Archives

I Like You (좋아합니다)- Young K’s story-

Title       : I Like You (좋아합니다)- Young K’s story-

Cast       :

Kang Yong Hyun (Young K)

Cho Hyo Jin (OC)

*Young K POV*

Dia. Hanya dia yang bisa membuatku begini. Membuatku tak tau harus berbuat apa. Melihat matanya saja sudah membuat aku gagap. Begitu tangannya menyentuhku, tubuhku kehilangan keseimbangan yang membuatku harus mati-matian menahan lututku agar tidak tertekuk. Ini gila! Aku sungguh dibuat tak berdaya bila ada dia.

Kalian bisa saja mengataiku lemah. Tapi sungguh sejak awal aku tak dapat menutupi kegugupanku saat  bertemu dia. Iya, sejak dulu….

Min Ji    : “ Oppa! kenalkan ini temanku, Hyo Jin.”

                Jujur aku tak bisa mengalihkan mataku dari perempuan dengan seragam  sekolah yang sama dengan adik tiriku. Parasnya cantik, matanya tidak terlalu sipit, senyumnya yang manis ditambah lesung pipit di pipi kanannya, rambutnya yang ikal diikat satu tanpa poni yang menurutku menambah kesan manis. Tipeku.

Min Ji    :” Oppa!! Cepat beri salam! Jangan liat Hyo Jin terus! Kau seperti sedang melihat seorang pencuri.”

Aku        :”O-oh. Maafkan. Aku hanya sedang melamun. Ke-kenalkan aku oppa nya Min Ji, Yonghyun. Kang Yonghyun.”

Hyo Jin  :”Halo. Aku Cho Hyo Jin teman Min Ji. Aku sering mendengar tentang anda dari Min Ji, Yonghyun-ssi.”

                Sial, senyumnya semakin manis. Semoga Min Ji tidak menceritakan hal-hal yang memalukan tentangku.

Aku        :” A-ah.. begitukah? Kuharap itu cerita yang baik. Hehehe.”

Min Ji    :”Apa-apain itu? Anda? Yonghyun-ssi? Canggung sekali! Panggil saja dia Brian oppa. Ya kan ,oppa?”

Hyo Jin  :”Eh? Kan namanya Yonghyun, kok dipanggil Brian?”

                Sial. Dia sanggat imut. Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk seperti ini? Nampak tak ada celah untuk mengatakan ia tidak menarik.

Min Ji    :” Oppa ku ini dulu sempat belajar diluar negri dan sekelas dengan Jae. Entah kenapa mereka bisa beda tingkatan kelas saat SD dan akhirnya saat SMA mereka bisa seangkatan. Padahal Jae lebih tua darinya. “

Hyo Jin  :” Ah begitu. Apa aku boleh memanggilnya oppa? Ah, maksudku bolehkah aku memanggil oppa?”

                Aku sudah berkali-kali mengumpat karna mulutku yang tak bisa terbuka dan hanya bisa mengangguk. Detak jantungku bertambah cepat seiring dia berbicara.

Aku        :”Iya, kau boleh memanggilku oppa. Kau kan temannya Min Ji.”

Hyo Jin  :” Baiklah, Brian oppa. Hehehe”

                Sial. Aku mulai sesak napas. Apa yang harus aku lakukan?

Min Ji    :”Wow, Hyo Jin. Kau adalah orang kedua yang boleh memanggil nama Brian oppa  di Korea selain keluarga.”

Hyo Jin  :” Wah? Benarkah? Yang pertamanya pasti pacarnya? Benarkan oppa?”

                Ya, Song Min Ji! Kenapa kau harus mengatakan itu? Memang benar, aku sedikit terganggu dengan nama Brian di Korea. Aku lebih ingin dipanggil Yonghyun. Hanya keluargaku yang aku ijinkan memanggilku dengan nama Brian. Dan dua orang selain keluarga yang dimaksud Min Ji adalah dia dan…

Min Ji    :” Pacar darimana? Ia adalah oppa yang sangat susah untuk didekati perempuan karena terlalu cuek. Dan satu lagi,. Orang yang memanggilnya dengan Brian adalah Jae.”

