Tag Archive | Suga

You are not mine but i’m yours

Tittle   : You’re not mine but I’m yours

Cast:
Cho Hyo Jin
Min Yoongi(Suga BTS)

Other :
Jang Sa Ha(OC)
Cho Kyuhyun
Jung Yoon Hee
Kim Taehyung(V BTS)
Kim Hwa Yeon
Park Eun Hye
Park Jimin(Jimin)

Author          : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, school life, hurt

Ratt    : G

Anyeong readers!!!

Kini Author 2 datang dengan FF Special Project buat Abang Agus*plak*

Maksud Author itu abang Suga!!

Sebelumnya Author mau minta maaf karna baru bisa ngepost sesuai tanggal ulang tahun mereka-bias-

Ini cerita asli dari pemimkiran konyol Author.. Jika ada cerita yang sama, mungkin itu kebetulan. Author gak mau dianggap plagiat.

Disini Author masukin nama asli Author, pengen tenar gitu. Hha..

Habis Author udah gak kepikiran lagi nama buat OC

Disini gak ada niatan buat ngebash cast yang ada disini..

Author ceritanya mau bikin angst, ini FF Angst pertama Author..

Minta commentnya yh^^

Sekian cuap-cuap dari Author2~

…Happy Reading…

you are not mine but i'm yours

—————————————————————————————–

Min Yoongi. Mendengar namanya saja dapat membuat jantungseorang Hyo Jin berdetak kencang, membuat rona merah yang kontras di kulitnya yang putih. Hyo Jin sedang jatuh cinta pada namja bernama Min Yoongi itu. Sedangkan namja tersebut? Entahlah, mungkin ia tak mengetahui kalau Hyo Jin menaruh hati padanya. Kenapa? Nanti kalian akan tau sendiri.

Kini Hyo Jin sedang berada di kelas, matanya tak henti memandangi namja yang sangat ia kagumi. Sedangkan ketiga temannya hanya dapat menatap aneh Hyo Jin yang kadang-kadang tersenyum sendiri.

“Hei, kupikir Hyo Jin sudah gila. Makin lama ia semakin gila.” Ucap Hwa Yeon. Teman Hyo Jin yang mengaku sabagai maknae diantara mereka. Perkataannya di angguki oleh kedua temannya yang lain.

“Bagaimana kalau kita kirimkan dia ke rumah sakit jiwa saja besok? Aku semakin takut padanya.”ucap Yoon Hee.

PLETAK

Kedua orang itu diberi jitakan pada kepalanya. Pelaku nya tentu saja Hyo Jin.

“Ya!! Aku bisa mendengarnya! Aku tak gila. Aku hanya tak dapat berhenti menatapnya. Aku sangat menyukainya.” Hyo Jin kembali memandangi wajah namja itu. Sedangkan Hwa Yeon dan Yoon Hee sibuk mengelus kepalanya yang mendapat jitakan dari eonni nya itu.

“Hei, aku hanya bingung saja. Dari semua namja yang ada di sekolah ini kenapa kau memililih seorang Suga? Jangankan sekolah, di kelas ini pun banyak namja yang menarik dari tampan sampai imut. Kenapa harus dia?” kini giliran eonni tertua yang bertanya, Eun Hye.

“Sudah kukatakan aku pun tak tahu, eonni. Hanya saja aku merasa dia selalu menarik perhatianku. Hanya dia yang paling tampan disini menurutku. Tak ada namja yang lebih darinya.” Jawab Hyo Jin tanpa mengalihkan pandangannya pada namja itu. Eun Hye berfacepalm karna pendapat sahabat yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya itu begitu bodoh. Bagaimana tidak bodoh? Dia bilang tidak ada yang lebih tampan dari seorang Suga? Bagaimana dengan Kris? Changjo? Ricky? Woohyun? Hoya? Jungkook? J-Hope? Kevin? B.I? Bobby? Ken? Mino?Seunghoon?Seungyoon? Seokhoon? Jangan lupakan Seo In Guk saem dan Yoochun saem. Kelas mereka terlalu penuh dengan namja tampan.

“Anyeong baby~~” panggil tiga orang namja dari pintu.  Ternyata mereka baru datang. Mungkin kalian tak tau siapa saja namja-namja itu. Biar Author kenalkan. Mulai dari ujung kanan. Namanya Kim Taehyung atau lebih sering dipanggil V. Namja berrambut caramel itu adalah namjachingu dari Eun Hye. Lalu namja kurang tinggi tetapi memiliki badan atletis yang berada di tengah adalah namjachingu dari Yoon Hee, Park Jimin. Dan yang terakhir, namja yang merupakan saudara kembar dari Hyo Jin sekaligus namjachingu dari Hwa Yeon, Cho Kyuhyun.

“Ya! Darimana saja kalian? Dan kau Cho Kyuhyun, kenapa kau tidak datang bersama Hyo Jin?” tanya Hwa Yeon. Kyuhyun langsung menyimpan tas nya di kursi dan mendekati para yeoja.

“Dia yang meninggalkan aku. Saudara kembar macam apa kau sampai-sampai meninggalkan aku sendiri?” ucap Kyuhyun. Hyo Jin hanya diam sambil tersenyum sendiri. Kyuhyun mendapat ide cemerlang. Ia segera menuju Suga dan menyuruh Suga untuk menengok ke belakang. Dan saat Suga menengok kebelakang, matanya bertemu dengan mata Hyo Jin. Sontak Hyo Jin kaget dan mengalihkan pandangannya. Rona di pipinya tak dapat ia hindari. Semua orang tertawa tak terkecuali Suga yang kini tertawa melihat ekspresi Hyo Jin. Suga kembali memfokuskan diri pada buku yang ia baca. Sampai seorang yeoja datang dan langsung mencium mesra bibir Suga. Iya, mencium. Dia adalah Jang Sa Ha. Yeojachingu dari Suga.

Pemandangan itu membuat semua orang yang awalnya tertawa langsung terdiam. Kini Hyo Jin hanya dapat tersenyum miris melihat kejadian itu. Ya, yang dimaksud oleh Eun Hye adalah ini. Kenapa ia hanya dapat mengagumi seorang Suga yang sudah mempunyai yeojachingu. Hyo Jin pun tak tau apa yang harus ia lakukan. Mencoba melupakannya? Ia pernah mencobanya tapi yang terjadi adalah ia malah terlihat seperti mayat hidup. Seakan Suga adalah nafasnya. Mencari yang lain? Tapi matanya selalu terfokus padanya.

