Archives

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Advertisements

Be Mine~

Tittle    : Be Mine?

Cast     :

Kim Han Bin (B.I Ikon)

Cho Hyo Jin

Other   :

Kim Dong Hyuk ( Donghyuk Ikon)

Genre: romance, NC

Ratt      : NC17!

Author : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Warn   : panen typo, geje, aneh

Anyeong readers!!!!

Author 2 come back dengan Oneshot lagi~~

Dan tentunya NC *smirk*

Author berharap pada menantikan Author 2 ^^

Jadi ini buat kalian semua yang udah mau baca FF Author 2~~

Happy Reading

———————————————————————-

*Hyo Jin POV*

When you love someone just be brave to say

That you want him to be with you

When you hold your love

Dont ever let it go

Or you will your change yo make your dream come true

Ku akhiri nyanyianku di selasar kelas X. Apa kalian berfikir aku sedang bernyanyi di depan banyak orang? Jawabannya salah. Selasar ini sangat sepi karana waktu baru menunjukan pukul 6 pagi. Jadi aku tak perlu khawatir ada yang memergokiku bernyanyi.

“Wah, suaramu ternyata bagus sekali, murid baru.” Suara itu sukses membuatku terkejut.

Aku menatap heran. Jujur ini adalah minggu ketigaku di Top High School, wajar saja jika aku belum begitu mengenal semua orang disini.

“Mianhae. Nuguseyeo?” tanyaku sopan.

“Ah, aku lupa. Kenalkan aku Kim Hanbin. Tapi aku sering dipanggil B.I.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Omona! Tampan sekali..

“Naneun Hyo Jin. Cho Hyo Jin immida. Dari kelas X-4.” Aku membalas jabatan tangannya dan berusaha tersenyum semanis mungkin.

“Aku dari XI- 3. Kelas kita bersebrangan.” Ia masih tersenyum.

GLUP

Dia sunbae ku!!

“Ah, mianhae. Aku tidak mengenalimu, sunbae.” Ucapku sambil membungkukan badanku. Kurang ajar sekali aku.

“Gwaenchana. Panggil aku B.I oppa saja.” Ia mengelus rambutku pelan.

“Ne, B.I sunbae.”

PLAK

Ia menyentil dahiku dengan jarinya.

“Aw, appoyo~”

“Sudah kubilang panggil aku B.I oppa. Jangan pakai sunbae. Itu sedikit menjijikan.” Katanya sambil memasang wajah jijik. Aku terkekeh pelan.

“Baiklah, B.I oppa~” aku mengucapkannya dengan sedikit malu-malu.

“Kau suka bernyanyi? “ tanyanya padaku.

“Nde. Aku suka sekali. Nan norae johayo! Oppa?” kataku antusias.

“Aku tidak bisa bernyanyi tapi aku bisa rapp.” Katanya.

“Wah? Jinjja? Bagaimana kalau kita kolaborasi? Aku menyanyi dan oppa rap? Otte?” aku memberi usul.

“Bukan ide yang buruk. Apa kau tau lagu Me You?” tanyanya.

“Kalau tidak salah itu lagu dari San E feat Yerin 15&?”

“Nde. Kau benar. Kau bisa?”

“Tentu saja!”

“Oke.”

(lirik San E – Yerin)

Wah, dia hebat sekali! Dia mengagumkan!

“Hyo Jin..” ia memanggilku dengan lembut.

“Aku rasa aku ja-”

“Hanbin-ah!!! Aku mencarimu dari tadi!!!”

Sepertinya aku mengenal suara ini. Jangan- jangan dia..

“Eh? Hyo Jin?” tuh kan benar, dia adalah..

“Dong Hyuk oppa? Kenapa ada disini?”

“Kau kenal Dong Hyuk?” tanya B.I oppa.

“Tentu saja, B.I! Dia itu sepupuku yang paling cantik~” Dong Hyuk oppa merangkul pundakku. Ia selalu saja datang disaat yang tidak tepat.

*Author pov *
Semenjak kejadian tersebut, Hanbin selalu memikirkan Hyo jin.
“Dont know what I suppose to do, cant think of anyone else but you, and I regret I’m feeling you, baby i’m in love with you”

Hanbin bersenandung di balkon kamarnya.
Ya,itu adalah tempat kesukaan Hanbin. Sikap Hanbin berubah menjadi jarang makan, selalu tersenyum sendiri. Tak di sangka ada 2 pasang mata yang melihat Hanbin bersenandung. Yah, mereka adalah…
“Chagi,dia sedang jatuh cinta rupanya. Siapa yah kira-kira yang sudah mengambil hati uri Hanbin?” Ucap Mr. Kim yang datang bersama istri nya. Mereka appa dan umma dari Hanbin.

“Aish.. appa!umma! Mengagetkan saja!” Ucap Hanbin.
“Baby, kenapa Kau tidak bilang pada umma kalau Kau sedang jatuh cinta? Kan umma bisa memberimu saran padamu.”kata Kim umma sambil membelai surai hitam Hanbin.
“Mianhae umma. Aku belum sempat bilang sama appa dan umma. Umma, appa. Di sekolahku ada murid baru dia kelas 10. Saat aku datang pagi 2 hari yang lalu, aku tak sengaja mendengar dia bernyanyi dan suaranya sangat indah, kuberanikan diri untuk mengajaknya bicara. Dia selalu tesenyum ramah. Dan senyumannya manis sekali!!!! Tapi diganggu oleh Donghyuk. Dia sepupunya Donghyuk.*pout*” ucap Hanbin kepada appa dan umma nya.
“aigoo.. uri Hanbin sudah besar. Sudah bawa saja dia ke rumah. Kau nyatakan cinta padanya. Appa takin dia tidak akan menolakmu. Lalu, Kau bisa melakukan ‘itu’ bersama dengan nya. Tenang appa dan umma tidak akan menggangu.” Ucap Kim appa dan mendapat respon jitakan dari Kim umma.
“Ya! Chagi! Jangan memberi saran yang aneh-aneh!” Ucap umma. Yah.

“Tapi mungkin itu bisa dicoba. Coba Kau Ajak dia ke rumah. Bawa dia saat Hujan deras. Sehingga dia tidak bisa pulang. Haha..” ucap Kim umma asal. Hanbin berfikir tidak jelek juga rencana appa dan umma.

*Author pov end*
*Hanbin pov*
Aku selalu menunggu Hujan deras datang dan inilah hari yang diberikan Tuhan untukku. Hujan mengguyur kota ini sangat deras dan Hujan ini bermula dari jam 9 pagi. It’s a lucky day! Kring.. kring..

Bel pulang pun berbunyi. Segera kuambil tas dan keluar kelas menuju teras sekolah.

Lucky! Hyo Jin ada disana juga. Dan dia bersama chingu dan Donghyuk.
“Ah, Jinie. Oppa tidak bisa menemanimu hari ini. Oppa ada kerja kelompok. Umma dan appa sedang di luar kota. Mianhae.” Ucap Donghyuk. Berarti umma dan appa Hyo Jin sedang tidak di rumah?

Yes! Rencana umma dan appa emang jjang banget!!!

“Anyeong, ada apa nih?”
“Ah, Hanbin. Bisa kah Kau menemani Hyo Jin? Orang tuanya sedang mengunjungi Eonni-Eonni nya. Keluarga ku sedang di luarkota dan Kau taukan aku harus kerja kelompok dengan Jinhwan hyung.”ucap Donghyuk.
“Ah, tidak perlu oppa. Aku biasa sendirian di rumah kok. Tidak perlu oppa.” Hyo jin terlihat kaget saat Donghyuk menyuruhku untuk menemaninya. Dan tiba-tiba…

Jeder!!!!!

Kilat disusul geluduk datang.
“Aaaa!!!!” Hyo jin reflex memelukku. Oh, ternyata dia takut guntur.
“Itu yang namanya sering sendirian? Guntur saja takut. Nanti kalau Kau Malah memeluk yang lain gimana?”godaku.
“Aish.. oppa!! Jangan menakutiku.” Ucapnya manja. Lucu sekali. Aku sudah tidak kuat untuk memakannya.
“Bagaimana kalau di rumah oppa aja? Ada appa dan umma oppa. Jadi Kau menginap saja. Kebetulan besok sabtu kan? Kapan Orang tua mu pulang?”Tanyaku.

“Hari senin. Hmm.. baiklah aku akan menginap. Tapi hanya satu hari. Sisanya aku akan menginap di rumah Donghyuk oppa.”
“Baiklah. Kajja. Selagi hujannya berhenti.”
“Nde.” Yuhu!!! Aku berhasil. Sebenarnya Donghyuk sudah memperbolehkan aku untuk memiliki Hyo Jin. Dan sebenarnya, Orangtua Donghyuk ada di rumah. Dan Donghyuk tidak ada kerja kelompok. Benar -benar teman yang baik kan?

*skip time*
Kami datang disaat yang Tepat. Setelah kami masuk kedalam rumah, Hujan besar langsung mengguyur.
“Appa,umma. Aku pulang!” Teriak ku saat memasuki rumah.
“Nde. Aigoo, siapa dia? Manis sekali. Apa dia yeojachingumu? Perkenalkan aku ibunya Hanbin.”
“Anyeong, Naneun Cho Hyo Jin immida. Aku hoobae nya  Hanbin oppa.”
“Aigoo… manis sekali.. Tapi lihat kalian basah kuyup begini. Biar umma ambilkan handuk dulu ya. Kalian ke kamar dulu saja.” Kata Kim umma.
“Nde, umma.” Ucapku sambil melepas jaketku dan menggangtungnya.
“Emmmm, oppa. Aku tidur dimana?” tanya Hyo Jin.
“Kau tidur satu kamar denganku. Tenang kita pisah ranjang.kajja.” ucapku lalu mengantarnya ke kamarku.

Well, sebenarnya aku berbohong dan di kamarku hanya ada satu ranjang. Kamarku terbilang rapih dan wangi cowok banget.

“Wah, kamar oppa bersih Sekali.. pasti sudah banyak yeoja yang pernah masuk sini.” Ucap hyo jin.

“Ani. Baru Kau saja yang masuk ke kamar ini.” Ucapku sesantai mungkin. Sebenarnya dari tadi aku sudah menahan nafsuku begitu melihat pakaian hyo jin yang tercetak jelas karna kebasahan. Sungguh membuat celanaku menyempit.
*Hanbin pov end*
*Hyo Jin pov*
Yes.. rencanaku berhasil!!

Aku bisa masuk kamar Hanbin oppa.

Sengaja tadi aku membasahi bajuku dengan air Hujan sehingga pakaian dalamku tercetak jelas. Kulihat Hanbin kecil sudah mulai menampakan diri. Bisa kulihat dari celananya yang tiba-tiba mengembung. Disini akan kupasang image sebagai anak polos.
“Hyo jin, Hanbin! Umma masuk yh?” Teriak Kim umma.

“Aigoo.. Hyo jin Kau basah kuyup!! Liat pakaianmu tembus pandang sekali! Cepat pakai baju ini! Nanti Kau flu. ” Ucap umma nya Hanbin oppa.
“Nde.” Jawabku sambil tersenyum. Hey, tak apa kan kalau mencari perhatian dari calon mertua? Kkk~

Kim umma pun pergi meninggalkan kita berdua lagi. Dan lebih jjang nya Kim umma mengunci kamar nya dari luar.

Dan masalah ganti baju, di kamar Hanbin oppa tidak ada kamar mandi!!!!
” Oppa, dimana aku bisa ganti baju?” Tanyaku pura-pura polos.

“Disini saja.” Jawabnya dingin.
“Mwo?! Shireo! Kan ada oppa! Aku malu!” Kataku sambil membalikan badanku. Ini adalah rencanaku. Apa salahnya jual mahal dulu? Aku tidak ingin terlihat murahan.
“Malu? Apa Kau tidak malu sekarang? Lihat bajumu sangat transparan! Terlihat seperti telanjang dimata namja!”

Hup

Hanbin sudah memelukku dari belakang. Dan lihat rencanaku berhasil. Ia mulai menghisap leherku dan membuat tanda kepemilikannya. Tangan nya yang gatel sudah meremas pelan dadaku. Aku berusaha mendesah sekeras mungkin agar ia melanjutkannya.
“Aish. Emmpt.. ahhh.. oppahh.. nikmatth.. ah!” Aku berteriak karna Hanbin oppa sedang menarik nipple ku kasar. Ia mulai ganas, dan aku suka keganasannya.

