Archives

The Most

Title: The Most

Genre: Hurt, Drama.

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Find by yourself ^^

 

Hwayeon’s Note:

Hello, this is me again. Maaf kalau udah lama banget author ga ngepost. Yah, author lgi kena penyakit keras yang pasti dialami semua penulis. Writer’s block yaitu males. Yeah, berhubung author juga masih males bikin yang lain. Author iseng aja bikin ff ini. Tengah malem gini, gara-gara insomnia. Oke then, cukup cuap cuapnya. Selamat menikmati okeh? Jangan lupa komen guys.

Happy Reading

 

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

 

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa. Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, hanya itu. jadi kau tidak perlu berhubungan dengannya sembunyi-sembunyi.”

“-karna itu menyakitiku saat mengetahuinya.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau ia menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya mengatakan sebaliknya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. DIa yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap saat kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, matanya kosong dan tubuhnya kaku.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. aku akan sakit, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itu rasa cintaku padamu.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

 

.

 

Hwayeon menatap jemari tangannya yang terpasang cincin kawin dengan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Tidak sekalipun Kyuhyun menghubunginya, tidak sekalipun Kyuhyun mencoba mencarinya. Jauh dilubuk hatinya, ia mengharapkan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Sehari terasa seperti seabad bagi Hwayeon. Rasanya sungguh menyiksa.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.”

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh dengan mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun 3 tahun lalu datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya.

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendiri yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, kecewa. Dan satu hal yang pasti, Hwayeon saat ini tengah sedih, terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihatnya,sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “tentu. Kajja.”

Hyera membawa Hwayeon ke meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan secepatnya pindah saat aku sudah mendapatkan rumah supaya aku tidak menyusahkan kalian lebih lama.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kami keluargamu ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini.” Donghae menatap Hwayeon tajam, sedangkan Hyera menyikut perut Donghae.

Tangan hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud. Tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana jam 3.”

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Ia akhirnya memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba member Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir.”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, ia merasa lega.

Mungkin seharusnya ini yang dia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya ia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat diamana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah menyuruh Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaan tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon. Dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana.

Rasa rindu membuncah di dadanya, melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil menabrak Hwayeon.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, Hwayeon tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bending.

“TELEPON AMBULANCE! KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. orang-orang kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae cemas

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panic

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia sangat mengkhaawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan. Yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melkukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya sudah kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih. “bayinya.” Lirih Kyuhyun, “bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka menangis berdua, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera coba menenangkan.

Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

 

.

 

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali.” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia bisa mendengar suara Kyuhyun dalam tidurnya, dan ia memaafkan Kyuhyun. Ia juga sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh bebannya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dia, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya samapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-FIN-

 

Advertisements

First Love Story

Title: First Love Story
Author: Kim Hwayeon (OC)

Cast:
Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Romance.
Rating: G
Length: oneshoot

Note:

Holla, ketemu lagi sama author. Maaf ya lama banget ga muncul. Lagi ga mood, tugas juga numpuk. Ini aja author bikin ngebut deh, kasian sama kalian yang menunggu terlalu lama *PD* hehe. Nanti I’m in Lovenya bakal author update lagi chapter selanjutnya. Tapi sabar ya. Author sibuk nih, banyak tugas sama ulangan, mana lagi galau berat juga. huhuhu sedih. Okedeh, malah jadi curcol wkwk. Langsung dicek aja. Maaf kalo pendek, dan kurang memuaskan. Author bikinnya sambil teler nih. ngantuk hihi. Awas typo bertebaran. oke.

Happy reading, jangan lupa kasih jejak dongse~

pay pay

-o0o-

Apakah sebenarnya cinta itu? Aku rasa aku mencintaimu, tapi entahlah. Aku sendiripun bingung mendeskripsikan perasaanku sendiri.
Aku merasa begitu terpesona akan dirimu, kau sudah seperti candu bagiku. Sehari tanpa melihatmu membuatku gila. Tidak bersamamu membuatku sakit, tapi melihatmu tidak bahagia bersamaku membuatku hancur. Apa perasaan seperti itu bisa didefinisikan sebagai cinta? Kalau iya, bolehkah aku menyimpan perasaan cinta itu untuk diriku sendiri?

Bolehkah? Bolehkah aku bersikap egois seperti itu? Bolehkah aku memiliki hatimu? Aku tau aku tidak bisa memiliki ragamu, tapi bisakah kalau hatimu menjadi milikku saja?

Apakah aku salah? Apa perasaanku ini salah? Apa aku tidak berhak memiliki perasaan ini? Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa harus kita yang menjalani takdir seperti ini?Aku mencintaimu, Kau pun mencintaiku. Tetapi kenyataannya, takdir berkata lain.Kita tetap tidak bisa bersama.
Aku sudah berusaha, sungguh. Aku sudah mencoba, aku sudah berjuang. Tapi tetap, aku tidak bisa mencurangi takdir.Pada akhirnya kau akan tetap pergi, meninggalkanku disini sendirian dengan serpihan serpihan hatiku yang patah, dengan beribu ribu kenangan dan jutaan mimpi kita yang terpendam.

Aku merasa begitu lemah. Aku merasa begitu tak berdaya. Ingin rasanya aku mencegahmu melangkah pergi dari genggamanku. Tapi apa daya? Apa yang bisa kulakukan? Melarangmu pergi? Tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak akan melarangmu untuk pergi. Aku akan membiarkanmu pergi.
Walaupun aku tidak rela, walaupun aku sakit, walaupun aku hancur. Aku tetap tidak akan melarangmu untuk pergi. Karena aku mencintaimu, aku menghargai keputusanmu. Jadi pergilah, aku berjanji akan berusaha melepasmu.
Tapi satu hal… aku mohon dengan sangat. Biarkan aku memilikimu, sebentar saja. Aku janji hanya sebentar. Setelah itu, aku tidak akan menuntut apapun darimu… aku berjanji

.

“Aku dijodohkan” dua kata itu otomatis membuat seluruh kinerja tubuhku berhenti seketika.

“M-maksudmu?”
“Aku dijodohkan, aku akan segera menikah…” aku diam dan menatap kedalam matanya, mata yang biasanya selalu menyorotkan kehangatan kini telah lenyap digantikan dengan mata yang penuh sorotan ketidakberdayaan.

“T-tapi kenapa?” aku menundukkan kepalaku, tak sanggup lagi menatap matanya. “Kenapa tiba-tiba? Kenapa sekarang? Kau membhongiku kan?” tanyaku penuh harap. Aku membuka mataku dengan segera, kembali menatap matanya. Mata yang biasanya selalu meneduhkan hatiku. Aku berharap ia segera mengatkn kalau ia hanya bercanda, karena lelucon ini benar-benar tidak lucu.

Aku menggigit bibirku, menelan segumpal kekecewaan saat aku melihat matanya. Mata yang selalu kukagumi, mata yang selalu membuatku… jatuh cinta, kini tidak lagi memancarkan sinarnya. Aku menunduk, hatiku sakit… tentu saja. Ingin rasanya aku berteriak tept didepan wajahnya, supaya ia mau mengakui kalau ia memang sedang berbohong. Atau mungkin saja ini kejailannya, seperti kamera tersembunyi mungkin? Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Kenapa? Karena matanya mengatakan semuanya. Dia tengah berkata jujur, dan dia sama terlukanya dengan diriku sendiri. tentu saja.Aku sekarang bahkan tidak memiliki tenaga lebih hanya untuk mengangkat kepalaku dan menatapnya.

“Tapi kenapa?” Aku membawa kedua telapak tanganku untuk menutupi wajahku, menyamarkan air mata yang tiba-tiba saja menerobos keluar dari dalam pelupuk mataku. Menjebolkan pertahananku yang selama ini kupertahankan mati-matian. Aku tidak mau ada yang melihatku menangis, melihatku rapuh, terlebih lagi… orang yag ku cintai. “A-aku tidak mengerti. Ini semacam pernikahan bisnis. Aku juga tidak tau! Aaarrghh!!! Kumohon, mengertilah.. aku- aku juga bingung. Aku juga terluka…” Oke, kali ini aku benar-benar menangis. Pertahananku benar-benar runtuh.
Mendengar suaranya yang penuh akan sarat kesedihan membuatku semakin terluka. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan isakanku sekuat tenaga agar ia tidak bisa mendengarnya.
Aku menahan tanganku kuat-kuat saat tiba-tiba saja kedua pergelangan tanganku di genggam olehnya dan memaksaku memperlihatkan wajahku. Aku menatap sendu kearahnya sambil tetap mengigit bibirku saat ia berhasil menyingkirkan tanganku dari wajahku, memperlihatkan wajahku yang sudah pasti berantakan oleh air mata. “Sayang…” lirihnya pelan sambil memaku mataku.
Tubuhku bergetar hebat, aku terguncang. Jelas saja, aku tidak bisa. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini?

Aku kembali menunduk, akhirnya membiarkan isakan yang sudah kutahan sedari tadi terlepas begitu saja di hadapan orang yang kucintai, untuk yang pertama kalinya. “hiks… hiks.. hiks.. o-oppa.. oppa hiks hiks.. op-pa hiks hiks.”

Tangisanku bertambah keras saat tiba-tiba saja Kyuhyun oppa merengkuhku. Mendekapku dengan erat di dalam rengkuhnnya. Memberikanku kehangatan, kehangatan favoritku… yang sebentar lagi tidak akan pernah kurasakan lagi.. Memikirkan kalau sebentar lagi ia akan dimiliki oleh yeoja lain sungguh membuatku tertekan. Apa yang harus kulakukan? Hatiku sakit sekali. Sangat sakit. Sungguh.

Aku mengeratkan pelukanku ditubuhnya. Menenggelamkan kepalaku semakin dalam di dada bidangnya. Membiarkan diriku sendiri terlena di dalam kenyamanan ini. Entah sudah berapa lama aku menangis di dalam rengkuhannya, ia sama sekali tidak protes. Semua yang ia lakukan hanyalah mendekapku erat seolah olah akulah yang akan pergi meninggalkannya, mencium puncak kepalaku, dan mengelus elus rambutku sambil mengucapkan kata ‘mianhae’, ‘saranghae’, dan ‘uljima’.
Saat akhirnya aku sudah sedikit tenang, aku tetap diam di posisiku. Sama sekali tidak berniat untuk melepaskan diri dari kehangatan yang Kyuhyun oppa berikan. Aku sepenuhnya bertopang padanya, karena tubuhku rasanya sudah lemas sekali dan kepalaku sudah pusing. Aku benar-benar sudah terlalu banyak menangis.

“oppa…” panggilku pelan. “hmm?” jawabnya lembut. Aku menguatkan hatiku sebelum aku mengungkapkan pertanyaanku. Sepertinya aku harus bersiap menangis lagi, mataku bahkan sudah terasa perih lagi. “Berapa lama lagi?” setelah aku menanyakan hal itu, aku dengan segera kembali menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Sama sekali tidak siap dengan jawaban yang akan ia lontarkan.

Hening

Aku bisa merasakan tubuhnya menegang. “3 bulan”, jawabnya pelan. Aku memejamkan mataku, lagi lagi mataku terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum. Tapi itu sama sekali tidak sebanding dengan sakitnya hatiku. Seperti di tikam oleh sebilah pisau ribuan kali. Hatiku, benar-benar terasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak aku ingin menjerit. Tapi lagi lagi yang keluar dari mulutku hanyalah isak tangis.

Aku kembali hancur, kembali terluka, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya. Tidak dengan luka yang satu ini. “Jangan menangis lagi, kumohon… kau sudah terlalu banyak menangis. Kumohon sayang… kumohon..”

Akhirnya aku meledak, bagaimana mungkin dia melarangku menangis di saat yang bisa kulakukan hanyalah menangis? “Hikss..hiks..hikss, kenapaa? Bagaimana b isa hal seperti ini terjadi?? Kenapa hiks kau baru memberitahuku? Hiks hiks kenapa?? KENAPA?!!!!” aku menjerit kalap. Aku memberontak di dalam dekapannya. Mencoba memukul dadanya dengan membabi buta, mencoba lari dari dekapannya.

Aku benar benar merasa hancur. Bagaimana bisa dia memberitahuku selambat ini. Bagaimana mungkin dia… bagaimana…

“mianhae, aku tidak sanggup memberitahumu lebih awal. Aku-“ aku memejamkan mataku, mencoba mengerti maksud semua ini. Tapi…

Tapi tetap saja, hatiku terasa sangatlah sakit. “mianhae.” Ujarnya lagi pada akhirnya. “Haaaaaaaaahhhh!!! Kenapa harus kita yang mengalami hal seperti ini?! Kenapa harus kita?! KENAPA?!!??” aku menggenggam erat kemejanya,kembali mencoba untuk menjauhkan diriku dari dirinya.

“Hentikan jebal” lirihnya pelan sambil berusaha untuk kembali mendekapku yang terus saja memberontak. “KUMOHON HENTIKAN! TIDAK HANYA KAU YANG MENDERITA! TIDAK HANYA KAU YANG TERLUKA! AKU JUGA SAKIT! AKU JUGA MENDERITA! AKU JUGA TERLUKA! Chagi jebal.. mengertilah… aku tau ini sulit tapi-“

“TIDAK!!! AKU TIDAK MAU!!! DIAM!!! JANGAN TERUSKAN!!! AAAAAAAAAAHHHH!!!!” aku berteriak keras, berusaha menutup kedua telingaku agar tidak bisa mendengar semua yang ia katakan. “chagi-“

“KUBILANG DIAM!!!” teriakku kalap. Aku tau dia juga terluka, aku tau dia juga menderita. Tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa. Ini terlalu tiba-tiba, terlalu berat, terlalu-”

Cup!

“Ennghhhh” aku meremas erat kemejanya. Kyuhyun oppa menciumku, tidak menciumku dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan. Ia menciumku dengan kasar, penuh akan sarat kekecewaan. Aku tau dia melampiaskan semuanya dalam ciumannya ini.
Air mataku mengalir begitu saja di tengah semua ini, aku memejamkan mataku. Melingkarkan tanganku di lehernya, dan mulai membalas ciumannya. Aku semakin mengeratkan rengkuhan tanganku dilehernya saat aku mendengarnya mengerang frustasi akibat ulahku yang berani membalas ciumannya. “chagiiii” desahnya frustasi saat ia melepaskan ciumannya. Ak menatapnya, menatap matanya. “Jangan berani-beraninya kau melakukan hal itu pada namja lain selain aku.” Ujarnya gusar.

