwayeon memandang Kibum bingung, Kenapa dia diam? Batin Hwayeon tak mengerti. Tak lama kemudian, Kibum merebahkan tubuhnya di papan seluncur dan mulai mendayung dengan tangannya.

Hwayeon memandang Kibum dengan kagum sekaligus cemas saat beberapa kali Kibum masuk kedalam air saat menghindari ombak yang mungkin tidak diinginkan (?)

Hwayeon berdecak saat ia melihat sebuah ombak yang cukup besar tidak jauh dari tempat Kibum saat ini. Kibum juga sepertinya melihatnya, dengan cepat Kibum mengubah arah papan kea rah pantai.

Kibum lalu mulai mendayung. Hwayeon memekik saat melihat ombak pecah dan Kibum mulai terdorong. Hwayeon bertepuk tangan dengan riang dan memekik girang saat melihat Kibum berhasil berdiri dan bermain dengan ombak tadi. Hwayeon bahkan sampai berdiri dan melompat-lompat seperti anak kecil.

Pandangan mata Hwayeon akhirnya bertemu dengan Kibum yang juga tengah tersenyum senang. Hwayeon mengangkat kedua jempolnya dan mengarahkannya pada Kibum dengan senyum lima jari terpatri dibibirnya. “OPPA JJANG!!!!” pekik gadis itu senang.

Hwayeon menunggu dengan senang saat Kibum mulai keluar dari laut dan berjalan dengan tenang kearahnya. “Omo!! Bagaimana oppa bisa berselancar seperti itu?! Oppa keren sekali!!!” puji Hwayeon terus terang.

Kibum tersenyum lalu mengangkat bahunya yang kokoh itu dengan acuh. “Aku pernah berada di Amerika.” Jawab Kibum santai. “OMO JINJJA?! PANTAS SAJA!!!” teriak Hwayeon tiba-tiba membuat Kibum tersentak.

“Aish! Kenapa kau suka sekali berteriak sih?” gerutu Kibum sebal sambil mendudukan dirinya di hamparan pasir pantai. Hwayeon mengikuti Kibum duduk dan tetap menatap Kibum dengan senyum polosnya.

Kibum jengah juga lama-lama dipandangi begitu oleh Hwayeon. “Kau mau coba?” tanya Kibum tiba-tiba.

“Ha? Coba? Coba apa?” jawab Hwayeon cengo.

Kibum menghela nafasnya. Kenapa dia lamban sekali? Pertanyaanku selalu dijawab dengan pertanyaan. Ya ampun. Aku bisa gila batin Kibum frustasi. “Berselanjar tentu saja. Memangnya kita ngomongin apa dari tadi?!”

“Amerika?” jawab Hwayeon terlalu polos. Kibum menepuk jidatnya. “berselancar! Maksudku berselancar!” geram Kibum frustasi.

“Oh” jawab Hwayeon sambil mengangguk ngangguk.

Hanya itu?! Jerit Kibum dalam hati. Yeoja ini benar-benar…

“Jadi, mau tidak?” tanya Kibum lagi, mencoba bersabar.

“Apanya?”

“ARRGRHHHH!!! TIDAK! TIDAK TAU! LUPAKAN!” geram Kibum frustasi. Hwayeon merengut bingung. Kenapa juga dia marah-marah, aku kan tidak melakukan kesalahan apapun, yah begitulah kira-kira isi kepala Hwayeon saat ini.

“Yasudah..” cibir Hwayeon tak suka. Kibum menggeram samar mendengarnya. Namja itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain dan tubuh Kibum membeku seketika. Hwayeon melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah kibum. “Hellow?” tanya Hwayeon bingung.

Penasaran, akhirnya Hwayeon mengikuti arah pandang Kibum dan sukses terbelalak. “Suzy…” geram Hwayeon samar. Kibum seakan tersentak ke dunia nyata saat mendengar geraman Hwayeon. “Kau… mengenalnya?” tanya Kibum terkejut.

Hwayeon diam, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Kibum. Gadis itu mlah dengan cepat bangkit berdiri dengan tangan terkepal dan mulai meangkah lebar menuju siluet gadis dengan rambut panjang kecoklatan yang saat ini tengah mematung sambil menatapnya.

Kibum jelas terkejut, apa lagi saat melihat Hwayeon berlari dan menerjang Suzy dengan kecepatan setan sehingga membuat kedua tubuh gadis itu terjerembab ke pasir. Kibum berlari menghampiri mereka, hendak bertanya.. Tapi urung ia lakukan saat mendengar suara Hwayeon menggelegar.

“YAK BAE SUZY – SSI !!! BAGAIMANA BISA KAU DATANG KESINI!!! AKU MEMBENCIMU!!!” teriak Hwayeon tiba-tiba saat mereka berdua sudah kembali berdiri dan berhadapan. Bae Suzy, gadis yang berada di hadapan Hwayeon pun ikut berteriak tak kalah berang.

