Tag Archive | Donghae

The Most

Title: The Most

Genre: Hurt, Drama.

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Find by yourself ^^

 

Hwayeon’s Note:

Hello, this is me again. Maaf kalau udah lama banget author ga ngepost. Yah, author lgi kena penyakit keras yang pasti dialami semua penulis. Writer’s block yaitu males. Yeah, berhubung author juga masih males bikin yang lain. Author iseng aja bikin ff ini. Tengah malem gini, gara-gara insomnia. Oke then, cukup cuap cuapnya. Selamat menikmati okeh? Jangan lupa komen guys.

Happy Reading

 

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

 

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa. Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, hanya itu. jadi kau tidak perlu berhubungan dengannya sembunyi-sembunyi.”

“-karna itu menyakitiku saat mengetahuinya.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau ia menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya mengatakan sebaliknya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. DIa yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap saat kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, matanya kosong dan tubuhnya kaku.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. aku akan sakit, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itu rasa cintaku padamu.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

 

.

 

Hwayeon menatap jemari tangannya yang terpasang cincin kawin dengan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Tidak sekalipun Kyuhyun menghubunginya, tidak sekalipun Kyuhyun mencoba mencarinya. Jauh dilubuk hatinya, ia mengharapkan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Sehari terasa seperti seabad bagi Hwayeon. Rasanya sungguh menyiksa.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.”

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh dengan mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun 3 tahun lalu datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya.

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendiri yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, kecewa. Dan satu hal yang pasti, Hwayeon saat ini tengah sedih, terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihatnya,sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “tentu. Kajja.”

Hyera membawa Hwayeon ke meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan secepatnya pindah saat aku sudah mendapatkan rumah supaya aku tidak menyusahkan kalian lebih lama.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kami keluargamu ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini.” Donghae menatap Hwayeon tajam, sedangkan Hyera menyikut perut Donghae.

Tangan hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud. Tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana jam 3.”

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Ia akhirnya memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba member Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir.”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, ia merasa lega.

Mungkin seharusnya ini yang dia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya ia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat diamana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah menyuruh Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaan tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon. Dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana.

Rasa rindu membuncah di dadanya, melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil menabrak Hwayeon.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, Hwayeon tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bending.

“TELEPON AMBULANCE! KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. orang-orang kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae cemas

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panic

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia sangat mengkhaawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan. Yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melkukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya sudah kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih. “bayinya.” Lirih Kyuhyun, “bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka menangis berdua, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera coba menenangkan.

Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

 

.

 

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali.” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia bisa mendengar suara Kyuhyun dalam tidurnya, dan ia memaafkan Kyuhyun. Ia juga sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh bebannya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dia, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya samapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-FIN-

 

Advertisements

I’m in Love [prolog]

Title: I’m in Love prolog

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)

Note:

Silahkan baca kalau anda ingin baca. Saya ga masalah dengan silent readers. Saya lebih menghargai orang yang menjadi silent reader dari pada ngebash disini.

Typo bertebaran.

Disini juga ada Gender Switch untuk leeteuk dan heechul, jadi yang tidak suka lebih baik tekan tombol back yang berada di pojok kiri atas. Hehehe.

Jangan lupa comment ya.

Terimakasih ^^

I'm in Love

***

 

I’m in Love Prolog

You

Hwa Yeon duduk dengan cemas di kursinya. Ia memandang resah kedua orang tuanya yang kini tengah duduk dihadapannya dan menatapnya dengan intens. Sudah 15 menit mereka terdiam, dan itu membuat Hwa Yeon cemas bukan main.

“Eomma, appa, sebenarnya ada apa? Kalian mau ngomong apa? Kenapa diam saja dari tadi.” Tuntut Hwa Yeon resah. Hwa Yeon memandang ibunya, Park Jung Soo ah maksudnya Kim Jung Soo atau lebih sering dipanggil Leeteuk dengan pandangan bertanya. Tapi, yang ditatap malah mengalihkan pandangannya.

