Tag Archive | Ravi

Find My Love // Part 9a [Secret]

Previous chapter…

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

Title: Find my love part 9a ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Nah, bertemu lagi dengan author yang manis #pret. Ini sudah author bikinin ff kebut banget. Baru beres, langsung author publish deh, jadi kalian ga menunggu teerlalu lama. Author baik kan? Oh tentu 😀
Oke deh, langsung dicek aja ceritanya. Maaf kalau jelek dan ga memuaskan. Author udh berusaha sekuat tenaga. Jadi hargain oke? Tinggalkan jejak kalian ~
Happy reading

-o0o-

Chapter 9a
Secret

Air mata tanpa kusadari terjatuh di pipiku. Aku mengusapnya cepat, berharap tidak ada orang lain yang melihatnya. Memalukan! “Waeyo chagi? Kau menangis eoh? Shhh, uljima.” Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam pelukan Kyuhyun oppa. Lampu mulai menyala dan ruang teater yang awalnya gelap dan sepi kini sudah terang dan ramai.

Aku tetap duduk di kursiku sambil menyembunyikan wajahku yang basah karna air mata di dada Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa sendiri mengelus-ngelus rambutku dengan lembut sekali. “Dasar cengeng, begitu saja nangis.” Aku memukul dadanya pelan, lalu mengerucutkan bibirku. Sudah kuduga, dia akan mengolokku. Menyebalkan sekali.

“Biar saja, filmnya memang sedih kok. Wajar saja jika aku menangis.” Sangkalku membela diri. Itu memang benar bukan? Jalan ceritanya sangat menyedihkan, aku terus menerus menangis saat menontonnya. Coba saja kalian bayangkan, di film itu, ada sepasang kekasih. Aku mengerti kalau mereka berdua saling mencintai, semua tergambar jelas di film itu. Awalnya semua berjalan dengan baik, semuanya terasa begitu indah. Tapi tak berselang lama, mulai banyak kejadian kejadian menyebalkan yang terjadi di film itu.
Tokoh utama namja di film itu tiba-tiba saja menghilang, membuat tokoh yeojanya sedih dan tertekan. Tokoh yeoja itu berusaha melupakan si namja pabbo itu, yeoja itu bahkan mencoba untuk berkencan dengan beberapa namja lain. Tapi tetap saja, setiap yeoja itu pulang, kembali ke kamarnya.. yeoja itu kembali menangisi si namja pabbo itu. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk pergi ke Negara asing untuk bekerja. Nah, bagian paling menyebalkannya ada di bagian sini.

Ternyata, namja pabbo yang merupakan tokoh utama itu selama ini hilang ingatan. Karena hilang ingatan itulah, namja itu sama sekali tidak tau kalau ada orang yang dicintainya di Seoul. Jadi saat mereka bertemu di tempat kerja, sang namja sama sekali tidak mengenali yeoja tersebut. Malahan, namja itu sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.

Sudah bisa dipastikan, tokoh utama yeoja itu sangat sakit hati dan terpuruk. Yeoja itu mulai menyeleweng, mabuk-mabukan, pergi ke bar, berkali kali tidur dengan lelaki acak yang ditemui yeoja itu di bar. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan sampai akhir hayat gadis itu pun… namja yang dicintainya itu tidak pernah mengingatnya lagi. Sadis sekali.

“sudahlah, kenapa kau malah melamun. Itu hanya film sayang, tidak perlu di pikirkan. Ayo kita keluar dari sini sebelum kita diusir.” Aku tersadar dari lamunanku dan bangkit berdiri, membiarkan Kyuhyun oppa menggenggam tanganku dan menuntunku ke luar gedung teater. “Sekarang kita mau kemana oppa?” tanyaku bingung saat Kyuhyun oppa malah menuntunku ke halte bis. Aku menengok, menatap wajah Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum, jujur saja membuatku sangat penasaran.

“Kau akan tau begitu kita sampai.”
Hanya itu jawaban yag kudapat dari Kyuhyun oppa bahkan setelah aku merengek-rengek padanya. “Oppa… kita akan pergi kemana sebenarnya?” tanyaku lagi untuk yang kesekian kalinya. Kudengar Kyuhyun oppa yang duduk disebelahku menghela nafasnya. Lalu Kyuhyun oppa kemudian menoleh padaku sambil cemberut, “Kau ini cerewet sekali. Tidak usah banyak bertanya, aku jamin kau akan menyukainya. Arraseo? Duduk diam dan tenanglah, sebentar lagi kau akan tau.” Akhirnya aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat rasa penasaranku.

Selama perjalanan kami hanya diam, Kyuhyun oppa duduk sambil merangkulku, membuat tubuh kami tidak berjarak barang 1 cm pun. Aku sih hanya pasrah saat dia merangkulku begini. Aku sendiri hanya duduk dengan diam, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memainkan jemari tangan Kyuhyun oppa yang menganggur.

Haaahh…. Rasanya waktu berjalan cepat sekali ya… AKu tidak sadar, tau-tau saja sudah 1 bulan sejak kejadian itu terjadi.

Yah… kalian pasti mengerti kejadian mana yang kumaksud. Hah, kira-kira apa yang terjadi degan gadis itu ya? Aku penasaran sekali. Tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang bersedia memberitahuku. Cih, mereka selalu bersekongkol. Menyebalkan

Drrtt drrtt

Aku tersentak saat hanphone dalam sakuku bergetar. Dengan malas aku meraih handphoneku, Ravi oppa menelpon ternyata.

“Eoh, yeobosaeyo. Waeyo oppa?” jawabku memulai percakapan.
“Kau ada dimana chagi?”

“Aku sedang berada di dalam bus. Waeyo?”
“Hah? Bis? Kau menggunakan bis? Untuk apa? Memangnya mobilmu kemana? Kau mau pergi kemana? Kenapa tidak menggunakan taksi saja? Atau minta Kyuhyun mengantarmu. Ini sudah malam, tidak baik kalau kau pergi sendirian, apa lagi menggunakan kendaraan umum seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kau mengerti tentang rute-rute bis.”

Aku memutar bola mataku malas. Berlebihan sekali, menyebalkan. “Ish, oppa cerewet sekali. Mobilku tidak kemana-mana, dan aku tidak tau aku sekarang ini mau pergi kemana. Aku sedang berkencan dengan Kyuhyun oppa tau? Oppa menganggu.”
“Ah, begitu rupanya. Yasudah… Jadi kau sedang bersama Kyuhyun kan? Coba berikan telepon ini ke Kyuhyun, oppa mau bicara.”

Aku menyipitkan mataku, mencoba memilah-milah. Haruskah kuberikan telepon ini pada Kyuhyun oppa? Apa yang kira-kira akan mereka bicarakan. Kenapa Ravi oppa tidak mau menyampaiannya padaku saja. “Yeobeosaeyo? Kau masih di sana?” Aku tersentak kembai saat mendengar suara Ravi oppa di ujung telepon. “E-eoh, baiklah. Sebentar.”
“Siapa?” tanya Kyuhyun oppa saat aku menurunkan handphoneku dari telinga. “Ravi oppa. Nih, dia bilang dia mau berbicara denganmu.”
Kyuhyupun oppa mengerutkan keningnya, lalu meraih ponselku. “Eo hyung, waeyo?”

“…”
Aku menatap Kyuhyon oppa dengan bingung saat kerutan kerutan di wajah Kyuhyun oppa terlihat semakin dalam. “Hmm, lalu?”

“…”
“Ah jinjjayo? Baguslah, chukkae. Aku ikut senang.”

“…”
“ah… haruskah?” aku mengerutkan keningku saat Kyuhyun oppa melirikku dari sudut matanya. Apa-apaan, apa sih yang mereka bicarakan sebenarnya?

“…”
“Arraseo, itu memang tugasku. Sekali lagi, chukkaeyo hyung.”

“…”
“Ne, arraseoyo.”

“…”
“Hahahaha jinjja? Haha arraseo. Ah, apa kau mau berbicara dengan adikmu lagi?”

“…”
“Ah, geurae.. Arraseo arraseo, selamat bersenang-senang hyung. Anyeong.”

“…”
Aku mengambil ponselku yang tadi disodorkan oleh Kyuhyun oppa dan kembali memasukkannya ke dalam kantong celanaku. Aku menatap Kyuhyun oppa bingung, “Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyaku spontan.
Kyuhyun oppa kembali tersenyum dan menggeleng, “Aniya, bukan apa-apa. Kau tidak perlu tau. Itu urusan namja.” Aku berdecak kesal. Cih, apa-apaan itu? Urusan namja? Bah, menyebalkan sekali mereka itu. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Aku curiga, pasti ada yang mereka sembunyikan. Apa mungkin Yoonhee eonni tau? Haruskah aku menelponnya sekarang? Haruskah?

“Aniya, kami tidak menyembunyikan apapun darimu. Tenanglah.” Oke, jadi mereka mau bermain sembunyi-sembunyi? Baiklah, kalau begitu biar aku yang mencari tau. Kuambil lagi ponselku, kemudian menelpon speed dial nomor 5. “Siapa yang kau telfon?” tanya Kyuhyun oppa penasaran. Aku merengut, tapi aku tidak menjawabnya… biar saja.

“Yeobosaeyo, ada apa menelponku malam-malam begini Hwayeon-ah?”
“Ah mian eonni, aku hanya ingin bertanya… Apa Ravi oppa sedang bersamamu?”

“Ne, bukankah tadi dia menelponmu? Ada apa?”

“Ah… tadi dia berbicara dengan Kyuhyun oppa. Mereka tidak mau memberitahuku. Apa eonni tau apa yang mereka bicarakan?”

“Ah jinjja? Tadi sih mereka berbicara tentang-”

“YAK! MATIKAN TELFONNYA MATIKAN!”

“Kau ini kenapa sih? Aku sedang berbicara dengan adikmu.”

“Sudah matikan saja telfonnya, cepat.”

“Tapi aku sedang- YAK!”

Tuuuutttt

Aku menatap ponselku dengan kesal. Apa-apaan itu tadi? Kenapa Ravi oppa sampai segitunya? Apa sih yang mereka sembunyikan sebenarnya? Aku mendengus, kemudian menjauhkan diriku dari Kyuhyun oppa dengan kesal. Bisa kuengar suara kekehan Kyuhyun oppa di sebelahku. “Waeyo tuan putri? Merajuk hemm?” Aku melipat tanganku di dada, mempertegas kalau aku saat ini memang sedang merajuk.

Author POV

Kyuhyun kembali terkekeh saat melihat kekasihnya itu melipat tangan di atas dadanya dan menolak untuk melakukan kontak mata dengannya. “Ayolah… kita sedang berkencan sekarang, jangan merajuk eoh?” Kyuhyun menusuk-nusuk pipi chubby Hwayeon dengan gemas, sampai Hwayeon memelototinya dan raut wajah menggemaskan. “Diamlah kau menyebalkan! Aku membencimu!” Kyuhyun kembali terkekeh, lalu dengan cepat namja itu memaksa untuk merangkul Hwayeon yang masih merajuk.

“Arraseo mianhae, jangan merajuk. Kita sudah hampir sampai loh.” Bujuk Kyuhyun sambil tersenyum geli. “Apa peduliku?” Oh-oh, rupanya Hwayeon masih tetap pada pendiriannya dan terus merajuk. Kyuhyun tersenyum simpul, dengan cepat namja itu meraih dagu Hwayeon dan memaksa gadis itu agar menatapnya. “Jadi kau tidak peduli hmm?”
Hwayeon diam, terpaku oleh mata Kyuhyun yang saat ini tengah menyorot tajam padanya. “Y-ya, a-aku tidak p-peduli.” Jawab Hwayeon sambil tergagap.
Kyuhyun tertawa dalam hati, merasa puas telah membuat kekasihnya itu terperosok kembali ke dalam pesonanya. “Begitukah?” tanya Kyuhyun pelan dengan suara parau.

Glek

Hwayeon menelan salivanya gugup, matanya bergerak gerak gelisah. “Y-ya.” Kyuhyun menyeringai, “Kau yakin?” tanya namja itu lagi sambil mempersempit jarak diantara wajah mereka. Hwayeon mengangguk panic, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa ia lihat, kecuali mata Kyuhyun.
“Begitu rupanya, yasudah kalau begitu kita pulang saja. Buat apa kita melanjutkan kencan jika kau bahkan tidak peduli?” Kyuhyun menjauhkan wajahnya, dan bersiap-siap berdiri. Yah, hanya pura-pura juga sih sebenarnya. Hwayeon mengerjapkan matanya, lalu menggeleng panic. “MWO? ANDWAE! Arraseo, mianhae! Aku tidak akan merajuk lagi!” pekik Hwayeon cepat.

Kyuhyun tersenyum puas saat Hwayeon mencengkram erat kemejanya sampai kusut. “Benar? Katanya kau tidak peduli?” goda Kyuhyun lagi. Hwayeon menggeleng cepat dengan mata memelas, “aniya, aku hanya bercanda. Jangan pulang sekarang, aku masih ingin bersamamu.” Kyuyun tersenyum kemudian kembali membawa Hwayeon ke dalam pelukannya. “Arra” jawab namja itu pelan.

.

“Huaaaaaaaaa!!!!! Indah sekali!!!!!” Kyuhyun tersenyum senang saat melihat senyum lima jari terpasang sempurna di wajah kekasihnya. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower, kalian tahu jelas kan tempat apa itu. Hwayeon sendiri sudah berlari kearah pagar dengan mata terbuka lebar. Berkali-kali decakan kagum terdengar dari bibirnya.
Kyuhyun menghampiri Hwayeon, lalu memeluk yeoja itu dari belakang. “Bagaimana? Kau suka?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon mengangguk-ngangguk antusias sebagai jawaban, jangan lupakan matanya pun berbinar-binar senang. “Suka! Aku sangat suka! Gomawo, sudah membawaku kemari… ini indah sekali” jawab Hwayeon dengan suara tercekat.
Hwayeon menolehkan kepalanya ke samping, membuatnya bertatapa dengan mata Kyuhyun. “gomawo oppa, jeongmal gomawo” lirih Hwayeon pelan. Kyuhyun terdiam, namja itu terus memaku mata Hwayeon, sampai akhirnya… entah siapa yang memulai. Kedua belah bibir mereka akhirnya bertemu.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba meredam perasaan memabukkan yang saat ini tengah melandanya. Perasaan yang membuat jantungnya terus bertalu dengan cepat. Mereka berdua terus berciuman, memadu kasih mereka, tanpa memperdulikan posisi mereka yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian.

Entah berapa lama mereka terus berada di dalam posisi intim itu. Sampai akhinya Kyuhyun berinisiatif untuk melepaskan cumbuannya. Kyuhyun menatap Hwayeon yang sibuk meraup udara dengan senyum puas. Hwayeon sendiri sibuk meraup nafas sebanyak-banyaknya, sambil berusaha menahan rasa malu yang tiba-tiba saja bersarang di otaknya saat menyadari kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi.
Kyuhyun merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah gembok berbentuk hati dan sebuah spidol. Hwayeon sepertinya masih belum menyadarinya, karna gadis itu masuh sibuk menteralkan deru nafasnya berkat ‘pertarungan’ mereka tadi.

“Chagiii…” panggil Kyuhyun lembut. Hwayeon menoleh, mata gadis itu kemudian kembali melebar saat melihat benda yang ada di tangan Kyuhyun. “Omo! Gembok cinta!” pekik Hwayeon girang, tapi kemudian gadis itu mengerutkan keningnya bingung, membuat Kyuhyun ikutan bingung. “Wae?” tanya Kyuhyun penasaran saat Hwayeon menoleh ke bawahnya seakan mencari-cari sesuatu. “kenapa gemboknya cuma satu? Apa oppa menjatuhkannya? Kok tidak ada?” tanya Hwayeon bingung sambil tetap celingak celinguk mencari gembok yang ia yakini mungkin saja jatuh di suatu tempat.

