Archives

Find My Love // Part 8 [Come Back to Me]

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”
“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

“Kau kekanakan!”
“Kau juga!”

“Aku mempercayaimu.”
“Kau memang harus mempercayaiku.”


“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

“Kau keterlaluan.”

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

“Kau pantas mati!”

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

Title: Find my love part 8 ( 100th project’s )
Author: Kim Hwa Yeon

Cast:
Kim Hwa Yeon | Cho Kyuhyun

Other:
find by yourself

Genre: Action, Romance, Family
Rating: G
Length: chaptered

Note:
Ciiiia, ketemu lagi nih sama author. Berhubung author lagi baik, jadi author lanjutkan ff ini, yang udah agak lama terbengkalai. Maaf kalau kurang memuaskan, author juga jarang update. soalnya bnyak tugas sama ulangan nih. Bentar lagi juga mau UAS. setresssss. Oke deh, kalian baca aja ini. Lanjutannya . jangan protes ya kalau kurang memuaskan atau kurang panjang dll.
Nah yauda, Happy reading okeh? Jangan lupa comment. Author tunggu loh. Trims~

-o0o-

Chapter 8
Come Back to Me

Byuuurrrr!!!!!!

Aku kembali membuka mataku dengan sisa sisa kekuatanku. Dan aku melihat seseorang tengah berenang kearahku dengan raut cemas. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena darah dari perutku menutupi pandanganku. Air laut menjadi berwarna merah akibat darahku yang terus bercucuran.

Apa itu Kyuhyun oppa? Atau Ravi oppa? Atau malah appa? Hikss… sakit sekali.
Uuuuugh, sakit sekali… Eomma appa… Tolong aku…

Aku berusaha mempertahankan kesadaranku, tapi tetap saja. Luka tusuk yang dibuat oleh yeoja gila di perutku terasa sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan kalau kesadaran direnggut paksa dariku setiap detiknya.
Mataku mengabur, dan aku membiarkan kesadaranku hilang saat tanganku ditarik oleh orang lain. Ah… ternyata begini rasanya mati…

Author POV

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” Hwayeon terlihat membungkukkan tubuhnya. Haneul melemparkan seringaian puasnya pada Hwayeon tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pisau yang saat ini menancap di perut Hwayeon.
Disaat bersamaan, Kyuhyun dan yang lainnya yang baru saja tiba melihat Hwayeon dengan wajah ngeri dan pucat pasi.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” teriak Ravi ngeri. Wajahnya yang sudah pucat dari awal menjadi semakin pucat. Setelah teriakan Ravi berteriak, para tamu berdatangan sambil berlari dan kemudian llangkah kaki mereka terhenti saat melihat Hwayeon dan Haneul yang ada di ujung geladak kapal.

Kyuhyun sendiri hanya berdiri kaku ditempatnya dengan mata tertuju pada luka tusuk di perut Hwayeon. Mulutnya menganga dengan mata membulat lebar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Kangin dan Leeteuk sendiri seakan tidak mampu bersuara. Leeteuk bersandar pada Kangin seakan ia mau pingsan.

“Aaaaarghh!!!!!!” Hwayeon berteriak saat tiba-tiba Haneul itu menarik pisau itu dari perutnya sambil berbisik lirih tepat di telinga Hwayeon. “Kau pantas mati.” Gumam Haneul pelan, jadi hanya mampu di dengar oleh mereka berdua.
Tubuh Hwayeon linglung akibat rasa sakit dan kaget, Haneul memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan mendorong Hwayeon ke laut.

“ANDWAEEEE!!!!”

Brukkk!!!

Haneul jatuh ke lantai akibat dorongan Kyuhyun, karena saat namja itu melihat kekasihnya didorong, ia dengan sigap berlari menghampiri Hwayeon. Yang lain akhirnya mengikuti Kyuhyun berlari untuk melihat keadaan Hwayeon tanpa memperdulikan Haneul yang masih tersungkur di lantai.

Hwayeon masih bertahan, menggantung di ujung kapal karena Kyuhyun berhasil menangkap pergelangan tangannya, atau lebih tepat… gelangnya. Kyuhyun terus berusaha menahan Hwayeon sambil tersenyum menguatkan padahal air mata sudah menggenang di pipinya.
Kyuhyun terus mempertahankan pegangannya sambil memanjatkan doanya supaya kekasihnya itu bisa selamat. Awalnya Hwayeon hanya memandang Kyuhyun dengan ekspresi kesakitan yang kentara di wajahnya. Tapi kemudian, gadis itu melirik kebawah dan tubuhnya kontan bergetar, membuat pegangan Kyuhyun di gelangnya hampir saja terlepas. Kyuhyun menggeleng panic dan air mata semakin deras mengaliri pipi namja itu.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” Hwayeon kembali menatap Kyuhyun, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatap Hwayeon dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” Hwayeon mencoba mengulurkan tangannya yang terbebas, namun tidak sampai. Berkali kali gadis itu mencoba meraih tangan Kyuhyun, tapi tetap saja tidak bisa. Perutnya sangat sakit, membuat gerakannya jadi sangat terbatas. Hwayeon kemudian mengenakan upaya terakhirnya, dan menyembabkan dia hampir saja terjatuh.

“Aku tidak bisa!” isak Hwayeon lemah, terlihat jelas kalau gadis itu tengah putus asa saat ini.
“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!” teriak Kyuhyun berusaha memberi kekasihnya itu semangat.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” kali ini Hwayeon yang berteriak putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahanya untuk menggenggam tangan Kyuhyun tidak kunjung berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Hwayeon memandang Ravi yang juga mengulurkan tangannya kebawah. Hwayeon berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi ia gagal. “Aku tidak bisa oppa.” Hwayeon memandang semua orang yang berusaha membantunya dengan air mata bercucuran. Leeteuk dan Heechul sama sama menangis histeris di pelukan suami mereka masing masing.

Kangin sendiri menangis dalam diam sambil menenangkan Leeteuk, begitupula dengan Hangeng. Ravi masih berusaha meraih tangan Hwayeon. Yoon Hee, Eun Hye dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. “Mianhae.” gumam Hwayeon lirih saat gelang ditangan gadis itu akhirnya putus.

“TIDAK!!! TIDAK TIDAK TIDAK!!! HWAYEON TIDAK!!” Kyuhyun berteriak histeris dan bersiap untuk melompat, menjemput Hwayeon. Ravi dengan sigap menahan Kyuhyun yang terus meneruss berusaha melompat dengan susah payah.

“LEPASKAN!!! AKU HARUS MENCARINYA!!! HYUNG!!! AKU HARUS MENCARI HWAYEON, DIA PASTI KETAKUTAN!! JEBAL! BIARKAN AKU MENCARINYA!!” teriak Kyuhyun dengan suara pilu. Semua tamu yang melihat kejadian itu bungkam, mengerti betul kalau kejadian seperti ini sangatlah berat.

Suasana kapal berubah semakin panas. Leeteuk dan Heechul sama sama pingsan saat Hwayeon jatuh. Kangin dan Hangeng sibuk menenangkan istri mereka masing masing. Sambil mengamati Kyuhyun yang terus menerus berusaha untuk melompat.
“Kyu! Pergilah, cari Hwayeon. Appa sudah menyuruh orang untuk menurunkan sekoci penyelamat. Turunlah bersama mereka. Cari Hwayeon sampai ketemu. Appa juga sudah menyuruh kapal ini dihentikan. Sana! Selamatkan menantu appa.” Seru Hangeng tiba-tiba sambil tetap mendekap Heechul yang masih pingsan.

Kyuhyun menatap Hangeng penuh terima kasih. “Tolong, temukan putriku.” Tambah Kangin dengan suara parau. Kyuhyun mengangguk patuh dan dengan cepat melesat pergi diikuti oleh Ravi. Keheningan langsung menyerbu mereka begitu Kyuhyun dan Ravi menghilang dalam jarak pandang mereka.
Kini semua mata tertuju pada Haneul yang masih terduduk di lantai dengan senyum pongahnya. Kangin menghampiri Haneul dengan wajah merah padam setelah ia menititipkan sang istri yang sejak tadi pingsan ke Yoonhee dan Eunhye.

Haneul kembali tersungkur dengan keras saat Kangin menggamparnya. Beberapa tamu terkesiap kaget dan mulai berbisik bisik sembari melirik Haneul dengan raut jijik. “Pergi dari tempat ini sebelum aku membunuhmu!” teriak Kangin berang. Haneul bangkit berdiri sembari berdecih. Ia kemudian menatap Kangin penuh kebencian dan mulai melangkah. Baru beberapa langkah maju, ia kemudian terhenti saat Hangeng berhenti tepat dihadapannya dengan raut marah dan kecewa.

Plak!!!

Hangeng menggampar Haneul, kemudian menyuruh gadis itu pergi dari sana. “Jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di sekeliling kami! Atau aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan! Camkan itu!” desis Hangeng dingin dengan suara rendah. Haneul dengan cepat melangkah pergi dari sana, melupakan pisaunya yang ia gunakan untuk menusuk Hwayeon di lantai. Hangeng menatap pisau yang tergeletak itu dengan nanar. “Amankan pisau itu, lapor pada polisi sekarang.” Ujar Hangeng dingin. Beberapa orang langsung mengamankan situasi, menyuruh para tamu untuk kembali ke kabinnya masing masing dan membersihkan noda darah yang ada di sana.

Di sisi lain, Kyuhyun dan Ravi saat ini berada di sekoci penyelamat bersama dengan 2 orang pengawal Hangeng. Kyuhyun memerintahkan mereka untuk menyusuri tempat dimana Hwayeon tercebur tadi.
Tidak butuh waktu yang lama, Kyuhyun menangkap bayangan Hwayeon yang mulai tenggelam ke kedalaman. Tanpa banyak pikir, Kyuhyun langsung menceburkan dirinya… mengabaikan teriakan Ravi.

Byuuurr!!!

Kyuhyun menajamkan indra penglihatannya seketika berada di laut. Mengabaikan tubuhnya yang mulai menggigil karena dinginnya air laut. Kyuhyun berenang dengan cepat kearah Hwayeon yang sudah tidak sadarkan diri, dan menarik gadis itu dengan cepat ke permukaan dengan panic.

Bertahanlah sayang, jebal. Jangan tinggalkan aku

“Cepat!! Bantu aku!!!” Kyuhyun segera berteriak saat ia sudah sampai kepermukaan, lalu dengan bantuan Ravi dan para pengawal itu mereka berhasil menaikkan tubuh tak sadarkan diri Hwayeon keatas perahu.

“Sayang… bangunlah kumohon!!” gumam Kyuhyun putus asa, kemudian namja itu mulai menekan nekan dada Hwayeon.

1 kali

2 kali

3 kali

“Sialan!” geram Kyuhyun sengit saat tak ada reaksi dari Hwayeon. Kyuhyun kemudian mengambil nafas dalam dalam, menutup lubang hidung Hwayeon, dan mulai memberikan nafas buatan lewat mulut. Ravi memandang Hwayeon dengan cemas, Kyuhyun terus memberikan nafas buatan untuk Hwayeon sambil sesekali beralih untuk melakukan CPR lagi. “Bangunlah sayang, ayolah.. kumohon..” Kyuhyun kembali menekan dada Hwayeon, berusaha membuat jantung gadis yang dicintainya itu kembali berdetak. “Kumohon…kumohon..” Kyuhyun terus menerus merapalkan kalimat itu, sampai tanpa disadari namja itu, air mata sudah menggenang di pipinya.

“Uhukk Uhukk” Kyuhyun dan Ravi sama sama menghembuskan nafas lega saat Hwayeon mulai terbangun. Memuntahkan cairan yang sudah ia telan saat tenggelam tadi. Kyuhyun segera membawa tubuh menggigil Hwayeon ke dalam dekapannya. “Terimakasih Tuhan, kau selamat.” Lirih Kyuhyun pelan.

“Oppa appo… hikss…” Kyuhyun tersentak kaget saat Hwayeon kembali menangis dalam dekapannya. Kyuhyun kembali menatap Hwayeon, dan beralih pada perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
“Stttt… kau akan baik-baik saja. Yoon Hee pasti bisa menangani ini arra? Bertahanlah, kita sudah sampai. Bertahanlah.” Kyuhyun terus merapalkan kalimat itu di telinga Hwayeon sampai akhirnya mereka berdua naik kembali ke kapal.

Kyuhyun membawa tubuh Hwayeon yang kembali tak sadarkan diri di gendongannya. Namja itu berlari sepanjang jalan menuju ke kabin Yoon Hee sambil berteriak, menyuruh orang yang menghalangi jalannya untuk minggir.