“HAH!!! TENTU SAJA AKU BISA DATANG KESINI BODOH!! INI TEMPAT UMUM, DAN AKU JUGA MEMBENCIMU KIM HWAYEON – SSI !!!” balas Suzy sengit.

“KAU !!!!”

“MWOOO !!!”

“AKU SANGAT MEMBENCIMU !!!”

“HAH!! KAU PIKIR AKU TIDAK ?!? AKU LEBIH MEMBENCIMU !!!”

“KAU MENYEBALKAN SEKALIII !!”

“KAU JUGA !!!”

“KAU PENDEK !!!”

“KAU LEBIH PENDEK DARIKU BODOH !!!”

“BERHENTI MENGATAIKU BODOH, BODOH !!!”

“TIDAK MAU !!! KAU MEMANG BODOH !!!”

“YAAAK ! BAE SUZY PABBO !!!”

“CIH ! KIM HWAYEON PABBO !”

“YAAAA !!!”

“YAAAAAAAAAAA !!!”

Kibum kembali membelalak saat menyaksikan pertengkaran sengit kedua gadis itu. “YA!! K-“

“ASTAGA!!!!! AKU MERINDUKANMU!!! KYAAA!!! KENAPA DUNIA INI SEMPIT SEKALI!!!” pekik Suzy tiba-tiba sambil membawa Hwayeon kedalam pelukannya. Kibum melongo seketika Apa yang sebenarnya terjadi disini? Batin Kibum bingung.

Entah menguap kemana otak jeniusnya, dua orang gadis yang selalu membuat emosinya meluap sampai ke ubun-ubun kini malah berpelukan sambil menyerukan kalimat-kalimat tentang merindukan dan lain lain yang tidak ia mengerti.

“Omo, aku tidak tau kalau kau juga pindah ke Seoul. Kau sungguh menyebalkan, hilang tanpa kabar. Jahat sekali, kau sudah tidak menganggapku teman ya?!” seru Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. Suzy berdecak gemas.

Gadis itu kemudian menjepit pipi chubby Hwayeon dengan jemarinya dan menariknya keras keras. “OMO!! YA YA YA YA!!! LEPASKAN… SAKITTTTT!!!!” jerit Hwayeon histeris sambil memukul mukul tangan Suzy yang bersarang di pipinya.

“Hueeeee, sakit sekalii!!! Jangan gunakan tenaga kudamu untuk mencubit pipiku! Demi apa, aku sudah SMA bodoh! Aku bukan lagi anak SD! Ck, kau benar-benar!” gerutu Hwayeon sebal sambil mengelus-ngelus lembut pipinya yang ia yakini sekarang tengah memerah akibat cubitan tak berperikemanusiaan yang baru saja Suzy lancarkan padanya.

“cerewet.” Desis Suzy gemas, gadis itu sepertinya benar-benar bernafsu dengan pipi Hwayeon. Terlihat dengan tangannya yang terkepal, menahan hasratnya untuk mencabuli (?) pipi Hwayeon.

Hwayeon akhirnya teringat satu hal. Ia ingat ia datang ke sini bersama Kibum. Hwayeon menoleh, dan melihat Kibum masih setia melongo tidak jauh dari tempat mereka berdiri. “Oppa, kemarilah!!!” panggil Hwayeon sambil melambai-lambaikan tangannya heboh seperti anak kecil.

Kibum tersadar dari acara melongonya dan dengan cepat menghampiri Hwayeon dengan degup jantungnya yang bertalu tak karuan. “Suzy-ah, kenalkan ini Kibum oppa… Kibum oppa, kenalkan, ini temanku sejak kecil namanya Suzy.” Ujar Hwayeon santai.

“Bae Suzy…” Lirih Kibum sambil memaku Suzy ditempatnya

“Kibum oppa…” ujar Suzy tak kalah lirih.

Hwayeon mengernyit bingung saat merasakan suasana diantara mereka bertiga tiba tiba terasa sangat canggung.

Ekhem

Hwayeon berdehem pelan, kemudian menyapukan pandangannya pada Suzy dan Kibum yang masih setia terpaku pada satu sama lain. “Kalian… sudah saling kenal?” tanya Hwayeon hati-hati, tapi tidak ada satupun yang menjawab.

Hwayeon lalu terpaku pada mata Suzy. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa mereka saling menatap dengan pandangan berlueran cinta seperti itu? Mereka berpacaran kah?

Hwayeon terus memperhatikan mereka berdua sampai akhirnya Kibum lebih dulu memutus kontak matanya dengan Suzy dan berdehem. “Lama tidak bertemu… suzy-ah.” Sapa Kibum kaku. “Ne..” jawab suzy singkat sambil meremas tangannya gugup.

“Kalian saling kenal? Kalian ada hubungan apa?” tanya Hwayeon curiga. Hwayeon semakin curiga saat melihat mata Suzy yang bergerak-gerak gelisah dan tangannya yang semakin erat bertautan.