Segera kubalikan badanku dan langsung melumat bibirnya. Dia membalas tak kalah kuat dengan lumatanku. Dia mulai mendominasi permainan. Dia menggendongku ala bride style menuju ranjang sedangnya tanpa melepaskan tautan bibir kami. Kami pun sudah terbaring di kasur dengan posisi Hanbin oppa diatas.
“Ah, oppa sangat tidak suka melihat Kau menggunakan seragam ini.” Katanya terengah setelah melepaskan tauran bibir kami.
“Kalau begitu.. lepaskan saja oppa..” Kataku dengan nada manja sambil memainkan jariku di dadanya.
“Wah, ternyata Kau nakal chagi. Dan sepertinya little Hanbin sudah bagun sejak tadi. Karna Kau yang telah membangunkan nya.. ” Hanbin menggantung kalimat nya lalu mendekatkan mulutnya menuju telingaku.
“Play and servis me well,baby” setelah mengucapkan itu, Hanbin mulai menjilati telingaku sesekali menggigit daun telingaku.
“Siapa takut?” Kataku dengan menunjukan muka bad girl ku. Segera kumainkan little Hanbin dan liatlah oppa, Kau akan menikmatinya.

Pasti.
*Hyo Jin pov end*

*Author pov *

Kalau kalian berfikir hari in sangat dingin itu tidak berlaku bagi dua manusia berbeda gender yang sedang saling  menghangatkan badannya satu sama lain dengan sang namja yang sedang mendorong sesuatu yang berada diantara pahanya kearah salah satu hole yang berada di badan sang yeoja.

“Ahh.. O-oppahh.. fas..fasterrr..ngah~” Hyo Jin tidak dapat menahan desahannya karna Hanbin tidak berhenti menyentuh titik terdalamnya yang menimbulkan friksi kenikmatan tiada tara.

“Kau… Ergh! Sempit!Kenapa masih sempit?” Hanbin mengerang nikmat. Ia bingung bagaimana Hyo Jin masih sempit sedangkan ia sudah membobolnya berkali-kali. Ah, tentunya dengan pengaman.

“Ah.. Akh! D-disituh.. sentuh lagihhh.. sshhh…” Hyo Jin menarik kepala Hanbin menuju dadanya. Hanbin mengerti kode yang diberikan Hyo Jin.

Ia pun meneggelamkan kepalanya didada Hyo Jin. Ia menghisap nipple Huyo Jin yang sudah sangat bengkak karna tadi saat foreplay ia sudah memainkannya.

“Iyah.. Seperti ituhh.. lebihhh dalam ahh~ D-deeper~”

Hyo Jin dapat merasakan Hanbin membesar dalam dirinya. Ia pun membantu pergerakan dengan menggerakan badannya berlawanan arah denagn Hanbin sehingga Hanbin dapat menyentuh titik terdalam Hyo Jin lagi tak lupa Hyo Jin memainkan otot kewanitaannya sehingga Hanbin tergenggam erat oleh Hyo Jin.

“Shit! KAu tau saja kalau aku akan klimaks. Baiklah mari kita selesaikan!” Hanbin semakin brutal menggerakkan miliknya. Hyo Jin tak mau kalah.

Sampai kira-kira 10 menit, mereka klimaks sambil menyebutkan nama pasangan mereka.

“Gomawo Hyo Jin. Ini hebat.” Hanbin mencium puncuk kepala Hyo Jin. Hyo Jin hanya mengangguk. Ia sangat kelelahan. Hanbin memeluk Hyo Jin dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Hyo Jin. Dan mereka segera pergi kedunia mimpi.

*skip time*
Sinar matahari menembus tirai jendela Hanbin. Hyo jin yang sedari tadi sudah bangun, sekarang sedang Asik melihat wajah namja yang baru saja mengambil keperawanannya.

Hyo jin merasa wajah Hanbin semakin tampan dan sexy setelah melakukan ‘itu’.

Sebenarnya Hanbin sudah bangun. Tapi ia ingin melihat reaksi hyo jin.

“Jangan melihatku terus. Aku tau aku tampan.” Kata Hanbin mengagetkan Hyo jin.
“Mian oppa.. aku tak se-”
“Mana morning kiss nya?” Ucapan Hyo jin terputus oleh Hanbin.

“Emmmm.. morning kiss kan hanya untuk orang yang pacaran..” kata Hyo jin sambil menundukkan kepalanya.
“Ya! Emang kita gak pacaran?” Ucap Hanbin gemas.
“Oppa belum menyatakan perasaan kepadaku. Kemarin oppa hanya mengambil keperawanan ku saja.” Ucap Hyo jin sambil mempoutkan bibirnya.

“Aigoo.. baiklah.. Hyo Jinie, jadilah yeojachingu ku. Ini perintah! Kalau menolak akan ku masukan lagi little Hanbin.”  Ancam Hanbin. Hey, asal kau tau itu tidak pantas disebut little!
“Apa kalau aku menerima mu Kau tidak akan melakukan itu?” Ucap hyo jin menggoda.
“Tentu saja tidak. Kalau Kau menerimaku akan kugagahi Kau sebanyak-banyaknya sampai little Hanbin tak bisa bangun lagi.”

“Nde. Aku menerimamu. Saranghaeyo oppa” ucapku sambil memberikan morning kiss padanya.
“Emph.. oppah… sudah..” ucap Hyo Jin berusaha melepaskan tautan bibirnya.
“Wae?? Kau tidak suka??” Tanya Hanbin.
“Aku ingin mandi oppa. Badanku lengket karna spermamu. Lihat!” Ucap Hyo jin sambil menunjuk dadanya.
“Mana ?sini oppa pegang.” Tanpa meminta izin Hyo Jin, ia meremas dada Hyo jin lagi.
“Chagi!! Umma bawakan makanan untuk kali-” Kim appa dan Kim umma terpaku melihat Hanbin sedang memangku Hyo jin sambil menghisap nipple Hyo jin.

Sedangkan Hyo jin sedang memainkan milik Hanbin. Hanbin  melihat kedua orang tua nya sedang menganga melihat badan Hyo Jin yang bisa dibilang err… seksi..

Segera Hanbin menutupi badan Hyo Jin dengan selimut dan Hyo jin langsung bersembunyi di balik selimut.

“Mian mengganggu aktivitas kalian… ” ucap Kim umma.

Brakk..

Pintu kamar Hanbin dibanting oleh Kim appa. Sedetik kemudian terdengar suara desahan dari Kim umma dan erangan dari Kim appa. Hanbin dan Hyo jin hanya terkekeh.

“Sepertinya kau akan punya adik baru, oppa.” Kata Hyo Jin disela tertawaannya.

“Mungkin saja. Haha. Jadi bagaimana kalau yang tadi dilanjutkan? Lihatlah! Dia sudah sangat bersemangat.” Hanbin menatap memelas pada Hyo Jin.

Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

Rumah Hanbin dipenuhi oleh suara desahan Kim umma dan Hyo jin. Jangan lupa erangan maut dari Hanbin dan Kim appa.

Oh ya, kalau Kau datang ke rumah nya pasti Kau mencium bau sperma dimana-mana. Pasalnya pasangan Kim appa dan Kim umma ini melakukan nya berkali-kali dan selalu berpindah tempat. Gaul!!

END

Akhirnya selese juga ff nc gagal ini.

Idenya author dapet waktu kejebak Hujan di sekolah author.

Dan kebetulan author adalah murid pindahan.

Semoga kisah ini benar-benar terjadi pada author !!! *ngucapmantra*

Sampai bertemu di ff yg lain..

~Cho Hyo Jin

Arrogant?~Prolog~

Tittle :  Arrogant?

Cast  :

Cho Hyo Jin- Kim Hyo Jin

Kim Jinhwan (Jinhwan IKON)

Kim Jiwon ( Bobby IKON)

Kim Hanbin ( B.I IKON)

Genre: romance, drama, school life

Ratt   : NC

Author: Cho Hyo Jin a.k.a Auhtor 2~

Anyeong!!!

Author 2 balik lagi!!!

Kali ini Author bikin FF NC lagi~

Dan ini Chapter NC!!! Yeay!!

Walaupun gak diprolog ini belum ada NC-nya tapi untuk chapter kedepan akan banyak sekali adegan nya*smirk*

Gomawo yang udah sempet baca-baca FF Auhtor 2 tapi jangan lupa comment yh^^

Entah kenapa Author kepikiran FF NC *reader: Author yadong!!* *Author: Gomawo~*

Kali ini FF IKON nih~

Kebetulan Author tertarik banget sama Trio Kim ini..

Sejak pertama liat IKON di ‘Who is next?’ Author udah jatuh cinta sama mereka bertiga..

Cerita ini terinspirasi dari sebuah comic yang entah judulnya apa itu(hhe)tapi Author ubah jadi FF NC~~

Semoga kalian suka, kali ini Author mau buat yang rada gak mainstream..

Semoga ini gak gagal seperti yang sebelum-sebelumnya ^^

Happy Reading

———————————————————————————-

Chapter 1 : Prolog~

YG High School.

Siapa yang tidak kenal nama sekolah itu? Jelas semuanya  tau karna di sekolah itu terdapat tiga namja yang sangat terkenal dan mereka adalah saudara! Kita sebut saja Trio Kim.

Ayo kita kenalan dengan mereka..

Yang pertama, Kim Jinhwan itu…

“Omo! Lihat itu Jihwan oppa!!!!” teriak seorang yeoja yang berakibat seluruh yeoja berlari menuju yeoja tersebut.

Ya, mereka sedang menikmati pemandangan indah. Kim Jihwan.

“And  i officially ~”  Jihwan mengakhiri nyayian dan melambai pada seluruh yeoja yang melihat kearahnya.  Dan itu membuat seluruh yeoja pingsan.

“Oppa!! Ajari aku bernyanyi!!”

“Oppa, jadikan aku pacarmu!!”

“Oppa, Tinggalah bersamaku!! Kita habiskan  sisa hidup kita berdua!!”

“Kyaaa~~~ Jihwan Oppa!!!”

Teriakan- teriakan yang memekakan telinga itu berasal dari yeoja-yeoja yang sudah sadar dari pingsannya tadi. Jihwan tersenyum ramah lalu berkata,

“ Aigo~ Kalian pingsan lagi? Lebih baik kalian perhatikan kesehatan kalian. Sekarang sudah musim penyakit. Jaga diri baik-baik ne? Oppa pergi dulu yah? Oppa ada urusan. Anyeong~” Jihwan mengedipkan sebelah matanya yang membuat seluruh yeoja kembali pingsan.

Ah,biar kujelaskan. Jihwan atau Kim Jihwan adalah jagoan dalam bidang tarik suara. Tidak pernah ia tidak memenangkan kompetisi yang ia ikuti. Selain itu dia terkenal sebagai hyung yang baik dan perhatian. Ia selalu memperhatikan dongsaeng-dongsaengnya.  Hanya itu informasi yang meluas tentang Jihwan.  Sekarang ia kelas XII.

Kita sebut saja Jihwan si Flower boy.

Oke, lanjut. Kedua yaitu si kembar  Kim Jiwon dan Kim Hanbin.

Kim Jiwon itu…

“Bobby- ah~~ Saranghaeyo!!!!”

“Bobby Oppa!! Omona!!”

“Tunjukan absmu!!!”

“Kyaaa~”

“Oppa, bisa kau ajari aku bermain basket?” tanya yeoja genit yang  diketahui bernama Jang Sa Ha.  Sebenarnya Sa Ha itu sepantara dengan Jihwan namun ia selalu ingin semua orang menganggapnya masih kecil. Dan itu menjijikan.

“Noona sudah kubilang kau itu lebih tua dariku. Tapi bagaimana yah? Aku tidak bia mengajarimu. Mungkin Junhoe bisa. Coba tanyakan saja pada dia. Aku ada urusan. Bye~”

“Kya~~” semua yeoja menjerit mendengar Bobby a.k.a Jiwon berkata seperti itu sambil melambaikan tangannya.

