Archives

The Most

Title: The Most

Genre: Hurt, Drama.

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

 

Cast:

Kim(Cho) Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other Cast:

Find by yourself ^^

 

Hwayeon’s Note:

Hello, this is me again. Maaf kalau udah lama banget author ga ngepost. Yah, author lgi kena penyakit keras yang pasti dialami semua penulis. Writer’s block yaitu males. Yeah, berhubung author juga masih males bikin yang lain. Author iseng aja bikin ff ini. Tengah malem gini, gara-gara insomnia. Oke then, cukup cuap cuapnya. Selamat menikmati okeh? Jangan lupa komen guys.

Happy Reading

 

.

.

.

Love is a fire.

But whether it is going to warm your hearth or burn down your house, you can never tell

-Joan Crawford

 

.

.

.

Kyuhyun memandang Hwayeon frustasi, kekesalannya tampak jelas. Entah sudah kesekian kalinya mereka bertengkar untuk lagi-lagi masalah yang sama. Baek Jiyeon.

Hwayeon diam sambil menatap lantai dibawahnya, merasa terintimidasi dengan tatapan Kyuhyun yang mengerikan. “Jawab aku Hwayeon. Kenapa kau tetap pergi kesana?! Sudah berulang kali aku melarangmu bukan?! Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku? KENAPA?!”

Mata Hwayeon melebar takut saat Kyuhyun mengangkat kepalan tangannya dan memukul tembok dibelakangnya. Tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan. Kyuhyun jelas melihatnya, dan hal itu membuatnya semakin murka.

“Tidak! Jangan menangis! Jangan memulai semua ini dengan air mata sialanmu!” bentaknya kasar.

Hwayeon semakin menundukkan kepalanya, isak tangis yang sudah sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah ruah. “Jawab aku Cho Hwayeon! Aku memintamu untuk menjawabku! Bukan untuk menangis!”

Kyuhyun mengusap kasar rambutnya, Hwayeon tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia membutuhkannya, ia membutuhkan jawaban. Ia harus tau kenapa. Kenapa istri bandelnya itu terus menerus membantah omongannya! Kenapa istri keras kepalanya itu terus menerus bertindak tanpa berfikir! Kenapa istrinya terus menerus membuatnya gila!

“Kumohon jangan marah.” Ujar Hwayeon lirih, ia mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu. Tapi aku tau kau sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu saat kau sudah pulang dari kantor nanti. Lagipula, aku pikir dia sudah berubah. Aku berpikir kalau akhirnya aku bisa memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Jiyeon. Bagaimanapun dia adalah sahabat baikmu sejak dulu. Aku ingin memperbaiki hubungan kami, hanya itu. jadi kau tidak perlu berhubungan dengannya sembunyi-sembunyi.”

“-karna itu menyakitiku saat mengetahuinya.” Hwayeon tercekat. Ia merasa seperti ada segumpal bola di dalam tenggorokannya.

Kyuhyun diam, menatap Hwayeon dihadapannya yang masih setia menunduk dengan perasaan campur aduk. “Tapi kau tau jika dia tidak menyukaimu, sayang. Dia selalu mencoba menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkannya mendekatimu, aku benar-benar tidak bisa. Mengertilah.”

Hwayeon memejamkan matanya saat rasa sakit menghujam dadanya tanpa henti, “tapi kau membiarkannya mendekatimu.”

Hwayeon menggumamkan hal itu dengan pelan, tapi Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas, sangat jelas. “Tentu saja, dia sahabatku.” Sahut Kyuhyun, merasa tersinggung. Hwayeon tersenyum sedih, “kau membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia mencintaimu. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau dia membenciku. Kau tetap membiarkannya mendekatimu walaupun kau tau ia menyakitiku.” Tandas Hwayeon lemah.

Kyuhyun tersentak, kesadaran menghantamnya. Hatinya diam-diam membenarkan ucapan Hwayeon, tapi akal sehatnya mengatakan sebaliknya. “Kau harus mengerti Hwayeon. Aku memang mencintaimu, tapi aku menyayanginya. DIa yang selalu berada disampingku sejak dulu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin akan menikah dengannya walaupun aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku menyayanginya. Rasa sayangku padanya cukup besar.”

Sesaat setelah ia mengucapkan, ia langsung menyesalinya. “Aku-“

“Aku mengerti.” Potong Hwayeon.

“Kau menyayanginya, aku tau. Rasa sayangmu padanya cukup besar sampai kau bersedia menikahinya, karena kau tau dia mencintaimu. Tapi, rasa cintamu padaku tidak cukup besar untuk membuatmu menjaga jarak dengannya, walaupun kau tau aku terluka setiap saat kalian bersama.” Lanjut Hwayeon. Kyuhyun terdiam, matanya kosong dan tubuhnya kaku.

Hwayeon mengangkat kedua tangannya, dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Ia mendorong Kyuhyun pelan, memberi bentangan jarak diantara keduanya. Dipaksakannya sedikit senyuman agar terpasang di wajahnya. “Kau tau oppa, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, sampai terasa sangat menyakitkan. Aku tau kau mencintaiku, tapi aku juga tau kalau rasa cinta itu tidaklah cukup untuk membuatmu hanya memandangku saja. Aku akan pergi, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Dan kalau kau memutuskan kalau rasa cintamu padaku memang tidak sebesar rasa sayangmu pada Jiyeon, kau bisa menceraikanku, aku akan mencoba menerimanya. Satu minggu oppa, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”

Hwayeon mengikis jaraknya diantara mereka, dan dengan lembut mencium bibir Kyuhyun. Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi kalau kau tidak bahagia hidup bersamaku, kalau kau menginginkan wanita lain dihidupmu. Aku akan mengalah. aku akan sakit, aku tau. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku agar kau tetap hidup. Aku tidak peduli kalau aku harus menuju ke neraka agar kau bisa menuju ke surga. Sebesar itu rasa cintaku padamu.

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah, cepat-cepat ia menarik wajahnya dari Kyuhyun dan melemparkan senyum terbaik yang bisa ia buat, dan pergi.

Kyuhyun masih diam tidak bergerak. Ia hanya menatap kosong punggung Hwayeon yang terus menjauh. Bersamaan dengan menghilangnya Hwayeon dari jarak pandangnya, ia merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

 

.

 

Hwayeon menatap jemari tangannya yang terpasang cincin kawin dengan hampa. Sudah tiga hari berlalu sejak ia terakhir kali melihat Kyuhyun. Tidak sekalipun Kyuhyun menghubunginya, tidak sekalipun Kyuhyun mencoba mencarinya. Jauh dilubuk hatinya, ia mengharapkan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang bersenang-senang bersama Jiyeon, mensyukuri kepergiannya. Siapa yang tahu?

Sehari terasa seperti seabad bagi Hwayeon. Rasanya sungguh menyiksa.

Dengan perlahan, ia membelai perutnya sendiri. Buah hatinya dengan Kyuhyun sedang bertumbuh didalam sana. “Apa kau merindukan appamu nak? Maafkan eomma. Eomma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appa. Eomma menyayangimu, nak.”

Usia kandungannya sudah mencapai bulan ke-3, dan ia belum pernah sekalipun menyinggung hal ini di depan Kyuhyun. Sebenarnya, ia selalu mencoba. Tapi selalu saja ada halangan.

Tok tok

Kriiet

“Hey, makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu.” Hyera mengelus rambut Hwayeon dengan lembut. Ia sangat menyayangi Hwayeon. Hwayeon sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka selalu bersama sejak kecil, mengingat mereka sama-sama yatim piatu.

Hyera terbiasa tumbuh dengan mengasuh Hwayeon. Ia selalu memastikan agar Hwayeon terus tersenyum, bahagia. Ia sangat senang saat Kyuhyun 3 tahun lalu datang meminta ijin untuk menikahi Hwayeon padanya.

Hyera tau kalau Hwayeon mencintai Kyuhyun, karna itu ia tidak melarang. Tapi, ia tidak menyangka kalau akhirnya rasa cintanya sendiri yang menghancurkannya. Rasanya sangat menyakitkan saat Hwayeon tiba-tiba saja datang tengah malam sambil menangis ke rumahnya 3 hari yang lalu.

Hwayeon memang tidak mengatakan apapun padanya sekalipun ia bertanya, semua yang Hwayeon lakukan hanyalah mengunci dirinya di kamar dan menangis. Walaupun begitu, ia sudah mengenal Hwayeon sejak kecil. Ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan hwayeon. Ia akan tau saat Hwayeon bahagia, sedih, marah, kecewa. Dan satu hal yang pasti, Hwayeon saat ini tengah sedih, terluka.

Tidak ada yang bisa menyakiti Hwayeon kecuali Kyuhyun. Ia tau itu, dan sudah 3 hari ini Hwayeon bertingkah seperti mayat hidup, tidak mati tapi juga tidak hidup. Dan ia benci melihatnya,sangat. Ia akan membuat perhitungan pada Kyuhyun jika Hwayeon sampai kenapa-napa.

“Aku tidak lapar eonni.” Tolak Hwayeon.

“Tidak tidak, kau harus makan. Ayolah, kau tidak akan membiarkan anakmu kelaparan di dalam sana kan? Dia butuh asupan makanan, dan kau sendiri juga butuh makan. Kau sangat kurus.” Bujuk Hyera

Hwayeon diam sejenak, kemudian mengangguk dengan enggan. “Baiklah, tapi setelah itu aku mau makan eskrim di taman. Bolehkan?” Hyera tersenyum, “tentu. Kajja.”

Hyera membawa Hwayeon ke meja makan. Donghae yang sejak tadi sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Hwayeon dan Hyera datang. “Merasa baikkan?” tanya Donghae langsung sesaat setelah Hwayeon duduk dihadapannya.

Hwayaeon menatap Donghae, kemudian mengangguk pelan. “Ne. Terimakasih kalian sudah mau menampungku disini, aku akan secepatnya pindah saat aku sudah mendapatkan rumah supaya aku tidak menyusahkan kalian lebih lama.” Jawab Hwayeon pelan.

“Tidak tidak, aku dan Hyera tidak keberatan kau tinggal disini. Rumah ini selalu terbuka untukmu sayang. Jangan sungkan pada kami. Kami keluargamu ingat?” tukas Donghae hangat. Hwayeon tersenyum menanggapinya, “terimakasih.”

“Jja, ayo kita makan. Kau harus makan yang banyak Hwayeon-ah, anakmu butuh makan. Dan juga, aku harus menemui suamimu, dia sangat menyedihkan akhir-akhir ini.” Donghae menatap Hwayeon tajam, sedangkan Hyera menyikut perut Donghae.

Tangan hwayeon yang bersiap menyuapkan makanannya melayang di udara. Matanya mendadak kosong. “Aku yakin suamimu sudah menyadari kesalahannya. Sebenarnya aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Biar kuberitahu satu hal hwayeon, Kyuhyun sangat mencintaimu. Dia sudah mengakuinya. Dia mencintaimu, melebihi rasa sayangnya pada Jiyeon.” Donghae diam sejenak, mencoba mengukur reaksi Hwayeon.

“-Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Jiyeon kemarin. Dia sangat kehilanganmu, aku tau itu. Dia mencintaimu. Kau harus kembali padanya.” Lanjutnya.

“aku-“ Hwayeon tercekat. Ia merasa takut mempercayai perkataan Donghae, takut jika itu hanya sebuah kebohongan. Tapi, ia tahu Donghae mengatakan hal yang sebenarnya. Donghae adalah sahabat Kyuhyun juga, dan Donghae tidak akan berbohong padanya. Tidak soal ini.

“Kyuhyun ingin kau pergi ke ‘tempat kita’, entah tempat apa yang ia maksud. Tapi ia bilang kau akan tau. Dia akan menunggumu disana jam 3.”

 

.

 

Jiyeon menatap Kyuhyun marah, “Aku tidak mau! Aku tau kau menyayangiku! Kenapa aku harus mengalah pada yeoja sialan itu?! Aku yang lebih dulu mencintaimu! Aku tidak akan pergi! Tidak sampai kapanpun!”

Kyuhyun menatap Jiyeon jengah. Ia sudah memutuskan, ia sudah menentukan pilihannya, dan ia memilih Hwayeon istrinya. Beberapa hari ini tanpa Hwayeon membuatnya menyadari betapa pentingnya sosok Hwayeon dalam hidupnya.

Ia merasa sangat tolol karena selama 3 tahun pernikahan mereka, ia terus menerus menyakiti Hwayeon tanpa ia sadari. Karena itu sekarang ia ingin memperbaiki semuanya. Setelah Hwayeon pergi, dan setelah konseling menyedihkannya dengan Donghae. Ia akhirnya memutuskan hal ini.

Ia akan memulai kehidupan barunya bersama Hwayeon. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk menghadirkan sosok kecil yang akan meramaikan kelarga kecil mereka. Tapi semua itu tidak akan bisa dimulai jika masih ada sosok Jiyeon yang mengintai keluarga mereka. Ia harus melenyapkan bayang-bayang Jiyeon dari hidupnya.

“Ini keputusanku Jiyeon. Aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Aku tidak mau menyakiti istriku lagi. Kau sendiri harus belajar melupakanku. Bagimanapun juga, aku hanya menganggap kau sebagai adikku, tidak lebih. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Kau akan mencintaiku! Kau bisa mencintaiku andai saja kau mau mencoba! Tinggalkan Hwayeon dan hiduplah denganku, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti. Kita bisa pergi sekarang. Kau bisa menceraikannya dan menikahiku. Kita akan hidup bahagia berdua, aku yakin!” ujar Jiyeon semangat. Ia menggandeng tangan Kyuhyun dan mencoba menarik Kyuhyun pergi. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Ia hanya memandang Jiyeon sedih.

“Tidak, Jiyeon. Aku hanya mencintai Hwayeon. Aku tidak akan meninggalkannya. Kau sahabatku, adikku. Kita tidak akan mungkin bisa bersama. Kau tau itu.” Kyuhyun mengatakannya dengan sangat lembut, mencoba member Jiyeon penjelasan sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Jiyeon adalah sahabatnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya selama ini.

“Tidak! Kau tidak mencintainya! Kau hanya mencintaiku. Ayolah jangan beranda, kita bisa pergi sekarang sebelum gadis jalang itu kemari. Ayo!” Kyuhyun yang sedari tadi diam bergeming akhirnya menyentak tangan Jiyeon dengan kasar.

Tidak ada lagi kelembutan dimatanya, hanya ada kemarahan disana.

“Jangan berani-beraninya kau menyebut istriku dengan sebutan itu! Lebih baik sekarang kau pergi, Jiyeon. Kita sudah berakhir.”

Jiyeon diam, ia menunduk. Air matanya berlinang melewati pipi mulusnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, “kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh memilikimu.” Gumamnya lirih, dan kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa memandang Kyuhyun lagi.

Kyuhyun memandang punggung Jiyeon yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sangat berbeda saat hwayeon yang berjalan pergi darinya. Saat Hwayeon berjalan pergi darinya, ia merasa kosong, merasa rapuh. Tapi sekarang, saat Jiyeon lah yang menjauh, ia merasa lega.

Mungkin seharusnya ini yang dia lakukan sejak dulu, betapa bodohnya ia karena harus menyakiti Hwayeon terlebih dahulu untuk menyadarinya, wanita yang sangat ia cintai.

Dan mulai saat ini, ia akan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyakiti Hwayeon lagi, tidak bahkan seujung jaripun. Ia akan melindungi Hwayeon dengan segenap kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan tetap berada di samping Hwayeon.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di kursi. Saat ini ia ada di Café Ddangkoma, tempat dimana ia pertama kali bertemu Hwayeon dan tempat diamana ia melamar Hwayaeon.

