Tag Archive | Mino

Barista #SpecialProjectforMino

Title: Barista #SpecialProjectforMino

Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Song Mino (WINNER)

Genre: romance
Length: Oneshoot
Rating: PG-15

Ini FF special for Mino Birthday.

Happy Birthday Mino oppa ^^

-Sorry late post, ada sedikit masalah, mian- *bow*

Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.

Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v

No plagiat.

No bash.

Jangan lupa comment

For Readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Mino POV*

Aku semakin mencintai pekerjaanku ini. Barista. Selain aku yang memang hobi membuat kopi, aku juga dapat melihat bermacam-macam kaum yeoja disini. Biar kusebutkan mulai dari hot mom, para sosialita, business women, pekerja swasta, remaja-remaja gaul, dan kaum yeoja yang paling langka adalah kaum yeoja yang dapat membuatku jatuh cinta. Well educated women, mungkin dia dari kaum ini. Dengan buku-buku besar dan tebal, laptop hitam yang setia dibawanya, alat tulis lengkap, semuanya dimasukkan kedalam ransel besarnya yang sudah mulai kusam dengan warna yang sudah mulai pudar dimakan waktu. Dia selalu datang sendirian. Dialah orang yang turut ambil andil kenapa aku makin mencintai pekerjaanku ini. “Ponytail” begitulah sebutanku untuknya. Rambutnya yang sebahu selalu dikucir satu, kacamata besar yang menutupi wajahnya yang kecil, dan juga bibir kecil yang jarang terbuka disini. Minuman yang paling sering dia pesan adalah vanilla latte. Aku juga bisa megetahui kalau dia ini adalah seorang coffeeholic. Aku paling suka saat tetesan-tetesan latte itu tertinggal dibibir atasnya. Membuatku ingin langsung menyesapnya. Ehemm, kembali fokus Mino. Oke, aku akan menceritakan “Ponytail” kembali. Sudah sebulan dia selalu datang ke café dimana aku bekerja ini. Dan sudah selama itu juga aku menyukainya. Tapi sampai sekarang aku belum pernah mengucapkan sepatah kata apapun padanya.

Ting ting

Bel dipintu masuk berbunyi. Jam 4, saat inilah “Ponytail” datang.

“Tolong 1 vanilla lattenya. Kamsahanida.” Pasti dia akan memesan minuman itu. senyuman yang ramah dan tutur katanya yang santun membuatku sangat gemas.

“Yak Mino, itu ada pesanan. Jangan lihat yeoja yang itu terus dong. Fokus.” teguran temanku itu membuatku berhenti memperhatikan “Ponytail”.

“Kalau memang suka, ajak bicara. Bukannya dipelototi terus. Dasar namja pengecut.” sindir temanku.

“Bukannya begitu.”

“Tapi?”

“Belum waktunya.”

“Kapan? Kalau kau tidak cepat, aku yang akan mendekatinya lebih dahulu.”

“Yak!”

“Sini, dia pesan vanilla latte lagi kan?”

Dia mengambil secarik tissue. Ditulisnya tissue itu “Hi, boleh kenalan?”, lalu dia menaruh tissue itu dibawah cangkir kopi yang “Ponytail” pesan.

“Kau ini.” protesku.

Dengan bantuan pelayan, vanilla latte plus tissue itu mendarat mulus diatas mejanya.

Dia menatap heran tissue itu. Tak lama dia menatap tajam kearahku. Apa salahku? Dia langsung meminum vanilla latte itu, dan kembali melanjutkan pekerjaan sibuknya.

Sudah cangkir kelima dari vanilla latte yang dia minum. Tak aneh, kan sudah kubilang kalau dia itu coffeeholic. Dia terlihat lebih lelah dan lebih galak hari ini. Wajahnya memang cuek, tapi tetap manis untukku.

Café sudah mau tutup, dan dia ketiduran sejak 1 jam yang lalu. Kasihan, bahkan 5 cangkir kopi tak mempan untuk menahan kantuknya.

“Mino, coba bangunkan dia. Kita ingin beres-beres.” perintah bosku.

“Modus, modus. Ehem.” ujar temanku dengan evil smilenya.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Kapan lagi kesempatan emas seperti ini akan terulang lagi? Aku menghampirinya dan mencoba untuk membangunkannya.

“Maaf, café kami akan segera ditutup. Nona, bisakah kau bangun?”

Dia terbangun, mukanya pucat, matanya sayu, dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Perlahan darah segar keluar dari hidungnya dan kesadarannya dirinya juga hilang. Astaga, harus apa aku ini?

*Mino POV end*

*Author POV*

Mino langsung menggendong “Ponytail” kerumah sakit terdekat.

