Archives

I’m in Love // Part 2 – [Secret]

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Note:

Okee….. Ini dia part 2 nya. Author udah buru-buru beresin ini biar kalian ga kelamaan nunggu. Jadi maaf kalau kurang memuaskan. Masalah cintanya belakangan ya.. Ini masih family hehehe. Selamat baca. Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak. Gomawo ^^

.

.

.

I’m in Love

Part 2

Secret

 .

.

.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Sreeettt!

Cklek!

Kyuhyun tersenyum kecil, betapa menggemaskannya wajah Hwayeon tadi saat ia mendekatkan wajahnya. Kyuhyun kembali meluruskan arah pandangnya, dan mulai menyalakan mobil.

Hwayeon akhirnya menghembuskan nafas lega, ia membuka matanya perlahan dan mengintip Kyuhyun dari sudut matanya. Hwayeon terus menatap Kyuhyun dalam keheningan, membiarkan matanya memaku gambaran Kyuhyun, seakan ia takut akan melupakannya kelak.

Hwayeon berkali-kali berdehem pelan akibat suasana canggung yang kini memenuhi mobil mereka. Hwayeon bergerak tak nyaman dalam duduknya, sedikit membuat Kyuhyun risih. “Bisakah kau berhenti bergerak seperti itu? Kau membuatku risih” Hwayeon tersentak, ia menolehkan kepalanya dan menunduk seketika saat disuguhkan tatapan tajam khas seorang Cho Kyuhyun. “Mi-mianhae…” cicit Hwayeon pelan.

Kyuhyun menghela nafasnya berat, lalu melirik Hwayeon yang masih saja menunduk di tempatnya. “Maaf kalau kau bosan, aku tidak biasa berbicara saat sedang menyetir. Toh, kau juga satu-satunya wanita yang duduk dimobilku selain keluargaku dan dia.” Kyuhyun mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir. Tapi Hwayeon masih mendengarnya dengan jelas. “Dia siapa?” tanya Hwayeon spontan, jangan lupa… diiringi tatapan super polosnya.

Kyuhyun tersentak “T-tidak, bukan siapa-siapa.” Jawab Kyuhyun canggung. Hwayeon yang emang dasarnya suka kurang peka, malah kembali bertanya. “eyyy, dia siapa maksudmu? Tadi kau bilang… yang duduk dimobilmu ini hanya keluargamu dan dia kan? Dia siapa?” tanya Hwayeon tak tau diri. Kyuhyun menggeram, cengkramannya di roda kemudi semakin mengerat sampai buku-buku jarinya memutih. “Itu bukan urusanmu!” sentak Kyuhyun tajam.

Hwayeon langsung terdiam, gadis itu langsung mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun menjadi kearah luar jendela. Well, sepertinya gadis itu sakit hati, terlihat dari raut wajahnya yang mengeruh. Seakan tersadar, Kyuhyun menoleh singkat pada Hwayeon dan kemudian melenguh frustasi saat melihat wajah cemberut Hwayeon. “Ma-“

“Hentikan mobilnya.” Potong Hwayeon dingin. Kyuhyun melebarkan matanya kaget, tapi dia tetap menghentikan laju mobilnya. Kyuhyun memandang Hwayeon dengan pandangan bertanya “A-“

Cklek!

Sreet!

Cklek

Brakkk!

Kyuhyun melongo ditempatnya, tapi sedetik kemudian ia sadar… Hwayeon sudah berada cukup jauh didepannya. Ia dengan cepat ikut keluar dari mobil dan mengejar yeoja itu. “Yak! Apa yang kau lakukan!” pekik Kyuhyun panic saat melihat Hwayeon menyetop sebuah taxi.

Hwayeon berusaha tak mengindahkan Kyuhyun, dan berusaha masuk ke bangku penumpang. “Yak! Tidak bisa, kau harus pulang bersamaku. Aku tidak mau dicincang oleh oppamu!” Hwayeon terdiam, lalu dengan cepat ia menoleh pada Kyuhyun yang terlihat bingung. “Aku pastikan Yesung oppa tidak akan melakukan apapun padamu.”

Sreeett

Brakk

Kyuhyun terus terpaku ditempatnya saat taxi yang dipakai Hwayeon mulai melaju. Meninggalkannya sendirian ditengah jalan seperti anak hilang. “Maafkan aku…” desah Kyuhyun pelan sambil menatap lagit biru diatas kepalanya. Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba menetralkan dadanya yang entah kenapa berdenyut-denyut menyakitkan. Dan akhirnya, Kyuhyun memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Kyuhyun berjalan pelan kembali kemobilnya, ia kemudian menjalankan mobilnya ke tempat yang selama ini ia hindari, sebuah tempat yang membuat hatinya terkubur dalam-dalam. Sebuah tempat yang sudah menjadi tempat peristirahatan terakhir kekasih hatinya… Kim Min Jung.

.

Kyuhyun memandang kuburan didepannya dengan pandangan sendu. Tangan kanannya terulur untuk sekedar meraba dan mengelus nisan yang bernamakan Kim Min Jung diatasnya. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, menikmati semilir angin yang terus menerus membelai lembut wajah rupawannya.

Tes!

Kyuhyun membuka matanya saat dirasakan sebuah tetesan air jatuh tepat mengenai wajahnya. Kyuhyun menoleh pada kuburan dihadapannya seketika sambil tersenyum kecut. “Hujan emmh? Apa kau tidak merindukanku? Kau mengusirku dari sini dengan menurunkan hujan? Aku bahkan sudah lama tidak berkunjung… harusnya kau merindukan kekasihmu yang tampan ini kan?” Kyuhyun terdiam setelahnya, lalu tersenyum simpul. “Kurasa aku sudah mulai gila, tidak bisakah kau kembali? Tidak tau kah kau kalau sekarang… ada seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dihidupku, dan dia…benar-benar mirip denganmu… hampir terlihat seperti duplikat dirimu…”

Kyuhyun menghela nafasnya. Tubuhnya lunglai, ia jatuh terduduk di saping kuburan tersebut dengan pandangan kosong. Ia kemudian menarik kakinya, menekuknya kemudian memeluknya dengan kedua tangannya kemudian menenggelamkan wajahnya disana. “Dia sama sepertimu kau tau? Datang tiba-tiba, meluluh lantakkan hatiku seenaknya. Membuatku terjerat dalam pesonanya. Tapi aku takut… Aku tidak berani… Tidak bisakah kau membantuku? Aku tidak mau sampai jatuh hati padanya, aku tidak mau ditinggalkan lagi didunia ini sendirian… Aku tidak mau dia meninggalkanku seperti kau meninggalkanku, eotteokhaehajyo?”

Kyuhyun tetap diam di posisi itu sambil terus bermonolog, lalu tak lama Ia kemudian bangkit berdiri. “Aku harus pulang, aku tidak mau eomma dan appa khawatir padaku… Aku pamit ne? Akan kuusahakan untuk berkunjung kesini menemanimu karena aku tau kau kesepian disini, dan aku juga tau kalau kau benci kesepian. Baik-baiklah disana, aku mencintaimu…” dan akhirnya Kyuhyun beranjak pergi.

Tak lama setelah Kyuhyun masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar wilayah pemakaman, seorang yeoja dengan seragam yang sama dengan yang Kyuhyun kenakan berjalan mendekati makam tersebut.

Gadis itu kemudian duduk ditempat yang tadi diduduki oleh Kyuhyun dan air mata otomatis mengalir keluar saat tubuhnya menempel dengan rumput dibawahnya.

Tes

Tes

Tes

Gadis itu menengadahkan wajahnya keatas, mengamati langit mendung diatas kepalanya. “Eonni… bogoshipoyo” ujar gadis itu lirih. Air mata mulai mengaliri pipi gadis itu dengan semakin deras. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh mengenai makam dihadapannya.