“K-kami…”

“Kami hanya teman, aku pernah satu SMP dengannya.” Jawab Kibum memotong ucapan Suzy. Kini Hwayeon menatap Kibum bingung. “Begitukah?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. “T-tentu ahaha” jawab Suzy kaku.

Suzy terdiam, lalu ia menyadari satu hal. “Kalian sendiri ada hubungan apa?”

“Ah, kami hanya t-“

“Dia kekasihku.” Ujar Kibubm cepat, kali ini memotong ucapan Hwayeon.

Hwayeon melotot heboh, begitu juga dengan suzy. “apa???/APAAA??!!!” Suzy bergumam tak percaya, sedangkan Hwayeon tidak segan-segan berteriak sambil melotot kearah Kibum.

“YA KIM KIBUM!!! APA MAKSUDMU MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU!!!” pekik Hwayeon heboh. Kibum sampai menutup telinganya dengan tangannya, takut-takut kalau gendang telinganya akan pecah akibat teriakan super power milik Hwayeon.

“Sudahlah, tidak perlu menyembunyikan semua ini lagi chagi. Apa kau tidak bosan jika kita backstreet terus? Mulai sekarang biarkan orang orang tau kalau kau adalah milikku. Aku tidak tahan melihatmu terus dikerubungi namja namja ganjen di sekolah. Lagipula, suzy temanmu juga… Jadi kurasa tidak ada salahnya jika dia tau hubungan kita yang sebenarnya.” Ucap kibum panjang lebar, namun dalam hati namja itu memelas… berharap hwayeon tidak akan menyiksanya setelah ini.

“MWOYA! APA MAKSUD-“

Cup!

Mata Hwayeon semakin melotot saat dengan kurang ajarnya bibirnya dibungkan oleh bibir Kibum. “Sttt… diamlah, jangan cerewet.” Ujar kibum setengah meringis. Tamatlah riwayatnya setelah ini.

Berbeda dengan Hwayeon, beda lagi dengan Suzy. Yeoja itu melotot, matanya seperti siap keluar dari tempatnya saat melihat Kibum mengecup bibir Hwayeon tadi. Matanya berkaca-kaca, dan siap menjatuhkan air matanya.

Suzy dengan cepat menstabilkan emosinya. Saat sudah mendingan, gadis itu akhirnya buka suara. Menginterupsi kegiatan pelotot-pelototan(?) yang sedang dilakukan oleh Kibum dan Hwayeon.

“Selamat ne, aku tidak tau kalau kau sudah ada yang punya. Kau mendahuluiku, hehehe. Ah, sudah sore. Aku harus kembali. Mian ne? Aku akan menghubungimu nanti Hwayeon-ah. Annyeong”

Kibum tersenyum ditempatnya saat melihat Suzy pergi sambil menangis. Sudah kuduga, dia masih mencintaiku! ASA !

Tak!

“Auuuh! Yak! Apa-apaan sih!” gerutu Kibum ak terima saat tiba-tiba saja Hwayeon menjitak kepalanya.

“Pacar hah? Apa maksudmu sih? Aish, suzy jadi salah paham kan!!! Ah aku tau, kau pasti ada apa-apa dengan suzy kan?” selidik hwayeon

Skak Mat

Kibum sudah tidak bisa lagi berkelit untuk saat ini. “Itu.. Hah, baiklah aku akan memberitahumu. Tapi ada syaratnya.”

“Syarat? Apa lagi sih? Cepat katakan!”

“Kau harus menjadi kekasihku.”

“…”

-TBC-

It’s Okay, It’s Love

Title: It’s Okay, It’s Love

Author: Kim Hwayeon

Genre: Hurt, Romance

Rating: G

Length: Oneshoot

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

find by yourself

 

Warning:

Typo bertebaran

Dislaimer:

Kyuhyun milik Sparkyu, Super Junior, ELF, SME, orangtuanya, dan saya >.< ! Tapi tetap… FF ini mutlak milik saya u.u

Note:

Hola, bertemu agi dengan author 4 yang imut-imut *plak*. Hehehe, tadinya author mau ngepost part3nya I’m in Love, tapi keburu ga mood duluan waktu buka web, eh… gataunya belum ada yang comment, kan sedih T_T. Tapi author seneng deng, ada yang comment di FF author yang lain!! KYA!!! Author terharu chingu, kalo gini kan jadinya merasa di hargain.. ya kan ya kan. Ayo dong comment lagi, kita tunggu comment kalian loh.. Gereget banget kita berempat gara-gara kalian semua nyebelin *pout bibir* Jadi kita tunggu commentnya ya, mohon tinggalkan jejak. Oke, cukup basa basinya. Ini dia ff persembahan author yang lain..

