Tell me what is love // part 1

Tittle: Tell me what is love

Author: Kim Hwa Yeon

Cast:

Kim Hwayeon | Cho Kyuhyun

Other cast:

Other Sj member | Park Hyera (oc)

Genre: Romance

Length: 1 of ?

Rating: G

note:

oke, ini dia… author persembahkan ff baru. Karena udah tahun baru, jadi ff baru juga keluar deh hehehe. Berhubung find my love udah masuk babak akhir, jadi author post ff baru ini. ditunggu aja oke endingnya find my love. Tapi maaf kalau author agak lama ngepostnya. Lagi males hehe.

Oke udah dulu cuap-cuapnya, dibaca aja. jangan lupa comment.

Paypay ^.~

.

.

.

 

Hwayeon mendesah pelan, merasa lelah karena perkejaannya yang tidak kunjung selesai sedari tadi. Gadis itu kemudian mengernyit saat rasa pening mulai menyerang kepalanya.

Tok tok tok

Hwayeon membenarkan posisi duduknya dalam sekejap, dan merapihkan penampilannya. Ia kemudian menekan sebuah tombol di samping kanannya, dan pintu ruangannya terbuka. Hwayeon membuka mulutnya, hendak menyapa asistennya yang baru saja menerobos masuk ruangannya.

“Kau memiliki rapat bersama dengan para investor tentang resort baru kita yang berada di Jeju sekitar 15 menit lagi, lalu kau akan bertemu dengan perwakilan dari SJ Tv pukul tiga sore, setelah itu kita harus survey Blue Sapphire Hotel pukul lima, dan yang terakhir kau punya janji makan malam dengan keluargamu di Restoran Itali yang biasa kau kunjungi pukul delapan.” Hwayeon mengerjap kemudian menghela nafas lelah.

Park Hyera, asisten yang merangkap sahabatnya itu mendesah prihatin. Tanpa kata, Hyera melangkah mendekati Hwayeon yang sedang memejamkan matanya. Raut kelelahan tampak jelas di wajah Hwayeon, membuat Hyera merasa iba.

“Gwaenchana?” tanya Hyera lembut seraya mengusap lembut kepala Hwayeon.

Hwayeon membuka matanya, menatap memelas pada Hyera, sahabatnya. “Aku lelah eonni.” Keluh Hwayeon pelan. Hyera kembali menghela nafas, ia merasa iba sekaligus khawatir pada sahabatnya yang satu ini. Hwayeon sudah bekerja diperusahaan selama hampir 3 tahun, tapi yeoja itu terlihat semakin kurus dan semakin lemah setiap harinya sejak setahun yang lalu.

Pipi Hwayeon yang awalnya gembul sekarang menjadi tirus, wajahnya yang awalnya cerah sudah berubah menjadi suram. Hyera tau semua itu bukan hanya ditimbulkan karena tuntutan pekerjaan, tapi juga karna sesuatu yang lain. Hyera ingin sekali membantu, tapi sayang ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya itu, walaupun ia ingin.

“Haruskah aku membatalkan seluruh janjimu untuk hari ini?” tawar Hyera berbaik hati. Hwayeon menatap Hyera, tergiur dengan tawaran Hyera. Tapi kemudian wajah Hwayeon berubah sendu, “Aniya, aku akan diamarahi appa jika membatalkan semua janjiku seenaknya. Apa lagi, kau tau sendiri kan bagaimana sulitnya mencocokkan jadwalku dengan perwakilan dari SJ Tv itu.”

Hyera mendesah, “Kau benar.”

Hwayeon tersenyum, “Sudahlah, aku tidak apa-apa eonni. Ah, bukankah kau bilang aku ada rapat sekarang. Lebih baik kau siapkan dokumen-dokumennya, aku akan siap dalam 5 menit.” Hyera mengangguk, lalu berjalan tak yakin ke luar ruangan.

Senyum Hwayeon menghilang seiring dengan menghilangnya tubuh Hyera dari pandangannya. Gadis itu kemudian membuka laci mejanya, mengambil sebuah foto yang menampakkan gambar dirinya versi kecil yang sedang tersenyum lebar bersama dengan seluruh anggota keluarganya.

Hwayeon menyapukan ibu jarinya kearah gambar sosok yeoja paruh baya yang juga tersenyum lebar di samping dirinya versi kecil dengan sangat perlahan. Air mata mulai membayang di pelupuk mata Hwayeon. “Eomma, bogoshipo.” bisiknya lirih.

Tanpa disadarinya, air mata mulai menetes membasahi pipi tirusnya. Hwayeon tersenyum kecut, kemudian mengusap air matanya dengan kasar. “Sudahlah, semuanya akan baik-baik sajakan?” tanya Hwayeon entah pada siapa.

Hwayeon tersenyum, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Disimpannya foto itu kembali ke laci mejanya, kemudian berdiri sembari membenarkan penampilannya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap menuju keluar ruangannya, dan ia disambut oleh tangan Hyera yang terangkat, bersiap mengetuk pintu ruangannya.

