Tag Archive | Hyunwoo

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—

Advertisements

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 5)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13


Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

“Akh.” aku berjalan cepat ke kamar mandi. Rutinitasku sehabis bangun tidur, buang air kecil.

“Huah…” Ravi tengah meregangkan tubuhnya saat aku keluar dari kamar mandi menyelesaikan rutinitas tadi.

“Pagi sekali kau bangun.” tanyanya.

“Kau juga.” jawabku tak mau kalah.

“Kemari.” pinta Ravi sembari melambaikan tangannya padaku.

Aku berjalan mendekatinya.

“Wae?”

“Aku…”

Ravi menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran.

“Apa jahitannya terbuka lagi? Apa perutnya sakit lagi? Apa ada bagian lain yang sakit? Apa sih dia? Membuatku penasaran saja.” pertanyaan tadi hanya tertahan sampai tenggorokanku. Sekarang otakku dipenuhi pertanyaan pada diriku sendiri.

“..mau..”

“Apa yang kau mau? Palli, beri tahu aku!” ucapku jengkel.

“..buang air kecil. Eotteokhae?”

Aku membuang nafas berat karena putus asa. Ya Tuhan, dia begitu…aish..

“Buang saja.” jawabku mulai naik darah.

“Bagaimana caranya? Kalau aku berdiri lagi nanti jahitannya terbuka. Nanti kau akan mencoba untuk membunuhku lagi.”

Aku membuka lemari kecil disamping ranjangnya.

“Igo.”

“Igo mwo-ya? Apa aku harus buang air didalam jerigen?”

“Itu memang tempat untuk buang air. Masukkan saja lalu pipis seperti biasa.”

Mukanya perlahan pasrah.

“Kenapa wajahmu.”

“Ani.” elaknya cepat.

Dia memasukkan “tempat penampungan itu” kebalik selimut.

“Ehmm…” dia bergeming cukup keras.

“Berisik!” aduku yang mulai terganggu.

“Selang infusnya begitu pendek. Tanganku yang sebelah harus memegang benda ini dan yang diinfus ini harus memegang benda yang itu. Bantu aku.”

“MWO?! KAU KIRA AKU APA?!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahan.” dia mebujukku manja.

“Lakukan dengan cepat, dan sampai mengenaiku.” aku merebut “tempat penampungan itu” yang masih bersembunyi dibalik selimut secara kasar.

“Siap. Tahan disana ya.” ucapnya penuh kemenangan.

Aku menempatkan diriku lebih dekat lagi dengan ranjangnya. Tanganku sebelah kanan memegang “tempat penampungan itu” sedangkan arah tubuhku membelakanginya.

“Eh.. ehmm..ah…” Ravi menggeliat geliat diranjang dalam posisi terlentang. Kau tahu kan dia sedang apa? Apa lagi kalau bukan berusaha mengeluarkan ehem..

“Permisi, Ravi Kim anda.. ups, maaf.”

Shyt! Pasti suster Lee dan Lee ahjumma salah paham!

“Tunggu, sedikit lagi!” ronta Ravi karena tubuhku langsung reflek mengejar mereka.

“Karena kau, suter Lee dan Lee ahjumma salah paham!”

“Mian tapi aku benar-benar harus buang air, dan kau benar-benar harus membantuku… akh lega rasanya.. Sudah selesai. Gomawo ne.”

“Ikh!” aku langsung melepaskan “tempat penampungan itu” dari tanganku dan berjalan keluar.

“Suster Lee.” aku memanggil suster Lee yang sedang duduk bersebelahan dengan Lee ahjumma didepan.

“Mian atas kejadian tadi, kami tidak tahu.” suste Lee memasang muka bersalahnya.

“A-ani jangan salah paham suster Lee i-itu tadi hany-hanya..”

“Gwaenchanha. Kami akan tutup mulut.”

“Bukan begitu!”

“Yoonhee! Ambil jerigen ini sebelum kutendang dan isinya keluar semua.” teriak Ravi dari dalam.

“Tunggu sebentar cerewet.” balasku teriak.

“Dokter Jung. Aku akan pulang. Tolong titip ini, ini pesanan Tuan Kim.” Lee ahjumma memberikanku dua kotak makan dan juga satu keresek pakaian.

“Oh, baiklah.”

Aku perlahan beranjak. Sebelum itu, aku membalikkan badanku menatap suster Lee dan Lee ahjumma yang sedang menahan tawanya.

“Suster Lee!”suster Lee menatapku ragu-ragu.

“Shhh…” lanjutku sembari menempelkan jari telunjuk ke bibirku.

“Ne. Shhh…” suster Lee melakukan hal yang sama.

“Ini pesananmu yang diantarkan Lee ahjumma. Dia langsung pulang tadi.” aku mendekati Ravi yang tengah asik dengan laptopnya.

“Ohh.. didalam ada baju beserta dengan dalamannya. Ambil lah. Itu milikmu.” ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop.

“Milikku? Kapan aku minta?”

“Ambil saja. Anggap saja hadiah dariku karena sudah merawatku selama ini. Sekarang kau mandi.”

Aku membawa keresek baju itu masuk. Ada celana jeans dan juga sepotong kaos hitam yang cukup bermerek, dan mahal pastinya. Ditambah ini.

“Pakaian dalam?” tanyaku dalam hati.

Aku mengeluarkan satu pasang pakaian dalam berwarna hitam yang berkilap.

“Bagaiman apa dalamannya sempit?” tanya Ravi sesudah aku mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang Ravi berikan tadi.

“Tidak. Kau tahu ukurannya dari siapa?”

“Aku hanya menebak-nebak saja. Kalau tidak seukuran dengan Hwayeon ya lebih kecil.”

“Tapi kenapa pakaian dalamnya harus berkelip.”

“Uhuk..uhukk..” Ravi langsung tersedak mendengar perkataanku tadi.

“Itu aku…” belum selesai Ravi bicara, seseorang membuka pintu kamar ini. Ternyata itu suster Lee.

“Dokter Jung! Ada kecelakaan beruntun yang cukup parah. Semua korban yang jumlahnya 11 orang mengalami luka berat. Bahkan salah satu diantaranya mengalami luka yang cukup serius dekat jantung.” jelas suster Lee gelisah.

“Segera hubungi dokter spesialis jantung.”

“Sudah kami lakukan. Dia ada diperjalannan sekarang.”

“Huft… baiklah.”

Aku mengambil jas dokterku, lalu berlari keluar.

“Semoga beruntung pabbo!” teriak Ravi.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari sepanjang koridor. Akhirnya sampai juga diruang operasi. Setelah melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa aku lakukan sebelum operasi, aku menghampiri pasien itu.

Beruntungnya dia, kaca yang menembus dadanya tidak lebih kekiri. Jika itu terjadi, dia pasti sudah mati seketika.

“Maaf terlambat.” ucap dokter yang baru masuk.

“Ternyata kau oppa.”

“Yoonhee-ya. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

“Senang juga bisa bekerja sama denganmu oppa.”

Selama 3 jam lebih kami melakukan operasi itu. Aku, dokter ahli bedah dibantu oleh Hyunwoo, dokter ahli jantung dan juga beberapa dokter junior.

Tidak sampai disitu. Masih ingat? Masih ada 10 lagi orang yang harus kuoperasi.

“Huft..” aku mendudukan diriku dibangku depan kamar operasi.

Drtt drtt

“Eonni pabbo! Kenapa sulit sekali untuk menghubungimu sih?”

“Mianhae. Tadi ada banyak operasi.”

“Kau tahu kan kita pulang dari Jeju besok siang?”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa jemput kami dibandara jam 1 siang?”

“Kalau tidak ada operasi.”

“Andwe! Kosongkan jadwalmu besok jam 1.”

“Ne, arraseo.”

“Jangan lupa!”

“Ne.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Aku menyimpan HPku kembali kekantong celana.

“Yoonhee.” panggil orang disampingku.

“Omo, oppa! Sejak kapan duduk disini?”

“Maaf atas kejadian kemarin.” Hyunwoo menyederkan badannya ke bagku.

“Kemarin?”

“Membentakmu, memarahimu, terlalu posesif, dan terlalu mengekangmu. Aku baru ingat, kau adalah tipe orang yang paling benci itu semua.” jelasnya sembari menatapku.