Memang miris nasib seorang Hyo Jin. Saat ia berusaha memberitahu pada Suga tentang perasaannya, Suga hanya menganggapnya sebagai lelucon dan setelahnya ia memberitahu Hyo Jin kalau ia sudah jadian dengan Sa Ha. Bahkan sampai sekarang kode yang diberikan Hyo Jin hanya dianggap sebagai lelucon dan tak pernah ia pikirkan. Karna dimata Hyo Jin hanya ada Suga dan dimata Suga hanya ada Sa Ha.

Semua kenyataan itu tak pernah Hyo Jin lupakan. Tapi entah kenapa ia masih ingin mencobanya walaupun akhirnya ia akan tersakiti. Setidaknya ia ingin membuat Suga mengetahui bahwa perasaannya itu tulus dan benar adanya. Entah sudah berapa kali Hyo Jin berusaha membuat Suga menyadarinya.

*skip time*

“Hyo Jin, bisakah bawakan barang-barang ini ke ruang biologi? Dan kau Kyuhyun, bantulah kembaranmu!! Jangan pacaran terus dengan Hwa Yeon!!” ucap Lee Saem saat melihat Hwa Yeon yang sibuk berlovey-dovey dengan Kyuhyun.

Kini Hyo Jin hanya bisa berjalan lemas menuju ruang biologi bersama Kyuhyun. Ini lah yang dilakukan Hyo Jin setiap harinya. Pagi-pagi ia pergi ke sekolah untuk memandang Suga lebih lama dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya lalu senyumnya musnah saat Sa Ha datang dan senyum itu tak akan kembali sampai besok pagi. Intinya yang dapat membuat dia tersenyum adalah memandang Suga. Bisa bayangkan bagaimana ekspresi seorang Hyo Jin saat hari libur? Benar sekali! Tak ada ekspresi selain datar dan sedih.

Itulah yang  selalu membebani hati Kyuhyun. Ia merasa gagal menjadi saudara kembar Hyo Jin. Pasalnya Hyo Jin tak pernah memberi tahu apa penyebab dia begini sampai ia mengetahuinya sendiri. Hatinya kaadang sakit melihat Hyo Jin memasang senyum palsu saat bertemu Sa Ha atau menanggapi lelucon dari Suga tentang perasaannya yang hanya dianggap lelucon oleh Suga.

Saking tak fokusnya mereka dengan pikiran mereka masing-masing, kini mereka telah sampai di ruang biologi. Setelah menyimpan barang-barang itu, Kyuhyun menahan tangan Hyo Jin yang hendak keluar ruangan. Dengan cepat Kyuhyun mengunci ruangan tersebut.

“Bisakah sekarang kau bercerita tentang alasanmu selalu menunjukan ekspresi ini? Sungguh, aku sangat sudah tak tahan. Aku ini kakakmu. Orang yang seharusnya kau percayai. Jadi tolong, ceritakanlah padaku.” Ucap Kyuhyun lembut. Walaupun dalam hati ia sangat emosi.

Yang ditanya hanya diam. Lama-lama ia merasa badan adik kembarnya mulai bergetar hebat. Dan beberapa detik kemudian Hyo Jin membalikan badannya dan langsung memeluk Kyuhyun. Sang kakak tau bahwa adiknya dalam suasana yang jauh dari kata baik-baik saja.

“Aku tak tau.. hiks.. harus bagaimana.. hiks.. Semakin aku mencoba untuk melupakannya, semakin sakit hati ini.. hiks..” suara Hyo Jin tertahan oleh isakannya sendiri. Kyuhyun hanya bisa memeluk kembarannya erat. Mungkin dengan pelukan hangatnya dapat  mengobati sakit hati adiknya ini.

“Aku.. ingin ia tau yang sebenarnya.. hiks.. aku hanya ingin sempat memilikinya.. hiks.. Karna aku tau aku tidak lama lagi akan me-“

“Tidak! Sudah kukatakan, kau harus bertahan!! Ani, kau akan terus bertahan!! Jangan pernah berfikir seperti itu lagi! Jebal!!” ucap Kyuhyun kesal. Matanya kini berkaca-kaca.

Kini keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sungguh, Kyuhyun sangat ingin memukul Suga sekarang juga. Tapi ia selalu menahannya mengingat alasan Hyo Jin tetap bertahan adlah Suga. Membunuh Suga sama saja dengan  membunuh Hyo Jin. Mana mungkin Kyuhyun membunuh adik tercintanya sendiri? Semua pun tak kan rela kalau saudara kembarnya pergi karnanya.

“Sungguh kau kakak terbaik, Kyuhyun. Aku sungguh bahagia memiliki kakak kembar sepertimu. Kau selalu dapat membuatku aman dalam pelukanmu. Kau orang yang baik. Hwa Yeon beruntung memilikimu. Kapan Suga dapat memperlakukanku seperti kau memperlakukan Hwa Yeon ?” Ucap Hyo Jin yang semakin erat.  Kyuhyun pun menumpukan kepalanya pada puncak kepala Hyo Jin.

“Hei, namja bukan hanya dia saja. Kau tau banyak namja yang mengejarmu. Kenapa tidak kau derkati salah satu dari mereka? contohnya Kris? Ia sudah mengejarmu sejak SD. Hmm.. Woohyun? Ia selalu memberimu coklat saat valentine. Ah! Kevin! Dia cocok denganmu. Dia sama cantiknya denganmu. Haha..” Hyo Jin sedikit terhibur dengan ucapan Kyuhyun . kini ia tertawa didalam pelukan Kyuhyun.  Mereka pun melepaskan pelukan dan segera kembali kedalam kelas.

Sesampainya dikelas, ia langsung disuguhkan drama romantis antara Suga dan Sa Ha.

DEG

Sakit itu datang lagi. Hei, baru saja sekitar 5 menit yang lalu ia menagisi kepedian hatinya sekarang hatinya sudah disakiti lagi.

“Ya! Min Yoongi! Kalau mau bermesraan jangan didepan Hyo Jin! Ia sakit hati tau!” teriak Kyuhyun pada Suga yang sedang berlovey-dovey dengan Sa Ha. Suga menengok kearah Kyuhyun lalu tersenyum.

