Archives

I Like You (좋아합니다)- Young K’s story-

Title       : I Like You (좋아합니다)- Young K’s story-

Cast       :

Kang Yong Hyun (Young K)

Cho Hyo Jin (OC)

*Young K POV*

Dia. Hanya dia yang bisa membuatku begini. Membuatku tak tau harus berbuat apa. Melihat matanya saja sudah membuat aku gagap. Begitu tangannya menyentuhku, tubuhku kehilangan keseimbangan yang membuatku harus mati-matian menahan lututku agar tidak tertekuk. Ini gila! Aku sungguh dibuat tak berdaya bila ada dia.

Kalian bisa saja mengataiku lemah. Tapi sungguh sejak awal aku tak dapat menutupi kegugupanku saat  bertemu dia. Iya, sejak dulu….

Min Ji    : “ Oppa! kenalkan ini temanku, Hyo Jin.”

                Jujur aku tak bisa mengalihkan mataku dari perempuan dengan seragam  sekolah yang sama dengan adik tiriku. Parasnya cantik, matanya tidak terlalu sipit, senyumnya yang manis ditambah lesung pipit di pipi kanannya, rambutnya yang ikal diikat satu tanpa poni yang menurutku menambah kesan manis. Tipeku.

Min Ji    :” Oppa!! Cepat beri salam! Jangan liat Hyo Jin terus! Kau seperti sedang melihat seorang pencuri.”

Aku        :”O-oh. Maafkan. Aku hanya sedang melamun. Ke-kenalkan aku oppa nya Min Ji, Yonghyun. Kang Yonghyun.”

Hyo Jin  :”Halo. Aku Cho Hyo Jin teman Min Ji. Aku sering mendengar tentang anda dari Min Ji, Yonghyun-ssi.”

                Sial, senyumnya semakin manis. Semoga Min Ji tidak menceritakan hal-hal yang memalukan tentangku.

Aku        :” A-ah.. begitukah? Kuharap itu cerita yang baik. Hehehe.”

Min Ji    :”Apa-apain itu? Anda? Yonghyun-ssi? Canggung sekali! Panggil saja dia Brian oppa. Ya kan ,oppa?”

Hyo Jin  :”Eh? Kan namanya Yonghyun, kok dipanggil Brian?”

                Sial. Dia sanggat imut. Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk seperti ini? Nampak tak ada celah untuk mengatakan ia tidak menarik.

Min Ji    :” Oppa ku ini dulu sempat belajar diluar negri dan sekelas dengan Jae. Entah kenapa mereka bisa beda tingkatan kelas saat SD dan akhirnya saat SMA mereka bisa seangkatan. Padahal Jae lebih tua darinya. “

Hyo Jin  :” Ah begitu. Apa aku boleh memanggilnya oppa? Ah, maksudku bolehkah aku memanggil oppa?”

                Aku sudah berkali-kali mengumpat karna mulutku yang tak bisa terbuka dan hanya bisa mengangguk. Detak jantungku bertambah cepat seiring dia berbicara.

Aku        :”Iya, kau boleh memanggilku oppa. Kau kan temannya Min Ji.”

Hyo Jin  :” Baiklah, Brian oppa. Hehehe”

                Sial. Aku mulai sesak napas. Apa yang harus aku lakukan?

Min Ji    :”Wow, Hyo Jin. Kau adalah orang kedua yang boleh memanggil nama Brian oppa  di Korea selain keluarga.”

Hyo Jin  :” Wah? Benarkah? Yang pertamanya pasti pacarnya? Benarkan oppa?”

                Ya, Song Min Ji! Kenapa kau harus mengatakan itu? Memang benar, aku sedikit terganggu dengan nama Brian di Korea. Aku lebih ingin dipanggil Yonghyun. Hanya keluargaku yang aku ijinkan memanggilku dengan nama Brian. Dan dua orang selain keluarga yang dimaksud Min Ji adalah dia dan…

Min Ji    :” Pacar darimana? Ia adalah oppa yang sangat susah untuk didekati perempuan karena terlalu cuek. Dan satu lagi,. Orang yang memanggilnya dengan Brian adalah Jae.”

Hyo Jin  :”Oh? Brian oppa tidak punya pacar? Aneh sekali. Padahal oppa tampan.”

                Sial. Entah sudah berapa kali aku mengatakan sial, tapi sungguh dia menggemaskan. Aneh katamu? Mengapa tidak kau saja yang jadi pacarku? Ingin sekali aku mengatakan itu. Namun sorot matanya sangat tajam tapi lembut miliknya membuatku tak bisa melakukan apapun. Akupun bingung menjelaskannya.

Aku dapat melihat lirikan Min Ji yang mengatakan bahwa ia tau kalau aku tertarik dengan temannya. Ia hanya tersenyum miring, mengejekku. Memang ya, walau kami bukan saudara kandung, tapi kami sangat dekat dan mungkin itulah yang membuatnya dapat mendeteksi perilaku ku. Dan sejak itu Min Ji sering mengerjaiku dengan berbagai cara yang akhirnya membuatku malu dan ia tertawa terbahak-bahak. Sial.

-Love Your Act-

Sudah berkali-kali aku masuk perangkap Min Ji. Dan seperti keledai yang bodoh, aku jatuh pada lubang yang sama. SELALU.

Seperti saat ini, Hyo Jin berdiri di depan pintu rumahku dengan bajunya yang membuatku tak dapat mengalihkan mata darinya-itu selalu terjadi saat aku melihatnya-. Rambut ikal yang ia gerai membuatnya semakin manis. Aku terkagum hingga aku terkejut akan sebuah tangan yang meraba keningku.

Hyo Jin  :” Oppa? Apakau demam? Kau terlihat pucat?”

DEG.. DEG..DEG..DEG..

Hyo Jin  :” Oppa? Brian Oppa?”

Aku        :”E-eh? Hyo Jin. A-apa kabar? Hmm.. K-kau mau ketemu Min Ji?”

Sudah ku katakan, aku gagap bila bertemu dengannya. Ia tertawa mendengar perkataanku.

Hyo Jin  :” Iya, Min Ji bilang bahwa ia mau mau belajar bareng dirumahnya. Nilai fisika ku tidak terlalu bagus, jadi aku minta diajarkan.”

Aku        :” O-oh iyakah? Ta-tapi Min Ji baru saja pergi dengan Jae. Kau taukan mereka baru saja jadian. Mereka sedang ke-kencan.”

Hyo Jin  :” Apa?! Lalu aku harus apa? Minggu ini ada ulangan fisika dan aku masih kurang mengerti materinya. Biar aku telpon dulu Min Ji.”

Astaga, ia semakin lucu ketika merajuk. Min Ji, walau terkadang aku sering membuatmu kesal tapi kau baik sekali mau mengirimkan malaikat ini.

Hyo Jin  :” Apa? Kau benar-benar sedang kencan? Lalu bagaimana dengan belajar bersama? Kau tau kan aku tidak ahli dalam fisika sepertimu? Apa? Kau bercanda? Aku tak mau. Aku malu. Baiklah.  Jangan! Awas saja bila nanti kau begitu.”

Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah ia menelpon Min Ji, ia berbalik dan sedikit menatapku. Sikapnya aneh.

Hyo Jin  :”Hmmm, oppa apa kau sedang sibuk?”

Aku        :”e-eh? Ti-tidak kok. A-aku sedang santai. Ada yang bisa aku bantu?”

Hyo Jin  :” hmm, Min Ji bilang oppa jurusan fisika. Apa oppa bisa mengajariku?”

Song Min Ji. Aku sangat bahagia memiliki adik sepertimu. Akan kudoakan agar kau dan Jae hyung cepat menikah.

Aku        :”Tentu saja boleh.”

Untuk pertama kali aku tidak gugup menjawabnya. Mungkin karna aku sedang bahagia. Siapa tau ini bisa menjadi kesempatan bagiku. Kulihat Hyo Jin senang dan langsung tersenyum. Sial, dia cantik.

Kini kami sudah berada diruang tamu. Ia bertanya tentang materi yang ia tidak mengerti. Kami sudah membahas seluruh buku cetak milik Hyo Jin. Mungkin memang karna anaknya rajin sehingga sekali kuterangkan ia langsung mengerti. Dan sekarang kami masih duduk bersebelahan. Aku berada disamping kanannya. Ia sedang meminum teh yang kusajikan tadi. Terkadang ia bertanya tentang keseharianku. Aku berusaha agar tidak gugup dan menunjukkan sisi gantleman ku. Aku pun menanyakan kesehariannya. Dan ia jawab dengan antusias. Tak sadar aku tersenyum dan menatapnya dengan tatapan kagum. Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan menundukkan kepalanya. Aku bingung.

Hyo Jin  :”ehm, oppa. Bisakah kau tidak melihatku seperti itu? Aku malu.”

Astaga, mukanya memerah. Jangan tanya mukaku. Keheningan mendatangi kami. Ah, sudah terlanjur. Lebih baik aku katakan saja. Sudah basah kenapa tidak mandi sekalian? Aku mengubah posisi dudukku menjadi menghadap Hyo Jin. Ku tarik tangan Hyo Jin  dan sudah jelas kalau Hyo Jin kaget.

Hyo Jin  :” O-oppa? Kenapa? “

Aku        :” Aku suka kamu. Sejak dulu. Dari pertama bertemu. Awalnya karna parasmu, tapi semua tentangmu aku suka.”

Hyo Jin terdiam dan tersenyum kemudian. Semoga itu pertanda baik.

Hyo Jin  :”Ku kira butuh waktu yang lebih lama untuk meluluhkan oppa yang sangat cuek namun selalu gugup saat bertemu. Kau sudah berjuang agar tidak gugup oppa.”

Aku        :” Jadi?”

Hyo Jin  :” Oppa akan menjadi milikku. Hmmm… agar oppa menjadi milikku, oppa harus punya nama baru. Aku  tidak akan memanggil oppa dengan Brian oppa ataupun Yonghyun oppa.”

Aku        :” Lalu kau memanggilku apa?”

Hyo Jin  :” Hmmm… Young? Young K? Young K!”

Aku        :”*bingung* artinya?”

Hyo Jin  :”Young dari Yonghyun. Dan K untuk Kang!”

Aku        :” Hahahaha… kau lucu sekali.”

Hyo Jin  :” Ingat! Yang boleh memanggil oppa Young K hanya aku saja!”

Aku hanya tertawa. Sesukanya sajalah. Asal dia bahagia, aku rela dipanggil apa saja. Young K? tidak buruk. Tak apa aku dimonopoli olehnya. Aku senang.

-Epilog-

*Min Ji POV*

Drrr drrrr drrrrr

Untuk apa anak ini menelponku? Baru kutekan tombol untuk menerima panggilan ia sudah mengatakan kalimat yang membuatku bingung.

Hyo Jin  :” Apa? Kau benar-benar sedang kencan? “

Min Ji    :” Kau sudah tau itu, Min Ji. Kau yang menyuruhku pergi.”

Hyo Jin  :”Lalu bagaimana dengan belajar bersama?”

Min Ji    :” Itukan hanya rekayasa kau saja, sayangku. Rencanamu sendiri.”

Hyo Jin :”Kau tau kan aku tidak ahli dalam fisika sepertimu?”

Min Ji    :” Apa kau lupa kau selalu dapat nilai 100 dalam ujian fisika mu? Kau bahkan juara olimpiade fisika. Sedangkan aku hanya mendapat nilai 80 saat ujian.”

Hyo Jin  :”Apa? Kau bercanda? Aku tak mau. Aku malu. “

Min Ji    :”Sesukamu lah , Cho Hyo Jin. Semoga berhasil dengan rencanamu. Jangan lupa kabari aku tentang progressnya. Agar aku dapat mengejekmu dan oppa”

Hyo Jin  :”Baiklah.  Jangan! Awas saja bila nanti kau begitu.”

Tutttttt

Langsung kututup telpon darinya. Astaga ternyata ini bagian dari rencananya? Sungguh Cho Hyo Jin. Kau aktris yang hebat.  Sejak awal aku tau bahwa mereka saling tertarik. Dan asal kalian tau, Hyo Jin lah yang selama ini sangat agresif. Ia memaksa agar dapat ke rumah ku dengan alasan belajar bersama atau mau pergi bersamaku tapi aku disuruh untuk tidak ada di rumah atau sering meninggalkan mereka berdua. Ia bilang ia sangat senang saat melihat Brian oppa terlihat gugup. Ia jelas tau sikap Brian oppa. Ia jurusan psikologi yang artinya ia mempelajari perilaku manusia. Memang licik perempuan satu itu. Untung saja aku tau kalau ia sangat menyukai oppaku dan aku tau dibalik kelicikkannya ia sangat baik.

Jae datang dan bertanya tentang apa yang terjadi pada Hyo Jin, ya sudah ku ceritakan saja. Dan hasilnya ia terbahak-bahak. Sekitar 2 jam setelah itu handphone ku berdering. Aku dan Jae membacanya lalu tertawa bersama. Kita lihat saja apa yang akan kulakukan pada mereka berdua.

From : Hyo Jin

Subject : Mission Complete!

‘Besok katakan apa yang kau inginkan. Asal tidak lebih dari 100 won”

_Part2End_

Haiiii… Author 2 balik lagi dengan chapter!!! Ini author bikin dengan latar video clip nya DAy6 yang When you love someone pas adegan Brian oppa ngeliat cewe yang di ayunan itu loh!! Bikin baper ><

Tunggu chapter selanjutnya yaaaa!!!!!

 

 

 

Advertisements

I Like You (좋아합니다)-Jae’s Story-

Title : I Like You (좋아합니다) –Jae’s story-

Cast :

Jae Day6

Song Min Ji(OC)

*Jae POV*

                Hai, aku Jae! Nama panjangku Park Jaehyung. Aku adalah orang yang bisa dibilang sial. Sial karna harus mengulang masa sekolahku, sial karna dipandang sebagai nerd abadi. Mungkin semua bingung mengapa aku dipanggil nerd tetapi mengulang masa sekolahku. Jadi aku baru pindah ke Seoul saat aku berumur 8 tahun. Dan sebelumnya aku tinggal di LA. Bukannya sombong, tapi aku adalah anak akselerasi dimana aku ditempatkan di kelas 6 sekolah  dasar saat aku di LA. Dan saat aku masuk sekolah baruku, aku ditempatkan dikelas yang seusia denganku karena sistem akselerasi belum berjalan di Seoul. Dengan berat hati aku dan keluargaku mengikhlaskan hati.

                Pandanganku menyebar ke seluruh penjuru kelas. Hmm, hanya anak-anak yang belum dewasa dengan minat belajarnya kurang. Aku rasa masa sekolahku akan berlangsung dengan kebosanan setiap saat. Tapi ada sesuatu yang menarik minatku. Ada seorang anak perempuan yang sibuk dengan clay. Ia punya teman, tetapi temanya asik ngobrol dan dia sibuk dengan clay nya. Dari bentuknya ia sedang membuat bunga. Bagus sekali bentuknya dan detail yang sangat rinci. Ia tersenyum melihat hasil karya nya. Dan menurutku itu sangat manis dan polos.