“Gwaenchanha. Justru aku yang ingin minta maaf. Sangat tidak sopan. Berteriak, membentakmu. Emosiku sedang tidak baik kemarin.” jelasku juga.

“Mari sepakati ini. Lupakan masalah itu.”

“Oke. Kita lakukan semuanya seperti biasa, seperti tidak perah terjadi apa-apa.”
“Baiklah. Apa kau mau makan. Ini sudah jam 7, dan kita belum makan dari siang. Ani, bahkan pagi mungkin.”

“Menawarkan Yoonhee makan? Yakin akan aku tolak?”

“Akh, Yoonhee yang sekarang masih suka makan juga ya.”

Kami memutuskan untuk makan bersama di kantin rumah sakit.

“Bagaimana pasienmu, si Ravi itu.” tanya Hyunwoo ditengah-tengah makan.

“Baik. Tumben bertanya.”

“Hanya bertanya. Habis ini kita masih ada operasi kan?”

“Lagi?”

“Ada pasein yang dikirim dari rumah sakit lain. Apa tidak ada yang memberitahumu?”

“Hah.. tidak ada yang memberitahuku, padahal aku yang melakukan operasi.”

“Haha..” Hyunwoo mengusap kepalaku.

“..cepat habiskan. Operasi itu mulai 10 menit lagi.”

“Arraseo oppa.” aku tersenyum padanya. Akhirnya senyuman itu keluar lagi.

Sehabis makan, kami langsung kembali ke ruang operasi.

“Kau tadi keren sekali oppa, dapat menunjukan dengan jelas apa pe..” belum selesai aku bicara, Hyunwoo sudah menarik tanganku ke sisi pojok belakang.

Brak

Hyunwoo menempatkan kedua lengannya diantaraku.

“Oppa..” tanyaku mulai takut.

Hyunwoo hanya diam menatapku. Perlahan wajahnya didekatkan kewajahku.

“Oppa! Kau mau apa?” tanyaku dengan nada yang lebih keras.

“Sebentar saja. Aku ingin sekali menciummu.” suaranya mendadak parau. Astaga, dia sangat…seksi?

“Ini tempat umum oppa. Lagipula, kau ini kenapa?” kudorong dada bidang Hyunwoo agar pergi dan menghentikan aksinya ini.

“Sekali saja.”

Hyunwoo menarik daguku, dan menempelkan dahinya kedahiku.

“Oppa jebal!”

“Sekali, hanya sekali.” paksanya.

“Op..”

Cup

Ciuman ini bahkan lebih ganas dari 10 tahun lalu, lebih romantis daripada kemarin, bahkan lebih panas dari musim panas di Korea.

“Opp-oppa.. hen-ti..kan!” pintaku disela-sela ciuman panas kami itu.

Hyunwoo memindahkan tanganku keatas bahunya. Dia ingin agar aku melingkarkan tangannya di leher Hyunwoo. Tubuh Hyunwoo mulai mendesakku, dia perlahan maju dan meletakkan tangannya dipinggulku.

“Op..”

Rintihanku harus terhenti kembali. Hyunwoo mengigit bibir bawahku. Otomatis aku langsung membuka mulutku. Belum sempat aku menutupnya kembali Hyunwoo sudah memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Tak pernah Hyunwoo menciumku seperti ini. Serasa dia sedang meluapkan segala rindu dan emosinya padaku.

Panas ditubuhku mulai meningkat. Aura yang dia pancarkan tak pernah membuatku bosan. Kupejamkan mataku dan mencoba untuk menikmati ciuman yang membabi buta ini dan coba mengikuti alurnya.

“Yoonhee!” kudengar suara lain memanggilku.

Cepat-cepat kudorong Hyunwoo dan kulepaskan ciumannya itu.

“Ravi oppa. Ini bukan seperti, tunggu.. siapa yang membolehkanmu untuk berjalan-jalan?”

Ravi berjalan mendekat. Dadanya mulai naik turun.

Buk

“Oppa!”

Aku mendorong Ravi yang baru saja menonjok Hyunwoo sampai hidungnya berdarah.

“Apa kau gila?!” bentakku.

“Kau yang gila Yoonhee! Sedang apa tadi?! Menjual diri? Murahan!”

Plak

“Jaga bicaramu. Memangnya tidak boleh berbuat seperti itu kepada orang yang kita cintai? Ini hidupku, harga diriku. Urus saja milikmu sendiri. Jangan ikut campur.” aku menampar Ravi dan mencoba memperingatkannya.

Ravi menatapku dalam.

“Aku hanya ingin memberitahumu. Dia itu bukan namja baik-baik, dia..”

Plak

“Sekali lagi bicara yang bukan-bukan, aku akan menamparmu lagi. Kjja oppa.” aku menarik Hyunwoo ke ruanganku. Meninggalkan Ravi yang tengah tertunduk disana.

“Aw, apa ada yang patah?” tanya Hyunwoo sembari sedikit mendongak.

Kami sedang duduk berhadapan di sofa ruanganku. Di pangkuanku ada sekotak obat dan juga beberapa kapas yang penuh dengan darh dari hidung Hyunwoo.

Aku melihat, apa yang terjadi pada hidung Hyunwoo yang terus mengalirkan darah.

Kumiringkan kepalaku dan sedikit menunduk.

“Tidak ada. Sudah kubilang, jangan coba-coba menciumku. Jadinya begini kan.”

“Biarlah, yang jelas aku bahagia atas ciuman yang tadi.”

“Bahagia? Kau sangat nafsu oppa.”

“Tapi kau menikmatinya bukan?”

Aku tersenyum miring.

“Sudahlah.” aku mengganti kapas dari hidung Hyunwoo. Darahnya sudah mulai berhenti sekarang.

“Sekali lagi?” tanya Hyunwoo sembari mengangkat alisnya.

Puk

Aku menepuk dahinya pelan.

“Sudah begini, masih berani mencium ku lagi?”

“Siapa takut.”

Hyunwoo memindahkan kotak obat itu kesamping tubuhku.

Dia mulai menaiki tubuhku, lalu dia menimpaku.

Cup

Benar katanya. Dia berani menciumku lagi.

Hyunwoo kembali melakukan aksinya yang sempat terhenti.

“Kalian benar-benar pasangan mesum.” Ravi tengah berdiri didepan pintu sembari mengamati kami berdua.

“Op..” aku memukul dada Hyunwoo yang tidak mau melepaskan ciuman itu.

“Terus saja lanjutkan kegiatan “mulia” kalian itu. Sama-sama yadong memang serasi.”

“Oppa, tunggu!” akhirnya aku berhasil lepas dari ciuman Hyunwoo.

Kukejar Ravi yang tengah berjalan menuju kamarnya.

“Oppa, tunggu!” panggilku keras.

Ravi langsung berhenti, lalu membalikkan tubuhnya kearahku.

“Aku tidak menyangka kalau kau seperti ini.”

“Oppa, kenapa kau marah?”

“Apa tidak boleh? Apa aku harus diam saja? Melihat kau bersama namja lain membuatku.. akh lupakan. Aku sudah muak padamu Yoonhee. Tadinya aku menyusul untuk minta maaf, tapi ternyata, kau lebih cabul daripada yang kukira.”

“Oppa,aku bisa jelaskan.”

“Jangan-bicara-lagi-padaku. Aku muak melihat wajahmu Yoonhee. Sekarang pergi.”

Ravi segera masuk kekamarnya, lalu mengunci pintu itu.

“Oppa, dengarkan dulu.” pintaku sembari mengebrak-gebrak pintu dari luar.

“Baik, kau boleh marah padaku. Kau boleh menganggapku wanita murahan atau apapun itu, tapi kau tidak boleh mendiamkan aku. setidaknya dengar penjelasanku dulu oppa!”

Tidak ada respon dari dalm. Selama apapun aku menunggu, Ravi benar-benar tidak mendengarku.

“Oppa!” panggilku sekali lagi.

Aku mersakan sesuatu keluar dari diriku. Air mata tanpa sebab itu keluar lagi. Aku menyekanya, namun air mata itu tidak berhenti mengalir. Kali ini untuk apa air mata itu? Apa karena aku malu? Apa karena aku…

“Oppa! Buka lah, kumohon.” teriakku lagi.

Aku mencoba mengebrak pintu itu lagi. Tapi jawabanya tetap sama. Diam membisu.

