Tag Archive | Jr. GOT7

Another Love #SpecialProjectforJackson

Title: Another Love #SpecialProjectforJackson

Author: Jung Yoonhee

Cast:

  • Jung Yoonhee (OC)
  • Wang Jackson (GOT7)

Other cast:

  • Park Jinyoung aka Jr. (GOT7)
  • Shin Misoo

Genre: romance, hurt

Length: Oneshoot

Rating: PG-16

Ini FF special for Jackson Birthday.

Happy Birthday Jackson ^^

Bisa dibilang ini sequel dari “When Love Change”

Kalau belum baca, baca dulu dong. #PROMOSI

-Sorry late post, ada sedikit masalah, mian- *bow*

Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.

Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v

No plagiat.

No bash.

Jangan lupa comment

For Readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Author POV*

Setelah acara suci itu selesai, tibalah pestanya. Yoonhee terlalu malas untuk ikut kedalam kebahagian orang lain yang membuatnya ingin menagis kembali. Tapi Yoonhee sudah berjanji untuk tidak menangis karena pria bernama Jinyoung lagi. Pikiran Yoonhee perlahan menjadi tenang setelah dia melihat ombak di pantai yang sama tenangnya dengan jiwanya sekarang. Pantai dimana Jinyoung mengajak Yoonhee untuk “mengaku” itu, telah disulam menjadi Beach Party Jinyoung dan Misoo.

“Satu.. dua.. tiga.. senyum!” tiba-tiba suara itu mengejutkan Yoonhee. Entah sejak kapan Jinyoung merangkul pinggangnya dan meminta sang photographer mengambil gambar mereka.

“Kau jelek. Sekali lagi ya, kali ini Yoonhee, kau harus senyum.” ejekan Jinyoung itu membuat Yoonhee tersenyum miring.

Foto kedua diambil. Jinyoung tersenyum dengan bahagianya, dan Yoonhee tak kalah “bahagianya”.

Acara “indah” itu pun berakhir. Jinyoung dan Misoo langsung pergi keluar negeri untuk berbulan madu selama.. yang mereka inginkan, mungkin. Sedangkan Yoonhee, dia berjalan gontai untuk pulang kerumahnya.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Serasa lupa bagaimana cara berjalan, yang jelas cara jalanku benar-benar aneh sekarang. Aku terlalu sibuk menangis sampai-sampai diperhatikan oleh orang banyak yang menyangka bahwa aku adalah wanita yang sedang mabuk. Mungkin seperti itu aku sekarang. Kalian tahu, ada yang salah dengan mataku sampai-sampai air mata ini tidak bosan-bosannya keluar. Menurutku, aku sedang benar-benar sangat sedih sekarang.

“Hee-ya, untuk apa diam diluar? Cepat masuk.” suara eomma membuatku otomatis menyeka air mataku. Ternyata dari tadi aku sudah berdiri didepan rumah tanpa masuk. Dia langsung menarik tanganku seperti anak 2 tahun yang ingin dibelikan balon oleh ibunya. Dan sekarang, aku didudukan dihadapan 2 orang asing.

“Ini teman eomma dari Hongkong. Keluarga Wang ini adalah pemilik perusahaan asing sekaligus sebagai investor terbesar bagi perusahaan kita.” ujar eommaku menjelaskan.

“Annyeonghaseyo.” sapaku sopan sembari membungkuk.

“Kau Yoonhee, kan? Bisa-bisanya gadis secantik dirimu bekerja sebagai dokter. Bukankah itu pekerjaan yang melalahkan?” ujar Nn. Wang. Dia cantik dan terlihat sangat muda.

“Kurasa ini memang bidang yang harus kugeluti.” perkataanku tadi membuat eomma dan Nn. Wang terkekeh. Sedangkan dia, namja itu. Anak dari keluarga Wang menatapku begitu dalam.

“Kau, menangis.” entah pertanyaan atau pernyataan, yang jelas ucapan singkat namja itu membuat kami bertiga terdiam.

“Maaf?” tanyaku bingung.

“Maaf atas ketidak sopananku. Aku Jackson Wang. Salam kenal.” dia tersenyum, tapi  senyumannya tidak mengalahkan rasa takutku padanya. Badannya yang kekar berisi dan mata bulat dengan tatapan tajam itu membuat aku segan menatap wajahnya lama-lama.

Jackson menatapku cukup lama. Eomma dan Nn. Wang hanya bisa melihat kami dengan tatapan pasrah.

“Pergilah ke taman. Setidaknya kalian harus bisa mengenal satu sama lain hari ini. Yoonhee, jadilah tuan rumah yang ramah.” perintah eomma itu memecahkan kecanggungan kami. Dengan patuh, aku berdiri lalu berjalan kearah taman, dan diikuti oleh Jackson, good boy.

Kami langsung duduk di sebuah ayunan gantung yang ada disana.

“Kau belum menjawabku tadi. Kau menangis?” ternyata tadi itu pertanyaan bukannya pernyataan.

“Iya, memang kenapa?” jawabku cepat tanpa merasa bersalah. Aku pabbo memang, dan terlalu jujur.

“Karena pernikahan Jinyoung itu?”

Jackson membuatku menganga. Darimana dia tahu tentang pernikahan Jinyoung?

“Eommamu yang cerita.” timpalnya. Aku tak membalas, hanya sedikit mengangguk. Aku terlalu takut untuk berbicara dengannya.Ditambah aku marah terhadap eommaku. Eomma mulut ember.

“Yoonhee…” Jackson memanggilku dengan lembut. Tapi panggilannya itu tidak membuatku sedikit lebih berani untuk menatap dan berbicara dengannya.