Hyo Jin  :”Oh? Brian oppa tidak punya pacar? Aneh sekali. Padahal oppa tampan.”

                Sial. Entah sudah berapa kali aku mengatakan sial, tapi sungguh dia menggemaskan. Aneh katamu? Mengapa tidak kau saja yang jadi pacarku? Ingin sekali aku mengatakan itu. Namun sorot matanya sangat tajam tapi lembut miliknya membuatku tak bisa melakukan apapun. Akupun bingung menjelaskannya.

Aku dapat melihat lirikan Min Ji yang mengatakan bahwa ia tau kalau aku tertarik dengan temannya. Ia hanya tersenyum miring, mengejekku. Memang ya, walau kami bukan saudara kandung, tapi kami sangat dekat dan mungkin itulah yang membuatnya dapat mendeteksi perilaku ku. Dan sejak itu Min Ji sering mengerjaiku dengan berbagai cara yang akhirnya membuatku malu dan ia tertawa terbahak-bahak. Sial.

-Love Your Act-

Sudah berkali-kali aku masuk perangkap Min Ji. Dan seperti keledai yang bodoh, aku jatuh pada lubang yang sama. SELALU.

Seperti saat ini, Hyo Jin berdiri di depan pintu rumahku dengan bajunya yang membuatku tak dapat mengalihkan mata darinya-itu selalu terjadi saat aku melihatnya-. Rambut ikal yang ia gerai membuatnya semakin manis. Aku terkagum hingga aku terkejut akan sebuah tangan yang meraba keningku.

Hyo Jin  :” Oppa? Apakau demam? Kau terlihat pucat?”

DEG.. DEG..DEG..DEG..

Hyo Jin  :” Oppa? Brian Oppa?”

Aku        :”E-eh? Hyo Jin. A-apa kabar? Hmm.. K-kau mau ketemu Min Ji?”

Sudah ku katakan, aku gagap bila bertemu dengannya. Ia tertawa mendengar perkataanku.

Hyo Jin  :” Iya, Min Ji bilang bahwa ia mau mau belajar bareng dirumahnya. Nilai fisika ku tidak terlalu bagus, jadi aku minta diajarkan.”

Aku        :” O-oh iyakah? Ta-tapi Min Ji baru saja pergi dengan Jae. Kau taukan mereka baru saja jadian. Mereka sedang ke-kencan.”

Hyo Jin  :” Apa?! Lalu aku harus apa? Minggu ini ada ulangan fisika dan aku masih kurang mengerti materinya. Biar aku telpon dulu Min Ji.”

Astaga, ia semakin lucu ketika merajuk. Min Ji, walau terkadang aku sering membuatmu kesal tapi kau baik sekali mau mengirimkan malaikat ini.

Hyo Jin  :” Apa? Kau benar-benar sedang kencan? Lalu bagaimana dengan belajar bersama? Kau tau kan aku tidak ahli dalam fisika sepertimu? Apa? Kau bercanda? Aku tak mau. Aku malu. Baiklah.  Jangan! Awas saja bila nanti kau begitu.”

Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah ia menelpon Min Ji, ia berbalik dan sedikit menatapku. Sikapnya aneh.

Hyo Jin  :”Hmmm, oppa apa kau sedang sibuk?”

Aku        :”e-eh? Ti-tidak kok. A-aku sedang santai. Ada yang bisa aku bantu?”

Hyo Jin  :” hmm, Min Ji bilang oppa jurusan fisika. Apa oppa bisa mengajariku?”

Song Min Ji. Aku sangat bahagia memiliki adik sepertimu. Akan kudoakan agar kau dan Jae hyung cepat menikah.

Aku        :”Tentu saja boleh.”