Gadis itu terus menangis, terisak dihadapan makam bernamakan Kim Min Jung itu tanpa memperdulikan sekitarnya. Tubuh gadis itu sudah basah total, tapi sepertinya gadis itu bahkan tidak berpikir ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Gadis itu terus terisak, melampiaskan segala kesedihan dan keresahan hatinya. Meluapkan segala emosi yang sudah ia tahan sejak lama. “Eonni, kembalilah… Aku ingin bertemu denganmu eonni, Eomma dan appa juga pasti sangat merindukan eonni… hanya saja ego mereka mungkin terlalu besar. Eomma dan appa tidak tau kalau aku sering datang kesini untuk mengunjungi eonni. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak berani mengatakannya pada eomma ataupun appa, oppa pun tidak tau. Aku takut mereka marah dan melarangku untuk menemui eonni, padahal aku sangat merindukan eonni. Aku tidak tau kenapa mereka begitu murka jika aku ingin menanyakan tentang eonni pada mereka. Padahal eonni, kita tidak pernah bermasalah bukan? Kenapa mereka begitu menyebalkan? Hiks hiks. Apa mereka begitu membenci eonni karena masih belum bisa menerima kenyataan kalau eonni meninggalkan kami semua? Mereka bodoh kalau begitu eonni! Mereka sangat bodoh! Mereka pikir aku berbeda denganmu, tapi mereka tidak tau! Kenyataannya aku akan pergi juga dengan cara yang sama denganmu. Hiks hiks. Mereka menyebalkan hiks hiks. Apa mereka akan membenciku juga saat aku tiada nanti? Eotteokhaehajyo? Aku lelah eonni. Hiks hiks hiks…”

Lagii, gadis itu terisak lagi. Sepertinya gadis itu memiliki banyak cadangan air mata. Lihat saja, matanya sudah memerah dan membengkak besar, tapi masih tetap saja bisa memproduksi air mata sebanyak itu. “Hiks.. eonni hiks.. kembalilah..”

Gadis itu terus terisak disana, tanpa tau kalau hari mulai menjelang malam. “Eonni, aku sudah mengetahui tentang Kyuhyun, tambatan hati eonni… Namja yang sealu eonni ceriatakan padaku lewat surat-surat yang eonni kirimkan padaku.” Tanpa sadar gadis itu tersenyum tulus, lalu memejamkan matanya. “Dia tetap sama seperti apa yang eonni beritahu padaku. Dia menyebalkan, dia pintar, tinggi, dan tampan. Ahirnya aku mengerti maksud eonni tentang wajahnya yang boros umur, hihihi. Walau begitu dia tetap tampan eonni. Dia juga masih belum bisa melupakanmu eonni, apa yang bisa kulakukan eonni? Aku menyukainya, bolehkah?”

Gadis itu menahan nafasnya saat dadanya bergemuruh, berdenyut denyut nyeri mendapatkan kenyataan menyedihkan ini. “Bisakah kau merelakannya eonni…? Untuk…ku?” lirih gadis itu pelan.

Seusai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, langit bergemuruh. Gadis itu kemudian tersenyum sambil memandangi llangit. “Apa itu sebuah ya? Atau tidak?” tanya gadis itu lembut. Lalu tiba-tiba, sebuah daun kering jatuh tepat dihadapan gadis itu. Gadis itu kemudian tersenyum dan kembali memandangi langit diatas kepalanya. “Gomawo eonni…”

.

Hwayeon turun dari taxi yang ditumpanginya setelah membayar sang supir dan mengucapkan terimakasih. Disana, didepan pintu… ia bisa melihat sang oppa menatapnya dengan pandangan sengit.

Hwayeon menghembuskan nafasnya, sepertinya gadis itu haru bersiap-siap dimarahi oleh sang oppa yang saat ini tengah terlihat sangat marah. Terlihat dari tangannya yang terkeal disamping tubuhnya dan rahangnya yang mengatup keras.

Hwayeon berjalan kea rah Yesung sambil meringis, membayangkan ia akan dicincang oleh oppanya setelah ini membuatnya merasa mual. “A-annyeong o-oppa.” Sapa Hwayeon canggung. Hwayeon tersentak kaget dan sontak menunduk kaku saat melihat Yesung mendelik kearahnya.

Yesung yang melihat hwayeon menunduk kaku hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan mengacak – ngacak rambutnya bingung. “Kau! Kemana saja kau! Tidak lihat apa ini sudah hampir tengah malam eoh? Kau mau membunuh ku karena khawatir padamu ya?! Kau juga tidak memikirkan eomma dan appa?! Eomma sampai pingsan saat tidak bisa menghubungi ponselmu dari sore tadi! Aish!”

Hwayeon semakin menunduk dalam saat mendengar bentakan Yesung, gadis itu meremas-remas ujung roknya tak beraturan sambil menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah pada keluarganya. Ia merasa sangat m…

Sreett

“Jangan lakukan itu lagi. Oppa mohon, kami semua mengkhawatirkanmu. Demi Tuhan, kau itu yeoja. Dan tidak bisakah kau mengerti? Eomma sangat takut jika kau nanti akan menghilang meninggalkan kami.” Lirih Yesung sambil terus mengeratkan pelukannya. Tubuh Hwayeon sontak menegang kaku mendengar ucapan Yesung.

Hwayeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu balas memeluk Yesung dengan cepat. “Aku tidak mungkin meninggalkan kalian!” ujar Hwayeon tak kalah lirih. Dan tanpa Hwayeon ketahui, Yesung meneteskan air matanya sedih saat mendengar ucapan Hwayeon tadi.

Tapi pada akhirnya kau akan meninggalkan kami semua jika kau tetap bertahan dalam kekerasan kepalamu itu sayang… batin Yeusng nelangsa.

Tap

Tap

Tap

Brakkk!

“OMO!!! HWAYEON-AH!!!” Hwayeon tersentak kaget saat tiba-tiba tiba tubuhnya seakan terlempar dan terhempas seketika ke dalam pelukan Leeteuk. Leeteuk terus menangis dan terus memeluk Hwayeon, mengabaikan Hwayeon yang terlihat kebingungan. “Eomma mengkhawatirkanmu sayang! Kau tidak bisa dihubungi dari tadi sore, eomma hampir menelpon polisi kalau saja appamu tidak melarang dan mengatakan kalau kau harus hilang 24jam dulu baru eomma bisa menelpon polisi untuk melaporkan kehilanganmu. Hiks hiks. Kau benar-benar membuat eomma cemas!” Hwayeon mendengarkan seluruh perkataan Leeteuk dengan seksama. Dadanya berdenyut denyut sakit saat mengetahui bagaimana cemasnya orangtuanya tentang keadaannya padahal hal seperti ini harusnya tidak akan membuat kehebohan sebesar ini bukan?

Seorang anak SMA tingkat akhir pulang malam bukanlah hal aneh bukan? Yah walaupun dia adalah seorang yeoja. Tapi tetap saja kelakukan eommanya ini memang diluar batas wajar orang tua normal. Orang tuanya terkesan sangat protektif padanya…

Setelah akhirnya bisa menguasai diri, Hwayeon mulai membalas pelukan leeteuk dan mulai menenangkan leeteuk yang terus saja menangis sambil merapalkan kata ‘anakku’ entah untuk apa. “sudahlah eomma, jangan menangis terus. Aku sudah tidak apa-apa bukan? Aku sudah sampai rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Jadi berhentilah cemas sekarang. Arrachi? Aku baik-baik saja eomma.”

Cukup lama Hwayeon membujuk, akhirnya tangisan leeteuk mulai mereda sedikit demi sedikit. Hwayeon melepaskan pelukannya saat merasa tangisan Leeteuk mulai berangsur angsur berhenti.

Leeteuk yang sudah bisa mengendalikan diri dan berhenti menangis mulai menempatkan dirinya kembali ke pelukan Kangin, sang suami yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.

Setelah Leeteuk kembali ke pelukan Kangin, barulah Hwayeon menatap Kangin yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu dengan pandangan menegur. “lain kali hubungi kami sebelum melakukan Sesutu. Kau harus mengerti sayang, kau harus paham tentang hal ini. Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi di masa depan. Kau harus selalu memberitahu kami semuanya. Kau mengerti? Berhentilah membuat kami semua khawatir seperti ini. Kau sudah dewasa, jadi bersikaplah dewasa.” Tegur Kangin. Hwayeon mengangguk kaku kemudian menatap Leeteuk yang tengah menatapnya dengan pandangan sendu dari dalam pelukan Kangin, lalu matanya teralih pada sosok Yesung yang sedari taditerabaikan olehnya.

Yesung berdiri tepat disamping Kangin dan Leeteuk. Yesung juga menatapnya dengan pandangan menegur, tapi selain itu.. Ada kilatan khawatir yang terpancar jelas dari sorot matanya.

Hwayeon paham jelas apa yang membuat Yesung khawatir setengah mati, bahkan mungkin lebih khawatir dari Leeteuk, eommanya sendiri. “Kau.harus.menjelaskannya.padaku.nanti!” Hwayeon mengangguk samar saat ia berhasil membaca ucapan tanpa suara Yesung yang ditujukan untuknya.