“Kita mulai dari awal. Aku Jackson Wang, pemlik salah satu perusahaan asing di Korea. Cukup terkenal dan cukup maju juga.” Jackson mengulurkan tangannya dan tersenyum, seakan menunggu aku membalasnya.

“A-aku Yoonhee Jung, salah satu dokter di rumah sakit swasta di Korea. Aku spesialis bedah.” balasku.

Jakson tersenyum. Entahlah, senyuman itu membuatku semakin ngeri. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari senyumnya itu.

“Kurasa aku datang dihari yang salah. Maaf telah mengganggumu. Aku pamit, Yoonhee. Jackson beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk pulang. Dasar aneh mengerikan.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Tak lama setelah keluarga Wang pamit, Yoonhee langsung masuk ke kamarnya. Eommanya pun mengintil dari belakang.

“MWO!!!”

“Iya, eomma menjodohkanmu dengan anak dari keluarga Wang, yaitu Jackson.”

“Kata siapa aku mau dengan namja seperti itu?!!”

“Daripada kau terus menangisi Jinyoung. Eomma hampir gila karena kau menangisi namja brengsek itu!” bentakan eomma Yoonhee membuat Yoonhee terdiam. Ada benarnya juga sih apa yang dia katakan itu.

“Apa ini karena hubungan perusahaan? Apa ini pernikahan atas dasar uang? Eomma menjualku ya?!” Yoonhee mulai berbicara seenaknya.

Alhasil eommanya marah karenanya.

“YAK! Hati-hati kalau bicara! Jackson sangat senang kalau eomma menceritakan tentangmu.”

“Mian eomma, tapi apa eomma ingin aku menikahi namja yang tidak kucintai?” dia menatap eommanya harap. Siapa tahu dia berubah pikiran, batinnya.

“Kata siapa? Kalian ada waktu kencan selama 3 bulan. Eomma yakin kau bisa jatuh cinta dengan namja setampan itu.”

“Cih! Siapa yang akan suka dengan namja mengerikan seperti itu?” ejek Yoonhee.

“Mengerikan dari mana? Selain tampan dia juga kaya. Rumornya dia belum pernah berpacaran karena dia adalah namja pemilih yang selektif.” ujar eomma Yoonhee penuh decak kagum.

“Selektif? Tidak ada yang mau kali.” lagi-lagi Yoonhee mengejek.

“Yak! Kau ini, jatuh cinta baru tahu rasa.”

“Tipeku bukan namja dengan badan kekar seperti itu. Kau ingin anak semata wayangmu ini remuk karena dipeluk olehnya?”

PUK

“Appo!”

“Dasar keras kepala. Sudah menurut saja.” eomma Yoonhee meninggalkan Yoonhee yang sekarang memikirkan semua perkataan eommanya tadi.

“Dia senang jika eomma menceritakan tentang diriku padanya, apa dia tertarik padaku? Mana mungkin. Aku jatuh cinta padanya? Mustahil. Setelah itu, kencan 3 bulan? Apa aku harus setuju?” Yoonhee membatin.

Tanpa persetujuan dan sepengetahuan, eomma Yoonhee mengambil cuti untuk anaknya itu selam 3 bulan agar kencan anaknya dengan Jackson tidak terganggu. Begitu juga dengan Jackson. Keeokan harinya, Kencan itu dimulai. Jackson menjemput Yoonhee. Dengan dandanan Yoonhee ala “baru bangun tidur” membuat Jackson tertawa cekikikan. Walaupun tertawa seperti itu, Yoonhee masih takut padanya. Mereka berpergian dan menikmati waktu-waktu bersama dan lebih mengenali satu sama lain lebih dekat lagi.

“Kau, menangis?” Jackson menatap Yoonhee yang sedang menundukan kepalanya di meja salah satu kafe.

Benar apa yang Jackson katakan, Yoonhee menangis. Yoonhee menyeka air matanya dan mencoba untuk tersenyum.

“A-ani.”

“Bohong.” dengan lembut Jackson mengusap bibir Yoonhee yang sedang tersenyum kecut. Sangat tidak pantas bagi Jackson senyuman dari Yoonhee itu.

Yoonhee merona, baru kali ini dia disentuh seperti ini. Senyumannya menghilang berganti dengan bibir bergetar yang seaakan ingin mengatakan sesuatu. Dia malu. Sama dengan Jackson, dia juga belum berpacaran. Sekalinya jatuh cinta malah ditinggal menikah.

“Karena Jinyoung lagi?”

Yoonhee kembali menundukan kepalanya dan melanjutkan tangisannya.

“Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau ceritakan siapa Jinyoung itu?”

Yoonhee tidak menjawab pertanyaan Jackson itu. Menurutnya itu lebih pantas untuk tidak dijawab.

“Baiklah jika tidak dijawab. Aku tidak akan memaksa. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

Belum 5 jam mereka berkencan, tetapi melihat Yoonhee yang menangis membuat mood Jackson berubah seketika.

Keesokan harinya mereka mereka menyusuri sebuah mall. Yoonhee pun kembali menangisi Jinyoung secara tiba-tiba. Sama dengan hari selanjutnya, selanjutnya lagi dan selanjut selanjutnya lagi. Bukan salah tempatnya, perasaan Yoonhee belum bisa tenang saja.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, dan hampir satu bulan. Hari-hari Jackson diwarnai oleh air mata Yoonhee. Siapa lagi kalau bukan menangisi Jinyoung?

Hari ini, hari terakhir dibulan pertama. Jackson hanya mengapel di rumah Yoonhee saja.

