Tag Archive | BTS

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 6)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Park Ji Min

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 6!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

 

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

 

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

 

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

 

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

 

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

 

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

 

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

 

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

 

Hyojin..

 

Kau ini kenapa?

 

 

Aku berjalan gontai menyusul Hwayeon yang kini tengah berbincang dengan Yoonhee. Hyojin? Dia berada di belakangku, entah sedang apa..

Kami kini berada di dalam mobil milik Yoonhee.

Apakah sesibuk itu menjadi seorang dokter? Lihat saja wajahnya… nampak begitu lelah. Mungkinkah ia kurang tidur? Ingin sekali aku bertanya tapi.. sudahlah.. perasaanku masih bercampur aduk.

Setelah beberapa menit berkendara menggunakan mobil milik Yoonhee, kini kami telah sampai disebuah café. Spicy Wings café. Aku sengguh merindukan café ini, senyaman-nyamannya café lain tapi café ini sudah mengerti diriku. Apa aku melantur?

Kami berempat duduk di tempat biasa kami. Formasinya selalu sama. Hwayeon-Yoonhee-Aku-Hyojin. Namun..

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin pada Hwayeon sebelum ia benar-benar duduk.

Hah? Mengapa ia pindah? Biasanya juga ia berada di sisiku. Tapi… ini….

“Wae?!” gerutu Hwayeon.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.” Balas Hyojin. Mengapa ia begitu tiba-tiba berubah? Hey! Setidaknya jika ia memang sedang ada masalah, bukankah lebih baik ia bercerita atau berterus terang pada kami? Kami ini temannya…

Hyojin pun duduk di tempat dimana Hwayeon berada.

“Biasa.” Ucap kami berempat kompak. Kami semua sehati rupanya. Itu berarti tidak ada masalah di antara kami berempat bukan?

Tak lama, pesanan kami berempat pun sudah terhidang di atas meja kami. Hmmm…. aku sungguh lapar. Semalaman aku tidak makan, dan hanya menangis meratapi nasibku yang menyedihkan ini.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan. Yah.. suasana ini memang sungguh hening. Tidak biasanya kami begini.

Kami semua hening. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Hwayeon tadi. Aku hanya diam dan terus menatap makananku yang pada akhirnya tidak ingin ku makan. Entahlah, hanya saja aku mendadak jadi malas makan dan hanya memasukan beberapa suap saja ke dalam mulutku.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Ucap Hwayeon kemudian pergi meninggalkan kami. Haa~ pasti Kyuhyun. Andai saja Taehyung bisa setia seperti Kyuhyun.

“Oh! HP kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Jelas Hwayeon kemudian segera bergegas keluar.

Aish…. dia main pergi saja..

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Ucap Hyojin tiba-tiba kemudian segera pergi. Bagaimana dia bisa… ahh, sudahlah.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanya Yoonhee padaku. Yaah, kini memang hanya tersisa aku dan Yoonhee disini.

“Mungkin.” Jawabku.

“Biar aku antar.” Tawarnya.

Kami segera meninggalkan café dan menuju ke mobil milik Yoonhee. Entah karena ada perasaan apa, aku tiba-tiba saja mendadak canggung. Perasaanku tidak enak. Sungguh.

“Eonn… oh tunggu sebentar.” Ucapan Yoonhee terpotong oleh dering ponsel miliknya.

Yoonhee pun mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.

“Taengi oppa.” Ucapnya.

Apa aku tidak salah dengar? Ta-Taengi? Panggilan yang manis…. Eo? Yoonhee sudah punya namjachingu? Tapi.. Taengi itu siapa? Namja seperti apa dia itu?

“……”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“……”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk .”

“…….”

“Annyeong Taengi oppa.”

Yoonhee mematikan ponselnya.

“Siapa dia?” tanyaku dingin.

“Taehyung oppa.”  Tuturnya. Tae-Taehyung? Apa dia itu Taehyung namjachinguku? Tu-tunggu, jika begitu berarti.. dia..

“Namjachingumu?”

“Ani.” Jawabnya setelah terdengar kikikan kecil dari mulutnya itu.

“Tunangan.”

“Aish… ani eonni.” Bantahnya.

Apa Yoonhee menyembunyikannya? Menyembunyikan sesuatu dariku? Mungkin dia bukanlah tunangan namja bernama Taehyung itu. Tapi, Taehyung itu ada banyak. Jika Taehyung yang di maksudnya adalah Kim Taehyung, jangan-jangan dia adalah Yoonie yang dimaksud Taehyung selama ini??

Yoonhee adalah yeoja yang selalu bertelepon dengan Taehyung? Berarti.. mantan Taehyung bukanlah yeoja bernama Yoonie……..

………..

Tega sekali kau…..

………..

Yoonhee…..

“Ohh, aku ingin turun disini.” Pintaku pada Yoonhee.

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.” Elakku dari keadaan sesungguhnya.

Keadaan sebenarnya adalah aku mencurigainya memiliki hubungan dengan Taehyung. Jika sampai benar ia berhubungan dengan TaeTaeku, aku tidak akan memaafkannya. Tapi, apa untungnya? Toh Taehyung juga tidak merasa bersalah padaku atas kejadian semalam. Namjachingu macam apa dia itu?

Yoonhee segera menepikan mobilnya.

“Gomawo Yoonhee.” Ucapku sambil bersiap-siap turun.

Aku berjalan gontai menyusuri jalan. Dari sini memang masih sangat jauh dari rumahku. Sungguh.  Ini jauh sekali. Tapi, aku tidak ingin pulang. Dirumah begitu sendiri, aku takut jika aku menjadi depresi. Beban pikiranku sudah berada di ambang batas dan rasa sakit di hatiku sudah tidak bisa dihilangkan lagi sepertinya. Ini sudah keterlaluan! Hidupku sudah tak ada gunanya lagi.

Aku kini berada di dalam bus. Bus yang akan membawaku menuju rumah sejatiku. Rumah tempat Eomma, Appa dan Jimin oppa berada. Lebih baik aku menemui mereka sebelum aku menjadi gila.

Aku turun di sebuah halte bus. Haa~ aku sudah lama sekali tidak kemari. Aku malas berjalan kaki sebenarnya.. tapi rumahku jauh dari halte bus. Aku menyusuri jalan yang sepi. Sejak dulu sampai sekarang  jalan ini masih saja sepi.

Aku melewati sebuah jembatan. Sebenarnya ada 2 jalan untuk menuju rumahku, melewati rumah-rumah dan melewati jembatan dan aku memilih untuk melewati jembatan dari pada melewati rumah-rumah. Memang mungkin bodohku ini akut, aku justru memilih rute yang jauh.  Tapi tidak apa-apa.. aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku dari Tae-

Tiba-tiba saja bayangan ketika Taehyung mencium yeoja itu kembali terbesit di benakku. Mengapa hal menyakitkan itu kembali muncul? Aku sudah berusaha menghilangkannya.. aku bahkan sudah berkeinginan untuk melupakannya.

Tae…

Mengapa kau selalu ada dalam benakku?

Mengapa bayangan menyedihkan itu muncul kembali saat aku mengingatmu?

Apa karena aku merindukanmu saat ini?

Benarkah aku merindukanmu yang sudah menghancurkan hidupku?

Mengapa harus kau yang sungguh-sungguh ku cintai?

Mengapa ?

Mengapa rasanya sungguh sakit?

Mengapa kau mempermainkanku?

Aku….. membencimu……

Haruskah ku akhiri saja hidup menyedihkanku ini?

Sungguh aku tak kuasa menahan sakit ini seorang diri.

Apalah artinya hidupku ini tanpamu..

Tae…

Jika kau bisa meninggalkanku demi keluarga kecilmu itu….

Aku pun juga bisa…

…. meninggalkanmu untuk selamanya.

Aku berdiri.

Bersiap-siap untuk merasakan sakit sesaat ketika ragaku menghantam benda-benda yang ada di bawah sana.

Bersiap-siap untuk melihat dunia yang belum pernah dilihat Eomma, Appa, dan Jimin oppa sebelumnya.

Bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan kembali bersenda gurau dengan keluargaku.

Bersiap-siap untuk tidak akan pernah melihat teman-temanku lagi.

Bersiap-siap untuk menghapus semua memori tentang TaeTae kesayanganku secara instan.

“Tae… aku sungguh menc-“

“Hentikan!!!” seru seorang namja kemudian menarikku dari ujung jembatan tempat aku berdiri kemudian memelukku erat.

Kami terjatuh ke tengah jembatan. Aku berusaha berlari kembali menuju tepian jembatan namun lengan namja itu menahanku. Menahanku dengan sangat kuat.

“Eunhye! Sadarlah! Apa yang kau lakukan?! Bodoh!” Seru namja yang tak lain adalah oppaku sendiri. Park Jimin.

“Lepaskan aku, oppa! Aku ingin mati saja… dia sudah menghancurkan hidupku! Untuk apa aku ada disini jika aku hidup tanpanya?!” rontaku. Tapi Jimin oppa makin mengeratkan pelukannya hingga aku terdiam.

“Sadarlah!!! Tenanglah… tenanglah…. ada oppa disini.. kau bisa menceritakan segalanya pada oppa.” Bujuknya.

Kakiku terkulai lemas. Perlahan-lahan tubuhku mulai jatuh terduduk. Untungnya lengan Jimin oppa memelukku erat. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Ia menenangkanku, mengusap lembut kepalaku..

“Sudah.. sudah… kau bisa cerita padaku. Untung saja aku lewat daerah sini. Feelingku berkata untuk melalui jalan ini. Feelingku benar kan, kau akan melakukan bunuh diri disini. Awalnya aku malas.. tapi jika aku tidak jadi lewat sini, kau pasti sudah lewat dari dunia ini kau tahu?!” omel Jimin oppa.  Hiish.. aku ini sedang sedih, sekarang aku malah diomeli.

“Oppa……” lirihku.

“Ah, mianhae… aku malah mengomelimu. Kajja pulang. Eomma dan Appa pasti senang melihatmu. Kau sudah lama tidak pulang.”

Aku menggeleng. Aku tidak ingin eomma dan appaku khawatir melihat kondisi putrinya yang sekarat dan hilang harapan ini.

Untuk sekarang ini.. kurasa… TIDAK. Meskipun aku rindu mereka.

“Wae?” tanyanya.

“Tak apa. Aku tak ingin Eomma dan Appa tahu apa yang sudah terjadi pada putrinya ini.” jelasku.

“Geurom… jika eomma dan appa tak boleh tahu, aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Kau wajib menceritakannya padaku!”

Haiish.. kenapa aku memiliki oppa yang begitu penasaran dengan hidupku sih? Dia saja tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Siapa yeojachingunya, berapa mantannya, apa yang ia lakukan sekarang.. dasar oppa menyebalkan!

“Baiklah. Akan kuceritakan padamu.”

“Haa! Itu baru namanya dongsaeng yang baik!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.”

“Hiyaaa!! Kau malah memporak-porandakan rambutku sekarang. Apa kau tidak tahu kalau menyisir rambut ini memelukan waktu yang lama? Sudah-sudah.. aku ingin pulang.”

“Yak! Pulang? Kau baru saja pulang..”

“Pulang ke rumahku. Bukan ke rumah kita, oppa.”

“Wae?? Kau tega ya.. paling tidak bertemu dulu dengan eomma dan appa.. nanti aku antar kau pulang.”

“Andwae. Nanti mereka khawatir. Jebal oppa.. aku ingin pulang sekarang.”

Jimin oppa mengantarku pulang menggunakan mobilnya. Selama di dalam mobil, aku menceritakan semuanya. Bagaimana awal bertemunya aku dengan Taehyung sampai dengan apa yang aku alami baru-baru ini. Termasuk juga dengan kecurigaanku terhadap Yoonhee.

Kalian tahu yang dikatakan Jimin oppa padaku?

“Jika ia memang mencintaimu, ia pasti akan kembali. Ia diam mungkin karena ia ingin memberikanmu waktu untuk sendiri, atau ia ingin mempersiapkan kejutan untukmu sebagai permintaan maafnya.”

Kira-kira, itu yang dikatakannya. Benar juga. Aku tak perlu terlarut dalam kesedihan. Kejutan? Aku memang menyukainya. Tapi, kejutan terakhir dari Taehyung membuatku sedikit membenci kejutan.

Oh iya! Buku sketsaku! Buku sketsa itu tertinggal di rumah Taehyung. Haruskah aku ke sana untuk mengambilnya kembali? Ah, tidak.. tidak usah. Aku masih terlalu canggung jika harus bertemu dengannya. Aku masih belum siap. Tapi, aku harus apa tanpa buku sketsa itu? Setidaknya aku masih bisa menyelesaikan sketsa design rumah Taehyung. Baiklah….

Aku akan mengambilnya.

“Oppa, turunkan aku disini saja.”

“Wae? Rumahmu kan masih jauh.”

“Tak apa, aku ada perlu sebentar.” Aku merasa sepertinya pernah mengalami kejadian seperti ini. Dimana ya?

“Perlu apa? Oppa antar saja. Kau mau ke mana?”

“Eumm…. aku… mau…. akuu…”

“Ke rumah Taehyung? Ada yang tertinggal? Sekaligus meminta maaf?” terkanya. Well, aku memiliki oppa yang sok tahu. Tapi kali ini ia menebak dengan tepat.

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Arraseo. Oppa akan turunkan kau disini. Semoga beruntung. Fighting!” serunya.

Setelah Jimin oppa menurunkan aku disini, ia segera berlalu. Aku masih berdiri di tempatku sampai aku melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Taehyung.

TaeTae.. aku akan menemuimu…

Aku merindukanmu..

Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Ini dia. Ini rumah TaeTae kesayanganku.

Aku akan segera masuk..

Tae, aku tak sabar ingin melihatmu dan meme…….luk…..mu…..

Langkahku terhenti. Nafasku tercekat. Apa-apaan ini?! Kejadian macam apa lagi yang aku lihat sekarang ini? TaeTaeku… memeluk… yeoja lain? Lagi?! Berapa banyak yeojachingunya sih? Apa aku sudah termasuk yang kesekian untuknya? Padahal.. dia… yang pertama untukku. Tunggu… bukankah itu Yoonhee? Rupanya… dugaanku ini benar…

Taehyung nampak begitu menyayanginya. Dia bahkan mengusap-usap punggung Yoonhee? Berani-beraninya dia…. ah, sudahlah.. percuma aku terus berada di sini. Ekor mataku menangkap sesuatu yang berada di meja dekat pintu. Buku sketsaku! Segera saja ku raih buku itu kemudian segera pergi.

Aku segera keluar dari rumah Taehyung dan pergi ke tempat yang jauh dari kata ramai. Rumahku. Rumahku yang tenang dan damai. Tahanlah tangisanmu, Eunhye. Di rumah kau bisa menangis sepuas yang kau mau..

-***-

Kau..

Jahat,

Tae…

Padahal aku datang untuk memperbaiki hubungan kita.. tapi kau nampak sama sekali tidak peduli dengan kelanjutan hubungan kita dan memilih bersama yeoja lain. Ia bahkan temanku sendiri. Aku tahu aku ini masih jauh dari kata ‘sempurna’ tapi.. aku memiliki cinta yang sempurna untukmu.

Tidakkah kau tahu akan hal itu, Tae?

Tidakkah kau menyadari hal itu?

Tanpa sadar, aku mulai bernyanyi dengan bersimbah air mata..

Aku bernyanyi untukmu, Tae..

Meskipun aku tahu kau tak dapat mendengarnya..

Tapi ku harap, kau dapat merasakannya..

Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata

(The long night is following you as it flows)
I sigani neol ttara heuryeojineun geot gata
(Time follows you and fades)
Wae meoreojyeo ga wae dahji anheul mankeum gaseo..

(Why are you getting farther away? So far that I can’t reach you?)

Tell me why meoreojyeo ga why
(Tell me why, you’re so far away, why)
Ni nunen deo isang naega boiji anhni uh

(Can’t you see me in your eyes anymore?)

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

(Goodbyes are even more painful)

~BTS – Love is Not Over~

Kau tahu? Hubungan kita ini begitu rumit. Sama seperti seni yang rumit. Tapi aku harap hubungan kita ini berakhir dengan indah, sama seperti seni yang berakhir dengan sebuah karya yang indah..

Drrtt… Drrtt..

Ku abaikan ponselku untuk sementara waktu. Mencoba untuk menstabilkan suaraku yang serak akibat menangis.

Satu kali.. dua kali.. tiga kali…

Ponselku terus berdering.

Pada dering ke empat aku menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselku.

“Yeoboseyo..”

“Yak! Mengapa tak kau angkat?” Itu… Taehyung…

“……..”

“HyeHye? Kau baik-baik saja?”

“Tidak sampai kau bisa menjelaskan semua yang sudah kau lakukan..”

“Ini tidak seperti yang.. tunggu, kau.. habis  menangis ya? Suaramu serak..”

“Sudah lah… mungkin ini keputusan yang terbaik..”

“Apa maksudmu? Keputusan apa?”

“Kita berpisah saja Tae…”

“HyeHye… dengarkan dulu. Aku menyayangimu. Sungguh. Yang kau lihat hanya kecelakaan. Itu semua diluar dugaanku. Percayalah.”

“Baik.. aku mengerti kalau itu hanya kecelakaan.. tapi apa pantas itu disebut kecelakaan? Kau mencium mantanmu. Mantan istrimu.”

“Mwo?! Dia bukan mantan istriku. Dia memang mantanku tapi dia bukan mantan istriku. Ia memintaku kembali untuk menikahinya. Anak itu bukan anakku. Dia ditinggal kekasihnya. Jadi-“

-Tut!-

Aku memutuskan sambungan telepon itu..

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya? Atau apa?

Aku benar-benar bingung..