Aku tersenyum samar, si posesif kembali menampakkan diri rupanya. “Tentu saja oppa. Aku tidak akan melakukan itu pada namja lain” tentu bukan? Karena hanya dia satu-satunya orang yang ku cintai. Dialah cinta pertamaku, dan aku benar-benar berharap dia jugalah yang menjadi cinta terakhirku. Aku benar-benar mengharapkan sebuah keajaiban.
“Shit!” lirihnya frustasi. “Bagaimana mungkin aku menjadi lelaki brengsek seperti ini? Aku akan menikah tidak lama lagi, tapi aku bahkan tidak bisa merelakan kau bersama namja lain. Aku bisa gila jika melihatmu bersama dengan namja lain sayang. Aku benar-benar tidak bisa, aku-“

Cup

Aku tersenyum saat melihat matanya membulat sambil menatapku. “Tenanglah, hanya oppa. Aku berjanji.” Well, aku tidak mengatakan ini hanya untuk menenangkannya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memiliki rencana, sebenarnya… ini rencana teregois yang pernah terpikirkan olehku. Tapi aku benar-benar tidak bisa berfikir hal lain. Mungkin suatu saat aku akan menyesal, atau mungkin saja tidak. Aku tidak tau. Tapi yang aku tau sekarang, aku yakin dengan pilihanku, dan aku tidak akan menyesal. Mungkin sekarang aku memang tidak tau bagaimana ini akan berlanjut, tapi aku yakin. Semuanya akan berakhir dengan baik, entah bagaimana hasil akhirnya.. aku akan menerimanya, walaupun aku tidak bisa. Aku harus bisa. Entah bagaimanapun caranya…

Aku tidak memungkiri kalau aku juga bahagia saat melihat binar-binar kebahagiaan dimatanya setelah aku mengucapkan janjiku tadi. “Aku benar mencintaimu, ya Tuhan. Aku tidak sanggup melepasmu.” Ucapnya lirih sambil lagi-lagi membawaku ke dalam rengkuhannya. “aku tau, aku juga mencintaimu.”

“Aku benar-benar ingin memiliku.. hanya untukku” aku menghela nafas. Aku juga menginginkan hal yang sama. Hal yang tidak mungkin bisa kudapatkan.. “Kalau gitu lakukanlah…” ucapku pelan. Aku mendongak, menatap wajahnya yang mengernyit bingung. “Lakukan? Lakukan apa maksudmu?”
Aku menghela nafas. Kenapa dia bodoh sekali? Masa aku harus jelaskan? Kan malu! Ish!
“Lakukan.. Kau bilang kau ingin memilikiku hanya untukmu bukan? Kalau begitu, lakukanlah.. “ aku menguatkan diriku sendiri saat melihat matanya melotot horror padaku. Sepertinya dia sudah mengerti maksudku. “You’re kidding me.” Ucapnya tak percaya. Aku tersenyum meyakinkan, “No. I’m serious”

Aku melihatnya mendesah frustasi, lalu mengacak” rambutnya kasar. “Dengar, walaupun aku menginginkan hal itu, bahkan sangat, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau merusakmu! Aku bahkan akan menikah tidak lama lagi, demi Tuhan. Tidakkah kau berfikir kalau aku semakin tidak akan bisa melepaskanmu setelah kita melakukannya? Lalu bagaimana kalau kau hamil? Aku pasti akan bertanggung jawab, tapi bagaimana bisa aku bertanggung jawab kalau- ya Tuhan! Kau tau keadaannya! Kenapa kau malah mengajukan- aish!” aku sungguh tidak menyangka kalau reaksinya akan seperti ini.

Maksudku, dia selalu sangat mesum. Tapi kenapa begitu aku menawarkan diri dia malah seperti ini. Aku mengerti juga sih sebenarnya. Aku juga tidak tau ide gila ini berasal dari mana. Tapi aku juga ingin dia memilikiku, manandaiku sebagai miliknya. Waalaupun dia tidak bisa menjadi milikku, setidaknya dia memiliku.

Oh Tuhan, aku tidak tau kalau aku bisa mempunyai pikiran sekotor itu.

“Aku tau.. aku mengerti, tapi aku ingin kau memilikiku…”
Aku melihatnya menaikkan sebelah alisnya, “Yah, tapi kau sudah menjadi milikku tanpa kita harus melakukannya.” Huh, bagaimana mungkin dia mengatakan hal seperti itu jika dia sendiri terlihat tidak yakin dengan jawabannya sendiri. “Jadi kau tidak mau?” tanyaku datar.

“Tidak!” bah, sok tegas sekali. Kita lihat saja siapa yang kalah huh.
“Kau yakin?”

“Ya!”
“Serius?”

“Tentu saja.”
“Yasudah.”

“Mwo?”
“Aku bilang yasudah.”

“…”
“Kalau kau tidak mau, yasudah. Aku mau pergi saja, aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang dia mau me-“

“APAAAA???!!!??” aku tersentak kaget saat mendengar teriakannya. Apa-apaan dia itu.
“Aku bilang.. aku sudah ada janji dengan nickhun oppa. Dia bilang mau mengajakku ma-“

“SIAPA YANG BILANG KAU BOLEH PERGI DENGAN NAMJA THAILAND ITU EOH? KAU SELINGKUH DENGANNYA?! YANG BENAR SAJA?!? APA BAGUSNYA NAMJA ITU!”

“Dia? Ehh.. dia tampan, tidak kalah tampan daarimu kok, dia juga tinggi, dia juga pandai bermain music, dia juga tidak kalah pintar dengamu, lalu-“

“YAK! KENAPA MALAH DI JAWAB PABBO?!” haduuh, kenapa dia berteriak terus sih? Aku kan tidak budek. Dasar namja bodoh.

“Loh? Oppa kan bertanya.” Jawabku bego

“ya tapi kan- aish! Tidak boleh! Kau harus disini bersamaku! Batalkan saja janjimu dengan namja Thailand itu!” cih, kecemburuannya itu benar-benar menggelikan hahaha. Padahal aku kan hanya bercanda, hihihi. Makan itu Cho Kyuhyun! Huh!

“shireo. Kau kan tidak mau tadi, aku sama nickhun oppa saja.” Ucapku memanasi. Ha, aku yakin dia akan mencak-mencak tidak karuan deh. Dasar bodoh, tidak mungkin aku akan kabur bersama namja lain sedangkan ada kau disini. Orang yang kucintai, yang bahkan hanya bisa kumiliki dalam kurun waktu yang sangat singkat. Hah…

Grep!

Brukk!!

“Awwhh.. appo..” ringisku pelan. Aku melotot pada Kyuhyun oppa, hendak memarahinya karena mendorongku tiba-tiba sampai punggungku membentur tembok. Oke, aku telan lagi semua kalimat celaan yang baru saja ingin ku lontarkan saat aku melihat sorot matanya yang begitu tajam. O-ow, dia benr-benar marah karena cemburu sepertinya.

Matilah kau, Kim Hwayeon.

“Kau benar-benar minta di makan rupanya eoh?”

Glekk

Mwoya, kenapa dia serius sekali? Lagipula, siapa juga yang minta di makan? Cih, menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini makanan apa? Dasar bodoh.
“Baiklah, kau sendiri yang meminta. Hmm, kau sudah membangunkan serigala tertidur. Siap-siapa di tikam eoh?” ujarnya sambil menyeringai. Oh-oh, jangan seringaian yang satu itu. “aku akan mulai, dan aku akan sulit berhenti, tidak akan berhenti sebelum aku mencapai kepuasanku lebih tepatnya. Jadi… mau kabur? Aku beri kebebasan jika kau mau menarik kata-kata lancangmu tad-“

Cup

Aku menciumnya kilat, lalu beralih memeluknya. Aku merasakan ia membalas pelukanku, melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling tubuhku. “Kuanggap itu sebagai ya.” Bisiknya di telingaku. Aku mengalungkan tanganku di sekeliling lehernya saat ia menggendongku bridal style menuju kamarnya. Kami bahkan tidak memperdulikan panggilan Heechul ahjumma saat kami dalam perjalanan ke kamar tadi karena sibuk bercumbu.

Sreeett

Bruukk

“aahh, emmhhh.” Aku kembali mengalungkan tanganku di lehernya sesudah ia melemparkanku ke kasur dan menindihku, lalu kembali menciumku. Aku benar-benar harus belajar mengimbangi cumbuannya karena, demi Tuhan. Dia benar-benar pecumbu ulung!

Aku menatapnya lekat saat ia mengambil sebungkus kondom dari laci nakas d samping kiriku. “Jangan pakai kondom. Aku mau kau keluarkan di dalam oppa.” Ucapku cepat, mencegahnya memakaikan benda karet itu di miliknya yang sudah berdiri entah sejak kapan. Dan omong-omong.. kapan dia menelanjangi diriku dan dirinya sendiri? Aku tidak ingat.

“Mwo? Bagaimana kalau kau hamil? Kau tau sendiri aku-“

“Tenanglah. Aku sudah minum pil jika itu yang kau takutkan.” Maafkan aku. Aku harus berbohong supaya rencanaku bisa sukses. Mianhae, jebal. Jangan membenciku setelah ini.. mianhae, saranghae.

Dia mengernyitkan keningnya, tampak ingin mendebatku. Lalu kemudian ia menghela nafas dan membuang kondom itu ke lantai, ”baiklah baiklah, terserahmu saja.” Ucapnya pasrah. Aku tersenyum dan merentangkan tanganku. “Peluk?” tanyaku manja. Kyuhyun ppa tersenyum lalu dengan cepat merangkak kearahku dan memelukku. “Saranghae baby”, “nado saranghae oppa..”

Dan terjadilah yang seharusnya terjadi~~~ *mian, author males nulis NC, NCnya kapan kapan aja ya, hehe*

-o0o-

Dan disinilah aku, Seattle.

Sudah 5 tahun sejak aku memutuskan untuk meninggalkan Seoul, dan memulai hidup baruku di sini, di Seattle.. bersama dengan keluargaku dan tentu saja, malaikatku. Putriku tercinta, Kim Han Na. Buah hatiku dengan seorang namja bodoh bernama Kyuhyun yang saat ini berada di Seoul dengan keluarganya sendiri.

Setelah kejadian terakhir, aku akhirnya bercinta dengan Kyuhyun oppa. Aku memutuskan untuk pergi dari Korea, bersama dengan cabang bayiku yang baru saja terbentuk. Sebenarnya, hari itu adalah tanggal suburku. Jadi aku langsung hamil walaupun kami hanya melakukannya sekali.
Aku pergi tanpa sepengetahuannya tentu saja. Awalnya pun aku pindah sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuaku. Tapi entah bagaimana caranya, mereka mengetahui keberadaanku dan keadaanku pula.

Aku tau mereka kecewa dengan keputusanku. Tapi mereka tetap menghargai keputusanku. Aku benar-benar bersyukur karena appa dan eomma bisa menerima Hanna dengan baik, bahkan mereka lah yang paling menyayangi Hanna.

Mereka juga yang mebantuku menjawab pertanyaan Hanna seputar ayah kandungnya. Tidak mungkin aku mengatakan pada anakku itu kalau ayahnya sudah memiliki keluarga lain di Seoul sana bukan? Putriku yang malang, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku begitu menyayangi putriku, buah hatiku dengan satu satunya orang yang ku cintai. Dia hadir karena keegoisanku, tapi aku sungguh tidak pernah menyesal. Kehadiran Hanna sungguh menjadi anugrah terbesar dalam hidupku. Aku sangat bahagia bisa memilikinya, malaikatku.

“Hwayeon-ah, cepatlah naik ke atas panggung. Sudah waktunya.” Aku tersentak saat mendengar suara Yonghwa oppa dari belakangku. Aku berbalik dan mengangguk padanya. “Arraseo, sebentar.” Aku kembali memutar badanku, menghadap pada buat hatiku yang saat ini sibuk memakan ice cream strawberrynya. “Chagi, eomma tinggal dulu sebentar ne? Nanti Yonghwa ahjussi akan menemanimu disini seperti biasa. Baik-baiklah eoh?” ujarku sembari mengelus lembut kepala malaikatku ini.
“Ne eomma, arraseo.”

“Anak pintar.” Aku bangkit berdiri lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

Di Seattle ini aku bekerja ke perusahaan appa, tapi setiap hari Sabtu aku selalu bekerja di café milik Yonghwa oppa. Aku hanya menyanyi beberapa lagu saja, dan kadang aku membantu bekerja juga jika pelanggan hari itu banyak. Café Yonghwa oppa ini khusus menjual makanan dan minuman khas korea yang hampir tidak bisa ditemukan di manapun di Seattle.

Aku memberikan tanda oke pada Yonghwa oppa, dan Yonghwa oppa pun bergegas menghampiri Hanna yang tampaknya masih asik memakan ice cream kesukaannya itu.
Aku naik ke atas panggung dan duduk di kursi yang ada d atas sana. Aku membenarkan posisi mike, dan memberi aba-aba pada para pemain music. Yah, aku mengenal mereka juga, karena mereka teman-teman Yonghwa oppa sekaligus pelayan di sini pula.

Lagu yang akan kunyanyikan sekarang ini adalah lagu kesukaanku akhir akhir ini. Aku tidak pernah absen membawakan lagu ini tiap saat aku bernyanyi.

Nothing has ever broken me like you did
No one I ever wanted more than you
Nobody else can make a woman so weak
Make her fall in love so deep Baby

No one has ever known me like you did
There’s just no other boy to see me through
And every single memory I know
Reminds me that I’m all alone, all alone

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Thought I’ve seen enough to know it all
But not enough to know how it feels to fall
But the kind of pain you left me with
It never seems to heal
And it never lets me go

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
If I could walk away as easily as you I Would

Aku melihatnya.. Aku melihat sosoknya, sosok yang begitu kucintai dan begitu ku rindukan. Tapi dia tidak sendiri. Dia bersama dengan nya, dengan istrinya. Aku tidak membenci istrinya, aku hanya… aku hanya tidak sanggup melihat mereka berdua, seperti sekarang.
Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk melarikan diri. Tapi kenapa? Kenapa sekarang dia malah bisa sampai di sini? D tempat ini? Apa ini memang kebetulan? Atau dia memang kesini untuk menemuiku?
Ah, kurasa option terakhir sangatlah tidak mungkin. Mungkin mereka sedang berlibur dan menemukan tempat ini. Ya mungkin saja.
Tapi kenapa jantungku malah berdetk tidak karuan? Aku ingin sekali memeluknya. Aku merindukan sentuhannya…

Tell me how do I live with tainted love?
Tell me how can I feel no feelings?
Is there a way to leave it all behind?

If I could just get over you I would
Don’t wanna love you anymore
And missing you is like fighting a war
It’s a battle I’m losing
And I’d give up boy if I could
Just tell me how to walk away
Away from loving you And I Would

“Kim Hwayeon…”

“Cho Kyuhyun…”

“Appa!!!”

“Jung Yonghwa…”

“Seo Joohyun…”

FIN

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Be Mine~

Tittle    : Be Mine?

Cast     :

Kim Han Bin (B.I Ikon)

Cho Hyo Jin

Other   :

Kim Dong Hyuk ( Donghyuk Ikon)

Genre: romance, NC

Ratt      : NC17!

Author : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Warn   : panen typo, geje, aneh

Anyeong readers!!!!

Author 2 come back dengan Oneshot lagi~~

Dan tentunya NC *smirk*

Author berharap pada menantikan Author 2 ^^

Jadi ini buat kalian semua yang udah mau baca FF Author 2~~

Happy Reading

———————————————————————-

*Hyo Jin POV*

When you love someone just be brave to say

That you want him to be with you

When you hold your love

Dont ever let it go

Or you will your change yo make your dream come true

Ku akhiri nyanyianku di selasar kelas X. Apa kalian berfikir aku sedang bernyanyi di depan banyak orang? Jawabannya salah. Selasar ini sangat sepi karana waktu baru menunjukan pukul 6 pagi. Jadi aku tak perlu khawatir ada yang memergokiku bernyanyi.

“Wah, suaramu ternyata bagus sekali, murid baru.” Suara itu sukses membuatku terkejut.