Tak berbeda jauh dengan hyungnya ia pun terkenal. Ia sosok yang menyenangkan dan supel. Selain itu ia jagoan tim basket dan rapper handal. Wajar saja dia terkenal. Nama tenarnya sih Bobby si Funny boy.

Oke, sekarang yang terakhir.

Kim Hanbin itu..

“Hanbin-ah~”

“Hanbin-ah, jadilah namjachinguku~”

“Hanbin-ah, mau makan denganku di kan-“

“Bisakah kalian diam? Ini sedang di perpustakaan. Disini dilarang ribut. Kalau ingin ribut, sana pergi ke pasar!” Hanbin menggertak mereka pelan. Ia sedang ingin fokus membaca bukunya.

“Kya~ Hanbin sangat keren saat membaca buku~~”

“Ia semakin tampan jika sedang kesal~”

Hanbin hanya memukul dahinya. Ia sangat bosan dengan keadaan seperti ini.
“Terserah kalian saja. Aku mau pergi. Aku ada urusan.”

“Bye, Hanbin-ah~~”

“Ew.. dasar noona girang.”

Dia sedikit berbeda dengan kedua hyungnya. Ia sangat dingin. Namun, kecerdasannya melebihi  orang-orang. (Kecuali hyung-hyungnya karna mereka semua memiliki IQ yang mengagumkan) Hanbin juga terkenal sebagai namja yang penuh charisma dan rapper handal seperti Bobby. Kadang mereka bertiga tampil bersama.

Hanbin dan Jiwon berada di kelas XI.

Yeah, intinya mereka semua orang tenar. Cool Kids. Tapi ternyata mereka punya suatu rahasia yang semua orang tidak tau…

*skip time*

Kantin kali ini sedang penuh. Bukan karna adanya Trio Kim! Tapi karana ada seorang yeoja yang jatuh dengan keadaan yang err.. mengenaskan?

“Eh? Hyo Jin? Kenapa kau seperti itu?” terdengan suara lembut yang berasal dari seorang namja.

*Hyo Jin POV*

BRUK

“Aw.. Appoyo~” aku memegang kepalaku yang terantuk sebuah batu. Yah, kenalkan aku Kim Hyo Jin. Aku adalah orang yang sangat ceroboh. Aku selalu bergantung pada Oppaku.

Sebentar, kenapa bajuku terasa dingin yah? Minumanku juga dimana yah?

Jangan-jangan..

“Aish, kenapa tumpah sih?”

Aku membenarkan bajuku yang sudah basah kuyup. Dan yang membuatku semakin geram adalah tidak ada seorangpun yang menolongku!!!

Aish, jinjja.

“Eh? Hyo Jin? Kenapa kau seperti itu?”. sepertinya aku mengenal suara ini.

“Jinhwan Oppa!” aku tersenyum saat melihat Jinhwan oppa berlari menujuku.

HUP

“ Hyo Jin, jangan duduk di tanah. Ini kotor.” Seorang namja mengendong ku. Dan aku tau pasti ia siapa.

“Jiwon Oppa!” aku semakin tersenyum melihatnya.

PLUK

“Apa yang terjadi?” tiba- tiba sebuah jas sudah berada di pundakku. Yah, siapa lagi yang berbicara dengan nada dingin kalau bukan..

“Hanbin Oppa! Jiwon Oppa, turunkan aku.” Aku menyuruh Jiwon Oppa untuk menurunkanku.

“ Jawab aku Kim Hyo Jin. Kenapa bisa seperti itu?” Hanbin Oppa bertanya lagi padaku.

“Eum.. tadi aku tersandung dan minumanku tumpah. Yah, seperti itu.” aku menundukan kepalaku . Jinhwan menegelus kepalaku pelan.

“Gwaenchana. Kau harus berhati-hati.” Katanya sambil tersenyum

“Kau harus lebih menjaga diri jika tidak berdekatan dengan kami, Jinie~”  Kali ini Jiwon oppa membelai  kepalaku .

“Ne, oppadeul.”

“Chakaman, kau itu siapa?” tanya seorang yeoja yang kurasa namanya Jang Sa Ha. Yah, aku membaca name tagnya.

“Dia dongsaeng kami.” Jawab Oppaku bersamaan.

“MWO?!?!!”

Hah, mulai lagi…

Selalu saja seperti ini. Aku tau oppa ku itu sangat terkenal dan tampan luar biasa. tapi kenapa banyak orang yang tidak percaya kalau kami itu saudara?

Aku tidak seburuk yang kalian liat.Aku hanya sedikit berbeda dari oppaku.  Aku tau aku ini termasuk orang yang kurang menarik,  Aku ceroboh,  tidak mencolok, kepintaranku juga standar. Tak memiliki bakat yang hebat. Aku terbilang pendek untuk ukuran anak SHS. Aku juga pemalu. Aku juga-

Baiklah, aku akui aku sangat bertolak belakang dengan oppa ku.

“Kau tidak percaya? Bukankah kau sudah kuberi tahu kemarin?” Jiwon oppa bertanya. Jadi, dia sudah tau kalau aku akan masuk sekolah ini? Aish, padahal aku tidak ingin ada yang tau kalau aku adik dari Trio Kim yang sangat terkenal ini.

“Jadi kau Kim Hyo Jin?” Sa Ha eonni. Aku mengangguk. Hah, masa JHS ku akan terulang lagi.

“Lebih baik kalian bubar saja. Hyo Jin sangat tidak suka di kelilingi banyak orang.” Hanbin Oppa mengatakannya dengan aksen dinginnya. Tipe Hanbin sekali.

Dan dalam sekejap kumpulan orang itu lenyap. Hanbin oppa jjang!!

“Kenapa tidak bilang kalau kau sudah pulang?” tanya Jihwan Oppa sambil membenarkan rambutku.

“Oppa, apa itu penting? Kan kelas X pulang lebih awal dari kelas XII dan XI. “ aku menjawabnya sambil membenarkan baju Jihwan oppa. Bajunya sedikit berantakan akibat berlari kencang tadi.

“Sangat penting! Kami tidak ingin kau terluka akibat jatuh seperti tadi. Kau tau kan kau ini sangat ceroboh. “ Jiwon oppa semangat.

“Mianhae sudah membuat oppa khawatir.” Aku menundukan kepalaku lagi.

“Sudahlah, apa sekarang kau mau pulang?” tanya Hanbin oppa.

“Ne. Aku pulang yah. Oppa masih ada ekskul kan? Aku pulang duluan saja. Sampai bertemu di rumah.” Saat akan melangkahkan kaki, tanganku di pegang oleh tiga tangan.

“Wae?” tanya ku heran.

“Poppo.” Jawab mereka kompak. Aigo~ apa aku belum cerita kalau mereka akan manja jika hanya ada aku? Sepertinya belum. Nah, itu sudah kuceritakan. *apasih?*

“Aigoo~ Ne” aku kembali mendekati mereka.

Chu~ kucium pipi Jihwan oppa.

Chu~ kucium pipi Jiwon oppa.

Chu~ kucium pipi Hanbin oppa.

“Sudahkan? Aku pulang duluan yah. “

“Chakaman.” Teriak mereka bertiga. Apalagi kali ini?

“Sebenarnya kami juga sudah pulang jadi kita pulang bersama, ne?”  Jihwan oppa mengatakan itu dengan wajah tanpa dosa.

-_______________-

Hanya itu ekspresi yang tergambar diwajahku. Kenapa tidak bilang dari tadi?!

“Ne. Kalau begitu ayo. Aku sudah lapar!!! Hyo Jin-ah, buatkan nasi goreng kimchi buat oppa ter-handsome ini yah?” kata Jiwon oppa sambil menaik turunkan alisnya.

“Ne, akan kubuatkan untuk WonWon oppaku yang ter-handsome ini~” Aku membelai pipi Jiwon oppa. Jiwon oppa sangat suka jika aku mengelus pipinya.

“Lalu untuk oppa?” Hanbin oppa mendorong Jiwon oppa dan menaruh tanganku ke pipinya juga. Cemburuan.  Tipe Hanbin oppa banget.

“Oppa mau aku masak apa?” tanyaku sambil tersenyum.

“Eum.. aku ingin kimbab!” satu sifat Hanbin oppa yang tidak pernah diketahui oleh orang banyak adalah kekanak-kanakan. Ia hanya memperlihatkan sifat itu di depanku dan juga Jihwan dan Jiwon oppa.

“Oke, sir. Aku akan membuatkanya khusus untuk HanHan oppa~” Aku mengusap pipinya pelan. Hanbin oppa pun tersenyum.

“Ehem, jadi HyoHyo  tidak mau menanyakan pada HwanHwan oppa?” kata Jihwan oppa.

“Mianhae, HwanHwa oppa~ HyoHyo lupa. Jadi HwanHwan oppa mau apa?” tanyaku. Omo~ mereka semakin imut jika memanggil namaku seperti itu.

“HwanHwan oppa mau bibimbap! HwanHwan oppa sangat lapar.” Kata Jihwan oppa sambil menggunakan puppy eyesnya.

“Ne ne, HyoHyo akan memasak nasi goreng kimchi untuk WonWon oppa, kimbab untuk HanHan oppa, dan bibimbap untuk HwanHwan oppa. “  kataku.

“ Gomawo HyoHyo~” kata mereka kompak. Aigo~ lucu sekali mereka.

*Hyo Jin POV end*

*next day*

“Oppadeul~ aku pergi belanja dulu ne~”

“Ne!”

Hyo Jin pun pergi berbelanja meninggalkan ketiga kakaknya yang saling menatap tajam.

“Baiklah, akan kubuka pertemuan kita ini. Seperti yang kita tau, kita mempunyai sebuah rahasia tentang Hyo Jin dan jangan sampai Hyo Jin tau.” Jinhwan memulai percakapan.

“Tentu saja. Aku tidak pernah membocorkannya. Kupikir kita harus hati-hati dengan Hanbin. Ia paling dekat dengan Hyo Jin.” Jiwon memandang Hanbin.

“Ya! Apa maksudmu,hyung?! Aku tidak pernah memberitahu Hyo jin! Jangan menuduhku begitu.” Hanbin berteriak dan memukul lengan Jiwon.

“Ne.. ne.. Mianhae..  aku hanya bercanda tadi.” Jiwon meninta maaf.

“Dan kurasa kita bertiga memiliki perasaan yang sama pada Hyo Jin. Jadi sebenarnya aku ingin membahas ini dari tadi. Sebagai yang paling tua, aku yang akan menjaga HyoJin.” Kata Jihwan.

“Tidak bisa! Hyo Jin butuh orang yang kuat. Dan itu adalah aku! Kim Jiwon!”

“Tidak! Dia butuh orang yang tenang! Bukan berisik seperti kau!” sudah pasti itu Hanbin.

“Baiklah. Bagaimana kalau mulai sekarang kita bersaing untuk mendapatkan Hyo Jin? Otte?” Jihwan menyarankan.

“Baik! Setuju!” Jiwon dan Hanbin menjawab dengan tegas.

“Baiklah! Kita mulai dari hari ini!”

“Oppa?”

“Hyo Jin?!”

-TBC-

Bagaimana?

Tunggu chapter selanjutnya ya~

Gomawo yang udah mau baca!!

 

~Cho Hyo Jin

My Lovely Boyfriend

Title: My Lovely Boyfriend

Author: Kim Hwayeon

Genre: Romance

Rating: NC-21

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

Others suju member.

 

Warning:

Bagi yang otaknya masih polos dianjurkan untuk tidak membacanya.Typo bertebaran.

Disclaimer:

Kyuhyun milik Sparkyu, Suju, SME, ELF, orangtuanya, dan Tuhan YME. Saya hanya pinjam nama. Engga juga deng, Kyuhyun milik saya. Hehehe >.<

FF ini mutlak milik saya, semuanya berasal dari otak saya. Jadi dilarang copy paste kalo masih mau hidup. Arrachi? *nyengir setan*

Note:

Okeh, ini dia… berhubung author lagi sedih banget, jadi author menghibur kalian dengan FF ini aja oke? Jangan marah kali jelek yah… mood author lagi kacau balau nih.. hiks hiks, author sedih chinguya T_T

Jangan bosen yah… selamat menikmati.

