Archives

One 4 You (Part 2, end) #SpecialProjectforYunyoung

Title: One 4 You (Part 2)

Author : Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Maeng Yunyoung (A-JAX)
o Kim Hyeongkon (A-JAX)

Genre : romance
Leght : Twoshoot
Rating : PG-15

Note:
Ini FF special for Yunyoung Birthday.
Happy Birthday Yunyoung oppa ^^
Udah 3 kali ganti alur, tapi akhirnya author pilih alur yang ini.
Mungkin ceritanya geje, aneh, gimana iuhh gitu, tapi cobalah untuk mengerti.
Cerita dan judul tidak ada hubungannya. Itu karena author tidak tahu harus menjuduli FF ini apa. Intinya author kurang kreatif.
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No Plagiat.
No Bash.
Jangan lupa comment

one for you

For readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Author POV*

Yoonhee sudah mulai berjalan kea rah Sungai Han. Bagusnya keindahan Negri Ginseng pada sore hari ini dapat membuat senyum Yoonhee terukir kembali. Kakinya terhenti saat mendapati seorang namja tengah berdir sembari menendangi kerikir yang ada di sekitarnya. Ujung bibirnya terangkat, dia mendelik arah jam tangan yang ia kenakan. Jam 18.49.

“Kau datang lebih awal, eoh?” pertanyaan Yoonhee membuat namja yang tengah asik sendiri melirik ke arahnya.

“Oh, kau sudah datang juga rupanya?” siapa lagi. Tak lain dan tak bukan namja itu adalah Yunyoung.

“Apa maksudnya bertemu di tempat seperti ini? Kau ingin memulai dan mengakhiri hubunganmu di tempat yang sama?” tanya Yoonhee sinis.

“Mwo? Bukan seperti itu..”

“Lebih baik aku saja yang mengakhirinya, kau tidak punya alasan untuk meminta putus” potong Yoonhee ketus.

“Ani Yoonhee, biar oppa jelaskan.”

“Langsung ke intinya saja oppa.”

“Oke, beri aku waktu 10 hari.”

“Untuk apa?”

“Kita habiskan waktu selam 10 hari bersama. Kau harus mau jika aku ajak kemana saja..”

“Kau ingin macam-macam, eoh?” lagi-lagi Yoonhee memotong.

“Bukan itu yang kumaksud. Ya, kita seperti kencan saja. Untuk 10 hari kedepan jangan temui Hyeongkon dulu, ya.”

“Wae? Kau siapanya aku?” bentak Yoonhee ketus sampil melemparkan tatapan menyalang untuk kekasihnya itu.

.

.

.

“Namjachingumu.” jawab Yunyoung sigap. Yoonhee diam menggertakkan giginya. Dia kalah, kali ini dia kehabisan kata-kata.

“Oke, 10 hari kan? Sehabis itu?”

“Kita.. ani kau putuskan dihari terakhir.”

“Baiklah, sudah kan? Tidak ada lagi? Aku pamit.”

“Oke, hati-hati Yoonhee.” Yoonhee pun pulang sembari menangis. Dibalik Yoonhee yang terus mencoba tegar didepan Yunyoung sebenarnya dia hanya seorang yeoja yang sangat lemah dan rapuh. Sedangkan Yunyoung dia hanya mengacak-acak rambutnya sembari menyesal. Dia merasa bahwa dia sedang menggantungkan perasaan Yoonhee. Tapi mau apa lagi, Yoonhee dan Yunyoung sama-sama orang yang belum berpengalaman dalam hal percintaan seperti ini.

Keesokkan harinya pagi-pagi Yoonhee sudah bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan terpaksanya itu dengan Yunyoung.

5 Februari 2015
Yoonhee dan Yunyoung bersama ke taman kota. Terlihat jelas kalau keduanya masih canggung dan malas untuk saling berbicara dan bertatapan.

6 Februari 2015
Hari ini, Yunyoung dan Yoonhee pergi ke sebuah tempat iceskating. Yunyoung berjanji ingin mengajarkan Yoonhee. Tapi ujung-ujungnya Yoonhee terjatuh karena Yunyoung menarik tangan Yoonhee terlalu keras.

BAM

Sampai akhir kencan hari itu Yoonhee hanya bisa memelototi namjachingu cerobohnya itu sembari mengusap kakinya yang memar. Ckckck, kasihan..

7 Februari 2015
Yoonhee dan Yunyoung pergi ke bioskop. Yunyoung sengaja memilih film horror agar bisa mengambil kesempatan di tengah-tengah fil. Tapi dial pa kalau Yoonhee menyukai film horror dan tak sadar jika dia takut akan film horror, sampai akhirnya sesuatu yang diluar rencana terjadi. ck ck ck

*Author POV end*
*Yunyoung POV*

“Hari ini kita nonton di bioskop, ya.”

“Terserah padamu saja oppa.”

“Baiklah, tapi film horror. Tak apa kan?”

“Sudah kubilang terserah.”

“Yes! Yoonhee mau. Oke, Yunyoung jalankan siasatmu itu.” ujarku dalam hati. Kali ini takluklah kau, Yoonhee.
Kami pun masuk dan duduk di bangku yang nomornya tertera di tiket kami masing-masing. J8 dan J9.

Film pun dimulai. Aku pun mulai melakukan siasat itu. Menyelinapkan tanganku dibahu Yoonhee saat aku piker bahwa adegan yang mengejutkan akan muncul, dan…

“AAAAAAA!!!”

“Yak! Oppa kau ini apa-apaan sih?”

“A-aku.. kag..et..” ujarku terbata-bata. Aishh.. ini sungguh memalukan.