“Isshhh, appa!!!Eomma!!! Kalau kalian masih diam, lebih baik aku pergi saja!” ancam Hwa Yeon sakratis. Akhirnya sang appa berdehem sejenak.

“Ekhem. Begini, Hwa Yeon-ah. Emh, kau tau kalau appa punya perusahaan bukan?” tanya sang appa hati-hati. Hwa Yeon mengangguk lalu mengerutkan keningnya bingung.

“Omo! Apa perusahaan apa bangkrut?! Omo omo, gwaenchana appa. Aku bisa sekolah sambil bekerja, tenang saja. Aku bisa menjadi pelayan restaurant, atau menj-“

“Yak! Siapa yang bilang perusahaan apa bangkrut?! Dan juga, sampai kapanpun appa tidak akan membiarkanmu bekerja menjadi pelayan!! Dasar anak nakal!” Hwa Yeon terkekeh lalu mengusap tengkuknya bingung.

“Kalau bukan bangkrut lalu perusahaan apa kenapa?” Kim Young Won, ayah Hwa Yeon yang sering dipanggil Kangin itu kemudian terkikik geli.

“Perusahaan apa berjalan dengan baik, Hwa Yeon-ah.”

“Eh? Lalu kenapa? Bukankah itu bagus?”

“Memang, karena itu. Appa memutuskan kita semua akan pergi ke Seoul. Apa harus mulai bekerja secara aktif di perusahaan. Appa sudah mengurus semuanya, hanya tinggal menunggu persetujuanmu. Bagaimana menurutmu?” Hwa Yeon memandang kedua orang tuanya lekat-lekat.

Ketika ia melihat mata kedua orangtuanya yang menyiratkan kegelisahan, khawatir, dan harapan, pada akhirnya ia mengangguk.

“Lalu, Yesung oppa? Apa dia juga setuju?”

“Tentu saja! Oppamu ini juga ingin pindah untuk mencari wanita seoul yang cantik-cantik untuk dijadikan istri. Yakan appa?” ujar Yesung yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Hwa Yeon yang mendengar ucapan oppanya itu langsung tertawa terbahak-bahak.

“Yak! Kenapa kau malah tertawa, eoh?!”

“Karena oppa sangat lucu.” Sindir Hwa Yeon sakratis membuat Yesung otomatis memandangnya geram.

“Kau meragukan oppa eoh? Begini begini juga oppa banyak yang naksir kau tau?” ujar Yesung membanggakan diri. Hwa Yeon tersenyum mengejek lalu memandang oppanya dengan pandangan menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Oh ya? Siapa yang mau dengan pangeran kepala besar sepertimu?” Yesung melotot, tapi bukannya takut, Hwa Yeon malah balas melotot, jadi mereka saling pelotot-pelototan*bahasa dari mana ini thor ._.*

“Apa kau bilang tadi?!”

“Pangeran kepala besar. Wae? Wae? Wae?! Aku benar kan? Kecilkan dulu kepalamu supaya para yeoja tidak melarikan diri.”

“YAK! NEO, KIM HWA YEON!”

“WAE! WAE! WAE! KIM JONG WOON PABBO!”

“YAK!”

“YAAAAAAAAAAAAAAA!” Hwa Yeon dan Yesung menoleh bersamaan saat mendengar teriakan sang appa yang sangat merdu~ Tidak lama, keduanya berpandangan lalu nyengir. “Kalian berdua benar-benar, Aish! Teuki-ah, apa mereka benar-benar anak kita? Kau tidak salah mengambilnya di rumah sakit kan?” tanya Kangin seraya mengerling nakal pada istrinya.

“Ah, sepertinya kita memang salah mengambil bayi. Ah, eotteokhae yeobo.” Jawab Leeteuk yang meladeni Kangin untuk menggoda kedua anaknya yang kekanakan. Lagi pula, jika mereka sadar, tidak mungkin mereka salah mengambil bayi di Rumah Sakit. Kenapa? Lah, ngelahirinnya aja di rumah kok. Kkk~

“Mwo?! Yak eomma, jangan seperti itu~!” Ucap Hwa Yeon manja sekaligus membentak. “Aiish, arraseo arraseo. Cha, sekarang bereskan barang barang kalian. Kita akan mulai pindah besok pagi. “

“Arraseo eommaku sayang. Anyyeong eomma appa.”