Aku menatap heran. Jujur ini adalah minggu ketigaku di Top High School, wajar saja jika aku belum begitu mengenal semua orang disini.

“Mianhae. Nuguseyeo?” tanyaku sopan.

“Ah, aku lupa. Kenalkan aku Kim Hanbin. Tapi aku sering dipanggil B.I.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Omona! Tampan sekali..

“Naneun Hyo Jin. Cho Hyo Jin immida. Dari kelas X-4.” Aku membalas jabatan tangannya dan berusaha tersenyum semanis mungkin.

“Aku dari XI- 3. Kelas kita bersebrangan.” Ia masih tersenyum.

GLUP

Dia sunbae ku!!

“Ah, mianhae. Aku tidak mengenalimu, sunbae.” Ucapku sambil membungkukan badanku. Kurang ajar sekali aku.

“Gwaenchana. Panggil aku B.I oppa saja.” Ia mengelus rambutku pelan.

“Ne, B.I sunbae.”

PLAK

Ia menyentil dahiku dengan jarinya.

“Aw, appoyo~”

“Sudah kubilang panggil aku B.I oppa. Jangan pakai sunbae. Itu sedikit menjijikan.” Katanya sambil memasang wajah jijik. Aku terkekeh pelan.

“Baiklah, B.I oppa~” aku mengucapkannya dengan sedikit malu-malu.

“Kau suka bernyanyi? “ tanyanya padaku.

“Nde. Aku suka sekali. Nan norae johayo! Oppa?” kataku antusias.

“Aku tidak bisa bernyanyi tapi aku bisa rapp.” Katanya.

“Wah? Jinjja? Bagaimana kalau kita kolaborasi? Aku menyanyi dan oppa rap? Otte?” aku memberi usul.

“Bukan ide yang buruk. Apa kau tau lagu Me You?” tanyanya.

“Kalau tidak salah itu lagu dari San E feat Yerin 15&?”

“Nde. Kau benar. Kau bisa?”

“Tentu saja!”

“Oke.”

(lirik San E – Yerin)

Wah, dia hebat sekali! Dia mengagumkan!

“Hyo Jin..” ia memanggilku dengan lembut.

“Aku rasa aku ja-”

“Hanbin-ah!!! Aku mencarimu dari tadi!!!”

Sepertinya aku mengenal suara ini. Jangan- jangan dia..

“Eh? Hyo Jin?” tuh kan benar, dia adalah..

“Dong Hyuk oppa? Kenapa ada disini?”

“Kau kenal Dong Hyuk?” tanya B.I oppa.

“Tentu saja, B.I! Dia itu sepupuku yang paling cantik~” Dong Hyuk oppa merangkul pundakku. Ia selalu saja datang disaat yang tidak tepat.

*Author pov *
Semenjak kejadian tersebut, Hanbin selalu memikirkan Hyo jin.
“Dont know what I suppose to do, cant think of anyone else but you, and I regret I’m feeling you, baby i’m in love with you”

Hanbin bersenandung di balkon kamarnya.
Ya,itu adalah tempat kesukaan Hanbin. Sikap Hanbin berubah menjadi jarang makan, selalu tersenyum sendiri. Tak di sangka ada 2 pasang mata yang melihat Hanbin bersenandung. Yah, mereka adalah…
“Chagi,dia sedang jatuh cinta rupanya. Siapa yah kira-kira yang sudah mengambil hati uri Hanbin?” Ucap Mr. Kim yang datang bersama istri nya. Mereka appa dan umma dari Hanbin.

“Aish.. appa!umma! Mengagetkan saja!” Ucap Hanbin.
“Baby, kenapa Kau tidak bilang pada umma kalau Kau sedang jatuh cinta? Kan umma bisa memberimu saran padamu.”kata Kim umma sambil membelai surai hitam Hanbin.
“Mianhae umma. Aku belum sempat bilang sama appa dan umma. Umma, appa. Di sekolahku ada murid baru dia kelas 10. Saat aku datang pagi 2 hari yang lalu, aku tak sengaja mendengar dia bernyanyi dan suaranya sangat indah, kuberanikan diri untuk mengajaknya bicara. Dia selalu tesenyum ramah. Dan senyumannya manis sekali!!!! Tapi diganggu oleh Donghyuk. Dia sepupunya Donghyuk.*pout*” ucap Hanbin kepada appa dan umma nya.
“aigoo.. uri Hanbin sudah besar. Sudah bawa saja dia ke rumah. Kau nyatakan cinta padanya. Appa takin dia tidak akan menolakmu. Lalu, Kau bisa melakukan ‘itu’ bersama dengan nya. Tenang appa dan umma tidak akan menggangu.” Ucap Kim appa dan mendapat respon jitakan dari Kim umma.
“Ya! Chagi! Jangan memberi saran yang aneh-aneh!” Ucap umma. Yah.

“Tapi mungkin itu bisa dicoba. Coba Kau Ajak dia ke rumah. Bawa dia saat Hujan deras. Sehingga dia tidak bisa pulang. Haha..” ucap Kim umma asal. Hanbin berfikir tidak jelek juga rencana appa dan umma.

*Author pov end*
*Hanbin pov*
Aku selalu menunggu Hujan deras datang dan inilah hari yang diberikan Tuhan untukku. Hujan mengguyur kota ini sangat deras dan Hujan ini bermula dari jam 9 pagi. It’s a lucky day! Kring.. kring..

Bel pulang pun berbunyi. Segera kuambil tas dan keluar kelas menuju teras sekolah.

Lucky! Hyo Jin ada disana juga. Dan dia bersama chingu dan Donghyuk.
“Ah, Jinie. Oppa tidak bisa menemanimu hari ini. Oppa ada kerja kelompok. Umma dan appa sedang di luar kota. Mianhae.” Ucap Donghyuk. Berarti umma dan appa Hyo Jin sedang tidak di rumah?

Yes! Rencana umma dan appa emang jjang banget!!!

“Anyeong, ada apa nih?”
“Ah, Hanbin. Bisa kah Kau menemani Hyo Jin? Orang tuanya sedang mengunjungi Eonni-Eonni nya. Keluarga ku sedang di luarkota dan Kau taukan aku harus kerja kelompok dengan Jinhwan hyung.”ucap Donghyuk.
“Ah, tidak perlu oppa. Aku biasa sendirian di rumah kok. Tidak perlu oppa.” Hyo jin terlihat kaget saat Donghyuk menyuruhku untuk menemaninya. Dan tiba-tiba…

Jeder!!!!!

Kilat disusul geluduk datang.
“Aaaa!!!!” Hyo jin reflex memelukku. Oh, ternyata dia takut guntur.
“Itu yang namanya sering sendirian? Guntur saja takut. Nanti kalau Kau Malah memeluk yang lain gimana?”godaku.
“Aish.. oppa!! Jangan menakutiku.” Ucapnya manja. Lucu sekali. Aku sudah tidak kuat untuk memakannya.
“Bagaimana kalau di rumah oppa aja? Ada appa dan umma oppa. Jadi Kau menginap saja. Kebetulan besok sabtu kan? Kapan Orang tua mu pulang?”Tanyaku.

“Hari senin. Hmm.. baiklah aku akan menginap. Tapi hanya satu hari. Sisanya aku akan menginap di rumah Donghyuk oppa.”
“Baiklah. Kajja. Selagi hujannya berhenti.”
“Nde.” Yuhu!!! Aku berhasil. Sebenarnya Donghyuk sudah memperbolehkan aku untuk memiliki Hyo Jin. Dan sebenarnya, Orangtua Donghyuk ada di rumah. Dan Donghyuk tidak ada kerja kelompok. Benar -benar teman yang baik kan?

*skip time*
Kami datang disaat yang Tepat. Setelah kami masuk kedalam rumah, Hujan besar langsung mengguyur.
“Appa,umma. Aku pulang!” Teriak ku saat memasuki rumah.
“Nde. Aigoo, siapa dia? Manis sekali. Apa dia yeojachingumu? Perkenalkan aku ibunya Hanbin.”
“Anyeong, Naneun Cho Hyo Jin immida. Aku hoobae nya  Hanbin oppa.”
“Aigoo… manis sekali.. Tapi lihat kalian basah kuyup begini. Biar umma ambilkan handuk dulu ya. Kalian ke kamar dulu saja.” Kata Kim umma.
“Nde, umma.” Ucapku sambil melepas jaketku dan menggangtungnya.
“Emmmm, oppa. Aku tidur dimana?” tanya Hyo Jin.
“Kau tidur satu kamar denganku. Tenang kita pisah ranjang.kajja.” ucapku lalu mengantarnya ke kamarku.

Well, sebenarnya aku berbohong dan di kamarku hanya ada satu ranjang. Kamarku terbilang rapih dan wangi cowok banget.

“Wah, kamar oppa bersih Sekali.. pasti sudah banyak yeoja yang pernah masuk sini.” Ucap hyo jin.

“Ani. Baru Kau saja yang masuk ke kamar ini.” Ucapku sesantai mungkin. Sebenarnya dari tadi aku sudah menahan nafsuku begitu melihat pakaian hyo jin yang tercetak jelas karna kebasahan. Sungguh membuat celanaku menyempit.
*Hanbin pov end*
*Hyo Jin pov*
Yes.. rencanaku berhasil!!

Aku bisa masuk kamar Hanbin oppa.

Sengaja tadi aku membasahi bajuku dengan air Hujan sehingga pakaian dalamku tercetak jelas. Kulihat Hanbin kecil sudah mulai menampakan diri. Bisa kulihat dari celananya yang tiba-tiba mengembung. Disini akan kupasang image sebagai anak polos.
“Hyo jin, Hanbin! Umma masuk yh?” Teriak Kim umma.

“Aigoo.. Hyo jin Kau basah kuyup!! Liat pakaianmu tembus pandang sekali! Cepat pakai baju ini! Nanti Kau flu. ” Ucap umma nya Hanbin oppa.
“Nde.” Jawabku sambil tersenyum. Hey, tak apa kan kalau mencari perhatian dari calon mertua? Kkk~

Kim umma pun pergi meninggalkan kita berdua lagi. Dan lebih jjang nya Kim umma mengunci kamar nya dari luar.

Dan masalah ganti baju, di kamar Hanbin oppa tidak ada kamar mandi!!!!
” Oppa, dimana aku bisa ganti baju?” Tanyaku pura-pura polos.

“Disini saja.” Jawabnya dingin.
“Mwo?! Shireo! Kan ada oppa! Aku malu!” Kataku sambil membalikan badanku. Ini adalah rencanaku. Apa salahnya jual mahal dulu? Aku tidak ingin terlihat murahan.
“Malu? Apa Kau tidak malu sekarang? Lihat bajumu sangat transparan! Terlihat seperti telanjang dimata namja!”

Hup

Hanbin sudah memelukku dari belakang. Dan lihat rencanaku berhasil. Ia mulai menghisap leherku dan membuat tanda kepemilikannya. Tangan nya yang gatel sudah meremas pelan dadaku. Aku berusaha mendesah sekeras mungkin agar ia melanjutkannya.
“Aish. Emmpt.. ahhh.. oppahh.. nikmatth.. ah!” Aku berteriak karna Hanbin oppa sedang menarik nipple ku kasar. Ia mulai ganas, dan aku suka keganasannya.

Segera kubalikan badanku dan langsung melumat bibirnya. Dia membalas tak kalah kuat dengan lumatanku. Dia mulai mendominasi permainan. Dia menggendongku ala bride style menuju ranjang sedangnya tanpa melepaskan tautan bibir kami. Kami pun sudah terbaring di kasur dengan posisi Hanbin oppa diatas.
“Ah, oppa sangat tidak suka melihat Kau menggunakan seragam ini.” Katanya terengah setelah melepaskan tauran bibir kami.
“Kalau begitu.. lepaskan saja oppa..” Kataku dengan nada manja sambil memainkan jariku di dadanya.
“Wah, ternyata Kau nakal chagi. Dan sepertinya little Hanbin sudah bagun sejak tadi. Karna Kau yang telah membangunkan nya.. ” Hanbin menggantung kalimat nya lalu mendekatkan mulutnya menuju telingaku.
“Play and servis me well,baby” setelah mengucapkan itu, Hanbin mulai menjilati telingaku sesekali menggigit daun telingaku.
“Siapa takut?” Kataku dengan menunjukan muka bad girl ku. Segera kumainkan little Hanbin dan liatlah oppa, Kau akan menikmatinya.

Pasti.
*Hyo Jin pov end*

*Author pov *

Kalau kalian berfikir hari in sangat dingin itu tidak berlaku bagi dua manusia berbeda gender yang sedang saling  menghangatkan badannya satu sama lain dengan sang namja yang sedang mendorong sesuatu yang berada diantara pahanya kearah salah satu hole yang berada di badan sang yeoja.

“Ahh.. O-oppahh.. fas..fasterrr..ngah~” Hyo Jin tidak dapat menahan desahannya karna Hanbin tidak berhenti menyentuh titik terdalamnya yang menimbulkan friksi kenikmatan tiada tara.

“Kau… Ergh! Sempit!Kenapa masih sempit?” Hanbin mengerang nikmat. Ia bingung bagaimana Hyo Jin masih sempit sedangkan ia sudah membobolnya berkali-kali. Ah, tentunya dengan pengaman.

“Ah.. Akh! D-disituh.. sentuh lagihhh.. sshhh…” Hyo Jin menarik kepala Hanbin menuju dadanya. Hanbin mengerti kode yang diberikan Hyo Jin.

Ia pun meneggelamkan kepalanya didada Hyo Jin. Ia menghisap nipple Huyo Jin yang sudah sangat bengkak karna tadi saat foreplay ia sudah memainkannya.

“Iyah.. Seperti ituhh.. lebihhh dalam ahh~ D-deeper~”

Hyo Jin dapat merasakan Hanbin membesar dalam dirinya. Ia pun membantu pergerakan dengan menggerakan badannya berlawanan arah denagn Hanbin sehingga Hanbin dapat menyentuh titik terdalam Hyo Jin lagi tak lupa Hyo Jin memainkan otot kewanitaannya sehingga Hanbin tergenggam erat oleh Hyo Jin.

“Shit! KAu tau saja kalau aku akan klimaks. Baiklah mari kita selesaikan!” Hanbin semakin brutal menggerakkan miliknya. Hyo Jin tak mau kalah.

Sampai kira-kira 10 menit, mereka klimaks sambil menyebutkan nama pasangan mereka.

“Gomawo Hyo Jin. Ini hebat.” Hanbin mencium puncuk kepala Hyo Jin. Hyo Jin hanya mengangguk. Ia sangat kelelahan. Hanbin memeluk Hyo Jin dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Hyo Jin. Dan mereka segera pergi kedunia mimpi.

*skip time*
Sinar matahari menembus tirai jendela Hanbin. Hyo jin yang sedari tadi sudah bangun, sekarang sedang Asik melihat wajah namja yang baru saja mengambil keperawanannya.

Hyo jin merasa wajah Hanbin semakin tampan dan sexy setelah melakukan ‘itu’.

Sebenarnya Hanbin sudah bangun. Tapi ia ingin melihat reaksi hyo jin.

“Jangan melihatku terus. Aku tau aku tampan.” Kata Hanbin mengagetkan Hyo jin.
“Mian oppa.. aku tak se-”
“Mana morning kiss nya?” Ucapan Hyo jin terputus oleh Hanbin.

