Tag Archive | Junhoe

Avoid Me #SpecialProjectforJunhoe

Title: Avoid Me #SpecialProjectforJunhoe

Author: Jung Yoonhee

Cast:

  • Jung Yoonhee (OC)
  • Koo Junhoe (iKON)

Other cast:

  • Song Yunhyeong (iKON)

Genre: school life, romance

Length: Oneshoot

Rating: PG-15

Ini FF special for Junhoe Birthday.

Happy Birthday Junhoe oppa ^^

IKON cepet debut dong..

-Sorry late post, ada sedikit masalah, mian- *bow*

Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.

Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v

No plagiat.

No bash.

Jangan lupa comment

For Readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Author POV*

Ini adalah hari pertamanya untuk sekolah.

“Aku terlambat. Pabbo!” rutuk Yoonhee dalam hati.

Dengan larinya yang mengalahkan kecepatan angin/?, dia menuju halte. Beruntungnya bus yang ingin dia tumpangi itu belum pergi. Walaupun penuh, tapi dia mau tidak mau harus naik. Semua bangku pastinya sudah terisi. Dia berdiri didekat pintu belakang. Dibawah, dia melihat seorang namja sedang berlari juga.

“Seragamnya sama denganku.” gumamnya.

Namja itu pun naik dan berdiri disebelah Yoonhee. Tak lama, penumpang terakhir datang. Ekh, bagaimana bisa ahjussi mabuk ini masuk ke dalam bus? Sang supir yang tidak melihat langsung menutup pintu bus dan pergi. Yoonhee seketika menjadi risih dan juga takut karena ahjussi itu berdiri didepannya.

“Hey! Kau mau sekolah? Kemana? Ikut aku saja..” ujar ahjussi itu dengan nada mabuknya. Dia bergerak mendekati Yoonhee.

Seketika pandangan itu berubah menjadi putih. Namja yang satu sekolah dengan Yoonhee menghadang ahjussi mabuk itu agar tidak mendekati Yoonhee.

“Gomawo.” ujar Yoonhee sembari mengadahkan kepalanya ke atas. Namja itu memiliki kulit yang putih dan juga hidung yang mancung. Alisnya tebal dan juga dia tinggi. Tapi wajahnya terlalu dingin tanpa ekpresi. Apa dia juga risih? Tak membalas, Yoonhee kembali menghadapkan pandangannya lurus ke depan.

Koo Junhoe

Sebuah informasi yang dia dapat dari nametag yang dia pakai.

Citt..

Bus berhenti mendadak. Bisa dibilang Junhoe adalah namja yang sigap. Setelah bus berhenti mendadak, Junhoe langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Yoonhee yang hampir terjatuh. Yoonhee pun reflex memgang pundak Junhoe sebagai tempat topangan. Alhasil, mereka berdua berpelukan. Wajah Yoonhee menjadi merah padam, tapi wajah Junhoe masih sama, dingin tanpa ekspresi.

“Yak! Kau ahujussi yang mabuk turunlah! Dan juga kalian 2 anak sekolah, sudah tahu terlambat malah berbuat mesum didalam bus. Jaga sikap kalian, ini tempat umum.”

Teriakan supir bus membuat keduanya melepaskan pelukan tak sengaja itu dan mengambil beberpa langkah mundur. Yoonhee malu dan menyesal.

“Saat turun nanti, aku harus katakan ini padanya.” gumamnya sambil melihat wajah Junhoe yang masih dingin tanpa ekspresi. Dengan ekspresi Junhoe seperti itu, Yoonhee semakin merasa menyesal saja.

Bus pun berhenti. Yoonhee dan Junhoe segera turun.

“Maaf atas kelakuanku tadi. Aku tidak bermaksud dan terimakasih atas apa yang telah kau lakukan untukku tadi. Aku Jung Yoon..”

Junhoe menarik tangan Yoonhee dan segera menyebrang. Sekolah mereka memang bersebrangan dengan halte.

“Yoonhee, benarkan? Kalau di jalan itu fokus, bukannya berbicara terus.” ujar Junhoe sesampainya mereka didepan gerbang.