Ia sudah menyuruh Donghae untuk mengatakan pada Hwayeon ia menunggu disini, dan ia sangat berharap Hwayeon akan datang. Ia sudah sangat merindukan Hwayeon, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kyuhyun melihat jam tangannya dengan gelisah, perasaan tidak enak. Ia melemparkan pandangan pada dinding kaca di sampingnya, berharap menemukan sosok Hwayeon. Dan ia menemukannya.

Gadis itu berada di seberang café, menunggu lampu merah agar bisa menyebrang. Ia memakai sebuah gaun putih sederhana, flat shoes, dan sebuah tas tangan berwarna pink lembut. Rambutnya yang tergerai melambai-lambai disapu angin. Kyuhyun tersenyum melihatnya, gadisnya ada disana.

Rasa rindu membuncah di dadanya, melandanya bagai banjir bandang. Ia menatap Hwayeon yang saat ini sedang menyebrang dengan penuh kerinduan dan semua itu berubah dengan cepat menjadi kengerian saat sebuah mobil menabrak Hwayeon.

“TIIIIDDDDAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!”

Ckiiiitttt

Braaakk

Kyuhyun mematung, Hwayeon tergeletak di trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Gaun putih yang dikenakannya sudah berubah menjadi warna merah sepenuhnya.

Sebuah alarm berbunyi nyaring di dalam benaknya, dengan cepat ia keluar dari dalam café dan berlari menuju tempat Hwayeon tergeletak. Ia berlutut di samping tubuh lemah Hwayeon dan meraih Hwayeon kedalam pelukannya dengan tangan gemetar.

“Telepon ambulance.” Ujarnya lirih. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi tirus Hwayeon, dan air mata tidak lagi sanggup ia bending.

“TELEPON AMBULANCE! KUBILANG TELEPON AMBULANCE! ISTRIKU SEKARAT! TELEPON AMBULANCE! CEPAT! CEPAT! Buka matamu sayang, buka matamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kumohon, buka matamu.”

Orang-orang mulai berkerumun. Bisik-bisik terdengar dimana-mana, “MANA AMBULANCENYA?! TELEPON AMBULANCE!” Kyuhyun berteriak kalap. orang-orang kerumunan menatap Kyuhyun iba saat Kyuhyun terus menerus mencoba mengajak Hwayeon berbicara.

“Jangan pergi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku mencintaimu, aku ingin memperbaikinya. Jangan tinggalkan aku. Bangun sayang, kumohon.”

Suara sirene polisi dan ambulance mulai terdengar.

Hwayeon diangkat ke atas tandu dan Kyuhyun tidak bisa melepaskannya. Kyuhyun terus menangis dan berdoa sepanjang perjalanan. “Kau kuat sayang, jangan tinggalkan aku.” Bisiknya lirih saat Hwayeon dibawa ke ruang operasi.

Kyuhyun beranjak untuk mengurus administrasi. Tidak dipedulikannya bajunya yang tercecer darah Hwayeon. Setelah ia selesai mengurus administrasi, ia segera menelpon Donghae untuk memberitahu keadaan Hwayeon.

“Hyung..” lirih Kyuhyun

“Eoh? Ada apa? Hwayeon sudah disana bukan? Ia sudah berangkat tadi.” Tanya Donghae bingung.

“Hyung…” lirih Kyuhyun lagi, kali ini dengan suara bergetar. Donghae langsung terdiam. Perasaan takut tiba-tiba saja menggelayutinya.

“Ada apa?” tanya donghae cemas

“Hwayeon..”

“Hwayeon kenapa?” tanya donghae mulai panic

“Hwayeon dia.. dia kecelakaan hyung.. hiks hiks eotteokhae hiks hiks”

“…” tidak terdengar jawaban dari Donghae. Donghae hanya diam, sementara Kyuhyun terus saja menangis.

“Kau dimana?” donghae dengan suara bergetar

“Seoul Hospital-“

Tut tut tut

Donghae mematikan teleponnya secara sepihak, dan Kyuhyun memakluminya. Ia sangat mengkhaawatirkan kondisi Hwayeon. Hwayeonnya, gadisnya, istrinya.

Entah bagaimana nasib istrinya. Banyak sekali yang ingin ia lakukan. Yang ingin ia katakan, dan ia berharap ia masih memiliki kesempatan. Ia menundukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya. Ia berdoa, sudah lama ia tidak melakukan hal itu, berdoa. Dan sekarang ia berdoa, ia berdoa untuk istrinya, ia berdoa untuk keselamatan istrinya, berharap Tuhan masih mau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesempatan untuk membahagiakan istrinya.

Donghae dan Hyera pun melkukan hal yang sama sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit. Mereka berdoa, memanjatkan keinginan mereka. Berharap Hwayeon tetap selamat dan melewati operasinya dengan baik.

Sementara hwayeon di dalam ruang operasi meregang nyawanya. Seluruh tim dokter mengusahakan yang terbaik untuknya. Hampir 2 menit jantung Hwayeon sudah berhenti berdetak. Sedangkan Kyuhyun, Donghae, dan Hyera terus memanjatkan doa mereka. Lalu, Tuhanpun tidak buta. Mujizatnya terjadi, usaha tim dokter berhasil. Hwayeon sudah kembali, jantungnya sudah kembali berdetak.

Kyuhyun menunggu Hwayeon dengan cemas. Donghae dan Hyera yang sudah datangpun tak kalah cemas dengan Kyuhyun. Mereka duduk bersama sambil melipat tangan mereka untuk berdoa, seakan doa mereka terjawab, lampu operasi akhirnya mati, dan para dokter keluar dari dalam ruang operasi.

Kyuhyun yang paling sigap, ia melompat dari kursinya dan menghampiri sang dokter dengan cemas. “Operasinya berjalan lancar, tidak ada kerusakan serius. Kepalanya terbentur trotoar, membuat tengkoraknya sedikit retak. kami memang sempat kehilangannya tadi. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Ia akan bangun pada saat ia siap nanti. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Bayinya.

Kyuhyun tertegun, Donghae dan Hyera menatapnya iba. Mereka juga sedih, tapi mereka mengerti kalau Kyuhyun akan lebih sedih. “bayinya.” Lirih Kyuhyun, “bayiku.”

Kyuhyun jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Donghae dan Hyera ikut berjongkok untuk menenangkan Kyuhyun yang menangis, “bayiku, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan aku tidak tau keberadaannya. Ini hukumanku” Hyera memeluk Kyuhyun dan ikut menangis bersamanya. Donghae yang melihat mereka menangis berdua, akhirnya ikut memeluk Hyera dan Kyuhyun. Air matapun ikut berjatuhan dari sudut matanya.

“Ini bukan salahmu, Kyu. Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri” Hyera coba menenangkan.

Kyuhyun terus menangis, mengabaikan Hyera dan Donghae. Melampiaskan seluruh kesedihan hatinya.

 

.

 

 

Kyuhyun menggenggam tangan Hwayeon dengan erat. “Tidakkah kau merindukanku? Kenapa kau tidak mau bangun hmm? Sudah satu minggu, mau sampai kapan kau tertidur. Aku merindukanmu sayang. Bangunlah, jangan menyiksaku seperti ini. Kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menghukumku. Tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini, bangunlah. Lebih baik kau pukul saja aku.” Air mata lagi-lagi turun dengan deras dari matanya. Matanya sudah sangat bengkak, ia tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa tersenyum, tidak bisa semuanya.

Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Rasa sakit yang terus menerus menusuk dadanya tanpa ampun.

Entah sudah berapa kali Donghae dan Hyera mencoba membujuknya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Matanya tidak mau tertutup. Semua yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan hwayeon, dan berbicara padanya.

Ia tau Hwayeon mendengarkan, karena ia melihat Hwayeon menangis saat ia menceritakan tentang bayinya yang tidak bisa selamat.

Rasa kantuk mulai menyerangnya, matanya perih seakan ditusuk-tusuk. “aku mencintaimu Hwayeon-ah, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Matanya perlahan menutup. Ia membaringkan tangannya di kasur Hwayeon sambil tetap menggenggam tangannya.

Donghae dan Hyera yang melihat Kyuhyun akhirnya tertidur, mencoba untuk memindahkan Kyuhyun ke sofa agar namja itu bisa tidur dengan nyaman. Tapi setiap kali mereka mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada Hwayeon, Kyuhyun akan tersentak dan buru-buru mengeratkan genggamannya pada Hwayeon dalam tidurnya. Akhirnya mereka tidak jadi memindahkan Kyuhyun, mereka tidak tega.

Entah sudah berapa lama Kyuhyun tertidur, ia terbangun karena sebuah usapan lembut di kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya, tanpa memperdulikan badannya yang kaku. Ia menatap Hwayeon yang tengah tersenyum padanya dengan terperangah. “Kau bangun, kau kembali. Oh Tuhan, terimakasih. Kau kembali.” Dengan cepat Kyuhyun memeluk Hwayeon dan menciumnya kilat. “Aku mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun lirih sambil menempelkan dahi mereka.

“Aku tau, maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku sudah bangun sekarang.” Suara serak Hwayeon membuat pertahanan Kyuhyun kembali jebol. Ia menangis. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Hwayeon ikut menangis bersama Kyuhyun, mereka menangis bersama. Hwayeon sudah tau ia kehilangan bayinya, ia sudah merelakannya. Ia bisa mendengar suara Kyuhyun dalam tidurnya, dan ia memaafkan Kyuhyun. Ia juga sudah mendengarkan penjelasan dari Hyera dan Donghae yang tadi diam-diam keluar ruang inapnya saat Kyuhyun terbangun.

“Sssstttt, ini bukan salahmu oppa. Bukan salahmu, mungkin kita memang belum pantas menjadi orang tua. Kita akan mendapat kesempatan berikutnya aku yakin.” Tubuh Hwayeon bergetar saat mengatakannya. Kyuhyun hanya mengangguk dan memeluk tubuh ringkih Hwayeon dengan hati-hati, takut menyakitinya.

“Kita akan memulainya dari awal. Kau mau kan? Memaafkanku?” tanya Kyuhyun ragu. Ia menatap mata Hwayeon, dan saat Hwayeon mengangguk, seluruh bebannya terangkat. Ia merasa lega. “terimakasih sayang, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

.

 

Hwayeon menatap kosong hamparan bintang diatas langit. Tidak diperdulikannya tubuhnya yang menggigil karena angin malam. Ia membelai perut datarnya dengan perlahan. Bayinya sudah hilang, harusnya ia bisa merelakannya, tapi nyatanya ia tidak bisa.

Rasanya sangat sulit dan menyakitkan. Ia berusaha menyimpannya, ia tidak mau membebani Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sama sedihnya dengan dia, ia tidak mau menambah beban Kyuhyun. Ia memang sedih, tapi ia yakin ia bisa menghadapinya.

Anakku

Air mata kembali bergulir untuk yang kesekian kalinya. Ia memejamkan matanya, membiarkan angin membelai wajahnya.

Sepasang lengan melingkari perutnya, membuat Hwayeon tersentak kaget. Kyuhyun mengeratkan pelukannya saat dirasanya Hwayeon akan berbalik. “Inikah yang selalu kau lakukan? Menangis sendiri dan menyembunyikan dariku?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon terdiam, “kau bisa berbagi denganku. Jangan menangis sendirian, kau memilikiku, berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendiri sayang.” lanjut Kyuhyun lembut.

Awalnya tubuh Hwayeon mulai bergetar pelan, lalu lama kelamaan tubuhnya bergetar hebat. Isakannya semakin membesar seiring dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hwayeon membalikkan badannya dan memeluk Kyuhyun, mengubur wajahnya di dada bidang Kyuhyun. “Anakku hiks, aku kehilangan hiks hiks anakku oppa. Anakku. Hiks hiks anakku hiks. Aku tidak bisa hiks hiks menjaganya dengan hiks baik hiks hiks. Aku kehilangannya hiks hiks.”

Kyuhyun memeluk Hwayeon dengan erat, dadanya berdenyut-denyut menyakitkan mendengar isak tangis Hwayeon yang sangat memilukan. “menangislah, keluarkan semuanya, tidak apa-apa.” Tangis Hwayeon terus membesar, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.

Kyuhyun terus memeluknya, mencoba menguatkan istrinya. “Jiyeon adalah orang yang menabrakmu. Aku tau itu. Donghae sudah mengurusnya. Ia akan mendapatkan hukumannya. Aku bodoh karena menjadi buta kemarin. Maafkan aku.” Kyuhyun menumpukkan kepalanya diatas pucuk kepala Hwayeon.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi setelahnya samapai akhirnya tangis Hwayeon mulai mereda dan akhirnya berhenti. “Sudah tenang?” tanya Kyuhyun lembut.

Hwayeon mengangguk sebagai jawaban.

Kyuhyun tersenyum sedih, “sepertinya kau sangat menginginkan kehadiran seorang bayi ya? Ayo kita membuatnya, ini sudah 3 bulan lebih bukan? Kita sudah boleh melakukannya. Aku akan membuatkanmu anak.” Ujarnya pelan.

Hwayeon tersenyum, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun. “Ne, aku mengingkannya. Buatkan aku bayi oppa.” Jawabnya dengan suara serak, khas orang habis nangis.

Kyuhyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya. Dikecupnya dahi Hwayeon, kedua matanya, hidungnya, pipinya, kemudian bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu.” Desahnya lembut.

“Aku tau, aku juga mencintaimu.” Balas hwayeon pelan.

 

 

No relationship is perfect, ever.

There are always some ways you have to bend, to compromise, to give something greater.

The love we have for each other is bigger than these small differences.

And that’s the key.

It’s like a big pie chart, and the love in relationship has to be the biggest piece.

Love can make up for a lot

-Sarah Dessen

 

 

-FIN-

 

It’s Okay, It’s Love

Title: It’s Okay, It’s Love

Author: Kim Hwayeon

Genre: Hurt, Romance

Rating: G

Length: Oneshoot

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other:

find by yourself

 

Warning:

Typo bertebaran

Dislaimer:

Kyuhyun milik Sparkyu, Super Junior, ELF, SME, orangtuanya, dan saya >.< ! Tapi tetap… FF ini mutlak milik saya u.u

Note:

Hola, bertemu agi dengan author 4 yang imut-imut *plak*. Hehehe, tadinya author mau ngepost part3nya I’m in Love, tapi keburu ga mood duluan waktu buka web, eh… gataunya belum ada yang comment, kan sedih T_T. Tapi author seneng deng, ada yang comment di FF author yang lain!! KYA!!! Author terharu chingu, kalo gini kan jadinya merasa di hargain.. ya kan ya kan. Ayo dong comment lagi, kita tunggu comment kalian loh.. Gereget banget kita berempat gara-gara kalian semua nyebelin *pout bibir* Jadi kita tunggu commentnya ya, mohon tinggalkan jejak. Oke, cukup basa basinya. Ini dia ff persembahan author yang lain..

Berhubung author lagi galau hari ini. Jadi author kasih kalian ff lama aja, gapapa ya.. FF ini udah lama mendekam di laptop, tadi cuma author revisi. Karena author lagi galau, jadi mohon maklum kalo cerita ini pendek dan kurang memuaskan. Author revisi FF ini sambil denger lagunya Mandy Moore – Only Hope. Author sampe mewek-mewek gajelas. Padahal FF yang author bikin ga sedih, sedih deng dikit. Hiks hiks, maaf author malah curhat. Maklum, lagi sensi nih hehehe. Yasudah, dibaca ya, jangan bosen-bosen mampir ke sini :3. Pay pay ~^.^~

.

.

.

-o0o-

.

.

.

