Tag Archive | Jaehwan

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

Advertisements