“Heol! Kau tidak pamit padaku?”

“Cih, arraseo. Annyeong pangeran kepala besar!”

“Arraseo, annyeong putri lidah tajam.”

“Kim Jong Woon pabbo~~~~~”

“YAAAAAAKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“hahahahahahahaha. Pabbo!”

Kangin dan Leeteuk berpandangan kemudian tersenyum geli.

“Aiiigo, anak anak kita sudah besar yeobo. Aku tidak akan rela jika nanti mereka akan menikah dan berpisah dari kita.” Kangin memandang Leeteuk penuh arti kemudian menggeleng.

“Aku pun tidak akan rela. Tapi mau bagaimana lagi? Tugas kita adalah menjaga mereka sampai mereka bertemu pasangan hidup mereka. Aku akan menjaga mereka dengan sepenuh hati.” Leeteuk tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, dan senyumnya bertambah lebar saat ia mendengar Yesung dan Hwa Yeon yang masih saja berteriak-berteriak, membuat rumah mereka sangat bising.

“Bukan kau yang akan menjaga mereka, tapi kita. Kita akan menjaga mereka bersama-sama.” Kangin memandang Leeteuk penuh arti kemudian mendekatkan wajahnya.

“Aku sangat beruntung bisa memilikimu, yeobo. Terimakasih telah hadir dihidupku dan menjadi bagian dari hidupku, juga, terimakasih telah menghadirkan 2 malaikat manis untuk berada di tengah-tengah kita.”

“Huuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Appa romantis sekali!!!!!!” Kangin dan Leeteuk menoleh kaget kearah lantai dua dan tersenyum saat melihat Yesung dan Hwa Yeon berada di sana.

“Aiish, kau mengganggu appa.” Ujar Kangin sebal, tapi tak ayal kalau bibirnya tersenyum senang. Tanpa memperdulikan Yesung dan Hwa Yeon lagi, Kangin kembali memandang istrinya dengan tatapan seduktif *uaaaaah*.

“Saranghae, yeobo.” Bisik Kangin lembut.

“Nado saranghae.” Kangin kemudian mempertemukan bibir mereka berdua tanpa memperdulikan teriakan anak bungsunya yang berisik.

Eomma Appa, kalian harus bahagia. Aku bertahan untuk melihat kalian bahagia. Kalian harus berjanji untuk tetap tersenyum seperti saat ini sampai nanti. Aku mencintai kalian semua. Kuharap kalian akan menerima keputusan yang sudah kubuat.

-o0o-

Drap Drap Drap

“Kyaaaa!!! Mereka ada disini! Mereka ada disini!” Hwa Yeon memandangi sekelilingnya dengan kening berkerut. Kenapa? Pasalnya hampir seluruh anak perempuan berlari-lari kearah koridor utama dengan kalang kabut entah untuk apa.

Hari ini hari pertamanya masuk sekolah, ia berangkat sendiri hari ini karena oppanya sudah berangkat lebih dulu dan meninggalkannya.

Karena penasaran, akhirnya Hwa Yeon mengikuti seorang murid yang juga menuju koridor utama. Karena tubuhnya yang mungil, Hwa Yeon tidak bisa melihat apapun dari belakang. Dengan cepat akhirnya ia menerobos untuk sampai dibagian depan.

“OPPA???!!!” pekik Hwa Yeon kaget. Koridor yang tadinya penuh dengan teriakan dan decak kagum kini hening, semua mata tertuju pada sosok Hwa Yeon yang tengah menunjuk-nunjuk salah satu dari keempat namja yang sedari tadi mereka eluk-elukkan namanya.

“Annyeong, chagi.” Sapa Yesung dari tempatnya. Hampir semua orang yang berada di sana menahan nafas saat mendengar panggilan sayang yang terlontar dari mulut Yesung. “Sedang apa kau berada di sana?” tanya Hwa Yeon bingung, masih sambil menunjuk-nunjuk Yesung. “Errrrr, mungkin itu bisa kita bicarakan nanti Hwa Yeon-ah.”

