Archives

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Advertisements

Epilogue~

Tittle      : Epilogue~

Genre   : friendship

Author : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~

Anyeong readers~~~

Author 2 come back nih^^

Kali ini FF Drabble Friendship yang  Author bawa

Oke, langsung ke cerita aja yah~

~Happy Reading~

————————————————————————————————————————————-

‘We’re not in range but we still can meet you’-Hyo Jin-

.

.

.

*All Hyo Jin POV*

Hari ini terlihat sedikit berbeda. Ah, mungkin sangat berbeda. Hari ini tidak seperti hari kemarin. Ada yang hilang disini.

Tawanya sudah tak terdengar lagi di telingaku.  Sepertinya akan terasa sangat sepi untuk beberapa saat ini.

Sret

Sebuah foto jatuh dari meja. Yah, itu foto kami berdua. Aku dan dia yang sekarang tidak berada disini.

Aku jadi mengenang mas pertama kali aku bertemu dengannya. Saat itu…

*flashback*

Aku memasuki ruangan kelas itu. Banyak tatapan mata yang membuatku risih.

“Anyeonghasaeyo~ Naneun Cho Hyo Jin immida.” Aku membungkuk untuk memberi salam.

“Silahkan Hyo Jin. Kau bisa duduk disitu. Oke, anak-anak siapkan buku untuk pelajaran pertama. Selamat pagi.” Wali kelasku keluar kelas. Dan sekarang mejaku sudah penuh orang yang bertujuan berkenalan denganku.

“Anyeong!! Hyo Jin~” panggil seorang yeoja. Ia tersenyum lebar dengan wajahnya yang manis.

“Anyeong~ “ sapaku.

“Kau tenang saja. Disini kau akan nyaman. Oh ya kenalkan..”

*flashback off*

Dengan ramah ia menenangkanku yang sedikit risih dengan tatapan banyak orang. Banyak sifat yang membuatku semakin merindukannya.

Dia itu…

Polos dan terlalu jujur

*flashback*

“Ya! Kau ini. Kenapa menjawab soal dengan jawaban ini?!” aku sedikit memukul kepalanya pelan. Bayangkan saja. Kami sedang mengerjakan soal latihan dan kau tau apa yang ia jawab? Ia menjawab..

‘Jawab saja sendiri, dasar pabbo!’

“Ya! Aku memang tidak menyukai guru itu. Dan aku benci pelajaran ini. Sudah yah, aku mau mengumpulkan ini dulu.” Ia pergi dan mengumpulkan kertasnya. Aku hanya menggeleng pusing. Ia terlalu jujur.

*flashback off*

Pabbo

*flashback*

“Omona~ Teentop come back!!!” aku mengguncangkan bahunya. Ia hanya menatapku dengan tatapan polosnya.

“Nugu? Teentop? Nuguya?”

“Aish jinjja itu loh yang nyanyi lagu Miss Right!”

“Hah? Miss Right? BTS?”

-_-

“Ituloh yang ada Ricky-nya!” aku menyebutkan bias ku di Teentop.

“Ah! Yang itu. jadi dia anggota Teentop yah. Selamat!!” ia mengucapkan selamat untukku. Untuk beberapa menit kami terdiam dengan kegiatan masing-masing. Lalu dia bertanya padaku..

“Eonni, Ricky itu siapa?”

“Asih, neon jeongmal pabbo!!”

*flashback off*

Menyenangkan

*flashback*

“Kau sudah dengar lagu EunHee yang baru?” tanyaku padanya.

“Sudahlah. Sebagai ELF pastinya aku harus mengikutinya!” ia berbicara dengan semangat.

“Kau ini. Aku senang jika sedang berbicara denganmu. Kau sangat menyenangkan!”

“Gomawo, eonni~”

*flashback off*

Pelupa

*flashback*

“Ya! Hyo Jin eonni!”

“Wae yo?”

“Aku mau tanya.”

“Tanya apa,eoh?”

“Siapa nama guru kimia kita?”

-___________-

“Dasar pelupa!”

*flashback off*

Semua kenangan itu  berganti dengan kejadian itu…

*flashback *

“Aku akan pindah ke Busan.”

“Wae yo? Kau bosan disini? “

“Ani. Aku pun tak tau. Eomma bilang tidak betah disini. Eomma rindu dengan Busan.”

Aku menunjukan wajah sedihku. Ia sudah kuanggap dongsaengku sendiri. Mengingat aku anak bungsu di keluargaku.

“Ya! Eonni! Jangan seperti itu! Aku pasti akan datang ke Seoul sering-sering! Saat eonni ulang tahun aku pasti akan datang! Janji!!!” ia dengan semangat mengatakan itu.  Justru nada cerianya itu yang membuatku semakin akan merindukannya.

*flashback off*

Foto itu menjadi satu-satunya kenangan tentangnya. Hanya foto itu yang kupunya untuk  mengenangnya.

Inilah epilogue dari kisah kami berdua.

Ah, apa kau tau kenapa aku menyebutnya epilogue? Karna kisah ini mungkin saja berubah menjdari awal untuk kisal selanjutnya. Akan kupastikan kisah ini akan ada sequel, ataupun akan kujadikan chapter yang entah sampai kapan akan berhenti.

Kau memanglah yeoja pabbo namun kau periang.

Kau itu pelupa namun menggemaskan.

Kau itu terlalu jujur namun itulah ciri khasmu.

Kau itu kekanakan tapi ituah yang membuat kami merindukanmu.

Gomawo  kau membuat warna dikehidupanku. Mianhae atas kesalahan eonnimu ini~

Ingat pesanku, jangan lupa dengan kami-Hyo Jin,Eun Hye, Yoon Hee- disini.

Satu lagi….

‘Hwa Yeon pabbo! Saranghae nae dongsaeng~’

-Cho Hyo Jin a.k.a eonni pervert-

END

Hwa Yeon-ah!!!!

Bogoshipeo~ Ini khusus untuk maknae pabbo^^

Mungkin gak terlalu menyentuh tapi ini Eonni persembahakan untukmu~

Buat reader, gomawo yang mau baca ini..

Jangan lupa commentnya yh^^

Kalau mau request tinggal hubungi author-author yah~~

Gomawo^^

~ Cho Hyo Jin

 

 

Lots of Word

Lots of Word

Author  : Park Eun Hye

Cast       :

  • Park Eun Hye
  • Kim Hwa Yeon

Genre   : Friendship

Rating   : G

Lenght     : Ficlet

Annyeong readers

Mianhae karena author baru muncul lagi disini.

Kangen author? #plak

Oke, dari pada kalian kelamaan baca pembukaan author ini lebih baik langsung aja..

Hati-hati ada typo guys..

No copy and bash but give your comment please^^

Happy Reading~

‘Banyak yang ingin kusampaikan. Hanya saja, aku tak bisa’

 

Hari perlahan lahan menjadi gelap. Keindahan mentari saat senja pun sudah meredup. Kini tinggalah aku seorang diri bersama dengan tumpukan buku-buku lamaku.

“Pfft.. buku-buku ini sudah lama sekali tak ku baca.” Gumamku kemudian meniup debu pada buku-buku itu.

Ya, aku memang gemar membaca dan juga menulis. Sebagian besar tumpukan buku-buku ini adalah buku-buku yang berisi coretan pengalamanku yang berharga sejak aku kecil. Tak mengherankan jika buku-buku ini begitu banyak.

“Guk.. GUK..”

Juju, anjingku rupanya ikut membersihkan debu yang melekat pada buku-buku itu menggunakan ekornya. Dasar anjing pintar..

“Buku-buku ini begitu banyak.. mungkin harus ku pi-“

BRUKK

Hiyaaaa!!!

“Juju! Dasar nakal!” keluhku.

Juju yang semula berada diatas ranjangku segera turun dan kembali pada tempat tidurnya.

Merasa bersalah, aku menghampiri anjing kecilku itu kemudian mengusapnya lembut.

“Tak apa Juju.. itu hanya buku. Maaf ya kalau aku terlalu kasar padamu tadi. Aku hanya kaget saja..” jelaskku pada Juju.

Anjing kecil itu menggoyangkan ekornya pertanda mengerti apa yang aku bicarakan.

Haaahh…

Lihatlah kamarku sekarang. Begitu berantakan dan…

“Eo? Ini….”

Kuraih sebuah buku yang selama ini kucari..

Buku yang begitu berharga bagiku..

“…. buku kenanganku bersama Hwayeon.”

Aku jadi ingin membacanya.

Kubuka halaman demi halaman dan membaca satu persatu tulisanku.

03 Oktober xxxx

 

Annyeong teman baruku, Kim Hwayeon!

 

Aku senang bisa berteman denganmu. Kau ini gila… dan aku menyukainya.

Sungguh lucu, kita berteman melalui kesamaan hobi kita. Menulis. Ini konyol.

 

Salam kenal^^

05 Oktober xxxx

Hey, Hwayeon!

 

Awalnya aku kira kau adalah makhluk yang seperti orang kira.. begitu buruk. Tapi ternyata tidak. Kau menyenangkan. Huh! Mungkin orang-orang hanya iri padamu.

Kau diam bukan berarti kau sombong atau apapun itu.. kau hanya sedang sibuk dengan sesuatu. Jadi.. begitukah dirimu?

13 November xxxx

Bagaimana mungkin kau lebih muda dariku?! Yaiiish.. berarti aku adalah eonnimu. Kau harus mematuhiku, tapi apa? Kau ini bocah yang nakal.. dasar pabbo!

 

Kim Hwayeon pabbo!

 

26 November xxxx

Gomawo untuk ucapan ulang tahunnya dan juga kejahilanmu menjauhiku belakangan ini. Sungguh hebat. Kau ini menyebalkan sekali ya, pabbo.

 

Mungkin menyebalkan seperti ini adalah keahlianmu satu-satunya.

04 Desember xxxx

Hwayeon!!!

Sebentar lagi kita akan naik kelas!!

 

Semoga kita bisa berada di kelas yang sama lagi seperti saat ini. Meskipun kau ini pabbo pangkat 2 tapi harus ku akui kalau terkadang pabbomu itu membuatku merindukanmu.

 

Study hard, Hwayeon-a!

Fighting!

15 Desember xxxx

 

Mwo?!

Apa yang kau bicarakan tadi? Pindah? Apa maksudmu?!

Hey! Leluconmu ini tidak lucu.. aku tahu kau ini suka sekali bergurau tapi ini… sungguh, ini tidak lucu!

 

25 Desember xxxx

Selamat natal nae chingu~

Sebenarnya aku ingin memberimu hadiah natal.. tapi aku tidak tahu apa yang kau suka.

 

Ah!

Aku akan menghabiskan waktu-waktu terakhir di sekolah bersamamu sebelum akhirnya.. kau.. benar-benar..

 

Tidak bisa bersamaku lagi..

Setelah catatan itu, buku ini pun menghilang.

Aku bahkan tidak bisa mengabadikan momen-momenku bersamanya di buku ini. hanya beberapa foto yang aku punya.

Andai saja buku ini tidak hilang. Andai saja aku bisa menyimpannya dengan baik. Andai saja.. andai.. hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.

Hwayeon memang belum lama meninggalkan kota ini tapi rasanya sudah sungguh lama. Lama sekali. Bahkan aku tak mengantar keberangkatannya dengan mengucapkan selamat jalan. Aku memang bukan teman yang baik.

Lalu..

…sekarang apa?

Dengan cekatan kuraih pulpen yang tergeletak di meja belajarku dan mulai menuliskan kata demi kata dalam lembar buku ini..

Hwayeon-a, aku kembali.

 

Maaf aku tidak sempat mengabadikan kebersamaan kita dalam buku ini. aku menghilangkannya. Ini salahku.

 

Bagaimana rasanya setelah kau pergi meninggalkan Seoul? Bagaimana keadaan disana? Apa menyenangkan? Apa seperti disini? Apa kau lelah? Jika ya, lebih baik kau beristirahat. Tapi sebelum itu ada yang ingin ku sampaikan..

 

Aku ingin sekali menyampaikan banyak hal padamu.. aku tahu sebenarnya banyak sekali cara untuk menyampaikan ini padamu tapi.. aku tidak bisa.

 

Aku tidak bisa mengungkapkannya secara utuh padamu.

 

Jadi biarkan aku menyampaikannya disini. Di halaman buku ini..

Aku ingin menyampaikan bahwa..

 

Kau adalah dongsaeng yang mengerti bagaimana aku.