“Aigoo, uri Hyo Jin cemburu? Sudah kubilang hentikan drama ‘Mengejar Suga’ nya. Kasihan Sa Ha. Ia nanti sakit hati. Kita kan hanya teman. Tenang  Sa Ha, takkan ada yang bisa menggantikan dirimu.” Ucap Suga sambil mengecup pipi Sa Ha dan Sa Ha yang malu saat dikecup pipinya oleh Suga.

‘Hei, aku yang sakit hati!!’ batin Hyo Jin.

Kyuhyun sudah tak dapat menahan amarahnya. Ia melupakan prinsipnya. Ia bukannya ingin melupakan prinsip jika melukai Suga sama saja melukai Hyo Jin tetapi ini sudah melewati batas. Sebegitu tidak pekanya seorang Min Yoongi akan perasaan tulus adiknya yang paling ia sayangi. Segera ia menuju Suga dan menghadiahinya sebuah pukulan yang tepat mengenai pipi kanan Suga. Suga memegangi pipinya yang terlihat merah akibat pukulan dari Kyuhyun.

Hyo Jin yang melihatnya hanya bisa terduduk lemas di lantai. Ternyata prinsip Kyuhyun benar. Hyo Jin merasa sakit melihat Suga yang dipukul oleh saudara kembarnya. Seakan sakit yang Suga rasakan terasa oleh Hyo Jin. Bahkan hanya melihat namja yang ia suka dipukuli dapat membuat seorang Hyo Jin pusing parah. Hyo Jin tak henti-hentinya memegangi kepalanya yang pusing parah.  Ia merasakan ada sesuatu yang turun dari hidungnya. Amis. Ia menyekanya dengan tangan.  Ia hanya dapat tersenyum getir melihat darah yang ada pada tangannya. Lima detik kemudian ia tak sadarkan diri.

“Hyo Jin!!!” teriakan Yoon Hee, Hwa Yeon dan Eun Hye yang baru datang membuat Suga dan Kyuhyun langsung mengalihkan pandangannya pada Hyo Jin yang sudah terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari hidung. Kyuhyun langsung memeluk Hyo Jin dan membawanya pada pangkuannya. Eun Hye sibuk menelpon ambulance. Yoon Hee dan Hwa Yeon berlari untuk memberitahukan seonsaengnim.  Sedangkan Sa Ha sudah tak terlihat lagi kehadirannya. Mungkin ia meninggalkan kelas saat Suga dihajar oleh Kyuhyun.

Suga?

Ia hanya dapat melihat Hyo Jin terbaring dipangkuan Kyuhyun dengan bersimbah darah. Kyuhyun yang mulai menagis melihat Hyo Jin tak kunjung sadar.

‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ batin Suga. Ia heran dengan kepanikan orang-orang terdekat Hyo Jin. Tunggu. Berarti ia bukan orang terdekat Hyo Jin? Rasa heran Suga bertambah besar karna ia tumbuh bersama Hyo Jin. Ia merupakan teman kecilnya. Apa yang ia tak tau tentang Hyo Jin? Kenapa dengan Hyo Jin? Rasa khawatir mulai menjalar dalam diri Suga.

*skip time*

Kini Kyuhyun, Yoon Hee, Jimin, Hwa Yeon, Eun Hye, Taehyung, dan Suga sedang berada di depan pintu UGD. Kyuhyun yang tak hentinya berbolak-balik sambil mengucap doa untuk saudara kembarnya yang sampai sekarang belum diketahui keadaaannya. Suga yang masih heran, hanya dapat duduk dengan tatapan kosong. Raut wajahnya menunjukan rasa kekhawatiran yang sangat besar. Kyuhyun melihat Suga yang duduk dalam diam membuat ia geram. Segera ia mengangkat kerah Suga. Sehingga Suga langsung berdiri dan sadar dari lamunannya.

“INI. SEMUA. SALAHMU!!!!! INI SEMUA  KARNA KAU!! KAU TAK TAU BETAPA SAKITNYA HYO JIN MELIHATMU DENGAN SA HA!!!! KAU BAHKAN TAK PERNAH MELIHAT AIR MATANYA TURUN DARI MATA INDAHNYA!! DAN DENGAN SANTAINYA KAU MENGANGGAP HYO JIN SEBAGAI LELUCON!! TEGA NYA KAU!! SEKARANG KAU PUAS DENGAN HASIL KARYAMU? PUAS?!” Kyuhyun mulai menangis. Runtuh sudah pertahanannya. Ia mulai melepaskan genggaman pada kerah baju Suga. Ia terduduk dilantai sambil menagis hebat. Sungguh bukan pemandangan yang wajar. Seorang Kyuhyun sedang menagis hebat dengan posisi bersimpuh. Semua orang mulai menagis melihat kesedihan Kyuhyun. Hyo Jin sangat berharga dalam hidupnya.

Suga kini merasa hatinya sakit mendengar penuturan Kyuhyun.

‘Apakah selama ini dia benar-benar mengejarku? Selama ini? Jadi pernyataan cinta waktu itu benar? Ia tak berbohong? Kau bodoh sekali!!!! ‘ batin Suga yang dibarengi dengan pukulan pada kepalanya. Bodoh sekali ia selama ini. Ia telah menyebabkan seseorang yang dekat dengannya begitu mengkhawatirkan.

“Kau baru sadar, eoh? Kau tak pernah tau seberapa sedihnya Hyo Jin melihatmu bermesraan dengan Sa Ha. Asal kau tau, kau adalah oksigen bagi Hyo Jin. Kau adalah hal terpenting bagimu. DAN KAU ADALAH ALASAN HYO JIN UNTUK TETAP HIDUP!! KAU ADALAH ALASANNYA ,MIN YOONGI!!” Yoon Hee mulai tak kuasa menahan amarahnya.

“Kau puas sekarang? Aku heran. Terbuat dari apa hatimu itu? Apakah kau tak pernah merasa kalau dia selalu melihatmu? Dasar namja tak peka!” Hwa Yeon pun tak mau kalah.

‘Sejahat itukah aku?’ Suga tetap diam. Matanya berkaca-kaca.

“Mungkin kau tak mengerti. Kurasa kau harus membaca ini.” Ucap Eun Hye sambil memberikan buku berwarna  biru laut dengan gambar pemandangan laut. Ia mencoba untuk tetap tenang. Walaupun kini ia pun merasakan hal yang sama dengan yang lainnya.

Suga mengambil  buku itu lalu mulai membacanya. Ia semakin kaget membacanya.