Drrt.. Drrtt..

Taehyung..

Ia kembali meneleponku.

Aku akan mengangkatnya… baik, akan ku angkat.. apa yang ingin kau jelaskan lagi sebenarnya huh?

“Jangan tutup dulu!”

“…….”

“Aku minta maaf. Semua ini hanya salah paham. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku tahu hubungan kita begitu rumit. Tapi aku harap hubungan kita akan berakhir indah seperti layaknya sebuah karya seni. Kau tahu kan? Aku sungguh berharap itu terjadi.”

“…….”

“HyeHye… bicaralah sesuatu.. aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. bicaralah.. katakan sesuatu.. apa saja..”

“Apa saja?”

“Apapun… katakanlah… biarkan aku tahu isi hatimu.”

“Berhenti…”

“Mwo?”

“Berhenti menghubungiku mulai sekarang. Aku tak ingin mendengar suaramu.”

“Hye-“

-Tut!-

Mianhae Tae.. aku hanya butuh waktu sendiri.. ku harap kau mengerti.

Mianhae… aku membencimu…

Saranghae….

Setelah puas menangis akhrinya aku pun tertidur. Hahh.. sudah kusut wajahku ini, ditambah lagi dengan mataku yang sembab. Bagus. Wajahku sekarang sudah sesuram perasaanku. Selamat Eunhye.. wajahmu kini tidak lebih seram dari arwah-arwah yang penasaran.

Ohh! Hari ini ya?! Hwayeon mengajak kami semua pergi berlayar. Aku harus segera bersiap-siap! Omona! Aku belum berkemas sama sekali.. eotteokhae?? Hwayeon pasti sudah menungguku. Hyojin juga ikut kan? Yoonhee… aish! Bertemu dengannya lagi?! Sudah lah… aku tidak akan banyak bicara padanya. Lebih baik ku simpan saja perasaan ini seorang diri. Cukup masalah ini hanya aku dan Taehyung yang menyelesaikannya.

“Eonni… apa mobil yang menjemputmu sudah sampai? Jika sudah segeralah naik. Aku menunggumu di sini.”

Itu adalah isi dari pesan suara yang diberikan Hwayeon padaku sejak……. 1 jam yang lalu?! Haiishh… aku ini tidur macam apa sampai-sampai tidak menyadari ponselku berbunyi.

Aku segera membereskan semua keperluanku. Benar-benar sungguh sibuk. Pagi-pagi sudah sesibuk ini… haiish.. lelahnya.

Aku membawa semua barang-barangku ke bawah. Memang sudah ada mobil yang berada di depan gerbang rumahku. Tapi ya sudah lah…

Aku memberikan barang-barangku pada seorang namja yang sudah berdiri di luar mobil.

Aku lelah. Aku mengantuk. Sungguh.. aku akan segera tidur sa-

Aku yakin aku tidak akan bisa tidur begitu aku melihat namja yang ada di dalam mobil itu.

Kim Taehyung?!

“HyeHye..” panggilnya lirih. Aku tak menjawabnya.

Segera saja aku masuk ke dalam mobil dan segera mencari posisi ternyaman untuk tidur. Sialnya, tidak ada satupun posisi yang nyaman. Mungkin satu-satunya tempat ternyaman adalah dengan bersandar pada bahu Taehyung. Tapi tak mungkin kulakukan bukan?

Aku memejamkan mataku.. berusaha untuk masuk ke alam mimpi.. tapi aku tetap saja tidak bisa. Jadi kubiarkan diriku tersadar walau mataku ini terpejam.

“HyeHye…” panggil Taehyung lagi. Aku diam, meneruskan aktingku untuk berpura-pura tidur. “Kau lelah ya? Wajahmu begitu pucat. Matamu bahkan sembab. Apa semalaman kau menangisiku? Kau tak perlu menangis, HyeHye. Aku tahu aku salah. Aku banyak bersalah padamu. Aku tahu kau tidak akan mendengarnya. Tapi aku akan tetap mencurahkan semua isi hatiku padamu.” Lanjutnya.

Siapa yang bilang aku tidak mendengarmu? Aku mendengarnya. Mendengar semua yang kau ucapkan. Aku ini memang munafik. Aku tak ingin melihatmu, mendengar suaramu, berdekatan denganmu. Tapi itu salah, hatiku berkata bahwa aku merindukanmu, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin berada di dekatmu. Berada bersamamu saat ini membuatku sungguh senang. Meskipun aku harus berpura-pura tidur agar bisa dekat denganmu.. tapi itu tak masalah.

Taehyung memindahkan kepalaku ke bahunya.

Ini memang yang kuinginkan.. bersandar pada bahumu. Ini adalah psisi ternyaman. Sungguh, rasanya aku ingin menangis saat ini. aku merindukan saat-saat kita bersama..

“HyeHye.. “ Taehyung mengusap kepalaku lembut. Belaian ini yang sungguh ku rindukan. Taehyung mengecup keningku sekilas. Jika boleh, jika aku bisa, aku akan menangis dalam pelukannya sekarang. Sesegera mungkin.

Ojik neo hanaman boyeo

(I can only see you)
Na ojik neo bakken anboyeo

(I can only see you alone)
Bwa gongjeonghaji gongpyeonghaji neohante ppaegon da ijen dan harudo neo eopsineun Please
(Look, I’m fair with everyone else but you Now I can’t live a day without you, please)

Kkwak jabajwo nal anajwo

(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me, can you trust me
Kkwak kkeureoanajwo

(Pull me in tight)
Kkwak jabajwo nal anajwo
(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me
Jebal jebal jebal kkeureoanajwo

(Please, please, please pull me in and hug me)

~BTS – Hold Me Tight~                                         “
Selama bernyanyi ia terus mengusap kepalaku. Ia mengusap kepalaku lembut.

Aku berusaha mati-matian untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh.

Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus memaafkannya? Apa yang harus aku lakukan.

Tiba-tiba saja pipi kananku terasa basah. Seperti ada tetesan air yang mengenai permukaan kulitku. Jangan-jangan..

“Mianhae, HyeHye.. aku tak seharusnya begini. Aku memang cengeng. Aku bukanlah namja yang kau harapkan. Tak seharusnya aku menangis seperti ini. Tapi hal yang kurindukan belakangan ini telah mendominasi perasaanku. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu. Hanya bersamamu. Bukannya berjauhan seperti ini. Andai kau mendengarnya..” ucapnya lirih.

Sungguh aku tidak tahan lagi..

Segera kuangkat kepalaku kemudian mengecup pipi kanannya.

“Aku mendengarnya.. aku mendengar semuanya. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merindukanmu.” Ucapku.

“Mianhae… jeongmal saranghae.” Ucapnya kemudian memelukku.

Aku menangis. Menangis bahagia. Menumpahkan seluruh kerinduanku padanya. Aroma tubuh Taehyung yang sudah lama tak ku hirup kini kembali menyeruak di indera penciumanku. Aku merindukan aroma ini. Aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Memeluknya erat. Aku tak ingin kehilangannya untuk yang kesekian kalinya.

“Hey, HyeHye… sudah jangan menangis.. ssshhh.. uljima… kalau kau menangis lagi, wajahmu jadi tambah bengkak tahu.” Ejeknya.

Hiiyaa!! Namja ini benar-benar.. baru saja kita berdamai…

Tapi aku tahu maksudnya adalah untuk menghiburku.

Aku merindukanmu..

Kini sampailah aku di dermaga. Kulihat pasangan iblis Hwayeon dan Kyuhyun, Hyojin dan juga… ChangChang sunbae!! Huwaa! Ia disini?! Ini pasti menyenangkan. Oh iya.. Yoonhee dimana ya?

Kami turun dari mobil dan menghampiri mereka. Taehyung merengkuh pundakku. Benar-benar nyaman rasanya..

Tak lama, sebuah mobil pun tiba dan lihatlah siapa yang turun dari mobil itu..

Yoonhee dan…. eo? Nugu? Namja? Namjachingunya? Tunangannya? Atau apa? Sudahlah, aku malas membahas urusan yang bukan urusanku. Meskipun aku memang ingin tahu sih..

-Hug-

Omo! Apa-apaan ini?!

Yoonhee memeluk Taehyung?!

Aish!! Jinjja!

Mereka berbisik-bisik?!

……………………..

Tae..

Kita baru saja berbaikan….

-TBC-

Advertisements

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 5)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Kim Taehyung’s ex girlfriend
  • Unknown little girl

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 5!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Kondisi author lagi kurang enak sekarang, tapi author tetep berusaha yang terbaik buat readers..

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

Besok adalah acara launching SJ hotel dan magnae pabbo itu malah pergi jalan-jalan dengan namjachingunya, Kyuhyun. Bukan namjachingu sih, calon (?) habis mereka cocok. Kurestui mereka..

Aku pun ingin jalan-jalan juga sebenarnya… tapi aku masih memikirkan TaeTae. Akhir-akhir ini masa lalunya membuat kepala sekaligus dadaku sakit. Apa mungkin aku sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan lamamu? Atau masa lalumu yang terus mengejarmu? Entahlah, aku tak tahu.

Kuputuskan untuk mengunjungi tempat spa yang juga berada di hotel ini. Kepala sakit, badan pegal, lelah, kurang tidur, kini bisa ku kurangi dengan treatment-treatment disini.

Tubuhku memang perlu refreshing…

2 jam kemudian treatmentku pun selesai. Sengja kupilih treatment yang paling lengkap agar tubuhku bisa rileks dengan maksimal.

Sungguh segar sekali rasanya! Spa tadi benar-benar luar biasa…

Kuraih ponselku dari dalam tas dan terkejut melihat ponselku penuh pemberitahuan..

5 missed call from TaeTae Alien

 

5 unread messages from TaeTae Alien

 

7 unread chats from TaeTae Alien

 

3 unread chats from Jimin oppa

Hiyaa! Ponselku banjir notifikasi!!

Kulihat satu persatu notifikasi yang ada.

Pesan-pesan yang dikirim oleh Taehyung berisi..

‘HyeHye… kau dimana?’

 

‘HyeHye?? Kau marah?’

 

‘Jawab telponku, HyeHye..’

 

‘Kau sedang buang air ya? Cepatlah! Balas pesanku sesegera mungkin ya kalau sudah..’

 

‘Kau masih tidur? Kalau iya, cepatlah bangun. Aku menunggumu di depan pintu kamarmu.’

 

‘Kau kencan dengan sunbae kesayanganmu itu ya?! Cepatlah kembali! Aku cemburu!’

‘Kau dimanaaa?? Aku sungguh merindukanmu! Kau tahu? Aku sakit sekarang. Aku terkena HyeHye sick. Cepatlah tunjukan wajahmu, HyeHye..’

 

Isi pesannya bodoh… haha.. tapi baru kutinggal beberapa jam saja kau sudah sebegitu rindunya ya? Baiklah.. aku akan segera menemuimu.. dasar bodoh..

Sekarang, pesan dari Jimin oppa..

‘Eunhye, kalau kau pulang,, bawakan aku oleh-oleh dari Jeju ya!’

 

‘Omong-omong, mawar di rumah sudah mekar! Bagus sekali! Sayang kau tidak ada disini.. mau ku kirimkan satu? Haha..’

 

‘pulanglah jika ada waktu ya, aku punya hadiah untukmu..’

Isi pesanku dengan Jimin oppa seperti layaknya oppa dan dongsaeng.. saling memberi kabar, saling memberi informasi, dan saling merindukan satu sama lain. Tidak ada yang spesial sebenarnya..

Aku akan kembali ke hotel dan menemui TaeTae , tapi aku masih harus menyelesaikan urusanku sedikit.

Hari sudah sore. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat..

Kini aku menyusuri lorong hotel tempat dimana kamarku berada.

TaeTae?? Dia… masih disana. Menungguku.

Aku menghampirinya yang tertidur sambil bersandar pada pintu kamarku. Aku duduk di sebelahnya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai..

Saat bangun saja tampan, apalagi kalau tidur? Wajahnya bagaikan malaikat.

Ku sisir poni Taehyung yang sedikit menutupi wajahnya menggunakan jemariku lalu ku usap lembut pipinya.

“Aku menyayangimu, Tae…” lirihku.

Kudekatkan wajahku pada pipi Taehyung yang mudah ku jangkau..

Aku,ingin sekali mengecup pipimu…

Bolehkah?

Sudah sedikit lagi jarak dari permukaan bibirku menyentuh pipinya. Tapi tiba-tiba..

-Chu-

Yang ku kecup adalah… bibirnya…

Sebenarnya… aku belum menyentuh apapun.. tapi sepasang benda lembut milik Taehyung itu yang lebih dulu menghampiri milikku.

Kulihat ia terkikik geli melihat ekspresi wajahku yang tidak karuan..

“Hey, kau dari mana saja?? Aku menunggumu sejak pagi.” Tanya Taehyung kemudian mengusap pipiku lembut.

“Aku tadi.. aku pergi Spa tadi pagi,, lalu aku menyelesaikan beberapa urusanku. Tidak lama kok, setelah itu aku kembali. Mianhae membuatmu menunggu sampai tertidur disini.” Sesalku.

“Tidak lama? Dari terakhir kali aku meneleponmu, ini sudah sekitar 5 jam. 5 jam itu lama, HyeHye.”

“Selama itu kah? Huwaa! Maafkan aku…”

“Sudah, tidak apa-apa. Sekarang, apa yang mau kau lakukan?”

“Entahlah.. kau?”

“Rencanaku… aku ingin menemanimu kemanapun.”

“Kau ini bisa saja… “ ucapku malu-malu

“Appa! “ jerit seorang anak kecil kemudian berlari dan memeluk Taehyung.

Appa? Anak ini memanggil Taehyung dengan sebutan ‘Appa’? Aku salah dengar kan?

Kulihat Taehyung tidak terkejut sama sekali. Apa dia mengenal anak ini?

Jangan-jangan….

“Hey,, kau ini anak siapa?? Kau datang dari mana?” Tanya Taehyung.

“Appa….” rengek anak itu. Aku hanya memandangi mereka berdua heran.

Mungkin kalau orang lain melihat ini, mereka pasti akan mengira kami adalah sebuah keluarga yang bahagia.

…Mungkin…..

“Aku ini bukanlah appamu, anak manis. Sudah, kembali pada eommamu…” ucap Taehyung lembut. Anak itu tersenyum kemudian segera berlari meninggalkan kami berdua.

Kini aku terus menatap Taehyung yang tengah tersenyum manis.

Tae..

Kau menyukai anak-anak ya?

Aku senang kau menyukai anak-anak…

Karena kau mungkin akan menyayangi anak kita nanti…

“HyeHye….” panggil Taehyung. Aku tersentak kaget dan hanya menatapnya.

“Aku ingin….” ia menggantungkan kalimatnya kemudian ia meraih tanganku.

Kulihat ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan..

“……. ingin berdiri. Bantu aku berdiri.. jebal.. punggungku sakit karena dari tadi tertidur disini.” Lanjutnya. Huh! Kukira ada apa..

Aku membantunya berdiri kemudian membantunya berjalan menuju kamarnya.

Ohhh benar! Aku harus segera membereskan dekorasi ballroom, membuat pidato sambutan, dan yang penting,, Mandi!

Setelah membantu Taehyung duduk di atas kasurnya, aku segera berpamitan dan meninggalkan kamarnya kemudian mandi.

-***-

“Ya, letakan karpetnya disini.. iya, benar disitu. Bunganya pindahkan ke sana.. warnanya tidak sesuai, cepat pindahkan! Apa berat? Mari kubantu…. Tunggu! Letakkan podiumnya disana. Tidak, kurang ke tengah, pindahkan sedikit ke kanan.. ya, bagus!”

Aku membantu pekerja untuk mendekorasi ballroom. Taehyung? Dia ingin membantu sebenarnya, hanya saja kularang sampai sakit di punggungnya membaik. Untungnya Harim membantuku juga.

Lukisan-lukisan ini bagus ya? Tentu saja, itu semua dibuat oleh Taehyung. Dia memang hebat!

Tak terasa aku mendekorasi hingga malam.. cukup larut, hanya sampai pukul 10 malam. Tapi tidak sepenuhnya mendekorasi karena sisa waktunya kugunakan untuk menyusun pidato. Gara-gara menjadi tamu resmi, aku jadi harus membuat pidato. Aku ini tak pandai berkata-kata.. tapi tak apa, setidaknya namaku bisa menjadi lebih terkenal.. sedikit..

“HyeHye! Buka mulutmu.. Aaaa~” perintah Taehyung tiba-tiba ketika aku sedang sibuk menulis pidato. Ia memasukan sesendok nasi beserta lauk-pauk kedalam mulutku. Aku hanya melongo menatapnya.

“Kau sejak tadi belum makan. Ini sudah larut, besok ada acara penting dan kau tidak boleh sakit.” Tegurnya.

Benar juga, sedari tadi aku hanya sibuk bekerja sampai lupa untuk makan. Ternyata dia perhatian.. sungguh perhatian. Tapi, bukankah dia dari tadi di kamarnya?”

“Sudah? Ayo Aaa~” perintah Taehyung lagi.

“Aaah.. sudah letakkan, aku bisa makan sendiri Tae. Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan beristirahatlah.”

“ANDWAE! Aku yakin kau tidak akan melanjutkan makanmu. Itu membuatku tidak bisa beristirahat karena terus khawatir akan dirimu. Sudah, lanjutkan pekerjaanmu.. aku suapi saja..”

“Tapi Tae..”

“Uh-uh! Jangan protes! Aaa~”

Dia.. cukup keras kepala juga.. mau bagaimana lagi.. meskipun sedikit malu karena disuapi TaeTae di tempat umum begini, tapi aku senang karena ia peduli dan sayang padaku.