“Kalian berdua cepat kesini!” guru BK yang sudah mengawas didepan gerbang sekolah memanggil mereka untuk mendekat.

“Jung Yoonhee, kau itu anak baru. Masa baru masuk sekolah sudah terlambat? Dan kau Koo Junhoe, ini tahun ajaran baru. Kalian berdua berjanjilah untuk tidak terlambat lagi.”

“Ne.” ucap Yoonhee.

Guru BK itu menulis nama mereka dibukunya.

“Kalian sujud disitu. Angkat tangan kalian selama satu jam pelajaran. Ini hukuman.”

Mereka pun menurut atas apa yang guru BK itu mau.

“Junhoe sunbae..” panggil Yoonhee lirih.

Dari kejauhan terlihat seseorang mendekat. Wajahnya linglung seperti sedang mencari sesuatu. Dia pun menghapiri Yoonhee dan Junhoe.

“Apa kau jung Yoonhee? Aku Song Yunhyeong, kakak kelas yang akan membinamu selama MOS ini. Berdirilah.”

“A-aku?” Yoonhee bingung.

“Ne. ikuti aku. Anak baru harusnya tidak dihukum karena terlambat. Kalian harusnya dapat pembinaan. Itu kenapa aku mencari-carimu.”

Yoonhee mengikuti apa yang Yunhyeong katakan. Dia berdiri dan meninggalkan Junhoe.

Setelah beberapa langkah dan pandangan kearah Junhoe mulai pudar, Yunhyeong mulai terlihat risih.

“Apa kalian teman?” tanya Yunhyeong sedikit berbisik.

“Memangnya kenapa?”

“Dia itu orang yang dijauhi satu sekolah. Kau malahan berteman dengan dia.”

“Memangnya kenapa?”

“Aishh.. kau ini polos sekali. Dia itu anak yang dibuang orang tuanya.”

“Gosip?”

“Ani. Memang benar. Lihat saja, dia yatim piatu yang hidupnya sangat peyendiri.”

“Masa dengan hal seperti itu saja dia dijauhi satu sekolah?”

“Ya, tapi itulah kenyataannya.”

“Jadi aku harus apa?”

“Jauhi dia. Ada aku, kau bisa berteman denganku.”

Yoonhee menengok kearah Junhoe.

“Alasan sekuat apa yang bisa membuatnya dijauhi satu sekolah? Aku akui wajahnya memang dingin dan menyeramkan, tapi dia punya tangan dan tatapan yang hangat. Dia baik, kok.” ujar Yoonhee dalam hati.

“Hei kau melamun? Sudah jangan lihat dan pikirkan Junhoe lagi. Jauhi dia sebelum terlambat.”

“Ne sunbae.” patuh Yoonhee.

Semua kegiatan sekolah hari ini telah usai. Besok, sekolah yang sungguhan akan dimulai. Yoonhee belum mau pulang. Rasa ingin tahunya terlalu besar. Dijelajahinya sekolah baru yang besar ini.

“Sekolah sebesar ini dan murid sebanyak ini bisa-bisanya kompak menjauhi Junhoe. Apa perasaan Junhoe ya? Kalau aku jadi dia, aku akan bunuh diri saja.”

Langkah Yoonhee terhenti. Dia melihat Junhoe yang sedang duduk bersandar dipojok sekolah sembari mendengarkan lagu dengan earphonenya. Didekatinya Junhoe.

“Annyeong sunbae. Tak disangka ya kita bertemu lagi.” dengan senyumnya yang ramah Yoonhee menyapa Junhoe.

“Kau, lagi.”

“Ne, mengapa kau belum pulang.”

Junhoe melapaskan earphonenya dan juga memasukan HPnya kedalam saku celananya.

“Kau sudah diperingati Yunhyeong kan?”

Yoonhee mengkerutkan dahinya.

“Pe-peringatan apa?” ujar Yoonhee gugup.

Junhoe menarik tangan Yoonhee dan merapatkan tubuh Yoonhee ketembok.

“Yak, sunbae! Kau mau apa?” Yoonhee sedikit berteriak.