Untuk pertama kali aku tidak gugup menjawabnya. Mungkin karna aku sedang bahagia. Siapa tau ini bisa menjadi kesempatan bagiku. Kulihat Hyo Jin senang dan langsung tersenyum. Sial, dia cantik.

Kini kami sudah berada diruang tamu. Ia bertanya tentang materi yang ia tidak mengerti. Kami sudah membahas seluruh buku cetak milik Hyo Jin. Mungkin memang karna anaknya rajin sehingga sekali kuterangkan ia langsung mengerti. Dan sekarang kami masih duduk bersebelahan. Aku berada disamping kanannya. Ia sedang meminum teh yang kusajikan tadi. Terkadang ia bertanya tentang keseharianku. Aku berusaha agar tidak gugup dan menunjukkan sisi gantleman ku. Aku pun menanyakan kesehariannya. Dan ia jawab dengan antusias. Tak sadar aku tersenyum dan menatapnya dengan tatapan kagum. Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan menundukkan kepalanya. Aku bingung.

Hyo Jin  :”ehm, oppa. Bisakah kau tidak melihatku seperti itu? Aku malu.”

Astaga, mukanya memerah. Jangan tanya mukaku. Keheningan mendatangi kami. Ah, sudah terlanjur. Lebih baik aku katakan saja. Sudah basah kenapa tidak mandi sekalian? Aku mengubah posisi dudukku menjadi menghadap Hyo Jin. Ku tarik tangan Hyo Jin  dan sudah jelas kalau Hyo Jin kaget.

Hyo Jin  :” O-oppa? Kenapa? “

Aku        :” Aku suka kamu. Sejak dulu. Dari pertama bertemu. Awalnya karna parasmu, tapi semua tentangmu aku suka.”

Hyo Jin terdiam dan tersenyum kemudian. Semoga itu pertanda baik.

Hyo Jin  :”Ku kira butuh waktu yang lebih lama untuk meluluhkan oppa yang sangat cuek namun selalu gugup saat bertemu. Kau sudah berjuang agar tidak gugup oppa.”

Aku        :” Jadi?”

Hyo Jin  :” Oppa akan menjadi milikku. Hmmm… agar oppa menjadi milikku, oppa harus punya nama baru. Aku  tidak akan memanggil oppa dengan Brian oppa ataupun Yonghyun oppa.”

Aku        :” Lalu kau memanggilku apa?”

Hyo Jin  :” Hmmm… Young? Young K? Young K!”

Aku        :”*bingung* artinya?”

Hyo Jin  :”Young dari Yonghyun. Dan K untuk Kang!”

Aku        :” Hahahaha… kau lucu sekali.”

Hyo Jin  :” Ingat! Yang boleh memanggil oppa Young K hanya aku saja!”

Aku hanya tertawa. Sesukanya sajalah. Asal dia bahagia, aku rela dipanggil apa saja. Young K? tidak buruk. Tak apa aku dimonopoli olehnya. Aku senang.

-Epilog-

*Min Ji POV*

Drrr drrrr drrrrr

Untuk apa anak ini menelponku? Baru kutekan tombol untuk menerima panggilan ia sudah mengatakan kalimat yang membuatku bingung.

Hyo Jin  :” Apa? Kau benar-benar sedang kencan? “

Min Ji    :” Kau sudah tau itu, Min Ji. Kau yang menyuruhku pergi.”

Hyo Jin  :”Lalu bagaimana dengan belajar bersama?”

Min Ji    :” Itukan hanya rekayasa kau saja, sayangku. Rencanamu sendiri.”

Hyo Jin :”Kau tau kan aku tidak ahli dalam fisika sepertimu?”

Min Ji    :” Apa kau lupa kau selalu dapat nilai 100 dalam ujian fisika mu? Kau bahkan juara olimpiade fisika. Sedangkan aku hanya mendapat nilai 80 saat ujian.”