Kami berjalan menyusuri koridor hotel. Kira-kira sekarang sudah pukul 11 malam. Sudah terlalu larut.

“Selamat malam HyeHye.. semoga tidurmu nyenyak malam ini..” ucap TaeTae sebelum akhirnya kami berpisah menuju kamar masing-masing.

“Ne. kau juga..”

“Mimpikan aku ya? Saranghae..”

“You too.. Saranghae..”

-***-

Huaahh… lelahnya!!! Tidur larut membuatku bangun terlambat saking pulasnya aku tidur.

Drrtt…Drrttt…

Ah, ChangChang sunbae..

“Yeobo-“

“EunEun pabbo! Bersabarlah,, kau akan melihat dia!”

“Nugu?”

“Pujaan hatiku!”

“Oooh.. artis itu?”

“Yak! Berhentilah memanggilnya ‘artis itu’ dia juga mempunyai nama!”

“Eoh? Kalau begitu kenapa kau tidak pernah memberi tahuku namanya?”

“Itu karena kau tidak pernah bertanya.. pabbo!”

“Iya juga… kalau begitu, beritahu aku siapa nama yeoja itu…”

“Baiklah… apa kau penasaran?”

“Ne.”

“Apa kau ingin tahu?”

“Ne!”

“Apa kau sungguh ingin tahu?”

“Ne!!”

“Benarkah?”

“Yaish!! Jinjja!!! Cepat beritahu aku!! Kau ingin menguji kesabaranku, sunbae?!”

“Ahaha!! Arraseo.. kau ini galak sekali..”

“………”

“iya.. iyaaaa! Aku beritahu.. namanya ada-“

“Oh, sunbae.. nanti kutelepon lagi.. Annyeong.”

-Tut!-

Sebenarnya aku sengaja menghentikan pembicaraanku dengan ChangChang sunbae. Tidak akan seru jika aku tahu sekarang.. lebih baik aku cari tahu sendiri siapa yeoja itu. Lag pula mereka akan berduet kan? Pasti mudah mengenali yeoja itu.. Haaa! Kau sekarang tidak pabbo lagi Eunhye! Kau cerdas!

-Knock Knock-

Pintu kamarku ku ketuk. Siapa ya yang mengetuk pintu?

Ku lihat keluar melalui lubang yang berada pada badan pintu dan yang kulihat adalah….

..NOTHING!

Tidak ada apapun  atau siapapun di luar sana. Akh, mungkin orang iseng..

-Knock Knock-

Lagi-lagi pintu kamarku diketuk.. siapa sih? Kurang kerjaan sekali dia.. tanpa melihat lebih dulu, aku segera membuka pintu dan yang sejak tadi mengetuk pintu adalah…

“Ahjumma!”

Anak kecil yang kemarin?! Mau apa dia kemari???

“Uh.. eum… a-ada apa anak manis?” tanyaku canggung.

“Appa!”

“Appa?”

“Appa dimana??”

“Appamu? Aku tidak tahu…. kau kan anaknya..”

“Huaaaa!!!!!! Appa!!! Aku ingin Appa!!” tangis anak itupun pecah seketika.

Hiyaaa!!! Apa-apaan anak ini?? Aku memang tidak tahu dimana Appanya… haduh..

“Ssst… uljima.. uljima ne? Jangan menangis lagi.. sudah yaa…. Ahjumma belikan es krim nanti.. sudah yaa… uljima….” bujukku. Anak itu tetap saja menangis. Aku harus bagaimana?

-Kreek-

Pintu kamar di sebelahku dibuka.. dan yang terjadi adalah..

Anak itu berhenti menangis setelah melihat siapa yang membuka pintu.

“Appa!” Jerit anak itu.

“Eoh? Annyeong..” sapa Taehyung kemudian mengelus kepala anak itu.

Aku heran, mengapa anak itu senang sekali mengecap TaeTaeku ini sebagai appanya.. dia itu belum memiliki momongan tahu! Seenaknya saja.. ini salah satu alasan mengapa aku membenci anak kecil.

“HyeHye… mengapa dia menangis tadi?”

“Molla. Tiba-tiba saja dia begitu.”

Taehyung menggendong anak itu kemudian tersenyum padanya. Sungguh kelakuan ini tidak bisa dibiarkan! Berbagai macam pemikiran muncul dalam benakku tapi yang paling mendominasi adalah…

Bagaimana kalau itu memang anak dari Taehyung?

“Mengapa kau menangis?” tanya Taehyung pada anak itu.

“Aku mencari appa. Tapi ahjumma ini tidak mau memberi tahu.” anak itu menunjukku lalu mengeratkan pelukannya pada Taehyung.

Sungguh anak ini menyebalkan sekali.. masih kecil saja sudah menyebalkan bagamana kalau dewasa nanti? Dia pasti akan menjadi yeoja murahan..

“Aku memang tidak tahu dimana appanya..” Aku membela diri.

“Bohong! Ahjumma itu bohong buktinya, ahjumma itu menyembunyikan appa dikamar sebelahnya.” Bantah gadis kecil itu.

Hiiyyaaaa!!! Anak ini ingin sekali kubunuh!!!

“Kau tidak boleh begitu…. itu tidak sopan. Jadi maksudmu, aku ini appamu?”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu, jika aku appamu maka dia adalah eommamu.”

“Eomma?”

“Ne. Ayo minta maaf dulu pada eomma karena sudah tidak sopan tadi.” Perintah Taehyung.

Tae… kau ternyata masih sempat memikirkan aku ya?? Aku sungguh terharu kau memintanya memanggilku dengan sebutan eomma.. tapi sayangnya aku tidak sudi dipanggil begitu oleh gadis kecil yang genit seperti dia. Lagi pula, ia mana mau memanggilku begitu.

Gadis itu sempat terdiam sesaat lau ia mulai membuka mulutnya..

“Eo..eo…eom…eommm…eomm..ahjumma mianhamnida!” ucapnya cepat. Benar kan dia tidak akan mau memanggilku begitu. Baguslah.

“Kau harus memanggil-“

“Tidak apa-apa, Tae.. aku memang bukan eommanya. Sudahlah Tae, turunkan dia mungkin sudah saatnya dia kembali pada orang tuanya.” Ucapku.

Taehyung mengangguk kemudian menurunkan anak itu.. anak itu segera berlari menjauh kemudian menghilang dari pandangan kami. Huft, hampir saja aku kehilangan kesabaran..

“Tae, kau bersiap-siaplah.. acara launching dimulai 8 jam lagi. Aku ingin kau terlihat keren, jadi bersiaplah.” Saranku lalu segera berbalik masuk kedalam kamarku.

Tapi sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kamar, Taehyung menarikku lalu mendekapku erat. Kemudian ia mengecupi leherku tanpa berhenti. Setelah bosan dengan tempat itu dia ganti mengecupi permukaan bibirku. Awalnya hanya mengecup, lama-lama ia menjilati permukaan bibirku dan menyesapnya sesekali. Ini menjadi ciuman yang basah. Aku tidak mengerti mengapa kelakuannya seperti ini.. ini terkesan…. agresif?

Tiba-tiba Taehyung menghentikan aksinya. Kemudian ia segera memalingkan wajahnya dariku.

“Mianhae aku tidak bermaksud.. aku.. ini diluar kendaliku.. untung saja belum jauh.. masuklah, persiapkan dirimu. Aku akan menunjukan sesuatu padamu ketika pesta persahabatan. Siapkan dirimu dan juga mentalmu.” Ucapnya kemudian masuk ke kamarnya.

Mengapa… dia jadi aneh?

Mempersiapkan diri itu oke, tapi mempersiapkan mental? Untuk apa?  Memangnya kejutan darinya sebegitu luar biasa? Hm.. aku jadi ingin tahu.. mungkinkah itu satu truk mawar putih? Kuharap iya.. hihi..

Aku tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara formal itu. Launching SJ Hotel yang ku design kan. Aku sugguh gugup karena aku akan berpidato. Ini bukanlah sembarang berpidato. Bukan juga seperti berpidato di depan teman-teman ketika masa sekolah. Ini adalah acara penting. Aku harus berpidato dihadapan ratusan tamu undangan, para pimpinan perusahaan, dan juga orang-orang penting lainnya… sungguh, ini luar biasa!

Aku mengenakan dress putih selutut tanpa lengan, lalu kupakai lagi blezzer hitam untuk menambah kesan formal. Untuk rambutku, ku ikat ekor kuda. Aku hanya berusaha tidak menghilangkan kesan formal dalam penampilanku mengingat aku harus berpidato di hadapan kalangan atas.

Sekarang sudah pukul 6 malam. 1 jam lagi acara akan dimulai.

Kulangkahkan kakiku menuju lift. Sungguh, aku gugup sekali karena aku berpidato tidak lama setelah acara dimulai.

“Waeyo? Kau terlihat sangat gugup.” Tanya Taehyung yang sejak tadi mengikutiku dari belakang.

“Hmm.. Aku gugup sekali Tae… detak jantungku begitu abnormal… bagaimana kalau aku salah kata? Bagaimana kalau aku lupa materi pidatoku? Bagaimana kalau melakukan hal yang konyol? Bagaimana kal-“

-Chu-

Taehyung mengecup bibirku sekilas dan itu membuatku terdiam seketika. Namja itu kini malah tersenyum. Apa mungkin ini yang ingin dia tunjukan?

“Bukan ini yang akan kutunjukan.” Ucapnya santai.

“Eh?” ucapannya menjawab pertanyaan di benakku. Chemistry kita cukup kuat rupanya..

“Aku hanya ingin tahu apa detak jantungmu juga akan abnormal ketika kucium..”

Benar-benar datar… ekspresinya sungguh datar!

“Mwo?”

“Lagipula kau ini berisik sekali. Tindakan ku tadi hanya untuk mengurangi kegugupanmu.”

Apa yang dia bilang? Justru tindakannya membuatku akan mati seketika. Bagaimana jika jantungku meledak akibat berdetak terlalu kencang? Itu mati konyol namanya. Mati hanya karena dicum oleh namjachingunya sendiri. Benar-benar konyol!

Sampailah kami di ballroom. Ketika kami hendak memasuki ballroom, tiba-tiba seorang namja meneriaki namaku dan juga Taehyung..

“Neo! Pabbo dan V!” kami menoleh ke sumber suara dan yang kami dapati adalah..

“ChangChang sunbae!” seruku.

“Annyeong.. kalian serasi… hahah..”

“Kau juga nampak hebat, Ricky-ssi.” Sahut Taehyung.

“Aigoo.. uri EunEun cantik sekali hari ini… kemari, sunbae peluk dulu.”

Tiba-tiba Taehyung memeluku..

“Tidak akan ku biarkan itu terjadi Ricky-ssi.”

“Aku.. tahu. Aku hanya bercanda.. kajja. Aku sudah tidak sabar ingin sekali berkolaborasi bersamanya… hiyaa! Palli!”

Kami bertiga memasuki ballroom. Kata-kata yang pertama kali kami lontarkan adalah.. ‘WHOA’

Sungguh ini merupakan pesta high class.. mewah dan sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka hasil dekorasiku dibantu pekerja lainnya bisa nampak semewah ini.. aku tak percaya.. tolong siapapun cubit aku..

Hwayeon ada dimana ya? Hyojin juga tidak terlihat sama sekali. Aku harus menjari mereka dimana?? Melihat jalan saja tidak bisa karena tempat ini penuh dengan tamu-tamu undangan.

Yaiishh! Mereka ada dimana sih??

Aku, Taehyung dan juga ChangChang sunbae menoleh ke arah pintu ballroom. Keributan apa yang tercipta disana? Meskipun tidak dapat melihat dengan jelas, aku masih bisa mendengar keributan yang terjadi di sana..

“Eo?” Akhirnya aku menemukan Hwayeon tengah duduk sendiri.. Ada apa dengannya kali ini?

Aku hendak menghampiri Hwayeon, namun ia pergi… sepertinya untuk melaksanakan acara serah terima..

Aigoo! Sudah acara serah terima lagi?! Itu berarti aku harus bersiap-siap!

“Hadirin sekalian, sekarang mari kita dengarkan pidato sambutan dari designer hotel ini, Park Eunhye! Untuk nona Park, saya persilahkan waktu dan tempatnya..”

Sambut sang event oranizer. Aku pun melangkah naik ke atas panggung.. ku tatap wajah-wajah pemilik dompet tebal di seluruh penjuru ruangan ini dan akhirnya aku terfokus menatap 1 namja. Namja yang kucintai, Kim Taehyung. Namja itu sekarang tengah memberikan sebuah senyuman semangat untukku.

Ini aneh, rasanya semua ketakutanku senantiasa sirna tatkala memandangnya…

“Annyeong haseyo, hadirin semua……….”

*Skip Time*

“……. Kamshahamnida.”

Riuh tepuk tangan tamu undangan memenuhi ballroom ini. Aku jadi lega sekarang. Ketakutanku berhasil kulalui.. ini berkat dia..

“HyeHye!! Kau hebat! Pidatomu bagus dan juga lancar!” Puji Taehyung saat aku sudah kembali menemuinya.

“Tidak juga.. sebenarnya aku sungguh gugup tadi. Tapi entah mengapa tiba-tiba semuanya itu hilang ketika aku berada di depan sana dan menatap…..”

“Benar kan? Kalau sudah menatap banyak orang, kau pasti akan lebih baik.” Potong Taehyung cepat. Aish! Namja ini bodoh atau apa sih?

“Justru itu membuatku tambah gugup! Aku belum selesai bicara, kau sudah memotongnya…yang aku tatap sedari tadi itu adalah KAU!”

Dia hanya melongo. Kemudian..

-Chu-

Dia mengecup keningku…

Tunggu, dia mengecupku?! Ditengah kerumunan orang banyak?! Omona! Aku malu sekali.. kerasakan wajahku kini memanas. Pasti wajahku sudah merah, semerah kuah Tom Yum Gong..

“Persiapkan dirimu, ne? Aku punya kejutan luar biasa untukmu.” Ucapnya.

Apa kejutannya ya? Aku penasaran..

Acara berlangsung sukses! Kini saatnya Pesta Persahabatan dimulai! Aku sungguh menantikan saat-saat ini begitupun juga dengan Taehyung.

“Ayo ayo, sekarang semua yeoja berbaris menyamping disebelah kananku, dan para namja berbaris berhadapan dengan para yeoja di samping kiriku. Ayo ayo.”

Ucap MC tiba-tiba..

Aku berada di seberang Taehyung sekarang. Di kiri ku ada Hwayeon dan disebelahnya ada Hyojin. Hyojin dengan siapa ya? Aku tidak bisa melihatnya karena terhalang tubuh Kyuhyun. Haish..

“Oke, sekarang kita akan bermain game!!! kiss competition. Oke, jadi nanti, lampu akan dimatikan, dan semua orang wajib mencari seorang pasangan kalian masing-masing untuk dicium dalam keadaan gelap gulita. Oke? Mengerti semuanya? Pada aba-aba ke-3. 1…2…3…“ seru MC itu.

Dan dalam sekejap suasana menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apapun. Hanya jeritan-jeritan yang kudengar..

“Kau dimana?!” Itu… Suara Taehyung!

“Disini!” Seruku.

“Gotcha!” desis seorang namja setelah berhasil meraih tanganku. Aku tak tahu dia siapa, tapi kuharap itu TaeTae.

Namun tiba-tiba saja seseorang menabrak kami dan membuat kami terlepas. Ha~ jika tadi gagal, berarti dia bukan Taehyung. Taehyung pasti akan menggenggamku erat.

Lampu telah menyala kembali. Aku melihat para namja yang tengah mencium pasangannya.. tapi aku? Aku hanya memandangi mereka..

Aku melihat Hwayeon dengan Kyuhyun. Dasar pasangan iblis..

Aku melihat Hyojin dengan namjanya yang tidak ku ketahui..

Lalu aku melihat pasangan yang seharusnya tidak terdaftar…

….Kim Taehyung dengan yeoja lain….

Dan aku melihat namjachinguku berciuman dengan yeoja lain tepat di hadapanku. Sungguh… ini benar-benar terjadi di depan kedua mataku. Mereka bahkan terlihat begitu mesra.

Taehyung melepas ciumannya dengan yeoja itu..

MWO?!

Yeoja itu adalah yeoja yang dipantai waktu itu.. mantan Taehyung.

Yeoja murahan yang tidak tahu diri!

Hooh… sekarang bisa ku simpulkan..

Taehyung sering menelepon seorang yeoja yang kuketahui bernama ‘Yooni’. Percakapan terakhir, Taehyung nampak mengkhawatirkannya. Percakapan itu terjadi setelah ia bertemu Yeoja kotor ini. Itu berarti selama ini Taehyung masih berhubungan dengan mantannya itu yang bernama Yooni. Dan mereka sekarang bermesraan dihadapanku. Bagus!

“Teruskan saja.. untuk apa berhenti?! “ Seruku pada Taehyung dan yeoja itu.

Mereka segera menoleh padaku terutama Taehyung. Ia nampak begitu terkejut.

“Ani.. HyeHye.. aku bisa-“

“Bisa apa? Menduakan aku? Membohongiku? Mempermainkan aku? Jadi kau menjadikanku sebagai pelampiasanmu? Begitu? Huh! Terimakasih Tae.. terimakasih sekali..”

Aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Kulihat yeoja keparat itu tersenyum penuh kemenangan.

“Yak! Eunhye! Dengarkan dulu!” Cegah Taehyung. Aku menepis lengannya yang mencengkeram tanganku. Aku menatapnya.. menatap kedua mata namja yang telah melukai hatiku ini. tanpa terasa, air mataku mengalir dan membuat mataku yang semua begitu cerah kini nampak sembab dan bengkak. Taehyung menatapku panik. Untuk sesaat, kami saling bertatapan sampai akhirnya yeoja sialan itu datang memeluk Taehyung dari belakang. Membuatku sadar bahwa aku harus pergi. Aku tidak boleh mengganggu acara mereka kan?