“Cih, kau payah oppa. Masa namja takut film horror?”

“A-ani.. aku tidak ehmm takut.. han-nya ituu apa ka-get.. K-kau, mengapa tidak takut?”

“Kau lupa apa? Aku kan penggemar film horror.” Aku masih takut, ekh bukan, kaget. Akh bukan, aku jujur saja, sebenarnya aku takut menonton film horror. Tadinya aku ingin mencuri kesempatan dengan memeluk Yoonhee yang akan ketakutan. Tapi aku lupa kalau dia adalah salah satu penggemar film horror. Malahan aku yang memeluk Yoonhee karena aku hamper mati ketakutan. Aishh.. namja apa aku ini? Biarlah yang penting pelukannya itu dapat tercapai, walaupun terbalik.

“Yak, oppa. Kau gemetar begini. Gwaenchanha?”

“N-ne..” memang benar, saking takutnya aku, gigiku sampai bergemeletuk. Hebat kan aku/? aigoo~

*Yunyoung POV end*
*Yoonhee POV*

“N-ne..” rahang bawah Yunyoung bergetar hebat. Dasar pabbo, sudah tahu takut film horror, masih saja memilih film horror untuk kencan kali ini. Dasar Yunyoung pabbo Hahhh, aku bingung kenapa bisa mencintai namja pabbo seperti ini. Aiiigoooooooooo!.

*Yoonhee POV end*
*Author POV*

Bioskop ini memang dipenuhi oleh banyak pasangan kekasih, tapi Yunyoung dan Yoonhee lah yang paling unik, paling berisik dan paling absurd. Yunyoung benar-benar malu karena keputusan bodoh yang dia ambil, sedangkan Yoonhee. Dia memblush hebat karena pelukan Yunyoung. Dia merasa kalau itu adalah kejadian yang benar-benar canggung karena sudah lama mereka tidak melakukan skinship.

8 Februari 2015
Kebun binatang menjadi pilihan Yunyoung untuk mengajak Yoonhee kencan di hari keempat ini. Kelakuan Yunyoung hari ini benar-benar membuat Yoonhee tertawa terbahak-bahak. Yunyoung terisak-isak menangis karena takut disuruh Yoonhee untuk memegang ular. Bahkan celana Yunyoung basah saking takutnya. Mengerti maksudnya kan?

9 Februari 2015
Lotte Word, taman bermain yang cukup menyenangkan. Kali ini Yunyoung berlagak berani untuk menaiki sebuah wihana. Roller Coaster. Dengan percaya diri dia menaiki wahana itu dan menarik tangan Yoonhee untuk turut serta. Tetapi Yoonhee jadi repot dibuatnya lantaran Yunyoung muntah setelah menaikki wahana itu. Parah.

10 Februari 2015
Kali ini kencan malam. Yunyoung membawa Yoonhee berjalan-jalan menikmati kota Seoul pada malam hari sembari menikmati jajanan-jajanan ringan di pinggir jalan.

11 Februari 2015
Salah satu gunung, tempat dimana Yunyoung dan Yoonhee akan menghabiskan kencan hari ketujuh. Mereka hiking dan lagi-lagi Yoonhee menjadi repot sendiri karena Yunyoung jatuh dan melukai kedua lututnya. Memang yunyoung ceroboh, sudah berapa kali coba Yunyoung merepotkan Yoonhee?

12 Februari 2015
Selama dua hari kedepan, Yunyoung dan Yoonhee akan mengabiskan kencan mereka di Pulau Jeju. Malam hari ini Yunyoung mengajak Yoonhee ke tepi pantai untuk melihat bintang dan menikmati hangatnya api unggun. Suasana semakin hangat karena Yunyoung memaikan gitar dan sedikit bernyanyi untuk Yoonhee. Akhirnya, Yunyoung bisa romantis juga.

13 Februari 2015
Masih di Pulau Jeju. Sejak dari pagi Yunyoung sudah mengajak Yoonhee mengelilingi Pulau Jeju dengan sepeda. Sayangnya pada sore harinya mereka harus kembali ke Seoul.

14 Februari 2015
Hari Valentine sekaligus hari terakhir kencan Yunyoung dan Yoonhee. Inilah tempat terakhir yang Yunyoung pilih, Sungai Han. Yunyoung memilih salah satu restoran didekat Sungai Han dan mengajak Yoonhee untuk makan malam.

“Duduklah Yoonhee.”

“Kenapa harus disini?”

“Nikmatilah.” Yunyoung tersenyum.

“Oh, iya. Happy Valentine oppa.” balas Yoonhee dengan senyuman kecil.

“Valentine? Kalau begitu berarti Happy 3rd Anniversary, Yoonhee.”

“Akh, benar. Aku hampir lupa. Happy Anniversary juga oppa.” Yoonhee menjentikkan jarinya.

“Hari ini, hari terakhir bukan?”

“Hari terakhir kita kencan?” kata Yoonhee mempertegas pertanyaan Yunyoung tadi.

“Ne, apa keputusanmu?” Yoonhee menatap Yunyoung dengan tatapan tajam.

“Ini yang kau mau? Mengawali dan mengakhiri hubungan kita ditempat yang sama?” Yunyoung mengangguk.

“Baiklah. Kita akhiri saja.” Yoonhee melihat sekelebat kilatan kecewa di mata Yunyoung, dan ia sangat tidak menyukainya.

“oke, kita sudah sepakat kan.” ucap Yunyoung menutupi kesedihannya.

