Archives

Chewing Gum Part 2~

Title: Chewing Gum

 

Cast:

Song Min Ji (OC)

Lee Min Hyung (Mark NCT)

Other:

Lee Byung Hyun (L.Joe Teentop)

Cho Hyo Jin(OC)

Jisung NCT

Genre: romance, drama, schoollife

Leght: Chapter

Rat: G

Author 2 is back!!!

Makasih udah nungguin Author 2*geer*

Di chapter 2 ini Mark POV semua yah..

Udah ah basa basi nya. Langsung ke cerita nya aja yaaaa..

Happy reading!!

Chapter 2

“I Want to Know All About You”

“Jadi kau tidak takut dengan fans ku?”

Hah! Sampai kapan aku harus menjadi orang  yang dicampakan oleh mereka? Dan apa itu maksudnya Min Ji sering mengelus rambut Jisung? Entah kenapa aku mulai kesal mendengarnya.

Well, aku baru mengenal Min Ji tadi pagi karna kejadian tadi. Aku tertarik dengannya. Bukan nya aku menyukainya, tapi aku hanya  terarik dengan nya. Dia berbeda dengan yeoja lain yang berisik seperti sahabatnya itu.  Memang aku kesal dengan nya tadi pagi tapi wajah marahnya terlihat lucu dan imut sekali.

Tidak! Aku tidak menyukainya. Aku hanya tertarik dengan nya. Ingat itu!

Kulihat wajahnya menegang. Lucu sekali wajahnya. Aku hampir tertawa melihatnya. Ternyata menyenangkan menjahili yeoja ini.

“Emm.. bukan begitu maksudku Mark. Aku pun takut pada fansmu.” Min Ji menundukan kepalanya. Apa dia takut?

“ Ada apa ini, hyung?” Tanya Jisung sok polos. Aku hanya menatapnya seolah berkata’Jangan berpura-pura . Kau tau semuanya ,bocah’

“Tak ada apa-apa Jisung. Bagaimana kalau noona mentraktirmu makan hari ini? Ayo kita pergi!” terimakasih pada Hyo Jin karna telah menarik Jisung bersamanya dan meninggalkan aku dan Min Ji. Suasana semakin awkward.

“Aku kan sudah meminta maaf padamu. Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu.” Ucapnya dengan imutnya.

“Bertanggung jawab? Apa kau yakin?Lihat, kukira hanya kakiku yang memar ternyata tanganku juga memar.  Kalau kau bersedia aku akan menerima tawaranmu.” Ucapku nakal. Hey, tidak ada salahnya menjahili nya kan? Sejujurnya memar yang kurasa sudah tidak terlalu sakit. Tapi siapa tau ini kesempatan yang bagus untuk dekat dengannya.

Apa? Kalian bilang aku menyukai nya? Tidak. Aku hanya ingin tau lebih dalam tentang dia. Sepertinya ini akan menyenangkan. Itu saja.

“Iya. Aku akan bertanggung jawab. Jadilah assisten pribadiku di sekolah.” Ucapku sambil memasang tampang serius.

“Assisten?Bagaimana bisa? Kita berbeda kelas dan aku tak tau jadwalmu. Aku bahkan tidak tau kau tau namaku atau tidak.” Jawabnya. Astaga Song Min Ji! Kau ini kenapa bisa lucu sekali! Dia menanyakan apakah aku tau namanya atau tidak? Demi temannya, Hyo Jin yang sangat berisik itu! Sudah jelas saat tadi pagi Hyo Jin memanggil namanya dan bahkan tadi Jisung pun memanggilnya.

“ Saat istirahat kau harus mengikutiku. Dan saat pagi hari kau harus sudah ada di sekolah untuk membawakan barang-barangku. Dan untuk masalah jadwal, aku akan mengirimkannya lewat line. Jadi berikan id line mu sekarang juga!” Ia hanya terdiam dengan mata membesar. Kenapa dia bisa selucu ini?

“Apa kau baru saja meminta id lineku?” tanyanya masih dengan ekspresi yang sama.

“Iya. Cepat! Hari ini sekolah meliburkan sekolah karna ada rapat mendadak. Aku ingin pulang dan istirahat.” Min Ji langsung mengeluarkan Handphonenya. Kami bertukar id line dan aku mencoba meng- call Min Ji. Segera aku mengambil Handphone Min Ji dan mengganti username ku dari “Mark Lee” menjadi “My Man,The Handsome Lee”

“Ya! Kenapa  kau mengganti username nya dengan itu?” ia telihat kesal melihat usernameku.

“Memang nya aku salah? Aku sangat tampan.” Ucapku percaya diri. Banyak orang bilang aku sangat judes dan cuek. Sesungguhnya aku tak seperti itu. Aku hanya menunjukan sifat asliku pada orang yang memang dekat denganku. Bahkan dengan member lain pun aku tidak menunjukan sifat asli ku sepenuhnya. Aku yang sebenarnya adalah namja yang sedikit jahil dan terlalu percaya diri.

“Oke. Untuk itu terserah saja padamu. Tapi,apa apaan itu ‘My Man’? Kau kan bukan namjachingu ku.” Wajahnya memerah! Apa dia suka padaku? Menggemaskan sekali dia.

“ Kau ingin aku menjadi namjachingu mu?” godaku. Ternyata ini memang menyenangkan.

KRINGGGG

“Angkat lah. Siapa tau penting.” Kata Min Ji. Aku mengeluarkan Handphone yang tadi nya sudah kumasukan ke saku.

L.Joe Hyung

Aish, L.Joe menggangguku saja. Biarkan saja lah. Mungkin dia sudah sampai depan sekolah untuk menjemputku.

“Hey,kenapa kau tidak menjawabnya?” Tanya Min Ji.

“ Tak penting. L.Joe hyung hanya memberitahuku kalau dia sudah sampai di sekolah untuk menjemputku.” Jawabku santai. Kulihat matanya membesar dan tangannya menutup mulutnya. Seperti orang yang terkejut.

“Kau adiknya L.Joe Oppa? L.Joe TeenTop?”

Jangan bilang dia adalah ANGEL(fans TeenTop). Jika benar aku akan mendiamkan L.Joe hyung saat dijalan.

“Iya. Aku dongsaeng nya L.Joe Teentop. Wae?” Kumohon jangan bilang kau adalah ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau ANGEL. Jangan bilang kau adalah ANG…

“Aku adalah ANGEL!! Astaga, kenapa aku tidak melihat info kalau kau adalah adik nya L.Joe Oppa?” Ah sudah selesai. Dia tertarik dengan L.Joe hyung. Aku sedikit membencimu hyung.

“ Well, aku dan hyung merahasiakannya. Aku tidak ingin dikenal sebagai adik dari L.Joe Teentop. Kau harus merahasiakannya! By the way, kau suka siapa di TeenTop?”aku mencoba untuk tenang agar nanti jika Min Ji menjawab dia menyukai L.Joe hyung , aku tidak akan langsung memukuli hyungku itu.

“ Hmm.. aku suka semua tapi aku paling suka Ricky Oppa.”jawabnya sambil tersenyum.  Manisnya. Aku sedikit lega karna jawabannya bukan L.Joe hyung.

“Tapi kau harus tau kalau aku dulu lebih suka L.Joe Oppa daripada Ricky Oppa karna dulu L.Joe Oppa itu tipeku.”

BOOOM

Seperti terkena bom hatiku hancur mendengarnya. L.Joe hyung adalah tipenya? Aku bersaing dengan hyungku sendiri? BERSAING? Ah, aku sudah tidak peduli. Terserah kalian ingin mengatakan jika aku menyukai Min Ji.

“Tapi sekarang banyak yang menyukai L.Joe Oppa. Jadi aku tertarik dengan Ricky Oppa. Dan akhir-akhir ini TeenTop semakin terkenal dan semakin banyak yeoja cantik yang menyukai mereka. Aku tak mungkin bisa menandingi yeoja -yeoja cantik itu. Jadi aku sedang  mencari idol yang fans nya sedikit.” Katanya.

“Jadi kau tidak suka idol yang banyak fans? Kau unik dan berbeda.” Jawabku. Ia tersenyum  ke arahku.

“ Begitulah aku. Aku adalah yeoja yang berbeda dari yeoja lain nya.” Senyuman manis nya terlihat lagi. Aku bisa diabetes kalau begini ceritanya.

“Apa aku harus tidak terkenal agar kau menyukaiku?”godaku lagi. Kulihat ia kaget dan sedikit tertawa.

“Bagaimana caranya kau jadi tidak terkenal jika kau sudah debut di dua sub-unit dan memiliki ketampanan seperti itu? Haha..” Ia tertawa lepas. Waw! Dia bilang aku tampan! Rasanya sangat aneh. Banyak orang bilang aku tampan tapi rasanya berbeda saat Min Ji yang mengatakannya padaku. Aku memutuskan untuk diam dan melihatnya tertawa sepuasnya.

“Jadi kapan kita akan pulang nae namdongsaeng ??”

“Ah! Hyung! Kau mengagetkanku!” Ternyata L.Joe hyung datang mencariku. Ia seperti bertanya-tanya siapa yeoja yang ada di sebelahku. Sedangkan aku melihat raut Min Ji yang berubah menjadi malu-malu dan itu sangat manis. Aku mendadak kesal karna wajah manis itu ditunjukan bukan untukku.

“ Hmm.. Anyeong, yeppeun yeoja! Aku hyung nya Mark. L. Joe imnida.” Sapa hyung pada Min Ji. Min Ji sepertinya tak tau harus bagaimana karna ia lebih memilih untuk tersenyum malu pada hyung.

“Ah, Aku Min Ji. Song  Min Ji imnida. Dan aku seorang ANGEL.” Aku muak dengan ini. Kenapa yeoja ini harus suka pada hyung.

“Aigoo… Kau manis sekali! Karna kau dekat dengan Mark, aku akan memberikanmu pelukan khusus untuk ANGEL” hyung memeluk dan membelai rambut Min Ji dan Min Ji terlihat senang. Ah, aku semakin muak disini.

“Hey! Hentikan hyung! Dia sekarang punyaku! Jangan ambil punyaku. Cari saja yang lain.” Aku melepaskan tangan L.Joe hyung dari Min Ji. Hyung tertawa melihatnya.

“Apa salahku? Dia ini fansku. Jadi terserah hyung dong.” Aish, aku tak pernah menang dari hyung ini. Lebih baik aku membawa hyung pergi sebelum rasa suka Min Ji   kembali.

“Sudahlah hyung. Ayo kita pulang! Aku lelah! Dan kau jangan lupa buatkan kau sarapan dan makan siang untukku. Bye .” Aku meninggalkan Min Ji yang masih diam. Lucu sekali dia.

“Hey, dia itu siapa?” Tanya hyung padaku. Aku hanya tersenyum.

“Seseorang yang penting. Jangan ambil dia hyung!”

“Kita liat saja nanti.” Hyung ku ini sedikit lebih nakal daripada ku. Huh! Aku tak pernah menang melawannya.

“Mark? Kau adiknya L.Joe?!” Oh tidak! Ini akan menjadi bencana!

-TBC-

 

Haiiiiiii….

Gimana part 2 nya ?? Maaf yah kalau kurang rame. Oh iya , FF ini gak bilang kalo Teentop itu gak terkenal tapi Teentop lebih terkenal akhir-akhir ini daripada dulu. Jadi gak bermaksud bash Teentop loh. Kan Author Angel juga ^^

Anggap saja L.Joe Teentop itu  hyung nya Mark yah . Author gak tau lagi mau siapa yang jadi hyung nya Mark. Dan nanti kira-kira da tiga couple dalam cerita ini. Masih rencana loh ini.

Nah untuk mencari satu couple lagi kalian boleh request siapa yang mau dimasukin kedalam cerita ini.

Dan kalau bisa masih ada hubungannya sama cast nya yah^^ Ditunggu respon nya chingu!!!

Mian kalau masih banyak typo ,seperti yang Author bilang, readers pasti bisa ngerti apa yang Author maksud^^

Anyeong~~

 

 

 

 

 

Advertisements

Tell me what is love // part 1

Tittle: Tell me what is love

Author: Kim Hwa Yeon

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other cast:

Other Sj member | Park Hyera (oc)

Genre: Romance

Length: 1 of ?

Rating: G

note:

oke, ini dia… author persembahkan ff baru. Karena udah tahun baru, jadi ff baru juga keluar deh hehehe. Berhubung find my love udah masuk babak akhir, jadi author post ff baru ini. ditunggu aja oke endingnya find my love. Tapi maaf kalau author agak lama ngepostnya. Lagi males hehe.

Oke udah dulu cuap-cuapnya, dibaca aja. jangan lupa comment.

Paypay ^.~

.

.

.

 

Hwayeon mendesah pelan, merasa lelah karena perkejaannya yang tidak kunjung selesai sedari tadi. Gadis itu kemudian mengernyit saat rasa pening mulai menyerang kepalanya.

Tok tok tok

Hwayeon membenarkan posisi duduknya dalam sekejap, dan merapihkan penampilannya. Ia kemudian menekan sebuah tombol di samping kanannya, dan pintu ruangannya terbuka. Hwayeon membuka mulutnya, hendak menyapa asistennya yang baru saja menerobos masuk ruangannya.

“Kau memiliki rapat bersama dengan para investor tentang resort baru kita yang berada di Jeju sekitar 15 menit lagi, lalu kau akan bertemu dengan perwakilan dari SJ Tv pukul tiga sore, setelah itu kita harus survey Blue Sapphire Hotel pukul lima, dan yang terakhir kau punya janji makan malam dengan keluargamu di Restoran Itali yang biasa kau kunjungi pukul delapan.” Hwayeon mengerjap kemudian menghela nafas lelah.

Park Hyera, asisten yang merangkap sahabatnya itu mendesah prihatin. Tanpa kata, Hyera melangkah mendekati Hwayeon yang sedang memejamkan matanya. Raut kelelahan tampak jelas di wajah Hwayeon, membuat Hyera merasa iba.

“Gwaenchana?” tanya Hyera lembut seraya mengusap lembut kepala Hwayeon.

Hwayeon membuka matanya, menatap memelas pada Hyera, sahabatnya. “Aku lelah eonni.” Keluh Hwayeon pelan. Hyera kembali menghela nafas, ia merasa iba sekaligus khawatir pada sahabatnya yang satu ini. Hwayeon sudah bekerja diperusahaan selama hampir 3 tahun, tapi yeoja itu terlihat semakin kurus dan semakin lemah setiap harinya sejak setahun yang lalu.

Pipi Hwayeon yang awalnya gembul sekarang menjadi tirus, wajahnya yang awalnya cerah sudah berubah menjadi suram. Hyera tau semua itu bukan hanya ditimbulkan karena tuntutan pekerjaan, tapi juga karna sesuatu yang lain. Hyera ingin sekali membantu, tapi sayang ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya itu, walaupun ia ingin.

“Haruskah aku membatalkan seluruh janjimu untuk hari ini?” tawar Hyera berbaik hati. Hwayeon menatap Hyera, tergiur dengan tawaran Hyera. Tapi kemudian wajah Hwayeon berubah sendu, “Aniya, aku akan diamarahi appa jika membatalkan semua janjiku seenaknya. Apa lagi, kau tau sendiri kan bagaimana sulitnya mencocokkan jadwalku dengan perwakilan dari SJ Tv itu.”

Hyera mendesah, “Kau benar.”

Hwayeon tersenyum, “Sudahlah, aku tidak apa-apa eonni. Ah, bukankah kau bilang aku ada rapat sekarang. Lebih baik kau siapkan dokumen-dokumennya, aku akan siap dalam 5 menit.” Hyera mengangguk, lalu berjalan tak yakin ke luar ruangan.

Senyum Hwayeon menghilang seiring dengan menghilangnya tubuh Hyera dari pandangannya. Gadis itu kemudian membuka laci mejanya, mengambil sebuah foto yang menampakkan gambar dirinya versi kecil yang sedang tersenyum lebar bersama dengan seluruh anggota keluarganya.

Hwayeon menyapukan ibu jarinya kearah gambar sosok yeoja paruh baya yang juga tersenyum lebar di samping dirinya versi kecil dengan sangat perlahan. Air mata mulai membayang di pelupuk mata Hwayeon. “Eomma, bogoshipo.” bisiknya lirih.

Tanpa disadarinya, air mata mulai menetes membasahi pipi tirusnya. Hwayeon tersenyum kecut, kemudian mengusap air matanya dengan kasar. “Sudahlah, semuanya akan baik-baik sajakan?” tanya Hwayeon entah pada siapa.

Hwayeon tersenyum, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Disimpannya foto itu kembali ke laci mejanya, kemudian berdiri sembari membenarkan penampilannya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap menuju keluar ruangannya, dan ia disambut oleh tangan Hyera yang terangkat, bersiap mengetuk pintu ruangannya.

“Ah kau sudah siap? Kajja. Kau sudah ditunggu, dan emm… ayahmu juga akan ikut hadir di rapat kali ini.” Ujar Hyera tak yakin. Hwayeon memandang Hyera dengan tatapan kosong, kemudian mengangguk singkat. “Baiklah, kau sudah siapkan seluruh dokumennya?” tanya Hwayeon lagi sambil mulai berjalan kearah lift.

Hyera mengangguk, “Ne, kita akan membahas tentang resort kita yang berada di Jeju, kita mendapat beberapa masalah. Bahan-bahan yang dipakai tidak sesuai dengan perjanjian, harusnya mereka memakai kualitas nomor 1 tapi mereka malah memilih kualitas nomor 3 dan mereka mengatakan kalau dana yang kita berikan kurang. Kurasa pihak kontruksi melakukan penggelapan dana. Maka dari itu direktur utama akan ikut dalam rapat kali ini.” Jelas Hyera disambut kernyitan kening oleh Hwayeon.

Hwayeon diam, tidak menjawab, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam lift. “Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk memantau semuanya disana? Dan juga, aku ingat kalau kita baru saja mengirimkan dana tambahan bulan lalu bukan? Masih kurang? Itu bahkan sudah melebihi dari yang tercantum di surat perjanjian. Dan juga, kenapa bahannya bisa tidak sesuai?” Tukas Hwayeon bingung.

Hyera juga merasa ada yang janggal disini. Pasalnya, baru bulan lalu pihak kontruksi meminta tambahan dana, dan Hyera sudah menyuruh bawahan Hwayeon untuk mengirimkannya, sesuai perintah Hwayeon. Harusnya itu sudah lebih dari cukup, bahkan jika mereka tidak curang dan menurunkan kualitas bahan. Tapi kenapa kurang?

Hyera mengerjap, sesuatu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia menoleh kearah Hwayeon, dan ternyata Hwayeon juga sedang menatapnya dengan seringaian menyeramkan tercetak jelas di bibir Hwayeon.

“Ada yang berusaha bermain-main denganku rupanya.” Ujar Hwayeon dingin. Hyera tersenyum gugup, kemudian berdoa dalam hati. Oh oh, malangnya nasibmu -siapapun dirimu. Salahmu sendiri, kenapa berani-beraninya bermain-main dengan Kim Hwayeon? Siapapun kau, kudoakan supaya Hwayeon tidak terlalu kejam padamu batin Hyera

Lift berhenti, dengan cepat Hwayeon berjalan ke meeting room. Hwayeon membuka pintu ruang meeting, dan suasana ramai yang sedari tadi mendominasi ruangan langsung hilang dalam sekejap. Seluruh peserta rapat langsung duduk dikursinya masing-masing, dan membenarkan penampilan mereka.

Hening

Hwayeon masuk dengan langkah tegas dan percaya diri. Suara gemeletuk high heels dan lantai yang saling berbenturan seketika mendominasi ruang meeting tersebut.

Hwayeon mendudukkan dirinya di tampatnya sendiri, dan memberi isyarat agar rapat segera dimulai. Hyera dengan sigap menyodorkan ipad yang berisi materi rapat dan beberapa dokumen pada Hwayeon.

Rapat dimulai, Hyera berdiri di belakang Hwayeon dengan setia. Gadis itu sesekali membisikkan sesuatu pada Hwayeon yang selalu di balas anggukan oleh Hwayeon. Hwayeon mencoret sesuatu di dokumen yang dibacanya dan menuliskan sesuatu di sana.

Hwayeon kemudian mengangkat tangannya, membuat orang yang menjelaskan presentasinya menghentikan ucapannya dengan segera. Semua peserta rapat seketika memandangi Hwayeon, dan topeng dingin sudah terpasang sempurna di wajah gadis itu.

“Baiklah, aku sudah mendengar semua yang kau presentasikan. Kau hanya mengulang apa yang kutau, sama sekali tidak ada informasi lebih.” Ujar Hwayeon dingin. Namja yang memimpin rapat tadi menegang, “Mi-mianhae sajangnim.” Cicit namja itu takut.

Hwayeon mengangguk, “Yasudah, presentasimu sudah cukup bagus. Aku menghargainya. Sekarang kembali ketempatmu.” ujar Hwayeon acuh. Namja yang memimpin rapat tadi kembali ke tempatnya dengan segera.

“Baiklah, seperti yang kalian tau. Resort kita mendapati beberapa hambatan. Yang pertama, bahan tidak sesuai, dan yang kedua dana kurang mencukupi.” Hwayeon memutus ucapannya, dan menebarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Beberapa orang mengangguk menyetujui ucapan Hwayeon, beberapa orang mengernyit tidak suka, dan satu orang terlihat gelisah.

Hwayeon menyeringai, Gotcha! Batin Hwayeon.

“Hanya ada 2 pilihan. Pihak kita yang menggelapkan dana, atau pihak kontruksi.” Hwayeon menyeringai saat melihat namja yang sedari tadi diperhatikannya tersentak. Hwayeon menyantaikan duduknya, dan memandang Min Jun Jae –namja yang sedari tadi ia perhatikan- dengan tajam.

“Nah, bagaimana menurutmu Min Jun Jae-ssi? Apa menurutmu pihak kontruksi yang menggelapkan dana? Atau ada seseorang dari pihak kita yang mencoba bermain-main denganku?” tanya Hwayeon sakratik. Jun Jae yang merasa disebut namanya langsung tersentak kaget. Seluruh peserta rapat memandang Jung Jae dengan tajam, meminta jawaban. “N-ne? a-ah, kurasa pi-pihak kontruksi yang m-menggelapkan dana. Y-ya, kurasa mereka yang menggelapkan dana.” Keringat mulai bercucuran di wajah Jung Jae, padahal udara di meeting room tersebut sangat dingin.

Hwayeon tidak berkomentar, hanya menatap Jun Jae sambil melotot garang. Hwayeon menengadahkan tangannya tanpa melepas pandangannya dari Junjae. Hyera dengan segera menyerahkan ipad yang dipegangnya ke tangan Hwayeon.

Hwayeon berdehem, “Baiklah kalau itu jawabanmu.” Min Jun Jae tanpa sadar mendesah lega, membuat seringaian Hwayeon semakin bertambah lebar dan Hyera menatapnya iba.

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan padaku. Bagaimana mungkin tabunganmu bertambah beberapa milyar dalam 1 hari? Ah, kebetulan itu terjadi di hari yang sama saat aku memintamu untuk mengirimkan dana tambahan ke Jeju. Hmm… membeli mobil keluaran terbaru dari luar negeri untuk setiap anakmu, memberi apartemen mewah untuk setiap anakmu, well, bukankah anakmu ada 5? Bukankah itu sedikit terlalu banyak untukmu? Aku yakin gajimu tidak sebesar itu.” Tandas Hwayeon pura-pura polos.

Skak Matt batin Hyera iba.

Jun Jae terdiam ditempatnya, menunduk. Seluruh mata memandang tajam kearahnya. Hwayeon tersenyum puas, “Baiklah, kurasa kita sudah menemukan biang keroknya. Kurasa, aku sendiri yang harus turun tangan untuk proyek ini karena ini adalah proyek gabungan terbesar kita. Aku benar-benar akan sangat sangat sangat sangat sangat marah kalau kejadian ini sampai terulang lagi. Dan aku akan sangat sangat saangat sangat sangat menyeramkan jika aku marah.” Ujar Hwayeon penuh penekanan dengan seringaiannya.

“Rapat selesai.” Putus Hwayeon. Hwayeon berdiri, kemudian berjalan keluar. Namun tepat di depan pintu, ia berbalik, hampir membuat Hyera menabraknya. “Ah, dan satu lagi. Min Jun Jae-ssi, anda saya pecat.” Tukas Hwayeon santai, kemudian keluar dari ruangan rapat. Meninggalkan para peserta rapat yang memandangnya kagum, sekaligus ngeri.

Kim Young Woon, sang direktur utama yang merangkap appa Hwayeon hanya diam, memandang punggung anak gadisnya yang menghilang dibalik pintu. Kim Young Woon, namja yang biasa dipanggil Kangin itu kemudian menghela nafas. Jin Hee-ya, apa yang harus kulakukan pada anak kita? Kenapa kau meninggalkan kami secepat ini? Lihatlah anakmu, dia membutuhkanmu sayang batin Kangin sedih.