Hyo Jin  :”Apa? Kau bercanda? Aku tak mau. Aku malu. “

Min Ji    :”Sesukamu lah , Cho Hyo Jin. Semoga berhasil dengan rencanamu. Jangan lupa kabari aku tentang progressnya. Agar aku dapat mengejekmu dan oppa”

Hyo Jin  :”Baiklah.  Jangan! Awas saja bila nanti kau begitu.”

Tutttttt

Langsung kututup telpon darinya. Astaga ternyata ini bagian dari rencananya? Sungguh Cho Hyo Jin. Kau aktris yang hebat.  Sejak awal aku tau bahwa mereka saling tertarik. Dan asal kalian tau, Hyo Jin lah yang selama ini sangat agresif. Ia memaksa agar dapat ke rumah ku dengan alasan belajar bersama atau mau pergi bersamaku tapi aku disuruh untuk tidak ada di rumah atau sering meninggalkan mereka berdua. Ia bilang ia sangat senang saat melihat Brian oppa terlihat gugup. Ia jelas tau sikap Brian oppa. Ia jurusan psikologi yang artinya ia mempelajari perilaku manusia. Memang licik perempuan satu itu. Untung saja aku tau kalau ia sangat menyukai oppaku dan aku tau dibalik kelicikkannya ia sangat baik.

Jae datang dan bertanya tentang apa yang terjadi pada Hyo Jin, ya sudah ku ceritakan saja. Dan hasilnya ia terbahak-bahak. Sekitar 2 jam setelah itu handphone ku berdering. Aku dan Jae membacanya lalu tertawa bersama. Kita lihat saja apa yang akan kulakukan pada mereka berdua.

From : Hyo Jin

Subject : Mission Complete!

‘Besok katakan apa yang kau inginkan. Asal tidak lebih dari 100 won”

_Part2End_

Haiiii… Author 2 balik lagi dengan chapter!!! Ini author bikin dengan latar video clip nya DAy6 yang When you love someone pas adegan Brian oppa ngeliat cewe yang di ayunan itu loh!! Bikin baper ><

Tunggu chapter selanjutnya yaaaa!!!!!

 

 

 

Advertisements

I Like You (좋아합니다)-Jae’s Story-

Title : I Like You (좋아합니다) –Jae’s story-

Cast :

Jae Day6

Song Min Ji(OC)

*Jae POV*

                Hai, aku Jae! Nama panjangku Park Jaehyung. Aku adalah orang yang bisa dibilang sial. Sial karna harus mengulang masa sekolahku, sial karna dipandang sebagai nerd abadi. Mungkin semua bingung mengapa aku dipanggil nerd tetapi mengulang masa sekolahku. Jadi aku baru pindah ke Seoul saat aku berumur 8 tahun. Dan sebelumnya aku tinggal di LA. Bukannya sombong, tapi aku adalah anak akselerasi dimana aku ditempatkan di kelas 6 sekolah  dasar saat aku di LA. Dan saat aku masuk sekolah baruku, aku ditempatkan dikelas yang seusia denganku karena sistem akselerasi belum berjalan di Seoul. Dengan berat hati aku dan keluargaku mengikhlaskan hati.

                Pandanganku menyebar ke seluruh penjuru kelas. Hmm, hanya anak-anak yang belum dewasa dengan minat belajarnya kurang. Aku rasa masa sekolahku akan berlangsung dengan kebosanan setiap saat. Tapi ada sesuatu yang menarik minatku. Ada seorang anak perempuan yang sibuk dengan clay. Ia punya teman, tetapi temanya asik ngobrol dan dia sibuk dengan clay nya. Dari bentuknya ia sedang membuat bunga. Bagus sekali bentuknya dan detail yang sangat rinci. Ia tersenyum melihat hasil karya nya. Dan menurutku itu sangat manis dan polos.

“ Baiklah anak-anak . kita kedatangan teman baru. Ayo kenalkan dirimu” ucap guru itu.

“Hello. Aku Jaehyung. Park  Jaehyung. Aku pindahan dari LA. Senang bertemu dengan kalian.” Ucapku singkat. Aku lihat anak perempuan itu menatapku kagum. Apa yang keren sih sampai dia menatapku  lekat?