Tok Tok Tok Tok Tok!!!!!

YoonHee dengan cepat membuka pintu kamarnya. Kyuhyun yang sedang menggendong Hwayeon dengan cepat menyelonong masuk dan membaringkan Hwayeon di kasur. Kemejanya sudah bersimbah darah Hwayeon.
“Tolong, selamatkan Hwayeon, kumohon.” Suara Kyuhyun pecah, mencerminkan betapa takutnya namja itu. “Selamatkan adikku Yoon Hee-ya, jebal.” Lirih Ravi dari sebelah Kyuhyun.

Yoon Hee menatap dua laki-laki yang ada di kamarnya itu dengan prihatin. “Arra, sekarang kalian minggir lah, jangan ada di dekat kasur.” Perintah Yoon Hee tegas.
Kyuhyun dan Ravi dengan tau diri beringsut menjauh dari kasur. Yoon Hee dengan cekatan mengambil kotak hitam berukuran lumayan besar, dan meletakkannya di samping tubuh Hwayeon. Yoon Hee membuka kotak itu, dan ternyata isinya adalah alat-alat kedokteran.
Yoon Hee dengan cepat memakai sarung tangan putih dan mulai bekerja. Merobek baju Hwayeon, menyuntikkan obat bius, menyayat, dan kemudian menjahit. Ravi menyaksikan dengan mual, dia sudah pernah menyaksikan secara langsung operasi kecil seperti itu. Oh tentu saja, dia pernah di operasi tanpa obat bius oleh Yoon Hee. Kejam memang.
Tapi melihat adik satu-satunya, kesayangannya, dioperasi seperti itu membuat Ravi sedih. Perasaan bersalah benar-benar menghantuinya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan benar, bahkan mereka bertengkar tadi. Hwayeon pergi dengan perasaan kecewa dengannya karena ia tidak mempercayai adiknya itu.. ia malah mengatakan kalau adiknya itu berlebihan dan sangat kekanakan, dan adiknya itu malah berakhir disini… dengan luka menganga di perutnya.

Terkutuklah aku, kakak macam apa aku ini? Harusnya tadi aku mempercayai Hwayeon, harusnya tadi aku menghibur hwayeon. Jadi semua ini tidak akan terjadi. Ravi terus bergelut dengan pikirannya, tanpa menyadari kalau pekerjaan Yoon Hee sudah hampir selesai.

“Nah, sudah. Kau bisa memindahkannya ke kamar kalian sekitar 3 jam lagi, karena kita harus menunggu darah yang kuberikan tadi habis. Beruntunglah aku membawa cadangan kantong darah, untuk berjaga-jaga jika ada kejadian seperti ini. Saat memindahkannya nanti, kalian harus berhati-hati supaya jahitannya tidak terbuka ne? Lukanya cukup dalam, tapi tenang saja… dia tidak akan kenapa kenapa. Dia akan tertidur sampai kurang lebih 5 jam. Selebihnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jelas Yoon Hee panjang lebar.

“Ne, gomawo.” Ujar Kyuhyun pelan. “Cheonma”

Kyuhyun mendekat kearah Hwayeon dan mendudukan dirinya di samping Hwayeon. Mengelus rambut Hwayeon dengan sayang. “Mianhae chagi, cepatlah bangun. Aku merindukanmu.” Ucap Kyuhyun lirih, tapi masih terdengar jelas di telinga Ravi dan Yoon Hee.
Ravi dan Yoon Hee dengan cepat keluar dari kamar itu diam diam, memberikan Kyuhyun ruang untuk meluapkan perasaannya pada Hwayeon. Waktu Yoonhee dan ravi keluar kamar, mereka langsung dihadapkan dengan EunHye, Hyo Jin, Heechul, Leeteuk, Kangin, Hangeng, dan yang lainnya.

“Bagaimana keadaan anakku?”

“Apa anakku baik baik saja?”

“Menantuku baik baik saja bukan?”

“Uri magnae baik baik saja kan?”

“Bagaimana keadaan Hwayeon?”

“Aku ingin menemui menantuku.”

“Biarkan aku masuk.”

Yoon Hee dan Ravi berusaha menjelaskan keadaan Hwayeon kepada mereka. “Hwayeon baik baik saja. Semua nya sudah di atasi, sekarang Hwayeon masih tertidur karna obat bius. Ada Kyuhyun didalam, biarkan mereka berdua dulu saja.” Saran Yoon Hee.
Mereka tidak terlihat puas dengan jawaban Yoon Hee, tapi akhirnya mereka mengalah dan kembali ke kabin mereka masing masing.

Kyuhyun POV

Kupandangi wajah pucat Hwayeon dengan sedih. Ini semua terjadi karena aku. Kalau saja aku mempercayainya, kalau saja dari awal aku mempercayainya, dan menjaganya dengan benar.. maka kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Akulah yang membuatnya seperti ini, akulah yang membuat Haneul bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Hwayeon dan menyakitinya. Akulah penyebabnya, akulah dalangnya.
Aku merasa sangat sakit. Dadaku terasa sesak, melihat orang yang begitu kucintai terbaring lemah seperti ini. Kuakui, aku bingung. Mengingat bagaimana kami bertemu, lalu berkenalan, lalu akhirnya bisa menjadi seperti ini.

Kami bahkan baru kenal dalam waktu beberapa hari, dan aku sudah berani melamarnya. Memberikannya kalung warisan dari eomma dengan mudah padanya. Membuatnya menjadi calon istriku. Semua ini terasa sangat membingungkan.

Aku, Cho Kyuhyun, bukanlah namja yang romantic. Bisa dibilang aku sangat kaku. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik. Tapi semuanya berbeda saat bersamanya, Hwayeo, pujaan hatiku. Aku berubah menjadi namja yang kelewat romantic, bahkan mungkin sedikit menggelikan. Aku pun selalu mengungkapkan apa yang ada di hatiku dengan cepat padanya, bahkan tanpa kusadari.

Semua yang kuinginkan hanyalah membuatnya tertawa, bahagia. Aku ingin melihat senyum manisnya itu terus tergores d wajahnya. Aku ingin ia bahagia, aku menginginkannya.

Tapi…

Karena aku lah, satu-satu wanita yang kucintai kini terbaring tak berdaya. Aku yang meyeretnya kedalam masalah seperti ini. Sampai akhirnya, psikopat gila yang bahkan merupakan mantan tunanganku berusaha melukainya.
Sialan, aku hampir melupakannya. Yeoja itu, sialan kuadrat. Dimana yeoja itu sekarang? Tidak mungkin dia berenang untuk sampai ke pelabuhan kan? Bunuh diri namanya, tapi aku tidak peduli. Lebih baik kalau dia menghilang. Jauh-jauh dari kehidupan kami. Aku benar-benar tidak mau gadis manisku terluka lagi, apa lagi karena hal yang sama. Aku akan membunuh diriku sendiri jika itu sampai terjadi.

Hah…

Kenapa dia tak kunjung sadar juga? Aku merindukannya.

Ku genggam tangannya yang dingin, mencoba memberinya kehangatan. “Kumohon bangunlah sayang. Aku sekarat disini tanpamu..”

Tes

Tes

Tes

Sial.. lagi lagi air mataku menetes tanpa bisa kucegah. Bagaimana mungkin ini terjadi? Entah sudah berapa kali aku menangisinya hari ini. Aku benar-benar sakit melihatnya seperti ini. Andaikan aku bisa, aku ingin menanggung semuanya. Biar aku saja yang berada di posisinya, aku tidak ingin dia terluka sama sekali. Aku tidak ingin melihatnya tersakiti, oleh seujung kuku sekalipun.

Aku memejamkan mataku, mengusir pening yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Aku lupa, aku belum mengganti bajuku sejak tadi. Pantas saja aku pusing sekarang. Pasti masuk angin. Haah, yasudahlah.. sudah terlanjur. Bajuku bahkan sudah kering karena dinginnya kamar.

Uuugh..

Pusing sekali..

Kuputuskan untuk merebahkan diriku sejenak di samping kasur sambil tetap menggenggam tangan Hwayeon. Sebentar saja, aku hanya akan beristirahat sebentar…

Aku terbangun saat merasakan usapan dikepalaku. “Oppa…” tunggu, aku mengenal suara itu. Suara siapa ya? Bukankah tadi aku sedang- Oh sial!
Dengan cepat aku menegakkan tubuhku. Hwayeonku… “Oh Tuhan, akhirnya kau bangun. Aku mencemaskanmu…” dengan segera aku memeluknya, berusaha untuk tetap berhati-hati pada lukanya. Ya ampun, kenapa tubuhnya lemah sekali seperti ini…

“Mian, sudah membuatmu mencemaskanku.”

“Bodoh, gadis bodoh. Kenapa kau bisa membiarkan yeoja itu melukaimu hah? Kenapa kau tidak melawan? Ya Tuhan. Bagaimana kalau kau tadi- Ya ampun.” Aku memejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran anehku yang menakutkan.

“Oppa… tidak mempercayaiku.”

Deg

“A-“

“Oppa… lebih mempercayainya”
“Sayang, itu aku-“

“Oppa lebih mimilihnya daripada aku.”
“Apa? Tidak! Aku-“

“Oppa lebih memilih pergi bersamanya daripada tinggal bersamaku.”
“Tidak sayang! Tidak, itu aku-“

“Oppa tidak mencintaiku”
“APA?! TIDAK! Dengar! Aku-“

“Oppa mencintainya”

Jedeerrrr

Apa-apaan. Bagaimana mungkin dia berfikir seperti itu?

“Sayang… Itu semua tidak benar! Aku-“
“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, meninggalkanku sendirian..”

Author POV

“Oppa hanya menjadikanku pelarian. Oppa tidak pernah benar-benar mencintaiku, oppa mencintainya. Oppa akan pergi bersamanya, oppa aka-“ Kyuhyun menatap Hwayeon tak percaya.
“Hentikan! Itu semua tidak benar! Bagaimana mungkin kau mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu?!” bentak Kyuhyun marah. Kyuhyun sungguh kecewa karena Hwayeon menganggapnya seperti itu.

Tubuh Hwayeon perlahan bergetar. Kemudian tanpa aba-aba, air mata mulai bercucuran dari mata sipitnya. “Dia bilang oppa tidak mencintaiku, dia bilang oppa akan meninggalkanku. Dia-“ Kyuhyun dengan cepat merengkuh Hwayeon kembali. Menenangkan gadisnya yang terlihat sangat terguncang. “Kenapa kau mempercayai semua omongannya? Kau tau itu semua tidaklah benar. Aku hanya mencintaimu.” Terang Kyuhyun cepat, berusaha menampik kekecawaannya.

Hwayeon tidak mempercayaiku. Kyuhyun benar-benar sedih sekaligus kecewa mengetahui hal itu.

Hwayeon menatap Kyuhyun dengan mata basahnya. Bibirnya bergetar hebat, memperlihatkan seberapa terguncangnya mental gadis itu. “Oppa lebih memilihnya daripada aku.” Lirihnya dengan suara bergetar.
Shit! Kyuhyun mempererat rengkuhannya pada tubuh ringkih Hwayeon, menanamkan kecupan kecupan lembut diatas puncak kepala gadis itu. “Aku memilihmu.. Aku hanya mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku, maaf…”

Akhirnya Hwayeon menangis di dalam pelukan Kyuhyun, sampai akhirnya gadis itu kembali tertidur…

Mianhae, jeongmal mianhae… geurigu saranghae

-o0o-

Hwayeon POV

“Omo Hwayeon!! Apa kau baik-baik saja? Kami semua mencemaskanmu.” Aku mendudukkan diriku di kursi restoran di bantuoleh Kyuhyun oppa. Aku menyamankan posisi dudukku lalu memandang semua orang dan tersenyum menenangkan. “Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku.” Aku bisa mendengar semua orang menghela nafas lega dari sini.
Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa diam-diam menggenggam tanganku di bawah meja. Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Saranghae” ujarnya tiba-tiba.

Aku kaget, tentu saja. Kurasa semua orang yang duduk di meja ini juga sama kagetnya sepertiku. “Nado saranghae.” Jawabku pelan. Kurasakan wajahku memanas. Oh-oh, janngan sampai wajahku memerah, memalukan!

“Berhentilah mengumbar kemesraan kalian didepanku. Kalian membuatku iri.” Aku menoleh mendengar cibiran Ravi oppa, lalu tersenyum geli. “Wae oppa? Kau cemburu?” aku tertawa dalam hati saat melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah. “Tidak, kenapa juga aku harus cemburu!” Kyuhyun oppa terkekeh geli di sampingku, dan akupun mencoba untuk tidak tertawa walaupun rasanya sulit sekali karena Ravi oppa sangat lucu.