Kangin menghembuskan nafasnya, “aku yakin anak keras kepala itu akan menolak mentah-mentah permintaanku nanti malam.” Ujar Kangin lirih. Eotteokhae Jin Hee-ya?

 

….

 

Hwayeon menatap high heels yang dipajang di etalase dengan penuh minat. Hyera yang sedari tadi berada di sampingnya tertawa kecil melihat binar-binar di mata Hwayeon. “Eonni, bagaimana menurutmu sepatu itu? Bukankah itu sangat indah?” tanya Hwayeon sambil berdecak kagum.

Hyera mengangguk membenarkan sambil tersenyum, “Ne, sepatu itu memang indah.”

Hwayeon menoleh kearah Hyera kemudian bertepuk tangan kecil, “Ayo, aku mau membelinya hehehe.” Hyera pasrah saja saat Hwayeon menyeretnya masuk ke toko yang berada di depan mereka itu untuk membeli sepatu yang Hwayeon maksud.

Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam Pusat perbelanjaan Seoul. Setelah mensurvey Blue Sapphire hotel, mereka memutuskan untuk membuang penat dengan berbelanja. Mereka punya waktu lebih untuk berbelanja karna tadi pihak dari SJ Tv itu membatalkan janji mereka tiba-tiba.

Hwayeon tertawa girang saat sudah mendapatkan sepatu yang diingankannya tadi. Hwayeon sendiri membeli 2 pasang high heels, sebuah tas tangan, 2 gaun pesta, 3 gaun tidur, 1 buah lingerie entah buat apa. Sedangkan Hyera membeli sepasang high heels, sebuah tas tangan, 3 gaun pesta, 2 gaun tidur, bedanya Hyera tidak membeli lingerie seperti Hwayeon.

“Yah buat apa kau membeli lingerie seperti itu? Kau bahkan tidak punya pacar.” Ejek Hyera sambil tertawa geli. Hwayeon mendengus kemudian memanyunkan bibirnya, “biar saja, aku hanya iseng kok. Lagipula, kenapa kau tidak beli sekalian? Kau juga jomblo kan, jadi jangan mengejekku! Cih!”

Kali ini gantian Hyera yang mendengus, “Ya! Aku ini single bukan jomblo! Memangnya dirimu? Ditinggal ke pelaminan? Menyedihkan!” cibir Hyera sambil terkikik.

Hwayeon melotot, “Yak! Kenapa eonni membahas itu lagi! Itu bahkan sudah 5 tahun yang lalu, yang benar saja.” Hwayeon mencebik. Gadis itu kemudian menghentak-hentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. Hyera tertawa keras saat melihat Hwayeon yang merajuk.

Hwayeon semakin mengeruhkan wajahnya saat tawa Hyera tidak kunjung berhenti, malah semakin lama semakin keras. Sampai-sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Ish, dasar eonni bodoh.” Maki Hwayeon tepat didepan wajah Hyera yang masih sibuk tertawa, lalu angkat kaki dari tempat itu.

Hwayeon berjalan cepat sambil menghentak-hentakkan kakinya tanpa melihat jalan.

Duk!

“Omo!” Hwayeon jatuh tersungkur dengan tidak elitnya saat ia menabrak seorang namja. “Appo.” Ringis Hwayeon sambil mengelus jidatnya yang sukses mencium lantai dengan keras.

“Tidak! PSP-KU! Yak! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat hasil perbuatanmu! PSPku rusak!” Hwayeon mendengus saat mendengar makian orang di depannya. Hwayeon bangkit berdiri sambil meringis menahan pusing. “Ya! Orang tolol juga tau kalau jalan itu pake kaki bukan pake mata! Lagipula kau juga tidak melihat jalan kan? Kenapa aku yang disalahkan? Kau sendiri juga salah!” bentak Hwayeon balik.

Namja itu melongo, kemudian melotot sambil mendesis geram. “Yak! Jadi kau menyalahkanku begitu?!”

“Apa aku bilang begitu?!” tanya Hwayeon balik sambil balas melotot.

“Tapi maksud kata-katamu begitu!”

“Itu perasaanmu saja!”

“Yah! Yeoja bar-bar! Kau berani padaku?!”

“Kenapa aku harus takut padamu? Dasar ahjussi bodoh!”

“Mwo?!” Namja itu melotot, matanya seakan bersiap keluar dari tempatnya. Bukannya takut, Hwayeon malah balas melotot, sama sekali tidak merasa gentar dengan namja yang didepannya.

Hyera yang baru menyusul Hwayeon langsung melongo melihat debat mulut antara Hwayeon dan namja yang ditabraknya.

“Yah! Kau benar-benar tidak takut ya?! Kau tidak tau siapa aku?!” tuding namja itu marah. Hwayeon berdecak malas, membuat namja itu semakin marah.

“Memangnya kau siapa? Artis? Pejabat? Apa peduliku? Memangnya kau siapa?!”

“MWOYA! AKU CHO KYUHYUN KAU TAU?!”

“AKU KIM HWAYEON, JADI APA?! MEMANGNYA AKU PEDULI? DASAR AHJUSSI! SOK TENAR!”

“YAK!”

“MWO!”

“CUKUUUUUUUUUUUUPP!!!!!!!” Hwayeon dan namja yang mengaku bernama Cho Kyuhyun itu kemudian menatap kaget pada Hyera yang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kau Kim Hwayeon! Cepat minta maaf!” Hwayeon melotot tak terima. “Shireo!”

Hyera melotot, Hwayeon juga melotot, Kyuhyunpun melotot. Akhirnya Hwayeon mengalah, “Mianhae.” Ujarnya ketus. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, Hyera sendiri mendengus kemudian tersenyum meminta maaf pada Kyuhyun.

“Maafkan adikku, dia memang kadang kekanakan. Tolong beritahu cara menghubungimu, biar kami bisa menganggti barangmu yang rusak.” Mohon Hyera sopan.

Hwayeon mendelik, sama sekali tidak suka dengan apa yang Hyera katakan. Baru ia membuka mulutnya untuk membantah, Hyera kembali melotot padanya. Hwayeon kemudian mengatupkan mulutnya kembali dan mendengus.

Kyuhyun merogoh saku nya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu nama dari sana. “Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku untuk menggantikan PSPku yang dirusak adikmu itu. Kau yakin bisa menggantinya? Itu limited edision, dan itu tidak murah.” Ucap Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon yang mendengarnya otomatis mendelik. “Yah! Kami bukan orang miskin dasar ahjussi sombong yang sok tenar!” bentak Hwayeon penuh amarah.Kyuhyun hanya mengangkat alisnya dan dengan bijak mengabaikan Hwayeon.

Hyera buru-buru mengambil kartu nama yang di sodorkan Kyuhyun dan mengopernya ke Hwayeon yang diterima Hwayeon dengan ogah-ogahan. “Ne, sekali lagi maafkan kelakuan adikku. Kami permisi dulu. Kajja.”Hyera menunduk, memberi salam pada Kyuhyun. Hyera juga memaksa Hwayeon memberi salam yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Kyuhyun memandang Hwayeon dan Hyera yang menjauh dengan pandangan berminat. Namja itu kemudian terkekeh saat melihat Hwayeon menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saat diseret dengan tidak berperi kemanusiaan oleh Hyera.

“Gadis gila.” Gumam Kyuhyun sambil mendengus geli. Pandangan Kyuhyun kemudian tertuju pada sebuah gelang yang tergeletak di lantai. Kyuhyun dengan ragu mengambilnya, kemudian memperhatikannya. Ornamen-ornamen di gelang tersebut membentuk sebuah kata.

Kim Hwayeon

“Jadi ini miliknya? Well, baiklah. Kurasa kita akan segera bertemu kembali Kim Hwayeon-ssi. .”gumam Kyuhyun lirih sambil menyeringai. Entah apa yang dipikirkan oleh namja itu.

 

……

 

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena telinganya terus menerus menangkap kikikan Hyera disampingnya. Sejak mereka meninggalkan mall 10 menit yang lalu, Hyera tidak henti-hentinya menertawakan Hwayeon.

“Oh ya ampun.. astaga-ahahahahaha Ya Tuhan, kau tidak lihat tadi bagaimana wujudmu saat bertengkar dengan namja tampan tadi. Menggelikan sekali hahahahaha. Demi apa, kemana Kim Hwayeon yang selalu ditakuti orang-orang eoh? Ahahaha, jinjja. Itu tadi sungguh menggelikan.” Hwayeon mendengus, gadis itu melirik Hyera dari sudut matanya kemudian menggeram tak terima.

Eonni bodoh itu! Maki Hwayeon dalam hati.

Hyera melirik Hwayeon yang merajuk di sampingnya sambil tersenyum geli. “Hei, tidak usah merajuk seperti itu. Aku hanya bercanda.”

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan eonni. Sudahlah, ini sudah jam 8 lewat, kita pasti sudah dittunggu oleh appa.” Hyera menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan Hwayeon.

Hwayeon seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang yeoja itu bisa menjadi sosok yang begitu menggemaskan, manja, dan egois. Tapi disisi lain, yeoja itu juga bisa menjadi sosok yang begitu berwibawa, bertanggung jawab, mandiri, dan penuh percaya diri.

Seperti saat dikantor misalnya, siapa yang tidak segan dengan Kim Hwayeon? Tidak ada! Yah, mungkin Hyera dan sang appa tidak masuk hitungan. Hwayeon bisa menjadi sangat dictator jika sudah menyangkut pekerjaan, dan kadang bisa membuat Hyera kelimpungan sendiri. Tapi berbeda jika Hwayeon sudah berada bersama sahabat-sahabatnya, atau oppanya, ia bisa menjadi sangat manja.

Hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana sifat Hwayeong yang ‘sebenarnya’. Hyera salah satunya.

“Nah, sudah sampai. Kajja.” Hyera dan Hwayeon kemudian melepas seat belt mereka, dan beranjak keluar dari dalam mobil dengan sedikit terburu-buru.

Hyera berjalan mendahului Hwayeon. Sedangkan Hwayeon sendiri hanya diam mengikuti Hyera dari belakang sembari sibuk membenarkan penampilannya yang sedikit acak-acakan.

Hyera membimbing Hwayeon masuk ke dalam ruang privat di restoran tersebut.

“Oppa!” pekik Hwayeon riang sesasat setelah mereka melangkah masuk kedalam ruangan. 3 orang namja yang berada di ruangan tersebut sontak mengalihkan pandangan mereka pada Hwayeon, dan senyuman otomatis tersemat di masing-masing bibir mereka.

Heechul berdiri, mengampiri Hwayeon dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. “Aiish, bogoshipo chagiya. Kau semakin kurus saja eoh? Apa kau tidak makan dengan benar eum? Apa pekerjaanmu membebanimu? Apa kau tersiksa?” Hwayeon terkekeh saat mendengar Heechul yang memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Anniya oppa, aku tidak terbebani dengan pekerjaanku. Aku mulai menyukainya. Dan masalah makan, aku hanya tidak nafsu saja oppa. Lagi pula, dulu oppa kan bilang aku gendut ish! Sekarang aku sudah kurus, kenapa oppa masih protes, dasar.” Cibir Hwayeon.

Heechul tergelak, “Terserahmu sajalah. Yasudah, kajja. Tak biasanya kau terlambat, kami sudah menunggumu dari tadi.” Hwayeon hanya menurut saat Heechul membimbingnya untuk duduk di sebelahnya. Hyera yang sedari tadi berdiri pun akhirnya ikut duduk di samping Kibum yang sedari tadi diam sambil membaca sebuah modul.

Suasana canggung seketika menyelimuti ruangan. Hwayeon melirik sang ayah yang sedari tadi hanya memandanginya dengan ragu. “A-annyeong ap-pa.”

Heechul yang mengamati interaksi antara ayah dan anak itu akhirnya jadi keki sendiri. Suasana ini lebih menyeremkan daripada kuburan batinnya sebal.

“Annyeong. Baiklah, karena semuanya sudah lengkap. Kita bisa makan sekarang.” Ujar Kangin sambil memberi kode pada pelayan yang berada di sudut ruangan. Kibum hanya mengangguk tak peduli kemudian sibuk kembali dengan modulnya, sedangkan Hwayeon mulai sibuk dengan ponselnya. Heechul berdecak malas, sebenarnya suasana seperti ini sudah tidak asing lagi untuknya semenjak kematian sang eomma. Hanya saja, ia sekarang merindukan Hwayeon yang dulu.

Hwayeon yang dulu tidak akan tahan dengan suasana hening seperti ini. Ada saja tingkah gadis itu agar membuat suasana ramai dan menyenangkan. Entah itu celotehan riangnya, atau pekikkan senangnya, atau gerutuannya. Tapi semuanya sudah menghilang, lenyap, sejak eomma pergi meninggalkan mereka 1 tahun yang lalu.

Kangin berdehem, sedikit risih dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Namja itu melirik anak gadisnya, merasa kecewa saat melihat gadis itu malah sibuk dengan ponselnya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan perwakilan dari SJ Tv tadi Hwayeon-ah?” tanya Kangin membuka percakapan.

Hwayeon yang merasa terpanggil kemudian meletakkan ponselnya diatas meja, dan memandang sang appa. “Euumm, mereka membatalkan janji temu kami tadi.” Jawab Hwayeon tak yakin.

Kangin mengerutkan keningnya, merasa tak puas dengan jawaban Hwayeon. Tapi kemudian namja itu menghela nafas, mengerti. “Baiklah, jadwalkan ulang janji temu kalian. Lalu, apa yang kau lakukan dengan Min Jun Jae?”

Hwayeon tanpa sadar mengerucutkan bibirnya saat mengingat kejadian menyebalkan dikantor tadi siang. “Aku memecatnya, tentu saja. Aku tabungan dan aset miliknya. Yah, berkat Hyera eonni, aku menyisakan sedikit tabungannya, dan beberapa asetnya. Hanya saja, cih, jangan harap dia bisa menunjukkan wajahnya lagi di hadapanku. Aku jamin dia akan sulit mendapatkan pekerjaan setelah ini.” Jelas Hwayeon panjang lebar sambil berdecih.

Kangin hanya mengangguk, sedikit ragu, tapi selebihnya ia percaya dengan Hwayeon.

“Baiklah, terserahmu saja. Aku yakin kau tau keputusan yang paling tepat.” Hwayeon mengangguk antusias, merasa senang saat mendapat kepercayaan dari Kangin. Heechul disisi lain mendengus tak terima, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kangin dan Hwayeon.

“Min Jun Jae? Nugu?” tanya Heechul langsung.

“Orang.” Jawab Hwayeon santai. Heechul mendesis, “tentu saja orang! Aku juga tau itu!”

Hwayeon mengerjap, “Nah, kalau oppa sudah tau, buat apa bertanya? Dasar pabbo.” Ledek Hwayeon sambil terkikik. Kibum, Kangin, dan Hyera yang mendengarnya menahan senyum. Sedangkan Heechul sendiri malah melongo seperti orang bodoh, “aish, terserahmulah.”

Tawa mereka akhirnya pecah, membiarkan Heechul yang tersenyum kecut.

Suara ketukan pintu menginterupsi mereka. Beberapa orang yang mengenakan seragam pelayan berjalan masuk, menghidangkan makan malam mereka dengan rapih di atas meja. ‘Gomawo’ gumam Hwayeon pelan.

Kali ini suasana ruangan tersebut tidak lagi hening. Dentingan sendok dan piring sesekali terdengar diantara obrolan mereka. Hyera dan Kibum yang sedari tadi diam pun ikut terlibat percakapan kecil.

Hanya Hwayeon yang makan dalam diam, Kangin yang memang sejak awal memperhatikan Hwayeon akhirnya menghela nafas. “Hwayeon-ah.” Panggil Kangin lembut. Hwayeon hanya bergumam kecil menanggapi panggilan Kangin.

Semuanya diam, menatap Kangin dengan pandangan bertanya. “Sebenarnya, appa mengajak kalian semua berkumpul untuk makan malam hari ini karena appa ingin menyampaikan sesuatu.” Perhatian Hwayeon kini sepenuhnya sudah teralih pada Kangin.

Kangin meletakkan sendok garpu yang dipegangnya, dan beralih meremas kedua tangannya. “Ini sebenarnya permintaan mendiang ibumu, dia… dia menginginkanmu untuk segera menikah dan berumah tangga.”

“Uhuk-uhuk” Hwayeon tersedak, dengan panik ia mengambil gelas yang berada di tangan Heechul dan meneguknya rakus. Hwayeon kemudian bernyengit saat rasa pahit menjalari kerongkongannya. Kibum dengan santai mengulurkan gelas berisi air putih pada Hwayeon, dan Hwayeon menandaskannya dalam sekejap.

“Mwo? Tapi aku masih muda appa.” Sangkal Hwayeon tak terima, “Lagipula aku tidak memiliki kekasih” lanjutnya.

“Appa tau, hanya saja. Umurmu sudah 25 tahun, kau sudah cukup umur untuk menikah. Lagipula, appa tidak mau kau bernasib seperti para oppamu. Sudah tua, tidak ada pikiran untuk menikah sama sekali. Cih.” Heechul dan Kibum yang merasa tersindir melayangkan tatapan protes pada Kangin, yang tentu saja diabaikan oleh namja paruh baya tersebut.

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Jadi aku harus bagaimana? Aku belum punya calon.” Tukasnya santai.

Kangin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kaku, “Itu… sebenarnya appa sudah menyiapkan calon untukmu. Hmmm, ini kesepakatan ibumu dengan sahabatnya sebenarnya. Jadi kau tidak perlu khawatir masalah calon.”

Hwayeon diam.

Gadis itu berusaha menyerap perkataan Kangin. “Tunggu dulu, apa appa sedang mengatakan padaku kalau aku sekarang dijodohkan?” pekik Hwayeon kaget, marah.

“Y-ya, itu keinginan eommamu, appa tidak bisa menolak. Kau mau kan?” tanya Kangin penuh harap.

“SHIREO!!!” pekik Hwayeon kesal sambil menggebrak meja, membuat Heechul disebelahnya mengutuk karena kaget.

Kangin menghela nafas, sama sekali tidak kaget dengan reaksi Hwayeon. “Appa tau kau tidak menyukainya, Tapi… appa mohon, demi eommamu. Eommamu tidak mungkin sembarangan menjodohkanmu, appa yakin eomma tau pasti seleramu. Eomma hanya ingin yang terbaik untukmu, begitu juga appa. Karena itu, setidaknya kau harus bertemu dengan calonmu. Jika seiring berjalannya waktu, dan kau masih merasa tidak cocok. Appa akan mengerti, appa tidak akan memaksakan perjodohan ini. Hanya saja, cobalah terlebih dulu. Demi eomma, nak.”

Hwayeon kembali terdiam. Semua mata kini tertuju pada Hwayeon yang diam dengan pandangan kosong. Kibum dan Heechul saling berpandangan dalam diam. “Dengar Hwayeon-ah, jika kau memang tidak mau, tidak apa. Oppa yakin appa akan mengerti, begitu juga dengan eomma. Kau tidak perlu melakukan semuanya dengan terpaksa. Kalau kau memang tid-“

“Baiklah.” Potong Hwayeon. Heechul memandang Hwayeon ragu. Sekali lagi, namja itu melirik Kibum yang juga sudah meliriknya. Saat Kibum mengangguk padanya, akhirnya Heechul menyerah.

Kangin yang mendengar jawaban Hwayeon tersenyum lega. Appa dan eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Hwayeon-ah batin Kangin sedikit sedih.

Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang, melanjutkan percakapan mereka tanpa menyinggung Hwayeon sedikitpun. Kibum menatap Hwayeon tajam, menelisik kedalaman mata sang adik. Merasa iba dengan adik kesayangannya itu.

Apa seberat itu bebanmu saeng? Kenapa kau tidak pernah mau berbagi pada kami eoh?Kami keluargamu. Kenapa kau selalu menyimpan bebanmu seorang diri? Apa kami tidak ada artinya bagimu? Ujar Kibum dalam hati.

.

Hwayeon menatap laporan dihadapannya dengan pandangan tidak berminat. Ingin rasanya gadis itu kabur dari segala urusan kantor yang membelenggunya, dan melakukan kegiatan yang ia sukai. Tapi sayangnya ia tidak bisa.

Kehidupannya yang sekarang, bukanlah kehidupan yang ia impikan. Tidak pernah terbesit dipikirannya kalau pada akhirnya ia akan menjalani pekerjaannya yang sekarang. Tidak pernah sama sekali.

Ia harus menjalani ini semua, membuang seluruh impiannya jauh-jauh kedasar demi membahagiakan kedua oppanya. Mereka hanya 3 bersaudara. Jika Heechul dan Kibum menolak mentah-mentah untuk meneruskan perusahaan appa, otomatis dialah yang akan meneruskannya.

Harusnya, kursi yang sekarang ia pakai ini menjadi kursi Heechul. Tapi Heechul dengan tegas menolak untuk mendudukinya, namja itu lebih memilih untuk menjadi seorang desaigner perhiasan. Begitupula dengan Kibum, namja itupun sama tegasnya dalam hal menolak menduduki kursi jabatan yang seharusnya menjadi milik Heechul, dan lebih memilih untuk berkecimpung di dunia medis.

Hwayeon sama sekali tidak membenci kedua oppanya. Hwayeon tau, kedua oppanya itu sama seperti dirinya. Tidak suka dikekang, mereka semua memiliki jiwa yang liar dan bebas.

Karena itu, Hwayeon bisa mengerti. Karena itu, Hwayeon rela memasrahkan dirinya untuk menjalani tugasnya sekarang. Gadis itu tidak perduli jika ia merasa tidak bahagia, tidak masalah, asalkan kedua oppanya bisa bebas. Asalkan kedua oppanya bisa bahagia.

Sudah 3 tahun Hwayeon melepas seluruh angan-angannya, memendamnya dalam-dalam, jauh ke dasar. Demi oppanya, orang yang begitu berharga dihidupnya. Tapi rasanya sulit sekali menjalani hari-harinya.

Apa lagi sejak saat itu… sehari terasa seperti seabad. Terasa begitu menyiksa, begitu menyakitkan.

Tok tok tok

Hwayeon tersadar dari lamunannya, dengan cepat gadis itu menekan sebuah tombol disamping kanannya, mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

Hyera muncul dari balik pintu dengan ragu. Hwayeon yang melihat tingkah ragu-ragu Hyera, sontak bertanya. “Waeyo eonni? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Hwayeon khawatir.

Hyera menatap Hwayeon intens, membuat Hwayeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan Hyera. Hyera akhirnya menghela nafas, “Perwakilan dari Cho corp sudah datang.” Hwayeon mengangguk singkat, kemudian keningnya mengernyit. “Cho corp? Ah, kerja sama resort di Jeju?” Hyera mengangguk kaku.

“Baiklah, persilahkan mereka masuk ke ruanganku.” Hyera tetap diam, memandang Hwayeon dengan ragu.

Hwayeon yang mendapati Hyera masih diam di hadapannya menatap Hyera balik dengan pandangan bertanya. Cukup lama mereka berpandangan, akhirnya Hyera mengalah. Hyera keluar dari ruangan Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ada apa dengannya?” gumam Hwayeon bingung.

Hwayeon menggendikkan bahunya, kemudian beralih membersihkan mejanya dari tumpukan-tumpukan dokumen yang berserakan.

“Silahkan masuk, anda sudah ditunggu.” Terdengar suara Hyera dari luar ruangan.

“Terimakasih.” Balas seorang namja.

Hwayeon sontak mengangkat kepalanya saat sebuah sapaan terdengar di gendang telinganya. “Silahkan du-“ Hwayeon melotot saat matanya menangkap sosok namja yang sekarang berdiri di depan pintu ruangannya dengan sebuah seringaian di bibirnya.

“KAU!!! Sedang apa kau disini?!” pekik Hwayeon kaget. Kyuhyun yang tadi berdiri di depan into ruangan Hwayeon kemudian tersenyum manis- atau lebih tepatnya menyeringai sok manis- lalu melenggang masuk ruangan Hwayeon dengan santai, membuat Hwayeon mendelik padanya.

“Yaa! Siapa yang menyuruhnya masuk!” bentak Hwayeon kesal. Kyuhyun terkekeh dibuatnya, “asistenmu yng menyuruhku masuk tadi.” Balas Kyuhyun santai sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa berbentuk L di ruangan Hwayeon tersebut.

“Jadi kau- aish!” Kyuhyun terkekeh saat umpatan Hwayeon menyapa gendang telingnya. Dengan kasar Hwayeon mendudukkan dirinya di sofa lain di samping Kyuhyun dengan kasar.

“Jadi kita akan membicarakan kerjasama kita sekarang?” tanya Hwayeon malas, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Kyuhyun yang melihat tingkah menggemaskan Hwayeon hanya tersenyum kecil.

“Ani, kita tidak membahas pekerjaan sekarang. Aku hanya disuruh datang ke sini oleh appamu, Orangtuaku masih berada di ruangan Kangin appa. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul ke sini. Kita akan membicarakan pertunangan kita” Hwayeon terdiam, mencoba mencerna ucapan Kyuhyun dengan baik.

