Tag Archive | Sehun

Because of Dare

Because of Dare

Author : Park Eun Hye

Cast :
-Park Eunhye (OC)
-Oh Sehun

Other Cast:
-Jung Yoonhee
-Kim Hwayeon
-Cho Hyojin

Genre : Romance, Comedy
Rating : 16

Annyeong~ jumpa lagi dengan saya. Ini ff yang idenya ga sengaja nemu.
Sebenernya ada dikit-dikit dari real life sih, tapi gak semuanya kok. Udah pasti
ini ff asli loh ya karena ada dikit dari real life aku sama temen-temenku juga sih.
Semua cast yang ada di sini punya Tuhan, fans, dan ortu masing-masing. Maaf
ya guys kalo masih ada yang kurang. Commentnya jangan lupa yaa..

~Happy Reading~


Jadilah kekasihku, Park Eun Hye.

.

.

.

.

Pagi itu seperti biasa aku menuju ke kampus untuk mencari makanan sehari-hariku. Belajar. Membosankan memang tapi apa mau dikata? Keseharian ku, keseharian seorang Park Eunhye sungguh membosankan. Bangun dari tidur, bersiap-siap kemudian kuliah, membereskan rumah, kemudian tidur. Membosankan. Tapi, semua itu tidak begitu membosankan sejak hadirnya namja itu didalam hidupku.

“Eunhye-a! Annyeong?” Sapa Sehun saat aku baru saja sampai di depan locker milikku.

“Ah, annyeong Sehun-a.” Jawabku

“Bagaimana kalu besok kita kencan? Kau tidak sibuk bukan?”

“Kencan? Untuk apa?”

“Kau kan kekasihku, Eunhye. Ayolah, kita berkencan.”

“Hmm… Baiklah.”

“Akan ku jemput kau besok pukul 10. Berpakaianlah yang cantik.”

“Arraseo.”

Namja bermarga Oh itu pun kemudian berlalu dari pengelihatanku. Baiklah, sekarang aku harus bergegas menuju kelasku. Kencan? Apa gunanya berkencan? Apa dia sungguh-sungguh mengajakku berkencan? Sudahlah, lupakan saja.

Bel istirahat telah berbunyi. Aigoo, sebegitu cepatnya kah waktu berlalu? Seingatku tadi, aku baru saja bertemu dengan Sehun di depan lockerku dan kini bel istirahat sudah berbunyi? Aish! Kenapa harus kejadian dengan Sehun tadi yang kuingat? Banyak kejadian hari ini tapi kenapa yang kuingat hanya kejadian ketika Sehun mengajakku berkencan? Mungkin aku terlalu lelah.

“Eunhye-a!” Seru Hyojin

“Palli, Eonni!” Hwayeon menimpali.

“Mwo?” Tanyaku saat telah berada di hadapan mereka bertiga.

“Kudengar Sehun mengajakmu berkencan. Apa itu benar?” Tanya Yoonhee.

“Darimana kalian tahu?”

“Ah, jadi ternyata itu benar. Kau tidak perlu tahu bagaimana kami tahu.” Jawab Yoonhee.

“ Tenanglah, Eonni. Kami akan membantumu untuk kencanmu besok. Benarkan, Hyojin-a?” Ucap Hwayeon.

“Hm. Serahkan pada kami.” Ucap Hyojin.

“Aish! Kalian ini apa-apaan eoh? Apa kalian kira aku sungguh-sungguh bersemangat? Apa wajahku yang seperti ini menyebutkan jika aku senang berkencan dengannya? Begitu? Heol.”

“Mungkin untuk saat ini belum. Siapa tahu setelah kencan itu, kau akan merasakan hal lain.” Bantah Yoonhee.

“Itu tidak akan terjadi.”

“Terserah apa katamu. Tapi, tidak ada satu yeoja pun yang tidak tahan dengan pesona Sehun. Ingat itu.” Ucap Hyojin sedikit menceramahiku.

“Baiklah-baiklah.. kalau bukan karena kalian ini tidak akan terjadi.”

Keesokan paginya, kudengar pintu kamarku diketuk. Ku lirik jam yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurku.

“Aigoo! Ini masih pukul 7 pagi dan kamarku diketuk sebegitu kerasnya seperti aku ini seorang buronan yang sedang dikejar polisi.” Gerutuku.

“Eonni! Buka pintunya!!! Palli!!!” Seru Hwayeon.

“Buka pintunya, Eunhye! Kami sudah datang!” Seru Hyojin.
Rupanya…. Mereka. Kim Hwayeon, Jung Yoonhee dan Cho Hyojin.