“Dia kelelahan. Sebaiknya berikan waktu baginya untuk rehat dulu sejenak. Dari apa yang kulihat, dia itu sering sekali minum kopi. Apa kau tidak tahu kalau dia punya masalah magh? Jangan biasakan dia untuk minum kopi terus, sudah maghnya terganggu, waktu tidurnya pun ikut terganggu.”

“Iya dok, saya akan lebih menjaganya lagi.”

“Aku mau tanya, apa namanya benar-benar Ponytail?”

“Akh, itu hem… panggilan sayang.”

“Oh.. kalian pasangan yang lucu juga ya.”

Mino tertawa, pasangan? Ternyata dokter juga merestui Mino untuk dekat dengan “Ponytail”.

“Kalau begitu, saya permisi. Kau sudah boleh menengoknya.”

Mino pun berjalan mendekati “Ponytail”  duduk disisi kasur.

“Sudah sadar?” tanya Mino pelan.

“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.

Mino tersenyum. Baru kali ini dia lihat bagaiman cantiknya “Ponytail” dengan rambut yang digerai, dan kacamata culunnya yang dilepas.

“Kau pingsan saat dicafé tadi.” ucap Mino menjelaskan.

Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Apa kau ingin kubelikan sesuatu?” tanya Mino mengalihkan topic.

“Aku ingin pulang.” pintanya singkat.

“Perkataanya sangat singkat dan cuek. Apa seperti ini dia sebenarnya?” tanya Mino dalam hati.

“Mr. Barista, bisakah aku pulang?” deliknya tajam.

“Mr. Barista?” Mino seakan tidak setuju jika dia memanggilnya dengan panggilan itu.

“Wae? Tidak suka? Kalau kau tidak suka dinamai seperti itu, kenapa kau menamai aku “Ponytail”? Sangat kekanakan.” ketusnya.

“Ponytail” tidak setuju dengan gelang pengenal yang ada ditangannya. Nama apa yang tertulis disini?

“Habisnya..” Mino berusaha membela diri.

“Yoonhee, Jung Yoonhee.” ternyata dia sudah tahu apa yang Mino maksud.

“Aku Mino. Song Mino.”

Yoonhee tersenyum. Kepribadiannya lucu, bisa berubah dengan cepat.

“Aku ingin pulang.” Yoonhee turun dari tempat tidurnya.

“Biar kubantu.”

Mino mengantar Yoonhee pulang. Biarpun hanya dengan jalan kaki. Tapi Mino sangat suka saat-saat seperti ini.

“Sudah sampai.” Yoonhee berhenti didepan rumah yang cukup besar.

“Kau tinggal sendiri?” tanya Mino heran.

Yoonhee hanya mengangguk.

“Kalau begitu. Selamat malam.” Mino mengucapkan salamnya itu.

“Sampai jumpa, Mr. Barista.”

*Author POV end*

*Mino POV*

“Sampai jumpa, Mr. Barista.”

Yaampun, ini adalah hari terbaik dan akan selalu menjadi hari terbaik.

Keesokan harinya, seperti biasanya aku menunggu kapan pintu itu akan dibuka oleh Yoonhee. Tapi, nihil. Hari ini dia tidak datang. Mungkin dia sedang beristirahat. Tapi hari esoknya, dan esoknya lagi. Batang hidungnya pun tak Nampak. Ini sudah hampir 8 bulan dia tidak kemari. Yoonhee-ya, kau dimana?

“Masih menunggu “Ponytail”?” tanya temanku iseng.

Aku hanya mengangguk. Aku sangat merindukannya.

“Dia sudah menikah.” ujarnya enteng.

“MWO?!”

“Aku bercanda. Hehehe..”

“Sekali lagi kau bercanda, aku akan menendangmu.” Ujarku marah.

“Damai. Kau dapat surat undangan.”

Dia menyerahkan secarik undangan. Warnanya coklat dan juga emas. Sangat elegan.

Tertuju: Song Mino

Ini undangan agar aku datang ke pembukaan perdana café itu. iya, itu undangan dari salah satu café yang baru buka didaerah ini. Saingan, mungkin.

“Kau datang?” temanku penasaran.

“Ini acara khusus untuk semua barista. Kurasa akan menyenangkan.”

“Kalau begitu, bersiaplah. Acaranya malam ini.”

Aku datang dengan tuxedo lengkapku ini. Café itu sangat besar dan membuat mataku teduh. Warna catnya dominan coklat dengan sedikit warna emas yang membuatnya tampak lebih elegan.

Ms. Ponytail

Begitulah nama café ini. Wait, apa?

“Masuklah. Ini tanda pengenalmu.” seseorang memberiku name tag yang bertuliskan namaku dan juga café asalku. Sungguh sangat resmi dan “mahal”.