Bagi yang ga kuat baca ff NC, langsung tekan tombol back saja wokeh. Happy reading ^^

.

.

-o0o-

.

.

Mata Hwayeon terus terpaku pada sebuah benda kotak berwarna hitam. Kerap kali yeoja itu mencebik bibirnya kesal dan menggerutu pelan. Sepertinya gadis itu sedang kesal. “Cih, namja sialan itu berani menggantungkanku seperti ini selama 1 bulan heh? Namja itu cari mati rupanya. Lihat saja, aku tidak akan memberinya jatah lagi selamanya.”

Gadis itu terus menggerutu tanpa mengindahkan tatapan aneh para pengunjung café yang tertuju padanya. “Kenapa dia mau-mau saja sih digandeng seperti itu oleh yeoja jadi-jadian itu? Aish, menyebalkan sekali. Aaah eotteokhae. Aku merindukannya hiks.” Gadis itu kemudian mulai terisak kecil. Hidungnya sudah memerah, begitu juga dengan matanya.

Beberapa namja yang berada di café itu hanya bisa menelan saliva mereka dengan kelu. Kenapa? Oh oh. Lihat saja Hwayeon yang sedari tadi terus mengeluarkan aegyonya. Dan lagi, sekarang bibirnya mengerucut imut dengan pipi menggembung, ck.

Gadis itu terus terpaku pada kegiatannya menatap benda kotak berwarna hitam yang sudah dia pandangi dari tadi, tanpa menyadari seorang namja dengan hoodie hitam menghampirinya dengan tergesa-gesa.

Namja itu berbadan kurus, well…sedikit berisi. Rambutnya yang berwarna coklat hazel ditutupi oleh topi hitam, dan jangan lupa. Nama itu juga memakai masker. Namja itu terus berjalan lurus kearah Hwayeon lalu tiba-tiba menarik hwayeon kedalam pelukannya.

Hwayeon yang kaget tentu saja berontak. “Yah ahjussi! Jangan macam-macam ya! Lepas!!” pekik Hwayeon takut.Namja itu tidak bergeming, namja itu malah semakin mengeratkan pelukannya dan melesakkan kepalanya kedalam ceruk leher Hwayeon yang ketakutan. “Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanmu.” Ujar namja itu lirih dengan suara parau.

Hwayeon terdiam. Sekarang ia tau dengan jelas siapa yang tngah memeluknya dan mengagetkannya tadi, karena ia mengenali suaranya. Suara orang yang begitu dicintainya, suara kekasih hatinya, Cho Kyuhyun.

Pasrah, akhirnya Hwayeon melingkarkan tangannya melingkari pinggang Kyuhyun, kemudian ia menyenderkan tubuhnya pada namja itu tanpa memperdulikan tatapan aneh para pengunjung yang tertuju pada mereka berdua.

Seakan mengerti keadaan sekitar, Kyuhyun melepaskan pelukannya dari tubuh Hwayeon, lalu membawa Hwayeon keluar dari café itu dengan cepat. “Ahjumma, aku bawa gadis ini pulang oke. Gomawoyo.”ujar Kyuhyun sambil lalu.

Hwayeon mengikuti Kyuhyun keluar café dalam diam. Ia sama sekali tidak protes karena pada kenyataannya, ia begitu merindukan namja yang saat ini tengah menyeretnya kedalam mobil-ah ani, van miliknya.

Hwayeon masuk kedalam van dengan patuh, dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada beberapa member suju disana. “Huaaaa, bogoshipo chagiya.” Hwayeon tiba-tiba saja sudah berada di dalam pelukan Kangin, Leeteuk dan Heechul. Kyuhyun mendesis geram, tidak suka melihat kekasih tercintanya dipeluk-peluk oleh orang lain. Walaupun ia tau, mereka adalah bagian dari keluarganya sendiri.

“Uaaaa, nado bogoshipoyo oppadeul. Kalian menghilang tanpa kabar selama sebulan.”ujar Hwayeon sambil menekankan kata ‘sebulan’, bermaksud menyindir seseorang.

Kyuhyun meringis saat merasa dialah yang dimaksud Hwayeon. Member lain hanya cengengesan tak jelas membuat Hwayeon jengkel. “Ah baby, malam ini kau menginap di dorm kan? Oppa merindukanmu. Tidur bersama oppa ne malam ini?” ujar Heechul memecah keheningan.

Kyuhyun yang mendengar ucapan Heechul sontak menoleh jengkel. “Apa maksudmu hyung? Tentu saja Hwayeon akan tidur denganku.” Bantah Kyuhyun tak terima.

Heechul menatap Kyuhyun datar, Kyuhyun balas menatap Heechul tak kalah datar. Member lain melihat kelakuan mereka dengan salah satu alis terangkat. “Dari pada kalian rebutan, lebih baik Hwayeon tidur bersamaku saja dirumahku, Bagaimana? Setuju kan?” Celetuk Siwon tak tau diri.

Tak tanggung-tanggung. Kini semua yang ada di dalam van menyipitkan matanya sambil menatap Siwon dengan pandangan mematikan. Siwon yang merasa tercancam hanya bisa mengerjap gugup. “Ohehehehe, a-aku kan hanya bercanda. Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mungkin tidur bersama Hwayeon kok, itu kan dosa…blablabla”

Setelah hampir setengah jam mereka mendengar ocehan Siwon tentang dosa dan lainnya, mereka akhirnya sampai di dorm. Mereka bergegas keluar dari van kemudian masuk kedalam apartemen.

Dengan sigap mereka masuk kedalm lift, sebelum mereka dikenali para ELF, dan membuat geger apartemen. Leeteuk selaku yang paling tua, dengan tau diri menyentuh tombol lantai 11. Hwayeon yang melihatnya memandang Leeteuk bingung. “Kenapa oppa tidak memencet tombol lantai 12? Kamar oppa kan disana.” Tanya Hwayeon bingung tanpa memperdulikan tangan Kyuhyun yang mulai melingkari pinggangnya.

“Ah aniya, Wookie sudah memasak untuk kita semua bersama Sungmin. Mereka mau menyambutmu, yah kau tau lah.” Hwayeon mengangguk maklum. Seluruh member Super Junior begitu menyayanginya, ia diperlakukan bak ratu jika berada di tengah-tengah mereka.

Tiing!

Mereka ber6 keluar dari dalam lift, lalu melangkah menuju ke saah satu pintu. Leeteuk mengangkat jempolnya, finger scan seperti biasa, dan tadaaaa… pintu terbuka.

Cklek!

Srettt!!!

Brukk!

Baru saja Hwayeon masuk satu langkah kedalam dorm, tiba-tiba gadis itu diterjang dari depan sehingga mereka berdua limbung dan saling tindih dilantai. Sang pelaku sendiri hanya diam sambil menyeringai mesum, tidak berniat mengubah posisi mereka.

Kyuhyun yang melihat kekasihnya tengah ditindih namja lain langsung mendidih. “Yak Lee Hyukjae! Dasar monyet mesum! Cepat minggir! Kau membuat dia sakit badan bodoh!” Kyuhyun mencengkram baju belakang Eunhyuk lalu melemparnya kea rah lain tanpa perasaan.

Bugh!

“Aahhh, appo. Dasar magnae tak tau diri.” Gerutu Eunhyuk kesal. Hwayeon sendiri meringis kemudian duduk sambil mengusap punggungnya. “Hihihihi.” Tiba-tiba Eunhyuk terkikik sendri seperti orang gila, membuat perhatian semua member tertuju padanya.

Bahkan Hwayeon seakan melupakan rasa sakitnya, malah beralih menatap Eunhyuk dengan pandangan bingung. “Oppa kenapa?” tanya Hwayeon bingung. Bukannya menjawab, Eunhyuk malah semakin terkikik dengan wajah memerah. Tangannya ia letakkan dipipi sambil tersenyum mesum.

Member lain menatap kelakuan Eunhyuk dengan bingung. “Dadamu empuk sekali chagiya.” Ujar Eunhyuk tiba-tiba. Member lain terperangah, Hwayeon apalagi. Mulutnya menganga syok dengan wajah merah padam. “O-oppa…” cicit Hwayeon malu.

Berbeda dengan Hwayeon, beda lagi dengan para member. Mereka semua menatap Eunhyuk dengan mata menyalang tajam, terlebih Kangin, Kyuhyun, dan Heechul.

Eunhyuk sepertinya menyadari akibat perkataannya, karena tiba-tiba saja namja itu bangun dan berlari kearah dapur. Kangin, Kyuhyun, dan Heechul sontak mengejarnya, meninggalkan Hwayeon yang masih terduduk di lantai dengan wajah merah padam.

Sungmin tersenyum maklum, namja itu kemudian menghampiri Hwayeon, dan menyodorkan tangannya. “Ayo bangun, kita makan saja. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.” Ujar Sungmin lembut. Hwayeon mengangguk kaku kemudian menyambut uluran tangan Sungmin dan bangkit berdiri.

Mereka berjalan menuju ruang tengah sambil sesekali berbincang kecil. Ryeowook dan Yesung sudah duduk manis di ruang tengah dengan cengiran lebar. Para member mulai mengumpul, dan akhirnya seluruh member sudah duduk manis di tempatnya masing-masing.

Yesung dan Ryeowook yang sedari tadi duduk menunggu mereka memandang Eunhyuk dengan bingung. “Kau kenapa Hyukkie-ya? Telingamu merah sekali, tanganmu juga, errr…hidungmu juga.” Tanya Yesung bingung.

Eunhyuk hanya mengeruhkan wajahnya, tanpa memperdulikan tawa duo setan a.k.a Heechul dan Kyuhyun. “Aniya, gwaenchana.” Jawab eunhyuk datar. Leeteuk terkekeh geli. “Dia habis dihajar oleh duo setan kita Yesungie, dia tadi mengatakan ‘Dadamu empuk sekali chagiya.’ Pada Hwayeon setelah dia membuat Hwayeon terjatuh dan jatuh menindih Hwayeon.” Ujar Leeteuk diiringi kekehan member lain.

Yesung dan Ryeowook melebarkan mata mereka kaget. “MWOYA?!” pekik mereka marah sambil menatap Eunhyuk marah. Eunhyuk semakin mengkeret takut di tempat duduknya. “Jangan menghukumku lagi, aish! Duo setan itu sudah menghajarku habis-habisan!” keluh Eunhyuk memelas.Yesung berdecak malas sedangkan Ryeowook terus menatap Eunhyuk dengan pandangan mematikan.

“Jja, sudahlah. Ayo kita makan dulu. Selamat makan semuanyaaaaaa!!!!” ujar Shindong dan dengan cepat mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Semuanya sibuk mengambil makanan untuk diri mereka masing-masing, kecuali Kyuhyun. Namja itu tetap bersedekap manis dalam duduknya dan membiarkan Hwayeon mengambilkan dirinya makanan.

Hwayeon mengambil piring Kyuhyun lalu mengambilkan Kyuhyun makanan untuk namja itu. Setelah sudah selesai, ia langsung menyendokkan makanan dari piring itu dan menyuapinya kedalam mulut Kyuhyun. Sesekali gadis itu juga menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya.

Member lain menatap Kyuhyun dengan pandangan iri, sedangkan Kyuhyun tetap duduk manis sambil memberikan senyum innocentnya. Hwayeon menambahkan nasi dipiringnya dn beberapa lauk, dia juga menambahkan sedikit sayur kedalam piringnya.

Hwayeon menyendokkan sayur tersebut dan berniat menyuapkannya ke Kyuhyun. Dan tentu saja Kyuhyun menolak. “Ayolah, sedikit saja eoh?” rayu Hwayeon sambil tetap berusaha menyuapkan sayur itu kedalam mulut Kyuhyun. Kyuhyun juga dengan keras kepala mengatupkan bibirnya dan menggeleng keras.

Sreeet

“Mwoy-“

Cup

Mata Hwayeon membulat lebar. Kyuhyun tadi tiba-tiba saja merebut sendoknya dan tiba-tiba menyuapkan sayur tadi kedalam mulut Hwayeon dan mengunci bibir Hwayeon dengan ciuman basah.