“Emmmm.. morning kiss kan hanya untuk orang yang pacaran..” kata Hyo jin sambil menundukkan kepalanya.
“Ya! Emang kita gak pacaran?” Ucap Hanbin gemas.
“Oppa belum menyatakan perasaan kepadaku. Kemarin oppa hanya mengambil keperawanan ku saja.” Ucap Hyo jin sambil mempoutkan bibirnya.

“Aigoo.. baiklah.. Hyo Jinie, jadilah yeojachingu ku. Ini perintah! Kalau menolak akan ku masukan lagi little Hanbin.”  Ancam Hanbin. Hey, asal kau tau itu tidak pantas disebut little!
“Apa kalau aku menerima mu Kau tidak akan melakukan itu?” Ucap hyo jin menggoda.
“Tentu saja tidak. Kalau Kau menerimaku akan kugagahi Kau sebanyak-banyaknya sampai little Hanbin tak bisa bangun lagi.”

“Nde. Aku menerimamu. Saranghaeyo oppa” ucapku sambil memberikan morning kiss padanya.
“Emph.. oppah… sudah..” ucap Hyo Jin berusaha melepaskan tautan bibirnya.
“Wae?? Kau tidak suka??” Tanya Hanbin.
“Aku ingin mandi oppa. Badanku lengket karna spermamu. Lihat!” Ucap Hyo jin sambil menunjuk dadanya.
“Mana ?sini oppa pegang.” Tanpa meminta izin Hyo Jin, ia meremas dada Hyo jin lagi.
“Chagi!! Umma bawakan makanan untuk kali-” Kim appa dan Kim umma terpaku melihat Hanbin sedang memangku Hyo jin sambil menghisap nipple Hyo jin.

Sedangkan Hyo jin sedang memainkan milik Hanbin. Hanbin  melihat kedua orang tua nya sedang menganga melihat badan Hyo Jin yang bisa dibilang err… seksi..

Segera Hanbin menutupi badan Hyo Jin dengan selimut dan Hyo jin langsung bersembunyi di balik selimut.

“Mian mengganggu aktivitas kalian… ” ucap Kim umma.

Brakk..

Pintu kamar Hanbin dibanting oleh Kim appa. Sedetik kemudian terdengar suara desahan dari Kim umma dan erangan dari Kim appa. Hanbin dan Hyo jin hanya terkekeh.

“Sepertinya kau akan punya adik baru, oppa.” Kata Hyo Jin disela tertawaannya.

“Mungkin saja. Haha. Jadi bagaimana kalau yang tadi dilanjutkan? Lihatlah! Dia sudah sangat bersemangat.” Hanbin menatap memelas pada Hyo Jin.

Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

Rumah Hanbin dipenuhi oleh suara desahan Kim umma dan Hyo jin. Jangan lupa erangan maut dari Hanbin dan Kim appa.

Oh ya, kalau Kau datang ke rumah nya pasti Kau mencium bau sperma dimana-mana. Pasalnya pasangan Kim appa dan Kim umma ini melakukan nya berkali-kali dan selalu berpindah tempat. Gaul!!

END

Akhirnya selese juga ff nc gagal ini.

Idenya author dapet waktu kejebak Hujan di sekolah author.

Dan kebetulan author adalah murid pindahan.

Semoga kisah ini benar-benar terjadi pada author !!! *ngucapmantra*

Sampai bertemu di ff yg lain..

~Cho Hyo Jin

It’s Okay, It’s Love

Title: It’s Okay, It’s Love

Author: Kim Hwayeon

Genre: Hurt, Romance

Rating: G

Length: Oneshoot

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

find by yourself

 

Warning:

Typo bertebaran

Dislaimer:

Kyuhyun milik Sparkyu, Super Junior, ELF, SME, orangtuanya, dan saya >.< ! Tapi tetap… FF ini mutlak milik saya u.u

Note:

Hola, bertemu agi dengan author 4 yang imut-imut *plak*. Hehehe, tadinya author mau ngepost part3nya I’m in Love, tapi keburu ga mood duluan waktu buka web, eh… gataunya belum ada yang comment, kan sedih T_T. Tapi author seneng deng, ada yang comment di FF author yang lain!! KYA!!! Author terharu chingu, kalo gini kan jadinya merasa di hargain.. ya kan ya kan. Ayo dong comment lagi, kita tunggu comment kalian loh.. Gereget banget kita berempat gara-gara kalian semua nyebelin *pout bibir* Jadi kita tunggu commentnya ya, mohon tinggalkan jejak. Oke, cukup basa basinya. Ini dia ff persembahan author yang lain..

Berhubung author lagi galau hari ini. Jadi author kasih kalian ff lama aja, gapapa ya.. FF ini udah lama mendekam di laptop, tadi cuma author revisi. Karena author lagi galau, jadi mohon maklum kalo cerita ini pendek dan kurang memuaskan. Author revisi FF ini sambil denger lagunya Mandy Moore – Only Hope. Author sampe mewek-mewek gajelas. Padahal FF yang author bikin ga sedih, sedih deng dikit. Hiks hiks, maaf author malah curhat. Maklum, lagi sensi nih hehehe. Yasudah, dibaca ya, jangan bosen-bosen mampir ke sini :3. Pay pay ~^.^~

.

.

.

-o0o-

.

.

.

*Hwa Yeon pov*

Tidak bisakah kau memandangku walau sebentar saja? Apa kau tau bagaimana sakitnya di acuhkan? Aku memang mencintaimu, tapi kesabarankupun ada batasnya. Aku tidak bisa terus-terusan bersabar menunggumu untuk memandangku walau hanya sekejap. Kau tau, aku mulai…lelah…

“Hei, kulihat kau tidak bersemangat hari ini. Gwaencahayo?” kulirik Yoon Hee yang duduk di sampingku. Dia adalah sahabatku sejak SD. Dia selalu mengerti keadaanku tanpa pelu aku beritahu.

Aku tersenyum menenangkan. “Nan gwaenchana. Aku hanya merasa lelah. Kau tau lah apa maksudku.” Aku tau kalau sahabatku itu khawatir, oh tentu saja. Dia jelas jelas mengetahui perasaan cintaku yang salah tempat dan tentu saja bertepuk sebelah tangan. Aku jatuh cinta pada sahabat kecilku dulu. Dia adalah sahabat yang sangat baik, tapi entah karena apa sekarang dia menjadi sedingin es, dia begitu menyebalkan sekarang.Aku merasa tidak lagi mengenalnya yang sekarang… jujur saja aku sangat sakit hati dengan perlakuannya. Aku sangat kecewa.

Aku tersenyum kecil saat melihat Yoon Hee eonni mencibir. Astaga, aku lupa aku berbicara dengan musuh bebuyutan orang yang kusukai. Hiihi “Kau lelah? Kau sudah mengatakan itu ratusan bahkan ribuan kali! Tapi anehnya kau tidak pernah menyerah. Aku tidak habis pikir dengan hatimu dan pikiranmu itu. Jika aku jadi kau, aku akan SEGERA melupakannya. Dia terlalu menyebalkan untuk ukuran seorang namja! Tiba-tiba berubah sikap menjadi raja es kutub, padahal tidak ada angin tidak ada hujan. Cih, seperti yeoja saja! Banci!”

Aku sontak terkekeh saat mendengar ucapannya. YoonHee eonni tidak ada bedanya denganku jika sedang marah. Semua yang ada di otaknya tidak akan disaring terlebih dahulu. Hihii, pabbo.“Kkkkk~ kau selalu menjelek-jelekkannya di depanku kau tau?” sindirku geli.

Aku kembali terkekeh saat melihat Yoon Hee eonni memutar bola matanya malas “Aku tau, dan kau bahkan tidak pernah marah. Aiiigo. Kau benar-benar cinta mati padanya eoh? Menyedihkan sekali kau harus jatuh cinta pada pangeran iblis sepertinya. Ck.”

“Ya! Jangan berbicara seperti itu.”

“Arraseo mianhae kkk~”. Kami tertawa bersama, entah mengetawakan apa. Hah,tapi setidaknya sekarang aku bisa melupakan masalahku sejenak.

Aku tersentak kaget saat Yoon Hee eonni tiba-tiba berteriak. Aish, apa dia tidak bisa nyantai ?“Ah! aku baru ingat. Eun Hye eonni mengundang kita ke acara tunangannya dengan V oppa.” Apa?! Tunangan?! Heeee?! Cepat sekali?! Bukankah mereka baru saja jadian? Wah wah wah, apa V oppa sudah ga tahan ingin ‘itu’ dengan Eunhye eonni? Atau malah EunHye eonni yang tidak tahan? Waduh, mereka mesum sekali. Hahahaha.

“Arraseo. Kapan acaranya?” Sebenarnya aku malas datang ke acara seperti itu. Yah, menyakitkan menurutku. Kenapa? Tentu saja karena aku iri. Aiish! Menyebalkan sekali. Coba saja kalau Eunhye eonni bukan salah satu sahabatku, aku tidak akan mau datang. Malas!

“Minggu depan, di ballroom Elf Hotel. Kau akan datang dengan siapa?” aku mengernyitkan dahi bingung. Datang dengan siapa? Tentu saja aku datang sendiri, memangnya dia pikir aku akan datang dengan siapa lagi?

“Tentu saja sendiri.” Jawabku cepat. Aku ikut mengernyit saat melihat Yoon Hee eonni mengernyit.

“Mwo? Kau yakin? Akan ada acara dansa, kau akan berdansa dengan siapa? Patung?” Wah, kurang ajar memang eonni yang satu ini. Rasanya ingin aku tending! Hiah!

“Aku bisa mengajak Kangin oppa tentu saja. Aku bisa berdansa dengannya.” Jawabku tak peduli. Oh ayolah, ini bukanlah hal penting.

“Ck, terserah kau saja.” Aku hanya tersenyum penuh kemenangan. Hah, tapi kalau dipikir pikir… Aku akan datang dengan siapa ya? Kangin oppa? Oh ayolah, aku bisa-bisa menjadi bahan tertawaan mereka. Haruskan aku mengajak namja lain?

Oh yang benar saja!!! Aku kan yeoja, masa aku harus mengajak namja lain lebih dulu? Gengsi! Tapi, harus bagaimana lagi? Hah, mungkin aku memang harus mengajak namja lain. Tapi siapa ya?

.

-o0o-

.

“Eonni, kyuhyun oppa pergi dengan siapa?” tanyaku pura-pura tak peduli pada Hyo Jin eonni untuk memecah keheningan yang sedari tadi terjalin diantara kami bertiga. Aku mencoba untuk tetap berakting tidak peduli walau aku tau kalau saat ini Yoon Hee eonni sedang menatapku tajam dengan mata bulatnya.

Sekarang ini kami sedang menjalani perawatan di salon bersama Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Ah, aku lupa. Hyo Jin eonni itu sahabatku juga, tapi semenjak masuk kuliah hehe. Dia itu adik dari orang yang ku suka. Kyuhyun, aku suka dengannya dan tentu saja Hyo Jin tidak mengetahui hal itu. Bisa mati jika yeoja itu tau aku menyukai oppanya.

“Dia pergi dengan Seohyeon tentu saja. Ada apa memangnya?” Tentu saja! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal penting seperti itu? Dia pasti pergi dengan kekasihnya… bodohnya aku.. aku memejamkan mataku kuat-kuat saat mataku mulai terasa panas, tapi aku tidak mau menangis. Setidaknya, tidak didepan mereka.

“Ani, hanya penasaran.” Aku berusaha menenangkan diriku. Sialnya, suaraku terdengar bergetar. Tapi untung saja Hyo Jin eonni tidak menyadarinya.

“Lalu eonni pergi dengan siapa?” tanyaku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau membahas tentang Kyuhyun oppa lebih lama lagi, rasanya sakit sekali.

“Aku? Dengan Ricky oppa tentu saja. Aiiigo, aku tidak sabar bertemu dengannya. Padahal semalam kami mengobrol di telvon sampai larut malam.” Aku tersenyum mendengar penuturan Hyo Jin eonni. Wajahnya sangat cerah dan ia terlihat sangat bahagia saat menyampaikannya. Kuharap Ricky oppa benar-benaar membahagiakan HyoJin eonni. Aku ingin seluruh sahabatku berbahagia, walaupun aku tidak.

“Kau pergi dengan siapa Yoon Hee-ah.” Aku ikut menoleh ke arah Yoon Hee eonni. Mukanya terlihat memerah. Dia sedang malu. Kkk~ memangnya dia pergi dengan siapa ya? Bikin penasaran saja!

“Aku pergi dengan Ravi oppa. Kau tau, dia sudah menyatakan perasaannya padaku 3 hari yang lalu.” Jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Lihat lihat! Pipinya sudah semerah tomat, astaga. Hahaha

“Aiiigo, chukkaeyo eonni.” Ucapku tulus. Kalau begini… itu berarti hanya aku satu-satunya yang masih melajang. Hah… Kurasa aku akan tetap melajang sampai beberapa waktu edepan karena sulit sekali rasanya melupakan Kyuhyun oppaa.

“Kau harus secepatnya menyusul Hwa Yeon-ah.” Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Hyo Jin eonni. Ya, aku akan menyusul secepat yang ku bisa… tapi saat aku sudah melupakan oppanya. Hihihi

Selesai perawatan, aku pulang ke rumah sedangkan mereka pergi ke butik milik Yoon Hee eonni. Harusnya aku ikut mereka, tapi aku malas. Lebih baik aku berdan-dan sendiri di rumah. Lagian, ada eomma yang bisa mendan-daniku.

Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Hanya dalam kurun waktu 2 jam aku sudah siap. Eomma mendandaniku dengan kecepatan kilat. Tidak heran sih, eomma kan yeoja.. Rasanya aneh kalau ia tidak bisa berdandan.

Eh…

Tapi tunggu…

Bukankah aku juga yeoja?

Tapi aku tidak bisa berdandan.

Ah yasudahlah, aku akan belajar berdandan nanti saja, saat aku sudah punya pacar. Hehehe

Tin Tin!!

Aku dengan cepat berpamitan pada eomma dan appa saat aku mendengar suara kalakson mobil dari depan rumah. Kurasa aku sudah dijemput. Aku sudah memutuskan untuk pergi dengan Siwon oppa, untung dia berbaik hati mau menemaniku ke acara ini, padahal aku tahu jelas kalau Siwon oppa adalah orang yng sangat sibuk.

Hah, kalau saja aku bertemu dengan Siwon oppa lebih dulu, mungkin aku bisa mencintainya.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Au tersipu saat mendengar pujian Siwon oppa. Issh, tidak kupungkiri, Siwon oppa memang sangat manis. “Gomawo, oppa juga terlihat tampan malam iini.” Kami saling bertatapan sambil melempar senyum, lalu dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Aku merasa sangat canggung berada berdua bersamanya di mobil ini.

Hening

Hening sekali!!! Terlalu hening untukku! “Apa kau keberatan kalau aku menyetel music?”

“Tidak! Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan.” Jawabku cepat, terlalu cepat kurasa. Aku melihatnya tersenyum sekilas lalu menyalakan tape. Suara lembut milik Mandy Moore mulai mengalun memenuhi setiap sudut mobil ini.

There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands
and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
Of Your galaxy dancing and laughing
and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that You have for me over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give You my destiny
I’m giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

[Mandy Moore- Only Hope]

 

 

To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

Ya Tuhan, Apa maksudnya lagu ini? Aku merasa sangat tersindir. Jujur saja, hanya satu yang ingin aku lakukan saat ini.