Kau adalah dongsaeng menyebalkan yang bisa membuatku rindu padamu.

Kau adalah dongsaengku yang paling pabbo.

 

Kau adalah diary berjalan. Itu karena kau selalu menceritakan segala hal yang kualami padamu.

Kau adalah objek bullyku yang paling ku sayang.

Aku sudah menganggapmu sebagai dongsaengku sendiri.

 

Aku minta maaf karena selalu menyulitkanmu.

Maaf jika aku menyakiti perasaanmu.

Maaf karena aku belum bisa menjadi eonni yang baik untukmu.

 

Kau tidak pernah tahu betapa berat perjuanganku untuk mengurangi berkomunikasi denganmu di sekolah karena aku takut suatu saat aku akan merindukanmu setelah kau pergi.

Kau tidak tahu alasanku tidak mengucapkan selamat tinggal saat kau pergi. Apa kau ingin tahu? Aku melakukannya karena aku tidak ingin berpisah denganmu. Berpisah dengan orang sepertimu membuatku sedih. Lagi pula, aku masih meyakini bahwa kita akan bertemu lagi untuk itu aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu.

 

Dan yang terakhir..

 

Kau tidak tahu bahwa aku menangis tepat dihari kepergianmu.

 

Sungguh konyol bukan? Tapi itu hal-hal yang sangat ingin kusampaikan.

Aku mengakhiri acara menulisku dengan di iringi derai air mata. Jadi ini rasanya kehilangan seseorang yang sudah mengerti dirimu sepenuhnya?

Kau tahu? Rasanya seperti ada bagian dari dirimu yang hilang. Sungguh.

Aku menyesal karena tak sempat mengungkapkan semua yang kutulis secara langsung padanya. Sebenarnya aku ingin. Hanya saja entah mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya. Maka dari itu, ku putuskan untuk menulis semuanya dalam buku ini.

Hey Hwayeon..

Ku harap kau bisa membaca catatanku ini..

Hwayeon pabbo, saranghae!

Take care of yourself~

-END-

Mianhae kalau ceritanya jelek ya readers.

Jujur, author bikin ff ini sambil merampok tissue. Ngerti kan maksudnya? Ga ngerti? Oke… autho bikin ff ini sambil nangis.. #maluuu >_<

Anyway, thanks for reading~

#pyeong

Because of…

Title: Because of…

Author: Jung Yoonhee

Cast:
~ Jung Yoonhee (OC)
~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
~ Hong Jinri
~ Lee Jaehwan aka Ken (VIXX)

Genre:
school life, friendship, hurt, nc

Length:
Oneshoot

Rating:
NC-17

Lama tak ngepost. Lagi rajin belajar soalnya *huek*.
Dengan FF ini menyatakan, kalau akhirnya author 3 debut NC yey!! \(‘-‘)/
Dianggkat dari mimpi author. (gatau kenapa ampe bisa mimpi kaya gini)
Kalo ga rame maklumin ya. Namanya juga newbie.

Note:

Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Author POV*

“Erghhh…eumphhh…fe..feel….goodhh…shh…ahh..” suara desahan yang cukup keras terdengar sepanjang koridor asrama.

Klek

“Bah…bahru pul..emphh..pulan..ng..uhh…” tanyanya tanpa menghentikan aktifitas “bermainnya” itu.

“Jinri pabbo! Kalau mau masturbasi kunci pintunya! Jangan mendesah terlalu keras! Memalukan!” orang yang baru masuk tadi langsung memarahinya.

“Mi..anhhh..Yoon..hee… aku…ahhh…”

“Jinri, hentikan! Yang lain juga ingin tidur tenang tanpa desahanmu!”

“Tung…tunggu..ak..ak..u…erggh!” erang Jinri keras. Akhirnya dia mencapai klimaksnya.

Yoonhee menarik selimut dan langsung menutupi tubuh Jinri yang telanjang bulat. Dia pun duduk diuJung kasur sembari melihat Jinri yang nafasnya tersenggal-senggal.

“Kali ini siapa lagi namja yang membuatmu sampai mabuk kepayang begini?” tanya Yoonhee prihatin.

“Hah… pewaris tunggal Won , kampus kita ituloh. Selain tampan, pintar, kaya, dia juga punya badan yang indah. Akh, karena kau bertanya tentang dia, aku jadi ingin masturbasi lagi.” Jinri mulai bergerak lagi dibalik selimut.

“Cih, lakukan saja sana. Aku tak habis pikir, kau itu calon dokter tapi maniak sex. Sampai kapan kau berhenti masturbasi?” Yoonhee bangkit dari duduknya.

“Kurasa dia namja terakhir. Ya..berarti sampai aku memiliki si pewaris tunggal Won itu.”

“Ck.” Yoonhee mendecak kesal.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

“Ck.” aku langsung meninggalkan Jinri yang tengah “bermain” sendiri.

Kuhampiri meja belajarku. Kupasang headphone untuk jaga-jaga jika suara berisik itu mengganguku lagi.

Benar saja. Belum lama aku membuka buku, Jinri sudah mulai berisik lagi.

“Eghh…ahh…”

Hebatnya aku bisa bertahan satu kamar dengan dia. Sebenarnya Jinri itu baik, pintar, dan juga seorang sahabat yang baik. Tapi… kalau sudah suka pada namja. Dia akan cari fotonya, mau formal, hot, topless, atau naked pun dia bisa mendapat kepuasan dengan “bermain” itu. Entah dapat dari mana foto-foto itu, Jinri terlalu giat jika sudah menyukai seseorang. Padahal dia seorang calon dokter, sama sepertiku.

“Yoonhee, sudah pagi.” Jinri menggoyang-goyangkan tubuhku.

Aku ketiduran di meja belajarku. Desahan Jinri satu-satunya yang dapat kuingat kemarin malam. Jadi aku tertidur sehabis itu.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami berjalan ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari asrama kami.

“Appo.” ringis Jinri pelan.

“Apa lagi yang sakit.” tanyaku sambil baca buku berjalan(?)

“Apa lagi kalau bukan vaginaku.” Jinri mulai memegang area miss V nya.

“Makanya berhenti masturbasi!”

“Akan aku lakukan, tapi…” Jinri tersenyum simpul.

“Si pewaris tunggal lagi? Jangan jadikan dia alasan. Coba beritahu aku. Foto namja mana yang belum pernah menemanimu saat masturbasi.”

“Hem….” Jinri memutar matanya seraya berpikir.

“Dosen kita.” jawabnya enteng.

Pak

Aku memukul lengannya.

“Appo!” bentaknya.

“Malam ini aku tidak akan tidur di asrama.” aku kembali membaca bukuku.

“Kau masih giat dengan pecobaanmu bodohmu itu?”

“Berhenti bilang itu bodoh.”

Akhirnya kami sampai di ruangan kelas kami.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Akhirnya dua orang sahabat itu sampai di ruangan kelasnya.

Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Sampai akhirnya pelajaran hari ini usai.
Satu per satu orang-orang meninggalkan kampus ini. Lampu-lampu mulai padam. Hanya ada Yoonhee di selasar ini. Sejauh mata memandang hanya Yoonhee lah manusia disini.
Dipelukkannya sudah ada sebuah akuarium, dan beberapa alat dan bahan lainnya.
Yoonhee duduk bersila dilantai selasar. Dia mulai mengeluarkan benda bundar hitam berduri dari dalam akuariumnya.

*Author POV end*

*Wonshik POV*

Kalu bukan gara-gara buku jurnalku pasti aku tidak akan pulang semalam ini. Ini sudah jam 7. Aku berjalan menyusuri koridor dan menatap dengan kagum bangunan ini. Mereka milikku, sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku yang akan memegang kampus ini.

“Wonshik!” Jaehwan, sepupuku langsung merangkulku.

“Belum pulang hyung?” tanyaku perhatian.

“Kelihatannya?” tanyanya dengan nada mengesalkan.

Kami berjalan bersama ke arah parkiran.

“Bagaimana kuliahmu Pewaris Won University?” Jaehwan menyikut perutku pelan.

“Akh, hyung.”aku hanya terkekeh.

“TAHAN DISANA!” aku menatap seseorang yang tengah bersujud dibawah kami. Pakaian putih, rambut panjang. Apa dia hantu yang mau menakuti kami?

Aku merasakan tanganku ada digenggamannya.

“Kau ini mengagetkan saja!” tegur Jaehwan yang kelihatannya benar-benar kaget.

“JAUHI MEREKA. KALIAN BISA LUMPUH.” lanjutnya membentak.

“Cih, dasar anak kedokteran gila. Wonshik kjja.” Jaehwan menarik tangaku.

“SIAPA YANG KAU SEBT GILA? APA KAU MAU COBA?!” dia megacung-acungkan benda hitam bundar berduri kearah Jaehwan.

“Ish.” Jaehwan langsung berlari pergi.

“Hehehe..” aku tertawa pelan.

“KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI? KAU MAU COBA?!”

Aku berjongkok disampingnya. Menatap wajahnya yang tertutup rambut. Hanya bibir mungilnya yang mulai mengerucut yang tampak.

Dengan cepat dia memasukkan benda-benda yang menurutnya mematikan itu ke akuarium.

“Jangan pegang!” rontanya saat aku menyelipkan rambutnya kebalik telinganya.

“Kenapa belum pulang?” tanyaku pelan.

Dia dia tidak menjawab.

“Ini bulu babi kan? Jadi kau melakukan percobaan dengan bulu babi?” aku mengamati benda hitam itu.

Sekarang dia menatapku. Bibir kerucutnya mulai kembali normal.

“Kau mengambil racunya untuk obat? Pintar sekali. Mengubah racun bulu babi yang dapat menyebabkan mati rasa menjadi salah satu kebutuhan medis.”

Kini dia melongo.

“Kau memujiku? Ternyata kau tahu pemikiranku. Daebak..” ucapnya dengan pandangan kosong.

Dengan cepat dia membuka sarung tangan yang dipakainya.

“Pakai ini. Cepat.” dia menyodorkan sarung tangannya padaku. Langsung saja kupakai.

Dia menyuruhku untuk mengambil salah satu bulu babi miliknya.

“Senang rasanya ada orang yang bisa menghargai percobaanku.” ucapnya girang.

“Memang ini menarik.” pujiku.

“Daebak… Tapi kelihtannya kau bukan anak kedokteran ataupun anak biologi.”

“Memang. Aku anak bisnis.”

Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi besarnya yang membuatnya terlihat sangat manis dan ramah.

“Aku Jung Yoonhee. Maaf tadi sempat membentakmu dan juga temanmu yang menyebalkan itu.” ucapnya sambil menatapku.

“Aku Kim Wonshik, dan aku memaafkanmu.”

Kami berdua saling membalas senyuman.

Buk

Suara benda jatuh ditangah-tengah kami sontak membuat dia dia terpaku.

“ARGHHH!!!!” jeritnya keras.

Hug

Dia langsung memelukku keras sampai aku tersungkur kebelakang.

“Wae-yo? Kau takut cicak?” tanyaku yang mulai sesak nafas. Pelukkannya tepat di leherku. Aku perlahan mencoba duduk. Aku seperti induk monyet yang sedang menggendong anaknya.

“Hiks..” isaknya pelan.

“Sebegitu takutnya?” aku mencoba melapaskan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Ternyata dia benar-benar takut. “Sudah. Cicak itu sudah pergi.” ucapku sembari mengelus punggungnya.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tangisannya mereda. Dilepaskannya pelukan itu dari leherku.

Dia pelahan mundur. Matanya sedikit sembab.

“Jangan menangis lagi. Itu hanya cicak.” aku menyeka air mata dipipinya. “Turunlah, aku akan mengantarmu pulang.”

Yoonhee turun dari pangkuanku. Aku membopoh Yoonhee yang kesulitan berjalan karena shock.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

Sebuah mobil berhenti didepan asrama Yoonhee.

“Sudah sampai.” ucap Wonshik.

Wonshik menatap Yoonhee yang tengah tertidur pulas disampingnya.

Wonshik menyibak rambut yang mulai turun ke wajah bulat Yoonhee.

“Hah.” ucap Yoonhee kaget.

Wonshik terkekeh.

“Sudah sampai ternyata.” Yoonhee mengucek matanya yang setengah sadar.

Klek

“Mau mampir?” tanya Yoonhee saat turun.

“Membantumu untuk membawa barang-barangmu turun. Tentu saja.”

Wonshik dan Yoonhee berjalan masuk ke asrama.