*Hwa Yeon pov*

Tidak bisakah kau memandangku walau sebentar saja? Apa kau tau bagaimana sakitnya di acuhkan? Aku memang mencintaimu, tapi kesabarankupun ada batasnya. Aku tidak bisa terus-terusan bersabar menunggumu untuk memandangku walau hanya sekejap. Kau tau, aku mulai…lelah…

“Hei, kulihat kau tidak bersemangat hari ini. Gwaencahayo?” kulirik Yoon Hee yang duduk di sampingku. Dia adalah sahabatku sejak SD. Dia selalu mengerti keadaanku tanpa pelu aku beritahu.

Aku tersenyum menenangkan. “Nan gwaenchana. Aku hanya merasa lelah. Kau tau lah apa maksudku.” Aku tau kalau sahabatku itu khawatir, oh tentu saja. Dia jelas jelas mengetahui perasaan cintaku yang salah tempat dan tentu saja bertepuk sebelah tangan. Aku jatuh cinta pada sahabat kecilku dulu. Dia adalah sahabat yang sangat baik, tapi entah karena apa sekarang dia menjadi sedingin es, dia begitu menyebalkan sekarang.Aku merasa tidak lagi mengenalnya yang sekarang… jujur saja aku sangat sakit hati dengan perlakuannya. Aku sangat kecewa.

Aku tersenyum kecil saat melihat Yoon Hee eonni mencibir. Astaga, aku lupa aku berbicara dengan musuh bebuyutan orang yang kusukai. Hiihi “Kau lelah? Kau sudah mengatakan itu ratusan bahkan ribuan kali! Tapi anehnya kau tidak pernah menyerah. Aku tidak habis pikir dengan hatimu dan pikiranmu itu. Jika aku jadi kau, aku akan SEGERA melupakannya. Dia terlalu menyebalkan untuk ukuran seorang namja! Tiba-tiba berubah sikap menjadi raja es kutub, padahal tidak ada angin tidak ada hujan. Cih, seperti yeoja saja! Banci!”

Aku sontak terkekeh saat mendengar ucapannya. YoonHee eonni tidak ada bedanya denganku jika sedang marah. Semua yang ada di otaknya tidak akan disaring terlebih dahulu. Hihii, pabbo.“Kkkkk~ kau selalu menjelek-jelekkannya di depanku kau tau?” sindirku geli.

Aku kembali terkekeh saat melihat Yoon Hee eonni memutar bola matanya malas “Aku tau, dan kau bahkan tidak pernah marah. Aiiigo. Kau benar-benar cinta mati padanya eoh? Menyedihkan sekali kau harus jatuh cinta pada pangeran iblis sepertinya. Ck.”

“Ya! Jangan berbicara seperti itu.”

“Arraseo mianhae kkk~”. Kami tertawa bersama, entah mengetawakan apa. Hah,tapi setidaknya sekarang aku bisa melupakan masalahku sejenak.

Aku tersentak kaget saat Yoon Hee eonni tiba-tiba berteriak. Aish, apa dia tidak bisa nyantai ?“Ah! aku baru ingat. Eun Hye eonni mengundang kita ke acara tunangannya dengan V oppa.” Apa?! Tunangan?! Heeee?! Cepat sekali?! Bukankah mereka baru saja jadian? Wah wah wah, apa V oppa sudah ga tahan ingin ‘itu’ dengan Eunhye eonni? Atau malah EunHye eonni yang tidak tahan? Waduh, mereka mesum sekali. Hahahaha.

“Arraseo. Kapan acaranya?” Sebenarnya aku malas datang ke acara seperti itu. Yah, menyakitkan menurutku. Kenapa? Tentu saja karena aku iri. Aiish! Menyebalkan sekali. Coba saja kalau Eunhye eonni bukan salah satu sahabatku, aku tidak akan mau datang. Malas!

“Minggu depan, di ballroom Elf Hotel. Kau akan datang dengan siapa?” aku mengernyitkan dahi bingung. Datang dengan siapa? Tentu saja aku datang sendiri, memangnya dia pikir aku akan datang dengan siapa lagi?

“Tentu saja sendiri.” Jawabku cepat. Aku ikut mengernyit saat melihat Yoon Hee eonni mengernyit.

“Mwo? Kau yakin? Akan ada acara dansa, kau akan berdansa dengan siapa? Patung?” Wah, kurang ajar memang eonni yang satu ini. Rasanya ingin aku tending! Hiah!

“Aku bisa mengajak Kangin oppa tentu saja. Aku bisa berdansa dengannya.” Jawabku tak peduli. Oh ayolah, ini bukanlah hal penting.

“Ck, terserah kau saja.” Aku hanya tersenyum penuh kemenangan. Hah, tapi kalau dipikir pikir… Aku akan datang dengan siapa ya? Kangin oppa? Oh ayolah, aku bisa-bisa menjadi bahan tertawaan mereka. Haruskan aku mengajak namja lain?

Oh yang benar saja!!! Aku kan yeoja, masa aku harus mengajak namja lain lebih dulu? Gengsi! Tapi, harus bagaimana lagi? Hah, mungkin aku memang harus mengajak namja lain. Tapi siapa ya?

.

-o0o-

.

“Eonni, kyuhyun oppa pergi dengan siapa?” tanyaku pura-pura tak peduli pada Hyo Jin eonni untuk memecah keheningan yang sedari tadi terjalin diantara kami bertiga. Aku mencoba untuk tetap berakting tidak peduli walau aku tau kalau saat ini Yoon Hee eonni sedang menatapku tajam dengan mata bulatnya.

Sekarang ini kami sedang menjalani perawatan di salon bersama Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Ah, aku lupa. Hyo Jin eonni itu sahabatku juga, tapi semenjak masuk kuliah hehe. Dia itu adik dari orang yang ku suka. Kyuhyun, aku suka dengannya dan tentu saja Hyo Jin tidak mengetahui hal itu. Bisa mati jika yeoja itu tau aku menyukai oppanya.

“Dia pergi dengan Seohyeon tentu saja. Ada apa memangnya?” Tentu saja! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal penting seperti itu? Dia pasti pergi dengan kekasihnya… bodohnya aku.. aku memejamkan mataku kuat-kuat saat mataku mulai terasa panas, tapi aku tidak mau menangis. Setidaknya, tidak didepan mereka.

“Ani, hanya penasaran.” Aku berusaha menenangkan diriku. Sialnya, suaraku terdengar bergetar. Tapi untung saja Hyo Jin eonni tidak menyadarinya.

“Lalu eonni pergi dengan siapa?” tanyaku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau membahas tentang Kyuhyun oppa lebih lama lagi, rasanya sakit sekali.

“Aku? Dengan Ricky oppa tentu saja. Aiiigo, aku tidak sabar bertemu dengannya. Padahal semalam kami mengobrol di telvon sampai larut malam.” Aku tersenyum mendengar penuturan Hyo Jin eonni. Wajahnya sangat cerah dan ia terlihat sangat bahagia saat menyampaikannya. Kuharap Ricky oppa benar-benaar membahagiakan HyoJin eonni. Aku ingin seluruh sahabatku berbahagia, walaupun aku tidak.

“Kau pergi dengan siapa Yoon Hee-ah.” Aku ikut menoleh ke arah Yoon Hee eonni. Mukanya terlihat memerah. Dia sedang malu. Kkk~ memangnya dia pergi dengan siapa ya? Bikin penasaran saja!

“Aku pergi dengan Ravi oppa. Kau tau, dia sudah menyatakan perasaannya padaku 3 hari yang lalu.” Jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Lihat lihat! Pipinya sudah semerah tomat, astaga. Hahaha

“Aiiigo, chukkaeyo eonni.” Ucapku tulus. Kalau begini… itu berarti hanya aku satu-satunya yang masih melajang. Hah… Kurasa aku akan tetap melajang sampai beberapa waktu edepan karena sulit sekali rasanya melupakan Kyuhyun oppaa.

“Kau harus secepatnya menyusul Hwa Yeon-ah.” Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Hyo Jin eonni. Ya, aku akan menyusul secepat yang ku bisa… tapi saat aku sudah melupakan oppanya. Hihihi

Selesai perawatan, aku pulang ke rumah sedangkan mereka pergi ke butik milik Yoon Hee eonni. Harusnya aku ikut mereka, tapi aku malas. Lebih baik aku berdan-dan sendiri di rumah. Lagian, ada eomma yang bisa mendan-daniku.

Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Hanya dalam kurun waktu 2 jam aku sudah siap. Eomma mendandaniku dengan kecepatan kilat. Tidak heran sih, eomma kan yeoja.. Rasanya aneh kalau ia tidak bisa berdandan.

Eh…

Tapi tunggu…

Bukankah aku juga yeoja?

Tapi aku tidak bisa berdandan.

Ah yasudahlah, aku akan belajar berdandan nanti saja, saat aku sudah punya pacar. Hehehe

Tin Tin!!

Aku dengan cepat berpamitan pada eomma dan appa saat aku mendengar suara kalakson mobil dari depan rumah. Kurasa aku sudah dijemput. Aku sudah memutuskan untuk pergi dengan Siwon oppa, untung dia berbaik hati mau menemaniku ke acara ini, padahal aku tahu jelas kalau Siwon oppa adalah orang yng sangat sibuk.

Hah, kalau saja aku bertemu dengan Siwon oppa lebih dulu, mungkin aku bisa mencintainya.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Au tersipu saat mendengar pujian Siwon oppa. Issh, tidak kupungkiri, Siwon oppa memang sangat manis. “Gomawo, oppa juga terlihat tampan malam iini.” Kami saling bertatapan sambil melempar senyum, lalu dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Aku merasa sangat canggung berada berdua bersamanya di mobil ini.

Hening

Hening sekali!!! Terlalu hening untukku! “Apa kau keberatan kalau aku menyetel music?”

“Tidak! Tentu saja tidak. Aku tidak keberatan.” Jawabku cepat, terlalu cepat kurasa. Aku melihatnya tersenyum sekilas lalu menyalakan tape. Suara lembut milik Mandy Moore mulai mengalun memenuhi setiap sudut mobil ini.

There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands
and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
Of Your galaxy dancing and laughing
and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that You have for me over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give You my destiny
I’m giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

[Mandy Moore- Only Hope]

 

 

To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

Ya Tuhan, Apa maksudnya lagu ini? Aku merasa sangat tersindir. Jujur saja, hanya satu yang ingin aku lakukan saat ini.

Menangis!

Benar sekali. Aku ingin menangis saat ini, Aku merasa dadaku sangat sesak.

Aku sudah memberikan semuanya padanya. Seluruh hatiku sudah kuserahkan padanya, karna aku ingin menjadi miliknya. Hanya miliknya.

Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Semuanya hancur. Semua mimpiku hancur, aku bahkan tidak bisa lagi menggenggamnya.

Tes

Tes

Tes

Dengan cepat aku menghapus air mata yang sudah berani-beraninya jatuh ke atas pipiku, sebelum Siwon menyadari kalau aku menangis.

Perjalanan kami selanjutnya ditemani oleh beberapa lagu yang terang saja membuatku semakin galau. “Hei, kita sudah sampai.” Aku tersentak saat tiba-tiba suara Siwon oppa menusuk gendang telingaku. Aku mengangguk kiku lalu melepas seat belt dengan cepat.

Siwon oppa membimbingku keluar dari mobilnya lalu membawaku kedalam ballroom hotel itu. Dan kini, aku sudah berada di ballroom tempat pertunangan itu dilaksanakan. Aku menghela nafas berat. Aku juga menginginkannya, bertunangan lalu menikah, lalu memiliki keluarga kecil. Ah, sungguh indah pasti.

Aku melangkahkan kakiku ke arah Yoon Hee eonni dan Hyo Jin eonni. Mereka sudah bersama dengan pasangan masing-masing. Mereka terlihat cantik dengan gaun yang mereka kenakan. Aku sendiri menggunakan dress berwarna soft pink selutut juga tas dan high heels dengan warna senada. Rambutku kubiarkan tergerai menutupi punggungku.

“Annyeong.” Sapaku pada mereka.

“eoh, Hwa Yeon-ah annyeong. Kau cantik hari ini.” Aku tersenyum canggung. “Omo, Kau Choi Siwon kan? Jadi kau datang bersama gadis ini? Baguslah, kupikir dia akan datang sendiri lalu pulang dengan mewek karena kekasih hatinya datang bersama wanita lain.” Sindir Yoonhee frontal sukses membuat semua yang ada disana tersentak, termasuk aku!

Apa eonni itu gila? Astaga!!!!

“OMO! Apa maksudmu eonni?! Jangan bicara sembarangan!” desisku sebal. Aku bisa melihat tatapan penuh tanda tanya yang dilayangkan Siwon oppa untukku, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikannya.

“Would you dance with me?” kulihat ricky oppa mengajak Hyo jin eonni berdansa, begitu juga dengan Ravi oppa. Ah, mereka pasti bahagia. Ah, aku bosan. Siwon oppa juga malah sibuk dengan kolega bisnisnya. Huh! Dasar mesin pencetak uang! Kerja mulu dimana-mana. Menyebalkan sekali!

Kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Aku menuju balkon yang ada di pojok ruangan. Aku berjalan mendekati pagar pembatas.

Aku merasa rileks di sini. Aku mengamati bintang yang tengah bersinar di langit malam ini. Aku memejamkan mataku membiarkan udara malam membelai kulit tubuhku. Gaun yang kukenakan sedikit terbuka malam ini. Aku menggigil, mulai merasa kedingingan. Tapi aku tidak ingin masuk.

“Kau kedinginan. Lebih baik kau masuk.” Aku menoleh saat mendengar suara yang begitu ku rindukan. Ia menyodorkan jasnya padaku.

“pakailah.” Aku menerimanya lalu menyampirkannya di bahuku.

“Gomawo.” Ia hanya bergumam pelan. Aku tau, dia tidak ingin berada di dekatku. Aku memejamkan mataku, mencoba menenangkan perasaanku. Rasanya sakit sekali ketika ia bersikap dingin seperti ini, tapi setidaknya ia sudah perhatian. Itu lebih dari cukup untukku.

“lebih baik aku masuk.” Baru saja aku berbalik, aku merasakan dia memelukku dari belakang, menahanku untuk kembali melangkah. Aku terhenti, membeku. Apa yang dia lakukan? Apa dia tidak takut kelihatan oleh kekasihnya?

“jangan pergi. Jangan menghindariku. Jangan. Jangan pernah lakukan hal itu.” Aku mengernyit bingung. Apa maksudnya? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu? Dia yang selalu menghindariku, bukan sebaliknya.

“Apa maksudmu? Bukankah kau yang bersikap seperti itu? Kau yang menjauhiku” entah kenapa suara yang keluar terdengar begitu lirih, nyaris seperti berbisik. Jangan lupa, suaraku juga terdengar bergetar. Oh my.

“Ani, kau menghindariku seminggu ini. Kau bahkan tidak mau menatapku. Kau selalu mengalihkan pandanganmu saat mata kita bertemu. Kau selalu menunduk saat berjalan melewatiku. Aku bahkan melihatmu berbalik menghindariku saat kau melihatku dari kejauhan. Jangan lakukan hal itu lagi. Aku merasa.. sakit. Sakit sekali” Aku merasakan pelukannya semakin erat. Aku masih tidak mengerti apa maunya. Kenapa dia mempermasalahkan hal itu? Bukankah seharusnya dia senang kalau aku tidak mengganggunya lagi? Dia jadi bebas berhubungan dengan kekasihnya itu tanpa perlu memikirkanku kan?

“jangan mempermainkanku. Kau tau, aku sudah lelah. Aku tidak mengerti kenapa sikapmu bisa berubah drastis. Sudah 8 tahun lebih aku menyukaimu, tapi kau malah memandangku seolah aku itu sampah semenjak kau mengetahui bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Kau berubah. Kau bukan Kyunieku yang manis. Kau berbeda sekarang. Aku tidak mengenalmu yang sekarang kyu.” Aku memejamkan mataku saat dengan lancangnya air mataku keluar.