“Aaah, aku tau. Oppa sirik kan? Kenapa? Apa Yoonhee eonni tidak suka kalian mengumbar kemesraan seperti ini?” aku terkekeh saat melihat Yoonhee eonni melotot galak kearahku. Haduh haduh, mata besarnya itu sampai terlihat mau copot. Hahaha. “Diamlah kau Hwayeon.” Desis Yoonhee eonni dengan wajah merah padam.”

“Eonni, wajahmu seperti kepiting rebus tau?”
“Diamlah Hwayeon, jangan menggodanya seperti itu.” Senyumku semakin bertambah lebar saat mendengar teguran Ravi oppa. Hah, dia masuk perangkapku. “Memangnya kenapa?” tanyaku pura-pura bodoh. Ravi oppa memandangku cemberut, “Aku tidak suka orang lain melihat wajahnya menggemaskannya saat ia sedang tersipu. Pemandangan seperti itu hanya diperuntukkan untukku.” Aku melongo mendengar penjelasannya. Aku baru tersadar saat Kyuhyun oppa tertawa dengan keras.

“Apa-apaan itu hyung, kau menjijikan.” Ejek Kyuhyun oppa frontal. Mau tidak mau aku tersenyum, apa lagi saat melihat Ravi oppa kelabakan menjelaskan dengan wajah merah padam. “Ah, eh, i-itu… maksudku emm.. “ aku semakin tertawa saat melihat Yoonhee eonni menundukkan kepalanya.

“Kalian sungguh lucu.” Sindirku sakratis. Semua orang di meja kami tertawa bersama, memandangi Yoonhee eonni dan Ravi oppa dengan raut wajah terhibur. “DIAMLAH!” ujar mereka kompak.
Kami semakin memperkeras tawa kami. Kyuhyun oppa merangkulku, dan aku tertawa di dalam rangkulannya. “Bocah sialan.” Desis Ravi oppa sebal. Tapi tak ayal, aku melihat senyum lebar terkembang diwajahnya itu.

Hah, akhirnya semua kembali dengan benar. Aku sempat takut kalau yeoja itu masih berada disini. Tapi kulihat-lihat, sepertinya yeoja itu sudah pergi dari sini. Aku senang, karena semua tamupun terlihat sudah tidak sekaku tadi pagi, saat mereka baru melihatku semenjak aku… yah, kalian tau lah.

Ravi oppa sendiri, semalam ia menemuiku. Mengajakku berbicara 4 mata dengannya. Ravi oppa meminta maaf padaku, karena tidak mempercayaiku dan malah mengatakanku berlebihan serta kekanakan.
Sebenarnya aku sudah tidak mempersalahkan hal itu, tapi Ravi oppa tetap bersikeras ingin minta maaf. Jadi aku memaafkannya, walaupun aku sebenarnya sudah memaafkannya sejak awal, tanpa perlu ia minta. Kuharap semua ini berjalan dengan lancer sampai seterusnya. Aku sendiri penasaran, bagaimana kelanjutan hubungan antara Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Semalam Ravi oppa juga memberitahuku tentang rencanya yang ingin membawa Yoonhee eonni berlibur dan melamarnya. Au tidak tau Ravi oppa akan membawa Yoonhee eonni berlibur kemana, karena Ravi oppa sama sekali tidak berniat membcorkannya. Walaupun aku sudah merengek padanya.

Aku benar-benar berharap Ravi oppa bisa berhasil menjalankan misinya, jadi akupun bisa segera menikah dengan Kyuhyun oppa. Aku tidak ingin lagi terpisah dengan Kyuhyun oppa. Benar-benar tidak mau. Apa lagi melihat Kyuhyun oppa bersama dengan wanita lain? Tidak terimakasih. Kyuhyun oppa hanya boleh untukku.
Kami kemudian melanjutkan makan siang kami setelah puas menggoda Ravi oppa dan Yoonhee eonni. Aku dan Kyuhyun oppa pamit terlebih dahulu. Aku dan Kyuhyun oppa akan pulang lebih dahulu dari yang lain, ini semua permintaan Kyuhyun oppa. Aku sih hanya menurut saja.

Tadi malam Kyuhyun oppa sudah membereskan barang-barang kami. Jadi kami hanya tinggal berangkat pulang saja. Hangeng ahjussi sudah membantu kami menyiapkan kapal lain yang akan kami pakai untuk pulang. Hangeng ahjussi dan Heechul ahjumma juga meminta maaf kepadaku, yang seharusnya tidak perlu. Semua kejadian ini kan bukan salah mereka. Ini toh bukan salah siapapun, bukan juga salah Haneul. Haneul melakukan ini karena dibutakan oleh cintanya pada Kyuhyun oppa. Jadi aku tidak sampai hati untuk menyalahkannya. Aku tidak tau bagaimana nasib gadis itu, karena Kyuhyun oppa tidak mau memberitahuku sama sekali. Ia hanya menyuruhku untuk diam, “Diamlah, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan mengurus semuanya, aku akan menjagamu.” Begitulah yang Kyuhyun oppa katakan semalam saat aku menanyakan perihal Haneul padanya.

“Chagii.” Aku tersenyum saat Kyuhyun oppa melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dari belakang dan menelusupkan kepalanya di ceruk leherku. “Wae?” jawabku pelan, mencoba tidak memperdulikan aktivitasnya di leherku.
“Apa yang sedang kau pikirkan hmm?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Aku sedang memikirkan Haneul” jawabku jujur. Kyuhyun oppa tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya di leherku dan mendesah keras. Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhku, dan memaksaku menatapnya. “Kenapa kau memikirkannya lagi? Gadis itu tidak pantas kau pikirkan.”

Aku menghela nafas, “aku tau, aku-“

“Sudah kubilang, diam, dan semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan gadis itu. Sudah kupastikan kalau gadis itu tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya lagi pada kita.”

“Baiklah baiklah, maafkan aku.”
Aku melihat tatapan Kyuhyun oppa akhirnya melembut, dan tubuhnya yang semula tegang berangsur-angsur mulai kembali rileks. “Haah, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Maafkan aku, sudah membuatmu terluka.” Aku tersenyum, lalu dengan cepat memeluknya. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya, tempat persembunyian favoritku. “Sudah kumaafkan.” Seyumku bertambah lebar saat ia membalas memeluk tubuhku, membuatku merasa sangat hangat, nyaris kepanasan.

“I love you, baby.”
“I love you too, dan aku bukan baby.”

-tbc-

Advertisements

Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 7

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Nih, author kasih pasrt 7 nya. Maaf agak lama yang ngepost, soalnya kemarin ada urusan mendesak, jadi ga bisa ngepostt sama sekali. Maaf membuat kalian menunggu. Nah, jadi sekarang silahkan dinikmati bacaannya. Ini agak pendek, tapi gppa ya. Author bikinnya juga sambil teler soalnya. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

Akhirnya, Setelah acara paksa memaksa yang tadi dilakukan Kyuhyun, dan Heechul ahjumma, pada akhirnya aku mengalah. Memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kapal. Ini kulakukan untuk Heechul ahjumma, dia begitu menyayangiku, dan dia terus memohon -well memaksa sebenarnya- agar aku datang ke acara mereka.

Aku mempersiapkan seluruh keperluanku dibantu oleh eomma. Yah, walah eomma tidak sepenuhnya membantu karena yang dilakukan eomma dari tadi hanyalah meceramahiku. Appa sendiri hanya duduk diam diatas kasurku sambil memperhatikan aku dan eomma mempersiapkan keperluanku.

“Apa kau yakin sudah membawa semuanya?” aku memutar mataku dan mengangguk mengiyakan. Ini sudah ke-3 kalinya eomma bertanya hal itu padaku.

“Dompet?”

“Sudah.”

“Charger?”

‘Sudah.”

“Keperluan mandi?’

“Sudah.”

“Bedak-bedak?”

“Sudah.”

“Lalu-“

“Sudah eomma, aku sudah menyiapkan semuanya. Eomma tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi.” Aku merasakan kepalaku ditepuk dari belakang, dan saat aku menoleh. Appa sudah berada di belakangku sambil tersenyum manis.

“Sampai kapanpun, kau tetap menjadi gadis kecil appa dan eomma.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pasrah, hahhh……terserah mereka sajalah.

Kami pergi menuju pelabuhan bersama Kyuhyun oppa. Heechul ahjumma dan Hankyung ahjussi sudah berangkat lebih dulu tadi. Dan mereka bilang, mereka akan menunggu kami dikapal.

.

Aku memandangi kapal pesiar dengan nama Cho group dengan gugup. Sialan, apa kapal ini tidak berlebihan. Maksudku, Ya ampun…Ini terlalu berlebihan. Kapal ini terlalu besar kalau hanya dipakai untuk melakukan party yang paling-paling hanya didatangi kurang lebih 300 orang.

Tapi…demi Tuhan. Kita hanya berlayar 2 hari dan kita akan menggunakan kapal super megah ini? Astaga, Heechul ahjumma memang keterlaluan. Apa ya kira-kira pendapat eomma dan appa? Aish, mereka pasti keluarga yang boros.

“Hey, kenapa kita berdiri diluar terus? Apa kau tidak ingin masuk?” aku menoleh, menghadap Kyuhyun oppa yang saat ini berada di sampingku. Loh, kemana yang lain? Perasaan aku kemari bersama Ravi oppa, eomma, dan juga appa deh. Kenapa yang tersisa hanya Kyuhyun?

Aku menengokan kepalaku ke kanan dan kekiri, tapi aku tidak bisa menemukan mereka dimanapun. Aku kembali memandang Kyuhyun, dan dia saat ini menatapku dengan kening berkerut. Apa yang salah?

“Kau sedang mencari apa sih?” tanyanya bingung sambil ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kanan kiri, berusaha mencari apa yang kucari. Tapi, apa dia bodoh? Dia bahkan tidak tau apa yang kucari kan? Percuma saja dia menengok-nengokkan kepalanya sampe lepas juga. Ck, pabbo.

“Ravi oppa, eomma, dan appa kemana? Kok tidak ada?” tanyaku bingung. Aku sedikit menyipitkan mataku saat memandang Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dari pada diriku. Aduh, silau sekali sih?! Tidak bisakah matahari itu meredupkan cahayanya sebentar? Membuat mataku sakit saja!

“Ah, mereka sudah naik ke kapal dari tadi. Kau saja yang keasikkan bengong. Lagipula, kenapa kau kaget sekali melihat kapal ini, seharusnya, anak keluarga chaebol kim sudah terbiasa dengan tingkat kemewahan seperti ini bukan? Keluarga kalian bahkan lebih kaya dari pada keluarga kami.” Aku memutar mataku malas. Memangnya tidak boleh apa kalau aku takjub saat melihat kapal ini? Aku kan memang tidak pernah naik kapal pesiar sebelumnya. Bukannya katrok atau apa, tapi aku tidak ada kepentingan apapun sampai harus naik kapal pesiar segala.

Aku kembali memandang kapal pesiar dihadapanku dengan bingung. Aku tidak yakin aku sanggup mengikuti acara ini. Lihatlah, tempatnya saja sudah berlebihan seperti ini. Aku tidak yakin kalau pesta yang nanti Heechul ahjumma selenggarakan akan menjadi pesta sederhana. “Sudahlah, ayo kita masuk. Kita sudah terlalu lama berdiam diri. Disini panas.” Aku membiarkan diriku ditarik oleh Kyuhyun oppa menaiki kapal itu.

Aku memandangi sekelilingku dengan takjub. Sialan, ini benar-benar indah dan sangat mewah. Laut yang seharusnya biasa-biasa saja entah kenapa bisa terlihat begitu menakjubkan dari atas sini. Apa lagi fasilitas kapal ini yang sungguh…fantastis.

Kapal ini memiliki kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan yang sudah bisa kutebak sangat mewah dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar.

Naik kapal ini tidak akan membuatmu merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki 3 ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan. Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 300 kursi. Teater ini terdapat diburitan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap kelautan lepas. Dan yang pasti, itu semua terdapat di kabin paling atas. Benar-benar paling atas alias atap.

Pokoknya, semua yang ada disini adalah WOW. Aku tidak akan bertanya dari mana mereka bisa mendapatkan kapal semacam ini, akan aneh kalau aku bertanya tentang itu. “Kenapa dari tadi kau suka sekali melamun?Ayo kita kekamar. Aku akan menunjukkan kamar kita padamu.” Aku menurut saat ia menarikku menuju ke geladak bawah kapal, dan menuntunku menuju ke salah satu ruangan yang berada tepat di ujung kabin.