“Hem.” Yoonhee mengangguk dengan pasti. Mereka pun saling berjabat tangan sebagai bentuk simbolis yang sah dan berpisah kerumah masing-masing. Yunyoung menatap punggung Yoonhee yang menjauh penuh kerinduan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi pula. Meninggalkan kisah cintanya yang amblas ditengah jalan itu.

*Author POV*
*Yoonhee POV*

Tak percaya, ternyata hari ini tepat hari kasih sayang, Anniversary ketiga kami dan hari dimana hubungan kami berakhir. Daebak, begitu banyak juga ya kejadian hari ini.

KNOCK KNOCK

Apa itu Yunyoung oppa? Apa dia ingin meminta rujuk kembali? Dasar labil.

“Selamat malam Yoonhee.”

“Konnie oppa.” Untuk apa Hyeongkon bertamu malam-malam begini?

“Kau menangis?”

“Masuklah dulu.” pintaku. Hyeongkon pun mengikuti seperti apa yang aku mau.

“Ada apa oppa?” aku mencoba mendapatkan jawaban dari pertanyaanku tadi.

“Benar kau menangis? Apa karena kencanmu dengan Yunyoung berakhir?”

“Mwo?! Darimana kau tahu?”

*Yoonhee POV end*
*Author POV*

“Mwo?! Darimana kau tahu?” tanya Yoonhee setengah marah.

“Jadi, sebenarnya..” ujar Hyeongkon mencoba menjelaskan

-flashback-
Sepulangnya Hyeongkon dari apartemen Yoonhee ada sesuatu hal yang mengganjal. Mimik wajah dan tatapan Yoonhee pada sama saat Hyeongkon ingin pergi wamil. Wajah dan sorotan mata sedih dengan sejuta harapan yang pupus itu terlihat jelas dari diri Yoonhee.

“Apa ini ada akan terulang lagi? Orang yang Yoonhee cintai akan meninggalkan dia lagi? Tapi kali ini siapa? Apa mungkin namja tadi?” otak Hyeongkon penuh tanda tanya. Rasa penasaran Hyeongkon tak sampai disitu. Hyeongkon menelpon Yoonhee.

“Ne Hyeongkon oppa. Waegeurae?” Yoonhee menjawab panggilan dari Hyeongkon.

“Ani, kau sedang apa?”

“Sedang bersiap-siap?”

“Apa yang kau siapkan pada pukul 5 sore seperti ini? Makan malam?” ucap Hyeongkon sok tahu. Gunanya untuk memancing Yoonhee agar berkata yang sebenarnya.

“Ani, aku ada kencan?”

“Wah.. kemana?” tanyanya Hyeongkon

“Mengapa kau begitu penasaran oppa?”

“Haha.. entah. Mau ku antar?”

“Ani. Gomawo.”

“Jam berapa kau pergi?”

“7. Kau tidak berniat untuk mengikutiku kan?”

“Ani.”

“Oke. Aku tutup ya.”

Mungkin ini adalah sebuah petunjuk bagi Hyeongkon. Dirinya pun tertantang untuk melanggar permintaan Yoonhee di akhir percakapan telepon tadi. Hyeongkon mengikuti Yoonhee perlahan dari belakng. Tak sulit bagi seseorang dengan jeblosan angkatan militer untuk mengikuti seseorang tanpa ketahuan.

Hyeongkon pun berhenti ketika Yoonhee pun berhenti. Dia melihat percakapan Yunyoung dan Yoonhee dari kejauhan. Setelah Yoonhee pulang, dia pun mengambil satu langkah berani.

“Yak, neo Yunyoung?” tiba-tiba Hyeongkon datang dan berdiri tepat dibelakang Yunyoung.

“Oh, kau namja itu?”

“Hyeongkon. Kenalkan. Aku mantan Yoonhee.”

“Jangan dekati Yoonhee lagi.” ancam Yunyoung.

“Hah? Kau pikir kau ini siapa?” ujar Hyeongkon meremehkan.

“Kau berkata hal yang sama persis seperti yang Yoonhee katakan. Aku..”

“Namjachingu Yoonhee? Kau ingin berkata seperti itu?”

“Memang itu kenyataannya. Untuk apa datang kemari?”

“Aku hanya ingin tahu seperti apa namjachingu Yoonhee. Ternyata pacaran kalian ada tanggal kadaluarsanya juga ya. Apa itu yang 10 hari? Hubungan yang menyedihkan. Ckckck..” hina Hyeongkon.

“Jangan ikut campur urusan kami.” ancam Yunyoung sekali lagi.

“Kalian sedang bertengkar kan? Apa yang akan terjadi 10 hari lagi? Kalian putus?”

“Aishh.. jinjja..” akhirnya Yunyoung sukses dibuat kesal oleh Hyeongkon.

“Baik beri aku 10 hari untuk berdua terus dengan Yoonhee, dan jangan ganggu kami.”

“Setelah 10 hari itu?”

“Terserah kau.”

“Oke, kita sepakat ya. Tapi kau, bisa beritahu apa yang terjadi? Kau akan meninggalkan Yoonhee kan?” Yunyoung mengangguk sembari tersenyum.

“Bisa beritahu aku apa yang membuatmu ingin meninggalkan Yoonhee? Apa kau ingin wamil sepertiku? Atau kau ingin dijodohkan dengan orang lain? Apa jangan-jangan kau ingin mati?” Yunyoung hanya menggeleng sembari tersenyum sebelum akhirnya dia member tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.

“Oohh.. arraseo. Kapan kau akan pergi?”

“14 Februari malam.”
-flashback end-

“Yak! Kenapa kau memata-mataiku?” kali ini Yoonhee benar-benar marah.