Orang tua? Kangin appa? Menyusul? Pertunangan? Hwayeon mengerjap, “Tunggu dulu, jangan bilang ka-“

“Yuhuuuuu, calon menantuku annyeong!!! Omo!! Kau cantik sekali, manis pula aiigoo, kau seperti duplikat Jin Hee. Ah, kau sudah bertemu anakku? Bagaimana? Kau menyukainya kan? Jadi kapan kalian mau menikah? Omo omo, aku ingin segera menimang cucu.”

 

To be continued…

Find My Love // Part 9a [Secret]

Previous chapter…

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

Title: Find my love part 9a ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Nah, bertemu lagi dengan author yang manis #pret. Ini sudah author bikinin ff kebut banget. Baru beres, langsung author publish deh, jadi kalian ga menunggu teerlalu lama. Author baik kan? Oh tentu 😀
Oke deh, langsung dicek aja ceritanya. Maaf kalau jelek dan ga memuaskan. Author udh berusaha sekuat tenaga. Jadi hargain oke? Tinggalkan jejak kalian ~
Happy reading

-o0o-

Chapter 9a
Secret

Air mata tanpa kusadari terjatuh di pipiku. Aku mengusapnya cepat, berharap tidak ada orang lain yang melihatnya. Memalukan! “Waeyo chagi? Kau menangis eoh? Shhh, uljima.” Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam pelukan Kyuhyun oppa. Lampu mulai menyala dan ruang teater yang awalnya gelap dan sepi kini sudah terang dan ramai.

Aku tetap duduk di kursiku sambil menyembunyikan wajahku yang basah karna air mata di dada Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa sendiri mengelus-ngelus rambutku dengan lembut sekali. “Dasar cengeng, begitu saja nangis.” Aku memukul dadanya pelan, lalu mengerucutkan bibirku. Sudah kuduga, dia akan mengolokku. Menyebalkan sekali.

“Biar saja, filmnya memang sedih kok. Wajar saja jika aku menangis.” Sangkalku membela diri. Itu memang benar bukan? Jalan ceritanya sangat menyedihkan, aku terus menerus menangis saat menontonnya. Coba saja kalian bayangkan, di film itu, ada sepasang kekasih. Aku mengerti kalau mereka berdua saling mencintai, semua tergambar jelas di film itu. Awalnya semua berjalan dengan baik, semuanya terasa begitu indah. Tapi tak berselang lama, mulai banyak kejadian kejadian menyebalkan yang terjadi di film itu.
Tokoh utama namja di film itu tiba-tiba saja menghilang, membuat tokoh yeojanya sedih dan tertekan. Tokoh yeoja itu berusaha melupakan si namja pabbo itu, yeoja itu bahkan mencoba untuk berkencan dengan beberapa namja lain. Tapi tetap saja, setiap yeoja itu pulang, kembali ke kamarnya.. yeoja itu kembali menangisi si namja pabbo itu. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk pergi ke Negara asing untuk bekerja. Nah, bagian paling menyebalkannya ada di bagian sini.

Ternyata, namja pabbo yang merupakan tokoh utama itu selama ini hilang ingatan. Karena hilang ingatan itulah, namja itu sama sekali tidak tau kalau ada orang yang dicintainya di Seoul. Jadi saat mereka bertemu di tempat kerja, sang namja sama sekali tidak mengenali yeoja tersebut. Malahan, namja itu sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.

Sudah bisa dipastikan, tokoh utama yeoja itu sangat sakit hati dan terpuruk. Yeoja itu mulai menyeleweng, mabuk-mabukan, pergi ke bar, berkali kali tidur dengan lelaki acak yang ditemui yeoja itu di bar. Sampai akhirnya yeoja itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan sampai akhir hayat gadis itu pun… namja yang dicintainya itu tidak pernah mengingatnya lagi. Sadis sekali.

“sudahlah, kenapa kau malah melamun. Itu hanya film sayang, tidak perlu di pikirkan. Ayo kita keluar dari sini sebelum kita diusir.” Aku tersadar dari lamunanku dan bangkit berdiri, membiarkan Kyuhyun oppa menggenggam tanganku dan menuntunku ke luar gedung teater. “Sekarang kita mau kemana oppa?” tanyaku bingung saat Kyuhyun oppa malah menuntunku ke halte bis. Aku menengok, menatap wajah Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum, jujur saja membuatku sangat penasaran.

“Kau akan tau begitu kita sampai.”
Hanya itu jawaban yag kudapat dari Kyuhyun oppa bahkan setelah aku merengek-rengek padanya. “Oppa… kita akan pergi kemana sebenarnya?” tanyaku lagi untuk yang kesekian kalinya. Kudengar Kyuhyun oppa yang duduk disebelahku menghela nafasnya. Lalu Kyuhyun oppa kemudian menoleh padaku sambil cemberut, “Kau ini cerewet sekali. Tidak usah banyak bertanya, aku jamin kau akan menyukainya. Arraseo? Duduk diam dan tenanglah, sebentar lagi kau akan tau.” Akhirnya aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat rasa penasaranku.

Selama perjalanan kami hanya diam, Kyuhyun oppa duduk sambil merangkulku, membuat tubuh kami tidak berjarak barang 1 cm pun. Aku sih hanya pasrah saat dia merangkulku begini. Aku sendiri hanya duduk dengan diam, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memainkan jemari tangan Kyuhyun oppa yang menganggur.

Haaahh…. Rasanya waktu berjalan cepat sekali ya… AKu tidak sadar, tau-tau saja sudah 1 bulan sejak kejadian itu terjadi.

Yah… kalian pasti mengerti kejadian mana yang kumaksud. Hah, kira-kira apa yang terjadi degan gadis itu ya? Aku penasaran sekali. Tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang bersedia memberitahuku. Cih, mereka selalu bersekongkol. Menyebalkan

Drrtt drrtt

Aku tersentak saat hanphone dalam sakuku bergetar. Dengan malas aku meraih handphoneku, Ravi oppa menelpon ternyata.

“Eoh, yeobosaeyo. Waeyo oppa?” jawabku memulai percakapan.
“Kau ada dimana chagi?”

“Aku sedang berada di dalam bus. Waeyo?”
“Hah? Bis? Kau menggunakan bis? Untuk apa? Memangnya mobilmu kemana? Kau mau pergi kemana? Kenapa tidak menggunakan taksi saja? Atau minta Kyuhyun mengantarmu. Ini sudah malam, tidak baik kalau kau pergi sendirian, apa lagi menggunakan kendaraan umum seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kau mengerti tentang rute-rute bis.”

Aku memutar bola mataku malas. Berlebihan sekali, menyebalkan. “Ish, oppa cerewet sekali. Mobilku tidak kemana-mana, dan aku tidak tau aku sekarang ini mau pergi kemana. Aku sedang berkencan dengan Kyuhyun oppa tau? Oppa menganggu.”
“Ah, begitu rupanya. Yasudah… Jadi kau sedang bersama Kyuhyun kan? Coba berikan telepon ini ke Kyuhyun, oppa mau bicara.”

Aku menyipitkan mataku, mencoba memilah-milah. Haruskah kuberikan telepon ini pada Kyuhyun oppa? Apa yang kira-kira akan mereka bicarakan. Kenapa Ravi oppa tidak mau menyampaiannya padaku saja. “Yeobeosaeyo? Kau masih di sana?” Aku tersentak kembai saat mendengar suara Ravi oppa di ujung telepon. “E-eoh, baiklah. Sebentar.”
“Siapa?” tanya Kyuhyun oppa saat aku menurunkan handphoneku dari telinga. “Ravi oppa. Nih, dia bilang dia mau berbicara denganmu.”
Kyuhyupun oppa mengerutkan keningnya, lalu meraih ponselku. “Eo hyung, waeyo?”

“…”
Aku menatap Kyuhyon oppa dengan bingung saat kerutan kerutan di wajah Kyuhyun oppa terlihat semakin dalam. “Hmm, lalu?”

“…”
“Ah jinjjayo? Baguslah, chukkae. Aku ikut senang.”

“…”
“ah… haruskah?” aku mengerutkan keningku saat Kyuhyun oppa melirikku dari sudut matanya. Apa-apaan, apa sih yang mereka bicarakan sebenarnya?

“…”
“Arraseo, itu memang tugasku. Sekali lagi, chukkaeyo hyung.”

“…”
“Ne, arraseoyo.”

“…”
“Hahahaha jinjja? Haha arraseo. Ah, apa kau mau berbicara dengan adikmu lagi?”

“…”
“Ah, geurae.. Arraseo arraseo, selamat bersenang-senang hyung. Anyeong.”

“…”
Aku mengambil ponselku yang tadi disodorkan oleh Kyuhyun oppa dan kembali memasukkannya ke dalam kantong celanaku. Aku menatap Kyuhyun oppa bingung, “Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyaku spontan.
Kyuhyun oppa kembali tersenyum dan menggeleng, “Aniya, bukan apa-apa. Kau tidak perlu tau. Itu urusan namja.” Aku berdecak kesal. Cih, apa-apaan itu? Urusan namja? Bah, menyebalkan sekali mereka itu. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Aku curiga, pasti ada yang mereka sembunyikan. Apa mungkin Yoonhee eonni tau? Haruskah aku menelponnya sekarang? Haruskah?

“Aniya, kami tidak menyembunyikan apapun darimu. Tenanglah.” Oke, jadi mereka mau bermain sembunyi-sembunyi? Baiklah, kalau begitu biar aku yang mencari tau. Kuambil lagi ponselku, kemudian menelpon speed dial nomor 5. “Siapa yang kau telfon?” tanya Kyuhyun oppa penasaran. Aku merengut, tapi aku tidak menjawabnya… biar saja.

“Yeobosaeyo, ada apa menelponku malam-malam begini Hwayeon-ah?”
“Ah mian eonni, aku hanya ingin bertanya… Apa Ravi oppa sedang bersamamu?”

“Ne, bukankah tadi dia menelponmu? Ada apa?”

“Ah… tadi dia berbicara dengan Kyuhyun oppa. Mereka tidak mau memberitahuku. Apa eonni tau apa yang mereka bicarakan?”

“Ah jinjja? Tadi sih mereka berbicara tentang-”

“YAK! MATIKAN TELFONNYA MATIKAN!”

“Kau ini kenapa sih? Aku sedang berbicara dengan adikmu.”

“Sudah matikan saja telfonnya, cepat.”

“Tapi aku sedang- YAK!”

Tuuuutttt

Aku menatap ponselku dengan kesal. Apa-apaan itu tadi? Kenapa Ravi oppa sampai segitunya? Apa sih yang mereka sembunyikan sebenarnya? Aku mendengus, kemudian menjauhkan diriku dari Kyuhyun oppa dengan kesal. Bisa kuengar suara kekehan Kyuhyun oppa di sebelahku. “Waeyo tuan putri? Merajuk hemm?” Aku melipat tanganku di dada, mempertegas kalau aku saat ini memang sedang merajuk.

Author POV

Kyuhyun kembali terkekeh saat melihat kekasihnya itu melipat tangan di atas dadanya dan menolak untuk melakukan kontak mata dengannya. “Ayolah… kita sedang berkencan sekarang, jangan merajuk eoh?” Kyuhyun menusuk-nusuk pipi chubby Hwayeon dengan gemas, sampai Hwayeon memelototinya dan raut wajah menggemaskan. “Diamlah kau menyebalkan! Aku membencimu!” Kyuhyun kembali terkekeh, lalu dengan cepat namja itu memaksa untuk merangkul Hwayeon yang masih merajuk.

“Arraseo mianhae, jangan merajuk. Kita sudah hampir sampai loh.” Bujuk Kyuhyun sambil tersenyum geli. “Apa peduliku?” Oh-oh, rupanya Hwayeon masih tetap pada pendiriannya dan terus merajuk. Kyuhyun tersenyum simpul, dengan cepat namja itu meraih dagu Hwayeon dan memaksa gadis itu agar menatapnya. “Jadi kau tidak peduli hmm?”
Hwayeon diam, terpaku oleh mata Kyuhyun yang saat ini tengah menyorot tajam padanya. “Y-ya, a-aku tidak p-peduli.” Jawab Hwayeon sambil tergagap.
Kyuhyun tertawa dalam hati, merasa puas telah membuat kekasihnya itu terperosok kembali ke dalam pesonanya. “Begitukah?” tanya Kyuhyun pelan dengan suara parau.

Glek

Hwayeon menelan salivanya gugup, matanya bergerak gerak gelisah. “Y-ya.” Kyuhyun menyeringai, “Kau yakin?” tanya namja itu lagi sambil mempersempit jarak diantara wajah mereka. Hwayeon mengangguk panic, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat yang bisa ia lihat, kecuali mata Kyuhyun.
“Begitu rupanya, yasudah kalau begitu kita pulang saja. Buat apa kita melanjutkan kencan jika kau bahkan tidak peduli?” Kyuhyun menjauhkan wajahnya, dan bersiap-siap berdiri. Yah, hanya pura-pura juga sih sebenarnya. Hwayeon mengerjapkan matanya, lalu menggeleng panic. “MWO? ANDWAE! Arraseo, mianhae! Aku tidak akan merajuk lagi!” pekik Hwayeon cepat.

Kyuhyun tersenyum puas saat Hwayeon mencengkram erat kemejanya sampai kusut. “Benar? Katanya kau tidak peduli?” goda Kyuhyun lagi. Hwayeon menggeleng cepat dengan mata memelas, “aniya, aku hanya bercanda. Jangan pulang sekarang, aku masih ingin bersamamu.” Kyuyun tersenyum kemudian kembali membawa Hwayeon ke dalam pelukannya. “Arra” jawab namja itu pelan.

.

“Huaaaaaaaaa!!!!! Indah sekali!!!!!” Kyuhyun tersenyum senang saat melihat senyum lima jari terpasang sempurna di wajah kekasihnya. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower, kalian tahu jelas kan tempat apa itu. Hwayeon sendiri sudah berlari kearah pagar dengan mata terbuka lebar. Berkali-kali decakan kagum terdengar dari bibirnya.
Kyuhyun menghampiri Hwayeon, lalu memeluk yeoja itu dari belakang. “Bagaimana? Kau suka?” tanya Kyuhyun lembut. Hwayeon mengangguk-ngangguk antusias sebagai jawaban, jangan lupakan matanya pun berbinar-binar senang. “Suka! Aku sangat suka! Gomawo, sudah membawaku kemari… ini indah sekali” jawab Hwayeon dengan suara tercekat.
Hwayeon menolehkan kepalanya ke samping, membuatnya bertatapa dengan mata Kyuhyun. “gomawo oppa, jeongmal gomawo” lirih Hwayeon pelan. Kyuhyun terdiam, namja itu terus memaku mata Hwayeon, sampai akhirnya… entah siapa yang memulai. Kedua belah bibir mereka akhirnya bertemu.

Hwayeon memejamkan matanya, mencoba meredam perasaan memabukkan yang saat ini tengah melandanya. Perasaan yang membuat jantungnya terus bertalu dengan cepat. Mereka berdua terus berciuman, memadu kasih mereka, tanpa memperdulikan posisi mereka yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian.

Entah berapa lama mereka terus berada di dalam posisi intim itu. Sampai akhinya Kyuhyun berinisiatif untuk melepaskan cumbuannya. Kyuhyun menatap Hwayeon yang sibuk meraup udara dengan senyum puas. Hwayeon sendiri sibuk meraup nafas sebanyak-banyaknya, sambil berusaha menahan rasa malu yang tiba-tiba saja bersarang di otaknya saat menyadari kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi.
Kyuhyun merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah gembok berbentuk hati dan sebuah spidol. Hwayeon sepertinya masih belum menyadarinya, karna gadis itu masuh sibuk menteralkan deru nafasnya berkat ‘pertarungan’ mereka tadi.

“Chagiii…” panggil Kyuhyun lembut. Hwayeon menoleh, mata gadis itu kemudian kembali melebar saat melihat benda yang ada di tangan Kyuhyun. “Omo! Gembok cinta!” pekik Hwayeon girang, tapi kemudian gadis itu mengerutkan keningnya bingung, membuat Kyuhyun ikutan bingung. “Wae?” tanya Kyuhyun penasaran saat Hwayeon menoleh ke bawahnya seakan mencari-cari sesuatu. “kenapa gemboknya cuma satu? Apa oppa menjatuhkannya? Kok tidak ada?” tanya Hwayeon bingung sambil tetap celingak celinguk mencari gembok yang ia yakini mungkin saja jatuh di suatu tempat.

Kyuhyun mengerjap, kemudian namja itu tersenyum geli. “Ah, aniya. Aku tidak menjatuhkan apapun kok. Aku memang hanya menyiapkan satu.” Hwayeon menatap Kyuhyun dengan bingung, membuat Kyuhyun gemas sendiri. “Wae? Kita kan ada dua.” Tanya Hwayeon semakin bingung.
Kyuhyun menghela nafas, kemudian namja itu menggenggam kedua tangan Hwayeon dengan lembut. “Aku memang hanya menyiapkan sebuah gembok. Kau tau kenapa?” Hwayeon menggeleng polos. Kyuhyun kembali tersenyum simpul. “Kau tau, sebuah gembok memiliki dua sisi yang berbeda. Depan dan belakang. Benar?” Hwayeon mengangguk bingung, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Kyuhyun dengan perumpamaan itu.

“Hah, jadi… gembok itu melambangkan kita.” Jelas Kyuhyun singkat, padat, namun tidak jelas. Setidaknya itu menurut Hwayeon.

Dia pasti tidak mengerti batin Kyuhyun geli setengah jengkel.

“Maksudku, gembok itu seperti kita. Gembok memiliki dua sisi yang berbeda, sama seperti kita yang bertolak belakang, berbanding terbalik. Kau bodoh, aku pintar. Kau polos, aku tidak. Yah seperti itu contohnya. Kita memang saling bertolak belakang, semua yang ada di dalam diri kita berbeda. Semuanya. Tapi tetap saja, entah bagaimana caranya. Kita menjadi satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan, entah oleh apapun. Mungkin kita bisa terpisah, tapi pada akhirnya… kita tetap akan menemukan potongan diri kita yang satu lagi. Dan kenapa aku memilih untuk menyiapkan gembok dengan bentuk hati? Karena gembok ini akan melambangkan cinta kita. Hati, cinta, dan satu. Kau mengerti maksudku?” ujar Kyuhyun panjang lebar. Hwayeon masih melongo, mencoba mencerna seluruh perkataan namja itu. Tapi sebagian besar, yeoja itu mengerti maksud Kyuhyun dengan semua ini.

Tiba-tiba saja mata Hwayeon memanas. Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan panic saat tiba-tiba saja air mata terjatuh dari mata Hwayeon. “Y-ya! Kenapa malah menangis? Aigooo!!” Hwayeon berhambur ke dalam pelukan Kyuhyun, dan disambut dengan baik oleh namja itu. “Cup cup, sshhh. Uljima.” Kyuhyun bingung juga sebenarnya. Entah apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada gadis semacam Hwayeon. Karena seperti yang ia bilang tadi, mereka berdua benar benar berbeda, alias bertolak belakang.

“Hikss..hiksss, gomawo oppa. Aku benar-benar terharu. Hiks hiks, aku mencintaimu oppa.”
“Arrayo.. aku juga mencintaimu. Jja, sekarang tenanglah. Jangan menangis. Lebih baik kita pasang gembok tadi, tapi sebelum itu.. tulis harapanmu d salah satu sisi gembok ini. Cepat.” Hwayeon mengangguk cepat saat Kyuhyun meyodorkan gembok dan spidol padanya. Kemudian gadis itu menjauh bersama dengan gembok dan spidol di tangannya. Kyuhyun mengamati dari jauh saat Hwayeon mulai menulis sesuatu di salah satu sisi gembok.

Tidak lama berselang, Hwayeon kembali dan menyodorkan gembok itu kembali pada Kyuhyun. “jja, sekarang oppa yang harus menulis harapan oppa. Jangan mengintip punyaku loh ya, awas saja.” Kyuhyun mengambil gembok dari tangan Hwayeon dan mulai menulis di sisi gembok yang kosong.

Aku harap kami akan hidup dan berbagi kebahagiaan bersama-sama untuk selamanya

-Kim Hwayeon

Kan kujadikan dirimu wanita paling bahagia di dunia dengan seluruh kemampuanku

-Cho Kyuhyun

Namja itu kemudian mengajak Hwayeon untuk memasangkan gembok itu, mereka berjalan menyusuri sekitar pagar berusaha mencari tempat kosong untuk memasang gembok mereka. “Disini saja oppa!” ujar Hwayeon sambil menunjuk sebuah spot kosong diantara padatnya gembok-gembok cinta.

Kyuhyun melihat tempat tersebut, dan keduanya memutuskan untuk memasang gembok cinta mereka disana. Kyuhyun menggantungkan gembok mereka diantara jutaan gembok yang berada di sana, kemudian mereka membuang kunci mereka di tempat yang sudah disediakan.
“Apa yang oppa tulis tadi?” tanya Hwayeon penasaran saat mereka sudah berada di halaman depan rumah Hwayeon. “Itu rahasia, kalau kukatakan, nanti tidak terkabul.” Hwayeon berdecak sebal lalu mengerucutkan bibirnya. “Yasudah.” Gerutunya sebal. Kyuhyun tersenyum. tanpa aba-aba, namja itu kemudian menanamkan sebuah keupan singkat di bibir Hwayeon. “Gomawo, sudah mau menemaniku hari ini.” Lirih Kyuhyun pelan sambil membawa Hwayeon ke dalam rengkuhannya.

Hwayeon balas melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Kyuhyun, kemudian gadis itu mengangguk pelan. “Harusnya aku yang berterima kasih padamu oppa. Gomawo, sudah mengajakku berkencan. Aku bahagia sekali.”
“Ne, apapun untukmu sayang.”

Mereka berdua berpelukan dalam diam. “Hah, rasanya aku tidak rela harus melepasmu sekarang.. Aku masih ingin bersamamu.” Wajah Hwayeon sontak memanas dengan sendirinya saat ia mendengar gerutuan Kyuhyun. “Kalau begitu oppa menginap saja.” Ujar Hwayeon tiba-tiba. Mwoya, apa-apaan itu tadi Kim Hwayeon. Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu. Aigo, eotteokhae? Batin Hwayeon nelangsa.

“Kau benar. Aku menginap saja, kajja kalau begitu. Kita masuk” Hwayeon kaget bukan main saat Kyuhyun tiba-tiba mneyeretnya masuk kedalam rumah. Belum sempat Hwayeon melayangkan protesnya, mereka sudah berhenti di ruang tamu. “Omo, annyeeonghaseyo ahjumma, ahjussi.” Sapa Hwayeon spontan. Gadis itu kemudian menunduk dengan sopan.
“Eomma dan appa sedang apa disini?” kali ini Kyuhyun yang bersuara. Heechul berdecih, “memangnya kenapa kalau eomma kesini? Tidak boleh?” tanya Heechul sengit. Kyuhyun mengerjapkan matanya pelan kemudian menggaruk tengkuknya bingung, “Ani, hanya saja a-“
“Aaaah sudahlah, kau diam saja. Sana pulang, sudah malam tau. Kluyuran saja.” Potong Heechul. Kyuhyun menggeram tidak suka. Namja itu melayangkan pandangan sengit pada sang eomma, dan dibalas dengan tak kalah sengit dengan sang eomma. Hangeng yang melihat kelakuan istri dan anaknya tertawa kecil, begitupun dengan Leeteuk dan Kangin. “Sudahlah kalian berdua, apa kalian tidak malu? Lihatlah umur kalian, seperti anak kecil saja.” Sindir Kangin, appa Hwayeon, sambil tertawa geli.

Baru saja Kyuhyun dan Heechul sama-sama membuka mulut untuk protes, Leeteuk sudah memotongnya. “Sudah, tidak perlu berdebat lagi. Ini sudah malam. Kyu, kalau bisa… tolong menginap disini, kami berempat harus pergi sekarang karena harus mengurus beberapa hal. Dan ravi, oppa Hwayeonpun saat ini sedang tidak ada di rumah. Sedang pergi dengan Yoonhee katanya. Tolong jaga Hwayeon untuk kami ne? Kami harus pergi sekarang, kajja yeobo. Kajja hangeng, heechul-ah, kita berangkat sekarang. Annyeong chagi, baik-baik ne.” Kyuhyun dan Hwayeon menyaksikan dengan bingung saat Leeteuk menarik Kangin, Hangeng, dan Heechul keluar dengan paksa. Mereka berempat terus berdebat, sampai akhirnya mereka berempat menghilang dibalik pintu.

“Apa-apaan sebenarnya mereka itu? Cih, menyebalkan.” Gumam Hwayeon pelan.
“Sudahlah, tidak perlu memikirkan mereka. Ayo, kita tidur sekarang. Kau pasti lelah.” Hwayeon hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Kyuhyun menuju kamarnya sendiri.