Menangis!

Benar sekali. Aku ingin menangis saat ini, Aku merasa dadaku sangat sesak.

Aku sudah memberikan semuanya padanya. Seluruh hatiku sudah kuserahkan padanya, karna aku ingin menjadi miliknya. Hanya miliknya.

Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Semuanya hancur. Semua mimpiku hancur, aku bahkan tidak bisa lagi menggenggamnya.

Tes

Tes

Tes

Dengan cepat aku menghapus air mata yang sudah berani-beraninya jatuh ke atas pipiku, sebelum Siwon menyadari kalau aku menangis.

Perjalanan kami selanjutnya ditemani oleh beberapa lagu yang terang saja membuatku semakin galau. “Hei, kita sudah sampai.” Aku tersentak saat tiba-tiba suara Siwon oppa menusuk gendang telingaku. Aku mengangguk kiku lalu melepas seat belt dengan cepat.

Siwon oppa membimbingku keluar dari mobilnya lalu membawaku kedalam ballroom hotel itu. Dan kini, aku sudah berada di ballroom tempat pertunangan itu dilaksanakan. Aku menghela nafas berat. Aku juga menginginkannya, bertunangan lalu menikah, lalu memiliki keluarga kecil. Ah, sungguh indah pasti.

Aku melangkahkan kakiku ke arah Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Mereka sudah bersama dengan pasangan masing-masing. Mereka terlihat cantik dengan gaun yang mereka kenakan. Aku sendiri menggunakan dress berwarna soft pink selutut juga tas dan high heels dengan warna senada. Rambutku kubiarkan tergerai menutupi punggungku.

“Annyeong.” Sapaku pada mereka.

“eoh, Hwa Yeon-ah annyeong. Kau cantik hari ini.” Aku tersenyum canggung. “Omo, Kau Choi Siwon kan? Jadi kau datang bersama gadis ini? Baguslah, kupikir dia akan datang sendiri lalu pulang dengan mewek karena kekasih hatinya datang bersama wanita lain.” Sindir Yoonhee frontal sukses membuat semua yang ada disana tersentak, termasuk aku!

Apa eonni itu gila? Astaga!!!!

“OMO! Apa maksudmu eonni?! Jangan bicara sembarangan!” desisku sebal. Aku bisa melihat tatapan penuh tanda tanya yang dilayangkan Siwon oppa untukku, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikannya.

“Would you dance with me?” kulihat ricky oppa mengajak Hyo jin eonni berdansa, begitu juga dengan Ravi oppa. Ah, mereka pasti bahagia. Ah, aku bosan. Siwon oppa juga malah sibuk dengan kolega bisnisnya. Huh! Dasar mesin pencetak uang! Kerja mulu dimana-mana. Menyebalkan sekali!

Kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Aku menuju balkon yang ada di pojok ruangan. Aku berjalan mendekati pagar pembatas.

Aku merasa rileks di sini. Aku mengamati bintang yang tengah bersinar di langit malam ini. Aku memejamkan mataku membiarkan udara malam membelai kulit tubuhku. Gaun yang kukenakan sedikit terbuka malam ini. Aku menggigil, mulai merasa kedingingan. Tapi aku tidak ingin masuk.

“Kau kedinginan. Lebih baik kau masuk.” Aku menoleh saat mendengar suara yang begitu ku rindukan. Ia menyodorkan jasnya padaku.

“pakailah.” Aku menerimanya lalu menyampirkannya di bahuku.

“Gomawo.” Ia hanya bergumam pelan. Aku tau, dia tidak ingin berada di dekatku. Aku memejamkan mataku, mencoba menenangkan perasaanku. Rasanya sakit sekali ketika ia bersikap dingin seperti ini, tapi setidaknya ia sudah perhatian. Itu lebih dari cukup untukku.

“lebih baik aku masuk.” Baru saja aku berbalik, aku merasakan dia memelukku dari belakang, menahanku untuk kembali melangkah. Aku terhenti, membeku. Apa yang dia lakukan? Apa dia tidak takut kelihatan oleh kekasihnya?

“jangan pergi. Jangan menghindariku. Jangan. Jangan pernah lakukan hal itu.” Aku mengernyit bingung. Apa maksudnya? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu? Dia yang selalu menghindariku, bukan sebaliknya.

“Apa maksudmu? Bukankah kau yang bersikap seperti itu? Kau yang menjauhiku” entah kenapa suara yang keluar terdengar begitu lirih, nyaris seperti berbisik. Jangan lupa, suaraku juga terdengar bergetar. Oh my.

“Ani, kau menghindariku seminggu ini. Kau bahkan tidak mau menatapku. Kau selalu mengalihkan pandanganmu saat mata kita bertemu. Kau selalu menunduk saat berjalan melewatiku. Aku bahkan melihatmu berbalik menghindariku saat kau melihatku dari kejauhan. Jangan lakukan hal itu lagi. Aku merasa.. sakit. Sakit sekali” Aku merasakan pelukannya semakin erat. Aku masih tidak mengerti apa maunya. Kenapa dia mempermasalahkan hal itu? Bukankah seharusnya dia senang kalau aku tidak mengganggunya lagi? Dia jadi bebas berhubungan dengan kekasihnya itu tanpa perlu memikirkanku kan?

“jangan mempermainkanku. Kau tau, aku sudah lelah. Aku tidak mengerti kenapa sikapmu bisa berubah drastis. Sudah 8 tahun lebih aku menyukaimu, tapi kau malah memandangku seolah aku itu sampah semenjak kau mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Kau berubah. Kau bukan Kyunieku yang manis. Kau berbeda sekarang. Aku tidak mengenalmu yang sekarang kyu.” Aku memejamkan mataku saat dengan lancangnya air mataku keluar.

“aku.. mianhae. Aku juga tidak mengerti kenapa aku menghindarimu. Aku mencintaimu, tapi aku takut. Kita tidak seharusnya saling mencintai. Kau tau, aku sangat menyayangimu. Aku takut kau hanya menyayangiku sebagai seorang sahabat. Aku takut kau akan menjauhiku saat kau mengethui kenyataan kalau aku mencintaimu semenjak dulu. Aku tidak tau semenjak kapan aku mencintaimu, tapi aku tidak pernah lagi memandangmu sebagai seorang sahabat, adik kecilku yang manja. Aku selalu memandangmu sebagai seorang yeoja manis, dan aku ingin memilikimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku, minta maaf atas sikapku selama ini. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu. Beberapa bulan tanpa kehadiranmu membuatku mati rasa, aku benar-benar membutuhkan sosokmu disisiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini padaku. Kumohon jangan membenciku, jangan menghindariku, jadilah milikku, kumohon.”

“lalu bagaimana dengan Seohyeon? Ukankah kalian sepasang kekasih? Kumohon Kyu, jangan mempermainkan perasaan wanita seperti ini. Kau tau, rasanya sangat menyakitkan dipermainkan seperti ini” aku merasakan dadaku sesak saat mengingat hbungan mereka. Aku tidak bisa merusak hubungan mereka. Aku tidak mau menjadi orang jahat. Tidak mau!

“Apa maksudmu? aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Dia sepupu jauhku. Dia bahkan sudah punya tunangan! Bagaimana mungkin kau menganggap aku berpacaran dengannya. Ya Tuhan!! Aku mencintaimu!! Tidak mungkin aku bisa berhubungan dengan yeoja lain selain dirimu. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku tidak bisa berpaling darimu barang sedetik.” Aku tersentak kaget saat mendengaran pekikan Kyuhyun oppa . Jadi dia tidak berpacaran dengan Seohyeon? Jadi selama ini hanya salah paham? Tapi… tapi… tetap saja! Dia bersikap dingin padaku! Aku membencinya! Pokoknya aku membencinya!! Hueeeee, aku ingin pulang!

“A-aku…”

“komohon..” aku memejamkan mataku erat. Lidahku terasa kelu. Eotteokhae?

“Mianhae.. semuanya sudah terlambat oppa.” Aku melepaskan pelukannya perlahan. Memakaikan jasnya kembali. Bisa kulihat ada gurat kesedihan di matanya.

“Hwa Yeon-ah..” Aku memjamkan mataku kembali, mencoba memantapkan hatiku.

“Mianhae oppa. Tapi aku tidak bisa. Jeongmal mianhaeyo. Tapi, aku benar-benar mencintaimu oppa. Jangan ragukan perasaanku. Jeongmalyo. Tapi kurasa, semuanya harus berakhir oppa. Annyeong.” Kulangkahkan kakiku keluar ballroom. Pikiranku kalut. Aku merasa bingung. Aku putuskan untuk langsung pulang setelah berpamitan dengan eonni-eonniku dan Siwon… ah entahlah, toh aku tidak menemukannya dimanapun tadi. Aku mengurung diriku di kamar sesampainya aku dirumah. Aku ingin menenangkan diriku.

.

-o0o-

.

Sudah beberapa hari aku hanya mengurung diriku di kamar. Aku mematikan ponselku. Aku juga bolos kuliah. Aku hanya keluar jika aku harus makan. Aku sudah merasa cukup baikan, tapi ada perasaan khawatir yang entah kenapa bersemayam diotakku sejak beberapa hari yang lalu dan jujur saja membuatku tidak tenang.

Kunyalakan hpku. Ada banyak sekali pesan masuk dari eonniku dan juga kyuhyun oppa.

Aku membaca seluruh pesan mereka yang isinya hanya seputar kenapa aku tidak bisa dihubungi, ada apa denganku, apa aku baik-baik saja, dan yang terakhir… Ada pesan dari HyoJin eonni tentang Kyuhyun oppa. Dan aku benar-benar dibuat kaget saat membacanya.

Hwa Yeon ah. Kumohon kemarilah. Kyuhyun oppa menjadi sangat kacau semenjak kau menolaknya. Aku sudah mengetahui semuanya. Seluruh permasalah kalian, seluruhperasaan kalian. Aku sudah mengetahuinya. Karena itu, Kumohon datanglah kemari, selamatkan oppa, Ia sudah terlihat seperti mayat hidup saat ini. Kumohon datanglah Kyuhyun oppa membutuhkanmu. Bantu aku… Bantu oppaku… Kau membunuhnya secara perlahan jika begini Hwayeon-ah. Dia serius mencintaimu, aku tau itu. Dia bahkan berusaha membunuh dirinya dengan menyayat lengannya. Kumohon jangan tutup hatimu untuknya. Aku tunggu kedatanganmu, saeng. Kumohon…Dia membutuhkanmu…

Air mataku mengalir. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada kyuhyun? Apa dia baik-baik saja? Aku merasakan dadaku sesak saat berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalaku. Secepat mungkin aku pergi ke rumah Hyo Jin eonni. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung melesat ke kamar kyuhyun oppa.

Aku sudah sampai di depan kamarnya. Aku mencoba membuka pintunya, tapi ternyata terkunci. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Kuketuk pintunya perlahan.

“Oppa, bukalah. Aku Hwa Yeon.” Tak lama, pintu itu terbuka. Hatiku seperti teriris melihatnya kacau. Rambut berantakan, tubuhnya kurus, mukanya kusut, matanya.. matanya terlihat sangat kelam. Lingkaran hitam sudah bersemayam di atas kedua belah matanya, dan bau alcohol menyeruak dari tubuhnya. Aku tidak tahan.

“Oppa. Hiks..” ia mendekapku erat. Aku balas memeluknya. Aku tidak bisa berhenti menangis. Ia seperti ini karenaku. Semuanya karena diriku.

“sttt.. uljima.” Tangisku berubah semakin kencang. Bagaimana bisa dia menyuruhku jangan menangis? Lihatlah dirinya. Benar-benar tak terurus dan itu semua karnaku.

“Hikss.. mianhae oppa. Saranghae. Hikss. Jangan sakiti dirimu sendiri oppa. Kau membuatku khawatir. Hikss.” Bisa kurasakan kalau pelukannya semakin erat.

“Mianhae. Oppa tidak akan seperti ini jika kau tak meninggalkanku sayang. Kau tidak tau betapa hancurnya hatiku saat tau kalau kau telah menutup hatimu untukku. Rasanya seperti ingin mati saja.” Uuugh, ternyata dia benar-benar mencintaiku. bodohnya aku sempat menolaknya.

“Mianhae. Hikss. Aku tidak akan meninggalkan oppa lagi. Aku janji.” Ia melepaskan pelukanku, merengkuh pipiku membuatku mendongan menatapnya.

“benarkah?” aku mengangguk. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum.

“Saranghae.”

“nado.” Kupejamkan mataku saat kurasakan bibirnya mendarat bebas di atas bibirku. Ternyata, sekuat apapun aku berusaha.. aku tetap tidak bisa terlepas darimu.. pada akhirnya aku tetap kembali padamu.. harusnya aku sadar, dari awal aku memang tidak pernah bisa berpaling dari dirimu. Dari awal, sampai sekarang. Tidak pernah ada orang lain yang menggantikanmu. Kau akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir… dihatiku.

-END-

Crazy Idea~

Tittle : Crazy idea~

Cast  :

Cho Hyo Jin

Jung  Yonghwa (Yonghwa CN Blue)

Other :

Park Eun Hye

Jung Yoon Hee

Kim Hwa Yeon

Cho Kyuhyun

Genre        : romance, school life , smut

Ratt   : G

Author       : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~

Anyeong readers!!!!

Author bawa cerita tentang Yonghwa oppa~

Entah kenapa otak yadong Auhtor sedang berjalan lancar tanpa buffering..

Jadi yah, FF-nya ceritanya G tapi ada smut nya sedikit hehe…

Makasih yang udah mau baca FF nista dari Author 2*terharu*

Author tau ini sedikit(mungkin banyak) mainstream tapi ini yang bisa Author berikan *jijik*

Oh ya, Author nyelipin lagu Amber feat Eric Nam yang Just Wanna karna so sweet banget liriknya^^

Coba dengerin lagu itu sambil baca FF ini pasti.. gak nyambung hha~

Yah, lebih baik kita mulai ceritanya..

Happy reading!!!!

———————————————————————————-

‘Kau tidak usah bernyanyi, desahanmu sudah sangat merdu ditelingaku~’ –Yonghwa-

.

“Ya! Jung Yonghwa!! Kau harus bertanggung jawab,eoh!!!” suara melengking itu datang dari ketiga  yeoja yang baru memasuki suatu kamar dengan wajah shock. Sangat berbeda dengan seorang namja dibelakangnya. Terlihat sang namja yang tersenyum bangga. Suaranya sampai membangunkan kedua insan yang tadinya masih terlelap dengan damai.

“K-kalian..” Sang yeoja tergagap melihat teman-temannya menatap garang padanya.

“Sudah bangun, Cho Hyo Jin?” tanya Kyuhyun dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. Yah, nama yeoja itu Hyo Jin. Dan namja di sebelahnya pasti kalian sudah tau karana disebut diawal cerita. Ya, Yonghwa.

“T-tenang.. aku bisa jelaskan ini.” Entah sejak kapan Yonghwa sudah bangun. Ia mengambil nafas dalam lalu berkata,

“Sebenarnya….”

*Flashback on*

Hyo Jin merasa sedih karna keadaannya sekarang ini. Ia sedang sakit tenggorokan sehingga ia tidak mencapai nada tinggi saat berlatih menyanyi tadi. Akhirnya Hyo Jin sampai di apartementnya. Yah, ini adalah apartementnya bersama tiga sahabatnya.