Waw, bahkan di dalam kapal, kamar ini memakai sisem pin? Ck ck ck, amazing. Aku mengintipnya yang sedang memasukkan pin, dan dia memencet tombol 100100 dan tadaaaaa, pintu terbuka. Hal pertama yang kulihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ranjang berukuran King Size yang berada di pojok tengah kamar.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, ada sofa, meja rias, meja kerja, lemari, kamar mandi tentu saja, dan yang pasti ada ranjang. Kamar ini bernuansa putih, mataku terasa sakit karena hampir semuanya berwarna putih, kecuali ubin dan dinding kamar yang baru kusadari kedap suara. Well, berarti kalau aku berteriak-teriak disini tidak ada orang yang akan mendengar kan dari luar?

Hmm, ada sebuah pintu geser juga yang menghubungkan kamar ini ke balkon yang tepat menghadap laut. Aku berlari esana, membuka pintunya, dan berjalan ke balkon dengan semangat menggebu.

Sreeeekkk!

“Hiiiiah!!!!! INDAHNYA!!!!” aku memandangi hamparan air laut dihadapanku dengan senang. Uuuuah, lautnya indah sekali. Apa lagi karena ada pantulan sinar matahari, efek-efek sinarnya yang terdapat di dalam pantulan air laut sungguh menambah kadar keindahan lautnya.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari perutku. “Kau suka?” aku mengangguk menanggapi pertanyaan Kyuhyun oppa. Tentu saja aku suka, tidak mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukai lautan. Pokoknya aku suka, aku pikir aku akan betah berada disini.

Eh tapi, dimana kamar Ravi oppa, eomma, dan appa ya? Apa mungkin Kyuhyun tau? Haruskah aku bertanya? Hmmm, “Oppa, apa kau tau dimana kamar Ravi oppa, eomma dan appa?” tanyaku penasaran. “Tentu saja aku tau, kamar mereka ada disebelah kamar kita kok. Aku sudah mengaturnya supaya kau tidak jauh-jauh dari keluargamu dan teman-temanmu. Kabin ini aku khususkan untuk keluarga dan teman-teman kita saja. Tamu-tamu lain akan berada di kabin lain.”

“Ah jinjja? Gomawo, kau baik sekali.” Aku terkikik saat Kyuhyun oppa menempatkan sebuah ciuman di tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukaannya, aduh kenapa dia suka sekali mengerjai leherku? Bagian itu sangat sensitive. Ck, dia pasti sengaja deh. Dasar namja mesum. “Ish oppa, berhenti mencumbuku. Ini bahkan masih pagi.” Ujarku resah sambil menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari rengkuhannya. Tapi bukannya lepas, pelukannya malah semakin kencang. Ck, dia kembali dalam mode menyebalkan lagi sepertinya.

“Diam dan nikmatilah. Arraseo?” aku akhirnya pasrah saat Kyuhyun oppa lagi-lagi menanamkan bibirnya di lekukan leherku, menciumnya dan menggigitnya sesekali. Aku sendiri memejamkan mataku dan memasrahkan tubuhku dalam rengkuhannya. Sesekali aku menggigit bibir bawahku saat ia menghisap leherku seperti vampire untuk mencegah desahan lolos dari bibirku. Aku tidak ingin, sesuatu yang yang tidak seharusnya kami lakukan malah jadi kami lakukan jika saja aku tidak bisa menahan diri dan membuat desahan lolos dari bibirku.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri, memberikan akses lebih untuk Kyuhyun, untuk lebih menjelajahi leherku. “Ahhhh.” Aku tidak mampu lagi menahan desahanku. Kyuhyun oppa semakin beringas menjamah leherku.

“O-oppa. Berhentih, k-kita harus ke atas sekarang. Engh-yang lain p-pasti sudah me-nunggu k-kita.” Sekuat tenaga aku mencoba untuk menjaga suaraku agar terdengar normal, tapi suit sekali, apa lagi saat Kyuhyun oppa mengigit leherku. Aduh, jangan sampai dia meninggalkan bekas.

Aku terseyum saat mendengar dengusannya. Ah, pasti dia kesal karena kegiatannya lagi-lagi terganggu. Hahahaha, mungkin dia memang ditakdirkan agar tidak bisa berbuat mesum padaku sebelum kami resmi menjadi sepasang suami istri. “Ck, kau selalu menggangguku. Baiklah baiklah, lebih baik kita keatas sekarang dari pada eommaku yang cerewet itu melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan.”

Kyuhyun oppa mengecup lherku lembut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan membimbingku untuk keluar kamar. Saat diluar kamar, aku bertemu dengan YoonHee eonni yang sedang berdiri di depan kamar seseorang. Kamar siapa ya? Apa mungkin itu kamarnya? “Apa yang kau lakukan eonni?”

“E-eoh, a-aku hanya lewat kok. L-lebih baik kita ke atas. Ayo.” Aku mengerutkan keningku bingung. Kenapa dia kelihatan gugup? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi baru saja aku mau bertanya lagi, tiba-tiba pinti di depan kami berderit terbuka.

“Eoh, chagi? Kenapa kau ada disini? Kenapa kalian tidak langsung keat-as.” Aku berniat menjawab, tapi urung kulakukan saat aku malah melihat Ravi oppa dan YoonHee eonni saling berpandangan. Tatapan keduanya saling menghujam, tapi yang membuatku bingung adalah…

Tatapan Ravi oppa pada YoonHee eonni. Ia terlihat marah, kecewa, kaget, sedih, entahlah. Tapi 1 kesimpulan yang aku dapat, Ravi oppa saat ini sedang menahan emosinya. Nah, lain lagi dengan YoonHee eonni, tatapannya seakan ia meminta maaf kepada Ravi oppa. Oh oh oh, apa sesuatu terjadi diantara mereka tanpa aku ketahui?

Aku terus memandangi mereka dengan sedikit menyelidik. Apa yah kira-kira yang terjadi diantara mereka? Apa mereka bertengkar? Tapi karena apa? YoonHee eonni dan Ravi oppa juga tidak mengatakan apapun padaku. Well, ini aneh. Baru saja aku ingin membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun oppa menyentak pinggangku pelan. Aku menoleh heran padanya, dan aku malah melihatnya menggeleng. Apa maksudnya? Dia tidak membolehkanku buka mulut? Tapi aku penasaran.

Aku kembali mencoba untuk berbicara, tapi lagi lagi Kyuhyun oppa menyentak lenganku kemudian menggeleng. “Jangan ikut campur urusan mereka sayang. Lebih baik kita pergi keatas. Ayo.” Aku mendengus pasrah saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menarikku menjauh dari sana. Untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan aku bisa melihat kalau YoonHee eonni memandang Ravi oppa frustasi, sedangkan Ravi oppa sendiri hanya memandang YoonHee eonni dalam diam. Tapi kalau kulihat dari sorot mata Ravi oppa, aku tau Ravi oppa sedang menahan sesuatu yang tidak kumengerti.

Aku berjalan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Kyuhyun oppa yang kelewat cepaat. Aduh, rasanya aku seperti diseret-seret.

“Hei, pelanlah sedikit! Tanganku sak-“ langkahku otomatis terhenti, “Kau, kenapa kau ada disini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kapal ini? Sialan, apa kau berniat membunuhku ditempat ini?”

Aku memandang yeoja didepanku dengan tatapan menyalang, yeoja itu membalas tatapanku sambil tersenyum ‘sok’ polos. Sialan yeoja itu. Apa dia ingin berakting? Aku lupa, disebelahku ada Kyuhyun oppa.

Aku bisa merasakan tatapan menghujam Kyuhyun oppa untukku dari sampingku, tapi aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku pada yeoja didepanku. Yeoja yang selama minggu ini sudah menguntit dan mengancamku terang-terangan. Yeoja yang ternyata baru kuketahui, kalau dia adalah mantan tunangan Kyuhyun oppa.

“Apa-apaan kau HwaYeon-ah? Kenapa kau berkata seperti itu pada Haneul? Dia bahkan tidak melakukan apapun padamu!” aku tersentak mundur saat tiba-tiba Kyuhyun oppa membentakku. Aku memandangnya kaget, dan dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Uuugh, sakit sekali.

“Apa-apaan sih oppa? Lepas” aku merintih, mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun oppa di pergelangan tanganku. “Akkh, s-sakit, lepash!” aku meronta, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan pergelangan tanganku, tapi hasilnya nihil. Siaan apa-apaan sih namja ini?

“Sudahlah kyu, kau menyakitinya jika seperti itu. Lepaskan dia, kasian.” Huh? Dia benar-benar sedang berakting rupanya, jelas-jelas dia senang kalau aku disakiti Kyuhyun oppa seperti tadi. Dia bahkan menginginkan kematianku. Kurang ajar! “Tapi dia menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tau kau yeoja baik-baik Haneul-ah, tidak mungkin kau melakukan sesuatu seperti yang dia tuduhkan barusan kan? Aku sangat mengenalmu.” Aku terperangah. Sialan, jadi Kyuhyun oppa sedang membelanya sekarang? Kyuhyun opa lebih membela yeoja itu dibandingkan aku calon istrinya sendiri.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lepaskan saja dia, mungkin dia hanya tidak suka dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.” Aku mengernyit, kenapa dia malah membuatku terlihat seperti yeoja pencemburu dan posesif? “Maaf soal itu, Haneul-ah. Dia memang sedikit kekanakan. Lebih baik kita keatas saja. Ayo, berjalanlah bersama kami.” Ajak Kyuhyun oppa lembut pada yeoja sialan itu.

Ya ampun, apa-apaan sih Kyuhyun oppa, jangan bilang kalau dia tidak percaya padaku. Aku menyentak tanganku yang dicengkramnya saat melihat perhatian Kyuhyun oppa beralih kepada yeoja sialan itu. “Hei, kau itu kenapa sih? Ayo kita keatas. Kita pasti sudah ditunggu eomma.”

Aku melangkah mundur, member bentangan jarak antara diriku dan dirinya. Aku menggeleng sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak mau keatas. Tidak jika bersama yeoja sialan itu!” aku melihatnya, aku melihat Kyuhyun oppa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan menggertakan giginya. Kenapa reaksi Kyuhyun oppa harus seperti itu? Apa mungkin…Kyuhyun oppa masih mencintainya? Masih mencintai yeoja itu? Mantan tunangannya?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan berbagai pikiran buruk yang saat ini menggelayuti kepalaku. “Jangan membantahku Kim HwaYeon, kau tau aku tidak suka dibantah.” Aku tetap menggelengkan kepalaku keras kepala, dan melangkah mundur saat ia melangkah maju untuk menangkapku.

“Apa yang kau lakukan?” desisnya marah dengan wajah merah padam. Aku memandang mereka berdua bergantian. Kyuhyun oppa saat ini sedang menahan amarahnya, aku tau itu. Tapi yeoja sialan itu, yeoja sialan itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Yeoja itu lagi-lagi menggumamkan kata ‘mati’ tanpa suara. “Mianhae, kyu. Mungkin aku harus pergi. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian” Sialan, peran apa lagi yang saat ini dia mainkan?

“Apa? Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini. Kau sama sekali tidak merusak apapun. Ini semua terjadi hanya karena sifat kekanakannya.” Aku menganga kaget. Apa Kyuhyun oppa baru saja membelanya lagi? Dan berbalik menyalahkanku? Apa Kyuhyun oppa baru saja memilihnya, disbanding diriku? Calon istrinya sendiri?

“O-oppa?” panggilku kaget. Tanpa sadar aku melangkah mundur saat melihat tatapan yang Kyuhyun oppa berikan untukku. Jelas sekali kalau Kyuhyun oppa benar-benar marah padaku, karena yeoja sialan itu.

“Kurasa, kau harus menenangkan pikiranmu.” Ujarnya datar.

Aku memucat, dengan cepat aku menggeleng. Kenapa semuanya malah jadi tambah runyam seperti ini? “Apa maksud oppa? Oppa, tidak sadarkah kau? Yeoja itu, mantan tunanganmu itu, dialah yang mengancamku! Dialah yang menguntitku selama kita berada di Jeju, dia juga yang sudah melukai lenganku kemarin!!!!” aku berteriak, melampiaskan seluruh ketakutan dan amarah yang sudah terkumpul didalam diriku. Aku merasakan mataku memanas saat melihat Kyuhyun oppa malah menggeleng dan menatapku tajam.