“aku.. mianhae. Aku juga tidak mengerti kenapa aku menghindarimu. Aku mencintaimu, tapi aku takut. Kita tidak seharusnya saling mencintai. Kau tau, aku sangat menyayangimu. Aku takut kau hanya menyayangiku sebagai seorang sahabat. Aku takut kau akan menjauhiku saat kau mengethui kenyataan kalau aku mencintaimu semenjak dulu. Aku tidak tau semenjak kapan aku mencintaimu, tapi aku tidak pernah lagi memandangmu sebagai seorang sahabat, adik kecilku yang manja. Aku selalu memandangmu sebagai seorang yeoja manis, dan aku ingin memilikimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku, minta maaf atas sikapku selama ini. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu. Beberapa bulan tanpa kehadiranmu membuatku mati rasa, aku benar-benar membutuhkan sosokmu disisiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini padaku. Kumohon jangan membenciku, jangan menghindariku, jadilah milikku, kumohon.”

“lalu bagaimana dengan Seohyeon? Ukankah kalian sepasang kekasih? Kumohon Kyu, jangan mempermainkan perasaan wanita seperti ini. Kau tau, rasanya sangat menyakitkan dipermainkan seperti ini” aku merasakan dadaku sesak saat mengingat hbungan mereka. Aku tidak bisa merusak hubungan mereka. Aku tidak mau menjadi orang jahat. Tidak mau!

“Apa maksudmu? aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Dia sepupu jauhku. Dia bahkan sudah punya tunangan! Bagaimana mungkin kau menganggap aku berpacaran dengannya. Ya Tuhan!! Aku mencintaimu!! Tidak mungkin aku bisa berhubungan dengan yeoja lain selain dirimu. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku tidak bisa berpaling darimu barang sedetik.” Aku tersentak kaget saat mendengaran pekikan Kyuhyun oppa . Jadi dia tidak berpacaran dengan Seohyeon? Jadi selama ini hanya salah paham? Tapi… tapi… tetap saja! Dia bersikap dingin padaku! Aku membencinya! Pokoknya aku membencinya!! Hueeeee, aku ingin pulang!

“A-aku…”

“komohon..” aku memejamkan mataku erat. Lidahku terasa kelu. Eotteokhae?

“Mianhae.. semuanya sudah terlambat oppa.” Aku melepaskan pelukannya perlahan. Memakaikan jasnya kembali. Bisa kulihat ada gurat kesedihan di matanya.

“Hwa Yeon-ah..” Aku memjamkan mataku kembali, mencoba memantapkan hatiku.

“Mianhae oppa. Tapi aku tidak bisa. Jeongmal mianhaeyo. Tapi, aku benar-benar mencintaimu oppa. Jangan ragukan perasaanku. Jeongmalyo. Tapi kurasa, semuanya harus berakhir oppa. Annyeong.” Kulangkahkan kakiku keluar ballroom. Pikiranku kalut. Aku merasa bingung. Aku putuskan untuk langsung pulang setelah berpamitan dengan eonni-eonniku dan Siwon… ah entahlah, toh aku tidak menemukannya dimanapun tadi. Aku mengurung diriku di kamar sesampainya aku dirumah. Aku ingin menenangkan diriku.

.

-o0o-

.

Sudah beberapa hari aku hanya mengurung diriku di kamar. Aku mematikan ponselku. Aku juga bolos kuliah. Aku hanya keluar jika aku harus makan. Aku sudah merasa cukup baikan, tapi ada perasaan khawatir yang entah kenapa bersemayam diotakku sejak beberapa hari yang lalu dan jujur saja membuatku tidak tenang.

Kunyalakan hpku. Ada banyak sekali pesan masuk dari eonniku dan juga kyuhyun oppa.

Aku membaca seluruh pesan mereka yang isinya hanya seputar kenapa aku tidak bisa dihubungi, ada apa denganku, apa aku baik-baik saja, dan yang terakhir… Ada pesan dari HyoJin eonni tentang Kyuhyun oppa. Dan aku benar-benar dibuat kaget saat membacanya.

Hwa Yeon ah. Kumohon kemarilah. Kyuhyun oppa menjadi sangat kacau semenjak kau menolaknya. Aku sudah mengetahui semuanya. Seluruh permasalah kalian, seluruhperasaan kalian. Aku sudah mengetahuinya. Karena itu, Kumohon datanglah kemari, selamatkan oppa, Ia sudah terlihat seperti mayat hidup saat ini. Kumohon datanglah Kyuhyun oppa membutuhkanmu. Bantu aku… Bantu oppaku… Kau membunuhnya secara perlahan jika begini Hwayeon-ah. Dia serius mencintaimu, aku tau itu. Dia bahkan berusaha membunuh dirinya dengan menyayat lengannya. Kumohon jangan tutup hatimu untuknya. Aku tunggu kedatanganmu, saeng. Kumohon…Dia membutuhkanmu…

Air mataku mengalir. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada kyuhyun? Apa dia baik-baik saja? Aku merasakan dadaku sesak saat berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalaku. Secepat mungkin aku pergi ke rumah Hyo Jin eonni. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung melesat ke kamar kyuhyun oppa.

Aku sudah sampai di depan kamarnya. Aku mencoba membuka pintunya, tapi ternyata terkunci. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Kuketuk pintunya perlahan.

“Oppa, bukalah. Aku Hwa Yeon.” Tak lama, pintu itu terbuka. Hatiku seperti teriris melihatnya kacau. Rambut berantakan, tubuhnya kurus, mukanya kusut, matanya.. matanya terlihat sangat kelam. Lingkaran hitam sudah bersemayam di atas kedua belah matanya, dan bau alcohol menyeruak dari tubuhnya. Aku tidak tahan.

“Oppa. Hiks..” ia mendekapku erat. Aku balas memeluknya. Aku tidak bisa berhenti menangis. Ia seperti ini karenaku. Semuanya karena diriku.

“sttt.. uljima.” Tangisku berubah semakin kencang. Bagaimana bisa dia menyuruhku jangan menangis? Lihatlah dirinya. Benar-benar tak terurus dan itu semua karnaku.

“Hikss.. mianhae oppa. Saranghae. Hikss. Jangan sakiti dirimu sendiri oppa. Kau membuatku khawatir. Hikss.” Bisa kurasakan kalau pelukannya semakin erat.

“Mianhae. Oppa tidak akan seperti ini jika kau tak meninggalkanku sayang. Kau tidak tau betapa hancurnya hatiku saat tau kalau kau telah menutup hatimu untukku. Rasanya seperti ingin mati saja.” Uuugh, ternyata dia benar-benar mencintaiku. bodohnya aku sempat menolaknya.

“Mianhae. Hikss. Aku tidak akan meninggalkan oppa lagi. Aku janji.” Ia melepaskan pelukanku, merengkuh pipiku membuatku mendongan menatapnya.

“benarkah?” aku mengangguk. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum.

“Saranghae.”

“nado.” Kupejamkan mataku saat kurasakan bibirnya mendarat bebas di atas bibirku. Ternyata, sekuat apapun aku berusaha.. aku tetap tidak bisa terlepas darimu.. pada akhirnya aku tetap kembali padamu.. harusnya aku sadar, dari awal aku memang tidak pernah bisa berpaling dari dirimu. Dari awal, sampai sekarang. Tidak pernah ada orang lain yang menggantikanmu. Kau akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir… dihatiku.

-END-

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

I Always Love You~

Tittle            : I Always Love You~

Cast            :

Cho Hyo Jin

Park Yoochun

Genre : romance, drama, hurt/comfort

Ratting        : G

Author         : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~

Warn           : tpyo bertebaran dimana-mana, geje

Anyeong readers~

Author 2 came back dengan FF Oneshot lagi^^

Kali ini khusus buat Yoochun Oppa yang ultah nih!!!!

Mian kalau rada aneh ceritanya, soalnya lagi menjelang Ujian Kenaikan kelas nih, doain Author-author yh^^

Ini Author terinspirasi dari lyric lagu Christina Aguilera yang judulnya Hurt…

Gak full hurt sih hhe..

Garis bawah itu lyric, kalau yang miring itu flashback..

Makasih yang udah like FF Author 2 kalau bisa comment juga yh #ngarep

Oke, kita langsung ke cerita aja yah~~

Happy Reading~

————————————————————————————————————————————–

“Kerja bagus, Hyo Jin-ah. Kau memang penyanyi yang hebat. Aku bangga padamu!”

“Kau memang superstar! “

Pujian seperti itu sudah sering kudengar. Namun semuanya tidak membuatku merasa bahagia.

“Hyo Jin-ssi, ini kado-kado dari Jinieus.” Kata salah seorang crew acara dimana aku baru saja tampil. Setelah crew itu pergi aku memasang earphoneku. Tidak ada salahnya membaca surat dari fans sambil mendengarkan lagu kan?

FYI, Jinieus itu nama fandomku-ngarang-.

Aku melihat kado-kado dan surat-surat dari Jinieus, semuanya menarik.

Tapi…

Kado dengan pita merah itu terlihat jauh lebih menarik dari kado yang lain. Aku mengambil kado itu lalu memangkunya. Diatas kado itu tertera sebuah tulisan

“I forgive you”

Aku sedikit heran dengan kata-kata itu. Apa aku pernah berbuat salah padanya? Siapa dia?

Kubuka kado itu pelan. Ternyata itu sebuah album foto. Dan pada covernya tertulis -PYC and CHJ- itu terdengat tidak asing ditelingaku. PYC? Park? Park Yo…?

Jangan- jangan?!

Pertanyaanku terjawab saat melihat namanya tertera dibawah tulisan itu.

Ya, dia adalah..

Park Yoochun, mantan kekasihku.

Sudah lewat 2 tahun semenjak kami putus.Hh~ aku menghembuskan nafasku panjang. Aku sedikit menyesali putusnya hubunganku dengannya. Tanpanya aku bukan apa-apa sekarang.

Dengan pelan kubuka halaman pertama album photo itu. Dan damn! Kenapa lagu nya sangat cocok sekali? Kenapa harus lagu Christina Aguilera- Hurt?

Seems like it was yesterday when i saw your face

You told me how proud you were but i walked away

If only i knew what i know today

Aku ingat dimana ia menyambutku dengan senyuman setelah aku selesai bernyanyi. Namun, aku malah membentaknya.

“If i ain’t got you with me, baby~ Terima kasih” aku segera turun dari panggung dan lengsung memeluk Yoochun oppa.  Ia kekasihku selama 5 tahun ini. Ia selalu menemaniku dari awal aku training sampai aku debut.

“Good job, baby~” ia tersenyum tulus sambil memelukku erat.

“Gomawo, Chunie oppa~ Ah, sebentar! Aku harus siap-siap untuk pemotretan sekarang! Bye Oppa!”

“Hei, apa kau tak lelah? Kau baru selesai tampil. Istirahatlah. Aku tau kau lelah.” Ia mengelus rambutku lembut. Namun, aku singkirkan.

“Oppa, tidak bisa. Aku harus berangkat sekarang. Aku memang lelah. Tapi aku bisa tidur di van nanti.” Aku tetap ingin berangkat. Aku ini artis baru. Aku tak mau memunculkan image yang buruk. Aku harus on time!

“Tidak. Kau harus istirahat dulu. Nanti wajahmu akan terlihat lelah. Kau tidak mau dibilang tidak niat dalam pemotretan itu kan?” Selalu seperti ini. Aku harus inilah.. itulah.. ia sedikit cerewet dalam hal seperti ini. Memang aku bocah?

“Aish, jangan mulai lagi. Aku harus berangkat. Bye~ Nanti aku hubungi setelah selesai pemotretan. Chu~” Aku mencium pipinya sekilas.

“Jangan lupa hubungi aku. Jangan terlalu lelah. Hati-hati ne? Saranghae.”

“Nde, oppa. Aku bukan anak kecil lagi. Nado saranghae.”

-skip time-

“Aish, mana ekspresimu, Hyo Jin-ah!” teriak sang fotographer.

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” Aku membungkukan badanku.

“Mukamu itu terlihat lelah. Bagaimana mau dapat foto yang bagus kalau begini?!” ia sedikit menaikan nada bicaranya.

Aku menyesal tidak mengikuti saran Yoochun oppa.

Akhirnya pemotretan selesai. Aku membuka handphoneku dan menemukan banyak pesan dari Yoochun oppa.

‘Chagi-ah, sudah selesai?’

‘Yeobo? Kenapa lama sekali ini sudah jam 10 malam. Kapan kau selesai ‘

‘Hyo Jin-ah, jangan terlalu memaksakan. Jangan sampai terlalu lelah, ne?’

‘Hyo Jin-ah, kau sudah tidur? Kalau sudah, mimpi yang indah yah^^ jangan lupa mimpikan aku. Saranghaeyo!!! Jeongmalll!!!’

Aku terkekeh membacanya. Memang hanya ia yang bisa membuatku tertawa saat cobaan datang padaku.

Kalau mengingat itu aku merasa bersalah karna telah mengabaikan dia. Ia terlalu baik.

Ia selalu berada disampingku tanpa pernah mengeluh sekalipun. Walaupun aku kadang tidak sopan padanya. Aku sering memakinya. Tapi ia masih saja sabar menghadapiku. Sabar sekali kan?

I’m sorry for blaming you

For everything i just couldn’t do

And i’ve hurt my self by hurting you

Tapi aku sadar waktu itu aku sedikit keterlaluan.

Dan ia masih tidak menganggapku salah.

Dia namja yang baik.

Sangat.

“ Hyo Jin-ah, jangan makan itu! tidak baik untuk tenggorokanmu. Kau akan ada acara akhir minggu ini. Pilihlah menu yang tidak berlemak. Kau mau suramu habis?” Yoochun oppa memarahiku karna memilih menu yang banyak lemaknya, aish, dia tetap cerewet.

“Oppa, bisakah kali ini aku makan sesuai keinginanku? ! Kau selalu melarangku ini itu! Aku sudah muak!”  aku bangkit berdiri untuk pergi dari sini. Yoochun oppa menahanku.

“Aku melakukan itu supaya karirmu lancar. Ini semua demi masa depanmu.” Yoochun oppa masih tenang. Tapi aku sudah tidak kuasa.

“Masa depanku? Bukannya masa depanmu?! Kau menyuruhku supaya menjadi artis terkenal agar nanti aku saja yang menafkahi keluarga kita? Kau ini picik sekali! Jangan-jangan kau mau jadi namjachinguku hanya karna mengincar hartaku?”

PLAK

Ia menamparku.

Aku menatap matanya. Matanya penuh dengan kekecewaan. Astaga! Apa aku berkata keterlaluan?

“Mianhae, oppa. Bukan maksudku-“

“Aku tau aku ini tidak kaya.”

“Oppa..”

“Aku tau kau pasti akan bertemu namja yang lebuh tampan dan lebih kaya dariku.”

“Oppa..”

“Tapi, aku tulus mencintaimu! Aku mencintaimu sejak dulu! Akulah namja yang menjadi namjachingumu selama 5 tahun ini! Aku yang terus bertahan walaupun kau selalu memarahiku, memakiku. Tapi aku mencoba kuat, karna aku berfikir kau mencintaiku.”

Tes.. tes.. air mataku jatuh dengan deras.

“Oppa..”

“Ternyata pikiranku salah!”

“Oppa itu tidak benar! Hiks..” aku menangis sekeras mungkin.

“Kau tidak percaya padaku! Kau menganggapku namja yang memanfaatkan yeojachingunya untuk mendapatkan uang!” ia sedikit menghela nafasnya lalu kembai menatap mataku.

“Lebih baik kita akhiri ini. Selamat tinggal dan terima kasih untuk 5 tahun ini.” Yoochun oppa pergi meninggalkan aku yang masih menagis histeris.