“Sudahlah, lebih baik kita masuk, ayo sayang. Seragammu agak basah. Cepatlah mandi air hangat dan bergabunglah dimeja makan. Eomma akan segera menyiapkan makan malam untuk kita. Ayo cepat, eomma tidak mau kau sakit.” Hwayeon langsung masuk kedalam rumah digiring oleh Yesung, dan tanpa banyak kata, Yesung langsung menggiring hwayeon kedalam kamar gadis itu dan menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi.

Hwayeon menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mandi, dan saat gadis itu keluar dari kamar mandi, Yesung masih setia berada didalamm kamarnya. Tiduran dikasur sambil memeluk boneka Hello Kitty raksasa yang menjadi hadial ulang tahun ke-16 Hwayeon dari Yesung.

Hwayeon tersenyum saat melihat Yesung yang sepertiya sangat terfokus dengan aksinya memeluk boneka Hello Kitty raksasa tersebut sampai sampai tidak sadar kalau Hwayeon sudah keluar dari kamar mandi. “Serius sekali.” Gumam hwayeon pelan sambil tersenyum simpul.

Yesung yang mendengar suara Hwayeon menyapu indra pendengarannya sontak terbangun. Namja itu langsung mendudukan dirinya dikasur dengan posisi yang nyaman lalu memeluk boneka Hello kitty lain yang ukurannya lebih kecil, yang bertebaran dikasur Hwayeon. “Kemarilah.” Ujar yesung sambil menepuk nepuk tempat disebelahnya.

Hwayeon tersenyum kecil lalu menyanggupi permintaan Yesung. Ia berjalan mengitari ranjang lalu duduk di sisi yang bersebrangan dengan Yesung. Hwayeon kemudian mengambil boneka raksasanya yang berada disamping Yesung lalu beralih membawa boneka itu kedalam pelukannya.

Hwayeon menenggelamkan wajahnya disana, sama sekali tidak berniat wajah Yesung. “Sekarang katakana. Dari mana saja kau seharian ini eoh? Kukira kau akan kerja kelompok dengan Kyuhyun, tapi saat aku menelpon bocah itu. Dia bilang kalian tidak jadi kerja kelompok karena ada halangan. Kau tau? Saat mendengar kau hilang dia juga ikut panic bersamaku. Hah… Kau benar-benar sudah membuat banyak orang cemas hari ini.” Ujar Yesung panjang lebar.

“Mianhae.” Jawab Hwayeon singkat, padat, dan jelas.

Yesung menghela nafasnya kasar, adiknya itu memang sanat keras kepala. Percuma saja memaksanya, tidak akan berguna jika memang gadis itu tidak menginginkannya. Itu sama saja seperti kita menguras air laut, tidak akan pernah ada hasilnya. Hanya pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga.

Yesung mengusap wajahnya kasar, merasa bingung menghadapi Hwayeon yang sekarang. “Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Kau hanya perlu menceritakannya padaku jika kau memang enggan menceritakannya pada eomma dan appa.” Bujuk Yesung lembut.

Hwayeon diam, memikirkan ucapan Yesung baik baik dalam hati. Haruskah? Batin Hwayeon bingung.

Menyerah, akhirnya Hwayeon memutuskan untuk bercerita pada Yesung. “Oppa, sebenarnya aku…” Hwayeon menghentikan ucapannya, merasa ragu harus mengatakan hal ini pada oppanya atau tidak. Yesung diam, membiarkan Hwayeon bicara tanpa hambatan. “A-aku, aku sering pergi mengunjungi Min eonni akhir-akhir ini.” Cicit Hwayeon pelan. Yesung terdiam, mencoba mencerna maksud kalimat yang baru saja Hwayeon lontarkan.

Hening

Yesung terus terdiam, sedangkan Hwayeon duduk gelisah ditempatnya. Diamnya Yesung malah semakin memperburuk kegugupannya. “Katakan sesuatu oppa, jangan diam saja! Aku jadi bingung kalau kau terus d-“

“APA?!!??!?” pekik Yesung keras. Hwayeon tersentak mundur dengan tubuh menegang kaku saat mendengar pekikan Yesung yang terdengar nyaring ditelinganya. “KAU BILANG APA TADI?!” teriak Yesung geram. Hwayeo mengkeret takut ditempatnya. “t-tidak perlu berteriak sekeras itu kan bisa..” cicit Hwayeon takut.

Yesung mendelik dari tempatnya, sedangkan Hwayeon semakin menunduk. Sudah menebak kalau reaksi Yesung akan sehisteris ini. Dalam hati gadis itu merutuki keputusannya tadi untuk berkata jujur pada Yesung. “Kau bilang kau – aish! Kenapa kau melakukannya?! kalau eomma tau, eomma akan sangat marah padamu kau tau!” bentak Yesung dengan suara rendah

Brakkk

“Melakukan apa? Hwayeon melakukan apa sampai sampai kau bilang kalau eomma akan marah emmh? Kalian membicarakan apa sejak tadi?” Yesung dan Hwayeon langsung membeku saat mendengar suara eommanya dari ambang pintu. Hwayeon melirik gugup kearah Yesung sedangkan Yesung terus terfokus pada eommanya.

Yesung kemudian tertawa canggung saat terus-terusan dipandangi tajam oleh Leeteuk. “A-ah, t-tidak apa-apa eomma. Eomma tenang saja. Bagaimana kalau kita turun saja? Appa pasti sudah menunggu kita dibawah sejak tadi hehehe.” Leeteuk menatap Yesung tajam, tau kalau anak laki-lakinya itu tengah berbohong.

Yesung akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah-baiklah, aku akan jujur pada eomma.” Kali ini Hwayeon yang mendelik kaget. Matanya membulat dengan tangan terkepal merasa marah pada Yesung. “YAK! Oppa sudah berjanji padaku untuk merahasiakannya dari eomma dan appa!!!!” teriak hwayeon tanpa sadar.

Sedetik kemudian gadis itu merutuki kebodohannya yang malah mengungkapkan rahasianya tanpa sadar pada Leeteuk. Leeteuk sendiri mengerutkan kening tak suka saat indra pendengarannya mendengar kalimat yang menyebalkan-menurutnya-

Dalam hati Yesung memaki Hwayeon yang dengan bodohnya mengatakan sesuatu yang jelas-jelas akan membuat orangtua mereka semakin curiga. “Apa yang kalian berdua sembunyikan dari eomma eoh?” tanya Leeteuk penuh selidik.

Hwayeon mengerjap gugup, sedangkan Yesung diam-diam memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan yang cukup untuk membuat Leeteuk percaya pada mereka berdua. “Hwayeon bilang dia…” Yesung sengaja menghentikan kalimatnya, sedikit menikmati perubahan raut wajah Hwayeon yang sedemikian memelas sekarang.

Leeteuk sendiri menunggu dengan cemas, apa yang akan dikatakan Yesung? Leeteuk sama sekali tidak ada clue. “Hwayeon… Hwayeon menghilangkan gelang pemberian eomma dan appa tahun lalu di sekolah.” Ujar Yesung tiba-tiba.

“MWOOO?!!!!???” Suara teriakan itu menggema di seluruh penjuru kamar bernuansa pink tersebut. Bukan hanya Leeteuk yang berteriak, Hwayeonpun berteriak karena kaget dengan alasan menyebalkan yang baru saja Yesung lontarkan.

Gadis itu dengan cepat menyapukan pandangannya ketangannya saat perhatian Leeteuk masih tertuju sepenuhnya pada Yesung, dan bersyukur saat melihat gelang pemberian eomma dan appanya tahun lalu ternyata memang tidak ada pergelangan tangannya.

Hwayeon langsung menyengir kaku saat Leeteuk beralih menatapnya dengan tajam. “Benar itu?” tanya Leeteuk dengan suara lembut, namun bagai lonceng kematian bagi Hwayeon. “N-ne” cicit Hwayeon pelan. Aish, eomma menyeramkan sekali. Padahal aku tidak benar-benar menghilangkan gelang itu, tapi kenapa aku tetap terintimidasi oleh tatapannya? Aish, eomma pasti belajar dari Heechul ahjumma. Ck, Heechul ahjumma itu memang menyebalkan batin Hwayeon nelangsa.

Tak!

“APPO!” teriak Hwayeon kaget saat tiba-tibakepalanya terasa sakit karena dijitak oleh Leeteuk. “Sakit tau! Eomma menyebalkan!” rajuk Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ck, itu gelang mahal bocah! Bisa-bisanya kau menghilangkannya, kau mau eomma cincang ya?!” Hwayeon mengkeret seketika.

“Ish! Aku kan tidak sengaja!” sungut Hwayeon kesal, sesekali ia mendelik pada Yesung yang tengah menahan tawa. ”Tidak sengaja tidak sengaja! Tetap saja! Itu warisan keluarga dasar bodoh!”