Aku menyandarkan diriku kepintu. Air mata tanpa sebab ini masih keluar.

Aku kaui aku memang salah. Tapi apa urusannya dengan Ravi? Kenapa bisa-bisanya dia marah sampai begitu?

“Kumohon oppa, biarkan aku masuk, dan maafkanlah aku.” bisikku penuh dengan isakkan.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” taya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

—TBC—

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 4)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela. Aku melakukan peregangan, lalu bangkit dari tidurku. Kutatap Hyunwoo dikamar sebelah yang masih tertidur. Jam berapa sekarang? Oh.. jam 5.

Hari ini merupakan hari bebas. Aku bisa kemana saja sesukaku. Oke, aku putuskan untuk mandi, lalu berjalan-jalan keluar semebari cari kudapan dan juga beberapa oleh-oleh.

Aku berjalan perlahan, aku tidak mau membangunkan Hyunwoo yang sepertinya tidak tahu kalau aku sudah bangun.

Pemandangan yang indah. Awal musim semi kali ini banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya sejak pagi.

Perhatianku teralihkan pada sebuah benda.

Tapi bagaimana ini, aku ada di negara orang.. akh, baru ingat. Aku bisa bahasa Jepang, hehe.

“Apa ini?” tanyaku dalam bahasa Jepang.

“Sa-ru-bo-bo.” eja sang pedagang.

“Sarubobo?” Aku mengambil boneka sarubobo yang warnanya menarik perhatianku.

“Sarubobo warna pink untuk keberuntungan dalam hal cinta.”

“Cinta?”

Pedagang itu mengeluarkan sarubobo yang lainnya.

“Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja, sarubobo hijau untuk kesehatan, sarubobo kuning untuk keberuntungan dalam hal kekayaan, serta sarubobo hitam untuk menghilangkan kesialan.” jelasnya.

Aku mengamati benda itu sebentar, menarik.

Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku kembali ke hotel.

Klek

“Dari mana saja?” Hyunwoo sudah berdiri mendekatiku saat aku membuka pintu.

“Hanya jalan-jalan.”

“Kau tahu betapa khawatirnya aku. Apa kata appa jika kau hilang.” bentaknya semakin keras.

“Mianhae. Sudahlah, jangan marah-marah. AKu tidak suka dimarahi.”

Hug

“Mwo-ya?” rontaku.

“Jangan ketus begitu. Maaf sempat membentakmu tadi.”

“Gwaenchanha.”

Aku melepaskan pelukan Hyunwoo dan perlahan mundur.

“Aku akan berkemas. Jam 12 nanti kita pulang kan?”

“Ne.”

Jam 10 kami check out. Kami segera ke bandara, dan menunggu disana.

“Kau marah padaku?” Hyunwoo yang tidak tahan suasana ini mulai angkat bicara.

Aku menggeleng pelan.

“Lalu kenapa sikapmu berubah setelah aku menyatakan persaanku. Atau kau marah karena aku cium?”

Aku mengangkat bahuku.

“Yoonhee..” ucapnya lirih.

“Oppa.” balasku tak mau kalah.

“Jangan marah lagi.”

Drtt drtt

“Abeoji.”

“Kau pulang hari ini?”

“Ne. Jam 12 nanti pesawatnya take off.”

“Appa jemput ya, sekalian kita makan bersama seperti yang kamu mau.”

“Oke. Dengan eomeoni kan?”

“Pasti. Ajak juga Hyunwoo.”

“Arraseo. Aku tutup teleponnya ya.”

“Ne. Annyeong.”

Tut

“Oppa, appa mengajakmu makan bersama kami.” laporku.

“Tidak masalah.”

Panggilan untuk pesawat kami diumumkan.

Kami berjalan masuk.

Setelah 2 jam perjalanan udara, akhirnya kami kembali ke kampung halaman.

“Eomeoni!” aku berlari kearah eommaku yang berdiri disamping appa.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya appa.

“Menyenangkan.” jelasku singkat.

Kami berempat memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran di taman kota.

“Hyunwoo, apa Yoonhee nakal disana?” tanya eomma sesaat sebelum pesanan kami datang.

“Dia sempat kabur tadi pagi.” adu Hyunwoo enteng.

“Yoonhee-ya! Kau ini, mau hilang di negara orang?!” bentak eomma dan appa berbarengan.

“Eomeoni, abeoji! Tenanglah, buktinya aku masih ada disini.”

Aku menatap Hyunwoo yang duduk disampingku.

“Dasar pengadu.” desisku.

Hyunwoo hanya tersenyum tak bersalah.

“Oh iya, eomeoni, abeoji. Igo.” aku memberikan dua boneka sarubobo berwarna hijau kepada mereka.

“Igo mwo-ya?” tanya mereka berbarengan.

“Namanya sarubobo. Sarubobo hijau akan membawa keberuntungan dalam hal kesehatan. Aku mendoakan agar kalian sehat selalu.”

“Gomawo anakku.”

“Ne. Cheonma.”

Aku mengambil satu lagi sarubobo dari tasku.

“Apa oppa mau juga?”

“Ani. Oppa tidak percaya pada hal seperti itu.”

Aku menyimpan sarubobo itu kembali ke tempatnya.

“Abeoji, bagaimana rumah sakit saat aku pergi?” aku mencoba mengalihkan topik.

“Begitulah. Pasienmu, Ravi Kim sangat lucu.”

“Lucu?”

“Iya, dia lugu dan juga sangat pabbo. Sama sepertimu.”

“Hahaha..”

“Tapi dia kurang ajar.” sela Hyunwoo dingin.

“Mwo?!” tanyaku tak menyangka.

“Dari kemarin, pasien Yoonhee yang bernama Ravi itu terus menganggu.”

“Benar begitu Yoonhee?” ucap eomma seakan mau marah.

“Dia hanya menelponku. Itu saja.” jawabku membela.

“Tapi dia menganggumu dan juga oppa.”

“Dia pasienku oppa. Kenapa kau jagi menyebalkan begini sih?”

“Kau yang kenapa jadi begini.”

“Eitss, cukup sudah. Apa kalian sedang bertengkar?” appa menghentikan cekcok kami.

Aku membuang muka. Dadaku daritadi naik turun menahan amarah. Hyunwoo benar-benar bukan Hyunwoo yang kukenal.

Drtt drtt

“Suster Lee, waegeurae?”

“Dokter, pasien kita, Ravi Kim wajahnya pucat sekali.”

“Pucat? Kenapa bisa begitu? Apa ada infeksi?”

“Aku juga kurang tahu. Keringat dingin juga terus keluar.”

“Baiklah, aku akan kesana segera.”

Aku menutup telepon itu, lalu berdiri.

“Abeoji, eomeoni. Maaf ada pasien yang mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi sekarang. Maaf acara makan ini tidak berjalan lancar karenaku. Aku akan menebusnya lain kali.”

“Kalau begitu, mau appa antar?”

“Gwaenchanha abeoji. Aku akan naik taxi.”

“Kalau begitu oppa ikut.” Hyunwoo ikut-ikutan berdiri.

“Andwe. Tunggu disini. Setidaknya gantikan aku, dan temani abeoji dan eomeoni untuk makan.”

Hyunwoo kembali duduk.

“Aku pergi, Abeoji, eomeoni, oppa.” aku membungkuk, lalu segera berlari keluar.

“Ravi oppa!” panggilku ketika memasukki kamarnya.

Benar saja apa yang dikatakan suster Lee. Muka pucat, keringat dingin.

“Sejak kapan kau begini?” tanyaku resah.

“Sejak kemarin malam.” jawabnya lemah.

“Pabbo, kenapa tidak beritahu appaku?”

“Aku takut padanya.”

“Aishh, bisa-bisanya kau takut. Apa ada yang sakit?”

“Perut.”

“Apa karena jahitannya? Ada infeksi?”

“Bukan..”

“Lalu?”

“…lapar.”

“Aish, hadapkan badanmu kekiri.”

Ravi menuruti perintahku. Kini dia membelakangiku.

“Kenapa kau tidak mencoba untuk buang angin.”

“Memangnya harus aku coba ya? Aku kira tunggu sampai angin itu keluar secara alami.”

“Pabbo!”

“Yak, aku lebih tua daripadamu Yoonhee.”