“Jujur, aku masih menyukaimu sampai sekarang. Awalnya aku ingin mengajakmu rujuk kembali, ani, bahkan sekarang pun aku ingin mengajakmu untuk rujuk kembali…”

“Perlukah aku jawab?” potong Yoonhee sinis.

“Ani, aku sudah tahu jawabannya.”

“Kau sudah meninggalkanku oppa, dan sekarang Yunyoung pun ingin meninggalkanku.”

“Apa yang kaurasakan padanya sekarang?”

“Kita sudah putus sekarang oppa.” Yoonhee memalingkan wajahnya.

“Lalu kau kira cerita cinta kalian akan berakhir disini?” Kata-kata Hyeongkon tadi begitu mengena. Yoonhee tertunduk dan mulai menangis. Hyeongkon pun mencoba menenangkannya. Dia pun memeluk Yoonhee.

“… aku jatuh cinta untuk kedua kalinya pada yunyoung oppa. Konnie oppa, apa yang harus aku lakukan?”

“Belum terlambat. Kjja.” Hyeongkon menghapus air mata yang mengalir dari mata Yoonhee dan menariknya pergi

Kini mereka ada di perjalanan ke bandara. Sebenarnya inilah yang terjadi. Yunyoung ingin melanjutka sekolah designnya ke Jepang tetapi Yoonhee tidak setuju lantaran Yoonhee takut jika nanti mereka harus LDR, belum lagi jika Yunyoung menemukan yeoja yang lebih baik dan lebih cantik dari Yoonhee dan berselingkuh dengannya. Tetapi keduanya tetap kukuh pada pendiriannya masing-masing. Yunyoung tetap ingin pergi dan Yoonhee tidak ingin Yunyoung pergi. Menurut kalian ini masalah sepele? Tergantung dari sisi mana kalian melihatnya. Sisi Yunyoung kah? Sisi yoonhee kah? Atau dari sudut pandang kalian saja. Yang jelas ini masalah complex.

Butuh waktu 1 jam untuk mencapai tempat tujuan. Kuku Yoonhee tak henti-hentinya digigit oleh sang pemilik lantaran khawatir bahwa waktunya tak dapat dikejar. Hyeongkon yang tahu apa yang tengah Yoonhee rasakan pun segera melajukan motornya lebih cepat lagi. Akhirnya mereka sampai. Yoonhee turun dengan tergesa-gesa.

“Yoonhee-ya…” Hyeongkon menarik tangan Yoonhee sebelum masuk ke bandara.

“Wae?”

“Kalau aku tidak bisa menjadi namjachingumu lagi. Bisakah kau tetap menyayangiku dan menganggapku sebagai oppamu dan bolehkah aku menganggapmu sebagai dongsaengku?”

“Ne, pasti. Kaulah oppa terbaik yang pernah aku miliki. Gomawo Konnie oppa.” Yoonhee mengangguk pasti. Hyeongkon melepaskan genggamannya itu dan membiarkan Yoonhee berlari masuk mencari pujaan hatinya. Daftar keberangkatan itu lah hal pertama yang Yoonhee lihat.

“Panggilan terakhir untuk para penumpang AX 1502, silahkan memasukki pesawat melalui pintu 4.”Panggilan itu membuat kedua kaki Yoonhee lemas.

*Author POV end*
* Yoonhee POV*

“Panggilan terakhir untuk para penumpang AX 1502, silahkan memasukki pesawat melalui pintu 4.” Aku hanya bisa mendudukan diriku karena kakiku lemas seketika saat panggilan itu diumumkan.

“Terlambat..” ujarku pasrah.

“Oh, Yoonhee-ya sedang apa disini?” suara itu sontak membuatku menengok kearah suara.

“Yun-yunyoung oppa kau belum..” ucapku nyaris tak percaya.

“Wae? Pesawatku sudah dipanggil ya? Aishh.. “ Eiiiii, kenapa dia pabbok sekali ._. #hiaaaat *digampar readers*

“Pabbo, kenapa belum naik?” aku membelokkan topik agar tak terlihat canggung.

“Itu, hemm.. tadi.. kurasa makanan direstoran itu tidak cocok dengan perutku, makanya aku buang dulu. Daripada jadi beban. Lagipula kau masih ingin bertemu denganku, kan?”

“Aishh.. oppa ini..”

“Ani, jangan pukul.”

*Yoonhee POV end*
*Yunyoung POV*

“Aishh.. oppa ini..” Yoonhee mulai mengangkat tangannya.

“Ani, jangan pukul.”

HUK

“Pabbo, oppa jinjja pabbo. Kau minta aku untuk memintaku untuk mengakhiri hubungan kita. Dasar kejam.” Yoonhee memelukku erat, sangat erat.

“Yoo-yoonhee-ya, apa maksumu.” ucapku yang masih kaget dengan perlakuan Yoonhee ini.

“Aku jatuh cinta kedua kalinya padamu. Puas?” Aku pun tersenyum penuh kemenangan.

“Puas, sangat puas. Memangnya kenapa?”

“Bisakah kau ulangi kejadian 2 tahun lalu?” pinta Yoonhee.

“2 tahun lalu? Ah, sepertinya aku tidak bisa.” ucapku jail. Dia melotot, kkkk~ matanya seperti mau keluar, aigo ya~

“Arraseo.. Yoonhee-ah maukah kau kembali lagi padaku? Bersediakah kau menjadi yeojachinguku, lagi. Ani, bersediakah kau menjadi pendamping hidupku? Menjalin hubungan penuh cinta bersama denganku? Aku tau aku bukanlah lelaki sempurna, tapi aku mencintaimu setulus hatiku. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang kuinginkan. Aku ingin membahagiakanmu. Jadilah kekasihku…” dia tak membalas. ia hanya mengeratkan pelukannya.