Kamis, 04 0ktober 2010

Anyeong!!! Ini pertama kalinya aku menulis buku harian. Rasanya sedikit aneh harus menulis apa yang telah kita lakukan. Aku pun tak tau kenapa dokter Park menyuruhku menulis buku harian. Jujur, aku takut sekali. Menurut film-film yang pernah aku baca biasanya pasien yang disuruh menulis buku harian adalah pasien yang mengidap penyakit yang parah dan usianya tak lama lagi. Tapi aku harus positif thiking!! Aku tak mungkin meninggal!! Aku harus mendapatkan Suga terlebih dahulu. Fighting!!!^^

 

 

 

Jumat,05 Oktober 2010

Astaga, aku tak menyangka kalau ini benar terjadi!! Aku terkena leukimia stadium 3!!! Umurku tak akan lama lagi!!! Aku tak dapat menerima ini!! Aku belum mendapatkan Suga!!! Besok aku harus bilang pada Suga tentang perasaanku.

Sabtu, 06 Oktober 2010

Apa??? Suga dengan Sa Ha!!!! Tidak!!!!  Andwae!!! Suga menganggapku sebagai lelucon? Sakit !!! Ah, bahkan setelah mendengarnya menjadi milik orang lain penyakitku kambuh. Andai dia tau alasan aku tetap bertahan adalah dia. Dia ibarat oksigen bagiku. Semoga aku dapat memilikinya sebelum aku menutup mataku.

Minggu,07 Oktober 2010

Kabar menyedihkan datang kembali. Dokter Park memvonis hidupku tinggal 1 minggu lagi. Dan Suga semakin lengket dengan Sa Ha. Hari ini aku melanjutkan keseharianku. Memandangi Suga. Sudah kubilangkan wajahnya adalah oksigenku. Aku sungguh menyukainya. Aku tak yakin dapat memilikinya tapi percayalah aku selalu miliknya.

Suga menangis membaca buku harian Hyo Jin. Dia tak menyangka lelucon yang selama ini ia tertawakan bisa membuat orang sakit hati hingga seperti ini. Salahkan hatinya yang tak peka akan perasaan Hyo Jin.

Tiba-tiba pintu UGD terbuka. Dokter Park keluar sambil tersenyum. Pertanda baik.

“Bagaimana keadaan saudara saya?” tanya Kyuhyun. Dokter Park tersenyum.

“Ia tak apa-apa. Bahkan sekarang kalian dapat melihatnya. Silahkan.” Dokter Park langsung pergi. Kini mereka langsung menyibak korden yang langsung disuguhkan wajah Hyo Jin yang pucat tetapi dipaksakan tersenyum. Tapi senyumannya hilang saat melihat Suga yang menatap sedih padanya. Jujur, ia malu Suga mengetahui keadaannya ini. Keadaan yang selalu ia tutupi.

Kini semua orang tersenyum melihat Hyo Jin yang kembali riang. Mereka menyadari arti pentingnya seorang Suga dalam kehidupan Hyo Jin. Benar-benar bagai oksigen.

“Kyuhyun, kakakku yang paling tampan. Tolong bahagiakan Hwa Yeon yah.. Dia yedongsaeng yang sangat mengertiku. Dan kau Hwa Yeon jagalah kakakku yang tampan namun cerewet ini, kau sangat beruntung mendapatkan dia.” Ucap Hyo Jin. Semua mata tertuju pada Hyo Jin. Wajahnya semakin pucat.

“Hyo Jin, apa yang kau katakan? Kalimatmu terdengar seperti orang yang akan meninggal. Ini tak lucu ,Hyo Jin.” Ucap Kyuhyun. Inilah yang ia takutkan.

“Aniya. Aku hanya ingin mengatakannya. Oh ya, Yoon Hee , Eun Hye eonni. Kalian juga harus aku akur dengan Jimin dan Taehyung. Kalian harus berbahagia.”ucap Hyo Jin dengan suaranya yang semakin lemah.

“Ya!! Hyo Jin!! Ini menyeramkan tau!!” ucap Jimin.

“Berhenti berkata seperti itu. Kau membuat kami semakin cemas.” Taehyung pun ikut bicara. Hyo Jin hanya dapat tersenyum.

“Bolehkah aku berbicara empat mata dengan Suga? “

Pertanyaan itu sedikit mengejutkan orang-orang yang berada disitu. Sampai akhirnya semua orang keluar dari kamar itu. Sebenarnya mereka hanya berdiri didepan tirai Hyo Jin.

“Suga, mungkin kau sudah mengetahuinya. Aku terkena leukimia stadium 3 dan sekarang sudah stadium 4. Hidupku sangat sebentar. Tapi aku selalu menggunakan sisa waktuku untuk menunjukan rasa sayangku padamu. Kumohon, untuk sekarang jangan anggap ini semua adalah sebuah lelucon. Aku tulus menyukaimu sejak kecil. “ucap Hyo Jin sambil memegang tangan Suga. Suga mulai menangis.

“Kenapa kau tak pernah melihatku?” tanya Suga.

“Aku selalu melihatmu. Tapi kau tak pernah tau. Kau tak pernah melihatku. Ah, tidak. Kau melihatku tapi kau tak menyadariku.”Hyo Jin mengelus pipi Suga yang basah oleh air matanya.

“Kenapa kau tak bilang padaku untuk melihatmu?”

“Aku tak mau kau melihatku karna kasihan. Dan kalau aku menyuruhmu,akan terasa semakin sakit .”

“Apa aku masih punya kesempatan?”

“Kurasa tidak. Kesempatan yang kupunya sudah habis. Begitupun denganmu. Aku akan pergi sekarang. Jadi tak mungkin kau dapat kesempatan. Sudah terlalu terlamabat.”

“Bahkan satu hari pun tak ada? Apa kau tak mau menghabiskan waktu sehari denganku? Kumohon, hiduplah lebih lama meski hanya sehari. Aku akan membahagiakanmu.”

“Sehari? Itu selalu yang ada didalam benakku. Tapi sayangnya ini sudah terlamat.”

Suga menangis lebih deras. Kini mereka hanyut dalam perasaan masing-masing.

Haruman neowa naega hamke hal suitdamyeon

Haruman neowa naega seonjja bul suitdamyeon

Haruman neowa naega hamke hal suitdamyeon

Haruman

Neowa naega hamke hal suitdamyeon

Hyo Jin menyanyikan lagu yang pernah Suga buat dan ia nyanyikan bersama anggota klub nya saat acara sekolah.