Aku masuk, ada banyak sekali orang didalam, yang jelas tak kukenal. Barista dari café diseluruh Korea mungkin.

“Ini cappuccinonya.”

Seorang yeoja menyodorkan secangkir cappuccino. Dengan rapi, cappuccino itu bertaburkan bubuk granula yang membentuk kata-kata Hi!

“Apa, ini?”

Yeoja itu hanya tersenyum.

“Ne-neo, Yoonhee.”

Senyumannya makin lebar.

“Long time no see, huh?” akhirnya dia angkat bicara.

Kami berjalan keluar, menikmati taman yang ada dibelakang cafénya.

“Jadi, sudah berapa lama?” Yoonhee membuka percakapan.

“Apa? Kita tidak bertemu?” ujarku heran.

“Kau menyukaiku.”

Astaga, Yoonhee adalah yeoja yang sangat percaya diri. Bagaiman dia bisa tahu itu?

“Jawab.” kata Yoonhee dingin.

Lama tak menjawab, Yoonhee menertawakanku yang daritadi memang diam terpaku.

“Aku membuka café ini karena aku jatuh cinta terhadap seorang barista yang sering membuatkanku vanilla latte.”

Sebenarnya apa maksud dari semuanya itu? Apa dia sedang mengungkapkan perasaannya terhadapku?

“Hey, Mino sunbae, apa yang kau pikirkan?” Yoonhee memecah segala kegusaranku.

“A-ani.”

“Tenang, namja itu bukan kau.”

MWO?! Kau tahu rasanya seperti diangkat lalu dibanting keras-keras. Ini sakit sekali.

“Dia dosen yang mengajariku. Masih muda dan tampan. Aku berusaha agar masuk jurusan barista demi bisa bertemu dengan dia. Dengan rajin aku datang ke kampus, dan dengan rajin juga dia membuatkan vanilla latte untukku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengatakan bahwa aku mencintainya saat lulus nanti. Tapi apa mau dikata, 3 bulan sebelum kelulusan, dia menikah. Miris bukan? Dia bilang, aku itu hanya sebagai adiknya saja, tak lebih.”

Dengan senyum miring itu, Yoonhee kembali melanjutkan ceritanya.

“Aku sakit hati, pasti. Tapi aku tidak mau membuat diriku semakin terpuruk. Aku harus lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Itu mengapa aku sering berkunjung ke café dimana kau bekerja, dan saat itulah aku jatuh cinta.”

Aku serasa ingin tersenyum, dia..

“Jatuh cinta pada vanilla latte buatanmu.”

“Mwo-ya? Yak, Yoonhee. Kau benar-benar yeoja yang menyebalkan, tapi cantik.” rutukku dalam hati.

“Berkat vanilla lattemu, aku bertekad untuk membuat sebuah café sendiri. Aku mulai membangunnya dan belajar lebih giat lagi untuk membuat kopi. Alasan aku sering ke café mu adalah, untuk mensurvei minuman apa yang jadi favortinya. Bagaimana menurutmu?”

Dia memberikan pertanyaan itu. Kurasa kisahnya sudah berakhir.

“Ka-kau, mengagumkan.”

Dia tertawa, matanya berbinar. Kupandang dirinya yang sebegitu hebatnya dimataku.

“Lalu, aku bertemu seorang barista yang genitnya minta ampun…”

“Hah?”

Kami berdua bertatapan. Dia masih tesenyum. Senyumannya begitu jahil, aku sampai bingung, apa maksud dari semuanya ini.

“..kau, Song Mino.”

“Mwo?” tanyaku heran.

“Kaulah barista genit itu.”

“Bu-bukan begitu, a-aku..” Aku berusaha membela diri, tapi Yoonhee semakin keras menertawaiku.

“Mino sunbae…” suaranya mendadak menjadi serius. Mau apa dia?

“..aku haus. Minta cappuccinomu, ya.”

Dia menarik gelas cappuccino yang daritadi aku pegang.

“Yoonhee-ya..”

Cup

“Maaf, aku sudah tidak kuat lagi. Sudah lama aku menunggu untuk melakukan ini.” Aku menyesap tetesan-tetesan kopi yang tertinggal dibibir atasnya. Kalian tahu, kopi ini menjadi semakin manis dibibirnya.

“Mi-mino sunbae..” Yoonhee kaget, dibulatkan kedua matanya yang memang sudah bulat itu. Dia belum bisa terima atas apa yang aku lakukan tadi.

“Shhtt..” aku menahan birnya yang menganga dengan telunjukku.

Cup

Aku mengecupnya untuk kedua kalinya. Rasanya lebih enak, dan lebih manis daripada kopi. Awalnya hanya kecupan sekarang menjadi lumatan. Beruntungnya aku, Yoonhee tidak mengelak dan justru mengikutinya.