“Dia siapamu, hyung?” tanya salah satu namja yang berada tepat disebelah Yesung. Tubuhnya tinggi tegap dengan raut wajah dingin, wajahnya errr tampan. Kulitnya putih bersih dan rambutnya berwarna coklat hazel.

Lumayan juga batin Hwa Yeon.

“Ah, dia adikku. Kim Hwa Yeon. Nah, Hwa Yeon-ah. Mereka ini sahabatku. Dia ini Kyuhyun, itu Kibum, dan itu Donghae.”

“Annyeong manis, senang bertemu denganmu. Aku kibum, kim kibum. Marga kita sama.” Hwa Yeon menatapnya intens kemudian ikut tersenyum. “Annyeong oppa.” Jawab Hwa Yeon manis.

“Eh? Oppa? Bukankah kita satu angkatan?” tanya Donghae bingung. “Ah, Hwa Yeon itu lebih muda dariku 2 tahun. Dia bisa satu angkatan dengan kita karena dia pintar, sama seperti magnae ini.”

“Ah, jadi dia magnae?” tanya Hwa Yeon spontan. Kyuhyun yang merasa dipanggil akhirnya menatap Hwa Yeon intens, ia kemudia memandang Hwa Yeon sangar.

“Kalau iya kenapa? Ada masalah Hwa Yeon-ssi?” tanya Kyuhyun sakratis. Hwa Yeon memandang Kyuhyun dengan tatapan aneh kemudian menyeringai.

“Entahlah, tapi aku merasa wajahmu terlihat yang paling tua.” Ejek Hwa Yeon sakratis. Yesung, Kibum, Donghae, dan seluruh orang yang mendengarnya menganga sambil membulatkan mata mereka kaget termasuk Kyuhyun sendiri.

“MWORAGO?!” desis Kyuhyun tajam. “Wae? Ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya berbicara apa adanya kok.” Jawab Hwa Yeon polos. Yesung tersenyum geli kemudian menghampiri Hwa Yeon yang tengah memandang kyuhyun dengan tatapan polosnya, seakan tidak memperdulikan kalau ucapannya benar-benar membuat seorang Cho Kyuhyun mendidih.

“Sudah, jangan berbicara yang tidak-tidak. Jangan diambil hati ne Kyu, dia memang seperti ini.” Jelas Yesung sambil merangkul Hwa Yeon. “Apa maksudmu pangeran kepala besar?”

“Aiish, kau benar-benar putri lidah tajam. Lebih baik kau ikut denganku, kajja.” Yesung menarik Hwa Yeon yang meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Tapi karena terlalu banyak begerak, Yesung benar-benar lelah menarik Hwa Yeon. Jadi tanpa banyak basa-basi, ia segera menggendong Hwa Yeon di pundaknya tanpa memperdulikan segala macam sumpah serapah yang keluar dari mulut Hwa Yeon ataupun tendangan tendangan kaki Hwa Yeon yang dahsyat.

Semua murid memandangi mereka dengan antusias. Menurut mereka, Hwa Yeon sangatlah lucu. Berbeda dengan Kyuhyun yang masih saja memandang Hwa Yeon yang menjauh dengan intens.

Kenapa jantungku berdetak tidak karuan saat ia menatapku? Kenapa aku merasa menginginkannya? Tapi kenapa dia harus mirip dengan…nya? Batin Kyuhyun.

“Astaga, gadis itu mirip sekali dengan Mi-“

“Jangan pernah sebut namanya!” bentak Kyuhyun dengan suara pelan, lalu tanpa melihat kedua temannya ia berjalan menjauh dengan berbagai pikiran berkecamuk didalam kepalanya. Perasaan yang sudah lama ia hindari kini kembali, membuat kepalanya pening.

Ini tidak boleh terjadi, yeoja itu berbahaya. Aku harus menghindarinya mulai sekarang. Harus.