“Jadi kau lebih tua 4 tahun dariku? Berarti sebentar lagi kau mau lulus dong.” ucap Yoonhee sembari memainkan rambutnya.

“Jangan mainkan rambutmu.” Wonshik memindahkan bawaan Yoonhee ke tangan yang satunya. Diselipkannya rambut itu kebalik telinga Yoonhee.

Wajah Yoonhee perlahan mulai merona.

“Sshh.. ahhh.. hemmmm…”

Mata Wonshik menelusuri koridor asrama. Yoonhee hanya bisa tertunduk.

“Siapa itu? Apa di asrama ini ada yang sedang…ehem..?” tanya Wonshik ragu-ragu.

“Itu, hem… sebenarnya..” Yoonhee mengusap tengkuknya. Yoonhee berjalan mendekatiku.

Pipi chubbynya berhasil bersentuhan dengan pipi Wonshik. Nafas Yoonhee mulai tersasa didepan telinga Wonshik. “Teman sekamarku. Dia.. solo.” jelas Yoonhee sambil berbisik.

“Oh.” Wonshik langsung mundur malu-malu.

“Kurasa sudah saatnya untuk pulang. Terimakasih atas tumpangannya tadi.” Yoonhee mengambil barang-barngnya dari tangan Wonshik.

“Selamat malam Wonshik…” Yoonhee mengangkat alisnya dan menggantungkan ucapannya itu.

“Oppa saja.” balas Wonshik yang mengerti gerak gerik yang Yoonhee beri.

“Ahhh..hemmm..shhh.. op..paahhh…” desahan itu semakin lama semakin keras.

Yoonhee mengigit bibir bawahnya karena malu.

“Selamat malam Wonshik oppa.” ucap Yoonhee cepat.

“Selamat malam Yoonhee.” balas Wonshik lalu berbalik dan pergi.

Klek

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Klek

“Jinri pabbo! Kau membuatku malu tahu.”

“Ap…ahhh..ehhh…urus….saanny..aaahhh..denggan…kuhh…”

“Berhenti! Ucapanmu sangat tidak jelas. Memalukan seorang calon dokter berbuat seperti ini!” aku berjalan keranjangku dan langsung berbaring.

Jinri melepaskan ketiga tangannya dari lubang vaginanya.

“Ma..rah..?” tanya Jinri megep-megep.

“Lupakan. Maaf menggangumu.”

Matahari pagi perlahan masuk ke celah-celah kamar kami. Aku bangun, Jinri pun menyusul. Setelah beres-beres, kami pergi ke kampus.

Tidak ada yang berbeda dari hari ini dengan hari hari sebelumnya. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore. Saatnya bagi kami untuk pulang.

“Yoonhee!” panggil seseorang saat kami melewati kantin.

Aku dan Jinri mencari-cari sumber suara.

“Arghh!!” jerit Jinri histeris.

“Wae?” tanyaku khawatir.

Tangannya mulai terangkat. Dia menunjuk seorang namja tinggi. Kulitnya coklat layaknya anak pantai. Kaos berkerah abu-abunya membuat dia terlihat modis. Ditambah kaki jenjangnya yang tertutup celana jeans. Sembari menata rambut coklat gelapnya yang rancung, namja itu berjalan mendekati kami.

“Won..Wonshikk..” lirih Jinri dengan bibirnya yang bergetar.

“Huh?” tanyaku seakan torek.

Namja yang ternyata Wonshik itu berdiri dihadapan kami.

“Yoonhee.” ucapnya sembari menatapku.

Kulirik Jinri yang tengah mengernyitkan dahinya tidak percaya.

“Ehm.. oppa, dia Jinri. Teman sekamarku.” aku menarik tangan Wonshik untuk berkenalan dengan Jinri.

“Oh, jadi inri ini teman sekamarmu? Aku Wonshik.” sapanya sambil tersenyum.

Jinri menahan senyumnya. Tapi wajah merah padamnya tidak dapat dipugkiri lagi. Akhirnya Jinri tahu malu.

“Jinri.” balas Jinri menjabat tangan Wonshik.

“Wonshik! Kita jadi pulang tidak?” panggil Jaehwan dari kejauhan.

Wonshik memalingkan wajahnya, lalu mengangkat tangannya sebentar.

“Apa kalian mau pulang juga?” tanya Wonshik.

“Iya.” ucap Jinri cepat. “Bisakah kami menumpang?” tanya Jinri tanpa jeda.
Aku dan Wonshik hanya menatap Jinri.

“Boleh saja. Tapi kami hari ini pakai motor. Satu ikut aku dan satu lagi ikut Jahwan ya.” tawar Wonshik seraya tersenyum.

Kami bertiga berjalan ke parkiran.

“Kau kenal dia dari mana?” bisik Jinri saat ditengah perjalanan.

“Memang kenapa? Apa dekat dengan Wonshik oppa sesulit itu?” tanyaku heran.

“Dia itu pewaris tunggal Won University. Oh.. kau mau mendahuluiku ya.” ancam Jinri pelan.

“Ani. Aku juga baru tahu kalau dai orangnya saat kau mengatakannya padaku.”

“Awas saja jika dia bersamamu. Wonshik oppa itu milikku.”

“Sht… ramai sekali. Sedang membicarakanku ya?” duga Wonshik.

Aku dan Jinri saling menatap.

“Ani.” jawab kami serempak.

“Yoonhee.” Wonshik menyodorkan helmnya padaku.

“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri.

“Oh, jadi yang ikut denganku Jinri. Igo.” Wonshik memindah tangankan helmnya dariku menjadi ke Jinri.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

Setelah aksi rebut-rebutan helm itu(?), keduanya naik ke motor yang berbeda. Jinri sangat menikmati perjalanan ini. Berbeda sekali dengan Yoonhee. Bukan, bukan karena Jaehwan ataupun kejadian kemarin. Keduanya sudah baikan kok. Yoonhee hanya merasa resah, dan pandangan jijiknya itu mulai muncul kembali.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Aku menatapnya jijik. Jinri yang tengah dibonceng Wonshik perlahan memluknya dari belakang. Tangan yang semula dipinggang perlahan turun..

“Wonshik oppa!” jeritku yang masih diatas motor Jaehwan.

Wonshik langsung menekan rem, dan tangan Jinri pun ikutan direm.

Motor Jehwan pun ikut berhenti didepan motor Wonshik.

“Wae?” tanya ketiganya heran.

“Hemm…” aku bergeming lama.

“…hanya mengetes telingamu saja, oppa.” ucapku pelan.

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suara Wonshik mulai tegas.

“Mianhae.” permintaan maafku mengakhiri percakapan hari ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Yoonhee, kalau kau begitu sekali lagi akan marah. Membuat orang lain khawatir saja.” nada suaraku muali tegas.

“Mianhae.” ucapnya pelan.

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai akhirnya tiba di depan asrama mereka.

“Kamsahamnida.” ucap keduanya saat turun dari motor.

“Wonshik oppa. Besok antar aku pulang lagi ya.” pinta Jinri manja.

Aku hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau ini. Masuklah duluan.” Yoonhee mendorong tubuh Jinri untuk masuk.

“Sekali lagi maaf atas kejadian menyebalkan tadi.” Yoonhee berkata tulus sembari membungkuk.

“Gwaenchanha. Anak tidak normal sepertimu mana mungkin bisa bertingkah normal.” ucap Jaehwan enteng.

Aku menatap Yoonhee yang tengah memberikan death glarenya pada Jehwan.

“Hanya bercanda.. Kita kan sekarang teman. Betul kan Yoonhee?” Jaehwan mengangkat sebelah alisnya.

Keduanya terkekeh.

“Ehem, mianhae Wonshik oppa. Sempat membuatmu kesal tadi.” Yoonhee kembali meminta maaf.

“Ani. Seharusnya aku yang berterimakasih.” batinku dalam hati.

Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Yoonhee.

“Wonshik, ayo pulang.” Jaehwan mengajakku pulang .

Kami segera naik ke motor, lalu pulang. Kutatap Yoonhee dari kaca spionku. Tiba-tiba aku bergidik. Bukannya ingin buang air, tapi karena kejadian tadi.

-flashback-

Hug

Jinri mulai memelukku dari belakang. Kurasakan dada Jinri mulai bersentuhan dengan punggungku. Sensasi dada besar yang ditutupi bra tipis membuatku kehilangan konsentrasi mengemudiku. Tak sampai disitu, tangannya mulai turun kepinggulku, lebih turun lagi dan..

“Wonshik oppa!” jerit Yoonhee.

Huft.. untungnya Jinri langsung mengerem tangannya. Begitu pula aku yang langsung mengerem motorku.

Gomawo Yoonhee..

-flashback off-

Dinnn..

Jaehwan mengklaksonku panjang.

“Kalau menyetir itu konsentrasi. Jangan pikirkan Yoonhee terus.”

“Ne.. ekh, kau tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Yoonhee?”

“Tidak mungkin kau memikirkan Jinri, dan tidak mungkin juga kau memikirkan yeoja lain. Baru kali ini aku melihatmu menatap seorang Yoonhee sampai begitu. Kalau suka nyatakan saja persaanmu. Sebelum ada yang merebutnya.”

“Cih, siapa juga yang menyukainya, dan siapa juga yang mau merebutnya.”

“Aku. Kalau kau tidak mau, buat aku saja. Biarpun aneh, gitu-gitu dia juga menarik tahu.”

“Aish.. kau mengancamku seperti itu.”

Aku tersipu, barulah aku sadari. Aku menyukai Yoonhee. Semenjak saat itu aku terus memperhatikannya tanpa sepengetahuan dia. Tapi tiba saatnya, aku merasa benar-benar harus mengatakannya.

Aku menyusur koridor untuk sampai ke kelas Yoonhee.

Sepi. Itu keadaan sekarang. Sengaja aku pilih waktu pulang sekolah, karena…ehem. Aku malu.

“Jinri!” jerit Yoonhee. Otomatis, aku langsung mempercepat langkahku.

*Wonshik POV end*

*Author POV*

“Jinri!” bentak Yoonhee menggema.

“ARGHH!!!” Yoonhee berlari tak tentu arah. Tangannya terus mencoba untuk menyingkirkan cicak itu dari wajahnya.

Hap

Dengan cepat, Wonshik menarik pinggang Yoonhee, lalu mengendongnya ala bridal style. Wonshik segera duduk dibangku terdekat,lalu mendudukan Yoonhee diatas pangkuannya.
Wonsik menatap Yoonhee yang menutupi wajahnya dengan tangannya. Wonshik tahu betul kalau Yoonhee takut cicak, tapi yang dia tidak mengerti hanya satu hal.

“Apa maksudmu?” tanya Wonshik pada Jinri.

“Aku itu hem.. hanya..”

“Bercandamu kelewatan.” ucap Wonshik dingin.

Wonshik menyelipkan sebelah tangannya, dan memeluk pinggang Yoonhee dari belakang. Tangisannya belum juga reda.

“Shtt… sudahlah. Dia sudah pergi.” bisik Wonshik menenagkan.

Wonshik mulai mengusap punggung Yoonhee dengan tangan yang satunya. Kini tangisan Yoonhee mulai mereda. Tangan Wonshik yang ada didepan juga kini sudah digenggam oleh Yoonhee.

*Author POV end*

*Yoonhee POV*

Tangisanku mulai mereda. Pelukan dan usapan dari Wonshik membuatku sedikit lebih tenang dan melupakan Jinri dan cicak sialan itu.

Kugenggam tangan Wonshik yang ada di pangkuanku, namun tak lama, dia menariknya.

“Aku tahu kenapa kau suka memainkan rambutmu..” Wonshik menyibak rambutku dan memindahkannya ke sebelah kanan.

Didekatkannya wajah Wonshik ke telinga kiriku. Aku dapat merasakan hembusan nafanya yang tenang ditelingaku.

“…ini menyenangkan.” suaranya mendadak parau.

Deg

Apa yang akan kita lakukan?

Wonshik mulai mencium pipiku, mengulum telingaku dan terus mengusap punggungku.
Sekarang ciumannya mulai berpindah ke leherku. Dia menciumnya, terlebih lagi mengigitnya.

“Arghh..” erangku pelan.

Aku dapat mendengar nafas Wonshik yang tenang itu berubah menjadi menderu-deru.

“Shhh…ahh.” terlebih lagi aku mendengar suara desahan, tapi bukan milik Wonshik.