“Masuklah, kau boleh masuk ke kamar Yoonhee. Dia terlihat tidak sehat.” eomma Yoonhee membawa Jackson kekamar Yoonhee.

Jackson melihat Yoonhee yang sedang tertidur menyamping.

“Yoonhee, ini aku. Aku menganggap 1 bulan ini sia-sia.”

Yoonhee membalikkan badannya menghadap ke arah Jackson.

“Astaga, matamu kenapa!?” Jackson kaget melihat Yoonhee dengan mata bengkaknya itu.

“Aku menangis semalaman. Maaf aku tampil jelek dan tidak pantas dihadapanmu.” sesal Yoonhee.

“Jinyoung lagi?”

Yoonhee kembali tersenyum kecut. Siapa lagi namja yang dapat membuat Yoonhee menangis seperti ini?

“Aku kemarin tidak sengaja memikirkannya lalu menangis lagi seperti orang gila.” Yoonhee sudah biasa mengatakan mengapa dia menangis. Bagi Yoonhee Jackson sudah seperti oppanya saja. Tapi Jackson, dia tidak pernah marah walaupun yang Yoonhee pikirkan hanya Jinyoung dan selalu Jinyoung, bukan dirinya. Ada sedikit hasilnya sih 1 bulan ini. Status mereka dibulan pertama = teman curhat.

“Aku ingin minta ini, jangan pernah menangisi namja itu lagi. Setidaknya tidak dihadapanku. Jika kau ingin menangisinya, kau harus berjanji tidak sampai membuat matamu menjadi seperti ini lagi. Arra?” Jackson mengusap rambut Yoonhee yang kembali membelakangi Jackson. Perlahan dia juga mengusap punggung Yoonhee. Yoonhee yang sempat menggeliat tak terima akhirnya bisa tenang dan kembali tertidur.

Cup

Jackson mengecup kelopak mata Yoonhee.

“Semoga mata besarmu cepat kembali. Wajah cantikmu kembali muncul. Kita bisa berjalan-jalan berdua lagi…”

Cup

Dikecupnya kelopak mata yang satu lagi.

“…saranghae.”

Jackson keluar dari kamar itu meninggalkan Yoonhee dan berpamitan pulang.

Memasukki bulan kedua setidaknya jauh berbeda dari bulan pertama. Yoonhee masih sering menangis tapi juga menjadi lebih sering tersenyum. Jackson pun bisa senang melihat Yoonhee yang sudah mulai bisa tesenyum. Akhirnya Yoonhee tahu, kalau Jackson bukanlah namja mengerikan seperti yang dia kira. Cover dan isinya jauh berbeda. Itulah Jackson menurut Yoonhee.

Mereka kembali melanjutkan kencan itu.

Diakhir bulan kedua, Jackson mengajak Yoonhee menginap di Hongkong.

“Tinggal 1 bulan lagi. Bagaimana aku menurutmu?” tanya Jackson memulai pecakapan makan malam mereka di sebuah restoran.

“Kau namja yang jauh dari perkiraan.”

“Maksudmu?”

“Aku sempat takut saat pertama kali melihatmu. Badan kekar, mata bulat dengan tatapan tajam dan juga kau itu orang asing yang dijodohkan denganku. Tapi sekarang aku menepis semuanya itu. Kau namja yang baik, lembut, pengertian, dan juga humoris. Maaf aku sering menangisi namja lain dihadapanmu.”

Jackson tersenyum, Yoonhee pun membalasnya.

“Gwaenchanha. Saranghae.”

Itu kata cinta pertama yang Yoonhee dengar dari seorang namja.

“M-mwo? Sarang?”

Jackson menggengam kedua tanga Yoonhee, untuk lebih memastikan.

“Kau calon istriku. Sehabis kencan yang telah kita tetapkan, yaitu 1 bulan lagi kita akan menikah.”

Benar kata Jackson. Acara perjodohan ini pasti tujuannya untuk pernikahan, Yoonhee sampai tidak memikirkan ini karena terlalu banyak pikiran dan beban. Bagaimana ini? Apa dia harus menikah dengan Jackson? Separuh hatinya masih untuk Jinyoung, dan separuhnya lagi… mungin sudah milik Jackson. Ini berarti pernikahan dengan separuh hati? Ini tidak boleh terjadi. Tapi Yoonhee juga tidak bisa memaksakan perasaannya itu kan?

Perubahan raut muka drastis dari Yoonhee membuat Jackson sedih. Dia tahu apa yang sedang Yoonhee pikirkan.

“Kau, menangis?”

Yoonhee tetap melanjutkan tangisannya itu. Tak lama dia beranjak berdiri.

“Tapi aku masih mencintai Jinyoung.”

Jackson tertegun.

“Mian, aku harus kebelakang.”

“Mungkin ini jalan terbaik.” pikir Jackson. “Tidak ada Jackson baik hati yang membiarkan kau menangisi namja yang membuat dirimu terpuruk. Kita akan menikah paksa, dan kita mau tidak mau harus bahagia. Yoonhee, itu pasti akan terjadi.” Sumpah Jackson dalam hati.

Setelah hari itu, Jackson menjadi berubah. Dia kembali menjadi Jackson yang pertama kali Yoonhee jumpai. Dingin, bermuka kecut, bahkan lebih parah daripada itu.

“Apa ini karena perkataanku kemarin?” sesal Yoonhee dalam hati.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Jinyoung lagi?”

“Ani, aku sedang mimikirkanmu.” jawab Yoonhee berani.