GREP

“Oppa, mianhae.. Aku tidak bermaksud.. Hiks.. Aku minta maaf.. Hiks..” aku menahan kepergiannya.

“Mianhae, Hyo Jin. Aku sudah tidak bisa menahan sakit hati dan kekecewaanku padamu. Kita harus berakhir.” Ia mencium bibirku untuk terakhir kalinya dan langsung pergi meninggalkanku tanpa melihat kebelakang. Aku yakin ia pun menagis. Karna saat ciuman tadi aku merasakan air matanya jatuh ke pipiku.

Aku telah membuatnya kecewa.

Mataku mulai berkaca-kaca. Hal itu yang selalu membuatku menagis. Walaupun sudah lewat 2 tahun, perasaanku masih sama seperti dulu. Tak pernah berubah.

Lirik dari lagu ini membuatku ingat pada kenanganku dengannya.

Would you tell me i was wrong?

“YA! Cho Hyo Jin! Siapa yang memperbolehkanmu makan ice cream itu?!” teriak managerku.

“Aish, apa aku tidak boleh?” aku bertanya.

“Kau tau tidak ice cream itu tidak baik untuk suaramu!”

“Maaf, aku lah yang memaksanya memakan ice cream.”

“Yoochun oppa!!” aku senang karna Yoochun datang. Sebenarnya aku yang meminta Yoochun oppa untuk mebelikan ice cream ini. Dan ternyata aku ketahuan Managerku. Aish..

Tunggu..

Dia bilang apa tadi?

“Yoochun-ah, kau tau kan Hyo Jin itu artis baru? Jangan membelikan sesuatu yang tidak baik untuk kesehatannya. Arra?” kata managerku memarahi Yoochun oppa. Yoochun oppa berkali-kali meminta maaf pada managerku.

Ia rela dimarahi demi aku…

Would you help me understand?

“Oppa, apa aku terlalu manja?” tanyaku padanya saat berada di pantai.

“Wae? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Banyak yang bilang kau menyebalkan. Lagipula aku tidak semanja Jang Sa Ha. Lalu banyak anti-fans ku yang menyebutku aneh.” Aku mempoutkan bibirku.

“Hey, sudah wajarkan kalau anti-fans itu tidak memihak padamu? Sudahlah, kau ini tidak manja. Kau ini mandiri. Buktinya kau bisa debut karna dirimu sendiri. Sekarang yang harus kau lakukan adalah tetap menjadi dirimu. Walaupun seluruh dunia tidak menyukaimu. Aku masih mencintaimu.”

BLUSH

Aku memeluk Yoochun oppa erat. Ia memang yang terbaik dari yang terbaik.

Are you looking down upon me?

“Bagaimana bisa seorang Hyo Jin melakukan kesalahan seperti ini?” managerku marah besar karna aku terkena scandal.

“Mianhae. Jeongmal mianhae.”

“Jangan pernah diulang lagi”

Sungguh, aku ingin menangis! Aku takut  semua orang menjauhiku! Apa Yoochun oppa akan meninggalkanku?

“Wae geurae?”

“Yoochun Oppa?”

“Ne, Kenapa? Apa karna scandal itu?”

“Ne. Aku .. hiks.. takut kau … hiks.. menjauhiku.. hiks..” tangisan yang sedari tadi kutahan lepas saat tangan nya merengkuhku kedalam pelukan hangatnya.

“It’s okay. Everythings gonna be allright.”

Hanya dia yang tidak pernah menjatuhkanku…

Are proud of who i am?

“Pemenang song of the year kali ini adalah….”

“Cho Hyo Jin dengan lagu Truly One”

Omona!!! Aku menang!!!! Yoochun oppa pasti bangga denganku!!

“Terimakasih pada Tuhan Yang Maha Esa, karna berkatnya  membuat saya bisa menerima penghargaan ini. Terimakasih unutk keluarga serta namjachingu ku yang selalu mendukungku setiap saat. I love you all~” aku pun turun dari panggung.

DRTTT DRTT

From : Chunie Oppa~

Aku bangga padamu, chagia J

Aku tersenyum melihat pesan dari Yoochun oppa.

Saking tidak konsennya pada lagu, ternyata lagu ini sudah sampai pada bagian akhir.

If i had just one more day, i would tell you

How much that i’ve been missed you since you’ve been gone away

Oh,  its dangerous

It’s so out of line to try and turn back time

Tes.. tes..

Air mataku menetes lebih deras..

“Hiks.. hiks..”

Lirik ini begitu menancap ke dalam hatiku. Memang ini lah yang selalu ingin kulakukan. Memutar waktu dan tidak akan mengeluarkan kata itu. mungkin sampai sekarang kami masih memiliki hubungan.

“And i’ve hurt my self by hurting you” aku menyanyikan bagian akhir dari lagu itu.

Ya, aku melukaimu dan itu berdampak untukku juga. Aku ingin ia kembali. Namun, aku tau ini sudah tak dapat diperbaiki. Walaupun ia sudah memaafkanku, tapi belum tentu ia menerimaku kembali.

Seiring berakhirnya lagu, berakhir pun acara membuka album photo itu.

Kuseka air mataku dengan tissue. Saat hendak mengambil tissue lagi, ada sebuah tangan yang mengulurkan sapu tangan.

“Matamu bisa sakit jika mengusapnya dengan tissue, Chagi-ah~”

Suara ini!!! Kuangkat kepalaku dan ternyata ia adalah..

Yoochun oppa..

“Oppa..” lirihku sambil tetap menangis.

“Hyo Jin-ah, mian oppa terlalu sering memaksamu. Maukah kau kembali padaku?” tanyanya sambil menyeka sisa air mata di mataku.

Jawabannya?

Kurasa kalian sudah tau. Aku sudah mengucapkannya diatas.

Kalian tidak tau? Baca lah dengan teliti…

END

Otte? Aneh yah? Maklum lagi masa UKK nih..

Minta like sama commentnya yah^^

Gomawo yang udah mau baca..

~Cho Hyo Jin

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 6)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Park Ji Min

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 6!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

 

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

 

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

 

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

 

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

 

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

 

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

 

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

 

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

 

Hyojin..

 

Kau ini kenapa?

 

 

Aku berjalan gontai menyusul Hwayeon yang kini tengah berbincang dengan Yoonhee. Hyojin? Dia berada di belakangku, entah sedang apa..

Kami kini berada di dalam mobil milik Yoonhee.

Apakah sesibuk itu menjadi seorang dokter? Lihat saja wajahnya… nampak begitu lelah. Mungkinkah ia kurang tidur? Ingin sekali aku bertanya tapi.. sudahlah.. perasaanku masih bercampur aduk.

Setelah beberapa menit berkendara menggunakan mobil milik Yoonhee, kini kami telah sampai disebuah café. Spicy Wings café. Aku sengguh merindukan café ini, senyaman-nyamannya café lain tapi café ini sudah mengerti diriku. Apa aku melantur?

Kami berempat duduk di tempat biasa kami. Formasinya selalu sama. Hwayeon-Yoonhee-Aku-Hyojin. Namun..

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin pada Hwayeon sebelum ia benar-benar duduk.

Hah? Mengapa ia pindah? Biasanya juga ia berada di sisiku. Tapi… ini….

“Wae?!” gerutu Hwayeon.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.” Balas Hyojin. Mengapa ia begitu tiba-tiba berubah? Hey! Setidaknya jika ia memang sedang ada masalah, bukankah lebih baik ia bercerita atau berterus terang pada kami? Kami ini temannya…

Hyojin pun duduk di tempat dimana Hwayeon berada.

“Biasa.” Ucap kami berempat kompak. Kami semua sehati rupanya. Itu berarti tidak ada masalah di antara kami berempat bukan?

Tak lama, pesanan kami berempat pun sudah terhidang di atas meja kami. Hmmm…. aku sungguh lapar. Semalaman aku tidak makan, dan hanya menangis meratapi nasibku yang menyedihkan ini.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan. Yah.. suasana ini memang sungguh hening. Tidak biasanya kami begini.

Kami semua hening. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Hwayeon tadi. Aku hanya diam dan terus menatap makananku yang pada akhirnya tidak ingin ku makan. Entahlah, hanya saja aku mendadak jadi malas makan dan hanya memasukan beberapa suap saja ke dalam mulutku.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Ucap Hwayeon kemudian pergi meninggalkan kami. Haa~ pasti Kyuhyun. Andai saja Taehyung bisa setia seperti Kyuhyun.

“Oh! HP kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Jelas Hwayeon kemudian segera bergegas keluar.

Aish…. dia main pergi saja..

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Ucap Hyojin tiba-tiba kemudian segera pergi. Bagaimana dia bisa… ahh, sudahlah.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanya Yoonhee padaku. Yaah, kini memang hanya tersisa aku dan Yoonhee disini.

“Mungkin.” Jawabku.

“Biar aku antar.” Tawarnya.

Kami segera meninggalkan café dan menuju ke mobil milik Yoonhee. Entah karena ada perasaan apa, aku tiba-tiba saja mendadak canggung. Perasaanku tidak enak. Sungguh.

“Eonn… oh tunggu sebentar.” Ucapan Yoonhee terpotong oleh dering ponsel miliknya.

Yoonhee pun mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.

“Taengi oppa.” Ucapnya.

Apa aku tidak salah dengar? Ta-Taengi? Panggilan yang manis…. Eo? Yoonhee sudah punya namjachingu? Tapi.. Taengi itu siapa? Namja seperti apa dia itu?

“……”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“……”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk .”

“…….”

“Annyeong Taengi oppa.”

Yoonhee mematikan ponselnya.

“Siapa dia?” tanyaku dingin.

“Taehyung oppa.”  Tuturnya. Tae-Taehyung? Apa dia itu Taehyung namjachinguku? Tu-tunggu, jika begitu berarti.. dia..

“Namjachingumu?”

“Ani.” Jawabnya setelah terdengar kikikan kecil dari mulutnya itu.

“Tunangan.”

“Aish… ani eonni.” Bantahnya.

Apa Yoonhee menyembunyikannya? Menyembunyikan sesuatu dariku? Mungkin dia bukanlah tunangan namja bernama Taehyung itu. Tapi, Taehyung itu ada banyak. Jika Taehyung yang di maksudnya adalah Kim Taehyung, jangan-jangan dia adalah Yoonie yang dimaksud Taehyung selama ini??

Yoonhee adalah yeoja yang selalu bertelepon dengan Taehyung? Berarti.. mantan Taehyung bukanlah yeoja bernama Yoonie……..

………..

Tega sekali kau…..

………..

Yoonhee…..

“Ohh, aku ingin turun disini.” Pintaku pada Yoonhee.

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.” Elakku dari keadaan sesungguhnya.

Keadaan sebenarnya adalah aku mencurigainya memiliki hubungan dengan Taehyung. Jika sampai benar ia berhubungan dengan TaeTaeku, aku tidak akan memaafkannya. Tapi, apa untungnya? Toh Taehyung juga tidak merasa bersalah padaku atas kejadian semalam. Namjachingu macam apa dia itu?

Yoonhee segera menepikan mobilnya.

“Gomawo Yoonhee.” Ucapku sambil bersiap-siap turun.

Aku berjalan gontai menyusuri jalan. Dari sini memang masih sangat jauh dari rumahku. Sungguh.  Ini jauh sekali. Tapi, aku tidak ingin pulang. Dirumah begitu sendiri, aku takut jika aku menjadi depresi. Beban pikiranku sudah berada di ambang batas dan rasa sakit di hatiku sudah tidak bisa dihilangkan lagi sepertinya. Ini sudah keterlaluan! Hidupku sudah tak ada gunanya lagi.

Aku kini berada di dalam bus. Bus yang akan membawaku menuju rumah sejatiku. Rumah tempat Eomma, Appa dan Jimin oppa berada. Lebih baik aku menemui mereka sebelum aku menjadi gila.

Aku turun di sebuah halte bus. Haa~ aku sudah lama sekali tidak kemari. Aku malas berjalan kaki sebenarnya.. tapi rumahku jauh dari halte bus. Aku menyusuri jalan yang sepi. Sejak dulu sampai sekarang  jalan ini masih saja sepi.

Aku melewati sebuah jembatan. Sebenarnya ada 2 jalan untuk menuju rumahku, melewati rumah-rumah dan melewati jembatan dan aku memilih untuk melewati jembatan dari pada melewati rumah-rumah. Memang mungkin bodohku ini akut, aku justru memilih rute yang jauh.  Tapi tidak apa-apa.. aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku dari Tae-

Tiba-tiba saja bayangan ketika Taehyung mencium yeoja itu kembali terbesit di benakku. Mengapa hal menyakitkan itu kembali muncul? Aku sudah berusaha menghilangkannya.. aku bahkan sudah berkeinginan untuk melupakannya.

Tae…

Mengapa kau selalu ada dalam benakku?

Mengapa bayangan menyedihkan itu muncul kembali saat aku mengingatmu?

Apa karena aku merindukanmu saat ini?

Benarkah aku merindukanmu yang sudah menghancurkan hidupku?

Mengapa harus kau yang sungguh-sungguh ku cintai?

Mengapa ?

Mengapa rasanya sungguh sakit?

Mengapa kau mempermainkanku?

Aku….. membencimu……

Haruskah ku akhiri saja hidup menyedihkanku ini?

Sungguh aku tak kuasa menahan sakit ini seorang diri.

Apalah artinya hidupku ini tanpamu..

Tae…

Jika kau bisa meninggalkanku demi keluarga kecilmu itu….

Aku pun juga bisa…

…. meninggalkanmu untuk selamanya.

Aku berdiri.

Bersiap-siap untuk merasakan sakit sesaat ketika ragaku menghantam benda-benda yang ada di bawah sana.

Bersiap-siap untuk melihat dunia yang belum pernah dilihat Eomma, Appa, dan Jimin oppa sebelumnya.

Bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan kembali bersenda gurau dengan keluargaku.

Bersiap-siap untuk tidak akan pernah melihat teman-temanku lagi.

Bersiap-siap untuk menghapus semua memori tentang TaeTae kesayanganku secara instan.

“Tae… aku sungguh menc-“

“Hentikan!!!” seru seorang namja kemudian menarikku dari ujung jembatan tempat aku berdiri kemudian memelukku erat.

Kami terjatuh ke tengah jembatan. Aku berusaha berlari kembali menuju tepian jembatan namun lengan namja itu menahanku. Menahanku dengan sangat kuat.

“Eunhye! Sadarlah! Apa yang kau lakukan?! Bodoh!” Seru namja yang tak lain adalah oppaku sendiri. Park Jimin.

“Lepaskan aku, oppa! Aku ingin mati saja… dia sudah menghancurkan hidupku! Untuk apa aku ada disini jika aku hidup tanpanya?!” rontaku. Tapi Jimin oppa makin mengeratkan pelukannya hingga aku terdiam.

“Sadarlah!!! Tenanglah… tenanglah…. ada oppa disini.. kau bisa menceritakan segalanya pada oppa.” Bujuknya.

Kakiku terkulai lemas. Perlahan-lahan tubuhku mulai jatuh terduduk. Untungnya lengan Jimin oppa memelukku erat. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Ia menenangkanku, mengusap lembut kepalaku..

“Sudah.. sudah… kau bisa cerita padaku. Untung saja aku lewat daerah sini. Feelingku berkata untuk melalui jalan ini. Feelingku benar kan, kau akan melakukan bunuh diri disini. Awalnya aku malas.. tapi jika aku tidak jadi lewat sini, kau pasti sudah lewat dari dunia ini kau tahu?!” omel Jimin oppa.  Hiish.. aku ini sedang sedih, sekarang aku malah diomeli.

“Oppa……” lirihku.

“Ah, mianhae… aku malah mengomelimu. Kajja pulang. Eomma dan Appa pasti senang melihatmu. Kau sudah lama tidak pulang.”