Berhubung author lagi galau hari ini. Jadi author kasih kalian ff lama aja, gapapa ya.. FF ini udah lama mendekam di laptop, tadi cuma author revisi. Karena author lagi galau, jadi mohon maklum kalo cerita ini pendek dan kurang memuaskan. Author revisi FF ini sambil denger lagunya Mandy Moore – Only Hope. Author sampe mewek-mewek gajelas. Padahal FF yang author bikin ga sedih, sedih deng dikit. Hiks hiks, maaf author malah curhat. Maklum, lagi sensi nih hehehe. Yasudah, dibaca ya, jangan bosen-bosen mampir ke sini :3. Pay pay ~^.^~

.

.

.

-o0o-

.

.

.

*Hwa Yeon pov*

Tidak bisakah kau memandangku walau sebentar saja? Apa kau tau bagaimana sakitnya di acuhkan? Aku memang mencintaimu, tapi kesabarankupun ada batasnya. Aku tidak bisa terus-terusan bersabar menunggumu untuk memandangku walau hanya sekejap. Kau tau, aku mulai…lelah…

“Hei, kulihat kau tidak bersemangat hari ini. Gwaencahayo?” kulirik Yoon Hee yang duduk di sampingku. Dia adalah sahabatku sejak SD. Dia selalu mengerti keadaanku tanpa pelu aku beritahu.

Aku tersenyum menenangkan. “Nan gwaenchana. Aku hanya merasa lelah. Kau tau lah apa maksudku.” Aku tau kalau sahabatku itu khawatir, oh tentu saja. Dia jelas jelas mengetahui perasaan cintaku yang salah tempat dan tentu saja bertepuk sebelah tangan. Aku jatuh cinta pada sahabat kecilku dulu. Dia adalah sahabat yang sangat baik, tapi entah karena apa sekarang dia menjadi sedingin es, dia begitu menyebalkan sekarang.Aku merasa tidak lagi mengenalnya yang sekarang… jujur saja aku sangat sakit hati dengan perlakuannya. Aku sangat kecewa.

Aku tersenyum kecil saat melihat Yoon Hee eonni mencibir. Astaga, aku lupa aku berbicara dengan musuh bebuyutan orang yang kusukai. Hiihi “Kau lelah? Kau sudah mengatakan itu ratusan bahkan ribuan kali! Tapi anehnya kau tidak pernah menyerah. Aku tidak habis pikir dengan hatimu dan pikiranmu itu. Jika aku jadi kau, aku akan SEGERA melupakannya. Dia terlalu menyebalkan untuk ukuran seorang namja! Tiba-tiba berubah sikap menjadi raja es kutub, padahal tidak ada angin tidak ada hujan. Cih, seperti yeoja saja! Banci!”

Aku sontak terkekeh saat mendengar ucapannya. YoonHee eonni tidak ada bedanya denganku jika sedang marah. Semua yang ada di otaknya tidak akan disaring terlebih dahulu. Hihii, pabbo.“Kkkkk~ kau selalu menjelek-jelekkannya di depanku kau tau?” sindirku geli.

Aku kembali terkekeh saat melihat Yoon Hee eonni memutar bola matanya malas “Aku tau, dan kau bahkan tidak pernah marah. Aiiigo. Kau benar-benar cinta mati padanya eoh? Menyedihkan sekali kau harus jatuh cinta pada pangeran iblis sepertinya. Ck.”

“Ya! Jangan berbicara seperti itu.”

“Arraseo mianhae kkk~”. Kami tertawa bersama, entah mengetawakan apa. Hah,tapi setidaknya sekarang aku bisa melupakan masalahku sejenak.

Aku tersentak kaget saat Yoon Hee eonni tiba-tiba berteriak. Aish, apa dia tidak bisa nyantai ?“Ah! aku baru ingat. Eun Hye eonni mengundang kita ke acara tunangannya dengan V oppa.” Apa?! Tunangan?! Heeee?! Cepat sekali?! Bukankah mereka baru saja jadian? Wah wah wah, apa V oppa sudah ga tahan ingin ‘itu’ dengan Eunhye eonni? Atau malah EunHye eonni yang tidak tahan? Waduh, mereka mesum sekali. Hahahaha.

“Arraseo. Kapan acaranya?” Sebenarnya aku malas datang ke acara seperti itu. Yah, menyakitkan menurutku. Kenapa? Tentu saja karena aku iri. Aiish! Menyebalkan sekali. Coba saja kalau Eunhye eonni bukan salah satu sahabatku, aku tidak akan mau datang. Malas!

“Minggu depan, di ballroom Elf Hotel. Kau akan datang dengan siapa?” aku mengernyitkan dahi bingung. Datang dengan siapa? Tentu saja aku datang sendiri, memangnya dia pikir aku akan datang dengan siapa lagi?

“Tentu saja sendiri.” Jawabku cepat. Aku ikut mengernyit saat melihat Yoon Hee eonni mengernyit.