“Hyo Jin-ah~” panggil Yonghwa yang merupakan senior dan oppa dari salah satu sahabatnya, Yoon Hee.

“Waeyo, oppa?” tanya Hyo Jin sambil menutupi suara seraknya.

“Kau sudah tau tentang konser universitas kita?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Belum. Memang kenapa?”

“Kita akan bernyanyi bersama. Ini lagu yang akan kita bawakan.” Yonghwa mengulurkan tangannya untuk memberi partitur lagu yang akan mereka bawakan.

“Omona~ ini lagu Just Wanna? Aku suka sekali lagu ini!! Neomu joha~~” Hyo Jin berteriak sehingga suara seraknya terdengar Yonghwa.

“Hyo Jin, gwaenchana?”

“Sebenarnya aku sedang sakit tenggorokan. Bisakah oppa membantuku?” Hyo Jin menggunakan puppy eyesnya.

Andai ia tau kalau Yonghwa sudah tidak tahan untuk tidak ‘memakan’nya. Sebenarnya ia sudah memendam perasaan suka pada Hyo Jin sejak kecil. Mereka bertiga- Yonghwa,Yoon Hee, dan Hyo Jin- merupakan teman kecil.

Cling(?)

Kalau ini cartoon pasti sudah terlihat lampu yang bersinar diatas kepala Yonghwa.

“Aku tau bagaimana menghilangkan suara serak itu. ini semua karna kau jarang pemanasan. Kajja aku akan mengajarimu pemanasan suara yang benar. “ Yonghwa menarik tangan Hyo Jin kedalam kamar Hyo Jin.

“Benarkah? Oppa baik sekali. Aku harus bagaimana?” Hyo Jin berkata dengan polos. Ia tak sadar bahwa ada yang sedang mengincar tetesan darah keperawanannya. –ini bukan horror-

“Yoon Hee, Hwa Yeon dan Eun Hye mana?” tanya Yonghwa.

“Eh? Eun Hye sedang ada kelas, sedangkan maknae pabbo itu sedang jalan dengan Kyu oppa.Yoon Hee sedang ada penelitian kan? Kau ini aneh sekali. Kau kan oppa nya Yoon Hee.” kata Hyo Jin.

“Aigo, aku lupa. Kapan mereka akan kembali?” tanya Yonghwa.

“Molla~ tapi kata mereka mungkin besok siang mereka sudah datang.” Jawab Hyo Jin polos.

“Baiklah. Ini akan mudah dilakukan.” Bisik Yonghwa.

“Mudah? Memang kita kan apa?” Sayang sekali Hyo Jin tidak menyadari adanya bahaya yang mengincarnya.

“Mudah saja. Kita nyanyikan lagu itu dengan posisi kau dipangkuanku. “ Yonghwa duduk di sofa panjang itu. Hyo Jin masih terdiam.

“Apa itu bisa membuat suaraku kembali?” ia menatap tak percaya pada Yonghwa.

“Tentu. Kalau kau tidak percaya, kita buktikan saja.”

Hyo Jin duduk dipangkuan Yonghwa dengan posisi saling berhadapan. Awalnya ia merasa sedikit merasa aneh. Namun, demi suaranya ia rela.

“Baik. Akan kumulai. “ Music minus one itu terdengar dari handphone Yonghwa. Yonghwa menarik nafasnya lalu bernyanyi sambil menatap Hyo Jin lekat. Ia ingin setiap lirik yang ia ucapkan tersampaikan pada Hyo Jin.

When I first walked in the room

I saw your face

Baby girl i was so amazed

I caught you smilling back at me

But i didn’t know what to say

Ia bernyanyi sambil menyentuh wajah Hyo Jin. Hyo Jin yang terlena akan sentuhan Yonghwa hanya memejamkan matanya. Tangan Yonghwa mulai bergerak nakal.

Sekarang giliran Hyo Jin yang bernyanyi. Ia menatap Yonghwa. Sebenarnya ia sudah menyukai Yonghwa sejak kecil juga. Mereka ternyata saling mengejar.

Sama seperti Yonghwa ia ingin Yonghwa tau kalau ia sangat mencintainya.

Hey now baby boy

Don’t you know

I’m ready for you,you,you

Now boy what you gonna do

Yonghwa menangkap pesan dari Hyo Jin. Ia membelai rambut Hyo Jin.

(Eric Nam )Cause i know you the one i’ve been searching for

(Amber)I know with you my life means more

(Eric Nam)I wish i could say these things to you

(Amber) Come here baby boy let me listen to you

Tak hanya suara mereka yang beradu. Mata mereka saling beradu. Melemparkan tatapan sayang satu sama lain. Entah kenapa mereka baru sadar jika mereka sudah tidak menggunakan sehelai baju. Rona merah mulai menjalar di kedua pipi Hyo Jin. Yonghwa mengangkat wajah Hyo Jin. Memandangnya intens.

I just wanna love you

Give me that chance wanna hold

Baby you know that i need you i need you

And i’m wondering all the time

Yonghwa menyanyikan itu sambil terus mengusap pipi Hyo Jin. Hyo Jin tersenyum dan membalasnya dengan nyanyiannya

If you love come on over get to know me

Baby cause i know you need me, you need me

And i want you in my life

Hyo Jin memeluk Yonghwa. Yonghwa melepaskan pelukannya dan mematikan lagu dari handphonenya.

“Hyo Jin, saranghae.”

“Nado saranghae, Yonghwa oppa”

“Can i?” Yonghwa menghirup

“Sure. I’m yours.”

“Thanks.”

Ciuman pun bisa dilewatkan pasangan ini. Memang awalnya hayna sebuah frech kiss biasa. namun semakin lama semakin menuntut  sehingga Yonghwa sudah berada diatas Hyo Jin dengan tangan yang berkeliaran liar.

Hyo Jin menimatinya. Ia disentuh oleh orang yang ia pikir tidak dapat ia dapatkan. Seorang Jung Yonghwa.

Tinggalah desahan- desahan yang menemani mereka.

 *Flashback off*

“Aish, jinjja! Solusi macam apa itu sebagai calon dokter itu tidak masuk akal!” teriak Yoon Hee. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya.

“Jinjja.. Hyo Jin eonni, neon jongmal pabboya!!!” Hwa Yeon memukul kepala Hyo Jin.

“Aw.. Appoyo~ tapi itu berhasil. Buktinya suaraku sudah tidak serak lagi!” Hyo Jin mengelus kepalanya. Lalu Yonghwa mencium pucuk kepala Hyo Jin dengan lembut yang berakibat banyaknya decihan dari keempat orang yang berada disitu.

“Bisakah kalian tidak pamer kemesraan? Kau tau kan disini ada yang ehemjombloehem.” Kyuhyun mengecilkan suaranya di akhir kalimat. Yah, ia sedang mengejek Eun Hye.  Sedangkan yang diejek hanya mengerjapkan matanya polos hingga..

PLUK

“Ya!! Oppa !!! Sini kau!! Akan kupotong kecil-kecil kau!!”  Jurus tenaga kuda Eun Hye pun keluar. Yah, itu kata yang paling cocok. Tenaga kuda.

“Ya, sudah hentikan dulu! Kenapa kau polos sekali,eoh? Aku saja langsung tau kalau kau akan berakhir di ranjang saat mendengar cerita Yonghwa.” Hwa Yeon bertanya.

“Itu semua karna aku masih polos. Tidak sepertimu! Kau sudah tercemar dari Oppa pabboku! Kau itu pelupa tapi untuk urusan yadong tak pernah lupa! Kalian adalah pasangan yadong!!” Hyo Jin berkata.

Yah, Hwa Yeon sudah sekitar dua tahun berpacaran dengan Kyuhyun. Yang merupakan oppa dari Hyo Jin.

“Memang kau tidak yadong? “ Yoon Hee menatap Hyo Jin dengan tatapan meremehkan. Hyo Jin merasakan kalau akan ada yang terjadi padanya.

“Lalu ini apa?!” Yoon Hee membuka laptop Hyo Jin dan membuka folder yang tertulis ‘Innocent’. Dan omona!! Itu folder yang berisikan video yadong! Yonghwa hanya tekaget melihatnya.

“Pantas saja kau terlihat sangat ahli saat women on top.” Yonghwa menggoda Hyo Jin. Wajah Hyo Jin memerah.

“Ya! Kau membongkar aibku!” Hyo Jin memukul kapala Yoon Hee.

“Aw~ Siapa suruh kau bermasturbasi setiap malam sambil memanggil oppaku, eoh?” Yoon Hee semakin memojokan Hyo Jin.

“Wah? Jinjjayo?” Eun Hye berpekik kaget.

“Ne! Berisik sekali! Aku bahkan merekamnya. Dengarkan ini!”

Yoon Hee membuka handphonenya dan memutar rekaman suara Hyo Jin.

“ehmm.. ahhh.. ssh.. lebih.. moreh.. deeper,, akh! Disith~ yah, disituh.. Akh, Yonghwa oppa.. Shh~ Ahh.. F-faster.. like that~ ah~ Aku hampir,.. sampaih.. Ahh..ah.. Ah.. oppa!~ Ahh~ Feels good~”

Rekaman itu selesai. Yonghwa yang sedang menahan ‘adik’nya yang hendak bangun mendengar suara Hyo Jin.

“Aigoo~ ternyata kau juga nakal, Jinie~” panggil Kyuhyun.  Hyo Jin? Ia sedang berusaha menutupi rona merah pipinya di dada Yonghwa.

Saat hendak memarahi Yoon Hee lagi, tiba-tiba..

KRINGG KRINGGG

“Omo! Ravi Oppa! Yeoboseyo!! Oppa~” Yoon Hee segera keluar kamar dengan bahagia. Hyo Jin hanya mengutuk Ravi yang menelpon Yoon Hee disaat yang tidak tepat-baginya-

FYI, Ravi itu adalah namjachingu Yoon Hee yang sekarang berada di Amerika karna perjalanan bisnis. Dan merupakan sepupu dari Hwa Yeon.

“Chagi, apa kau mau ‘olahraga’ pagi?” tanya Kyuhyun sambil menaik turunkan alisnya itu. Hwa Yeon memukul manja lengan Kyuhyun dan langsung menari Kyuhyun ke kamar mereka-kamar Hwa Yeon lebih tepatnya-

“Eun Hye-ah, kau tidak keluar?” tanya Yonghwa sambil menatap Eun Hye yang sudah badmood.

“Kalau aku keluar kalian akan melakukan lagi kan? Daripada aku frustasi di kamar lebih baik aku melihat secara live saja. Tak usah malu-malu.” Eun Hye menyamankan duduknya.

“Kau tau saja. Aku sudah sangat hard mendengar desahan Hyo Jin tadi. Ternyata desahannya memang lebih merdu daripada suaranya.” Yonghwa menggoda Hyo Jin.

“Oppa~ jangan begitu aku malu” Hyo Jin makin memeluk Yonghwa.

“Jadi kau mau nonton live? Boleh saja. Mari kita beri pertunjukan yang hebat unutk Eun Hye! ”  Yonghwa tersenyum. Berbeda dengan Hyo Jin.

“Andwae!! Ah~” Teriakan Hyo Jin berubah menjadi desahan saat Yonghwa memainkan nipple Hyo Jin.

“Akh!! Aku tak sanggup!!” Eun Hye sudah berlari terbirit-birit menuju luar rumah. Kamar ini bukan tempat yang aman untuknya dan juga otak polosnya.

Hyo Jin dengan Yonghwa , Kyuhyun dan Hwa Yeon yang sama berisiknya dengan Hyo Jin.

Eun Hye pergi mengungsi ke kamar Yoon Hee. Dan itu adalah pilihan yang sangat sangat tidak tepat.

“Yoon Hee, aku ingin disini dulu. Aku tidak betah dengan desahan dua couple itu. Mereka berisik sekali.. kau tau? Mereka bahkan menunjukan sec-“

Eun Hye menatap keadaan sekelilingnya.

  1. Cairan yang entah apa dan darimana
  2. Yoon Hee yang tertidur dengan nafas yang tidak teratur
  3. Sebuah alat yang tertanam di’dalam’ Yoon Hee.
  4. Desahan dari Yoon Hee

Dari ciri-ciri diatas En Hye langsung keluar dari kamar itu menuju luar rumah. Tetap dengan teriakannya.

“AAAAA!!!!!”

Ternyata Yoon Hee sedang..

.

.

.

melakukan phone sex…..

Mirisnya hidup Eun Hye.

BRUK

“Mianhae. Aku tidak melihatmu tadi.” Seorang namja membantu Eun Hye bangun. Eun Hye menatap namja itu sampai tidak berkedip.

“Kau tidak apa-apa, Agasshi?” tanya namja itu khawatir.

“Gwaenchanayo. Bolehkah kutau namamu?” Eun Hye merasa jantungnya berdegup dengan cepat saat melihat namja ini.

“Tentu. Ini kartu namaku. Disitu ada nomer handphoneku. Senang mengenalmu…”

“Eun Hye. Park Eun Hye.”  Jawab Eun Hye antusias.

“Baiklah, Eun Hye. Aku harus pergi. Aku tunggu telponmu^^” namja itu meninggalkan Eun Hye yang masih tersenyum dan tak bisa tau harus bagaimana.

“Apa ini yang namanya jatuh cinta? Aku? Jatuh cinta? Yay~~~~” Eun Hye berteriak di tengah jalan.  Ia melihat kartu nama itu. ia mengeja namanya.

“ Kim.. Tae..hyung, Kim Taehyung!!! Kau akan jadi milikku!!” Teriak Eun Hye.

Tanpa Eun Hye sadari, ada lima orang yang sedang melihat tingkah bodohnya itu.

“Sepertinya karna ini lah  Eun Hye eonni  tidak boleh jatuh cinta.”- Yoon Hee

“Itu Eun Hye eonni? Eh? Eun Hye eonni itu siapa?”-Hwa Yeon

“Neon nuguya?  Nan molla~”-Hyo Jin.

Kita tinggalkan saja Eun Hye bergila ria.

END

Bagaimana? Rame gak?

Comment sama likenya diharapkan nih^^

Gomawo yang nyempetin baca FF ini

Sampai ketemu di FF selanjutnya^^

~Cho Hyo Jin

My Lovely Boyfriend

Title: My Lovely Boyfriend

Author: Kim Hwayeon

Genre: Romance

Rating: NC-21

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

Others suju member.

 

Warning:

Bagi yang otaknya masih polos dianjurkan untuk tidak membacanya.Typo bertebaran.

Disclaimer:

Kyuhyun milik Sparkyu, Suju, SME, ELF, orangtuanya, dan Tuhan YME. Saya hanya pinjam nama. Engga juga deng, Kyuhyun milik saya. Hehehe >.<

FF ini mutlak milik saya, semuanya berasal dari otak saya. Jadi dilarang copy paste kalo masih mau hidup. Arrachi? *nyengir setan*

Note:

Okeh, ini dia… berhubung author lagi sedih banget, jadi author menghibur kalian dengan FF ini aja oke? Jangan marah kali jelek yah… mood author lagi kacau balau nih.. hiks hiks, author sedih chinguya T_T

Jangan bosen yah… selamat menikmati.