Kamar Hwayeon

“Oppa mau tidur menggunakan kemeja itu?” seakan tersadar, Kyuhyun menoleh kearah pakaiannya kemudian mendesah.
“Ah benar, masa aku harus tidur menggunakan kemeja ini? Mana nyaman?” gumam Kyuhyun lebih untuk dirinya sendiri.

“Aaaah, aku tau!” Kyuhyun memandang Hwayeon bingung saat tiba-tiba saja Hwayeon berlari kearah lemarinya sendiri di sudut kamar. Beberapa lama, hwayeon seperti mencari sesuatu. Lalu gads itu kemudian kembali sambil membawa sepasang piyama lelaki dan memberikannya pada Kyuhyun. “Igo.” Kyuhyun menerima baju yang Hwayeon serahkan dengan bingung. “ini milik siapa? Ravi hyung?” tanyanya penuh selidik. Hwayeon dengan polos menggeleng. “Aniya itu milikku, aku membelinya.. itu piyama couple. Aku punya yang warna pink, akan ku pakai. Oppa gantilah baju itu disini, aku akan ganti di kamar mandi. Oke?”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hwayeon langsung melesat kedalam kamar mandi sambil membawa piyama yang sama seperti yang Kyuhyun bawa, hanya saja berbeda warna dan ukuran. Kyuhyun dan Hwayeon sama-sama menyelesaikan ritual mengganti bajunya. Hwayeon berjalan dari kamar mandi dengan wajah merah padam sambil melipat tangannya di depan dada.

Kyuhyun mengamati Hwayeon yang berjalan kearahnya dalam diam. Manis batin Kyuhyun.
“Eoh? Kenapa kau melipat tanganmu seperti itu?” tanya Kyuhyun bingung. Hwayeon tersentak, “E-eoh? Ah itu aku,-“ gadis itu kemudian menunduk, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. “Ah, aku tau. Tidak perlu dilanjutkan. Yasudah, ayo kita tidur. Kemarilah.” Hwayeon berjalan kaku kearah ranjang. Kyuhyun menunggu Hwayeon mendekat dengan sabar. Lalu saat Hwayeon sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan sigap Kyuhyun memeluknya.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu.” Hwayeon mengangguk pelan. Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya sendiri pada Kyuhyun, lalu balas memeluk tubuh Kyuhyun dan menyandarkan kapanya di dada bidang namja itu.

“Jaljayo oppa” gumam hwayeon pelan sambil mulai memejamkan matanya. “Jaljayo baby.”

-o0o-

Hwayeon menggeliat, kemudian kedua matanya mulai terbuka secara perlahan. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambutnya, membuat gadis itu terpaksa menutup kembali matanya. Hwayon kemudian mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangannya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya.

Kyuhyun menatap Hwayeon yang baru bangun dari tidurnya dengan senyum mengembang. “good morning princess.” Sapa Kyuhyun lembut.

Cup

Hwayeon tersenyum lalu balas menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Good morning juga prince.” Balas Hwayeon dengan suara serak. Kyuhyun mengangkat tangannya ke wajah Hwayeon, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jadi ke wajah gadis itu. “Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan ini padamu.” Ujar Kyuhyun tiba-tiba.
Hwayeon mengerutkan keningnya bingung. “Ne? Maksud oppa? Mengatakan apa?”

Kyuhyun mendekatkan wajah mereka kembali, membuat wajah mereka hampir tidak berjarak. Kyuhyun berhenti tepat di permukaan bibir Hwayeon. “Happy birthday princess.”

Cup

Mata Hwayeon melebar. Happy birthday? Tunggu dulu, apa aku berulang tahun hari ini? Memangnya tanggal berapa hari ini? Batin Hwayeon bingung.

“A-“

BRAAKKK

“Saengil chukkahamnida… saeingil chukkahamnida… Saranghaneun, uri Hwayeon-ie… Saengil chukkahamnida.”
Hwayeon melongo saat segerombolan makhluk-makhluk memasuki kamarnya. Semua sahabatnya ada disana, Ravi, orangtuanya dan orang tua kyuhyun juga berada disana. Bahkan Lee dan Song ahjummapun berada disana. Belum sempat Hwayeon bereaksi, Kyuhyun tiba-tiba saja kembali mengecup cepat bibirnya di hadapan semua orang.

Cup

“Saengil chukkae baby. Semoga seluruh harapnmu bisa terkabul. Panjang umur dan sehat selalu, Tuhan menyertaimu.” Kyuhyun tersenyum lembut, begitu juga semua yang ada disana. “gomawo semuanya… Aku sungguh, ah.. aku bahkan tidak mengingat kalau hari ini aku berulang tahun. Jeongmal gomawoyo, semuanya. Oppa, eomma, appa, ahjumma, ahjussi, eonni… gomawo semuanya.” Semuanya berhamburan di sekitar kasur Hwayeon. Mereka mengobrol dan bersenda gurau bersama dengan posisi mengelilingi Kyuhyun dan Hwayeon.
“Ahhh! Kita melupakan sesuatu!” pekik Heechul secara tiba-tiba, mengagetkan yang lain.

“Apa maksudmu chulie-ah.” Tanya Leeteuk bingung.
“KADO!!!” pekik Yoonhee, Eunhye, dan Hyojin secara bersamaan. Hwayeon melongo.

“Tunggu, kalian-”
“AKU DULUAN NE!!!” pekik Heechul memotong ucapan Hwayeon. Heechul kemudian tiba-tiba saja berlari keluar kamar Hwayeon dengan cepat.

“Ke-“
“Ini dia!” Hwayeon kembali melongo saat Heechul mengacungkan sebuah amplop padanya.
“Ini! Ini hadiah dariku dan Hangeng. Jja, terimalah.” Hwayeon menerima amplop sodoran Heechul dengan bingung.

“Ini-“
“Sekarang aku!” kali ini Eunhye yang bersuara. Gadis itu kemudian keluar, dan masuk kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah darah berukuran cukup besar. “Ini hadiah dariku untukmu, kau harus memakainya nanti malam.”
Hwayeon menerima kotak pemberian Eunhye dengan bingung. Gadis itu membuka kotak tersebut dan terbelalak, “tunggu, kenapa kau memberiku sepatu? Memangnya harus kupakai untuk apa? Aish, kenapa kalian aneh sekali. Aku-“

“Ini dariku.” Potong Hyojin cepat. Hwayeon menghentikan ocehannya dan menatap kotak yang diberikan Hyojin padanya. Berbeda dengan kotak yang Eunhye berikan, kotak dari Hyojin berukuran lebih besar, namun kotak tersebut lebih pendek. Hwayeon menyerah, mencoba untuk tidak protes. Gadis itu membuka kado pemberian Hyojin. “Dan… kenapa kau memberiku gaun? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan sih?!” sungut Hwayeon kesal.
Tidak ada satupun yang menganggapi ocehan Hwayeon. Yoonhee sekarang yang menyodorkan sebuah kotak pada Hwayeon.

Hwayeon melihatnya dengan jengkel. “Apa lagi yang kau berikan padaku eonni?” tanya Hwayeon sebal. “Buka saja, cerewet.” Hwayeon berdecih, lalu gadis itu membuka kado pemberian Hwayeon. “Bedak, eyeshadow, lipstick, parfum… Yah, kenapa pula kau memberikan barang seperti ini padaku eonni?”tanya Hwayeon kali ini benar-benar jengkel.
Tapi lagi-lagi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan itu, termasuk Kyuhyun. Ravi bangkit berdiri tiba-tiba lalu berjalan keluar kamar. Tidak selang berapa lama, Ravi datang sambil membawa boneka panda super jumbo. “Nih, untuk adik oppa yang manis. Aku berikan kau kembaran.” Hwayeon melongo, menatap boneka panda super besar di depannya dengan bingung.

“Karena kau suka sulit tidur, oppa memberimu teman untuk tidur. Kau dengan boneka itu sama. Sama-sama memiliki mata panda. Jadi jika kau sulit tidur lagi, peluk saja boneka itu. Anggap saja boneka itu oppa atau siapapun terserah padamu. Oppa yakin kau bisa tidur dengan mudah dan nyenyak.” Hwayeon menatap lekat-lekat boneka panda yang duduk dihadapannya, lalu memeluk boneka itu. “Gomawo oppa…” lirih yeoja itu pelan.

Ravi dan yang lainnya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Hwayeon. “Jja, kalau begitu tingga eomma dan appa yang belum member hadiah. “Jja, ini untukmu.” Hwayeon mengangkat sedikit kepalanya, mengintip kado pemberian Leeteuk dan Kangin.
Leeteuk da Kangin memberikan hwayeon sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Hwayeon mengangkat kepalanya degan benar, lalu menatap Leeteuk lekat-lekat. Gadis itu tau benar apa yang ada di dalam kotak beludru tersebut. “Eomma…”

“Anak eomma sudah besar sekarang. Kau dan oppamu akan segera menikah. Sudah waktunya eomma memberikanmu benda ini, Pakailah ne? Jaga baik-baik.” Leeteuk tersenyum, tapi air mata tetap saja mengalir dari mata yeoja itu. “Eommaaaaa” Hwayeon dengan cepat berhambur ke dalam pelukan Leeteuk saat gadis itu melihat sang eomma mulai menitiskan air mata. “Eomma uljimaaa” lirih gadis itu pelan.
Seumur hidupnya, Hwayeon tidak pernah tahan melihat airmata sang eomma. Eommanya yang begitu berharga… “Arraseo, mianhae… Harusnya eomma tidak menangis. Jja, jagalah ini baik-baik. Pakailah ini untuk nanti malam.” Hwayeon merengut saat lagi-lagi mendengar kaliat itu kembali terucap.

Hwayeon menarik diri dari pelukan eommanya, lalu menatap semua yang ada disana dengan tatapan menuduh. “Kalian menyembunyikap apa sebenarnya dariku. Kenapa kalian semua membicarakan nanti malam terus menerus? Memangnya ada apa nanti malam? Kenapa aku tidak tau apa-apa?” tanya Hwayeon dongkol.

Tapi seperti tadi, tidak ada satupun yang berniat menjawab pertanyaan Hwayeon. “Ah, kita harus bersiap-siap untuk nanti malam. Kajja, biarkan mereka berdua dulu.” Hwayeon merengut saat semua orang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan tadi Ravi menepuk-nepuk kepalanya.

Tiba-tiba saja suasana kamar Hwayeon sepi karena semua orang sudah keluar. Menyisakan Hwayeon dan Kyuhyun yang sejak tadi membisu. “Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan?” lirih Hwayeon bingung. Gadis itu menatap kembali hadiah-hadiah yang di dapatkannya yang masih berada di ranjang dengan bingung.
“Hah… sudahlah, mereka memang aneh.” Gumam hwayeon pasrah. Gadis itu kemudian membereskan kado-kado yang diterimanya, lalu menumpuknnya dengan rapih di sisi kasur, termasuk boneka panda yang diterimanya dari ravi.

Hwayeon akhirnya menoleh pada Kyuhyun. Kyuhyun dari tadi hanya diam, duduk bersender pada kepala ranjang dan mengamati Hwayeon. “Oppa tidak memberikanku hadiah seperti mereka?” tanya Hwayeon penasaran. Gadis itu kemudian merangkak mendekati Kyuhyun, dan berakhir di dalam pelukan namja itu. “Kau menginginkan hadiah dariku?” tanya Kyuhyun balik.

Hwayeon menggeleng, “Ani, aku hanya penasaran saja.” Jawabnya pelan. “Kalau kau mau tau hadiah dariku, kau harus ikut bersamaku ke suatu tempat nanti malam.”
Hwayeon menghela nafas dengan keras. “Jadi kalian memang merencakan semua ini, cih. Menyebalkan sekali.”
Kyuhyun tersenyum simpul. “Jadi kau tidak mau?”

“Tentu saja aku mau.” Jawab Hwayeon cepat.
“Kalau begitu terima saja, semua ini sudah kusiapkan susah payah untukmu tau…”

“iish, arraseo. Gomawo ne?”
“Kau bahkan tidak tau apa kado dariku.”

“Cih, aku kan hanya berterimakasih.”
“Ya tetap saja. Kau tau hadiah dariku saja tidak.”

“Kau itu cerewet sekali! Yasudah! Kutarik lagi ucapan terimakasihku tadi!”
“Yak! Mana bisa seperti itu?!”

“Tentu saja bisa!”
“Yak! Gadis nakal ini!”

“Ish berisik!”
“Ck! kau ini!”


To be continued…

Find My Love // Part 8 [Come Back to Me]

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”
“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

“Kau kekanakan!”
“Kau juga!”

“Aku mempercayaimu.”
“Kau memang harus mempercayaiku.”


“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

“Kau keterlaluan.”

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

“Kau pantas mati!”

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

Title: Find my love part 8 ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Ciiiia, ketemu lagi nih sama author. Berhubung author lagi baik, jadi author lanjutkan ff ini, yang udah agak lama terbengkalai. Maaf kalau kurang memuaskan, author juga jarang update. soalnya bnyak tugas sama ulangan nih. Bentar lagi juga mau UAS. setresssss. Oke deh, kalian baca aja ini. Lanjutannya . jangan protes ya kalau kurang memuaskan atau kurang panjang dll.
Nah yauda, Happy reading okeh? Jangan lupa comment. Author tunggu loh. Trims~

-o0o-

Chapter 8
Come Back to Me

Byuuurrrr!!!!!!

Aku kembali membuka mataku dengan sisa sisa kekuatanku. Dan aku melihat seseorang tengah berenang kearahku dengan raut cemas. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena darah dari perutku menutupi pandanganku. Air laut menjadi berwarna merah akibat darahku yang terus bercucuran.

Apa itu Kyuhyun oppa? Atau Ravi oppa? Atau malah appa? Hikss… sakit sekali.
Uuuuugh, sakit sekali… Eomma appa… Tolong aku…

Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi tetap saja. Luka tusuk yang dibuat oleh yeoja gila di perutku terasa sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan kalau kesadaran direnggut paksa dariku setiap detiknya.
Mataku mengabur, dan aku membiarkan kesadaranku hilang saat tanganku ditarik oleh orang lain. Ah… ternyata begini rasanya mati…

Author POV

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” Hwayeon terlihat membungkukkan tubuhnya. Haneul melemparkan seringaian puasnya pada Hwayeon tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pisau yang saat ini menancap di perut Hwayeon.
Disaat bersamaan, Kyuhyun dan yang lainnya yang baru saja tiba melihat Hwayeon dengan wajah ngeri dan pucat pasi.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” teriak Ravi ngeri. Wajahnya yang sudah pucat dari awal menjadi semakin pucat. Setelah teriakan Ravi berteriak, para tamu berdatangan sambil berlari dan kemudian llangkah kaki mereka terhenti saat melihat Hwayeon dan Haneul yang ada di ujung geladak kapal.

Kyuhyun sendiri hanya berdiri kaku ditempatnya dengan mata tertuju pada luka tusuk di perut Hwayeon. Mulutnya menganga dengan mata membulat lebar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Kangin dan Leeteuk sendiri seakan tidak mampu bersuara. Leeteuk bersandar pada Kangin seakan ia mau pingsan.

“Aaaaarghh!!!!!!” Hwayeon berteriak saat tiba-tiba Haneul itu menarik pisau itu dari perutnya sambil berbisik lirih tepat di telinga Hwayeon. “Kau pantas mati.” Gumam Haneul pelan, jadi hanya mampu di dengar oleh mereka berdua.
Tubuh Hwayeon linglung akibat rasa sakit dan kaget, Haneul memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan mendorong Hwayeon ke laut.

“ANDWAEEEE!!!!”

Brukkk!!!

Haneul jatuh ke lantai akibat dorongan Kyuhyun, karena saat namja itu melihat kekasihnya didorong, ia dengan sigap berlari menghampiri Hwayeon. Yang lain akhirnya mengikuti Kyuhyun berlari untuk melihat keadaan Hwayeon tanpa memperdulikan Haneul yang masih tersungkur di lantai.

Hwayeon masih bertahan, menggantung di ujung kapal karena Kyuhyun berhasil menangkap pergelangan tangannya, atau lebih tepat… gelangnya. Kyuhyun terus berusaha menahan Hwayeon sambil tersenyum menguatkan padahal air mata sudah menggenang di pipinya.
Kyuhyun terus mempertahankan pegangannya sambil memanjatkan doanya supaya kekasihnya itu bisa selamat. Awalnya Hwayeon hanya memandang Kyuhyun dengan ekspresi kesakitan yang kentara di wajahnya. Tapi kemudian, gadis itu melirik kebawah dan tubuhnya kontan bergetar, membuat pegangan Kyuhyun di gelangnya hampir saja terlepas. Kyuhyun menggeleng panic dan air mata semakin deras mengaliri pipi namja itu.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” Hwayeon kembali menatap Kyuhyun, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatap Hwayeon dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” Hwayeon mencoba mengulurkan tangannya yang terbebas, namun tidak sampai. Berkali kali gadis itu mencoba meraih tangan Kyuhyun, tapi tetap saja tidak bisa. Perutnya sangat sakit, membuat gerakannya jadi sangat terbatas. Hwayeon kemudian mengenakan upaya terakhirnya, dan menyembabkan dia hampir saja terjatuh.

“Aku tidak bisa!” isak Hwayeon lemah, terlihat jelas kalau gadis itu tengah putus asa saat ini.
“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!” teriak Kyuhyun berusaha memberi kekasihnya itu semangat.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” kali ini Hwayeon yang berteriak putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahanya untuk menggenggam tangan Kyuhyun tidak kunjung berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Hwayeon memandang Ravi yang juga mengulurkan tangannya kebawah. Hwayeon berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi ia gagal. “Aku tidak bisa oppa.” Hwayeon memandang semua orang yang berusaha membantunya dengan air mata bercucuran. Leeteuk dan Heechul sama sama menangis histeris di pelukan suami mereka masing masing.

Kangin sendiri menangis dalam diam sambil menenangkan Leeteuk, begitupula dengan Hangeng. Ravi masih berusaha meraih tangan Hwayeon. Yoon Hee, Eun Hye dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. “Mianhae.” gumam Hwayeon lirih saat gelang ditangan gadis itu akhirnya putus.

“TIDAK!!! TIDAK TIDAK TIDAK!!! HWAYEON TIDAK!!” Kyuhyun berteriak histeris dan bersiap untuk melompat, menjemput Hwayeon. Ravi dengan sigap menahan Kyuhyun yang terus meneruss berusaha melompat dengan susah payah.

“LEPASKAN!!! AKU HARUS MENCARINYA!!! HYUNG!!! AKU HARUS MENCARI HWAYEON, DIA PASTI KETAKUTAN!! JEBAL! BIARKAN AKU MENCARINYA!!” teriak Kyuhyun dengan suara pilu. Semua tamu yang melihat kejadian itu bungkam, mengerti betul kalau kejadian seperti ini sangatlah berat.

Suasana kapal berubah semakin panas. Leeteuk dan Heechul sama sama pingsan saat Hwayeon jatuh. Kangin dan Hangeng sibuk menenangkan istri mereka masing masing. Sambil mengamati Kyuhyun yang terus menerus berusaha untuk melompat.
“Kyu! Pergilah, cari Hwayeon. Appa sudah menyuruh orang untuk menurunkan sekoci penyelamat. Turunlah bersama mereka. Cari Hwayeon sampai ketemu. Appa juga sudah menyuruh kapal ini dihentikan. Sana! Selamatkan menantu appa.” Seru Hangeng tiba-tiba sambil tetap mendekap Heechul yang masih pingsan.

Kyuhyun menatap Hangeng penuh terima kasih. “Tolong, temukan putriku.” Tambah Kangin dengan suara parau. Kyuhyun mengangguk patuh dan dengan cepat melesat pergi diikuti oleh Ravi. Keheningan langsung menyerbu mereka begitu Kyuhyun dan Ravi menghilang dalam jarak pandang mereka.
Kini semua mata tertuju pada Haneul yang masih terduduk di lantai dengan senyum pongahnya. Kangin menghampiri Haneul dengan wajah merah padam setelah ia menititipkan sang istri yang sejak tadi pingsan ke Yoonhee dan Eunhye.

Haneul kembali tersungkur dengan keras saat Kangin menggamparnya. Beberapa tamu terkesiap kaget dan mulai berbisik bisik sembari melirik Haneul dengan raut jijik. “Pergi dari tempat ini sebelum aku membunuhmu!” teriak Kangin berang. Haneul bangkit berdiri sembari berdecih. Ia kemudian menatap Kangin penuh kebencian dan mulai melangkah. Baru beberapa langkah maju, ia kemudian terhenti saat Hangeng berhenti tepat dihadapannya dengan raut marah dan kecewa.

Plak!!!

Hangeng menggampar Haneul, kemudian menyuruh gadis itu pergi dari sana. “Jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di sekeliling kami! Atau aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan! Camkan itu!” desis Hangeng dingin dengan suara rendah. Haneul dengan cepat melangkah pergi dari sana, melupakan pisaunya yang ia gunakan untuk menusuk Hwayeon di lantai. Hangeng menatap pisau yang tergeletak itu dengan nanar. “Amankan pisau itu, lapor pada polisi sekarang.” Ujar Hangeng dingin. Beberapa orang langsung mengamankan situasi, menyuruh para tamu untuk kembali ke kabinnya masing masing dan membersihkan noda darah yang ada di sana.

Di sisi lain, Kyuhyun dan Ravi saat ini berada di sekoci penyelamat bersama dengan 2 orang pengawal Hangeng. Kyuhyun memerintahkan mereka untuk menyusuri tempat dimana Hwayeon tercebur tadi.
Tidak butuh waktu yang lama, Kyuhyun menangkap bayangan Hwayeon yang mulai tenggelam ke kedalaman. Tanpa banyak pikir, Kyuhyun langsung menceburkan dirinya… mengabaikan teriakan Ravi.

Byuuurr!!!

Kyuhyun menajamkan indra penglihatannya seketika berada di laut. Mengabaikan tubuhnya yang mulai menggigil karena dinginnya air laut. Kyuhyun berenang dengan cepat kearah Hwayeon yang sudah tidak sadarkan diri, dan menarik gadis itu dengan cepat ke permukaan dengan panic.

Bertahanlah sayang, jebal. Jangan tinggalkan aku

“Cepat!! Bantu aku!!!” Kyuhyun segera berteriak saat ia sudah sampai kepermukaan, lalu dengan bantuan Ravi dan para pengawal itu mereka berhasil menaikkan tubuh tak sadarkan diri Hwayeon keatas perahu.

“Sayang… bangunlah kumohon!!” gumam Kyuhyun putus asa, kemudian namja itu mulai menekan nekan dada Hwayeon.

1 kali

2 kali

3 kali

“Sialan!” geram Kyuhyun sengit saat tak ada reaksi dari Hwayeon. Kyuhyun kemudian mengambil nafas dalam dalam, menutup lubang hidung Hwayeon, dan mulai memberikan nafas buatan lewat mulut. Ravi memandang Hwayeon dengan cemas, Kyuhyun terus memberikan nafas buatan untuk Hwayeon sambil sesekali beralih untuk melakukan CPR lagi. “Bangunlah sayang, ayolah.. kumohon..” Kyuhyun kembali menekan dada Hwayeon, berusaha membuat jantung gadis yang dicintainya itu kembali berdetak. “Kumohon…kumohon..” Kyuhyun terus menerus merapalkan kalimat itu, sampai tanpa disadari namja itu, air mata sudah menggenang di pipinya.

“Uhukk Uhukk” Kyuhyun dan Ravi sama sama menghembuskan nafas lega saat Hwayeon mulai terbangun. Memuntahkan cairan yang sudah ia telan saat tenggelam tadi. Kyuhyun segera membawa tubuh menggigil Hwayeon ke dalam dekapannya. “Terimakasih Tuhan, kau selamat.” Lirih Kyuhyun pelan.

“Oppa appo… hikss…” Kyuhyun tersentak kaget saat Hwayeon kembali menangis dalam dekapannya. Kyuhyun kembali menatap Hwayeon, dan beralih pada perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Stttt… kau akan baik-baik saja. Yoon Hee pasti bisa menangani ini arra? Bertahanlah, kita sudah sampai. Bertahanlah.” Kyuhyun terus merapalkan kalimat itu di telinga Hwayeon sampai akhirnya mereka berdua naik kembali ke kapal.

Kyuhyun membawa tubuh Hwayeon yang kembali tak sadarkan diri di gendongannya. Namja itu berlari sepanjang jalan menuju ke kabin Yoon Hee sambil berteriak, menyuruh orang yang menghalangi jalannya untuk minggir.

Tok Tok Tok Tok Tok!!!!!

YoonHee dengan cepat membuka pintu kamarnya. Kyuhyun yang sedang menggendong Hwayeon dengan cepat menyelonong masuk dan membaringkan Hwayeon di kasur. Kemejanya sudah bersimbah darah Hwayeon.
“Tolong, selamatkan Hwayeon, kumohon.” Suara Kyuhyun pecah, mencerminkan betapa takutnya namja itu. “Selamatkan adikku Yoon Hee-ya, jebal.” Lirih Ravi dari sebelah Kyuhyun.