“Yak! Apa-apaan kalian ini? Memperlakukanku seperti seorang buronan saja dengan cara kalian menggedor pintu kamarku seperti tadi! Kalian ini bisa menghancurkan pintuku dengan tenaga kalian, dan juga kalian baru saja mengganggu mimpi indahku.” Celotehku setelah membiarkan ketiga yeoja itu masuk ke dalam kamarku.

“Kau ini, harusnya kau senang karena kami sudah datang.” Balas Hyojin.

“Tapi tidak sepagi ini juga! Lagi pula acara kencan itu dimulai pukul 10.” ucapku ketus.

“Eonni, seorang yeoja itu mempunyai ritual panjang sebelum kencan. Karena itu kami datang lebih awal untuk mengantisipasi.” Ucap Hwayeon.

“Apa harus aku melakukan ritual itu, eoh? Aku tidak mau. Bangunkan aku satu jam lagi.” Ucapku malas.

“Tidak bisa! Kami sudah disini. Sekarang, kau hanya perlu diam dan biarkan kami bekerja!” Seru Yoonhee bersemangat.

Apa boleh buat. Satu melawan tiga. Baiklah, kali ini aku mengalah dan membiarkan diriku menjadi sebuah boneka dari mereka bertiga. Satu jam, dua jam berlalu kini aku telah siap. Aku menatap pantulan diriku di depan cermin dengan tidak percaya. Aku yakin di dalam cermin itu bukanlah aku.

“Bagaimana? Kami hebat kan eonni?” Tanya Hwayeon.
Aku hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua ibu jariku. Benar-benar hebat.

“Boleh usul? Kurasa kalian lebih baik membuka salon saja.” Ucapku masih dengan terkagum-kagum.

“Kau ini.. Aku yakin Sehun akan menyukai penampilanmu.” Ucap Hyojin.

“Terserah apa katamu. Aku tidak peduli apakah dia menyukainya atau tidak. Yang harus kulakukan hanyalah pergi bersamanya. Tidak peduli penampilanku bagaimana. Mungkin aku harus berpakaian casual saja, bukannya mengenakan dress seperti ini.” ucapku.

Tiiin… Tiin…
Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku. Sehun. Mobil itu milik namja bernama Sehun itu.

“Cepatlah turun! Namjachingumu sudah datang. Sana, pergi dan temui dia.” Perintah Yoonhee.

“Dengan pakaian seperti ini?” protesku.

“Sudah, turunlah!” seru Yoonhee.

“Ini, bawa tasmu!” Hyojin memberikanku tas yang selaras dengan pakaian yang kukenakan.

“Semangat eonni!” Seru Hwayeon.

Aku menemuinya. Tidak kusangka kalau aku akan benar-benar berkencan dengan ‘namja chinguku’.

“Maaf membuatmu menunggu.” Ucapku.

“Tak apa. Aku belum lama sampai. Kau benar-benar berbeda hari ini.”

“Ah, gomawoyo. Kau juga.. kau nampak keren.”

“Gomawo. Silahkan masuk.” Sehun membukakan pintu mobilnya.

Bodoh sekali. Aku ini aneh. Aku tidak menyukainya tapi mengatakan bahwa penampilannya begitu keren. Tapi, memang harus kuakui ia tampak keren meskipun ia hanya mengenakan kemeja putih. Jantungku juga berdebar-debar.. aneh.

Setelah berjam-jam berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat wisata, kami sekarang berada disebuah bar jazz yang katanya sering dikunjungi oleh Sehun dan teman-temannya. Bar ini bagus menurutku, juga nyaman meskipun aku baru pertama kali kemari. Aku rasa, aku menyukai tempat ini.. dan juga dia.

Seharian penuh bersamanya, membuatku jadi berdebar-debar saat bersamanya. Ini aneh, tapi aku yakin kalau aku menyukainya. Hyojin benar tentang pesona namja ini.

“Wae? Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Sehun tiba-tiba.

“A-ah.. tidak apa-apa.”

“Apa karena aku terlalu tampan?”

“Ish! Kau ini terlalu percaya diri! Siapa juga yang mengatakan kau ini tampan? Hanya dirimu sendiri saja yang mengatakan itu.”

“Ani. Ada seorang yeoja yang selalu menatapku begitu sambil mengatakan bahwa aku tampan.”

“Mwo? Siapa yeoja itu?”

“Kau cemburu?”

“Tidak! Aku hanya ingin tahu siapa yeoja yang begitu tergila-gilanya padamu.”