Tak!

“Aish! Berhenti menjitakku! Kepalaku pusing!” ujar Hwayeon kesal sambil menghentak hentakkan kakinya. Leeteuk menatap Hwayeon gemas kemudian mencubit pipi gadis itu kencang-kencang sampai gadis itu berteriak. “OMO OMO!!! EOMMA LEPAS!! HIAH SAKIIT! EOMMAA PABBO!!!LEPASSS!!! EOMMA!!!”

Hwayeon memukul mukul pelan tangan Leeteuk yang bertengger manis di pipinya dengan cepat, berharap sang eomma segera melepaskan cubitannya di pipi gembulnya. Leeteuk terkekeh senang saat menatap hasil perbuatannya di pipi anak gadisnya itu.

Hwayeon meringis, mengelus elus pipinya yang terasa panas dan sakit akibat cubitan dahsyat Leeteuk. “Pokoknya eomma mau kau besok pulang dengan membawa gelang itu, awas saja kalau tidak. Rasakan sendiri akibatnya chagiii~” Hwayeon bergidig ngeri saat membayangkan dirinya disiksa oleh Leeteuk dengan cara yang sungguh menyiksa versinya.

Yesung yang sedari tadi menahan tawa, tak sanggup lagi membendung tawanya. Akhirnya ia tertawa lepas bahkan sampai terbatuk-batuk, membuat Hwayeon kesal setengah mati. “Ahahaha, sudahlah eomma. Lebih baik kita kebawah, kasihan appa menunggu sendirian dibawah. Hihihihi.”

Hwayeon pasrah saja saat digandeng Leeteuk keluar kamar dan turun kearah meja makan. Kangin ternyata sudah duduk dimeja makan dengan kening berkerut sambil memandangi Leeteuk yang menggandeng Hwayeon, dan Yesung yang sedari tadi tidak berhenti tertawa.

Leeteuk dan Yesung akhinya duduk disamping Kangin, sedangkan Hwayeon duduk disamping Yesung.

Pak!

“Aww! Sakit bodoh!” umpat Yesung saat merasakan kakinya berdenyut-denyut nyeri. Hwayeon sendiri mengejek Yesung sambil memeletkan lidahnya. “ra~sa~in!” ejek Hwayeon tanpa suara.

Leeeteuk memandang kelakukan kekanakan hwayeon dan yesung sambil tersenyum, sedangkan Kangin malah mengerutkan kenngnya tak mengerti. “Ada apa?” tanya Kangin bingung.

Leeteuk terkekeh sebentar, mencoba mengabaikan perdebatan kedua anaknya yang berisik. “Gelang Hwayeon hilang, ituloh, gelang yang kita berikan tahun lalu.” Kekeh Leeteuk. “APA?!” ujar kanggin kaget tanpa sadar berteriak.

Hwayeon tak menghiraukan tatapan tajam Kangin dan tetap sibuk berdebat dengan Yesung.

“Racoon appa tidak boleh marah, eomma sudah memarahiku, jadi racoon appa tidak boleh ikut-ikutan. Nanti appa cepat tua loh. Kalo appa tua, nanti appa tambah jelek. Kalau appa jelek, nanti eomma pindah hati.” Ucap Hwayeon asal.

Kangin dengan segera mendelik, namun sedetik kemudian mengela nafasnya pasrah. Percuma saja memaksa berdebat dengan anak bungsunya itu, ia akan tetap kalah. “Terserahmu sajalah~” jawab Kangin malas.

Hwayeon sendiri hanya terkekeh dan mulai makan. Makan malam dikeluarga itu cukup ramai, oh tentu saja. Ada biang keributan didalamnya, jadi tidak heran kalau kelurga itu selalu ramai setiap saat.

“Ah yaaa, aku lupa memberitahumu. Kau harus datang ke Mom House café besok ne.” ujar Leeteuk tiba-tiba, memotong perdebatan Hwayeon dan Yesung tentang siapa yang lebih selesai makan *abaikan*.

Hwayeon seketika teralih pada Leeteuk, mengabaikan Yesung yang cemberut karena aktivitasnya berantemnya diganggu oleh sang eomma. “Untuk apa kesana?” tanya Hwayeon bingung. “Ah, eomma hanya baru saja mencoba mengikutkanmu kencan buta. Ehehe.” Jawab Leeteuk tanpa dosa disertai cengengesan khasnya. “Mwo? Untuk apa?”

“Ya tidak apa-apa sih. Eomma hanya ingin.” Jawab Leeteuk sekenanya. Hwayeon sweatdrop seketika.

Kenapa eommaku seperti ini sih ? ._. batin Hwayeon bingung.

“Dengan siapa?” tanya Hwayeon spontan. “Inikan kencan buta, masa eomma beritahu sih? Nanti tidak asik jadinya. Tapi dia anak Heechul dan Hangeng kok, jadi kau tenang saja.” Yesung dan Kangin yang menyimak percakapan ibu dan anak itu mengernyitkan dahinya bingung. Yang bodoh disini siapa sebenarnya?

Hwayeon memiringkan kepalanya, memasang pose berfikir. “Siapa namanya?” tanya Hwayeon lagi. “Ah eomma lupa namanya, tapi dia tampan kok.” Jawab Leeteuk sambil tersenyum sumringah. “Ah jinjja? Apa dia tinggi?” Hwayeon akhirnya ikut-ikutan semangat. “Ya tentu saja! Kau pendek jika dibandingkan dengan dirinya, kalau tidak salah tingginya… eum.. 184”

“Huuuuaaaa, tinggi sekali dia itu? Apa dia mengkonsumsi tiang listrik eomma?” tanya Hwayeon bodoh. “Mungkin saja.” Jawab Leeteuk menanggapi tingkah bodoh anaknya. Keduanya mengangguk-ngangguk bersama seakan puas dengan pikirin mereka. Mengabaikan Yesung dan Kangin yang enatap mereka berdua datar.

“Apa dia pintar?”

“Ya, setau eomma dia pintar. Dia bisa dibilang jenius.”

“Wah benarkah? Dia umur berapa?”

“Tak tau, 18 / 19 mungkin. Mungkin sepantaran oppamu.”

“Apa kepalanya besar seperti Yesung oppa?” tanyanya tak tau diri, membuat Yesung geram.

“YAK!!!! / tidak, hanya saja dia pintar, mungkin dahinya lebar.”

“Ahh, apa dia bisa olahraga?”

“Eomma tak tau, tapi setau eomma dia masuk klub basket di sekolah.”

“Dimana sekolahnya?”

“Eomma tak tau, eomma lupa.”

“Apa dia tau kalau pasangan kencannya itu aku?”

“Tidak, kau tau sendiri bagaimana Heechul. Yeoja itu pasti hanya menyuruh anaknya itu untuk datang ke café untuk kencan dengan seseorang yang sudah ia pilihkan, tanpa memberitahu keterangan lebih. Yaah, you know lah”

“benar juga.” Jawab Hwayeon sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Baiklah, aku akan tidur. Ah, jam berapa aku harus kesana?”

“10 kalau tidak salah. Ah jangan lupa, cari gelangmu!”

“Ck arraseo, aku tidur. Pay pay.” Hwayeon langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi ke kamar tidurnya, meninggalkan Leeteuk, Kangin, dan Yesung di meja makan. “Apa perjodohan ini akan berhasil?” tanya Leeteuk tiba-tiba memecah keheningan. “Pasti berhasil.” jawab Yesung tanpa ragu.

-o0o-

Pagi menjelang, seberkas sinar matahari mulai memaksa menorobos masuk gorden pink yang masuk menutupi jendela. Hwayeon masih tertidur pulas di kasurnya dikelilingi koleksi boneka boneka hello kittynya.

Mata yang awalnya terpejam itu mulai bergetar perlahan, membuka sedikit demi sedikit.. Sampai akhirnya mata itu terbuka dengan sempurna. Hwayeon mengerjapkan matanya, mencoba memfokuskan pandangannya.

Kemudian gadis itu menoleh kearah jam kecil berbentuk hello kitty yang terletak tepat diatas nakas yang berada di samping ranjangnya.

09:17

“OMO!!! AKU TERLAMBAT!!!” pekik Hwayeon tiba-tiba. Gadis itu dengan cepat bangun dari ranjangnya dan berlari tak tentu arah. “Kamar mandi mana sih?!” gadis itu mengedarkan pandangannya.

Pak!

“Dasar bodoh!” umpat gadis itu pada dirinya sendiri kemudian masuk ke kamar mandi yang ternyata tepat berada di belakangnya.