“Kau disuruh jahui aku. Kenapa tidak kau turuti?” Junhoe seperti mendesis. Bulu kuduk Yoonhee berdiri semua. Apa ini ancaman?

“Neo!”

Seseorang menarik lengan Junhoe dan memukulnya dengan keras.

“Yunhyeong sunbae geumanhae!” teriak Yoonhee histeris.

Junhoe tidak diam saja. Dia membalas tonjokan yang Yunhyeong hadiahkan baginya. Dan terjadilah baku hantam.

“Oppa, geumanhae!” Yoonhee menatap Junhoe dengan tatapan memelas. Diturunkannya kepalan tangannya yang mulai bergetar menahan sakit. Wajah keduanya sudah babak belur penuh lebam dan darah. Tapi yang paling parah Yunhyeong. Tak dapat dipungkiri, tenaga Junhoe memang lebih besar dibanding Yunhyeong.

“Ikuti apa kata Yunhyeong. Jauhi aku.” ancaman itu membuat Yoonhee kaku. Junhoe sangat mengerikan tadi.

“Argghh, Yoonhee-ya, bantu aku.” rintih Yunhyeong yang tengah rebahan dilantai.

“Sunbae, ini apa-apaan?” tanya Yoonhee marah.

“Kau marah? Aku ini sedang melindungimu dari Junhoe.”

“Sunbae, semua baik-baik saja sampai kau datang tahu.”

“Tapi tadi kau didorong ke tembok.”

“Itu tidak sakit. Karena aksi sok pahlawan sunbae tadi, lihat sekarang. Sunbae menjadi babak belur begini.”

“Tidak kok ini tidak sakit.”

Yoonhee meninggalkan Yunhyeong yang terlihat sangat kesakitan. Segala rintihan dan panggilan Yunhyeong diabaikannya. Menurutnya dia adalah namja yang sangat mengganggu.

Siang haripun berlalu. Kini malam pekat menyelimuti Kota Seoul.

“Yoonhee-ya, kita kedatangan tetangga baru. Panggil dia turun, dan ajak dia untuk makan malamm bersama dengan kita.”

“Ne, arraseo.”

Rumah Yoonhee terdapat rooftop yang memang dibuka untuk disewa.

Knock knock

“Nugusaeyo?” terdengar suara dari dalam.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Nugusaeyo?” sahutnya dari dalam.

“Aku anak pemilik rumah, eommaku mengajakmu untuk makan bersama dibawah.”

Klek

Pintu terbuka.

“Omo, Junhoe sunbaenim. Ternyata kau…”

Dia hanya diam memasang wajah dingin andalannya. Tapi bagusnya, Junhoe menurut dan langsung turun untuk makan malam.

“Jadi kalian satu sekolah.” sela eommaku saat makan malam sedang berlangsung.

“Ne. Saya berbeda satu tingkat dengan Yoonhee-ssi.”

“Aigoo, jangan terlalu formal. Oh, iya. Tadi namamu itu siapa?”

“Koo Junhoe.”

“Akh, benar. Kau ini tampan sekali. Yoonhee suka membicarakanmu.”

“Mwo?! Kapan eomma?” elakku. Dia berbohong.

“Bagaimana orang tuamu?” appaku yang daritadi diam akhirnya angkat bicara.

Aish, topic ini salah. Dia kan yatim piatu. Aku harus mengalihkan topiknya agar Junhoe tidak tersinggung.

“Omo, appa dia..”

“Kedua orang tuaku tinggal di London dan bekerja disana. Aku tinggal di Korea dengan nenekku, tapi saat aku masih kecil, dia sudah meninggal. Aku hidup sendiri dan hidup dengan uang pemberian kedua orang tuaku.”

“Kalau begitu, kau orang kaya dong.” sahut appaku antusias.

“Shtt.. appa. Apaan sih?” memang kedua orang tauku tidak ada yang beres. Usil.

“Bisa dibilang begitu.” senyum Junhoe malu-malu.

“Lalu kenapa kau tinggal ditempat seperti ini? Bukankah masih banyak tempat yang lebih baik?” appa mendadak serius.