“Terimakasih atas kejutanmu hari ini, Tae…” aku melepas genggamanya kemudian segera berlari menjauh.

Katanya, ia takut jika aku meninggalkannya tapi apa sekarang? Dia yang meninggalkanku. Dia yang melukaiku.

Katanya, ia akan selalu ada disisiku. Tapi? Dia berada di sisi yeoja lain. Dia berselingkuh dihadapanku.

Sungguh…..

AKU MEMBENCIMU KIM TAE HYUNG!

Dengarlah itu baik-baik…..

…..Chagi….

Aku mengasingkan diriku. Aku butuh ChangChang sunbae… Kau ada dimana?? Aku membutuhkanmu, sunbae… Hatiku terasa sungguh pedih… benar-benar pedih… Kau dimana? Apa kau sedang bersiap-siap? Jika ya, hiburlah hoobaemu ini dengan alunan pianomu yang mengagumkan itu…

Benar saja… sekarang aku bisa melihat ChangChang sunbae berada di atas panggung sayangnya aku tidak bisa melihat yeoja yang bernyanyi itu, padahal dia adalah yeoja yang disukai sunbae! Aihh sial! Hanya saja… suara penyanyi itu aku seperti mengenalinya…  Hm..

Aku diam.

Diiringi oleh musik bernuansa romantis, dan juga disuguhi pemandangan pasangan-pasangan muda yang tengah menyalurkan perasaan cinta mereka satu sama lain.

Ditengah-tengah  kebahagian orang-orang itu dari kejauhan aku melihat….

Taehyung!

Aku sebisa mungkin membuat diriku agar tidak dikenalinya. Ia tampak mencari seseorang. Apa ia mencariku? Apa ia datang untuk meminta maaf? Apa dia….

Tidak.. dia tidak datang mencariku. Dia mencari gadis kecil yang genit itu. Taehyung menggandeng tangan gadis kecil itu dan membawanya pada…. What? Yeoja mantannya?! Apa gadis kecil itu adalah anak dari mantannya Taehyung? Jika ya, berarti aku….

Aku memacari sesorang yang sudah berkeluarga?!

Oomona! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti….

Taehyung….

Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini…

Aku ingin tahu bagaimana bisa kau di panggil ‘appa’ oleh gadis kecil itu..

Aku ingin tahu apa hubunganmu dengan yeoja bernama Yoonie itu..

Aku ingin tahu mengapa kau terlihat begitu tidak peduli padaku sekarang?

Kenapa Tae??

Aku gila karena hadirmu dihidupku.. dan sekarang kau ingin membuatku gila karena kau mencampakanku?

Kau bahkan tidak mencariku…..

Kau ini sungguh……  KEJAM!

Penampilan ChangChang sunbae dan yeoja artis itu berakhir. Wah… penampilan mereka keren sekali.. musik yang mereka ciptakan mengalun manis di pendengaranku. Aku suka itu! Setidaknya, itu bisa menghiburku sedikit..

“EunEun pabbo!” seru ChangChang sunbae setelah turun dari panggung. “Ini untukmu! Kau adalah orang yang spesial untukku!” lanjutnya sambil memberiku sebucket mawar berwarna kuning sebagai lambang persahabatan.

“Gomawo sunbae…”

“Pidatomu tadi hebat.. kau memang hoobaeku yang yang paling spesial! Aku bangga padamu.”

“Aku terharu… gomawo. Sunbae bisa saja.. Oh iya, yeoja yang bersamamu tadi itu namanya siapa?”

“Oh dia itu… Eh? Apa yang terjadi dengan matamu?”

”Ah! Ani. Mungkin ini karena aku kurang tidur.. aku sugguh lelah.. lebih baik aku pergi sekarang. Annyeong.”

Tidak.. ChangChnag sunbae tidak boleh tahu apa yang terjadi padaku…

-***-

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

Hyojin..

Kau ini kenapa?

-TBC-

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 5)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13


Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

“Akh.” aku berjalan cepat ke kamar mandi. Rutinitasku sehabis bangun tidur, buang air kecil.

“Huah…” Ravi tengah meregangkan tubuhnya saat aku keluar dari kamar mandi menyelesaikan rutinitas tadi.

“Pagi sekali kau bangun.” tanyanya.

“Kau juga.” jawabku tak mau kalah.

“Kemari.” pinta Ravi sembari melambaikan tangannya padaku.

Aku berjalan mendekatinya.

“Wae?”

“Aku…”

Ravi menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran.

“Apa jahitannya terbuka lagi? Apa perutnya sakit lagi? Apa ada bagian lain yang sakit? Apa sih dia? Membuatku penasaran saja.” pertanyaan tadi hanya tertahan sampai tenggorokanku. Sekarang otakku dipenuhi pertanyaan pada diriku sendiri.

“..mau..”

“Apa yang kau mau? Palli, beri tahu aku!” ucapku jengkel.

“..buang air kecil. Eotteokhae?”

Aku membuang nafas berat karena putus asa. Ya Tuhan, dia begitu…aish..

“Buang saja.” jawabku mulai naik darah.

“Bagaimana caranya? Kalau aku berdiri lagi nanti jahitannya terbuka. Nanti kau akan mencoba untuk membunuhku lagi.”

Aku membuka lemari kecil disamping ranjangnya.

“Igo.”

“Igo mwo-ya? Apa aku harus buang air didalam jerigen?”

“Itu memang tempat untuk buang air. Masukkan saja lalu pipis seperti biasa.”

Mukanya perlahan pasrah.

“Kenapa wajahmu.”

“Ani.” elaknya cepat.

Dia memasukkan “tempat penampungan itu” kebalik selimut.

“Ehmm…” dia bergeming cukup keras.

“Berisik!” aduku yang mulai terganggu.

“Selang infusnya begitu pendek. Tanganku yang sebelah harus memegang benda ini dan yang diinfus ini harus memegang benda yang itu. Bantu aku.”

“MWO?! KAU KIRA AKU APA?!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahan.” dia mebujukku manja.

“Lakukan dengan cepat, dan sampai mengenaiku.” aku merebut “tempat penampungan itu” yang masih bersembunyi dibalik selimut secara kasar.

“Siap. Tahan disana ya.” ucapnya penuh kemenangan.

Aku menempatkan diriku lebih dekat lagi dengan ranjangnya. Tanganku sebelah kanan memegang “tempat penampungan itu” sedangkan arah tubuhku membelakanginya.

“Eh.. ehmm..ah…” Ravi menggeliat geliat diranjang dalam posisi terlentang. Kau tahu kan dia sedang apa? Apa lagi kalau bukan berusaha mengeluarkan ehem..

“Permisi, Ravi Kim anda.. ups, maaf.”

Shyt! Pasti suster Lee dan Lee ahjumma salah paham!

“Tunggu, sedikit lagi!” ronta Ravi karena tubuhku langsung reflek mengejar mereka.

“Karena kau, suter Lee dan Lee ahjumma salah paham!”

“Mian tapi aku benar-benar harus buang air, dan kau benar-benar harus membantuku… akh lega rasanya.. Sudah selesai. Gomawo ne.”

“Ikh!” aku langsung melepaskan “tempat penampungan itu” dari tanganku dan berjalan keluar.

“Suster Lee.” aku memanggil suster Lee yang sedang duduk bersebelahan dengan Lee ahjumma didepan.

“Mian atas kejadian tadi, kami tidak tahu.” suste Lee memasang muka bersalahnya.

“A-ani jangan salah paham suster Lee i-itu tadi hany-hanya..”

“Gwaenchanha. Kami akan tutup mulut.”

“Bukan begitu!”

“Yoonhee! Ambil jerigen ini sebelum kutendang dan isinya keluar semua.” teriak Ravi dari dalam.

“Tunggu sebentar cerewet.” balasku teriak.

“Dokter Jung. Aku akan pulang. Tolong titip ini, ini pesanan Tuan Kim.” Lee ahjumma memberikanku dua kotak makan dan juga satu keresek pakaian.

“Oh, baiklah.”

Aku perlahan beranjak. Sebelum itu, aku membalikkan badanku menatap suster Lee dan Lee ahjumma yang sedang menahan tawanya.

“Suster Lee!”suster Lee menatapku ragu-ragu.

“Shhh…” lanjutku sembari menempelkan jari telunjuk ke bibirku.

“Ne. Shhh…” suster Lee melakukan hal yang sama.

“Ini pesananmu yang diantarkan Lee ahjumma. Dia langsung pulang tadi.” aku mendekati Ravi yang tengah asik dengan laptopnya.

“Ohh.. didalam ada baju beserta dengan dalamannya. Ambil lah. Itu milikmu.” ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop.

“Milikku? Kapan aku minta?”

“Ambil saja. Anggap saja hadiah dariku karena sudah merawatku selama ini. Sekarang kau mandi.”

Aku membawa keresek baju itu masuk. Ada celana jeans dan juga sepotong kaos hitam yang cukup bermerek, dan mahal pastinya. Ditambah ini.

“Pakaian dalam?” tanyaku dalam hati.

Aku mengeluarkan satu pasang pakaian dalam berwarna hitam yang berkilap.

“Bagaiman apa dalamannya sempit?” tanya Ravi sesudah aku mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang Ravi berikan tadi.

“Tidak. Kau tahu ukurannya dari siapa?”

“Aku hanya menebak-nebak saja. Kalau tidak seukuran dengan Hwayeon ya lebih kecil.”

“Tapi kenapa pakaian dalamnya harus berkelip.”

“Uhuk..uhukk..” Ravi langsung tersedak mendengar perkataanku tadi.

“Itu aku…” belum selesai Ravi bicara, seseorang membuka pintu kamar ini. Ternyata itu suster Lee.

“Dokter Jung! Ada kecelakaan beruntun yang cukup parah. Semua korban yang jumlahnya 11 orang mengalami luka berat. Bahkan salah satu diantaranya mengalami luka yang cukup serius dekat jantung.” jelas suster Lee gelisah.

“Segera hubungi dokter spesialis jantung.”

“Sudah kami lakukan. Dia ada diperjalannan sekarang.”

“Huft… baiklah.”

Aku mengambil jas dokterku, lalu berlari keluar.

“Semoga beruntung pabbo!” teriak Ravi.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari sepanjang koridor. Akhirnya sampai juga diruang operasi. Setelah melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa aku lakukan sebelum operasi, aku menghampiri pasien itu.

Beruntungnya dia, kaca yang menembus dadanya tidak lebih kekiri. Jika itu terjadi, dia pasti sudah mati seketika.

“Maaf terlambat.” ucap dokter yang baru masuk.

“Ternyata kau oppa.”

“Yoonhee-ya. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

“Senang juga bisa bekerja sama denganmu oppa.”

Selama 3 jam lebih kami melakukan operasi itu. Aku, dokter ahli bedah dibantu oleh Hyunwoo, dokter ahli jantung dan juga beberapa dokter junior.

Tidak sampai disitu. Masih ingat? Masih ada 10 lagi orang yang harus kuoperasi.

“Huft..” aku mendudukan diriku dibangku depan kamar operasi.

Drtt drtt

“Eonni pabbo! Kenapa sulit sekali untuk menghubungimu sih?”

“Mianhae. Tadi ada banyak operasi.”

“Kau tahu kan kita pulang dari Jeju besok siang?”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa jemput kami dibandara jam 1 siang?”

“Kalau tidak ada operasi.”

“Andwe! Kosongkan jadwalmu besok jam 1.”

“Ne, arraseo.”

“Jangan lupa!”

“Ne.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Aku menyimpan HPku kembali kekantong celana.

“Yoonhee.” panggil orang disampingku.

“Omo, oppa! Sejak kapan duduk disini?”

“Maaf atas kejadian kemarin.” Hyunwoo menyederkan badannya ke bagku.

“Kemarin?”

“Membentakmu, memarahimu, terlalu posesif, dan terlalu mengekangmu. Aku baru ingat, kau adalah tipe orang yang paling benci itu semua.” jelasnya sembari menatapku.

“Gwaenchanha. Justru aku yang ingin minta maaf. Sangat tidak sopan. Berteriak, membentakmu. Emosiku sedang tidak baik kemarin.” jelasku juga.

“Mari sepakati ini. Lupakan masalah itu.”

“Oke. Kita lakukan semuanya seperti biasa, seperti tidak perah terjadi apa-apa.”
“Baiklah. Apa kau mau makan. Ini sudah jam 7, dan kita belum makan dari siang. Ani, bahkan pagi mungkin.”

“Menawarkan Yoonhee makan? Yakin akan aku tolak?”

“Akh, Yoonhee yang sekarang masih suka makan juga ya.”

Kami memutuskan untuk makan bersama di kantin rumah sakit.

“Bagaimana pasienmu, si Ravi itu.” tanya Hyunwoo ditengah-tengah makan.

“Baik. Tumben bertanya.”

“Hanya bertanya. Habis ini kita masih ada operasi kan?”

“Lagi?”

“Ada pasein yang dikirim dari rumah sakit lain. Apa tidak ada yang memberitahumu?”

“Hah.. tidak ada yang memberitahuku, padahal aku yang melakukan operasi.”

“Haha..” Hyunwoo mengusap kepalaku.

“..cepat habiskan. Operasi itu mulai 10 menit lagi.”

“Arraseo oppa.” aku tersenyum padanya. Akhirnya senyuman itu keluar lagi.

Sehabis makan, kami langsung kembali ke ruang operasi.

“Kau tadi keren sekali oppa, dapat menunjukan dengan jelas apa pe..” belum selesai aku bicara, Hyunwoo sudah menarik tanganku ke sisi pojok belakang.

Brak

Hyunwoo menempatkan kedua lengannya diantaraku.

“Oppa..” tanyaku mulai takut.

Hyunwoo hanya diam menatapku. Perlahan wajahnya didekatkan kewajahku.

“Oppa! Kau mau apa?” tanyaku dengan nada yang lebih keras.

“Sebentar saja. Aku ingin sekali menciummu.” suaranya mendadak parau. Astaga, dia sangat…seksi?

“Ini tempat umum oppa. Lagipula, kau ini kenapa?” kudorong dada bidang Hyunwoo agar pergi dan menghentikan aksinya ini.

“Sekali saja.”

Hyunwoo menarik daguku, dan menempelkan dahinya kedahiku.

“Oppa jebal!”

“Sekali, hanya sekali.” paksanya.

“Op..”

Cup

Ciuman ini bahkan lebih ganas dari 10 tahun lalu, lebih romantis daripada kemarin, bahkan lebih panas dari musim panas di Korea.

“Opp-oppa.. hen-ti..kan!” pintaku disela-sela ciuman panas kami itu.

Hyunwoo memindahkan tanganku keatas bahunya. Dia ingin agar aku melingkarkan tangannya di leher Hyunwoo. Tubuh Hyunwoo mulai mendesakku, dia perlahan maju dan meletakkan tangannya dipinggulku.

“Op..”

Rintihanku harus terhenti kembali. Hyunwoo mengigit bibir bawahku. Otomatis aku langsung membuka mulutku. Belum sempat aku menutupnya kembali Hyunwoo sudah memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Tak pernah Hyunwoo menciumku seperti ini. Serasa dia sedang meluapkan segala rindu dan emosinya padaku.

Panas ditubuhku mulai meningkat. Aura yang dia pancarkan tak pernah membuatku bosan. Kupejamkan mataku dan mencoba untuk menikmati ciuman yang membabi buta ini dan coba mengikuti alurnya.

“Yoonhee!” kudengar suara lain memanggilku.

Cepat-cepat kudorong Hyunwoo dan kulepaskan ciumannya itu.

“Ravi oppa. Ini bukan seperti, tunggu.. siapa yang membolehkanmu untuk berjalan-jalan?”

Ravi berjalan mendekat. Dadanya mulai naik turun.

Buk

“Oppa!”

Aku mendorong Ravi yang baru saja menonjok Hyunwoo sampai hidungnya berdarah.

“Apa kau gila?!” bentakku.

“Kau yang gila Yoonhee! Sedang apa tadi?! Menjual diri? Murahan!”

Plak

“Jaga bicaramu. Memangnya tidak boleh berbuat seperti itu kepada orang yang kita cintai? Ini hidupku, harga diriku. Urus saja milikmu sendiri. Jangan ikut campur.” aku menampar Ravi dan mencoba memperingatkannya.

Ravi menatapku dalam.

“Aku hanya ingin memberitahumu. Dia itu bukan namja baik-baik, dia..”

Plak

“Sekali lagi bicara yang bukan-bukan, aku akan menamparmu lagi. Kjja oppa.” aku menarik Hyunwoo ke ruanganku. Meninggalkan Ravi yang tengah tertunduk disana.

“Aw, apa ada yang patah?” tanya Hyunwoo sembari sedikit mendongak.

Kami sedang duduk berhadapan di sofa ruanganku. Di pangkuanku ada sekotak obat dan juga beberapa kapas yang penuh dengan darh dari hidung Hyunwoo.

Aku melihat, apa yang terjadi pada hidung Hyunwoo yang terus mengalirkan darah.

Kumiringkan kepalaku dan sedikit menunduk.

“Tidak ada. Sudah kubilang, jangan coba-coba menciumku. Jadinya begini kan.”

“Biarlah, yang jelas aku bahagia atas ciuman yang tadi.”

“Bahagia? Kau sangat nafsu oppa.”

“Tapi kau menikmatinya bukan?”

Aku tersenyum miring.

“Sudahlah.” aku mengganti kapas dari hidung Hyunwoo. Darahnya sudah mulai berhenti sekarang.

“Sekali lagi?” tanya Hyunwoo sembari mengangkat alisnya.