Kyuhyun mengerjap, kemudian namja itu tersenyum geli. “Ah, aniya. Aku tidak menjatuhkan apapun kok. Aku memang hanya menyiapkan satu.” Hwayeon menatap Kyuhyun dengan bingung, membuat Kyuhyun gemas sendiri. “Wae? Kita kan ada dua.” Tanya Hwayeon semakin bingung.
Kyuhyun menghela nafas, kemudian namja itu menggenggam kedua tangan Hwayeon dengan lembut. “Aku memang hanya menyiapkan sebuah gembok. Kau tau kenapa?” Hwayeon menggeleng polos. Kyuhyun kembali tersenyum simpul. “Kau tau, sebuah gembok memiliki dua sisi yang berbeda. Depan dan belakang. Benar?” Hwayeon mengangguk bingung, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Kyuhyun dengan perumpamaan itu.

“Hah, jadi… gembok itu melambangkan kita.” Jelas Kyuhyun singkat, padat, namun tidak jelas. Setidaknya itu menurut Hwayeon.

Dia pasti tidak mengerti batin Kyuhyun geli setengah jengkel.

“Maksudku, gembok itu seperti kita. Gembok memiliki dua sisi yang berbeda, sama seperti kita yang bertolak belakang, berbanding terbalik. Kau bodoh, aku pintar. Kau polos, aku tidak. Yah seperti itu contohnya. Kita memang saling bertolak belakang, semua yang ada di dalam diri kita berbeda. Semuanya. Tapi tetap saja, entah bagaimana caranya. Kita menjadi satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan, entah oleh apapun. Mungkin kita bisa terpisah, tapi pada akhirnya… kita tetap akan menemukan potongan diri kita yang satu lagi. Dan kenapa aku memilih untuk menyiapkan gembok dengan bentuk hati? Karena gembok ini akan melambangkan cinta kita. Hati, cinta, dan satu. Kau mengerti maksudku?” ujar Kyuhyun panjang lebar. Hwayeon masih melongo, mencoba mencerna seluruh perkataan namja itu. Tapi sebagian besar, yeoja itu mengerti maksud Kyuhyun dengan semua ini.

Tiba-tiba saja mata Hwayeon memanas. Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan panic saat tiba-tiba saja air mata terjatuh dari mata Hwayeon. “Y-ya! Kenapa malah menangis? Aigooo!!” Hwayeon berhambur ke dalam pelukan Kyuhyun, dan disambut dengan baik oleh namja itu. “Cup cup, sshhh. Uljima.” Kyuhyun bingung juga sebenarnya. Entah apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada gadis semacam Hwayeon. Karena seperti yang ia bilang tadi, mereka berdua benar benar berbeda, alias bertolak belakang.

“Hikss..hiksss, gomawo oppa. Aku benar-benar terharu. Hiks hiks, aku mencintaimu oppa.”
“Arrayo.. aku juga mencintaimu. Jja, sekarang tenanglah. Jangan menangis. Lebih baik kita pasang gembok tadi, tapi sebelum itu.. tulis harapanmu d salah satu sisi gembok ini. Cepat.” Hwayeon mengangguk cepat saat Kyuhyun meyodorkan gembok dan spidol padanya. Kemudian gadis itu menjauh bersama dengan gembok dan spidol di tangannya. Kyuhyun mengamati dari jauh saat Hwayeon mulai menulis sesuatu di salah satu sisi gembok.

Tidak lama berselang, Hwayeon kembali dan menyodorkan gembok itu kembali pada Kyuhyun. “jja, sekarang oppa yang harus menulis harapan oppa. Jangan mengintip punyaku loh ya, awas saja.” Kyuhyun mengambil gembok dari tangan Hwayeon dan mulai menulis di sisi gembok yang kosong.

Aku harap kami akan hidup dan berbagi kebahagiaan bersama-sama untuk selamanya

-Kim Hwayeon

Kan kujadikan dirimu wanita paling bahagia di dunia dengan seluruh kemampuanku

-Cho Kyuhyun

Namja itu kemudian mengajak Hwayeon untuk memasangkan gembok itu, mereka berjalan menyusuri sekitar pagar berusaha mencari tempat kosong untuk memasang gembok mereka. “Disini saja oppa!” ujar Hwayeon sambil menunjuk sebuah spot kosong diantara padatnya gembok-gembok cinta.

Kyuhyun melihat tempat tersebut, dan keduanya memutuskan untuk memasang gembok cinta mereka disana. Kyuhyun menggantungkan gembok mereka diantara jutaan gembok yang berada di sana, kemudian mereka membuang kunci mereka di tempat yang sudah disediakan.
“Apa yang oppa tulis tadi?” tanya Hwayeon penasaran saat mereka sudah berada di halaman depan rumah Hwayeon. “Itu rahasia, kalau kukatakan, nanti tidak terkabul.” Hwayeon berdecak sebal lalu mengerucutkan bibirnya. “Yasudah.” Gerutunya sebal. Kyuhyun tersenyum. tanpa aba-aba, namja itu kemudian menanamkan sebuah keupan singkat di bibir Hwayeon. “Gomawo, sudah mau menemaniku hari ini.” Lirih Kyuhyun pelan sambil membawa Hwayeon ke dalam rengkuhannya.

Hwayeon balas melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Kyuhyun, kemudian gadis itu mengangguk pelan. “Harusnya aku yang berterima kasih padamu oppa. Gomawo, sudah mengajakku berkencan. Aku bahagia sekali.”
“Ne, apapun untukmu sayang.”

Mereka berdua berpelukan dalam diam. “Hah, rasanya aku tidak rela harus melepasmu sekarang.. Aku masih ingin bersamamu.” Wajah Hwayeon sontak memanas dengan sendirinya saat ia mendengar gerutuan Kyuhyun. “Kalau begitu oppa menginap saja.” Ujar Hwayeon tiba-tiba. Mwoya, apa-apaan itu tadi Kim Hwayeon. Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu. Aigo, eotteokhae? Batin Hwayeon nelangsa.

“Kau benar. Aku menginap saja, kajja kalau begitu. Kita masuk” Hwayeon kaget bukan main saat Kyuhyun tiba-tiba mneyeretnya masuk kedalam rumah. Belum sempat Hwayeon melayangkan protesnya, mereka sudah berhenti di ruang tamu. “Omo, annyeeonghaseyo ahjumma, ahjussi.” Sapa Hwayeon spontan. Gadis itu kemudian menunduk dengan sopan.
“Eomma dan appa sedang apa disini?” kali ini Kyuhyun yang bersuara. Heechul berdecih, “memangnya kenapa kalau eomma kesini? Tidak boleh?” tanya Heechul sengit. Kyuhyun mengerjapkan matanya pelan kemudian menggaruk tengkuknya bingung, “Ani, hanya saja a-“
“Aaaah sudahlah, kau diam saja. Sana pulang, sudah malam tau. Kluyuran saja.” Potong Heechul. Kyuhyun menggeram tidak suka. Namja itu melayangkan pandangan sengit pada sang eomma, dan dibalas dengan tak kalah sengit dengan sang eomma. Hangeng yang melihat kelakuan istri dan anaknya tertawa kecil, begitupun dengan Leeteuk dan Kangin. “Sudahlah kalian berdua, apa kalian tidak malu? Lihatlah umur kalian, seperti anak kecil saja.” Sindir Kangin, appa Hwayeon, sambil tertawa geli.

Baru saja Kyuhyun dan Heechul sama-sama membuka mulut untuk protes, Leeteuk sudah memotongnya. “Sudah, tidak perlu berdebat lagi. Ini sudah malam. Kyu, kalau bisa… tolong menginap disini, kami berempat harus pergi sekarang karena harus mengurus beberapa hal. Dan ravi, oppa Hwayeonpun saat ini sedang tidak ada di rumah. Sedang pergi dengan Yoonhee katanya. Tolong jaga Hwayeon untuk kami ne? Kami harus pergi sekarang, kajja yeobo. Kajja hangeng, heechul-ah, kita berangkat sekarang. Annyeong chagi, baik-baik ne.” Kyuhyun dan Hwayeon menyaksikan dengan bingung saat Leeteuk menarik Kangin, Hangeng, dan Heechul keluar dengan paksa. Mereka berempat terus berdebat, sampai akhirnya mereka berempat menghilang dibalik pintu.

“Apa-apaan sebenarnya mereka itu? Cih, menyebalkan.” Gumam Hwayeon pelan.
“Sudahlah, tidak perlu memikirkan mereka. Ayo, kita tidur sekarang. Kau pasti lelah.” Hwayeon hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Kyuhyun menuju kamarnya sendiri.

Kamar Hwayeon

“Oppa mau tidur menggunakan kemeja itu?” seakan tersadar, Kyuhyun menoleh kearah pakaiannya kemudian mendesah.
“Ah benar, masa aku harus tidur menggunakan kemeja ini? Mana nyaman?” gumam Kyuhyun lebih untuk dirinya sendiri.

“Aaaah, aku tau!” Kyuhyun memandang Hwayeon bingung saat tiba-tiba saja Hwayeon berlari kearah lemarinya sendiri di sudut kamar. Beberapa lama, hwayeon seperti mencari sesuatu. Lalu gads itu kemudian kembali sambil membawa sepasang piyama lelaki dan memberikannya pada Kyuhyun. “Igo.” Kyuhyun menerima baju yang Hwayeon serahkan dengan bingung. “ini milik siapa? Ravi hyung?” tanyanya penuh selidik. Hwayeon dengan polos menggeleng. “Aniya itu milikku, aku membelinya.. itu piyama couple. Aku punya yang warna pink, akan ku pakai. Oppa gantilah baju itu disini, aku akan ganti di kamar mandi. Oke?”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hwayeon langsung melesat kedalam kamar mandi sambil membawa piyama yang sama seperti yang Kyuhyun bawa, hanya saja berbeda warna dan ukuran. Kyuhyun dan Hwayeon sama-sama menyelesaikan ritual mengganti bajunya. Hwayeon berjalan dari kamar mandi dengan wajah merah padam sambil melipat tangannya di depan dada.

Kyuhyun mengamati Hwayeon yang berjalan kearahnya dalam diam. Manis batin Kyuhyun.
“Eoh? Kenapa kau melipat tanganmu seperti itu?” tanya Kyuhyun bingung. Hwayeon tersentak, “E-eoh? Ah itu aku,-“ gadis itu kemudian menunduk, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. “Ah, aku tau. Tidak perlu dilanjutkan. Yasudah, ayo kita tidur. Kemarilah.” Hwayeon berjalan kaku kearah ranjang. Kyuhyun menunggu Hwayeon mendekat dengan sabar. Lalu saat Hwayeon sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan sigap Kyuhyun memeluknya.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.” Hwayeon mengangguk pelan. Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya sendiri pada Kyuhyun, lalu balas memeluk tubuh Kyuhyun dan menyandarkan kapanya di dada bidang namja itu.

“Jaljayo oppa” gumam hwayeon pelan sambil mulai memejamkan matanya. “Jaljayo baby.”

-o0o-

Hwayeon menggeliat, kemudian kedua matanya mulai terbuka secara perlahan. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambutnya, membuat gadis itu terpaksa menutup kembali matanya. Hwayon kemudian mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangannya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang baru bangun dari tidurnya dengan senyum mengembang. “good morning princess.” Sapa Kyuhyun lembut.

Cup

Hwayeon tersenyum lalu balas menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Good morning juga prince.” Balas Hwayeon dengan suara serak. Kyuhyun mengangkat tangannya ke wajah Hwayeon, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jadi ke wajah gadis itu. “Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan ini padamu.” Ujar Kyuhyun tiba-tiba.
Hwayeon mengerutkan keningnya bingung. “Ne? Maksud oppa? Mengatakan apa?”

Kyuhyun mendekatkan wajah mereka kembali, membuat wajah mereka hampir tidak berjarak. Kyuhyun berhenti tepat di permukaan bibir Hwayeon. “Happy birthday princess.”

Cup

Mata Hwayeon melebar. Happy birthday? Tunggu dulu, apa aku berulang tahun hari ini? Memangnya tanggal berapa hari ini? Batin Hwayeon bingung.

“A-“

BRAAKKK

“Saengil chukkahamnida… saeingil chukkahamnida… Saranghaneun, uri Hwayeon-ie… Saengil chukkahamnida.”
Hwayeon melongo saat segerombolan makhluk-makhluk memasuki kamarnya. Semua sahabatnya ada disana, Ravi, orangtuanya dan orang tua kyuhyun juga berada disana. Bahkan Lee dan Song ahjummapun berada disana. Belum sempat Hwayeon bereaksi, Kyuhyun tiba-tiba saja kembali mengecup cepat bibirnya di hadapan semua orang.

Cup

“Saengil chukkae baby. Semoga seluruh harapnmu bisa terkabul. Panjang umur dan sehat selalu, Tuhan menyertaimu.” Kyuhyun tersenyum lembut, begitu juga semua yang ada disana. “gomawo semuanya… Aku sungguh, ah.. aku bahkan tidak mengingat kalau hari ini aku berulang tahun. Jeongmal gomawoyo, semuanya. Oppa, eomma, appa, ahjumma, ahjussi, eonni… gomawo semuanya.” Semuanya berhamburan di sekitar kasur Hwayeon. Mereka mengobrol dan bersenda gurau bersama dengan posisi mengelilingi Kyuhyun dan Hwayeon.
“Ahhh! Kita melupakan sesuatu!” pekik Heechul secara tiba-tiba, mengagetkan yang lain.

“Apa maksudmu chulie-ah.” Tanya Leeteuk bingung.
“KADO!!!” pekik Yoonhee, Eunhye, dan Hyojin secara bersamaan. Hwayeon melongo.

“Tunggu, kalian-”
“AKU DULUAN NE!!!” pekik Heechul memotong ucapan Hwayeon. Heechul kemudian tiba-tiba saja berlari keluar kamar Hwayeon dengan cepat.

“Ke-“
“Ini dia!” Hwayeon kembali melongo saat Heechul mengacungkan sebuah amplop padanya.
“Ini! Ini hadiah dariku dan Hangeng. Jja, terimalah.” Hwayeon menerima amplop sodoran Heechul dengan bingung.

“Ini-“
“Sekarang aku!” kali ini Eunhye yang bersuara. Gadis itu kemudian keluar, dan masuk kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah darah berukuran cukup besar. “Ini hadiah dariku untukmu, kau harus memakainya nanti malam.”
Hwayeon menerima kotak pemberian Eunhye dengan bingung. Gadis itu membuka kotak tersebut dan terbelalak, “tunggu, kenapa kau memberiku sepatu? Memangnya harus kupakai untuk apa? Aish, kenapa kalian aneh sekali. Aku-“

“Ini dariku.” Potong Hyojin cepat. Hwayeon menghentikan ocehannya dan menatap kotak yang diberikan Hyojin padanya. Berbeda dengan kotak yang Eunhye berikan, kotak dari Hyojin berukuran lebih besar, namun kotak tersebut lebih pendek. Hwayeon menyerah, mencoba untuk tidak protes. Gadis itu membuka kado pemberian Hyojin. “Dan… kenapa kau memberiku gaun? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan sih?!” sungut Hwayeon kesal.
Tidak ada satupun yang menganggapi ocehan Hwayeon. Yoonhee sekarang yang menyodorkan sebuah kotak pada Hwayeon.

Hwayeon melihatnya dengan jengkel. “Apa lagi yang kau berikan padaku eonni?” tanya Hwayeon sebal. “Buka saja, cerewet.” Hwayeon berdecih, lalu gadis itu membuka kado pemberian Hwayeon. “Bedak, eyeshadow, lipstick, parfum… Yah, kenapa pula kau memberikan barang seperti ini padaku eonni?”tanya Hwayeon kali ini benar-benar jengkel.
Tapi lagi-lagi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan itu, termasuk Kyuhyun. Ravi bangkit berdiri tiba-tiba lalu berjalan keluar kamar. Tidak selang berapa lama, Ravi datang sambil membawa boneka panda super jumbo. “Nih, untuk adik oppa yang manis. Aku berikan kau kembaran.” Hwayeon melongo, menatap boneka panda super besar di depannya dengan bingung.