Yoon Hee menatap dua laki-laki yang ada di kamarnya itu dengan prihatin. “Arra, sekarang kalian minggir lah, jangan ada di dekat kasur.” Perintah Yoon Hee tegas.
Kyuhyun dan Ravi dengan tau diri beringsut menjauh dari kasur. Yoon Hee dengan cekatan mengambil kotak hitam berukuran lumayan besar, dan meletakkannya di samping tubuh Hwayeon. Yoon Hee membuka kotak itu, dan ternyata isinya adalah alat-alat kedokteran.
Yoon Hee dengan cepat memakai sarung tangan putih dan mulai bekerja. Merobek baju Hwayeon, menyuntikkan obat bius, menyayat, dan kemudian menjahit. Ravi menyaksikan dengan mual, dia sudah pernah menyaksikan secara langsung operasi kecil seperti itu. Oh tentu saja, dia pernah di operasi tanpa obat bius oleh Yoon Hee. Kejam memang.
Tapi melihat adik satu-satunya, kesayangannya, dioperasi seperti itu membuat Ravi sedih. Perasaan bersalah benar-benar menghantuinya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan benar, bahkan mereka bertengkar tadi. Hwayeon pergi dengan perasaan kecewa dengannya karena ia tidak mempercayai adiknya itu.. ia malah mengatakan kalau adiknya itu berlebihan dan sangat kekanakan, dan adiknya itu malah berakhir disini… dengan luka menganga di perutnya.

Terkutuklah aku, kakak macam apa aku ini? Harusnya tadi aku mempercayai Hwayeon, harusnya tadi aku menghibur hwayeon. Jadi semua ini tidak akan terjadi. Ravi terus bergelut dengan pikirannya, tanpa menyadari kalau pekerjaan Yoon Hee sudah hampir selesai.

“Nah, sudah. Kau bisa memindahkannya ke kamar kalian sekitar 3 jam lagi, karena kita harus menunggu darah yang kuberikan tadi habis. Beruntunglah aku membawa cadangan kantong darah, untuk berjaga-jaga jika ada kejadian seperti ini. Saat memindahkannya nanti, kalian harus berhati-hati supaya jahitannya tidak terbuka ne? Lukanya cukup dalam, tapi tenang saja… dia tidak akan kenapa kenapa. Dia akan tertidur sampai kurang lebih 5 jam. Selebihnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jelas Yoon Hee panjang lebar.

“Ne, gomawo.” Ujar Kyuhyun pelan. “Cheonma”

Kyuhyun mendekat kearah Hwayeon dan mendudukan dirinya di samping Hwayeon. Mengelus rambut Hwayeon dengan sayang. “Mianhae chagi, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Ucap Kyuhyun lirih, tapi masih terdengar jelas di telinga Ravi dan Yoon Hee.
Ravi dan Yoon Hee dengan cepat keluar dari kamar itu diam diam, memberikan Kyuhyun ruang untuk meluapkan perasaannya pada Hwayeon. Waktu Yoonhee dan ravi keluar kamar, mereka langsung dihadapkan dengan EunHye, Hyo Jin, Heechul, Leeteuk, Kangin, Hangeng, dan yang lainnya.

“Bagaimana keadaan anakku?”

“Apa anakku baik baik saja?”

“Menantuku baik baik saja bukan?”

“Uri magnae baik baik saja kan?”

“Bagaimana keadaan Hwayeon?”

“Aku ingin menemui menantuku.”

“Biarkan aku masuk.”

Yoon Hee dan Ravi berusaha menjelaskan keadaan Hwayeon kepada mereka. “Hwayeon baik baik saja. Semua nya sudah di atasi, sekarang Hwayeon masih tertidur karna obat bius. Ada Kyuhyun didalam, biarkan mereka berdua dulu saja.” Saran Yoon Hee.
Mereka tidak terlihat puas dengan jawaban Yoon Hee, tapi akhirnya mereka mengalah dan kembali ke kabin mereka masing masing.

Kyuhyun POV

Kupandangi wajah pucat Hwayeon dengan sedih. Ini semua terjadi karena aku. Kalau saja aku mempercayainya, kalau saja dari awal aku mempercayainya, dan menjaganya dengan benar.. maka kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Akulah yang membuatnya seperti ini, akulah yang membuat Haneul bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Hwayeon dan menyakitinya. Akulah penyebabnya, akulah dalangnya.
Aku merasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak, melihat orang yang begitu kucintai terbaring lemah seperti ini. Kuakui, aku bingung. Mengingat bagaimana kami bertemu, lalu berkenalan, lalu akhirnya bisa menjadi seperti ini.

Kami bahkan baru kenal dalam waktu beberapa hari, dan aku sudah berani melamarnya. Memberikannya kalung warisan dari eomma dengan mudah padanya. Membuatnya menjadi calon istriku. Semua ini terasa sangat membingungkan.

Aku, Cho Kyuhyun, bukanlah namja yang romantic. Bisa dibilang aku sangat kaku. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik. Tapi semuanya berbeda saat bersamanya, Hwayeo, pujaan hatiku. Aku berubah menjadi namja yang kelewat romantic, bahkan mungkin sedikit menggelikan. Aku pun selalu mengungkapkan apa yang ada di hatiku dengan cepat padanya, bahkan tanpa kusadari.

Semua yang kuinginkan hanyalah membuatnya tertawa, bahagia. Aku ingin melihat senyum manisnya itu terus tergores d wajahnya. Aku ingin ia bahagia, aku menginginkannya.

Tapi…

Karena aku lah, satu-satu wanita yang kucintai kini terbaring tak berdaya. Aku yang meyeretnya kedalam masalah seperti ini. Sampai akhirnya, psikopat gila yang bahkan merupakan mantan tunanganku berusaha melukainya.
Sialan, aku hampir melupakannya. Yeoja itu, sialan kuadrat. Dimana yeoja itu sekarang? Tidak mungkin dia berenang untuk sampai ke pelabuhan kan? Bunuh diri namanya, tapi aku tidak peduli. Lebih baik kalau dia menghilang. Jauh-jauh dari kehidupan kami. Aku benar-benar tidak mau gadis manisku terluka lagi, apa lagi karena hal yang sama. Aku akan membunuh diriku sendiri jika itu sampai terjadi.

Hah…

Kenapa dia tak kunjung sadar juga? Aku merindukannya.

Ku genggam tangannya yang dingin, mencoba memberinya kehangatan. “Kumohon bangunlah sayang. Aku sekarat disini tanpamu..”

Tes

Tes

Tes

Sial.. lagi lagi air mataku menetes tanpa bisa kucegah. Bagaimana mungkin ini terjadi? Entah sudah berapa kali aku menangisinya hari ini. Aku benar-benar sakit melihatnya seperti ini. Andaikan aku bisa, aku ingin menanggung semuanya. Biar aku saja yang berada di posisinya, aku tidak ingin dia terluka sama sekali. Aku tidak ingin melihatnya tersakiti, oleh seujung kuku sekalipun.

Aku memejamkan mataku, mengusir pening yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Aku lupa, aku belum mengganti bajuku sejak tadi. Pantas saja aku pusing sekarang. Pasti masuk angin. Haah, yasudahlah.. sudah terlanjur. Bajuku bahkan sudah kering karena dinginnya kamar.

Uuugh..

Pusing sekali..

Kuputuskan untuk merebahkan diriku sejenak di samping kasur sambil tetap menggenggam tangan Hwayeon. Sebentar saja, aku hanya akan beristirahat sebentar…

Aku terbangun saat merasakan usapan dikepalaku. “Oppa…” tunggu, aku mengenal suara itu. Suara siapa ya? Bukankah tadi aku sedang- Oh sial!
Dengan cepat aku menegakkan tubuhku. Hwayeonku… “Oh Tuhan, akhirnya kau bangun. Aku mencemaskanmu…” dengan segera aku memeluknya, berusaha untuk tetap berhati-hati pada lukanya. Ya ampun, kenapa tubuhnya lemah sekali seperti ini…

“Mian, sudah membuatmu mencemaskanku.”

“Bodoh, gadis bodoh. Kenapa kau bisa membiarkan yeoja itu melukaimu hah? Kenapa kau tidak melawan? Ya Tuhan. Bagaimana kalau kau tadi- Ya ampun.” Aku memejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran anehku yang menakutkan.

“Oppa… tidak mempercayaiku.”

Deg

“A-“

“Oppa… lebih mempercayainya”
“Sayang, itu aku-“

“Oppa lebih mimilihnya daripada aku.”
“Apa? Tidak! Aku-“

“Oppa lebih memilih pergi bersamanya daripada tinggal bersamaku.”
“Tidak sayang! Tidak, itu aku-“

“Oppa tidak mencintaiku”
“APA?! TIDAK! Dengar! Aku-“

“Oppa mencintainya”

Jedeerrrr

Apa-apaan. Bagaimana mungkin dia berfikir seperti itu?

“Sayang… Itu semua tidak benar! Aku-“
“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, meninggalkanku sendirian..”

Author POV

“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, oppa aka-“ Kyuhyun menatap Hwayeon tak percaya.
“Hentikan! Itu semua tidak benar! Bagaimana mungkin kau mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu?!” bentak Kyuhyun marah. Kyuhyun sungguh kecewa karena Hwayeon menganggapnya seperti itu.

Tubuh Hwayeon perlahan bergetar. Kemudian tanpa aba-aba, air mata mulai bercucuran dari mata sipitnya. “Dia bilang oppa tidak mencintaiku, dia bilang oppa akan meninggalkanku. Dia-“ Kyuhyun dengan cepat merengkuh Hwayeon kembali. Menenangkan gadisnya yang terlihat sangat terguncang. “Kenapa kau mempercayai semua omongannya? Kau tau itu semua tidaklah benar. Aku hanya mencintaimu.” Terang Kyuhyun cepat, berusaha menampik kekecawaannya.

Hwayeon tidak mempercayaiku. Kyuhyun benar-benar sedih sekaligus kecewa mengetahui hal itu.

Hwayeon menatap Kyuhyun dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar hebat, memperlihatkan seberapa terguncangnya mental gadis itu. “Oppa lebih memilihnya daripada aku.” Lirihnya dengan suara bergetar.
Shit! Kyuhyun mempererat rengkuhannya pada tubuh ringkih Hwayeon, menanamkan kecupan kecupan lembut diatas puncak kepala gadis itu. “Aku memilihmu.. Aku hanya mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku, maaf…”

Akhirnya Hwayeon menangis di dalam pelukan Kyuhyun, sampai akhirnya gadis itu kembali tertidur…

Mianhae, jeongmal mianhae… geurigu saranghae

-o0o-

Hwayeon POV

“Omo Hwayeon!! Apa kau baik-baik saja? Kami semua mencemaskanmu.” Aku mendudukkan diriku di kursi restoran di bantuoleh Kyuhyun oppa. Aku menyamankan posisi dudukku lalu memandang semua orang dan tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku.” Aku bisa mendengar semua orang menghela nafas lega dari sini.
Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja. Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Saranghae” ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget, tentu saja. Kurasa semua orang yang duduk di meja ini juga sama kagetnya sepertiku. “Nado saranghae.” Jawabku pelan. Kurasakan wajahku memanas. Oh-oh, janngan sampai wajahku memerah, memalukan!

“Berhentilah mengumbar kemesraan kalian didepanku. Kalian membuatku iri.” Aku menoleh mendengar cibiran Ravi oppa, lalu tersenyum geli. “Wae oppa? Kau cemburu?” aku tertawa dalam hati saat melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah. “Tidak, kenapa juga aku harus cemburu!” Kyuhyun oppa terkekeh geli di sampingku, dan akupun mencoba untuk tidak tertawa walaupun rasanya sulit sekali karena Ravi oppa sangat lucu.

“Aaah, aku tau. Oppa sirik kan? Kenapa? Apa Yoonhee eonni tidak suka kalian mengumbar kemesraan seperti ini?” aku terkekeh saat melihat Yoonhee eonni melotot galak kearahku. Haduh haduh, mata besarnya itu sampai terlihat mau copot. Hahaha. “Diamlah kau Hwayeon.” Desis Yoonhee eonni dengan wajah merah padam.”

“Eonni, wajahmu seperti kepiting rebus tau?”
“Diamlah Hwayeon, jangan menggodanya seperti itu.” Senyumku semakin bertambah lebar saat mendengar teguran Ravi oppa. Hah, dia masuk perangkapku. “Memangnya kenapa?” tanyaku pura-pura bodoh. Ravi oppa memandangku cemberut, “Aku tidak suka orang lain melihat wajahnya menggemaskannya saat ia sedang tersipu. Pemandangan seperti itu hanya diperuntukkan untukku.” Aku melongo mendengar penjelasannya. Aku baru tersadar saat Kyuhyun oppa tertawa dengan keras.

“Apa-apaan itu hyung, kau menjijikan.” Ejek Kyuhyun oppa frontal. Mau tidak mau aku tersenyum, apa lagi saat melihat Ravi oppa kelabakan menjelaskan dengan wajah merah padam. “Ah, eh, i-itu… maksudku emm.. “ aku semakin tertawa saat melihat Yoonhee eonni menundukkan kepalanya.

“Kalian sungguh lucu.” Sindirku sakratis. Semua orang di meja kami tertawa bersama, memandangi Yoonhee eonni dan Ravi oppa dengan raut wajah terhibur. “DIAMLAH!” ujar mereka kompak.
Kami semakin memperkeras tawa kami. Kyuhyun oppa merangkulku, dan aku tertawa di dalam rangkulannya. “Bocah sialan.” Desis Ravi oppa sebal. Tapi tak ayal, aku melihat senyum lebar terkembang diwajahnya itu.

Hah, akhirnya semua kembali dengan benar. Aku sempat takut kalau yeoja itu masih berada disini. Tapi kulihat-lihat, sepertinya yeoja itu sudah pergi dari sini. Aku senang, karena semua tamupun terlihat sudah tidak sekaku tadi pagi, saat mereka baru melihatku semenjak aku… yah, kalian tau lah.

Ravi oppa sendiri, semalam ia menemuiku. Mengajakku berbicara 4 mata dengannya. Ravi oppa meminta maaf padaku, karena tidak mempercayaiku dan malah mengatakanku berlebihan serta kekanakan.
Sebenarnya aku sudah tidak mempersalahkan hal itu, tapi Ravi oppa tetap bersikeras ingin minta maaf. Jadi aku memaafkannya, walaupun aku sebenarnya sudah memaafkannya sejak awal, tanpa perlu ia minta. Kuharap semua ini berjalan dengan lancer sampai seterusnya. Aku sendiri penasaran, bagaimana kelanjutan hubungan antara Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Semalam Ravi oppa juga memberitahuku tentang rencanya yang ingin membawa Yoonhee eonni berlibur dan melamarnya. Au tidak tau Ravi oppa akan membawa Yoonhee eonni berlibur kemana, karena Ravi oppa sama sekali tidak berniat membcorkannya. Walaupun aku sudah merengek padanya.

Aku benar-benar berharap Ravi oppa bisa berhasil menjalankan misinya, jadi akupun bisa segera menikah dengan Kyuhyun oppa. Aku tidak ingin lagi terpisah dengan Kyuhyun oppa. Benar-benar tidak mau. Apa lagi melihat Kyuhyun oppa bersama dengan wanita lain? Tidak terimakasih. Kyuhyun oppa hanya boleh untukku.
Kami kemudian melanjutkan makan siang kami setelah puas menggoda Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Aku dan Kyuhyun oppa pamit terlebih dahulu. Aku dan Kyuhyun oppa akan pulang lebih dahulu dari yang lain, ini semua permintaan Kyuhyun oppa. Aku sih hanya menurut saja.

Tadi malam Kyuhyun oppa sudah membereskan barang-barang kami. Jadi kami hanya tinggal berangkat pulang saja. Hangeng ahjussi sudah membantu kami menyiapkan kapal lain yang akan kami pakai untuk pulang. Hangeng ahjussi dan Heechul ahjumma juga meminta maaf kepadaku, yang seharusnya tidak perlu. Semua kejadian ini kan bukan salah mereka. Ini toh bukan salah siapapun, bukan juga salah Haneul. Haneul melakukan ini karena dibutakan oleh cintanya pada Kyuhyun oppa. Jadi aku tidak sampai hati untuk menyalahkannya. Aku tidak tau bagaimana nasib gadis itu, karena Kyuhyun oppa tidak mau memberitahuku sama sekali. Ia hanya menyuruhku untuk diam, “Diamlah, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan mengurus semuanya, aku akan menjagamu.” Begitulah yang Kyuhyun oppa katakan semalam saat aku menanyakan perihal Haneul padanya.

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

-tbc-

I’m in Love // Part 2 – [Secret]

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Note:

Okee….. Ini dia part 2 nya. Author udah buru-buru beresin ini biar kalian ga kelamaan nunggu. Jadi maaf kalau kurang memuaskan. Masalah cintanya belakangan ya.. Ini masih family hehehe. Selamat baca. Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak. Gomawo ^^

.

.

.

I’m in Love

Part 2

Secret

 .

.

.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Sreeettt!

Cklek!

Kyuhyun tersenyum kecil, betapa menggemaskannya wajah Hwayeon tadi saat ia mendekatkan wajahnya. Kyuhyun kembali meluruskan arah pandangnya, dan mulai menyalakan mobil.

Hwayeon akhirnya menghembuskan nafas lega, ia membuka matanya perlahan dan mengintip Kyuhyun dari sudut matanya. Hwayeon terus menatap Kyuhyun dalam keheningan, membiarkan matanya memaku gambaran Kyuhyun, seakan ia takut akan melupakannya kelak.

Hwayeon berkali-kali berdehem pelan akibat suasana canggung yang kini memenuhi mobil mereka. Hwayeon bergerak tak nyaman dalam duduknya, sedikit membuat Kyuhyun risih. “Bisakah kau berhenti bergerak seperti itu? Kau membuatku risih” Hwayeon tersentak, ia menolehkan kepalanya dan menunduk seketika saat disuguhkan tatapan tajam khas seorang Cho Kyuhyun. “Mi-mianhae…” cicit Hwayeon pelan.

Kyuhyun menghela nafasnya berat, lalu melirik Hwayeon yang masih saja menunduk di tempatnya. “Maaf kalau kau bosan, aku tidak biasa berbicara saat sedang menyetir. Toh, kau juga satu-satunya wanita yang duduk dimobilku selain keluargaku dan dia.” Kyuhyun mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir. Tapi Hwayeon masih mendengarnya dengan jelas. “Dia siapa?” tanya Hwayeon spontan, jangan lupa… diiringi tatapan super polosnya.

Kyuhyun tersentak “T-tidak, bukan siapa-siapa.” Jawab Kyuhyun canggung. Hwayeon yang emang dasarnya suka kurang peka, malah kembali bertanya. “eyyy, dia siapa maksudmu? Tadi kau bilang… yang duduk dimobilmu ini hanya keluargamu dan dia kan? Dia siapa?” tanya Hwayeon tak tau diri. Kyuhyun menggeram, cengkramannya di roda kemudi semakin mengerat sampai buku-buku jarinya memutih. “Itu bukan urusanmu!” sentak Kyuhyun tajam.

Hwayeon langsung terdiam, gadis itu langsung mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun menjadi kearah luar jendela. Well, sepertinya gadis itu sakit hati, terlihat dari raut wajahnya yang mengeruh. Seakan tersadar, Kyuhyun menoleh singkat pada Hwayeon dan kemudian melenguh frustasi saat melihat wajah cemberut Hwayeon. “Ma-“

“Hentikan mobilnya.” Potong Hwayeon dingin. Kyuhyun melebarkan matanya kaget, tapi dia tetap menghentikan laju mobilnya. Kyuhyun memandang Hwayeon dengan pandangan bertanya “A-“

Cklek!

Sreet!

Cklek

Brakkk!

Kyuhyun melongo ditempatnya, tapi sedetik kemudian ia sadar… Hwayeon sudah berada cukup jauh didepannya. Ia dengan cepat ikut keluar dari mobil dan mengejar yeoja itu. “Yak! Apa yang kau lakukan!” pekik Kyuhyun panic saat melihat Hwayeon menyetop sebuah taxi.

Hwayeon berusaha tak mengindahkan Kyuhyun, dan berusaha masuk ke bangku penumpang. “Yak! Tidak bisa, kau harus pulang bersamaku. Aku tidak mau dicincang oleh oppamu!” Hwayeon terdiam, lalu dengan cepat ia menoleh pada Kyuhyun yang terlihat bingung. “Aku pastikan Yesung oppa tidak akan melakukan apapun padamu.”

Sreeett

Brakk

Kyuhyun terus terpaku ditempatnya saat taxi yang dipakai Hwayeon mulai melaju. Meninggalkannya sendirian ditengah jalan seperti anak hilang. “Maafkan aku…” desah Kyuhyun pelan sambil menatap lagit biru diatas kepalanya. Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba menetralkan dadanya yang entah kenapa berdenyut-denyut menyakitkan. Dan akhirnya, Kyuhyun memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Kyuhyun berjalan pelan kembali kemobilnya, ia kemudian menjalankan mobilnya ke tempat yang selama ini ia hindari, sebuah tempat yang membuat hatinya terkubur dalam-dalam. Sebuah tempat yang sudah menjadi tempat peristirahatan terakhir kekasih hatinya… Kim Min Jung.

.

Kyuhyun memandang kuburan didepannya dengan pandangan sendu. Tangan kanannya terulur untuk sekedar meraba dan mengelus nisan yang bernamakan Kim Min Jung diatasnya. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, menikmati semilir angin yang terus menerus membelai lembut wajah rupawannya.

Tes!

Kyuhyun membuka matanya saat dirasakan sebuah tetesan air jatuh tepat mengenai wajahnya. Kyuhyun menoleh pada kuburan dihadapannya seketika sambil tersenyum kecut. “Hujan emmh? Apa kau tidak merindukanku? Kau mengusirku dari sini dengan menurunkan hujan? Aku bahkan sudah lama tidak berkunjung… harusnya kau merindukan kekasihmu yang tampan ini kan?” Kyuhyun terdiam setelahnya, lalu tersenyum simpul. “Kurasa aku sudah mulai gila, tidak bisakah kau kembali? Tidak tau kah kau kalau sekarang… ada seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dihidupku, dan dia…benar-benar mirip denganmu… hampir terlihat seperti duplikat dirimu…”

Kyuhyun menghela nafasnya. Tubuhnya lunglai, ia jatuh terduduk di saping kuburan tersebut dengan pandangan kosong. Ia kemudian menarik kakinya, menekuknya kemudian memeluknya dengan kedua tangannya kemudian menenggelamkan wajahnya disana. “Dia sama sepertimu kau tau? Datang tiba-tiba, meluluh lantakkan hatiku seenaknya. Membuatku terjerat dalam pesonanya. Tapi aku takut… Aku tidak berani… Tidak bisakah kau membantuku? Aku tidak mau sampai jatuh hati padanya, aku tidak mau ditinggalkan lagi didunia ini sendirian… Aku tidak mau dia meninggalkanku seperti kau meninggalkanku, eotteokhaehajyo?”

Kyuhyun tetap diam di posisi itu sambil terus bermonolog, lalu tak lama Ia kemudian bangkit berdiri. “Aku harus pulang, aku tidak mau eomma dan appa khawatir padaku… Aku pamit ne? Akan kuusahakan untuk berkunjung kesini menemanimu karena aku tau kau kesepian disini, dan aku juga tau kalau kau benci kesepian. Baik-baiklah disana, aku mencintaimu…” dan akhirnya Kyuhyun beranjak pergi.

Tak lama setelah Kyuhyun masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar wilayah pemakaman, seorang yeoja dengan seragam yang sama dengan yang Kyuhyun kenakan berjalan mendekati makam tersebut.

Gadis itu kemudian duduk ditempat yang tadi diduduki oleh Kyuhyun dan air mata otomatis mengalir keluar saat tubuhnya menempel dengan rumput dibawahnya.

Tes

Tes

Tes

Gadis itu menengadahkan wajahnya keatas, mengamati langit mendung diatas kepalanya. “Eonni… bogoshipoyo” ujar gadis itu lirih. Air mata mulai mengaliri pipi gadis itu dengan semakin deras. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh mengenai makam dihadapannya.