“Mianhae oppa.”

“Akhirnya minta maaf juga kau.”

“Bukan masalah itu.”

“Lalu?”

Plak

“YAK!” jerit Ravi.

Prett

“Akhirnya!” ucapku lega.

“Mianhae.” ucap Ravi malu.

Dia mengusap pantatnya yang mungkin meninggalkan tanda telapak tanganku disana.

“Selamat! Akhirnya kau buang angin juga! Sekarang kau boleh makan.”

“Yoonhee..”

Secara tak sadar aku memeluk Ravi. Apa-apaan aku ini? Dia pasien pertama yang kupeluk?

“Ehmm.. mian.” ucapku canggung.

“Tunggu sebentar.” aku berjalan keluar dan mendapati suster Lee berjalan melewati kamar ini.

“Suster Lee. Tolong bawakan pasien Ravi Kim makanan ya.”

“Baiklah. Apa dia sudah sembuh?”

“Dia pucat karena lapar. Pabbo memang.”

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku ambilkan makananya.”

“Gomawo.”

Aku kembali masuk. Ravi yang masih tidur miring sedang mengusap pantatnya.

“Mianhae. Apa sakit?”

“SANGAT! PABBO! SUATU SAAT LAGI AKU PASTI AKAN MEMBALASNYA!”

“MWO?! MEMBALAS? KAU MAU PUKUL PANTATKU? SILAHKAN. KAU PUKUL PANTATKU, KUBUNUH KAU!”

“Hehehe.. bercanda. Damai.”

“Lupakan. Igo.”

“Igo mwo-ya?”

“Tidak baik kalau kau langsung makan. Mulailah dengan memakan yang manis dulu.”

Ravi mengambil botol yang kuberikan.

“Air gula.”

“Air gula?”

“Eommaku dulu sering membuatkannya untukku.”

“Apa enak?”

“Sudah, minum saja, cerewet.”

Ravi langsung meneguk air gula pemberianku.

“Pelan-pelan pabbo. Nanti tersedak.”

Ravi memelankan tegukannya itu sampai pada tegukan terakhir.

“Yak pabbo. Berhenti memanggilku pabbo. Aku ingatkan sekali lagi, aku lebih tua.”

“Yasudah. Kalau begitu aku akan memanggilmu oppa pabbo.”

“Maaf menganggu, tapi makan sudah datang.” suster Lee menghampiri kami. Dia menyerahkan sebaki penuh makanan kepada Ravi.

“Makanlah. Ayo suster Lee.” aku menarik suster Lee untuk keluar.

“Tunggu! Bisa bantu aku untuk duduk?”

Aku membantunya. Ravi menyimpan kedua tangannya kebahuku. Tanganku melingkar di dadanya. Sekali dorongan.

“Gomawo.” Ravi sudah duduk.

“Sudah? Kalau ada apa-apa panggil aku atau suster saja ya.”

Belum ada tiga langkah kami keluar.

“Yoonhee!”

“Mwo?” tanyaku jengkel.

“Temani aku makan.”

“Huft.. suster Lee. Bisakah kau temani aku juga sebentar?” aku ikut-ikutan meminta.

Aku dan suster Lee duduk dipinggir ranjang. Menyaksikan “pangeran” Ravi menyantap makannya.

“Oh iya. Suster Lee ini untukmu.”

“Boneka?”

“Sarubobo. Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja.”

“Kamsahamnida dokter, tapi maaf dokter. Aku masih ada kerjaan.” pamit suster Lee sembari berdiri.

“Baiklah suster. Maaf menganggu.”

“Gwaenchanha. Aku pergi dulu ya dokter.”

Suster Lee keluar dari kamar. Hanya tersisa kami berdua.

“Mana untukku?” tagih Ravi.

“Kau mau? Bukankah para namja menganggap kalau benda seperti ini bodoh?”

“Aku tidak.”

“Iya, aku lupa. Kau kan bukan namja.”

“Yak! Kau ini menyebalkan sekali. Cepat beri aku satu.”

“Igo.”

“Hitam?”

“Mencegah dirimu dari segala kesialan.”

“Kau mengata-ngataiku?”

“Ani. Itu memang kenyataan.”

“Aku ingin yang lain.”

“Tidak ada lagi.”

Aku menunjukkan semua sarubobo yang kupunya.

“Kurasa yang cocok untukmu sudah aku berikan kepada eomma dan appaku.” ucapku menjelaskan.

“Aku mau yang ini.” dia mengambil sarubobo pink dari dalam tasku.

“Tidak boleh!” aku merebutnya.

“Wae? Itu ada sepasang.”

“Itu punyaku.”

“Untukmu dan namjachingumu?” duganya cepat.

“Dia tidak mau. Dia bilang ini benda bodoh.” aku tertunduk, lalu menyimpan sarubobo itu kembali kedalam tasku.

“Wajahmu jadi muram.”

“Jinjja?”

“Aku salah bicara ya? Mianhae.”

“Gwaenchanha.”

“Yoonhee, bisa minta tolong?”

“Ada apa lagi?”

“Karena Hwayeon pergi aku belum membasuh tubuhku. Bisa tolong kau yang basuhkan?”

“Hah?!”

“Hanya bagian atas saja. Bagian bawahnya biar aku saja.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Aku berjalan kekamar mandi dan mengambil baskom berisi air hangat beserta dengan handuknya.

“Biar aku yang buka.”

Aku membukakan kancing baju rumah sakit milik Ravi. Kutanggalkan baju itu dari tubuhnya.

“Jadi ini yang namanya masalah? Berbuat mesum dirumah sakit?” suara yang tiba-tiba datang itu
mengagetkanku.

“Oppa…” panggilku lirih.

“Keluar. Aku ingin bicara.”

Aku mengikuti apa yang dia mau.

“Kau ini apa-apaan?!” bentaknya tak kira-kira.

“Oppa, pelankan suaramu.” aku mencoba menenagkan.

“Apa harga dirimu sudah habis?!”

“Oppa!”

“Mianhae. Oppa hanya tidak suka kau dekat-dekat namja itu. Dia bukan orang baik-baik.”

“Kenapa kau berkata seperti itu. Dia itu oppa dari temanku.”

“Pokoknya jauhi dia.”

“Terserah oppa.”

Dengan cepat aku langsung masuk ke kamar Ravi, lalu mengunci pintunya.

Tak kuindahkan segala gebrakan dari Hyunwoo.

“Yoonhee! Maaf membentakmu. Aku hanya cemburu.”

Aku menutup kedua telingaku lalu berjalan mendekati Ravi.

“Sini. Biar aku basuh tubuhmu.”

“Mianhae. Karenaku..”

“Lupakan. Oh iya. Igo.”

“Tapi katamu sarubobo ini milikmu.”

“Ambilah. Berikan ini untuk orang yang kau suka.”

“Tapi..”

“Kurasa saat ini aku perlu sarubobo hitam. Aku sangat sial hari ini.”

“Tidurlah disini. Temani aku.”

“Hah?”

“Aku kesepian. Tidurlah disofa. Hwayeon bilang sofanya sangat empuk, dan pakai ini. Malam hari disini sangat dingin.”

“Oppa..”

“Jika kau ingin mandi, kurasa bajuku yang pembantuku bawakan masih ada beberapa potong. Kalau kau ingin sikat gigi juga semua perlengkapannya ada dikamar mandi. Pakai handuk yang dilaci. Itu belum kupakai..”

“Oppa!”

“Ne?”

“Kamsahamnida.”

“Cheonma.”

Setelah membasuh badan Ravi, aku segera mandi. Meninggalkan Ravi yang sdedang sibuk membasuh tubuh bagian bawahnya.

“Yoonhee, mau makan?” tanya Ravi sekeluarnya aku dari kamar mandi.

“Tidak aku tidak berselera.” tolakku halus.

“Kau belum makan daritadi.”

“Tak apa. Aku tidak lapar.”

“Ngomong-ngomong..”

“…kau lucu sekali memakai bajuku. Semuanya kepanjangan, tapi..”

“Wae?”

“Kenapa kau memakai jaket. Dan kenapa juga kau melipat tanganmu didada?”

Perlahan wajahku memerah.

“Itu..”

“Ohh.. sudah cukup. Aku mengerti. Kau tidak memakainya saat malam ya? Sama seperti Hwayeon.” potong Ravi tergagap-gagap. Untungnya kali ini dia tidak pabbo seperti biasanya.