“ Baiklah anak-anak . kita kedatangan teman baru. Ayo kenalkan dirimu” ucap guru itu.

“Hello. Aku Jaehyung. Park  Jaehyung. Aku pindahan dari LA. Senang bertemu dengan kalian.” Ucapku singkat. Aku lihat anak perempuan itu menatapku kagum. Apa yang keren sih sampai dia menatapku  lekat?

“Baiklah, Jae. Kau duduk sebelah Min Ji ya. “ ucap guruvitu sambil menunjuk perempuan yang sejak tadi menarik perhatianku. Oh ternyata namanya Min Ji.

                Aku melangkahkan kakiku menuju meja paling belakang di pojok kanan kelas. Aku lihat Min Ji seperti antusias dan segera menggeser kursinya agar aku bisa duduk. Aku duduk dan menatapnya. Sungguh ia amat manis dan matanya seakan mengatakan bahwa ia kagum terhadapku.

“Hei, kau taka pa-apa? Kau sudah melihatku sejak tadi dan tidak berkedip. “ tanyaku.

”Ah, maaf. Aku hanya takjub karna baru pertama kali aku melihat orang luar negeri. Kau keren sekali.” Jawabnya polos.

“Orang tua ku asli korea. Aku hanya lahir dan besar di LA. Jadi aku tidak sepenuhnya orang luar negeri.” Ucapku sambil tersenyum.

“Tapi kau terlihat tampan dan keren seperti orang luar negeri. Oh iya, namaku Min Ji. Song Min Ji. Senang berkenalan denganmu.” Ia tersenyum lebar padaku.  Dan sejak itu aku selalu bersama Min Ji. Hingga akhi rnya aku  tau kalau aku adalah orang  yang memiliki kesialan yang lebih besar dari sebelumnya. Aku menyukai sahabat kecilku.

-Are We Friends?-

                Yah , aku sangat sial.  Perempuan yang telah menjadi sahabatku selama 9 tahun ini masih berstatus sahabatku. Pada awalnya aku hanya menganggap ini hanya cinta monyet yang nanti akan hilang dengan sendirinya. Tapi nyatanya semakin lama aku semakin sayang padanya. Walau aku terlalu takut akan mengusik persahabatan kita.

Kini kami sudah berada di perguruan tinggi. Aku jurusan seni music dan Min Ji seni rupa. Banyak yang menganggap aneh tentang jurusanku. Aku yang terkenal di sekolah karna nerd memilih music untuk jurusanku. Semua orang menganggap aku aneh. Tapi hanya Min Ji, orangtuaku,dan sahabatku saja yang tidak mengejekku. Mereka semua tau apa yang memang menjadi minatku. Terlebih Min Ji. Ia sangat peduli padaku. Dan itulah mengapa aku tidak bisa berpaling darinya. Aku tidak bodoh untuk mengetahui bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapia pa yang bisa ku perbuat? Hanya berada disampingnya sudah sangat cukup

“Yo, Jae hyung! Sedang apa kau? Memikirkan Min Ji? Aigoo..” Yonghyun mengagetkanku dari daydream ku. Ya, yang tau aku menyukai Min Ji sudah banyak, termasuk orangtuaku. Bukan hal yang aneh jika orangtuamu dapat menebak perasaan anaknya pada seorang perempuan yang sejak dulu sering bermain ke rumahku. Dan lebih parahnya, orangtua Min Ji juga tau aku suka padanya. Hah..

“Hyung, kalau kau seperti ini bagaimana nanti saat Min ji menemukan lelaki idamannya dank au tidak lagi disisinya? Kau masih bahagia?” kata Dowoon yang paling muda namun enath bagaimana bisa seangkatan denganku dan Yonghyun .

Benar, jika dia sudah menikah dengan lelaki lain aku harus apa? Segera aku mencari Min Ji. Aku mendengar Dowoon dan Yonghyun sudah tertawa terbahak-bahak. Aku tidak peduli. Aku hanya harus mencari Min Ji dan mengungkapkan perasaanku selama ini padanya. Aku tidak peduli dia akan menolak dan menjauhiku.

*Min Ji POV*

Hai aku Min Ji. Song Min Ji.  Menurutku, aku adalah orang terberuntung. Kenapa? Karna aku bisa bertemu dengan Jae! Sejak sekolah dasar aku sudah kagum padanya, dia seperti orang luar negeri yang sangat tampan. Aku bingung mengapa semua orang bilang Jae adalah nerd? Untukku dia keren, dengan kacamatanya ia terlihat pintar dan semakin menarik.

Ya, sejak awal aku sudah menyukai Jae, dari pertamakali ia mengajakku berbicara. Dan ia pandai dalam berbahasa inggris, poin plus untuk itu. Badannya tinggi tapi tidak banyak otot sehingga banyak yang bilang ia memiliki badan seperti kayu. Tapi itu tidak mengurangi kekerenan Jae. Anggap saja aku dibutakan oleh cinta. Tapi begitu adanya, aku sangat mengagumi Jae. Saat di SMP, aku baru mengetahui bahwa ia sangat jago bermain gitar dan suara nya sangat indah untuk didengar. Banyak siswi yang menyukainya dan menyatakan perasaannya, tapi Jae selalu menolaknya. Aku bingung. Apa jangan-jangan ia tidak suka perempuan?

“Tidak, Min Ji. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.” Kataku tanpa sadar sambil berjalan menuju tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul. Mataku tak focus ,dan secara tiba-tiba ada orang yang menabrakku hingga aku terjatuh. Sakitnya tidak seberapa, malunya itu lohh

“Hey, hati –hati kalau sedang berjalan!” ucap perempuan yang menabrakku. Aku hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Tak lama ada tangan yang mengangkatku dari posisi terjatuh. Dan dia adalah Yonghyun oppa. Yonghyun oppa adalah oppaku. Kami memiliki nama belakang yang berbeda karna aku diadopsi oleh keluarga Kang dan aku menolak untuk mengganti nama belakangku. Jae oppa juga tau hal ini, itulah yang membuat Jae dekat dengan Yonghyun oppa.  Walaupun Jae lebih tua dariku dan Yonghyun oppa, Jae tidak pernah menyuruhku memanggilnya oppa. Entah alasannya apa.

“Ya, sedang apa kau dilantai? Cepat rapihkan bajumu. Kalau Jae hyung melihatmu, ia pasti sudah berlari dengan panic menujumu.” Aih.. oppa ini. seluruh keluargaku tau kalau aku menyukai Jae. Kadang saat Jae main ke rumahku, pasti orangtuaku akan mengejek kami. Aku tak ingin Jae risih. Tapi untungnya Jae masih main ke rumahku dan masih mengundangku ke rumahnya,

“Hey, jangan melamun. Kau bisa kesambar petir sayang. Daripada melamun lebih baik kau menyatakan perasaanmu pada Jae hyung.” Ucap Yonghyun oppa. Aku berdecih .

“Oppa, aku ini perempuan yang tidak mau membuang harga dirinya hanya untuk menyatakan perasaan duluan dan berakhir ditolak. Aku juga sudah bahagia seperti ini. “ ucapku .

“Kau yakin? Kalau dia menikah bagaimana?kau masih akan bersama dengannya?”

JLEB

Aku tidak pernah berfikiran hal seperti itu!!! Bagaimana jika Jae menikah dengan perempuan lain? Aku belum siap! Aku akan mencari Jae dan mengungkapkan semuanya.

*other POV*

Kita semua tau bahwa sesungguhnya mereka saling mengejar, namun tidak ada yang berani menunjukan perasaannya karna ikatan persahabatan. Memang persahabatan mereka benar-benar menjadi penghalang terbesar bagi mereka.

Akhirnya mereka berdua dipertemukan di sebuah taman yang sepi. Dua –duanya mengatur nafas sambil menyelami mata satu-sama lain. Jae maju satu langkah dan Min Ji melakukan hal yang sama hingga akhirnya mereka sangat dekat.

“AKU MENYUKAIMU SEJAK PERTAMA KALI BERTEMU DENGANMU! JADILAH PACARKU!” ucap mereka bersamaan. Mereka tertegun dan tertawa bersama. Jae memeluk Min Ji dengan erat.

“Sungguh, percayalah padaku. Aku sangat menyukaimu sejak dahulu. Sejak kau mengajakku berbicara dan mengatakan aku keren. Aku jatuh hati dan tidak bisa melepaskan pandanganku darimu.  I like you. Really like you.” Ucap Jae yang diakhiri dengan sebuah kecupan manis dibibir MinJi.

“Jae kau tau aku selalu menyukaimu. Namun kau terlihat selalu menjaga jarak denganku. Aku pikir kau benci denganku.” Min Ji memeluk Jae lebih erat. Jae hanya tertawa dan tidak menjawab Min Ji. Sejak saat itu mereka bersatu danmenajdi sepasang kekasih. Bertahun-tahun berlalu dan akhirnya mereka menikah. Dan Jae sudah bekerja di sebuah label terkenal sebagai songwriter dan Min Ji menjadi guru kerajian tangan. Mereka hidup bahagia J

_Part 1 End_

Haiiii,… Author 2 kembali dengan i like you: jae’s story~~ semoga kalian semua suka yaaaa ~~ Tunggu Young K’s story dan Dowoon’s story nya yaaaa~~~~

 

 

 

I Like You (좋아합니다)

Tilte       : I Like You

Cast       :

Jae Day6

Young K Day6

Dowoon Day6

Genre   : romance

PROLOGUE

*normal POV*

Sebuah café yang terletak dipusat kota Seoul itu hanya berisikan tiga orang, tetapi tidak membuat suasana café tersebut menjadi sepi yang ada hanya tawa dan senyum dari semua orang. Jae tak henti-hentinya bercerita hal yang konyol sehingga Yonghyun selalu terbahk-bahak menanggapinya. Dowoon yang sibuk menyiapkan minuman untuk semua orang . Café ini milik Dowoon dan wanita yang ia sayangi.

Mereka semua sudah menikahi wanita yang mereka cintai. Jae dan Yonghyun menikah lebih dahulu dari Dowoon. Jarak antara pernikahan tidak terlalu jauh. Jae menikah dibulan Maret, Yonghyun menikah di bulan April dan Dowoon di bulan Mei.

“Jja, minum semuanya. Acara reuni ini tak usah bayar! Aku traktir kalian sampai puas!” kata Dowoon sambil menghampiri  dan Yonghyun yang masih sibuk tertawa bersama.

“Akhirnya aku bisa minum tanpa harus khawatir besok kerja.” Jae langsung memeluk Dowoon yang dihadiahi Dowoon  pukulan kecil pada punggung Jae.Yong hyun masih tertawa terbahak-bahak.

“ Hyung, aku tidak akan dimarahi istrimu kan?” Tanya Dowoon kepada  Yonghyun.

“Tak apa, tadi dia sudah bilang tidak ada apa-apa bila aku minum banyak. Karena hari ini hari special aku harus minum banyak hahaha.” Yonghyun duduk sambil mengambil satu buah botol soju dan meminumnya langsung dari botol itu.

“Wow! What a real man!” Jae mengatakan hal tersebut sambil mengambil botol soju dan meminumnya seperti Younghyun.

“Hyungdeul, bagaimana kabar kalian? Setelah menikah kita semua tidak sering bertemu dan berbincang. Untung saja besok libur besar sehingga kita libur semua.” Dowoon membuka percakapan.

Jae dan Yonghyun bercerita panjang tentang pekerjaan mereka. Jae bekerja sebagai song writer di sebuah label ternama yang banyak menghasilkan penyanyi terkenal. Sedangkan Yonghyun membuka studio musiknya sendiri yang sering digunakan banyak penyanyi terkenal untuk merekam. Perbincangan mereka makin dalam seiring dengan botol soju yang habis dan Dowoon dengan senang hati mengambil botol unutk ronde kedua. Saat Dowoon kembali ke meja, mereka langsung mengambil botol soju dan mulai berbincang lagi.

“Ah, aku jadi ingat masa kita kuliah. Disaat kita semua bertemu dengan istri kita sekarang. Rasanya baru kemarin kita kuliah dan sekarang Boom! Kita sudah sibuk dengan dunia kerja. “ ungkap Jae.

“Ya, masa kuliah merupakan masa yang indah. Kecuali tugas dan kerja kelompok yang sangat menyebalkan itu. Tapi untungnya semua manjadi indah karna bertemu wanitaku. Walau aku hampir bertengkar denganmu, Dowoon. Hahaha.” Ucap Yonghyun sambil menyenggol Dowoon. Semua tertawa. Dan memang benar, hampir saja persahabatan mereka hancur.

“Itu salahmu juga hyung! Kau tidak peka sekali sih. Hahaha” Dowoon tertawa setelah mengatakan itu. Para pria itu mulai meminum dan berbicara lagi tentang kenangannya masa lalu di saat mereka masih menjadi mahasiswa baru dan mulai mengalami banyak hal yang berakhir dengan kebahagian.

Penasaran dengan kisah mereka ? Tunggu di chapter selanjutnya J

———————– To Be Countinue———————-

Hai semua, author 2 bali klagi dengan chapter lagi J maaf banget FF chapter yang lainnya belum sempet diupdate lagi karna data nya ilang L nanti pasti author 2 update kok! Thank Youu :*

IT HAPPENS TO BE THAT WAY

Title       : It Happens  To Be That Way

Cast       :

Seo In Guk        Jeong Eun Ji

Park Boram      Lee Sunggyu

Genre   : romance, drama

                        Annyeong!!! Setelah bertahun-tahun hiatus dari spicywing, akhirnya Author 2 kembali dengan ide yang biasa-biasa aja. Hehehe… mungkin dengan hiatus ini author 2 makin gak jelas ceritanya. Tapi cerita ini author persembahkan buat readers!! So, check this out!!          

Prologue

*Eun Ji POV*

7 Desember 2017

                        “Ya! Eun JI-ya!!! Kau sudah dengar berita hari ini? Daebak! In Guk oppa punya hubungan dengan Park Boram! JAdi bukan pacaran denganmu?”

                        “Eun Ji-ya, kenapa tidak pernah memberitahu kita? Kita pikir dia pacaran denganmu.”

                        “1,5 tahun? Lama juga ternyata. Kupikir dia punyamu.”

Entah sudah berapa kali kalimat itu dilontarkan padaku. Aku hanya menjawab ‘Ne’ dan ’Ani’. Semua pertanyaan pasti berakhir dengan semua orang yang berfikir jika selama ini In Guk oppa dan aku mempunyai hubungan yang lebih dari sahabat karna drama Reply 1997.

Sejujurnya aku pun kaget mendengarnya. Aku tak menyangka bahwa hubungan mereka terungkap. Aku tau semuanya. Tapi aku hanya bisa diam. Apa hak ku untuk memberitahukan hal ini pada semua orang. Mereka sekarang menjadi topic yang sangat sering dibicarakan.

Ahh, enak ya sepertinya mempunyai seseorang yang akan menemani di tahun baru. Aku pun ingin seperti itu. Sayangnya aku tak bisa. Sudahlah, daripada aku kesal sendiri lebih baik aku keluar dan membeli sesuatu untukku makan. Baru saja aku akan menutup pintu datanglah Changseob oppa dan MinHyuk oppa.