Gadis itu terus menangis, terisak dihadapan makam bernamakan Kim Min Jung itu tanpa memperdulikan sekitarnya. Tubuh gadis itu sudah basah total, tapi sepertinya gadis itu bahkan tidak berpikir ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Gadis itu terus terisak, melampiaskan segala kesedihan dan keresahan hatinya. Meluapkan segala emosi yang sudah ia tahan sejak lama. “Eonni, kembalilah… Aku ingin bertemu denganmu eonni, Eomma dan appa juga pasti sangat merindukan eonni… hanya saja ego mereka mungkin terlalu besar. Eomma dan appa tidak tau kalau aku sering datang kesini untuk mengunjungi eonni. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak berani mengatakannya pada eomma ataupun appa, oppa pun tidak tau. Aku takut mereka marah dan melarangku untuk menemui eonni, padahal aku sangat merindukan eonni. Aku tidak tau kenapa mereka begitu murka jika aku ingin menanyakan tentang eonni pada mereka. Padahal eonni, kita tidak pernah bermasalah bukan? Kenapa mereka begitu menyebalkan? Hiks hiks. Apa mereka begitu membenci eonni karena masih belum bisa menerima kenyataan kalau eonni meninggalkan kami semua? Mereka bodoh kalau begitu eonni! Mereka sangat bodoh! Mereka pikir aku berbeda denganmu, tapi mereka tidak tau! Kenyataannya aku akan pergi juga dengan cara yang sama denganmu. Hiks hiks. Mereka menyebalkan hiks hiks. Apa mereka akan membenciku juga saat aku tiada nanti? Eotteokhaehajyo? Aku lelah eonni. Hiks hiks hiks…”

Lagii, gadis itu terisak lagi. Sepertinya gadis itu memiliki banyak cadangan air mata. Lihat saja, matanya sudah memerah dan membengkak besar, tapi masih tetap saja bisa memproduksi air mata sebanyak itu. “Hiks.. eonni hiks.. kembalilah..”

Gadis itu terus terisak disana, tanpa tau kalau hari mulai menjelang malam. “Eonni, aku sudah mengetahui tentang Kyuhyun, tambatan hati eonni… Namja yang sealu eonni ceriatakan padaku lewat surat-surat yang eonni kirimkan padaku.” Tanpa sadar gadis itu tersenyum tulus, lalu memejamkan matanya. “Dia tetap sama seperti apa yang eonni beritahu padaku. Dia menyebalkan, dia pintar, tinggi, dan tampan. Ahirnya aku mengerti maksud eonni tentang wajahnya yang boros umur, hihihi. Walau begitu dia tetap tampan eonni. Dia juga masih belum bisa melupakanmu eonni, apa yang bisa kulakukan eonni? Aku menyukainya, bolehkah?”

Gadis itu menahan nafasnya saat dadanya bergemuruh, berdenyut denyut nyeri mendapatkan kenyataan menyedihkan ini. “Bisakah kau merelakannya eonni…? Untuk…ku?” lirih gadis itu pelan.

Seusai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, langit bergemuruh. Gadis itu kemudian tersenyum sambil memandangi llangit. “Apa itu sebuah ya? Atau tidak?” tanya gadis itu lembut. Lalu tiba-tiba, sebuah daun kering jatuh tepat dihadapan gadis itu. Gadis itu kemudian tersenyum dan kembali memandangi langit diatas kepalanya. “Gomawo eonni…”

.

Hwayeon turun dari taxi yang ditumpanginya setelah membayar sang supir dan mengucapkan terimakasih. Disana, didepan pintu… ia bisa melihat sang oppa menatapnya dengan pandangan sengit.

Hwayeon menghembuskan nafasnya, sepertinya gadis itu haru bersiap-siap dimarahi oleh sang oppa yang saat ini tengah terlihat sangat marah. Terlihat dari tangannya yang terkeal disamping tubuhnya dan rahangnya yang mengatup keras.

Hwayeon berjalan kea rah Yesung sambil meringis, membayangkan ia akan dicincang oleh oppanya setelah ini membuatnya merasa mual. “A-annyeong o-oppa.” Sapa Hwayeon canggung. Hwayeon tersentak kaget dan sontak menunduk kaku saat melihat Yesung mendelik kearahnya.

Yesung yang melihat hwayeon menunduk kaku hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan mengacak – ngacak rambutnya bingung. “Kau! Kemana saja kau! Tidak lihat apa ini sudah hampir tengah malam eoh? Kau mau membunuh ku karena khawatir padamu ya?! Kau juga tidak memikirkan eomma dan appa?! Eomma sampai pingsan saat tidak bisa menghubungi ponselmu dari sore tadi! Aish!”

Hwayeon semakin menunduk dalam saat mendengar bentakan Yesung, gadis itu meremas-remas ujung roknya tak beraturan sambil menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah pada keluarganya. Ia merasa sangat m…

Sreett

“Jangan lakukan itu lagi. Oppa mohon, kami semua mengkhawatirkanmu. Demi Tuhan, kau itu yeoja. Dan tidak bisakah kau mengerti? Eomma sangat takut jika kau nanti akan menghilang meninggalkan kami.” Lirih Yesung sambil terus mengeratkan pelukannya. Tubuh Hwayeon sontak menegang kaku mendengar ucapan Yesung.

Hwayeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu balas memeluk Yesung dengan cepat. “Aku tidak mungkin meninggalkan kalian!” ujar Hwayeon tak kalah lirih. Dan tanpa Hwayeon ketahui, Yesung meneteskan air matanya sedih saat mendengar ucapan Hwayeon tadi.

Tapi pada akhirnya kau akan meninggalkan kami semua jika kau tetap bertahan dalam kekerasan kepalamu itu sayang… batin Yeusng nelangsa.

Tap

Tap

Tap

Brakkk!

“OMO!!! HWAYEON-AH!!!” Hwayeon tersentak kaget saat tiba-tiba tiba tubuhnya seakan terlempar dan terhempas seketika ke dalam pelukan Leeteuk. Leeteuk terus menangis dan terus memeluk Hwayeon, mengabaikan Hwayeon yang terlihat kebingungan. “Eomma mengkhawatirkanmu sayang! Kau tidak bisa dihubungi dari tadi sore, eomma hampir menelpon polisi kalau saja appamu tidak melarang dan mengatakan kalau kau harus hilang 24jam dulu baru eomma bisa menelpon polisi untuk melaporkan kehilanganmu. Hiks hiks. Kau benar-benar membuat eomma cemas!” Hwayeon mendengarkan seluruh perkataan Leeteuk dengan seksama. Dadanya berdenyut denyut sakit saat mengetahui bagaimana cemasnya orangtuanya tentang keadaannya padahal hal seperti ini harusnya tidak akan membuat kehebohan sebesar ini bukan?

Seorang anak SMA tingkat akhir pulang malam bukanlah hal aneh bukan? Yah walaupun dia adalah seorang yeoja. Tapi tetap saja kelakukan eommanya ini memang diluar batas wajar orang tua normal. Orang tuanya terkesan sangat protektif padanya…

Setelah akhirnya bisa menguasai diri, Hwayeon mulai membalas pelukan leeteuk dan mulai menenangkan leeteuk yang terus saja menangis sambil merapalkan kata ‘anakku’ entah untuk apa. “sudahlah eomma, jangan menangis terus. Aku sudah tidak apa-apa bukan? Aku sudah sampai rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Jadi berhentilah cemas sekarang. Arrachi? Aku baik-baik saja eomma.”

Cukup lama Hwayeon membujuk, akhirnya tangisan leeteuk mulai mereda sedikit demi sedikit. Hwayeon melepaskan pelukannya saat merasa tangisan Leeteuk mulai berangsur angsur berhenti.

Leeteuk yang sudah bisa mengendalikan diri dan berhenti menangis mulai menempatkan dirinya kembali ke pelukan Kangin, sang suami yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.

Setelah Leeteuk kembali ke pelukan Kangin, barulah Hwayeon menatap Kangin yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu dengan pandangan menegur. “lain kali hubungi kami sebelum melakukan Sesutu. Kau harus mengerti sayang, kau harus paham tentang hal ini. Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi di masa depan. Kau harus selalu memberitahu kami semuanya. Kau mengerti? Berhentilah membuat kami semua khawatir seperti ini. Kau sudah dewasa, jadi bersikaplah dewasa.” Tegur Kangin. Hwayeon mengangguk kaku kemudian menatap Leeteuk yang tengah menatapnya dengan pandangan sendu dari dalam pelukan Kangin, lalu matanya teralih pada sosok Yesung yang sedari taditerabaikan olehnya.

Yesung berdiri tepat disamping Kangin dan Leeteuk. Yesung juga menatapnya dengan pandangan menegur, tapi selain itu.. Ada kilatan khawatir yang terpancar jelas dari sorot matanya.

Hwayeon paham jelas apa yang membuat Yesung khawatir setengah mati, bahkan mungkin lebih khawatir dari Leeteuk, eommanya sendiri. “Kau.harus.menjelaskannya.padaku.nanti!” Hwayeon mengangguk samar saat ia berhasil membaca ucapan tanpa suara Yesung yang ditujukan untuknya.

“Sudahlah, lebih baik kita masuk, ayo sayang. Seragammu agak basah. Cepatlah mandi air hangat dan bergabunglah dimeja makan. Eomma akan segera menyiapkan makan malam untuk kita. Ayo cepat, eomma tidak mau kau sakit.” Hwayeon langsung masuk kedalam rumah digiring oleh Yesung, dan tanpa banyak kata, Yesung langsung menggiring hwayeon kedalam kamar gadis itu dan menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi.

Hwayeon menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mandi, dan saat gadis itu keluar dari kamar mandi, Yesung masih setia berada didalamm kamarnya. Tiduran dikasur sambil memeluk boneka Hello Kitty raksasa yang menjadi hadial ulang tahun ke-16 Hwayeon dari Yesung.

Hwayeon tersenyum saat melihat Yesung yang sepertiya sangat terfokus dengan aksinya memeluk boneka Hello Kitty raksasa tersebut sampai sampai tidak sadar kalau Hwayeon sudah keluar dari kamar mandi. “Serius sekali.” Gumam hwayeon pelan sambil tersenyum simpul.

Yesung yang mendengar suara Hwayeon menyapu indra pendengarannya sontak terbangun. Namja itu langsung mendudukan dirinya dikasur dengan posisi yang nyaman lalu memeluk boneka Hello kitty lain yang ukurannya lebih kecil, yang bertebaran dikasur Hwayeon. “Kemarilah.” Ujar yesung sambil menepuk nepuk tempat disebelahnya.

Hwayeon tersenyum kecil lalu menyanggupi permintaan Yesung. Ia berjalan mengitari ranjang lalu duduk di sisi yang bersebrangan dengan Yesung. Hwayeon kemudian mengambil boneka raksasanya yang berada disamping Yesung lalu beralih membawa boneka itu kedalam pelukannya.

Hwayeon menenggelamkan wajahnya disana, sama sekali tidak berniat wajah Yesung. “Sekarang katakana. Dari mana saja kau seharian ini eoh? Kukira kau akan kerja kelompok dengan Kyuhyun, tapi saat aku menelpon bocah itu. Dia bilang kalian tidak jadi kerja kelompok karena ada halangan. Kau tau? Saat mendengar kau hilang dia juga ikut panic bersamaku. Hah… Kau benar-benar sudah membuat banyak orang cemas hari ini.” Ujar Yesung panjang lebar.

“Mianhae.” Jawab Hwayeon singkat, padat, dan jelas.

Yesung menghela nafasnya kasar, adiknya itu memang sanat keras kepala. Percuma saja memaksanya, tidak akan berguna jika memang gadis itu tidak menginginkannya. Itu sama saja seperti kita menguras air laut, tidak akan pernah ada hasilnya. Hanya pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga.

Yesung mengusap wajahnya kasar, merasa bingung menghadapi Hwayeon yang sekarang. “Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Kau hanya perlu menceritakannya padaku jika kau memang enggan menceritakannya pada eomma dan appa.” Bujuk Yesung lembut.

Hwayeon diam, memikirkan ucapan Yesung baik baik dalam hati. Haruskah? Batin Hwayeon bingung.

Menyerah, akhirnya Hwayeon memutuskan untuk bercerita pada Yesung. “Oppa, sebenarnya aku…” Hwayeon menghentikan ucapannya, merasa ragu harus mengatakan hal ini pada oppanya atau tidak. Yesung diam, membiarkan Hwayeon bicara tanpa hambatan. “A-aku, aku sering pergi mengunjungi Min eonni akhir-akhir ini.” Cicit Hwayeon pelan. Yesung terdiam, mencoba mencerna maksud kalimat yang baru saja Hwayeon lontarkan.

Hening

Yesung terus terdiam, sedangkan Hwayeon duduk gelisah ditempatnya. Diamnya Yesung malah semakin memperburuk kegugupannya. “Katakan sesuatu oppa, jangan diam saja! Aku jadi bingung kalau kau terus d-“

“APA?!!??!?” pekik Yesung keras. Hwayeon tersentak mundur dengan tubuh menegang kaku saat mendengar pekikan Yesung yang terdengar nyaring ditelinganya. “KAU BILANG APA TADI?!” teriak Yesung geram. Hwayeo mengkeret takut ditempatnya. “t-tidak perlu berteriak sekeras itu kan bisa..” cicit Hwayeon takut.

Yesung mendelik dari tempatnya, sedangkan Hwayeon semakin menunduk. Sudah menebak kalau reaksi Yesung akan sehisteris ini. Dalam hati gadis itu merutuki keputusannya tadi untuk berkata jujur pada Yesung. “Kau bilang kau – aish! Kenapa kau melakukannya?! kalau eomma tau, eomma akan sangat marah padamu kau tau!” bentak Yesung dengan suara rendah

Brakkk

“Melakukan apa? Hwayeon melakukan apa sampai sampai kau bilang kalau eomma akan marah emmh? Kalian membicarakan apa sejak tadi?” Yesung dan Hwayeon langsung membeku saat mendengar suara eommanya dari ambang pintu. Hwayeon melirik gugup kearah Yesung sedangkan Yesung terus terfokus pada eommanya.

Yesung kemudian tertawa canggung saat terus-terusan dipandangi tajam oleh Leeteuk. “A-ah, t-tidak apa-apa eomma. Eomma tenang saja. Bagaimana kalau kita turun saja? Appa pasti sudah menunggu kita dibawah sejak tadi hehehe.” Leeteuk menatap Yesung tajam, tau kalau anak laki-lakinya itu tengah berbohong.

Yesung akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah-baiklah, aku akan jujur pada eomma.” Kali ini Hwayeon yang mendelik kaget. Matanya membulat dengan tangan terkepal merasa marah pada Yesung. “YAK! Oppa sudah berjanji padaku untuk merahasiakannya dari eomma dan appa!!!!” teriak hwayeon tanpa sadar.

Sedetik kemudian gadis itu merutuki kebodohannya yang malah mengungkapkan rahasianya tanpa sadar pada Leeteuk. Leeteuk sendiri mengerutkan kening tak suka saat indra pendengarannya mendengar kalimat yang menyebalkan-menurutnya-

Dalam hati Yesung memaki Hwayeon yang dengan bodohnya mengatakan sesuatu yang jelas-jelas akan membuat orangtua mereka semakin curiga. “Apa yang kalian berdua sembunyikan dari eomma eoh?” tanya Leeteuk penuh selidik.

Hwayeon mengerjap gugup, sedangkan Yesung diam-diam memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan yang cukup untuk membuat Leeteuk percaya pada mereka berdua. “Hwayeon bilang dia…” Yesung sengaja menghentikan kalimatnya, sedikit menikmati perubahan raut wajah Hwayeon yang sedemikian memelas sekarang.

Leeteuk sendiri menunggu dengan cemas, apa yang akan dikatakan Yesung? Leeteuk sama sekali tidak ada clue. “Hwayeon… Hwayeon menghilangkan gelang pemberian eomma dan appa tahun lalu di sekolah.” Ujar Yesung tiba-tiba.

“MWOOO?!!!!???” Suara teriakan itu menggema di seluruh penjuru kamar bernuansa pink tersebut. Bukan hanya Leeteuk yang berteriak, Hwayeonpun berteriak karena kaget dengan alasan menyebalkan yang baru saja Yesung lontarkan.

Gadis itu dengan cepat menyapukan pandangannya ketangannya saat perhatian Leeteuk masih tertuju sepenuhnya pada Yesung, dan bersyukur saat melihat gelang pemberian eomma dan appanya tahun lalu ternyata memang tidak ada pergelangan tangannya.

Hwayeon langsung menyengir kaku saat Leeteuk beralih menatapnya dengan tajam. “Benar itu?” tanya Leeteuk dengan suara lembut, namun bagai lonceng kematian bagi Hwayeon. “N-ne” cicit Hwayeon pelan. Aish, eomma menyeramkan sekali. Padahal aku tidak benar-benar menghilangkan gelang itu, tapi kenapa aku tetap terintimidasi oleh tatapannya? Aish, eomma pasti belajar dari Heechul ahjumma. Ck, Heechul ahjumma itu memang menyebalkan batin Hwayeon nelangsa.

Tak!

“APPO!” teriak Hwayeon kaget saat tiba-tibakepalanya terasa sakit karena dijitak oleh Leeteuk. “Sakit tau! Eomma menyebalkan!” rajuk Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ck, itu gelang mahal bocah! Bisa-bisanya kau menghilangkannya, kau mau eomma cincang ya?!” Hwayeon mengkeret seketika.

“Ish! Aku kan tidak sengaja!” sungut Hwayeon kesal, sesekali ia mendelik pada Yesung yang tengah menahan tawa. ”Tidak sengaja tidak sengaja! Tetap saja! Itu warisan keluarga dasar bodoh!”

Tak!

“Aish! Berhenti menjitakku! Kepalaku pusing!” ujar Hwayeon kesal sambil menghentak hentakkan kakinya. Leeteuk menatap Hwayeon gemas kemudian mencubit pipi gadis itu kencang-kencang sampai gadis itu berteriak. “OMO OMO!!! EOMMA LEPAS!! HIAH SAKIIT! EOMMAA PABBO!!!LEPASSS!!! EOMMA!!!”

Hwayeon memukul mukul pelan tangan Leeteuk yang bertengger manis di pipinya dengan cepat, berharap sang eomma segera melepaskan cubitannya di pipi gembulnya. Leeteuk terkekeh senang saat menatap hasil perbuatannya di pipi anak gadisnya itu.

Hwayeon meringis, mengelus elus pipinya yang terasa panas dan sakit akibat cubitan dahsyat Leeteuk. “Pokoknya eomma mau kau besok pulang dengan membawa gelang itu, awas saja kalau tidak. Rasakan sendiri akibatnya chagiii~” Hwayeon bergidig ngeri saat membayangkan dirinya disiksa oleh Leeteuk dengan cara yang sungguh menyiksa versinya.

Yesung yang sedari tadi menahan tawa, tak sanggup lagi membendung tawanya. Akhirnya ia tertawa lepas bahkan sampai terbatuk-batuk, membuat Hwayeon kesal setengah mati. “Ahahaha, sudahlah eomma. Lebih baik kita kebawah, kasihan appa menunggu sendirian dibawah. Hihihihi.”

Hwayeon pasrah saja saat digandeng Leeteuk keluar kamar dan turun kearah meja makan. Kangin ternyata sudah duduk dimeja makan dengan kening berkerut sambil memandangi Leeteuk yang menggandeng Hwayeon, dan Yesung yang sedari tadi tidak berhenti tertawa.

Leeteuk dan Yesung akhinya duduk disamping Kangin, sedangkan Hwayeon duduk disamping Yesung.

Pak!

“Aww! Sakit bodoh!” umpat Yesung saat merasakan kakinya berdenyut-denyut nyeri. Hwayeon sendiri mengejek Yesung sambil memeletkan lidahnya. “ra~sa~in!” ejek Hwayeon tanpa suara.

Leeeteuk memandang kelakukan kekanakan hwayeon dan yesung sambil tersenyum, sedangkan Kangin malah mengerutkan kenngnya tak mengerti. “Ada apa?” tanya Kangin bingung.

Leeteuk terkekeh sebentar, mencoba mengabaikan perdebatan kedua anaknya yang berisik. “Gelang Hwayeon hilang, ituloh, gelang yang kita berikan tahun lalu.” Kekeh Leeteuk. “APA?!” ujar kanggin kaget tanpa sadar berteriak.

Hwayeon tak menghiraukan tatapan tajam Kangin dan tetap sibuk berdebat dengan Yesung.

“Racoon appa tidak boleh marah, eomma sudah memarahiku, jadi racoon appa tidak boleh ikut-ikutan. Nanti appa cepat tua loh. Kalo appa tua, nanti appa tambah jelek. Kalau appa jelek, nanti eomma pindah hati.” Ucap Hwayeon asal.

Kangin dengan segera mendelik, namun sedetik kemudian mengela nafasnya pasrah. Percuma saja memaksa berdebat dengan anak bungsunya itu, ia akan tetap kalah. “Terserahmu sajalah~” jawab Kangin malas.

Hwayeon sendiri hanya terkekeh dan mulai makan. Makan malam dikeluarga itu cukup ramai, oh tentu saja. Ada biang keributan didalamnya, jadi tidak heran kalau kelurga itu selalu ramai setiap saat.

“Ah yaaa, aku lupa memberitahumu. Kau harus datang ke Mom House café besok ne.” ujar Leeteuk tiba-tiba, memotong perdebatan Hwayeon dan Yesung tentang siapa yang lebih selesai makan *abaikan*.

Hwayeon seketika teralih pada Leeteuk, mengabaikan Yesung yang cemberut karena aktivitasnya berantemnya diganggu oleh sang eomma. “Untuk apa kesana?” tanya Hwayeon bingung. “Ah, eomma hanya baru saja mencoba mengikutkanmu kencan buta. Ehehe.” Jawab Leeteuk tanpa dosa disertai cengengesan khasnya. “Mwo? Untuk apa?”

“Ya tidak apa-apa sih. Eomma hanya ingin.” Jawab Leeteuk sekenanya. Hwayeon sweatdrop seketika.

Kenapa eommaku seperti ini sih ? ._. batin Hwayeon bingung.

“Dengan siapa?” tanya Hwayeon spontan. “Inikan kencan buta, masa eomma beritahu sih? Nanti tidak asik jadinya. Tapi dia anak Heechul dan Hangeng kok, jadi kau tenang saja.” Yesung dan Kangin yang menyimak percakapan ibu dan anak itu mengernyitkan dahinya bingung. Yang bodoh disini siapa sebenarnya?

Hwayeon memiringkan kepalanya, memasang pose berfikir. “Siapa namanya?” tanya Hwayeon lagi. “Ah eomma lupa namanya, tapi dia tampan kok.” Jawab Leeteuk sambil tersenyum sumringah. “Ah jinjja? Apa dia tinggi?” Hwayeon akhirnya ikut-ikutan semangat. “Ya tentu saja! Kau pendek jika dibandingkan dengan dirinya, kalau tidak salah tingginya… eum.. 184”

“Huuuuaaaa, tinggi sekali dia itu? Apa dia mengkonsumsi tiang listrik eomma?” tanya Hwayeon bodoh. “Mungkin saja.” Jawab Leeteuk menanggapi tingkah bodoh anaknya. Keduanya mengangguk-ngangguk bersama seakan puas dengan pikirin mereka. Mengabaikan Yesung dan Kangin yang enatap mereka berdua datar.

“Apa dia pintar?”

“Ya, setau eomma dia pintar. Dia bisa dibilang jenius.”

“Wah benarkah? Dia umur berapa?”

“Tak tau, 18 / 19 mungkin. Mungkin sepantaran oppamu.”

“Apa kepalanya besar seperti Yesung oppa?” tanyanya tak tau diri, membuat Yesung geram.

“YAK!!!! / tidak, hanya saja dia pintar, mungkin dahinya lebar.”

“Ahh, apa dia bisa olahraga?”

“Eomma tak tau, tapi setau eomma dia masuk klub basket di sekolah.”

“Dimana sekolahnya?”

“Eomma tak tau, eomma lupa.”

“Apa dia tau kalau pasangan kencannya itu aku?”

“Tidak, kau tau sendiri bagaimana Heechul. Yeoja itu pasti hanya menyuruh anaknya itu untuk datang ke café untuk kencan dengan seseorang yang sudah ia pilihkan, tanpa memberitahu keterangan lebih. Yaah, you know lah”

“benar juga.” Jawab Hwayeon sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Baiklah, aku akan tidur. Ah, jam berapa aku harus kesana?”

“10 kalau tidak salah. Ah jangan lupa, cari gelangmu!”

“Ck arraseo, aku tidur. Pay pay.” Hwayeon langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi ke kamar tidurnya, meninggalkan Leeteuk, Kangin, dan Yesung di meja makan. “Apa perjodohan ini akan berhasil?” tanya Leeteuk tiba-tiba memecah keheningan. “Pasti berhasil.” jawab Yesung tanpa ragu.

-o0o-

Pagi menjelang, seberkas sinar matahari mulai memaksa menorobos masuk gorden pink yang masuk menutupi jendela. Hwayeon masih tertidur pulas di kasurnya dikelilingi koleksi boneka boneka hello kittynya.

Mata yang awalnya terpejam itu mulai bergetar perlahan, membuka sedikit demi sedikit.. Sampai akhirnya mata itu terbuka dengan sempurna. Hwayeon mengerjapkan matanya, mencoba memfokuskan pandangannya.