“Satu hari yang indah. Dimana aku bisa memelukmu, menggenggam tanganmu, berbincang denganmu. Tapi hari itu hanya sebuah impian. Karna sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa kugapai.” Hyo Jin semakin lemah. Monitor disebelahnya menunjukan bahwa detak jantung Hyo Jin melemah.

“Ingatlah ini Suga. Dikehidupan dulu, sekarang dan masa depan ingatlah kata-kataku ini. Aku akan selalu menyayangimu. Sangat menyayangimu. ”Hyo Jin merasa pasokan udaranya mulai menipis ditambah air matanya mengalir menahan sakit yang menderanya.

“Suga, You are not mine but I’m yours. Always and forever. Saranghae. Jeongmal. Mianhae”

Kalimat itu merupakan kalimat terakhir yang dapat Hyo Jin ucapkan.

“No!!! You are mine!! I’m yours!!” teriak Suga saat melihat Hyo Jin mulai memejamkan matanya. Sebuah senyum bahagia terpatri pada wajah Hyo Jin.

‘Setidaknya ia sadar akan perasaanku. Aku dapat pergi dengan tenang’ itulah yang membuat Hyo Jin tersenyum.

Sekarang Suga hanya bisa menangis meratapi kesalahannya fatalnya. Tapi apa daya, Hyo Jin sudah tenang disana.

*Esok hari*

Kediaman Kyuhyun dan Hyo Jin dipenuhi oleh tamu. Kepergian Hyo Jin membuat banyak orang sedih. Termasuk Suga yang kini berada disebelah peti yang berisi yeoja cantik.

Sejak kemarin Suga lah yang mengurus Hyo Jin. Sa Ha? Lupakan yeoja sialan itu. Ia kini sedang bermesraan dengan  lelaki lain. Sungguh Suga merasa  sangat bodoh. Orang yang tulus mencintainya, yang selalu bersamanya, yang selalu ada saat duka dan suka hanya seorang yeoja.

Cho Hyo Jin, nama yeoja yang ia sia-siakan selama ini. Padahal jika ia menyadarinya, ia akan merasa sangat bahagia karna dapat membahagiakan Hyo Jin sampai akhir hidupnya. Kini semua itu hanya tinggal penyesalan.

Dielusnya wajah cantik Hyo Jin. Ia lihat mata indahnya yang selalu mengeluarkan airmata karnanya. Bibir indahnya yang selalu tersenyum walaupun kadang terpaksa karna melihat kemesraan Suga. Sungguh bodohnya Suga menyia-nyiakan yeoja baik seperti Hyo Jin.

Kini saatnya Hyo Jin untuk dikuburkan. Bagian yang sangat tidak ingin dilihat oleh Suga. Ia merasa hina melihat Hyo Jin dikuburkan. Maka ia tak datang pada saat itu tetapi setiap tahun ia pasti mengunjungi makam itu.

*4 tahun kemudian*

Sudah 4 tahun setelah meninggalnya Hyo Jin, Suga  belum bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Kini ia kuliah di Amerika. Ia pindah ke Amerika karna ia merasa tak pantas berada di sana. Walaupun setiap tahun ia selalu menyempatkan diri ke makam Hyo Jin.

Kini ia berada di taman kampus. Duduk dibawah pohon rindang untuk sekedar beristirahat atau membaca buku.

Jam menunjukan pukul 12.30. Tanda Suga harus memasuki kelas musicnya. Saat menuju ruang kelasnya ia melihat seorang yeoja yang terlihat kebingungan. Suga pun menghampirinya.

“Ehm, ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

“ Ah, begini. Aku sedang mencari ruang kelas music. Bisa kau beritahu dimana letaknya?” Suga terpaku melihat wajah yeoja di depannya. Ia sangat mirip dengan Hyo Jin. Merasa dicuekan sang yeoja mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Suga.

“Ah, aku salah satu mahasiswa jurusan music. Kalau begitu kita bersama saja. Oh ya, kenalkan Min Yoongi. Tapi kau bisa memanggilku Suga. Dan kau? Kurasa kau bukan orang Korea?”

“Benarkah? Salam kenal. Namaku Vurry. Benar, aku bukan berasal dari Korea. Kuharap kita bisa berteman. Tapi aku seperti pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu?” tanya yeoja bernama Vurry itu. Yeoja itu mempunyai senyuman yang sama dengan Hyo Jin. Sangat mirip.

“Kurasa pada kehidupan sebelumnya kita pernah bertemu.” Ucap Suga.

Selama kelas berlangsung, Suga selalu memperhatikan Vurry. Apa mungkin ini yang dibilang Hyo Jin?

“Ingatlah ini Suga. Dikehidupan dulu, sekarang dan masa depan ingatlah kata-kataku ini. Aku akan selalu menyayangimu. Sangat menyayangimu. ”

Mungkin saja itu terjadi.

Kelas sudah selesai, Suga dan Vurry duduk bersama di bawah pohon rindang yang biasa Suga kunjungi.

“Ehm, Suga. Aku hanya ingin kau tau. Saat aku melihatmu, aku seperti sangat mengenalmu. Aku merasa aku sangat menyayangimu. Aku tau ini aneh tapi saranghae.” Ucap Vurry.

Suga yang mendengarnya langsung tersenyum dan langsung membawa Vurry dalam pelukannya.

“Nado. Saranghae. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti dulu. Jangan pernah tinggalkan aku”

“I’m yours?” tanya Vurry.

“Yes, you are mine and i’m yours”

END

Apakah kalian merasa mual? *kedip ala Dora*

Ini bener-bener FF Sad yang pertama. Jadi maaf kalau tidak rame dan tidak dapet feelnya..

Tapi tolong hargai Author yang jones ini..

Author Cuma minta kalian ninggalin jejak..

Author gak pernah minta pulsa maupun uang jadi tolong commentnya^^

Sampai ketemu di FF selanjutnya ~~

Anyeong!!~~

~Cho Hyo Jin

Advertisements

Christmas Wish

Christmas Wish

Author : Park Eun Hye

Cast :
Min Yoon Gi a.k.a Suga (BTS)
Park Rae Neul (OC)

Genre : Romance-comedy
Rating : PG
Length : Oneshoot

Annyeong readers~ ini FF yang late post sebenernya, tapi tak apa lah.. Sebenernya FF ini udah berkali-kali ngalamin refisi, tapi akhirnya jadi begini. Sekian dulu cuap-cuap author. Comment please?

christmas wish

~Happy Reading~

————————————————————————————————————————–

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan ini sudah 1 jam aku menunggu seseorang yang tak kunjung menampakan batang hidungnya padaku. Mungkin makhluk itu masih tertidur pulas.