Aku menggeleng. Aku tidak ingin eomma dan appaku khawatir melihat kondisi putrinya yang sekarat dan hilang harapan ini.

Untuk sekarang ini.. kurasa… TIDAK. Meskipun aku rindu mereka.

“Wae?” tanyanya.

“Tak apa. Aku tak ingin Eomma dan Appa tahu apa yang sudah terjadi pada putrinya ini.” jelasku.

“Geurom… jika eomma dan appa tak boleh tahu, aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Kau wajib menceritakannya padaku!”

Haiish.. kenapa aku memiliki oppa yang begitu penasaran dengan hidupku sih? Dia saja tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Siapa yeojachingunya, berapa mantannya, apa yang ia lakukan sekarang.. dasar oppa menyebalkan!

“Baiklah. Akan kuceritakan padamu.”

“Haa! Itu baru namanya dongsaeng yang baik!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.”

“Hiyaaa!! Kau malah memporak-porandakan rambutku sekarang. Apa kau tidak tahu kalau menyisir rambut ini memelukan waktu yang lama? Sudah-sudah.. aku ingin pulang.”

“Yak! Pulang? Kau baru saja pulang..”

“Pulang ke rumahku. Bukan ke rumah kita, oppa.”

“Wae?? Kau tega ya.. paling tidak bertemu dulu dengan eomma dan appa.. nanti aku antar kau pulang.”

“Andwae. Nanti mereka khawatir. Jebal oppa.. aku ingin pulang sekarang.”

Jimin oppa mengantarku pulang menggunakan mobilnya. Selama di dalam mobil, aku menceritakan semuanya. Bagaimana awal bertemunya aku dengan Taehyung sampai dengan apa yang aku alami baru-baru ini. Termasuk juga dengan kecurigaanku terhadap Yoonhee.

Kalian tahu yang dikatakan Jimin oppa padaku?

“Jika ia memang mencintaimu, ia pasti akan kembali. Ia diam mungkin karena ia ingin memberikanmu waktu untuk sendiri, atau ia ingin mempersiapkan kejutan untukmu sebagai permintaan maafnya.”

Kira-kira, itu yang dikatakannya. Benar juga. Aku tak perlu terlarut dalam kesedihan. Kejutan? Aku memang menyukainya. Tapi, kejutan terakhir dari Taehyung membuatku sedikit membenci kejutan.

Oh iya! Buku sketsaku! Buku sketsa itu tertinggal di rumah Taehyung. Haruskah aku ke sana untuk mengambilnya kembali? Ah, tidak.. tidak usah. Aku masih terlalu canggung jika harus bertemu dengannya. Aku masih belum siap. Tapi, aku harus apa tanpa buku sketsa itu? Setidaknya aku masih bisa menyelesaikan sketsa design rumah Taehyung. Baiklah….

Aku akan mengambilnya.

“Oppa, turunkan aku disini saja.”

“Wae? Rumahmu kan masih jauh.”

“Tak apa, aku ada perlu sebentar.” Aku merasa sepertinya pernah mengalami kejadian seperti ini. Dimana ya?

“Perlu apa? Oppa antar saja. Kau mau ke mana?”

“Eumm…. aku… mau…. akuu…”

“Ke rumah Taehyung? Ada yang tertinggal? Sekaligus meminta maaf?” terkanya. Well, aku memiliki oppa yang sok tahu. Tapi kali ini ia menebak dengan tepat.

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Arraseo. Oppa akan turunkan kau disini. Semoga beruntung. Fighting!” serunya.

Setelah Jimin oppa menurunkan aku disini, ia segera berlalu. Aku masih berdiri di tempatku sampai aku melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Taehyung.

TaeTae.. aku akan menemuimu…

Aku merindukanmu..

Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Ini dia. Ini rumah TaeTae kesayanganku.

Aku akan segera masuk..

Tae, aku tak sabar ingin melihatmu dan meme…….luk…..mu…..

Langkahku terhenti. Nafasku tercekat. Apa-apaan ini?! Kejadian macam apa lagi yang aku lihat sekarang ini? TaeTaeku… memeluk… yeoja lain? Lagi?! Berapa banyak yeojachingunya sih? Apa aku sudah termasuk yang kesekian untuknya? Padahal.. dia… yang pertama untukku. Tunggu… bukankah itu Yoonhee? Rupanya… dugaanku ini benar…

Taehyung nampak begitu menyayanginya. Dia bahkan mengusap-usap punggung Yoonhee? Berani-beraninya dia…. ah, sudahlah.. percuma aku terus berada di sini. Ekor mataku menangkap sesuatu yang berada di meja dekat pintu. Buku sketsaku! Segera saja ku raih buku itu kemudian segera pergi.

Aku segera keluar dari rumah Taehyung dan pergi ke tempat yang jauh dari kata ramai. Rumahku. Rumahku yang tenang dan damai. Tahanlah tangisanmu, Eunhye. Di rumah kau bisa menangis sepuas yang kau mau..

-***-

Kau..

Jahat,

Tae…

Padahal aku datang untuk memperbaiki hubungan kita.. tapi kau nampak sama sekali tidak peduli dengan kelanjutan hubungan kita dan memilih bersama yeoja lain. Ia bahkan temanku sendiri. Aku tahu aku ini masih jauh dari kata ‘sempurna’ tapi.. aku memiliki cinta yang sempurna untukmu.

Tidakkah kau tahu akan hal itu, Tae?

Tidakkah kau menyadari hal itu?

Tanpa sadar, aku mulai bernyanyi dengan bersimbah air mata..

Aku bernyanyi untukmu, Tae..

Meskipun aku tahu kau tak dapat mendengarnya..

Tapi ku harap, kau dapat merasakannya..

Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata

(The long night is following you as it flows)
I sigani neol ttara heuryeojineun geot gata
(Time follows you and fades)
Wae meoreojyeo ga wae dahji anheul mankeum gaseo..

(Why are you getting farther away? So far that I can’t reach you?)

Tell me why meoreojyeo ga why
(Tell me why, you’re so far away, why)
Ni nunen deo isang naega boiji anhni uh

(Can’t you see me in your eyes anymore?)

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

(Goodbyes are even more painful)

~BTS – Love is Not Over~

Kau tahu? Hubungan kita ini begitu rumit. Sama seperti seni yang rumit. Tapi aku harap hubungan kita ini berakhir dengan indah, sama seperti seni yang berakhir dengan sebuah karya yang indah..

Drrtt… Drrtt..

Ku abaikan ponselku untuk sementara waktu. Mencoba untuk menstabilkan suaraku yang serak akibat menangis.

Satu kali.. dua kali.. tiga kali…

Ponselku terus berdering.

Pada dering ke empat aku menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselku.

“Yeoboseyo..”

“Yak! Mengapa tak kau angkat?” Itu… Taehyung…

“……..”

“HyeHye? Kau baik-baik saja?”

“Tidak sampai kau bisa menjelaskan semua yang sudah kau lakukan..”

“Ini tidak seperti yang.. tunggu, kau.. habis  menangis ya? Suaramu serak..”

“Sudah lah… mungkin ini keputusan yang terbaik..”

“Apa maksudmu? Keputusan apa?”

“Kita berpisah saja Tae…”

“HyeHye… dengarkan dulu. Aku menyayangimu. Sungguh. Yang kau lihat hanya kecelakaan. Itu semua diluar dugaanku. Percayalah.”

“Baik.. aku mengerti kalau itu hanya kecelakaan.. tapi apa pantas itu disebut kecelakaan? Kau mencium mantanmu. Mantan istrimu.”

“Mwo?! Dia bukan mantan istriku. Dia memang mantanku tapi dia bukan mantan istriku. Ia memintaku kembali untuk menikahinya. Anak itu bukan anakku. Dia ditinggal kekasihnya. Jadi-“

-Tut!-

Aku memutuskan sambungan telepon itu..

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya? Atau apa?

Aku benar-benar bingung..

Drrt.. Drrtt..

Taehyung..

Ia kembali meneleponku.

Aku akan mengangkatnya… baik, akan ku angkat.. apa yang ingin kau jelaskan lagi sebenarnya huh?

“Jangan tutup dulu!”

“…….”

“Aku minta maaf. Semua ini hanya salah paham. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku tahu hubungan kita begitu rumit. Tapi aku harap hubungan kita akan berakhir indah seperti layaknya sebuah karya seni. Kau tahu kan? Aku sungguh berharap itu terjadi.”

“…….”

“HyeHye… bicaralah sesuatu.. aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. bicaralah.. katakan sesuatu.. apa saja..”

“Apa saja?”

“Apapun… katakanlah… biarkan aku tahu isi hatimu.”

“Berhenti…”

“Mwo?”

“Berhenti menghubungiku mulai sekarang. Aku tak ingin mendengar suaramu.”

“Hye-“

-Tut!-

Mianhae Tae.. aku hanya butuh waktu sendiri.. ku harap kau mengerti.

Mianhae… aku membencimu…

Saranghae….

Setelah puas menangis akhrinya aku pun tertidur. Hahh.. sudah kusut wajahku ini, ditambah lagi dengan mataku yang sembab. Bagus. Wajahku sekarang sudah sesuram perasaanku. Selamat Eunhye.. wajahmu kini tidak lebih seram dari arwah-arwah yang penasaran.

Ohh! Hari ini ya?! Hwayeon mengajak kami semua pergi berlayar. Aku harus segera bersiap-siap! Omona! Aku belum berkemas sama sekali.. eotteokhae?? Hwayeon pasti sudah menungguku. Hyojin juga ikut kan? Yoonhee… aish! Bertemu dengannya lagi?! Sudah lah… aku tidak akan banyak bicara padanya. Lebih baik ku simpan saja perasaan ini seorang diri. Cukup masalah ini hanya aku dan Taehyung yang menyelesaikannya.

“Eonni… apa mobil yang menjemputmu sudah sampai? Jika sudah segeralah naik. Aku menunggumu di sini.”

Itu adalah isi dari pesan suara yang diberikan Hwayeon padaku sejak……. 1 jam yang lalu?! Haiishh… aku ini tidur macam apa sampai-sampai tidak menyadari ponselku berbunyi.

Aku segera membereskan semua keperluanku. Benar-benar sungguh sibuk. Pagi-pagi sudah sesibuk ini… haiish.. lelahnya.

Aku membawa semua barang-barangku ke bawah. Memang sudah ada mobil yang berada di depan gerbang rumahku. Tapi ya sudah lah…

Aku memberikan barang-barangku pada seorang namja yang sudah berdiri di luar mobil.

Aku lelah. Aku mengantuk. Sungguh.. aku akan segera tidur sa-

Aku yakin aku tidak akan bisa tidur begitu aku melihat namja yang ada di dalam mobil itu.

Kim Taehyung?!

“HyeHye..” panggilnya lirih. Aku tak menjawabnya.

Segera saja aku masuk ke dalam mobil dan segera mencari posisi ternyaman untuk tidur. Sialnya, tidak ada satupun posisi yang nyaman. Mungkin satu-satunya tempat ternyaman adalah dengan bersandar pada bahu Taehyung. Tapi tak mungkin kulakukan bukan?

Aku memejamkan mataku.. berusaha untuk masuk ke alam mimpi.. tapi aku tetap saja tidak bisa. Jadi kubiarkan diriku tersadar walau mataku ini terpejam.

“HyeHye…” panggil Taehyung lagi. Aku diam, meneruskan aktingku untuk berpura-pura tidur. “Kau lelah ya? Wajahmu begitu pucat. Matamu bahkan sembab. Apa semalaman kau menangisiku? Kau tak perlu menangis, HyeHye. Aku tahu aku salah. Aku banyak bersalah padamu. Aku tahu kau tidak akan mendengarnya. Tapi aku akan tetap mencurahkan semua isi hatiku padamu.” Lanjutnya.

Siapa yang bilang aku tidak mendengarmu? Aku mendengarnya. Mendengar semua yang kau ucapkan. Aku ini memang munafik. Aku tak ingin melihatmu, mendengar suaramu, berdekatan denganmu. Tapi itu salah, hatiku berkata bahwa aku merindukanmu, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin berada di dekatmu. Berada bersamamu saat ini membuatku sungguh senang. Meskipun aku harus berpura-pura tidur agar bisa dekat denganmu.. tapi itu tak masalah.

Taehyung memindahkan kepalaku ke bahunya.

Ini memang yang kuinginkan.. bersandar pada bahumu. Ini adalah psisi ternyaman. Sungguh, rasanya aku ingin menangis saat ini. aku merindukan saat-saat kita bersama..

“HyeHye.. “ Taehyung mengusap kepalaku lembut. Belaian ini yang sungguh ku rindukan. Taehyung mengecup keningku sekilas. Jika boleh, jika aku bisa, aku akan menangis dalam pelukannya sekarang. Sesegera mungkin.

Ojik neo hanaman boyeo

(I can only see you)
Na ojik neo bakken anboyeo

(I can only see you alone)
Bwa gongjeonghaji gongpyeonghaji neohante ppaegon da ijen dan harudo neo eopsineun Please
(Look, I’m fair with everyone else but you Now I can’t live a day without you, please)

Kkwak jabajwo nal anajwo

(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me, can you trust me
Kkwak kkeureoanajwo

(Pull me in tight)
Kkwak jabajwo nal anajwo
(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me
Jebal jebal jebal kkeureoanajwo

(Please, please, please pull me in and hug me)

~BTS – Hold Me Tight~                                         “
Selama bernyanyi ia terus mengusap kepalaku. Ia mengusap kepalaku lembut.

Aku berusaha mati-matian untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh.

Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus memaafkannya? Apa yang harus aku lakukan.

Tiba-tiba saja pipi kananku terasa basah. Seperti ada tetesan air yang mengenai permukaan kulitku. Jangan-jangan..

“Mianhae, HyeHye.. aku tak seharusnya begini. Aku memang cengeng. Aku bukanlah namja yang kau harapkan. Tak seharusnya aku menangis seperti ini. Tapi hal yang kurindukan belakangan ini telah mendominasi perasaanku. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu. Hanya bersamamu. Bukannya berjauhan seperti ini. Andai kau mendengarnya..” ucapnya lirih.

Sungguh aku tidak tahan lagi..

Segera kuangkat kepalaku kemudian mengecup pipi kanannya.

“Aku mendengarnya.. aku mendengar semuanya. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merindukanmu.” Ucapku.

“Mianhae… jeongmal saranghae.” Ucapnya kemudian memelukku.

Aku menangis. Menangis bahagia. Menumpahkan seluruh kerinduanku padanya. Aroma tubuh Taehyung yang sudah lama tak ku hirup kini kembali menyeruak di indera penciumanku. Aku merindukan aroma ini. Aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Memeluknya erat. Aku tak ingin kehilangannya untuk yang kesekian kalinya.

“Hey, HyeHye… sudah jangan menangis.. ssshhh.. uljima… kalau kau menangis lagi, wajahmu jadi tambah bengkak tahu.” Ejeknya.

Hiiyaa!! Namja ini benar-benar.. baru saja kita berdamai…

Tapi aku tahu maksudnya adalah untuk menghiburku.

Aku merindukanmu..

Kini sampailah aku di dermaga. Kulihat pasangan iblis Hwayeon dan Kyuhyun, Hyojin dan juga… ChangChang sunbae!! Huwaa! Ia disini?! Ini pasti menyenangkan. Oh iya.. Yoonhee dimana ya?

Kami turun dari mobil dan menghampiri mereka. Taehyung merengkuh pundakku. Benar-benar nyaman rasanya..

Tak lama, sebuah mobil pun tiba dan lihatlah siapa yang turun dari mobil itu..

Yoonhee dan…. eo? Nugu? Namja? Namjachingunya? Tunangannya? Atau apa? Sudahlah, aku malas membahas urusan yang bukan urusanku. Meskipun aku memang ingin tahu sih..