“Aku.. ada seseorang yang sedang kuperhatikan.” ucapnya ragu-ragu.

“Anak kami, Yoonhee ya?” sela eommaku tiba-tiba.

“Eomma, appa. Sudahlah!” ujarku jengkel. Habisnya mereka membuatku malu.

Junhoe hanya tersenyum. Baru kali in aku melihat kalau Junhoe bisa tersenyum dan bersikap sehangat ini. Jadi yang selama ini namja yang tidak beres adalah, Yunhyeong. Awas saja.

Eomma dan appa daritadi hanya tersenyum usil sembari mendelik kearahku yang duduk besebelahan dengan Junhoe.

“Kalian cocok.” Eommaku melanjutkan tingkah usilnya itu.

“Eomma!” nada suaraku sedikit naik.

“Kamsahamnida Nn. Jung.” ucapnya dengan nada yang sedikit menggantung.

“Kamsahamnida untuk apa?” tanyaku heran.

“Makan malamnya. Ini enak sekali.”

“Ohh..” ucapku lega.

“Aku akan kembali kekamarku.” Junhoe pamit dan beranjak dari duduknya.

“Yoonhee, antar Junhoe.” perintah eommaku.

Aku pun mengantar Junhoe sampai keatas.

“Jangan baik aku.” ketusnya.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Selamat malam.” Dia langsung masuk dan membanting pintunya. Dasar namja kasar. Aku pun turun. Oke, sekarang lupakan dia dulu dan pergilah tidur, Yoonhee.

Surya pagi menyingsing. Sebagai anak sekolah yang baik, pagi-pagi aku sudah ke sekolah. Tidak ingin terlambat lagi. Hari ini eomma dan appaku pergi ke rumah nenek dan kakekku di kampung. Dan menginap untuk beberapa hari disana, meninggalkan aku di Seoul untuk menjaga rumah.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapa Yunhyeong ramah.

“Pagi sunbae.” jawabku malas. Kenapa juga harus namja ini yang sok ramah padaku?

“Kau ada acara malam ini?” dia mencoba merangkulku.

“Banyak. Aku sangat sibuk dirumahku.” aku menepisnya. Dasar genit.

“Biar kubantu. Dimana rumahmu.” Dia langsung mengahadangku dan memasang wajah antusianya.

“Tak perlu. Ada seseorang yang akan membantuku nanti.” jawabku angkuh. Walaupun dia antusias, sungguh itu membuatku ingin muntah.

“Siapa?” tanyanya penasaran.

Aku hanya menjawab seadanya. Siapa Yunhyeong ini sampai sebegitu giatnya menggangu hidupku. Serasa tak perlu dijawab, aku langsung meninggalkannya.

“Yoonhee..” panggil Yunhyeong dari belakang. Aku terus berjalan meninggalkannya. Sampai akhirnya suara menggangu itu tidak terdengar.

“Yoonhee-ya.” suaranya datar dan dingin. Membuatku tersentak.

“Junhoe sunbaenim, kau mengagetkanku.”

“Mian. Hari ini kedua orang tuamu pergi ya.”

“Iya.”

“Oh.”

“Hanya itu?”

Dia tidak menjawab. Dia malah meninggalkanku. Karma still exist.

Kini sekolah telah usai. Benar apa yang tadi aku katakan. Pekerjaan rumahku menumpuk. Mengepel, menyapu, cuci piring, masak, mencuci baju, menjemur pakaian.

“Aku pulang.” ucapnya datar.

Suara itu mengejutkanku yang sedang asik menjemur baju di rooftop.

“Sunbae, kau selalu mengagetkanku.”

“Jangan panggil aku sunbae. Junhoe saja.”

“Siro. Tidak sopan.”

“Kalau begitu oppa.”

“Baiklah. Mengapa baru pulang selarut ini? Ini sudah jam 7 malam.” Aku mulai mengomel seperti ibu-ibu.

Junhoe tidak menjawab. Ada sesuatu yang menarik perhatianku. Lebam-lebam kemarin belum hilang, tapi sudah ada yang baru.