“Hahaha… Omo! Park Eun Hye, kau benar-benar cemburu rupanya.”

“Sudah katakan saja siapa yeoja itu?”

“Dia eommaku. Lucu sekali kau cemburu pada eommaku.”

“Haish! Mana aku tahu kalau yeoja yang kau maksud itu adalah ibumu. Lagi pula aku tidak cemburu.”

“Hahaha… baiklah baiklah .. kalau begitu, apa ada yang ingin kau katakan?”

“Itu.. sebenarnya.. ada yang ingin ku katakan.”

“Kalau begitu katakan, aku ingin mendengarnya.”

“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Aku.. aku menerimamu karena aku menjalani tantangan dari teman-temanku dalam permainan Truth or Dare. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu, tapi.. memang ini adanya. Maafkan aku.” Ucapku penuh penyesalan. Aku memandangnya gugup, mencoba mengukur reaksinya terhadap ucapanku.

“Begitu? Kau menjalani tantangan dari permainan Truth or Dare?”

“Ne, mianhae. Jeongmal mianhae.”

“Apa masih ada yang ingin kau katakan?”

“Aku.. aku.. aku menyukaimu. Sekarang aku benar-benar menyukaimu. Tidak menerimakupun tak apa, aku sadar karena sudah menyakitimu maka dari itu aku hanya ingin kau mendengarnya. Tak perlu kau jawab.” Ucapku pelan, ragu-ragu sebenarnya.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya aku juga menjalani tantangan dari permainan itu.” Apa? Apa dia bilang tadi? Aku ternganga bingung sambil melihatnya yang kini tengah berdiri dihadapanku dengan senyum menyesal.

“…”

“Saat itu, kau lewat tepat di depanku dan teman-temanku. Temanku itu langsung saja menunjukmu untuk menjadi korban permainan kami padahal aku tahu kau tidak pernah melewati lorong itu selama di kampus. Aku bahkan hampir tidak pernah bertemu denganmu meskipun aku mengenalmu. Ternyata, kau melewati lorong itu hanya untuk bertemu denganku dan dengan alasan yang sama. Tantangan. Aku bahkan tidak berniat untuk menyukaimu. Meskipun aku bisa memutuskanmu kapan pun, tapi lama-lama aku jadi tertarik dengan sifatmu dan memutuskan untuk membiarkan hubungan dengan status palsu ini. Tak kusangka aku jadi benar-benar menyukaimu.” Aku masih diam, bingung, kaget.

“Kau…”

“Ternyata, karena tantangan itu aku jadi bisa lebih mengenalmu. Berkat tantangan itu, kita bisa lebih sering bertemu meskipun pada awalnya hanya karena terpaksa.”

“Oh Sehun…”

“Ternyata kau lebih lambat menyadari perasaanmu itu ya?”

“Mwo?”

“Ijinkan aku mengulangi kejadian 2 bulan lalu. Jadilah kekasihku Park Eun Hye.”

“Apa kau menjalani tantangan lagi?” tanyaku datar.

“Tantangan itu sudah cukup sampai disini. Tapi perkataanku tadi itu tulus dan juga jujur dari dalam hatiku.” Tanpa sadar aku tersenyum saat melihat senyumnya.

“Jinjja?” tanyaku tak yakin.

“Aku ingin kita meninggalkan hubungan palsu kita dan memulai yang baru dengan hubungan yang sesungguhnya.. bisakah kita memulai semuanya dari awal, Eunhye?” Aku tersenyum mendengar penuturannya. Aku menatapnya kemudia tersenyum tulus.

“Baiklah.. kali ini tidak ada tantangan, tapi hanya kejujuran.. bagaimana?”

“Arraseo, nyonya Oh.” Aku mengerjap saat ia mengedip jail padaku. Jadi, tanpa sadar aku berteriak dengan muka yang sudah kuyakini tengah merona saat ini.

“Yak! Oh Se Hun!” Aaaah, andai saja kami tidak pernah mendapatkan tantangan tersebut, pasti kami tidak akan mempunyai hubungan seperti ini. Yaah, terimakasih pada temantemanku dan Sehun tentu saja. Kkkk~ Gomawo chingu ya~ Saranghae.

—END—


Annyeong^^
Mianhae kalau ceritanya ga rame dan ga jelas.
Sebenernya author udah bisa bayangin gimana kejadiannya, cuma gatau kenapa rasanya susah banget nulisnya.
Pasti banyak readers yang pernah gitu juga kan?
Mungkin ini penyakit seorang penulis. #plak
Oke deh, author pamit dulu ya, jangan lupa comment
#ppyeong

Advertisements