“Ah kau sudah siap? Kajja. Kau sudah ditunggu, dan emm… ayahmu juga akan ikut hadir di rapat kali ini.” Ujar Hyera tak yakin. Hwayeon memandang Hyera dengan tatapan kosong, kemudian mengangguk singkat. “Baiklah, kau sudah siapkan seluruh dokumennya?” tanya Hwayeon lagi sambil mulai berjalan kearah lift.

Hyera mengangguk, “Ne, kita akan membahas tentang resort kita yang berada di Jeju, kita mendapat beberapa masalah. Bahan-bahan yang dipakai tidak sesuai dengan perjanjian, harusnya mereka memakai kualitas nomor 1 tapi mereka malah memilih kualitas nomor 3 dan mereka mengatakan kalau dana yang kita berikan kurang. Kurasa pihak kontruksi melakukan penggelapan dana. Maka dari itu direktur utama akan ikut dalam rapat kali ini.” Jelas Hyera disambut kernyitan kening oleh Hwayeon.

Hwayeon diam, tidak menjawab, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam lift. “Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk memantau semuanya disana? Dan juga, aku ingat kalau kita baru saja mengirimkan dana tambahan bulan lalu bukan? Masih kurang? Itu bahkan sudah melebihi dari yang tercantum di surat perjanjian. Dan juga, kenapa bahannya bisa tidak sesuai?” Tukas Hwayeon bingung.

Hyera juga merasa ada yang janggal disini. Pasalnya, baru bulan lalu pihak kontruksi meminta tambahan dana, dan Hyera sudah menyuruh bawahan Hwayeon untuk mengirimkannya, sesuai perintah Hwayeon. Harusnya itu sudah lebih dari cukup, bahkan jika mereka tidak curang dan menurunkan kualitas bahan. Tapi kenapa kurang?

Hyera mengerjap, sesuatu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia menoleh kearah Hwayeon, dan ternyata Hwayeon juga sedang menatapnya dengan seringaian menyeramkan tercetak jelas di bibir Hwayeon.

“Ada yang berusaha bermain-main denganku rupanya.” Ujar Hwayeon dingin. Hyera tersenyum gugup, kemudian berdoa dalam hati. Oh oh, malangnya nasibmu -siapapun dirimu. Salahmu sendiri, kenapa berani-beraninya bermain-main dengan Kim Hwayeon? Siapapun kau, kudoakan supaya Hwayeon tidak terlalu kejam padamu batin Hyera

Lift berhenti, dengan cepat Hwayeon berjalan ke meeting room. Hwayeon membuka pintu ruang meeting, dan suasana ramai yang sedari tadi mendominasi ruangan langsung hilang dalam sekejap. Seluruh peserta rapat langsung duduk dikursinya masing-masing, dan membenarkan penampilan mereka.

Hening

Hwayeon masuk dengan langkah tegas dan percaya diri. Suara gemeletuk high heels dan lantai yang saling berbenturan seketika mendominasi ruang meeting tersebut.

Hwayeon mendudukkan dirinya di tampatnya sendiri, dan memberi isyarat agar rapat segera dimulai. Hyera dengan sigap menyodorkan ipad yang berisi materi rapat dan beberapa dokumen pada Hwayeon.

Rapat dimulai, Hyera berdiri di belakang Hwayeon dengan setia. Gadis itu sesekali membisikkan sesuatu pada Hwayeon yang selalu di balas anggukan oleh Hwayeon. Hwayeon mencoret sesuatu di dokumen yang dibacanya dan menuliskan sesuatu di sana.

Hwayeon kemudian mengangkat tangannya, membuat orang yang menjelaskan presentasinya menghentikan ucapannya dengan segera. Semua peserta rapat seketika memandangi Hwayeon, dan topeng dingin sudah terpasang sempurna di wajah gadis itu.

“Baiklah, aku sudah mendengar semua yang kau presentasikan. Kau hanya mengulang apa yang kutau, sama sekali tidak ada informasi lebih.” Ujar Hwayeon dingin. Namja yang memimpin rapat tadi menegang, “Mi-mianhae sajangnim.” Cicit namja itu takut.

Hwayeon mengangguk, “Yasudah, presentasimu sudah cukup bagus. Aku menghargainya. Sekarang kembali ketempatmu.” ujar Hwayeon acuh. Namja yang memimpin rapat tadi kembali ke tempatnya dengan segera.

“Baiklah, seperti yang kalian tau. Resort kita mendapati beberapa hambatan. Yang pertama, bahan tidak sesuai, dan yang kedua dana kurang mencukupi.” Hwayeon memutus ucapannya, dan menebarkan pandangannya ke seluruh peserta rapat. Beberapa orang mengangguk menyetujui ucapan Hwayeon, beberapa orang mengernyit tidak suka, dan satu orang terlihat gelisah.

Hwayeon menyeringai, Gotcha! Batin Hwayeon.