“Kenapa wajahmu?” aku mendekati dirinya dan mencoba untuk merabanya.

“Jangan pegang.” ketus orang ketiga.

Yunhyeong tiba-tiba datang dan langsung menggangu kami. Spekulasiku, Junhoe dan Yunhyeong baru bertengkar, lagi.

“Sudah kukatakan. Jangan dekati dia. Kenapa kau masih mendekatiya?” Yunhyeong berjalan mendekati kami. Kurasakan Junhoe yang perlahan berjalan maju menghadang Yunhyeong agar tidak mendekatiku.

“Junhoe si penggangu kembali muncul. Kau jadi mengingatkan tentang kejadian menyebalkan 3 tahun yang lalu kan?”

3 tahun lalu, apa yang terjadi?

“Wae Yoonhee? Junhoe pasti belum cerita padamu. Jadi kita dulu itu teman yang sangat dekat. Sampai akhirnya aku jatuh cinta pada seorang yeoja. Sialannya yeoja itu menolakku dan lebih memilih Junhoe. Bukankah ini namanya penghianatan? Karena aku marah, aku dorong saja yeoja itu dari atap sekolah, dan bum.. dia tewas. Karena aku takut dipenjara, jadi aku hasut saja semua orang. Aku bilang kalau yang membunuh yeoja itu bukan aku tapi Junhoe. Dan semua orang percaya. Junhoe lah orang yang diintrogasi oleh pihak berwenang. Tapi karena buktinya tidak kuat, maka kasus ini ditutup. Sedihnya Junhoe tidak jadi dipenjara atau dihukum mati karena kasus ini. Tapi bagusnya, seluruh isi sekolah jadi takut dan menjauhinya. Hanya kau saja, Yoonhee sayang. Beraninya kau mendekati dia dan mengacuhkanku. Kurasa kau akan menjadi orang kedua yang mati karena jadi rebutan kami, ya?”

Kurasakan diriku mulai takut. Pembunuh? Seperti itu kenyataannya ternyata.

“Jangan pernah pegang Yoonhee!” bela Junhoe. Dia menempelkan tubuhku ke punggungnya. Dia mencoba menenangkanku.

“Tuh, kau lihat Yoonhee. Junhoe membelamu. Dia menyukaimu.” Yunhyeong sedikit berteriak.

“Jangan dengar Yoonhee. Jangan dengar.” ujar Junhoe lembut.

“Diam kalian! Yunhyeong sunbae pergilah!” pabbo, darimana keberanian itu muncul? Aku melangkah maju dan berdiri diantara mereka berdua.

“Yoonhee, aku menyukaimu.” ucap Yunhyeong lirih.

“Aku juga membencimu! Pergilah!” jeritku histeris.

“Tapi aku..”

“Kau bilang kalau Junhoe yatim piatu. Kau mengatakan yang tidak-tidak tentangnya. Tapi ternyata kaulah si namja bejat itu. Aku mau kau pergi. Ini rumahku, aku berhak mengusirmu.” Badanku serasa panas menaghan amarah. Mata berkaca-kaca. Aku hampir menangis. Masalah ini sangat sulit dan menguras segala mental dan keberanianku. Tidak, aku harus kuat.

“Pergilah! Aku tidak takut kau akan membunuhku atau apapun itu. Pergi!” lanjutku dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

“Baiklah. Nikmati hidupmu sebelum besok kau rasakan kepalamu pecah karena kudorong dari atap sekolah.” ancam Yunhyeong sebelum dia pergi.

Bruk

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Bruk

Junhoe berjalan mendekati Yoonhee dan mengangkatnya yang sedang terduduk dilantai. Didudukannya Yoonhee disebuah meja yang memang sudah ada di rooftop itu.

“Sudah kubilang jauhi aku. Kenapa kau begitu keras kepala dan tidak mau mendengarku? Apa kau gila?” bentak Junhoe.

“Aku juga sudah bilang kalau aku tidak akan menjauhimu.” jawab Yoonhee datar.

“Memang dasar yeoja keras kepala.”