“Kau keterlaluan. Bagaimana mungkin bisa kau menuduh yeoja baik-baik sepertinya dengan tuduhan seperti itu? Ak tau kau takut. Aku juga tau kau cemburu. Tapi tidak begini caranya, au benar-benar membuatku kecewa. Kurasa aku harus memikirkan lagi ucapanku untuk memperistrimu. Kurasa kau belum cukup dewasa.”

“A-apa?”

“Kau sudah mendengarnya, dan aku tidak berniat untuk mengulangnya. Kau harus menenangkan dirimu sendiri kurasa. Aku akan meninggalkanmu sekarang.” Aku diam, membeku ditempatku saat melihat Kyuhyun oppa menjauh dari jarak pandangku bersama yeoja itu. Yeoja sialan yang saat ini sedang menatapku penuh kemenangan dengan seulas senyum mengerikan yang tersemat di bibirnya.

Ya Tuhan, apa aku baru saja…dicampakkan?

Aku merasakan tenggorokanku kering. Mataku memanas, dan saat aku menyadarinya, pipiku sudah basah oleh air mata. Sialan, dadaku sesak sekali.

Duk! Duk! Duk!

Aku menepuk-nepuk dadaku panic. Dadaku, aku tidak bisa bernafas. Tolong, tolong aku. Kyuhyun oppa, tolong aku.

“OMO HWAYEON!!!” aku jatuh terduduk di lantai yang dingin masih sambil menepuk-nepuk dadaku. Dadaku sesak, berkali-kali pula aku tersedak tangisanku sendiri. Aku mendengar langkah kaki berderap menghampiriku.

“Tidak tidak tidak. Bernafaslah dengan benar Hwayeon-ah, bernafaslah dengan benar!” aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak bisa, sulit. Itu terlalu sulit.

Ya ampun, aku tidak ingin mati sekarang.

“Yak! Lakukan sesuatu! Kau kan dokter! Bantu adikku! Kumohon, selamatkan adikku!” aku memandang Ravi oppa yang sedang menatap YoonHee eonni yang berdiam ditempatnya dengan mata basahku. Aku bisa melihat YoonHee eonni tersentak dengan mata terbelalak. “Nafas buatan! Berikan dia nafas buatan! Cepat!”

Dadaku naik turun dengan cepat. Kepalaku sudah terasa pening, dan aku mulai merasa semua yang berada di sampingku mulai membelah diri dan berputar-putar disekelilingku. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang menciumku, lebih tepatnya memberikan nafas buatan untukku. Ravi oppalah yang memberikan nafas buatan itu untukku. Aku terengah dengan tubuh lunglai di dalam pelukan Ravi oppa.

“Oh ya ampun sayang, kau membuat oppa hampir mati karena serangan jantung.” Aku diam, sama sekali tidak menanggapi ucapan Ravi oppa. Aku hanya memandang kosong mata Ravi oppa, dan tak lama kemudian, aku menangis. Aku menangis di dalam pelukan Ravi oppa, dihadapan YoonHee eonni.

“Shhh, tenanglah sayang. Kyuhyun hanya sedang terguncang. Harusnya kau tidak menuduh Haneul seperti itu sayang. Itu memang sedikit keterlaluan.” Aku memandang Ravi oppa terkejut. Dia mendengar semuanya? Dan sekarang dia juga tidak percaya padaku? “Aku mengatakan yang sebenarnya oppa.” Ucapku lemah.

“Tidak, kau hanya cemburu. Kyuhyun benar, kau masih sedikit kekanakan. Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Kau bahkan akan segera menikah.”

“Oppa juga tidak mempercayaiku?” tanyaku tak percaya.

“Mi-mianhae. Bukan begitu maksud oppa. Oppa hany-“ aku engangkat tanganku. Mengisyaratkan Ravi oppa ntuk berhenti berbicara. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Ravi oppa di tubuhku.

“Oppa tidak mempercayaiku.” Well, itu peryataan, bukan pertanyaan.

“Hwa-“

“Cukup! Aku pergi sekarang. Terimakasih.” Aku langsung berjalan gontai dari sana. Tak kuindahkan teriakan Ravi oppa dan YoonHee eonni yang mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku berjalan keluar kabin menuju geladak kapal. Aku memandangi laut itu dengan tidak berminat. Sialan, apa yang kulakukan disini saat ini?

Harusnya hari ini kami bersenang-senang. Harusnya aku menghabiskan waktuku untuk berkumpul bersama keluargaku dan keluarga Kyuhyun. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna. Tapi sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur karena yeoja itu.

Yeoja sialan yang terobsesi pada Kyuhyun dan berniat membunuhku. Yeoja siaan yang lebih Kyuhyun pilih dibaningkan diriku. Ya Tuhan, bahkan Ravi oppa juga tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa gunanya lagi aku disni jika tidak ada yang percaya padaku?

Harusnya dari awal aku tidak ikut. Harusnya dari awal aku tidak datang. Andai saja aku tidak datang, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan yeoja sialan itu…

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Aku tersentak kaget dan otomatis membalikkan badanku. Dihadapanku, yeoja sialan itu berdiri disana, dan menataku dengan mata menyorot tajam.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” tanyaku geram.

“Aku? Aku ingin kau mati!” aku memucat. Sialan.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku mati?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”

“Kau, kau sudah merebut Kyuhyunku! Kau sudah merebut kepunyaanku! Dan aku akan membunuh siapapun yang berniat mengambil Kyuhyun dariku, termasuk kau!” aku membatu saat tiba-tiba yeoja sialan itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari belakang punggungnya. Aku berjalan mundur saat ia berjalan maju, sambil menggenggam pisau lipat itu di tangan kanannya.

Aku terus melangkah mundur sampai akhirnya aku terpojok, aku sudah berada di ujung geladak, menempel dengan tiang pembatas.

“Terperangkap hah? Kukira membunuhmu akan sulit mengingat begitu banyak orang yang menjagamu. Tetapi ternyata, melakukannya sungguh sangat mudah. “

Aku memandangnya geram, saat ini ia sudah berada tepat dihadapanku dan ia sedang bermain-bermain dengan pisaunya di sekitar wajahku.

“Kupikir, Kyuhyun tidak benar-benar mencintaimu.”

“A-apa?”

“Ya, kukira Kyuhyun hanya menjadikanmu pelarian dariku.”

“Apa maksudmu?!”

“Yah, kau sudah melihat sendiri bukan. Kyuhyun bahkan lebih memilih mempercayaiku dibandingkan dirimu yang saat ini berstatus sebagai calon istrinya.” Aku terdiam. Yeoja ini benar, Kyuhyun bahkan lebih memilihnya dibandingkan aku. Apa aku benar-bena hanya dia gunakan sebagai pelampiasan semata?

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” aku membungkukkan tubuhku. Aku melihat kearah perutku, dan sebuah pisau menancap disana. Baju yang kukenakan sobek dan dipenuhi dengan darahku sendiri. Bau anyir memenuhi indra penciumanku. AKu tidak memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba teriakan orang-orang membuatku menengok.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” di sana, didepan sana. Kyuhyun oppa, Ravi oppa, dan YoonHee eonni berdiri disana sambil memandangku ngeri.Mungkin teriakan mereka membuat yang lain penasaran, tak lama kemudian, hampir semua orang menyusul kami. Aku bisa melihat eomma dan appa dari sini. Mereka terlihat ngeri. Terlihat, seperti akan segera pingsan.

Aku menatap perutku yang tertusuk kemudian mengalihkanku pada Kyuhyun oppa yang tengah memandangku dengan mata melebar khawatir dan kaget. Aku menatap mereka nanar, mereka…mereka yang tadinya tidak mempercayaiku.

“Aaaaarghh!!!!!!” aku berteriak saat tiba-tiba yeoja sialan itu menarik pisau itu dari perutku sambil berbisik lirih tepat di telingaku. “Kau pantas mati.”

Tubuhku linglung, dan saat aku sadar, aku sedang berada dalam posisi hampir jauh ke laut, hanya saja Tangan seseorang menggenggam tanganku, bukan tanganku, tapi lebih tepatnya gelangku. menahanku agar tidak tercebur kedalam laut.

Aku menengok, dan mendapati Kyuhyun oppa berada disana, menahan gelangku dengan sekuat tenaga. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya, dan ia terus menatapku. Sambil tersenyum menguatkan, padahal jelas-jelas ia menangis, menangis untukku…

Aku memfokuskan tatapanku pada Kyuhyun oppa, mengesampingkan perasaan sakit di perutku, dan adrenalinku yang terpacu. Aku tidak bisa berenang. Aku tidak yakin aku akan selamat. Aku menengok kebawah, dan yang kulihat hanyalah air laut yang beriak akibat tekanan kapal.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” aku kembali menatap Kyuhyun oppa, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatapku dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” aku mencobanya, tapi aku tidak bisa. Aku putus asa, dan aku menangis.

“Aku tidak bisa!” isakku lemah, aku mencoba menggapai tangannya, tapi sia-sia.

“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” teriakku putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahaku untuk menggenggam tangan Kyuhyun oppa tidak berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Aku memandang Ravi oppa yang juga menyerukan tangannya kebawah. AKu berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi aku gagal.

Perutku mulai terasa semakin sakit. Aku merasa pusing, dan semakin lemah. Tanganku gemetar, dan mataku mulai berkabut.

“Aku tidak bisa oppa.” Aku memandang mereka semua dengan air mata bercucuran. Ya ampun, apa hidupku akan berakhir saat ini? Aku melihat eomma dari bawah sini sedang menangis histeris di pelukan appa. Appa sendiri menatapku khawatir.

Aku tidak kuat.

“Mianhae.” Gumamku pelan saat aku merasakan gelang ditanganku akhirnya putus. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap mereka. Mereka semua yang berada diatas kapal, yang tengah menatapku dengan mata membulat besar dan air mata berderai.

Aku bisa melihat dari tempatku sekarang, kalau Kyuhyun mau melompat, tapi ditahan oleh keluarga kami. Aku melemparkan senyum terakhirku untuk mereka, dan memejamkan mataku. Memasrahkan diriku sepenuhnya pada-Nya.

Kalau kau memang ingin memanggilku sekarang, aku siap. Tapi seandainya aku boleh memilih, aku tetap ingin berada disini, bersama dengan orang yang aku cintai. Bersama orang yang aku sayangi. Kumohon…

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

“HWAYEON-AH!!!”

“HWAYEON!!!!”

“ANAKKUUUUUUUUU!”

“PUTRIKU!!!”

“TIDAK HWAYEON, TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

BYUUURRRRRR!!!!!

Aku mendengar teriakan dan tangisan mereka semua. Sampai akhirnya semuanya hilang, tergantikan dengan suara riak air yang berada di sekelilingku.

Lukaku terasa seperti disayat kembali saat terkena air laut. Perih, uuugh sakit sekali.

Eomma, tolong aku. Appa… Ravi oppa, kumohon tolong aku. Aku sakit, siapapun tolong aku. Eonni

Uhuk!

Aku mencoba berenang keatas, tapi tidak bisa. Air menekanku kebawah, dan aku tebatuk. Tersedak air laut. Paru-paruku terasa begitu perih. Aku bisa merasa kalau aku akan segera mati karena aku bisa merasakan maut tengah mengintaiku. Ingin membawaku bersama mereka ke tempat dimana orang mati seharusnya berada.

Seluruh kenangan silih berganti memasuki benakku. Membuat dadaku semakin sesak, semakin membuatku merasa kehilangan sesuatu yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari hidupku…

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun oppa menuju ke Spicy Wings café. Kyuhyun oppa bilang kalau ia ingin makan disana bersamaku, berdua. Aku sendiri tidak menolah saat ia mengajakku ke sana.

Kyuhyun oppa memaksa untuk pergi kesana dengan berjalan kaki. Katanya sih ingin olahraga. Kami berjalan berdampingan dari kantorku menuju ke café. Jaraknya tidak jauh, hanya cukup berjalan 15 menit, dan kami sudah sampai.

“Ah tuan, nona, silahkan masuk.” Aku mengangguk saat manager cafeku ini keluar untuk melayaniku dan Kyuhyun.

Aku tersenyum kepadanya, dan mengikutinya bersama Kyuhyun dari belakang. Ia membawaku ke tempat paling pojok, dekat kaca, dan mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Kyuhyun duduk bersebrangan. Setelah kami memesan makan, pelayan pergi, meninggalkanku dan Kyuhyun yang terdiam.

“Ekhem.” Aku menengok dan menatap Kyuhyun yang baru saja berdeham.

“A-Aku, aku ingin memberikanmu ini.” Aku memandang kotak yang disodorkan Kyuhyun oppa dimeja dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanyaku bingung, sambil meraih kotak itu dan membukanya.

“Gelang.”