“Yak! Yoongi! Ireonaaaa!! Sudah 1 jam sejak aku membangunkanmu tapi kau tak juga keluar! Apak kau masih bersembunyi di alam mimpi eoh? Bangunlah! Ayo bangun Yoongi-ssi!!”

Aku berusaha membangunkannya lagi dari balik papan besar yang menjadi akses masuk dan keluar kamar itu. Benar, pintu. Sungguh mengherankan memang, tidak biasanya Yoongi sulit dibangunkan seperti ini. Biasanya dia akan langsung keluar dan menjitak kepalaku kemudian. Tapi ini…. aneh.

Yoongi. Dia adalah namjachinguku. Namjachingu dari Park Rae Neul. Sebenarnya, kami sudah berteman sejak kecil, maka dari itu aku kenal betul dengan sifat Yoongi. Dia tidak pernah terlambat.

Hari ini adalah hari ke-2 liburan kami. Kami menyewa sebuah villa untuk menghabiskan natal kami bersama. Mengingat jadwal kegiatan Yoongi sangat padat, liburan kali ini harus benar-benar di manfaatkan dengan baik.

Sampai saat ini, Yoongi belum juga keluar dari kamarnya. Apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam sana?

“Yak! Yoongi-a! Bangun!! Cepatlah keluar dari kamarmu sebelum kudobrak pintu ini! Tumben sekali kau mengunci pintu! Tidak biasanya kau seperti ini! Bangunlah Chagi!!”

Tiba-tiba saja..

—kreekk—

“Yak! Haruskah kau berteriak seperti itu? Aku ini tidak tuli nona Park, lagi pula aku sudah bangun sebelum kau membangunkanku.” Ucap Yoongi.

“Yak! Mengapa kau menampakkan diri dengan keadaan seperti ini, eoh?!”

“Wae? Aku ini habis mandi, chagiya. Tidak bisakah kau melihatnya dengan jelas bahwa aku baru saja selesai mandi?”

“Bu-bukan begitu, hanya saja.. kau ini keluar hanya dengan sebalut handuk yang melingkar di pinggangmu.. se-seharusnya kau berpakaian terlebih dahulu.”

“Hm? Tapi alangkah baiknya jika aku memberhentikan teriakanmu itu lebih dahulu. Justru kau akan membuat banyak orang terganggu. Arra?”

Aku hanya mengangguk mengerti. Tidak ada gunanya jika aku membalasnya, yang ada aku akan terus dipojokannya. Menyebalkan.

“Baiklah jika kau mengerti.. sudah, aku akan berpakaian dulu. Kau bersiaplah, kita akan jalan-jalan berkeliling tempat ini.” Ucap Yoongi sambil kembali masuk ke kamarnya.

“Yoongi-a!” Seruku.

“Ada apa lagi?”

“Mianhae aku mengganggumu tadi dengan berteriak-teriak. Aku tidak tahu jika kau sedang mandi.”

“Hm. Sudahlah, tidak apa..” Ucap Yoongi sambil mengelus pucuk kepalaku yang tertunduk ini.

“Sudahlah, cepat bersiap agar kita dapat menghemat waktu. Aku akan segera mengganti pakaianku.”

“Yoongi-a.”

“Haish.. apa lagi, Rae-a?”

“Apa kau mendengar teriakanku tadi saat kau mandi?”

“Ya. Aku mendengarnya. Kau tahu? Bahkan air yang berada dalam bath-tube pun sampai bergoyang seolah ada gempa bumi.”

“Tapi mengapa kau tidak menjawab sama sekali? Ku pikir kau tidak mendengarnya.”

“Itu karena aku yakin kau tidak akan mendengarnya.”

“A~ Geureaseo?”

“Hm. Sudahlah. Aku ingin berpakaian sekarang.”

“Cepatlah, udaranya sangat dingin.”

“Aku tahu itu nona Park.”

Aku terkikik geli melihat ekspresi wajahnya yang kesal setelah kujahili. Begitu lucu. Aku jadi gemas dibuatnya. Untung saja dia namjachinguku, dan bukannya balita berusia 3 tahun. Jika begitu, aku pasti sudah mencubit pipinya gemas. Hah.. rasanya sudah lama sekali aku tidak menjahilinya seperti ini.

Kini kami sudah selesai berkemas. Bukannya untuk pulang, tapi untuk menikmati pemandangan dan juga mencari udara segar.

“Apa semua sudah kau bawa? Tidak ada yang tertinggal?” Tanya Yoongi padaku.

“Hm. Sudah.”

“Coba periksa lagi tasmu. Siapa tahu kau melupakan sesuatu.”

“Sudah. Tidak ada yang tertinggal, Yoongi.”

“Ponsel?”

“Ada.”

“Dompet?”

“Ada.”

“Sarung tangan?”

“Sudahlah Yoongi. Aku sudah membawa semua yang kubutuhkan. Semua aman. Bagaimana denganmu? Apa kau melupakan sesuatu?”

“Aku ini hanya peduli padamu. Ah, benar. Aku melupakan sesuatu.”

“Kau ini.. ceroboh sekali. Cepat ambilah dulu.”

“Tidak perlu.”

“Wae?”

“Karena yang kulupakan hanyalah ini.”

—Chu—

“Morning kiss~” Ucap Yoongi lagi.

Untuk sesaat aku hanya diam dan memandanginya yang tengah memunculkan seulas senyuman manis di wajahnya. Senyuman yang sudah lama aku rindukan. Tidak.Ini adalah senyuman termanis yang pernah dia berikan padaku.

“Kau bilang ini ‘morning kiss’?” Tanyaku setelah tersadar dari senyuman Yoongi yang mematikan itu.

“Kau tahu pukul berapa sekarang? Matahari sudah hampir berada diatas kepala kita, Yoongi-a. Ini sudah pukul 11. Menurutku, itu adalah ‘almost afternoon kiss’.” Ucapku lagi dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“Baiklah..baiklah.. aku minta maaf padamu karena telah banyak melakukan kesalahan padamu. Kumohon jangan marah lagi. Kau boleh menghukumku.”