“Oh, EunJi. Kau mau kemana? Kami datang untuk membawakan ini. Aku membelikan tteopokki dan sundae.” Ucap Minhyuk oppa. Aku bingung. Dalam rangka apa mereka membelikan itu?

“Ah, terimakasih oppa. Tapi kenapa?” tanyaku bingung. Bukannya menjawab, Changseob oppa malah memelukku. Aku semakin bingung.

“Tidak ada maksud apa-apa. Kami hanya kebetulan sedang ada di daerah apartementmu. Lalu ingin melihat keadaanmu. Kau tidak menangiskan? Apa kau mengurung diri karna berita itu? Astaga aku khawatir, Eun Ji. “ kata Changseob oppa. Oppa yang satu ini sekalinya bicara panjang sekali.

Ah, aku sekarang mengerti kemana arah pembicaraan ini. Mereka tau tentang itu. Astaga aku harus mendengarkan ini lagi. Sungguh menyebalkan.

“Eii, oppadeul. Aku tidak menangis. Lagipula kenapa aku harus menangis harusnya aku bahagia dengan hubungan mereka. Kalian ini sangat menyebalkan.” Jawabku ketus.

“Hmm, memang sih. Ahh, dulu saat aku menonton Reply 1997, aku sangat bahagia melihat kalian berdua sebagai couple. Dan selama ini aku mengira kau benar-benar berpacaran dengannya. Aku akan sulit meliha moment kalian berdua lagi.” Ucap MinHyuk oppa.

“Benar. Aku sampai berfikir apa kalian tidak terkena cinta lokasi saat itu? Karna pribadi kalian sangat cocok dan banyak yang mendukung kalian. Kenapa tidak bersatu saja kalian?” ucap Changseob oppa.

“Aish, oppa. Sudahlah. Jangan bergosip. Terimakasih tteopokki dan sundaenya. Aku jadi tidak usah keluar hehe. Nah, sekarang pergi sebelum aku mengusir dengan cara lain. Bye.” Kataku cepat dan langsung masuk ke dalam apartementku. Kata-kata mereka terngiang di kupingku.

 ‘Dan selama ini aku mengira kau benar-benar berpacaran dengannya.’

“Oppa pikir aku tidak berharap,eoh?”            

                        ‘Kenapa tidak bersatu saja kalian?’

                        “Kata siapa aku tidak ingin bersatu dengannya? Hah?”

Aku terdiam di depan pintu. Menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sebenarnya aku rasakan.  Ya, aku hanya memberikan jawaban palsu di depan mereka. Dan dari situlah aku tahu kalau hidupku akan berbeda dari yang sebelumnya.

-To Be Continue-

Uwaaaaa… Bagaimana? Apa prolog nya bikin penasaran?? Semoga Auhtor bisa beresin FF ini dengan baik dan benar yaa.. Btw, ini hanya cerita Author yang masih berharap In Guk oppa sma Eunji eonni. Tapi Author gak benci kok sama Boram eonni. Dan Author berharap yang terbaik untuk mereka berdua J Sampai ketemu di Part1 ya!!! Annyeong!!!

Chewing Gum Part 2~

Title: Chewing Gum

 

Cast:

Song Min Ji (OC)

Lee Min Hyung (Mark NCT)

Other:

Lee Byung Hyun (L.Joe Teentop)

Cho Hyo Jin(OC)

Jisung NCT

Genre: romance, drama, schoollife

Leght: Chapter

Rat: G

Author 2 is back!!!

Makasih udah nungguin Author 2*geer*

Di chapter 2 ini Mark POV semua yah..

Udah ah basa basi nya. Langsung ke cerita nya aja yaaaa..

Happy reading!!

Chapter 2

“I Want to Know All About You”

“Jadi kau tidak takut dengan fans ku?”

Hah! Sampai kapan aku harus menjadi orang  yang dicampakan oleh mereka? Dan apa itu maksudnya Min Ji sering mengelus rambut Jisung? Entah kenapa aku mulai kesal mendengarnya.

Well, aku baru mengenal Min Ji tadi pagi karna kejadian tadi. Aku tertarik dengannya. Bukan nya aku menyukainya, tapi aku hanya  terarik dengan nya. Dia berbeda dengan yeoja lain yang berisik seperti sahabatnya itu.  Memang aku kesal dengan nya tadi pagi tapi wajah marahnya terlihat lucu dan imut sekali.

Tidak! Aku tidak menyukainya. Aku hanya tertarik dengan nya. Ingat itu!

Kulihat wajahnya menegang. Lucu sekali wajahnya. Aku hampir tertawa melihatnya. Ternyata menyenangkan menjahili yeoja ini.

“Emm.. bukan begitu maksudku Mark. Aku pun takut pada fansmu.” Min Ji menundukan kepalanya. Apa dia takut?

“ Ada apa ini, hyung?” Tanya Jisung sok polos. Aku hanya menatapnya seolah berkata’Jangan berpura-pura . Kau tau semuanya ,bocah’

“Tak ada apa-apa Jisung. Bagaimana kalau noona mentraktirmu makan hari ini? Ayo kita pergi!” terimakasih pada Hyo Jin karna telah menarik Jisung bersamanya dan meninggalkan aku dan Min Ji. Suasana semakin awkward.

“Aku kan sudah meminta maaf padamu. Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu.” Ucapnya dengan imutnya.

“Bertanggung jawab? Apa kau yakin?Lihat, kukira hanya kakiku yang memar ternyata tanganku juga memar.  Kalau kau bersedia aku akan menerima tawaranmu.” Ucapku nakal. Hey, tidak ada salahnya menjahili nya kan? Sejujurnya memar yang kurasa sudah tidak terlalu sakit. Tapi siapa tau ini kesempatan yang bagus untuk dekat dengannya.

Apa? Kalian bilang aku menyukai nya? Tidak. Aku hanya ingin tau lebih dalam tentang dia. Sepertinya ini akan menyenangkan. Itu saja.

“Iya. Aku akan bertanggung jawab. Jadilah assisten pribadiku di sekolah.” Ucapku sambil memasang tampang serius.

“Assisten?Bagaimana bisa? Kita berbeda kelas dan aku tak tau jadwalmu. Aku bahkan tidak tau kau tau namaku atau tidak.” Jawabnya. Astaga Song Min Ji! Kau ini kenapa bisa lucu sekali! Dia menanyakan apakah aku tau namanya atau tidak? Demi temannya, Hyo Jin yang sangat berisik itu! Sudah jelas saat tadi pagi Hyo Jin memanggil namanya dan bahkan tadi Jisung pun memanggilnya.

“ Saat istirahat kau harus mengikutiku. Dan saat pagi hari kau harus sudah ada di sekolah untuk membawakan barang-barangku. Dan untuk masalah jadwal, aku akan mengirimkannya lewat line. Jadi berikan id line mu sekarang juga!” Ia hanya terdiam dengan mata membesar. Kenapa dia bisa selucu ini?

“Apa kau baru saja meminta id lineku?” tanyanya masih dengan ekspresi yang sama.

“Iya. Cepat! Hari ini sekolah meliburkan sekolah karna ada rapat mendadak. Aku ingin pulang dan istirahat.” Min Ji langsung mengeluarkan Handphonenya. Kami bertukar id line dan aku mencoba meng- call Min Ji. Segera aku mengambil Handphone Min Ji dan mengganti username ku dari “Mark Lee” menjadi “My Man,The Handsome Lee”

“Ya! Kenapa  kau mengganti username nya dengan itu?” ia telihat kesal melihat usernameku.

“Memang nya aku salah? Aku sangat tampan.” Ucapku percaya diri. Banyak orang bilang aku sangat judes dan cuek. Sesungguhnya aku tak seperti itu. Aku hanya menunjukan sifat asliku pada orang yang memang dekat denganku. Bahkan dengan member lain pun aku tidak menunjukan sifat asli ku sepenuhnya. Aku yang sebenarnya adalah namja yang sedikit jahil dan terlalu percaya diri.

“Oke. Untuk itu terserah saja padamu. Tapi,apa apaan itu ‘My Man’? Kau kan bukan namjachingu ku.” Wajahnya memerah! Apa dia suka padaku? Menggemaskan sekali dia.

“ Kau ingin aku menjadi namjachingu mu?” godaku. Ternyata ini memang menyenangkan.

KRINGGGG

“Angkat lah. Siapa tau penting.” Kata Min Ji. Aku mengeluarkan Handphone yang tadi nya sudah kumasukan ke saku.

L.Joe Hyung

Aish, L.Joe menggangguku saja. Biarkan saja lah. Mungkin dia sudah sampai depan sekolah untuk menjemputku.

“Hey,kenapa kau tidak menjawabnya?” Tanya Min Ji.

“ Tak penting. L.Joe hyung hanya memberitahuku kalau dia sudah sampai di sekolah untuk menjemputku.” Jawabku santai. Kulihat matanya membesar dan tangannya menutup mulutnya. Seperti orang yang terkejut.

“Kau adiknya L.Joe Oppa? L.Joe TeenTop?”

Jangan bilang dia adalah ANGEL(fans TeenTop). Jika benar aku akan mendiamkan L.Joe hyung saat dijalan.

“Iya. Aku dongsaeng nya L.Joe Teentop. Wae?” Kumohon jangan bilang kau adalah ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau adalah ANG…

“Aku adalah ANGEL!! Astaga, kenapa aku tidak melihat info kalau kau adalah adik nya L.Joe Oppa?” Ah sudah selesai. Dia tertarik dengan L.Joe hyung. Aku sedikit membencimu hyung.

“ Well, aku dan hyung merahasiakannya. Aku tidak ingin dikenal sebagai adik dari L.Joe Teentop. Kau harus merahasiakannya! By the way, kau suka siapa di TeenTop?”aku mencoba untuk tenang agar nanti jika Min Ji menjawab dia menyukai L.Joe hyung , aku tidak akan langsung memukuli hyungku itu.

“ Hmm.. aku suka semua tapi aku paling suka Ricky Oppa.”jawabnya sambil tersenyum.  Manisnya. Aku sedikit lega karna jawabannya bukan L.Joe hyung.

“Tapi kau harus tau kalau aku dulu lebih suka L.Joe Oppa daripada Ricky Oppa karna dulu L.Joe Oppa itu tipeku.”

BOOOM

Seperti terkena bom hatiku hancur mendengarnya. L.Joe hyung adalah tipenya? Aku bersaing dengan hyungku sendiri? BERSAING? Ah, aku sudah tidak peduli. Terserah kalian ingin mengatakan jika aku menyukai Min Ji.

“Tapi sekarang banyak yang menyukai L.Joe Oppa. Jadi aku tertarik dengan Ricky Oppa. Dan akhir-akhir ini TeenTop semakin terkenal dan semakin banyak yeoja cantik yang menyukai mereka. Aku tak mungkin bisa menandingi yeoja -yeoja cantik itu. Jadi aku sedang  mencari idol yang fans nya sedikit.” Katanya.

“Jadi kau tidak suka idol yang banyak fans? Kau unik dan berbeda.” Jawabku. Ia tersenyum  ke arahku.

“ Begitulah aku. Aku adalah yeoja yang berbeda dari yeoja lain nya.” Senyuman manis nya terlihat lagi. Aku bisa diabetes kalau begini ceritanya.

“Apa aku harus tidak terkenal agar kau menyukaiku?”godaku lagi. Kulihat ia kaget dan sedikit tertawa.

“Bagaimana caranya kau jadi tidak terkenal jika kau sudah debut di dua sub-unit dan memiliki ketampanan seperti itu? Haha..” Ia tertawa lepas. Waw! Dia bilang aku tampan! Rasanya sangat aneh. Banyak orang bilang aku tampan tapi rasanya berbeda saat Min Ji yang mengatakannya padaku. Aku memutuskan untuk diam dan melihatnya tertawa sepuasnya.

“Jadi kapan kita akan pulang nae namdongsaeng ??”

“Ah! Hyung! Kau mengagetkanku!” Ternyata L.Joe hyung datang mencariku. Ia seperti bertanya-tanya siapa yeoja yang ada di sebelahku. Sedangkan aku melihat raut Min Ji yang berubah menjadi malu-malu dan itu sangat manis. Aku mendadak kesal karna wajah manis itu ditunjukan bukan untukku.

“ Hmm.. Anyeong, yeppeun yeoja! Aku hyung nya Mark. L. Joe imnida.” Sapa hyung pada Min Ji. Min Ji sepertinya tak tau harus bagaimana karna ia lebih memilih untuk tersenyum malu pada hyung.

“Ah, Aku Min Ji. Song  Min Ji imnida. Dan aku seorang ANGEL.” Aku muak dengan ini. Kenapa yeoja ini harus suka pada hyung.

“Aigoo… Kau manis sekali! Karna kau dekat dengan Mark, aku akan memberikanmu pelukan khusus untuk ANGEL” hyung memeluk dan membelai rambut Min Ji dan Min Ji terlihat senang. Ah, aku semakin muak disini.

“Hey! Hentikan hyung! Dia sekarang punyaku! Jangan ambil punyaku. Cari saja yang lain.” Aku melepaskan tangan L.Joe hyung dari Min Ji. Hyung tertawa melihatnya.

“Apa salahku? Dia ini fansku. Jadi terserah hyung dong.” Aish, aku tak pernah menang dari hyung ini. Lebih baik aku membawa hyung pergi sebelum rasa suka Min Ji   kembali.

“Sudahlah hyung. Ayo kita pulang! Aku lelah! Dan kau jangan lupa buatkan kau sarapan dan makan siang untukku. Bye .” Aku meninggalkan Min Ji yang masih diam. Lucu sekali dia.

“Hey, dia itu siapa?” Tanya hyung padaku. Aku hanya tersenyum.

“Seseorang yang penting. Jangan ambil dia hyung!”

“Kita liat saja nanti.” Hyung ku ini sedikit lebih nakal daripada ku. Huh! Aku tak pernah menang melawannya.

“Mark? Kau adiknya L.Joe?!” Oh tidak! Ini akan menjadi bencana!

-TBC-

 

Haiiiiiii….

Gimana part 2 nya ?? Maaf yah kalau kurang rame. Oh iya , FF ini gak bilang kalo Teentop itu gak terkenal tapi Teentop lebih terkenal akhir-akhir ini daripada dulu. Jadi gak bermaksud bash Teentop loh. Kan Author Angel juga ^^

Anggap saja L.Joe Teentop itu  hyung nya Mark yah . Author gak tau lagi mau siapa yang jadi hyung nya Mark. Dan nanti kira-kira da tiga couple dalam cerita ini. Masih rencana loh ini.

Nah untuk mencari satu couple lagi kalian boleh request siapa yang mau dimasukin kedalam cerita ini.

Dan kalau bisa masih ada hubungannya sama cast nya yah^^ Ditunggu respon nya chingu!!!

Mian kalau masih banyak typo ,seperti yang Author bilang, readers pasti bisa ngerti apa yang Author maksud^^

Anyeong~~

 

 

 

 

 

Tell me what is love // part 1

Tittle: Tell me what is love

Author: Kim Hwa Yeon

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other cast:

Other Sj member | Park Hyera (oc)

Genre: Romance

Length: 1 of ?