“Aku juga ingin seperti itu.” pinta Jinri yang dari tadi menahan nafsunya.

“Baru kali ini ya melihat live romance?” tanya Wonshik menggoda.

Wonshik kembali menciumi leherku dan meninggalkan beberapa jejak disana. Tangannya kini sudah berpindah kedepan.

“Hey!” Wonshik memanggil Jinri.

“Kalau tidak mau pergi, tangkap ini.” dengan kasar Wonshik melemparkan kemeja yang aku pakai, tadi. Hah? Wait, sejak kapan Wonshik membuka bajuku?

“Oppa..” panggilku ragu-ragu.

Makin didekapnya aku dari belakang oleh Wonshik yang sudah kehilangan kesadaran dirinya.

Dari tadi aku hanya bisa mendengar suara kecupan dari Wonshik, da juga desahan dari Jinri. Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Plop

Aku tersentak. Kurasakan punggungku kini sudah polos. Kaitan braku dengan santainya dilepas oleh Wonshik. Perlahan, dia menarik braku dan menyimpannya dilantai.

Diberdirikannya diriku, lalu dia memutar tubuhku.

Wonshik tengah menyeringai.

Aku segera memeluk tubuhku yang sudah setengah telanjang.

“Jangan tutupi mereka, tolong..” pinta Wonshik dengan suaranya yang semakin berat dan menggoda.

Dirainya tanganku. Dia kembali mendudukan diriku di pangkuannya, hanya saja kini kami berdua saling berhadapan.

“Ternyata mereka sangat indah.” decak Wonshik penuh kagum sembari menatap lekat kedua buah dadaku.

“Cukup! Ini keterlaluan!” Jinri berlari meninggalkan kami berdua.

Aku dan Wonshik menatap Jinri yang perlahan menghilang.

“Huh.. akhirnya dia pergi juga. Ngomong-ngomong sampai dimana kita tadi?” tanya Wonshik sembari mengusap keningku yang mulai berkeringat.

Aku juga dapat melihat peluh Wonshik mulai mengalir. Reflex, aku langsung mengusapnya.

“Argh..” erang Wonshik yang sontak mengagetkanku.

“W-wae?” tanyaku hati-hati.

Wonshik langsung menarik daguku dan menyatukan bibir kami berdua.

Diawali dari ciuman sampai dengan lumatan-lumatan.

“Ehmm..” rontaku saat Wonshik mulai mencoba membuka mulutku.

Wonshik menggigit bibir bawahku, dan saat itulah mulutku terbuka. Lidah Wonshik mulai berglirya didalam mulutku. Seakan menaklukanku yang sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berciuman.

Aku mengelus dada bidang Wonshik. Perlahan tautan bibir kami dilepaskan oleh Wonshik.

“Sentuhanmu bisa membuatku kejang.” kata-kata tadi membuatku tersipu.

“Ahh…”

“Akhirnya kau berhasil mendesah untukku.” seru Wonshik bangga. Dia kembali meremas kedua payudaraku.

Aku terus menggigit bibir bawahku menahan desahan itu untuk keluar, karena yang kuketahui, semakin keras aku mendesah, Wonshik tidak akan berhenti.

“Ergh.. kenapa tidak mendesah lagi?” tanya Wonshik sembari memperkeras remasannya itu.

“Ahhh..sshh..” sebuah desahan keras akhirnya lepas dari bibirku.

Aku merasakan sesuatu mendesak bagian bawah tubuhku. Ternyata, benda bagian bawah milik Wonshik serasa terus mendesak serasa ingin masuk ke liangnya.

“Yoonhee-ya.. kau membangunkan dia.” wajah Wonshik semakin berpeluh. Aku pun menyekanya ketika Wonshik sedang asik memilin nippleku.

“Op..pahh…shh..”

Wonshik memilin nippleku sampai keduanya tegak dan keras. Tak lama payudara sebelah kananku sudah diemutnya seperti bayi yang kehausan, sedangkan payudaraku yang satunya lagi terus diremasnya.

“Oppa! Jebal!” rasa ini sangat rancu. Berulang kali aku mendesah dan Wonshik terus memainkan payudaraku.

“Erghh.. Yoonhee, kurasa kita harus berhenti sampai sini.” Wonshik melepaskan tautannya dari payudaraku, lalu memberidirikan diriku.

Aku mengusap tubuhku yang setengah telanjang, merah, dan basah sekarang.

“Aku suka milikmu. Jangan tutupi dia.” Wonshik menarik tangan yang menutupi dadaku.

Dilepasnya jaket milik Wonshik untuk menutupi tubuhku.

Chu

Wonshik kembali mengecup bibirku. Belajar dari pengalaman, aku pun segera membalasnya. Aku bahkan lebih dahulu melumat bibir Wonshik. Tampak sebuah senyuman penuh kemenangan terukir pada wajah Wonshik. Wonshik mendorong tengkukku agar ciuman kami lebih dalam. Dan akhirnya aku sadari, ini yang namanya French Kiss.

Wonshik melepaskan ciuman kami ketika oksigen sudah mulai berkurang.

“Ada yang ingin keluar, semuanya karenamu. Dan sekarang aku harus ke kamar mandi.” kata-kata vulgar Wonshik langsung kucerna. Wajahku memerah karena malu, “napeun yeoja” begitu yang ada diotakku.

Cup

Wonshik mengecup keningku sekilas, lalu pergi.

Aku mendudukan tubuhku ke bangku tadi.

Jadi disini. Jadi itu rasanya. Jadi dia orangnya. Pernyataan-peryataan itu terus berputar diotakku.

Aku memeluk tubuhku. Sensasi panas itu masih ada.

Aku menarik jaket Wonshik yang kebesaran, lalu menghirupnya. Aroma Wonshik selalu membuatku terngiang akan hal tadi.

Puk

Aku menepuk keningku. Pabbo, bisa-bisanya kau menikmati hal semesum itu. Ditambah lagi aku malah membalas ciumannya itu. Aihh.. bagaimana kalau Wonshik tahu, kalau aku menyukainya. Pabbo.Pabbo.Pabbo.

Sudahlah, aku mau pulang sekarang.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan posisi junior setengah tegak berdiri sangatlah tidak nyaman. Sempit.

Hug

Seseorang memelukku erat.

“Nugu-ya?!” bentakku kaget.

“Ini aku.” mendengar suara itu, reflex aku langsung mendorongnya.

“Wae? Apa kau baru saja menolakku?” tanya Jinri yang langsung merubah raut mukanya menjadi sedih.

Aku mulai melangkah mundur, tetapi Jinri terus bergerak maju mendekati aku.

“Sekali saja kau bercinta denganku.” dia menarik tanganku lalu menyimpannya kedepan gundukan miliknya.

“Simpan saja itu untuk suamimu kelak.” jawabku sinis. Aku segera menarik kembali kedua tanganku.

“Ayolah oppa.” dia mulai mengesek-gesekkan dadanya ke dadaku.

Aku hanya bisa tersenyum jijik menanggapi hal ini.

“Wae??! Apa kau jijik?! Lalu kenapa tadi kau melakukan itu dengan Yoonhee?!” tanya Jinri marah.

“Apa kau mau bercinta dengan orang yang tidak mencintaimu?”

Wajah Jinri perlahan memerah.

“Lalu apa bedanya aku dengan Yoonhee?!!” dia berteriak histeris.

“Aku sudah jijik duluan sejak mendengar kisahmu. Seorang Jinri yang maniak seks. Terlalu sering jatuh cinta, dan juga terlalu sering masturbasi. Coba pikir, apa masuk akal? Kau bahkan tidak malu, padahal kau seorang yeoja. Itu sangat menjijikan tahu.” aku terus memojokkan Jinri, dan sepertinya Jinri tengah menangis saat ini.

“Wae?! Padahal kau membuatku selalu basah.” Jinri kembali menarik tanganku, tak tanggung-tanggung. Kali ini, dia menyelipkan tanganku ke vaginanya.

“Cukup! Itu menjijkan tahu! Dengar ya, yeoja yang hanya aku pandang itu cuma Yoonhee. Dan jika aku harus bercinta, hanya Yoonhee lah partnerku.”

Jinri tak banyak bicara sekarang.

Hap

Dengan sigap, Jinri langsung mendorong tubuhku dan mneghimpitnya ke tembok. Dengan sekuat tenaga Jinri terus mencoba untuk menciumku.

Chu

Sampai akhirnya bibir ganas Jinri berhasil menyentuh bibirku.

“Ahh…Wonshik…” desah Jinri yang daritadi tidak mengalah. Sekuat apapun aku mendorong tubuhnya, semakin dalan dia menciumku. Benar, dia maniak seks.

“Oppa..” panggil Yoonhee lirih.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku berjalan keluar kelas.

Kususuri koridor, sampai akhirnya berhenti.

“Ahh…Wonshik…” desah seseorang keras.

Aku mengendap perlahan.

“Oppa..” panggil ku yang nyaris tak percaya.

Didepan mataku, Jinri dan Wonshik sedang bercumbu?

Wonshik yang mengetahui keberadaanku langsung melepaskan ciuman itu.

“Yoonhee..” panggil Wonshik pelan.

“Wah Yoonhee. Kau datang disaat yang tepat. Lihat, kurasa malam ini aku akan berhenti masturbasi.” Jinri tesenyum lebar. “Kita akan bercinta.” lanjutnya berbisik.

Sret

Buk

Aku membuka jaket Wonshik, lalu melemparnya tepat ke wajah Wonshik.

“Maaf mengganggu.” pamitku.

Aku berjalan menjauhi mereka.

Kupeluk tubuhku yang mulai kedinginan. Aku hanya memakai braku saat ini.

“Hiks.. hikss..” isakkan iyu perlahan keluar dari mulutku. Aku benar-benar wanita pabbo, dan Wonshik benar-benar… namja brengsek.

Hug

“Nugu-ya!” rontaku histeris.

Seseorang memberikan back hug untukku.

“Kau tidak akan pulang berjalan kaki dengan memakai bra saja kan?” bisiknya ditelingaku.

Aku segera berbalik lalu menangis didalam dekapannya.

“Aku sudah tahu…” dia menepuk punggungku untuk menenangkan aku.

“Jaehwan oppa…” tangisku pecah.

.

.

.

.

Aku memainkan bulu-bulu babi sedang berdiam di karang-karang pantai dangkal.

Kalian, bulu babi. Makhluk hitam bunar berduri. Terimakasih.

4 tahun semenjak kejadian itu. Jinri pindah beberapa hari setelah kejadian itu. Entah kemana dan entah kenapa. Aku sudah menjadi seorang dokter. Jaehwan memegang perusahaan saham milik appanya. Hubungan kita masih baik, bahkan lebih dekat sekarang ini. Sedangkan Wonshik. Ada beberapa hal yang kuketahui. Dia pewaris Won Univeristy, dan sekarang sudah menjadi miliknya.

“Hee-ya.. Tega-teganya kau memilih bulu babi ketimbang honeymoon kita.”

Aku berbalik kearah suara lalu menatapnya yang tengah menaikan alisnya.

–END–

Romantic Waltz~#100DayOurBlog-Hyo Jin side(Part 6)^^

Tittle  :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Author         : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght : Chapter

Ratt   : G-Semi M

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Makasih yang udah sempetin baca FF Author part sebelumnya yh^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Author kan udah pernah bilang kalau belum berbakat membuat FF Chapter tapi tolong di comment yh^^

Disini mualai ada pergeseran ratting yh~ hhe..

Sedikit ada NC- Author gak tahan kalau gak ada NC, eh?-

Biar jadi referensi gitu~

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

Sebelumnya..

Aku benci Eun Hye eonni.

.

Chapter 6 : ‘Our’ private show-2-

.

.

Seperti biasa kami pergi ke Cafe Spicywings. Cafe langganan kami.

Yoon Hee langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disamping Yoon Hee.

“Hwayeon, bisa pindah?” pintaku sebelum aku duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka. Ya! Berisik sekali maknae ini. Tak tau kah aku sedang dalam keadaan emosi? Jinjja.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya aku duduk. Dan yang pasti itu bersebelahan dengan Eun Hye eonni.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Kalau kalian bisa melihat ekspresi di wajah kami kalian akan ketakutan. Ekspresu kami berbeda-beda namun itulah yang membuat klaian ketakutan.

Wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Akhir-akhir ini dia seperti itu terus. Entah kenapa.