“Karena kau suka sulit tidur, oppa memberimu teman untuk tidur. Kau dengan boneka itu sama. Sama-sama memiliki mata panda. Jadi jika kau sulit tidur lagi, peluk saja boneka itu. Anggap saja boneka itu oppa atau siapapun terserah padamu. Oppa yakin kau bisa tidur dengan mudah dan nyenyak.” Hwayeon menatap lekat-lekat boneka panda yang duduk dihadapannya, lalu memeluk boneka itu. “Gomawo oppa…” lirih yeoja itu pelan.

Ravi dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Hwayeon. “Jja, kalau begitu tingga eomma dan appa yang belum member hadiah. “Jja, ini untukmu.” Hwayeon mengangkat sedikit kepalanya, mengintip kado pemberian Leeteuk dan Kangin.
Leeteuk da Kangin memberikan hwayeon sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Hwayeon mengangkat kepalanya degan benar, lalu menatap Leeteuk lekat-lekat. Gadis itu tau benar apa yang ada di dalam kotak beludru tersebut. “Eomma…”

“Anak eomma sudah besar sekarang. Kau dan oppamu akan segera menikah. Sudah waktunya eomma memberikanmu benda ini, Pakailah ne? Jaga baik-baik.” Leeteuk tersenyum, tapi air mata tetap saja mengalir dari mata yeoja itu. “Eommaaaaa” Hwayeon dengan cepat berhambur ke dalam pelukan Leeteuk saat gadis itu melihat sang eomma mulai menitiskan air mata. “Eomma uljimaaa” lirih gadis itu pelan.
Seumur hidupnya, Hwayeon tidak pernah tahan melihat airmata sang eomma. Eommanya yang begitu berharga… “Arraseo, mianhae… Harusnya eomma tidak menangis. Jja, jagalah ini baik-baik. Pakailah ini untuk nanti malam.” Hwayeon merengut saat lagi-lagi mendengar kaliat itu kembali terucap.

Hwayeon menarik diri dari pelukan eommanya, lalu menatap semua yang ada disana dengan tatapan menuduh. “Kalian menyembunyikap apa sebenarnya dariku. Kenapa kalian semua membicarakan nanti malam terus menerus? Memangnya ada apa nanti malam? Kenapa aku tidak tau apa-apa?” tanya Hwayeon dongkol.

Tapi seperti tadi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan Hwayeon. “Ah, kita harus bersiap-siap untuk nanti malam. Kajja, biarkan mereka berdua dulu.” Hwayeon merengut saat semua orang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan tadi Ravi menepuk-nepuk kepalanya.

Tiba-tiba saja suasana kamar Hwayeon sepi karena semua orang sudah keluar. Menyisakan Hwayeon dan Kyuhyun yang sejak tadi membisu. “Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan?” lirih Hwayeon bingung. Gadis itu menatap kembali hadiah-hadiah yang di dapatkannya yang masih berada di ranjang dengan bingung.
“Hah… sudahlah, mereka memang aneh.” Gumam hwayeon pasrah. Gadis itu kemudian membereskan kado-kado yang diterimanya, lalu menumpuknnya dengan rapih di sisi kasur, termasuk boneka panda yang diterimanya dari ravi.

Hwayeon akhirnya menoleh pada Kyuhyun. Kyuhyun dari tadi hanya diam, duduk bersender pada kepala ranjang dan mengamati Hwayeon. “Oppa tidak memberikanku hadiah seperti mereka?” tanya Hwayeon penasaran. Gadis itu kemudian merangkak mendekati Kyuhyun, dan berakhir di dalam pelukan namja itu. “Kau menginginkan hadiah dariku?” tanya Kyuhyun balik.

Hwayeon menggeleng, “Ani, aku hanya penasaran saja.” Jawabnya pelan. “Kalau kau mau tau hadiah dariku, kau harus ikut bersamaku ke suatu tempat nanti malam.”
Hwayeon menghela nafas dengan keras. “Jadi kalian memang merencakan semua ini, cih. Menyebalkan sekali.”
Kyuhyun tersenyum simpul. “Jadi kau tidak mau?”

“Tentu saja aku mau.” Jawab Hwayeon cepat.
“Kalau begitu terima saja, semua ini sudah kusiapkan susah payah untukmu tau…”

“iish, arraseo. Gomawo ne?”
“Kau bahkan tidak tau apa kado dariku.”

“Cih, aku kan hanya berterimakasih.”
“Ya tetap saja. Kau tau hadiah dariku saja tidak.”

“Kau itu cerewet sekali! Yasudah! Kutarik lagi ucapan terimakasihku tadi!”
“Yak! Mana bisa seperti itu?!”

“Tentu saja bisa!”
“Yak! Gadis nakal ini!”

“Ish berisik!”
“Ck! kau ini!”


To be continued…

Advertisements

Find My Love // Part 8 [Come Back to Me]

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”
“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

“Kau kekanakan!”
“Kau juga!”

“Aku mempercayaimu.”
“Kau memang harus mempercayaiku.”


“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

“Kau keterlaluan.”

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

“Kau pantas mati!”

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

Title: Find my love part 8 ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Ciiiia, ketemu lagi nih sama author. Berhubung author lagi baik, jadi author lanjutkan ff ini, yang udah agak lama terbengkalai. Maaf kalau kurang memuaskan, author juga jarang update. soalnya bnyak tugas sama ulangan nih. Bentar lagi juga mau UAS. setresssss. Oke deh, kalian baca aja ini. Lanjutannya . jangan protes ya kalau kurang memuaskan atau kurang panjang dll.
Nah yauda, Happy reading okeh? Jangan lupa comment. Author tunggu loh. Trims~

-o0o-

Chapter 8
Come Back to Me

Byuuurrrr!!!!!!

Aku kembali membuka mataku dengan sisa sisa kekuatanku. Dan aku melihat seseorang tengah berenang kearahku dengan raut cemas. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena darah dari perutku menutupi pandanganku. Air laut menjadi berwarna merah akibat darahku yang terus bercucuran.

Apa itu Kyuhyun oppa? Atau Ravi oppa? Atau malah appa? Hikss… sakit sekali.
Uuuuugh, sakit sekali… Eomma appa… Tolong aku…

Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi tetap saja. Luka tusuk yang dibuat oleh yeoja gila di perutku terasa sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan kalau kesadaran direnggut paksa dariku setiap detiknya.
Mataku mengabur, dan aku membiarkan kesadaranku hilang saat tanganku ditarik oleh orang lain. Ah… ternyata begini rasanya mati…

Author POV

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” Hwayeon terlihat membungkukkan tubuhnya. Haneul melemparkan seringaian puasnya pada Hwayeon tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pisau yang saat ini menancap di perut Hwayeon.
Disaat bersamaan, Kyuhyun dan yang lainnya yang baru saja tiba melihat Hwayeon dengan wajah ngeri dan pucat pasi.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” teriak Ravi ngeri. Wajahnya yang sudah pucat dari awal menjadi semakin pucat. Setelah teriakan Ravi berteriak, para tamu berdatangan sambil berlari dan kemudian llangkah kaki mereka terhenti saat melihat Hwayeon dan Haneul yang ada di ujung geladak kapal.

Kyuhyun sendiri hanya berdiri kaku ditempatnya dengan mata tertuju pada luka tusuk di perut Hwayeon. Mulutnya menganga dengan mata membulat lebar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Kangin dan Leeteuk sendiri seakan tidak mampu bersuara. Leeteuk bersandar pada Kangin seakan ia mau pingsan.

“Aaaaarghh!!!!!!” Hwayeon berteriak saat tiba-tiba Haneul itu menarik pisau itu dari perutnya sambil berbisik lirih tepat di telinga Hwayeon. “Kau pantas mati.” Gumam Haneul pelan, jadi hanya mampu di dengar oleh mereka berdua.
Tubuh Hwayeon linglung akibat rasa sakit dan kaget, Haneul memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan mendorong Hwayeon ke laut.

“ANDWAEEEE!!!!”

Brukkk!!!

Haneul jatuh ke lantai akibat dorongan Kyuhyun, karena saat namja itu melihat kekasihnya didorong, ia dengan sigap berlari menghampiri Hwayeon. Yang lain akhirnya mengikuti Kyuhyun berlari untuk melihat keadaan Hwayeon tanpa memperdulikan Haneul yang masih tersungkur di lantai.

Hwayeon masih bertahan, menggantung di ujung kapal karena Kyuhyun berhasil menangkap pergelangan tangannya, atau lebih tepat… gelangnya. Kyuhyun terus berusaha menahan Hwayeon sambil tersenyum menguatkan padahal air mata sudah menggenang di pipinya.
Kyuhyun terus mempertahankan pegangannya sambil memanjatkan doanya supaya kekasihnya itu bisa selamat. Awalnya Hwayeon hanya memandang Kyuhyun dengan ekspresi kesakitan yang kentara di wajahnya. Tapi kemudian, gadis itu melirik kebawah dan tubuhnya kontan bergetar, membuat pegangan Kyuhyun di gelangnya hampir saja terlepas. Kyuhyun menggeleng panic dan air mata semakin deras mengaliri pipi namja itu.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” Hwayeon kembali menatap Kyuhyun, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatap Hwayeon dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” Hwayeon mencoba mengulurkan tangannya yang terbebas, namun tidak sampai. Berkali kali gadis itu mencoba meraih tangan Kyuhyun, tapi tetap saja tidak bisa. Perutnya sangat sakit, membuat gerakannya jadi sangat terbatas. Hwayeon kemudian mengenakan upaya terakhirnya, dan menyembabkan dia hampir saja terjatuh.

“Aku tidak bisa!” isak Hwayeon lemah, terlihat jelas kalau gadis itu tengah putus asa saat ini.
“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!” teriak Kyuhyun berusaha memberi kekasihnya itu semangat.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” kali ini Hwayeon yang berteriak putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahanya untuk menggenggam tangan Kyuhyun tidak kunjung berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Hwayeon memandang Ravi yang juga mengulurkan tangannya kebawah. Hwayeon berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi ia gagal. “Aku tidak bisa oppa.” Hwayeon memandang semua orang yang berusaha membantunya dengan air mata bercucuran. Leeteuk dan Heechul sama sama menangis histeris di pelukan suami mereka masing masing.

Kangin sendiri menangis dalam diam sambil menenangkan Leeteuk, begitupula dengan Hangeng. Ravi masih berusaha meraih tangan Hwayeon. Yoon Hee, Eun Hye dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. “Mianhae.” gumam Hwayeon lirih saat gelang ditangan gadis itu akhirnya putus.

“TIDAK!!! TIDAK TIDAK TIDAK!!! HWAYEON TIDAK!!” Kyuhyun berteriak histeris dan bersiap untuk melompat, menjemput Hwayeon. Ravi dengan sigap menahan Kyuhyun yang terus meneruss berusaha melompat dengan susah payah.

“LEPASKAN!!! AKU HARUS MENCARINYA!!! HYUNG!!! AKU HARUS MENCARI HWAYEON, DIA PASTI KETAKUTAN!! JEBAL! BIARKAN AKU MENCARINYA!!” teriak Kyuhyun dengan suara pilu. Semua tamu yang melihat kejadian itu bungkam, mengerti betul kalau kejadian seperti ini sangatlah berat.

Suasana kapal berubah semakin panas. Leeteuk dan Heechul sama sama pingsan saat Hwayeon jatuh. Kangin dan Hangeng sibuk menenangkan istri mereka masing masing. Sambil mengamati Kyuhyun yang terus menerus berusaha untuk melompat.
“Kyu! Pergilah, cari Hwayeon. Appa sudah menyuruh orang untuk menurunkan sekoci penyelamat. Turunlah bersama mereka. Cari Hwayeon sampai ketemu. Appa juga sudah menyuruh kapal ini dihentikan. Sana! Selamatkan menantu appa.” Seru Hangeng tiba-tiba sambil tetap mendekap Heechul yang masih pingsan.

Kyuhyun menatap Hangeng penuh terima kasih. “Tolong, temukan putriku.” Tambah Kangin dengan suara parau. Kyuhyun mengangguk patuh dan dengan cepat melesat pergi diikuti oleh Ravi. Keheningan langsung menyerbu mereka begitu Kyuhyun dan Ravi menghilang dalam jarak pandang mereka.
Kini semua mata tertuju pada Haneul yang masih terduduk di lantai dengan senyum pongahnya. Kangin menghampiri Haneul dengan wajah merah padam setelah ia menititipkan sang istri yang sejak tadi pingsan ke Yoonhee dan Eunhye.

Haneul kembali tersungkur dengan keras saat Kangin menggamparnya. Beberapa tamu terkesiap kaget dan mulai berbisik bisik sembari melirik Haneul dengan raut jijik. “Pergi dari tempat ini sebelum aku membunuhmu!” teriak Kangin berang. Haneul bangkit berdiri sembari berdecih. Ia kemudian menatap Kangin penuh kebencian dan mulai melangkah. Baru beberapa langkah maju, ia kemudian terhenti saat Hangeng berhenti tepat dihadapannya dengan raut marah dan kecewa.

Plak!!!

Hangeng menggampar Haneul, kemudian menyuruh gadis itu pergi dari sana. “Jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di sekeliling kami! Atau aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan! Camkan itu!” desis Hangeng dingin dengan suara rendah. Haneul dengan cepat melangkah pergi dari sana, melupakan pisaunya yang ia gunakan untuk menusuk Hwayeon di lantai. Hangeng menatap pisau yang tergeletak itu dengan nanar. “Amankan pisau itu, lapor pada polisi sekarang.” Ujar Hangeng dingin. Beberapa orang langsung mengamankan situasi, menyuruh para tamu untuk kembali ke kabinnya masing masing dan membersihkan noda darah yang ada di sana.

Di sisi lain, Kyuhyun dan Ravi saat ini berada di sekoci penyelamat bersama dengan 2 orang pengawal Hangeng. Kyuhyun memerintahkan mereka untuk menyusuri tempat dimana Hwayeon tercebur tadi.
Tidak butuh waktu yang lama, Kyuhyun menangkap bayangan Hwayeon yang mulai tenggelam ke kedalaman. Tanpa banyak pikir, Kyuhyun langsung menceburkan dirinya… mengabaikan teriakan Ravi.

Byuuurr!!!

Kyuhyun menajamkan indra penglihatannya seketika berada di laut. Mengabaikan tubuhnya yang mulai menggigil karena dinginnya air laut. Kyuhyun berenang dengan cepat kearah Hwayeon yang sudah tidak sadarkan diri, dan menarik gadis itu dengan cepat ke permukaan dengan panic.

Bertahanlah sayang, jebal. Jangan tinggalkan aku

“Cepat!! Bantu aku!!!” Kyuhyun segera berteriak saat ia sudah sampai kepermukaan, lalu dengan bantuan Ravi dan para pengawal itu mereka berhasil menaikkan tubuh tak sadarkan diri Hwayeon keatas perahu.

“Sayang… bangunlah kumohon!!” gumam Kyuhyun putus asa, kemudian namja itu mulai menekan nekan dada Hwayeon.

1 kali

2 kali

3 kali

“Sialan!” geram Kyuhyun sengit saat tak ada reaksi dari Hwayeon. Kyuhyun kemudian mengambil nafas dalam dalam, menutup lubang hidung Hwayeon, dan mulai memberikan nafas buatan lewat mulut. Ravi memandang Hwayeon dengan cemas, Kyuhyun terus memberikan nafas buatan untuk Hwayeon sambil sesekali beralih untuk melakukan CPR lagi. “Bangunlah sayang, ayolah.. kumohon..” Kyuhyun kembali menekan dada Hwayeon, berusaha membuat jantung gadis yang dicintainya itu kembali berdetak. “Kumohon…kumohon..” Kyuhyun terus menerus merapalkan kalimat itu, sampai tanpa disadari namja itu, air mata sudah menggenang di pipinya.

“Uhukk Uhukk” Kyuhyun dan Ravi sama sama menghembuskan nafas lega saat Hwayeon mulai terbangun. Memuntahkan cairan yang sudah ia telan saat tenggelam tadi. Kyuhyun segera membawa tubuh menggigil Hwayeon ke dalam dekapannya. “Terimakasih Tuhan, kau selamat.” Lirih Kyuhyun pelan.