“Hm.. baiklah, aku akan menghukummu. Kau.. ahrus menggendongku sampai ke tempat tujuan.”

“Yak! Kau yang meminta untuk jalan-jalan, kenapa sekarang kau minta ku gendong?”

“Sssttt.. tuan Min, tadi kau yang mengajakku jalan-jalan bukan? Tapi aku sedang malas berjalan. Aku ingin di gendong saja dan kau harus tetap berjalan karena kau sedang ingin bukan? Oh iya, mengenai permintaanku itu, aku memintanya kemarin tapi kau tidak mau. Aku pun juga sama sekarang.” Ucapku panjang lebar.

Perlahan air muka Yoongi berubah kusut. Sepertinya dia kesal tapi biarlah, kapan lagi aku akan mengerjainya seperti ini?

“Kau ini licik, nona Park!” Ucap Yoongi setelah menaikkanku ke atas punggungnya.

“Setidaknya aku tidak membuatmu terpaksa mencintaiku. Lagi pula, ini hukumanmu dan kau harus melaksanakannya. Untuk apa ada polisi jika maaf saja cukup?”

“Oh, sekarang kau sudah mulai pandai berbicara ya? 1 tahun kau tinggal di Indonesia, beginikah hasilnya? Kau harus ku hukum.”

“M-mwo?”

Perlahan Yonngi menunjukkan sebuah seringai tipis di wajahnya. Sepertinya dia sudah menemukan hukuman untukku. Tapi aku tidak bersalah. Apa aku benar?

“Rasakan ini Rae-a!!”

Yoongi tiba-tiba saja berlari sangat cepat. Apa dia gila? Masih ada aku di atas punggungnya. Bagaimana kalau kami jatuh? Bagaimana kalau aku terpental? Dia membuatku benar-benar takut. Ku eratakan kedua tanganku yang telah melingkar pada leher Yoongi.

“Yoongi-a! Hentikan! Aku takut!!”

Hanya itu saja yang dapat ku ucapkan. Tanpa kusadari, air mata membasahi pipiku yang cukup chubby ini.

“Haha.. bagaimana? Apa kau menyerah?” Ucap Yoongi setelah memelankan kecepatannya. Kini dia sudah kembali berjalan santai seperti tadi.

“Kau ini berat juga ya? Hahaha.”

“Hiks..hiks..” Aku benar-benar menangis sekarang.

“Ya! Ya! Kau tidak perlu berakting seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu jika kau sedang berpura-pura?”

“Bodoh! Kau bodoh! Hiks.. benar-benar bodoh..”

“Apa maksudmu mengataiku seperti itu, Rae-a?”

“Mengapa kau berlari seperti tadi, eoh?! Apa kau lupa kau sedang membawaku? Apa kau lupa traumaku jatuh dari ketinggian? Apa selama setahun kau sudah melupakan banyak hal tentangku? Hah?”

“Maafkan aku, Rae-a. Jeongmal mianhae. Aku tidak bermaksud begitu. Kau salah, aku tidak pernah melupakan hal sekecil apapun tentangmu. Aku pikir, karena sudah lama traumamu jadi berkurang ternyata aku salah. Maafkan aku.”

“Turunkan aku sekarang.”

“Tapi Rae-a..”

“Cepat!”

Yoongi pun menurunkanku. Kurasa sepertinya kata-kataku tadi sungguh keterlaluan padanya. Tidak sepantasnya aku mengatakan hal yang menyakitkan itu pada Yoongi, namjachinguku sendiri. Untuk itu..

“Mianhae Yoongi-a. Tidak sepantasnya aku berbicara begitu padamu. Aku tahu kau tidak akan pernah melupakan hal apapun tentangku. Aku sudah keterlaluan.”

Aku memeluknya. Kubenamkan wajahku pada punggung Yoongi. Yoongi membalikan tubuhnya. Kini kami berhadapan meskipun aku masih menundukkan kepalaku.

“Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku menggunakan kelemahanmu untuk mengerjaimu. Kau mau memaafkanku kan?”

Aku mengangguk.

“Mianhae..” Hanya itu yang dapat ku ucapkan.

“Kemarilah Rae-a..” Ucap Yoongi.

Kulirik Yoongi sekilas. Dia membentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan agar aku bersandar padanya. Segera aku menghambur kedalam pelukannya. Bayang-bayang kejadian yang membuatku trauma kembali bermunculan. Membuatku menangis sejadi-jadinya.

“Uljima.. uljima. Tenanglah ada aku disini. Sudah, tidak apa-apa.” Ucap Yoongi sambil mengusap kepalaku. Membuatku merasa nyaman. Bahkan cuaca dingin pun tidak menghalangiku untuk merasakan kehangatan yang Yoongi berikan padaku.

Sekarang, kami berada di sebuah taman. Salju-salju yang turun sudah menyelimuti segalanya yang ada disini. Begitu putih. Namun tetap cantik dilihat. Kami duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat dimana kami berdiri.

“Haaah.. cantik sekali pemandangan ini. Begitu putih.” Ucap Yoongi.

“Hm. Benar. Apa kau menyukainya?”

“Sangat. Kau tahu sendiri jika putih adalah warna kesukaanku. Tapi aku menyukaimu, menyayangimu lebih dari apapun yang ada.”

Aku sedikit terkejut bercampur dengan senang. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengarnya merayu seperti ini. Padahal baru saja kemarin dia merayuku untuk membantu menerjemahkan lirik lagu yang dia buat ke dalam bahasa inggris. Dasar. Sedang liburan masih saja memikirkan pekerjaan.

“Ah, keluarkan kameramu. Pemandangan cantik seperti ini tidak boleh disia-siakan.. ayo kita berfoto!” Seruku

Dengan segera, Yoongi pun mengeluarkan kameranya. Kini, kami mulai berfoto.

Pertama, Yoongi memotretku. Lalu, aku bergantian memotretnya. Kemudian, kami meminta seorang pengunjung lain untuk memotret kami. Yoongi melingkarkan lengan kekarnya pada pundakku dan mensejajarkan tingginya denganku sedangkan aku hanya membuat lambang ‘V’ pada kedua jariku.

“Siap?” Tanya pengunjung itu. Kami mengangguk kemudian memberikan senyuman terbaik yang kami miliki. “Hana..dul..set!” Seru pengunjung itu dan… Ckrek~

Yoongi segera berlari menghampiri pengunjung itu dan mengambil kamera miliknya. Tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih pada pengunjung itu.