“Mi-mino sunbae..” nafasnya sudah tersenggal-senggal. Membuatku ingin menciumnya kembali.

“Oppa saja, tolong.” pintaku.

“Oppa, apa-apaan ini?” ucapnya lirih.

“Aku hanya ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Bagaimana?”

Dia menatapku dengan tatapan marah. Lama, dan… menggoda/?

Cup

Yoonhee menciumku. Omo! Aku benar-benar menyukai yeoja ini.

“Yoonhee-ya..”

Kulepaskan ciuman itu. Yoonhee seperti tidak bisa menahan ciuman panas kami itu. Well, sebenarnya aku yang belum bisa tahan. Takut hal-hal yang begitu akan terjadi secepat ini.

“Kau itu lebih dari sekedar vanilla latte bagiku.” ujarnya diakhir ciuman kami.

“Maksudmu?”

“Oppa pabbo, masa aku harus bilang ini sebelum kau.” ucapnya jengkel. Aku tahu apa yang dia maksud ini.

“Kau menyukaiku?” tanyaku ragu.

Dia mempoutkan bibirnya. Pasti tadi aku salah bicara.

“Dasar namja tidak peka.” ujarnya dengan nada menghina.

“Jadi maksudmu membawaku kesini adalah untuk..”

“Wae? Kau tidak suka?”

Aku menggeleng.

“Jadi, sudah berapa lama?” pertanyaan diawal percakapan kami diulang olehnya.

“Love at the first sight.” jawabku mantap.

“Benarkah? Jadi bukan aku saja ternyata.” Selalu, kata-katanya membuatku penasaran.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Me, too. Love you at the first sight.”

Kami berdua tersenyum. Hari ini, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Kudekap dirinya kedalam back hugku. Dan kami menatap langit malam yang disinari bintang.

“Jadi kapan?” Yoonhee kembali bertanya.

“Apanya?”

“Kau menikahiku.”

“Mwo? Kau ini. Kita baru berpacaran.” Gadis ini, benar-benar.

Dia menghembuskan nafas beratnya.

“Berjanjilah kalau kau adalah namja yang akan menikahiku. Promise?”

Kali ini aku merasa, kalau apa yang dikatakannya adalah kata-kata yang serius, dan juga tulus.

“Ya, aku berjanji.”

Aku mengusap kepalanya, lalu mengecupnya.

“Saranghae Mr. Barista.” ucapnya sembari menatapku.

“Ne, saranghae Ponytail.”

“Oppa, jangan Ponytail. Panggil aku Ms. Barista saja.”

“Arra, saranghae Ms. Barista.”

“Nado oppa, nado saranghae.”

—END—

Advertisements

That Trick~

Tittle   :  That Trick~

Cast   :

Cho Hyo Jin

Song Minho( Mino Winner)

Other :

Nam Ji Hyun (OC)

Genre : romance, drama

Author : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~

Ratting : G

Warn  : panen typo, drama gagal, gak rame

Anyeong readers!!

Kembali lagi berjumpa dengan Author 2~~ yeah~~

Seperti biasa Author datang dengan FF Special Project..

Kali ini untuk Mino Winner!!

Oh iya, anggep aja lagi musim gugur yh^^

Jika kalian merasa aneh dengan cerita ini, tolong abaikan..

Ini keluar asli dari otak Author 2..

Semoga readers suka sama FF Author^^

Minta commentnya ~

Happy Reading~~

—————————————————————————————————–Musim gugur kali ini sedikit berbeda.

Itulah yang dipikirkan seorang namja bernama Song Minho atau lebih sering kita panggil Mino.

Ia bangun dari tidurnya. Dilihatnya keadaan kamarnya. Semua masih sama tak ada yang berubah.

Kecuali satu..

Tak ada lagi yeoja yang menemaninya.

*flashback on*

“Kurasa kita sudah tak mungkin bersatu. Aku merasa aku tak dapat memberikanmu kebahagian.” Ujar Mino sambil menatap Hyo Jin dalam. Yang ditatap hanya mampu menangis hebat. Ia tak menyangka akan seperti ini.

“Aniya. Aku sangat bahagia bersamamu. Aku bahagia hanya dengan bersamamu. Tak peduli seberapa kasarnya dirimu. Aku tetap mencintaimu.” Hyo Jin menuntun tangan Mino pada pipinya. Ia tak ingin tangan ini berhenti memberikan belaian kasih padanya.

“Aku pun merasa seperti tu. Aku sangat nyaman denganmu. Tapi aku tak ingin kau terluka. Ayahmu tidak menerimaku..” Mino kini memeluk Hyo Jin dengan erat. Hyo jin semakin menangis.