“Oppa appo… hikss…” Kyuhyun tersentak kaget saat Hwayeon kembali menangis dalam dekapannya. Kyuhyun kembali menatap Hwayeon, dan beralih pada perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Stttt… kau akan baik-baik saja. Yoon Hee pasti bisa menangani ini arra? Bertahanlah, kita sudah sampai. Bertahanlah.” Kyuhyun terus merapalkan kalimat itu di telinga Hwayeon sampai akhirnya mereka berdua naik kembali ke kapal.

Kyuhyun membawa tubuh Hwayeon yang kembali tak sadarkan diri di gendongannya. Namja itu berlari sepanjang jalan menuju ke kabin Yoon Hee sambil berteriak, menyuruh orang yang menghalangi jalannya untuk minggir.

Tok Tok Tok Tok Tok!!!!!

YoonHee dengan cepat membuka pintu kamarnya. Kyuhyun yang sedang menggendong Hwayeon dengan cepat menyelonong masuk dan membaringkan Hwayeon di kasur. Kemejanya sudah bersimbah darah Hwayeon.
“Tolong, selamatkan Hwayeon, kumohon.” Suara Kyuhyun pecah, mencerminkan betapa takutnya namja itu. “Selamatkan adikku Yoon Hee-ya, jebal.” Lirih Ravi dari sebelah Kyuhyun.

Yoon Hee menatap dua laki-laki yang ada di kamarnya itu dengan prihatin. “Arra, sekarang kalian minggir lah, jangan ada di dekat kasur.” Perintah Yoon Hee tegas.
Kyuhyun dan Ravi dengan tau diri beringsut menjauh dari kasur. Yoon Hee dengan cekatan mengambil kotak hitam berukuran lumayan besar, dan meletakkannya di samping tubuh Hwayeon. Yoon Hee membuka kotak itu, dan ternyata isinya adalah alat-alat kedokteran.
Yoon Hee dengan cepat memakai sarung tangan putih dan mulai bekerja. Merobek baju Hwayeon, menyuntikkan obat bius, menyayat, dan kemudian menjahit. Ravi menyaksikan dengan mual, dia sudah pernah menyaksikan secara langsung operasi kecil seperti itu. Oh tentu saja, dia pernah di operasi tanpa obat bius oleh Yoon Hee. Kejam memang.
Tapi melihat adik satu-satunya, kesayangannya, dioperasi seperti itu membuat Ravi sedih. Perasaan bersalah benar-benar menghantuinya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan benar, bahkan mereka bertengkar tadi. Hwayeon pergi dengan perasaan kecewa dengannya karena ia tidak mempercayai adiknya itu.. ia malah mengatakan kalau adiknya itu berlebihan dan sangat kekanakan, dan adiknya itu malah berakhir disini… dengan luka menganga di perutnya.

Terkutuklah aku, kakak macam apa aku ini? Harusnya tadi aku mempercayai Hwayeon, harusnya tadi aku menghibur hwayeon. Jadi semua ini tidak akan terjadi. Ravi terus bergelut dengan pikirannya, tanpa menyadari kalau pekerjaan Yoon Hee sudah hampir selesai.

“Nah, sudah. Kau bisa memindahkannya ke kamar kalian sekitar 3 jam lagi, karena kita harus menunggu darah yang kuberikan tadi habis. Beruntunglah aku membawa cadangan kantong darah, untuk berjaga-jaga jika ada kejadian seperti ini. Saat memindahkannya nanti, kalian harus berhati-hati supaya jahitannya tidak terbuka ne? Lukanya cukup dalam, tapi tenang saja… dia tidak akan kenapa kenapa. Dia akan tertidur sampai kurang lebih 5 jam. Selebihnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jelas Yoon Hee panjang lebar.

“Ne, gomawo.” Ujar Kyuhyun pelan. “Cheonma”

Kyuhyun mendekat kearah Hwayeon dan mendudukan dirinya di samping Hwayeon. Mengelus rambut Hwayeon dengan sayang. “Mianhae chagi, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Ucap Kyuhyun lirih, tapi masih terdengar jelas di telinga Ravi dan Yoon Hee.
Ravi dan Yoon Hee dengan cepat keluar dari kamar itu diam diam, memberikan Kyuhyun ruang untuk meluapkan perasaannya pada Hwayeon. Waktu Yoonhee dan ravi keluar kamar, mereka langsung dihadapkan dengan EunHye, Hyo Jin, Heechul, Leeteuk, Kangin, Hangeng, dan yang lainnya.

“Bagaimana keadaan anakku?”

“Apa anakku baik baik saja?”

“Menantuku baik baik saja bukan?”

“Uri magnae baik baik saja kan?”

“Bagaimana keadaan Hwayeon?”

“Aku ingin menemui menantuku.”

“Biarkan aku masuk.”

Yoon Hee dan Ravi berusaha menjelaskan keadaan Hwayeon kepada mereka. “Hwayeon baik baik saja. Semua nya sudah di atasi, sekarang Hwayeon masih tertidur karna obat bius. Ada Kyuhyun didalam, biarkan mereka berdua dulu saja.” Saran Yoon Hee.
Mereka tidak terlihat puas dengan jawaban Yoon Hee, tapi akhirnya mereka mengalah dan kembali ke kabin mereka masing masing.

Kyuhyun POV

Kupandangi wajah pucat Hwayeon dengan sedih. Ini semua terjadi karena aku. Kalau saja aku mempercayainya, kalau saja dari awal aku mempercayainya, dan menjaganya dengan benar.. maka kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Akulah yang membuatnya seperti ini, akulah yang membuat Haneul bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Hwayeon dan menyakitinya. Akulah penyebabnya, akulah dalangnya.
Aku merasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak, melihat orang yang begitu kucintai terbaring lemah seperti ini. Kuakui, aku bingung. Mengingat bagaimana kami bertemu, lalu berkenalan, lalu akhirnya bisa menjadi seperti ini.

Kami bahkan baru kenal dalam waktu beberapa hari, dan aku sudah berani melamarnya. Memberikannya kalung warisan dari eomma dengan mudah padanya. Membuatnya menjadi calon istriku. Semua ini terasa sangat membingungkan.

Aku, Cho Kyuhyun, bukanlah namja yang romantic. Bisa dibilang aku sangat kaku. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik. Tapi semuanya berbeda saat bersamanya, Hwayeo, pujaan hatiku. Aku berubah menjadi namja yang kelewat romantic, bahkan mungkin sedikit menggelikan. Aku pun selalu mengungkapkan apa yang ada di hatiku dengan cepat padanya, bahkan tanpa kusadari.

Semua yang kuinginkan hanyalah membuatnya tertawa, bahagia. Aku ingin melihat senyum manisnya itu terus tergores d wajahnya. Aku ingin ia bahagia, aku menginginkannya.

Tapi…

Karena aku lah, satu-satu wanita yang kucintai kini terbaring tak berdaya. Aku yang meyeretnya kedalam masalah seperti ini. Sampai akhirnya, psikopat gila yang bahkan merupakan mantan tunanganku berusaha melukainya.
Sialan, aku hampir melupakannya. Yeoja itu, sialan kuadrat. Dimana yeoja itu sekarang? Tidak mungkin dia berenang untuk sampai ke pelabuhan kan? Bunuh diri namanya, tapi aku tidak peduli. Lebih baik kalau dia menghilang. Jauh-jauh dari kehidupan kami. Aku benar-benar tidak mau gadis manisku terluka lagi, apa lagi karena hal yang sama. Aku akan membunuh diriku sendiri jika itu sampai terjadi.

Hah…

Kenapa dia tak kunjung sadar juga? Aku merindukannya.

Ku genggam tangannya yang dingin, mencoba memberinya kehangatan. “Kumohon bangunlah sayang. Aku sekarat disini tanpamu..”

Tes

Tes

Tes

Sial.. lagi lagi air mataku menetes tanpa bisa kucegah. Bagaimana mungkin ini terjadi? Entah sudah berapa kali aku menangisinya hari ini. Aku benar-benar sakit melihatnya seperti ini. Andaikan aku bisa, aku ingin menanggung semuanya. Biar aku saja yang berada di posisinya, aku tidak ingin dia terluka sama sekali. Aku tidak ingin melihatnya tersakiti, oleh seujung kuku sekalipun.

Aku memejamkan mataku, mengusir pening yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Aku lupa, aku belum mengganti bajuku sejak tadi. Pantas saja aku pusing sekarang. Pasti masuk angin. Haah, yasudahlah.. sudah terlanjur. Bajuku bahkan sudah kering karena dinginnya kamar.

Uuugh..

Pusing sekali..

Kuputuskan untuk merebahkan diriku sejenak di samping kasur sambil tetap menggenggam tangan Hwayeon. Sebentar saja, aku hanya akan beristirahat sebentar…

Aku terbangun saat merasakan usapan dikepalaku. “Oppa…” tunggu, aku mengenal suara itu. Suara siapa ya? Bukankah tadi aku sedang- Oh sial!
Dengan cepat aku menegakkan tubuhku. Hwayeonku… “Oh Tuhan, akhirnya kau bangun. Aku mencemaskanmu…” dengan segera aku memeluknya, berusaha untuk tetap berhati-hati pada lukanya. Ya ampun, kenapa tubuhnya lemah sekali seperti ini…

“Mian, sudah membuatmu mencemaskanku.”

“Bodoh, gadis bodoh. Kenapa kau bisa membiarkan yeoja itu melukaimu hah? Kenapa kau tidak melawan? Ya Tuhan. Bagaimana kalau kau tadi- Ya ampun.” Aku memejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran anehku yang menakutkan.

“Oppa… tidak mempercayaiku.”

Deg

“A-“

“Oppa… lebih mempercayainya”
“Sayang, itu aku-“

“Oppa lebih mimilihnya daripada aku.”
“Apa? Tidak! Aku-“

“Oppa lebih memilih pergi bersamanya daripada tinggal bersamaku.”
“Tidak sayang! Tidak, itu aku-“

“Oppa tidak mencintaiku”
“APA?! TIDAK! Dengar! Aku-“

“Oppa mencintainya”

Jedeerrrr

Apa-apaan. Bagaimana mungkin dia berfikir seperti itu?

“Sayang… Itu semua tidak benar! Aku-“
“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, meninggalkanku sendirian..”

Author POV

“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, oppa aka-“ Kyuhyun menatap Hwayeon tak percaya.
“Hentikan! Itu semua tidak benar! Bagaimana mungkin kau mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu?!” bentak Kyuhyun marah. Kyuhyun sungguh kecewa karena Hwayeon menganggapnya seperti itu.

Tubuh Hwayeon perlahan bergetar. Kemudian tanpa aba-aba, air mata mulai bercucuran dari mata sipitnya. “Dia bilang oppa tidak mencintaiku, dia bilang oppa akan meninggalkanku. Dia-“ Kyuhyun dengan cepat merengkuh Hwayeon kembali. Menenangkan gadisnya yang terlihat sangat terguncang. “Kenapa kau mempercayai semua omongannya? Kau tau itu semua tidaklah benar. Aku hanya mencintaimu.” Terang Kyuhyun cepat, berusaha menampik kekecawaannya.

Hwayeon tidak mempercayaiku. Kyuhyun benar-benar sedih sekaligus kecewa mengetahui hal itu.

Hwayeon menatap Kyuhyun dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar hebat, memperlihatkan seberapa terguncangnya mental gadis itu. “Oppa lebih memilihnya daripada aku.” Lirihnya dengan suara bergetar.
Shit! Kyuhyun mempererat rengkuhannya pada tubuh ringkih Hwayeon, menanamkan kecupan kecupan lembut diatas puncak kepala gadis itu. “Aku memilihmu.. Aku hanya mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku, maaf…”

Akhirnya Hwayeon menangis di dalam pelukan Kyuhyun, sampai akhirnya gadis itu kembali tertidur…

Mianhae, jeongmal mianhae… geurigu saranghae

-o0o-

Hwayeon POV

“Omo Hwayeon!! Apa kau baik-baik saja? Kami semua mencemaskanmu.” Aku mendudukkan diriku di kursi restoran di bantuoleh Kyuhyun oppa. Aku menyamankan posisi dudukku lalu memandang semua orang dan tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku.” Aku bisa mendengar semua orang menghela nafas lega dari sini.
Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja. Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Saranghae” ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget, tentu saja. Kurasa semua orang yang duduk di meja ini juga sama kagetnya sepertiku. “Nado saranghae.” Jawabku pelan. Kurasakan wajahku memanas. Oh-oh, janngan sampai wajahku memerah, memalukan!

“Berhentilah mengumbar kemesraan kalian didepanku. Kalian membuatku iri.” Aku menoleh mendengar cibiran Ravi oppa, lalu tersenyum geli. “Wae oppa? Kau cemburu?” aku tertawa dalam hati saat melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah. “Tidak, kenapa juga aku harus cemburu!” Kyuhyun oppa terkekeh geli di sampingku, dan akupun mencoba untuk tidak tertawa walaupun rasanya sulit sekali karena Ravi oppa sangat lucu.

“Aaah, aku tau. Oppa sirik kan? Kenapa? Apa Yoonhee eonni tidak suka kalian mengumbar kemesraan seperti ini?” aku terkekeh saat melihat Yoonhee eonni melotot galak kearahku. Haduh haduh, mata besarnya itu sampai terlihat mau copot. Hahaha. “Diamlah kau Hwayeon.” Desis Yoonhee eonni dengan wajah merah padam.”

“Eonni, wajahmu seperti kepiting rebus tau?”
“Diamlah Hwayeon, jangan menggodanya seperti itu.” Senyumku semakin bertambah lebar saat mendengar teguran Ravi oppa. Hah, dia masuk perangkapku. “Memangnya kenapa?” tanyaku pura-pura bodoh. Ravi oppa memandangku cemberut, “Aku tidak suka orang lain melihat wajahnya menggemaskannya saat ia sedang tersipu. Pemandangan seperti itu hanya diperuntukkan untukku.” Aku melongo mendengar penjelasannya. Aku baru tersadar saat Kyuhyun oppa tertawa dengan keras.

“Apa-apaan itu hyung, kau menjijikan.” Ejek Kyuhyun oppa frontal. Mau tidak mau aku tersenyum, apa lagi saat melihat Ravi oppa kelabakan menjelaskan dengan wajah merah padam. “Ah, eh, i-itu… maksudku emm.. “ aku semakin tertawa saat melihat Yoonhee eonni menundukkan kepalanya.

“Kalian sungguh lucu.” Sindirku sakratis. Semua orang di meja kami tertawa bersama, memandangi Yoonhee eonni dan Ravi oppa dengan raut wajah terhibur. “DIAMLAH!” ujar mereka kompak.
Kami semakin memperkeras tawa kami. Kyuhyun oppa merangkulku, dan aku tertawa di dalam rangkulannya. “Bocah sialan.” Desis Ravi oppa sebal. Tapi tak ayal, aku melihat senyum lebar terkembang diwajahnya itu.

Hah, akhirnya semua kembali dengan benar. Aku sempat takut kalau yeoja itu masih berada disini. Tapi kulihat-lihat, sepertinya yeoja itu sudah pergi dari sini. Aku senang, karena semua tamupun terlihat sudah tidak sekaku tadi pagi, saat mereka baru melihatku semenjak aku… yah, kalian tau lah.

Ravi oppa sendiri, semalam ia menemuiku. Mengajakku berbicara 4 mata dengannya. Ravi oppa meminta maaf padaku, karena tidak mempercayaiku dan malah mengatakanku berlebihan serta kekanakan.
Sebenarnya aku sudah tidak mempersalahkan hal itu, tapi Ravi oppa tetap bersikeras ingin minta maaf. Jadi aku memaafkannya, walaupun aku sebenarnya sudah memaafkannya sejak awal, tanpa perlu ia minta. Kuharap semua ini berjalan dengan lancer sampai seterusnya. Aku sendiri penasaran, bagaimana kelanjutan hubungan antara Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Semalam Ravi oppa juga memberitahuku tentang rencanya yang ingin membawa Yoonhee eonni berlibur dan melamarnya. Au tidak tau Ravi oppa akan membawa Yoonhee eonni berlibur kemana, karena Ravi oppa sama sekali tidak berniat membcorkannya. Walaupun aku sudah merengek padanya.