Bagi yang ga kuat baca ff NC, langsung tekan tombol back saja wokeh. Happy reading ^^

.

.

-o0o-

.

.

Mata Hwayeon terus terpaku pada sebuah benda kotak berwarna hitam. Kerap kali yeoja itu mencebik bibirnya kesal dan menggerutu pelan. Sepertinya gadis itu sedang kesal. “Cih, namja sialan itu berani menggantungkanku seperti ini selama 1 bulan heh? Namja itu cari mati rupanya. Lihat saja, aku tidak akan memberinya jatah lagi selamanya.”

Gadis itu terus menggerutu tanpa mengindahkan tatapan aneh para pengunjung café yang tertuju padanya. “Kenapa dia mau-mau saja sih digandeng seperti itu oleh yeoja jadi-jadian itu? Aish, menyebalkan sekali. Aaah eotteokhae. Aku merindukannya hiks.” Gadis itu kemudian mulai terisak kecil. Hidungnya sudah memerah, begitu juga dengan matanya.

Beberapa namja yang berada di café itu hanya bisa menelan saliva mereka dengan kelu. Kenapa? Oh oh. Lihat saja Hwayeon yang sedari tadi terus mengeluarkan aegyonya. Dan lagi, sekarang bibirnya mengerucut imut dengan pipi menggembung, ck.

Gadis itu terus terpaku pada kegiatannya menatap benda kotak berwarna hitam yang sudah dia pandangi dari tadi, tanpa menyadari seorang namja dengan hoodie hitam menghampirinya dengan tergesa-gesa.

Namja itu berbadan kurus, well…sedikit berisi. Rambutnya yang berwarna coklat hazel ditutupi oleh topi hitam, dan jangan lupa. Nama itu juga memakai masker. Namja itu terus berjalan lurus kearah Hwayeon lalu tiba-tiba menarik hwayeon kedalam pelukannya.

Hwayeon yang kaget tentu saja berontak. “Yah ahjussi! Jangan macam-macam ya! Lepas!!” pekik Hwayeon takut.Namja itu tidak bergeming, namja itu malah semakin mengeratkan pelukannya dan melesakkan kepalanya kedalam ceruk leher Hwayeon yang ketakutan. “Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanmu.” Ujar namja itu lirih dengan suara parau.

Hwayeon terdiam. Sekarang ia tau dengan jelas siapa yang tngah memeluknya dan mengagetkannya tadi, karena ia mengenali suaranya. Suara orang yang begitu dicintainya, suara kekasih hatinya, Cho Kyuhyun.

Pasrah, akhirnya Hwayeon melingkarkan tangannya melingkari pinggang Kyuhyun, kemudian ia menyenderkan tubuhnya pada namja itu tanpa memperdulikan tatapan aneh para pengunjung yang tertuju pada mereka berdua.

Seakan mengerti keadaan sekitar, Kyuhyun melepaskan pelukannya dari tubuh Hwayeon, lalu membawa Hwayeon keluar dari café itu dengan cepat. “Ahjumma, aku bawa gadis ini pulang oke. Gomawoyo.”ujar Kyuhyun sambil lalu.

Hwayeon mengikuti Kyuhyun keluar café dalam diam. Ia sama sekali tidak protes karena pada kenyataannya, ia begitu merindukan namja yang saat ini tengah menyeretnya kedalam mobil-ah ani, van miliknya.

Hwayeon masuk kedalam van dengan patuh, dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada beberapa member suju disana. “Huaaaa, bogoshipo chagiya.” Hwayeon tiba-tiba saja sudah berada di dalam pelukan Kangin, Leeteuk dan Heechul. Kyuhyun mendesis geram, tidak suka melihat kekasih tercintanya dipeluk-peluk oleh orang lain. Walaupun ia tau, mereka adalah bagian dari keluarganya sendiri.

“Uaaaa, nado bogoshipoyo oppadeul. Kalian menghilang tanpa kabar selama sebulan.”ujar Hwayeon sambil menekankan kata ‘sebulan’, bermaksud menyindir seseorang.

Kyuhyun meringis saat merasa dialah yang dimaksud Hwayeon. Member lain hanya cengengesan tak jelas membuat Hwayeon jengkel. “Ah baby, malam ini kau menginap di dorm kan? Oppa merindukanmu. Tidur bersama oppa ne malam ini?” ujar Heechul memecah keheningan.

Kyuhyun yang mendengar ucapan Heechul sontak menoleh jengkel. “Apa maksudmu hyung? Tentu saja Hwayeon akan tidur denganku.” Bantah Kyuhyun tak terima.

Heechul menatap Kyuhyun datar, Kyuhyun balas menatap Heechul tak kalah datar. Member lain melihat kelakuan mereka dengan salah satu alis terangkat. “Dari pada kalian rebutan, lebih baik Hwayeon tidur bersamaku saja dirumahku, Bagaimana? Setuju kan?” Celetuk Siwon tak tau diri.

Tak tanggung-tanggung. Kini semua yang ada di dalam van menyipitkan matanya sambil menatap Siwon dengan pandangan mematikan. Siwon yang merasa tercancam hanya bisa mengerjap gugup. “Ohehehehe, a-aku kan hanya bercanda. Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mungkin tidur bersama Hwayeon kok, itu kan dosa…blablabla”

Setelah hampir setengah jam mereka mendengar ocehan Siwon tentang dosa dan lainnya, mereka akhirnya sampai di dorm. Mereka bergegas keluar dari van kemudian masuk kedalam apartemen.

Dengan sigap mereka masuk kedalm lift, sebelum mereka dikenali para ELF, dan membuat geger apartemen. Leeteuk selaku yang paling tua, dengan tau diri menyentuh tombol lantai 11. Hwayeon yang melihatnya memandang Leeteuk bingung. “Kenapa oppa tidak memencet tombol lantai 12? Kamar oppa kan disana.” Tanya Hwayeon bingung tanpa memperdulikan tangan Kyuhyun yang mulai melingkari pinggangnya.

“Ah aniya, Wookie sudah memasak untuk kita semua bersama Sungmin. Mereka mau menyambutmu, yah kau tau lah.” Hwayeon mengangguk maklum. Seluruh member Super Junior begitu menyayanginya, ia diperlakukan bak ratu jika berada di tengah-tengah mereka.

Tiing!

Mereka ber6 keluar dari dalam lift, lalu melangkah menuju ke saah satu pintu. Leeteuk mengangkat jempolnya, finger scan seperti biasa, dan tadaaaa… pintu terbuka.

Cklek!

Srettt!!!

Brukk!

Baru saja Hwayeon masuk satu langkah kedalam dorm, tiba-tiba gadis itu diterjang dari depan sehingga mereka berdua limbung dan saling tindih dilantai. Sang pelaku sendiri hanya diam sambil menyeringai mesum, tidak berniat mengubah posisi mereka.

Kyuhyun yang melihat kekasihnya tengah ditindih namja lain langsung mendidih. “Yak Lee Hyukjae! Dasar monyet mesum! Cepat minggir! Kau membuat dia sakit badan bodoh!” Kyuhyun mencengkram baju belakang Eunhyuk lalu melemparnya kea rah lain tanpa perasaan.

Bugh!

“Aahhh, appo. Dasar magnae tak tau diri.” Gerutu Eunhyuk kesal. Hwayeon sendiri meringis kemudian duduk sambil mengusap punggungnya. “Hihihihi.” Tiba-tiba Eunhyuk terkikik sendri seperti orang gila, membuat perhatian semua member tertuju padanya.

Bahkan Hwayeon seakan melupakan rasa sakitnya, malah beralih menatap Eunhyuk dengan pandangan bingung. “Oppa kenapa?” tanya Hwayeon bingung. Bukannya menjawab, Eunhyuk malah semakin terkikik dengan wajah memerah. Tangannya ia letakkan dipipi sambil tersenyum mesum.

Member lain menatap kelakuan Eunhyuk dengan bingung. “Dadamu empuk sekali chagiya.” Ujar Eunhyuk tiba-tiba. Member lain terperangah, Hwayeon apalagi. Mulutnya menganga syok dengan wajah merah padam. “O-oppa…” cicit Hwayeon malu.

Berbeda dengan Hwayeon, beda lagi dengan para member. Mereka semua menatap Eunhyuk dengan mata menyalang tajam, terlebih Kangin, Kyuhyun, dan Heechul.

Eunhyuk sepertinya menyadari akibat perkataannya, karena tiba-tiba saja namja itu bangun dan berlari kearah dapur. Kangin, Kyuhyun, dan Heechul sontak mengejarnya, meninggalkan Hwayeon yang masih terduduk di lantai dengan wajah merah padam.

Sungmin tersenyum maklum, namja itu kemudian menghampiri Hwayeon, dan menyodorkan tangannya. “Ayo bangun, kita makan saja. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.” Ujar Sungmin lembut. Hwayeon mengangguk kaku kemudian menyambut uluran tangan Sungmin dan bangkit berdiri.

Mereka berjalan menuju ruang tengah sambil sesekali berbincang kecil. Ryeowook dan Yesung sudah duduk manis di ruang tengah dengan cengiran lebar. Para member mulai mengumpul, dan akhirnya seluruh member sudah duduk manis di tempatnya masing-masing.

Yesung dan Ryeowook yang sedari tadi duduk menunggu mereka memandang Eunhyuk dengan bingung. “Kau kenapa Hyukkie-ya? Telingamu merah sekali, tanganmu juga, errr…hidungmu juga.” Tanya Yesung bingung.

Eunhyuk hanya mengeruhkan wajahnya, tanpa memperdulikan tawa duo setan a.k.a Heechul dan Kyuhyun. “Aniya, gwaenchana.” Jawab eunhyuk datar. Leeteuk terkekeh geli. “Dia habis dihajar oleh duo setan kita Yesungie, dia tadi mengatakan ‘Dadamu empuk sekali chagiya.’ Pada Hwayeon setelah dia membuat Hwayeon terjatuh dan jatuh menindih Hwayeon.” Ujar Leeteuk diiringi kekehan member lain.

Yesung dan Ryeowook melebarkan mata mereka kaget. “MWOYA?!” pekik mereka marah sambil menatap Eunhyuk marah. Eunhyuk semakin mengkeret takut di tempat duduknya. “Jangan menghukumku lagi, aish! Duo setan itu sudah menghajarku habis-habisan!” keluh Eunhyuk memelas.Yesung berdecak malas sedangkan Ryeowook terus menatap Eunhyuk dengan pandangan mematikan.

“Jja, sudahlah. Ayo kita makan dulu. Selamat makan semuanyaaaaaa!!!!” ujar Shindong dan dengan cepat mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Semuanya sibuk mengambil makanan untuk diri mereka masing-masing, kecuali Kyuhyun. Namja itu tetap bersedekap manis dalam duduknya dan membiarkan Hwayeon mengambilkan dirinya makanan.

Hwayeon mengambil piring Kyuhyun lalu mengambilkan Kyuhyun makanan untuk namja itu. Setelah sudah selesai, ia langsung menyendokkan makanan dari piring itu dan menyuapinya kedalam mulut Kyuhyun. Sesekali gadis itu juga menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya.

Member lain menatap Kyuhyun dengan pandangan iri, sedangkan Kyuhyun tetap duduk manis sambil memberikan senyum innocentnya. Hwayeon menambahkan nasi dipiringnya dn beberapa lauk, dia juga menambahkan sedikit sayur kedalam piringnya.

Hwayeon menyendokkan sayur tersebut dan berniat menyuapkannya ke Kyuhyun. Dan tentu saja Kyuhyun menolak. “Ayolah, sedikit saja eoh?” rayu Hwayeon sambil tetap berusaha menyuapkan sayur itu kedalam mulut Kyuhyun. Kyuhyun juga dengan keras kepala mengatupkan bibirnya dan menggeleng keras.

Sreeet

“Mwoy-“

Cup

Mata Hwayeon membulat lebar. Kyuhyun tadi tiba-tiba saja merebut sendoknya dan tiba-tiba menyuapkan sayur tadi kedalam mulut Hwayeon dan mengunci bibir Hwayeon dengan ciuman basah.

Member lain hanya berusaha menulikan pendengaran mereka saat mendengarkan kecipak kecipak suara ciuman mereka. “Anghhh…emmm…opph..aahhh…hhh..” Hwayeon menjambak rambut Kyuhyun lembut saat meraskan paru-parunya mengempis dan dadanya sesak.

Srettt

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dan menatap wajah memerah Hwayeon dengan senang. Keduanya terengah, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Hwayeon mendelik sebal kearah Kyuhyun saat ia sudah bisa menetralkan deru nafasnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang tengah mendelik padanya dengan raut lapar. Aku tidak tahan lagi jerit Kyuhyun dalam hati. “Shit!” umpatnya pelan saat ia malah merasakan celananya menyempit.

Kyuhyun tiba-tiba mengangkat Hwayeon dan berlari membawa gadis itu menuju kamar.

Srreettt

Greep!

“OMO! APA YANG OPPA LAKUKAN?!” jerit Hwayeon kaget. Kyuhyun tidak mengindahkan jeritan Hwayeon dan terus mempercepat larinya menuju kamar.

Cklek!

Brak!

Para member yang tadi melihat kelakuan Kyuhyu melongo. Kemudian mereka tersenyum mesum pada satu sama lain. “Ada yang tidak sabar sepertinya, ihihihi.” Ujar Ryeowook pelan diiringi seringaian member lain

Meanwhile,

Didalam kamar…

Cklek!

Brak!

Sreeet!

Kyuhyun dengan cepat membawa Hwayeon karah kasur, lalu dengan cepat menindih Hwayeon dengan tubuhnya.

Cup!

Hwayeon melongo kaget saat mendapati Kyuhyun yang tiba-tiba saja menciuminya dengan liar. Gadis itu berusaha merilekskan tubuhnya dan mengikuti permainan Kyuhyun.

Dengan cepat ia melingkarkan tangannya ke leher Kyuhyun, dan sesekali menjambak rambut Kyuhyun dengan lembut saat Kyuhyun menghisap kedua belah bibirnya dengan bringas.

Suara kecipak-kecipak mendominasi ruangan tersebut. “Angghhh…emmhh…hhhh” desahan Hwayeon terus mengalun lembut mengiringi perminan mereka.

Kyuhyun menggeram samar ditengah ciuman mereka saat bagian selatan dalam tubuhnya semakin mengeras sampai terasa begitu menyakitkan. “Aku menginkanmuhh…hh…” ujar Kyuhyun tepat ditelinga Hwayeon setelah ia melepaskan ciuman mereka tadi.

Hwayeon memandang Kyuhyun yang berada diatasnya dengan lekat, kemudian ia mengangguk. Kyuhyun yang merasa sudah mendapat lampu hijau akhirnya kembali melumat bibir Hwayeon.

Berbeda dengan cumbuannya yang pertama, sekarang Kyuhyun mencumbu Hwayeon dengan sangat lembut. Membuat Hwayeon terhanyut dan terlena. Kyuhyun menyeringai saat ia merasa Hwayeon sudah terjatuh kedalam permainannya.

Dan tanpa Hwayeon sadari, Kyuhyun mulai melepaskan satu persatu kain yang membalut tubuh mereka, hingga mereka berdua telanjang bulat.

Kyuhyun memandang Hwayeon yang terengah dibawahnya dengan penuh kasih sayang. Hwayeonpun ikut memandang Kyuhyun dengan pandangan memuja. “Aku mencintaimu” ujar Kyuhyun lembut sambil mengecup dahi Hwayeon. Hwayeon tersenyum manis, “Aku juga mencintaimu oppa.”