“Ah, jadi begitu rupanya. Ish, aku tidak pernah tau kalau oppa punya sahabat sekeren itu. Hehehehe” Hwa Yeon tersenyum sendiri saat mengingat namja yang ditemuinya tadi, Kyuhyun. Entah kenapa, namja itu memenuhi otaknya sejak tadi membuatnya tidak bisa terfokus dengan cerita oppanya. Tapi, yaah sedikit banyak ia mengerti perkataan oppanya itu lah.

“Kenapa kau tertawa terus dari tadi? Aku tidak sedang melawak. Apa bertemu dengan Kyuhyun membuat otakmu rusak?” sindir Yesung pedas. Hwa Yeon mendelik pada oppanya sebentar kemudian menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi yang kini mereka duduki. IA menengadahkan kepalanya keatas, kemudia tersenyum simpul.

“Oppa.” Panggil Hwa Yeon pelan.

“Eum?”

“Mungkin oppa benar. Otakku sudah rusak karena bertemu dengan namja bernama Kyuhyun itu. Bisakah oppa mengenalkanku padanya? Aku..ingin mengenalnya lebih jauh.” Ucap wa Yeon lirih, tapi masih bisa terdengar Yesung. Yesung membelalakan matanya terkejut mendengar perkataan Hwa Yeon. Ia bimbang, haruskah ia membantu adiknya? Tapi ia takut adiknya tersakiti. Hwa Yeon adalah orang yang paling ia sayang selain orang tuanya. Melihat Hwa Yeon sakit hati? Oh, itu sama sekali tidak pernah ada di daftar keinginannya. Yang ia inginkan adalah melihat adik kecilnya itu bahagia dan ceria.

“Apa kau akan..bahagia?” tanya Yesung lirih. Hwa Yeon memandang Yesung sejenak kemudia mengangguk tegas.

“Aku akan sangat bahagia. Jadi, bisakah oppa membantuku? Kumohon.”

“Baiklah, oppa akan membantumu. Tapi bisakah setidaknya kita memberitahu eomma dan appa masalah p-“

“oppa! Kita sudah pernah membahas ini ribuan kali, dan jawabanku akan tetap sama! Aku tidak akan membiarkan eomma dan appa tau tentang ini. Tidak akan pernah! Aku bisa melewatinya sendiri oppa. Kumohon, percayalah padaku. Tidak ada yang bisa kupercaya selain dirimu oppa, jebal.” Hwa Yeon memotong penjelasan Yesung dengan cepat, takut jika oppanya itu menyebutkan satu kata yang paling ia benci saat ini.

“Tapi appa dan eomma tetap harus tau, Hwa Yeon-ah. Mereka pasti sedih jika kau ter-“

“oppa! Kumohon, belum saatnya mereka tau. Aku akan memberitau mereka sendiri, tapi tidak sekarang. Kumohon oppa, untuk sekarang jagalah rahasia ini untukku.” Hwa Yeon menggigit bibirnya kuat, mencoba menahan isak tangis yang hendak keluar dari bibirnya. Yesung memandang Hwa Yeon sendu, kemudia dengan cepat menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Arraseo, tenanglah. Bernafaslah dengan benar. Oppa tidak mau kau harus masuk UKS atau lebih parah, RS karena asmamu kambuh. Oppa yakin kau tidak membawa Inchalermu sekarang. Betul kan?” Hwa Yeon yang tadinya siap menangis, langsung terkekeh.

“Bagaimana oppa tau kalau aku tidak membawa Inchalerku?” tanya Hwa Yeon manja.

“Cih, oppa mengenal dirimu luar dalam chagiya.” Hwa Yeon mengerucutkan bibirnya sebal, tapi kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh oppanya itu.

“Oppa memang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangimu oppa. Gomawo ne, buat semuanya.” Yesung terkekeh kemudian mengangguk pelan. Dikecupnya lembut puncak kepala Hwa Yeon kemudian menumpukan dagunya dipuncak kepala gadis itu.

“Jangan pernah tinggalkan oppa. Oppa tidak siap kehilangan adik oppa yang paling manis.” Ujar Yesung lirih. Hwa Yeon terenyah, ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak akan meninggalkan oppa, aku berjanji.”

Aku tidak akan meninggalkanmu oppa. Setidaknya, tidak sekarang.

 TBC