Rating: G

note:

oke, ini dia… author persembahkan ff baru. Karena udah tahun baru, jadi ff baru juga keluar deh hehehe. Berhubung find my love udah masuk babak akhir, jadi author post ff baru ini. ditunggu aja oke endingnya find my love. Tapi maaf kalau author agak lama ngepostnya. Lagi males hehe.

Oke udah dulu cuap-cuapnya, dibaca aja. jangan lupa comment.

Paypay ^.~

.

.

.

 

Hwayeon mendesah pelan, merasa lelah karena perkejaannya yang tidak kunjung selesai sedari tadi. Gadis itu kemudian mengernyit saat rasa pening mulai menyerang kepalanya.

Tok tok tok

Hwayeon membenarkan posisi duduknya dalam sekejap, dan merapihkan penampilannya. Ia kemudian menekan sebuah tombol di samping kanannya, dan pintu ruangannya terbuka. Hwayeon membuka mulutnya, hendak menyapa asistennya yang baru saja menerobos masuk ruangannya.

“Kau memiliki rapat bersama dengan para investor tentang resort baru kita yang berada di Jeju sekitar 15 menit lagi, lalu kau akan bertemu dengan perwakilan dari SJ Tv pukul tiga sore, setelah itu kita harus survey Blue Sapphire Hotel pukul lima, dan yang terakhir kau punya janji makan malam dengan keluargamu di Restoran Itali yang biasa kau kunjungi pukul delapan.” Hwayeon mengerjap kemudian menghela nafas lelah.

Park Hyera, asisten yang merangkap sahabatnya itu mendesah prihatin. Tanpa kata, Hyera melangkah mendekati Hwayeon yang sedang memejamkan matanya. Raut kelelahan tampak jelas di wajah Hwayeon, membuat Hyera merasa iba.

“Gwaenchana?” tanya Hyera lembut seraya mengusap lembut kepala Hwayeon.

Hwayeon membuka matanya, menatap memelas pada Hyera, sahabatnya. “Aku lelah eonni.” Keluh Hwayeon pelan. Hyera kembali menghela nafas, ia merasa iba sekaligus khawatir pada sahabatnya yang satu ini. Hwayeon sudah bekerja diperusahaan selama hampir 3 tahun, tapi yeoja itu terlihat semakin kurus dan semakin lemah setiap harinya sejak setahun yang lalu.

Pipi Hwayeon yang awalnya gembul sekarang menjadi tirus, wajahnya yang awalnya cerah sudah berubah menjadi suram. Hyera tau semua itu bukan hanya ditimbulkan karena tuntutan pekerjaan, tapi juga karna sesuatu yang lain. Hyera ingin sekali membantu, tapi sayang ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya itu, walaupun ia ingin.

“Haruskah aku membatalkan seluruh janjimu untuk hari ini?” tawar Hyera berbaik hati. Hwayeon menatap Hyera, tergiur dengan tawaran Hyera. Tapi kemudian wajah Hwayeon berubah sendu, “Aniya, aku akan diamarahi appa jika membatalkan semua janjiku seenaknya. Apa lagi, kau tau sendiri kan bagaimana sulitnya mencocokkan jadwalku dengan perwakilan dari SJ Tv itu.”

Hyera mendesah, “Kau benar.”

Hwayeon tersenyum, “Sudahlah, aku tidak apa-apa eonni. Ah, bukankah kau bilang aku ada rapat sekarang. Lebih baik kau siapkan dokumen-dokumennya, aku akan siap dalam 5 menit.” Hyera mengangguk, lalu berjalan tak yakin ke luar ruangan.

Senyum Hwayeon menghilang seiring dengan menghilangnya tubuh Hyera dari pandangannya. Gadis itu kemudian membuka laci mejanya, mengambil sebuah foto yang menampakkan gambar dirinya versi kecil yang sedang tersenyum lebar bersama dengan seluruh anggota keluarganya.

Hwayeon menyapukan ibu jarinya kearah gambar sosok yeoja paruh baya yang juga tersenyum lebar di samping dirinya versi kecil dengan sangat perlahan. Air mata mulai membayang di pelupuk mata Hwayeon. “Eomma, bogoshipo.” bisiknya lirih.

Tanpa disadarinya, air mata mulai menetes membasahi pipi tirusnya. Hwayeon tersenyum kecut, kemudian mengusap air matanya dengan kasar. “Sudahlah, semuanya akan baik-baik sajakan?” tanya Hwayeon entah pada siapa.

Hwayeon tersenyum, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Disimpannya foto itu kembali ke laci mejanya, kemudian berdiri sembari membenarkan penampilannya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap menuju keluar ruangannya, dan ia disambut oleh tangan Hyera yang terangkat, bersiap mengetuk pintu ruangannya.

“Ah kau sudah siap? Kajja. Kau sudah ditunggu, dan emm… ayahmu juga akan ikut hadir di rapat kali ini.” Ujar Hyera tak yakin. Hwayeon memandang Hyera dengan tatapan kosong, kemudian mengangguk singkat. “Baiklah, kau sudah siapkan seluruh dokumennya?” tanya Hwayeon lagi sambil mulai berjalan kearah lift.

Hyera mengangguk, “Ne, kita akan membahas tentang resort kita yang berada di Jeju, kita mendapat beberapa masalah. Bahan-bahan yang dipakai tidak sesuai dengan perjanjian, harusnya mereka memakai kualitas nomor 1 tapi mereka malah memilih kualitas nomor 3 dan mereka mengatakan kalau dana yang kita berikan kurang. Kurasa pihak kontruksi melakukan penggelapan dana. Maka dari itu direktur utama akan ikut dalam rapat kali ini.” Jelas Hyera disambut kernyitan kening oleh Hwayeon.

Hwayeon diam, tidak menjawab, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam lift. “Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk memantau semuanya disana? Dan juga, aku ingat kalau kita baru saja mengirimkan dana tambahan bulan lalu bukan? Masih kurang? Itu bahkan sudah melebihi dari yang tercantum di surat perjanjian. Dan juga, kenapa bahannya bisa tidak sesuai?” Tukas Hwayeon bingung.

Hyera juga merasa ada yang janggal disini. Pasalnya, baru bulan lalu pihak kontruksi meminta tambahan dana, dan Hyera sudah menyuruh bawahan Hwayeon untuk mengirimkannya, sesuai perintah Hwayeon. Harusnya itu sudah lebih dari cukup, bahkan jika mereka tidak curang dan menurunkan kualitas bahan. Tapi kenapa kurang?

Hyera mengerjap, sesuatu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia menoleh kearah Hwayeon, dan ternyata Hwayeon juga sedang menatapnya dengan seringaian menyeramkan tercetak jelas di bibir Hwayeon.

“Ada yang berusaha bermain-main denganku rupanya.” Ujar Hwayeon dingin. Hyera tersenyum gugup, kemudian berdoa dalam hati. Oh oh, malangnya nasibmu -siapapun dirimu. Salahmu sendiri, kenapa berani-beraninya bermain-main dengan Kim Hwayeon? Siapapun kau, kudoakan supaya Hwayeon tidak terlalu kejam padamu batin Hyera

Lift berhenti, dengan cepat Hwayeon berjalan ke meeting room. Hwayeon membuka pintu ruang meeting, dan suasana ramai yang sedari tadi mendominasi ruangan langsung hilang dalam sekejap. Seluruh peserta rapat langsung duduk dikursinya masing-masing, dan membenarkan penampilan mereka.

Hening

Hwayeon masuk dengan langkah tegas dan percaya diri. Suara gemeletuk high heels dan lantai yang saling berbenturan seketika mendominasi ruang meeting tersebut.

Hwayeon mendudukkan dirinya di tampatnya sendiri, dan memberi isyarat agar rapat segera dimulai. Hyera dengan sigap menyodorkan ipad yang berisi materi rapat dan beberapa dokumen pada Hwayeon.

Rapat dimulai, Hyera berdiri di belakang Hwayeon dengan setia. Gadis itu sesekali membisikkan sesuatu pada Hwayeon yang selalu di balas anggukan oleh Hwayeon. Hwayeon mencoret sesuatu di dokumen yang dibacanya dan menuliskan sesuatu di sana.

Hwayeon kemudian mengangkat tangannya, membuat orang yang menjelaskan presentasinya menghentikan ucapannya dengan segera. Semua peserta rapat seketika memandangi Hwayeon, dan topeng dingin sudah terpasang sempurna di wajah gadis itu.

“Baiklah, aku sudah mendengar semua yang kau presentasikan. Kau hanya mengulang apa yang kutau, sama sekali tidak ada informasi lebih.” Ujar Hwayeon dingin. Namja yang memimpin rapat tadi menegang, “Mi-mianhae sajangnim.” Cicit namja itu takut.

Hwayeon mengangguk, “Yasudah, presentasimu sudah cukup bagus. Aku menghargainya. Sekarang kembali ketempatmu.” ujar Hwayeon acuh. Namja yang memimpin rapat tadi kembali ke tempatnya dengan segera.

“Baiklah, seperti yang kalian tau. Resort kita mendapati beberapa hambatan. Yang pertama, bahan tidak sesuai, dan yang kedua dana kurang mencukupi.” Hwayeon memutus ucapannya, dan menebarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Beberapa orang mengangguk menyetujui ucapan Hwayeon, beberapa orang mengernyit tidak suka, dan satu orang terlihat gelisah.

Hwayeon menyeringai, Gotcha! Batin Hwayeon.

“Hanya ada 2 pilihan. Pihak kita yang menggelapkan dana, atau pihak kontruksi.” Hwayeon menyeringai saat melihat namja yang sedari tadi diperhatikannya tersentak. Hwayeon menyantaikan duduknya, dan memandang Min Jun Jae –namja yang sedari tadi ia perhatikan- dengan tajam.

“Nah, bagaimana menurutmu Min Jun Jae-ssi? Apa menurutmu pihak kontruksi yang menggelapkan dana? Atau ada seseorang dari pihak kita yang mencoba bermain-main denganku?” tanya Hwayeon sakratik. Jun Jae yang merasa disebut namanya langsung tersentak kaget. Seluruh peserta rapat memandang Jung Jae dengan tajam, meminta jawaban. “N-ne? a-ah, kurasa pi-pihak kontruksi yang m-menggelapkan dana. Y-ya, kurasa mereka yang menggelapkan dana.” Keringat mulai bercucuran di wajah Jung Jae, padahal udara di meeting room tersebut sangat dingin.

Hwayeon tidak berkomentar, hanya menatap Jun Jae sambil melotot garang. Hwayeon menengadahkan tangannya tanpa melepas pandangannya dari Junjae. Hyera dengan segera menyerahkan ipad yang dipegangnya ke tangan Hwayeon.

Hwayeon berdehem, “Baiklah kalau itu jawabanmu.” Min Jun Jae tanpa sadar mendesah lega, membuat seringaian Hwayeon semakin bertambah lebar dan Hyera menatapnya iba.

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan padaku. Bagaimana mungkin tabunganmu bertambah beberapa milyar dalam 1 hari? Ah, kebetulan itu terjadi di hari yang sama saat aku memintamu untuk mengirimkan dana tambahan ke Jeju. Hmm… membeli mobil keluaran terbaru dari luar negeri untuk setiap anakmu, memberi apartemen mewah untuk setiap anakmu, well, bukankah anakmu ada 5? Bukankah itu sedikit terlalu banyak untukmu? Aku yakin gajimu tidak sebesar itu.” Tandas Hwayeon pura-pura polos.

Skak Matt batin Hyera iba.

Jun Jae terdiam ditempatnya, menunduk. Seluruh mata memandang tajam kearahnya. Hwayeon tersenyum puas, “Baiklah, kurasa kita sudah menemukan biang keroknya. Kurasa, aku sendiri yang harus turun tangan untuk proyek ini karena ini adalah proyek gabungan terbesar kita. Aku benar-benar akan sangat sangat sangat sangat sangat marah kalau kejadian ini sampai terulang lagi. Dan aku akan sangat sangat saangat sangat sangat menyeramkan jika aku marah.” Ujar Hwayeon penuh penekanan dengan seringaiannya.

“Rapat selesai.” Putus Hwayeon. Hwayeon berdiri, kemudian berjalan keluar. Namun tepat di depan pintu, ia berbalik, hampir membuat Hyera menabraknya. “Ah, dan satu lagi. Min Jun Jae-ssi, anda saya pecat.” Tukas Hwayeon santai, kemudian keluar dari ruangan rapat. Meninggalkan para peserta rapat yang memandangnya kagum, sekaligus ngeri.

Kim Young Woon, sang direktur utama yang merangkap appa Hwayeon hanya diam, memandang punggung anak gadisnya yang menghilang dibalik pintu. Kim Young Woon, namja yang biasa dipanggil Kangin itu kemudian menghela nafas. Jin Hee-ya, apa yang harus kulakukan pada anak kita? Kenapa kau meninggalkan kami secepat ini? Lihatlah anakmu, dia membutuhkanmu sayang batin Kangin sedih.

Kangin menghembuskan nafasnya, “aku yakin anak keras kepala itu akan menolak mentah-mentah permintaanku nanti malam.” Ujar Kangin lirih. Eotteokhae Jin Hee-ya?

 

….

 

Hwayeon menatap high heels yang dipajang di etalase dengan penuh minat. Hyera yang sedari tadi berada di sampingnya tertawa kecil melihat binar-binar di mata Hwayeon. “Eonni, bagaimana menurutmu sepatu itu? Bukankah itu sangat indah?” tanya Hwayeon sambil berdecak kagum.

Hyera mengangguk membenarkan sambil tersenyum, “Ne, sepatu itu memang indah.”

Hwayeon menoleh kearah Hyera kemudian bertepuk tangan kecil, “Ayo, aku mau membelinya hehehe.” Hyera pasrah saja saat Hwayeon menyeretnya masuk ke toko yang berada di depan mereka itu untuk membeli sepatu yang Hwayeon maksud.

Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam Pusat perbelanjaan Seoul. Setelah mensurvey Blue Sapphire hotel, mereka memutuskan untuk membuang penat dengan berbelanja. Mereka punya waktu lebih untuk berbelanja karna tadi pihak dari SJ Tv itu membatalkan janji mereka tiba-tiba.

Hwayeon tertawa girang saat sudah mendapatkan sepatu yang diingankannya tadi. Hwayeon sendiri membeli 2 pasang high heels, sebuah tas tangan, 2 gaun pesta, 3 gaun tidur, 1 buah lingerie entah buat apa. Sedangkan Hyera membeli sepasang high heels, sebuah tas tangan, 3 gaun pesta, 2 gaun tidur, bedanya Hyera tidak membeli lingerie seperti Hwayeon.

“Yah buat apa kau membeli lingerie seperti itu? Kau bahkan tidak punya pacar.” Ejek Hyera sambil tertawa geli. Hwayeon mendengus kemudian memanyunkan bibirnya, “biar saja, aku hanya iseng kok. Lagipula, kenapa kau tidak beli sekalian? Kau juga jomblo kan, jadi jangan mengejekku! Cih!”