-Hug-

Omo! Apa-apaan ini?!

Yoonhee memeluk Taehyung?!

Aish!! Jinjja!

Mereka berbisik-bisik?!

……………………..

Tae..

Kita baru saja berbaikan….

-TBC-

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 5)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Kim Taehyung’s ex girlfriend
  • Unknown little girl

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 5!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Kondisi author lagi kurang enak sekarang, tapi author tetep berusaha yang terbaik buat readers..

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

Besok adalah acara launching SJ hotel dan magnae pabbo itu malah pergi jalan-jalan dengan namjachingunya, Kyuhyun. Bukan namjachingu sih, calon (?) habis mereka cocok. Kurestui mereka..

Aku pun ingin jalan-jalan juga sebenarnya… tapi aku masih memikirkan TaeTae. Akhir-akhir ini masa lalunya membuat kepala sekaligus dadaku sakit. Apa mungkin aku sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan lamamu? Atau masa lalumu yang terus mengejarmu? Entahlah, aku tak tahu.

Kuputuskan untuk mengunjungi tempat spa yang juga berada di hotel ini. Kepala sakit, badan pegal, lelah, kurang tidur, kini bisa ku kurangi dengan treatment-treatment disini.

Tubuhku memang perlu refreshing…

2 jam kemudian treatmentku pun selesai. Sengja kupilih treatment yang paling lengkap agar tubuhku bisa rileks dengan maksimal.

Sungguh segar sekali rasanya! Spa tadi benar-benar luar biasa…

Kuraih ponselku dari dalam tas dan terkejut melihat ponselku penuh pemberitahuan..

5 missed call from TaeTae Alien

 

5 unread messages from TaeTae Alien

 

7 unread chats from TaeTae Alien

 

3 unread chats from Jimin oppa

Hiyaa! Ponselku banjir notifikasi!!

Kulihat satu persatu notifikasi yang ada.

Pesan-pesan yang dikirim oleh Taehyung berisi..

‘HyeHye… kau dimana?’

 

‘HyeHye?? Kau marah?’

 

‘Jawab telponku, HyeHye..’

 

‘Kau sedang buang air ya? Cepatlah! Balas pesanku sesegera mungkin ya kalau sudah..’

 

‘Kau masih tidur? Kalau iya, cepatlah bangun. Aku menunggumu di depan pintu kamarmu.’

 

‘Kau kencan dengan sunbae kesayanganmu itu ya?! Cepatlah kembali! Aku cemburu!’

‘Kau dimanaaa?? Aku sungguh merindukanmu! Kau tahu? Aku sakit sekarang. Aku terkena HyeHye sick. Cepatlah tunjukan wajahmu, HyeHye..’

 

Isi pesannya bodoh… haha.. tapi baru kutinggal beberapa jam saja kau sudah sebegitu rindunya ya? Baiklah.. aku akan segera menemuimu.. dasar bodoh..

Sekarang, pesan dari Jimin oppa..

‘Eunhye, kalau kau pulang,, bawakan aku oleh-oleh dari Jeju ya!’

 

‘Omong-omong, mawar di rumah sudah mekar! Bagus sekali! Sayang kau tidak ada disini.. mau ku kirimkan satu? Haha..’

 

‘pulanglah jika ada waktu ya, aku punya hadiah untukmu..’

Isi pesanku dengan Jimin oppa seperti layaknya oppa dan dongsaeng.. saling memberi kabar, saling memberi informasi, dan saling merindukan satu sama lain. Tidak ada yang spesial sebenarnya..

Aku akan kembali ke hotel dan menemui TaeTae , tapi aku masih harus menyelesaikan urusanku sedikit.

Hari sudah sore. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat..

Kini aku menyusuri lorong hotel tempat dimana kamarku berada.

TaeTae?? Dia… masih disana. Menungguku.

Aku menghampirinya yang tertidur sambil bersandar pada pintu kamarku. Aku duduk di sebelahnya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai..

Saat bangun saja tampan, apalagi kalau tidur? Wajahnya bagaikan malaikat.

Ku sisir poni Taehyung yang sedikit menutupi wajahnya menggunakan jemariku lalu ku usap lembut pipinya.

“Aku menyayangimu, Tae…” lirihku.

Kudekatkan wajahku pada pipi Taehyung yang mudah ku jangkau..

Aku,ingin sekali mengecup pipimu…

Bolehkah?

Sudah sedikit lagi jarak dari permukaan bibirku menyentuh pipinya. Tapi tiba-tiba..

-Chu-

Yang ku kecup adalah… bibirnya…

Sebenarnya… aku belum menyentuh apapun.. tapi sepasang benda lembut milik Taehyung itu yang lebih dulu menghampiri milikku.

Kulihat ia terkikik geli melihat ekspresi wajahku yang tidak karuan..

“Hey, kau dari mana saja?? Aku menunggumu sejak pagi.” Tanya Taehyung kemudian mengusap pipiku lembut.

“Aku tadi.. aku pergi Spa tadi pagi,, lalu aku menyelesaikan beberapa urusanku. Tidak lama kok, setelah itu aku kembali. Mianhae membuatmu menunggu sampai tertidur disini.” Sesalku.

“Tidak lama? Dari terakhir kali aku meneleponmu, ini sudah sekitar 5 jam. 5 jam itu lama, HyeHye.”

“Selama itu kah? Huwaa! Maafkan aku…”

“Sudah, tidak apa-apa. Sekarang, apa yang mau kau lakukan?”

“Entahlah.. kau?”

“Rencanaku… aku ingin menemanimu kemanapun.”

“Kau ini bisa saja… “ ucapku malu-malu

“Appa! “ jerit seorang anak kecil kemudian berlari dan memeluk Taehyung.

Appa? Anak ini memanggil Taehyung dengan sebutan ‘Appa’? Aku salah dengar kan?

Kulihat Taehyung tidak terkejut sama sekali. Apa dia mengenal anak ini?

Jangan-jangan….

“Hey,, kau ini anak siapa?? Kau datang dari mana?” Tanya Taehyung.

“Appa….” rengek anak itu. Aku hanya memandangi mereka berdua heran.

Mungkin kalau orang lain melihat ini, mereka pasti akan mengira kami adalah sebuah keluarga yang bahagia.

…Mungkin…..

“Aku ini bukanlah appamu, anak manis. Sudah, kembali pada eommamu…” ucap Taehyung lembut. Anak itu tersenyum kemudian segera berlari meninggalkan kami berdua.

Kini aku terus menatap Taehyung yang tengah tersenyum manis.

Tae..

Kau menyukai anak-anak ya?

Aku senang kau menyukai anak-anak…

Karena kau mungkin akan menyayangi anak kita nanti…

“HyeHye….” panggil Taehyung. Aku tersentak kaget dan hanya menatapnya.

“Aku ingin….” ia menggantungkan kalimatnya kemudian ia meraih tanganku.

Kulihat ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan..

“……. ingin berdiri. Bantu aku berdiri.. jebal.. punggungku sakit karena dari tadi tertidur disini.” Lanjutnya. Huh! Kukira ada apa..

Aku membantunya berdiri kemudian membantunya berjalan menuju kamarnya.

Ohhh benar! Aku harus segera membereskan dekorasi ballroom, membuat pidato sambutan, dan yang penting,, Mandi!

Setelah membantu Taehyung duduk di atas kasurnya, aku segera berpamitan dan meninggalkan kamarnya kemudian mandi.

-***-

“Ya, letakan karpetnya disini.. iya, benar disitu. Bunganya pindahkan ke sana.. warnanya tidak sesuai, cepat pindahkan! Apa berat? Mari kubantu…. Tunggu! Letakkan podiumnya disana. Tidak, kurang ke tengah, pindahkan sedikit ke kanan.. ya, bagus!”

Aku membantu pekerja untuk mendekorasi ballroom. Taehyung? Dia ingin membantu sebenarnya, hanya saja kularang sampai sakit di punggungnya membaik. Untungnya Harim membantuku juga.

Lukisan-lukisan ini bagus ya? Tentu saja, itu semua dibuat oleh Taehyung. Dia memang hebat!

Tak terasa aku mendekorasi hingga malam.. cukup larut, hanya sampai pukul 10 malam. Tapi tidak sepenuhnya mendekorasi karena sisa waktunya kugunakan untuk menyusun pidato. Gara-gara menjadi tamu resmi, aku jadi harus membuat pidato. Aku ini tak pandai berkata-kata.. tapi tak apa, setidaknya namaku bisa menjadi lebih terkenal.. sedikit..

“HyeHye! Buka mulutmu.. Aaaa~” perintah Taehyung tiba-tiba ketika aku sedang sibuk menulis pidato. Ia memasukan sesendok nasi beserta lauk-pauk kedalam mulutku. Aku hanya melongo menatapnya.

“Kau sejak tadi belum makan. Ini sudah larut, besok ada acara penting dan kau tidak boleh sakit.” Tegurnya.

Benar juga, sedari tadi aku hanya sibuk bekerja sampai lupa untuk makan. Ternyata dia perhatian.. sungguh perhatian. Tapi, bukankah dia dari tadi di kamarnya?”

“Sudah? Ayo Aaa~” perintah Taehyung lagi.

“Aaah.. sudah letakkan, aku bisa makan sendiri Tae. Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan beristirahatlah.”

“ANDWAE! Aku yakin kau tidak akan melanjutkan makanmu. Itu membuatku tidak bisa beristirahat karena terus khawatir akan dirimu. Sudah, lanjutkan pekerjaanmu.. aku suapi saja..”

“Tapi Tae..”

“Uh-uh! Jangan protes! Aaa~”

Dia.. cukup keras kepala juga.. mau bagaimana lagi.. meskipun sedikit malu karena disuapi TaeTae di tempat umum begini, tapi aku senang karena ia peduli dan sayang padaku.

Kami berjalan menyusuri koridor hotel. Kira-kira sekarang sudah pukul 11 malam. Sudah terlalu larut.

“Selamat malam HyeHye.. semoga tidurmu nyenyak malam ini..” ucap TaeTae sebelum akhirnya kami berpisah menuju kamar masing-masing.

“Ne. kau juga..”

“Mimpikan aku ya? Saranghae..”

“You too.. Saranghae..”

-***-

Huaahh… lelahnya!!! Tidur larut membuatku bangun terlambat saking pulasnya aku tidur.

Drrtt…Drrttt…

Ah, ChangChang sunbae..

“Yeobo-“

“EunEun pabbo! Bersabarlah,, kau akan melihat dia!”

“Nugu?”

“Pujaan hatiku!”

“Oooh.. artis itu?”

“Yak! Berhentilah memanggilnya ‘artis itu’ dia juga mempunyai nama!”

“Eoh? Kalau begitu kenapa kau tidak pernah memberi tahuku namanya?”

“Itu karena kau tidak pernah bertanya.. pabbo!”

“Iya juga… kalau begitu, beritahu aku siapa nama yeoja itu…”

“Baiklah… apa kau penasaran?”

“Ne.”

“Apa kau ingin tahu?”

“Ne!”

“Apa kau sungguh ingin tahu?”

“Ne!!”

“Benarkah?”

“Yaish!! Jinjja!!! Cepat beritahu aku!! Kau ingin menguji kesabaranku, sunbae?!”

“Ahaha!! Arraseo.. kau ini galak sekali..”

“………”

“iya.. iyaaaa! Aku beritahu.. namanya ada-“

“Oh, sunbae.. nanti kutelepon lagi.. Annyeong.”

-Tut!-

Sebenarnya aku sengaja menghentikan pembicaraanku dengan ChangChang sunbae. Tidak akan seru jika aku tahu sekarang.. lebih baik aku cari tahu sendiri siapa yeoja itu. Lag pula mereka akan berduet kan? Pasti mudah mengenali yeoja itu.. Haaa! Kau sekarang tidak pabbo lagi Eunhye! Kau cerdas!

-Knock Knock-

Pintu kamarku ku ketuk. Siapa ya yang mengetuk pintu?

Ku lihat keluar melalui lubang yang berada pada badan pintu dan yang kulihat adalah….

..NOTHING!

Tidak ada apapun  atau siapapun di luar sana. Akh, mungkin orang iseng..

-Knock Knock-

Lagi-lagi pintu kamarku diketuk.. siapa sih? Kurang kerjaan sekali dia.. tanpa melihat lebih dulu, aku segera membuka pintu dan yang sejak tadi mengetuk pintu adalah…

“Ahjumma!”

Anak kecil yang kemarin?! Mau apa dia kemari???

“Uh.. eum… a-ada apa anak manis?” tanyaku canggung.

“Appa!”

“Appa?”

“Appa dimana??”

“Appamu? Aku tidak tahu…. kau kan anaknya..”

“Huaaaa!!!!!! Appa!!! Aku ingin Appa!!” tangis anak itupun pecah seketika.

Hiyaaa!!! Apa-apaan anak ini?? Aku memang tidak tahu dimana Appanya… haduh..

“Ssst… uljima.. uljima ne? Jangan menangis lagi.. sudah yaa…. Ahjumma belikan es krim nanti.. sudah yaa… uljima….” bujukku. Anak itu tetap saja menangis. Aku harus bagaimana?

-Kreek-

Pintu kamar di sebelahku dibuka.. dan yang terjadi adalah..

Anak itu berhenti menangis setelah melihat siapa yang membuka pintu.

“Appa!” Jerit anak itu.

“Eoh? Annyeong..” sapa Taehyung kemudian mengelus kepala anak itu.

Aku heran, mengapa anak itu senang sekali mengecap TaeTaeku ini sebagai appanya.. dia itu belum memiliki momongan tahu! Seenaknya saja.. ini salah satu alasan mengapa aku membenci anak kecil.

“HyeHye… mengapa dia menangis tadi?”

“Molla. Tiba-tiba saja dia begitu.”

Taehyung menggendong anak itu kemudian tersenyum padanya. Sungguh kelakuan ini tidak bisa dibiarkan! Berbagai macam pemikiran muncul dalam benakku tapi yang paling mendominasi adalah…

Bagaimana kalau itu memang anak dari Taehyung?

“Mengapa kau menangis?” tanya Taehyung pada anak itu.

“Aku mencari appa. Tapi ahjumma ini tidak mau memberi tahu.” anak itu menunjukku lalu mengeratkan pelukannya pada Taehyung.

Sungguh anak ini menyebalkan sekali.. masih kecil saja sudah menyebalkan bagamana kalau dewasa nanti? Dia pasti akan menjadi yeoja murahan..

“Aku memang tidak tahu dimana appanya..” Aku membela diri.

“Bohong! Ahjumma itu bohong buktinya, ahjumma itu menyembunyikan appa dikamar sebelahnya.” Bantah gadis kecil itu.

Hiiyyaaaa!!! Anak ini ingin sekali kubunuh!!!

“Kau tidak boleh begitu…. itu tidak sopan. Jadi maksudmu, aku ini appamu?”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu, jika aku appamu maka dia adalah eommamu.”

“Eomma?”

“Ne. Ayo minta maaf dulu pada eomma karena sudah tidak sopan tadi.” Perintah Taehyung.

Tae… kau ternyata masih sempat memikirkan aku ya?? Aku sungguh terharu kau memintanya memanggilku dengan sebutan eomma.. tapi sayangnya aku tidak sudi dipanggil begitu oleh gadis kecil yang genit seperti dia. Lagi pula, ia mana mau memanggilku begitu.

Gadis itu sempat terdiam sesaat lau ia mulai membuka mulutnya..

“Eo..eo…eom…eommm…eomm..ahjumma mianhamnida!” ucapnya cepat. Benar kan dia tidak akan mau memanggilku begitu. Baguslah.

“Kau harus memanggil-“

“Tidak apa-apa, Tae.. aku memang bukan eommanya. Sudahlah Tae, turunkan dia mungkin sudah saatnya dia kembali pada orang tuanya.” Ucapku.