“Mwo? Kau yakin? Akan ada acara dansa, kau akan berdansa dengan siapa? Patung?” Wah, kurang ajar memang eonni yang satu ini. Rasanya ingin aku tending! Hiah!

“Aku bisa mengajak Kangin oppa tentu saja. Aku bisa berdansa dengannya.” Jawabku tak peduli. Oh ayolah, ini bukanlah hal penting.

“Ck, terserah kau saja.” Aku hanya tersenyum penuh kemenangan. Hah, tapi kalau dipikir pikir… Aku akan datang dengan siapa ya? Kangin oppa? Oh ayolah, aku bisa-bisa menjadi bahan tertawaan mereka. Haruskan aku mengajak namja lain?

Oh yang benar saja!!! Aku kan yeoja, masa aku harus mengajak namja lain lebih dulu? Gengsi! Tapi, harus bagaimana lagi? Hah, mungkin aku memang harus mengajak namja lain. Tapi siapa ya?

.

-o0o-

.

“Eonni, kyuhyun oppa pergi dengan siapa?” tanyaku pura-pura tak peduli pada Hyo Jin eonni untuk memecah keheningan yang sedari tadi terjalin diantara kami bertiga. Aku mencoba untuk tetap berakting tidak peduli walau aku tau kalau saat ini Yoon Hee eonni sedang menatapku tajam dengan mata bulatnya.

Sekarang ini kami sedang menjalani perawatan di salon bersama Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Ah, aku lupa. Hyo Jin eonni itu sahabatku juga, tapi semenjak masuk kuliah hehe. Dia itu adik dari orang yang ku suka. Kyuhyun, aku suka dengannya dan tentu saja Hyo Jin tidak mengetahui hal itu. Bisa mati jika yeoja itu tau aku menyukai oppanya.

“Dia pergi dengan Seohyeon tentu saja. Ada apa memangnya?” Tentu saja! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal penting seperti itu? Dia pasti pergi dengan kekasihnya… bodohnya aku.. aku memejamkan mataku kuat-kuat saat mataku mulai terasa panas, tapi aku tidak mau menangis. Setidaknya, tidak didepan mereka.

“Ani, hanya penasaran.” Aku berusaha menenangkan diriku. Sialnya, suaraku terdengar bergetar. Tapi untung saja Hyo Jin eonni tidak menyadarinya.

“Lalu eonni pergi dengan siapa?” tanyaku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau membahas tentang Kyuhyun oppa lebih lama lagi, rasanya sakit sekali.

“Aku? Dengan Ricky oppa tentu saja. Aiiigo, aku tidak sabar bertemu dengannya. Padahal semalam kami mengobrol di telvon sampai larut malam.” Aku tersenyum mendengar penuturan Hyo Jin eonni. Wajahnya sangat cerah dan ia terlihat sangat bahagia saat menyampaikannya. Kuharap Ricky oppa benar-benaar membahagiakan HyoJin eonni. Aku ingin seluruh sahabatku berbahagia, walaupun aku tidak.

“Kau pergi dengan siapa Yoon Hee-ah.” Aku ikut menoleh ke arah Yoon Hee eonni. Mukanya terlihat memerah. Dia sedang malu. Kkk~ memangnya dia pergi dengan siapa ya? Bikin penasaran saja!

“Aku pergi dengan Ravi oppa. Kau tau, dia sudah menyatakan perasaannya padaku 3 hari yang lalu.” Jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Lihat lihat! Pipinya sudah semerah tomat, astaga. Hahaha

“Aiiigo, chukkaeyo eonni.” Ucapku tulus. Kalau begini… itu berarti hanya aku satu-satunya yang masih melajang. Hah… Kurasa aku akan tetap melajang sampai beberapa waktu edepan karena sulit sekali rasanya melupakan Kyuhyun oppaa.

“Kau harus secepatnya menyusul Hwa Yeon-ah.” Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Hyo Jin eonni. Ya, aku akan menyusul secepat yang ku bisa… tapi saat aku sudah melupakan oppanya. Hihihi

Selesai perawatan, aku pulang ke rumah sedangkan mereka pergi ke butik milik Yoon Hee eonni. Harusnya aku ikut mereka, tapi aku malas. Lebih baik aku berdan-dan sendiri di rumah. Lagian, ada eomma yang bisa mendan-daniku.

Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Hanya dalam kurun waktu 2 jam aku sudah siap. Eomma mendandaniku dengan kecepatan kilat. Tidak heran sih, eomma kan yeoja.. Rasanya aneh kalau ia tidak bisa berdandan.

Eh…

Tapi tunggu…

Bukankah aku juga yeoja?

Tapi aku tidak bisa berdandan.

Ah yasudahlah, aku akan belajar berdandan nanti saja, saat aku sudah punya pacar. Hehehe

Tin Tin!!