Kali ini gantian Hyera yang mendengus, “Ya! Aku ini single bukan jomblo! Memangnya dirimu? Ditinggal ke pelaminan? Menyedihkan!” cibir Hyera sambil terkikik.

Hwayeon melotot, “Yak! Kenapa eonni membahas itu lagi! Itu bahkan sudah 5 tahun yang lalu, yang benar saja.” Hwayeon mencebik. Gadis itu kemudian menghentak-hentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. Hyera tertawa keras saat melihat Hwayeon yang merajuk.

Hwayeon semakin mengeruhkan wajahnya saat tawa Hyera tidak kunjung berhenti, malah semakin lama semakin keras. Sampai-sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Ish, dasar eonni bodoh.” Maki Hwayeon tepat didepan wajah Hyera yang masih sibuk tertawa, lalu angkat kaki dari tempat itu.

Hwayeon berjalan cepat sambil menghentak-hentakkan kakinya tanpa melihat jalan.

Duk!

“Omo!” Hwayeon jatuh tersungkur dengan tidak elitnya saat ia menabrak seorang namja. “Appo.” Ringis Hwayeon sambil mengelus jidatnya yang sukses mencium lantai dengan keras.

“Tidak! PSP-KU! Yak! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat hasil perbuatanmu! PSPku rusak!” Hwayeon mendengus saat mendengar makian orang di depannya. Hwayeon bangkit berdiri sambil meringis menahan pusing. “Ya! Orang tolol juga tau kalau jalan itu pake kaki bukan pake mata! Lagipula kau juga tidak melihat jalan kan? Kenapa aku yang disalahkan? Kau sendiri juga salah!” bentak Hwayeon balik.

Namja itu melongo, kemudian melotot sambil mendesis geram. “Yak! Jadi kau menyalahkanku begitu?!”

“Apa aku bilang begitu?!” tanya Hwayeon balik sambil balas melotot.

“Tapi maksud kata-katamu begitu!”

“Itu perasaanmu saja!”

“Yah! Yeoja bar-bar! Kau berani padaku?!”

“Kenapa aku harus takut padamu? Dasar ahjussi bodoh!”

“Mwo?!” Namja itu melotot, matanya seakan bersiap keluar dari tempatnya. Bukannya takut, Hwayeon malah balas melotot, sama sekali tidak merasa gentar dengan namja yang didepannya.

Hyera yang baru menyusul Hwayeon langsung melongo melihat debat mulut antara Hwayeon dan namja yang ditabraknya.

“Yah! Kau benar-benar tidak takut ya?! Kau tidak tau siapa aku?!” tuding namja itu marah. Hwayeon berdecak malas, membuat namja itu semakin marah.

“Memangnya kau siapa? Artis? Pejabat? Apa peduliku? Memangnya kau siapa?!”

“MWOYA! AKU CHO KYUHYUN KAU TAU?!”

“AKU KIM HWAYEON, JADI APA?! MEMANGNYA AKU PEDULI? DASAR AHJUSSI! SOK TENAR!”

“YAK!”

“MWO!”

“CUKUUUUUUUUUUUUPP!!!!!!!” Hwayeon dan namja yang mengaku bernama Cho Kyuhyun itu kemudian menatap kaget pada Hyera yang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kau Kim Hwayeon! Cepat minta maaf!” Hwayeon melotot tak terima. “Shireo!”

Hyera melotot, Hwayeon juga melotot, Kyuhyunpun melotot. Akhirnya Hwayeon mengalah, “Mianhae.” Ujarnya ketus. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, Hyera sendiri mendengus kemudian tersenyum meminta maaf pada Kyuhyun.

“Maafkan adikku, dia memang kadang kekanakan. Tolong beritahu cara menghubungimu, biar kami bisa menganggti barangmu yang rusak.” Mohon Hyera sopan.

Hwayeon mendelik, sama sekali tidak suka dengan apa yang Hyera katakan. Baru ia membuka mulutnya untuk membantah, Hyera kembali melotot padanya. Hwayeon kemudian mengatupkan mulutnya kembali dan mendengus.

Kyuhyun merogoh saku nya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu nama dari sana. “Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku untuk menggantikan PSPku yang dirusak adikmu itu. Kau yakin bisa menggantinya? Itu limited edision, dan itu tidak murah.” Ucap Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon yang mendengarnya otomatis mendelik. “Yah! Kami bukan orang miskin dasar ahjussi sombong yang sok tenar!” bentak Hwayeon penuh amarah.Kyuhyun hanya mengangkat alisnya dan dengan bijak mengabaikan Hwayeon.

Hyera buru-buru mengambil kartu nama yang di sodorkan Kyuhyun dan mengopernya ke Hwayeon yang diterima Hwayeon dengan ogah-ogahan. “Ne, sekali lagi maafkan kelakuan adikku. Kami permisi dulu. Kajja.”Hyera menunduk, memberi salam pada Kyuhyun. Hyera juga memaksa Hwayeon memberi salam yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Kyuhyun memandang Hwayeon dan Hyera yang menjauh dengan pandangan berminat. Namja itu kemudian terkekeh saat melihat Hwayeon menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saat diseret dengan tidak berperi kemanusiaan oleh Hyera.

“Gadis gila.” Gumam Kyuhyun sambil mendengus geli. Pandangan Kyuhyun kemudian tertuju pada sebuah gelang yang tergeletak di lantai. Kyuhyun dengan ragu mengambilnya, kemudian memperhatikannya. Ornamen-ornamen di gelang tersebut membentuk sebuah kata.

Kim Hwayeon

“Jadi ini miliknya? Well, baiklah. Kurasa kita akan segera bertemu kembali Kim Hwayeon-ssi. .”gumam Kyuhyun lirih sambil menyeringai. Entah apa yang dipikirkan oleh namja itu.

 

……

 

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena telinganya terus menerus menangkap kikikan Hyera disampingnya. Sejak mereka meninggalkan mall 10 menit yang lalu, Hyera tidak henti-hentinya menertawakan Hwayeon.

“Oh ya ampun.. astaga-ahahahahaha Ya Tuhan, kau tidak lihat tadi bagaimana wujudmu saat bertengkar dengan namja tampan tadi. Menggelikan sekali hahahahaha. Demi apa, kemana Kim Hwayeon yang selalu ditakuti orang-orang eoh? Ahahaha, jinjja. Itu tadi sungguh menggelikan.” Hwayeon mendengus, gadis itu melirik Hyera dari sudut matanya kemudian menggeram tak terima.

Eonni bodoh itu! Maki Hwayeon dalam hati.

Hyera melirik Hwayeon yang merajuk di sampingnya sambil tersenyum geli. “Hei, tidak usah merajuk seperti itu. Aku hanya bercanda.”

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan eonni. Sudahlah, ini sudah jam 8 lewat, kita pasti sudah dittunggu oleh appa.” Hyera menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan Hwayeon.

Hwayeon seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang yeoja itu bisa menjadi sosok yang begitu menggemaskan, manja, dan egois. Tapi disisi lain, yeoja itu juga bisa menjadi sosok yang begitu berwibawa, bertanggung jawab, mandiri, dan penuh percaya diri.

Seperti saat dikantor misalnya, siapa yang tidak segan dengan Kim Hwayeon? Tidak ada! Yah, mungkin Hyera dan sang appa tidak masuk hitungan. Hwayeon bisa menjadi sangat dictator jika sudah menyangkut pekerjaan, dan kadang bisa membuat Hyera kelimpungan sendiri. Tapi berbeda jika Hwayeon sudah berada bersama sahabat-sahabatnya, atau oppanya, ia bisa menjadi sangat manja.

Hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana sifat Hwayeong yang ‘sebenarnya’. Hyera salah satunya.

“Nah, sudah sampai. Kajja.” Hyera dan Hwayeon kemudian melepas seat belt mereka, dan beranjak keluar dari dalam mobil dengan sedikit terburu-buru.

Hyera berjalan mendahului Hwayeon. Sedangkan Hwayeon sendiri hanya diam mengikuti Hyera dari belakang sembari sibuk membenarkan penampilannya yang sedikit acak-acakan.

Hyera membimbing Hwayeon masuk ke dalam ruang privat di restoran tersebut.

“Oppa!” pekik Hwayeon riang sesasat setelah mereka melangkah masuk kedalam ruangan. 3 orang namja yang berada di ruangan tersebut sontak mengalihkan pandangan mereka pada Hwayeon, dan senyuman otomatis tersemat di masing-masing bibir mereka.

Heechul berdiri, mengampiri Hwayeon dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. “Aiish, bogoshipo chagiya. Kau semakin kurus saja eoh? Apa kau tidak makan dengan benar eum? Apa pekerjaanmu membebanimu? Apa kau tersiksa?” Hwayeon terkekeh saat mendengar Heechul yang memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Anniya oppa, aku tidak terbebani dengan pekerjaanku. Aku mulai menyukainya. Dan masalah makan, aku hanya tidak nafsu saja oppa. Lagi pula, dulu oppa kan bilang aku gendut ish! Sekarang aku sudah kurus, kenapa oppa masih protes, dasar.” Cibir Hwayeon.

Heechul tergelak, “Terserahmu sajalah. Yasudah, kajja. Tak biasanya kau terlambat, kami sudah menunggumu dari tadi.” Hwayeon hanya menurut saat Heechul membimbingnya untuk duduk di sebelahnya. Hyera yang sedari tadi berdiri pun akhirnya ikut duduk di samping Kibum yang sedari tadi diam sambil membaca sebuah modul.

Suasana canggung seketika menyelimuti ruangan. Hwayeon melirik sang ayah yang sedari tadi hanya memandanginya dengan ragu. “A-annyeong ap-pa.”

Heechul yang mengamati interaksi antara ayah dan anak itu akhirnya jadi keki sendiri. Suasana ini lebih menyeremkan daripada kuburan batinnya sebal.

“Annyeong. Baiklah, karena semuanya sudah lengkap. Kita bisa makan sekarang.” Ujar Kangin sambil memberi kode pada pelayan yang berada di sudut ruangan. Kibum hanya mengangguk tak peduli kemudian sibuk kembali dengan modulnya, sedangkan Hwayeon mulai sibuk dengan ponselnya. Heechul berdecak malas, sebenarnya suasana seperti ini sudah tidak asing lagi untuknya semenjak kematian sang eomma. Hanya saja, ia sekarang merindukan Hwayeon yang dulu.

Hwayeon yang dulu tidak akan tahan dengan suasana hening seperti ini. Ada saja tingkah gadis itu agar membuat suasana ramai dan menyenangkan. Entah itu celotehan riangnya, atau pekikkan senangnya, atau gerutuannya. Tapi semuanya sudah menghilang, lenyap, sejak eomma pergi meninggalkan mereka 1 tahun yang lalu.

Kangin berdehem, sedikit risih dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Namja itu melirik anak gadisnya, merasa kecewa saat melihat gadis itu malah sibuk dengan ponselnya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan perwakilan dari SJ Tv tadi Hwayeon-ah?” tanya Kangin membuka percakapan.

Hwayeon yang merasa terpanggil kemudian meletakkan ponselnya diatas meja, dan memandang sang appa. “Euumm, mereka membatalkan janji temu kami tadi.” Jawab Hwayeon tak yakin.

Kangin mengerutkan keningnya, merasa tak puas dengan jawaban Hwayeon. Tapi kemudian namja itu menghela nafas, mengerti. “Baiklah, jadwalkan ulang janji temu kalian. Lalu, apa yang kau lakukan dengan Min Jun Jae?”

Hwayeon tanpa sadar mengerucutkan bibirnya saat mengingat kejadian menyebalkan dikantor tadi siang. “Aku memecatnya, tentu saja. Aku tabungan dan aset miliknya. Yah, berkat Hyera eonni, aku menyisakan sedikit tabungannya, dan beberapa asetnya. Hanya saja, cih, jangan harap dia bisa menunjukkan wajahnya lagi di hadapanku. Aku jamin dia akan sulit mendapatkan pekerjaan setelah ini.” Jelas Hwayeon panjang lebar sambil berdecih.

Kangin hanya mengangguk, sedikit ragu, tapi selebihnya ia percaya dengan Hwayeon.

“Baiklah, terserahmu saja. Aku yakin kau tau keputusan yang paling tepat.” Hwayeon mengangguk antusias, merasa senang saat mendapat kepercayaan dari Kangin. Heechul disisi lain mendengus tak terima, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kangin dan Hwayeon.

“Min Jun Jae? Nugu?” tanya Heechul langsung.

“Orang.” Jawab Hwayeon santai. Heechul mendesis, “tentu saja orang! Aku juga tau itu!”

Hwayeon mengerjap, “Nah, kalau oppa sudah tau, buat apa bertanya? Dasar pabbo.” Ledek Hwayeon sambil terkikik. Kibum, Kangin, dan Hyera yang mendengarnya menahan senyum. Sedangkan Heechul sendiri malah melongo seperti orang bodoh, “aish, terserahmulah.”

Tawa mereka akhirnya pecah, membiarkan Heechul yang tersenyum kecut.

Suara ketukan pintu menginterupsi mereka. Beberapa orang yang mengenakan seragam pelayan berjalan masuk, menghidangkan makan malam mereka dengan rapih di atas meja. ‘Gomawo’ gumam Hwayeon pelan.

Kali ini suasana ruangan tersebut tidak lagi hening. Dentingan sendok dan piring sesekali terdengar diantara obrolan mereka. Hyera dan Kibum yang sedari tadi diam pun ikut terlibat percakapan kecil.

Hanya Hwayeon yang makan dalam diam, Kangin yang memang sejak awal memperhatikan Hwayeon akhirnya menghela nafas. “Hwayeon-ah.” Panggil Kangin lembut. Hwayeon hanya bergumam kecil menanggapi panggilan Kangin.

Semuanya diam, menatap Kangin dengan pandangan bertanya. “Sebenarnya, appa mengajak kalian semua berkumpul untuk makan malam hari ini karena appa ingin menyampaikan sesuatu.” Perhatian Hwayeon kini sepenuhnya sudah teralih pada Kangin.

Kangin meletakkan sendok garpu yang dipegangnya, dan beralih meremas kedua tangannya. “Ini sebenarnya permintaan mendiang ibumu, dia… dia menginginkanmu untuk segera menikah dan berumah tangga.”

“Uhuk-uhuk” Hwayeon tersedak, dengan panik ia mengambil gelas yang berada di tangan Heechul dan meneguknya rakus. Hwayeon kemudian bernyengit saat rasa pahit menjalari kerongkongannya. Kibum dengan santai mengulurkan gelas berisi air putih pada Hwayeon, dan Hwayeon menandaskannya dalam sekejap.

“Mwo? Tapi aku masih muda appa.” Sangkal Hwayeon tak terima, “Lagipula aku tidak memiliki kekasih” lanjutnya.

“Appa tau, hanya saja. Umurmu sudah 25 tahun, kau sudah cukup umur untuk menikah. Lagipula, appa tidak mau kau bernasib seperti para oppamu. Sudah tua, tidak ada pikiran untuk menikah sama sekali. Cih.” Heechul dan Kibum yang merasa tersindir melayangkan tatapan protes pada Kangin, yang tentu saja diabaikan oleh namja paruh baya tersebut.