“Kalau yang satu lagi?” lanjut Ravi bertanya.

“Satu lagi?” tanyaku bingung.

“Dalam bagian bawah.” jelasnya.

“Ohh.. tadi aku mengorek-ngorek tasku. Ternyata ada cadangan.”

“Lucu juga. Menyimpan cadangan di tas.”

“Yak oppa pabbo. Jangan bahas itu lagi.”

“Arraseo.”

Aku duduk disofa yang mirip seperti kasur itu.

Sekarang sudah jam 7 malam lagi. Akhirnya aku bisa tidur lebih awal.

Ravi masih duduk dengan laptop diatas pangkuannya.

“HP ku, tolong.” pintanya sembari menunjuk HPnya yang ada di meja samping ranjang.

“Igo.”

Dia mulai mengotak atik HPnya dan mulai menelpon orang.

“Lee ahjumma, tolong belikan aku pakaian wanita beserta dengan dalamnya.”

“…”

“Aeh.. jangan berpkiri yang macam-macam. Pokoknya belikan saja. Aku mau barang itu besok pagi. Oh iya, aku juga titip sarapan untuk besok pagi. 2 porsi ya.”

“…”

“Jangan tanya kenapa dan buat siapa. Yang penting buat saja. Oke ahjumma? Kamsahamnida.”

“Kau menelpon siapa?”

“Pembantuku.”

Drtt drtt

“Taengi oppa.”

“Yoonie, kata Jung ahjumma kau bertengkar dengan Hyunwoo?”

“Ne.”

“Wae?”

“Dia menyebalkan itu saja. Sudahlah oppa. Aku tidak ingin membahas itu sekarang. Aku mau tidur”

“Tumben kau tidur jam 7. Tidur dimana kau?”

“Rumah sakit.”

“Ohh.. jaga dirimu baik-baik ya. Dan juga jangan bertengkar dengan Hyunwoo lagi. Arraseo?”

“Ne. Arraseo. Annyeong.”

“Annyeong.”

“Nugu?” tanya Ravi penasaran.

“Saudaraku.”

“Itu panggilan sayang kalian?”

“Iya.”

“Lucunya. Seandainya aku punya satu darimu.”

“Mwo?”

“Ani. Kau tidurlah. Kelihatannya kau lelah sekali hari ini.”

“Sedikit.”

“Tidur lah kalau begitu. Selamat malam.”

“Ne. Selamat malam, oppa pabbo.”

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

—TBC—

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 3)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Aku merasakan tangan Hyunwoo menutup jendela disampingku. Aku juga merasakan selimut yang Hyunwoo pakaikan padaku mulai membuat tubuhku hangat. Dan ada lagi yang hangat..

“Saranghae Yoonhee-ya..”

Cup

Pipiku..

Tak lama Hyunwoo memelukku , lalu tertidur.

Sungguh, aku tidak ingin suasana ini segera berakhir.

“Yoonhee-ya, kita sudah sampai.” Hyunwoo mengusap rambutku lembut, namun hal itu bisa membangunkanku.

Akhirnya kita sampai juga dengan selamat di Jepang.

Dia membantuku untuk berdiri. Masih jam 1 subuh disini. Jelas, aku masih mengantuk.

Hyunwoo menuntunku ke bandara.

“Duduklah, aku yang akan ambilkan kopernya.” Aku menunggu disebuah bangku panjang dibandara, sedangkan Hyunwoo mengambil koperku dan juga kopernya.

“Ayo ke hotel.” kami berjalan keluar. Didepan Hyunwoo membberhentikan sebuah taksi, kami berdua masuk.

“Grand Paradise.” ucap Hyunwoo pada sang supir.

Tak lama taksi mulai bergerak.

Kami berhenti disebuah hotel mewah dan besar yang sudah disewa oleh penyelengara acara.

“Atas nama Yoonhee Jung dan Hyunwoo Kim.” ucap Hyunwoo kepada sang resepsionis dengan bahasa Inggris.

Sang resepsionis memberikan dua buah kunci. Kamar 312 dan juga 314.

Kami berjalan memasukki lift.

“Yoonhee..”

“Ne.”

Hyunwoo menunjuk sebuah papan yang ada.

Lift sedang dalam perbaikan.

“Kurasa kita haru naik tangga.” Hyunwoo tersenyum kearahku.

Dengan susah payah, aku menarik koperku kekamar. Meskipun ada dilantai 3, tapi tetap saja yang namanya tangga. Melelahkan.

“Berat?” tanya Hyunwoo saat aku berusaha menaiki anak tangga pertama.

“Ne.”

Satu lantai akhirnya aku lewati. Penyiksaan ini namanya.

“Perlu bantuan?” tanya Hyunwoo yang berjalan cukup jauh didepanku.

“Ani. Gwaenchanha.”

“Pabbo.” Hyunwoo berhenti, lalu menyimpan kopernya dipinggir.

“Kjja.” Hyunwoo mengangkat koperku dan menyimpannya disamping kopernya.

“Yoonhee, ayo duduk dulu sebentar.”

Aku duduk disamping Hyunwoo yang tengah duduk juga. Kami ada ditengah-tengah lantai 2 dan 3.

“Yoonhee..”

“Hem?”

“Jika ada di tangga bersamamu, aku jadi ingat sesuatu.”

Aku memutar otakku. Kejadian di tangga apa yang kita..

“Yak oppa!” rontaku protes. Perlahan wajahku memerah.

“Wae? Wajahmu mulai matang.” Hyunwoo menunjuk pipiku yang paling merah.

“Lupakan kejadian itu!” aku meronta makin keras.

“Wae? Itu adalah saat-saat terbaik dihidupku. Apa harus kita ulang?”

“Andwe!” aku berdiri, lalu kembali mengangkat koperku.

“Pabbo! Oppa pabbo!!” keluhku sembari berteriak.

Akhirnya sampai lah kita dilantai 3.

“Mau kamar 312, 314, diluar, atau satu kamar denganku?” goda Hyunwoo.

“Yak oppa, jangan bercanda! Aku mau 314.”

“Ini tuan putri.” dia memberikan kunci kamar 314 ketanganku.

Kami berjalan ke kamar kami masing-masing.

“Bersebelahan?” tanyaku sesampainya didepan kamar.

Memang, kamar 312 dan 314 itu bersebelahan.

“Bukalah.” perintah Hyunwoo.

Aku membuka kamar itu. Diawali dari kamar mandi yang cukup luas. Pancuran, bathtub, kaca besar didepan wastafel, dan tak ketinggalan klosetnya. Lalu ada lemari yang didalamnya ada sepasang handuk mandi. Dibawahnya terdapat rak yang menyimpan beberapa pasang sandal. Semakin kedalam, ada televisi plasma, kulkas kecil, dua buah sofa, meja bundar kecil, dan yang terbaik adalah satu kasur queen size.

“Bagus..” decak Hyunwoo. Dia berkeliling kamarku.

“Yoonhee, ada ini ternyata.” dia menunjuk sebuah pintu seukuran pintu pada biasanya.

“Igo mwo-ya?” tanyaku pada Hyunwoo.

“Fellingku.” dia memutar kunci yang ada pada pintu itu.

Krek

“Benarkan.” ucap Hyunwoo bangga.

Ohh.. ternyata ini pintu antara bilik. Pintu yang langsung tehubung dengan kamar Hyunwoo.

“Bagus.” bisik Hyunwoo.

“Mwo? Apa oppa mengatakan sesuatu tadi?”

“Ani.”

“Aeh.. kau memikirkan sesuatu yang kotor ya?”

“Pabbo. Bukan!”

“Aku mau tidur.” aku berbalik dan mulai berbaring dikasurku.

“Tidurlah.” Hyunwoo menyusul, lalu duduk disofa kamarku.

“Kenapa disini? Tidur sana.” perintahku.

“Disini juga aku bisa tidur.”

“Kau kan punya kasur disebelah, tidurlah dikasur, bukan disofa.”

“Kalau begitu, geser sedikit.”

“Mwo?! Kau mau macam-macam?”

“Bercanda Yoonhee, jangan marah. Aku akan tidur disofa. Jika aku tidur bersamamu, bisa-bisa appa marah dan menghapusku dari daftar mantu.”