Aku benar-benar berharap Ravi oppa bisa berhasil menjalankan misinya, jadi akupun bisa segera menikah dengan Kyuhyun oppa. Aku tidak ingin lagi terpisah dengan Kyuhyun oppa. Benar-benar tidak mau. Apa lagi melihat Kyuhyun oppa bersama dengan wanita lain? Tidak terimakasih. Kyuhyun oppa hanya boleh untukku.
Kami kemudian melanjutkan makan siang kami setelah puas menggoda Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Aku dan Kyuhyun oppa pamit terlebih dahulu. Aku dan Kyuhyun oppa akan pulang lebih dahulu dari yang lain, ini semua permintaan Kyuhyun oppa. Aku sih hanya menurut saja.

Tadi malam Kyuhyun oppa sudah membereskan barang-barang kami. Jadi kami hanya tinggal berangkat pulang saja. Hangeng ahjussi sudah membantu kami menyiapkan kapal lain yang akan kami pakai untuk pulang. Hangeng ahjussi dan Heechul ahjumma juga meminta maaf kepadaku, yang seharusnya tidak perlu. Semua kejadian ini kan bukan salah mereka. Ini toh bukan salah siapapun, bukan juga salah Haneul. Haneul melakukan ini karena dibutakan oleh cintanya pada Kyuhyun oppa. Jadi aku tidak sampai hati untuk menyalahkannya. Aku tidak tau bagaimana nasib gadis itu, karena Kyuhyun oppa tidak mau memberitahuku sama sekali. Ia hanya menyuruhku untuk diam, “Diamlah, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan mengurus semuanya, aku akan menjagamu.” Begitulah yang Kyuhyun oppa katakan semalam saat aku menanyakan perihal Haneul padanya.

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

-tbc-

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Title: I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Author: Jung Yoonhee

Cast:

~ Jung Yoonhee (OC)

~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:

~ Other VIXX member

Genre: romance, comedy

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

Happy Anniversary my bias, VIXX 
Moga-moga suka dan enjoy.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

Kita bagaikan sepasang sayap yang selalu terbang bersama. Jika salah satu diantara kita hilang, yang satu lagi pasti tidak akan bisa terbang sendiri. Begitulah kisah cinta kita.
-Kim Wonshik & Jung Yoonhee-

*Yoonhee POV*

Aku menarik koperku, lalu duduk disebuah bangku.

-flashback-

“Choi ahjumma!”

“Nona Jung, kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabari aku. Kalau mengabariku kan kau bisa kujemput.”

“Baru tadi subuh sampai. Ahjumma pasti sedang tidur. Jadi, bagaimana kabarmu ahjumma?”

“Sangat baik, sangat bahagia, dan sangat terkejut.”

Aku tesenyum kearahnya. Tidak ada yang berbeda disini. Bangunan dual anti dengan taman buatan disekelilingnya. Choi ahjumma, pembantu andalan keluarga kami yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Hanya usianya sajalah yang bertambah.

“Masuklah nona.”

Choi ahjumma mengambil semua bawaanku.

“Kenapa Tuan dan Nyonya Jung tidak ikut?”

“Setelah kuliah, aku kembali untuk bekerja. Eomma dan appa tetap di Amerika untuk mengurus perusahaan.”

“Arraseo. Anda mau makan apa nona?”

“Hoamm.. aku lebih baik tidur.”

“Masih jet lag?”

“Hem, aku tidur ya ahjumma.”

Aku naik ke kamarku. Setelah beres-beres dan mandi, aku tidur.

Drtt drtt

“Nugusaeyo?”

“Ini aku Nona Jung, Tuan Hwang.”

“Tuan Hwang annyeonghasaeyo.”

“Annyeong. Suaramu serak, ada apa?”

“Hehe, baru bangun tidur.”

“Ohh.. hahaha.. Janji kita nanti siang jadi.”

“Jadi, apa alamatnya sudah Tuan berikan?”

“Nanti ada mobil yang menjemput. Nona Jung saja yang berikan alamatnya ke saya.”

“Baiklah.”

“Selamat pagi Nona Jung. Maaf mengganggu.”

“Gwaenchanha, annyeonghasaeyo.”

Aku terpaksa bangun. Aku berjalan gontai ke bawah.

“Ahjumma, bisa buatkan aku 2 gelas kopi?” kududukan diriku dikursi meja makan.

“Untuk apa nona?” tanya Choi ahjumma bingung.

“Aku sangat mengantuk, sedangkan aku harus siap-siap kerja.”

“Oh, arraseo. Tunggulah sebentar nona.”

Satu jam berlalu. Semua yang kusiapkan sudah selesai.

Din din

Sebuah mobil van putih terparkir didepan rumahku.

“Ahjumma, aku sudah dijemput. Aku pergi dulu ya.” pamitku seraya berjalan keluar.

“Baiklah nona. Hati-hati.” dia mengantarku sampai pintu.

Sang supir membukakan pintunya untuuku. Kurang lebih 15 menit dari rumahku ke tempat tujuan.

Citt

“Wae?! Kenapa berhenti mendadak.” bentakku kaget.

“Mianhae, tapi orang-orang didepan sangat membuat rusuh.”

“Aish..”

Klek

Bam

Aku keluar dari mobil, dan mencoba menerobos masuk.

“Pemisi. Maaf, permisi. Aww! Hey, berhenti menginjak!”

Percuma, tubuhku terlalu pendek jika dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang, aku sudah ada diluar kerumunan lagi.

Ish!

“Yeobusaeyo Tuan Hwang. Aku sudah ada didepan entertaimentmu, tapi disini penuh sekali. Aku tidak bisa masuk.”

“Maaf karena itu. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengawalmu. Tunggulah sebentar.”

“Kamsahamnida Tuan Hwang.”

Cukup lama, sampai akhirnya kerumunan itu terbelah.

Dua orang lelaki tinggi besar menghampiriku.

“Nona Jung?” tanyanya tegas.

“Ne.”

“Ikutlah kami.”

Mereka berdua mengawalku sampai masuk kedalam gedung.

“Maaf, aku ingin ke toilet.” pintaku canggung.

“Apa perlu kami antar?” tanya mereka dengan wajah datar.

“Tidak perlu!”

“Kalau begitu, anda ditunggu Tuan Hwang di ruang latihan lantai 3.”

“Baiklah.”

Setelah dari toilet, aku lansung ke lantai 3.

“Ini ruangan.. ehmm.. bukan. Yang ini ruangan….bukan bukan.”

Aku berjalan mengendap-endap bak seorang pencuri. Tempat ini terlalu luas, dan terlalu banyak ruangan disini.

“Yak! Bagaimana bisa fans masuk kesini?” seseorang memergokiku.

“Mwo? Aku?” aku membalikan badan ke arah si tukang tuduh.

Dia seorang lelaki. Badannya tinggi kurus dibalut oleh hoodie hitam. Dia membawa sebotol air mineral dan juga badanya penuh dengan keringat.

“Keluarlah sebelum aku panggil pengawal.” suruhnya dingin.

“Panggil saja. Aku ingin keruang latihan, ada perlu. Lagipula aku fans siapa?” lawanku tak mau kalah.

“Lebih baik kau keluar.” suruhnya dengan lebih dingin lagi.

“Andwe.”

Aku melepaskan tangannya yang terus mendorongku.

“Lepas atau aku akan berteriak!” ancamku marah.

“Silahkan saja kalau berani.”

“AAAA!!!! TOLONG ADA PENCULIK DISINI!!!”

Beberapa orang keluar dari ruangannya. Mereka semua mengerumuni kami.

“Nona Jung.” pangil salah seorang.

“Tuang Hwang. Lelaki ini terus mencoba mengusirku.” aku berjalan mendekati Tuan Hwang.

“Apa itu sesuatu yang pantas, Wonshik?” tanya Tuan Hwang pada lelaki tadi.

“Wonshik?” ulangku berbisik.

“Masuklah.” Tuan Hwang mengajakku masuk keruangan latihan yang cukup besar.

“Ini Nona Jung. Dan Nona Jung ini VIXX.” dia memperkenalkanku pada enam orang.

“Tuan Hwang, Yoonhee saja tolong.” bisikku malu-malu.

“Oh, baiklah Yoonhee. Aku ada sedikit keperluan. Kau bisa bertanya atau berkenalan dulu sebelum rekaman.”

“Arraseo. Annyeonghasaeyo Tuan Hwang.”

“Annyeonghasaeyo.”

Tuan Hwang meninggalkan kami bertujuh.

“Hemm.. baiklah. Seperti yang sudah Tuan Hwang beritahu tadi, aku adalah Jung Yoonhee. Aku sudah bersekolah musik sejak SMA. Aku tinggal di Amerika dan sengaja kesini karena ada tawaran dari Tuan Hwang untuk menjadi composer dan juga produser kalian. Ngomong-ngomong siapa kalian tadi?”

“VIXX.” ucap salah satu diantara mereka.

“Aku tidak tahu siapa kalian. Jadi mari berkenalan.”

Mereka membuat baris melintang. Aku mendekati orang pertama.

“Siapa namamu?”

“Aku Jung Taekwoon atau Leo. Posisiku vocalist.”

Terlalu dingin dan cuek. Taekwoon itu menakutkan. Begitu kesan pertamaku.
Aku berjalan ke orang kedua.

“Aku Lee Jaehwan, stage nameku Ken. Aku juga vocalist.”

Begitu semangat dan energik. Pasti susah berhenti untuk bicara. Itu kesan pertama yang Ken beri padaku.

Aku berjalan ke orang ketiga.

“Aku Lee Hongbin, aku vocalist dan juga rapper.”

Cool, tampan, tapi bukan tipeku.

Aku berjalan ke orang selanjutnya.

“Aku Cha Hakyeon, stage nameku N. Aku leader, vocalist dan juga dancer disini.”

Tidak ada aura leader, adanya dia lebih terlihat sebagai orang yang banyak sekali aegyo. Seperti perempuan berkulit gelap. Itulah N menurutku.

Aku menatap orang kelima.

“Akh.. kau itu Wonshik. Iya kan?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Ne. Namaku Kim Wonshik, stage nameku Ravi. Aku rapper. Maaf atas kejadian tadi.” dia membungkuk padaku.

“Gwaenchanha.”

Wonsik memberikan kesan pertama yang buruk padaku. Skip saja.

Aku mendekati orang yang terakhir.

“Yang terakhir?”

“Aku Han Sanghyuk, panggil aku Hyuk saja. Aku ini vocalist dan juga dancer.”

Imut, tampan, seperti anak kecil, menarik, garis wajah tegas. Terlalu banyak aku memujimu Hyuk, tapi memang itulah dirimu.

“Hemm.. aku harus panggil kalian siapa?” aku kembali kedepan.

“Oppa saja!” seru Ken.

“Oppa, apa kalian tidak keberatan?”

“Tidak.” ucap semuanya.

“Bisakah kau ceritakan tentang dirimu pada kami?” sela Hyuk.

“Simpel saja. Aku Jung Yoonhee. Aku baru saja lulus kuliah. Aku suka musik, awalnya sebagai hobi, tapi sekarang malah jadi pekerjaan. Aku tinggal di Amerika sudah 18 tahun.”

“Masalah cintamu?” Hyuk menyela lagi.

“Cinta? Aku tidak begitu suka pria barat. Aku lebih memilih pria Asia untuk jadi pasangan. Seumur hidupku ini akku belum pernah berpacaran.”

“Umurmu?” tanya mereka penasaran.

“19.” ucapku enteng.

“Wah…” mereka berdecak kagum.

“Sudah cukup? Sekarang ayo seriusnya. Semuanya pemanasan. Vocalist dengan vocalist, rapper dengan rapper.”

Mereka melakukan pemanasan. Selanjutnya aku menyuruh mereka untuk tampil didepanku. Para vocalist menyanyi, dan rapper melakukan rap, tentunya.

“Dalam rangka menyambut anniversary kalian, aku disuruh untuk membantu kalian membuat album yang berbeda. Aku telah memutuskan dan menyepakatinya bersama dengan Tuan Hwang. Satu lagu bersama, dan sisanya kalian semua harus bernyanyi sendiri-sendiri. Perlu diingat. Kalian harus membuat lagunya juga sendiri, aku hanya membantu kalian. Temanya adalah STARLIGHT, itu nama fans kalian?”

“Ne.”

“Para rapper juga harus bernyanyi. Ya, sedikit tapi harus ada.”

Semuanya diam.

“Ada yang keberatan?” tanyaku ragu-ragu.

Semuanya menggeleng.

“Kita akan mulai rekaman esok hari. Ini lagunya, aku baru saja membuat lagunya dan membagi-baginya. Semuanya kebagian menyanyi. Hongbin dan Wonshik kalian tidak keberatan kan?”

“Ani.” ucap keduanya.

“Aku hanya tidak bisa membuat lirik rap. Disini siapa yang biasanya membuat lirik rap?”

Wonshik mengangkat tangannya.

“Ayo kita bertemu dan buat lirik rap utuk lagu ini. Sepulang dari sini ke rumah ku. Apa bisa?”

Dia mengangguk.

“Sekian untuk hari ini. Wonshik oppa, kjja.”

Kami diantar oleh supir untuk sampai kerumahku.

“Aku pulang ahjumma.” sapaku saat masuk rumah.

“Eomma?” bisik Wonshik tragu-ragu.

“Jelas-jelas aku panggil ahjumma. Dia pembantuku.” balasku berbisik.

“Oh, ahjumma.” sapanya.

“Ini siapa nona?” tanya Choi ahjumma heran.

“Rekan bisnis. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Ohh..”

Aku dan Wonshik naik dan masuk ke ruang kerjaku.

“Ini sangat canggung.” Wonshik berbicara pelan.

“Wae?”

“Aku masih merasa bersalah karena tadi, tapi ada yang lain. Sesuatu mengganjal membuatku canggung.”

“Apa itu? Tidak biasa berdua dengan perempuan?”

“Entahlah.”

“Akh.. sudahlah kita selesaikan saja pekerjaan kita.”

Berjam-jam kami habiskan diruangan ini untuk membuat lirik rap. Choi ahjumma juga sudah bulak balik membawakan makanan dan juga minuman.

“Matamu sangat bagus.” Wonshik mencari topic.

“Menyindir?” aku menatapnya.

“Matamu besar, namun ada lingkaran hitam. Kau belum tidur?”

“Jet lag. Tahu lah. Aku jadi bingung, harus tidur jam berapa.”

“Tidurlah kalau begitu. Ini sudah jam 7.”

“Jinjja? Sudah jam 7 lagi? Hoamm..”

“Tidurlah. Aku yang akan selesaikan, sekalian untuk membuat lagu. Apa tidak apa-apa jika aku sampai malam disini.”

“Silahkan saja. maaf membebani pekerjaanku padamu.”

“Gwaenchanha.”

Aku mulai tertidur.

“Hoamm..” aku duduk dimeja makan dalam keadaan setengah sadar.

“Selamat pagi Nona Jung.”

“Wonshik mana?”

“Baru saja pulang jam 4.”

“Memang sekarang jam berapa?”

“6, nona.”

“Aku ada janji jam 7 nanti. Bisa buatkan aku bekal, jus, dan jua kopi?”

“Tentu saja.”

Aku segera mandi dan menyiapkan keperluan pekerjaan.

Mobil van putih itu sudah menunggu didepan rumahku pada pukul 7.

“Kurasa aku akan pulang malam.” pesanku pada Choi ahjumma.

Aku segera pergi.

“Selamat pagi Wonshik oppa.” sapaku sesampainya di gedung entertainment.

“Selamat pagi juga. Tidur nyenyak semalam?”

“Lumayan. Oppa bagaimana?”

“Cukup lah. Maaf sempat ketiduran dirumahmu kemarin.”