“Hanya ada 2 pilihan. Pihak kita yang menggelapkan dana, atau pihak kontruksi.” Hwayeon menyeringai saat melihat namja yang sedari tadi diperhatikannya tersentak. Hwayeon menyantaikan duduknya, dan memandang Min Jun Jae –namja yang sedari tadi ia perhatikan- dengan tajam.

“Nah, bagaimana menurutmu Min Jun Jae-ssi? Apa menurutmu pihak kontruksi yang menggelapkan dana? Atau ada seseorang dari pihak kita yang mencoba bermain-main denganku?” tanya Hwayeon sakratik. Jun Jae yang merasa disebut namanya langsung tersentak kaget. Seluruh peserta rapat memandang Jung Jae dengan tajam, meminta jawaban. “N-ne? a-ah, kurasa pi-pihak kontruksi yang m-menggelapkan dana. Y-ya, kurasa mereka yang menggelapkan dana.” Keringat mulai bercucuran di wajah Jung Jae, padahal udara di meeting room tersebut sangat dingin.

Hwayeon tidak berkomentar, hanya menatap Jun Jae sambil melotot garang. Hwayeon menengadahkan tangannya tanpa melepas pandangannya dari Junjae. Hyera dengan segera menyerahkan ipad yang dipegangnya ke tangan Hwayeon.

Hwayeon berdehem, “Baiklah kalau itu jawabanmu.” Min Jun Jae tanpa sadar mendesah lega, membuat seringaian Hwayeon semakin bertambah lebar dan Hyera menatapnya iba.

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan padaku. Bagaimana mungkin tabunganmu bertambah beberapa milyar dalam 1 hari? Ah, kebetulan itu terjadi di hari yang sama saat aku memintamu untuk mengirimkan dana tambahan ke Jeju. Hmm… membeli mobil keluaran terbaru dari luar negeri untuk setiap anakmu, memberi apartemen mewah untuk setiap anakmu, well, bukankah anakmu ada 5? Bukankah itu sedikit terlalu banyak untukmu? Aku yakin gajimu tidak sebesar itu.” Tandas Hwayeon pura-pura polos.

Skak Matt batin Hyera iba.

Jun Jae terdiam ditempatnya, menunduk. Seluruh mata memandang tajam kearahnya. Hwayeon tersenyum puas, “Baiklah, kurasa kita sudah menemukan biang keroknya. Kurasa, aku sendiri yang harus turun tangan untuk proyek ini karena ini adalah proyek gabungan terbesar kita. Aku benar-benar akan sangat sangat sangat sangat sangat marah kalau kejadian ini sampai terulang lagi. Dan aku akan sangat sangat saangat sangat sangat menyeramkan jika aku marah.” Ujar Hwayeon penuh penekanan dengan seringaiannya.

“Rapat selesai.” Putus Hwayeon. Hwayeon berdiri, kemudian berjalan keluar. Namun tepat di depan pintu, ia berbalik, hampir membuat Hyera menabraknya. “Ah, dan satu lagi. Min Jun Jae-ssi, anda saya pecat.” Tukas Hwayeon santai, kemudian keluar dari ruangan rapat. Meninggalkan para peserta rapat yang memandangnya kagum, sekaligus ngeri.

Kim Young Woon, sang direktur utama yang merangkap appa Hwayeon hanya diam, memandang punggung anak gadisnya yang menghilang dibalik pintu. Kim Young Woon, namja yang biasa dipanggil Kangin itu kemudian menghela nafas. Jin Hee-ya, apa yang harus kulakukan pada anak kita? Kenapa kau meninggalkan kami secepat ini? Lihatlah anakmu, dia membutuhkanmu sayang batin Kangin sedih.

Kangin menghembuskan nafasnya, “aku yakin anak keras kepala itu akan menolak mentah-mentah permintaanku nanti malam.” Ujar Kangin lirih. Eotteokhae Jin Hee-ya?

 

….

 

Hwayeon menatap high heels yang dipajang di etalase dengan penuh minat. Hyera yang sedari tadi berada di sampingnya tertawa kecil melihat binar-binar di mata Hwayeon. “Eonni, bagaimana menurutmu sepatu itu? Bukankah itu sangat indah?” tanya Hwayeon sambil berdecak kagum.

Hyera mengangguk membenarkan sambil tersenyum, “Ne, sepatu itu memang indah.”

Hwayeon menoleh kearah Hyera kemudian bertepuk tangan kecil, “Ayo, aku mau membelinya hehehe.” Hyera pasrah saja saat Hwayeon menyeretnya masuk ke toko yang berada di depan mereka itu untuk membeli sepatu yang Hwayeon maksud.

Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam Pusat perbelanjaan Seoul. Setelah mensurvey Blue Sapphire hotel, mereka memutuskan untuk membuang penat dengan berbelanja. Mereka punya waktu lebih untuk berbelanja karna tadi pihak dari SJ Tv itu membatalkan janji mereka tiba-tiba.