Puk

Aku menepuk dahinya pelan.

“Sudah begini, masih berani mencium ku lagi?”

“Siapa takut.”

Hyunwoo memindahkan kotak obat itu kesamping tubuhku.

Dia mulai menaiki tubuhku, lalu dia menimpaku.

Cup

Benar katanya. Dia berani menciumku lagi.

Hyunwoo kembali melakukan aksinya yang sempat terhenti.

“Kalian benar-benar pasangan mesum.” Ravi tengah berdiri didepan pintu sembari mengamati kami berdua.

“Op..” aku memukul dada Hyunwoo yang tidak mau melepaskan ciuman itu.

“Terus saja lanjutkan kegiatan “mulia” kalian itu. Sama-sama yadong memang serasi.”

“Oppa, tunggu!” akhirnya aku berhasil lepas dari ciuman Hyunwoo.

Kukejar Ravi yang tengah berjalan menuju kamarnya.

“Oppa, tunggu!” panggilku keras.

Ravi langsung berhenti, lalu membalikkan tubuhnya kearahku.

“Aku tidak menyangka kalau kau seperti ini.”

“Oppa, kenapa kau marah?”

“Apa tidak boleh? Apa aku harus diam saja? Melihat kau bersama namja lain membuatku.. akh lupakan. Aku sudah muak padamu Yoonhee. Tadinya aku menyusul untuk minta maaf, tapi ternyata, kau lebih cabul daripada yang kukira.”

“Oppa,aku bisa jelaskan.”

“Jangan-bicara-lagi-padaku. Aku muak melihat wajahmu Yoonhee. Sekarang pergi.”

Ravi segera masuk kekamarnya, lalu mengunci pintu itu.

“Oppa, dengarkan dulu.” pintaku sembari mengebrak-gebrak pintu dari luar.

“Baik, kau boleh marah padaku. Kau boleh menganggapku wanita murahan atau apapun itu, tapi kau tidak boleh mendiamkan aku. setidaknya dengar penjelasanku dulu oppa!”

Tidak ada respon dari dalm. Selama apapun aku menunggu, Ravi benar-benar tidak mendengarku.

“Oppa!” panggilku sekali lagi.

Aku mersakan sesuatu keluar dari diriku. Air mata tanpa sebab itu keluar lagi. Aku menyekanya, namun air mata itu tidak berhenti mengalir. Kali ini untuk apa air mata itu? Apa karena aku malu? Apa karena aku…

“Oppa! Buka lah, kumohon.” teriakku lagi.

Aku mencoba mengebrak pintu itu lagi. Tapi jawabanya tetap sama. Diam membisu.

Aku menyandarkan diriku kepintu. Air mata tanpa sebab ini masih keluar.

Aku kaui aku memang salah. Tapi apa urusannya dengan Ravi? Kenapa bisa-bisanya dia marah sampai begitu?

“Kumohon oppa, biarkan aku masuk, dan maafkanlah aku.” bisikku penuh dengan isakkan.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” taya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

—TBC—

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 4)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Kim Tae Hyung’s ex girlfriend

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 4!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Kondisi author lagi kurang enak sekarang, tapi author tetep berusaha yang terbaik buat readers..

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

Seharian ini, kami hanya bermain dipantai. Tidak hanya sekedar berjalan menyusuri pantai dan berfoto, tapi juga bermain seperti banana-boat, jetski, dan sebagainya hingga sore.

Begitu melelahkan, tapi juga menyenangkan..

“Kau lelah?” tanyanya padaku.

“Ne. tapi ini sungguh menyenangkan.”

“Kemarilah..” Taehyung menepuk-nepukan bahunya. Mengisyaratkanku untuk bersandar padanya.

Begitu kan maksudnya?

Aku meletakkan kepalaku di atas bahu milik Taehyung.

Menikmati pemandangan sunset bersamanya, adalah hal yang aku inginkan.

“Sun set yang cantik.” Ucapku spontan.

“Hm.. bukankah kau ingin melihat sun set bersama Ricky? Tunggulah disini, aku akan mencarinya..” Ucap Taehyung kemudian berdiri. Aku menahan lengannya.

“Haa… ani. Aku kan hanya bercanda saja tadi. Aku ingin bersamamu. Bukan bersama sunbae yang payah seperti dia..” rengekku.

Taehyung tersenyum.

“Aku tahu. Aku juga hanya bercanda saja tadi.. hehe..”

“Kau menyebalkan!”desisku. Dia hanya terkekeh geli melihat ekspresiku.

Taehyung kembali duduk di tempatnya semula.

“HyeHye, aku menyayangimu…” Taehyung mengecup keningku. “…mulai kemarin…” Taehyung mengecup pipi kiriku. “….sekarang..” Taehyung mengecup pipi kananku. “….dan selamanya…” Taehyung mengecup bibirku lembut.

Namja ini romantis… meskipun dia menyalurkannya dengan caranya sendiri, tapi itu unik..

Belum selesai kami berciuman, tiba-tiba saja sebuah suara yeoja menginterupsi kegiatan kami.

“Kim Taehyung! Akhirnya aku menemukanmu!”

………

Suasana menjadi hening seketika.

Yeoja?

‘Akhirnya aku menemukanmu!’ ?!

Haish! Kenapa lagi-lagi Taehyung membuatku penasaran? Yeoja yang ditelepon saja aku belum tahu siapa. Sekarang sudah ada yeoja lain lagi?!

Aigoo! Aku punya dosa apa??

Yeoja itu berjalan mendekati kami dengan wajah yang begitu riang. Namun ketika sedikit lagi sampai, Taehyung berlari menghampirinya dan mencegatnya agar tidak bertatap muka denganku.

Well, itu bisa mengandung 2 arti…

Dia memang ingin melindungiku dari orang itu meskipun dia mengenalnya..

…atau…

…Ada yang ia sembunyikan dariku.

Yeoja itu memeluk Taehyung segera setelah namjachinguku itu ada dihadapannya. Yeoja tidak tahu diri!

Ingin sekali rasanya untuk menampar yeoja seperti itu, tapi kuurungkan niatku begitu melihat Taehyung segera melepaskan pelukannya dan menjaga jarak yang cukup jauh dengan yeoja murahan itu.

Aku memang tidak mengenalnya, tapi dari tingkahnya saja sudah jelas dia itu yeoja murahan..

Cukup lama mereka berbincang. Bukan berbincang, lebih tepatnya adalah berargumentasi. Yeoja itu nampak memohon-mohon pada Taehyung.

Ini…. menjijikan…

Mungkin akan lebih baik jika aku memberi mereka waktu untuk menyelesaikan masalah mereka, jadi lebih baik aku pergi saja….

Aku membalikan arahku, menuju jalan yang menuntunku keluar dari pantai namun belum sempat aku melangkah, aku jatuh tersungkur akibat dorongan yeoja itu.

Aku hanya menatapnya dingin.. mungkin yeoja ini gila..

“Kau! Ini semua gara-gara kau! Dia, namja itu harusnya menjadi milikku kalau bukan karena kehadiranmu! You’re bitch!!” seru yeoja itu.

-Plak!-

Tanpa membalas kata-katanya, aku hanya memberikan tamparan keras untuknya.

“Percuma kau menamparku! Kau memang tidak tahu diri!”

-Plak!-

“Kau keterlaluan ya, sudah merebut namja orang sekarang kau menyakiti korban?! Dasar sakit jiwa!”

-Plak!-

Sungguh, aku tak tahan lagi! Kucengkeram kuat rahang yeoja sialan itu dengan penuh emosi..

“Dengar baik-baik, Aku tak tahu apa yang kau bicarakan itu. Aku tidak tahu namja mana yang kau maksud. Aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan tentangku, aku tidak merasa terhina oleh kata-kata yang keluar dari mulut seorang penggoda sepertimu! Jika kau ingin melawanku, berpikirlah dulu!” ucapku kasar kemudian mendorong yeoja itu hingga tersungkur.

Kulihat sekilas Taehyung hanya melongo. Mukanya menjadi benar-benar bodoh..

Aku melangkah pergi meninggalkan yeoja menjijikan itu kemudian disusul Taehyung. Benar-benar… aiish!!

Tenangkan dirimu, Eunhye… dia hanya yeoja yang tidak waras..

“Kau hebat sekali HyeHye! Aku tidak menyangka kau akan segalak itu padanya.. ternyata benar apa yang diucapkan Hwayeon tadi.. kau itu galak, bicaramu juga kasar.. lalu kau..”

Aku menatapnya dengan tatapan membunuh. Yang ditatap hanya tersenyum kikuk.

“Hwayeon itu terlalu berlebihan. Aku saja baru sekali ini bertindak begitu.. sebelumnya sih, tidak separah ini..”

Taehyung bergidik ngeri..

“Waeyo?”

“Ani, aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kau marah padaku.” Jelasnya.

“Marah? Padamu? Sepertinya cukup sulit. Aku tidak bisa marah pada orang yang kusayangi.. kecuali kalau tindakannya keterlaluan.”

“A-ah.. begitu..”

“Oh iya, memang yeoja itu siapa? Kau mengenalnya?”

“Eum, dia itu… mantanku…” desisnya pelan.

“MWO?! Mantanmu? Lalu apa yang dia inginkan?”

“Dia memintaku kembali padanya.”

“Oh, lalu kau mau?”

“Tidak! Tentu saja TIDAK!”

“Wae? Dia cantik, dia manis, dia juga sexy.. kurang apa lagi dia?” aku sedikit menggoda Taehyung lagi.

“Hiyaa!! HyeHye!! Aku ini namjachingumu! Aku jelas tidak akan meninggalkanmu demi masa laluku! Kau adalah masa depanku, HyeHye. Kau bisa pegang kata-kataku.”

Aww.. manisnya.. Aku akan mencair sekarang…

Bahkan saat kami berada di liftpun, rasanya aku masih akan mencair..  dia setia sekali.. Haa~ Eits! Belum tentu.. Akh! Tidak! Dia setia padaku.. aku harus meyakini itu..

“Hey, mengapa ku begitu tenang saat mantanku itu memelukku?” bisik Tehyung tepat di telingaku.

Aku bergidik geli.. omona! Apa yang sedang dilakukannya ini? mengapa dia senang sekali membisikikiu..? seperti iblis saja..

“A-aku.. aku tidak perlu cemburu dengan yeoja sinting begitu kan?” Jawabku agak gugup.

“Benarkah? Mengapa kau bisa tidak cemburu?”

“Um.. aku.. aku sendiri tidak tahu.. memangnya aku harus cemburu?”

Taehyung membelai kepalaku lembut kemudian tersenyum kecil sambil diiringi sedikit kikikkan kecil..

“Tidak,, kau tidak harus cemburu tapi…” dia menggantungkan kalimatnya.

“Mwo?”

“… kau harus ku hukum jika kau tidak cemburu.”

Yak! Apa-apaan namja ini? Dia menyuruhku untuk cemburu? Aigoo itu tidak masuk akal, lagi pula aku memang cemburu sih tapi tidak separah dia. Dan sekarang dia akan menghukumku kalau aku tidak cemburu? Namja ini benar-benar aneh.. sungguh..

“Hukum?? Shireo!”

“Uh-uh… kau tetap ku hukum..”

Sejurus kemudian Taehyung mengangkatku ala bridal style.

Hiyaa!! Apa yang akan dilakukan namja ini?!

-Ting!-

Pintu lift pun terbuka, dengan segera Taehyung membawaku ke kamarnya…

Omo!! Apa maksudnya ini?!

Taehyung mendudukanku di atas kasurnya kemudian ia pergi menuju kamar mandi. Aihh… sepertinya aku akan mati hari ini….

Tak lama kemudian namja itu menampakkan dirinya.

“Yak! Apa yang akan kau lakukan?!” jeritku.

“Melakukan apa yang akan ku lakukan. Apa kau takut? Hahahaha..”

Sungguh, tawa jahat yang bodoh..

Taehyung berjalan mendekatiku yang kini mulai bergerak mundur. Hiyaa!! Tatapan macam apa yang dia berikan itu? Mengapa ia nampak sangat beringas??

Kini namja itu sudah berada tepat di hadapanku. Sial! Aku tidak bisa bergerak kemana-mana lagi sedangkan namja itu mendekat dan makin mendekat.

-Gyut-

“Huaa!” teriakku refleks.

“Diamlah.. nanti orang lain mendengarnya..”
“Aku hanya terkejut!”

“Aku kan hanya memelukmu….” ucapnya datar.

“Tapi kan banyak hal bisa terjadi… kita disini hanya berdua, ingat itu Tae..”
“Sepertinya aku mengenal kalimat itu..”

“Kau pernah mengucapkannya.. Namja aneh..”

“Kau lebih aneh!”

“Apa maksudmu?!”

“Sudah tahu aku aneh tapi kau tetap saja mau denganku. Kau lebih aneh.. bukan, kau ini pabbo..” ucapnya sambil menunjukan cengiran jahilnya.

Dasar namja ini… tapi ada benarnya  juga.. mungkin pabboku akut ya?

“Baiklah, aku sudah puas  menghukummu.. kembalilah ke kamarmu dan bersiaplah. Aku akan mengajakmu makan. Sebagai catatan, pakailah pakaian yang nyaman saja kita tidak akan makan di restaurant.”

“Eoh? Eodi?” ucapku dengan bingung.

-Chu-

“Yak!” aku tersentak kaget.

“Habis wajahmu lucu. Sudah, sana….”

Aku keluar dari kamarnya. Hukumannya hanya sebuah pelukan? Ku kira apa. Namja ini penuh sekali dengan kejutan.. tapi menyenangkan bisa memilikinya..

-***-

“Tae.. ini kan…. pantai…”

“Ne. Siapa yang bilang kalau ini tempat bermain bowling, HyeHye.”

“Aku tahu tapi, kita mau apa kemari?”

“Makan malam..”

“Di sini?”

“Hm.”

“Tapi kau..”

“Aku sudah mengurus semuanya. Pastinya bosan melihat suasana restaurant kan?”

“Iya sih, tapi…”

“Voila! Selamat datang di Kim’s resto! Satu-satunya restaurant yang menyediakan pemandangan laut secara langsung dan dilengkapi pelayanan penuh cinta..” ucap Taehyung sambil mempersilahkanku duduk di atas tikar.

“Hahaha.. Terimakasih Tuan Kim.. kau baik sekali..” candaku.

Kami seperti sedang piknik. Tikar, makanan, minuman, segalanya begitu sempurna.. tentunya dilengkapi juga dengan beberapa lilin sebagai penerangan.

Kalau dipikir-pikir, idenya ini gila.. tapi ini romantis..

Benar kan?

Memiliki namjachingu yang aneh bukanlah suatu kesalahan..

Justru karena sifatnya yang aneh,

Hubungan kami terasa lebih..

…Special.

Drrt..Drrtt…

Eo? Panggilan dari ChangChang sunbae..

“Yeoboseyo?” ucapnya.

“Yeoboseyo.”

“Hiiyaaa!! EunEun! Eotteohke?!”

“Mwo?”

“Dia marah…”

“Nugu? Artis itu?”

“Ne..”

“Haish! Kau apakan dia?! Akh, dasar pabbo! Sunbae pabbo!”

“Bagus ya! Terus saja mengataiku bodoh! kau lebih bodoh tahu!”

“Yak! Sunbae ini menyebalkan! Sudahlah urus saja masalahmu sendiri!”

-Tut!-

Kututup teleponku kasar. Habis ChangChang sunbae menyebalkan sekali.. hish!

Drrtt..Drrtt..

Aigoo… sunbae ini menelepon lagi…

Eoh? Taehyung juga menelepon seseorang.. siapa ya?

“Sekarang apa?!” tanyaku ketus.

“Jebal! Bantulah sunbaemu yang handsome ini!”

Yaish! Pede sekali dia itu. Changhyun subae,, kau itu bukannya tampan, tapi kau ini cute!

“Mwo?! Sudah jangan ganggu aku lagi!!”

“Yak! EunEun pabbo!”

-Tut!-

Kuputuskan lagi sambungan telponku dengan ChangChang sunbae.

Yoonie, kata Jung ahjumma kau…..”

“…..”

 

Taehyung berbicara dengan Yoonie?! Siapa itu Yoonie?! Yeoja lagi?? Apa dulunya dia adalah seorang playboy? Kenapa mantannyabanyak sekali sih? Menyebalkan. Kalau begitu aku ini yeojanya yang keberapaa???

 

“Wae?

 

“…….”

 

“Tumben kau tidur jam 7. Tidur dimana kau?”

 

“…….”

 

Apa?! TaeTaeku bahkan sampai menghafal jadwal yeoja itu tidur?! Eh? Bukan menghafal namanya, apa ya? Seperti….. paham. Semacam itulah..

 

“…Ohh.. jaga dirimu baik-baik ya…”

 

“……..”

 

“Annyeong.”

Sayang sekali pembicaraannya tidak terdengar cukup jelas.. Apa yang mereka bicarakan sebenarnya?  Aku jadi ingin tahu.

Hey, Tae…

Sebenarnya…

Apa yang kau rahasiakan dariku ?

“HyeHye…” panggil Taehyung.

“Eoh?” tanyaku.

“Bagaimana? Kau suka acara kita hari ini?”

“Aah.. su-suka.. suka sekali.”

“Wae? Kau seperti terpaksa mengatakannya?”

Aku memang terpaksa.. mianhae TaeTae.. dadaku mendadak jadi sesak setelah kau menghubungi yeoja bernama Yoonie itu..

Apakah dia mantanmu?

Saudaramu?

Temanmu?

Atau bahkan…

‘Temanmu’?

-***-

Besok adalah acara launching SJ hotel dan magnae pabbo itu malah pergi jalan-jalan dengan namjachingunya, Kyuhyun. Bukan namjachingu sih, calon (?) habis mereka cocok. Kurestui mereka..