Taehyung mengangguk kemudian menurunkan anak itu.. anak itu segera berlari menjauh kemudian menghilang dari pandangan kami. Huft, hampir saja aku kehilangan kesabaran..

“Tae, kau bersiap-siaplah.. acara launching dimulai 8 jam lagi. Aku ingin kau terlihat keren, jadi bersiaplah.” Saranku lalu segera berbalik masuk kedalam kamarku.

Tapi sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kamar, Taehyung menarikku lalu mendekapku erat. Kemudian ia mengecupi leherku tanpa berhenti. Setelah bosan dengan tempat itu dia ganti mengecupi permukaan bibirku. Awalnya hanya mengecup, lama-lama ia menjilati permukaan bibirku dan menyesapnya sesekali. Ini menjadi ciuman yang basah. Aku tidak mengerti mengapa kelakuannya seperti ini.. ini terkesan…. agresif?

Tiba-tiba Taehyung menghentikan aksinya. Kemudian ia segera memalingkan wajahnya dariku.

“Mianhae aku tidak bermaksud.. aku.. ini diluar kendaliku.. untung saja belum jauh.. masuklah, persiapkan dirimu. Aku akan menunjukan sesuatu padamu ketika pesta persahabatan. Siapkan dirimu dan juga mentalmu.” Ucapnya kemudian masuk ke kamarnya.

Mengapa… dia jadi aneh?

Mempersiapkan diri itu oke, tapi mempersiapkan mental? Untuk apa?  Memangnya kejutan darinya sebegitu luar biasa? Hm.. aku jadi ingin tahu.. mungkinkah itu satu truk mawar putih? Kuharap iya.. hihi..

Aku tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara formal itu. Launching SJ Hotel yang ku design kan. Aku sugguh gugup karena aku akan berpidato. Ini bukanlah sembarang berpidato. Bukan juga seperti berpidato di depan teman-teman ketika masa sekolah. Ini adalah acara penting. Aku harus berpidato dihadapan ratusan tamu undangan, para pimpinan perusahaan, dan juga orang-orang penting lainnya… sungguh, ini luar biasa!

Aku mengenakan dress putih selutut tanpa lengan, lalu kupakai lagi blezzer hitam untuk menambah kesan formal. Untuk rambutku, ku ikat ekor kuda. Aku hanya berusaha tidak menghilangkan kesan formal dalam penampilanku mengingat aku harus berpidato di hadapan kalangan atas.

Sekarang sudah pukul 6 malam. 1 jam lagi acara akan dimulai.

Kulangkahkan kakiku menuju lift. Sungguh, aku gugup sekali karena aku berpidato tidak lama setelah acara dimulai.

“Waeyo? Kau terlihat sangat gugup.” Tanya Taehyung yang sejak tadi mengikutiku dari belakang.

“Hmm.. Aku gugup sekali Tae… detak jantungku begitu abnormal… bagaimana kalau aku salah kata? Bagaimana kalau aku lupa materi pidatoku? Bagaimana kalau melakukan hal yang konyol? Bagaimana kal-“

-Chu-

Taehyung mengecup bibirku sekilas dan itu membuatku terdiam seketika. Namja itu kini malah tersenyum. Apa mungkin ini yang ingin dia tunjukan?

“Bukan ini yang akan kutunjukan.” Ucapnya santai.

“Eh?” ucapannya menjawab pertanyaan di benakku. Chemistry kita cukup kuat rupanya..

“Aku hanya ingin tahu apa detak jantungmu juga akan abnormal ketika kucium..”

Benar-benar datar… ekspresinya sungguh datar!

“Mwo?”

“Lagipula kau ini berisik sekali. Tindakan ku tadi hanya untuk mengurangi kegugupanmu.”

Apa yang dia bilang? Justru tindakannya membuatku akan mati seketika. Bagaimana jika jantungku meledak akibat berdetak terlalu kencang? Itu mati konyol namanya. Mati hanya karena dicum oleh namjachingunya sendiri. Benar-benar konyol!

Sampailah kami di ballroom. Ketika kami hendak memasuki ballroom, tiba-tiba seorang namja meneriaki namaku dan juga Taehyung..

“Neo! Pabbo dan V!” kami menoleh ke sumber suara dan yang kami dapati adalah..

“ChangChang sunbae!” seruku.

“Annyeong.. kalian serasi… hahah..”

“Kau juga nampak hebat, Ricky-ssi.” Sahut Taehyung.

“Aigoo.. uri EunEun cantik sekali hari ini… kemari, sunbae peluk dulu.”

Tiba-tiba Taehyung memeluku..

“Tidak akan ku biarkan itu terjadi Ricky-ssi.”

“Aku.. tahu. Aku hanya bercanda.. kajja. Aku sudah tidak sabar ingin sekali berkolaborasi bersamanya… hiyaa! Palli!”

Kami bertiga memasuki ballroom. Kata-kata yang pertama kali kami lontarkan adalah.. ‘WHOA’

Sungguh ini merupakan pesta high class.. mewah dan sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka hasil dekorasiku dibantu pekerja lainnya bisa nampak semewah ini.. aku tak percaya.. tolong siapapun cubit aku..

Hwayeon ada dimana ya? Hyojin juga tidak terlihat sama sekali. Aku harus menjari mereka dimana?? Melihat jalan saja tidak bisa karena tempat ini penuh dengan tamu-tamu undangan.

Yaiishh! Mereka ada dimana sih??

Aku, Taehyung dan juga ChangChang sunbae menoleh ke arah pintu ballroom. Keributan apa yang tercipta disana? Meskipun tidak dapat melihat dengan jelas, aku masih bisa mendengar keributan yang terjadi di sana..

“Eo?” Akhirnya aku menemukan Hwayeon tengah duduk sendiri.. Ada apa dengannya kali ini?

Aku hendak menghampiri Hwayeon, namun ia pergi… sepertinya untuk melaksanakan acara serah terima..

Aigoo! Sudah acara serah terima lagi?! Itu berarti aku harus bersiap-siap!

“Hadirin sekalian, sekarang mari kita dengarkan pidato sambutan dari designer hotel ini, Park Eunhye! Untuk nona Park, saya persilahkan waktu dan tempatnya..”

Sambut sang event oranizer. Aku pun melangkah naik ke atas panggung.. ku tatap wajah-wajah pemilik dompet tebal di seluruh penjuru ruangan ini dan akhirnya aku terfokus menatap 1 namja. Namja yang kucintai, Kim Taehyung. Namja itu sekarang tengah memberikan sebuah senyuman semangat untukku.

Ini aneh, rasanya semua ketakutanku senantiasa sirna tatkala memandangnya…

“Annyeong haseyo, hadirin semua……….”

*Skip Time*

“……. Kamshahamnida.”

Riuh tepuk tangan tamu undangan memenuhi ballroom ini. Aku jadi lega sekarang. Ketakutanku berhasil kulalui.. ini berkat dia..

“HyeHye!! Kau hebat! Pidatomu bagus dan juga lancar!” Puji Taehyung saat aku sudah kembali menemuinya.

“Tidak juga.. sebenarnya aku sungguh gugup tadi. Tapi entah mengapa tiba-tiba semuanya itu hilang ketika aku berada di depan sana dan menatap…..”

“Benar kan? Kalau sudah menatap banyak orang, kau pasti akan lebih baik.” Potong Taehyung cepat. Aish! Namja ini bodoh atau apa sih?

“Justru itu membuatku tambah gugup! Aku belum selesai bicara, kau sudah memotongnya…yang aku tatap sedari tadi itu adalah KAU!”

Dia hanya melongo. Kemudian..

-Chu-

Dia mengecup keningku…

Tunggu, dia mengecupku?! Ditengah kerumunan orang banyak?! Omona! Aku malu sekali.. kerasakan wajahku kini memanas. Pasti wajahku sudah merah, semerah kuah Tom Yum Gong..

“Persiapkan dirimu, ne? Aku punya kejutan luar biasa untukmu.” Ucapnya.

Apa kejutannya ya? Aku penasaran..

Acara berlangsung sukses! Kini saatnya Pesta Persahabatan dimulai! Aku sungguh menantikan saat-saat ini begitupun juga dengan Taehyung.

“Ayo ayo, sekarang semua yeoja berbaris menyamping disebelah kananku, dan para namja berbaris berhadapan dengan para yeoja di samping kiriku. Ayo ayo.”

Ucap MC tiba-tiba..

Aku berada di seberang Taehyung sekarang. Di kiri ku ada Hwayeon dan disebelahnya ada Hyojin. Hyojin dengan siapa ya? Aku tidak bisa melihatnya karena terhalang tubuh Kyuhyun. Haish..

“Oke, sekarang kita akan bermain game!!! kiss competition. Oke, jadi nanti, lampu akan dimatikan, dan semua orang wajib mencari seorang pasangan kalian masing-masing untuk dicium dalam keadaan gelap gulita. Oke? Mengerti semuanya? Pada aba-aba ke-3. 1…2…3…“ seru MC itu.

Dan dalam sekejap suasana menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apapun. Hanya jeritan-jeritan yang kudengar..

“Kau dimana?!” Itu… Suara Taehyung!

“Disini!” Seruku.

“Gotcha!” desis seorang namja setelah berhasil meraih tanganku. Aku tak tahu dia siapa, tapi kuharap itu TaeTae.

Namun tiba-tiba saja seseorang menabrak kami dan membuat kami terlepas. Ha~ jika tadi gagal, berarti dia bukan Taehyung. Taehyung pasti akan menggenggamku erat.

Lampu telah menyala kembali. Aku melihat para namja yang tengah mencium pasangannya.. tapi aku? Aku hanya memandangi mereka..

Aku melihat Hwayeon dengan Kyuhyun. Dasar pasangan iblis..

Aku melihat Hyojin dengan namjanya yang tidak ku ketahui..

Lalu aku melihat pasangan yang seharusnya tidak terdaftar…

….Kim Taehyung dengan yeoja lain….

Dan aku melihat namjachinguku berciuman dengan yeoja lain tepat di hadapanku. Sungguh… ini benar-benar terjadi di depan kedua mataku. Mereka bahkan terlihat begitu mesra.

Taehyung melepas ciumannya dengan yeoja itu..

MWO?!

Yeoja itu adalah yeoja yang dipantai waktu itu.. mantan Taehyung.

Yeoja murahan yang tidak tahu diri!

Hooh… sekarang bisa ku simpulkan..

Taehyung sering menelepon seorang yeoja yang kuketahui bernama ‘Yooni’. Percakapan terakhir, Taehyung nampak mengkhawatirkannya. Percakapan itu terjadi setelah ia bertemu Yeoja kotor ini. Itu berarti selama ini Taehyung masih berhubungan dengan mantannya itu yang bernama Yooni. Dan mereka sekarang bermesraan dihadapanku. Bagus!

“Teruskan saja.. untuk apa berhenti?! “ Seruku pada Taehyung dan yeoja itu.

Mereka segera menoleh padaku terutama Taehyung. Ia nampak begitu terkejut.

“Ani.. HyeHye.. aku bisa-“

“Bisa apa? Menduakan aku? Membohongiku? Mempermainkan aku? Jadi kau menjadikanku sebagai pelampiasanmu? Begitu? Huh! Terimakasih Tae.. terimakasih sekali..”

Aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Kulihat yeoja keparat itu tersenyum penuh kemenangan.

“Yak! Eunhye! Dengarkan dulu!” Cegah Taehyung. Aku menepis lengannya yang mencengkeram tanganku. Aku menatapnya.. menatap kedua mata namja yang telah melukai hatiku ini. tanpa terasa, air mataku mengalir dan membuat mataku yang semua begitu cerah kini nampak sembab dan bengkak. Taehyung menatapku panik. Untuk sesaat, kami saling bertatapan sampai akhirnya yeoja sialan itu datang memeluk Taehyung dari belakang. Membuatku sadar bahwa aku harus pergi. Aku tidak boleh mengganggu acara mereka kan?

“Terimakasih atas kejutanmu hari ini, Tae…” aku melepas genggamanya kemudian segera berlari menjauh.

Katanya, ia takut jika aku meninggalkannya tapi apa sekarang? Dia yang meninggalkanku. Dia yang melukaiku.

Katanya, ia akan selalu ada disisiku. Tapi? Dia berada di sisi yeoja lain. Dia berselingkuh dihadapanku.

Sungguh…..

AKU MEMBENCIMU KIM TAE HYUNG!

Dengarlah itu baik-baik…..

…..Chagi….

Aku mengasingkan diriku. Aku butuh ChangChang sunbae… Kau ada dimana?? Aku membutuhkanmu, sunbae… Hatiku terasa sungguh pedih… benar-benar pedih… Kau dimana? Apa kau sedang bersiap-siap? Jika ya, hiburlah hoobaemu ini dengan alunan pianomu yang mengagumkan itu…

Benar saja… sekarang aku bisa melihat ChangChang sunbae berada di atas panggung sayangnya aku tidak bisa melihat yeoja yang bernyanyi itu, padahal dia adalah yeoja yang disukai sunbae! Aihh sial! Hanya saja… suara penyanyi itu aku seperti mengenalinya…  Hm..

Aku diam.

Diiringi oleh musik bernuansa romantis, dan juga disuguhi pemandangan pasangan-pasangan muda yang tengah menyalurkan perasaan cinta mereka satu sama lain.

Ditengah-tengah  kebahagian orang-orang itu dari kejauhan aku melihat….

Taehyung!

Aku sebisa mungkin membuat diriku agar tidak dikenalinya. Ia tampak mencari seseorang. Apa ia mencariku? Apa ia datang untuk meminta maaf? Apa dia….

Tidak.. dia tidak datang mencariku. Dia mencari gadis kecil yang genit itu. Taehyung menggandeng tangan gadis kecil itu dan membawanya pada…. What? Yeoja mantannya?! Apa gadis kecil itu adalah anak dari mantannya Taehyung? Jika ya, berarti aku….

Aku memacari sesorang yang sudah berkeluarga?!

Oomona! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti….

Taehyung….

Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini…

Aku ingin tahu bagaimana bisa kau di panggil ‘appa’ oleh gadis kecil itu..

Aku ingin tahu apa hubunganmu dengan yeoja bernama Yoonie itu..

Aku ingin tahu mengapa kau terlihat begitu tidak peduli padaku sekarang?

Kenapa Tae??

Aku gila karena hadirmu dihidupku.. dan sekarang kau ingin membuatku gila karena kau mencampakanku?

Kau bahkan tidak mencariku…..

Kau ini sungguh……  KEJAM!

Penampilan ChangChang sunbae dan yeoja artis itu berakhir. Wah… penampilan mereka keren sekali.. musik yang mereka ciptakan mengalun manis di pendengaranku. Aku suka itu! Setidaknya, itu bisa menghiburku sedikit..

“EunEun pabbo!” seru ChangChang sunbae setelah turun dari panggung. “Ini untukmu! Kau adalah orang yang spesial untukku!” lanjutnya sambil memberiku sebucket mawar berwarna kuning sebagai lambang persahabatan.

“Gomawo sunbae…”

“Pidatomu tadi hebat.. kau memang hoobaeku yang yang paling spesial! Aku bangga padamu.”

“Aku terharu… gomawo. Sunbae bisa saja.. Oh iya, yeoja yang bersamamu tadi itu namanya siapa?”

“Oh dia itu… Eh? Apa yang terjadi dengan matamu?”

”Ah! Ani. Mungkin ini karena aku kurang tidur.. aku sugguh lelah.. lebih baik aku pergi sekarang. Annyeong.”

Tidak.. ChangChnag sunbae tidak boleh tahu apa yang terjadi padaku…

-***-

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

Hyojin..

Kau ini kenapa?

-TBC-

Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—