“Saranghae, Minho”ucap Hyo Jin yang tak hentinya menangis dalam pelukan Mino. Mino pun tak dapat menahan air matanya yang membendung. Ia pun menagis tak kalah hebatnya dengan Hyo Jin.

“Na do saranghae. But now you can’t  be mine. So, wait for me. I promise.I’ll make you mine.. “ ucap Mino. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Hyo Jin menganggukkan kepalanya dalam pelukan Mino. Dalam hati Hyo Jin mengingat janji tersebut. Karna ia hanya milik Mino dan Mino hanya miliknya. Dan itu tak akan pernah berubah.

Kini mereka melepaskan pelukan mereka. Hyo Jin berjinjit untuk memberikan ciuman perpisahan.

Percakapan penuh tangis itu terhenti saat Hyo Jin pergi dari apartemen Mino yang selama ini ia tinggali bersama Mino.

Sedikit berbeda dengan kepergian Hyo Jin kali ini. Biasanya ia keluar untuk membeli bahan masakan dan akan kembali dengan tangan penuh belanjaan. Tapi sekarang ia pergi dan tak akan kembali ke tempat ini sampai Mino menepati janjinya. Itupun jika Mino dapat menepatinya.

Kepergian Hyo Jin diiringi dengan suara isakan tangis dari Hyo Jin dan Mino. Perpisahan yang begitu menyakitkan.

Mino yang hancur hanya bisa berlutut meratapi kejadian ini.

*flashback off*

Hanya dengan mengingat kejadian seminggu yang lalu itu selalu dapat membuat air mata seorang Mino jatuh.

Biasanya ia selalu menangis setiap pagi. Meratapi kenangan-kenangan yang pernah dilakukan bersama Hyo Jin.

Yah, Hyo Jin telah meninggalkannya. Meninggalkan kenangan indah yang pernah mereka buat selama 4 tahun ini.

Ayah Hyo Jin bukannya tak menerima Mino. Semenjak bersama Mino, Hyo Jin tumbuh menjadi yeoja yang mandiri dan rajin. Ia tak pernah merepotkan keluarganya. Walaupun perusahaan keluarga Hyo Jin merupakan perusahaan yang sangat berpengaruh di Korea Selatan.

Cho Corp. Nama perusahaan keluarga Hyo Jin yang sangat identik dengan perusahaan mafia. Dan Mino adalah Direktur disalah satu  cabang dari Cho Corp. Mana mungkin ia tak bisa mempercayai Mino untuk mengurus anaknya sedangkan Mino adalah salah satu orang kepercayaannya.

Alasannya adalah Hyo Jin akan segera dinikahkan secara sepihak dengan anak dari rekan bisnis ayah Hyo Jin. Bahkan sebenarnya ayah Hyo Jin tak menginginkan ini terjadi. Ia masih ingin melihat anaknya menikah dengan orang yang ia sayangi.

Tapi harapan itu hilang saat ia terjebak dalam percakapan yang sudah dirancang oleh Presdir Nam. Ia pun tak menyari bahwa ia sedang dijebak oleh rekan bisnisnya ini. Dan ia termakan oleh rekan bisnisnya sehingga mengharuskan Hyo Jin untuk menikah dengan anak tunggal nya. Itulah yang diketahui oleh Mino.

Sebenarnya perpisahan ini adalah rencana yang dibuat oleh ayah Hyo Jin dan Mino. Ini menjadi keputusan mereka karna dengan perpisahan sementara ini, Hyo Jin akan aman untuk sementara.

Tapi sebenarnya ada alasan lain kenapa Mino harus berpisah dengan Hyo Jin yang Mino tak ketahui.

.

Selama berpisah, Mino mempersiapkan semuanya. Mentalnya juga fisiknya. Ia sadar ia akan melawan perusahaan mafia yang hampir menyamai Cho Corp. Ia hanya ingin selamat dan dapat hidup bersama Hyo Jin dengan tenang.

Namun sayang, beberapa hari setelah berpisah Hyo Jin diculik oleh ank buah dari Presdir Nam.

Ia tak ingin mengecewakan ayah Hyo Jin dan Hyo Jin. Apalagi ayah Hyo Jin akan merestui mereka untuk menikah jika Mino berhasil membebaskan Hyo Jin dari anak Presdir Nam. Ia tak mau Hyo Jin bersama namja lain.

Dan sekarang merupakan H-1 sebelum penyerbuan. Mino sedang berada diruang rapat untuk membicarakan strategi yang akan mereka lakukan .

“Bagaimana ini? Nam Corp sudah mengetahui rencana kita? Ini gawat!” teriak salah seorang anak buah Mino.