Eunhye? Well, wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Apa dia habis dibuang oleh Ricky? Atau oleh namja satunya lagi? Ternyata ia bisa sedih juga? Semakin memikirkan itu aku semakin tak bisa mengendalikan emosiku.

Yoon Hee? Matanya sangat sembab. Sepertinya ia habis menangis. Mungkin pasiennya terjadi sesuatu. Aku tak peduli.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Aku ikut-ikutan keluar. Berada disini bisa membuat emosiku memuncak.

Aku kembali ke apartementku. Kurasa Cuma tempat itulah yang paling cocok untuk menenangkan pikiranku.

Drttt..drrt..

Ricky-evil-pabbo is calling

Aish, maunya apa sih?

Tak kuhiraukan panggilan darinya. Apa aku salah? Terlalu kejam? Ya! Siapa yang menjadi korban,eoh?

Tok tok tok

Aish, siapa lagi coba?

Dengan langkah kesal aku membuka pintu dan untuk kesekian kalinya aku menyesal.

Ia Ricky.

“Tunggu. Apa yang membuatmu menjauhiku?” tanyanya pelan.

“Kau pikirkan saja sendiri!”

Saat hendak menutup pintu, Ricky menahannya. Ia masuk dan mengunci apartementku.Ia menatapku marah.

“Kau selalu seperti ini! Seakan semua salahku!” ia mulai meninggikan nada bicaranya.

“Tidak! Ini bukan salahmu! Ini salahku!!”

Aku menangis. Mungkin ini sedikit berlebihan. Namun, kalian pasti akan melakukan hal yang sama jika namja yang kalian sukai hanya memanfaatkan kalian kan?

“Hyo Jin, tatap aku.” Aku masih menunduk. Enggan melihatnya.

“Hyo Jin, tatap aku sekarang!” ia mulai berteriak padaku. Tapi aku masih tak mengangkat wajahku.

“Cho Hyo Jin!!!”

“Wae?? Kau ingin memarahiku lagi? Silahkan!!! Aku benci kau!! Pergi!! Jangan pernah mencariku lagi!!” Aku menatapnya tajam. Kulihat ia sedikit terhentak saat aku berteriak padanya.

“Hyo Jin, apa ini karna Eun Hye?” tanyanya pelan sambil menahan wajahku agar terus menatapnya.

“Kalau iya kenapa? Kalau bukan kenapa?”

“Jawab aku Cho Hyo Jin!”

“Iya!!! Ini semua karna perlakuan khususmu pada Eun Hye eonni! Kau memeluknya! Kau memberinya sebucket bunga mawar! Sedangkan aku? Aku hanya dapat satu tangkai! Daebak! Dan apa itu EunEun pabbo dan ChangChang sunbae? Imut sekali,eoh!”

Grep

“Jadi kau cemburu?” Tiga kata itu sangan menancap dihatiku.

“Kalau iya kenapa?” aku mengalihkan pandanganku.

“Tatap aku.”

Tidak! Jangan suara itu! Suara lembut itu masuk ke telingaku. Perlahan aku menatap kembali matanya. Ia menatap dengan lembut. Aku terhisap dalam keindahan matanya.

“Itulah yang kutunggu selama ini.” Ia tersenyum lalu menarik tengkukku sehingga wajahku semakin dekat dengannya.

CUP

Ia menciumku sangat lembut. Tak ada nafsu yang terasa. Hanya luapan kasih sayang yang terasa. Tak mau munafik aku mengalungkan tanganku di lehernya. Makin lama ciuman kami semakin panas. Aku mendorong dadanya karna pasokan udaraku sudah menipis. Akhirnya ia melepaskan ciumannya. Kami saling menatap satu sama lain sambil mengatur nafas kami. Udara disekitar kami sudah terasa sangat panas. Hanya satu yang ada dipikiranku..

Apa kita akan melakukan ‘itu’?

“Hyo Jin, mianhae sudah membuatmu cemburu. Tapi sungguh. Eun Hye itu hanya hoobaeku saja. Kami sudah seperti oppa dan yedongsaeng saja. Tidak lebih. Sungguh.”  Ricky mengatakan itu sambil memelukku erat.

“Baiklah aku percaya itu. Tapi aku ini siapa?” aku mempoutkan bibirku.

“Kau adalah milikku.”

Setelah itu ia kembali mempersatukan bibirnya dengan bibirku. Sedikit berbeda kanra sedikit menuntut. Aku memperdalam ciuman kami. Rasanya aku tidak ingin terlepas dari bibir itu.

“eummhhhh” desahku tertahan saat Ricky mulai memasukan lidahnya kedalam mulutku. Lidahnya bergerak lincah di dalam. Aku terbuai oleh permainan lidahnya tanpa kau sadari bajuku sudah terjatuh dilantai. Entah kapan ia melepasnya. Yang pasti sekarang aku merasa malu. Aku melepas ciumanku dan menutupi dadaku dengan kedua tanganku.

“Kau tidak usah malu, chagi~  Aku janji aku tidak akan menyakitimu.” Ricky menurunkan kedua tanganku.

“A-aku malu, Ricky-ah.” Kuyakin wajahku pasti sudah sangat merah. Aish, molla~

“Tenang saja. Kau sangat cantik.” Ia mulai menjilat leherku sesekali menghisap dan menggigitnya,

“Aahh, hahh, hahh.. Jangan terlalu banyak, Ricky-ah” aku berkata sambil berusaha menahan desahanku.

“Jangan ditahan sayang.”

“Aahh, hahh.. Ini terlalu nikmat!” Aku tak dapat menahan desahanku saat Ricky mulai memainkan tangan dan mulutnya di kedua dadaku.

“Shall we?” tanyanya sambil mengangkat alisnya sebelah.

“Sudah basah kenapa tidak mandi saja sekalian?” aku menyeringai. Ricky menggendongku ala bride menuju kamarku. Kalian pasti tau kan kelanjutannya?

Tidak? Astaga. Baiklah aku akan mendeskripsikannya sedikit saja..

  • Hubungan antara namja dan yeoja
  • Tanpa pakaian
  • Saling menghangatkan
  • Memasuki dan dimasuki
  • Kasur
  • Desahan
  • Bergesekan

Sudah tau kan? Yasudah jangan diganggu dulu yah.. Lagi sibuk ^^

TBC-

Bagaimana? GJ yah? Mianhae yah~~

Author lagi gak punya ide banget..

Tapi Author masih mengharapkan comment buat Author introspeksi gitu^^

Likenya juga boleh kok..

Silent reader? Author gak larang tapi kalau bisa tinggalkan jejak yh~~

Gomawo yang udah mau baca..

~Cho Hyo Jin

Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 7

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Nih, author kasih pasrt 7 nya. Maaf agak lama yang ngepost, soalnya kemarin ada urusan mendesak, jadi ga bisa ngepostt sama sekali. Maaf membuat kalian menunggu. Nah, jadi sekarang silahkan dinikmati bacaannya. Ini agak pendek, tapi gppa ya. Author bikinnya juga sambil teler soalnya. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

Akhirnya, Setelah acara paksa memaksa yang tadi dilakukan Kyuhyun, dan Heechul ahjumma, pada akhirnya aku mengalah. Memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kapal. Ini kulakukan untuk Heechul ahjumma, dia begitu menyayangiku, dan dia terus memohon -well memaksa sebenarnya- agar aku datang ke acara mereka.

Aku mempersiapkan seluruh keperluanku dibantu oleh eomma. Yah, walah eomma tidak sepenuhnya membantu karena yang dilakukan eomma dari tadi hanyalah meceramahiku. Appa sendiri hanya duduk diam diatas kasurku sambil memperhatikan aku dan eomma mempersiapkan keperluanku.

“Apa kau yakin sudah membawa semuanya?” aku memutar mataku dan mengangguk mengiyakan. Ini sudah ke-3 kalinya eomma bertanya hal itu padaku.

“Dompet?”

“Sudah.”

“Charger?”

‘Sudah.”

“Keperluan mandi?’

“Sudah.”

“Bedak-bedak?”

“Sudah.”

“Lalu-“

“Sudah eomma, aku sudah menyiapkan semuanya. Eomma tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi.” Aku merasakan kepalaku ditepuk dari belakang, dan saat aku menoleh. Appa sudah berada di belakangku sambil tersenyum manis.

“Sampai kapanpun, kau tetap menjadi gadis kecil appa dan eomma.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pasrah, hahhh……terserah mereka sajalah.

Kami pergi menuju pelabuhan bersama Kyuhyun oppa. Heechul ahjumma dan Hankyung ahjussi sudah berangkat lebih dulu tadi. Dan mereka bilang, mereka akan menunggu kami dikapal.

.

Aku memandangi kapal pesiar dengan nama Cho group dengan gugup. Sialan, apa kapal ini tidak berlebihan. Maksudku, Ya ampun…Ini terlalu berlebihan. Kapal ini terlalu besar kalau hanya dipakai untuk melakukan party yang paling-paling hanya didatangi kurang lebih 300 orang.

Tapi…demi Tuhan. Kita hanya berlayar 2 hari dan kita akan menggunakan kapal super megah ini? Astaga, Heechul ahjumma memang keterlaluan. Apa ya kira-kira pendapat eomma dan appa? Aish, mereka pasti keluarga yang boros.

“Hey, kenapa kita berdiri diluar terus? Apa kau tidak ingin masuk?” aku menoleh, menghadap Kyuhyun oppa yang saat ini berada di sampingku. Loh, kemana yang lain? Perasaan aku kemari bersama Ravi oppa, eomma, dan juga appa deh. Kenapa yang tersisa hanya Kyuhyun?

Aku menengokan kepalaku ke kanan dan kekiri, tapi aku tidak bisa menemukan mereka dimanapun. Aku kembali memandang Kyuhyun, dan dia saat ini menatapku dengan kening berkerut. Apa yang salah?

“Kau sedang mencari apa sih?” tanyanya bingung sambil ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kanan kiri, berusaha mencari apa yang kucari. Tapi, apa dia bodoh? Dia bahkan tidak tau apa yang kucari kan? Percuma saja dia menengok-nengokkan kepalanya sampe lepas juga. Ck, pabbo.

“Ravi oppa, eomma, dan appa kemana? Kok tidak ada?” tanyaku bingung. Aku sedikit menyipitkan mataku saat memandang Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dari pada diriku. Aduh, silau sekali sih?! Tidak bisakah matahari itu meredupkan cahayanya sebentar? Membuat mataku sakit saja!

“Ah, mereka sudah naik ke kapal dari tadi. Kau saja yang keasikkan bengong. Lagipula, kenapa kau kaget sekali melihat kapal ini, seharusnya, anak keluarga chaebol kim sudah terbiasa dengan tingkat kemewahan seperti ini bukan? Keluarga kalian bahkan lebih kaya dari pada keluarga kami.” Aku memutar mataku malas. Memangnya tidak boleh apa kalau aku takjub saat melihat kapal ini? Aku kan memang tidak pernah naik kapal pesiar sebelumnya. Bukannya katrok atau apa, tapi aku tidak ada kepentingan apapun sampai harus naik kapal pesiar segala.

Aku kembali memandang kapal pesiar dihadapanku dengan bingung. Aku tidak yakin aku sanggup mengikuti acara ini. Lihatlah, tempatnya saja sudah berlebihan seperti ini. Aku tidak yakin kalau pesta yang nanti Heechul ahjumma selenggarakan akan menjadi pesta sederhana. “Sudahlah, ayo kita masuk. Kita sudah terlalu lama berdiam diri. Disini panas.” Aku membiarkan diriku ditarik oleh Kyuhyun oppa menaiki kapal itu.

Aku memandangi sekelilingku dengan takjub. Sialan, ini benar-benar indah dan sangat mewah. Laut yang seharusnya biasa-biasa saja entah kenapa bisa terlihat begitu menakjubkan dari atas sini. Apa lagi fasilitas kapal ini yang sungguh…fantastis.

Kapal ini memiliki kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan yang sudah bisa kutebak sangat mewah dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar.

Naik kapal ini tidak akan membuatmu merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki 3 ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan. Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 300 kursi. Teater ini terdapat diburitan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap kelautan lepas. Dan yang pasti, itu semua terdapat di kabin paling atas. Benar-benar paling atas alias atap.

Pokoknya, semua yang ada disini adalah WOW. Aku tidak akan bertanya dari mana mereka bisa mendapatkan kapal semacam ini, akan aneh kalau aku bertanya tentang itu. “Kenapa dari tadi kau suka sekali melamun?Ayo kita kekamar. Aku akan menunjukkan kamar kita padamu.” Aku menurut saat ia menarikku menuju ke geladak bawah kapal, dan menuntunku menuju ke salah satu ruangan yang berada tepat di ujung kabin.