“Rae-a! Kemarilah, lihat foto ini!” Seru Yoongi

“A-aku.. tidak mau! Aku sudah tahu hasilnya akan jelek!”

Tentu saja aku sudah tahu hasilnya benar-benar jelek. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Yoongi mengecup pipiku. Bagaimana aku tidak terkejut?

“Kau sama sekali tidak jelek. Tenang saja..” Ucap Yoongi seraya menghampiriku

“Sudahlah, tidak usah menghiburku. Aku tahu kalau aku..”

“Manis.” Potong Yoongi cepat.

“M-mwo?” Tanyaku tidak percaya.

Kelakuannya belakangan ini agak aneh memang. Tapi aku menyukainya.

“Tidak dengar? Aku bilang kalu kau ini ‘manis’. Mungkin kita harus mengunjungi rumah sakit setelah ini.” Ucap Yoongi sedikit ketus.

Ini baru Yoongi yang ku kenal. Dingin, tapi dia sebenarnya peduli padaku.

“Aku mendengarnya. Tenang saja.. Aku hanya sedikit terkejut saja tadi.” Ucapku beralasan

“Terserah apa katamu saja..” Yoongi menarik hidungku.

“Ya! Appo!” Pekikku sambil memasang wajah kesakitan yang dibuat-buat dengan sedikit aegyo. Tentu saja aegyoku sangat jauh dari kata ‘cute’ dibanding aegyo milik Yoongi. Sial.

Yoongi hanya tertawa. Entah mengapa hanya dengan melihat tawanya saja bisa membuat sudut bibirku ini terangkat. Mungkin ini efek dari jatuh cinta.

“Kajja kembali duduk sebelum ditempati orang lain.” Ajak Yoongi kemudian menggenggam tanganku. Aku mengangguk dengan riang. Mungkin saat ini aku sedang bertingkah layaknya gadis kecil yang diajak Appanya pergi ke taman hiburan. Perumpamaan aneh memang, tapi seperti itulah yang kurasakan. Bahagia.

“Ah, aku lupa. Kau tunggu di sini, aku akan membelikan coklat panas untuk kita. Aku akan segera kembali.” Ucap Yoongi seraya bangkit dari duduknya.

“Ani. Aku ikut bersamamu.” Ucapku menahan lengan Yoongi. Yoongi tersenyum.

“Chagi, udaranya semakin dingin. Lebih baik kau tetap disini dan pakai sarung tanganmu. Aku tidak ingin kau sakit. Tunggulah, aku tidak akan lama.” Titah Yoongi.

“Arraseo chagi!” Seruku.

Aku membuka ponselku sesaat setelah Yoongi pergi. Kulihat wallpaper ponselku. Fotoku dan Yoongi saat menggendong seorang bayi lucu saat kami mengunjungi sebuah panti asuhan beberapa waktu lalu. Sempat terbesit dalam pikiranku, apakah aku akan bersama dengan Yoongi sampai akhir hidup kami?

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoongi tiba-tiba membuatku tersentak kaget.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Hm. Itu foto saat kita di panti asuhan waktu itu kan? Jadi kau memandangi foto itu? Apa aku tampak keren disana?”

Aku tertegun sesaat. Memang harus ku akui, Yoongi tampak sangat dewasa saat menggendong bayi mungil itu. Tapi bukan itu intinya,

“Keren? Kau ini percaya diri sekali. Aku hanya sedikit memikirkan anak-anak panti itu. Harapan –harapan yang mereka ucapkan saat natal, sangat tulus dari hati. Aku sedikit terharu, semoga harapan mereka terkabul.” Ucapku.

“Ya, semoga saja. Umm.. tentang harapan, Rae-a apa harapanmu?”

“Eoh? Hmm.. harapanku.. jika itu memungkinkan, aku ingin menjadi orang pertama yang kau temui. Saat pertama kali kau membuka mata di pagi hari, hingga saat kau akan terlelap di malam hari. Bagaimana denganmu?”

“Pasti kau mengira harapanku akan sama denganmu bukan?”

“Tentu saja. Kita ini sepasang kekasih.”

“Begitu? Kau salah.. harapanku tidak sama denganmu.”

“M-mwo?!”

Yoongi tersenyum. Kemudian Ia menggenggam erat kedua tanganku. Entah, tiba-tiba saja aku jadi begitu gugup saat menatapnya.

“Harapanku adalah menjadi seseorang yang bisa mengabulkan setiap harapanmu. Bersiaplah.”

Mataku membulat. Apa ini nyata? Atau ini masih di alam mimpi? Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku karena ini adalah momen terindah dalam hidupku. Tidak. Ini, ini nyata!

Yoongi mengambil sesutu dari dalam tasnya. Dikeluarkannya sebuah tempat berbentuk bundar yang ternyata berisikan sepasang cincin.

“Apa kau terkejut?” Tanyanya saat melihat ekspresi wajahku yang penuh dengan keterkejutan. Aku mengangguk perlahan.

“Sudah ku katakan, persiapkan dirimu. Hehe.” Dia tertawa. Apa wajahku benar-benar lucu?

“Aku menyayangimu. Sangat. Kurasa ini adalah waktu yang tepat setelah 5 tahun kita mengisi lembar demi lembar kisah kita bersama.Aku ingin selalu berada di sisimu dari pagi hari hingga malam hari, ahkan sampai akhir hidupku. Kaulah masa depanku satu-satunya. So, will you marry me, Rae-a?”

“Yes, I will.. I will, Yoongi!!” Jawabku.

Aku benar-benar bahagia. Bahkan air mata kebahagiaanku pun sudah mengalir membasahi pipiku ini. Yoongi lalu memelukku erat.

“Gomawo Rae-a. Aku menyayangimu.” Ucap Yoongi diiringi senyum dan tawa bahagianya.

Tuhan, mungkin ini adalah natal terindah yang pernah ku alami dan tidak akan pernah ku lupakan seumur hidupku karena kini telah hadir seseorang yang mewujudkan harapan terbesarku.

—END—

Gimana readers? Makasih buat yang udah baca FF author ini, dan makasih juga karena udah mampir di blog author dan kawan-kawan. Hahaha.. Author 1 pamit dulu. Tinggalkan jejak yaaa… Gomawo. Ppyeong~