“Akhirnya. Selamat Jackson, kau bisa ada dipikiran Yoonhee. Kuharap itu hal yang baik. Kau tidak sedang memikirkan cara untuk kabur ataupun cara membunuhku demi menghindari acara pernikahan kita ini kan?” perkataan Jackson begitu dingin dan tidak berperasaan. Belum pernah dia berkata sedingin dan seenaknya seperti ini.

“Bu-bukan itu..” tangkis Yoonhee.

“15 November. Hari penyatuan cinta kita.”

“M-mwo?!” Yoonhee mengerutkan dahinya. Dia tidak percaya atas apa yang telah Jackson putuskan ini.

“Aku tidak menerima penolakan, dan aku juga tidak menunggu persetujuan. Ini bukan persetujuan. Ini pemberitahuan, pemberitahuan yang tidak bisa diganggu gugat. Perkataanku ini bulat. Aku ingin cepat-cepat memilikimu. Dan sengaja aku tidak memberitahumu dahulu, karena kau pasti akan menolak. Bersiaplah, kau akan menjadi Nn. Wang satu minggu lagi.” jelas, padat dan mengena. Jackson tega.

Sesampainya di Korea, Jackson langsung mungurus acara pernikahannya. Dari gedung, makanan, dekorasi, acara, bahkan gaun pernikahan Yoonhee, semua adalah pilihan Jackson.

Hari itu tiba, 15 November. Gaun putih panjang dengan ekor menyentuh tanah, bermotifkan simple dan nyaman. Begitu pas ditubuh Yoonhee yang sekarang tengah mondar-mandir di ruang tunggunya. Digigitnya jemarinya itu. Dia begitu resah.

“Sudah saatnya.” Appa Yoonhee menggenggam tangan anaknya untuk menuju ke pelaminan. Jackson yang sudah menunggu dengan tuxedo hitamnya. Badannya yang kekar dengan tuxedo ketat membuatnya makin terlihat kekar dan tegap. Inilah yang Yoonhee takuti, Jackson.

“Apakah Yoonhee Jung bersedia menerima Jackson Wang sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

Astaga, sudah pengucapan janji lagi? Yoonhee yang melamun dan tidak focus akhirnya bingung harus berbuat apa.

“A-aku..”

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“A-aku..”

Bersikaplah professional Yoonhee. Jangan sampai buat Jackson marah.

“Aku Yoonhee Jung menerima Jackson Wang sebagai teman sekaligus pendamping hidup saya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kami berdua.”

Kami berdua sudah mengucapkan janji.

“Baiklah kedua mempelai boleh saling berciuman.”

Selintas mata Jackson menunjukan sinar kebahagiaan. Tetapi ada yang lebih daripada rasa bahagianya itu. Jackson memeluk pinggangku dengan tangan sebelah kirinya dan menarikku lebih dalam lagi kepelukannya. Cepat, Jackson langsung melumat bibirku. Itulah sinar yang terlihat lebih jelas di matanya. Nafsu. Dimulai pernikahan paksa yang dijodohkan, menjadi pernikahan separuh hati, lalu menjadi pernikahan tanpa sepengetahuan pihak wanita dan yang terakhir dan dapat kusimpulkan, ini adalah pernikahan atas dasar nafsu.

“Saudara Jackson, bersikaplah lebih tenang dan bijaksana. Kita masih dalam acara sacral.” Sungguh memalukan, penghulu sampai turun tangan untuk menghentikan nafsunya. Dengan berat hati dia menyudahi ciuman basah itu. Dilap bibirnya yang peuh dengan bekas lipstick dan juga dia mengelap bibirku yang lipsticknya sudah tidak jelas bentuknya karena luntur.

“Kau manis.” bisiknya menggoda.

Sesudah acara pernikahan kami selesai, kami langsung menuju rumah baru kami. Besar, itulah hal yang dapat kugambarkan. Mewah, megah dan elegan pun jadi hal-hal pendukung.

Hap

Jackson menggendongku dengan gaya bridal style. Kamipun masuk. Kamar, itulah tempat dimana Jackson menidurkanku. Dia setengah menindihku. Dengan perutku, aku dapat merasakan betapa berototnya perut Jackson itu.

“Apa ini akan terjadi sekarang?” tanyaku dalam hati.

Jackson menempelkan mulutnya kedekat teligaku.

“Yoonhee-ya..” suaranya mendadak parau. Sungguh, itu menggoda dan membuatku tersentak.

“..aku beri kamu 3 bulan untuk menjalani hidupmu sehari-hari sebelum mengenalku. Anggap saja ganti dari 3 bulan yang kita pakai untuk kencan tidak berguna itu. Tapi, kita akan tinggal berdua disini, hidup berdua, terlebih lagi tidur berdua dikasur yang sama. Aku tidak akan menyentuhmu selama 3 bulan ini, walaupun yang dibawah sana terus mendesak untuk memasukkimu. Satu lagi yang penting, kau boleh dekat dengan semua namja, tapi aku paling tidak suka dengan kata selingkuh dalam hidupku. Sekalinya kau berhubungan dengan Jinyoung, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya demi memilikimu seutuhnya. Arra?”

Apa dia seorang psyco yang memiliki dua kepribadian? Ya Tuhan, apa aku menikahi psyco penuh nafsu yang sifatnya ganda? Aku ini wife apa victim?

“Yoonhee, tak menjawab?” lanjutnya berbisik.

“A-arra oppa.”

“Pintar.” Dia bangun dan berjalan keluar kamar. Didepan pintu dia berhenti dan menatapku yang sedang menangis menatap langit-langit kamar.

“Aku hampir lupa. Jangan pernah menangis, apalagi karena Jinyoung. Kau tidak ingin membuat suamimu ini marah kan?”