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Jadi aku harus bagaimana? Aku belum punya calon.” Tukasnya santai.

Kangin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kaku, “Itu… sebenarnya appa sudah menyiapkan calon untukmu. Hmmm, ini kesepakatan ibumu dengan sahabatnya sebenarnya. Jadi kau tidak perlu khawatir masalah calon.”

Hwayeon diam.

Gadis itu berusaha menyerap perkataan Kangin. “Tunggu dulu, apa appa sedang mengatakan padaku kalau aku sekarang dijodohkan?” pekik Hwayeon kaget, marah.

“Y-ya, itu keinginan eommamu, appa tidak bisa menolak. Kau mau kan?” tanya Kangin penuh harap.

“SHIREO!!!” pekik Hwayeon kesal sambil menggebrak meja, membuat Heechul disebelahnya mengutuk karena kaget.

Kangin menghela nafas, sama sekali tidak kaget dengan reaksi Hwayeon. “Appa tau kau tidak menyukainya, Tapi… appa mohon, demi eommamu. Eommamu tidak mungkin sembarangan menjodohkanmu, appa yakin eomma tau pasti seleramu. Eomma hanya ingin yang terbaik untukmu, begitu juga appa. Karena itu, setidaknya kau harus bertemu dengan calonmu. Jika seiring berjalannya waktu, dan kau masih merasa tidak cocok. Appa akan mengerti, appa tidak akan memaksakan perjodohan ini. Hanya saja, cobalah terlebih dulu. Demi eomma, nak.”

Hwayeon kembali terdiam. Semua mata kini tertuju pada Hwayeon yang diam dengan pandangan kosong. Kibum dan Heechul saling berpandangan dalam diam. “Dengar Hwayeon-ah, jika kau memang tidak mau, tidak apa. Oppa yakin appa akan mengerti, begitu juga dengan eomma. Kau tidak perlu melakukan semuanya dengan terpaksa. Kalau kau memang tid-“

“Baiklah.” Potong Hwayeon. Heechul memandang Hwayeon ragu. Sekali lagi, namja itu melirik Kibum yang juga sudah meliriknya. Saat Kibum mengangguk padanya, akhirnya Heechul menyerah.

Kangin yang mendengar jawaban Hwayeon tersenyum lega. Appa dan eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Hwayeon-ah batin Kangin sedikit sedih.

Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang, melanjutkan percakapan mereka tanpa menyinggung Hwayeon sedikitpun. Kibum menatap Hwayeon tajam, menelisik kedalaman mata sang adik. Merasa iba dengan adik kesayangannya itu.

Apa seberat itu bebanmu saeng? Kenapa kau tidak pernah mau berbagi pada kami eoh?Kami keluargamu. Kenapa kau selalu menyimpan bebanmu seorang diri? Apa kami tidak ada artinya bagimu? Ujar Kibum dalam hati.

.

Hwayeon menatap laporan dihadapannya dengan pandangan tidak berminat. Ingin rasanya gadis itu kabur dari segala urusan kantor yang membelenggunya, dan melakukan kegiatan yang ia sukai. Tapi sayangnya ia tidak bisa.

Kehidupannya yang sekarang, bukanlah kehidupan yang ia impikan. Tidak pernah terbesit dipikirannya kalau pada akhirnya ia akan menjalani pekerjaannya yang sekarang. Tidak pernah sama sekali.

Ia harus menjalani ini semua, membuang seluruh impiannya jauh-jauh kedasar demi membahagiakan kedua oppanya. Mereka hanya 3 bersaudara. Jika Heechul dan Kibum menolak mentah-mentah untuk meneruskan perusahaan appa, otomatis dialah yang akan meneruskannya.

Harusnya, kursi yang sekarang ia pakai ini menjadi kursi Heechul. Tapi Heechul dengan tegas menolak untuk mendudukinya, namja itu lebih memilih untuk menjadi seorang desaigner perhiasan. Begitupula dengan Kibum, namja itupun sama tegasnya dalam hal menolak menduduki kursi jabatan yang seharusnya menjadi milik Heechul, dan lebih memilih untuk berkecimpung di dunia medis.

Hwayeon sama sekali tidak membenci kedua oppanya. Hwayeon tau, kedua oppanya itu sama seperti dirinya. Tidak suka dikekang, mereka semua memiliki jiwa yang liar dan bebas.

Karena itu, Hwayeon bisa mengerti. Karena itu, Hwayeon rela memasrahkan dirinya untuk menjalani tugasnya sekarang. Gadis itu tidak perduli jika ia merasa tidak bahagia, tidak masalah, asalkan kedua oppanya bisa bebas. Asalkan kedua oppanya bisa bahagia.

Sudah 3 tahun Hwayeon melepas seluruh angan-angannya, memendamnya dalam-dalam, jauh ke dasar. Demi oppanya, orang yang begitu berharga dihidupnya. Tapi rasanya sulit sekali menjalani hari-harinya.

Apa lagi sejak saat itu… sehari terasa seperti seabad. Terasa begitu menyiksa, begitu menyakitkan.

Tok tok tok

Hwayeon tersadar dari lamunannya, dengan cepat gadis itu menekan sebuah tombol disamping kanannya, mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

Hyera muncul dari balik pintu dengan ragu. Hwayeon yang melihat tingkah ragu-ragu Hyera, sontak bertanya. “Waeyo eonni? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Hwayeon khawatir.

Hyera menatap Hwayeon intens, membuat Hwayeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan Hyera. Hyera akhirnya menghela nafas, “Perwakilan dari Cho corp sudah datang.” Hwayeon mengangguk singkat, kemudian keningnya mengernyit. “Cho corp? Ah, kerja sama resort di Jeju?” Hyera mengangguk kaku.

“Baiklah, persilahkan mereka masuk ke ruanganku.” Hyera tetap diam, memandang Hwayeon dengan ragu.

Hwayeon yang mendapati Hyera masih diam di hadapannya menatap Hyera balik dengan pandangan bertanya. Cukup lama mereka berpandangan, akhirnya Hyera mengalah. Hyera keluar dari ruangan Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ada apa dengannya?” gumam Hwayeon bingung.

Hwayeon menggendikkan bahunya, kemudian beralih membersihkan mejanya dari tumpukan-tumpukan dokumen yang berserakan.

“Silahkan masuk, anda sudah ditunggu.” Terdengar suara Hyera dari luar ruangan.

“Terimakasih.” Balas seorang namja.

Hwayeon sontak mengangkat kepalanya saat sebuah sapaan terdengar di gendang telinganya. “Silahkan du-“ Hwayeon melotot saat matanya menangkap sosok namja yang sekarang berdiri di depan pintu ruangannya dengan sebuah seringaian di bibirnya.

“KAU!!! Sedang apa kau disini?!” pekik Hwayeon kaget. Kyuhyun yang tadi berdiri di depan into ruangan Hwayeon kemudian tersenyum manis- atau lebih tepatnya menyeringai sok manis- lalu melenggang masuk ruangan Hwayeon dengan santai, membuat Hwayeon mendelik padanya.

“Yaa! Siapa yang menyuruhnya masuk!” bentak Hwayeon kesal. Kyuhyun terkekeh dibuatnya, “asistenmu yng menyuruhku masuk tadi.” Balas Kyuhyun santai sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa berbentuk L di ruangan Hwayeon tersebut.

“Jadi kau- aish!” Kyuhyun terkekeh saat umpatan Hwayeon menyapa gendang telingnya. Dengan kasar Hwayeon mendudukkan dirinya di sofa lain di samping Kyuhyun dengan kasar.

“Jadi kita akan membicarakan kerjasama kita sekarang?” tanya Hwayeon malas, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Kyuhyun yang melihat tingkah menggemaskan Hwayeon hanya tersenyum kecil.

“Ani, kita tidak membahas pekerjaan sekarang. Aku hanya disuruh datang ke sini oleh appamu, Orangtuaku masih berada di ruangan Kangin appa. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul ke sini. Kita akan membicarakan pertunangan kita” Hwayeon terdiam, mencoba mencerna ucapan Kyuhyun dengan baik.

Orang tua? Kangin appa? Menyusul? Pertunangan? Hwayeon mengerjap, “Tunggu dulu, jangan bilang ka-“

“Yuhuuuuu, calon menantuku annyeong!!! Omo!! Kau cantik sekali, manis pula aiigoo, kau seperti duplikat Jin Hee. Ah, kau sudah bertemu anakku? Bagaimana? Kau menyukainya kan? Jadi kapan kalian mau menikah? Omo omo, aku ingin segera menimang cucu.”

 

To be continued…

Find My Love // Part 9a [Secret]

Previous chapter…

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

Title: Find my love part 9a ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Nah, bertemu lagi dengan author yang manis #pret. Ini sudah author bikinin ff kebut banget. Baru beres, langsung author publish deh, jadi kalian ga menunggu teerlalu lama. Author baik kan? Oh tentu 😀
Oke deh, langsung dicek aja ceritanya. Maaf kalau jelek dan ga memuaskan. Author udh berusaha sekuat tenaga. Jadi hargain oke? Tinggalkan jejak kalian ~
Happy reading

-o0o-

Chapter 9a
Secret

Air mata tanpa kusadari terjatuh di pipiku. Aku mengusapnya cepat, berharap tidak ada orang lain yang melihatnya. Memalukan! “Waeyo chagi? Kau menangis eoh? Shhh, uljima.” Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam pelukan Kyuhyun oppa. Lampu mulai menyala dan ruang teater yang awalnya gelap dan sepi kini sudah terang dan ramai.

Aku tetap duduk di kursiku sambil menyembunyikan wajahku yang basah karna air mata di dada Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa sendiri mengelus-ngelus rambutku dengan lembut sekali. “Dasar cengeng, begitu saja nangis.” Aku memukul dadanya pelan, lalu mengerucutkan bibirku. Sudah kuduga, dia akan mengolokku. Menyebalkan sekali.

“Biar saja, filmnya memang sedih kok. Wajar saja jika aku menangis.” Sangkalku membela diri. Itu memang benar bukan? Jalan ceritanya sangat menyedihkan, aku terus menerus menangis saat menontonnya. Coba saja kalian bayangkan, di film itu, ada sepasang kekasih. Aku mengerti kalau mereka berdua saling mencintai, semua tergambar jelas di film itu. Awalnya semua berjalan dengan baik, semuanya terasa begitu indah. Tapi tak berselang lama, mulai banyak kejadian kejadian menyebalkan yang terjadi di film itu.
Tokoh utama namja di film itu tiba-tiba saja menghilang, membuat tokoh yeojanya sedih dan tertekan. Tokoh yeoja itu berusaha melupakan si namja pabbo itu, yeoja itu bahkan mencoba untuk berkencan dengan beberapa namja lain. Tapi tetap saja, setiap yeoja itu pulang, kembali ke kamarnya.. yeoja itu kembali menangisi si namja pabbo itu. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk pergi ke Negara asing untuk bekerja. Nah, bagian paling menyebalkannya ada di bagian sini.

Ternyata, namja pabbo yang merupakan tokoh utama itu selama ini hilang ingatan. Karena hilang ingatan itulah, namja itu sama sekali tidak tau kalau ada orang yang dicintainya di Seoul. Jadi saat mereka bertemu di tempat kerja, sang namja sama sekali tidak mengenali yeoja tersebut. Malahan, namja itu sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.

Sudah bisa dipastikan, tokoh utama yeoja itu sangat sakit hati dan terpuruk. Yeoja itu mulai menyeleweng, mabuk-mabukan, pergi ke bar, berkali kali tidur dengan lelaki acak yang ditemui yeoja itu di bar. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan sampai akhir hayat gadis itu pun… namja yang dicintainya itu tidak pernah mengingatnya lagi. Sadis sekali.

“sudahlah, kenapa kau malah melamun. Itu hanya film sayang, tidak perlu di pikirkan. Ayo kita keluar dari sini sebelum kita diusir.” Aku tersadar dari lamunanku dan bangkit berdiri, membiarkan Kyuhyun oppa menggenggam tanganku dan menuntunku ke luar gedung teater. “Sekarang kita mau kemana oppa?” tanyaku bingung saat Kyuhyun oppa malah menuntunku ke halte bis. Aku menengok, menatap wajah Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum, jujur saja membuatku sangat penasaran.

“Kau akan tau begitu kita sampai.”
Hanya itu jawaban yag kudapat dari Kyuhyun oppa bahkan setelah aku merengek-rengek padanya. “Oppa… kita akan pergi kemana sebenarnya?” tanyaku lagi untuk yang kesekian kalinya. Kudengar Kyuhyun oppa yang duduk disebelahku menghela nafasnya. Lalu Kyuhyun oppa kemudian menoleh padaku sambil cemberut, “Kau ini cerewet sekali. Tidak usah banyak bertanya, aku jamin kau akan menyukainya. Arraseo? Duduk diam dan tenanglah, sebentar lagi kau akan tau.” Akhirnya aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat rasa penasaranku.

Selama perjalanan kami hanya diam, Kyuhyun oppa duduk sambil merangkulku, membuat tubuh kami tidak berjarak barang 1 cm pun. Aku sih hanya pasrah saat dia merangkulku begini. Aku sendiri hanya duduk dengan diam, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memainkan jemari tangan Kyuhyun oppa yang menganggur.

Haaahh…. Rasanya waktu berjalan cepat sekali ya… AKu tidak sadar, tau-tau saja sudah 1 bulan sejak kejadian itu terjadi.

Yah… kalian pasti mengerti kejadian mana yang kumaksud. Hah, kira-kira apa yang terjadi degan gadis itu ya? Aku penasaran sekali. Tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang bersedia memberitahuku. Cih, mereka selalu bersekongkol. Menyebalkan

Drrtt drrtt

Aku tersentak saat hanphone dalam sakuku bergetar. Dengan malas aku meraih handphoneku, Ravi oppa menelpon ternyata.

“Eoh, yeobosaeyo. Waeyo oppa?” jawabku memulai percakapan.
“Kau ada dimana chagi?”

“Aku sedang berada di dalam bus. Waeyo?”
“Hah? Bis? Kau menggunakan bis? Untuk apa? Memangnya mobilmu kemana? Kau mau pergi kemana? Kenapa tidak menggunakan taksi saja? Atau minta Kyuhyun mengantarmu. Ini sudah malam, tidak baik kalau kau pergi sendirian, apa lagi menggunakan kendaraan umum seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kau mengerti tentang rute-rute bis.”

Aku memutar bola mataku malas. Berlebihan sekali, menyebalkan. “Ish, oppa cerewet sekali. Mobilku tidak kemana-mana, dan aku tidak tau aku sekarang ini mau pergi kemana. Aku sedang berkencan dengan Kyuhyun oppa tau? Oppa menganggu.”
“Ah, begitu rupanya. Yasudah… Jadi kau sedang bersama Kyuhyun kan? Coba berikan telepon ini ke Kyuhyun, oppa mau bicara.”