“Gwaenchanha.”

Hari itu kami memulai rekaman. Perlu waktu dua hari, sampai akhirnya rekaman suara itu menjadi benar-benar bagus.

“Aku akan membantumu mengaransement.” Wonshik kembali ingin membantuku.

“Boleh.”

4 hari berlalu. Dan lagu VIXX pertama sudah selesai. Cukup cepat. Tapi kurasa kita akan dikejar deadline. Tanggal lirisnya 2 bulan setengah lagi.

“Besok ini kita akan membuat MV.”

Begitu pesan Tuan Hwang. Kita akan menginap di pulau Jeju selama 3 hari.

Pagi-pagi benar aku sudah berkumpul di gedung entertainment bersama Tuan Hwang, VIXX, beberapa cameramen, make up artist, wardrobe artist dan juga seorang yeoja yang tidak kukenal.

“Siapa dia?” tanyaku pada Hyuk.

“Model MV kita. Dia itu salah satu fans beruntung yang terpilih.” jelas Hyuk.

“Ohh..”

Kami akhirnya pergi ke Jeju dan mulai membuat MV.

“Apa benar? Enak sekali dia. Di MV ini dia diperebutkan 6 orang?” gumamku.

“Cemburu eoh?” tanya Wonshik mendekat.

“Ani.”

“Tenanglah. Dia itu hanya fans Hyuk yang fanatic saja. Dia tidak akan macam-macam dengan member lain.”

“Lalu? Apa yang harus kutenangkan?”

Wonshik meninggalkanku untuk mengambil gambar.

Keesokkan harinya adalah hari terakhir di Jeju.

“Hari ini akan menjadi hari bebas kalian.” seru Tuan Hwang yang sontak mendapat sorakan dari semuanya.

“Ayo kita naik paralayang.” ajak Hongbin.

Para member VIXX, aku dan juga fans beruntung itu pergi ke sebuah bukit untuk paralayang.

“Satu paralayang untuk dua orang.” perintah sang coach.

“Ya berarti yeoja dengan yeoja saja.” N mengambil keputusan.

“Andwe! Aku mau dengan Hyuk.” si fans fanatik itu menggengam lengan Hyuk.

Cih, sangat centil.

“Kalau begitu Yoonhee denganku.” Wonshik menarik tanganku lalu kami naik kesalah satu paralayang.

Dalam hitungan ketiga, kami semua terbang bersama.

Semua pemandangan disini sangat indah dari atas, kecuali itu.

“Cemburu?” tanya Wonshik sembari terkekeh.

“Kau selalu bertanya apa aku cemburu atau tidak. Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Kalau kau tidak cemburu, untuk apa memperhatikan merka berdua?”

Aku kembali meluruskan pandanganku pada Hyuk dan yeoja itu yang terbang dibawah kami.

“Iya, aku cemburu.” ungkapku mengaku.

“Sejak kapan suka Hyuk?”

“Sejak awal bertemu.”

“Wow.”

“Jangan bilang-bilang.”

“Oke. Rahasiamu aman padaku.”

Kami terbang dalam waktu yang cukup lama. Dan sampai akhirnya kami mendarat.

Kami kembali ke hotel untuk check out, lalu makan siang, dan kembali ke Korea.

“Aku duduk disini ya.” Wonshik duduk disampingku.

“Mereka sudah jadian. Fans itu dan Hyuk. Jangan beritahu siapa-siapa, ini sangat rahasia.”

“Lalu kenapa kau memberitahuku?” tanyaku heran.

“Aku merasa kalau kau pantas tahu.”

“Biarkan saja. Mereka sangat pantas dan serasi. Sama-sama menarik, sama-sama tinggi. Aku juga setuju.”

Kami bertatapan.

“Sakit hati?” wonshik mengernyitkan dahinya.

“Ani.” ucapku polos.

“Bagusnya aku suka pada perempuan yang tidak terlalu tinggi.” Wonshik mengelakkan pandangannya dariku.

“Hah?”

“Ani, tidurlah. Perjalannannya cukup jauh.”

“Tap..”

Wonshik memegang pipiku dan mernaruh kepalaku ke bahunya.

“Tidur saja. Jangan banyak bicara.”

Aku mulai memejamkan mataku.

“Kita sampai.” Wonshik membangunkanku.

“Apa besok kita akan mulai rekaman lagi?” tanya Leo didepan semua member yang lain.

“Ne. Kurasa akan lebih mudah bila dimulai dari Leo, Ken, N, Hyuk, Hongbin dan yang terakhir Wonshik.” jelasku.

“Oh, baiklah.” ucap Leo mengerti.

“Ngomong-ngomong, kenapa hanya Ravi saja yang dipanggil dengan nama asli? Kalian ada apa-apa ya? Kalian pacaran?” Ken mulai penasaran.

“Ani!” ucapku dan Wonshik dengan serempak.

“Aku hanya lebih suka panggil Ravi oppa Wonshik saja. Lebih enak.” jelasku sejelas-jelasnya.

“Aduhh.. kalian ini lucu sekali.” Hyuk ikut-ikutan.

“Akh, sudahlah. Aku pulang ya semua. Annyeonghasaeyo.” aku berpamitan lalu pulang.

“Selamat datang nona. Apa kau lelah?”

“Aku ingin teh hangat. Tolong kirimkan kekamarku ya.”

Aku naik kekamarku untuk mandi dan melanjukan pekerjaanku.

Knock knock

“Ne.”

“Nona, ini tehnya.”

“Kamsahamnida ahjumma.”

“Apa ada yang salah nona?”

“Menurutmu aku ini kenapa ahjumma?”

“Wajahmu seperti orang yang patah hati.”

“Jinjja? Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Apa anda sedang bertengkar dengan lelaki yang kemarin datang ke rumah?”

“Siapa? Wonshik? Dia hanya temanku.”

“Kelihatannya lebih nona.”

“Hah?”

“Maaf nona, bukannya saya ingin ikut campur. Kalau begitu, saya permisi.”

Choi ahjumma keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa ahjumma mengatakan hal seperti itu? Apa aku dengan wonshik cocok? Mana mungkin. Sudahlah lupakan. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk.

“Selamat pagi semuanya.”

“Pagi Yoonhee. studio Rekamannya bagus sekali.” puji N.

“Jinjja? Ini milikku.”

“Jinjja?! Kau anak orang kaya ya?” duga Ken cepat.

“Tidak juga. kita bahas lagi nanti ya. Leo oppa, masukklah.”

Rencanaku hari ini adalah hari percobaan. Semuanya mencoba bernyanyi. Sisanya kubantu merombak atau juga menambahkan.

Barulah keesokan harinya, rekaman dimulai. Hari ini adalah hari bagi Leo untuk rekaman suara. Butuh waktu 3 hari untuk rekaman dan juga 2 hari untuk aransement. Selanjutnya Ken. Bagusnya dia cepat. 4 hari untuk rekaman dan juga lagunya sudah diaransemen. Setelah Ken, ada N. 4 hari rekaman dan 3 hari aransemen. Lalu ada Hyuk, 3 hari rekaman, 3 hari aransemen. setelah itu Hongbin. Dia cukup sulit 6 hari rekaman, 3 hari aransemen. Yang terakhir yang menurutku paling sulit.

“Oppa, seriuslah sedikit. Sudah satu minggu lebih kita rekaman. Tapi tidak ada yang bagus.” ucapku mulai putus asa.

“Mianhae. Ini yang terakhir. Aku janji.”

Akhirnya pekerjaanku selesai. Wonshik membutuhkan waktu 8 hari untuk rekaman dan juga 3 hari untuk aransemen.

“Setelah ini kau mau apa?” tanya Wonshik setelah selesai rekaman.

Aku mengangkat bahuku.

“Kita makan yuk.”

Wonshik mengajakku ke restoran local didekat studio.

“Untukmu.”

“Igo mwo-ya?”

Aku memperhatikan kotak hadiah pemberian Wonshik.

“Kalung?” tanyaku seusai membuka kotak itu.

“Platina. Aku harap kau suka bentuknya.”

“Wing?”

“Ne. Kau suka?”

“Sangat.”

“Biar kupasangkan.”

Wonshik berpindah ke belekangku. Diambilnya kalung itu, lalu dipakaikan pada leherku.
“Dalam rangka apa kau memberikan kalung ini padaku?”

“Hadiah saja. Jaga baik-baik ya.”

-skip time-

Tepat di hari anniversary VIXX. Album itu liris.

“Igo.” semua member VIXX berkunjung kerumahku.

“Album? Dan tanda tangan?”

“Ne. Kami ingin kau menyimpan album itu satu. Ngomong-ngomong, apa besok kau bisa makan bersama dengan kami dan juga Tuan Hwang?”

“Mian. Aku pulang ke Amerika malam ini.”

“Yah.. sayang sekali. Kalau begitu kami semua pamit ya.”

Semua member pulang, kecuali satu.

“Yoonhee, aku ingin rekaman.” pinta Wonshik singkat.

“Untuk lagu yang mana?” tanyaku penasaran.

“Laguku.”

Kami berdua naik taksi untuk sampai ke studioku.

“Baiklah. Kita mulai.”

Lampu rekaman menyala.

Lagu yang dia bawakan ini menceritakan seorang lelaki yang mengagumi seorang wanita yang mengagumi orang lain. Singkatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Baru kali ini aku mendengar Wonshik menyanyi sebagus ini. Semuanya lancar dan mulus-mulus saja.

“Bagus sekali oppa.” aku hendak mematikan tombol rekaman itu.

“Jangan lepaskan headphonemu Yoonhee.” pintanya.

Aku kembali duduk dan membenarkan headphone ku.

“Waegeurae?” tanyaku bingung.

“Aku tahu kalau kita baru kenal. Dan aku ingin mengenalmu lebih lagi. Aku tidak melarangmu untu ke Amerika lagi, dan aku juga tidak mau basa-basi. Aku suka padamu sejak pandangan pertama. Membentakmu di entertainment, dan menuduhmu sebagai fans kami hanyalah siasatku untuk bicara denganmu. Memang kedengarannya bodoh, hehe.. Aku mulai berani untuk mendekatimu. Aku sangat senang bisa kerumahmu dan membantumu. Tapi akhirnya aku tahu kalau kau menyukai orang lain. Hatiku sakit, tapi ternyata hati kita terluka secara bersamaan. Hyuk memiliki wantia lain. Mungkin Tuhan berpihak padaku. Kalung wing yang kuberikan itu, itu adalah kalung pasangan. Kau punya bagian kanan, dan aku bagian kirinya. Kalau kau mau lihat, nih. Aku selalu memakainya, berharap kita bisa selalu bersama seperti sepasang sayap yang terbang bersama. Kali-kali, ayo kita terbang bersama lagi. Dan inilah yang terakhir yang dapat kuberikan padamu. Lagu ciptaanku sendiri yang khusus tertuju untukmu. Judulnya “I’m Your Fans.” Karena memang itu aku, mengagumimu. Sifat dan juga fisikmu. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

“Oppa..” panggilku lirih.

Air mataku mulai berlinang.

“Haduh Yoonhee, maaf banyak bicara. Apa kau tidak akan ketinggalan pesawat.”

“Oppa..” panggilku lebih keras lagi.

“Ne Yoonhee.”

“Apa aku harus menjawabnya?” tanyaku ragu-ragu.

“Jujur aku sangat pesimis. Tapi itu terserah padamu.”

“Aku tidak mau fansmu mengejarku dan juga mengincarku. Hubungan kita hanya sebatas profesionallitas pekerjaan saja ya. Mianhae.”

“Gwaenchanha. Kau boleh matikan rekaman ini. Aku akan mengantarmu ke bandara.”

Kami keluar dari studio. Wonshik meminjam mobil entertainment untuk mengantarku.

Dan disinilah kita sekarang berdiri. Bandara.

“Sampai disini kita?” tanya Wonshik mencoba tegar.

“Mianhae.” ucapku super merasa bersalah.

Wonshik mengulurkan tangannya, aku pun membalas.

Syutt

Wonshik menarikku lalu mendekapku.

“Oppa!” seruku kaget.

Cup

Wonshik mulai menciumku dan perlahan melumatnya. Aku pun membalas.

“Oppa.” Aku menghentikan kegiatan itu.

“Sampai jumpa Yoonhee.”

“Sampai jumpa Wonshik oppa.”

-flashback end-

1 tahun berlalu semnjak kejadian itu. Disinilah aku, duduk dibandara sembari menonton acara talkshow Korea.

“Jadi Ravi. Kau sudah punya pacar?” tanya sang MC.

“Calon pacarku takut jika para fans membencinya.”

“Tragis sekali. Apa ada salam untuk orang yang kau suka atau para fans?”

“STARLIGHT, aku menyukai seorang gadis. Dia sangat baik. Tetapi dia menolakku demi kalian. Aku sebenarnya sangat mencintainya, aku memohon kepada kalian semua STARLIGHT. Tolong restuilah kami.”

“Wah.. itu pesan untuk STARLIGHT yang sangat berani.” puji sang MC.

“Ada lagi.”

“Apa itu? Pesan untuk orang yang kau suka?”

“Changi. Kapan kau ke Korea lagi? Jika sudah sampai. Kabari aku, aku akan menjemputmu. Jangan naik taksi. I miss you, Saranghae.”

Aku terkekeh melihat tingkah genit Wonshik.

“Baru menontonnya?” bisik orang disebelahku.

Aku menoleh kesumber suara.

Cup

Bibir kami bertemu sekilas.

“Oppa?” aku menarik bibirku dari bibir Wonshik.

“Ayo pulang.” Wonshik menarik tanganku untuk berdiri.

“Kenapa kau tahu aku ada di Korea?”

“Choi ahjumma memberitahuku. Oh iya, apa pertanyaanku satu tahun lalu sudah dipikirkan lagi?”

“Yang mana?”

“Memintamu untuk menjadi pacarku.”

“Entahlah.”

Aku meninggalkan Wonshik.

“Yoonhee jawablah.”

“Tentu saja iya! Dasar tidak peka!” aku membentaknya kecewa.

“Jinjja?!” wonshik membulatkan matanya.

“Bawakan koperku! Aku ingin makan oppa.” pintaku ketus.

Wonshik membawa koperku dan berlari mengejarku.

“Apa kata-katamu tadi sungguh-sungguh?” tanya Wonshik yang belum percaya.

“Kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran.”

“Apa yang membuatmu menerimaku?”

Aku memperlihatkan kalung pemberian Wonshik.

“Kalau aku tidak menyukaimu, ini sudah aku buang.” ucapku enteng.

Hug

“Yak! Seorang fans tidak boleh begitu pada idolnya.” ucapku dingin.

“Saranghae.” ucapnya tulus.

“Nado oppa.” balasku.

Wonshik melepaskan pelukannya.

“Ayo kita makan. Biar oppa yang traktir. Mau makan dimana?” tanyanya antusias.

“Rumahku, boleh?”

“Sangat boleh. Oppa juga ingin menceritakan ini pada Choi ahjumma. Kjja.”

Wonshik menggenggam tanganku untuk keluar.

“Besok kita ke Jeju untuk naik paralayang lagi?” tanya Wonshik ditengah perjalanan.

“Lagi?”

“Aku kan sudah bilang. Kita pasti akan terbang bersama lagi.”

“Baiklah, jika itu yang oppa mau.”

“Terimakasih sudah menerimaku Yoonhee.”

“Ani, terimakasih sudah mencitaiku oppa.”

“Saranghae.”

“Aku sudah muak mendengarnya oppa.”

“Yak, kita kan suah berpacaran. Jangan ketus begitu dong dengan pacarmu ini.” bentak Wonshik.

“Ne oppa. Arraseo, jangan ketus.” turutku.

“Saranghae oppa.” ujarku sembari mengecup pipinya.