Aku pun ingin jalan-jalan juga sebenarnya… tapi aku masih memikirkan TaeTae. Akhir-akhir ini masa lalunya membuat kepala sekaligus dadaku sakit. Apa mungkin aku sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan lamamu? Atau masa lalumu yang terus mengejarmu? Entahlah, aku tak tahu.

Kuputuskan untuk mengunjungi tempat spa yang juga berada di hotel ini. Kepala sakit, badan pegal, lelah, kurang tidur, kini bisa ku kurangi dengan treatment-treatment disini.

Tubuhku memang perlu refreshing…

2 jam kemudian treatmentku pun selesai. Sengja kupilih treatment yang paling lengkap agar tubuhku bisa rileks dengan maksimal.

Sungguh segar sekali rasanya! Spa tadi benar-benar luar biasa…

Kuraih ponselku dari dalam tas dan terkejut melihat ponselku penuh pemberitahuan..

5 missed call from TaeTae Alien

 

5 unread messages from TaeTae Alien

 

7 unread chats from TaeTae Alien

 

3 unread chats from Jimin oppa

Hiyaa! Ponselku banjir notifikasi!!

Kulihat satu persatu notifikasi yang ada.

Pesan-pesan yang dikirim oleh Taehyung berisi..

‘HyeHye… kau dimana?’

 

‘HyeHye?? Kau marah?’

 

‘Jawab telponku, HyeHye..’

 

‘Kau sedang buang air ya? Cepatlah! Balas pesanku sesegera mungkin ya kalau sudah..’

 

‘Kau masih tidur? Kalau iya, cepatlah bangun. Aku menunggumu di depan pintu kamarmu.’

 

‘Kau kencan dengan sunbae kesayanganmu itu ya?! Cepatlah kembali! Aku cemburu!’

‘Kau dimanaaa?? Aku sungguh merindukanmu! Kau tahu? Aku sakit sekarang. Aku terkena HyeHye sick. Cepatlah tunjukan wajahmu, HyeHye..’

 

Isi pesannya bodoh… haha.. tapi baru kutinggal beberapa jam saja kau sudah sebegitu rindunya ya? Baiklah.. aku akan segera menemuimu.. dasar bodoh..

Sekarang, pesan dari Jimin oppa..

‘Eunhye, kalau kau pulang,, bawakan aku oleh-oleh dari Jeju ya!’

 

‘Omong-omong, mawar di rumah sudah mekar! Bagus sekali! Sayang kau tidak ada disini.. mau ku kirimkan satu? Haha..’

 

‘pulanglah jika ada waktu ya, aku punya hadiah untukmu..’

Isi pesanku dengan Jimin oppa seperti layaknya oppa dan dongsaeng.. saling memberi kabar, saling memberi informasi, dan saling merindukan satu sama lain. Tidak ada yang spesial sebenarnya..

Aku akan kembali ke hotel dan menemui TaeTae , tapi aku masih harus menyelesaikan urusanku sedikit.

Hari sudah sore. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat..

Kini aku menyusuri lorong hotel tempat dimana kamarku berada.

TaeTae?? Dia… masih disana. Menungguku.

Aku menghampirinya yang tertidur sambil bersandar pada pintu kamarku. Aku duduk di sebelahnya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai..

Saat bangun saja tampan, apalagi kalau tidur? Wajahnya bagaikan malaikat.

Ku sisir poni Taehyung yang sedikit menutupi wajahnya menggunakan jemariku lalu ku usap lembut pipinya.

“Aku menyayangimu, Tae…” lirihku.

Kudekatkan wajahku pada pipi Taehyung yang mudah ku jangkau..

Aku,ingin sekali mengecup pipimu…

Bolehkah?

Sudah sedikit lagi jarak dari permukaan bibirku menyentuh pipinya. Tapi tiba-tiba..

-Chu-

Yang ku kecup adalah… bibirnya…

Sebenarnya… aku belum menyentuh apapun.. tapi sepasang benda lembut milik Taehyung itu yang lebih dulu menghampiri milikku.

Kulihat ia terkikik geli melihat ekspresi wajahku yang tidak karuan..

“Hey, kau dari mana saja?? Aku menunggumu sejak pagi.” Tanya Taehyung kemudian mengusap pipiku lembut.

“Aku tadi.. aku pergi Spa tadi pagi,, lalu aku menyelesaikan beberapa urusanku. Tidak lama kok, setelah itu aku kembali. Mianhae membuatmu menunggu sampai tertidur disini.” Sesalku.

“Tidak lama? Dari terakhir kali aku meneleponmu, ini sudah sekitar 5 jam. 5 jam itu lama, HyeHye.”

“Selama itu kah? Huwaa! Maafkan aku…”

“Sudah, tidak apa-apa. Sekarang, apa yang mau kau lakukan?”

“Entahlah.. kau?”

“Rencanaku… aku ingin menemanimu kemanapun.”

“Kau ini bisa saja… “ ucapku malu-malu

“Appa! “ jerit seorang anak kecil kemudian berlari dan memeluk Taehyung.

Appa? Anak ini memanggil Taehyung dengan sebutan ‘Appa’? Aku salah dengar kan?

Kulihat Taehyung tidak terkejut sama sekali. Apa dia mengenal anak ini?

Jangan-jangan….

-TBC-

Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 4)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela. Aku melakukan peregangan, lalu bangkit dari tidurku. Kutatap Hyunwoo dikamar sebelah yang masih tertidur. Jam berapa sekarang? Oh.. jam 5.

Hari ini merupakan hari bebas. Aku bisa kemana saja sesukaku. Oke, aku putuskan untuk mandi, lalu berjalan-jalan keluar semebari cari kudapan dan juga beberapa oleh-oleh.

Aku berjalan perlahan, aku tidak mau membangunkan Hyunwoo yang sepertinya tidak tahu kalau aku sudah bangun.

Pemandangan yang indah. Awal musim semi kali ini banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya sejak pagi.

Perhatianku teralihkan pada sebuah benda.

Tapi bagaimana ini, aku ada di negara orang.. akh, baru ingat. Aku bisa bahasa Jepang, hehe.

“Apa ini?” tanyaku dalam bahasa Jepang.

“Sa-ru-bo-bo.” eja sang pedagang.

“Sarubobo?” Aku mengambil boneka sarubobo yang warnanya menarik perhatianku.

“Sarubobo warna pink untuk keberuntungan dalam hal cinta.”

“Cinta?”

Pedagang itu mengeluarkan sarubobo yang lainnya.

“Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja, sarubobo hijau untuk kesehatan, sarubobo kuning untuk keberuntungan dalam hal kekayaan, serta sarubobo hitam untuk menghilangkan kesialan.” jelasnya.

Aku mengamati benda itu sebentar, menarik.

Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku kembali ke hotel.

Klek

“Dari mana saja?” Hyunwoo sudah berdiri mendekatiku saat aku membuka pintu.

“Hanya jalan-jalan.”

“Kau tahu betapa khawatirnya aku. Apa kata appa jika kau hilang.” bentaknya semakin keras.

“Mianhae. Sudahlah, jangan marah-marah. AKu tidak suka dimarahi.”

Hug

“Mwo-ya?” rontaku.

“Jangan ketus begitu. Maaf sempat membentakmu tadi.”

“Gwaenchanha.”

Aku melepaskan pelukan Hyunwoo dan perlahan mundur.

“Aku akan berkemas. Jam 12 nanti kita pulang kan?”

“Ne.”

Jam 10 kami check out. Kami segera ke bandara, dan menunggu disana.

“Kau marah padaku?” Hyunwoo yang tidak tahan suasana ini mulai angkat bicara.

Aku menggeleng pelan.

“Lalu kenapa sikapmu berubah setelah aku menyatakan persaanku. Atau kau marah karena aku cium?”

Aku mengangkat bahuku.

“Yoonhee..” ucapnya lirih.

“Oppa.” balasku tak mau kalah.

“Jangan marah lagi.”

Drtt drtt

“Abeoji.”

“Kau pulang hari ini?”

“Ne. Jam 12 nanti pesawatnya take off.”

“Appa jemput ya, sekalian kita makan bersama seperti yang kamu mau.”

“Oke. Dengan eomeoni kan?”

“Pasti. Ajak juga Hyunwoo.”

“Arraseo. Aku tutup teleponnya ya.”

“Ne. Annyeong.”

Tut

“Oppa, appa mengajakmu makan bersama kami.” laporku.

“Tidak masalah.”

Panggilan untuk pesawat kami diumumkan.

Kami berjalan masuk.

Setelah 2 jam perjalanan udara, akhirnya kami kembali ke kampung halaman.

“Eomeoni!” aku berlari kearah eommaku yang berdiri disamping appa.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya appa.

“Menyenangkan.” jelasku singkat.

Kami berempat memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran di taman kota.

“Hyunwoo, apa Yoonhee nakal disana?” tanya eomma sesaat sebelum pesanan kami datang.

“Dia sempat kabur tadi pagi.” adu Hyunwoo enteng.

“Yoonhee-ya! Kau ini, mau hilang di negara orang?!” bentak eomma dan appa berbarengan.

“Eomeoni, abeoji! Tenanglah, buktinya aku masih ada disini.”

Aku menatap Hyunwoo yang duduk disampingku.

“Dasar pengadu.” desisku.

Hyunwoo hanya tersenyum tak bersalah.

“Oh iya, eomeoni, abeoji. Igo.” aku memberikan dua boneka sarubobo berwarna hijau kepada mereka.

“Igo mwo-ya?” tanya mereka berbarengan.

“Namanya sarubobo. Sarubobo hijau akan membawa keberuntungan dalam hal kesehatan. Aku mendoakan agar kalian sehat selalu.”

“Gomawo anakku.”

“Ne. Cheonma.”

Aku mengambil satu lagi sarubobo dari tasku.

“Apa oppa mau juga?”

“Ani. Oppa tidak percaya pada hal seperti itu.”

Aku menyimpan sarubobo itu kembali ke tempatnya.

“Abeoji, bagaimana rumah sakit saat aku pergi?” aku mencoba mengalihkan topik.

“Begitulah. Pasienmu, Ravi Kim sangat lucu.”

“Lucu?”

“Iya, dia lugu dan juga sangat pabbo. Sama sepertimu.”

“Hahaha..”

“Tapi dia kurang ajar.” sela Hyunwoo dingin.

“Mwo?!” tanyaku tak menyangka.

“Dari kemarin, pasien Yoonhee yang bernama Ravi itu terus menganggu.”

“Benar begitu Yoonhee?” ucap eomma seakan mau marah.

“Dia hanya menelponku. Itu saja.” jawabku membela.

“Tapi dia menganggumu dan juga oppa.”

“Dia pasienku oppa. Kenapa kau jagi menyebalkan begini sih?”

“Kau yang kenapa jadi begini.”

“Eitss, cukup sudah. Apa kalian sedang bertengkar?” appa menghentikan cekcok kami.

Aku membuang muka. Dadaku daritadi naik turun menahan amarah. Hyunwoo benar-benar bukan Hyunwoo yang kukenal.

Drtt drtt

“Suster Lee, waegeurae?”

“Dokter, pasien kita, Ravi Kim wajahnya pucat sekali.”

“Pucat? Kenapa bisa begitu? Apa ada infeksi?”

“Aku juga kurang tahu. Keringat dingin juga terus keluar.”

“Baiklah, aku akan kesana segera.”

Aku menutup telepon itu, lalu berdiri.

“Abeoji, eomeoni. Maaf ada pasien yang mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi sekarang. Maaf acara makan ini tidak berjalan lancar karenaku. Aku akan menebusnya lain kali.”

“Kalau begitu, mau appa antar?”

“Gwaenchanha abeoji. Aku akan naik taxi.”

“Kalau begitu oppa ikut.” Hyunwoo ikut-ikutan berdiri.

“Andwe. Tunggu disini. Setidaknya gantikan aku, dan temani abeoji dan eomeoni untuk makan.”

Hyunwoo kembali duduk.

“Aku pergi, Abeoji, eomeoni, oppa.” aku membungkuk, lalu segera berlari keluar.

“Ravi oppa!” panggilku ketika memasukki kamarnya.

Benar saja apa yang dikatakan suster Lee. Muka pucat, keringat dingin.

“Sejak kapan kau begini?” tanyaku resah.

“Sejak kemarin malam.” jawabnya lemah.

“Pabbo, kenapa tidak beritahu appaku?”

“Aku takut padanya.”

“Aishh, bisa-bisanya kau takut. Apa ada yang sakit?”

“Perut.”

“Apa karena jahitannya? Ada infeksi?”

“Bukan..”

“Lalu?”

“…lapar.”

“Aish, hadapkan badanmu kekiri.”

Ravi menuruti perintahku. Kini dia membelakangiku.

“Kenapa kau tidak mencoba untuk buang angin.”

“Memangnya harus aku coba ya? Aku kira tunggu sampai angin itu keluar secara alami.”

“Pabbo!”

“Yak, aku lebih tua daripadamu Yoonhee.”

“Mianhae oppa.”

“Akhirnya minta maaf juga kau.”

“Bukan masalah itu.”

“Lalu?”

Plak

“YAK!” jerit Ravi.

Prett

“Akhirnya!” ucapku lega.

“Mianhae.” ucap Ravi malu.

Dia mengusap pantatnya yang mungkin meninggalkan tanda telapak tanganku disana.

“Selamat! Akhirnya kau buang angin juga! Sekarang kau boleh makan.”

“Yoonhee..”

Secara tak sadar aku memeluk Ravi. Apa-apaan aku ini? Dia pasien pertama yang kupeluk?

“Ehmm.. mian.” ucapku canggung.

“Tunggu sebentar.” aku berjalan keluar dan mendapati suster Lee berjalan melewati kamar ini.

“Suster Lee. Tolong bawakan pasien Ravi Kim makanan ya.”

“Baiklah. Apa dia sudah sembuh?”

“Dia pucat karena lapar. Pabbo memang.”

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku ambilkan makananya.”

“Gomawo.”

Aku kembali masuk. Ravi yang masih tidur miring sedang mengusap pantatnya.

“Mianhae. Apa sakit?”

“SANGAT! PABBO! SUATU SAAT LAGI AKU PASTI AKAN MEMBALASNYA!”

“MWO?! MEMBALAS? KAU MAU PUKUL PANTATKU? SILAHKAN. KAU PUKUL PANTATKU, KUBUNUH KAU!”

“Hehehe.. bercanda. Damai.”

“Lupakan. Igo.”

“Igo mwo-ya?”

“Tidak baik kalau kau langsung makan. Mulailah dengan memakan yang manis dulu.”

Ravi mengambil botol yang kuberikan.

“Air gula.”

“Air gula?”

“Eommaku dulu sering membuatkannya untukku.”

“Apa enak?”

“Sudah, minum saja, cerewet.”

Ravi langsung meneguk air gula pemberianku.

“Pelan-pelan pabbo. Nanti tersedak.”

Ravi memelankan tegukannya itu sampai pada tegukan terakhir.

“Yak pabbo. Berhenti memanggilku pabbo. Aku ingatkan sekali lagi, aku lebih tua.”

“Yasudah. Kalau begitu aku akan memanggilmu oppa pabbo.”

“Maaf menganggu, tapi makan sudah datang.” suster Lee menghampiri kami. Dia menyerahkan sebaki penuh makanan kepada Ravi.

“Makanlah. Ayo suster Lee.” aku menarik suster Lee untuk keluar.

“Tunggu! Bisa bantu aku untuk duduk?”

Aku membantunya. Ravi menyimpan kedua tangannya kebahuku. Tanganku melingkar di dadanya. Sekali dorongan.

“Gomawo.” Ravi sudah duduk.

“Sudah? Kalau ada apa-apa panggil aku atau suster saja ya.”

Belum ada tiga langkah kami keluar.

“Yoonhee!”

“Mwo?” tanyaku jengkel.

“Temani aku makan.”

“Huft.. suster Lee. Bisakah kau temani aku juga sebentar?” aku ikut-ikutan meminta.

Aku dan suster Lee duduk dipinggir ranjang. Menyaksikan “pangeran” Ravi menyantap makannya.

“Oh iya. Suster Lee ini untukmu.”

“Boneka?”

“Sarubobo. Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja.”

“Kamsahamnida dokter, tapi maaf dokter. Aku masih ada kerjaan.” pamit suster Lee sembari berdiri.

“Baiklah suster. Maaf menganggu.”

“Gwaenchanha. Aku pergi dulu ya dokter.”

Suster Lee keluar dari kamar. Hanya tersisa kami berdua.

“Mana untukku?” tagih Ravi.

“Kau mau? Bukankah para namja menganggap kalau benda seperti ini bodoh?”

“Aku tidak.”

“Iya, aku lupa. Kau kan bukan namja.”

“Yak! Kau ini menyebalkan sekali. Cepat beri aku satu.”

“Igo.”

“Hitam?”

“Mencegah dirimu dari segala kesialan.”

“Kau mengata-ngataiku?”

“Ani. Itu memang kenyataan.”

“Aku ingin yang lain.”

“Tidak ada lagi.”

Aku menunjukkan semua sarubobo yang kupunya.

“Kurasa yang cocok untukmu sudah aku berikan kepada eomma dan appaku.” ucapku menjelaskan.

“Aku mau yang ini.” dia mengambil sarubobo pink dari dalam tasku.

“Tidak boleh!” aku merebutnya.

“Wae? Itu ada sepasang.”

“Itu punyaku.”

“Untukmu dan namjachingumu?” duganya cepat.

“Dia tidak mau. Dia bilang ini benda bodoh.” aku tertunduk, lalu menyimpan sarubobo itu kembali kedalam tasku.