Aku menyipitkan mataku, mencoba memilah-milah. Haruskah kuberikan telepon ini pada Kyuhyun oppa? Apa yang kira-kira akan mereka bicarakan. Kenapa Ravi oppa tidak mau menyampaiannya padaku saja. “Yeobeosaeyo? Kau masih di sana?” Aku tersentak kembai saat mendengar suara Ravi oppa di ujung telepon. “E-eoh, baiklah. Sebentar.”
“Siapa?” tanya Kyuhyun oppa saat aku menurunkan handphoneku dari telinga. “Ravi oppa. Nih, dia bilang dia mau berbicara denganmu.”
Kyuhyupun oppa mengerutkan keningnya, lalu meraih ponselku. “Eo hyung, waeyo?”

“…”
Aku menatap Kyuhyon oppa dengan bingung saat kerutan kerutan di wajah Kyuhyun oppa terlihat semakin dalam. “Hmm, lalu?”

“…”
“Ah jinjjayo? Baguslah, chukkae. Aku ikut senang.”

“…”
“ah… haruskah?” aku mengerutkan keningku saat Kyuhyun oppa melirikku dari sudut matanya. Apa-apaan, apa sih yang mereka bicarakan sebenarnya?

“…”
“Arraseo, itu memang tugasku. Sekali lagi, chukkaeyo hyung.”

“…”
“Ne, arraseoyo.”

“…”
“Hahahaha jinjja? Haha arraseo. Ah, apa kau mau berbicara dengan adikmu lagi?”

“…”
“Ah, geurae.. Arraseo arraseo, selamat bersenang-senang hyung. Anyeong.”

“…”
Aku mengambil ponselku yang tadi disodorkan oleh Kyuhyun oppa dan kembali memasukkannya ke dalam kantong celanaku. Aku menatap Kyuhyun oppa bingung, “Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyaku spontan.
Kyuhyun oppa kembali tersenyum dan menggeleng, “Aniya, bukan apa-apa. Kau tidak perlu tau. Itu urusan namja.” Aku berdecak kesal. Cih, apa-apaan itu? Urusan namja? Bah, menyebalkan sekali mereka itu. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Aku curiga, pasti ada yang mereka sembunyikan. Apa mungkin Yoonhee eonni tau? Haruskah aku menelponnya sekarang? Haruskah?

“Aniya, kami tidak menyembunyikan apapun darimu. Tenanglah.” Oke, jadi mereka mau bermain sembunyi-sembunyi? Baiklah, kalau begitu biar aku yang mencari tau. Kuambil lagi ponselku, kemudian menelpon speed dial nomor 5. “Siapa yang kau telfon?” tanya Kyuhyun oppa penasaran. Aku merengut, tapi aku tidak menjawabnya… biar saja.

“Yeobosaeyo, ada apa menelponku malam-malam begini Hwayeon-ah?”
“Ah mian eonni, aku hanya ingin bertanya… Apa Ravi oppa sedang bersamamu?”

“Ne, bukankah tadi dia menelponmu? Ada apa?”

“Ah… tadi dia berbicara dengan Kyuhyun oppa. Mereka tidak mau memberitahuku. Apa eonni tau apa yang mereka bicarakan?”

“Ah jinjja? Tadi sih mereka berbicara tentang-”

“YAK! MATIKAN TELFONNYA MATIKAN!”

“Kau ini kenapa sih? Aku sedang berbicara dengan adikmu.”

“Sudah matikan saja telfonnya, cepat.”

“Tapi aku sedang- YAK!”

Tuuuutttt

Aku menatap ponselku dengan kesal. Apa-apaan itu tadi? Kenapa Ravi oppa sampai segitunya? Apa sih yang mereka sembunyikan sebenarnya? Aku mendengus, kemudian menjauhkan diriku dari Kyuhyun oppa dengan kesal. Bisa kuengar suara kekehan Kyuhyun oppa di sebelahku. “Waeyo tuan putri? Merajuk hemm?” Aku melipat tanganku di dada, mempertegas kalau aku saat ini memang sedang merajuk.

Author POV

Kyuhyun kembali terkekeh saat melihat kekasihnya itu melipat tangan di atas dadanya dan menolak untuk melakukan kontak mata dengannya. “Ayolah… kita sedang berkencan sekarang, jangan merajuk eoh?” Kyuhyun menusuk-nusuk pipi chubby Hwayeon dengan gemas, sampai Hwayeon memelototinya dan raut wajah menggemaskan. “Diamlah kau menyebalkan! Aku membencimu!” Kyuhyun kembali terkekeh, lalu dengan cepat namja itu memaksa untuk merangkul Hwayeon yang masih merajuk.

“Arraseo mianhae, jangan merajuk. Kita sudah hampir sampai loh.” Bujuk Kyuhyun sambil tersenyum geli. “Apa peduliku?” Oh-oh, rupanya Hwayeon masih tetap pada pendiriannya dan terus merajuk. Kyuhyun tersenyum simpul, dengan cepat namja itu meraih dagu Hwayeon dan memaksa gadis itu agar menatapnya. “Jadi kau tidak peduli hmm?”
Hwayeon diam, terpaku oleh mata Kyuhyun yang saat ini tengah menyorot tajam padanya. “Y-ya, a-aku tidak p-peduli.” Jawab Hwayeon sambil tergagap.
Kyuhyun tertawa dalam hati, merasa puas telah membuat kekasihnya itu terperosok kembali ke dalam pesonanya. “Begitukah?” tanya Kyuhyun pelan dengan suara parau.

Glek

Hwayeon menelan salivanya gugup, matanya bergerak gerak gelisah. “Y-ya.” Kyuhyun menyeringai, “Kau yakin?” tanya namja itu lagi sambil mempersempit jarak diantara wajah mereka. Hwayeon mengangguk panic, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa ia lihat, kecuali mata Kyuhyun.
“Begitu rupanya, yasudah kalau begitu kita pulang saja. Buat apa kita melanjutkan kencan jika kau bahkan tidak peduli?” Kyuhyun menjauhkan wajahnya, dan bersiap-siap berdiri. Yah, hanya pura-pura juga sih sebenarnya. Hwayeon mengerjapkan matanya, lalu menggeleng panic. “MWO? ANDWAE! Arraseo, mianhae! Aku tidak akan merajuk lagi!” pekik Hwayeon cepat.

Kyuhyun tersenyum puas saat Hwayeon mencengkram erat kemejanya sampai kusut. “Benar? Katanya kau tidak peduli?” goda Kyuhyun lagi. Hwayeon menggeleng cepat dengan mata memelas, “aniya, aku hanya bercanda. Jangan pulang sekarang, aku masih ingin bersamamu.” Kyuyun tersenyum kemudian kembali membawa Hwayeon ke dalam pelukannya. “Arra” jawab namja itu pelan.

.

“Huaaaaaaaaa!!!!! Indah sekali!!!!!” Kyuhyun tersenyum senang saat melihat senyum lima jari terpasang sempurna di wajah kekasihnya. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower, kalian tahu jelas kan tempat apa itu. Hwayeon sendiri sudah berlari kearah pagar dengan mata terbuka lebar. Berkali-kali decakan kagum terdengar dari bibirnya.
Kyuhyun menghampiri Hwayeon, lalu memeluk yeoja itu dari belakang. “Bagaimana? Kau suka?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon mengangguk-ngangguk antusias sebagai jawaban, jangan lupakan matanya pun berbinar-binar senang. “Suka! Aku sangat suka! Gomawo, sudah membawaku kemari… ini indah sekali” jawab Hwayeon dengan suara tercekat.
Hwayeon menolehkan kepalanya ke samping, membuatnya bertatapa dengan mata Kyuhyun. “gomawo oppa, jeongmal gomawo” lirih Hwayeon pelan. Kyuhyun terdiam, namja itu terus memaku mata Hwayeon, sampai akhirnya… entah siapa yang memulai. Kedua belah bibir mereka akhirnya bertemu.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba meredam perasaan memabukkan yang saat ini tengah melandanya. Perasaan yang membuat jantungnya terus bertalu dengan cepat. Mereka berdua terus berciuman, memadu kasih mereka, tanpa memperdulikan posisi mereka yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian.

Entah berapa lama mereka terus berada di dalam posisi intim itu. Sampai akhinya Kyuhyun berinisiatif untuk melepaskan cumbuannya. Kyuhyun menatap Hwayeon yang sibuk meraup udara dengan senyum puas. Hwayeon sendiri sibuk meraup nafas sebanyak-banyaknya, sambil berusaha menahan rasa malu yang tiba-tiba saja bersarang di otaknya saat menyadari kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi.
Kyuhyun merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah gembok berbentuk hati dan sebuah spidol. Hwayeon sepertinya masih belum menyadarinya, karna gadis itu masuh sibuk menteralkan deru nafasnya berkat ‘pertarungan’ mereka tadi.

“Chagiii…” panggil Kyuhyun lembut. Hwayeon menoleh, mata gadis itu kemudian kembali melebar saat melihat benda yang ada di tangan Kyuhyun. “Omo! Gembok cinta!” pekik Hwayeon girang, tapi kemudian gadis itu mengerutkan keningnya bingung, membuat Kyuhyun ikutan bingung. “Wae?” tanya Kyuhyun penasaran saat Hwayeon menoleh ke bawahnya seakan mencari-cari sesuatu. “kenapa gemboknya cuma satu? Apa oppa menjatuhkannya? Kok tidak ada?” tanya Hwayeon bingung sambil tetap celingak celinguk mencari gembok yang ia yakini mungkin saja jatuh di suatu tempat.

Kyuhyun mengerjap, kemudian namja itu tersenyum geli. “Ah, aniya. Aku tidak menjatuhkan apapun kok. Aku memang hanya menyiapkan satu.” Hwayeon menatap Kyuhyun dengan bingung, membuat Kyuhyun gemas sendiri. “Wae? Kita kan ada dua.” Tanya Hwayeon semakin bingung.
Kyuhyun menghela nafas, kemudian namja itu menggenggam kedua tangan Hwayeon dengan lembut. “Aku memang hanya menyiapkan sebuah gembok. Kau tau kenapa?” Hwayeon menggeleng polos. Kyuhyun kembali tersenyum simpul. “Kau tau, sebuah gembok memiliki dua sisi yang berbeda. Depan dan belakang. Benar?” Hwayeon mengangguk bingung, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Kyuhyun dengan perumpamaan itu.

“Hah, jadi… gembok itu melambangkan kita.” Jelas Kyuhyun singkat, padat, namun tidak jelas. Setidaknya itu menurut Hwayeon.

Dia pasti tidak mengerti batin Kyuhyun geli setengah jengkel.

“Maksudku, gembok itu seperti kita. Gembok memiliki dua sisi yang berbeda, sama seperti kita yang bertolak belakang, berbanding terbalik. Kau bodoh, aku pintar. Kau polos, aku tidak. Yah seperti itu contohnya. Kita memang saling bertolak belakang, semua yang ada di dalam diri kita berbeda. Semuanya. Tapi tetap saja, entah bagaimana caranya. Kita menjadi satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan, entah oleh apapun. Mungkin kita bisa terpisah, tapi pada akhirnya… kita tetap akan menemukan potongan diri kita yang satu lagi. Dan kenapa aku memilih untuk menyiapkan gembok dengan bentuk hati? Karena gembok ini akan melambangkan cinta kita. Hati, cinta, dan satu. Kau mengerti maksudku?” ujar Kyuhyun panjang lebar. Hwayeon masih melongo, mencoba mencerna seluruh perkataan namja itu. Tapi sebagian besar, yeoja itu mengerti maksud Kyuhyun dengan semua ini.

Tiba-tiba saja mata Hwayeon memanas. Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan panic saat tiba-tiba saja air mata terjatuh dari mata Hwayeon. “Y-ya! Kenapa malah menangis? Aigooo!!” Hwayeon berhambur ke dalam pelukan Kyuhyun, dan disambut dengan baik oleh namja itu. “Cup cup, sshhh. Uljima.” Kyuhyun bingung juga sebenarnya. Entah apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada gadis semacam Hwayeon. Karena seperti yang ia bilang tadi, mereka berdua benar benar berbeda, alias bertolak belakang.

“Hikss..hiksss, gomawo oppa. Aku benar-benar terharu. Hiks hiks, aku mencintaimu oppa.”
“Arrayo.. aku juga mencintaimu. Jja, sekarang tenanglah. Jangan menangis. Lebih baik kita pasang gembok tadi, tapi sebelum itu.. tulis harapanmu d salah satu sisi gembok ini. Cepat.” Hwayeon mengangguk cepat saat Kyuhyun meyodorkan gembok dan spidol padanya. Kemudian gadis itu menjauh bersama dengan gembok dan spidol di tangannya. Kyuhyun mengamati dari jauh saat Hwayeon mulai menulis sesuatu di salah satu sisi gembok.

Tidak lama berselang, Hwayeon kembali dan menyodorkan gembok itu kembali pada Kyuhyun. “jja, sekarang oppa yang harus menulis harapan oppa. Jangan mengintip punyaku loh ya, awas saja.” Kyuhyun mengambil gembok dari tangan Hwayeon dan mulai menulis di sisi gembok yang kosong.

Aku harap kami akan hidup dan berbagi kebahagiaan bersama-sama untuk selamanya

-Kim Hwayeon

Kan kujadikan dirimu wanita paling bahagia di dunia dengan seluruh kemampuanku

-Cho Kyuhyun

Namja itu kemudian mengajak Hwayeon untuk memasangkan gembok itu, mereka berjalan menyusuri sekitar pagar berusaha mencari tempat kosong untuk memasang gembok mereka. “Disini saja oppa!” ujar Hwayeon sambil menunjuk sebuah spot kosong diantara padatnya gembok-gembok cinta.

Kyuhyun melihat tempat tersebut, dan keduanya memutuskan untuk memasang gembok cinta mereka disana. Kyuhyun menggantungkan gembok mereka diantara jutaan gembok yang berada di sana, kemudian mereka membuang kunci mereka di tempat yang sudah disediakan.
“Apa yang oppa tulis tadi?” tanya Hwayeon penasaran saat mereka sudah berada di halaman depan rumah Hwayeon. “Itu rahasia, kalau kukatakan, nanti tidak terkabul.” Hwayeon berdecak sebal lalu mengerucutkan bibirnya. “Yasudah.” Gerutunya sebal. Kyuhyun tersenyum. tanpa aba-aba, namja itu kemudian menanamkan sebuah keupan singkat di bibir Hwayeon. “Gomawo, sudah mau menemaniku hari ini.” Lirih Kyuhyun pelan sambil membawa Hwayeon ke dalam rengkuhannya.

Hwayeon balas melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Kyuhyun, kemudian gadis itu mengangguk pelan. “Harusnya aku yang berterima kasih padamu oppa. Gomawo, sudah mengajakku berkencan. Aku bahagia sekali.”
“Ne, apapun untukmu sayang.”

Mereka berdua berpelukan dalam diam. “Hah, rasanya aku tidak rela harus melepasmu sekarang.. Aku masih ingin bersamamu.” Wajah Hwayeon sontak memanas dengan sendirinya saat ia mendengar gerutuan Kyuhyun. “Kalau begitu oppa menginap saja.” Ujar Hwayeon tiba-tiba. Mwoya, apa-apaan itu tadi Kim Hwayeon. Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu. Aigo, eotteokhae? Batin Hwayeon nelangsa.