Hwayeon tertawa girang saat sudah mendapatkan sepatu yang diingankannya tadi. Hwayeon sendiri membeli 2 pasang high heels, sebuah tas tangan, 2 gaun pesta, 3 gaun tidur, 1 buah lingerie entah buat apa. Sedangkan Hyera membeli sepasang high heels, sebuah tas tangan, 3 gaun pesta, 2 gaun tidur, bedanya Hyera tidak membeli lingerie seperti Hwayeon.

“Yah buat apa kau membeli lingerie seperti itu? Kau bahkan tidak punya pacar.” Ejek Hyera sambil tertawa geli. Hwayeon mendengus kemudian memanyunkan bibirnya, “biar saja, aku hanya iseng kok. Lagipula, kenapa kau tidak beli sekalian? Kau juga jomblo kan, jadi jangan mengejekku! Cih!”

Kali ini gantian Hyera yang mendengus, “Ya! Aku ini single bukan jomblo! Memangnya dirimu? Ditinggal ke pelaminan? Menyedihkan!” cibir Hyera sambil terkikik.

Hwayeon melotot, “Yak! Kenapa eonni membahas itu lagi! Itu bahkan sudah 5 tahun yang lalu, yang benar saja.” Hwayeon mencebik. Gadis itu kemudian menghentak-hentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. Hyera tertawa keras saat melihat Hwayeon yang merajuk.

Hwayeon semakin mengeruhkan wajahnya saat tawa Hyera tidak kunjung berhenti, malah semakin lama semakin keras. Sampai-sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Ish, dasar eonni bodoh.” Maki Hwayeon tepat didepan wajah Hyera yang masih sibuk tertawa, lalu angkat kaki dari tempat itu.

Hwayeon berjalan cepat sambil menghentak-hentakkan kakinya tanpa melihat jalan.

Duk!

“Omo!” Hwayeon jatuh tersungkur dengan tidak elitnya saat ia menabrak seorang namja. “Appo.” Ringis Hwayeon sambil mengelus jidatnya yang sukses mencium lantai dengan keras.

“Tidak! PSP-KU! Yak! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat hasil perbuatanmu! PSPku rusak!” Hwayeon mendengus saat mendengar makian orang di depannya. Hwayeon bangkit berdiri sambil meringis menahan pusing. “Ya! Orang tolol juga tau kalau jalan itu pake kaki bukan pake mata! Lagipula kau juga tidak melihat jalan kan? Kenapa aku yang disalahkan? Kau sendiri juga salah!” bentak Hwayeon balik.

Namja itu melongo, kemudian melotot sambil mendesis geram. “Yak! Jadi kau menyalahkanku begitu?!”

“Apa aku bilang begitu?!” tanya Hwayeon balik sambil balas melotot.

“Tapi maksud kata-katamu begitu!”

“Itu perasaanmu saja!”

“Yah! Yeoja bar-bar! Kau berani padaku?!”

“Kenapa aku harus takut padamu? Dasar ahjussi bodoh!”

“Mwo?!” Namja itu melotot, matanya seakan bersiap keluar dari tempatnya. Bukannya takut, Hwayeon malah balas melotot, sama sekali tidak merasa gentar dengan namja yang didepannya.

Hyera yang baru menyusul Hwayeon langsung melongo melihat debat mulut antara Hwayeon dan namja yang ditabraknya.

“Yah! Kau benar-benar tidak takut ya?! Kau tidak tau siapa aku?!” tuding namja itu marah. Hwayeon berdecak malas, membuat namja itu semakin marah.

“Memangnya kau siapa? Artis? Pejabat? Apa peduliku? Memangnya kau siapa?!”

“MWOYA! AKU CHO KYUHYUN KAU TAU?!”

“AKU KIM HWAYEON, JADI APA?! MEMANGNYA AKU PEDULI? DASAR AHJUSSI! SOK TENAR!”

“YAK!”

“MWO!”

“CUKUUUUUUUUUUUUPP!!!!!!!” Hwayeon dan namja yang mengaku bernama Cho Kyuhyun itu kemudian menatap kaget pada Hyera yang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kau Kim Hwayeon! Cepat minta maaf!” Hwayeon melotot tak terima. “Shireo!”

Hyera melotot, Hwayeon juga melotot, Kyuhyunpun melotot. Akhirnya Hwayeon mengalah, “Mianhae.” Ujarnya ketus. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, Hyera sendiri mendengus kemudian tersenyum meminta maaf pada Kyuhyun.

“Maafkan adikku, dia memang kadang kekanakan. Tolong beritahu cara menghubungimu, biar kami bisa menganggti barangmu yang rusak.” Mohon Hyera sopan.

Hwayeon mendelik, sama sekali tidak suka dengan apa yang Hyera katakan. Baru ia membuka mulutnya untuk membantah, Hyera kembali melotot padanya. Hwayeon kemudian mengatupkan mulutnya kembali dan mendengus.

Kyuhyun merogoh saku nya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu nama dari sana. “Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku untuk menggantikan PSPku yang dirusak adikmu itu. Kau yakin bisa menggantinya? Itu limited edision, dan itu tidak murah.” Ucap Kyuhyun tak yakin.