“Apa? Bagaimana rencana itu bisa bocor? Baiklah, kita akan mengganti rencana kita. Mino, apa kau punya pendapat?” tanya ayah Hyo Jin pada Mino.

“Ada, Presdir Cho. Begini……” Mino menjabarkan rencananya. Dan diangguki oleh ayah Hyo Jin. Memang Mino adalah orang yang sangat pintar dalam merancang strategi. Hampir semua rencananya berhasil. Dan ia yakin, dengan rencana ini ia akan membebaskan Hyo Jin.

Tunggulah, Hyo Jin. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Dan akan kubuat kau menjadi milikku-batin Mino.

*next day*

Seperti yang sudah direncanakan, semua anggota kelompok mafia Cho sekarang telah bersiap-siap. Seperti biasa Mino lah yang memimpin mereka.

Mino kini berada diruangannya. Ia duduk dengan relax. Ia menjernihkan pikirannya. Ia sangat gugup. Ini pertama kalinya ia gugup saat pertempuran. Biasanya ia selalu percaya diri.

Terlalu banyak kemungkinan yang menghampiri kepalanya.

Pertama, ia berhasil namun Hyo Jin terbunuh saat melarikan diri. Ia tak ingin itu terjadi.

Kedua, Hyo Jin berhasil lolos tapi ia terbunuh. Ia rela saja seperti itu. Tapi ia masih ingin bersama Hyo Jin.

Ketiga, ia dan Hyo Jin terbunuh. Err.. ia tak mungkin memilih itu walaupun terdengar sedikit romantis.

Keempat, ia dan Hyo Jin lolos tapi tak jadi menikah. HELL NO!!

Kelima, ia dan Hyo Jin lolos dan menikah lalu hidup dengan bahagia. Nah, itulah yang ia inginkan.

Bagaimana pun caranya ia akan berusaha sekuat tenaga. Ia tak keberatan untuk terbunuh asal Hyo Jin selamat.

Awalnya ia bingung kenapa pertempuran ini sedikit berbeda. Tidak diperbolehkan menggunakan senjata. Harus dengan tangan kosong. Tak seperti biasanya. Tapi mau bagaimana lagi. Ini demi masa depannya.

.

Dan pertempuran pun dimulai

Kini pasukan dari grup Cho mulai membantai pasukan dari grup Nam di markas besar Presdir Nam. Mino yang menjadi pemimpin mulai memukuli orang-orang yang menghampirinya. Yang ada dibenaknya kini hanya Hyo Jin.

Awalnya memang semuanya dapat terkendali. Tapi, semakin lama pasukan dari grup sebrang semakin banyak. Mino mulai kelelahan sehingga ia kehilangan konsentasinya. Dengan mudah salah saru anak buah Nam Corp memukul Mino hingga terjatuh. Ia berusaha berdiri namun usahanya gagal karna diinjak dan dipukul dengan brutal.

Ia berusaha membebaskan diri. Saat mendapat celah, ia berlari dengan sisa tenaganya. Tak peduli dengan tangan dan kakinya yang seakan remuk. Ia hanya ingin Hyo Jin selamat.

Ia berhenti berlari di depan sebuah pintu emas yang merupakan tempat penyekapan Hyo Jin. Tanpa pikir panjang ia membuka pintu tersebut.

BRAK

Pintu terbuka. Mino geram melihat apa yang ia lihat. Hyo Jin terduduk di kursi kayu lalu badannya diikat. Mulutnya pun di lakban.

Tanpa pikir panjang ia berlari menuju Hyo Jin. Tapi tak ia sadari seorang namja telah bersiap dibalik pintu dengan sebuah alat pukul.

Saat Mino berhasil masuk ruangan tersebut segera namja itu memukul Mino tepat dikepalanya. Hyo Jin berteriak namun tertahan oleh lakban itu. Hyo Jin menangis melihat Mino begitu kesakitan.

“ARGHHH” Mino makin mengerang kesakitan. Namja itu tak berhenti memukulnya. Tapi beberapa detik kemuadian Mino berhasil membalik keadaan. Kini ia memukul namja itu dengan sedikit keras. Tak mau mebuang waktu ketika namja itu sudah lemas, Mino segera menuju Hyo Jin.

Dibukanya lakban pada mulut Hyo Jin. Dan dilepasnya tali yan mengikat erat tubuhnya. Hyo Jin tak berhenti menangis. Kini ia memeluk Mino dan meraba badan Mino yang penuh luka *Hyo Jin modus*

“Kau tidak apa-apa, Hyo Jin?” tanya Mino yang memeluk Hyo Jin. Yang dipeluk hanya dapat memukul dada Mino pelan.

“Kau bertanya aku tidak apa-apa? Harusnya aku yang menanyakannya, pabbo! Hiks..” Hyo Jin memeluk erat Mino. Mino terkekeh sebentar lalu segera menggendong Hyo Jin ala bride style.