“Ne, aku bersedia oppa. sangat bersedia. Karena, aku juga mencintaimu oppa. Saranghae

“Nado saranghae, Geundae…. aku harus tetap pergi.” Kurasa kata-kataku itu merusak perasaan Yoonhee lagi. Yoonhee melepaskan pelukannya dan menatapku dalam. membuatku gugup saja.

“Biar, aku juga akan ke Jepang denganmu.”

“Mwo?”

“Tapi 3 bulan lagi aku baru akan pindah untuk membereskan sekolahku dulu dan mengurus kepindahanku lagi.”

“Be-benarkah?” apa yang membuat Yoonhee tiba-tiba mengubah jalan hidupnya begini?

“Iya, tapi tolong janjikan aku sesuatu agar lebih yakin pindah ke sana.” pinta Yoonhee manja.

“..menikahlah denganku…” pintaku sembari menatap harap Yoonhee.

“Oppa….mana cincinnya?”

“Aehh, kau ini. Nanti saat kau tiba di Jepang aku akan melamarmu kembali lengkap dengan cincinnya.” #igemwoya@@

“Janji?”

“Pasti. Aku berjanji layaknya seorang namja.”

*Yunyoung POV end*
*Author POV*

3 tahun berlalu semenjak kejadian itu.
Kau bukanlah namja pertama yang ada dihidupku.
Rasa cintaku sempat dirasakan oleh namja lain,
Dan juga hati ini sempat terbagi.
Namun kali ini aku mengetahui satu hal.
Waktu, hati, dan hidupku setengahnya kuhabiskan bukan denganmu.
Tapi Satu Untukmu, masa depanku
.

“Kau belum tidur Nyonya Maeng?” Yunyoung yang baru pulang kerja langsung merebahkan dirinya di atas kasur.

“Tunggu oppa sebentar lagi.”Yoonhee pun melanjutkan ketikan untuk buku barunya yang akan rilis.

Terimakasih cintaku.

Itulah kata terakhir untuk bukunya yang berjudul One 4 You yang mengisahkan kisah cintanya pertamanya hingga dia menikah.

“Apa yang kau ketik?”

“Ani.”

“Tidurlah, Yoonhee.”

“Ne.”

Kedua pasangan itu pun segera tertidur.

“Happy Valentine oppa, maaf telat.” Yoonhee menindih tubuh Yunyoung sambil tersipu.

“Ini sangat terlambat Yoonhee, ini sudah jam 12.03 tahu.”

“Benarkah? Kalau begitu. Saengil chukahamnida oppa.” bisik Yoonhee.

“Mendekatlah.”

CHU~

“Yak oppa! Kau belum sikat gigi ya?”

—-END—-

EPILOG

Oeekk oeekk..

Suara itu sontak membuat Yunyoung dan Yoonhee kembali terjaga.

“Oppa, Yunho bangun.”

“Hemm..”

“Ayo oppa..” Yoonhee menepuk pundak Yunyoung.

“Gawi-bawi-bo.” ucap mereka serempak.

“Kau kalah oppa.”

“Ne, baiklah.” Yunyoung meninggalkan kasur dan berjalan gontai. Matanya pun baru ¼ terbuka.

Yunho adalah anak pertama Yunyoung dan Yoonhee yang usianya belum genap satu tahun. Kadang anak merepotkan juga, ya.

“Bagusnya suamiku mau-mau saja kalau disuruh.” ujar Yoonhee sembari melanjutkan tidurnya.

“Cih, istri kurang ajar.” gumam Yunyoung pelan.

“Kau mengatakan sesuatu oppa?” Yunyoung meneguk salivanya susah payah saat mendengar pertanyaan yang sarat akan ancaman itu. Sungguh mengerikan.

“A-ani.” jawabnya gugup.

“Ah, begitukah?

“N-ne.”

“Arraseo. Aku tidur ne oppa. Tolong urus uri aegi ne. Gomawo………”

-END-

Advertisements

One 4 You (Part 1) #SpecialProjectforYunyoung

Title: One 4 You (Part 1)

Author : Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Maeng Yunyoung (A-JAX)
o Kim Hyeongkon (A-JAX)

Genre : romance
Leght : Twoshoot
Rating : PG-15

Note:
Ini FF special for Yunyoung Birthday.
Happy Birthday Yunyoung oppa ^^
Udah 3 kali ganti alur, tapi akhirnya author pilih alur yang ini.
Mungkin ceritanya geje, aneh, gimana iuhh gitu, tapi cobalah untuk mengerti.
Cerita dan judul tidak ada hubungannya. Itu karena author tidak tahu harus menjuduli FF ini apa. Intinya author kurang kreatif.
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No Plagiat.
No Bash.
Jangan lupa comment

one for you

For readers, Happy Reading ^^

.

.

.

*Author POV*
Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan.

“Diam oppa! Pergilah! Aku sedang malas melihatmu!”

“Hee-ya, ayo kita bicarakan ini baik-baik.”

“Ani! Yang ingin kulakukan adalah mengusirmu sekarang. PERGI!!”

Teriakan-teriakan konflik itu sontak membuat seluruh penghuni apartemen itu penasaran. Apa yang tengah terjadi di kamar 152?

*Author POV*
*Yunyoung POV*

“Diam oppa! Pergilah! Aku sedang malas melihatmu!” bentaknya.

“Hee-ya, ayo kita bicarakan ini baik-baik.” ujarku sembari memegang kedua tangannya yang daritadi memukul dadaku.