Hwayeon yang mendengarnya otomatis mendelik. “Yah! Kami bukan orang miskin dasar ahjussi sombong yang sok tenar!” bentak Hwayeon penuh amarah.Kyuhyun hanya mengangkat alisnya dan dengan bijak mengabaikan Hwayeon.

Hyera buru-buru mengambil kartu nama yang di sodorkan Kyuhyun dan mengopernya ke Hwayeon yang diterima Hwayeon dengan ogah-ogahan. “Ne, sekali lagi maafkan kelakuan adikku. Kami permisi dulu. Kajja.”Hyera menunduk, memberi salam pada Kyuhyun. Hyera juga memaksa Hwayeon memberi salam yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Kyuhyun memandang Hwayeon dan Hyera yang menjauh dengan pandangan berminat. Namja itu kemudian terkekeh saat melihat Hwayeon menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saat diseret dengan tidak berperi kemanusiaan oleh Hyera.

“Gadis gila.” Gumam Kyuhyun sambil mendengus geli. Pandangan Kyuhyun kemudian tertuju pada sebuah gelang yang tergeletak di lantai. Kyuhyun dengan ragu mengambilnya, kemudian memperhatikannya. Ornamen-ornamen di gelang tersebut membentuk sebuah kata.

Kim Hwayeon

“Jadi ini miliknya? Well, baiklah. Kurasa kita akan segera bertemu kembali Kim Hwayeon-ssi. .”gumam Kyuhyun lirih sambil menyeringai. Entah apa yang dipikirkan oleh namja itu.

 

……

 

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena telinganya terus menerus menangkap kikikan Hyera disampingnya. Sejak mereka meninggalkan mall 10 menit yang lalu, Hyera tidak henti-hentinya menertawakan Hwayeon.

“Oh ya ampun.. astaga-ahahahahaha Ya Tuhan, kau tidak lihat tadi bagaimana wujudmu saat bertengkar dengan namja tampan tadi. Menggelikan sekali hahahahaha. Demi apa, kemana Kim Hwayeon yang selalu ditakuti orang-orang eoh? Ahahaha, jinjja. Itu tadi sungguh menggelikan.” Hwayeon mendengus, gadis itu melirik Hyera dari sudut matanya kemudian menggeram tak terima.

Eonni bodoh itu! Maki Hwayeon dalam hati.

Hyera melirik Hwayeon yang merajuk di sampingnya sambil tersenyum geli. “Hei, tidak usah merajuk seperti itu. Aku hanya bercanda.”

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan eonni. Sudahlah, ini sudah jam 8 lewat, kita pasti sudah dittunggu oleh appa.” Hyera menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan Hwayeon.

Hwayeon seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang yeoja itu bisa menjadi sosok yang begitu menggemaskan, manja, dan egois. Tapi disisi lain, yeoja itu juga bisa menjadi sosok yang begitu berwibawa, bertanggung jawab, mandiri, dan penuh percaya diri.

Seperti saat dikantor misalnya, siapa yang tidak segan dengan Kim Hwayeon? Tidak ada! Yah, mungkin Hyera dan sang appa tidak masuk hitungan. Hwayeon bisa menjadi sangat dictator jika sudah menyangkut pekerjaan, dan kadang bisa membuat Hyera kelimpungan sendiri. Tapi berbeda jika Hwayeon sudah berada bersama sahabat-sahabatnya, atau oppanya, ia bisa menjadi sangat manja.

Hanya segelintir orang yang mengetahui bagaimana sifat Hwayeong yang ‘sebenarnya’. Hyera salah satunya.

“Nah, sudah sampai. Kajja.” Hyera dan Hwayeon kemudian melepas seat belt mereka, dan beranjak keluar dari dalam mobil dengan sedikit terburu-buru.

Hyera berjalan mendahului Hwayeon. Sedangkan Hwayeon sendiri hanya diam mengikuti Hyera dari belakang sembari sibuk membenarkan penampilannya yang sedikit acak-acakan.

Hyera membimbing Hwayeon masuk ke dalam ruang privat di restoran tersebut.

“Oppa!” pekik Hwayeon riang sesasat setelah mereka melangkah masuk kedalam ruangan. 3 orang namja yang berada di ruangan tersebut sontak mengalihkan pandangan mereka pada Hwayeon, dan senyuman otomatis tersemat di masing-masing bibir mereka.

Heechul berdiri, mengampiri Hwayeon dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. “Aiish, bogoshipo chagiya. Kau semakin kurus saja eoh? Apa kau tidak makan dengan benar eum? Apa pekerjaanmu membebanimu? Apa kau tersiksa?” Hwayeon terkekeh saat mendengar Heechul yang memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Anniya oppa, aku tidak terbebani dengan pekerjaanku. Aku mulai menyukainya. Dan masalah makan, aku hanya tidak nafsu saja oppa. Lagi pula, dulu oppa kan bilang aku gendut ish! Sekarang aku sudah kurus, kenapa oppa masih protes, dasar.” Cibir Hwayeon.