Kemudian gadis itu menoleh kearah jam kecil berbentuk hello kitty yang terletak tepat diatas nakas yang berada di samping ranjangnya.

09:17

“OMO!!! AKU TERLAMBAT!!!” pekik Hwayeon tiba-tiba. Gadis itu dengan cepat bangun dari ranjangnya dan berlari tak tentu arah. “Kamar mandi mana sih?!” gadis itu mengedarkan pandangannya.

Pak!

“Dasar bodoh!” umpat gadis itu pada dirinya sendiri kemudian masuk ke kamar mandi yang ternyata tepat berada di belakangnya.

Gadis itu melakukan ritual mandinya dalam waktu kurang lebih setengah jam. Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi berbalut bathrobe yang lagi-lagi berwarna pink. Secepat kilat gadis itu berlari kearah lemari, dan langsung membuka lemarinya.

Gadis itu mengambil baju secara acak dan langsung mengenakannya. Kemudian gadis itu beralih ke meja rias, dan memoleskan sedikit make up diwajahnya.

Perfect.

Gadis itu mematut dirinya sekali lagi di kaca, memastikan jika penampilannya sudah sempurna. Gadis itu hanya mengenakan gaun berwarna kuning lembut selutut dengan model tali spaghetti. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi punggungnya.

Gadis itu menarik nafasnya sejenak lalu tersenyum sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Setela yakin, ia menyambar tas dan sepatunya yang berwarna senada dengan bajunya, dan tak lama kemudian-

Tada!

Semuanya selesai.

Hwayeon langsung berlari keturun kelantai bawah, dan manyamperi meja makan. Disana, sudah ada Leeteuk, Kangin, dan Yesung. “Aku pergi dulu ne~” pamit Hwayeon cepat. Hwayeon mengecup masing-masing pipi kiri dan kanan mereka lalu dengan cepat beralih dari sana.

“Annyeong!!!” pamitnya sambil lalu.

Hwayeon berjalan tergesa-gesa ke café yang dimaksud Leeteuk. Jarak rumah mereka dengan café yang eeteuk maksud tidaklah jauh, maka dari itu Hwayeon lebih memilih untuk berjalan kaki, lagi pula… Jika sekarag ia ingin kencan, untuk apa membawa mobil? Ia yakin pihak namja itu pasti akan membawa mobil. Kalau tidak yaaaaa, yasudahlah.

Kriiing

Hwayeon melangkah masuk ke dalam café itu dan memilih tempat yang berada di ujung, disebelah kaca. Hwayeon kemudian mendudukkan dirinya disana. Seorang pelan datang menghampirinya. “Mau pesan apa agasshi?” tanya pelayan itu sopan.

Hwayeon menatapnya lalu tersenyum sopan pula. “Vanila lattenya 1. Gomawo.” Ujar Hwayeon ramah. Pelayan itu tersenyum sejenak lalu membalikkan dirinya.

Kriiing

Perhatian Hwayeon teralih saat mendengr suara bel yang menandakan ada orang lain yang masuk ke dalam café. Hwayeon menunggu dengan tegang ditempatnya. Kira-kira seperti apa teman kencannya sekarang? Baikkah? Tampankah? Seperti yang eommanya bilang semalam?

Kebetulan Hwayeon memilih kursi yang membelakangi pintu masuk, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang datang. Sampai tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.

Hwayeon menoleh dengan gugup, dan apa yang kini tengah ia hadapi sungguh membuatnya bingung dan merasa sedikit mengganjal.

“Oppa?” sapa Hwayeon bingung. Orang yang tadi menyentuh pundak Hwayeon sepertinya juga terkejut.

“Omo! Bukankah kau Kim Hwayeon? Adik dari Yesung hyung?” ujar pria itu dengan nada ramah. Seulas senyum juga mulai tampak menghiasi bibir pria itu.

“Ne, benar.” Jawab Hwayeon sambil tersenyum tak kalah ramah.

“Ah aku yang akan menjadi teman kencanmu hari ini jika kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Kibum oppa…”

-TBC-

Arrogant?~Prolog~

Tittle :  Arrogant?

Cast  :

Cho Hyo Jin- Kim Hyo Jin

Kim Jinhwan (Jinhwan IKON)

Kim Jiwon ( Bobby IKON)

Kim Hanbin ( B.I IKON)

Genre: romance, drama, school life

Ratt   : NC

Author: Cho Hyo Jin a.k.a Auhtor 2~

Anyeong!!!

Author 2 balik lagi!!!

Kali ini Author bikin FF NC lagi~

Dan ini Chapter NC!!! Yeay!!

Walaupun gak diprolog ini belum ada NC-nya tapi untuk chapter kedepan akan banyak sekali adegan nya*smirk*

Gomawo yang udah sempet baca-baca FF Auhtor 2 tapi jangan lupa comment yh^^

Entah kenapa Author kepikiran FF NC *reader: Author yadong!!* *Author: Gomawo~*

Kali ini FF IKON nih~

Kebetulan Author tertarik banget sama Trio Kim ini..

Sejak pertama liat IKON di ‘Who is next?’ Author udah jatuh cinta sama mereka bertiga..

Cerita ini terinspirasi dari sebuah comic yang entah judulnya apa itu(hhe)tapi Author ubah jadi FF NC~~

Semoga kalian suka, kali ini Author mau buat yang rada gak mainstream..

Semoga ini gak gagal seperti yang sebelum-sebelumnya ^^

Happy Reading

———————————————————————————-

Chapter 1 : Prolog~

YG High School.

Siapa yang tidak kenal nama sekolah itu? Jelas semuanya  tau karna di sekolah itu terdapat tiga namja yang sangat terkenal dan mereka adalah saudara! Kita sebut saja Trio Kim.

Ayo kita kenalan dengan mereka..

Yang pertama, Kim Jinhwan itu…

“Omo! Lihat itu Jihwan oppa!!!!” teriak seorang yeoja yang berakibat seluruh yeoja berlari menuju yeoja tersebut.

Ya, mereka sedang menikmati pemandangan indah. Kim Jihwan.

“And  i officially ~”  Jihwan mengakhiri nyayian dan melambai pada seluruh yeoja yang melihat kearahnya.  Dan itu membuat seluruh yeoja pingsan.

“Oppa!! Ajari aku bernyanyi!!”

“Oppa, jadikan aku pacarmu!!”

“Oppa, Tinggalah bersamaku!! Kita habiskan  sisa hidup kita berdua!!”

“Kyaaa~~~ Jihwan Oppa!!!”

Teriakan- teriakan yang memekakan telinga itu berasal dari yeoja-yeoja yang sudah sadar dari pingsannya tadi. Jihwan tersenyum ramah lalu berkata,

“ Aigo~ Kalian pingsan lagi? Lebih baik kalian perhatikan kesehatan kalian. Sekarang sudah musim penyakit. Jaga diri baik-baik ne? Oppa pergi dulu yah? Oppa ada urusan. Anyeong~” Jihwan mengedipkan sebelah matanya yang membuat seluruh yeoja kembali pingsan.

Ah,biar kujelaskan. Jihwan atau Kim Jihwan adalah jagoan dalam bidang tarik suara. Tidak pernah ia tidak memenangkan kompetisi yang ia ikuti. Selain itu dia terkenal sebagai hyung yang baik dan perhatian. Ia selalu memperhatikan dongsaeng-dongsaengnya.  Hanya itu informasi yang meluas tentang Jihwan.  Sekarang ia kelas XII.

Kita sebut saja Jihwan si Flower boy.

Oke, lanjut. Kedua yaitu si kembar  Kim Jiwon dan Kim Hanbin.

Kim Jiwon itu…

“Bobby- ah~~ Saranghaeyo!!!!”

“Bobby Oppa!! Omona!!”

“Tunjukan absmu!!!”

“Kyaaa~”

“Oppa, bisa kau ajari aku bermain basket?” tanya yeoja genit yang  diketahui bernama Jang Sa Ha.  Sebenarnya Sa Ha itu sepantara dengan Jihwan namun ia selalu ingin semua orang menganggapnya masih kecil. Dan itu menjijikan.

“Noona sudah kubilang kau itu lebih tua dariku. Tapi bagaimana yah? Aku tidak bia mengajarimu. Mungkin Junhoe bisa. Coba tanyakan saja pada dia. Aku ada urusan. Bye~”

“Kya~~” semua yeoja menjerit mendengar Bobby a.k.a Jiwon berkata seperti itu sambil melambaikan tangannya.

Tak berbeda jauh dengan hyungnya ia pun terkenal. Ia sosok yang menyenangkan dan supel. Selain itu ia jagoan tim basket dan rapper handal. Wajar saja dia terkenal. Nama tenarnya sih Bobby si Funny boy.

Oke, sekarang yang terakhir.

Kim Hanbin itu..

“Hanbin-ah~”

“Hanbin-ah, jadilah namjachinguku~”

“Hanbin-ah, mau makan denganku di kan-“

“Bisakah kalian diam? Ini sedang di perpustakaan. Disini dilarang ribut. Kalau ingin ribut, sana pergi ke pasar!” Hanbin menggertak mereka pelan. Ia sedang ingin fokus membaca bukunya.

“Kya~ Hanbin sangat keren saat membaca buku~~”

“Ia semakin tampan jika sedang kesal~”

Hanbin hanya memukul dahinya. Ia sangat bosan dengan keadaan seperti ini.
“Terserah kalian saja. Aku mau pergi. Aku ada urusan.”

“Bye, Hanbin-ah~~”

“Ew.. dasar noona girang.”

Dia sedikit berbeda dengan kedua hyungnya. Ia sangat dingin. Namun, kecerdasannya melebihi  orang-orang. (Kecuali hyung-hyungnya karna mereka semua memiliki IQ yang mengagumkan) Hanbin juga terkenal sebagai namja yang penuh charisma dan rapper handal seperti Bobby. Kadang mereka bertiga tampil bersama.

Hanbin dan Jiwon berada di kelas XI.

Yeah, intinya mereka semua orang tenar. Cool Kids. Tapi ternyata mereka punya suatu rahasia yang semua orang tidak tau…

*skip time*

Kantin kali ini sedang penuh. Bukan karna adanya Trio Kim! Tapi karana ada seorang yeoja yang jatuh dengan keadaan yang err.. mengenaskan?

“Eh? Hyo Jin? Kenapa kau seperti itu?” terdengan suara lembut yang berasal dari seorang namja.

*Hyo Jin POV*

BRUK

“Aw.. Appoyo~” aku memegang kepalaku yang terantuk sebuah batu. Yah, kenalkan aku Kim Hyo Jin. Aku adalah orang yang sangat ceroboh. Aku selalu bergantung pada Oppaku.

Sebentar, kenapa bajuku terasa dingin yah? Minumanku juga dimana yah?

Jangan-jangan..

“Aish, kenapa tumpah sih?”

Aku membenarkan bajuku yang sudah basah kuyup. Dan yang membuatku semakin geram adalah tidak ada seorangpun yang menolongku!!!

Aish, jinjja.

“Eh? Hyo Jin? Kenapa kau seperti itu?”. sepertinya aku mengenal suara ini.

“Jinhwan Oppa!” aku tersenyum saat melihat Jinhwan oppa berlari menujuku.

HUP

“ Hyo Jin, jangan duduk di tanah. Ini kotor.” Seorang namja mengendong ku. Dan aku tau pasti ia siapa.

“Jiwon Oppa!” aku semakin tersenyum melihatnya.

PLUK

“Apa yang terjadi?” tiba- tiba sebuah jas sudah berada di pundakku. Yah, siapa lagi yang berbicara dengan nada dingin kalau bukan..

“Hanbin Oppa! Jiwon Oppa, turunkan aku.” Aku menyuruh Jiwon Oppa untuk menurunkanku.

“ Jawab aku Kim Hyo Jin. Kenapa bisa seperti itu?” Hanbin Oppa bertanya lagi padaku.

“Eum.. tadi aku tersandung dan minumanku tumpah. Yah, seperti itu.” aku menundukan kepalaku . Jinhwan menegelus kepalaku pelan.

“Gwaenchana. Kau harus berhati-hati.” Katanya sambil tersenyum

“Kau harus lebih menjaga diri jika tidak berdekatan dengan kami, Jinie~”  Kali ini Jiwon oppa membelai  kepalaku .

“Ne, oppadeul.”

“Chakaman, kau itu siapa?” tanya seorang yeoja yang kurasa namanya Jang Sa Ha. Yah, aku membaca name tagnya.

“Dia dongsaeng kami.” Jawab Oppaku bersamaan.

“MWO?!?!!”

Hah, mulai lagi…

Selalu saja seperti ini. Aku tau oppa ku itu sangat terkenal dan tampan luar biasa. tapi kenapa banyak orang yang tidak percaya kalau kami itu saudara?

Aku tidak seburuk yang kalian liat.Aku hanya sedikit berbeda dari oppaku.  Aku tau aku ini termasuk orang yang kurang menarik,  Aku ceroboh,  tidak mencolok, kepintaranku juga standar. Tak memiliki bakat yang hebat. Aku terbilang pendek untuk ukuran anak SHS. Aku juga pemalu. Aku juga-

Baiklah, aku akui aku sangat bertolak belakang dengan oppa ku.

“Kau tidak percaya? Bukankah kau sudah kuberi tahu kemarin?” Jiwon oppa bertanya. Jadi, dia sudah tau kalau aku akan masuk sekolah ini? Aish, padahal aku tidak ingin ada yang tau kalau aku adik dari Trio Kim yang sangat terkenal ini.

“Jadi kau Kim Hyo Jin?” Sa Ha eonni. Aku mengangguk. Hah, masa JHS ku akan terulang lagi.

“Lebih baik kalian bubar saja. Hyo Jin sangat tidak suka di kelilingi banyak orang.” Hanbin Oppa mengatakannya dengan aksen dinginnya. Tipe Hanbin sekali.

Dan dalam sekejap kumpulan orang itu lenyap. Hanbin oppa jjang!!

“Kenapa tidak bilang kalau kau sudah pulang?” tanya Jihwan Oppa sambil membenarkan rambutku.

“Oppa, apa itu penting? Kan kelas X pulang lebih awal dari kelas XII dan XI. “ aku menjawabnya sambil membenarkan baju Jihwan oppa. Bajunya sedikit berantakan akibat berlari kencang tadi.

“Sangat penting! Kami tidak ingin kau terluka akibat jatuh seperti tadi. Kau tau kan kau ini sangat ceroboh. “ Jiwon oppa semangat.

“Mianhae sudah membuat oppa khawatir.” Aku menundukan kepalaku lagi.

“Sudahlah, apa sekarang kau mau pulang?” tanya Hanbin oppa.

“Ne. Aku pulang yah. Oppa masih ada ekskul kan? Aku pulang duluan saja. Sampai bertemu di rumah.” Saat akan melangkahkan kaki, tanganku di pegang oleh tiga tangan.

“Wae?” tanya ku heran.

“Poppo.” Jawab mereka kompak. Aigo~ apa aku belum cerita kalau mereka akan manja jika hanya ada aku? Sepertinya belum. Nah, itu sudah kuceritakan. *apasih?*

“Aigoo~ Ne” aku kembali mendekati mereka.

Chu~ kucium pipi Jihwan oppa.

Chu~ kucium pipi Jiwon oppa.

Chu~ kucium pipi Hanbin oppa.

“Sudahkan? Aku pulang duluan yah. “

“Chakaman.” Teriak mereka bertiga. Apalagi kali ini?

“Sebenarnya kami juga sudah pulang jadi kita pulang bersama, ne?”  Jihwan oppa mengatakan itu dengan wajah tanpa dosa.

-_______________-

Hanya itu ekspresi yang tergambar diwajahku. Kenapa tidak bilang dari tadi?!

“Ne. Kalau begitu ayo. Aku sudah lapar!!! Hyo Jin-ah, buatkan nasi goreng kimchi buat oppa ter-handsome ini yah?” kata Jiwon oppa sambil menaik turunkan alisnya.

“Ne, akan kubuatkan untuk WonWon oppaku yang ter-handsome ini~” Aku membelai pipi Jiwon oppa. Jiwon oppa sangat suka jika aku mengelus pipinya.

“Lalu untuk oppa?” Hanbin oppa mendorong Jiwon oppa dan menaruh tanganku ke pipinya juga. Cemburuan.  Tipe Hanbin oppa banget.

“Oppa mau aku masak apa?” tanyaku sambil tersenyum.

“Eum.. aku ingin kimbab!” satu sifat Hanbin oppa yang tidak pernah diketahui oleh orang banyak adalah kekanak-kanakan. Ia hanya memperlihatkan sifat itu di depanku dan juga Jihwan dan Jiwon oppa.

“Oke, sir. Aku akan membuatkanya khusus untuk HanHan oppa~” Aku mengusap pipinya pelan. Hanbin oppa pun tersenyum.

“Ehem, jadi HyoHyo  tidak mau menanyakan pada HwanHwan oppa?” kata Jihwan oppa.

“Mianhae, HwanHwa oppa~ HyoHyo lupa. Jadi HwanHwan oppa mau apa?” tanyaku. Omo~ mereka semakin imut jika memanggil namaku seperti itu.

“HwanHwan oppa mau bibimbap! HwanHwan oppa sangat lapar.” Kata Jihwan oppa sambil menggunakan puppy eyesnya.

“Ne ne, HyoHyo akan memasak nasi goreng kimchi untuk WonWon oppa, kimbab untuk HanHan oppa, dan bibimbap untuk HwanHwan oppa. “  kataku.

“ Gomawo HyoHyo~” kata mereka kompak. Aigo~ lucu sekali mereka.

*Hyo Jin POV end*

*next day*

“Oppadeul~ aku pergi belanja dulu ne~”

“Ne!”

Hyo Jin pun pergi berbelanja meninggalkan ketiga kakaknya yang saling menatap tajam.

“Baiklah, akan kubuka pertemuan kita ini. Seperti yang kita tau, kita mempunyai sebuah rahasia tentang Hyo Jin dan jangan sampai Hyo Jin tau.” Jinhwan memulai percakapan.

“Tentu saja. Aku tidak pernah membocorkannya. Kupikir kita harus hati-hati dengan Hanbin. Ia paling dekat dengan Hyo Jin.” Jiwon memandang Hanbin.

“Ya! Apa maksudmu,hyung?! Aku tidak pernah memberitahu Hyo jin! Jangan menuduhku begitu.” Hanbin berteriak dan memukul lengan Jiwon.

“Ne.. ne.. Mianhae..  aku hanya bercanda tadi.” Jiwon meninta maaf.

“Dan kurasa kita bertiga memiliki perasaan yang sama pada Hyo Jin. Jadi sebenarnya aku ingin membahas ini dari tadi. Sebagai yang paling tua, aku yang akan menjaga HyoJin.” Kata Jihwan.

“Tidak bisa! Hyo Jin butuh orang yang kuat. Dan itu adalah aku! Kim Jiwon!”

“Tidak! Dia butuh orang yang tenang! Bukan berisik seperti kau!” sudah pasti itu Hanbin.

“Baiklah. Bagaimana kalau mulai sekarang kita bersaing untuk mendapatkan Hyo Jin? Otte?” Jihwan menyarankan.

“Baik! Setuju!” Jiwon dan Hanbin menjawab dengan tegas.

“Baiklah! Kita mulai dari hari ini!”

“Oppa?”

“Hyo Jin?!”

-TBC-

Bagaimana?

Tunggu chapter selanjutnya ya~

Gomawo yang udah mau baca!!

 

~Cho Hyo Jin

I’m in Love – Part 1

“oppa! Kumohon, belum saatnya mereka tau. Aku akan memberitau mereka sendiri, tapi tidak sekarang. Kumohon oppa, untuk sekarang jagalah rahasia ini untukku.” Hwa Yeon menggigit bibirnya kuat, mencoba menahan isak tangis yang hendak keluar dari bibirnya. Yesung memandang Hwa Yeon sendu, kemudia dengan cepat menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Arraseo, tenanglah. Bernafaslah dengan benar. Oppa tidak mau kau harus masuk UKS atau lebih parah, RS karena asmamu kambuh. Oppa yakin kau tidak membawa Inchalermu sekarang. Betul kan?” Hwa Yeon yang tadinya siap menangis, langsung terkekeh.

“Bagaimana oppa tau kalau aku tidak membawa Inchalerku?” tanya Hwa Yeon manja.

“Cih, oppa mengenal dirimu luar dalam chagiya.” Hwa Yeon mengerucutkan bibirnya sebal, tapi kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh oppanya itu.

“Oppa memang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangimu oppa. Gomawo ne, buat semuanya.” Yesung terkekeh kemudian mengangguk pelan. Dikecupnya lembut puncak kepala Hwa Yeon kemudian menumpukan dagunya dipuncak kepala gadis itu.

“Jangan pernah tinggalkan oppa. Oppa tidak siap kehilangan adik oppa yang paling manis.” Ujar Yesung lirih. Hwa Yeon terenyah, ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak akan meninggalkan oppa, aku berjanji.”

Aku tidak akan meninggalkanmu oppa. Setidaknya, tidak sekarang.

.

.

.

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)

I'm in Love

Warning:

typo bertebaran, cerita tidak menarik

Disclaimer:

Kyuhyun punya Sparkyu, SME, Super Junior, orangtuanya, ELF, dan Tuhan YME. Saya cuma pinjem nama. Hihihi

Note:

Oke… akhirnya author publish juga part 1 nya. Chapter ini sedikit pendek karena bikinnya ngebut. Gapapaya? Maaf lama ngepostnya… Oke, jadi sekarang..Silahkan baca kalau anda ingin baca. Saya ga masalah dengan silent readers. Saya lebih menghargai orang yang menjadi silent reader dari pada ngebash disini.

Disini juga ada Gender Switch untuk leeteuk dan heechul, jadi yang tidak suka lebih baik tekan tombol back yang berada di pojok kiri atas. Hehehe.

Terimakasih ^^

 NB: Bold untuk flashback

***

I’m in Love chapter 1

Started

 .

.

.

Hwa Yeon mematut dirinya sekali lagi di kaca kamarnya, lalu kembali mengulas senyum di bibirnya saat tau kalau dirinya sudah terlihat sempurna.

Apa aku bisa? Aku tidak yakin akan bisa melakukannya, tapi… aah, sudahlah. Kau harus semangat Hwayeon-ah. Fighting!!!!

“Pagi eomma, appa, oppa.” Hwayeon mengecup pipi ketiga orang paling berharga miliknya kemudian mendaratkan bokongnya di kursi yang kosong yang terletak tepat disebelah oppanya.

“Eoh, pagi chagiya.” Gumam Yesung acuh. Yesung, namja itu menatap makanan yang terjadi didepannya dengan mata berbinar-binar. Tanpa aba-aba, tangan kanannya terjulur hendak mengambil sepotong paha ayam goreng tapi belum sempat ia menyentuhnya…

Plak!

“Aaaaah, kenapa eomma memukulku?! Aku ingin makan! Lapar lapar lapar.” Rajuk Yesung sambil kembali mencoba meraih ayam goreng yang berada di hadapannya.

Sreeeeet

“Aaah EOMMA!!!! KEMBALIKAN! AKU MAU AYAM GORENGKU! AISH! KEMARIKAN!!!!!!” Hwayoen mengernyitkan dahinya tak suka saat Yesung terus saja berteriak dan merengek agar eommanya mengembalikan ayam gorengnya. Gadis itu kemudian memejamkan matanya, kepalanya terasa berdenyut-denyut, dadanya terasa sesak, dan pandangannya sedikit mengabur.

Kangin, sang appa ternyata meyadari keanehan buah hatinya. Ia memperhatikan anaf perempuannya itu dengan lekat, sedikit khawatir saat menapati wajah pucat anak gadis satu-satunya itu. “Kau tidak enak badan Hwayeon-ah? Wajahmu pucat sekali. Kalau sakit, jangan memaksakan masuk sekolah. Minta izin saja, biar oppamu yang meminta izin pada wali kelasmu.” Ujar Kangin perhatian.

Sejenak ruang makan tersebut hening, Yesung suda mengalihkan pandangannya dari pujaan hatinya –baca: ayam goreng- dan beralih memandang sang adik yang tak dipungkiri, wajahnya sangat pucat. Yesung mndesah dalam hati, dadanya sesak, ingin sekali ia berteriak kepada adik keras kepalanya itu untuk tidak bersikap sok kuat lagi.

Baru saja Yesung ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tiba-tiba tangannya digenggam diam-diam oleh Hwayeon dibalik meja. Yesung menggeram samar saat menyadari apa maksud adiknya itu.

Hwayeon akhirnya membuka matanya dan memaksakan sebuah senyum lemah. “Aniya appa, aku hanya kelelahan saja. Aku tiak mungkin ijin hari ini, banyak sekali ulangan. Aku juga tidak ingin tertinggal pelajaran. Aku akan tetap sekolah. Lagian, aku kan sekelas dengan Yesung oppa, kalau aku tidak kuat, aku akan meminta oppa membawaku ke UKS atau pulang. Jangan khawatir arra?” Kangin memandang anak gadis satu-satunya itu dengan ragu. Tapi pada akhirnya, ia hanya menghela nafas dan mengangguk.