“Kau benar. Aku menginap saja, kajja kalau begitu. Kita masuk” Hwayeon kaget bukan main saat Kyuhyun tiba-tiba mneyeretnya masuk kedalam rumah. Belum sempat Hwayeon melayangkan protesnya, mereka sudah berhenti di ruang tamu. “Omo, annyeeonghaseyo ahjumma, ahjussi.” Sapa Hwayeon spontan. Gadis itu kemudian menunduk dengan sopan.
“Eomma dan appa sedang apa disini?” kali ini Kyuhyun yang bersuara. Heechul berdecih, “memangnya kenapa kalau eomma kesini? Tidak boleh?” tanya Heechul sengit. Kyuhyun mengerjapkan matanya pelan kemudian menggaruk tengkuknya bingung, “Ani, hanya saja a-“
“Aaaah sudahlah, kau diam saja. Sana pulang, sudah malam tau. Kluyuran saja.” Potong Heechul. Kyuhyun menggeram tidak suka. Namja itu melayangkan pandangan sengit pada sang eomma, dan dibalas dengan tak kalah sengit dengan sang eomma. Hangeng yang melihat kelakuan istri dan anaknya tertawa kecil, begitupun dengan Leeteuk dan Kangin. “Sudahlah kalian berdua, apa kalian tidak malu? Lihatlah umur kalian, seperti anak kecil saja.” Sindir Kangin, appa Hwayeon, sambil tertawa geli.

Baru saja Kyuhyun dan Heechul sama-sama membuka mulut untuk protes, Leeteuk sudah memotongnya. “Sudah, tidak perlu berdebat lagi. Ini sudah malam. Kyu, kalau bisa… tolong menginap disini, kami berempat harus pergi sekarang karena harus mengurus beberapa hal. Dan ravi, oppa Hwayeonpun saat ini sedang tidak ada di rumah. Sedang pergi dengan Yoonhee katanya. Tolong jaga Hwayeon untuk kami ne? Kami harus pergi sekarang, kajja yeobo. Kajja hangeng, heechul-ah, kita berangkat sekarang. Annyeong chagi, baik-baik ne.” Kyuhyun dan Hwayeon menyaksikan dengan bingung saat Leeteuk menarik Kangin, Hangeng, dan Heechul keluar dengan paksa. Mereka berempat terus berdebat, sampai akhirnya mereka berempat menghilang dibalik pintu.

“Apa-apaan sebenarnya mereka itu? Cih, menyebalkan.” Gumam Hwayeon pelan.
“Sudahlah, tidak perlu memikirkan mereka. Ayo, kita tidur sekarang. Kau pasti lelah.” Hwayeon hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Kyuhyun menuju kamarnya sendiri.

Kamar Hwayeon

“Oppa mau tidur menggunakan kemeja itu?” seakan tersadar, Kyuhyun menoleh kearah pakaiannya kemudian mendesah.
“Ah benar, masa aku harus tidur menggunakan kemeja ini? Mana nyaman?” gumam Kyuhyun lebih untuk dirinya sendiri.

“Aaaah, aku tau!” Kyuhyun memandang Hwayeon bingung saat tiba-tiba saja Hwayeon berlari kearah lemarinya sendiri di sudut kamar. Beberapa lama, hwayeon seperti mencari sesuatu. Lalu gads itu kemudian kembali sambil membawa sepasang piyama lelaki dan memberikannya pada Kyuhyun. “Igo.” Kyuhyun menerima baju yang Hwayeon serahkan dengan bingung. “ini milik siapa? Ravi hyung?” tanyanya penuh selidik. Hwayeon dengan polos menggeleng. “Aniya itu milikku, aku membelinya.. itu piyama couple. Aku punya yang warna pink, akan ku pakai. Oppa gantilah baju itu disini, aku akan ganti di kamar mandi. Oke?”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hwayeon langsung melesat kedalam kamar mandi sambil membawa piyama yang sama seperti yang Kyuhyun bawa, hanya saja berbeda warna dan ukuran. Kyuhyun dan Hwayeon sama-sama menyelesaikan ritual mengganti bajunya. Hwayeon berjalan dari kamar mandi dengan wajah merah padam sambil melipat tangannya di depan dada.

Kyuhyun mengamati Hwayeon yang berjalan kearahnya dalam diam. Manis batin Kyuhyun.
“Eoh? Kenapa kau melipat tanganmu seperti itu?” tanya Kyuhyun bingung. Hwayeon tersentak, “E-eoh? Ah itu aku,-“ gadis itu kemudian menunduk, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. “Ah, aku tau. Tidak perlu dilanjutkan. Yasudah, ayo kita tidur. Kemarilah.” Hwayeon berjalan kaku kearah ranjang. Kyuhyun menunggu Hwayeon mendekat dengan sabar. Lalu saat Hwayeon sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan sigap Kyuhyun memeluknya.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.” Hwayeon mengangguk pelan. Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya sendiri pada Kyuhyun, lalu balas memeluk tubuh Kyuhyun dan menyandarkan kapanya di dada bidang namja itu.

“Jaljayo oppa” gumam hwayeon pelan sambil mulai memejamkan matanya. “Jaljayo baby.”

-o0o-

Hwayeon menggeliat, kemudian kedua matanya mulai terbuka secara perlahan. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambutnya, membuat gadis itu terpaksa menutup kembali matanya. Hwayon kemudian mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangannya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang baru bangun dari tidurnya dengan senyum mengembang. “good morning princess.” Sapa Kyuhyun lembut.

Cup

Hwayeon tersenyum lalu balas menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Good morning juga prince.” Balas Hwayeon dengan suara serak. Kyuhyun mengangkat tangannya ke wajah Hwayeon, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jadi ke wajah gadis itu. “Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan ini padamu.” Ujar Kyuhyun tiba-tiba.
Hwayeon mengerutkan keningnya bingung. “Ne? Maksud oppa? Mengatakan apa?”

Kyuhyun mendekatkan wajah mereka kembali, membuat wajah mereka hampir tidak berjarak. Kyuhyun berhenti tepat di permukaan bibir Hwayeon. “Happy birthday princess.”

Cup

Mata Hwayeon melebar. Happy birthday? Tunggu dulu, apa aku berulang tahun hari ini? Memangnya tanggal berapa hari ini? Batin Hwayeon bingung.

“A-“

BRAAKKK

“Saengil chukkahamnida… saeingil chukkahamnida… Saranghaneun, uri Hwayeon-ie… Saengil chukkahamnida.”
Hwayeon melongo saat segerombolan makhluk-makhluk memasuki kamarnya. Semua sahabatnya ada disana, Ravi, orangtuanya dan orang tua kyuhyun juga berada disana. Bahkan Lee dan Song ahjummapun berada disana. Belum sempat Hwayeon bereaksi, Kyuhyun tiba-tiba saja kembali mengecup cepat bibirnya di hadapan semua orang.

Cup

“Saengil chukkae baby. Semoga seluruh harapnmu bisa terkabul. Panjang umur dan sehat selalu, Tuhan menyertaimu.” Kyuhyun tersenyum lembut, begitu juga semua yang ada disana. “gomawo semuanya… Aku sungguh, ah.. aku bahkan tidak mengingat kalau hari ini aku berulang tahun. Jeongmal gomawoyo, semuanya. Oppa, eomma, appa, ahjumma, ahjussi, eonni… gomawo semuanya.” Semuanya berhamburan di sekitar kasur Hwayeon. Mereka mengobrol dan bersenda gurau bersama dengan posisi mengelilingi Kyuhyun dan Hwayeon.
“Ahhh! Kita melupakan sesuatu!” pekik Heechul secara tiba-tiba, mengagetkan yang lain.

“Apa maksudmu chulie-ah.” Tanya Leeteuk bingung.
“KADO!!!” pekik Yoonhee, Eunhye, dan Hyojin secara bersamaan. Hwayeon melongo.

“Tunggu, kalian-”
“AKU DULUAN NE!!!” pekik Heechul memotong ucapan Hwayeon. Heechul kemudian tiba-tiba saja berlari keluar kamar Hwayeon dengan cepat.

“Ke-“
“Ini dia!” Hwayeon kembali melongo saat Heechul mengacungkan sebuah amplop padanya.
“Ini! Ini hadiah dariku dan Hangeng. Jja, terimalah.” Hwayeon menerima amplop sodoran Heechul dengan bingung.

“Ini-“
“Sekarang aku!” kali ini Eunhye yang bersuara. Gadis itu kemudian keluar, dan masuk kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah darah berukuran cukup besar. “Ini hadiah dariku untukmu, kau harus memakainya nanti malam.”
Hwayeon menerima kotak pemberian Eunhye dengan bingung. Gadis itu membuka kotak tersebut dan terbelalak, “tunggu, kenapa kau memberiku sepatu? Memangnya harus kupakai untuk apa? Aish, kenapa kalian aneh sekali. Aku-“

“Ini dariku.” Potong Hyojin cepat. Hwayeon menghentikan ocehannya dan menatap kotak yang diberikan Hyojin padanya. Berbeda dengan kotak yang Eunhye berikan, kotak dari Hyojin berukuran lebih besar, namun kotak tersebut lebih pendek. Hwayeon menyerah, mencoba untuk tidak protes. Gadis itu membuka kado pemberian Hyojin. “Dan… kenapa kau memberiku gaun? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan sih?!” sungut Hwayeon kesal.
Tidak ada satupun yang menganggapi ocehan Hwayeon. Yoonhee sekarang yang menyodorkan sebuah kotak pada Hwayeon.

Hwayeon melihatnya dengan jengkel. “Apa lagi yang kau berikan padaku eonni?” tanya Hwayeon sebal. “Buka saja, cerewet.” Hwayeon berdecih, lalu gadis itu membuka kado pemberian Hwayeon. “Bedak, eyeshadow, lipstick, parfum… Yah, kenapa pula kau memberikan barang seperti ini padaku eonni?”tanya Hwayeon kali ini benar-benar jengkel.
Tapi lagi-lagi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan itu, termasuk Kyuhyun. Ravi bangkit berdiri tiba-tiba lalu berjalan keluar kamar. Tidak selang berapa lama, Ravi datang sambil membawa boneka panda super jumbo. “Nih, untuk adik oppa yang manis. Aku berikan kau kembaran.” Hwayeon melongo, menatap boneka panda super besar di depannya dengan bingung.

“Karena kau suka sulit tidur, oppa memberimu teman untuk tidur. Kau dengan boneka itu sama. Sama-sama memiliki mata panda. Jadi jika kau sulit tidur lagi, peluk saja boneka itu. Anggap saja boneka itu oppa atau siapapun terserah padamu. Oppa yakin kau bisa tidur dengan mudah dan nyenyak.” Hwayeon menatap lekat-lekat boneka panda yang duduk dihadapannya, lalu memeluk boneka itu. “Gomawo oppa…” lirih yeoja itu pelan.

Ravi dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Hwayeon. “Jja, kalau begitu tingga eomma dan appa yang belum member hadiah. “Jja, ini untukmu.” Hwayeon mengangkat sedikit kepalanya, mengintip kado pemberian Leeteuk dan Kangin.
Leeteuk da Kangin memberikan hwayeon sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Hwayeon mengangkat kepalanya degan benar, lalu menatap Leeteuk lekat-lekat. Gadis itu tau benar apa yang ada di dalam kotak beludru tersebut. “Eomma…”

“Anak eomma sudah besar sekarang. Kau dan oppamu akan segera menikah. Sudah waktunya eomma memberikanmu benda ini, Pakailah ne? Jaga baik-baik.” Leeteuk tersenyum, tapi air mata tetap saja mengalir dari mata yeoja itu. “Eommaaaaa” Hwayeon dengan cepat berhambur ke dalam pelukan Leeteuk saat gadis itu melihat sang eomma mulai menitiskan air mata. “Eomma uljimaaa” lirih gadis itu pelan.
Seumur hidupnya, Hwayeon tidak pernah tahan melihat airmata sang eomma. Eommanya yang begitu berharga… “Arraseo, mianhae… Harusnya eomma tidak menangis. Jja, jagalah ini baik-baik. Pakailah ini untuk nanti malam.” Hwayeon merengut saat lagi-lagi mendengar kaliat itu kembali terucap.

Hwayeon menarik diri dari pelukan eommanya, lalu menatap semua yang ada disana dengan tatapan menuduh. “Kalian menyembunyikap apa sebenarnya dariku. Kenapa kalian semua membicarakan nanti malam terus menerus? Memangnya ada apa nanti malam? Kenapa aku tidak tau apa-apa?” tanya Hwayeon dongkol.

Tapi seperti tadi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan Hwayeon. “Ah, kita harus bersiap-siap untuk nanti malam. Kajja, biarkan mereka berdua dulu.” Hwayeon merengut saat semua orang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan tadi Ravi menepuk-nepuk kepalanya.

Tiba-tiba saja suasana kamar Hwayeon sepi karena semua orang sudah keluar. Menyisakan Hwayeon dan Kyuhyun yang sejak tadi membisu. “Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan?” lirih Hwayeon bingung. Gadis itu menatap kembali hadiah-hadiah yang di dapatkannya yang masih berada di ranjang dengan bingung.
“Hah… sudahlah, mereka memang aneh.” Gumam hwayeon pasrah. Gadis itu kemudian membereskan kado-kado yang diterimanya, lalu menumpuknnya dengan rapih di sisi kasur, termasuk boneka panda yang diterimanya dari ravi.

Hwayeon akhirnya menoleh pada Kyuhyun. Kyuhyun dari tadi hanya diam, duduk bersender pada kepala ranjang dan mengamati Hwayeon. “Oppa tidak memberikanku hadiah seperti mereka?” tanya Hwayeon penasaran. Gadis itu kemudian merangkak mendekati Kyuhyun, dan berakhir di dalam pelukan namja itu. “Kau menginginkan hadiah dariku?” tanya Kyuhyun balik.

Hwayeon menggeleng, “Ani, aku hanya penasaran saja.” Jawabnya pelan. “Kalau kau mau tau hadiah dariku, kau harus ikut bersamaku ke suatu tempat nanti malam.”
Hwayeon menghela nafas dengan keras. “Jadi kalian memang merencakan semua ini, cih. Menyebalkan sekali.”
Kyuhyun tersenyum simpul. “Jadi kau tidak mau?”

“Tentu saja aku mau.” Jawab Hwayeon cepat.
“Kalau begitu terima saja, semua ini sudah kusiapkan susah payah untukmu tau…”

“iish, arraseo. Gomawo ne?”
“Kau bahkan tidak tau apa kado dariku.”

“Cih, aku kan hanya berterimakasih.”
“Ya tetap saja. Kau tau hadiah dariku saja tidak.”

“Kau itu cerewet sekali! Yasudah! Kutarik lagi ucapan terimakasihku tadi!”
“Yak! Mana bisa seperti itu?!”

“Tentu saja bisa!”
“Yak! Gadis nakal ini!”

“Ish berisik!”
“Ck! kau ini!”


To be continued…