“Ani! Yang ingin kulakukan adalah mengusirmu sekarang. PERGI!!” ketusnya sembari mendorong-dorong tubuhku.

“Ayolah Yoonhee. Sudah 1 minggu kita bertengkar hanya karena hal kecil seperti ini?” ternyata perkataanku itu sontak membuat Yoonhee terdiam sejenak.

“Ke-kecil? Kau bilang ini masalah kecil?” kini dia menatapku. Tatapannya berbeda, wajahnya merah padam menahan amarah, dan pipinya dihiasi air yang jatuh dari matanya.

“Yo-yoonhee…. k-kau menangis?” tanyaku hati-hati.

“Neo… oppa.. kau JAHAT!!” jeritnya.

“Ani, Yoonhee. Oppa tidak bermaksud un..”

“KA!” bentaknya sembari kembali mendorong-dorong tubuhku kembali.

“Oke, oppa akan keluar, tapi kau…” pintaku sebelum keluar dari kamar apartemennya.

“Cukup. Sampai jumpa oppa yang sibuk.” potongnya ketus.

BAMM

Yoonhee membanting pintu itu keras.

“… tetaplah bersamaku..” sambungku lirih.

Sudah 10 menit aku berdiri di depan pintu kamarnya. Mengabaikan tatapan-tatapan para tetangga penasaran di apartemen Yoonhee.

“Hikss.. hikss..” isakkan Yoonhee pun belum kenal kata berhenti.

“Mianhae Yoonhee. Saranghae..” bisikku dari luar.

-flashback-
“Yoonhee… m-maukah kau menjadi-i yeoja..chinguku?” ucapku sembari menunduk malu-malu.

HUK

Tanpa banyak suara Yoonhee langsung memelukku. Tahu apa artinya kan?

“..ne..” jawab Yoonhee pelan.

“Aku berjanji tidak akan membuatmu marah, menangis dan menyesal menjadi yeojachingku.”

“Janji?” tanyanya sembari menatap harap ke arahku.

“Aku berjanji layaknya seorang namja.” jawabku sembari tersenyum.
-flashback end-

Kejadian 2 tahun kembali melintas di pikiranku. Apa aku mengambil keputusan yang salah? Aishh.. apa yang harus kulakukan?

*Yunyoung POV end*
*Yoonhee POV*

“Hikss..hikss..” sudah, aku tidak kuat. Aku sudah mencoba menahan tetapi.. aku terlalu membencinya.Biarkan apa kata tetangga-tetangga penasaran sialan itu. Mungkin mereka tidak bisa menonton infotainment makanya menyaksikan konflik kami.

DRTT.. DRTT..

HPku bergetar dan menunjukkan sederetan angka yang tidak aku kenal.

“Apa ini Yunyoung? Apa-apaan dia sampai mengganti nomornya agar bisa menelponku? Menyebalkan.” omelku.
Aku pun tak langsung mengangkat telepon itu. Tetapi 1..2..3..4.. missed call dari nomor misterius itu. Aishh.. aku bisa gila dibuatnya.

DRTT.. DRTT..

Oke, ini panggilan ke-5 darinya.

“Nugusaeyo?” akhirnya aku mengangkat telepon dari sang pemilik nomor misterius itu.

“Oh, Yoonhee-ya, ternyata kau masih memakai nomor pemberianku ini? Bagaimana kabarmu?” Suara itu.. suara yang sudah hampir 5 tahun tak ku dengar. Apa mungkin dia..

“Yoonhee, kau masih disitu?”

“…Hyeong..kon oppa?” tanyaku terbata-bata.

“Haha.. kau masih mengingatku ternyata..”

“Oppa kau..” ucapku yang masih belum bisa terima.

“.. Yoonhee-ya..” potong Hyeongkon.

“Hemm?”

“.. bogoshipeo..” ucapnya mesra.

“Bong! Kau bohong kan?” ejekku.

“Bohong? Ani-ya. Aku merindukanmu”

“Aku sudah punya nam..”

“Aku ke rumahmu ya. Kau masih tinggal apartemen itu kan?”

“Ne. Wae?”

“Oke, tunggu oppa ya. Oppa akan kesana. Annyeong.” seru Hyeongkon sembari mengakhiri panggilan telepon itu.

KNOCK KNOCK

“Omo! Hyeongkon oppa sudah datang lagi?” tanyaku dalam hati. Akupun berlari kearah pintu.

“Ne, Hyeongkon oppa. Tunggu sebentar.” seruku setengah berteriak.

KLEK

Aku membuka gagang pintu dan..

“Nugu? Siapa itu Hyeongkon?” tanyanya kaget.

“O-oppa..”

“Dia.. selingkuhanmu?” lanjutnya mengintrogasi.

“Ani, oppa bukan itu.” ujarku sembari berusaha menjelaskan.

“Neo…”

“Yunyoung oppa..” lirihku.

“..iya, memang aku yang salah. Aku pulang dulu ya.” dia berbalik dan melangkah pulang.

Aku memang membencinya, membenci Yunyoung oppa. Kalau bukan karena hal itu, ini semua tidak akan terjadi. Hubungan kami, rasa benci ini semua konflik yang terjadi. Ini semua salah Yunyoung oppa. Tapi kali ini.. aku merasa bersalah. Apa mungkin kita sudah impas sekarang? Dia menyakiti hatiku begitu juga denganku yang menyakiti hatinya? Arghh.. Yunyoung oppa kau…. benar-benar membuatku gila.

“Wae? Yoonhee, kau sudah menungguku ternyata.” tiba-tiba Hyeongkon datang dari arah belakang.

“Oh, Hyeongkon oppa. Kau sudah datang?” aku berbalik ke arah Hyeongkon.