Karena ancaman itu, aku langsung menghapus air mata yang mengalir tadi. Bukan, aku tidak menangisi Jinyoung. Aku takut pada Jackson.

Bulan demi bulan pun berlalu. Aku kembali melanjutkan kerjaku di rumah sakit. Keadaan Jinyoung? Belum ada tanda dia sudah kembali dari honeymoonnya itu. Gosipnya,  Misoo, istri Jinyoung tidak mengizinkannya untuk bekerja disini lagi. Jackson? Dia tepat janji. Dia tidak menyentuhku selama ini. Selingkuh? Tidak, kami berdua tidak berani mengingkari janji kami dengan Yang Diatas. Walaupun Jackson sangat dingin tapi ada baiknya juga.

Another Love (Part 2, end)

#SpecialProjectforJackson

Aku jadi tidak berani menangisi Jinyoung lagi, ditambah cincin yang sudah melingkar di jari manisku. Ada orang lain yang harus aku cintai, setidaknya aku sedang mencoba.

Aku yang baru pulang kerja langsung memarkirkan mobil dan masuk. Setelah mandi dan makan, aku tidur. Jam 9 malam, Jackson memang biasa pulang lebih malam dari ini. Kupejamkan mataku dan terlelap.

“Ahh…” desahku. Kurasakan sesuatu yang berat engah menimpaku. Kubuka mata kantukku yang berat ini. Tengah malam, apa ini?

“Jackson oppa? Baru pulang?”

Dia tidak menjawab, dia menciumi leherku dengan lembut namun panas. Pastilah banyak bercak yang akan kudapati pagi esok.

“Oppa, apa yang kau perbuat?”

Jackson menghentikan kegiatannya itu. Dihadapkannya wajahnya sejajar dengan wajahku.

“Waktu 3 bulan yang cuma-cuma sudah berakhir. Aku bebas menyentuhmu kapanpun yang kumau kan?”

“Tapi… besok aku ada bakti sosial ke panti asuhan. Kau tidak ingin anak-anak menanyakan bercak-bercak ini kan?”

Jackson menggulingkan tubuhnya dan berbaring disampingku.

“Demi pekerjaan aku dan “adikku” itu harus mengalah lagi.” Keluh Jackson. Bagusnya tak lama sesudah itu dia tertidur.

Bulan-bulan ini kami begitu sibuk. Pekerjaan lah kendalanya. Sudah mundur 1 bulan dari waktu yang telah Jackson tetapkan. Kami belum…berhubungan.

“Aku akan pergi selama satu minggu ke London. Ada seminar disana. Oppa ingin ikut?” tanyaku  sembari mempacking barang-barang. Lusa, aku akan pergi.

“Apa kau sedang menghindariku? Sampai kapan aku harus menunggu? Dan sampai kapan juga kau menyegel keperawananmu itu?”

“Maaf oppa, aku benar-benar ada urusan.”

2 hari kemudian akupun pergi. Jackson mengantarkanku sampai ke bandara.

Cup

“Jaga dirimu. Saranghae.”

Cup

Sekali lagi Jackson mengecupku sekilas didepan semua teman-temanku.

“Kau pasti bangga memiliki suami seperti Jackson ya?” tanya teman dekatku.

Aku hanya tersenyum. Bangga? Apa harus?

“Dia begitu mencintaimu. Daripada Jinyoung yang dari dulu hanya besikap baik, perhatian dan peduli, tapi ujung-ujungnya dia malah menikahi gadis lain.”

“Sudahlah.”

“Kalau aku jadi kau, aku akan mencintai dia dan…”

“Apa?”

Temanku itu sedikit mendelik. Membuatku semakin penasaran menanti sambungannya.

“…rajin-rajin berhubungan. Dia sangat tampan.” Ucapnya histeris.

“Ehemm.. istrinya ada disini loh.”

“Maaf, hanya bercanda. Habisnya kenapa kau dan dia belum juga berhubungan?”

“Dia sangat dingin semenjak pernikahan ini. Aku takut dia akan menjadi kaku dan kasar saat bercinta nanti. Padahal, aku ini kan belum ada pengalaman.”

“Kau tidak pernah mengatakan kalau kau mencintai dia. Yang ada dipikiranmu hanya ada Jinyoung dan Jinyoung.”

Aku menggeleng. Jacksonlah yang selalu ada dipikiranku.Berkat ancaman Jackson aku melupakan siapa Jinyoung itu. dan berkat dialah yang kupikirkan, yang kukhawatirkan hanya dia, suamiku, Jackson.

“Apa mungkin seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Coba saja. Nanti saat kita pulang, peluklah dia lalu katakana kalau kau mencintainya. Ucapkan dengan tulus. Hati pria sebeku apapun akan meleleh.”

“Tapi Jackson namja yang berbeda.”

Temanku menggeleng kuat.

“Bukan dia namja yang berbeda. Kaulah yeoja yang berbeda.”

Apa benar yang dia katakan itu? Mengatakan kalau aku mencintai dia? Aku tidak bisa berbohong. Walaupun sudah tidak mencintai Jinyoung lagi, tapi aku belum bisa bilang juga kalau aku mencintai Jackson.

Seminarku telah selesai. Dengan selamat aku kembali ke rumah ini.

Klek

Kubuka pintu kamar dan mendapati bahwa Jackson sedang tertidur pulas. Sudah jam 1 malam.

“Siapa?!” tanyanya kaget. Dia terbangun.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Siapa?!” Jackson bangun dari tidurnya dan langsung mengambil posisi duduk.

“Aku.” jawab Yoonhee singkat.

“Sudah pulang?”

Yoonhee tersenyum.

“Wae? Apa kau kesurupan? Apa kau jelmaan  istriku?”