Gadis itu melakukan ritual mandinya dalam waktu kurang lebih setengah jam. Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi berbalut bathrobe yang lagi-lagi berwarna pink. Secepat kilat gadis itu berlari kearah lemari, dan langsung membuka lemarinya.

Gadis itu mengambil baju secara acak dan langsung mengenakannya. Kemudian gadis itu beralih ke meja rias, dan memoleskan sedikit make up diwajahnya.

Perfect.

Gadis itu mematut dirinya sekali lagi di kaca, memastikan jika penampilannya sudah sempurna. Gadis itu hanya mengenakan gaun berwarna kuning lembut selutut dengan model tali spaghetti. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi punggungnya.

Gadis itu menarik nafasnya sejenak lalu tersenyum sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Setela yakin, ia menyambar tas dan sepatunya yang berwarna senada dengan bajunya, dan tak lama kemudian-

Tada!

Semuanya selesai.

Hwayeon langsung berlari keturun kelantai bawah, dan manyamperi meja makan. Disana, sudah ada Leeteuk, Kangin, dan Yesung. “Aku pergi dulu ne~” pamit Hwayeon cepat. Hwayeon mengecup masing-masing pipi kiri dan kanan mereka lalu dengan cepat beralih dari sana.

“Annyeong!!!” pamitnya sambil lalu.

Hwayeon berjalan tergesa-gesa ke café yang dimaksud Leeteuk. Jarak rumah mereka dengan café yang eeteuk maksud tidaklah jauh, maka dari itu Hwayeon lebih memilih untuk berjalan kaki, lagi pula… Jika sekarag ia ingin kencan, untuk apa membawa mobil? Ia yakin pihak namja itu pasti akan membawa mobil. Kalau tidak yaaaaa, yasudahlah.

Kriiing

Hwayeon melangkah masuk ke dalam café itu dan memilih tempat yang berada di ujung, disebelah kaca. Hwayeon kemudian mendudukkan dirinya disana. Seorang pelan datang menghampirinya. “Mau pesan apa agasshi?” tanya pelayan itu sopan.

Hwayeon menatapnya lalu tersenyum sopan pula. “Vanila lattenya 1. Gomawo.” Ujar Hwayeon ramah. Pelayan itu tersenyum sejenak lalu membalikkan dirinya.

Kriiing

Perhatian Hwayeon teralih saat mendengr suara bel yang menandakan ada orang lain yang masuk ke dalam café. Hwayeon menunggu dengan tegang ditempatnya. Kira-kira seperti apa teman kencannya sekarang? Baikkah? Tampankah? Seperti yang eommanya bilang semalam?

Kebetulan Hwayeon memilih kursi yang membelakangi pintu masuk, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang datang. Sampai tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.

Hwayeon menoleh dengan gugup, dan apa yang kini tengah ia hadapi sungguh membuatnya bingung dan merasa sedikit mengganjal.

“Oppa?” sapa Hwayeon bingung. Orang yang tadi menyentuh pundak Hwayeon sepertinya juga terkejut.

“Omo! Bukankah kau Kim Hwayeon? Adik dari Yesung hyung?” ujar pria itu dengan nada ramah. Seulas senyum juga mulai tampak menghiasi bibir pria itu.

“Ne, benar.” Jawab Hwayeon sambil tersenyum tak kalah ramah.

“Ah aku yang akan menjadi teman kencanmu hari ini jika kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Kibum oppa…”

-TBC-

Advertisements

I’m in Love – Part 1

“oppa! Kumohon, belum saatnya mereka tau. Aku akan memberitau mereka sendiri, tapi tidak sekarang. Kumohon oppa, untuk sekarang jagalah rahasia ini untukku.” Hwa Yeon menggigit bibirnya kuat, mencoba menahan isak tangis yang hendak keluar dari bibirnya. Yesung memandang Hwa Yeon sendu, kemudia dengan cepat menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Arraseo, tenanglah. Bernafaslah dengan benar. Oppa tidak mau kau harus masuk UKS atau lebih parah, RS karena asmamu kambuh. Oppa yakin kau tidak membawa Inchalermu sekarang. Betul kan?” Hwa Yeon yang tadinya siap menangis, langsung terkekeh.

“Bagaimana oppa tau kalau aku tidak membawa Inchalerku?” tanya Hwa Yeon manja.

“Cih, oppa mengenal dirimu luar dalam chagiya.” Hwa Yeon mengerucutkan bibirnya sebal, tapi kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh oppanya itu.

“Oppa memang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangimu oppa. Gomawo ne, buat semuanya.” Yesung terkekeh kemudian mengangguk pelan. Dikecupnya lembut puncak kepala Hwa Yeon kemudian menumpukan dagunya dipuncak kepala gadis itu.

“Jangan pernah tinggalkan oppa. Oppa tidak siap kehilangan adik oppa yang paling manis.” Ujar Yesung lirih. Hwa Yeon terenyah, ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak akan meninggalkan oppa, aku berjanji.”

Aku tidak akan meninggalkanmu oppa. Setidaknya, tidak sekarang.

.

.

.

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)

I'm in Love

Warning:

typo bertebaran, cerita tidak menarik

Disclaimer:

Kyuhyun punya Sparkyu, SME, Super Junior, orangtuanya, ELF, dan Tuhan YME. Saya cuma pinjem nama. Hihihi

Note:

Oke… akhirnya author publish juga part 1 nya. Chapter ini sedikit pendek karena bikinnya ngebut. Gapapaya? Maaf lama ngepostnya… Oke, jadi sekarang..Silahkan baca kalau anda ingin baca. Saya ga masalah dengan silent readers. Saya lebih menghargai orang yang menjadi silent reader dari pada ngebash disini.

Disini juga ada Gender Switch untuk leeteuk dan heechul, jadi yang tidak suka lebih baik tekan tombol back yang berada di pojok kiri atas. Hehehe.

Terimakasih ^^

 NB: Bold untuk flashback

***

I’m in Love chapter 1

Started

 .

.

.

Hwa Yeon mematut dirinya sekali lagi di kaca kamarnya, lalu kembali mengulas senyum di bibirnya saat tau kalau dirinya sudah terlihat sempurna.

Apa aku bisa? Aku tidak yakin akan bisa melakukannya, tapi… aah, sudahlah. Kau harus semangat Hwayeon-ah. Fighting!!!!

“Pagi eomma, appa, oppa.” Hwayeon mengecup pipi ketiga orang paling berharga miliknya kemudian mendaratkan bokongnya di kursi yang kosong yang terletak tepat disebelah oppanya.

“Eoh, pagi chagiya.” Gumam Yesung acuh. Yesung, namja itu menatap makanan yang terjadi didepannya dengan mata berbinar-binar. Tanpa aba-aba, tangan kanannya terjulur hendak mengambil sepotong paha ayam goreng tapi belum sempat ia menyentuhnya…

Plak!

“Aaaaah, kenapa eomma memukulku?! Aku ingin makan! Lapar lapar lapar.” Rajuk Yesung sambil kembali mencoba meraih ayam goreng yang berada di hadapannya.

Sreeeeet

“Aaah EOMMA!!!! KEMBALIKAN! AKU MAU AYAM GORENGKU! AISH! KEMARIKAN!!!!!!” Hwayoen mengernyitkan dahinya tak suka saat Yesung terus saja berteriak dan merengek agar eommanya mengembalikan ayam gorengnya. Gadis itu kemudian memejamkan matanya, kepalanya terasa berdenyut-denyut, dadanya terasa sesak, dan pandangannya sedikit mengabur.

Kangin, sang appa ternyata meyadari keanehan buah hatinya. Ia memperhatikan anaf perempuannya itu dengan lekat, sedikit khawatir saat menapati wajah pucat anak gadis satu-satunya itu. “Kau tidak enak badan Hwayeon-ah? Wajahmu pucat sekali. Kalau sakit, jangan memaksakan masuk sekolah. Minta izin saja, biar oppamu yang meminta izin pada wali kelasmu.” Ujar Kangin perhatian.

Sejenak ruang makan tersebut hening, Yesung suda mengalihkan pandangannya dari pujaan hatinya –baca: ayam goreng- dan beralih memandang sang adik yang tak dipungkiri, wajahnya sangat pucat. Yesung mndesah dalam hati, dadanya sesak, ingin sekali ia berteriak kepada adik keras kepalanya itu untuk tidak bersikap sok kuat lagi.

Baru saja Yesung ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tiba-tiba tangannya digenggam diam-diam oleh Hwayeon dibalik meja. Yesung menggeram samar saat menyadari apa maksud adiknya itu.