Kata-kata itu membuat Yoonhee memasang tatapan marah kearah Junhoe.

“Memang kenapa? Ini hidupku. Tidak boleh ada yang mengaturnya.” Bentak yoonhee tak mau kalah.

“Iya, memang ini hidupmu. Hidupmu yang sebentar lagi berakhir karena didorong Yunhyeong dari atap sekolah.” suara Junhoe makin keras.

“Tunggu. Sebelumnya katakan padaku, apa benar yeoja itu mendekatimu?”

“Iya, tapi aku tidak mau. Sudah jangan pikirkan yeoja itu. Dia sudah ada dialam yang lebih baik. Sekarang berjanjilah padaku kalau besok kau akan mengatakan pada Yunhyeong kalau kau salah. Kau membelaku karena aku ancam. Berjanjilah untuk berkata seperti itu kepadanya. Setelah itu jauhi dan jangan pernah bersikap baik lagi padaku.” dipelankan suaranya itu. Tangannya mulai menyentuh tangan Yoonhee agar Yoonhee mau mendengar permintaanya itu.

“Tidak akan dan tidak akan pernah.” Ditariknya cepat kedua tangannya itu.

“Kenapa kau ini sangat kerasa kepala?!” Junhoe mulai naik pitam kembali.

“Kau yang keras kepala. Keras kepala dan aneh. Kau menyuruhku untuk tidak beersikap baik padamu. Tapi apa, kau tetap bersikap baik padaku. Sifat egoismu itu menyulitkan diriku.” bentak Yoonhee keras.

Junhoe mengerutkan dahinya.

“Menyulitkanmu? Maka dari itu, jauhi aku!”

“Cukup! Aku muak mendengar kata-kata itu. Memang kenapa? Kau takut kalau aku mati?”

“Iya.” ucap Junhoe lantang.

Tunggu, apa Junhoe tadi bilang iya.

“Mwo?” tanya Yoonhee heran. Dipelankannya suaranya itu.

“Iya, aku takut kau mati sia-sia ditangan Yunhyeong karena dekat denganku. Aku takut, aku tidak mau, dan aku tidak rela.” nadanya tetap nada bentakan.

“Bagaimana bisa namja sedingin kau punya persaan seperti itu?” hina Yoonhee.

“Iya, aku memang tidak punya perasaan. Kau sudah mengambilnya.”

“Jangan mengalihkan topic.” elak Yoonhee.

“Aku menyukaimu.” katanya cepat.

Yoonhee diam terpaku.

“Katakan sekali lagi.” pinta Yoonhee.

“Aku menyukaimu.” kali ini lebih lambat dan lebih keras lagi.

“Sekali lagi.” Yoonhee memintanya lebih.

“Aku menyukaimu!” dengan tulus dan keras, Junhoe meyakinkan Yoonhee.

“Baguslah. Ini.”

Yoonhee menyodorkan HP nya. Sesuatu membuat Junhoe diam tanpa kata.

“Wae?” tanya Yoonhee cemas.

“Ne-neo.. bagaimana kau merekam ini semua?”

“Jangan pedulikan bagaimana caranya. Yang jelas rekaman suara ini dan juga rekaman video dari CCTV dapat menjadi bukti yang kuat. Berterimakasihlah pada appaku karena sudah memasang CCTV disini.”

Hug

“Oppa, aku tidak bisa bernafas.” ronta Yoonhee.

“Sykurlah.”

“Iya, syukurlah aku tidak mati didorong Yunhyeong. Aku mati dipeluk olehmu.” ejek Yoonhee pelan.

“Saranghae.”

Cup

Dikecupnya kening Yoonhee, yeojachingu barunya itu.

“Nado, tapi sekarang lebih baik kita ke pihak berwenang dulu.“ Yoonhee menarik tangan Junhoe untuk turun dan pergi ke tempat tujuan mereka itu.

Tak lama kasus yang sempat ditutup ini mendapat titik terang. Yunhyeong mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Dan Junhoe mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan juga. Nama baiknya kembali, teman-temannya, dan terlebih Yoonhee.

—END—

Advertisements