“Waegeurae? Siapa namja yang tadi?”

“Akh, itu..” pertanyaan itu membuatku semakin pusing.

“Namjachingumu?”

“Ma-masuklah oppa.” pintaku

Kami berdua pun segera masuk.

*Yoonhee POV end*
*Yunyoung POV*

“Ma-masuklah oppa.” ujar Yoonhee sembari menarik tangan namja itu.

“Oh, jadi itu yang namanya Hyeongkon? Siapa dia? Oppanya? Temannya? Sahabatnya? Atau.. entahlah Yunyoung jangan pesimis begitu. Kita belum putus kan? Tapi mungkin…. H-A-M-P-I-R..”

*Yunyoung POV end*
*Author POV*

Setelah pertengkaran Yunyoung dan Yoonhee, masalah kembali muncul. Hyeongkon, dia.. layaknya orang ketiga dialah yang mendatangkan salah paham. Memang kedatangannya ke apartemen Yoonhee membuat Yunyoung berfikir negatif tentang Yoonhee dan Hyeongkon. Yunyoung hanya bisa diam dan berfikir bagaimana keadaan hubungan mereka nantinya. Baru kali ini Yunyoung menangis, entah cemburu atau marah tapi dia hanya menangis. Menangis dalam kesunyian sembari melihat Yoonhee yang dianggapnya selingkuh. Sedangkan Yoonhee hanya bisa merasakan pusing yang lebih berat ketimbang mengerjakan soal-soal identitas trigonometri. Sedangkan Hyeongkon, dia..

Yoonhee dan Hyeongkon, mereka tengah duduk di ruang tamu kamar Yoonhee sembari meneguk teh dan melepas rindu. Sebenarnya, mereka sudah tidak bertemu selama hampir 5 tahun. Bahagia? Ya, mungkin. Kaget? Pasti, apalagi Yoonhee. Rindu? Entahlah, kelihatannya mereka berdua merindukan satu sama lain. Tapi pertemuan bahagia ini tidak berlangsung lama. Wajah muram Yoonhee belum pudar. Kegundahan hainya karena keslahpahaman Yunyoung pada dirinya membuatnya gelisah.

“Arghhh….” ringis Yoonhee.

*Author POV end*
*Hyeongkon POV*

“Arghhh….”

“Yak, Yoonhee gwaenchanha?” tanyaku khawatir.

“Ani oppa, gwaenchanha.” jawabnya menjelaskan.

“Kau belum menjawabku tadi. Siapa namja itu? Namjachingumu?”

“Ne.”

“Wah, daebak!”

“Hah? Apanya yang daebak?”

“Sejak kapan?” tanyaku enteng.

“Sejak 2 tahun lalu. Wae? Kau penasaran sekali kelihatannya” ujarnya berbalik bertanya.

“Ani. Hanya saja aku kagum padamu. Cukup cepat juga kau move on.” kata-kata itu membuat Yoonhee sedikit jengkel.

PAK

“Yak! Waegeurae?” ringgisku sembari mengusap lengan yang baru saja Yoonhee pukul.

“Pabbo! Dasar oppa menyebalkan. Memangnya hanya kau saja namja didunia ini?”

“Memangnya kenapa? Kalau saja bukan karena wamil..” ucapanku yang menggantung membuat Yoonhee kembali mempoutkan bibirnya lagi.

“Hah? Oppa, neo.. mau mengungkit masalah itu lagi?” Aku hanya diam sembari tersenyum melihat Yoonhee yang sepertinya sebentar lagi marah padaku.

“Ternyata, kau mendapatkan namja lain juga ya. Aku kira hanya aku yang bisa jadi namjachingumu.” ucapku memecah kecanggungan itu.

“Konnie oppa.. percaya berlebihmu itu kambuh lagi ya?” akhirnya Yoonhee tersenyum.

“Tentang hubungan kita, kan hanya kau saja yang meminta agar hubungan indah kita ini berakhir, tapi aku tidak. Kalau bukan karena aku wamil mungkin sekarang kita sudah tunangan, ya..” ucapku tiba-tiba yang langsung berganti topik.

“Yak oppa! Bisakah kau hentikan ini? Aku benci mengungkit masa lalu.” tungkasnya yang tidak suka dengan topik pembicaraan baru itu. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Yoonhee yang sedang kesal. Mimik wajah itu, mimik wajah yang sudah sangat aku rindukan.

“Hee-ya..” panggilku.

“Hem? Wae oppa?”

“Apa dia baik padamu?” pertanyaan dariku itu sukses membuat Yoonhee terdiam sembari menunduk.

“Wae? Yoonhee gwaenchanha?”

“Hikss..” suara isakkan pun terdengar.

“Yak! Kau menangis?” tuduhku.

“Ani, kau pabbo. Pulanglah.”

“Oke. Oppa pulang ya.” ujarku sembari beranjak bangkit dan segera menuju ke arah pintu. Yoonhee pun mengantarku sampai kedepan pintu dan membukanya.

KLEK

“Hati-hati oppa. Sampai jumpa.” ucapnya sembari melambaikan tangan.

CUP

Aku mengecup singkat keningnya.

“Yak! Apa-apaan ini?” protes Yoonhee mengelap bekas kecupanku itu.

“Hehe.. oppa pulang ya. Annyeong.” Aku pun pamit dan berbalik untuk pulang. Kulangkahkan kakiku sembari tersenyum sendiri seperti orang gila.

“Yoonhee.. kau masih sama seperti dulu. Masih bisa membuatku… menyukaimu.” decakku dalam hati.