Aku dengan cepat berpamitan pada eomma dan appa saat aku mendengar suara kalakson mobil dari depan rumah. Kurasa aku sudah dijemput. Aku sudah memutuskan untuk pergi dengan Siwon oppa, untung dia berbaik hati mau menemaniku ke acara ini, padahal aku tahu jelas kalau Siwon oppa adalah orang yng sangat sibuk.

Hah, kalau saja aku bertemu dengan Siwon oppa lebih dulu, mungkin aku bisa mencintainya.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Au tersipu saat mendengar pujian Siwon oppa. Issh, tidak kupungkiri, Siwon oppa memang sangat manis. “Gomawo, oppa juga terlihat tampan malam iini.” Kami saling bertatapan sambil melempar senyum, lalu dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Aku merasa sangat canggung berada berdua bersamanya di mobil ini.

Hening

Hening sekali!!! Terlalu hening untukku! “Apa kau keberatan kalau aku menyetel music?”

“Tidak! Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan.” Jawabku cepat, terlalu cepat kurasa. Aku melihatnya tersenyum sekilas lalu menyalakan tape. Suara lembut milik Mandy Moore mulai mengalun memenuhi setiap sudut mobil ini.

There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands
and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
Of Your galaxy dancing and laughing
and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that You have for me over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give You my destiny
I’m giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

[Mandy Moore- Only Hope]

 

 

To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

Ya Tuhan, Apa maksudnya lagu ini? Aku merasa sangat tersindir. Jujur saja, hanya satu yang ingin aku lakukan saat ini.

Menangis!

Benar sekali. Aku ingin menangis saat ini, Aku merasa dadaku sangat sesak.

Aku sudah memberikan semuanya padanya. Seluruh hatiku sudah kuserahkan padanya, karna aku ingin menjadi miliknya. Hanya miliknya.

Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Semuanya hancur. Semua mimpiku hancur, aku bahkan tidak bisa lagi menggenggamnya.

Tes

Tes

Tes

Dengan cepat aku menghapus air mata yang sudah berani-beraninya jatuh ke atas pipiku, sebelum Siwon menyadari kalau aku menangis.

Perjalanan kami selanjutnya ditemani oleh beberapa lagu yang terang saja membuatku semakin galau. “Hei, kita sudah sampai.” Aku tersentak saat tiba-tiba suara Siwon oppa menusuk gendang telingaku. Aku mengangguk kiku lalu melepas seat belt dengan cepat.

Siwon oppa membimbingku keluar dari mobilnya lalu membawaku kedalam ballroom hotel itu. Dan kini, aku sudah berada di ballroom tempat pertunangan itu dilaksanakan. Aku menghela nafas berat. Aku juga menginginkannya, bertunangan lalu menikah, lalu memiliki keluarga kecil. Ah, sungguh indah pasti.

Aku melangkahkan kakiku ke arah Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Mereka sudah bersama dengan pasangan masing-masing. Mereka terlihat cantik dengan gaun yang mereka kenakan. Aku sendiri menggunakan dress berwarna soft pink selutut juga tas dan high heels dengan warna senada. Rambutku kubiarkan tergerai menutupi punggungku.

“Annyeong.” Sapaku pada mereka.

“eoh, Hwa Yeon-ah annyeong. Kau cantik hari ini.” Aku tersenyum canggung. “Omo, Kau Choi Siwon kan? Jadi kau datang bersama gadis ini? Baguslah, kupikir dia akan datang sendiri lalu pulang dengan mewek karena kekasih hatinya datang bersama wanita lain.” Sindir Yoonhee frontal sukses membuat semua yang ada disana tersentak, termasuk aku!

Apa eonni itu gila? Astaga!!!!

“OMO! Apa maksudmu eonni?! Jangan bicara sembarangan!” desisku sebal. Aku bisa melihat tatapan penuh tanda tanya yang dilayangkan Siwon oppa untukku, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikannya.

“Would you dance with me?” kulihat ricky oppa mengajak Hyo jin eonni berdansa, begitu juga dengan Ravi oppa. Ah, mereka pasti bahagia. Ah, aku bosan. Siwon oppa juga malah sibuk dengan kolega bisnisnya. Huh! Dasar mesin pencetak uang! Kerja mulu dimana-mana. Menyebalkan sekali!

Kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Aku menuju balkon yang ada di pojok ruangan. Aku berjalan mendekati pagar pembatas.

Aku merasa rileks di sini. Aku mengamati bintang yang tengah bersinar di langit malam ini. Aku memejamkan mataku membiarkan udara malam membelai kulit tubuhku. Gaun yang kukenakan sedikit terbuka malam ini. Aku menggigil, mulai merasa kedingingan. Tapi aku tidak ingin masuk.

“Kau kedinginan. Lebih baik kau masuk.” Aku menoleh saat mendengar suara yang begitu ku rindukan. Ia menyodorkan jasnya padaku.

“pakailah.” Aku menerimanya lalu menyampirkannya di bahuku.