—END—

Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 7

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Nih, author kasih pasrt 7 nya. Maaf agak lama yang ngepost, soalnya kemarin ada urusan mendesak, jadi ga bisa ngepostt sama sekali. Maaf membuat kalian menunggu. Nah, jadi sekarang silahkan dinikmati bacaannya. Ini agak pendek, tapi gppa ya. Author bikinnya juga sambil teler soalnya. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

Akhirnya, Setelah acara paksa memaksa yang tadi dilakukan Kyuhyun, dan Heechul ahjumma, pada akhirnya aku mengalah. Memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kapal. Ini kulakukan untuk Heechul ahjumma, dia begitu menyayangiku, dan dia terus memohon -well memaksa sebenarnya- agar aku datang ke acara mereka.

Aku mempersiapkan seluruh keperluanku dibantu oleh eomma. Yah, walah eomma tidak sepenuhnya membantu karena yang dilakukan eomma dari tadi hanyalah meceramahiku. Appa sendiri hanya duduk diam diatas kasurku sambil memperhatikan aku dan eomma mempersiapkan keperluanku.

“Apa kau yakin sudah membawa semuanya?” aku memutar mataku dan mengangguk mengiyakan. Ini sudah ke-3 kalinya eomma bertanya hal itu padaku.

“Dompet?”

“Sudah.”

“Charger?”

‘Sudah.”

“Keperluan mandi?’

“Sudah.”

“Bedak-bedak?”

“Sudah.”

“Lalu-“

“Sudah eomma, aku sudah menyiapkan semuanya. Eomma tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi.” Aku merasakan kepalaku ditepuk dari belakang, dan saat aku menoleh. Appa sudah berada di belakangku sambil tersenyum manis.

“Sampai kapanpun, kau tetap menjadi gadis kecil appa dan eomma.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pasrah, hahhh……terserah mereka sajalah.

Kami pergi menuju pelabuhan bersama Kyuhyun oppa. Heechul ahjumma dan Hankyung ahjussi sudah berangkat lebih dulu tadi. Dan mereka bilang, mereka akan menunggu kami dikapal.

.

Aku memandangi kapal pesiar dengan nama Cho group dengan gugup. Sialan, apa kapal ini tidak berlebihan. Maksudku, Ya ampun…Ini terlalu berlebihan. Kapal ini terlalu besar kalau hanya dipakai untuk melakukan party yang paling-paling hanya didatangi kurang lebih 300 orang.

Tapi…demi Tuhan. Kita hanya berlayar 2 hari dan kita akan menggunakan kapal super megah ini? Astaga, Heechul ahjumma memang keterlaluan. Apa ya kira-kira pendapat eomma dan appa? Aish, mereka pasti keluarga yang boros.

“Hey, kenapa kita berdiri diluar terus? Apa kau tidak ingin masuk?” aku menoleh, menghadap Kyuhyun oppa yang saat ini berada di sampingku. Loh, kemana yang lain? Perasaan aku kemari bersama Ravi oppa, eomma, dan juga appa deh. Kenapa yang tersisa hanya Kyuhyun?

Aku menengokan kepalaku ke kanan dan kekiri, tapi aku tidak bisa menemukan mereka dimanapun. Aku kembali memandang Kyuhyun, dan dia saat ini menatapku dengan kening berkerut. Apa yang salah?

“Kau sedang mencari apa sih?” tanyanya bingung sambil ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kanan kiri, berusaha mencari apa yang kucari. Tapi, apa dia bodoh? Dia bahkan tidak tau apa yang kucari kan? Percuma saja dia menengok-nengokkan kepalanya sampe lepas juga. Ck, pabbo.

“Ravi oppa, eomma, dan appa kemana? Kok tidak ada?” tanyaku bingung. Aku sedikit menyipitkan mataku saat memandang Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dari pada diriku. Aduh, silau sekali sih?! Tidak bisakah matahari itu meredupkan cahayanya sebentar? Membuat mataku sakit saja!

“Ah, mereka sudah naik ke kapal dari tadi. Kau saja yang keasikkan bengong. Lagipula, kenapa kau kaget sekali melihat kapal ini, seharusnya, anak keluarga chaebol kim sudah terbiasa dengan tingkat kemewahan seperti ini bukan? Keluarga kalian bahkan lebih kaya dari pada keluarga kami.” Aku memutar mataku malas. Memangnya tidak boleh apa kalau aku takjub saat melihat kapal ini? Aku kan memang tidak pernah naik kapal pesiar sebelumnya. Bukannya katrok atau apa, tapi aku tidak ada kepentingan apapun sampai harus naik kapal pesiar segala.

Aku kembali memandang kapal pesiar dihadapanku dengan bingung. Aku tidak yakin aku sanggup mengikuti acara ini. Lihatlah, tempatnya saja sudah berlebihan seperti ini. Aku tidak yakin kalau pesta yang nanti Heechul ahjumma selenggarakan akan menjadi pesta sederhana. “Sudahlah, ayo kita masuk. Kita sudah terlalu lama berdiam diri. Disini panas.” Aku membiarkan diriku ditarik oleh Kyuhyun oppa menaiki kapal itu.

Aku memandangi sekelilingku dengan takjub. Sialan, ini benar-benar indah dan sangat mewah. Laut yang seharusnya biasa-biasa saja entah kenapa bisa terlihat begitu menakjubkan dari atas sini. Apa lagi fasilitas kapal ini yang sungguh…fantastis.

Kapal ini memiliki kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan yang sudah bisa kutebak sangat mewah dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar.

Naik kapal ini tidak akan membuatmu merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki 3 ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan. Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 300 kursi. Teater ini terdapat diburitan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap kelautan lepas. Dan yang pasti, itu semua terdapat di kabin paling atas. Benar-benar paling atas alias atap.

Pokoknya, semua yang ada disini adalah WOW. Aku tidak akan bertanya dari mana mereka bisa mendapatkan kapal semacam ini, akan aneh kalau aku bertanya tentang itu. “Kenapa dari tadi kau suka sekali melamun?Ayo kita kekamar. Aku akan menunjukkan kamar kita padamu.” Aku menurut saat ia menarikku menuju ke geladak bawah kapal, dan menuntunku menuju ke salah satu ruangan yang berada tepat di ujung kabin.

Waw, bahkan di dalam kapal, kamar ini memakai sisem pin? Ck ck ck, amazing. Aku mengintipnya yang sedang memasukkan pin, dan dia memencet tombol 100100 dan tadaaaaa, pintu terbuka. Hal pertama yang kulihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ranjang berukuran King Size yang berada di pojok tengah kamar.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, ada sofa, meja rias, meja kerja, lemari, kamar mandi tentu saja, dan yang pasti ada ranjang. Kamar ini bernuansa putih, mataku terasa sakit karena hampir semuanya berwarna putih, kecuali ubin dan dinding kamar yang baru kusadari kedap suara. Well, berarti kalau aku berteriak-teriak disini tidak ada orang yang akan mendengar kan dari luar?

Hmm, ada sebuah pintu geser juga yang menghubungkan kamar ini ke balkon yang tepat menghadap laut. Aku berlari esana, membuka pintunya, dan berjalan ke balkon dengan semangat menggebu.

Sreeeekkk!

“Hiiiiah!!!!! INDAHNYA!!!!” aku memandangi hamparan air laut dihadapanku dengan senang. Uuuuah, lautnya indah sekali. Apa lagi karena ada pantulan sinar matahari, efek-efek sinarnya yang terdapat di dalam pantulan air laut sungguh menambah kadar keindahan lautnya.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari perutku. “Kau suka?” aku mengangguk menanggapi pertanyaan Kyuhyun oppa. Tentu saja aku suka, tidak mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukai lautan. Pokoknya aku suka, aku pikir aku akan betah berada disini.

Eh tapi, dimana kamar Ravi oppa, eomma, dan appa ya? Apa mungkin Kyuhyun tau? Haruskah aku bertanya? Hmmm, “Oppa, apa kau tau dimana kamar Ravi oppa, eomma dan appa?” tanyaku penasaran. “Tentu saja aku tau, kamar mereka ada disebelah kamar kita kok. Aku sudah mengaturnya supaya kau tidak jauh-jauh dari keluargamu dan teman-temanmu. Kabin ini aku khususkan untuk keluarga dan teman-teman kita saja. Tamu-tamu lain akan berada di kabin lain.”

“Ah jinjja? Gomawo, kau baik sekali.” Aku terkikik saat Kyuhyun oppa menempatkan sebuah ciuman di tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukaannya, aduh kenapa dia suka sekali mengerjai leherku? Bagian itu sangat sensitive. Ck, dia pasti sengaja deh. Dasar namja mesum. “Ish oppa, berhenti mencumbuku. Ini bahkan masih pagi.” Ujarku resah sambil menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari rengkuhannya. Tapi bukannya lepas, pelukannya malah semakin kencang. Ck, dia kembali dalam mode menyebalkan lagi sepertinya.

“Diam dan nikmatilah. Arraseo?” aku akhirnya pasrah saat Kyuhyun oppa lagi-lagi menanamkan bibirnya di lekukan leherku, menciumnya dan menggigitnya sesekali. Aku sendiri memejamkan mataku dan memasrahkan tubuhku dalam rengkuhannya. Sesekali aku menggigit bibir bawahku saat ia menghisap leherku seperti vampire untuk mencegah desahan lolos dari bibirku. Aku tidak ingin, sesuatu yang yang tidak seharusnya kami lakukan malah jadi kami lakukan jika saja aku tidak bisa menahan diri dan membuat desahan lolos dari bibirku.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri, memberikan akses lebih untuk Kyuhyun, untuk lebih menjelajahi leherku. “Ahhhh.” Aku tidak mampu lagi menahan desahanku. Kyuhyun oppa semakin beringas menjamah leherku.

“O-oppa. Berhentih, k-kita harus ke atas sekarang. Engh-yang lain p-pasti sudah me-nunggu k-kita.” Sekuat tenaga aku mencoba untuk menjaga suaraku agar terdengar normal, tapi suit sekali, apa lagi saat Kyuhyun oppa mengigit leherku. Aduh, jangan sampai dia meninggalkan bekas.

Aku terseyum saat mendengar dengusannya. Ah, pasti dia kesal karena kegiatannya lagi-lagi terganggu. Hahahaha, mungkin dia memang ditakdirkan agar tidak bisa berbuat mesum padaku sebelum kami resmi menjadi sepasang suami istri. “Ck, kau selalu menggangguku. Baiklah baiklah, lebih baik kita keatas sekarang dari pada eommaku yang cerewet itu melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan.”

Kyuhyun oppa mengecup lherku lembut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan membimbingku untuk keluar kamar. Saat diluar kamar, aku bertemu dengan YoonHee eonni yang sedang berdiri di depan kamar seseorang. Kamar siapa ya? Apa mungkin itu kamarnya? “Apa yang kau lakukan eonni?”

“E-eoh, a-aku hanya lewat kok. L-lebih baik kita ke atas. Ayo.” Aku mengerutkan keningku bingung. Kenapa dia kelihatan gugup? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi baru saja aku mau bertanya lagi, tiba-tiba pinti di depan kami berderit terbuka.

“Eoh, chagi? Kenapa kau ada disini? Kenapa kalian tidak langsung keat-as.” Aku berniat menjawab, tapi urung kulakukan saat aku malah melihat Ravi oppa dan YoonHee eonni saling berpandangan. Tatapan keduanya saling menghujam, tapi yang membuatku bingung adalah…

Tatapan Ravi oppa pada YoonHee eonni. Ia terlihat marah, kecewa, kaget, sedih, entahlah. Tapi 1 kesimpulan yang aku dapat, Ravi oppa saat ini sedang menahan emosinya. Nah, lain lagi dengan YoonHee eonni, tatapannya seakan ia meminta maaf kepada Ravi oppa. Oh oh oh, apa sesuatu terjadi diantara mereka tanpa aku ketahui?

Aku terus memandangi mereka dengan sedikit menyelidik. Apa yah kira-kira yang terjadi diantara mereka? Apa mereka bertengkar? Tapi karena apa? YoonHee eonni dan Ravi oppa juga tidak mengatakan apapun padaku. Well, ini aneh. Baru saja aku ingin membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun oppa menyentak pinggangku pelan. Aku menoleh heran padanya, dan aku malah melihatnya menggeleng. Apa maksudnya? Dia tidak membolehkanku buka mulut? Tapi aku penasaran.

Aku kembali mencoba untuk berbicara, tapi lagi lagi Kyuhyun oppa menyentak lenganku kemudian menggeleng. “Jangan ikut campur urusan mereka sayang. Lebih baik kita pergi keatas. Ayo.” Aku mendengus pasrah saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menarikku menjauh dari sana. Untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan aku bisa melihat kalau YoonHee eonni memandang Ravi oppa frustasi, sedangkan Ravi oppa sendiri hanya memandang YoonHee eonni dalam diam. Tapi kalau kulihat dari sorot mata Ravi oppa, aku tau Ravi oppa sedang menahan sesuatu yang tidak kumengerti.

Aku berjalan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Kyuhyun oppa yang kelewat cepaat. Aduh, rasanya aku seperti diseret-seret.

“Hei, pelanlah sedikit! Tanganku sak-“ langkahku otomatis terhenti, “Kau, kenapa kau ada disini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kapal ini? Sialan, apa kau berniat membunuhku ditempat ini?”

Aku memandang yeoja didepanku dengan tatapan menyalang, yeoja itu membalas tatapanku sambil tersenyum ‘sok’ polos. Sialan yeoja itu. Apa dia ingin berakting? Aku lupa, disebelahku ada Kyuhyun oppa.

Aku bisa merasakan tatapan menghujam Kyuhyun oppa untukku dari sampingku, tapi aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku pada yeoja didepanku. Yeoja yang selama minggu ini sudah menguntit dan mengancamku terang-terangan. Yeoja yang ternyata baru kuketahui, kalau dia adalah mantan tunangan Kyuhyun oppa.

“Apa-apaan kau HwaYeon-ah? Kenapa kau berkata seperti itu pada Haneul? Dia bahkan tidak melakukan apapun padamu!” aku tersentak mundur saat tiba-tiba Kyuhyun oppa membentakku. Aku memandangnya kaget, dan dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Uuugh, sakit sekali.

“Apa-apaan sih oppa? Lepas” aku merintih, mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun oppa di pergelangan tanganku. “Akkh, s-sakit, lepash!” aku meronta, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan pergelangan tanganku, tapi hasilnya nihil. Siaan apa-apaan sih namja ini?

“Sudahlah kyu, kau menyakitinya jika seperti itu. Lepaskan dia, kasian.” Huh? Dia benar-benar sedang berakting rupanya, jelas-jelas dia senang kalau aku disakiti Kyuhyun oppa seperti tadi. Dia bahkan menginginkan kematianku. Kurang ajar! “Tapi dia menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tau kau yeoja baik-baik Haneul-ah, tidak mungkin kau melakukan sesuatu seperti yang dia tuduhkan barusan kan? Aku sangat mengenalmu.” Aku terperangah. Sialan, jadi Kyuhyun oppa sedang membelanya sekarang? Kyuhyun opa lebih membela yeoja itu dibandingkan aku calon istrinya sendiri.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lepaskan saja dia, mungkin dia hanya tidak suka dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.” Aku mengernyit, kenapa dia malah membuatku terlihat seperti yeoja pencemburu dan posesif? “Maaf soal itu, Haneul-ah. Dia memang sedikit kekanakan. Lebih baik kita keatas saja. Ayo, berjalanlah bersama kami.” Ajak Kyuhyun oppa lembut pada yeoja sialan itu.

Ya ampun, apa-apaan sih Kyuhyun oppa, jangan bilang kalau dia tidak percaya padaku. Aku menyentak tanganku yang dicengkramnya saat melihat perhatian Kyuhyun oppa beralih kepada yeoja sialan itu. “Hei, kau itu kenapa sih? Ayo kita keatas. Kita pasti sudah ditunggu eomma.”