“Mantu.. sana tidur! Di kasurmu.”

“Tapi..”

“Sana oppa! Jangan manja, atau aku akan marah.”

“Ne. Arraseo. Aku akan tidur dikasurku. Jangan marah-marah, nanti cepat tua..”

Hyunwoo beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekatiku.

“..selamat tidur.”

Cup

Dia mengecup keningku, lalu pergi kekamarnya.

Pintu lintas itu sengaja kami biarkan terbuka, yah.. itulah kesepakata kami. Aku pasti membutuhkan Hyunwoo untuk membangunkanku, berguna bukan?

Akhirnya kami berdua tertidur.

“Yoonhee, sudah jam 5. Kita harus siap-siap.” Hyunwoo membangunkanku, seperti yang sudah aku bilang.

Kami berdua bersiap-siap, lalu pergi ke balai pertemuan yang sudah ditetapkan.

Seminar ini sangat berarti bagiku. Setelah penelitian selama 5 tahun tentang masalah penyakit salah satu organ dalam, akhirnya aku berhasil. Dan sekaranglah saatnya bagiku untuk menunjukannya kepada mata dunia.

“Presentasi anda tadi begitu luar biasa dokter Jung.” beberapa dokter senior menjabat tanganku.

“Kau berhasil! Yoonhee jjang!” Hyunwoo memberikan kedua jempolnya padaku sesudah aku selesai presentasi.

Aku hanya tersenyum membalas pujian itu.

“Ayo kita makan. Seminar selanjutnya akan dimulai saat sore hari.” Hyunwoo membawaku keluar dari balai pertemuan.

Dia membawaku ke sebuah kedai ramen.

“Maaf pinggir jalan. Tapi aku tahu, tempat seperti ini adalah gayamu.”

Aku terkekeh. Hyunwoo memang paling bisa membuatku tertawa seperti ini.

Drtt drtt

“Abeoji!”

“Bagaimana presentasimu?”

“Berjalan dengan sangat lancar dan pendapatku diterima banyak orang.”

“Selamat anakku. Apa Hyunwoo bersamamu?”

“Ne. Hyunwoo oppa yang menjagaku dengan baik disini.”

“Baguslah. Berikan HPmu sebentar ke Hyunwoo.”

Aku menyodorkan HPku pada Hyunwoo.

“Appa.” ucapku singkat.

Hyunwoo mengangguk, lalu menerima telepon itu.

“Abeoji.”

“…”

“Ne. Arraseo.”

“…”

“Ne abeoji. Annyeong.”

Hyunwoo mengembalikan HPnya padaku.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Biasa, menyuruhku untuk menjaga bayi besar yang satu ini.”

“Aishh.. appa ini. Aku kan sudah besar.”

Drtt drtt

“Telepon lagi?” tanya Hyunwoo heran.

Aku tersenyum menanggapinya.

Panggilan masuk dari nomor asing?

“Nugusaeyo?” tanyaku hati-hati.

“Yoonhee!”

“Kau lagi. Wae?”

“Dimana kau? Bukannya kau yang harusnya mengecekku pada pagi hari?” nada suaranya mengebu-gebu.

“Aku sedang pergi.”

“Kemana? Kenapa harus pergi? Karena kau pergi, dokter Jung tua cerewet ini yang harus melakukan pengecekan setiap paginya.”

“Dokter Jung tua cerewet mana maksudmu?!”

“Ituloh, dokter direktur disini. Jung Yoonmo kalau tidak salah. Ekh tunggu, jangan-jangan..”

“Ne. Dia appaku tahu!!”

“Oh, ja-jadi dia appamu?” suaranya mulai pelan.

“Ne. Kenapa? Ada masalah?”

“Mi-mian, aku tidak tahu.”

“Kalau tidak tahu janagn sok tahu.”

Tut

“Nugu?” tanya Hyunwoo heran.

“Pasien kurang ajar.” aku membanting HP ku ke meja.

“Kukira namjachingumu.” ucapnya enteng.

“Aishh, mana mau aku dengan namja seperti itu.”

Drtt drtt

“Apa lagi?!”

“Yoonhee. Mianhae, aku tidak bermaksud.”

“Makanya punya mulut jangan dipakai untuk ceplas ceplos begitu saja!”

“Aku benar-benar tidak tahu. Oh iya, ngomong-ngomong kau..”

“Yoonhee, ramennya datang. Makan dulu sebelum dingin.” Hyunwoo menyela percakapan kami.

“Ne oppa.” turutku.

“Tutup teleponnya, sekarang.” suara Hyunwoo makin tegas.

“Ne oppa.”

“Siapa itu? Namjachingumu?” Ravi kembali bicara keras.

“Memangnya apa urusannya denganmu?” ketusku.

“Tunggu, aku belu..”

Tut

“Siapa sih dia?” Hyunwoo bertanaya serius.

“Pasienku dan juga oppanya temanku.” ucapku pelan.

“Ohh.. oppa tidak begitu menyukainya. Dia sangat menganggu.”

Aku hanya mengangguk pelan. Hyunwoo sedang marah?

“Yoonhee, makan.” Hyunwoo menyuruhku lagi.

“Ne oppa. Aku akan makan dengan baik.”

Suasana menjadi canggung. Apa ini salahku? Ani. Ini semua salah Ravi.

“Terimakasih untuk makannya.” ucap kami serempak.

“Hyunwoo oppa, kau marah?” tanyaku mencoba memcah suasana canggung ini.

“Ani. Aku ingin berjalan-jalan. Mau ikut.”

Aku mengangguk antusias.

Sore datang terlalu cepat. Setelah berjalan-jalan, kami ke hotel untuk mandi. Baru akhirnya kami kembali ke seminar.

“Seminar selesai.” ucap Hyunwoo senang.

“Tapi kita harus pulang dan kembali bekerja.” aku menyeret diriku dari lobby hotel ke lift. Sekarang liftnya sudah sembuh.

“Aku ingin diam dikamarmu dulu. Ayo minum the malam-malam.” ajak Hyunwoo.

Aku segera mengiyakan ajakan Hyunwoo itu.

Aku membuka pintu kamar, dan kami berdua masuk.

Hyunwoo sedang asik meracik the, sedangkan aku baru selesai membasuh tubuh.

“Ini. Manis seperti dirimu.” goda Hyunwoo sembari memberikan secangkir the padaku.

Kami berjalan kebalkon. Hari ini adalah bulan purnama. Malam indah yang tidak boleh dilewatkan.

“Malam yang indah.” ucap Hyunwoo sependapat denganku.

“Hem..” aku mengirup teh itu, lalu meminumnya.

“Bagimana kalau kita menyelesaikan masalah kita yang belum selesai.”

Aku berhenti meminum teh itu.

“Apa harus?” tanyaku.

“Aku hanya benci semua itu berakhir dengan mudahnya.”

“Itu namanya takdir oppa.”

“Kalau saja aku tidak meninggalkanmu. Maafkan aku.”

“Sudah kubilang, lupakan masalah itu.”

“Ayo kita mulai dari awal…”

Aku menatap Hyunwoo, begitupun dia.

“Saranghae Yoonhee-ya.”

Drtt drtt

“Aish.. menggangu sekali.” Hyunwoo mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Yeobusaeyo?” tanyaku ditelepon.

“Yoonhee, kau belum jawab aku. Apa tadi itu namjachingumu?”

“Huft.. Ravi-ssi..”

“Oppa saja, tolong.”

“Ravi oppa. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi tolong jangan ganggu aku.”

“Jawab aku dulu.”

“Hm… ne. Dia namjachinguku.”

Ravi terdiam sejenak.

“Baiklah kalau begitu. Maaf menggangumu.”

Ravi menutup teleponnya terlebih dahulu.

“Dia lagi?” duga Hyunwoo.

Aku mengangguk pelan. Baru kali ini aku mendengar suara Ravi sesendu itu.

Drtt drtt

“Biar oppa.” Hyunwoo merebut HP dari tanganku.

“Yeobusaeyo.” tanyanya tegas.

“…”

“Oh, Taehyung. Sebentar ya.”

Hyunwoo menekan tombol speaker.

“Yoonie!” teriak Taehyung.

“Taengi oppa!” balasku.

“Kau sedang dengan Hyunwoo hyung?”