Waw, bahkan di dalam kapal, kamar ini memakai sisem pin? Ck ck ck, amazing. Aku mengintipnya yang sedang memasukkan pin, dan dia memencet tombol 100100 dan tadaaaaa, pintu terbuka. Hal pertama yang kulihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ranjang berukuran King Size yang berada di pojok tengah kamar.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, ada sofa, meja rias, meja kerja, lemari, kamar mandi tentu saja, dan yang pasti ada ranjang. Kamar ini bernuansa putih, mataku terasa sakit karena hampir semuanya berwarna putih, kecuali ubin dan dinding kamar yang baru kusadari kedap suara. Well, berarti kalau aku berteriak-teriak disini tidak ada orang yang akan mendengar kan dari luar?

Hmm, ada sebuah pintu geser juga yang menghubungkan kamar ini ke balkon yang tepat menghadap laut. Aku berlari esana, membuka pintunya, dan berjalan ke balkon dengan semangat menggebu.

Sreeeekkk!

“Hiiiiah!!!!! INDAHNYA!!!!” aku memandangi hamparan air laut dihadapanku dengan senang. Uuuuah, lautnya indah sekali. Apa lagi karena ada pantulan sinar matahari, efek-efek sinarnya yang terdapat di dalam pantulan air laut sungguh menambah kadar keindahan lautnya.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari perutku. “Kau suka?” aku mengangguk menanggapi pertanyaan Kyuhyun oppa. Tentu saja aku suka, tidak mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukai lautan. Pokoknya aku suka, aku pikir aku akan betah berada disini.

Eh tapi, dimana kamar Ravi oppa, eomma, dan appa ya? Apa mungkin Kyuhyun tau? Haruskah aku bertanya? Hmmm, “Oppa, apa kau tau dimana kamar Ravi oppa, eomma dan appa?” tanyaku penasaran. “Tentu saja aku tau, kamar mereka ada disebelah kamar kita kok. Aku sudah mengaturnya supaya kau tidak jauh-jauh dari keluargamu dan teman-temanmu. Kabin ini aku khususkan untuk keluarga dan teman-teman kita saja. Tamu-tamu lain akan berada di kabin lain.”

“Ah jinjja? Gomawo, kau baik sekali.” Aku terkikik saat Kyuhyun oppa menempatkan sebuah ciuman di tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukaannya, aduh kenapa dia suka sekali mengerjai leherku? Bagian itu sangat sensitive. Ck, dia pasti sengaja deh. Dasar namja mesum. “Ish oppa, berhenti mencumbuku. Ini bahkan masih pagi.” Ujarku resah sambil menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari rengkuhannya. Tapi bukannya lepas, pelukannya malah semakin kencang. Ck, dia kembali dalam mode menyebalkan lagi sepertinya.

“Diam dan nikmatilah. Arraseo?” aku akhirnya pasrah saat Kyuhyun oppa lagi-lagi menanamkan bibirnya di lekukan leherku, menciumnya dan menggigitnya sesekali. Aku sendiri memejamkan mataku dan memasrahkan tubuhku dalam rengkuhannya. Sesekali aku menggigit bibir bawahku saat ia menghisap leherku seperti vampire untuk mencegah desahan lolos dari bibirku. Aku tidak ingin, sesuatu yang yang tidak seharusnya kami lakukan malah jadi kami lakukan jika saja aku tidak bisa menahan diri dan membuat desahan lolos dari bibirku.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri, memberikan akses lebih untuk Kyuhyun, untuk lebih menjelajahi leherku. “Ahhhh.” Aku tidak mampu lagi menahan desahanku. Kyuhyun oppa semakin beringas menjamah leherku.

“O-oppa. Berhentih, k-kita harus ke atas sekarang. Engh-yang lain p-pasti sudah me-nunggu k-kita.” Sekuat tenaga aku mencoba untuk menjaga suaraku agar terdengar normal, tapi suit sekali, apa lagi saat Kyuhyun oppa mengigit leherku. Aduh, jangan sampai dia meninggalkan bekas.

Aku terseyum saat mendengar dengusannya. Ah, pasti dia kesal karena kegiatannya lagi-lagi terganggu. Hahahaha, mungkin dia memang ditakdirkan agar tidak bisa berbuat mesum padaku sebelum kami resmi menjadi sepasang suami istri. “Ck, kau selalu menggangguku. Baiklah baiklah, lebih baik kita keatas sekarang dari pada eommaku yang cerewet itu melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan.”

Kyuhyun oppa mengecup lherku lembut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan membimbingku untuk keluar kamar. Saat diluar kamar, aku bertemu dengan YoonHee eonni yang sedang berdiri di depan kamar seseorang. Kamar siapa ya? Apa mungkin itu kamarnya? “Apa yang kau lakukan eonni?”

“E-eoh, a-aku hanya lewat kok. L-lebih baik kita ke atas. Ayo.” Aku mengerutkan keningku bingung. Kenapa dia kelihatan gugup? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi baru saja aku mau bertanya lagi, tiba-tiba pinti di depan kami berderit terbuka.

“Eoh, chagi? Kenapa kau ada disini? Kenapa kalian tidak langsung keat-as.” Aku berniat menjawab, tapi urung kulakukan saat aku malah melihat Ravi oppa dan YoonHee eonni saling berpandangan. Tatapan keduanya saling menghujam, tapi yang membuatku bingung adalah…

Tatapan Ravi oppa pada YoonHee eonni. Ia terlihat marah, kecewa, kaget, sedih, entahlah. Tapi 1 kesimpulan yang aku dapat, Ravi oppa saat ini sedang menahan emosinya. Nah, lain lagi dengan YoonHee eonni, tatapannya seakan ia meminta maaf kepada Ravi oppa. Oh oh oh, apa sesuatu terjadi diantara mereka tanpa aku ketahui?

Aku terus memandangi mereka dengan sedikit menyelidik. Apa yah kira-kira yang terjadi diantara mereka? Apa mereka bertengkar? Tapi karena apa? YoonHee eonni dan Ravi oppa juga tidak mengatakan apapun padaku. Well, ini aneh. Baru saja aku ingin membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun oppa menyentak pinggangku pelan. Aku menoleh heran padanya, dan aku malah melihatnya menggeleng. Apa maksudnya? Dia tidak membolehkanku buka mulut? Tapi aku penasaran.

Aku kembali mencoba untuk berbicara, tapi lagi lagi Kyuhyun oppa menyentak lenganku kemudian menggeleng. “Jangan ikut campur urusan mereka sayang. Lebih baik kita pergi keatas. Ayo.” Aku mendengus pasrah saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menarikku menjauh dari sana. Untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan aku bisa melihat kalau YoonHee eonni memandang Ravi oppa frustasi, sedangkan Ravi oppa sendiri hanya memandang YoonHee eonni dalam diam. Tapi kalau kulihat dari sorot mata Ravi oppa, aku tau Ravi oppa sedang menahan sesuatu yang tidak kumengerti.

Aku berjalan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Kyuhyun oppa yang kelewat cepaat. Aduh, rasanya aku seperti diseret-seret.

“Hei, pelanlah sedikit! Tanganku sak-“ langkahku otomatis terhenti, “Kau, kenapa kau ada disini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kapal ini? Sialan, apa kau berniat membunuhku ditempat ini?”

Aku memandang yeoja didepanku dengan tatapan menyalang, yeoja itu membalas tatapanku sambil tersenyum ‘sok’ polos. Sialan yeoja itu. Apa dia ingin berakting? Aku lupa, disebelahku ada Kyuhyun oppa.

Aku bisa merasakan tatapan menghujam Kyuhyun oppa untukku dari sampingku, tapi aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku pada yeoja didepanku. Yeoja yang selama minggu ini sudah menguntit dan mengancamku terang-terangan. Yeoja yang ternyata baru kuketahui, kalau dia adalah mantan tunangan Kyuhyun oppa.

“Apa-apaan kau HwaYeon-ah? Kenapa kau berkata seperti itu pada Haneul? Dia bahkan tidak melakukan apapun padamu!” aku tersentak mundur saat tiba-tiba Kyuhyun oppa membentakku. Aku memandangnya kaget, dan dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Uuugh, sakit sekali.

“Apa-apaan sih oppa? Lepas” aku merintih, mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun oppa di pergelangan tanganku. “Akkh, s-sakit, lepash!” aku meronta, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan pergelangan tanganku, tapi hasilnya nihil. Siaan apa-apaan sih namja ini?

“Sudahlah kyu, kau menyakitinya jika seperti itu. Lepaskan dia, kasian.” Huh? Dia benar-benar sedang berakting rupanya, jelas-jelas dia senang kalau aku disakiti Kyuhyun oppa seperti tadi. Dia bahkan menginginkan kematianku. Kurang ajar! “Tapi dia menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tau kau yeoja baik-baik Haneul-ah, tidak mungkin kau melakukan sesuatu seperti yang dia tuduhkan barusan kan? Aku sangat mengenalmu.” Aku terperangah. Sialan, jadi Kyuhyun oppa sedang membelanya sekarang? Kyuhyun opa lebih membela yeoja itu dibandingkan aku calon istrinya sendiri.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lepaskan saja dia, mungkin dia hanya tidak suka dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.” Aku mengernyit, kenapa dia malah membuatku terlihat seperti yeoja pencemburu dan posesif? “Maaf soal itu, Haneul-ah. Dia memang sedikit kekanakan. Lebih baik kita keatas saja. Ayo, berjalanlah bersama kami.” Ajak Kyuhyun oppa lembut pada yeoja sialan itu.

Ya ampun, apa-apaan sih Kyuhyun oppa, jangan bilang kalau dia tidak percaya padaku. Aku menyentak tanganku yang dicengkramnya saat melihat perhatian Kyuhyun oppa beralih kepada yeoja sialan itu. “Hei, kau itu kenapa sih? Ayo kita keatas. Kita pasti sudah ditunggu eomma.”

Aku melangkah mundur, member bentangan jarak antara diriku dan dirinya. Aku menggeleng sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak mau keatas. Tidak jika bersama yeoja sialan itu!” aku melihatnya, aku melihat Kyuhyun oppa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan menggertakan giginya. Kenapa reaksi Kyuhyun oppa harus seperti itu? Apa mungkin…Kyuhyun oppa masih mencintainya? Masih mencintai yeoja itu? Mantan tunangannya?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan berbagai pikiran buruk yang saat ini menggelayuti kepalaku. “Jangan membantahku Kim HwaYeon, kau tau aku tidak suka dibantah.” Aku tetap menggelengkan kepalaku keras kepala, dan melangkah mundur saat ia melangkah maju untuk menangkapku.

“Apa yang kau lakukan?” desisnya marah dengan wajah merah padam. Aku memandang mereka berdua bergantian. Kyuhyun oppa saat ini sedang menahan amarahnya, aku tau itu. Tapi yeoja sialan itu, yeoja sialan itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Yeoja itu lagi-lagi menggumamkan kata ‘mati’ tanpa suara. “Mianhae, kyu. Mungkin aku harus pergi. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian” Sialan, peran apa lagi yang saat ini dia mainkan?

“Apa? Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini. Kau sama sekali tidak merusak apapun. Ini semua terjadi hanya karena sifat kekanakannya.” Aku menganga kaget. Apa Kyuhyun oppa baru saja membelanya lagi? Dan berbalik menyalahkanku? Apa Kyuhyun oppa baru saja memilihnya, disbanding diriku? Calon istrinya sendiri?

“O-oppa?” panggilku kaget. Tanpa sadar aku melangkah mundur saat melihat tatapan yang Kyuhyun oppa berikan untukku. Jelas sekali kalau Kyuhyun oppa benar-benar marah padaku, karena yeoja sialan itu.

“Kurasa, kau harus menenangkan pikiranmu.” Ujarnya datar.

Aku memucat, dengan cepat aku menggeleng. Kenapa semuanya malah jadi tambah runyam seperti ini? “Apa maksud oppa? Oppa, tidak sadarkah kau? Yeoja itu, mantan tunanganmu itu, dialah yang mengancamku! Dialah yang menguntitku selama kita berada di Jeju, dia juga yang sudah melukai lenganku kemarin!!!!” aku berteriak, melampiaskan seluruh ketakutan dan amarah yang sudah terkumpul didalam diriku. Aku merasakan mataku memanas saat melihat Kyuhyun oppa malah menggeleng dan menatapku tajam.