“Baiklah, Jae. Kau duduk sebelah Min Ji ya. “ ucap guruvitu sambil menunjuk perempuan yang sejak tadi menarik perhatianku. Oh ternyata namanya Min Ji.

                Aku melangkahkan kakiku menuju meja paling belakang di pojok kanan kelas. Aku lihat Min Ji seperti antusias dan segera menggeser kursinya agar aku bisa duduk. Aku duduk dan menatapnya. Sungguh ia amat manis dan matanya seakan mengatakan bahwa ia kagum terhadapku.

“Hei, kau taka pa-apa? Kau sudah melihatku sejak tadi dan tidak berkedip. “ tanyaku.

”Ah, maaf. Aku hanya takjub karna baru pertama kali aku melihat orang luar negeri. Kau keren sekali.” Jawabnya polos.

“Orang tua ku asli korea. Aku hanya lahir dan besar di LA. Jadi aku tidak sepenuhnya orang luar negeri.” Ucapku sambil tersenyum.

“Tapi kau terlihat tampan dan keren seperti orang luar negeri. Oh iya, namaku Min Ji. Song Min Ji. Senang berkenalan denganmu.” Ia tersenyum lebar padaku.  Dan sejak itu aku selalu bersama Min Ji. Hingga akhi rnya aku  tau kalau aku adalah orang  yang memiliki kesialan yang lebih besar dari sebelumnya. Aku menyukai sahabat kecilku.

-Are We Friends?-

                Yah , aku sangat sial.  Perempuan yang telah menjadi sahabatku selama 9 tahun ini masih berstatus sahabatku. Pada awalnya aku hanya menganggap ini hanya cinta monyet yang nanti akan hilang dengan sendirinya. Tapi nyatanya semakin lama aku semakin sayang padanya. Walau aku terlalu takut akan mengusik persahabatan kita.

Kini kami sudah berada di perguruan tinggi. Aku jurusan seni music dan Min Ji seni rupa. Banyak yang menganggap aneh tentang jurusanku. Aku yang terkenal di sekolah karna nerd memilih music untuk jurusanku. Semua orang menganggap aku aneh. Tapi hanya Min Ji, orangtuaku,dan sahabatku saja yang tidak mengejekku. Mereka semua tau apa yang memang menjadi minatku. Terlebih Min Ji. Ia sangat peduli padaku. Dan itulah mengapa aku tidak bisa berpaling darinya. Aku tidak bodoh untuk mengetahui bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapia pa yang bisa ku perbuat? Hanya berada disampingnya sudah sangat cukup

“Yo, Jae hyung! Sedang apa kau? Memikirkan Min Ji? Aigoo..” Yonghyun mengagetkanku dari daydream ku. Ya, yang tau aku menyukai Min Ji sudah banyak, termasuk orangtuaku. Bukan hal yang aneh jika orangtuamu dapat menebak perasaan anaknya pada seorang perempuan yang sejak dulu sering bermain ke rumahku. Dan lebih parahnya, orangtua Min Ji juga tau aku suka padanya. Hah..

“Hyung, kalau kau seperti ini bagaimana nanti saat Min ji menemukan lelaki idamannya dank au tidak lagi disisinya? Kau masih bahagia?” kata Dowoon yang paling muda namun enath bagaimana bisa seangkatan denganku dan Yonghyun .

Benar, jika dia sudah menikah dengan lelaki lain aku harus apa? Segera aku mencari Min Ji. Aku mendengar Dowoon dan Yonghyun sudah tertawa terbahak-bahak. Aku tidak peduli. Aku hanya harus mencari Min Ji dan mengungkapkan perasaanku selama ini padanya. Aku tidak peduli dia akan menolak dan menjauhiku.