Aku melangkah mundur, member bentangan jarak antara diriku dan dirinya. Aku menggeleng sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak mau keatas. Tidak jika bersama yeoja sialan itu!” aku melihatnya, aku melihat Kyuhyun oppa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan menggertakan giginya. Kenapa reaksi Kyuhyun oppa harus seperti itu? Apa mungkin…Kyuhyun oppa masih mencintainya? Masih mencintai yeoja itu? Mantan tunangannya?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan berbagai pikiran buruk yang saat ini menggelayuti kepalaku. “Jangan membantahku Kim HwaYeon, kau tau aku tidak suka dibantah.” Aku tetap menggelengkan kepalaku keras kepala, dan melangkah mundur saat ia melangkah maju untuk menangkapku.

“Apa yang kau lakukan?” desisnya marah dengan wajah merah padam. Aku memandang mereka berdua bergantian. Kyuhyun oppa saat ini sedang menahan amarahnya, aku tau itu. Tapi yeoja sialan itu, yeoja sialan itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Yeoja itu lagi-lagi menggumamkan kata ‘mati’ tanpa suara. “Mianhae, kyu. Mungkin aku harus pergi. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian” Sialan, peran apa lagi yang saat ini dia mainkan?

“Apa? Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini. Kau sama sekali tidak merusak apapun. Ini semua terjadi hanya karena sifat kekanakannya.” Aku menganga kaget. Apa Kyuhyun oppa baru saja membelanya lagi? Dan berbalik menyalahkanku? Apa Kyuhyun oppa baru saja memilihnya, disbanding diriku? Calon istrinya sendiri?

“O-oppa?” panggilku kaget. Tanpa sadar aku melangkah mundur saat melihat tatapan yang Kyuhyun oppa berikan untukku. Jelas sekali kalau Kyuhyun oppa benar-benar marah padaku, karena yeoja sialan itu.

“Kurasa, kau harus menenangkan pikiranmu.” Ujarnya datar.

Aku memucat, dengan cepat aku menggeleng. Kenapa semuanya malah jadi tambah runyam seperti ini? “Apa maksud oppa? Oppa, tidak sadarkah kau? Yeoja itu, mantan tunanganmu itu, dialah yang mengancamku! Dialah yang menguntitku selama kita berada di Jeju, dia juga yang sudah melukai lenganku kemarin!!!!” aku berteriak, melampiaskan seluruh ketakutan dan amarah yang sudah terkumpul didalam diriku. Aku merasakan mataku memanas saat melihat Kyuhyun oppa malah menggeleng dan menatapku tajam.

“Kau keterlaluan. Bagaimana mungkin bisa kau menuduh yeoja baik-baik sepertinya dengan tuduhan seperti itu? Ak tau kau takut. Aku juga tau kau cemburu. Tapi tidak begini caranya, au benar-benar membuatku kecewa. Kurasa aku harus memikirkan lagi ucapanku untuk memperistrimu. Kurasa kau belum cukup dewasa.”

“A-apa?”

“Kau sudah mendengarnya, dan aku tidak berniat untuk mengulangnya. Kau harus menenangkan dirimu sendiri kurasa. Aku akan meninggalkanmu sekarang.” Aku diam, membeku ditempatku saat melihat Kyuhyun oppa menjauh dari jarak pandangku bersama yeoja itu. Yeoja sialan yang saat ini sedang menatapku penuh kemenangan dengan seulas senyum mengerikan yang tersemat di bibirnya.

Ya Tuhan, apa aku baru saja…dicampakkan?

Aku merasakan tenggorokanku kering. Mataku memanas, dan saat aku menyadarinya, pipiku sudah basah oleh air mata. Sialan, dadaku sesak sekali.

Duk! Duk! Duk!

Aku menepuk-nepuk dadaku panic. Dadaku, aku tidak bisa bernafas. Tolong, tolong aku. Kyuhyun oppa, tolong aku.

“OMO HWAYEON!!!” aku jatuh terduduk di lantai yang dingin masih sambil menepuk-nepuk dadaku. Dadaku sesak, berkali-kali pula aku tersedak tangisanku sendiri. Aku mendengar langkah kaki berderap menghampiriku.

“Tidak tidak tidak. Bernafaslah dengan benar Hwayeon-ah, bernafaslah dengan benar!” aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak bisa, sulit. Itu terlalu sulit.

Ya ampun, aku tidak ingin mati sekarang.

“Yak! Lakukan sesuatu! Kau kan dokter! Bantu adikku! Kumohon, selamatkan adikku!” aku memandang Ravi oppa yang sedang menatap YoonHee eonni yang berdiam ditempatnya dengan mata basahku. Aku bisa melihat YoonHee eonni tersentak dengan mata terbelalak. “Nafas buatan! Berikan dia nafas buatan! Cepat!”

Dadaku naik turun dengan cepat. Kepalaku sudah terasa pening, dan aku mulai merasa semua yang berada di sampingku mulai membelah diri dan berputar-putar disekelilingku. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang menciumku, lebih tepatnya memberikan nafas buatan untukku. Ravi oppalah yang memberikan nafas buatan itu untukku. Aku terengah dengan tubuh lunglai di dalam pelukan Ravi oppa.

“Oh ya ampun sayang, kau membuat oppa hampir mati karena serangan jantung.” Aku diam, sama sekali tidak menanggapi ucapan Ravi oppa. Aku hanya memandang kosong mata Ravi oppa, dan tak lama kemudian, aku menangis. Aku menangis di dalam pelukan Ravi oppa, dihadapan YoonHee eonni.

“Shhh, tenanglah sayang. Kyuhyun hanya sedang terguncang. Harusnya kau tidak menuduh Haneul seperti itu sayang. Itu memang sedikit keterlaluan.” Aku memandang Ravi oppa terkejut. Dia mendengar semuanya? Dan sekarang dia juga tidak percaya padaku? “Aku mengatakan yang sebenarnya oppa.” Ucapku lemah.

“Tidak, kau hanya cemburu. Kyuhyun benar, kau masih sedikit kekanakan. Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Kau bahkan akan segera menikah.”

“Oppa juga tidak mempercayaiku?” tanyaku tak percaya.

“Mi-mianhae. Bukan begitu maksud oppa. Oppa hany-“ aku engangkat tanganku. Mengisyaratkan Ravi oppa ntuk berhenti berbicara. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Ravi oppa di tubuhku.

“Oppa tidak mempercayaiku.” Well, itu peryataan, bukan pertanyaan.

“Hwa-“

“Cukup! Aku pergi sekarang. Terimakasih.” Aku langsung berjalan gontai dari sana. Tak kuindahkan teriakan Ravi oppa dan YoonHee eonni yang mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku berjalan keluar kabin menuju geladak kapal. Aku memandangi laut itu dengan tidak berminat. Sialan, apa yang kulakukan disini saat ini?

Harusnya hari ini kami bersenang-senang. Harusnya aku menghabiskan waktuku untuk berkumpul bersama keluargaku dan keluarga Kyuhyun. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna. Tapi sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur karena yeoja itu.

Yeoja sialan yang terobsesi pada Kyuhyun dan berniat membunuhku. Yeoja siaan yang lebih Kyuhyun pilih dibaningkan diriku. Ya Tuhan, bahkan Ravi oppa juga tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa gunanya lagi aku disni jika tidak ada yang percaya padaku?

Harusnya dari awal aku tidak ikut. Harusnya dari awal aku tidak datang. Andai saja aku tidak datang, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan yeoja sialan itu…

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Aku tersentak kaget dan otomatis membalikkan badanku. Dihadapanku, yeoja sialan itu berdiri disana, dan menataku dengan mata menyorot tajam.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” tanyaku geram.

“Aku? Aku ingin kau mati!” aku memucat. Sialan.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku mati?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”

“Kau, kau sudah merebut Kyuhyunku! Kau sudah merebut kepunyaanku! Dan aku akan membunuh siapapun yang berniat mengambil Kyuhyun dariku, termasuk kau!” aku membatu saat tiba-tiba yeoja sialan itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari belakang punggungnya. Aku berjalan mundur saat ia berjalan maju, sambil menggenggam pisau lipat itu di tangan kanannya.

Aku terus melangkah mundur sampai akhirnya aku terpojok, aku sudah berada di ujung geladak, menempel dengan tiang pembatas.

“Terperangkap hah? Kukira membunuhmu akan sulit mengingat begitu banyak orang yang menjagamu. Tetapi ternyata, melakukannya sungguh sangat mudah. “

Aku memandangnya geram, saat ini ia sudah berada tepat dihadapanku dan ia sedang bermain-bermain dengan pisaunya di sekitar wajahku.

“Kupikir, Kyuhyun tidak benar-benar mencintaimu.”

“A-apa?”

“Ya, kukira Kyuhyun hanya menjadikanmu pelarian dariku.”

“Apa maksudmu?!”

“Yah, kau sudah melihat sendiri bukan. Kyuhyun bahkan lebih memilih mempercayaiku dibandingkan dirimu yang saat ini berstatus sebagai calon istrinya.” Aku terdiam. Yeoja ini benar, Kyuhyun bahkan lebih memilihnya dibandingkan aku. Apa aku benar-bena hanya dia gunakan sebagai pelampiasan semata?

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” aku membungkukkan tubuhku. Aku melihat kearah perutku, dan sebuah pisau menancap disana. Baju yang kukenakan sobek dan dipenuhi dengan darahku sendiri. Bau anyir memenuhi indra penciumanku. AKu tidak memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba teriakan orang-orang membuatku menengok.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” di sana, didepan sana. Kyuhyun oppa, Ravi oppa, dan YoonHee eonni berdiri disana sambil memandangku ngeri.Mungkin teriakan mereka membuat yang lain penasaran, tak lama kemudian, hampir semua orang menyusul kami. Aku bisa melihat eomma dan appa dari sini. Mereka terlihat ngeri. Terlihat, seperti akan segera pingsan.

Aku menatap perutku yang tertusuk kemudian mengalihkanku pada Kyuhyun oppa yang tengah memandangku dengan mata melebar khawatir dan kaget. Aku menatap mereka nanar, mereka…mereka yang tadinya tidak mempercayaiku.

“Aaaaarghh!!!!!!” aku berteriak saat tiba-tiba yeoja sialan itu menarik pisau itu dari perutku sambil berbisik lirih tepat di telingaku. “Kau pantas mati.”

Tubuhku linglung, dan saat aku sadar, aku sedang berada dalam posisi hampir jauh ke laut, hanya saja Tangan seseorang menggenggam tanganku, bukan tanganku, tapi lebih tepatnya gelangku. menahanku agar tidak tercebur kedalam laut.

Aku menengok, dan mendapati Kyuhyun oppa berada disana, menahan gelangku dengan sekuat tenaga. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya, dan ia terus menatapku. Sambil tersenyum menguatkan, padahal jelas-jelas ia menangis, menangis untukku…

Aku memfokuskan tatapanku pada Kyuhyun oppa, mengesampingkan perasaan sakit di perutku, dan adrenalinku yang terpacu. Aku tidak bisa berenang. Aku tidak yakin aku akan selamat. Aku menengok kebawah, dan yang kulihat hanyalah air laut yang beriak akibat tekanan kapal.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” aku kembali menatap Kyuhyun oppa, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatapku dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” aku mencobanya, tapi aku tidak bisa. Aku putus asa, dan aku menangis.

“Aku tidak bisa!” isakku lemah, aku mencoba menggapai tangannya, tapi sia-sia.

“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” teriakku putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahaku untuk menggenggam tangan Kyuhyun oppa tidak berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Aku memandang Ravi oppa yang juga menyerukan tangannya kebawah. AKu berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi aku gagal.

Perutku mulai terasa semakin sakit. Aku merasa pusing, dan semakin lemah. Tanganku gemetar, dan mataku mulai berkabut.

“Aku tidak bisa oppa.” Aku memandang mereka semua dengan air mata bercucuran. Ya ampun, apa hidupku akan berakhir saat ini? Aku melihat eomma dari bawah sini sedang menangis histeris di pelukan appa. Appa sendiri menatapku khawatir.

Aku tidak kuat.

“Mianhae.” Gumamku pelan saat aku merasakan gelang ditanganku akhirnya putus. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap mereka. Mereka semua yang berada diatas kapal, yang tengah menatapku dengan mata membulat besar dan air mata berderai.

Aku bisa melihat dari tempatku sekarang, kalau Kyuhyun mau melompat, tapi ditahan oleh keluarga kami. Aku melemparkan senyum terakhirku untuk mereka, dan memejamkan mataku. Memasrahkan diriku sepenuhnya pada-Nya.

Kalau kau memang ingin memanggilku sekarang, aku siap. Tapi seandainya aku boleh memilih, aku tetap ingin berada disini, bersama dengan orang yang aku cintai. Bersama orang yang aku sayangi. Kumohon…

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

“HWAYEON-AH!!!”

“HWAYEON!!!!”

“ANAKKUUUUUUUUU!”

“PUTRIKU!!!”

“TIDAK HWAYEON, TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

BYUUURRRRRR!!!!!

Aku mendengar teriakan dan tangisan mereka semua. Sampai akhirnya semuanya hilang, tergantikan dengan suara riak air yang berada di sekelilingku.

Lukaku terasa seperti disayat kembali saat terkena air laut. Perih, uuugh sakit sekali.

Eomma, tolong aku. Appa… Ravi oppa, kumohon tolong aku. Aku sakit, siapapun tolong aku. Eonni

Uhuk!

Aku mencoba berenang keatas, tapi tidak bisa. Air menekanku kebawah, dan aku tebatuk. Tersedak air laut. Paru-paruku terasa begitu perih. Aku bisa merasa kalau aku akan segera mati karena aku bisa merasakan maut tengah mengintaiku. Ingin membawaku bersama mereka ke tempat dimana orang mati seharusnya berada.

Seluruh kenangan silih berganti memasuki benakku. Membuat dadaku semakin sesak, semakin membuatku merasa kehilangan sesuatu yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari hidupku…

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun oppa menuju ke Spicy Wings café. Kyuhyun oppa bilang kalau ia ingin makan disana bersamaku, berdua. Aku sendiri tidak menolah saat ia mengajakku ke sana.

Kyuhyun oppa memaksa untuk pergi kesana dengan berjalan kaki. Katanya sih ingin olahraga. Kami berjalan berdampingan dari kantorku menuju ke café. Jaraknya tidak jauh, hanya cukup berjalan 15 menit, dan kami sudah sampai.

“Ah tuan, nona, silahkan masuk.” Aku mengangguk saat manager cafeku ini keluar untuk melayaniku dan Kyuhyun.

Aku tersenyum kepadanya, dan mengikutinya bersama Kyuhyun dari belakang. Ia membawaku ke tempat paling pojok, dekat kaca, dan mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Kyuhyun duduk bersebrangan. Setelah kami memesan makan, pelayan pergi, meninggalkanku dan Kyuhyun yang terdiam.

“Ekhem.” Aku menengok dan menatap Kyuhyun yang baru saja berdeham.

“A-Aku, aku ingin memberikanmu ini.” Aku memandang kotak yang disodorkan Kyuhyun oppa dimeja dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanyaku bingung, sambil meraih kotak itu dan membukanya.

“Gelang.”

“Gelang? Untuk apa kau memberikanku gelang? Ini bukan ulang tahunku. Dan juga, ini bukan tanggal yang special bukan?” tanyaku bingung.

“Aku hanya ingin memberikannya padamu. Aku disuruh eomma memberikan gelang itu padamu, eomma bilang, gelang itu melambangkan ikatan cinta kita.” Aku mengangguk-ngangguk saja. Gelang ini cukup sederhana, karena gelang ini hanyalah gelang yang terlihat dibuat sendiri oleh tangan dengan benang-benang.

“Kau harus memakainya saat kita pergi besok. Eomma inin kau memakainya.” Aku mengangguk, kemudian tanpa basa basi memasukkan kembali kotak itu kedalam tasku.

“Arraseo, gomawo ne.”

“Ne, Cheonma.”

 

 

 

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

 

 

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

 

 

 

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

 

 

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

 

 

 

“Kau kekanakan!”

“Kau juga!”

 

 

 

“Aku mempercayaimu.”

“Kau memang harus mempercayaiku.”

 

 

 

“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

 

 

 

“Kau keterlaluan.”

 

 

 

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

 

 

 

“Kau pantas mati!”

 

 

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

-TBC-

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—