Aku menatp Hyunwoo sekilas, lalu kembali menjawab.

“Ne.”

“Wah.. lihat Yoonie oppa. Pasti kau kembali ceria.”

“Hehe..”

“Hyung, aku titip saudaraku yang paling kusayang ini ya.”

“Serahkan padaku.”

“Aku tidak ingin menggangu. Annyeong.”

“Annyeong.” ucap kami serempak.

Aku menutup telepon itu dan menyimpannya disaku celanaku.

“Sampai dimana kita tadi?” tanya Hyunwoo kembali serius.

“Sampai di..”

Cup

Omo! Hyunwoo mengecupku..? Ini, ciuman yang sama saat 10 tahun lalu? Hal ini kembali terulang? Tunggu, tapi ada yang berbeda. Desakan ini. Hatiku yang terdalam sepertinya merasakan sesuatu.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

—TBC—

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 2)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Knock knock

“Siapa?” tanya dari dalam.

Aku langsung membuka pintu itu.

“Wah.. dr.Jung, benarkan?” tanyanya antusias.

Aku menghampiri ranjangnya. Ravi tengah tiduran. Ikatannya sudah dibuka. Pasti yeoja tadi marah padaku karena pasangannya diikat seperti orang gila, tapi memang dia gila.

“Kata suster Lee kau mencariku kemarin. Waegeurom?” tanyaku ketus.

“Aku lapar.” ucapnya polos.

“Lalu?”

“Mau makan.”

“Belum buang angin, belum boleh makan.”

Ravi mempotkan bibirnya.

Knock knock

Kami berdua menatap kearah pintu.

“Dokter Jung, anda dicari direktur.”

“Oh, arraseo. Aku akan keluar nanti.”

Pintu kembali tertutup.

“Siapa itu?” tanya Ravi penasaran.

“Suster lah jelas. Kau tidak lihat apa pakaiannya?” Huft, dia benar-benar bodoh.

“Ohh.. lalu direktur itu?”

“Yang memimpin sekaligus empunya rumah sakit ini.”

“Ohh.. kau ingin dipecat?” dunganya cepat. Dia menunjuk wajahku sembari tersenyum menyebalkan.

“Cih! Kata siapa?” aku menangkis tangannya.

“Kau kan melakukan malpraktek padaku. Sudah pantas kalau kau di..”

Mulutnya ertutup saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“A-apa yang mau kau-kau lakukan?” tanyanya gelisah.

“Diam atau kutekan jahitanmu!”

Ravi membulatkan matanya, dan aku menatapnya dalam-dalam.

“Mau kemana lagi?” tanyanya saat aku berjalan mundur.

“Keluarlah. Jelas.”

“Tapi kau har..”

Klek

Aku menutup pintu kamar itu, lalu berjalan mendekati suster Kang yang sedang menunggu didepan.

“Huft.. Maaf lama suster Kang.”

“Gwaenchanha.”

“Apa appa ada di..”

“Sajangnim.” suster Kang langsung mengubah raut wajahnya, lalu membungkuk.

“Mwo? Abeoji..” aku perlahan menengok kebelakang.

“Yoonnhee! Dari tadi appa mencarimu.”

“A-ada pekerjaan yang harus aku lakukan tadi.”

“Sudahlah, ayo ikuti appa.”

Aku berjalan mengikuti appa yang berjalan lebih depan dibanding aku. Dan sampailah kita di kantin rumah sakit.

“Duduklah, appa akan memesan makanan. Kau ingin apa?”

“Ramyun dan tteokbokki!”

“Kau ini. Makan makanan yang seperti itu.”

“Hehe, aku juga mau lemonade. Gulanya setegah.”

“Arra, arraseo anakku yang cerewet.”

“Hehe..”

Aku tersenyum. Mengenang masa-masa saat aku bersama eomma dan appa. Berkumpul, tertawa, dan saling berbagi kisah. Aku bahkan sampai lupa, kapan terakhir kita berkumpul. Masalah pekerjaanlah kendalanya.

“Apa yang kau pikirkan Hee-ya?” tanya appaku lembut.

“Animida abeoji. Aku hanya sedang memikirkan abeoji dan eomeoni. Kapan-kapan kita makan bersama ya.”

“Appa sih boleh-boleh saja. Tapi kamu kan sibuk, kapan ada waktu?”

“Hemm.. bagaimana kalau nanti saat aku pulang seminar. Kosongkan jadwal operasi ya abeoji.”

“Arraseo. Makanlah, ramennya nanti dingin.”

“Ne. Aku akan makan dengan baik.”

Hri ini appa menyuruhku pulang cepat karena nanti malam aku harus terbang malam ke Jepang untuk seminar selama 2 hari.

“Apa yang harus Yoonhee lakukan saat luang seperti ini?” tanyaku saat memasuki mobil.

Yup, akhirnya aku putuskan untuk berkeliling Korea. Sudah lama aku tidak melakukan ini. Dimulai dari mengunjungi beberapa situs, berbelanja, dan akhirnya aku ada disini. Direstoran dipinggir jalan.

“Lime Mojito, tolong. Dan juga tuna mushroom. Kamsahamnida.” pesanku kepada seorang pelayan.

Aku menyandarkan tubuhku dan mengamati jalanan Korea yang semakin sibuk. Sampai akhirnya pandanganku harus kualihkan.

“Dasar anak zaman sekarang. Apa tidak punya tempat lain untuk berciuman?” tanyaku saat melihat sepasang insan tengah berciuman dibangku kota.

Aku menundukkan kepalaku dan kembali mengingat. Namjachingu terakhirku, kita putus saat dia masuk ke perkuliahan. Berarti itu sudah 10 tahun yang lalu?! Aku baru sadar, selama itu aku menjomlo?

Drtt drtt

Sederet angka yang tak kukenali mucul dilayar HPku. Kutekan saja tombol hijaunya.

“Dokter Jung!” panggilnya sedikit berteriak.

Aku sedikit menjauhkan HP itu, lalu mendekatkannya kembali.

“Nugusaeyo?” tanyaku penasaran.

“Ravi. Ravi Kim.” ucapnya bangga.

Aishh.. dia lagi.

“Apa yang kau mau?” tanyaku jengkel.

“Makan. Aku daritadi mau makan.”

“Sudah aku bilang. Belum buang angin belum boleh makan!”

Aku merasakan sesuatu yang aneh..

“Mianhamnida. Mianhamnida.” ucapku sembari membungkuk. Sial, aku lupa, aku sedang ada di restoran.

“Hahahaha!!! Pabbo!”

“Yak! Diam atau..”

“Atau apa? Tekan jahitanku?”

“Aishh.. jinjja. Kau dapat nomorku dari mana?”

“Tak sulit mendapatkan nomormu disini. Apa gunanya para suster?”

“Jinjja.. tutup teleponnya, dan hapus nomorku secepatnya.”

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh seorang pasien memiliki nomor dokter yang merawatnya?”

“Cih!”

“Maaf, pesanannya datang. Lime mojito dan tuna mushroom.” seorang pelayan datang, lalu menyodorkan pesananku.

“Kamsahamnida.”

“Sial. Kau makan?” tanyanya jengkel.

“Memang apa urusanmu?”

“Aku mau! Teganya k..”

Tut

“Berisik.” decakku dalam hati. Gara-gara dia, selera makanku berkurang. Tapi, ini mahal. Aku harus menghabiskannya.

Aku akhirnya pulang dai jalan-jalanku itu. Aku segera berkemas untuk pergi. Setelah menyiapkan segala keperluan, aku baru ingat sesuatu. Laporan-laporan yang harus aku bawa masih ada di rumah sakit.

Ini baru jam 8 malam. Dan pesawatku take off pada 11 malam. Aku segera ke rumah sakit dan mengambil laporan itu.

“Mianhae” suara samar-samar itu terdengar lagi dari kamar Ravi.

Aku berjalan mendekati pintu, dan kembali mengintip.

“Lakukan dengan benar, pabbo.” bentak Ravi cukup keras.

“Ne ne, arraseo pangeran.” Yeoja itu membasuh Ravi yang sudah telanjang dada. Astaga, mereka begitu intens. Ditambah mereka bercakap-cakap layaknya sepasang suami istri.

“Aaah, dia memang begitu. Biasa lah, orang tua. Banyak omong.” mereka berdua tertawa lepas.