*Min Ji POV*

Hai aku Min Ji. Song Min Ji.  Menurutku, aku adalah orang terberuntung. Kenapa? Karna aku bisa bertemu dengan Jae! Sejak sekolah dasar aku sudah kagum padanya, dia seperti orang luar negeri yang sangat tampan. Aku bingung mengapa semua orang bilang Jae adalah nerd? Untukku dia keren, dengan kacamatanya ia terlihat pintar dan semakin menarik.

Ya, sejak awal aku sudah menyukai Jae, dari pertamakali ia mengajakku berbicara. Dan ia pandai dalam berbahasa inggris, poin plus untuk itu. Badannya tinggi tapi tidak banyak otot sehingga banyak yang bilang ia memiliki badan seperti kayu. Tapi itu tidak mengurangi kekerenan Jae. Anggap saja aku dibutakan oleh cinta. Tapi begitu adanya, aku sangat mengagumi Jae. Saat di SMP, aku baru mengetahui bahwa ia sangat jago bermain gitar dan suara nya sangat indah untuk didengar. Banyak siswi yang menyukainya dan menyatakan perasaannya, tapi Jae selalu menolaknya. Aku bingung. Apa jangan-jangan ia tidak suka perempuan?

“Tidak, Min Ji. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.” Kataku tanpa sadar sambil berjalan menuju tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul. Mataku tak focus ,dan secara tiba-tiba ada orang yang menabrakku hingga aku terjatuh. Sakitnya tidak seberapa, malunya itu lohh

“Hey, hati –hati kalau sedang berjalan!” ucap perempuan yang menabrakku. Aku hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Tak lama ada tangan yang mengangkatku dari posisi terjatuh. Dan dia adalah Yonghyun oppa. Yonghyun oppa adalah oppaku. Kami memiliki nama belakang yang berbeda karna aku diadopsi oleh keluarga Kang dan aku menolak untuk mengganti nama belakangku. Jae oppa juga tau hal ini, itulah yang membuat Jae dekat dengan Yonghyun oppa.  Walaupun Jae lebih tua dariku dan Yonghyun oppa, Jae tidak pernah menyuruhku memanggilnya oppa. Entah alasannya apa.

“Ya, sedang apa kau dilantai? Cepat rapihkan bajumu. Kalau Jae hyung melihatmu, ia pasti sudah berlari dengan panic menujumu.” Aih.. oppa ini. seluruh keluargaku tau kalau aku menyukai Jae. Kadang saat Jae main ke rumahku, pasti orangtuaku akan mengejek kami. Aku tak ingin Jae risih. Tapi untungnya Jae masih main ke rumahku dan masih mengundangku ke rumahnya,

“Hey, jangan melamun. Kau bisa kesambar petir sayang. Daripada melamun lebih baik kau menyatakan perasaanmu pada Jae hyung.” Ucap Yonghyun oppa. Aku berdecih .

“Oppa, aku ini perempuan yang tidak mau membuang harga dirinya hanya untuk menyatakan perasaan duluan dan berakhir ditolak. Aku juga sudah bahagia seperti ini. “ ucapku .

“Kau yakin? Kalau dia menikah bagaimana?kau masih akan bersama dengannya?”

JLEB

Aku tidak pernah berfikiran hal seperti itu!!! Bagaimana jika Jae menikah dengan perempuan lain? Aku belum siap! Aku akan mencari Jae dan mengungkapkan semuanya.

*other POV*

Kita semua tau bahwa sesungguhnya mereka saling mengejar, namun tidak ada yang berani menunjukan perasaannya karna ikatan persahabatan. Memang persahabatan mereka benar-benar menjadi penghalang terbesar bagi mereka.

Akhirnya mereka berdua dipertemukan di sebuah taman yang sepi. Dua –duanya mengatur nafas sambil menyelami mata satu-sama lain. Jae maju satu langkah dan Min Ji melakukan hal yang sama hingga akhirnya mereka sangat dekat.

“AKU MENYUKAIMU SEJAK PERTAMA KALI BERTEMU DENGANMU! JADILAH PACARKU!” ucap mereka bersamaan. Mereka tertegun dan tertawa bersama. Jae memeluk Min Ji dengan erat.