Heechul tergelak, “Terserahmu sajalah. Yasudah, kajja. Tak biasanya kau terlambat, kami sudah menunggumu dari tadi.” Hwayeon hanya menurut saat Heechul membimbingnya untuk duduk di sebelahnya. Hyera yang sedari tadi berdiri pun akhirnya ikut duduk di samping Kibum yang sedari tadi diam sambil membaca sebuah modul.

Suasana canggung seketika menyelimuti ruangan. Hwayeon melirik sang ayah yang sedari tadi hanya memandanginya dengan ragu. “A-annyeong ap-pa.”

Heechul yang mengamati interaksi antara ayah dan anak itu akhirnya jadi keki sendiri. Suasana ini lebih menyeremkan daripada kuburan batinnya sebal.

“Annyeong. Baiklah, karena semuanya sudah lengkap. Kita bisa makan sekarang.” Ujar Kangin sambil memberi kode pada pelayan yang berada di sudut ruangan. Kibum hanya mengangguk tak peduli kemudian sibuk kembali dengan modulnya, sedangkan Hwayeon mulai sibuk dengan ponselnya. Heechul berdecak malas, sebenarnya suasana seperti ini sudah tidak asing lagi untuknya semenjak kematian sang eomma. Hanya saja, ia sekarang merindukan Hwayeon yang dulu.

Hwayeon yang dulu tidak akan tahan dengan suasana hening seperti ini. Ada saja tingkah gadis itu agar membuat suasana ramai dan menyenangkan. Entah itu celotehan riangnya, atau pekikkan senangnya, atau gerutuannya. Tapi semuanya sudah menghilang, lenyap, sejak eomma pergi meninggalkan mereka 1 tahun yang lalu.

Kangin berdehem, sedikit risih dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Namja itu melirik anak gadisnya, merasa kecewa saat melihat gadis itu malah sibuk dengan ponselnya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan perwakilan dari SJ Tv tadi Hwayeon-ah?” tanya Kangin membuka percakapan.

Hwayeon yang merasa terpanggil kemudian meletakkan ponselnya diatas meja, dan memandang sang appa. “Euumm, mereka membatalkan janji temu kami tadi.” Jawab Hwayeon tak yakin.

Kangin mengerutkan keningnya, merasa tak puas dengan jawaban Hwayeon. Tapi kemudian namja itu menghela nafas, mengerti. “Baiklah, jadwalkan ulang janji temu kalian. Lalu, apa yang kau lakukan dengan Min Jun Jae?”

Hwayeon tanpa sadar mengerucutkan bibirnya saat mengingat kejadian menyebalkan dikantor tadi siang. “Aku memecatnya, tentu saja. Aku tabungan dan aset miliknya. Yah, berkat Hyera eonni, aku menyisakan sedikit tabungannya, dan beberapa asetnya. Hanya saja, cih, jangan harap dia bisa menunjukkan wajahnya lagi di hadapanku. Aku jamin dia akan sulit mendapatkan pekerjaan setelah ini.” Jelas Hwayeon panjang lebar sambil berdecih.

Kangin hanya mengangguk, sedikit ragu, tapi selebihnya ia percaya dengan Hwayeon.

“Baiklah, terserahmu saja. Aku yakin kau tau keputusan yang paling tepat.” Hwayeon mengangguk antusias, merasa senang saat mendapat kepercayaan dari Kangin. Heechul disisi lain mendengus tak terima, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kangin dan Hwayeon.

“Min Jun Jae? Nugu?” tanya Heechul langsung.

“Orang.” Jawab Hwayeon santai. Heechul mendesis, “tentu saja orang! Aku juga tau itu!”

Hwayeon mengerjap, “Nah, kalau oppa sudah tau, buat apa bertanya? Dasar pabbo.” Ledek Hwayeon sambil terkikik. Kibum, Kangin, dan Hyera yang mendengarnya menahan senyum. Sedangkan Heechul sendiri malah melongo seperti orang bodoh, “aish, terserahmulah.”

Tawa mereka akhirnya pecah, membiarkan Heechul yang tersenyum kecut.

Suara ketukan pintu menginterupsi mereka. Beberapa orang yang mengenakan seragam pelayan berjalan masuk, menghidangkan makan malam mereka dengan rapih di atas meja. ‘Gomawo’ gumam Hwayeon pelan.

Kali ini suasana ruangan tersebut tidak lagi hening. Dentingan sendok dan piring sesekali terdengar diantara obrolan mereka. Hyera dan Kibum yang sedari tadi diam pun ikut terlibat percakapan kecil.

Hanya Hwayeon yang makan dalam diam, Kangin yang memang sejak awal memperhatikan Hwayeon akhirnya menghela nafas. “Hwayeon-ah.” Panggil Kangin lembut. Hwayeon hanya bergumam kecil menanggapi panggilan Kangin.

Semuanya diam, menatap Kangin dengan pandangan bertanya. “Sebenarnya, appa mengajak kalian semua berkumpul untuk makan malam hari ini karena appa ingin menyampaikan sesuatu.” Perhatian Hwayeon kini sepenuhnya sudah teralih pada Kangin.