Hwayeon akhirnya membuka matanya dan memaksakan sebuah senyum lemah. “Aniya appa, aku hanya kelelahan saja. Aku tiak mungkin ijin hari ini, banyak sekali ulangan. Aku juga tidak ingin tertinggal pelajaran. Aku akan tetap sekolah. Lagian, aku kan sekelas dengan Yesung oppa, kalau aku tidak kuat, aku akan meminta oppa membawaku ke UKS atau pulang. Jangan khawatir arra?” Kangin memandang anak gadis satu-satunya itu dengan ragu. Tapi pada akhirnya, ia hanya menghela nafas dan mengangguk.

Suasana kembali hening, Yesung akhirnya merebut ayam goreng dari tangan Leeteuk dan memakannya dengan cepat memmbuat suasana yang tadinya hening jadi ricuh akibat gelak tawa dan perdebatan Leeteuk dengan Yesung. “Dasar anak nakal, bahkan eomma dan appa belum makan. Setidaknya biarkan yang tua dulu, sopanlah sedikit bocah.”

Yesung melanjutkan makannya dengan tenang, sama sekali tidak mengindahkan teguran Kangin dan tatapan membunuh yang Leeteuk berikan untuknya. Hwayeon tersenyum simpul melihatnya. Diam-diam ia berdoa dalam hati. Berharap agar Tuhan berkenan memperpanjang umurnya, memperbolehkannya merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi, bersama orang-orang yang ia cintai.

Dan di sisi lain, Yesung pun berdoa dalam diam tanpa menghentikan kegiatan makannya. Berilah adikku kekuatan. Aku tau dia lelah, aku tau dia sakit, tapi dia tidak mungkin bertahan selamanya…Karena itu bantu adikku, aku tidak bisa membantunya…hanya kau yang bisa, bantu kami. Aku belum ingin kehilangan adikku satu-satunya, salah satu penyemangat hidupku.

 .

 .

-o0o-

 .

 .

Hwayeon berjalan pelan di lorong sekolah dengan tatapan kosong, sama sekali tidak menyadari kehadiran namja-namja dan yeoja yang tengah menatapnya dengan pandangan kagum dan mata berbinar.

Yesung yang sedari tadi merangkul Hwayeon sendiri hanya bisa diam, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari kedua belah bibir mereka. Seakan ada sesuatu yang mengunci mulut mereka. Yesung mengeratkan rangkulannya pada Hwayeon, dan menuntun adiknya itu ke taman belakang sekolah.

Yesung mengajak Hwayeon duduk di hamparan rumput tepat di depan danau buatan yang berada di taman itu dan kembali merangkul pundak sang adik. Hwayeon diam, menikmati segala perlakuan manis oppanya tanpa protes sedikitpun.

Gadis itu merebahkan kepalanya dipundak Yesung kemudian menghembuskan nafas berat. Tadi sebelum masuk sekolah, mereka pergi ke rumah sakit karena obat yang biasanya dikonsumsi Hwayeon sudah habis.

Tapi apa yang mereka dapatkan? Mereka hanya membawa kabar buruk.

Tok Tok Tok!

“Masuk” sahut seseorang dari dalam ruangan. Hwayeon dan Yesung saling berpandangan lalu tersenyum menguatkan satu sama lain. Mereka akhirnya masuk kedalam ruangan dengan canggung.

Bau bahan kimia dan obat-obat langsung memenuhi indra penciuman mereka. Hwayeon tersenyum canggung, begitu juga dengan Yesung. Mereka saat ini sedang berada di dalam ruangan dokter pribadi Hwayeon, baru saja Hwayeon melakukan cek rutin untuk meminta obat baru, karena obat lamanya sudah habis.

“Duduklah Hwayeon-ah, Yesung-ah.” Ujar seorang pria yang sudah tidak bisa dibilang muda dengan seragam dokter. Yesung dan Hwayeon akhirnya duduk tepat dihadapan dokter itu.

Dokter itu memandang wajah pucat Hwayeon dan Yesung secara bergantian. Raut bimbang terlihat kontras di wajahnya, namun yang paling jelas adalah raut kasihan. Hwayeon benci melihatnya, karena ia benci merasa di kasihani. “Aku sudah memiliki hasil tes mu tadi Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu memecah keheningan.

Tubuh Hwayeon menegang seketika. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Ia merasakan firasat tidak enak. Yesung di samping Hwayeon mulai menggenggam tangan Hwayeon dan meremasnya lembut, mencoba menyalurkan kekuatannya untuk sang adik ya ia tau sedang sangat ketahutan saat ini.

“Kau…Kau harus segala melakukan operasi pencangkokkan jantung Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu pelan.

Deg!

Tubuh Hwayeon membeku seketika dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak. Keadaan Yesung tidak berbeda jauh dengan Hwayeon, namja itu membelalak lebar dengan mulut menganga seakan tidak percaya denga apa yang baru saja ia dengar. “A-apa?” tanya Yesung tak percaya.

Dokter itu memandang dua anak remaja di hadapannya dengan sedih. “Jantung adikmu sudah tidak bisa berjalan seperti seharusnya lagi Yesung-ah. Kita harus bertindak cepat, Jantungnya sudah tidak bisa lagi memompa darah dengan benar. Kita harus melakukan pencangkokkan jantung secepatnya atau…… adikmu tidak akan selamat Yesung-ah.” Ujar dokter itu lirih.

Yesung terdiam, otaknya bekerja dengan keras, mencoba meresapi seluruh ucapan dokter yang bagai bom tadi. Ia menoleh dan hatinya seakan teriris. Adiknya hanya diam dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Tangan yang tadi ia genggam terasa licin karena keringat. “T-tapi mencari jantung yang cocok itu sangat sulit.” Lirih Yesung lagi. Hwayeon merasakan tubuhnya melemas, seakan seluruh persendian ditubuuhnya telah lepas. Air mata menetes dari pelupuk mata yeoja itu dengan cepat.

“Ya, memang sangat sulit, perbandingannya hanya 1:1.000.000”

Duar!

Yesung dan Hwayeon kembali merasakan bagai mendapata serangan bom. Keduanya terdiam, membiarkan pikiran mereka berkelana ke suatu tempat yang jauh. Entah kemana, tanpa tujuan.

“T-tapi, B-bagaimana bisa? Hwayeon selalu meminum obatnya dengan teratur sesuau anjuran paman, tapi kenapa tidak ada perubahan? Bukannya semakin membaik malah semakin memburuk seperti ini?” ujar Yesung frustasi. Hwayeon mendengus kemudian tersenyum kecut. “Oppa, obat yang aku minum tidak akan membuat penyakitku sembuh.” Ujar Hwayeon pelan dan terang saja membuat Yesung terkejut setengah mati.

“Apa maksudmu?” tanya Yesung geram. “Obat itu hanya membuat jantungku bekerja normal oppa, obat itu hanya membantu jantungku agar bisa memompa darah dengan benar, jadi intinya. Obat itu tidak menyembuhkan penyakitku. Obat itu seperti penyambung nyawaku oppa, obat itu hanya memperlambat penyakitku supaya tidak bertambah parah.” Yesung diam, tangannya terkepal dan wajahnya memerah menahan emosi. “Maka dari itu, jika aku tidak meminum obat itu, aku bisa saja langsung terkapar tidak sadarkan diri karena jantungku sudah sangat rusak.” Ujar Hwayeon dengan lidah kelu. Yesung sendiri memilih diam, membiarkan adik tersayangnya melanjutkan perkataannya. “Dan juga, tidak jarang setelah transplantasi jantung ada komplikasi… Bagaimana kalau aku……” Hwayeon tidak sanggup mengakhiri kalimatnya dan akhirnya, air matanya kembali mengalir dari pelupuk mata gadis itu.

Yesung terenyuh, dadanya terasa sakit, dan kepalanya pening karena memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa adik kecilnya itu. Yesung menelan salivanya dengan susah payah, “Lalu, menurut dokter, sampai kapan dia bisa bertahan?” tanya Yesung takut tanpa memandang sang dokter. Yesung hanya memandang Hwayeon yang terus menyucurkan air mata dengan dada sesak.

Dokter itu kembali menghela nafas, “itu…itu tergantung keputusan Hwayeon.” Ujar dokter itu pelan. “Keputusan yang mana?” tanya Yesung bingung. “Kalau dia ingin sembuh, dia harus mau menjalankan perawatan intensif di rumah sakit atau……kalian harus siap dengan kemungkinan terburuk.” Ucapan dokter itu terhenti. “Hwayeon bisa saja kehilangan hidupnya, dengan kata lain….meninggal.” ujar dokter itu sedih.