“Wajahmu jadi muram.”

“Jinjja?”

“Aku salah bicara ya? Mianhae.”

“Gwaenchanha.”

“Yoonhee, bisa minta tolong?”

“Ada apa lagi?”

“Karena Hwayeon pergi aku belum membasuh tubuhku. Bisa tolong kau yang basuhkan?”

“Hah?!”

“Hanya bagian atas saja. Bagian bawahnya biar aku saja.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Aku berjalan kekamar mandi dan mengambil baskom berisi air hangat beserta dengan handuknya.

“Biar aku yang buka.”

Aku membukakan kancing baju rumah sakit milik Ravi. Kutanggalkan baju itu dari tubuhnya.

“Jadi ini yang namanya masalah? Berbuat mesum dirumah sakit?” suara yang tiba-tiba datang itu
mengagetkanku.

“Oppa…” panggilku lirih.

“Keluar. Aku ingin bicara.”

Aku mengikuti apa yang dia mau.

“Kau ini apa-apaan?!” bentaknya tak kira-kira.

“Oppa, pelankan suaramu.” aku mencoba menenagkan.

“Apa harga dirimu sudah habis?!”

“Oppa!”

“Mianhae. Oppa hanya tidak suka kau dekat-dekat namja itu. Dia bukan orang baik-baik.”

“Kenapa kau berkata seperti itu. Dia itu oppa dari temanku.”

“Pokoknya jauhi dia.”

“Terserah oppa.”

Dengan cepat aku langsung masuk ke kamar Ravi, lalu mengunci pintunya.

Tak kuindahkan segala gebrakan dari Hyunwoo.

“Yoonhee! Maaf membentakmu. Aku hanya cemburu.”

Aku menutup kedua telingaku lalu berjalan mendekati Ravi.

“Sini. Biar aku basuh tubuhmu.”

“Mianhae. Karenaku..”

“Lupakan. Oh iya. Igo.”

“Tapi katamu sarubobo ini milikmu.”

“Ambilah. Berikan ini untuk orang yang kau suka.”

“Tapi..”

“Kurasa saat ini aku perlu sarubobo hitam. Aku sangat sial hari ini.”

“Tidurlah disini. Temani aku.”

“Hah?”

“Aku kesepian. Tidurlah disofa. Hwayeon bilang sofanya sangat empuk, dan pakai ini. Malam hari disini sangat dingin.”

“Oppa..”

“Jika kau ingin mandi, kurasa bajuku yang pembantuku bawakan masih ada beberapa potong. Kalau kau ingin sikat gigi juga semua perlengkapannya ada dikamar mandi. Pakai handuk yang dilaci. Itu belum kupakai..”

“Oppa!”

“Ne?”

“Kamsahamnida.”

“Cheonma.”

Setelah membasuh badan Ravi, aku segera mandi. Meninggalkan Ravi yang sdedang sibuk membasuh tubuh bagian bawahnya.

“Yoonhee, mau makan?” tanya Ravi sekeluarnya aku dari kamar mandi.

“Tidak aku tidak berselera.” tolakku halus.

“Kau belum makan daritadi.”

“Tak apa. Aku tidak lapar.”

“Ngomong-ngomong..”

“…kau lucu sekali memakai bajuku. Semuanya kepanjangan, tapi..”

“Wae?”

“Kenapa kau memakai jaket. Dan kenapa juga kau melipat tanganmu didada?”

Perlahan wajahku memerah.

“Itu..”

“Ohh.. sudah cukup. Aku mengerti. Kau tidak memakainya saat malam ya? Sama seperti Hwayeon.” potong Ravi tergagap-gagap. Untungnya kali ini dia tidak pabbo seperti biasanya.

“Kalau yang satu lagi?” lanjut Ravi bertanya.

“Satu lagi?” tanyaku bingung.

“Dalam bagian bawah.” jelasnya.

“Ohh.. tadi aku mengorek-ngorek tasku. Ternyata ada cadangan.”

“Lucu juga. Menyimpan cadangan di tas.”

“Yak oppa pabbo. Jangan bahas itu lagi.”

“Arraseo.”

Aku duduk disofa yang mirip seperti kasur itu.

Sekarang sudah jam 7 malam lagi. Akhirnya aku bisa tidur lebih awal.

Ravi masih duduk dengan laptop diatas pangkuannya.

“HP ku, tolong.” pintanya sembari menunjuk HPnya yang ada di meja samping ranjang.

“Igo.”

Dia mulai mengotak atik HPnya dan mulai menelpon orang.

“Lee ahjumma, tolong belikan aku pakaian wanita beserta dengan dalamnya.”

“…”

“Aeh.. jangan berpkiri yang macam-macam. Pokoknya belikan saja. Aku mau barang itu besok pagi. Oh iya, aku juga titip sarapan untuk besok pagi. 2 porsi ya.”

“…”

“Jangan tanya kenapa dan buat siapa. Yang penting buat saja. Oke ahjumma? Kamsahamnida.”

“Kau menelpon siapa?”

“Pembantuku.”

Drtt drtt

“Taengi oppa.”

“Yoonie, kata Jung ahjumma kau bertengkar dengan Hyunwoo?”

“Ne.”

“Wae?”

“Dia menyebalkan itu saja. Sudahlah oppa. Aku tidak ingin membahas itu sekarang. Aku mau tidur”

“Tumben kau tidur jam 7. Tidur dimana kau?”

“Rumah sakit.”

“Ohh.. jaga dirimu baik-baik ya. Dan juga jangan bertengkar dengan Hyunwoo lagi. Arraseo?”

“Ne. Arraseo. Annyeong.”

“Annyeong.”

“Nugu?” tanya Ravi penasaran.

“Saudaraku.”

“Itu panggilan sayang kalian?”

“Iya.”

“Lucunya. Seandainya aku punya satu darimu.”

“Mwo?”

“Ani. Kau tidurlah. Kelihatannya kau lelah sekali hari ini.”

“Sedikit.”

“Tidur lah kalau begitu. Selamat malam.”

“Ne. Selamat malam, oppa pabbo.”

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

—TBC—

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 3)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

This is part 3!! , mian yaa.. author ngepostnya telat.. lagi-lagi telat ya? Jeongmal miahae nae readers!

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari blog ini di buat loh.. dan ini murni hasil pemikiran para author di Spicy Wings’s House!

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

-Tak!-

“Yak!” jerit  Hwayeon lagi.

“Yak! Apa maksudmu. Kau memang benar-benar! Aish, bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan makhluk ajaib sepertimu? Yeoja aneh! Sinting!”

Kutatap Hwayeon dengan hawa membunuh. Kurasa tatapan seperti itu cocok untuk yeoja yang kurang ajar seperti dia.. huft..dia membuatku naik darah saja.

“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau tidak perlu marah seperti itu.” Ucapnya sambil memutar bola matanya

Kalau tidak niat, tak perlu minta maaf.. dasar pabbo..

“Hah, terserahmu saja lah.” Ucapku  pasrah. Aku sudah lelah menghadapi yeojagarang macam dia.

“Kalian sudah saling kenal?” tiba-tiba suara Kyuhyun muncul saat keadaan mulai reda.

“Ne, kami sudah kenal. Memangnya kau tidak tau? Bukankah aku pernah memberitahumu kalau aku mengenal adik Ravi-ssi dengan baik?” ucapku pada Kyuhyun.

“Baguslah kalau kalian sudah kenal, aku juga malas memperkenalkan kalian. Nah, jadi HwaYeon-ah, ini Eunhye noona, dia yang sudah berjasa membuat hotel ini tampak indah.” jelas Kyuhyun.

Kini Hwayeon menatapku bingung. Kenapa harus menatapku dengan bingung seperti itu sih? Mungkin dia tidak menyangka..

“Kau, desaignernya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kenapa eonni tidak bilang? Tidak pernah cerita sama sekali. Kemarin juga, saat kita mengobrol di café, kau tidak membahas ini.” tanya Hwayeon bingung.

“Yah, kau juga tau kan akhirnya. Buat apa diperpanjang. Sudahlah, aku mau makan. Pembicaraan ditutup. Sana pergi, jangan menggangguku.” Ucapku sedikit ketus.

Maaf saja ya, aku hanya tidak ingin yeoja itu menggodaku lebih lama lagi. Lagi pula makanan kami sudah datang.

“Hah! Aku diusir bahkan dari hotelku sendiri. Terserah padamu lah.” Ucapnya pasrah.

Hwayeon segera beranjak dari duduknya kemudian bergerak menuju lift. Tapi, mendadak dia berbalik dan kembali menghampiri kami.

“Emm…Kyuhyun-ssi?” panggilnya.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Itu, aku…Aku lupa membawa kartunya, tertinggal dikamar. Aku tidak bisa menggunakan lift jadinya. Bisakah aku meminjam kartumu?“

Haish… kukira ada masalah yang berat ternyata hanya masalah kartu akses?

“Kebiasaan..” desisku.

“Hah, baiklah. Lebih baik kita kembali bersama. Aku juga ingin tidur. Kajja.” Ucap Kyuhyun seraya mulai berdiri.

“Kalian tidak berniat tidur bersama kan?” tanyaku asal dengan suara yang cukup keras.

“Sembarangan saja kau ngomong eonni. Masa kami tidur bersama?! Kau gila ya?! Hiih!” omel Hwayeon.

Memangnya salah? Aku kan hanya bertanya..

Hwayeon dan Kyuhyun segera berlalu menuju lift dan menghilang dari pandanganku ketika pintu lift tertutup.

“Um.. Tae, setelah ini kita akan kemana?” tanyaku pada Taehyung.

“Entahlah. Kau ingin kita kemana? Jalan-jalan ke luar hotel?”

“Ide yang bagus!”

Setelah selesai makan, kami mengunjungi beberapa tempat yang menarik di sekitar hotel dan membeli beberapa barang-barang yang lucu..

Ketika sudah puas berkeliling, kami pun kembali ke hotel. Padahal aku masih ingin bersamanya.. tapi karena hari sudah malam dan juga kami harus menjaga kondisi tubuh karena launching hotel akan dilakukan dalam waktu yang dekat, jadi kami harus pulang. Sayang sekali. Untungnya, kamarku dan kamarnya bersebelahan.

Kukeluarkan barang-barang hasil jalan-jalanku bersama Taehyung tadi. Ada topi, baju, kalung, dan boneka..

Topi dan baju ini kubeli di toko fashion…

Kalung ini kubeli di tempat perhiasan…

Boneka ini…

Aku tidak membelinya…

Boneka ini adalah hasil dari permainan ambil boneka yang dimainkan Taehyung.

Dia hebat! Aku suka boneka ini.

Kupeluk boneka beruang coklat dengan pita merah ini dan membawanya menuju balkon kamarku.

Ketika keluar, aku mendapati Taehyung juga berada di balkon kamarnya dan dia tampak tengah menelpon seseorang. Aku tidak tahu siapa..

Tapi sepertinya aku mendengar dia menyebut..

…Yoonhee…

Apa benar dia menyebut itu?  Ah tidak mungkin, bisa saja YooRi, YooEui, YinHee, YeoHeui, YooNi, YooMi, YooMin, dan kawan-kawan.. banyak kemungkinannya.. Ah, sudahlah jangan dipikirkan.

Kulihat Taehyung mengakhiri pembicaraannya di telepon kemudian bersandar pada tiang balkon dengan wajah yang nampak sedih.

Ada apa dengannya? Padahal tadi selama kami berkeliling sekiar hotel dia baik-baik saja. Malah dia membuatku selalu tertawa. Apa perasaan ini yang disembunyikannya dibalik tiap tawanya?

Aku berusaha diam dan tidak menciptakan suara yang dapat mengalihkan perhatiannya. Aku berdiri, menghadap ke arahnya sambil membenamkan sebagian wajahku pada boneka beruang yang diberikan Taehyung padaku.

Kini dia menatap layar ponselnya, menghela nafas panjang kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.

Kenapa rasanya sungguh menyedihkan melihatnya seperti itu? Kenapa rasanya aku yang telah membuatnya menjadi begitu? Kenapa aku tidak berani menegurnya dan menanyakan keadaannya? Kenapa aku hanya diam dan memandanginya dari sini? Kenapa….?

Aku…

Bukanlah…

Yeojachingu yang baik…

-***-

Cahaya mentari pagi tengah menembus tirai dan membangunkanku. Aku begitu lelah dan beban pikiranku terlampau banyak. Membuat kepalaku sakit sehingga aku sulit sekali untuk bangun.

Drrttt… Drrrttt…

Ponselku berbunyi. Sepertinya aku sempat mengalami hal ini. Ketika belum sepenuhnya bangun, dering teleponlah yang membangunkanku. Aku pernah mengalaminya.. aku ingat. Tapi kapan ya?

“Yeoboseyo?” Jawabku.

“EunEun pabbo! Kau pasti baru bangun ya?”

“Eoh? Nuguseyo?”

“Haish! Rupanya nyawamu pun belum sepenuhnya kembali pada tubuhmu ya? Ini aku. Ricky!”

“Oh.. ChangChang sunbae! Wae geurae?”

“Aku sudah sampai!”

“Eodi?”

“Di Jeju!”

“Mwo?! Kau di Jeju?!”

“Ne. Tempatku berkolaborasi dengan pujaan hatiku kan disini.”

“Jinjja?! Wah, semoga kita bisa bertemu ya? Aku ingin melihatmu bagaimana.”

“Hm. Ketika acaranya selesai, aku akan menghubungimu.”

“Arra. Annyeong.”

“Annyeong.”

What?! ChangChang sunbae di Jeju? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.. aku ingin sekali bertemu dengannya. Kapan ya? Belakangan ini aku sibuk.

-Knock Knock-

Pintu kamarku diketuk seseorang. Siapa dia?

Aku mengintip keluar pintu melalui lubang yang terdapat pada badan pintu.

Dia adalah…

“TaeTae!” seruku dari dalam.

“HyeHye! Ayo kita jalan-jalan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!” sahutnya dari luar.

Aku tidak mungkin membukakan pintu karena keadaanku masih sungguh berantakan dan aku tidak ingin Taehyung melihat kondisiku yang urakan begini.

“A-Aku belum bersiap-siap!”

“Baiklah kalau begitu, kau bersiap-siap sajalah dulu!”

“ALGESSEUMNIDA!!” Seruku kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Sekitar 15 menit kemudian, aku telah selesai bersiap-siap.

Aku mengenakan kaos berlengan pendek berwarna putih yang dipadukan dengan celana pendek berwarna biru.

Rambutku yang sedikit ikal, ku biarkan tergerai bebas.

Ku gunakan alas kaki yang senada dengan warna bajuku.

Yup, aku sudah siap pergu bersama Taehyung sekarang. Ku buka pintu kamarku dan betapa terkejutnya aku mendapati Taehyung telah berdiri di depan pintu kamarku.

“Yak! TaeTae! Apa yang kau lakukan disini?”

“Menunggumu.” Jawabnya datar.

“Kau kan bisa menungguku di kamarmu, di lobby, atau dimana saja.. tidak disini.”

“Tidak apa-apa. Tidak lama juga kan? Lagi pula aku ingin segera melihat penampilanmu begitu kau keluar dari kamar ini.”

Aish! Namja ini bisa saja.. Apa dia sedang merayuku? Ayolah, aku tidak terlalu suka dirayu sebenarnya, tapi…. dirayu olehnya membuatku senang juga.

“Baiklah.. kau ini bisa saja.”

“Kau tetap manis meskipun berpenampilan santai seperti ini.”

Pipiku merona. Apa ini juga bentuk rayuannya? Aku senang sekaligus malu! Senang juka dia memujiku, malu karena wajahku memerah dihadapannya! Aish! Memalukaaannn…

“Te-terimakasih.. TaeTae..” ucapku terbata karena gugup.

“Hiyaa.. manisnya. Pipimu memerah. Kau ini benar-benar yeoja paling manis yang pernah aku temui..” ucapnya sambil mencubit kedua pipiku gemas.

“Yak!”

“Hehehe.. kajja!”

Taehyung merengkuh pundakku. Membawaku pergi menjauh dari kamarku menuju sebuah lift yang letaknya tidak jauh dari kamarku dan Taehyung.

Selama di lift, dia terus merangkulku dan itu membuatku merasa aman. Sesekali dia menatapku dan tersenyum. Dia membuatku tersenyum sendiri padahal aku merasa tidak ada yang lucu ataupun hal yang membuatku tersenyum.

Tapi ini rasanya berbeda..

Seperti ada magnet yang menarik kedua sudut bibirku untuk selalu tersenyum.

Tae…

Apa yang telah kau lakukan padaku?

Mengapa kau membuatku tidak bisa berhenti tersenyum?

Mengapa kau membuat dadaku sesak setiap kali aku mendengar suaramu?

Mengapa kau membuat isi kepalaku hanyalah dirimu?

Mengapa kau membuatku selalu ingin bersamamu?

Apa sebenarnya kau ini?

-Ting!-

Kami sudah sampai di lobby. Sebenarnya kita akan pergi kemana? Taehyung tidak mengambil mobilnya.

“Kita berjalan kaki saja ya? Tempatnya dekat.” Ucap Taehyung.

“Kita akan pergi kemana memangnya?”

“Lihat saja nanti.”

Setelah beberapa lama berjalan akhirnya tibalah juga kami di sebuah tempat.

Perbatasan antara darat dan laut.

“Pantai!” seruku.

“Benar! Bagus kan?”

Aku sibuk terpesona pada keindahan pantai ini sampai-sampai tak kuhiraukan pertanyaan Taehyung tadi.

Benar-benar indah pantai ini. Bersih. Sebuah penggambaran yang cocok untuk pantai ini. Selain itu, air lautnya begitu biru dan jernih. Hiyaaa!! Aku harus memotretnya!