Kangin meletakkan sendok garpu yang dipegangnya, dan beralih meremas kedua tangannya. “Ini sebenarnya permintaan mendiang ibumu, dia… dia menginginkanmu untuk segera menikah dan berumah tangga.”

“Uhuk-uhuk” Hwayeon tersedak, dengan panik ia mengambil gelas yang berada di tangan Heechul dan meneguknya rakus. Hwayeon kemudian bernyengit saat rasa pahit menjalari kerongkongannya. Kibum dengan santai mengulurkan gelas berisi air putih pada Hwayeon, dan Hwayeon menandaskannya dalam sekejap.

“Mwo? Tapi aku masih muda appa.” Sangkal Hwayeon tak terima, “Lagipula aku tidak memiliki kekasih” lanjutnya.

“Appa tau, hanya saja. Umurmu sudah 25 tahun, kau sudah cukup umur untuk menikah. Lagipula, appa tidak mau kau bernasib seperti para oppamu. Sudah tua, tidak ada pikiran untuk menikah sama sekali. Cih.” Heechul dan Kibum yang merasa tersindir melayangkan tatapan protes pada Kangin, yang tentu saja diabaikan oleh namja paruh baya tersebut.

Hwayeon mengerucutkan bibirnya, “Jadi aku harus bagaimana? Aku belum punya calon.” Tukasnya santai.

Kangin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kaku, “Itu… sebenarnya appa sudah menyiapkan calon untukmu. Hmmm, ini kesepakatan ibumu dengan sahabatnya sebenarnya. Jadi kau tidak perlu khawatir masalah calon.”

Hwayeon diam.

Gadis itu berusaha menyerap perkataan Kangin. “Tunggu dulu, apa appa sedang mengatakan padaku kalau aku sekarang dijodohkan?” pekik Hwayeon kaget, marah.

“Y-ya, itu keinginan eommamu, appa tidak bisa menolak. Kau mau kan?” tanya Kangin penuh harap.

“SHIREO!!!” pekik Hwayeon kesal sambil menggebrak meja, membuat Heechul disebelahnya mengutuk karena kaget.

Kangin menghela nafas, sama sekali tidak kaget dengan reaksi Hwayeon. “Appa tau kau tidak menyukainya, Tapi… appa mohon, demi eommamu. Eommamu tidak mungkin sembarangan menjodohkanmu, appa yakin eomma tau pasti seleramu. Eomma hanya ingin yang terbaik untukmu, begitu juga appa. Karena itu, setidaknya kau harus bertemu dengan calonmu. Jika seiring berjalannya waktu, dan kau masih merasa tidak cocok. Appa akan mengerti, appa tidak akan memaksakan perjodohan ini. Hanya saja, cobalah terlebih dulu. Demi eomma, nak.”

Hwayeon kembali terdiam. Semua mata kini tertuju pada Hwayeon yang diam dengan pandangan kosong. Kibum dan Heechul saling berpandangan dalam diam. “Dengar Hwayeon-ah, jika kau memang tidak mau, tidak apa. Oppa yakin appa akan mengerti, begitu juga dengan eomma. Kau tidak perlu melakukan semuanya dengan terpaksa. Kalau kau memang tid-“

“Baiklah.” Potong Hwayeon. Heechul memandang Hwayeon ragu. Sekali lagi, namja itu melirik Kibum yang juga sudah meliriknya. Saat Kibum mengangguk padanya, akhirnya Heechul menyerah.

Kangin yang mendengar jawaban Hwayeon tersenyum lega. Appa dan eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Hwayeon-ah batin Kangin sedikit sedih.

Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang, melanjutkan percakapan mereka tanpa menyinggung Hwayeon sedikitpun. Kibum menatap Hwayeon tajam, menelisik kedalaman mata sang adik. Merasa iba dengan adik kesayangannya itu.

Apa seberat itu bebanmu saeng? Kenapa kau tidak pernah mau berbagi pada kami eoh?Kami keluargamu. Kenapa kau selalu menyimpan bebanmu seorang diri? Apa kami tidak ada artinya bagimu? Ujar Kibum dalam hati.

.

Hwayeon menatap laporan dihadapannya dengan pandangan tidak berminat. Ingin rasanya gadis itu kabur dari segala urusan kantor yang membelenggunya, dan melakukan kegiatan yang ia sukai. Tapi sayangnya ia tidak bisa.

Kehidupannya yang sekarang, bukanlah kehidupan yang ia impikan. Tidak pernah terbesit dipikirannya kalau pada akhirnya ia akan menjalani pekerjaannya yang sekarang. Tidak pernah sama sekali.

Ia harus menjalani ini semua, membuang seluruh impiannya jauh-jauh kedasar demi membahagiakan kedua oppanya. Mereka hanya 3 bersaudara. Jika Heechul dan Kibum menolak mentah-mentah untuk meneruskan perusahaan appa, otomatis dialah yang akan meneruskannya.