“Kita tak punya banyak waktu, princess. Kita akan keluar dan kau akan menjadi nyonya Song.” Ucap Mino. Hyo Jin hanya bisa tersipu mendengarnya.

Mino berlari menuju sebuah lorong besar. Lorong itu gelap dan menyeramkan. Dan lorong tersebut mengarah pada suatu hall yang besar dan gelap.

“Sial. Aku tak tau harus berlari kemana.” Ujar Mino. Ia berhenti berlari dan mulai berjalan pelan. Ia heran. Waktu datang tadi ruangan ini penuh dengan orang-orang, kenapa sekarang sepi sekali?

Dan tiba-tiba…

DUAR

“Selamat Ulangtahun, tuan Song!!!”

Lampu pun menyala memperlihatkan orang-orang yang sedang memebungkuk. Mino masih tak menyadarinya.

“Eh?”

Hyo Jin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Mino. Mino hanya bisa menampakan ekspresi bingungnya.

“Ini nih, terlalu sibuk dengan urusan perusahaan sehingga ulangtahunnya pun ia lupakan.” Ujar Presdir Cho yang datang bersama Presdir Nam. Eh? Kok?

“Hah? Saya tidak mengerti, tuan” Mino masih belum menyadarinya.

“Dasar. Memang pikiran akan kacau jika orang yang kita cintai tiba-tiba diculik. Kau pasti merasakan itu, tuan Song?” kini giliran Presdir Nam yang berbicara. Dan Mino hanya dapat mengangguk.

“Sebenarnya kau sedang ditipu oleh orang yang berpura-pura diculik.” Kata seorang perempuan yang tak ia kenali.

Mino meruntuki dirinya yang bodoh karna tak dapat mencium kejahilan dari yeojachingunya sendiri. Ia merasa dipermalukan di hari ulang tahunnya.

Mino yang sadar langsung memberikan deathglare  nya pada Hyo Jin yang kini hanya bisa tersenyum bodoh.

“Nona Cho Hyo Jin, bisakah Anda menceritakan ini semua padaku?”

GLUP

Hyo Jin menelan air liurnya dengan susah payah. Mino akan memanggil nama panjangnya jika sedang dalam keadaan marah besar.

“Sebenarnya…”

*flashback on*

“Appa, waktu Appa ulangtahun apa eomma memberikan hadiah?” teriak Hyo Jin saat memasuki ruangan Appa nya. Dan kebetulan di ruangan Appa nya ada Presdir Nam dan sahabatnya yang sudah lama ia tak temui, Nam Ji Hyun.

“Hyo Jin? Apa itu kau? Omooo!! Sudah lama kita tak bertemu!” teriak Ji Hyun heboh dan langsung memeluk Hyo Jin. Hyo Jin pun tak kalah heboh.

“Ji Hyun, aku sangat merindukanmu. Bogoshipeo~” Hyo Jin memeluk Ji Hyun erat.

“Aigo, Hyo Jinnie~ kau sudah besar sekarang. Haha.” Itu suara Presdir Nam.

“Anyeong, Nam Ajusshi. “sapa Hyo Jin dengan hormat.

“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan,eoh?” Presdir Cho mendekati Hyo Jin. Sontak Hyo Jin menjadi malu untuk mengatakannya.

“Jadi… sebenarnya Mino akan berulangtahun minggu depan. Aku tak tau harus bagaimana. Apa ada yang bisa memberiku saran?” tanya Hyo Jin

“Hmmm.. Ah! Aku ada ide! Tapi bagaimana pun juga kau harus menyetujuinya.” Kata Ji Hyun dengan semangat membara.

“Baiklah. Bagaimana?”

“Begini………….. . nah, bagaimana?” Ji Hyun selesai mengucapkan strateginya. Yang ada di ruangan semua nya mengangguk-angguk mendengar rencana Ji Hyun. Rencananya memang bagus sih.

“Bagaimana yah? Itu berbahaya. Aku takut Mino terluka. Lagipula kita butuh banyak orang. Darimana kita mendapatkannya?”

“Appa akan membantumu, Hyo Jin. Dan Appa rasa Nam Ajusshi bersedia membantumu juga. Benarkan? “

“Tentu saja.”

Dan rencana itu terjadi. Dimulai dari Presdir Cho yang menyuruh Mino untuk berpisah dari Hyo Jin.

*flashback off*

“Jadi kau anak Presdir Nam?” tanya Mino sambil menunjuk yeoja yang ia tak kenali tadi. Dan yeoja itu tersenyum.

“Aish, aku merasa dibodohi oleh yeojachinguku sendiri. Argh..” Mino menjambaki rambutnya dan menjauh dari Hyo Jin.