Member lain hanya berusaha menulikan pendengaran mereka saat mendengarkan kecipak kecipak suara ciuman mereka. “Anghhh…emmm…opph..aahhh…hhh..” Hwayeon menjambak rambut Kyuhyun lembut saat meraskan paru-parunya mengempis dan dadanya sesak.

Srettt

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dan menatap wajah memerah Hwayeon dengan senang. Keduanya terengah, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Hwayeon mendelik sebal kearah Kyuhyun saat ia sudah bisa menetralkan deru nafasnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang tengah mendelik padanya dengan raut lapar. Aku tidak tahan lagi jerit Kyuhyun dalam hati. “Shit!” umpatnya pelan saat ia malah merasakan celananya menyempit.

Kyuhyun tiba-tiba mengangkat Hwayeon dan berlari membawa gadis itu menuju kamar.

Srreettt

Greep!

“OMO! APA YANG OPPA LAKUKAN?!” jerit Hwayeon kaget. Kyuhyun tidak mengindahkan jeritan Hwayeon dan terus mempercepat larinya menuju kamar.

Cklek!

Brak!

Para member yang tadi melihat kelakuan Kyuhyu melongo. Kemudian mereka tersenyum mesum pada satu sama lain. “Ada yang tidak sabar sepertinya, ihihihi.” Ujar Ryeowook pelan diiringi seringaian member lain

Meanwhile,

Didalam kamar…

Cklek!

Brak!

Sreeet!

Kyuhyun dengan cepat membawa Hwayeon karah kasur, lalu dengan cepat menindih Hwayeon dengan tubuhnya.

Cup!

Hwayeon melongo kaget saat mendapati Kyuhyun yang tiba-tiba saja menciuminya dengan liar. Gadis itu berusaha merilekskan tubuhnya dan mengikuti permainan Kyuhyun.

Dengan cepat ia melingkarkan tangannya ke leher Kyuhyun, dan sesekali menjambak rambut Kyuhyun dengan lembut saat Kyuhyun menghisap kedua belah bibirnya dengan bringas.

Suara kecipak-kecipak mendominasi ruangan tersebut. “Angghhh…emmhh…hhhh” desahan Hwayeon terus mengalun lembut mengiringi perminan mereka.

Kyuhyun menggeram samar ditengah ciuman mereka saat bagian selatan dalam tubuhnya semakin mengeras sampai terasa begitu menyakitkan. “Aku menginkanmuhh…hh…” ujar Kyuhyun tepat ditelinga Hwayeon setelah ia melepaskan ciuman mereka tadi.

Hwayeon memandang Kyuhyun yang berada diatasnya dengan lekat, kemudian ia mengangguk. Kyuhyun yang merasa sudah mendapat lampu hijau akhirnya kembali melumat bibir Hwayeon.

Berbeda dengan cumbuannya yang pertama, sekarang Kyuhyun mencumbu Hwayeon dengan sangat lembut. Membuat Hwayeon terhanyut dan terlena. Kyuhyun menyeringai saat ia merasa Hwayeon sudah terjatuh kedalam permainannya.

Dan tanpa Hwayeon sadari, Kyuhyun mulai melepaskan satu persatu kain yang membalut tubuh mereka, hingga mereka berdua telanjang bulat.

Kyuhyun memandang Hwayeon yang terengah dibawahnya dengan penuh kasih sayang. Hwayeonpun ikut memandang Kyuhyun dengan pandangan memuja. “Aku mencintaimu” ujar Kyuhyun lembut sambil mengecup dahi Hwayeon. Hwayeon tersenyum manis, “Aku juga mencintaimu oppa.”

Kyuhyun tersenyum tulus. Kemudian dengan lembut ia mulai mencium Hwayeon kembali, menggetarkan Hwayeon dengan cumbuannya. “Hiiiah…uuuughhh, j-jangan disa-na ahhh…” Hwayeon menggigit bibirnya kuat-kuat saat Kyuhyun tiba-tiba saja menggoda leher dan telinganya. Tidak, bukannya ia tidak suka. Ia sangat menyukainya malah, hanya saja itu terlalu…sensitive.

Hwayeon menggigil didalam lautan kenikmatannya saat penjelajahan Kyuhyun berhenti di bagian dadanya. Hwayeon melenguh pelan saat Kyuhyun menjilat ringan puncak dadanya yang mengeras. “Shhh…jangan menggodaku!” ujar Hwayeon sambil memejamkan matanya frustasi.

Kyuhyun akhirnya menyudahi godaannya, dan mulai mengulum puncak payudara Hwayeon. Hwayeon tersentak dan lenguhan mulai terdengar dari bibirnya yang membengkak. Kyuhyun terus menggoda bagian itu sampai akhirnya tubuh Hwayeon menegang diiringi pekikan gadis itu. Kyuhyun diam-diam menyeringai. “Ku suka emm…?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon memejamkan matanya, kemudian mengangguk pelan. Kyuhyun kemudian merendahkan tubuhnya, ia membuka paha Hwayeon dengan lebar. Hwayeon membuka matanya dan menatap Kyuhyun bingung.

Dan seketika mata Hwayeon membelalak histeris saat Kyuhyun mulai menciumi dan melumat daerah pribadinya. Tubuhnya tersentak cepat. Ia berusaha berontak, dan melepaskan cumbuan Kyuhyun di daerah pribadinya. “T-tidak! Jangan! Ahhh…shhh… je-jeballhh… uggghhh” pungguh Hwayeon melengkung saat Kyuhyun mengisap daerah pribadinya dengan cepat dan keras.

Hwayeon menggeleng-gelengkan kepalanya panic. Tidak, ia tidak suka jika Kyuhyun mencumbu daerah pribadinya seperti ini. Ia tidak kuat, Itu terlalu intens baginya. “S-stophh!!! Uuughh…pleaseee…arnnghh…o-oop…ah…aaahhhhh.” Pandangan Hwayeon mulai mengabur, kepalanya terasa pening, airmatapun mulai mengalir dari sudut matanya.

Kyuhyun mencengkram paha Hwayeon dengan erat, dan terus melanjutkan kegiatannya. Sampai akhirnya tubuh Hwayeon kembali bergetar kencang dalam kungkukngannya. “O-Oppahhh!!!!uuugh” Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan saat mendengar pekikan Hwayeon, lalu mengecup bibir Hwayeon ringan.

Nafas Hwayeon masih memburu.

Greepp!!

Hwayeon meraih tubuh Kyuhyun lalu memeluknya erat. “Jangan lakukan itu lagihh.. hah… itu terlalu intens…aku tidak bisa.” Ujar Hwayeon lemah. Kyuhyun menggeleng tegas. “tidak. Aku akan terus melakukannya setiap kali kita bercinta. Itu memang sangat intens, dan itulah yang aku inginkan.” Jawab Kyuhyun lembut sambil mengusap bagian pribadi hwayeon dengan jarinya.

Hwayeon melenguh dan dengan cepat meraih tangan Kyuhyun dan menghentikan gerakan tangan Kyuhyun. “J-jangan…masih terlalu sensitive.” Cicit Hwayeon dengan wajah merah padam.

Kyuhyun tersenyum geli kemudian mencium Hwayeon dan mulai menggerakkan jarinya lagi. Hwayeon akhirnya pasrah, membiarkan Kyuhyun berbuat sesukanya pada tubuhnya.

Tubuh Hwayeon terus bergetar pelan seiring usapan Kyuhyun di daerah pribadinya. “Aku tidak tahan lagi, aku akan melakukannya dengan lembut. Aku berjanji.” Bisik Kyuhyun lembut.

Hwayeon memejamkan matanya, menyerapi seluruh perlakuan Kyuhyun atas tubuhnya. Sampai akhirnya ia merasakan sesuatu yang besar mulai mendesak masuk kedalam dirinya.

Hwayeon merasakan usapan Kyuhyun di pipinya, ia membuka matanya dan menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Tatap aku setiap kali aku menyetubuhimu. Arrachi? Aku ingin melihat gairah yang terpancar dari dalam matamu saat ita melakukannya.”

Kyuhyun mengangguk dengan mata terpaku dengan mata Kyuhyun. Perlahan tapi pasti, Kyuhyun mulai mendesakkan dirinya kedalam tubuh Hwayeon. Hwayeon meremas erat seprai dibawahnya dan melenguh saat perlahan lahan Kyuhyun mulai memenuhi dirinya.

Kyuhyun terus memaku mata Hwayeon tanpa menghentikan pergerakan tubuhnya. Pinggulnya mulai bergerak dengan irama pelan, mengirimkan getar kenikmatan untuk sang kekasih. Tidak tahan melihat bibir Hwayeon yang menganggur dan hanya mengeluarkan desahan desahan erotis yang meningkatkan birahinya, Kyuhyun akhirnya menyambar bibir Hwayeon cepat, memagutnya dengan lembut, mengimbangi permainannya.

Hwayeon memejamkan matanya, mengalungkan tangannya keleher Kyuhyun dan meremas lembut surai coklat Kyuhyun. Kyuhyun menggeram. “shhhh…bukah mata-muhh sayanghhh…hhh…” Hwayeon membuka matanya, dan langsung dihadapkan dengan manic mata Kyuhyun yang menyorot tajam penuh gairah, dan tepat pada saat itu juga. Tubuh Hwayeon menegang, sesuatu berontak untuk keluar dari dalam perutnya melalui pusat tubuhnya.

Kyuhyun semakin mempercepat irama hentakannya, membiarkan sang ekasih mencapai kenikmatannya sendirian. “uuughhh…o-oopahhh…hhh…HIAHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!” tubuh Hwayeon bergetar hebat, punggungnya melengkung keatas disertai desisan dari bibirnya. Kyuhyun menyeringai senang, ia menyaksikan keindahan Hwayeon saat gadisnya mendapatkan kepuasannya dengan mata menyalang senang tanpa menghentikan gerakan pinggulanya.

Tubuh Hwayeon yang awalnya menegang, mulai berangsur-angsur rileks. Desahan terus melantun tanpa henti dari bibirnya, membuat gairah Kyuhyun terus terpacu. Hwayeon melenguh frustasi saat Kyuhyun terus menerus menumbuk titik terdalam tubuhnya. “uuughhh oppahhhh….” HWayeon mencengkram punggung Kyuhyun erat, melampiaskan rasa frustasinya saat Kyuhyun semakin memperlambat gerak pinggulnya.

Kyuhyun menyeringai ditengah kegiatannya. “Kenapahh sayangg… mhhh” Hwayeon memejamkan matanya saat Kyuhyun kembai menumbuk dan menekan bagian terdalam tubuhnya. “lebihh cepatthhh…nghhh”

“shhh…memohonlah sayang“ Hwayeon melenguh frustasi, kepalanya menggeleng kuat saat Kyuhyun lagi lagi menekan kuat bagian terdalam tubuhnya. “annghhh..oppaaahhh…j-jebaaalhhhh…uuughhh…l-lebiih ce-ah-pathhhh…nnghhh” Kyuhyun menyeringai senang, dengan sigap ia kembali menaikkan tempo hentakannya, berhenti menggoda sang kekasih yang sudah terlihat lemas.

Desahan keduanya terus beriringan tanpa memperdulikan makhluk lain yang tinggal bersama mereka yang tampak frustasi saat terus-terusan mendapatkan pendengaran aneh dari kegiatan mereka sejak tadi.

Kyuhyun terus menumbuk titik kenikmatan Hwayeon tanpa henti, gerakannya semakin cepat setiap saat. Hwayeon melenguh pasrah, tubuhnya sudah terasa lelah dan tidak bertenaga…tapi apa daya, kekasih mesumnya ini bahkan belum mendapatkan kenikmatannya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang terlihat kelelahan, lalu memaku bibirnya. Membawanya kedalam ciuman penuh hasrat. Hwayeon melenguh ditengah ciuman mereka saa merasakan tubuh Kyuhyun yang berada di dalam dirinya semakin membesar, membuatnya semakin sesak. Hwayeon juga merasakan sesuatu akan kembali eluar dari pusat tubuhnya.

Hwayeon akhirnya mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun dan melenguh tertahan saat dirinya kembali mendapatkan pelepasan, dan disaat bersamaan…Kyuhyun menghentakkan tubuhnya dalam-dalam dan ikut melenguh dengan suara rendah. Hwayeon kembali tersenyum ditengah pagutan mereka saat merasakan sesuatu yang hangat mulai membanjiri rahimnya.