Harusnya, kursi yang sekarang ia pakai ini menjadi kursi Heechul. Tapi Heechul dengan tegas menolak untuk mendudukinya, namja itu lebih memilih untuk menjadi seorang desaigner perhiasan. Begitupula dengan Kibum, namja itupun sama tegasnya dalam hal menolak menduduki kursi jabatan yang seharusnya menjadi milik Heechul, dan lebih memilih untuk berkecimpung di dunia medis.

Hwayeon sama sekali tidak membenci kedua oppanya. Hwayeon tau, kedua oppanya itu sama seperti dirinya. Tidak suka dikekang, mereka semua memiliki jiwa yang liar dan bebas.

Karena itu, Hwayeon bisa mengerti. Karena itu, Hwayeon rela memasrahkan dirinya untuk menjalani tugasnya sekarang. Gadis itu tidak perduli jika ia merasa tidak bahagia, tidak masalah, asalkan kedua oppanya bisa bebas. Asalkan kedua oppanya bisa bahagia.

Sudah 3 tahun Hwayeon melepas seluruh angan-angannya, memendamnya dalam-dalam, jauh ke dasar. Demi oppanya, orang yang begitu berharga dihidupnya. Tapi rasanya sulit sekali menjalani hari-harinya.

Apa lagi sejak saat itu… sehari terasa seperti seabad. Terasa begitu menyiksa, begitu menyakitkan.

Tok tok tok

Hwayeon tersadar dari lamunannya, dengan cepat gadis itu menekan sebuah tombol disamping kanannya, mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.

Hyera muncul dari balik pintu dengan ragu. Hwayeon yang melihat tingkah ragu-ragu Hyera, sontak bertanya. “Waeyo eonni? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Hwayeon khawatir.

Hyera menatap Hwayeon intens, membuat Hwayeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan Hyera. Hyera akhirnya menghela nafas, “Perwakilan dari Cho corp sudah datang.” Hwayeon mengangguk singkat, kemudian keningnya mengernyit. “Cho corp? Ah, kerja sama resort di Jeju?” Hyera mengangguk kaku.

“Baiklah, persilahkan mereka masuk ke ruanganku.” Hyera tetap diam, memandang Hwayeon dengan ragu.

Hwayeon yang mendapati Hyera masih diam di hadapannya menatap Hyera balik dengan pandangan bertanya. Cukup lama mereka berpandangan, akhirnya Hyera mengalah. Hyera keluar dari ruangan Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ada apa dengannya?” gumam Hwayeon bingung.

Hwayeon menggendikkan bahunya, kemudian beralih membersihkan mejanya dari tumpukan-tumpukan dokumen yang berserakan.

“Silahkan masuk, anda sudah ditunggu.” Terdengar suara Hyera dari luar ruangan.

“Terimakasih.” Balas seorang namja.

Hwayeon sontak mengangkat kepalanya saat sebuah sapaan terdengar di gendang telinganya. “Silahkan du-“ Hwayeon melotot saat matanya menangkap sosok namja yang sekarang berdiri di depan pintu ruangannya dengan sebuah seringaian di bibirnya.

“KAU!!! Sedang apa kau disini?!” pekik Hwayeon kaget. Kyuhyun yang tadi berdiri di depan into ruangan Hwayeon kemudian tersenyum manis- atau lebih tepatnya menyeringai sok manis- lalu melenggang masuk ruangan Hwayeon dengan santai, membuat Hwayeon mendelik padanya.

“Yaa! Siapa yang menyuruhnya masuk!” bentak Hwayeon kesal. Kyuhyun terkekeh dibuatnya, “asistenmu yng menyuruhku masuk tadi.” Balas Kyuhyun santai sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa berbentuk L di ruangan Hwayeon tersebut.

“Jadi kau- aish!” Kyuhyun terkekeh saat umpatan Hwayeon menyapa gendang telingnya. Dengan kasar Hwayeon mendudukkan dirinya di sofa lain di samping Kyuhyun dengan kasar.

“Jadi kita akan membicarakan kerjasama kita sekarang?” tanya Hwayeon malas, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Kyuhyun yang melihat tingkah menggemaskan Hwayeon hanya tersenyum kecil.

“Ani, kita tidak membahas pekerjaan sekarang. Aku hanya disuruh datang ke sini oleh appamu, Orangtuaku masih berada di ruangan Kangin appa. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul ke sini. Kita akan membicarakan pertunangan kita” Hwayeon terdiam, mencoba mencerna ucapan Kyuhyun dengan baik.

Orang tua? Kangin appa? Menyusul? Pertunangan? Hwayeon mengerjap, “Tunggu dulu, jangan bilang ka-“

“Yuhuuuuu, calon menantuku annyeong!!! Omo!! Kau cantik sekali, manis pula aiigoo, kau seperti duplikat Jin Hee. Ah, kau sudah bertemu anakku? Bagaimana? Kau menyukainya kan? Jadi kapan kalian mau menikah? Omo omo, aku ingin segera menimang cucu.”

 

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s