“Ani.” Yoonhee masih tetap tersenyum. Sekarang gantian, Jackson yang takut.

“Oke.. kalau begitu pergilah tidur. Sudah lewat dari tengah malam.” Jackson menusap rambut Yoonhee.

Yoonhee menggeleng tidak setuju. Dengan sekuat tenaga Yoonhee merangkul leher Jakson dan sontak membuat Jackson kembali berbaring.

“Aku ingin tidur seperti ini saja.”

“Tidur ya tidur saja. Kau turun dari perutku dulu. Kau ini berat tahu.”

Yoonhee mempoutkan bibirnya.

“Aww! Appo!!” ringis Jackson sembari mengelus dadanya yang baru saja Yoonhee gigit.

“Dadamu keras.” keluh Yoonhee.

“Memangnya seperti dadamu yang lembek/?”

Dan sekali lagi..

“Aww! Appo! Yak, Yoonhee, sekali lagi kau gigit dadaku, aku akan..”

“Apa? Kau mau gigit dadaku juga?”

Jackson membalikan badannya dan setengah menindih tubuh Yoonhee.

“..kenapa kau ini?”

“Apa yang kenapa?”

Jackson menghembuskan nafas beratnya ke leher Yoonhee dan mulai mengecupnya.

“Kau begitu imut saat menggodaku.” bisiknya parau.

“Kata siapa aku sedang menggodamu?”

“Kalau kau tidak menggodaku, kau pasti tidak ingin melakukan skinship seperti ini.  Buktinya kau yang memulai ini semua.”

Yoonhee tersenyum miring, “Kau tergoda?”

Tanpa basi-basi Jackson langsung membuka piyama yang dia kenakan dan melemparnya ke sembarang tempat.

“Kau membuat hasratku bangkit.”

Yoonhee menganga.

“Wae?” tanya Jackson cemas.

“Tubuhmu.. indah sekali.” Bahu lebar, bisep dan perut dengan otot-otot yang menyembul. Yonhee terkesima.

“Ahh.. aku baru pertama kali bertelanjang dada dihadapanmu ya? Apa pendapatmu?”

Yoonhee meraba perut Jackson yang begitu seksi menurutnya.

“Indah bukan?”

Jackson perlahan melumat bibir Yoonhee yang daritadi bergetar menahan sesuatu.

“Wae? Yoonhee apa yang ingin kau katakan? Kau takut?”

“Apa ini yang namanya bercinta?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak ingin kau marah, lagi. Tapi aku harus katakan ini..”

Jackson mendadak cemas.

“Aku tahu kau belum siap.” Jackson mulai membaringkan tubuhnya ke sebelah Yoonhee.

Dengan sigap Yoonhee merangkulkan lengannya ke perut Jackson dan mengecup Jackson dengan perlahan.

“..aku belum berpengalaman. Jangan terlalu kasar. Aku takut karena tubuhmu begitu besar ketimbang tubuhku, dan begitu kuat.” ucap Yoonhee cepat. Dia takut salah bicara dan merusak suasana yang sudah indah ini.

“Aku juga belum berpengalaman. Jadi malam ini biarlah gairah yang menuntun kita, bukannya keahlian. Aku buka bajumu ya?” tanya Jackson sopan dan langsung bersambut anggukan Yoonhee.

Pagi ini berbeda. Yoonhee tidur diatas tubuh Jackson. Keduanya dipenuhi bercak merah.

“Pagi, istriku.” sapa Jackson sembari mengusap punggung telanjang Yoonhee. Keduanya belum berpakaian. Selimut tipis inilah penggantinya.

“Oppa.. sakit. Badanku pegal semua.” adu Yoonhee.

“Apa kau kapok?”

Yoonhee terkekeh.

“Mana mungkin aku kapok tapi kemarin malam sampai 3 ronde?”

Kali ini keduanya terkekeh.

“Terimakasih sudah mau menjadi istriku.”

Cup

Sebuah kecupan kembali mendarat mulus di bibir Jackson.

“Maaf oppa..”

Kata-kata tadi membuat Jackson sedih. Kata maaf apa yang Yoonhee maksud?

“Maafkan aku tidak bisa berpindah tempat. Kau begitu hangat dan nyaman. Jangan kerja ya hari ini. Aku ingin tetap dalam posisi ini sampai makan siang.” pinta Yoonhee manja.

“Tapi aku ada rapat.”

“Andwe! Kau pergi aku akan gigit dadamu lagi.”

“Kau gigit aku akan memasukkimu lagi.”

“Tak apa, yang penting jangan pergi. Aku ingin kita bersama hari ini.”

“Aku suka kau yang manja.”

“Saranghae oppa.”

“Nado.”

.

.

Tiga tahun berlalu. Hari ini keluarga kecil itu akan makan malam bersama. Janjinya, jam 7, Jackson akan menjemput Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Oke, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku cepat da benar agar makan malam jam 7 nanti berjalan..

BRUK

Aku menabrak seseorang

“Kau ini sama saja.. masih anggap rumah sakit sebagai lapangan berlari?”

Suara itu, suara sudah 3 tahun tidak kudengar.

“Mi-mian dr.Park. Saya tidak melihat anda.”

Jinyoung menatapku dan tersenyum.

Tanpa basa-basi dia menarikku untuk ke kafe dekat rumah sakit, lagi.

“dr.Park lepas. Saya ingin bekerja bukannya minum kopi.” ucapku yang menolak diperlakukan seperti itu.

Jinyoung tersenyum dan masih menggenggamku.