Kyuhyun ambruk diatas tubuh Hwayeon seketika sambil memeluk gadis itu. Hwayeon tidak protes, ia malah menggerakkan tangannya untuk mengelus surai lembut Kyuhyun. Kyuhyun terengah diatas Hwayeon, sama sekali tidak berniat beranjak bangun dari sana apa lagi saat Hwayeon mulai mengelus rembut surai kecoklatan miliknya.

Suasana ruangan itu akhinya hening, hanya ada suara deru nafas tidak teratur yang mendominasi. “aku merindukanmu…” ujar Kyuhyun memecah keheningan. Hwayeon tersenyum dalam diam, tapi kemudian ia teringat dengan sesuatu yang membuatnya kesal. “Ah jinja?” tanya Hwayeon datar.

Kyuhyun sepertinya menyadari perubahan Hwayeon, namja itu langsung mengangkat tubuhnya dan langsung dihadapkan dengan wajah sebal Hwayeon. “waeyo chagi?” tanya Kyuhyun bingung.

Hwayeon mendengus. “Aku melihatmu tadi pagi di tv.” Ujar Hwayeon pelan. Kyuhyun sendiri mengerutkan keningnya bingung. “Lalu kenapa? Aku kan memang pasti akan selalu muncul di tv. Itu profesi ku sayang. Lalu apa yang salah emmm?

Hwayeon mengerucutkan bibirnya. “Tapi tanganmu digandeng oleh yeoja jadi-jadian itu!!!” pekik Hwayeon tak suka. Kyuhyun tersenyum simpul mendengarnya. “Arraseo, mianhae…aku tidak akan membiarkan yeoja itu menyentuh tanganku lagi, eotte?” Hwayeon mengerjapkan matanya, kemudian mengerucutkan bibirnya kembali dengan pose berfikir. Kyuhyun menelan salivanya susah payah. Cobaan yang tidak bisa dihindari batin Kyuhyun pasrah.

Hwayeon menganggukkan kepalanya tanpa merubah posenya, sama sekali tidak sadar kalau aka nada bahaya mendekat. Hwayeon mengerjapkan matanya sambil mengerutkan kening saat ia merasa tubuh Kyuhyun yang berada di dalam tubuhnya kembali mengeras dan membesar.

Wajah Hwayeon otomatis meona dan menatap Kyuhyun penuh tanya. “Jangan salahkan aku, salahmu sendiri kenapa menampilkan posisi menggemaskan seperti itu. Kau membangkitkan serigala lapar chagi.” Bisik Kyuhyun dengan suara rendah nan sexy. “t-tapi a-aku lelah.” Cicit Hwayeon pelan. Kyuhyun menyeringai setan. Ia mencium sekilas bibir Hwayeon, lalu kembali menumpu tubuhnya untuk berada diatas Hwayeon.

“Aku akan bermain cepat, aku janji.” Hwayeon mengangguk pasrah, membiarkan kyuhyun memonopoli tubuhnya sepuasnya. Kyuhyun tersenyum saat melihat tingkah pasrah Hwayeon. Ia kemudian mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba kembali menikmati pemainan Kyuhyun dari atas tubuhnya. Kyuhyun mulai kembali mengeksplorasi bibir Hwayeon, perlahan lahan turun keleher, kembali membuat tanda kepemilikannya disana tanpa memperdulikan betapa banyak tanda yang sudah ia buat sejak awal kegiatan mereka awal tadi.

“Ahhh…opppahhh…nghhh…” Hwayeon memejamkan matanya saat penjelajahan Kyuhyun kembali terhenti di bagian dadanya. Kyuhyun mengecup kedua puncak dadanya, kemudian mulai mengecap dan menghisapnya dengan bringas membuat Hwayeon kewalahan. Sementara bibir dan lidah Kyuhyun bekerja di salah satu puncak dada Hwayeon, tangannya yang satu lagi pun ikut mengeksplorasi bagian yang satunya.

Kyuhyun memijat kemudian memelintir puncah dada Hwayeon dengan sedikit kasar membuat tubuh Hwayeon berulang kali tersentak dan bergetar. Kyuhyun menghisap puncah dada Hwayeon bergantian kanan kiri dengan bringas tanpa menghentikan kegiatannya didalam pusat tubuh Hwayeon.

Hwayeon kembali memejamkan matanya saat merasakan desakan di pusat tubuhnya. Kyuhyunpun ikut menggeram saat merasakan dinding kewanitaan Hwayeon terus menjepit erat miliknya.

Merasa geram, Kyuhyun mempercepat gerakannya sampi kecepatan maksimal. Tubuh Hwayeon terhentak hentak seiring gerakan Kyuhyun dan ranjang yang mereka pakai terus berdecit mengiringi pergerakan mereka.

“o-omo…o-opahh!!! Uuughh!! Ahhh!!!”

“uuughh…chagi!!!!!!”

Teriakan mereka saling tumpah tindih karena mereka sampai disaat bersamaan. Hwayeo memejamkan matanya erat-erat, merasa tidak memiliki tenaga yang tersisa bahkan hanya untuk membuka matanya.

Kyuhyun tersenyum maklum, dengan tau diri ia beranjak dari atas tubuh Hwayeon dan membaringkan tubuhnya disamping Hwayeon tanpa melepaskan tubuhnya dari dalam tubuh Hwayeon.

Kyuhyun memeluk Hwayeon lalu berusaha meraih selimut dengan kakinya dengan susah payah. Saat sudah mendapat selimutnya itu, ia menyelimuti tubuh mereka berdua. “Jalja…saranghae.” Gumam Kyuhyun lembut lalu tak lama kemudian, menyusul Hwayeon kealam mimpi.

Sementara itu….

Diluar kamar mereka…

Para member menatap pintu kamar Kyuhyun dengan wajah merah padam, bagian selatan tubuh mereka menggembung, menandakan kalau mereka semua sedang berada dalam mode ‘on’

“Magnae sialan, selalu membuat iri. Lihat sekarang…kita yang tersiksa.” Ujar Eunhyuk nelangsa. “sudahlah, sama kalian pergi tidur. Besok jadwal kita kosong, jadi kita bisa bebas. Jja, tidurlah. Annyeong.” Ujar Leeteuk, sang leader sambil lalu.

“Lalu bagaimana dengan Eunhyuk junior?” tanya Eunhyuk memelas. “Bukan urusanku.” Jawab yang lain sambil lalu.

“TIDAKKKKK”

FIN

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

My Love

Titile: My Love

Main cast:
Kim Hwa Yeon
Cho Kyuhyun

Genre: Romance
Rating: NC-21
Author: Kim Hwa Yeon

Note:
Ini ff sedikit aneh. Maaf kalo banyak typo juga. Semua ff ini murni ide dari author masing-masing. Kalo ada kesamaan cerita, berarti itu tidak disengaja. Jangan bash disini, kalo ga suka. cukup tekan tombol back aja di pojok atas kiri.
Aaaah, berhubung ini ff NC, anak kecil dilarang baca yaaa. Nanti otaknya terkontaminasi. Dan juga, maaf kalo kurang memuaskan. Maklum, masih amatiran.
Oke oke? di tunggu commentnya juga ya. Happy Reading! ^^

***


Apa kalian percaya adanya malaikat?
Malaikat itu ada, hanya saja..
Ada peraturan yang harus mereka patuhi
Salah satunya adalah…
Dilarang jatuh cinta dengan sosok yang berbeda.
Manusia, Malaikat, Iblis
Mereka dilarang saling mencintai
Tapi siapa yang bisa melarang cinta?
Banyak orang yang berani melawan batasan dirinya hanya untuk mendapatkan cinta
Tidak adil bukan?
Ya.. semua ini memang tidak adil
Tapi mau bagaimana lagi?
Peraturan dunia langit tidak boleh dibantah
Bagi siapapun yang melanggar, mereka akan dimusnahkan atau dibuang.
Jika saja aku boleh memilih..
Aku lebih memilih bereinkarnasi menjadi manusia

Aku adalah Kim Hwa Yeon.

Malaikat yang dibuang ke dunia manusia karena melanggar peraturan dunia langit yaitu dilarang mencintai sosok yang berbeda. Ya, ak mencintai sosok yang berbeda. Aku mencintai seorang iblis. Tepatnya pangeran dunia iblis. Di dunia lain, namaku adalah Anna. Aku dulunya adalah malaikat yang mengatur kehidupan, entah itu di dunia langit ataupun dunia manusia.

Sekarang disinilah aku. Di dunia manusia. Aku tinggal di dunia manusia bersama malaikat buangan yang lainnya. Kami ber4 tinggal dalam 1 rumah yang bisa dibilang sangat besar. Dari kami ber4, malaikat yang paling tua adalah Feifei. Dia adalah malaikat yang mengatur musim semi. Lalu selanjutnya adalah Vurry. Dia adalah malaikat yang mengatur musim gugur. Sedangkan yang terakhir adalah Fiona. Dia adalah malaikat yang mengatur pasukan dunia langit.

Kami ber4 adalah segelintir malaikat utama di dunia langit. Tpi karena kami melanggar peraturan, kami diadili dan akhirnya dibuang ke dunia manusia. Malaikat yang pertama kali dibuang ke dunia manusia adalah Fiona. Saat dia sedang melatih pasukan dunia langit, tanpa sengaja senjatanya membunuh salah satu pasukan. Lalu yang kedua itu Feifei dan Vurry. Mereka sama sepertiku. Dibuang ke dunia manusia karena melanggar peraturan dunia langit. Mereka berdua jatuh cinta dengan sosok manusia.

“Hey! Kenapa kau senang sekali melamun?” suara seseorang menyentakku. Dia Wookie, teman dekatku disekolah. Ya, dia tau semua tentang diriku. Aku mempercayainya. Dia sudah seperti kakakku sendiri.

“Aniya. Eh, tumben kau sendiri. Mana si kepala besar itu?” mendengar ucapaku, otomatis dia menjitak kepalaku dan itu sukses membuatku meringis.

“Sakit Wookie!” aku mempout out bibirku sambil melipat tanganku di depan dada.

“Cih! Panggil aku eonni! Aku ini lebih tua darimu bocah!”

“SHIREO!”

“Aish anak ini! Terserahmu saja!” aku tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja dia tidak akan bisa berdebat denganku. Kkk~

Ah, aku lupa bilang. Di dunia manusia ini, aku bersekolah di SJ High School. Aku kelas 1 SMA di sini. Sedangkan eonniku tersebar di kelas 2 dan 3.

Hari sudah semakin sore. Malam ini adalah malam purnama. Bagi malaikat sepertiku, jika terkena sinar bulan purnama akan sangat fatal akibatnya. Karena saat malam purnama, semua iblis akan berkeliling di wilayah dunia manusia untuk mencari ‘makanan’. Aku segera berpamitan dengan Wookie lalu berjalan pulang. Sebenarnya aku bisa saja terbang, tapi aku malas. Aku lebih suka berjalan kaki. Lebih sehat.

Aku berjalan sambil bersenandung. Aku sedang berjalan di taman. Aku tersentak saat seseorang menarikku lalu membungkam bibirku. Mataku melotot kaget. Kaget karena dicium secara tiba tiba dan kaget saat mengetahui siapa yang menciumku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Dia terus melumat bibirku sampai akhirnya dia menyesap lembut bibirku sukses membuatku melenguh tertahan. Ah, kakiku terasa lemas.

Jika tangannya tidak menahan pinggangku, mungkin aku sudah jatuh. Ak mengalungkan tanganku di lehernya, memejamkan mata dan menikmati setiap pergerakkannya di bibirku. Dia menarikku semakin mendekat, mendekapku erat. Seakan tak ingin melepasku. Saat ia menjauhkan wajahnya, aku membuka mataku. Kulihat ia tersenyum lembut kearahku. Ia membelai pipiku lalu bibirku. Aku begitu merindukannya. Merindukan sentuhannya.

“Aku merindukanmu” ia mengatakannya lirih.

“aku juga. Aku juga merindukanmu.” Ak kembali memeluknya erat. Menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Menyesap aroma tubuh yang begitu kurindukan. Bisa kurasakan ia mengecup puncak kepalaku.