“Gomawo.” Ia hanya bergumam pelan. Aku tau, dia tidak ingin berada di dekatku. Aku memejamkan mataku, mencoba menenangkan perasaanku. Rasanya sakit sekali ketika ia bersikap dingin seperti ini, tapi setidaknya ia sudah perhatian. Itu lebih dari cukup untukku.

“lebih baik aku masuk.” Baru saja aku berbalik, aku merasakan dia memelukku dari belakang, menahanku untuk kembali melangkah. Aku terhenti, membeku. Apa yang dia lakukan? Apa dia tidak takut kelihatan oleh kekasihnya?

“jangan pergi. Jangan menghindariku. Jangan. Jangan pernah lakukan hal itu.” Aku mengernyit bingung. Apa maksudnya? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu? Dia yang selalu menghindariku, bukan sebaliknya.

“Apa maksudmu? Bukankah kau yang bersikap seperti itu? Kau yang menjauhiku” entah kenapa suara yang keluar terdengar begitu lirih, nyaris seperti berbisik. Jangan lupa, suaraku juga terdengar bergetar. Oh my.

“Ani, kau menghindariku seminggu ini. Kau bahkan tidak mau menatapku. Kau selalu mengalihkan pandanganmu saat mata kita bertemu. Kau selalu menunduk saat berjalan melewatiku. Aku bahkan melihatmu berbalik menghindariku saat kau melihatku dari kejauhan. Jangan lakukan hal itu lagi. Aku merasa.. sakit. Sakit sekali” Aku merasakan pelukannya semakin erat. Aku masih tidak mengerti apa maunya. Kenapa dia mempermasalahkan hal itu? Bukankah seharusnya dia senang kalau aku tidak mengganggunya lagi? Dia jadi bebas berhubungan dengan kekasihnya itu tanpa perlu memikirkanku kan?

“jangan mempermainkanku. Kau tau, aku sudah lelah. Aku tidak mengerti kenapa sikapmu bisa berubah drastis. Sudah 8 tahun lebih aku menyukaimu, tapi kau malah memandangku seolah aku itu sampah semenjak kau mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Kau berubah. Kau bukan Kyunieku yang manis. Kau berbeda sekarang. Aku tidak mengenalmu yang sekarang kyu.” Aku memejamkan mataku saat dengan lancangnya air mataku keluar.

“aku.. mianhae. Aku juga tidak mengerti kenapa aku menghindarimu. Aku mencintaimu, tapi aku takut. Kita tidak seharusnya saling mencintai. Kau tau, aku sangat menyayangimu. Aku takut kau hanya menyayangiku sebagai seorang sahabat. Aku takut kau akan menjauhiku saat kau mengethui kenyataan kalau aku mencintaimu semenjak dulu. Aku tidak tau semenjak kapan aku mencintaimu, tapi aku tidak pernah lagi memandangmu sebagai seorang sahabat, adik kecilku yang manja. Aku selalu memandangmu sebagai seorang yeoja manis, dan aku ingin memilikimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku, minta maaf atas sikapku selama ini. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu. Beberapa bulan tanpa kehadiranmu membuatku mati rasa, aku benar-benar membutuhkan sosokmu disisiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini padaku. Kumohon jangan membenciku, jangan menghindariku, jadilah milikku, kumohon.”

“lalu bagaimana dengan Seohyeon? Ukankah kalian sepasang kekasih? Kumohon Kyu, jangan mempermainkan perasaan wanita seperti ini. Kau tau, rasanya sangat menyakitkan dipermainkan seperti ini” aku merasakan dadaku sesak saat mengingat hbungan mereka. Aku tidak bisa merusak hubungan mereka. Aku tidak mau menjadi orang jahat. Tidak mau!

“Apa maksudmu? aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Dia sepupu jauhku. Dia bahkan sudah punya tunangan! Bagaimana mungkin kau menganggap aku berpacaran dengannya. Ya Tuhan!! Aku mencintaimu!! Tidak mungkin aku bisa berhubungan dengan yeoja lain selain dirimu. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku tidak bisa berpaling darimu barang sedetik.” Aku tersentak kaget saat mendengaran pekikan Kyuhyun oppa . Jadi dia tidak berpacaran dengan Seohyeon? Jadi selama ini hanya salah paham? Tapi… tapi… tetap saja! Dia bersikap dingin padaku! Aku membencinya! Pokoknya aku membencinya!! Hueeeee, aku ingin pulang!

“A-aku…”

“komohon..” aku memejamkan mataku erat. Lidahku terasa kelu. Eotteokhae?

“Mianhae.. semuanya sudah terlambat oppa.” Aku melepaskan pelukannya perlahan. Memakaikan jasnya kembali. Bisa kulihat ada gurat kesedihan di matanya.

“Hwa Yeon-ah..” Aku memjamkan mataku kembali, mencoba memantapkan hatiku.