“Kau keterlaluan. Bagaimana mungkin bisa kau menuduh yeoja baik-baik sepertinya dengan tuduhan seperti itu? Ak tau kau takut. Aku juga tau kau cemburu. Tapi tidak begini caranya, au benar-benar membuatku kecewa. Kurasa aku harus memikirkan lagi ucapanku untuk memperistrimu. Kurasa kau belum cukup dewasa.”

“A-apa?”

“Kau sudah mendengarnya, dan aku tidak berniat untuk mengulangnya. Kau harus menenangkan dirimu sendiri kurasa. Aku akan meninggalkanmu sekarang.” Aku diam, membeku ditempatku saat melihat Kyuhyun oppa menjauh dari jarak pandangku bersama yeoja itu. Yeoja sialan yang saat ini sedang menatapku penuh kemenangan dengan seulas senyum mengerikan yang tersemat di bibirnya.

Ya Tuhan, apa aku baru saja…dicampakkan?

Aku merasakan tenggorokanku kering. Mataku memanas, dan saat aku menyadarinya, pipiku sudah basah oleh air mata. Sialan, dadaku sesak sekali.

Duk! Duk! Duk!

Aku menepuk-nepuk dadaku panic. Dadaku, aku tidak bisa bernafas. Tolong, tolong aku. Kyuhyun oppa, tolong aku.

“OMO HWAYEON!!!” aku jatuh terduduk di lantai yang dingin masih sambil menepuk-nepuk dadaku. Dadaku sesak, berkali-kali pula aku tersedak tangisanku sendiri. Aku mendengar langkah kaki berderap menghampiriku.

“Tidak tidak tidak. Bernafaslah dengan benar Hwayeon-ah, bernafaslah dengan benar!” aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak bisa, sulit. Itu terlalu sulit.

Ya ampun, aku tidak ingin mati sekarang.

“Yak! Lakukan sesuatu! Kau kan dokter! Bantu adikku! Kumohon, selamatkan adikku!” aku memandang Ravi oppa yang sedang menatap YoonHee eonni yang berdiam ditempatnya dengan mata basahku. Aku bisa melihat YoonHee eonni tersentak dengan mata terbelalak. “Nafas buatan! Berikan dia nafas buatan! Cepat!”

Dadaku naik turun dengan cepat. Kepalaku sudah terasa pening, dan aku mulai merasa semua yang berada di sampingku mulai membelah diri dan berputar-putar disekelilingku. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang menciumku, lebih tepatnya memberikan nafas buatan untukku. Ravi oppalah yang memberikan nafas buatan itu untukku. Aku terengah dengan tubuh lunglai di dalam pelukan Ravi oppa.

“Oh ya ampun sayang, kau membuat oppa hampir mati karena serangan jantung.” Aku diam, sama sekali tidak menanggapi ucapan Ravi oppa. Aku hanya memandang kosong mata Ravi oppa, dan tak lama kemudian, aku menangis. Aku menangis di dalam pelukan Ravi oppa, dihadapan YoonHee eonni.

“Shhh, tenanglah sayang. Kyuhyun hanya sedang terguncang. Harusnya kau tidak menuduh Haneul seperti itu sayang. Itu memang sedikit keterlaluan.” Aku memandang Ravi oppa terkejut. Dia mendengar semuanya? Dan sekarang dia juga tidak percaya padaku? “Aku mengatakan yang sebenarnya oppa.” Ucapku lemah.

“Tidak, kau hanya cemburu. Kyuhyun benar, kau masih sedikit kekanakan. Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Kau bahkan akan segera menikah.”

“Oppa juga tidak mempercayaiku?” tanyaku tak percaya.

“Mi-mianhae. Bukan begitu maksud oppa. Oppa hany-“ aku engangkat tanganku. Mengisyaratkan Ravi oppa ntuk berhenti berbicara. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Ravi oppa di tubuhku.

“Oppa tidak mempercayaiku.” Well, itu peryataan, bukan pertanyaan.

“Hwa-“

“Cukup! Aku pergi sekarang. Terimakasih.” Aku langsung berjalan gontai dari sana. Tak kuindahkan teriakan Ravi oppa dan YoonHee eonni yang mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku berjalan keluar kabin menuju geladak kapal. Aku memandangi laut itu dengan tidak berminat. Sialan, apa yang kulakukan disini saat ini?

Harusnya hari ini kami bersenang-senang. Harusnya aku menghabiskan waktuku untuk berkumpul bersama keluargaku dan keluarga Kyuhyun. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna. Tapi sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur karena yeoja itu.

Yeoja sialan yang terobsesi pada Kyuhyun dan berniat membunuhku. Yeoja siaan yang lebih Kyuhyun pilih dibaningkan diriku. Ya Tuhan, bahkan Ravi oppa juga tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa gunanya lagi aku disni jika tidak ada yang percaya padaku?

Harusnya dari awal aku tidak ikut. Harusnya dari awal aku tidak datang. Andai saja aku tidak datang, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan yeoja sialan itu…

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Aku tersentak kaget dan otomatis membalikkan badanku. Dihadapanku, yeoja sialan itu berdiri disana, dan menataku dengan mata menyorot tajam.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” tanyaku geram.

“Aku? Aku ingin kau mati!” aku memucat. Sialan.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku mati?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”

“Kau, kau sudah merebut Kyuhyunku! Kau sudah merebut kepunyaanku! Dan aku akan membunuh siapapun yang berniat mengambil Kyuhyun dariku, termasuk kau!” aku membatu saat tiba-tiba yeoja sialan itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari belakang punggungnya. Aku berjalan mundur saat ia berjalan maju, sambil menggenggam pisau lipat itu di tangan kanannya.

Aku terus melangkah mundur sampai akhirnya aku terpojok, aku sudah berada di ujung geladak, menempel dengan tiang pembatas.

“Terperangkap hah? Kukira membunuhmu akan sulit mengingat begitu banyak orang yang menjagamu. Tetapi ternyata, melakukannya sungguh sangat mudah. “

Aku memandangnya geram, saat ini ia sudah berada tepat dihadapanku dan ia sedang bermain-bermain dengan pisaunya di sekitar wajahku.

“Kupikir, Kyuhyun tidak benar-benar mencintaimu.”

“A-apa?”

“Ya, kukira Kyuhyun hanya menjadikanmu pelarian dariku.”

“Apa maksudmu?!”

“Yah, kau sudah melihat sendiri bukan. Kyuhyun bahkan lebih memilih mempercayaiku dibandingkan dirimu yang saat ini berstatus sebagai calon istrinya.” Aku terdiam. Yeoja ini benar, Kyuhyun bahkan lebih memilihnya dibandingkan aku. Apa aku benar-bena hanya dia gunakan sebagai pelampiasan semata?

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” aku membungkukkan tubuhku. Aku melihat kearah perutku, dan sebuah pisau menancap disana. Baju yang kukenakan sobek dan dipenuhi dengan darahku sendiri. Bau anyir memenuhi indra penciumanku. AKu tidak memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba teriakan orang-orang membuatku menengok.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” di sana, didepan sana. Kyuhyun oppa, Ravi oppa, dan YoonHee eonni berdiri disana sambil memandangku ngeri.Mungkin teriakan mereka membuat yang lain penasaran, tak lama kemudian, hampir semua orang menyusul kami. Aku bisa melihat eomma dan appa dari sini. Mereka terlihat ngeri. Terlihat, seperti akan segera pingsan.

Aku menatap perutku yang tertusuk kemudian mengalihkanku pada Kyuhyun oppa yang tengah memandangku dengan mata melebar khawatir dan kaget. Aku menatap mereka nanar, mereka…mereka yang tadinya tidak mempercayaiku.

“Aaaaarghh!!!!!!” aku berteriak saat tiba-tiba yeoja sialan itu menarik pisau itu dari perutku sambil berbisik lirih tepat di telingaku. “Kau pantas mati.”

Tubuhku linglung, dan saat aku sadar, aku sedang berada dalam posisi hampir jauh ke laut, hanya saja Tangan seseorang menggenggam tanganku, bukan tanganku, tapi lebih tepatnya gelangku. menahanku agar tidak tercebur kedalam laut.

Aku menengok, dan mendapati Kyuhyun oppa berada disana, menahan gelangku dengan sekuat tenaga. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya, dan ia terus menatapku. Sambil tersenyum menguatkan, padahal jelas-jelas ia menangis, menangis untukku…

Aku memfokuskan tatapanku pada Kyuhyun oppa, mengesampingkan perasaan sakit di perutku, dan adrenalinku yang terpacu. Aku tidak bisa berenang. Aku tidak yakin aku akan selamat. Aku menengok kebawah, dan yang kulihat hanyalah air laut yang beriak akibat tekanan kapal.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” aku kembali menatap Kyuhyun oppa, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatapku dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” aku mencobanya, tapi aku tidak bisa. Aku putus asa, dan aku menangis.

“Aku tidak bisa!” isakku lemah, aku mencoba menggapai tangannya, tapi sia-sia.

“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” teriakku putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahaku untuk menggenggam tangan Kyuhyun oppa tidak berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Aku memandang Ravi oppa yang juga menyerukan tangannya kebawah. AKu berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi aku gagal.

Perutku mulai terasa semakin sakit. Aku merasa pusing, dan semakin lemah. Tanganku gemetar, dan mataku mulai berkabut.

“Aku tidak bisa oppa.” Aku memandang mereka semua dengan air mata bercucuran. Ya ampun, apa hidupku akan berakhir saat ini? Aku melihat eomma dari bawah sini sedang menangis histeris di pelukan appa. Appa sendiri menatapku khawatir.

Aku tidak kuat.

“Mianhae.” Gumamku pelan saat aku merasakan gelang ditanganku akhirnya putus. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap mereka. Mereka semua yang berada diatas kapal, yang tengah menatapku dengan mata membulat besar dan air mata berderai.

Aku bisa melihat dari tempatku sekarang, kalau Kyuhyun mau melompat, tapi ditahan oleh keluarga kami. Aku melemparkan senyum terakhirku untuk mereka, dan memejamkan mataku. Memasrahkan diriku sepenuhnya pada-Nya.

Kalau kau memang ingin memanggilku sekarang, aku siap. Tapi seandainya aku boleh memilih, aku tetap ingin berada disini, bersama dengan orang yang aku cintai. Bersama orang yang aku sayangi. Kumohon…

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

“HWAYEON-AH!!!”

“HWAYEON!!!!”

“ANAKKUUUUUUUUU!”

“PUTRIKU!!!”

“TIDAK HWAYEON, TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

BYUUURRRRRR!!!!!

Aku mendengar teriakan dan tangisan mereka semua. Sampai akhirnya semuanya hilang, tergantikan dengan suara riak air yang berada di sekelilingku.

Lukaku terasa seperti disayat kembali saat terkena air laut. Perih, uuugh sakit sekali.

Eomma, tolong aku. Appa… Ravi oppa, kumohon tolong aku. Aku sakit, siapapun tolong aku. Eonni

Uhuk!

Aku mencoba berenang keatas, tapi tidak bisa. Air menekanku kebawah, dan aku tebatuk. Tersedak air laut. Paru-paruku terasa begitu perih. Aku bisa merasa kalau aku akan segera mati karena aku bisa merasakan maut tengah mengintaiku. Ingin membawaku bersama mereka ke tempat dimana orang mati seharusnya berada.

Seluruh kenangan silih berganti memasuki benakku. Membuat dadaku semakin sesak, semakin membuatku merasa kehilangan sesuatu yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari hidupku…

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun oppa menuju ke Spicy Wings café. Kyuhyun oppa bilang kalau ia ingin makan disana bersamaku, berdua. Aku sendiri tidak menolah saat ia mengajakku ke sana.

Kyuhyun oppa memaksa untuk pergi kesana dengan berjalan kaki. Katanya sih ingin olahraga. Kami berjalan berdampingan dari kantorku menuju ke café. Jaraknya tidak jauh, hanya cukup berjalan 15 menit, dan kami sudah sampai.

“Ah tuan, nona, silahkan masuk.” Aku mengangguk saat manager cafeku ini keluar untuk melayaniku dan Kyuhyun.