Hwayeon menggeleng sedih, sudah ia duga akan seperti ini jadinya. “Tidak, aku tiak akan menjalankan perawatan apapun, dok.” Yesung yang terkejut langsung saja memandang Hwayeon marah. “Apa maksudmu?! Kau harus mengikuti perawatan itu! Aku ingin kau sembuh!” marah Yesung. Hwayeon memandang oppanya lembut. “kalau aku menjalankan perawatan itu, maka sebagian besar waktuku akan kuhabiskan di rumah sakit oppa, dan itu tidaklah mungkin karena aku harus sekolah dan orang tua kita akan curiga jika aku tidak berada di rumah.” Yesung terperangah dibuatnya. Matanya memerah, air mata sudah berada di ujung pelupuk matanya, siap keluar dan mengalir. “Lalu kau mau menyerah begitu?! Kita beritahu saja eomma dan appa kalau begitu!”

Hwayeon terbelalak dan dengan cepat merebut ponsel Yesung yang baru saja Yesung keluarkan dan hendak menelepon kedua orangtuanya. “Kau gila?!” bentak Hwayeon marah. “Kau yang gila bodoh! KAU YANG GILA!” teriak Yesung frustasi. Namja itu terisak kencang kemudian meraih Hwayeon kedalam dekapannya. “K-kumo-hon hiks…. Jalankan hiks perawatan hiks ini… hiks hiks… oppa ingin kau selamat sayang, oppa mohon hiks hiks… oppa mohon.” Hwayeon menggeleng sedih kemudian tangisnya pun ikut pecah. Hatinya sudah lelah membawa beban seberat ini sendirian. Ia sudah mencoba bertahan sejak 1 tahun terakhir semenjak ia di vonis mengalami penyakit jantung stadium empat. Tapi mengetahui hidupnya sudah diujung tanduk, ia seakan ingin menyerah. Tapi bagaimana bisa? Ia tidak mau meninggalkan orang-orang yang ia sayang, tapi ia juga tidak mau membuat orangtuanya sedih jika mereka mengetahui tentang hal ini. “Mianhae oppa.” Ujar Hwayeon tempat ditelinga Yesung. Tangis Yesung terdengar semakin keras saat mendengar ucapan adiknya yang seakan menjadi vonis mati untuknya.

Hwayeon beralih menatap dokter yang sedari tadi memperhatikan mereka dan memberikan dokter itu sebuah senyum kecut. “Tolong berikan aku obat yang pas dok, aku mohon, karena aku tidak bisa menjalankan perawatan intensif itu.” Ujar Hwayeon tanpa melepaskan rengkuhan Yesung. Yesung sendiri saat ini tengah memeluk Hwayeon dengan posesif dan masih sesenggukan tentu saja. “tentu saja.” Jawab dokter itu lembut.

Yesung memandang danau didepannya dengan tidak berminat. Kepalanya terasa sangat pusing.”Apa kau tidak menyayangi oppa?” tanya Yesung tiba-tiba, sukses membuat Hwayeon terperangah. “Apa maksudmu oppa?!” tanya Hwayeon kaget.

Yesung tersenyum kecut. “Kau tidak mau menjalani perawatan itu, tidakkah kau mengerti perasaan oppa? Dan lagi, apa kau bisa membayangkan bagaimana sedihnya eomma dan appa nanti saat mengetahui semuanya? Kau tau, kita tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya dari mereka”

Hwayeon tau, Hwayeon tau ia sudah menyakiti oppanya dengan keputusannya tadi, tapi ia harus bagaimana lagi? Ia belum siap kalau harus membiarkan kedua orangtuanya tau tentang hal ini.

Tidak sekarang…

Ia tidak siap….

Tidak siap dikasihani dan diperlakukan seperti orang sakit, walaupun dia memang sakit.

Hwayeon membawa tangannya melingkari pinggang Yesung dan menelusupkan kepelanya ke dada bidang oppanya itu. “Kumohon, mengertilah oppa. Aku belum ingin eomma dan appa tahu tentang hal ini. Karena itu, aku tidak mau menjalankan perawatan itu. Tapi…aku berjanji akan menjalankannya nanti, saat waktunya tepat.” Ujar Hwayeon lembut, mencoba menenangkan oppanya yang sedang gusar. Walaupun kenyataannya, ucapannya tadi semakin membuat Yesung sedih setengah mati.

Cup!

Yesung mengecup puncak kepala Hwayeon dengan lembut, lalu menumpukkan dagunya diatas puncak kepala Hwayeon. “Berjanjilah kau akan bertahan sampai donor itu ada. Kumohon…… Oppa tidak ingin kehilanganmu sayang.” Hwayeon mengangguk kecil sebagai jawaban.

Mereka berdua terus terdiam dalam posisi itu sapai akhirnya suara bell menginterupsi mereka. Yesung membawa Hwayeon bangkit berdiri, hendak menuntun Hwayeon kembali kedalam kelas mereka karena mereka sudah melewatkan 4 jam pelajaran karena pergi ke rumah sakit tadi.”Tunggu.” ujar Hwayeon cepat.

Yesung memandang Hwayeon bingung. “Kenapa? Kau sakit? Apa kita perlu ke rumah saki lagi?” cerca Yesung panic seketika. Hwayeon mendengus kemudian menggeleng. “Aniya, bukan itu. Oppa, kenalkan aku pada temanmu.” Yesung memandang Hwayeon aneh, lalu tiba-tiba tangannya terjulur memegang dahi adiknya.

“tidak panas.” Gumam Yesung bingung.

Hwayeon menggeram. “Aaku serius, oppa. Kumohon, kenalkan aku padanya.”

“Siapa sih yang kau maksud?”

“siapa lagi?” jawab Hwayeon malas.

“Eh? Siapa memangnya?” Yesung mengernyit bingung dengan tampang polos, membuat emosi Hwayeon langsung melayang ke ubun-ubun.

“Yah! Oppa benar-benar bodoh!” umpat Hwayeon kesal.

“Yak!! Sopanlah sedikit!!! Memangnya siapa sih?!”

“CHO KYUHYUN!” ujar Hwayeon tanpa sadar berteriak. Yesung tersentak kemudian menatap Hwayeon sambil melongo. “Mwoya?!CHO KYUHYUN?!” teriak Yesung juga. Tidak jauh dari tempat mereka, Cho Kyuhyun, namja yang dari tadi namanya diteriaki oleh sepasang kakakberadik itu mengernyit bingung. “Mereka bertengkar? Lalu kenapa membawa-bawa namaku segala? Kepala besar sialan.” Umpat namja itu sambil lalu.

Hwayeon menatap Yesung yang masih melongo sambil memandangisnya dengan malas. Masa seterkejut itu sih? Bukannya oppanya sudah tau yah? Hiih! “Kau kan sudah kenal dengannya.” Ujar Yesung setelah bisa mengontrol diri. “Aku ingin dekat dengannya, lalu berteman, allu bersahabat, lalu berpacaran, lalu bertunangan, lalu menikah, lalu…”

“Stop!” potong Yesung. “Kau gila…” ujar Yesung tiba-tiba. Hwayeon hanya tersenyum lembut kemudian memandang Yesung sambil tersenyum cerah. “Oppa, aku mencintai Kyuhyun. Aku menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya walaupun aku tau dia itu titisan iblis dan sangat menyebalkan. Bantu aku ne? Setidaknya aku ingin mati sebagai miliknya….” Ucap Hwayeon tanpa sadar.

Yesung terdiam, dan akhirnya ia mengangguk. “Arraseo, oppa akan membantumu. Jja, ayo kita kembali ke kelas. Kajja.” Yesung kali ini berjalan lebih dulu di depan Hwayeon, dan saat itulah air matanya kembali mengalir. Kau pasti selamat Hwayeon-ah, oppa percaya itu. Kita akan berbahagia bersama. Kau akan menikah bersama dengan Kyuhyun seperti impianmu. Dan kau juga akan mati sebagai milik Kyuhyun, saat sudah tua nanti….

Yesung dan Hwayeon masuk ke kelas dengan cuek tanpa sedikitpun mengindahkah guru yang sedang mengajar didepan kelas, toh…guru itu juga sepertinya tidak peduli. Buktinya Yesung dan Hwayeon hanya dilirik sekilas lalu semuanya berjalan seperti biasa lagi seakan tidak ada yang terjadi.

Hwayeon berjalan kearah tempat duduknya sambil diam-diam melirik Kyuhyun yang tempat duduknya tepat berada di samping kanannya. Kyuhyun menggeliat risih di duduknya saat merasakan gadis di samping kirinya terus menatapnya intens dengan mata berbinar-binar yang tidak Kyuhyun ketahui maksudnya.