Suasana kembali hening, Yesung akhirnya merebut ayam goreng dari tangan Leeteuk dan memakannya dengan cepat memmbuat suasana yang tadinya hening jadi ricuh akibat gelak tawa dan perdebatan Leeteuk dengan Yesung. “Dasar anak nakal, bahkan eomma dan appa belum makan. Setidaknya biarkan yang tua dulu, sopanlah sedikit bocah.”

Yesung melanjutkan makannya dengan tenang, sama sekali tidak mengindahkan teguran Kangin dan tatapan membunuh yang Leeteuk berikan untuknya. Hwayeon tersenyum simpul melihatnya. Diam-diam ia berdoa dalam hati. Berharap agar Tuhan berkenan memperpanjang umurnya, memperbolehkannya merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi, bersama orang-orang yang ia cintai.

Dan di sisi lain, Yesung pun berdoa dalam diam tanpa menghentikan kegiatan makannya. Berilah adikku kekuatan. Aku tau dia lelah, aku tau dia sakit, tapi dia tidak mungkin bertahan selamanya…Karena itu bantu adikku, aku tidak bisa membantunya…hanya kau yang bisa, bantu kami. Aku belum ingin kehilangan adikku satu-satunya, salah satu penyemangat hidupku.

 .

 .

-o0o-

 .

 .

Hwayeon berjalan pelan di lorong sekolah dengan tatapan kosong, sama sekali tidak menyadari kehadiran namja-namja dan yeoja yang tengah menatapnya dengan pandangan kagum dan mata berbinar.

Yesung yang sedari tadi merangkul Hwayeon sendiri hanya bisa diam, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari kedua belah bibir mereka. Seakan ada sesuatu yang mengunci mulut mereka. Yesung mengeratkan rangkulannya pada Hwayeon, dan menuntun adiknya itu ke taman belakang sekolah.

Yesung mengajak Hwayeon duduk di hamparan rumput tepat di depan danau buatan yang berada di taman itu dan kembali merangkul pundak sang adik. Hwayeon diam, menikmati segala perlakuan manis oppanya tanpa protes sedikitpun.

Gadis itu merebahkan kepalanya dipundak Yesung kemudian menghembuskan nafas berat. Tadi sebelum masuk sekolah, mereka pergi ke rumah sakit karena obat yang biasanya dikonsumsi Hwayeon sudah habis.

Tapi apa yang mereka dapatkan? Mereka hanya membawa kabar buruk.

Tok Tok Tok!

“Masuk” sahut seseorang dari dalam ruangan. Hwayeon dan Yesung saling berpandangan lalu tersenyum menguatkan satu sama lain. Mereka akhirnya masuk kedalam ruangan dengan canggung.

Bau bahan kimia dan obat-obat langsung memenuhi indra penciuman mereka. Hwayeon tersenyum canggung, begitu juga dengan Yesung. Mereka saat ini sedang berada di dalam ruangan dokter pribadi Hwayeon, baru saja Hwayeon melakukan cek rutin untuk meminta obat baru, karena obat lamanya sudah habis.

“Duduklah Hwayeon-ah, Yesung-ah.” Ujar seorang pria yang sudah tidak bisa dibilang muda dengan seragam dokter. Yesung dan Hwayeon akhirnya duduk tepat dihadapan dokter itu.

Dokter itu memandang wajah pucat Hwayeon dan Yesung secara bergantian. Raut bimbang terlihat kontras di wajahnya, namun yang paling jelas adalah raut kasihan. Hwayeon benci melihatnya, karena ia benci merasa di kasihani. “Aku sudah memiliki hasil tes mu tadi Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu memecah keheningan.

Tubuh Hwayeon menegang seketika. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Ia merasakan firasat tidak enak. Yesung di samping Hwayeon mulai menggenggam tangan Hwayeon dan meremasnya lembut, mencoba menyalurkan kekuatannya untuk sang adik ya ia tau sedang sangat ketahutan saat ini.

“Kau…Kau harus segala melakukan operasi pencangkokkan jantung Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu pelan.

Deg!

Tubuh Hwayeon membeku seketika dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak. Keadaan Yesung tidak berbeda jauh dengan Hwayeon, namja itu membelalak lebar dengan mulut menganga seakan tidak percaya denga apa yang baru saja ia dengar. “A-apa?” tanya Yesung tak percaya.

Dokter itu memandang dua anak remaja di hadapannya dengan sedih. “Jantung adikmu sudah tidak bisa berjalan seperti seharusnya lagi Yesung-ah. Kita harus bertindak cepat, Jantungnya sudah tidak bisa lagi memompa darah dengan benar. Kita harus melakukan pencangkokkan jantung secepatnya atau…… adikmu tidak akan selamat Yesung-ah.” Ujar dokter itu lirih.

Yesung terdiam, otaknya bekerja dengan keras, mencoba meresapi seluruh ucapan dokter yang bagai bom tadi. Ia menoleh dan hatinya seakan teriris. Adiknya hanya diam dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Tangan yang tadi ia genggam terasa licin karena keringat. “T-tapi mencari jantung yang cocok itu sangat sulit.” Lirih Yesung lagi. Hwayeon merasakan tubuhnya melemas, seakan seluruh persendian ditubuuhnya telah lepas. Air mata menetes dari pelupuk mata yeoja itu dengan cepat.

“Ya, memang sangat sulit, perbandingannya hanya 1:1.000.000”

Duar!

Yesung dan Hwayeon kembali merasakan bagai mendapata serangan bom. Keduanya terdiam, membiarkan pikiran mereka berkelana ke suatu tempat yang jauh. Entah kemana, tanpa tujuan.

“T-tapi, B-bagaimana bisa? Hwayeon selalu meminum obatnya dengan teratur sesuau anjuran paman, tapi kenapa tidak ada perubahan? Bukannya semakin membaik malah semakin memburuk seperti ini?” ujar Yesung frustasi. Hwayeon mendengus kemudian tersenyum kecut. “Oppa, obat yang aku minum tidak akan membuat penyakitku sembuh.” Ujar Hwayeon pelan dan terang saja membuat Yesung terkejut setengah mati.

“Apa maksudmu?” tanya Yesung geram. “Obat itu hanya membuat jantungku bekerja normal oppa, obat itu hanya membantu jantungku agar bisa memompa darah dengan benar, jadi intinya. Obat itu tidak menyembuhkan penyakitku. Obat itu seperti penyambung nyawaku oppa, obat itu hanya memperlambat penyakitku supaya tidak bertambah parah.” Yesung diam, tangannya terkepal dan wajahnya memerah menahan emosi. “Maka dari itu, jika aku tidak meminum obat itu, aku bisa saja langsung terkapar tidak sadarkan diri karena jantungku sudah sangat rusak.” Ujar Hwayeon dengan lidah kelu. Yesung sendiri memilih diam, membiarkan adik tersayangnya melanjutkan perkataannya. “Dan juga, tidak jarang setelah transplantasi jantung ada komplikasi… Bagaimana kalau aku……” Hwayeon tidak sanggup mengakhiri kalimatnya dan akhirnya, air matanya kembali mengalir dari pelupuk mata gadis itu.

Yesung terenyuh, dadanya terasa sakit, dan kepalanya pening karena memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa adik kecilnya itu. Yesung menelan salivanya dengan susah payah, “Lalu, menurut dokter, sampai kapan dia bisa bertahan?” tanya Yesung takut tanpa memandang sang dokter. Yesung hanya memandang Hwayeon yang terus menyucurkan air mata dengan dada sesak.

Dokter itu kembali menghela nafas, “itu…itu tergantung keputusan Hwayeon.” Ujar dokter itu pelan. “Keputusan yang mana?” tanya Yesung bingung. “Kalau dia ingin sembuh, dia harus mau menjalankan perawatan intensif di rumah sakit atau……kalian harus siap dengan kemungkinan terburuk.” Ucapan dokter itu terhenti. “Hwayeon bisa saja kehilangan hidupnya, dengan kata lain….meninggal.” ujar dokter itu sedih.

Hwayeon menggeleng sedih, sudah ia duga akan seperti ini jadinya. “Tidak, aku tiak akan menjalankan perawatan apapun, dok.” Yesung yang terkejut langsung saja memandang Hwayeon marah. “Apa maksudmu?! Kau harus mengikuti perawatan itu! Aku ingin kau sembuh!” marah Yesung. Hwayeon memandang oppanya lembut. “kalau aku menjalankan perawatan itu, maka sebagian besar waktuku akan kuhabiskan di rumah sakit oppa, dan itu tidaklah mungkin karena aku harus sekolah dan orang tua kita akan curiga jika aku tidak berada di rumah.” Yesung terperangah dibuatnya. Matanya memerah, air mata sudah berada di ujung pelupuk matanya, siap keluar dan mengalir. “Lalu kau mau menyerah begitu?! Kita beritahu saja eomma dan appa kalau begitu!”

Hwayeon terbelalak dan dengan cepat merebut ponsel Yesung yang baru saja Yesung keluarkan dan hendak menelepon kedua orangtuanya. “Kau gila?!” bentak Hwayeon marah. “Kau yang gila bodoh! KAU YANG GILA!” teriak Yesung frustasi. Namja itu terisak kencang kemudian meraih Hwayeon kedalam dekapannya. “K-kumo-hon hiks…. Jalankan hiks perawatan hiks ini… hiks hiks… oppa ingin kau selamat sayang, oppa mohon hiks hiks… oppa mohon.” Hwayeon menggeleng sedih kemudian tangisnya pun ikut pecah. Hatinya sudah lelah membawa beban seberat ini sendirian. Ia sudah mencoba bertahan sejak 1 tahun terakhir semenjak ia di vonis mengalami penyakit jantung stadium empat. Tapi mengetahui hidupnya sudah diujung tanduk, ia seakan ingin menyerah. Tapi bagaimana bisa? Ia tidak mau meninggalkan orang-orang yang ia sayang, tapi ia juga tidak mau membuat orangtuanya sedih jika mereka mengetahui tentang hal ini. “Mianhae oppa.” Ujar Hwayeon tempat ditelinga Yesung. Tangis Yesung terdengar semakin keras saat mendengar ucapan adiknya yang seakan menjadi vonis mati untuknya.

Hwayeon beralih menatap dokter yang sedari tadi memperhatikan mereka dan memberikan dokter itu sebuah senyum kecut. “Tolong berikan aku obat yang pas dok, aku mohon, karena aku tidak bisa menjalankan perawatan intensif itu.” Ujar Hwayeon tanpa melepaskan rengkuhan Yesung. Yesung sendiri saat ini tengah memeluk Hwayeon dengan posesif dan masih sesenggukan tentu saja. “tentu saja.” Jawab dokter itu lembut.

Yesung memandang danau didepannya dengan tidak berminat. Kepalanya terasa sangat pusing.”Apa kau tidak menyayangi oppa?” tanya Yesung tiba-tiba, sukses membuat Hwayeon terperangah. “Apa maksudmu oppa?!” tanya Hwayeon kaget.

Yesung tersenyum kecut. “Kau tidak mau menjalani perawatan itu, tidakkah kau mengerti perasaan oppa? Dan lagi, apa kau bisa membayangkan bagaimana sedihnya eomma dan appa nanti saat mengetahui semuanya? Kau tau, kita tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya dari mereka”

Hwayeon tau, Hwayeon tau ia sudah menyakiti oppanya dengan keputusannya tadi, tapi ia harus bagaimana lagi? Ia belum siap kalau harus membiarkan kedua orangtuanya tau tentang hal ini.

Tidak sekarang…

Ia tidak siap….

Tidak siap dikasihani dan diperlakukan seperti orang sakit, walaupun dia memang sakit.

Hwayeon membawa tangannya melingkari pinggang Yesung dan menelusupkan kepelanya ke dada bidang oppanya itu. “Kumohon, mengertilah oppa. Aku belum ingin eomma dan appa tahu tentang hal ini. Karena itu, aku tidak mau menjalankan perawatan itu. Tapi…aku berjanji akan menjalankannya nanti, saat waktunya tepat.” Ujar Hwayeon lembut, mencoba menenangkan oppanya yang sedang gusar. Walaupun kenyataannya, ucapannya tadi semakin membuat Yesung sedih setengah mati.

Cup!

Yesung mengecup puncak kepala Hwayeon dengan lembut, lalu menumpukkan dagunya diatas puncak kepala Hwayeon. “Berjanjilah kau akan bertahan sampai donor itu ada. Kumohon…… Oppa tidak ingin kehilanganmu sayang.” Hwayeon mengangguk kecil sebagai jawaban.

Mereka berdua terus terdiam dalam posisi itu sapai akhirnya suara bell menginterupsi mereka. Yesung membawa Hwayeon bangkit berdiri, hendak menuntun Hwayeon kembali kedalam kelas mereka karena mereka sudah melewatkan 4 jam pelajaran karena pergi ke rumah sakit tadi.”Tunggu.” ujar Hwayeon cepat.

Yesung memandang Hwayeon bingung. “Kenapa? Kau sakit? Apa kita perlu ke rumah saki lagi?” cerca Yesung panic seketika. Hwayeon mendengus kemudian menggeleng. “Aniya, bukan itu. Oppa, kenalkan aku pada temanmu.” Yesung memandang Hwayeon aneh, lalu tiba-tiba tangannya terjulur memegang dahi adiknya.

“tidak panas.” Gumam Yesung bingung.

Hwayeon menggeram. “Aaku serius, oppa. Kumohon, kenalkan aku padanya.”

“Siapa sih yang kau maksud?”

“siapa lagi?” jawab Hwayeon malas.

“Eh? Siapa memangnya?” Yesung mengernyit bingung dengan tampang polos, membuat emosi Hwayeon langsung melayang ke ubun-ubun.

“Yah! Oppa benar-benar bodoh!” umpat Hwayeon kesal.

“Yak!! Sopanlah sedikit!!! Memangnya siapa sih?!”

“CHO KYUHYUN!” ujar Hwayeon tanpa sadar berteriak. Yesung tersentak kemudian menatap Hwayeon sambil melongo. “Mwoya?!CHO KYUHYUN?!” teriak Yesung juga. Tidak jauh dari tempat mereka, Cho Kyuhyun, namja yang dari tadi namanya diteriaki oleh sepasang kakakberadik itu mengernyit bingung. “Mereka bertengkar? Lalu kenapa membawa-bawa namaku segala? Kepala besar sialan.” Umpat namja itu sambil lalu.

Hwayeon menatap Yesung yang masih melongo sambil memandangisnya dengan malas. Masa seterkejut itu sih? Bukannya oppanya sudah tau yah? Hiih! “Kau kan sudah kenal dengannya.” Ujar Yesung setelah bisa mengontrol diri. “Aku ingin dekat dengannya, lalu berteman, allu bersahabat, lalu berpacaran, lalu bertunangan, lalu menikah, lalu…”

“Stop!” potong Yesung. “Kau gila…” ujar Yesung tiba-tiba. Hwayeon hanya tersenyum lembut kemudian memandang Yesung sambil tersenyum cerah. “Oppa, aku mencintai Kyuhyun. Aku menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya walaupun aku tau dia itu titisan iblis dan sangat menyebalkan. Bantu aku ne? Setidaknya aku ingin mati sebagai miliknya….” Ucap Hwayeon tanpa sadar.

Yesung terdiam, dan akhirnya ia mengangguk. “Arraseo, oppa akan membantumu. Jja, ayo kita kembali ke kelas. Kajja.” Yesung kali ini berjalan lebih dulu di depan Hwayeon, dan saat itulah air matanya kembali mengalir. Kau pasti selamat Hwayeon-ah, oppa percaya itu. Kita akan berbahagia bersama. Kau akan menikah bersama dengan Kyuhyun seperti impianmu. Dan kau juga akan mati sebagai milik Kyuhyun, saat sudah tua nanti….

Yesung dan Hwayeon masuk ke kelas dengan cuek tanpa sedikitpun mengindahkah guru yang sedang mengajar didepan kelas, toh…guru itu juga sepertinya tidak peduli. Buktinya Yesung dan Hwayeon hanya dilirik sekilas lalu semuanya berjalan seperti biasa lagi seakan tidak ada yang terjadi.

Hwayeon berjalan kearah tempat duduknya sambil diam-diam melirik Kyuhyun yang tempat duduknya tepat berada di samping kanannya. Kyuhyun menggeliat risih di duduknya saat merasakan gadis di samping kirinya terus menatapnya intens dengan mata berbinar-binar yang tidak Kyuhyun ketahui maksudnya.

Kyuhyun menggerak-gerakkan bolpoin di tangannya dengan gusar. Ia melirik Hwayeon dari ekor matanya, dan ia harus menyesai keputusannya itu karena ia malah mendapati gadis itu menatapnya sambil tersenyum, errrr….mesum?

Kyuhyun akhirnya menggeram, “berhenti memandangiku dengan pandangan tak senonoh seperti itu!” bentak Kyuhyun pelan. Hwayeon tersentak kaget, gadis itu melirik Kyuhyun gugup lalu dengan cepat memperbaiki posisi duduknya yang entah sejak kapan berubah kearah kanan, dan mencoba memfokuskan pikirannya kearah papan tulis.

Hentikan seluruh pemikiran anehmu itu Kim Hwayeon, Kyuhyun bahkan tidak sudi menatapmu… bagaimana mungkin kalian bisa menikah, cih! Mimpimu terlalu tinggi. Berada di dekatnya saja kau harus bersyukur. Jangan mengharapkan sesuatu yang kau tau tidak akan mungkin bisa kau dapatkan.

Hwayeon tersenyum kecut, hilang sudah binar-binar kebahagiaan yang tadi sempat hinggap diwajahnya saat menatap sang pujaan hati. Gadis itu kemudian memusatkan seluruh perhatiannya kearah papan tulis dan mulai mencatat pelajaran tersebut.

Lain dengan Hwayeon, lain lagi dengan Kyuhyun. Namja itu mengernyit bingung saat ia melihat dengan jelas perubahan raut wajah Hwayeon yang awalnya cerah menjadi sangat mendung dan kelabu. Dalam hati ia berfikir, Ada apa dengan yeoja itu?

Well, jadi pada akhirnya Kyuhyun hanya memperhatikan wajah Hwayeon dari tempatnya duduk dalam diam melalui ekor matanya. Namja itu sepertinya sama sekali tidak sadar kalau ia sudah menjadi pusat perhatian satu kelas.

“Kyu…”

“Kyuhyun…”

“Cho Kyuhyun…”

“Yah bocah setan!”

Plak!

Kyuhyun tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah penghapus melayang tepat dihadapannya, hampir saja mengenai wajah tampannya, kalau saja ia tidak menghindar dengan cepat.”Yak! kenapa kau melempariku penghapus Changmin-ah?!” bentak Kyuhyun tak terima.

Namja yang tadi melemparkan penghapusnya kearah Kyuhyun hanya menyengir polos, menampilkan deretan giginya yang rapih. “Habisnya kau diam saja, kau dipanggil seonsaengnim dari tadi. Makanya, kau harus memperhatikan seonsaengnim dikelas, perhatikan papan tulis, pelajarannya ada disana, bukan di paha adiknya hyung kepala besar itu.” Celetuk Changmin tak tau diri.

Kyuhyun merasakan wajahnya memanas, emosinya sudah naik ke ubun-ubun.Rasanya sudah mulai ada asap yang keluar dari kepalanya. “Diamlah kau bodoh.”gumam Kyuhyun geram. Hwayeon yang sedari tadi diam mulai menampilkan sebuah senyum kecil. Sedikit merona saat tau Kyuhyun sedari tadi menatapi pahanya yang terpampang jelas mengingat seragam yeoja sangatlah minim.

“Ada apa memanggilku tadi seonsaengnim?” Hwayeon seakan tertarik kedalam dunia nyata lagi saat mendengar suara merdu Kyuhyun memenuhi gendang telinganya. “Hah… Aku bilang, kau akan satu kelompok dengan Kim Hwayeon. Kau harus membimbingnya, nilainya di pelajaran ipa sungguh kacau. Aish, aku sampai pusing melihatnya.” Hwayeon mengernyit tak terima, kenapa gurunya itu malah membuatnya terlihat seperti seorang yeoja bego?

Akhirnya Hwayeon buka suara, “Apa maksud seonsaengnim? Nilaiku tidak separah itu.” Gerutu Hwayeon sebal. “Apanya yang tidak separah itu eoh? Nilaimu bahkan diambang kematian Hwayeon-ah! Aku heran bagaimana mungkin kau bisa masuk jurusan ipa dengan nilai sekacau itu! Aigooo!” pekik seonsaengnim itu pusing.

Hwayeon mencebik bibirnya kesal, kemudian mengerucutkan bibirnya sebal. “Karena nilai pelajaran ipsku bahkan lebih parah dari itu.” Gumam Hwayeon kesal. “Hah…pantas saja.” Hwayeon mendelik sangar saat mendengar gumaman gurunya itu. Kyuhyun sendiri malah mengulas senyum kecil, bahkan namja itu tidak terlihat tersenyum sama sekali karena ia hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Benar-benar sedikit sampaisampai tak terlihat. Tapi sungguh, namja itu tengah tersenyum.

Melihat kelakuan Hwayeon tanpa sadar sudah membuat namja itu kembali mengingat masa lalunya… masa lalunya dengan seseorang yang sangat dia sayangi…

Kyuhyun tersentak kembali saat mendengar suara gurunya itu LAGI. “Kau sanggup kan Cho Kyuhyun?” tanya guru itu harap-harap cemas. “Ne, aku sanggup. Aku akan mengajarkannya.” Jawab Kyuhyun tegas. “Aaah, baguslah. Kau memang murid baik. Ah yasudah, sekarang coba buka buku paket kalian halaman……. Bla bla la.

Tanpa ada satu orangpun sadari, Yesung tersenyum girang. Rencananya berhasil, ialah dalang dibalik semuanya, dia yang meminta guru mereka untuk meminta Kyuhyun menjadi guru pribadi Hwayeon. Ia bahkan sampai mengancam guru mereka dengan iming-iming dipecat kalau sampai Kyuhyun menolak suruhannya untuk mengajari Hwayeon secara pribadi.

Sebenarnya Yesung sudah berniat membantu Hwayeon dari awal, karena dari awal… Ia langsung tau kalau adiknya itu jatuh hati pada Pangeran Iblis kita, Cho Kyuhyun. Dan setelah mendapat berbagai sepak terjang sejak tadi pagi, ia semakin measa keputusannya itu tepat. Ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakan adiknya itu. Adik yang sangat disayanginya. Bagian dari hati dan jiwanya.

Kuharap kau bisa segera menemukan kebagaiaanmu adikku sayang…

Waktu terasa berjalan sangat cepat. Suasana kelas sudah menjadi sangat sepi. Sesekali terdengar suara petir menyambar. Hwayeon masih terus bergulat dengan buku matematika dihadapannya. Sesekali bibirnya mencebik kesal lalu merpalkan bebagai sumpah serapah yang tidak cocok ia katakan, dan sukses membuat Kyuhyun yang juga masih setia duduk ditempatnya meringis ngeri.

Hwayeon dan Kyuhyun terus berdiam diri, tidak ada satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan. “Kau tidak pulang?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Hwayeon mendongakkan kepalanya lalu mengalihkan tatapan yang tadi terarah pada buku, menjadi terarah pada Kyuhyun. “Eum… nanti, aku harus menyelesaikan mencatat ini. Besok kan ulangan, aku tidak mau nilaiku jelek lagi.” Gerutu Hwayeon sambil tanpa sadar mengeluarkan aegyonya.

“Aaah, bagaimana kalau kita mulai belajar hari ini saja?” tanya Kyuhyun bersemangat. Entah setan apa yang merasuki dirinya saat ini. Eh tunggu, tapi Kyuhyun kan setan? Aah, berarti malaikat. Entah malaikat apa yang merasuki Kyuhyun saat ini, karena namja itu saat ini sedang tersenyum lembut dengan mata berbinar-binar sambil memandang Hwayeon lekat. “Ah, boleh juga. Lalu kita belajar dimana? Tidak mungkin kita terus disekolah kan? Ini sudah sore lagipula.” Ujar Hwayeon sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi melakukan aegyo tanpa sadar.

Kyuhyun memandang Hwayeon lembut, “Dirumahku saja. Ayo. Cepat bereskan buku-bukumu itu.” Kyuhyun kemudian membereskan buku-bukunya sendiri lalu dengan cepat beranjak dari duduknya. “Aku tunggu di parkiran, jangan lama-lama.” Ujar Kyuhyun sambil lalu.

Tak selang berapa lama, Hwayeonpun bergegas menyusul Kyuhyun ke parkiran. Hwayeon berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong. Matanya terus menatap pada satu object yang berada di parkiran, menunggu dirinya.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Tbc/END?

PS: Ayoooo, part depan mau dibikin NC ga nih? Hehehehehe*ketawa setan*