“Gelang? Untuk apa kau memberikanku gelang? Ini bukan ulang tahunku. Dan juga, ini bukan tanggal yang special bukan?” tanyaku bingung.

“Aku hanya ingin memberikannya padamu. Aku disuruh eomma memberikan gelang itu padamu, eomma bilang, gelang itu melambangkan ikatan cinta kita.” Aku mengangguk-ngangguk saja. Gelang ini cukup sederhana, karena gelang ini hanyalah gelang yang terlihat dibuat sendiri oleh tangan dengan benang-benang.

“Kau harus memakainya saat kita pergi besok. Eomma inin kau memakainya.” Aku mengangguk, kemudian tanpa basa basi memasukkan kembali kotak itu kedalam tasku.

“Arraseo, gomawo ne.”

“Ne, Cheonma.”

 

 

 

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

 

 

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

 

 

 

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

 

 

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

 

 

 

“Kau kekanakan!”

“Kau juga!”

 

 

 

“Aku mempercayaimu.”

“Kau memang harus mempercayaiku.”

 

 

 

“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

 

 

 

“Kau keterlaluan.”

 

 

 

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

 

 

 

“Kau pantas mati!”

 

 

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

-TBC-

Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 6

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Yeeeeeey, update juga part 6 nya. Baca ya. Jangan bosen loh ya. Ini lanjutannya part 5 kemaren ya. Gimana gimana? Jelek ya ceritanya? Maaf ya, author udah berusaha semaksimal mungkin kok. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

“HwaYeon!” aku menoleh dan tersenyum lalu melambaikan tanganku sedikit heboh pada Yoonhee eonni yang berada cukup jauh dihadapanku.

“Kajja eonni.” Aku mendahului HyoJin dan Eunhye eonni berjalan menuju YoonHee eonni.

“Eeeeoh, kau terlihat lebih baik. Padahal terakhir kali aku melihatmu kau tidak lebih baik dari pada zombie.” Ujarku langsung.

“Diamlah, kita pergi sekarang. Kajja.” Sebelum aku mengikuti langkah YoonHee eonni, aku terpaku ditempatku.

Yeoja itu…

Yeoja itu berada disana…

Berada di depan sana, bersama dengan Kyuhyun.

Mereka terlihat sangat akrab.

Sialan.

Jadi siapa sebenarnya yeoja itu?!

Aku membeku saat tiba-tiba yeoja itu menoleh padaku dan menyeringai, Kyuhyun juga ikut berbalik menghadapku dan melambaikan tangannya padaku, mengucapkan perpisahan.

Sialan.

Yeoja itu… mempermainkanku!

 

“Eonni pabbo!” Aku menghampiri Yoon Hee eonni yang sudah menunggu kami di sudut sana untuk mengalihkan pikiranku dengan kejadian tadi. Mata YoonHee eonni bengkak? Ada apa dengannya? Sepertinya habis nangis? Apa dia ada masalah?

“Kenapa matamu eonni?” Aku mengerutkan keningku bingung, dan memutuskan untuk bertanya. Aku khawatir padanya, tentu saja.

Bukannya menjawab, YoonHee eonni malah memegang matanya yang sembab. Aih, apa dia bodoh?

“Belum tidur.” ujarnya meyakinkan.

“Jinjja?” tanyaku memastikan.

“Ne”

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.”rengekku pada mereka. Aku memang lapar. Aku belum memakan apapun dari pagi. Ish, itu semua karna Eunhye eonni dan HyoJin eonni. Menyebalkan.

Kami semua naik kedalam mobil YooHee eonni, dan dia membawa kami semua munuju café favourite kami. Spicy Wings café. Hmm, café ini milikku sebenarnya.

Aku langsung dudukdengan posisi biasa, aku duduk disebelah YoonHee eonni

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin eonni sebelum dia duduk. Ish mau apa sih dia?

“Wae?!” tanyaku jengkel. Aku tidak suka pindah-pindah tempat!

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”Ck, aku mengangkat pantatku dari kursi dengan malas. Huh, kalau saja aku tidak mengingat moodnya yang buruk hari ini, aku tidak sudi menurut!

“Biasa.” ucap kami berempat kompak. Wow, kami sudah sinkron ternyata. Hahaha. Tak butuh waktu yang lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami. Pelayannya juga tadi sempat mengangguk padaku. Ah dia baik, haruskah kunaikkan gajinya? Ahahaha

“Kalian semua kenapa?” tanyaku memecah keheningan. Aku benci keheningan. Keheningan membuatku gugup. Dan harusnya, saat kami berkumpul, kami itu berisik. Kalau kami diam, berarti ada yang salah. Dan kurasa, memang ada sesuatu yang salah. Entahlah.

Ah, kalau begini aku malah mengingat surat terror itukan? Sialan!

Drrrtt Drrtt

Aku tersentak saat hp dalam kantong celanaku tiba-tiba bergetar. Ternyata ada pesan dari Kyuhyun oppa.

 

Keluarlah, aku sudah menunggumu diluar. Bukankah kita akan ke Rumah sakit? Ayo, kita kesana berjalan kaki dari sini. Hitung-hitung olahraga. Cepatlah

-Kyuhyun

 

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Aku menjejalkan ponselku kembali kedalam saku celanaku dan beranjak dari kursiku, bersiap keluar.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Ujarku mengingatkan sebelum akhirnya aku pergi keluar café, menemui pangeranku yang sudah menunggu diluar café.

 

.

 

Aku mengeratkan gandengan tanganku pada lengan Kyuhyun. Saat ini kami sedang berjalan santai, menuju rumah sakit. Kyuhyun bilang kalau ia ingin mengobrol dengan Ravi oppa. Katanya sih, ingin membahas tentang pernikahanku. Tapi, tidak tau juga.

Hmm, aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit. Aku merindukan Ravi oppa. Sudah 4 hari aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana keadaanya sekarang ya? Apa dia baik-baik saja? Apa yoonhee eonni memperlakukannya dengan baik? Aku tidak sempat bertanya pada dokter itu tadi di café. Hah, pabbo.

“Hey, kenapa kau diam saja? Biasanya kau cerewet.” Aku mengerucutkan bibirku sebal. Memangnya aku seperti itu ya? Hah, kenapa semua orang mengataiku cerewet? Aku kan tidak cerewet.

“Aniya, gwaencaha. Aku hanya memikirkan Ravi oppa. Apa dia baik-baik saja kutinggal 4 hari? Kuharap dia tidak berulah dengan bekerja di rumah sakit. Aku akan membunuhnya kalau aku sampai melihatnya bekerja saat kita sampai nan-“

Brak!!!

Sreeett!!!

“Arrrghhh!!” aku meringis saat seseorang tiba-tiba saja menabrakku. Bukan hanya itu, aku merasakan sebuah benda dingin nan tajam mengiris lenganku. Siala, perih sekali siapa sih?

Aku menengok dan dengan cepat, dan disana, diujung jalan sana. Yeoja itu berada disana sambil membawa sebuah pisau lipat, dan darah bercucuran dari pisau itu. Darahku.

“Omo, apa kau baik baik saja?! Lenganmu berdarah!” aku tidak menghiraukan Kyuhyun yang berteriak-teriak heboh. Lenganku memang perih, tapi perasaan takutku lebih mendominasiku saat ini.

Aku merasa kakiku lemas. Tulangku serasa copot dari persendiannya. Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Aku takut. Siapapun, bantu aku.

Brukkk!!!

“Ya ya ya!!! Kau kenapa? Apa sakit? Aiiish, siapa sih yang berani-berani melakukan hal ini? Sialan, aku akan membunuh orang itu jika aku menemukannya. Gwaenchana? Ayo. Kita segera ke rumah sakit, kita harus membalut lukamu.” Aku diam, sama sekali tidak berniat menanggapi kalimat Kyuhyun. Aku merasa lemas, Ya ampun. Kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku? Kenapa?

Sreeettt!

Aku tergolek lemas di dalam gendongan Kyuhyun oppa. Ya ampun, bagaimana mungkin aku bisa bertemu Ravi oppa dalam keadaan seperti ini? Aku tidak ingin Ravi oppa mengkhawatirkanku. Dia bahkan lagi sakit. Oh Tuhan…Apa yang harus aku lakukan?

 

.

 

“Hyung, tolong balut luka ini. Cepatlah!” desak Kyuhyun geram. Saat ini kami sudah berada di Seoul Hospital. Setelah tadi Kyuhyun membopongku kemari sambil berlari, dia langsung membawaku ke dalam ruangan dokter yang tidak kukenal, dan langsung membaringkanku di ranjang pasien yang berada di ruangan itu.

“Arra, biarkan dia disitu dulu. Biar aku ambilkan peralatannya. Chakkaman!” aku diam, memandang kosong pada langit-langit ruangan ini. Bau alcohol mulai menusuk indra penciumanku.

“Ada apa dengannya? Bagaimana bisa dia terluka seperti ini, eoh?” aku meringis saat dokter itu menuangkan alcohol di atas lukaku tanpa aba-aba. Dasar dokter sialan, dia kira itu tidak sakit apa?

“Seseorang berniat melukainya. Aaargh, andai saja aku terus mengawasinya, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Sialan, siapapun yang membuatnya terluka akan kubunuh dengan tanganku sendiri. Shit!” aku mendengarkan seluruh ucapanku Kyuhyun dengan kening berkerut. Dokter ini benar-benar tidak memberikanku waktu untuk bernafas. Hah, sakit sekaliii!!!

“Tenanglah kyu, Mungkin dia tidak sengaja.” Ujar dokter itu perhatian. Cih, tidak sengaja dari mana? Jelas-jelas yeoja itu sudah merencanakan semuanya dengan matang. Kurang ajar, kalau saja pisau itu melenceng sedikit saja ke kanan, mungkin sekarang aku akan berada di dalam ruang operasi untuk merenggang nyawa.

“Tidak sengaja apanya? Aku yakin kejadian ini sudah di rekayasa. Dia sudah mendapat berbagai surat ancaman, yang mengatakan kalau orang itu akan membunuhnya. Kau kira aku bisa diam saja jika tunanganku diperlakukan seperti itu?”

“MWO? Tunangan? Dia?!” aku memandang dokter itu dengan kening berkerut, kenapa reaksinya heboh sekali? Memangnya kenapa kalau kami sudah bertunangan?

“Ne, dia tunanganku. Kami akan segera menikah.” Ujar Kyuhyun lembut sambil menatapku.

“Mwoya? Lalu bagaimana dengan Kang Haneul? Bukankah kau akan segera menikah dengannya?” aku membeku, sialan! Apa lagi sekarang?

“Apa maksudmu? Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan gadis itu. Hubungan kami sudah berakhir 3 tahun yang lalu, saat ia memutuskan untuk meninggalkanku dan memilih lelaki lain yang menurutnya lebih baik.” Aku merasakan seperti jantungku baru saja ditikam oleh ribuan pisau. Dia bilang dia tidak pernah berpacaran? Tapi sekarang aku tau kalau dia sudah hampir menikah 3 tahun yang lalu? Dia sudah pernah bertunangan? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Kenapa?

“Apa? Tapi minggu lalu dia bercerita padaku kalau kalian sudah memutuskan untuk kembali bersama, dan kalian akan segera melangsungkan pernikahan kalian di Jeju. Jadi dia berbohong?”

“Mwo? Aku tidak mungkin kembali bersamanya, apa lagi menikahinya! Aku mencintai HwaYeon-ku. Sialan yeoja itu, berani-beraninya dia mengarang cerita seperti itu. Kurang ajar. Aku harus menemuinya lain kali.”

Astaga, kepalaku pening. Semuanya terjadi terlalu cepat dan tiba-tiba. Semua ini, bagaimana bisa… oh ya ampun. Aku tersenyum kecut, benar juga. Aku belum mengenal Kyuhyun dengan baik, aku belum mengenalnya secara mendalam, aku bahkan hampir tidak tau apapun tentang dirinya. Bagaimana bisa aku memutuskan untuk benar-benar menikahinya jika posisi kami seperti sekarang ini? Ini semua terlalu rumit.

Semua persoalan ini… aku benar-benar merasa kacau. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memutuskan untuk tidak jadi menikah dengannya? Hah! Itu konyol!

Lalu apa…?

Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Sudahlah kyu, jangan diambil hati. Mungkin dia masih labil sehabis mengalami kecelakaan itu. Maklumi saja. Jjja, lenganmu sudah selesai. Aku akan menuliskan beberapa resep obat untukmu agar luka itu cepat mongering dan bisa mengurangi rasa sakitnya. Lenganmu terluka cukup dalam.” Aku hanya diam, sama sekali tidak berniat menanggapi ucapan dokter tampan itu.