“Ayo ke sana.. disana lebih indah.” ucap Taehyung yang mendahuluiku melangkah.

Aku bisa melihat punggung tegapnya menjauh. Astaga! Aku baru menyadari kalau warna pakaiannya berkebalikan dengan warna pakaianku. Kaos yang dikenakannya berwarna biru, sedangkan celananya berwarna putih. Ini sungguh lucu!

Jika ada pasangan yang memakai pakaian couple, kalau kami tidak.. kami akan memakai warna yang berkebalikan. Anti mainstream. Hahaha..

Tunggu, Taehyung kembali?

“HyeHye! Cepatlah! Jangan diam saja disitu.”

Taehyung menarik tanganku membuatku berlari mengikutinya ke arah laut.

Ini sungguh menyenangkan!

Kami menunjukan tawa bahagia kami. Tapi, tawaku tak bertahan lama karena tiba-tiba saja bayangan ekspresi sedih Taehyung semalam kembali muncul dalam benakku.

Apakah di balik tawa ini dia menyembunyikan perasaan itu lagi?

Hey, Tae…

Apa yang kau pikirkan sekarang?

“Yea! Kita sampai di depan laut! Bagaimana indah kan? Lebih baik memotret disini.” Ucap Taehyung sementara aku mengatur nafasku yang berantakan. Bagaimana dia bisa tidak terengah-engah sepertiku? Memang dia hebat.. harus kuakui.

Benar juga, spot disini sangat bagus.. Baiklah… mari berfoto, tuan 4D!

Kami menggunakan berbagai macam gaya.

Dari membuat lambang ‘v’, duck style, tersenyum, tertawa, sampai Taehyung menciumku pun kami foto.

Ini second kiss ku dan ini berhasil diabadikan dalam sebuah foto. Ini keren sekali!

Aku dan Taehyung kembali menyusuri pantai. Kini lengan kirinya melingkari pinggulku. Sedikit geli awalnya, tapi lama-kelamaan aku pun terbiasa. Sedangkan aku, lengan kananku memeluknya.

Ditengah acara jalan-jalanku. Aku melihat ada seorang yeoja dan seorang namja yang tengah asik melumat bibir satu sama lain.

Aku tahu siapa mereka.

Memang dasar anak jaman sekarang, sudah berani ‘bermain’ ya? Awas kau!

-Tak!-

Sebuah jitakan lagi sukses mendarat di kepalanya. Yes! Belakangan ini aku menang banyak! Hahaha..

“Aaaaah, appo! Apa-apaan sih?!” jeritnya jengkel.

Hahaha..

Sungguh puas melihatnya begitu. Ini menyenangkan! Mungkin aku akan menjadikan ini sebagai hobby baruku..

“Kau ya magnae, kau itu masih kecil. Belum waktunya kau berciuman seperti tadi. Dan kau Kyuhyun, jangan mencium dongsaengku sembarangan ya. Apa kau ingin kutenggelamkan di lautan itu? Adikku yang satu ini masih sangat polos. Berpacaran saja tidak pernah, kau malah menodai bibirnya. Jika oppanya tau, kau bisa dicincang habis-habisan kau tau? Jadi sebelum kutenggelamkan kau di laut dan di cincang-cincang oleh oppanya, lebih baik kau menyingkir dari adik kecilku ini.” omelku pada Hwayeon dan Kyuhyun.

Lihatlah wajah mereka berdua sekarang, kaget, marah, kesal, bingung, dan semuanya itu berada dalam satu ekspresi. Ini lucu.

“Yak noona, apa maksudmu! Kenapa kau menyebalkan sekali. Cih!” ucap Kyuhyun ketus.

“Kau sudah dengar apa maksudku. Jangan mengotori otak polos adik kecilku bocah setan.” Balasku pada Kyuhyun.

“Ish, siapa yang kau panggil bocah setan noona. Kau memang menyebalkan. Pantas saja tidak ada namja yang ingin dekat-dekat denganmu. Kau galak sih.” Bantahnya.

Hiyaaa!! Kurang ajar sekali bocah ini!! Pantas dia dipanggil setan..

“Apa maksudmu setan? Yeoja disebelahmu itu bahkan lebih parah dari pada aku! Mulutnya benar-benar titisan iblis! Sama sepertimu, bagai pinang dibelah dua!” Bentakku.

“Aish! Kenapa aku dibawa-bawa segala? Sudah sana pergi! Syuh! Tidak ada yang menginginkan eonni disini! Aku bosan melihat mukamu. Menyebalkan.”

Hwayeon mengusirku? Hello, ini tempat umum! Jika memang ingin bermesraan, carilah tempat yang lebih pantas.. KyuHwa pabbo!

“See? Yeoja disebelahmu itu lidahnya sudah terasah sama sepertimu! Tajam! Seperti silet! Hih! Kalian cocok, sama-sama berlidah tajam. Lengkap lah kalian.” Ucapku pada Kyuhyun dengan penuh kekesalan.

“Eonni, daripada kau disini mengganggu. Lebih baik kau pergi saja ne? Tuh, dibelakangmu sudah ada namja tampan, pergilah kalian berdua sana. Tapi jangan galak-galak, nanti namja itu kabur.”

Hiyaaa!! Apa-apaan magnae ini?! Lagi pula Taehyung bukanlah namja seperti itu! Main tinggal saja, itu bukan tipenya!

“Ish! Apa maksudmu magnae!”

“Loh? Masa ga ngerti? Ah, eonni bodoh. Ya pokoknya jangan galak-galak, nanti kau ditinggal seperti sebelumnya.”

Aigoo!! Anak ini kurang ajar sekali mengungkit masa laluku di depan masa depanku! Meskipun Taehyung masih calon sih, tapi setidaknya aku tahu dia bukan namja yang nappeun.

“Terserah kalian saja.” Lebih baik aku mengalah pada dua anak tidak tahu diri seperti mereka.

Taehyung pun dengan sigap menyusulku. Benar-benar namja yang bisa diharapkan. Memangnya Kyuhyun yang hanya senang ‘bermain’? Tidak berguna.

Aku mulai memperlambat kecepatan berjalanku.

Kurasakan tangan Taehyung meraih pergelangan tanganku.

“HyeHye, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

“Ne. aku paham sikap mereka. Mereka kadang keterlaluan, tapi tidak apa-apa. Aku mengerti.”

“Umm.. soal masa lalumu, apa benar kau ditinggalkan?”

Aku menatap Taehyung sengit. Apa maksudnya dia itu? Ingin mengungkit masa laluku juga? Hey! Untuk apa kau menanyakan namja yang sudah jauh tertinggal di belakangku?

“A-aku hanya ingin memastikan. Tak apa kalau kau tak ingin cerita.”

“Itu benar. Dulu aku ditinggalkan karena aku tidak bersikap seperti yeoja pada umumnya. Aku kasar, aku tidak pandai berpenampilan, aku kurang peduli pada kecantikan, aku lebih menyukai kegiatan outdoor, dan sebagainya.” Tuturku.

“Begitu ya.. aku ingin kau tahu satu hal, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku menerimamu apa adanya. Peganglah itu, Park Eunhye..”

Huwaaa! Dia manis sekali.. aku akan meleleh.. aku terlalu senang!

Aku memeluknya. Membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Membuat aroma khas tubuh Taehyung masuk ke dalam rongga pernafasanku.

Aku menyukai aroma ini.

Lagi-lagi aku teringat ekspresi Taehyung semalam. Ekspresi sedih yang tak bisa kugambarkan. Hanya dia dan Sang Pencipta saja yang mengetahui makna ekspresi itu.

Andai aku bisa melihat apa yang ada didalam benakmu, aku ingin sekali bisa membantumu. Sayangnya, aku hanya bisa menerka dan mereka-reka saja.

“HyeHye, kau lihat disana?” Taehyung menunjuk sebuah arena bermain volly pantai. “Ayo kita bermain volly.” Lanjutnya.

Hm.. tawaran yang bagus. Tapi sebelum itu..

“Yak! Kalian berdua berhenti berlovey dovey didepan kami! Aku muak melihatnya! Lebih baik sekarang kalian kesini dan bermainlah bersama kami. Apa tidak bosan kalian duduk disana terus? Oh ayolah, bersenang-senanglah bersama kami! “ seruku pada KyuHwa. Aigoo mereka masih saja begitu.

Mereka sepertinya kesal karena ku ganggu lagi acara mereka itu. Untung saja mereka mau kemari. Hahaha.. dasar anak kecil..

“Kita main volley couple saja. Kalian mau kan?” tawarku.

Ku anggap mereka menyetujuinya.

Baiklah, game ini  aku dan TaeTae melawa KyuKyu dan HwaHwa. Eits! Kenapa aku jadi menyebut mereka begitu? Mungkin ini karena kebiasaanku mengulang nama depan. Biarlah. Sebutan itu lucu. Hihi..

“Yak! Tangkap dengan benar! Kenapa kau payah sekali!” tegur Kyuhyun  pada Hwayeon.

“Berhenti meneriakiku bodoh! Aku memang tidak pandai berolahraga! Kalau kau memang tidak menyukainya, main saja sendiri!” balas Hwayeon ketus kemudian melempar bola volly ditangannya ke arah Kyuhyun.

“Yak! Kau tidak perlu semarah itu juga.” Balas Kyuhyun.

“Hah! Apa peduliku! Lbih baik aku pergi. Minggir!” bentak Hwayeon kasar. Akhirnya Putri Lidah Tajam pun menunjukkan jati dirinya.

Jadi, mereka bertengkar? Hanya karena sebuah permainan? Sungguh tidak lucu. Segeralah berdamai, aku malas kalau harus jadi penghubung kalian. Jebal.

Benar saja, tak lama Kyuhyun pun memeluk Hwayeon dari belakang. Sepertinya mereka sudah berdamai. Cara mereka berdamai seperti itu ternyata.. lucu sekali.

Back Hug ya… aku jadi teringat saat kemarin Taehyung memberiku back hug ketika kami berada di taman. Dia nampak begitu dewasa. Haa~

Lagi-lagi kepalaku dipenuhi namja aneh itu..

“Oh? Hwayeon-ah! Eunhye eooni!”

Itu…. Hyojin? Wah! Rupanya dia sudah sampai.. baguslah,.

“EunEun pabbo~” bisik seorang namja di telingaku dari arah belakang.

“Yak!” Jeritku lantang sehingga Taehyung  segera refleks menjauhkanku dari namja itu.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati ChangChang sunbae berada disana sambil membawa es krim di masing-masing tangannya.

“ChangChang sunbae!!!” Seruku kemudiang memeluknya cepat.

“Whoa~ Santailah sedikit, es krimku bisa jatuh nanti. Dasar pabbo.” Keluhnya kesal.

“Mianhae.. aku terlalu senang bertemu denganmu. Habis, aku sudah lama tidak melihatmu. Kau sekarang banyak perubahan. Sekarang kau lebih keren!” pujiku yang kemudian disambut dengan deheman dari Taehyung.

“TaeTae… kau tidak sedang cemburu kan?” tanyaku.

“Aku-sedang-sangat-cemburu-saat-ini.” ejanya.

“Dia namjachingumu, EunEun?” tanya ChangChang sunbae.

“Ne. dia namjachinguku.”

“Annyeong, aku Yoo Changhyun. Aku ini adalah senior satu jurusan seni dengan Eunhye. Karena aku telah menjadi seorang pianist, kau boleh memanggil nama panggungku, Ricky. Bangapta~” tutur ChangChnag sunbae pada Taehyung.

“Aku Kim Taehyung. Kau boleh memanggilku V karena orang-orang mengenalku sebagai seniman yang bernama V. Oh iya, dan satu lagi.. aku adalah NAM-JA-CHIN-GU dari HyeHyeku  ini. Bangapta~” balas Taehyung masih dengan sedikit kesal.

Oh, jadi nama tenarnya sebagai seniman adalah V… Hm…

“Baiklah, kau kemari bersama yeoja yang kau sukai itu? Mana dia? Tunjukkan padaku.” Pintaku pada ChangChang sunbae.

“Tentu dia ada di…..”

ChangChang sunbae mengedarkan pandangannya menjelajahi selurih pantai yang berada dalam jangkauan pengelihatannya. Ssepertinya mencari seseorang.

“Eoh? Dia pergi.. mungkin jika saatnya tiba, aku akan menunjukannya padamu.” Jelas ChangChnag sunbae.

Aku mengangguk.

“Yak! ChangChang sunbaenya HyeHye, pergilah! Kejarlah yeojamu itu sebelum terlambat.” Saran Taehyung.

Sebenarnya itu jauh dari kata ‘saran’, lebih dekat dengan kata ‘mengusir’ tapi wajarlah, TaeTaeku ini sekarang dikuasai rasa cemburunya. Sungguh lucu.

ChangChang sunbae pun segera berlalu mengejar yeoja yang ia sukai itu. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat yeoja itu. Apalagi dia itu penyanyi terkenal kan? Sungguh disayangkan..

Di dalam benakku, aku membayangkan jika yeoja itu adalah yeoja idolaku. Jika benar, aku akan dengan senang hati membantu ChangChang sunbae. Hhihi..

“Siapa dia? Mantan pacarmu? Kenapa kau begitu lengket dengannya?” Tiba-tiba saja Taehyung mengintrogasiku.

“Bukan. Sudah kubilang kan kalau dia itu seniorku saat kami masih sekolah.” Jelasku.

“Kalau hanya senior kenapa kau bersikap begitu? Memeluknya segala. Apa kau tidak tahu kalau kau memeluk namja lain didepan namjachingumu sendiri? Apa kau sadar akan itu eoh?” nada suaranya meninggi.

“Aku sadar. Aku hanya merindukannya apa itu salah? Lagipula selain sebagai senior, jabatannya yang lain adalah sebagai teman mainku sejak kecil. Sejak kami TK..” jelasku.

Taehyung hanya diam memandangiku. Dari ekspresi wajahnya bisa kulihat otot wajahnya kembali rileks. Sepertinya dia sudah lega mendengar penjelasanku tadi.

Cemburu ya…

Terbesit di pikiranku untuk menjahilinya sekarang. Hahaha..

“Kau.. cemburu sekali.” Godaku.

“Tidak. Aku tidak se-cemburu yang kau kira.” Bantahnya.

“Benarkah?? Kalau begitu, jika aku menemuinya sekarang apa kau akan sangat cemburu?”

“Tidak.”

“Kalau aku menemuinya, kemudian kami akan berjalan layaknya pasangan kekasih apa kau sangat cemburu?”

“Tidak.”

“Whoa~ baiklah kalau begitu kau disini saja ya, aku akan menemuinya. Acara terakhir, aku akan menikmati pemandangan matahari terbenam bersamanya disini. Annyeong.” Aku berjalan menjauhinya.

Sempat kulihat kedua tangannya mengepal.Dia kesal sekali sepertinya. Kini saatnya untuk memberinya balasan…

Aku berbalik, menuju Taehyung yang masih diam terpaku ditempatnya. Berlari, memegang pundaknya, kemudian..

-Chu-

…Mengecup bibirnya…

Taehyung nampak begitu terkejut.

Inilah balasan untuk kau yang selalu cemburu berlebihan..

“Aku kan sudah pernah bilang padamu, kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau masih saja cemburu berlebihan begitu. Cemburu juga ada batasnya, Tae.” Ucapku sedikit berbisik di telinganya.

“Kau.. jadi kau  tadi hanya memberiku hukuman?”

‘Ya.. semacam itu. Hihihi..”

“Neo! Awas saja ya…!”

Aku segera berlari menjauh dari Taehyung tapi namja ini sudah menangkapku . Larinya cepat sekali……

Taehyung memelukku dari belakang. Mengangkatku kemudian berputar perlahan. Aku bahkan sampai tidak merasakan sakit ketika dia mengangkat perutku. Yang kurasakan hanyalah satu…

…Bahagia….

Seharian ini, kami hanya bermain dipantai. Tidak hanya sekedar berjalan menyusuri pantai dan berfoto, tapi juga bermain seperti banana-boat, jetski, dan sebagainya hingga sore.

Begitu melelahkan, tapi juga menyenangkan..

“Kau lelah?” tanyanya padaku.

“Ne. tapi ini sungguh menyenangkan.”

“Kemarilah..” Taehyung menepuk-nepukan bahunya. Mengisyaratkanku untuk bersandar padanya.

Begitu kan maksudnya?

Aku meletakkan kepalaku di atas bahu milik Taehyung.

Menikmati pemandangan sunset bersamanya, adalah hal yang aku inginkan.

“Sun set yang cantik.” Ucapku spontan.

“Hm.. bukankah kau ingin melihat sun set bersama Ricky? Tunggulah disini, aku akan mencarinya..” Ucap Taehyung kemudian berdiri. Aku menahan lengannya.

“Haa… ani. Aku kan hanya bercanda saja tadi. Aku ingin bersamamu. Bukan bersama sunbae yang payah seperti dia..” rengekku.

Taehyung tersenyum.

“Aku tahu. Aku juga hanya bercanda saja tadi.. hehe..”

“Kau menyebalkan!”desisku. Dia hanya terkekeh geli melihat ekspresiku.

Taehyung kembali duduk di tempatnya semula.

“HyeHye, aku menyayangimu…” Taehyung mengecup keningku. “…mulai kemarin…” Taehyung mengecup pipi kiriku. “….sekarang..” Taehyung mengecup pipi kananku. “….dan selamanya…” Taehyung mengecup bibirku lembut.

Namja ini romantis… meskipun dia menyalurkannya dengan caranya sendiri, tapi itu unik..

Belum selesai kami berciuman, tiba-tiba saja sebuah suara yeoja menginterupsi kegiatan kami.

“Kim Taehyung! Akhirnya aku menemukanmu!”

………

-TBC-