“Mianhae oppa. Tapi aku tidak bisa. Jeongmal mianhaeyo. Tapi, aku benar-benar mencintaimu oppa. Jangan ragukan perasaanku. Jeongmalyo. Tapi kurasa, semuanya harus berakhir oppa. Annyeong.” Kulangkahkan kakiku keluar ballroom. Pikiranku kalut. Aku merasa bingung. Aku putuskan untuk langsung pulang setelah berpamitan dengan eonni-eonniku dan Siwon… ah entahlah, toh aku tidak menemukannya dimanapun tadi. Aku mengurung diriku di kamar sesampainya aku dirumah. Aku ingin menenangkan diriku.

.

-o0o-

.

Sudah beberapa hari aku hanya mengurung diriku di kamar. Aku mematikan ponselku. Aku juga bolos kuliah. Aku hanya keluar jika aku harus makan. Aku sudah merasa cukup baikan, tapi ada perasaan khawatir yang entah kenapa bersemayam diotakku sejak beberapa hari yang lalu dan jujur saja membuatku tidak tenang.

Kunyalakan hpku. Ada banyak sekali pesan masuk dari eonniku dan juga kyuhyun oppa.

Aku membaca seluruh pesan mereka yang isinya hanya seputar kenapa aku tidak bisa dihubungi, ada apa denganku, apa aku baik-baik saja, dan yang terakhir… Ada pesan dari HyoJin eonni tentang Kyuhyun oppa. Dan aku benar-benar dibuat kaget saat membacanya.

Hwa Yeon ah. Kumohon kemarilah. Kyuhyun oppa menjadi sangat kacau semenjak kau menolaknya. Aku sudah mengetahui semuanya. Seluruh permasalah kalian, seluruhperasaan kalian. Aku sudah mengetahuinya. Karena itu, Kumohon datanglah kemari, selamatkan oppa, Ia sudah terlihat seperti mayat hidup saat ini. Kumohon datanglah Kyuhyun oppa membutuhkanmu. Bantu aku… Bantu oppaku… Kau membunuhnya secara perlahan jika begini Hwayeon-ah. Dia serius mencintaimu, aku tau itu. Dia bahkan berusaha membunuh dirinya dengan menyayat lengannya. Kumohon jangan tutup hatimu untuknya. Aku tunggu kedatanganmu, saeng. Kumohon…Dia membutuhkanmu…

Air mataku mengalir. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada kyuhyun? Apa dia baik-baik saja? Aku merasakan dadaku sesak saat berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalaku. Secepat mungkin aku pergi ke rumah Hyo Jin eonni. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung melesat ke kamar kyuhyun oppa.

Aku sudah sampai di depan kamarnya. Aku mencoba membuka pintunya, tapi ternyata terkunci. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Kuketuk pintunya perlahan.

“Oppa, bukalah. Aku Hwa Yeon.” Tak lama, pintu itu terbuka. Hatiku seperti teriris melihatnya kacau. Rambut berantakan, tubuhnya kurus, mukanya kusut, matanya.. matanya terlihat sangat kelam. Lingkaran hitam sudah bersemayam di atas kedua belah matanya, dan bau alcohol menyeruak dari tubuhnya. Aku tidak tahan.

“Oppa. Hiks..” ia mendekapku erat. Aku balas memeluknya. Aku tidak bisa berhenti menangis. Ia seperti ini karenaku. Semuanya karena diriku.

“sttt.. uljima.” Tangisku berubah semakin kencang. Bagaimana bisa dia menyuruhku jangan menangis? Lihatlah dirinya. Benar-benar tak terurus dan itu semua karnaku.

“Hikss.. mianhae oppa. Saranghae. Hikss. Jangan sakiti dirimu sendiri oppa. Kau membuatku khawatir. Hikss.” Bisa kurasakan kalau pelukannya semakin erat.

“Mianhae. Oppa tidak akan seperti ini jika kau tak meninggalkanku sayang. Kau tidak tau betapa hancurnya hatiku saat tau kalau kau telah menutup hatimu untukku. Rasanya seperti ingin mati saja.” Uuugh, ternyata dia benar-benar mencintaiku. bodohnya aku sempat menolaknya.

“Mianhae. Hikss. Aku tidak akan meninggalkan oppa lagi. Aku janji.” Ia melepaskan pelukanku, merengkuh pipiku membuatku mendongan menatapnya.

“benarkah?” aku mengangguk. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum.

“Saranghae.”

“nado.” Kupejamkan mataku saat kurasakan bibirnya mendarat bebas di atas bibirku. Ternyata, sekuat apapun aku berusaha.. aku tetap tidak bisa terlepas darimu.. pada akhirnya aku tetap kembali padamu.. harusnya aku sadar, dari awal aku memang tidak pernah bisa berpaling dari dirimu. Dari awal, sampai sekarang. Tidak pernah ada orang lain yang menggantikanmu. Kau akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir… dihatiku.

-END-