Pikiranku sepenuhnya terpusat pada semua hal aneh yang kualami semenjak aku mengenal Kyuhyun. Semuanya, terror yang kudapat. Itu semua terjadi setelah aku bertemu Kyuhyun bukan? Tapi anehnya, di dalam surat ancaman itu. Tidak ada satupun foto Kyuhyun, hanya ada fotoku selama di Jeju, tapi tidak ada foto Kyuhyun.

Tidakkah itu aneh? Selama di Jeju Kyuhyn bahkan menempeliku setiap saat. Lalu bagaimana mungkin dia tidak ikut mengancam untuk membunuh Kyuhyun? Dan juga, dibandara tadi pagi, bukankah yeoja itu mengobrol bersama Kyuhyun?

Apa mungkin gadis itu…

Oh tidak!

Semoga pikiranku salah.

Tidak mungkin kalau mantan tunangan Kyuhyun yang melakukan semua itu bukan? Ya ampun. Jangan sampai.

 

.

 

Aku dan Kyuhyun bergandengan tangan sambil memasuki ruangan Ravi oppa yang sudah 3 hari ini tidak aku kunjungi. Ravi oppa sedang sangat terpaku dengan laptopnya sehingga tidak menyadari kedatanganku dan Kyuhyun oppa. Sialan, kenapa dia bekerja? Oppa nakal! Dengan langkah berderap, kurebut laptopnya, kututup, dan dengan cepat kulempar keatas sofa.

“Yak! Apa yang kau lakukan! Aku sedang bekerja!”

“Memangnya siapa yang memperbolehkan oppa bekerja eoh?” tanyaku sinis. Ravi oppa menggerutu sebentar kemudian memandang tanganku yang terbalut dengan curiga.

“Tanganmu, kenapa?” tanya curiga? Aku menelan salivaku gugup. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kan? AKu takut akan reaksinya nanti. Apa aku harus berbohong? Aduh, apa alasannya ya?

“Eummm, i-ini. I-ini hanya karena aku jatuh tadi saat perjalanan kesini. Aku tersandung. Jadi begini deh.” Ujarku sambil tertawa gugup. Ravi oppa memandangku datar. Hah, dia pasti tau kalau aku berbohong.

Aaargh, pabboya!

“Bakat berbohongmu memang tidak pernah berkembang sejak kecil. Baiklah-baiklah. Oppa percaya sementara ini. Tapi ingat, oppa pasti tau apa yang terjadi sebenarnya. Kau tidak pernah bisa menyembunyikan apapun pada oppa.” Aku melirik Kyuhyun oppa dari sudut mataku. DIa terlihat sama gugupnya denganku. Bagus, kuharap dia tidak mengatakan apapun pada Ravi oppa.

Pandangan Ravi oppa lalu beralih pada Kyuhyun, dan keningnya langsung berkerut seketika.

“Eeeeh? Kenapa Kyuhyun ada disni? Dan juga, bagaimana dengn pelaunchingannya? Apa berjalan lancar? Bisa-bisanya kau tidak menguhubungiku sama sekali Kim Hwa Yeon-ssi.” Ujarnya sinis. Aku nyengir kali ini, aku memang hanya sekali menghubunginya selama di Jeju, biasalah. Sibuk.

“Hehehe mianhae, aku sibuk. Aah oppa, aku ingin bilang sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku dan Kyuhyun, emmm…kami memutuskan untuk segera menikah.”

“MWOYA???? Bagaimana bisa? Kenal saja baru! Tidak tidak. Aku tidak mengijinkan. Kau juga masih kecil. Tidak tidak. Tidak boleh.” Aku membulatkan mataku kaget. Apa-apaan? Kenapa dia tidak memperbolehkan? Oh ayolah!

“Ah wae?! Aku sudah besar! Umurku sudah cukup untuk menikah!”

“Andwae chagi. Kau masih terlalu muda.”

“Ish oppa!”

“A.N.D.W.A.E!”

“WAE! WAE! WAE!”

“Pokoknya tidak boleh, kau masih kecil. Oppa masih belum bisa melepasmu chagi. Apa lagi pada namja mesum seperti Kyuhyun? Jangan harap!”

“Aiiih aku sudah besar oppa, dan lagi, Kyuhyun tidak semesum itu~”

“Ani. Menurutlah pada oppa sesekali!”

“Andwae. Jebal ne~?”

“Tidak, sekali tidak tetap tidak!”

“Oppa!”

“Tidak!!”

“Aaah Oppa!!!! Jebal! Ne? Ne?”

“Tidak bisa sayang. Tidak boleh.” Ucapnya memaksa. Hah! Aku harus merobohkan pendiriannya!

“Ogi!”

“Aish, arraseo arraseo, oppa mengalah. Tapi tidak dalam jangka waktu yang dekat kan? Kau masih kecil. Kau tidak akan becus menjadi seorang ibu rumah tangga. Hiiiih, membayangkannya saja membuatku merinding.” Aku menyengir saat Ravi oppa akhirnya memperbolehkanku. Ya ampun, ternyata membujuk Ravi oppa itu mudah sekali. Ah benar juga, sejak kapan ravi oppa sulit dibujuk? Hahaha.

“Yeeeay, aku memang oppa terbaik. Tapi oppa, eomma dan appa tidak akan mengijinkan aku menikah kalau kau belum menikah. Kau juga harus menikah oppa. Kita menikah bersama sama.”

“mwoya? Kau gila? Oppa bahkan tidak punya pacar.”

“Ayolah oppa, jebal.”

“Tapi oppa memang benar benar tidak punya pacar. Lalu oppa menikah dengan siapa? Patung?”

“Aku tidak mau tau! Pokoknya oppa harus punya calon istri! Aku memberi waktu oppa 3 bulan, kalau oppa tidak bisa, oppa tidak akan aku akui sebagai oppaku lagi!”

“Yak! Mana bisa begitu!”

“Bodo, aku tidak peduli. Pokonya, aku hanya memberi oppa waktu 3 bulan. Oppa harus bisa mendapat calon istri dalam jangka waktu segitu jika oppa benar-benar menyayangiku.”

“Aish, terserahmu saja. Kalau gitu, bantu aku sekarang. Aku ingin mandi.”

“Oke, aku akan mengambil air. Tunggu sebentar.” Aku benar-benar melupakan kehadiran Kyuhyun oppa sampai aku tiba-tiba teriakanya saat aku tengah berusaha membuka kancing piyama Ravi oppa.

“Apa yang kau lakukan Kim Hwa Yeon?” tanyanya dengan wajah merah padam dan tangan terkepal. Eeeh? Ada apa dengannya? Memangnya aku melakukan kesalahan apa lagi? Kenapa dia suka sekali marah-marah?

“Aku? Membuka baju Ravi oppa tentu saja.” Jawabku polos.

“Untuk apa kau membuka bajunya? Kalian kakak adik demi Tuhan. Kalin tidak mungkin…astaga!”

“Hei! Apa maksudmu! Aku hanya ingin menyeka tubuhnya! Kau benar-benar.”

“Andwae andwae. Biar aku yang melakukannya. Walaupun kalian kakak adik, tapi kau yeoja dan dia namja. Bagaimana mungkin kau yang melakukan hal seperti ini?” aku membiarkan Kyuhyun oppa mengambil alih pekerjaanku menyeka tubuh Ravi oppa. Sedangkan Ravi oppa sendiri malah memandangku dengan pandangan bertanya yang juga hanya bisa kujawab dengan gendikkan bahu.

Sikap Kyuhyun oppa terkadang memang sangat menyebalkan. Kadang ia terlalu romantic, terlalu kekanakan, terlalu posesif, terlalu protektif. Ah pokoknya serba selalu. Ya kan? Dia juga terlalu tinggi, terlalu tampan, dan banyak terlalu lainnya yang kalau kusebut, ff ini bisa penuh dengan segala ‘terlalu’nya

Cleck!

“Ravi-ssi ka- OMO! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALIAN GAY?!” aku terkejut melihat Yoon Hee eonni lagi-lagi masuk saat situasi yang kurang pas.. Tapi apa? Gay? Aku tertawa ngakak saat mendengar ucapan Yoon Hee eonni, ya ampun. Masa mereka gay? Eonni yang satu ini benar-benar pabbonya sudah overload.

Ahahaha, kalau dihitung-gitung. Berarti ini kedua kalinya Kyuhyun dikatai sebagai seorang gay. Hahahaha payah! Mungkin mukanya memang muka-muka orang gay. Hahaha

“Apa maksudmu eonni? Mereka bukan gay Kyuhyun itu kekasihku! Enak saja kau! Hahaha” aku kembali tertawa saat melihat wajah masam Kyuhyun oppa dan ravi oppa. Ya ampun mereka sangat lucu.

“aku akan pergi dan akan kembali saat pasien sedang tidak, err… sibuk.” Putus Yoonhee eonni tiba-tiba. Aku sih mengangguk ngangguk saja.

Aku mengamati Yoon Hee eonni yang keluar dari kamar ini dengan seksama kemudian mengalihkan pandanganku pada Ravi oppa dan memandangnya curiga.

“Kau, ada hubungan apa dengannya?”

“Eemm, hanya pasien dan dokter.”

“Cih, geotjimal. Kalau begitu, sepertinya kau sudah punya calon istri. Ingat oppa, waktumu hanyalah 3 bulan!”

“Aish! Arraseo arraseo! Cerewet sekali!”

“Ah, kuharap oppa bisa membuatnya menerimamu sebagai calon istrimu. Arra?”

“Yaish! Tenanglah! Itu urusan oppa, arrachi? Oppa pasti melakukannya, oppa kan menyayangimu.”

“Ehehehehe, arraseo. Jja, diamlah dulu sekarang. Biar Kyuhyun oppa bisa membersihkan tubuhmu. Kau bau.” Candaku pelan. Aku tersenyum geli saat mendengar gerutuan Kyuhyun oppa dan Ravi oppa. Aaah, mereka sungguh imut.

“Hei, omong-omong bagaimana pertemuan pertama kalian? Apa di kantor?” tanya Ravi oppa tiba-tiba memecah keheningan. Aku memandang Kyuhyun oppa, penuh harap. Apa ya jawabannya?

“Pertemuan pertama kami? Di café, Spicy wings café. Hmmm, saat itu dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka berempat kalau aku tidak salah ingat.”

“Ah benarkah? Kau bersama HyoJin, Eunhye, dan Yoonhee, Hwayeon-ah?” tanya Ravi oppa memotong pembicaraan Kyuhyun oppa. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Dia terlihat seperti zombie saat itu. Ahhh, tapi saat itu dia berisik. Padahal dia terlihat hampir sekarat. Apa daya tahan tubuhnya memang kuat?” lanjut kyuhyun oppa.

“Apanya? Dia itu penyakitan! Hah! Dikitd ikit sakit! Dikit-dikit sakit! Menyusahan saja!”

“Yak! Oppa tidak suka?! Oppa tidak mau mengurusku lagi? Begitu?” tanya marah. Sialan memang mereka.

“Yak! Tidak perlu marah chagi. Oppa hanya bercanda!”

“Ish, aku benci oppa.”

“Ya, oppa hanya bercanda chagi.”

“Bodo! Aku benci!

“Yaish! Arraseo, mianhae eoh?”

“Cih!” aku membuang pandanganku darinya, ceritanya sih aku sedang ngambek. Hehehe.

“Lanjutkan ceritamu Kyu.” Uja Ravi oppa pada Kyuhyun. Sialan mereka.

“Ya lalu aku memandanginya, sebenarnya aku ingin menegurnya karena dia sungguh berisik. Aku sedang meeting saat itu, dan kami tidak bisa berkonsentrasi karena kerusuhan yang dibuatnya dan teman-temannya. Tapi saat ia memandangku, aku merasa seluruh kekesalanku padanya langsung menguap. Entahlah. Padahal dia saat itu memandangiku dengan mata pandanya.”

“Mata panda?”

“Ne. Ada lingkaran hitam dibawah kedua belah matanya waktu itu, seperti panda.” Sindir Kyuhyun oppa. Kurang ajar.

“Ah, dia memang suka begadang. Dan mata itu, ya itu hasilnya. Sudah berkali-kali aku memarahinya tentang hobby begadangnya itu, tapi dia tidak pernah mau mendengarkanku. Sampai-sampai aku harus bekerja sama dengan Ahjumma di rumah untuk memberikan sedikit obat tidur untuknya yang kami campur di dalam jusnya.” Heeiii! Bisakah mereka berhenti membicarakanku seakan aku tidak berada dalam satu ruangan dengan mereka? Kenapa mereka berdua bisa menyebalkan seperti ini?