Kyuhyun menggerak-gerakkan bolpoin di tangannya dengan gusar. Ia melirik Hwayeon dari ekor matanya, dan ia harus menyesai keputusannya itu karena ia malah mendapati gadis itu menatapnya sambil tersenyum, errrr….mesum?

Kyuhyun akhirnya menggeram, “berhenti memandangiku dengan pandangan tak senonoh seperti itu!” bentak Kyuhyun pelan. Hwayeon tersentak kaget, gadis itu melirik Kyuhyun gugup lalu dengan cepat memperbaiki posisi duduknya yang entah sejak kapan berubah kearah kanan, dan mencoba memfokuskan pikirannya kearah papan tulis.

Hentikan seluruh pemikiran anehmu itu Kim Hwayeon, Kyuhyun bahkan tidak sudi menatapmu… bagaimana mungkin kalian bisa menikah, cih! Mimpimu terlalu tinggi. Berada di dekatnya saja kau harus bersyukur. Jangan mengharapkan sesuatu yang kau tau tidak akan mungkin bisa kau dapatkan.

Hwayeon tersenyum kecut, hilang sudah binar-binar kebahagiaan yang tadi sempat hinggap diwajahnya saat menatap sang pujaan hati. Gadis itu kemudian memusatkan seluruh perhatiannya kearah papan tulis dan mulai mencatat pelajaran tersebut.

Lain dengan Hwayeon, lain lagi dengan Kyuhyun. Namja itu mengernyit bingung saat ia melihat dengan jelas perubahan raut wajah Hwayeon yang awalnya cerah menjadi sangat mendung dan kelabu. Dalam hati ia berfikir, Ada apa dengan yeoja itu?

Well, jadi pada akhirnya Kyuhyun hanya memperhatikan wajah Hwayeon dari tempatnya duduk dalam diam melalui ekor matanya. Namja itu sepertinya sama sekali tidak sadar kalau ia sudah menjadi pusat perhatian satu kelas.

“Kyu…”

“Kyuhyun…”

“Cho Kyuhyun…”

“Yah bocah setan!”

Plak!

Kyuhyun tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah penghapus melayang tepat dihadapannya, hampir saja mengenai wajah tampannya, kalau saja ia tidak menghindar dengan cepat.”Yak! kenapa kau melempariku penghapus Changmin-ah?!” bentak Kyuhyun tak terima.

Namja yang tadi melemparkan penghapusnya kearah Kyuhyun hanya menyengir polos, menampilkan deretan giginya yang rapih. “Habisnya kau diam saja, kau dipanggil seonsaengnim dari tadi. Makanya, kau harus memperhatikan seonsaengnim dikelas, perhatikan papan tulis, pelajarannya ada disana, bukan di paha adiknya hyung kepala besar itu.” Celetuk Changmin tak tau diri.

Kyuhyun merasakan wajahnya memanas, emosinya sudah naik ke ubun-ubun.Rasanya sudah mulai ada asap yang keluar dari kepalanya. “Diamlah kau bodoh.”gumam Kyuhyun geram. Hwayeon yang sedari tadi diam mulai menampilkan sebuah senyum kecil. Sedikit merona saat tau Kyuhyun sedari tadi menatapi pahanya yang terpampang jelas mengingat seragam yeoja sangatlah minim.

“Ada apa memanggilku tadi seonsaengnim?” Hwayeon seakan tertarik kedalam dunia nyata lagi saat mendengar suara merdu Kyuhyun memenuhi gendang telinganya. “Hah… Aku bilang, kau akan satu kelompok dengan Kim Hwayeon. Kau harus membimbingnya, nilainya di pelajaran ipa sungguh kacau. Aish, aku sampai pusing melihatnya.” Hwayeon mengernyit tak terima, kenapa gurunya itu malah membuatnya terlihat seperti seorang yeoja bego?

Akhirnya Hwayeon buka suara, “Apa maksud seonsaengnim? Nilaiku tidak separah itu.” Gerutu Hwayeon sebal. “Apanya yang tidak separah itu eoh? Nilaimu bahkan diambang kematian Hwayeon-ah! Aku heran bagaimana mungkin kau bisa masuk jurusan ipa dengan nilai sekacau itu! Aigooo!” pekik seonsaengnim itu pusing.

Hwayeon mencebik bibirnya kesal, kemudian mengerucutkan bibirnya sebal. “Karena nilai pelajaran ipsku bahkan lebih parah dari itu.” Gumam Hwayeon kesal. “Hah…pantas saja.” Hwayeon mendelik sangar saat mendengar gumaman gurunya itu. Kyuhyun sendiri malah mengulas senyum kecil, bahkan namja itu tidak terlihat tersenyum sama sekali karena ia hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Benar-benar sedikit sampaisampai tak terlihat. Tapi sungguh, namja itu tengah tersenyum.

Melihat kelakuan Hwayeon tanpa sadar sudah membuat namja itu kembali mengingat masa lalunya… masa lalunya dengan seseorang yang sangat dia sayangi…

Kyuhyun tersentak kembali saat mendengar suara gurunya itu LAGI. “Kau sanggup kan Cho Kyuhyun?” tanya guru itu harap-harap cemas. “Ne, aku sanggup. Aku akan mengajarkannya.” Jawab Kyuhyun tegas. “Aaah, baguslah. Kau memang murid baik. Ah yasudah, sekarang coba buka buku paket kalian halaman……. Bla bla la.

Tanpa ada satu orangpun sadari, Yesung tersenyum girang. Rencananya berhasil, ialah dalang dibalik semuanya, dia yang meminta guru mereka untuk meminta Kyuhyun menjadi guru pribadi Hwayeon. Ia bahkan sampai mengancam guru mereka dengan iming-iming dipecat kalau sampai Kyuhyun menolak suruhannya untuk mengajari Hwayeon secara pribadi.

Sebenarnya Yesung sudah berniat membantu Hwayeon dari awal, karena dari awal… Ia langsung tau kalau adiknya itu jatuh hati pada Pangeran Iblis kita, Cho Kyuhyun. Dan setelah mendapat berbagai sepak terjang sejak tadi pagi, ia semakin measa keputusannya itu tepat. Ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakan adiknya itu. Adik yang sangat disayanginya. Bagian dari hati dan jiwanya.

Kuharap kau bisa segera menemukan kebagaiaanmu adikku sayang…

Waktu terasa berjalan sangat cepat. Suasana kelas sudah menjadi sangat sepi. Sesekali terdengar suara petir menyambar. Hwayeon masih terus bergulat dengan buku matematika dihadapannya. Sesekali bibirnya mencebik kesal lalu merpalkan bebagai sumpah serapah yang tidak cocok ia katakan, dan sukses membuat Kyuhyun yang juga masih setia duduk ditempatnya meringis ngeri.

Hwayeon dan Kyuhyun terus berdiam diri, tidak ada satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan. “Kau tidak pulang?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Hwayeon mendongakkan kepalanya lalu mengalihkan tatapan yang tadi terarah pada buku, menjadi terarah pada Kyuhyun. “Eum… nanti, aku harus menyelesaikan mencatat ini. Besok kan ulangan, aku tidak mau nilaiku jelek lagi.” Gerutu Hwayeon sambil tanpa sadar mengeluarkan aegyonya.

“Aaah, bagaimana kalau kita mulai belajar hari ini saja?” tanya Kyuhyun bersemangat. Entah setan apa yang merasuki dirinya saat ini. Eh tunggu, tapi Kyuhyun kan setan? Aah, berarti malaikat. Entah malaikat apa yang merasuki Kyuhyun saat ini, karena namja itu saat ini sedang tersenyum lembut dengan mata berbinar-binar sambil memandang Hwayeon lekat. “Ah, boleh juga. Lalu kita belajar dimana? Tidak mungkin kita terus disekolah kan? Ini sudah sore lagipula.” Ujar Hwayeon sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi melakukan aegyo tanpa sadar.

Kyuhyun memandang Hwayeon lembut, “Dirumahku saja. Ayo. Cepat bereskan buku-bukumu itu.” Kyuhyun kemudian membereskan buku-bukunya sendiri lalu dengan cepat beranjak dari duduknya. “Aku tunggu di parkiran, jangan lama-lama.” Ujar Kyuhyun sambil lalu.

Tak selang berapa lama, Hwayeonpun bergegas menyusul Kyuhyun ke parkiran. Hwayeon berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong. Matanya terus menatap pada satu object yang berada di parkiran, menunggu dirinya.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Tbc/END?

PS: Ayoooo, part depan mau dibikin NC ga nih? Hehehehehe*ketawa setan*