“lebih baik kita kerumahmu. Sebentar lagi bulan purnama.” Aku hanya menurut saat ia menarikku menuju rumahku sendiri.

Sesaat setelah memasuki rumah, dia langsung menggiringku ke dalam kamarku sendiri lalu menguncinya. Dengan sigap ia kembali melumat bibirku. Menjelajahi rongga mulutku dengan nikmat. Aku hanya menikmati setiap perlakuannya padaku.

Ia mendorongku ke dinding, menempelkan tubuh nya pada tubuhku. Ia menekan bagian tubuh bawahnya ke selangkanganku. Aku melenguh pelan saat merasakan sesuatu yang keras menggesek gesek selangkanganku. Ia terus menggesek gesekkan selangkangannya pada selangkanganku sambil mengukir jejak kepemilikannya di sekitar leherku. Mataku terpejam dengan bibir setengah terbuka yang mengeluarkan suara desahan dan erangan lembut
Ia membuka paksa kemeja seragamku lalu menyesap bagian dada atas. Tangannya dengan cekatan meraih pengait braku dan melepasnya. Ia beralih mengulum puncak dadaku sedangkan tangan satunya mulai menyusup kedalam rok dan celana dalamku ia mulai memainkan jarinya di dalam sana. Aku hanya sibuk melenguh dan mengerang sampai akhirnya aku merasakan gelombang kenikmatan menghantamku membuatku menjerit tertahan karena dengan sigap ia mengunci bibirku. Tubuhku bergetar hebat karena ia tidak berhenti menggoda selangkanganku. Ia terus mengukir jejak kepemilikannya d tubuhku sampai akhirnya aku orgasme untuk yang ke 2 kalinya. Tubuhku terasa sangat lemas.

Ia segera menggendongku bridal style ke arah ranjang lalu membaringkanku ke ranjang. Ia melepas seluruh pakaiannya lalu pakaianku. Tanpa membuang waktu, ia segera mengangkangkan kakiku lalu melesakkan kepalanya di sana. Tubuhku bergetar hebat saat merasakan benda lunak dan basah menggoda selangkanganku. Ia menghisap dan menjilatinya membuatku benar benar melayang. Aku hanya sibuk melenguh sampai akhirnya gelombang itu datang kembali, aku merapatkan kakiku tapi di tahan olehnya. Malah d kangkangkan lebih lebar. Aku hanya pasrah mengikuti keinginannya. Akhirnya ia menyudahi menyiksaki lalu mengecup singkat selangkanganku membuatku mengerang.

“Aku akan memasukkannya.” Belum sempat aku menjawab..

“Ahhh.. “ ak memejamkan mataku saat merasakan benda super besar meneerobos liang kewanitaanku.

“Aaaaakkggghhh!” aku berteriak saat ia menghentakan juniornya masuk dalam 1 sentakan. Ia memijat dadaku untuk mengurangi rasa sakitnya. Sampai aku mulai rileks, ia mulai menggerakkannya perlahan.

“Ahh..ohh..yahh..disana..ohhhhh” aku terus mengerang menikmati setiap pergerakannya di dalam tubuhku

“Oooouuuhhhhhhhhh” kepalaku melesak ke bantal sedangkan punggungku melengkung naik saat juniornya mengenai sweetpot ku

“oooh..yess..emhh..there..aah..fasterr..” aku terus melenguh dan mengerang nikmat saat ia mempercepat pergerakannya

“oooh…ohhh.yaaaa.aaah..yeahhh.ooooh…AHHHHHHH!” aku berteriak saat cairanku tumpah ruah mengenai batangnya. Ia semakin mempercepat gerakannya membuatku menggila.

“Ahhhh.. you’re so tight!” ia terus menghujam sweetpotku dengan kecepatan menggila.

“Ahhhhhhh…” aku tersenyum saat merasakan cairan hangat mengalir didalam rahimku. Ia ambruk di ataasku membuat selangkangannya lebih masuk kedalam. Ia menopang tubuhnya dengan siku sambil memandangku penuh nafsu.

“bagaimana kau bisa ke sini? Bagaimana kalau dewa murka?” ak memegang pipi tirusnya lalu mengusapnya pelan.

“dewa sudah tau. Aku sudah bukan pangeran dunia langit. Saat ini aku hanya manusia biasa. Begitu juga denganmu.”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Tentu saja bisa. Apa yang tidak bisa kulakukan untukmu? Kau adalah segalanya bagiku. Jangan pergi meninggalkanku lagi, aku sekarat tanpamu, sayang.”

“Tapi kau tidak mungkin bisa melakukan hal itu dengan mudah kan? Kau seorang pangeran dunia langit. Kau calon dewa.”

“Aku tidak menginginkan semua itu, semua yang kuinginkan hanya kau. Cukup denganmu, aku sudah merasa bahagia. Kumohon, tinggalah disisiku. Aku akan berusaha sekuat tenga untuk membahagiakanmu.”

“benarkah?” mataku berkaca-kaca saat mendengarnya. Dia sungguh….manis

“Ne. Kita akan hidup berkeluarga mulai sekarang.” Ia mengecup bibirku lalu melumatnya sekilas.

“Aku mencintaimu.”

“Aku tau.”

“hanya itu?”

“Aku jga mencintaimu.” Setelah aku selesai mengucapkannya, ia menggerakkan pinggulnya membuatku mengerang..

“Ahh..Aku minta tambahan ronde sayangg”

“Ahhhh..mwo??”

“shhh..5ronde..oooh..kau sungguh nikmat sayang..”

“apaaaah?? Limah ronde aaaaaagh!” aku hanya sibuk melenguh dan mengerang. Kubiarkan dia menguasai tubuhku. Karena aku mencintainya, dan kini aku tau kalau dia pun mencintaiku. Aah, dia bahkan melewati batasan dirinya agar bisa hidup bersamaku. Cinta itu memang indah tapi pada waktunya. ^^ Tanpa perjuangan, cinta itu tidak akan berarti apa apa.

END

To My Lovely ‘Daddy’~

Tittle   : To My Lovely ‘Daddy’~~

Cast   :

Cho Hyo Jin

Lee Joon Kyung( Dok2)

Other :

Cho Kyuhyun

Kim Hwa Yeon (OC)

Lee Jin Kyung (OC)

Genre : romance

Ratting: T tapi M (?)

Author: Cho Hyo Jin a.k.a. Author 2~~

Warn  : Bahasa aneh, typo dimana-mana, maksain, geje

Anyeong readers!!!

Ketemu lagi sama Author newbie yang nekad bikin FF NC..

Ini Special Project buat Dok2!!!!!

Mianhae yah readers!!! Harusnya FF ini dipost tanggal 28..

Tapi dengan tidak berperike-bias-an sinyalnya hilang ditelan bumi(T_T)

Jadi baru Author post hari ini…

Buat kalian yang gak tau siapa itu Lee Joon Kyung a.k.a Dok2, Author kenalin yah..

Dia itu juri Show Me The Money dari Illioner.. Dia tuh keren banget ngerapnya.. Dia juga udah kolaborasi sama YDG,Masta Wu, Bobby dan yang paling baru sama Niel Teentop dilagu Love Killer.. Keren banget..

Ini asli dari pemikiran Author yang super aneh.. sumpah, Author juga gak tau kenapa pengen bikin FF kayak gini.. Ini karna dorongan suara hati..

Jadi minta commentnya yh^^

Oke, sekian dari Author 2~~

HappyReading~~

——————————————————————————————–

Sinar mentari pagi menyapa wajah tampan seorang namja yang berusia 35  tahun yang baru terbangun dari tidurnya. Segera ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.

Setelah siap dengan penampilannya, ia turun menuju ruang makan. Dilihatnya yeoja cantik yang telah duduk manis disalah satu kursi didekat meja makan yang sudah penuh dengan masakan yang diyakini adalah masakan yeoja cantik itu.

Lee Joon Kyung, namja yang menjadi pemeran utama pada cerita ini dan merupakan ayah tiri dari seorang yeoja cantik yang kini ada di depannya. Cho Hyo Jin. Ah, sekarang ia menjadi Lee Hyo Jin. Begitu banyak cerita diantara mereka sampai akhirnya Hyo Jin mengetahui bahwa ia bukan anak kandung dari Joon Kyung. Ia adalah anak dari Cho Kyuhyun dan Kim Hwa Yeon yang telah meninggal akibat kecelakaan mobil. Hanya Hyo Jin lah yang selamat lalu Joon Kyung merawatnya seorang diri sehingga Hyo Jin menganggap Joon Kyung adalah ayah kandungnya.

Setelah mendengar pengakuan Joon Kyung yang mengagetkan tentang kebenaran yang terpendam, ia pun mengakui akan perasaannya terhadap Hyo Jin yang sudah ia pendam dari dulu. Dan dengan romantisnya malam itu menjadi malam pengesahan menyatunya hati dua insan yang saling jatuh cinta dan ditandai dengan malam panas yang mereka lalui.

Besok adalah tanggal 28 Maret. Merupakan hari ulang tahun sang ‘ayah’ tercinta. Hyo Jin bingung dengan hadiah apa yang akan membuat sang ‘ayah’ bahagia. Memang dulu ia sering membelikan hadiah saat dia ulang tahun, tapi tahun ini berbeda. Mereka sudah resmi menjadi suami istri. Hyo Jin tak tau apa yang diberikan seorang istri pada suaminya saat suaminya berulang tahun.

Ia telah berkonsultasi pada teman-temannya dan jawabannya sama semua. Ia sedikit ragu dengan jawaban dari teman-temannya. Tapi ia rasa itu akan membuat suaminya bahagia. Semoga saja.

Dan it’s time to prepare…..

*skip time*

28 Maret..

Joon Kyung berada diperjalanan pulang setelah kemarin ia harus keluar kota karna ada meeting mendadak sehingga meninggalkan Hyo Jin sendirian.

Drrrttt… Drrrttt…

“My Sexy Wife~~” itulah yang tertera pada handphone Joon Kyung.

“Tumben sekali ia menelpon ku. Mungkin ia sudah rindu padaku. “ucap Joon Kyung. Lalu ia memasang headset pada telinganya dan menekan tombol untuk menjawab panggilan dari istrinya.

“Yeobosseo, chagi.”

“Ne, yeobo~~ ah.. Kenapah..ah.. kauh.. belum.. ah~ sampaiiih… ah~” ucap Hyo Jin dengan desahan yang selalu ada disetiap kata yang ia ucapkan. Membuat seorang Joon Kyung harus menahan hasratnya.

“Chagi?? Wae geurae? Kenapa suaramu seperti itu?” ucap Joon Kyung yang mulai duduk tak nyaman.

“Ah~ akuh.. takh.. tahan lagihh~~ Cepatlah.. ah~~ Palli~~ Akuh.. membutuhkan milikmu yang panjang dan besar masuk dalam holeku yang ketat dan basah ini.. akh.. aku sangat membutuhkanmu.. Akh..Ngah~~~” ucap Hyo Jin yang diakhiri dengan pekikan kenikmatan yang Joon Kyung tau kalau itu pekikan saat Hyo Jin klimaks. Runtuh sudah pertahanan Joon Kyung. Segera ia mematian sambungan telponnya dan langsung menginjak gas sehingga mobilnya kini berlaju dengan sangat cepat. Ia tak sabar untuk ‘memakan’ istrinya yang mulai nakal.

*skip time*

Joon Kyung mamesuki rumahnya dengan tidak santai. Ia berlari menaiki anak tangga. Nafsu sudah membuatnya buta. Bagaimana pun jika seorang istri tiba-tiba menjadi agresif adalah hal yang ditunggu oleh semua suami. Termasuk Joon Kyung.

Segera ia menuju kamar dengan warna putih yang merupakan kamarnya dan sang istri. Dengan tak sabarnya, ia mendobrak  pintu putih yang tak bersalah itu.

Gelap

Itulah kata yang dapat mewakili suasana kamar ini. Tak ada penerangan sama sekali. Kecuali sinar dari lampu depan kamarnya.  Joon Kyung mulai mencari saklar lampu.

Ceklek!

Gulp

Joon Kyung setengah mati menelan air liurnya. Kenapa? Pertanyaan bagus.