“Sungguh, percayalah padaku. Aku sangat menyukaimu sejak dahulu. Sejak kau mengajakku berbicara dan mengatakan aku keren. Aku jatuh hati dan tidak bisa melepaskan pandanganku darimu.  I like you. Really like you.” Ucap Jae yang diakhiri dengan sebuah kecupan manis dibibir MinJi.

“Jae kau tau aku selalu menyukaimu. Namun kau terlihat selalu menjaga jarak denganku. Aku pikir kau benci denganku.” Min Ji memeluk Jae lebih erat. Jae hanya tertawa dan tidak menjawab Min Ji. Sejak saat itu mereka bersatu danmenajdi sepasang kekasih. Bertahun-tahun berlalu dan akhirnya mereka menikah. Dan Jae sudah bekerja di sebuah label terkenal sebagai songwriter dan Min Ji menjadi guru kerajian tangan. Mereka hidup bahagia J

_Part 1 End_

Haiiii,… Author 2 kembali dengan i like you: jae’s story~~ semoga kalian semua suka yaaaa ~~ Tunggu Young K’s story dan Dowoon’s story nya yaaaa~~~~

 

 

 

The Most

Title: The Most

Genre: Hurt, Drama.

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Find by yourself ^^

 

Hwayeon’s Note:

Hello, this is me again. Maaf kalau udah lama banget author ga ngepost. Yah, author lgi kena penyakit keras yang pasti dialami semua penulis. Writer’s block yaitu males. Yeah, berhubung author juga masih males bikin yang lain. Author iseng aja bikin ff ini. Tengah malem gini, gara-gara insomnia. Oke then, cukup cuap cuapnya. Selamat menikmati okeh? Jangan lupa komen guys.

Happy Reading

 

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

 

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa. Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, hanya itu. jadi kau tidak perlu berhubungan dengannya sembunyi-sembunyi.”

“-karna itu menyakitiku saat mengetahuinya.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau ia menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya mengatakan sebaliknya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. DIa yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap saat kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, matanya kosong dan tubuhnya kaku.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. aku akan sakit, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itu rasa cintaku padamu.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

 

.

 

Hwayeon menatap jemari tangannya yang terpasang cincin kawin dengan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Tidak sekalipun Kyuhyun menghubunginya, tidak sekalipun Kyuhyun mencoba mencarinya. Jauh dilubuk hatinya, ia mengharapkan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Sehari terasa seperti seabad bagi Hwayeon. Rasanya sungguh menyiksa.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.”

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh dengan mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun 3 tahun lalu datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya.

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendiri yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, kecewa. Dan satu hal yang pasti, Hwayeon saat ini tengah sedih, terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihatnya,sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “tentu. Kajja.”

Hyera membawa Hwayeon ke meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan secepatnya pindah saat aku sudah mendapatkan rumah supaya aku tidak menyusahkan kalian lebih lama.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kami keluargamu ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini.” Donghae menatap Hwayeon tajam, sedangkan Hyera menyikut perut Donghae.

Tangan hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud. Tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana jam 3.”

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Ia akhirnya memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba member Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir.”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, ia merasa lega.

Mungkin seharusnya ini yang dia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya ia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat diamana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah menyuruh Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaan tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon. Dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana.

Rasa rindu membuncah di dadanya, melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil menabrak Hwayeon.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, Hwayeon tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bending.

“TELEPON AMBULANCE! KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. orang-orang kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae cemas

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panic

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia sangat mengkhaawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan. Yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melkukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya sudah kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih. “bayinya.” Lirih Kyuhyun, “bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka menangis berdua, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera coba menenangkan.

Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

 

.

 

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali.” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia bisa mendengar suara Kyuhyun dalam tidurnya, dan ia memaafkan Kyuhyun. Ia juga sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh bebannya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dia, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya samapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-FIN-