Nah, ini yang Hyo Jin takutkan. Mino sedikit sensitif. Ia takut Mino akan marah padanya.

“Mino, apa kau marah?” tanya Hyo Jin. Mino hanya diam

“…”

“Mino, jawab aku.”

“Menurutmu? Kau tau seminggu ini aku kacau karnamu! Aku khawatir padamu! Aku bahkan berfikir lebih baik aku mati daripada kehilanganmu!” Mino mulai berteriak marah sambil menangkup wajah Hyo Jin dengan kedua tangannya. Terpancar raut khawatir diwajahnya. Hyo Jin sedikit berkaca-kaca mendengarnya.

“Aku … minta maaf hiks”

Oh tidak. Kau membuatnya menangis Mino. Mino pun memeluk Hyo Jin erat.

“Kau tau aku sangat khawatir. Aku selalu menagis memikirkanmu. Aku tak ingin kehilanganmu. Jadi jangan pernah seperti ini lagi. Kumohon. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku.” Mino mengecup puncak kepala Hyo Jin dan mulai membelai rambutnya. Hyo Jin mengangguk pelan.

“Saranghae, Hyo Jin.”

“Nado saranghae, Mino”

“Ehem..” Suara itu mengganggu moment romantis Hyo Jin dan Mino. Mereka berdua melepaskan pelukannya saat menyadari itu adalah suara Presdir Cho.

“Jadi, kapan kalian akan menikah? Kurasa pria tua ini ingin cepat menggendong cucu secepatnya.” Lanjut Presdir Cho.

“Kalau Hyo Jin bersedia, saya akan melamarnya sekarang.” Kata Mino.

“Apa?”

“Kuanggap itu jawaban iya..” Mino langsung berlutut di depan Hyo Jin dan mengeluarkan kotak merah berisi cincin emas putih.

“Jadi, Cho Hyo Jin.. maukah kau menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anak kita,Menemaniku selamanya. Sampai maut memisahkan kita. Will you marry me?”Hyo Jin hanya bisa menutup mulutnya dan menangis bahagia.

“Yes, i will.” Semua orang bersorak riuh mendengarnya. Terutama saat Mino menyematkan cincin itu pada jari manis Hyo Jin.

“Terima kasih kau sudah menerimaku. “

“Bisakah kau melamarku dengan sedikit romantis? Bisa-bisanya kau melamarku dengan luka yang menghiasi wajah tampanmu? Apa itu sakit? Apa kakimu terluka? Apa tanganmu sakit? Aku khawatir padamu“ tanya Hyo Jin cemas. yah, walaupun ini cuma pura-pura tapi tak dapat Mino sanggah kalau acting anak buah Nam Corp bukan main-main. Wajah dan badannya sedikit remuk karnanya.

“Mianhae, tapi aku tak mau kau keburu diambil orang lain. Sebenarnya ini sakit sekali. Tapi saat melihat kau baik-baik saja, rasa sakitku hilang.” Kata Mino tulus. Hyo Jin kembali terharu mendengar perkataan Mino.

“Nah, Mino. Bagaimana jika sekarang kalian membuat ‘pesanan’ Appa. Sudah Appa siapkan dilantai 2.” Ucap Presdir Cho sambil mengedipkan matanya pada Mino. Mendapat lampu hijau dari sang –calon- Appa, Mino langsung menggendong Hyo Jin ke lantai 2 tanpa mempedulikan rengekan Hyo Jin.

BLAM

Pintu kamar dilantai 2 dibanting dengan keras.

“Ya!!Mino!!! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuka bajumu? Kenapa kau merobek bajuku? APPA!!!!” teriakan Hyo Jin membuat orang-orang yang berada disitu langsung tertawa dan mulai keluar dari bangunan itu. Mereka tak ingin menggangu kegiatan yang dilakukan mereka berdua.

Awalnya masih banyak yang berdiam diri di bangunan itu. Tapi setelah terdengar suara ..

“Ah!.. Nyahh.. Disituh.. Oppa.. faster.. faster.. Ahh~”

“Kau begitu nikmat. Ah, aku tak tahan lagi..”

“Nado.. faster.. harder.. deeper.. Akh!”

Mereka segera meninggalkan banguan tersebut yang dikelilingi suara desahan dan erangan.

Sudah, jangan ganggu mereka. lebih baik kita akhiri FF yang sangat nista ini. Jadi , bye-bye~

END

Hola~~

Bagaimana kesannya? Hha..

Author tau ini aneh dan tak masuk akal..

Gomawo yang udah baca~`

Jangan lupa comment nya yh^^

Sampai ketemu lagi di FF selanjutnya~~

~Cho Hyo Jin