Sekarang bayangkan saat kau memasuki kamarmu, ada seorang yeoja yang tak mengenakan sehelai benang pun sedang tertidur dengan kaki mengangkang di kasurmu. Yeoja itu mendesah hebat karna rangsangan dari bagian bawahnya. Sungguh membuatmu horny kan?

Nah, itulah yang sedang dialami Joon Kyung sekarang. Memang ia sudah sering melihat tubuh istrinya ini. Tapi ia tak pernah bosan. Dan sekarang lebih menarik karna ia sudah berkeringat sehingga membuat badannya sedikit mengkilap jangan lupa dengan wajahnya yang menunjukan wajah untuk dipuaskan. Sungguh nakal kan?

Joon Kyung melangkah mendekati istrinya. Ia sudah dimakan oleh nafsu yang membara. Dengan cepat ia menanggalkan dasi yang seakan mencekik lehernya karna pemandangan yang lebih dari indah itu.

“Chagiya~~ Daddy is home! Do you miss me?” ucap Joon Kyung sambil menindih tubuh indah Hyo Jin. Hyo Jin mulai membuka kelopak matanya yang sayu. Menatap sang suami dengan tatapan seduktif. Ia malah menarik leher Joon Kyung untuk mendekat dan mengecupnya singkat. Itulah yang biasa ia lakukan saat menyambut sang suami yang baru pulang.

“Daddy~~ Neomu bogoshipeo~ Selamat datang honey~ Apa kau ‘lapar’?” ucap Hyo Jin sambil berbisik ditelinga Joon Kyung.

‘mulai berani ternyata..’  batin Joon Kyung.

“Aku sangat ‘lapar’!! Sejak kemarin aku belum ‘makan’. Jadi apa istriku yang cantik ini sudah menyiapkan ‘makanan’ untuk suaminya yang tampan ini?” ucapan Joon Kyung hanya ditanggapi dengan kekehan ringan.

“Bukankah kau sudah melihatnya, yeobo? Makanan enak sudah tersedia di depan mata. Silahkan dinikmati, Master~~” ucap Hyo Jin dengan nada menggoda.

“Kalau begitu.. Selamat makan.”

Joon Kyung yang sudah tak sabar, langsung meraup bibir yeoja itu. Hyo Jin pun tak mau kalah, ia melumat bibir suaminya dengan semangat. Betapa bahagianya Joon Kyung melihat istrinya menjadi seagresif ini.

“Mphht.. mphtt…” suara desahan tertahan itu datang dari mulut Hyo Jin saat lidah Joon Kyung  dengan semangat membara menjelajahi mulut Hyo Jin.

“Sayang, kau terlalu indah untuk sekedar dilihat.” Ucapan Joon Kyung diakhiri oleh jiliatan pada bibir Hyo Jin.

Tangannya pun sudah mulai meremas buah dada Hyo Jin. Dan yang bisa Hyo Jin lakukan adalah diam dan mendesah. Tak hanya diremas, ia mulai mengulum dan menjilatnya dengan semangat. Ia merasa istrinya semakin nikmat setelah menikah.

“Langsung saja sayang,  aku sudah menahannya dari tadi. Salahkan dirimu yang terlalu menggoda.” Joon Kyung langsung membuka lebar paha Hyo Jin yang langsung memperlihatkan lubang kesukaan Joon Kyung karna masih sangat sempit walaupun sudah berkali-kali dibobol oleh Joon Kyung.

“Err.. kau.. masihh sangath sempit.. ARGH… kau terlalu menjepitku.” Ucap Joon Kyung saat ‘adik’nya berhasil masuk dengan sempurna.

“Kauh.. yang.. terlalu besarhh.. ah.. faster…Ah! disituh..” Hyo Jin hanya dapat mendesah hebat saat suaminya menemukan titik terdalamnya. Joon Kyung pun mulai menggenjot dengan kecepatan yang sangat cepat namun tak pernah meleset dari titik terdalam. Itulah mengapa Hyo Jin hanya bisa mendesah dibawah Joon Kyung. Ia terlalu hebat dalam hal ini.

“Daddy~ akuh.. sudahh.. tak tahan.. ah.. aku hampir sampai~~” ucap Hyo Jin yang mulai merasakan akan segera sampai. Hyo Jin mulai memainkan otot pusat tubuhnya yang langsung membuat Joon Kyung merasa kenikmatan.

“Na do~~ Together, baby!” Joon Kyung mulai menggenjot lebih cepat dan lebih dalam membuat Hyo Jin merem melek keenakan. Ia makin mengetatkan otot kewanitaannya sehingga junior Joon Kyung terjepit dengan sensasi yang memabukan.

“DADDY~~/BABY~~” ucap mereka bersamaannya saat mencapai titik lebur(?) mereka. Joon Kyung langsung merebahkan dirinya disamping Hyo Jin tanpa melepas tautan mereka.

Hyo Jin lemas setelah ronde pertama. Ia mempersiapkan diri sebelum ronde selanjutnya. Ia hafal sekali kalau suaminya ini tak akan puas dengan satu ronde. Ia pasti meminta lebih, mengingat tenaganya yang tak berubah walaupun sudah 5 ronde lebih. Stamina yang luar biasa.

Belum puas Hyo Jin beristirahat, tubuhnya sudah diangkat menuju pangkuan Joon Kyung. Hyo Jin hanya bisa mendesah saat Joon Kyung mulai membuat kissmark dileher Hyo Jin. Lama-lama kecupan Joon Kyung naik menuju dagu dan berhenti dibibir kissable Hyo Jin. IA kembali mengulum dan menjilat bibir Hyo Jin.

Mengerti dengan maksud Joon Kyung, Hyo Jin membuka mulutnya dan mulai mengalungkan tangannya pada leher Joon Kyung. Ciuman mereka semakin panas dan menuntut.

“Emmpth!!” erang  HyoJin saat Joon Kyung memasukan miliknya kedalam Hyo Jin secara tiba-tiba. Dan ‘little’ Joon Kyung langsung menyentuh titik terdalamnya membuat Hyo Jin merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Joon Kyung mulai menaik-turunkan tubuh Hyo Jin. Hyo Jin melepaskan tangan Joon Kyung yang berada dipinggulnya dan mulai menunggangi suaminya dengan liar. Joon Kyung terkadang menghentakan miliknya agar lebih tertanam di dalam tubuh Hyo Jin.

Ini lah yang disukai Joon Kyung. Women on top. Karna setiap posisi ini Hyo Jin akan berubah menjadi liar dan sedikit errr… binal?

Memang saat mereka bercinta mereka tidak akan banyak berbicara. Cukup desahan dan erangan yang menjadi dialog mereka berdua. Toh buktinya, mereka tau apa yang diinginkan oleh pasangannya masing-masing.

“Daddy~~ akuh.. hampir sampai.. ah! .. “

“Sebentar lagi, baby~~” Joon Kyung mulai membantu Hyo Jin dengan menghentakan miliknya lebih keras dan langsung  menumbuk titik terdalamnya bertubi-tubi sehingga Hyo Jin kenikmatan dan lemas saking nikmatnya.  Hyo Jin merasa milik Joon kyung berkedut-kedut di dalamnya. Ia memainkan otot kewanitaannya dan Joon Kyung mengerang nikmat karna merasa miliknya sedang dijepit.

5 menit kemudian mereka kembali klimaks. Dan kini Hyo Jin benar-benar lelah. Joon Kyung memang hebat. Mungkin Hyo Jin harus sering berlatih untuk menandinginya.

Joon Kyung akhirnya melepaskan tautan mereka dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Hyo Jin. Ia mengecup puncak kepala Hyo Jin.

“Gomawo, baby~”ucapnya sambil menciumi pipi Hyo Jin. Hyo Jin hanya dapat mengangguk dan memeluk tubuh suaminya.

“Hei baby, tell me.. kenapa kau nakal sekali hari ini pada Daddy? Kau tau, selama diperjalanan ‘adik’ Daddy sudah memberontak.” Ucap Joon Kyung sambil membelai rambut Hyo Jin.

“Apa suamiku sudah terlalu tua sehingga melupakan  hari ulangtahunnya sendiri? Kau sudah tua daddy~” ucap Hyo Jin sambil memukul dada Joon Kyung. Joon Kyung sedikit menarik diri dari Hyo Jin lalu menatapnya.

“Hah? Apa hari ini aku ulangtahun? Terimakasih yeobo telah memberi kado yang indah untukku.” Joon Kyung mencium bibir Hyo Jin sekilas dan langsung membawa Hyo Jin pada pelukannya lagi.

“Happy birthday, my lovely Daddy~ Saranghae~”

“Na do saranghae~”

“Daddy, sebenarnya ini bukan hadiah yang kupersiapkan.” Kalimat itu membuat Joon Kyung terkaget. Ditatapnya mata sang istri.

“Maksudmu, ini bukan hadiah darimu? Lalu apa kado ulangtahunku?” ucap Jonn Kyung yang mulai penasaran. Hyo Jin terbangun dan menarik laci dari meja sebelah kasurnya lalu memberikan sebuah benda yang asing di mata Joon Kyung. Benda tersebut terdapat dua garis merah. Dan Joon Kyung tak mengerti.

“Apa maksudnya? Aku tak mengerti.” Ucapnya sambil menatap benda yang merupakan testpack. Hyo Jin memukul lengan Joon Kyung dengan sedikit keras sehingga membuat telapak tangan Hyo Jin tercopy dilengannya.

“Selain tua kau itu bodoh. Kenapa aku bisa menjadi istrimu?”ucap Hyo Jin. Joon Kyung hanya mempoutkan bibirnya. Hyo Jin terkekeh lalu kembali memeluk Joon Kyung.

“Sebenarnya sebentar lagi kau akan menjadi Daddy.”

“Maksudmu? Aku sudah menjadi Daddy.”

“Aish.. maksudku kau akan menjadi Daddy dari anak yang ada dalam kandunganku!”

“Mwo? Kau hamil? Kenapa tidak bilang? Ini adalah hadiah paling menggembirakan. Aku akan memberikan apapun untuk nae aegya” Ucapnya langsung memeluk Hyo Jin. Hyo Jin membalas pelukan Joon Kyung dan mulai mencari posisi nyaman untuk tidur begitupun dengan Joon Kyung. Ia merasakan bahwa besok dan hari-hari kedepan akan melelahkan karna keinginan sang aegya.

“Yeobo, aegya ingin memakan masakan nyonya Jung. Jebal~” mohon Hyo Jin menggunakan aegyonya. Bukan masalah jika Joon Kyung harus ke rumah Nyonya Jung, yang jadi masalah adalah  Nyonya Jung adalah yeoja pemarah. Bayangkan jika sekarang pukul 02.00 pagi disuruh membuatkan makanan? Tentu akan menjadi malam yang panjang untuk Joon Kyung yang ditemani ocehan dari Nyonya Jung. Poor Joon Kyung~~

*6 tahun kemudian*

“Ya! Lee Jin Kyung! Jangan cepat-cepat! Nanti kalau terjatuh bagaimana?” teriak Hyo Jin pada seorang anak laki-laki yang sedang berlari mengikuti sang ayah yang sedang berlari juga. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Kini mereka sedang menikmati liburannya disebuah danau. Piknik singkatnya.

Hyo Jin melihat anak dan suaminya sedang bermain dengan tatapan bahagia. Ia tak menyangka akan merasa sebahagia ini. Mereka berdua memang merupakan malaikat bagi Hyo Jin. Ditambah akan hadirnya seorang bayi yang akan menemani hidupnya dan melengkapi kebahagian hidup seorang Hyo Jin.

Beruntungnya Hyo Jin memiliki mereka bertiga. Ini takkan terjadi jika semua kebenaran tak terungkap. Sedikit durhaka, tapi Hyo Jin sedikit senang karna kecelakaan itu bisa mempertemukannya dengan Joon Kyung.

Bisakah Hyo Jin menganggap ini takdir?

END

 

Bagaimana? Aneh kan? Emang gak jelas sih~~

Author Cuma minta reviewnya yah..

Maaf kalau jauh dari kata rame… Author hanya mencoba.. ^^

Sampai ketemu di FF selanjutnya^^

~Cho Hyo Jin