Kyuhyun tersenyum tulus. Kemudian dengan lembut ia mulai mencium Hwayeon kembali, menggetarkan Hwayeon dengan cumbuannya. “Hiiiah…uuuughhh, j-jangan disa-na ahhh…” Hwayeon menggigit bibirnya kuat-kuat saat Kyuhyun tiba-tiba saja menggoda leher dan telinganya. Tidak, bukannya ia tidak suka. Ia sangat menyukainya malah, hanya saja itu terlalu…sensitive.

Hwayeon menggigil didalam lautan kenikmatannya saat penjelajahan Kyuhyun berhenti di bagian dadanya. Hwayeon melenguh pelan saat Kyuhyun menjilat ringan puncak dadanya yang mengeras. “Shhh…jangan menggodaku!” ujar Hwayeon sambil memejamkan matanya frustasi.

Kyuhyun akhirnya menyudahi godaannya, dan mulai mengulum puncak payudara Hwayeon. Hwayeon tersentak dan lenguhan mulai terdengar dari bibirnya yang membengkak. Kyuhyun terus menggoda bagian itu sampai akhirnya tubuh Hwayeon menegang diiringi pekikan gadis itu. Kyuhyun diam-diam menyeringai. “Ku suka emm…?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon memejamkan matanya, kemudian mengangguk pelan. Kyuhyun kemudian merendahkan tubuhnya, ia membuka paha Hwayeon dengan lebar. Hwayeon membuka matanya dan menatap Kyuhyun bingung.

Dan seketika mata Hwayeon membelalak histeris saat Kyuhyun mulai menciumi dan melumat daerah pribadinya. Tubuhnya tersentak cepat. Ia berusaha berontak, dan melepaskan cumbuan Kyuhyun di daerah pribadinya. “T-tidak! Jangan! Ahhh…shhh… je-jeballhh… uggghhh” pungguh Hwayeon melengkung saat Kyuhyun mengisap daerah pribadinya dengan cepat dan keras.

Hwayeon menggeleng-gelengkan kepalanya panic. Tidak, ia tidak suka jika Kyuhyun mencumbu daerah pribadinya seperti ini. Ia tidak kuat, Itu terlalu intens baginya. “S-stophh!!! Uuughh…pleaseee…arnnghh…o-oop…ah…aaahhhhh.” Pandangan Hwayeon mulai mengabur, kepalanya terasa pening, airmatapun mulai mengalir dari sudut matanya.

Kyuhyun mencengkram paha Hwayeon dengan erat, dan terus melanjutkan kegiatannya. Sampai akhirnya tubuh Hwayeon kembali bergetar kencang dalam kungkukngannya. “O-Oppahhh!!!!uuugh” Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan saat mendengar pekikan Hwayeon, lalu mengecup bibir Hwayeon ringan.

Nafas Hwayeon masih memburu.

Greepp!!

Hwayeon meraih tubuh Kyuhyun lalu memeluknya erat. “Jangan lakukan itu lagihh.. hah… itu terlalu intens…aku tidak bisa.” Ujar Hwayeon lemah. Kyuhyun menggeleng tegas. “tidak. Aku akan terus melakukannya setiap kali kita bercinta. Itu memang sangat intens, dan itulah yang aku inginkan.” Jawab Kyuhyun lembut sambil mengusap bagian pribadi hwayeon dengan jarinya.

Hwayeon melenguh dan dengan cepat meraih tangan Kyuhyun dan menghentikan gerakan tangan Kyuhyun. “J-jangan…masih terlalu sensitive.” Cicit Hwayeon dengan wajah merah padam.

Kyuhyun tersenyum geli kemudian mencium Hwayeon dan mulai menggerakkan jarinya lagi. Hwayeon akhirnya pasrah, membiarkan Kyuhyun berbuat sesukanya pada tubuhnya.

Tubuh Hwayeon terus bergetar pelan seiring usapan Kyuhyun di daerah pribadinya. “Aku tidak tahan lagi, aku akan melakukannya dengan lembut. Aku berjanji.” Bisik Kyuhyun lembut.

Hwayeon memejamkan matanya, menyerapi seluruh perlakuan Kyuhyun atas tubuhnya. Sampai akhirnya ia merasakan sesuatu yang besar mulai mendesak masuk kedalam dirinya.

Hwayeon merasakan usapan Kyuhyun di pipinya, ia membuka matanya dan menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Tatap aku setiap kali aku menyetubuhimu. Arrachi? Aku ingin melihat gairah yang terpancar dari dalam matamu saat ita melakukannya.”

Kyuhyun mengangguk dengan mata terpaku dengan mata Kyuhyun. Perlahan tapi pasti, Kyuhyun mulai mendesakkan dirinya kedalam tubuh Hwayeon. Hwayeon meremas erat seprai dibawahnya dan melenguh saat perlahan lahan Kyuhyun mulai memenuhi dirinya.

Kyuhyun terus memaku mata Hwayeon tanpa menghentikan pergerakan tubuhnya. Pinggulnya mulai bergerak dengan irama pelan, mengirimkan getar kenikmatan untuk sang kekasih. Tidak tahan melihat bibir Hwayeon yang menganggur dan hanya mengeluarkan desahan desahan erotis yang meningkatkan birahinya, Kyuhyun akhirnya menyambar bibir Hwayeon cepat, memagutnya dengan lembut, mengimbangi permainannya.

Hwayeon memejamkan matanya, mengalungkan tangannya keleher Kyuhyun dan meremas lembut surai coklat Kyuhyun. Kyuhyun menggeram. “shhhh…bukah mata-muhh sayanghhh…hhh…” Hwayeon membuka matanya, dan langsung dihadapkan dengan manic mata Kyuhyun yang menyorot tajam penuh gairah, dan tepat pada saat itu juga. Tubuh Hwayeon menegang, sesuatu berontak untuk keluar dari dalam perutnya melalui pusat tubuhnya.

Kyuhyun semakin mempercepat irama hentakannya, membiarkan sang ekasih mencapai kenikmatannya sendirian. “uuughhh…o-oopahhh…hhh…HIAHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!” tubuh Hwayeon bergetar hebat, punggungnya melengkung keatas disertai desisan dari bibirnya. Kyuhyun menyeringai senang, ia menyaksikan keindahan Hwayeon saat gadisnya mendapatkan kepuasannya dengan mata menyalang senang tanpa menghentikan gerakan pinggulanya.

Tubuh Hwayeon yang awalnya menegang, mulai berangsur-angsur rileks. Desahan terus melantun tanpa henti dari bibirnya, membuat gairah Kyuhyun terus terpacu. Hwayeon melenguh frustasi saat Kyuhyun terus menerus menumbuk titik terdalam tubuhnya. “uuughhh oppahhhh….” HWayeon mencengkram punggung Kyuhyun erat, melampiaskan rasa frustasinya saat Kyuhyun semakin memperlambat gerak pinggulnya.

Kyuhyun menyeringai ditengah kegiatannya. “Kenapahh sayangg… mhhh” Hwayeon memejamkan matanya saat Kyuhyun kembai menumbuk dan menekan bagian terdalam tubuhnya. “lebihh cepatthhh…nghhh”

“shhh…memohonlah sayang“ Hwayeon melenguh frustasi, kepalanya menggeleng kuat saat Kyuhyun lagi lagi menekan kuat bagian terdalam tubuhnya. “annghhh..oppaaahhh…j-jebaaalhhhh…uuughhh…l-lebiih ce-ah-pathhhh…nnghhh” Kyuhyun menyeringai senang, dengan sigap ia kembali menaikkan tempo hentakannya, berhenti menggoda sang kekasih yang sudah terlihat lemas.

Desahan keduanya terus beriringan tanpa memperdulikan makhluk lain yang tinggal bersama mereka yang tampak frustasi saat terus-terusan mendapatkan pendengaran aneh dari kegiatan mereka sejak tadi.

Kyuhyun terus menumbuk titik kenikmatan Hwayeon tanpa henti, gerakannya semakin cepat setiap saat. Hwayeon melenguh pasrah, tubuhnya sudah terasa lelah dan tidak bertenaga…tapi apa daya, kekasih mesumnya ini bahkan belum mendapatkan kenikmatannya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang terlihat kelelahan, lalu memaku bibirnya. Membawanya kedalam ciuman penuh hasrat. Hwayeon melenguh ditengah ciuman mereka saa merasakan tubuh Kyuhyun yang berada di dalam dirinya semakin membesar, membuatnya semakin sesak. Hwayeon juga merasakan sesuatu akan kembali eluar dari pusat tubuhnya.

Hwayeon akhirnya mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun dan melenguh tertahan saat dirinya kembali mendapatkan pelepasan, dan disaat bersamaan…Kyuhyun menghentakkan tubuhnya dalam-dalam dan ikut melenguh dengan suara rendah. Hwayeon kembali tersenyum ditengah pagutan mereka saat merasakan sesuatu yang hangat mulai membanjiri rahimnya.

Kyuhyun ambruk diatas tubuh Hwayeon seketika sambil memeluk gadis itu. Hwayeon tidak protes, ia malah menggerakkan tangannya untuk mengelus surai lembut Kyuhyun. Kyuhyun terengah diatas Hwayeon, sama sekali tidak berniat beranjak bangun dari sana apa lagi saat Hwayeon mulai mengelus rembut surai kecoklatan miliknya.

Suasana ruangan itu akhinya hening, hanya ada suara deru nafas tidak teratur yang mendominasi. “aku merindukanmu…” ujar Kyuhyun memecah keheningan. Hwayeon tersenyum dalam diam, tapi kemudian ia teringat dengan sesuatu yang membuatnya kesal. “Ah jinja?” tanya Hwayeon datar.

Kyuhyun sepertinya menyadari perubahan Hwayeon, namja itu langsung mengangkat tubuhnya dan langsung dihadapkan dengan wajah sebal Hwayeon. “waeyo chagi?” tanya Kyuhyun bingung.

Hwayeon mendengus. “Aku melihatmu tadi pagi di tv.” Ujar Hwayeon pelan. Kyuhyun sendiri mengerutkan keningnya bingung. “Lalu kenapa? Aku kan memang pasti akan selalu muncul di tv. Itu profesi ku sayang. Lalu apa yang salah emmm?

Hwayeon mengerucutkan bibirnya. “Tapi tanganmu digandeng oleh yeoja jadi-jadian itu!!!” pekik Hwayeon tak suka. Kyuhyun tersenyum simpul mendengarnya. “Arraseo, mianhae…aku tidak akan membiarkan yeoja itu menyentuh tanganku lagi, eotte?” Hwayeon mengerjapkan matanya, kemudian mengerucutkan bibirnya kembali dengan pose berfikir. Kyuhyun menelan salivanya susah payah. Cobaan yang tidak bisa dihindari batin Kyuhyun pasrah.

Hwayeon menganggukkan kepalanya tanpa merubah posenya, sama sekali tidak sadar kalau aka nada bahaya mendekat. Hwayeon mengerjapkan matanya sambil mengerutkan kening saat ia merasa tubuh Kyuhyun yang berada di dalam tubuhnya kembali mengeras dan membesar.

Wajah Hwayeon otomatis meona dan menatap Kyuhyun penuh tanya. “Jangan salahkan aku, salahmu sendiri kenapa menampilkan posisi menggemaskan seperti itu. Kau membangkitkan serigala lapar chagi.” Bisik Kyuhyun dengan suara rendah nan sexy. “t-tapi a-aku lelah.” Cicit Hwayeon pelan. Kyuhyun menyeringai setan. Ia mencium sekilas bibir Hwayeon, lalu kembali menumpu tubuhnya untuk berada diatas Hwayeon.

“Aku akan bermain cepat, aku janji.” Hwayeon mengangguk pasrah, membiarkan kyuhyun memonopoli tubuhnya sepuasnya. Kyuhyun tersenyum saat melihat tingkah pasrah Hwayeon. Ia kemudian mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba kembali menikmati pemainan Kyuhyun dari atas tubuhnya. Kyuhyun mulai kembali mengeksplorasi bibir Hwayeon, perlahan lahan turun keleher, kembali membuat tanda kepemilikannya disana tanpa memperdulikan betapa banyak tanda yang sudah ia buat sejak awal kegiatan mereka awal tadi.

“Ahhh…opppahhh…nghhh…” Hwayeon memejamkan matanya saat penjelajahan Kyuhyun kembali terhenti di bagian dadanya. Kyuhyun mengecup kedua puncak dadanya, kemudian mulai mengecap dan menghisapnya dengan bringas membuat Hwayeon kewalahan. Sementara bibir dan lidah Kyuhyun bekerja di salah satu puncak dada Hwayeon, tangannya yang satu lagi pun ikut mengeksplorasi bagian yang satunya.

Kyuhyun memijat kemudian memelintir puncah dada Hwayeon dengan sedikit kasar membuat tubuh Hwayeon berulang kali tersentak dan bergetar. Kyuhyun menghisap puncah dada Hwayeon bergantian kanan kiri dengan bringas tanpa menghentikan kegiatannya didalam pusat tubuh Hwayeon.

Hwayeon kembali memejamkan matanya saat merasakan desakan di pusat tubuhnya. Kyuhyunpun ikut menggeram saat merasakan dinding kewanitaan Hwayeon terus menjepit erat miliknya.

Merasa geram, Kyuhyun mempercepat gerakannya sampi kecepatan maksimal. Tubuh Hwayeon terhentak hentak seiring gerakan Kyuhyun dan ranjang yang mereka pakai terus berdecit mengiringi pergerakan mereka.

“o-omo…o-opahh!!! Uuughh!! Ahhh!!!”

“uuughh…chagi!!!!!!”

Teriakan mereka saling tumpah tindih karena mereka sampai disaat bersamaan. Hwayeo memejamkan matanya erat-erat, merasa tidak memiliki tenaga yang tersisa bahkan hanya untuk membuka matanya.

Kyuhyun tersenyum maklum, dengan tau diri ia beranjak dari atas tubuh Hwayeon dan membaringkan tubuhnya disamping Hwayeon tanpa melepaskan tubuhnya dari dalam tubuh Hwayeon.

Kyuhyun memeluk Hwayeon lalu berusaha meraih selimut dengan kakinya dengan susah payah. Saat sudah mendapat selimutnya itu, ia menyelimuti tubuh mereka berdua. “Jalja…saranghae.” Gumam Kyuhyun lembut lalu tak lama kemudian, menyusul Hwayeon kealam mimpi.

Sementara itu….

Diluar kamar mereka…

Para member menatap pintu kamar Kyuhyun dengan wajah merah padam, bagian selatan tubuh mereka menggembung, menandakan kalau mereka semua sedang berada dalam mode ‘on’

“Magnae sialan, selalu membuat iri. Lihat sekarang…kita yang tersiksa.” Ujar Eunhyuk nelangsa. “sudahlah, sama kalian pergi tidur. Besok jadwal kita kosong, jadi kita bisa bebas. Jja, tidurlah. Annyeong.” Ujar Leeteuk, sang leader sambil lalu.

“Lalu bagaimana dengan Eunhyuk junior?” tanya Eunhyuk memelas. “Bukan urusanku.” Jawab yang lain sambil lalu.

“TIDAKKKKK”

FIN