Aku tersenyum kepadanya, dan mengikutinya bersama Kyuhyun dari belakang. Ia membawaku ke tempat paling pojok, dekat kaca, dan mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Kyuhyun duduk bersebrangan. Setelah kami memesan makan, pelayan pergi, meninggalkanku dan Kyuhyun yang terdiam.

“Ekhem.” Aku menengok dan menatap Kyuhyun yang baru saja berdeham.

“A-Aku, aku ingin memberikanmu ini.” Aku memandang kotak yang disodorkan Kyuhyun oppa dimeja dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanyaku bingung, sambil meraih kotak itu dan membukanya.

“Gelang.”

“Gelang? Untuk apa kau memberikanku gelang? Ini bukan ulang tahunku. Dan juga, ini bukan tanggal yang special bukan?” tanyaku bingung.

“Aku hanya ingin memberikannya padamu. Aku disuruh eomma memberikan gelang itu padamu, eomma bilang, gelang itu melambangkan ikatan cinta kita.” Aku mengangguk-ngangguk saja. Gelang ini cukup sederhana, karena gelang ini hanyalah gelang yang terlihat dibuat sendiri oleh tangan dengan benang-benang.

“Kau harus memakainya saat kita pergi besok. Eomma inin kau memakainya.” Aku mengangguk, kemudian tanpa basa basi memasukkan kembali kotak itu kedalam tasku.

“Arraseo, gomawo ne.”

“Ne, Cheonma.”

 

 

 

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

 

 

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

 

 

 

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

 

 

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

 

 

 

“Kau kekanakan!”

“Kau juga!”

 

 

 

“Aku mempercayaimu.”

“Kau memang harus mempercayaiku.”

 

 

 

“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

 

 

 

“Kau keterlaluan.”

 

 

 

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

 

 

 

“Kau pantas mati!”

 

 

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

-TBC-

Romantic Waltz~#100DayOurBlog-HYo Jin side (Part 5)

Tittle   :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Min Sunghyun (OC)

Author          : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght  : Chapter

Ratt    : G-Semi M

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Makasih yang udah sempetin baca FF Author part sebelumnya yh^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Author kan udah pernah bilang kalau belum berbakat membuat FF Chapter tapi tolong di comment yh^^

Disini ada pergeseran ratting yh~ hhe..

Sedikit ada NC- Author gak tahan kalau gak ada NC, eh?-

Biar jadi referensi gitu~

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

Sebelumnya..

“Berarti kita impas.” Kataku sambil tersenyum lebar. Kulihat Ricky hanya mengerutkan dahinya dan menatapku bingung. Kubiarkan saja ia penasaran. Hha..

Lebih baik aku kembali ke hotel untuk istirahat. Besok adalah hari penting. Aku tak boleh menggagalkannya. Fighting!

.

Chapter 5: ‘Our’-private- show~

.

.

Pagi cerah telah tiba..

Yah, aku harus bersiap-siap. Malam ini bukanlah malam yang biasa. Malam ini aku  akan tampil bersama namja yang telah mengisi hatiku. Mungkin malam ini hubungan kami akan mendapat perkembangan. Boleh kah aku berharap?

Aku memasang earphone,u unutk berlatih lagu yang akan kami tampilkan nanti. Yah, Love Song- Adele. Keren kan?

Berhubung aku sedang malas keluar kamar jadi kuputuskan untuk diam di dalam kamar.

.

.

.

Sudah malam? Daebak!!! Tak terasa sama sekali. Untung saja aku sudah mandi dan sekarang tubuhku sudah dibalut gaun merah tanpa lengan selutut yang kuberi saat menemani Hwa Yeon membeli gaun. Dan ini sangat bagus. Hae Won-ssi memang hebat.

Tok tok tok

Aish, siapa itu? Mengganggu saja. Tidak taukah ia kalau aku sedang sibuk(baca: mengaca)? Aku berjalan malas menuju pintu dan membukanya. Sungguh aku sanagt menyesal saat melihat sang pelaku..

“Anyeong, HyoHyo yedongsaeng tercantikku!!!” siapa lagi kalau bukan EvilKyu oppa. Aku hanya memutar mataku malas.

“Apa maumu? Kau ini mengganggu saja, oppa. Oh ya, apa yeoja yang waktu itu kau ceritakan adalah Hwa Yeon?” tanyaku heran.

“Yup. Tepat sekali! Aku pun kaget saat mengetahui kalau Hwa Yeon-ku itu sahabatmu. Kenapa kau tidak pernah mengenalkannya padaku? “ ia menatapku dengan pandangan meremehkan.

“Tak perlu kukenalkan kau pasti akan mencarinya. Eh, tadi kau bilang apa? Hwa Yeon ku?” heol, hebat sekali dia sudah meng-klaim Hwa Yeon miliknya. Jangnan aniya.

“Iya. Hari ini aku kan mengenalkannya pada Eomma dan Appa.” Kata Kyuhyun sambil duduk di kasurku. Dasar tak sopan.

“Oh ya, Eomma dan Appa ingin bertemu denganmu. Jadi mereka menyuruhku untuk datang bersamamu.”tambahnya sambil merebahkan badannya dikasur. Sia-sia tuxedo hitam itu ia pake jika hanya untuk tidur. Dasar kebo.

“Mwo? Ajhuma dan Ajusshi datang? Aku kangen sekali~ Baiklah, kajja. Aku tak sabar bertemu dengannya.” Aku menarik tangannya.

“Ya! Cho Hyo Jin!!” ia berteriak karna hampir jatuh saat aku menariknya. Setelah mengunci pintu aku berjalan bersama Kyuhyun. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan menggandeng tanganku.

“Sudah lama kita tak seperti ini. Terakhir saat kita masih di SMP. Kapan lagi kita punya moment saat kita akrab? Haha..” Kyuhyun terkekeh. Aku tersenyum  dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya.

Well, memang kami jarang sekali akur. Jadi lebih baik kita gunakan moment ini untuk akrab. Haha..

Saat sampai di ballroom aku terkagum-kagum menatap sekitar. Ini hebat sekali! Megah dan luas!!! Aku merasa sangat beruntung disini. Ini semua pasti kerjaan Eun Hye eonni. Dia memang perfectionis. Dasar yeoja golongan darah A~

“Omona! Ini hebat sekali! Eun Hye eonni sangat hebat! Eh? Itu Hwa Yeon. Sana, dekati dia.” Ujarku. Kyuhyun menggeleng.

“Hey, aku bisa bersama dia nanti. Kita kan sedang dalam acara ‘mari-kita-berbaikan-‘,ingat?” aku terkekeh mendengarnya. Kami kembali tertawa tapi aku merasa sedikit aneh saat melihat Hwa Yeon. Apa dia cemburu? Jangan-jangan ia belum tau kalau aku dan Kyuhyun itu sepupu? Ah, tak mungkin. Pasti ia tau.

Aku mendatangi Tan Ajusshi dan Ajjuma. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Kami sekedar membagi cerita setelah lama tidak bertemu.

Selama acara ini aku selalu bersama Kyuhyun oppa. Ia selalu menggandeng tanganku. Banyak yang mengira kami adalah pasangan kekasih. Tapi Kyuhyun oppa akan mengatakan,

“Bukan. Ia hanya sepupuku. Yeojachinggu ku adalah penyelenggara acara ini.” Ujarnya mantap. Wah, aku iri padamu Hwa Yeon. Kapan aku mendapat orang seperti Kyu oppa? Mungkin nanti.

Eh? Hwa Yeon kok seperti ingin menangis? Apa karna kami bersama?

“Hwa Yeon? Kenapa ia selalu melihat kepada kita?” tanyaku penasaran. Kyuhyun melirik sekilas.

“Entah, mungkin ia sedang melamun. Ia kan suka melamun.” Kyuhyun menaggapinya dengan santai.

Kulihat Hwa Yeon pergi keluar ruangan. Sambil menangis?

Hwa Yeon memang suka melamun. Tapi ia tidak pernah melamun sambil menangis. Apa jangan-jangan..

“Oppa, apa kau sudah bilang pada Hwa Yeon kalau kita sepupu?” Kyuhyun terkaget dan baru menyadari sesuatu.

“Aish, aku lupa mengatakannya. Pantas saja ia melihat kearah kita. Lho? Kemana dia? “ Kyuhyun panik.

“Ia keluar dari ruangan tadi. Sepertinya ia cemburu dan salah sangka. Cepatlah kejar dia oppa.” Aku mendorong Kyuhyun untuk keluar ruangan. Dasar couple rusuh.

Tapi aku juga tidak melihat Ricky. Dia kemana? Ah! Itu dia! Eun Hye eonni lagi? Aigo, dia benar-benar. Tapi Eun Hye eonni itu sedang bersama namja lain kan? Hebat sekali eonni tertua ini. Ia punya dua namja .

Prok prok prok

Aku bertepuk tangan pelan. Aku sudah membulatkan pilihanku. Aku membenci Eun Hye eonni.

Saat semua orang berdansa dengan romantis termasuk couple rusuh-Kyuhyun&Hwa Yeon- Hebat sekali mereka sudah berbaikan. Aku hanya bisa diam dan duduk, Ricky tidak ada niatan untuk mengajakku berdansa? Ah, aku lupa. Kan masih ada Eun Hye eonni.

Entah berapa lama aku melamun, tiba-tiba mc acara tersebut berkata,

“ Ayo ayo, sekarang semua yeoja berbaris menyamping disebelah kananku, dan para namja berhadapan dengan para yeoja disamping kiriku. Ayo ayo.” Dengan langkah gontai aku menuju kesana. Mungkin akan sedikit membantu menenangkan pikiranku.

“Oke, sekarang kita akn bermain game!!! Kiss Competion. Oke, jadi nanti, lampu akan dimatikan, dan semua orang wajib mencari seorang pasangan klaian masing-masing untuk dicium dalam keadaan gelap gulita. Oke? mengerti semuanya? Pada aba-aba ke-3. 1…2…3…

Cleck

Mwo? Ini kiss competion? Aku harus apa? Ini gelap sekali! Eomma! Aku takut! Ricky!!

“Apa kau Hyo Jin?” aku kenal suara itu. Itu Ricky!

“Ricky?”

“Ternyata memang kau.”

Cup.

Ia menciumku dengan lembut. Astaga, ia menciumku setelah berselingkuh didepan mataku? Kau harus sadar, Hyo Jin.

Saat aku memberontak, aku menyesalinya. Karna semakin aku memberontak, ciuman itu semakin dalam. Ah, aku menyerah. Ricky tetap menciumku dengan lembut tak ada kesan nafsu dalam ciumannya.

Cleck

Ricky melepaskan ciumannya dan menatapku lekat. Aku hanya bisa menundukan kepalaku. Ia menagngkat daguku lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Ayo siap-siap. Sebentar lagi kita tampil.”

What the?! Kupikir dia akan mengatakan hal romantis! Ternyata … yah, aku sweatdrop seketika.

Akhirnya aku tampil bersama Ricky. Yah, aku tak dapat melihat wajah Ricky lagi. Setiap menatap matanya aku merasa tatapannya seakan menyelami pikiranku. Selama aku menyanyi aku hanya fokus pada lagu.

“Kau mengagumkan tadi” katanya.

“Gomawo.”

“Kau masih marah?”

“Ani”

“Baiklah kalau kau masih marah. ini untukmu”

Ricky memberikan setangkai mawar merah padaku. Ini romantis.

“Goma- eh?”

Saat hendak mengucapkan terimakasih . Ricky sudah menghilang.

Saat cari, aku menemukannya bersama Eun Hye eonni lagi. Lagi? Dan apa itu? Sebucket mawar kuning? Astaga, aku satu tangkai dan dia sebuket? Luar biasa.

Aku benci Eun Hye eonni.

.

.

.

“Hwa Yeon!” teriak Yoon Hee. Well, aku memutuskan untuk pulang bersama Hwa Yeon dan Eun Hye eonni. Walaupun suasana sedikit-sangat- canggung saat bersama Eun Hye eonni.

“Kajja eonni.” Hwa Yeon meninggalkan kami berdua. Kulihat Hwa Yeon sibuk dengan Yoon Hee. Dan aku hanya bisa diam tanpa menganggap ada nya Eun Hye eonni.

Sudah kubilangkan? Aku benci Eun Hye eonni.

­-TBC-

Wah, ini sangat aneh T_T

Maaf yah kalau geje..

Author 2 memang belum berbakat~

Jadi minta commentnya yah^^

Gomawo yang mau baca~

~Cho Hyo Jin