“Aku jadi ingat. 3 tahun lalu kita tabrakan di tempat yang sama seperti tempat kita tabrakan tadi, dan sekarang kata-katamu sama saat waktu itu aku tarik juga kesini. Kau masih membuatku jatuh cinta padamu, Yoonhee.” ujar Jinyoung dengan mata berbinar.

“Mwo? Apa yang kau maksudkan itu?” tanyaku bingung.

“Menikahlah denganku. Akhirnya 11 tahun penantian, hari ini aku berani untuk mengaku.” Jinyoung mengucapkan permintaan tulusnya itu.

“Mwo-ya?! Aku tidak mengerti.”

“Kau tahu kan kalau aku sudah cerai?” ucap Jinyoung pelan.

“Iya, lalu kenapa?”

“Itu kenapa aku ingin agar kau..”

Jinyoung mendadak kaku. Mukanya pucat pasi. Sesuatu yang berbeda, Jinyoung rasakan. Genggaman tangannya mulai dia kendorkan. Genggaman yang semula erat menjadi merosot hingga ke ujung-ujung jemariku. Jinyoung menatap jemariku. Salah satu jari yang sudah disegel dengan sebuah cincin bermatakan berlian.

“K-kau.. sudah..”

“Yup, menikah. 2 tahun yang lalu.” ujarku enteng.

“Ta-tapi..”

“Kau bukan namja satu-satunya di dunia ini dr.Park.” kata ejekan mulai keluar dari mulutku.

Kami diam. Jinyoung yang diam karena terkejut sedangkan aku diam karena Jinyoung, lawan bicaraku juga diam.

“Yoonhee-ya.. apa urusan pekerjaanmu masih lama? Jangoanmu ini sebentar lagi bangun karena lapar minta susu.” tiba-tiba Jackson datang sembari menggendong Jaebum. Anak kami yang berusia 6 bulan.

“Tunggulah sebentar, Jaebumku.”  Aku mengusap kening buah cinta kami itu.

“Aku Jackson, suami Yoonhee. Dan kau?” tangan Jackson menanti agar dibalas.

“dr.Park. Park Jinyoung. Panggil Jinyoung saja.”

“Ohh.. tak keberatankan bila aku membawa istriku pulang, Jinyoung?” tanya Jackson sembari mengusap rambutku.

“Akh, oppa tunggu dimobil, ya. Aku masih ada urusan. Sedikit lagi selesai.” pintaku manja.

“Baiklah.”

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Baiklah.”

Wajah Jinyoung merah padam. Entah karena malu atau karena marah setelah melihat Jackson mengecup bibir Yoonhee sekilas. Dia tidak bisa menerima apa yang dia saksikan itu.

Setelah Jackson keluar dari kafe itu, Yoonhee melanjutkan masalahnya dengan Jinyoung yang sempat terhenti tadi.

“Sudah lihat? Apa masih perlu dijawab pertanyaan sampahmu? Masih mau menikahi aku? Kalau iya, aku akan menamparmu lalu menyebut dan mengecapmu sebagai namja murahan perusak rumah tangga orang lain. Arra?” suara Yoonhee sangat tenang seakan benar-benar tulus keluar dari hati.

“Satu lagi. Terimakasih atas 8 tahun lalu yang begitu indah sampai-sampai membuatku tergila-gila padamu. Karena satu hari itu aku sakit hati dan membencimu. Dari situ aku berharap agar 8 tahun nanti yang akan mendatang kau tidak akan pernah datang dan muncul lagi didepanku dan juga keluargaku.”

Yoonhee meninggalkan Jinyoung yang masih diam kaku.

“Tunggu, Jackson adalah pelampiasanmu kan?”

PLAK

Wajah Yoonhee mendadak merah padam karena perkataan tak senonoh Jinyoung tadi.

“Kau boleh mengetahui ini, dr.Park. Awalnya, saat belum lama kau menikah, aku memilih menikah dengan Jackson, kenalan eommaku. Ku jadikan dia hanya sebagai alat pelampiasan. Tapi sekarang aku lebih mencintai namja yang bisa mencintaiku, ada di sampingku, tidak pengecut, tidak membiarkanku menunggu, dan tidak meningalkanku untuk menikahi orang yang kau ceraikan juga ujung-ujungnya. Daripada aku harus menunggu lagi dan berharap padamu..” perkataan tajam Yoonhee masih membuat Jinyoung diam.

Yoonhee tersenyum sinis kearah Jinyoung dan mengetahui kalau Jinyoung sudah tidak kuat lagi dikata-katai oleh Yoonhee.

Semua perkataan yang Yoonhee sampaikan begitu dalam dan berarti. Santai dan tenang dibawakan olehnya, tetapi begitu keras dan menggelegar didalam hati Jinyoung. Peringatan keras itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa sekarang.

“Hidupmu terlalu drama dr.Park.” ujar Yoonhee dengan nada merendahkan.

Jinyoung yang sudah gemetar menahan malu akhirnya angkat bicara.

“Apa ini balas dendam?” tanya Jinyoung pasrah.

“Bisa dibilang begitu. Apa yang ku alami akan kau alami. Apa yang kau lakukan padaku akan ku lakukan padamu. Kisahmu dan kisahku akan menjadi serupa. Tapi perlu kau garis bawahi, kisah kita ada perbedaannya. Aku mencintai Jackson dan tidak akan menceraikannya. Bukan sepertimu yang ingin dianggap sebagai anak penurut yang berbakti kepada orang tuanya demi menikah dengan yeoja yang sama sekali kau tidak sukai.”

“Sebegitu bencinya kau pada diriku, Yoonhee?” Jinyoung menatap Yoonhee nanar.