“Jinjja? Wah, parah sekali berarti. Aku harus memaksanya tidur bersamaku saat kami sudah menikah nanti kalau begitu.” Oh oh, namja satu itu benar-benar

“Cih, awas saja kalau kau menodai pikiran adikku yang polo situ. Kubunuh kau.” Ujar Ravi oppa sengit. Aduuuh, kenapa mereka kekanakan sekali? Membuatku pusing saja!

“Ah sudahlah, kalian berisik. Tungguhlah disini sebentar. Oppa sudah boleh pulang hari ini kan? Kita pulang sekarang. Aku akan memanggil suster dulu.” Baru saja aku mau melangkah keluar, tiba-tiba saja Kyuhyun oppa menahanku. Heeeh? Kenapa dia bergerak cepat sekali? Dia tadi ada di kursi di sebelah ranjang Ravi oppa kan? Kenapa aku tidak sadar waktu dia pindah?

“Biar aku saja. Kau mengobrollah dengan oppamu.” Aku mengangguk, membiarkan Kyuhyun oppa yang keluar untuk memanggil suster. Sebenarnya, ada sebuah tombol khusus di samping kanan ranjang untuk memanggil dokter dan suster, tapi lebih enak di panggil sendiri. Hehehe Itu menurutku sih.

“Kemarilah.” Aku menurut saa Ravi oppa menyuruhku mendekat dan duduk di sebelah tempatnya berbaring. Aku ditariknya, jadi aku jatuh telentang. Dan tiba-tiba saja, aku sudah berada di dalam rengkuhan Ravi oppa. Hmm, nyaman sekali.

“Ada apa? Tidakkah kau ingin bercerita pada oppa?” aku menegang. Haruskah aku bercerita padanya? Sekarang? Kurasa tidak.

“Nanti saja oppa. Di rumah saja ne?”

“Arraseo, terserahmu saja. Hmmm, bagaimana Kyuhyun?” aku mengerutkan kening dengan pegantin topic yang terlalu tiba-tiba.

“Well, sejauh ini dia baik. Dia juga romantic, dan juga posesif.” Aku tersenyum saat tanpa sengaja aku mengingat bagaimana Kyuhyun oppa selalu mengklaim diriku. Dia memang sangat posesif.

“Hmmm, posesif ya? Wah, hidupmu tidak akan tenang kalau begitu chagi.” Aku memutar mataku malas. Ravi oppa memang benar, hidupku tidak akan pernah tenang. Kenapa? Oh bayangkan saja, seumur hidupku, aku selalu dikelilingi oleh namja namja yang posesif dan over protektif. Dan sekarang, bertambah lagi namja yang protektif padaku. Mati sajalah.

“Ish oppa menyebalkan. Geundae oppa, oppa benar-benar merestui kami berdua kan? Kalau saja oppa tidak merestui aku dengan Kyuhyun. Aku masih bisa membatalkannya oppa. Keputusan oppa dan eomma, appa nanti sangat berharga untukku. Jika saja salah satu diantara kalian ada yang menolah, aku bisa membatalkannya.” Aku tersentak maju saat Ravi opa mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

“Oppa merestui kalian sayang. Kyuhyun, well. Sejauh ini dia terlihat baik. Oppa juga sudah mengenalnya cukup lama. Dan oppa yakin, dia bisa menjagamu sama seperti oppa dan appa menjagamu selama ini. Jadi ya, oppa sepenuhnya merestui kalian.” Ujar Ravi oppa lembut aku tersenyum dan menengadahkan kepalaku, memandang Ravi oppa yang juga tengah menatapku lembut.

“Tapi, oppa akan membunuhnya kalau dia sampai menyakiti adik kecil oppa yang satu ini.” Aku memekik kaget saat Ravi oppa mengigit puncak hidungku, lalu mengecup dahiku lembut. Uuuugh, sakit sekali.

“Sakit bodoh!” gerutuku pelan sambil mengusap hidungku yang tadi digigitnya. Hah, pasti merah deh. Ish, Ravi oppa pabbo.

“Ck, berhentilah mengatai oppa bodoh.” Aku mengerucutkan bibirku sebal, tapi aku tidak membalas apapun perkataannya.

Krriiiieeet!!!

Aku mendengar suara pintu berderit terbuka. Saat aku ingin bangun dari posisiku, Ravi oppa menahanku. Ish, siapa sih yang datang? Apa Kyuhyun oppa dan dokter?

“Eoh, kenapa posisi kalian intim sekali? Kalian kakak adik. Astaga. Aku bisa gila!” aku terkekeh saat mendengar sebuah suara yang sudah kukenal dengan cukup baik. Ternyata Kyuhyun oppa, jadi dia yang datang? Hahahaha, cemburuan sekali sih? Padahal aku kan hanya berpelukan dengan oppa kandungku sendiri. Cih.

“Lalu apa masalahmu, Cho? Dia adikku.” Aku tersenyum dalam diam saat mendengar mereka berdebat. Kenapa mereka memalukan sekali? Bukankah kalau Kyuhyun sudah datang, berarti dokter dan susternya juga datang? Aish!

Aku dengan cepat beranjak dari posisiku dan duduk di kasur. Tak kuindahkan gerutuan Ravi oppa. Dan menyapa dokter dan suster yang tengah tersenyum penuh arti sambil menatapku.

“Eoh? Kau dokter yang tadi kan? Annyeong. Ah, tolong lepaskan alat-alat aneh itu dari tubuh oppaku ne? Kami mau pulang.” Ujarku cepat. Dokter itu tersenyum kemudian mengangguk. Aku hanya mengamati mereka dari pinggir ranjang, bersebelahan bersama Kyuhyun, saat mereka melepas alat-alat yang tidak kumengerti itu.

“Nah, sudah selesai. Ravi-ssi, anda harus mengkonsumsi obat yang sudah kuberikan barusan. Minum sebanyak 3x sehari setelah makan. Jangan lupa ganti perbannya setiap 6 jam sekali supaya lukanya tidak terinfeksi. Baiklah, kalau gitu saya pamit undur dulu. Selamat sore.”

“Ah ne, selamat sore. Gomawo ne, dokter.” Ucapku mendahului Ravi oppa.

“Ne, cheonma.”

Aku membereskan seluruh barang-barang Ravi oppa, dan menyuruh Kyuhyun oppa untuk membawanya dan mengambil mobil. Aku segera beralih ke sebelah Ravi oppa, meletakkan tangannya dibahuku, dan mulai membantunya berdiri, dan memapahnya. Astaga, dia berat sekali.

“Omo, oppa berat sekali!” gerutuku sebal. Aku berjalan tertatih-tatih sambil membopong Ravi oppa. Aduh, kenapa berat sekali sih? Padahal Ravi oppa tidak membebankan seluruh berat tubuhnya padaku. Bagaimana kalau dia membebankan seluruh berat tubuhnya padaku? Bisa-bisa aku langsung jatuh. Ck!

“Ish, Kau saja yang lemah. Bisa tidak? Oppa bisa berjalan sendiri kok.” Aku memutar mataku malas saat mendengarnya meringis. Cih, sok jagoan sekali namja satu ini. Aku menyampirkan tangan kananku di pinggan Ravi oppa, sedangkan tanagn kiriku kupakai untuk menggenggam tangan Ravi oppa yang tersampir di bahuku.

“Pelan-pelan saja. Sebentar lagi juga sampai. Kyuhyun oppa pasti sudah menunggu diluar.” Aku tak mengindahkan gerutuannya, dan membawanya berjalan perlahan menuju ke luar RS, dan benar saja. Mobil Kyuhyun oppa sudah standby disana. Hmmm, mobil audi R8 berwarna silver. Wow, mobil yang bagus. Tapi siapa yang mengantar mobil itu kesini? Supir Kyuhyun? Tapi kemana supirnya? Ah sudahlah, bukan urusanku.

Aku membantu Ravi oppa untuk masuk ke dalam mobil, dan aku ikut masuk dan duduk bersama Ravi oppa. Kuharap Kyuhyun mengerti, aku ingin duduk menemani Ravi oppa.

Perjalanan kami ke rumah dijalani dengan sangat hening karena tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Aku sendiri hanya bersender di bahu Ravi oppa, dan Ravi oppa memelukku dari samping. Kyuhyun sendiri hanya focus untuk menyetir.

“Emh oppa, masuklah ayo.” Aku kembali membopong Ravi oppa masuk kedalam rumah ddibantu oleh Kyuhyun oppa. Dari luar pintu, aku sudah bisa mendengar suara orang-orang tertawa dan berteriak. Suara siapa saja ya? Kok ramai sekali? Apa eomma dan appa sudah pulang?

Baru saja aku mau membuka pintu, pintu itu malah sudah terbuka lebih dulu dari dalam. Lee ahjumma berdiri didepan pintu sambil tersenyum ramah.

“Mari masuk, Tuan muda, Nona muda. Tuan dan nyonya besar sudah menunggu kalian. Ada tamu juga, mari.” Aku ikut masuk kedalam, masih tetap sambil membopong tubuh berat Ravi oppa.

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

Aku mengantar mereka sampai pintu keluar, dan kembali masuk kedalam rumah. Ravi oppa sudah tidak ada, mungkin sudah ke kamar. Aku bertemu eomma dan appa yang ternyata masih berada di ruang keluarga. Aku menghampiri mereka, dan duduk ditengah-tengah mereka berdua.

“Bagaimana kabarmu, chagi?” aku menyenderkan tubuhku ke tubuh appa yang saat ini tengah merangkulku dan memandang eomma dengan sayang.

“Aku baik-baik saja eomma.”

“Jinjja? Baguslah. Hmm, lenganmu itu kenapa?”

“Ah itu, tadi siang aku jatuh tersandung. Jadi lecet deh.”

“Ck, makanya hati-hati kalau berjalan.” Kali ini appa bersuara. Aku memutar mataku malas mengucek mataku yang sedikit berair. Aku mengantuk.

“Lelah? Tidurlah dulu. Kita masih bisa mengobrol besok. Jja, jalja chagi.”

“Ne eomma, appa. Jalja.” Aku beranjak dari pelukan appa dan berjalan menuju kamar Ravi oppa setelah mengucapkan salam pada eomma dan appa. Saat aku masuk kedalam kamar Ravi oppa, Ravi oppa sedang duduk dikasur sambil membaca sebuah kertas kucel yang…oh sial, bukankah itu kertas ancaman yang kemarin! Sial!

Aku langsung berlari kearah Ravi oppa dan merebut kertas itu dari genggamanannya. Ah, bagaimana bisa Ravi oppa menemukannya? Aku kan menyimpannya didalam tasku. Aku meremas surat itu dengan gugup dan memandang Ravi oppa yang masih diam sambil menunduk di atas kasurnya.

“Apa itu?” tanya Ravi oppa irih. Oh tidak, apa yang harus kukatakan.

“I-itu…”

“Jawab oppa, apa itu? Surat macam apa itu? Ya ampun, apa ada seseorang yang mengancammu? Yang menyakitimu? Katakan pada oppa!” aku tersentak saat tiba-tiba saja Ravi oppa menatapku sambil melotot dengan mata merah dan wajah merah pula. Tangannya terkepal tepat di samping tubuhnya. Ah eotteokhae? Dia marah!

“Oppa, i-itu…”

“Katakan yang sebenarnya!” potong Ravi oppa dengan mata menyalang marah. Sialan, dia benar-benar marah.

“Ya” ucapku jujur. Aku melihatya terperangah. Matanya membulat, dan rahangnya mengatup. Aku mencoba melanjutkan, berusaha untuk jujur sebisa mungkin.

“Ya, aku diancam seseorang oppa. Aku juga disakiti seseorang. Lenganku ini, aku mendapat luka ini bukan karena jatuh. Tapi karena orang itu berusaha menyakitiku. Aku sudah mengalaminya selama di Jeju oppa.” Aku melihat Ravi oppa mendesis geram, dan seperti mencoba mengontrol emosinya. Aku memandang Ravi oppa putus asa, aku merasa bersalah. Harusnya aku tidak membuatnya marah seperti ini.

“Neo Gwaenchana? Kemarilah. Tidurlah bersama oppa malam ini.” Aku mengangguk, kemudian merangkak naik keatas kasur Ravi oppa. Ravi oppa sendiri sedikit bergeser, memberikan tempatnya untukku. Aku langsung memeluk Ravi oppa sesaat setelah aku berada di sampingnya.

Aku merasakan hembusan nafas Ravi oppa di pucuk kepalaku, dan dia akhirnya balas memelukku, sesekali mengecup puncah kepalaku.

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

-TBC-