*Hyeongkon POV end*
*Author POV*

Hyeongkon, dia memang mantan Yoonhee 5 tahun lalu. Mereka sepakat untuk berpisah, walaupun dengan berat hati lantaran Hyeongkon ingin mengikuti wamil dan berencana untuk mengabdi pada negara dengan masuk angkatan militer. Hyeongkon takut jika Yoonhee harus menunggu lama dirinya, makanya mereka putus. Hyeongkon bukanlah orang ketiga yang suka cari gara-gara, dan juga dia bukanlah namja murahan yang mencoba dan membuat orang lain salah paham menganggap dia adalah namja perusak hubungan orang lain.

Alasan dia datang mengahampiri Yoonhee kali ini adalah untuk melepas rindu. Memang awalnya dia mencoba membujuk Yoonhee untuk rujuk kembali, tapi sayang, pengakuan Yoonhee yang sudah memiliki namjachingu membuat Hyeongkon mundur. Sampai sekarang, memang dia masih berharap pada Yoonhee agar perasaannya masih sama seperti 5 tahun yang lalu. Tapi apa boleh dikata, dia baru tahu kalau Yoonhee sudah memiliki namjachingu, namja lain yang dia cintai.

Lain halnya dengan Yoonhee. Dia takut nama baiknya tercoreng karena dianggap berselingkuh oleh Yunyoung. Ditambah kelakuan Hyeongkon yang aneh baginya membuat dia merasa semakin bingung. Itu mengapa dia semakin pusing dengan keadaanya sekarang.

“Aishh.. apa yang harus aku lakukan sekarang?” batin Yoonhee sembari merebahkan dirinya keatas kasur.

*Autor POV end*
*Yoonhee POV*

“Aishh.. apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Aku pun merebahkan diri ke kasur dan mencoba untuk tidur. Belum 15 menit aku memejamkan mata HP ku bergetar.

DRTT.. DRTT..

Sebuah SMS masuk
Yunyoung oppa
Temui aku di tepi Sungai Han jam 7 malam. Saranghae~
4 Feb 2015

Benci rasanya melihat kata-kata itu tertulis. Sarang? Tapi kau begini. Tapi biarlah, ingatkan aku, ya untuk ke tepi Sungai Han jam 7.

DRTT.. DRTT..

HPku bergetar lagi, kali ini telepon.

“Ne Hyeongkon oppa. Waegeurae?”

“Ani, kau sedang apa?”

“Sedang bersiap-siap?”

“Apa yang kau siapkan pada pukul 5 sore seperti ini? Makan malam?” ucapnya sok tahu.

“Ani, aku ada kencan?” kataku berbohong.

“Wah.. kemana?” tanyanya antusias.

“Mengapa kau begitu penasaran oppa?”

“Haha.. entah. Mau ku antar?”

“Ani. Gomawo.”

“Jam berapa kau pergi?”

“7. Kau tidak berniat untuk mengikutiku kan?”

“Ani.”

“Oke. Aku tutup ya.” ucapku mengakhiri percakapan tidak berguna itu. Bagaimana seorang Hyeongkon bisa menjadi sebegitu penasaran? Menggangu saja.

Sekarang jam 18.30 aku pun sudah bersiap untuk jalan ke Sungai Han. Setidaknya dengan berjalan-jalan dapat membuatku melupakan segala masalah dan kegundahan hatiku. Sungai Han adalah kenangan bagi kami berdua. Itulah tempat dimana Yunyoung menyatakan perasaannya padaku. Aku hanya bisa tersenyum kecil mengingat kejadian itu, betapa malunya Yunyoung dan betapa gugupnya dia. Seandainya kenangan itu berlangsung lama. Kebahagian yang kita rasa tak akan habis, dan kita bisa saling mencintai satu sama lain seperti dulu. Bukannya seperti sekarang ini. Panas hati, tarik urat, saling berteriak.

“Huft..” aku membuang nafas berat.

*Yoonhee POV*
*Author POV*

Yoonhee sudah mulai berjalan kea rah Sungai Han. Bagusnya keindahan Negri Ginseng pada sore hari ini dapat membuat senyum Yoonhee terukir kembali. Kakinya terhenti saat mendapati seorang namja tengah berdir sembari menendangi kerikir yang ada di sekitarnya. Ujung bibirnya terangkat, dia mendelik arah jam tangan yang ia kenakan. Jam 18.49.

“Kau datang lebih awal, eoh?” pertanyaan Yoonhee membuat namja yang tengah asik sendiri melirik ke arahnya.

“Oh, kau sudah datang juga rupanya?” siapa lagi. Tak lain dan tak bukan namja itu adalah Yunyoung.

“Apa maksudnya bertemu di tempat seperti ini? Kau ingin memulai dan mengakhiri hubunganmu di tempat yang sama?” tanya Yoonhee sinis.

“Mwo? Bukan seperti itu..”

“Lebih baik aku saja yang mengakhirinya, kau tidak punya alasan untuk meminta putus” potong Yoonhee ketus.

“Ani Yoonhee, biar oppa jelaskan.”

“Langsung ke intinya saja oppa.”

“Oke, beri aku waktu 10 hari.”

“Untuk apa?”

“Kita habiskan waktu selam 10 hari bersama. Kau harus mau jika aku ajak kemana saja..”

“Kau ingin macam-macam, eoh?” lagi-lagi Yoonhee memotong.

“Bukan itu yang kumaksud. Ya, kita seperti kencan saja. Untuk 10 hari kedepan jangan temui Hyeongkon dulu, ya.”

“Wae? Kau siapanya aku?” bentak Yoonhee ketus sampil melemparkan tatapan menyalang untuk kekasihnya itu.

TBC