Oke, ini sudah kelewatan.

Aku membanting pintu itu dan menatap mereka dengan tatapan mengintrogasi.

Baru aku sadari, yeoja itu…

“Omo, Hwa Yeon?!” ucapku tak percaya.

“Eeeh? Eonni? Sedang apa kau disini Kau tidak bekerja?”

Aku berjalan maju mendekati mereka.

“Ini aku sedang bekerja pabbo! Aku yang seharusnya bertanya! Apa yang kau lakukan disini pada pasienku? Kau mau memperkosanya?” bentakku.

Hwayeon melemparku handuk yang dipakai untuk membasuh Ravi.

“Yak! Kenapa kau melempariku handuk basah! Pabbo!” ucapku dengan nada yang mulai naik.

“Kau yang pabbo! Mana mungkin aku memperkosa namja sepertinya.” ujar Hwayeon sambil menunjuk Ravi oppa yang masih terbaring di atas kasur.

Aku mengangkat alisku sebelah.

“Dia itu oppaku eonni! Ravi oppa! Aiiih, kau jinjja, pabboya!” Hwayeon menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian melipat tangannya di depan dada dan memandangku dengan kesal.

Perlu waktu sampai akhirnya kata-kata itu dapat diserap otakku.

“M-mwo? D-dia? Tapi namanya Wonshik, bukan Ravi.” Hwayeon memutar bola matanya malas. Benar ternyata, aku ini pabbo.

“Yayaya terserah kau saja. Ah, kalau ada kau, aku pulang saja oke? Aku sibuk. Oh ya oppa, besok pagi aku harus pergi ke Jeju dengan CEO Cho corp itu, doakan aku ne? Aku gugup sekali!” Hwayeon berpamitan dengan Ravi.

“Ah jinjja? Arraseo, oppa doakan. Dan emmm, hati-hatilah selama disana.” balas Ravi.

“Arraseo, annyeong oppa, annyeong pabbo.” Hwayeon keluar dari kamar ini, meninggalkan kami berdua.

“Hahahaha!!! Pabbo!” Ravi menunjuk nunjuk wajahku yang perlahan memerah.

“Diam!” bentakku.

“Ternyata aku ada teman pabbo.. ekh, kau menangis? Wae?”

Aku tertegun mendengar perkataan Ravi tadi.

“A-ani!” ucapku tegar. Aku menyeka air mata yang mulai membasahi pipiku. Ternyata benar, aku menangis. Tapi kenapa?

“Dokter Jung, waegeurae?”

Aku menangis semakin keras. Entah apa sebabnya, tapi air mata ini tidak dapat berhenti. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku juga mengigit bibir bawahku agar isakkannya tidak terdengar, tapi apa daya, suara isakkan itu semakin keras.

“Yoonhee.. benarkan itu namamu? Wae? Kenapa kau menangis?” Ravi mulai menarik tangan yang menutupi wajahku.

“DIAM! Aku sudah bilang kau untuk diam kenapa kau terus menggangguku?!” aku melepaskan tangannya dengan kasar.

“Yoonhee.. Apa kau malu? Atau kau marah? Ada apa, cerita saja.” tanyanya melembut.

“Berisik!” bentakku makin menjadi-jadi.

Ravi menggernyitkan dahinya.

“Kau ini kenapa sih?” tanyanya pelan, namun heran.

“Kau yang kenapa?!”

Aku berlari keluar.

“Iya, aku ini kenapa?” tanyaku dalam hati. Aku mendudukan diriku disebuah kursi didepan kamar Ravi. Aku menyeka air mataku yang daritadi mengalir. Apa sih aku ini? Menangis tanpa sebab. Hey Yoonhee, sebenarnya untuk siapa sih air mata ini? Dan untuk siapa air mata ini sebenarnya?

Drtt drtt

“Yoonie!”

“Ta-taengi oppa..”

“Suaramu seperti baru menangis, wae?”

“Ani. Gwaenchanha.”

“Ada orang yang membuatmu marah? Jengkel? Malu? Sedih?”

“Ani oppa, gwaenchanha. Tolong lupakan masalah itu.”

“Arraseo. Dengar-dengar dari Jung ajjushi, kau akan pergi hari ini. Kemana?”

“Jepang, untuk seminar.”

“Woah.. Yoonie memang jjang!”

“Hehe.. ada apa menelpon Taengi oppa?”

“Oppa hanya sedang bingung.”

“Wae?”

“Ani. Gwaenchanha.”

“Aehh.. balas dendam ya.”

“Ani.. oppa ada urusan sebentar. Annyeong. Have safe flight.”

“Ne oppa. Annyeong.”

Aku menutup telepon itu. Hah.. aku sampai lupa tujuan utamaku ke rumah sakit.

Aku berjalan keruanganku dan mengambil laporan yang tertinggal dimeja kerjaku.

Oke, saatnya untuk pergi.

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dilobby utama.

“Oh, suster Lee. Dinas malam?”

“Ne. Apa dokter mau pergi sekarang?”

“Hem.”

“Baiklah kalau begitu. Semoga sukses dan selamat sampai tempat tujuan.”

“Gomawo. Oh iya, suster Lee. Aku titip rumah sakit dan juga appa ya. Jangan sampai dia terlalu lelah.

Aku takut dia sakit. Dan juga titip semua pasienku ya. Aku mengandalkanmu.”

“Ne. Arraseo.”

“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong.”

Aku mengendarai mobilku meninggalkan rumah sakit. Bandara adalah tujuanku selanjutnya.

Aku menarik koperku memasukki bandara. Tiket dan passport sudah ada ditangan kananku.

“Yoonhee-ya.” dia menepuk pundakku dari belakang.

“Hyunwoo oppa..” balasku.

“Lama tak bertemu.”

Kami berdua tersenyum. Benar katanya, kita sudah lama tidak bertemu.

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya memulai percakapan.

“Begitulah. Cukup sukses sampai akhirnya bisa bekerja sama denganmu bukan?”

Dia terkekeh, aku sangat merindukan tawa itu.

“Apa yang aku lihat Yoonhee?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ani. Kalau kau, bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku balik.

“Begitulah. Cukup sukses sampai akhirnya bisa bekerja sama denganmu bukan?”

“Aeh.. jangan ikuti kata-kataku! Kebiasaan.”

“Masih ingat ternyata.”

Kami berdua kembali tekekeh.

Banyak yang kami bicarakan, sampai akhirnya panggilan maskapai penerbangan kami diumumkan.

Kami berjalan masuk ke pesawat. Kelas bisnis, ini tempat kami. Aku duduk dekat jendela sedangkan Hyunwoo disebelahku.

“Jadi, apa kau sengaja ke Korea untuk menjemputku?” tanyaku saat pesawat sudah mulai terbang.

“Ani. Aku sudah kembali tinggal di Korea 2 bulan lalu.”

“Kenapa kau tidak mengabariku?”

“Aku tahu kau sibuk, jadi aku urus saja sendiri.”

“Oppa ini. Dimana kau tinggal.”

“Tak jauh dari Seoul Hospital. Itu rumah sakitmu kan?”

“Ne.”

“Itu akan menjadi tempat kerjaku.”

“Jinjja? Kenapa appa tidak memberitahuku ya?”

“Aku bilang pada appa agar dia tidak memberitahumu dulu.”

“Kau ini. Membuatku menjadi sangat bodoh didepanmu.”

“Memang.” Hyunwoo mengacak-acak rambutku.

“Masih tetap pabbo..” dia menggantungkan kalimatnya.

“..polos..”

“..lugu..”

“..dan manis..”

“Akh, sudahlah. Aku ingin tidur.” aku menyudahi suasana canggung ini.

“Selamat malam kalau begitu, Yoonhee.”

“Ne Hyunwoo oppa. Selamat malam.”

Aku mulai memejamkan mataku, dan sampai akhirnya semuanya benar-benar gelap.

Aku merasakan tangan Hyunwoo menutup jendela disampingku. Aku juga merasakan selimut yang Hyunwoo pakaikan padaku mulai membuat tubuhku hangat. Dan ada lagi yang hangat..

“Saranghae Yoonhee-ya..”

Cup

Pipiku..

Tak lama Hyunwoo memelukku , lalu tertidur.

Sungguh, aku tidak ingin suasana ini segera berakhir.

—TBC—