“Seperti yang bisa kau lihat, dr.Park. Sebesar cintaku dulu yang sekarang berubah menjadi benci. Itu sama besarnya. Bahkan kurasa lebih besar beciku padamu.”

“Baiklah.”

“Sampai disini saja dr.Park? Kuanggap kau kalah telak. Selamat ya…” Yoonhee mengulurkan tanggannya dan langsung menariknya cepat.

“Aku lupa. Aku kan sudah najis denganmu. Kuharap kau mendengar dan melakukan ancaman kecil dariku itu ya. dr.Park, mantan namja yang pernah kugila-gilai.” Diakhir kalimatnya, Yoonhee tersenyum lebar kearah Jinyoung.

Yoonhee pun melangkah berbalik dan menghampiri Jackson yang sudah menunggu cukup lama di mobil.

“Maaf lama oppa.”

“Gwaenchanha. Kita pulang sekarang?”

“Ne. Saranghae oppa.”

“Wae? Apa kau ingin memintaku membuat adik untuk Jaebum malam ini?”

“Apa besok kau tidak sibuk?”

“Ani. Kita buat malam ini ya?”

Cup

“Saranghae.”

“Nado saranghae. Kali ini yeoja ya?”

“Tergantung dari bibitmu saja.”

Mobil itu pun melaju pergi. Tak pernah Yoonhee pikirkan, kalau dia bisa sebahagia ini dengan namja yang dulu ditakutinya. Jackson adalah namja yang sulit ditebak dan juga namja yang dia cintai. Sekarang dan selamanya.

—END—

EPILOG

*Jinyoung POV*

Semenjak kejadian itu, aku keluar dari rumah sakit dan menjadi seorang dokter sukarela di sebuah desa kecil. Hidupku hancur. Setelah cerai dari Misoo, dan melakukan hal yang sangat memalukan terhadap Yoonhee.. seandainya waktu dapat kuulang. Aku akan lebih baik lagi di masa lalu.

“Oppa! Kau kemana saja?! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Ayo kita bersama lagi. Aku mohon oppa.” Misoo tiba-tiba datang.

“K-kau tahu kalau aku disini dari siapa?”

“Suami Yoonhee adalah rekan bisnisku. Aku diberitahu Yoonhee kalau kau pindah kesini. Ayo kita pulang.” Misoo menarik tanganku.

Aku pun menepisnya.

“Aku namja brengsek. Carilah namja yang lebih baik ketimbang diriku.”

Cup

Misoo mencoba menenangkanku.

“Aku tahu kalau kau memang namja brengsek yang menikahiku secara terpaksa. Tapi aku ingin agar kau tahu dan bisa merasakan kalau aku mencintaimu dengan tulus. Kita buka lembaran baru dan hapus halaman yang lama ya?”

“Mi-mian..” bibirku bergetar. Aku pun menangis menyesali semuanya ini. “..aku belum bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, tapi aku akan coba. Maafkan aku tidak membuatmu bahagia.”

“Kau tahu apa yang membuatku bahagia? Kau ingin membuatku bahagia? Dengan cara kita bersama lagi, aku akan bahagia. Sangat bahagia.”

Aku mendekapnya. Apa Misoo mencintai dengan tulus. Begitu jahatnya aku sampai membuat Misoo begini.

Hampir 1 tahun berlalu. Setelah aku menyesal dan bisa mencintai Misoo dengan sepenuh hati, aku memutuskan untuk menikahi Misoo untuk yang kedua kalinya.

“Apakah Jinyoung Park bersedia menerima Misoo Shin sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Aku Jinyoung Park menerima Misoo Shin sebagai teman sekaligus pendamping hidup saya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kami berdua.”

“Apakah Misoo Shin bersedia menerima Jinyoung Park sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Aku Misoo Shin bersedia menerima Jinyoung Park sebagai teman sekaligus pendamping hidup saya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kami berdua.”

Tak lama pestanya dimulai.

“Hey.” Yoonhee memanggilku.

“Hai, siapa lagi ini?” aku menghampirinya.

“Jaerin, anak kedua kami. Bukankah Jackson terlalu rajin membuatnya?” delik Yoonhee.

“Cantik, sama sepertimu.”

“Hey, kau menggodaku? Aku panggilkan Jackson loh.”

Kami tertawa bersama. Sifat asli Yoonhee muncul kembali. Kurasa Yoonhee sudah tidak membenciku, sedikit kesal, pasti.

“Gomawo, karena kau aku bisa bertemu Misoo lagi.” ucapku tulus.

“Buatlah dia bahagia.” jawab Yoonhee tulus juga.

“Pasti.”

“Sekali lagi, chukahae ya.”

Tanpa Yoonhee aku tidak akan bertemu Misoo, dan mungkin kalau aku tidak menikah dengan Misoo, dia juga tidak akan bertemu Jackson. Inilah yang namanya simbiosis mutualisme.

“Oppa..” Misoo tiba-tiba datang dari belakang.

“Aku pergi ya. aku tidak ingin mengganggu pasangan bahagia ini.”

“Gomawo Yoonhee.” ucapku dan Misoo berbarengan.

Yoonhee pergi meninggalkan kami berdua.

“Kita mau apa sehabis ini?” Misoo merangkulkan tangannya keleherku.

“ML?”

“Jangan bercanda.” Misoo menepuk pelan dadaku.

Cup

“Kita akan lakukan apa yang biasanya pengantin baru lakukan.” ujarku sembari mengusap pipi Misoo.

“Wow, kalau begitu aku ingin segera melakukannya.” ucapnya antusias.

“Kau memang istriku. Saranghae Misoo-ya.”

“Nado.”

Advertisements