Archive | July 2015

I’m in Love [Date] // Part 3

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon (Super Junior) a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo (Super Junior) a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng (Super Junior) a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul (Super Junior) a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)
  • Bae Suzy (Miss A)

I'm in Love

Warning:

Typo bertebaran teman-teman, berhati-hatilah hehehe

Note:

Aloha, maap author lama ga muncul. Lagi repot pindahan kemarin-kemarin, jadi ga sempet bikin ff untuk kalian deh. Maap ya *bow* . Nah, jadi sekarang author kasih lanjutannya I’m in love, ini dia part 3 nya. Maaf kalau pendek dan kurang menarik. Tapi jangan salahkan author kalau ceritanya tidak akan seperti yang kalian pikirkan kkkkkk *smirk*.

Oke, cukup basa basinya. Silahkan dinikmati. Jangan lupa tinggalkan comment, author tunggu. Semakin banyak respon, semakin cepet ff ini bakalan author update. Oce?

Ah, 1 lagi.. ada cast baru muncul di part ini, dan Kyuhyun tidak muncul di sini ^^

Pai pai~!

Terimakasih ^^

***

 

I’m in Love Part 3

Date

Hwayeon berjalan tergesa-gesa ke café yang dimaksud Leeteuk. Jarak rumah mereka dengan café yang Leeteuk maksud tidaklah jauh, maka dari itu Hwayeon lebih memilih untuk berjalan kaki, lagi pula… Jika sekarang ia ingin kencan, untuk apa membawa mobil? Ia yakin pihak namja itu pasti akan membawa mobil. Kalau tidak yaaaaa, yasudahlah. Masih ada kendaraan umum ini.

Kriiing

Hwayeon melangkah masuk ke dalam café itu dan memilih tempat yang berada di ujung, disebelah kaca. Hwayeon kemudian mendudukkan dirinya disana. Seorang pelan datang menghampirinya. “Mau pesan apa agasshi?” tanya pelayan itu sopan.

Hwayeon menatapnya lalu tersenyum sopan pula. “Vanila lattenya 1. Gomawo.” Ujar Hwayeon ramah. Pelayan itu tersenyum sejenak lalu membalikkan dirinya.

Kriiing

Perhatian Hwayeon teralih saat mendengr suara bel yang menandakan ada orang lain yang masuk ke dalam café. Hwayeon menunggu dengan tegang ditempatnya. Kira-kira seperti apa teman kencannya sekarang? Baikkah? Tampankah? Seperti yang eommanya bilang semalam?

Kebetulan Hwayeon memilih kursi yang membelakangi pintu masuk, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang datang. Sampai tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.

Hwayeon menoleh dengan gugup, dan apa yang kini tengah ia hadapi sungguh membuatnya bingung dan merasa sedikit mengganjal.

“Oppa?” sapa Hwayeon bingung. Orang yang tadi menyentuh pundak Hwayeon sepertinya juga terkejut.

“Omo! Bukankah kau Kim Hwayeon? Adik dari Yesung hyung?” ujar pria itu dengan nada ramah. Seulas senyum juga mulai tampak menghiasi bibir pria itu.

“Ne, benar.” Jawab Hwayeon sambil tersenyum tak kalah ramah.

“Ah aku yang akan menjadi teman kencanmu hari ini jika kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Kibum oppa…” ujar Hwayeon lembut. Hwayeon mempersilahkan Kibum untuk duduk dihadapannya. Mereka berdua terdiam sambil menyelami mata masing-masing.

Kibum tersenyum simpul, ia memperbaiki duduknya dan memandang Hwayeon intens, “Aku tidak tau kalau kibum oppa anak dari Heechul ahjumma.” Ujar Hwayeon memecah keheningan ditengah tengah mereka.

Kibum terkekeh pelan, kemudian menggaruk tengkuknya canggung. “Aku memang bukan anak mereka Hwayeon-ah.” Jawab Kibum sambil tersenyum maklum. Hwayeon merengut bingung. “Tapi kata eomma aku berkencan dengan anaknya Heechul ahjumma. Tidak mungkin kan eomma berbohong?” tanya Hwayeon lebih kepada dirinya sendiri.

Kibum kembali terkekeh saat melihat wajah menggemaskan Hwayeon yang berada di hadapanya. Hwayeon merengut saat lagi-lagi pendengarannya menangkap suara kekehan Kibum. “Itu… Anak mereka adalah sahabat oppa, ia berhalangan hadir… maka dari itu oppa disuruh untuk menggantikannya. Kau tidak keberatan bukan?”

Hwayeon menggeleng polos sambil mengerjapkan matanya. “Tentu saja tidak. Lagi pula Kibum oppa tampan kok. Hehehehe… Tapi, kalau boleh tau, siapa anak Heechul ahjumma sebenarnya?”

Kibum mengangkat salah satu sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah seringaian yang entah kenapa malah membuat Hwayeon merona sendiri. “Kau akan tau nanti… Kurasa, Heechul ahjumma tidak akan diam saja saat tau anaknya tidak datang untuk berkencan denganmu hari ini. Mungkin Heechul ahjumma akan segera menjadwal ulang acara kencanmu dengan anaknya…” jawab Kibum sambil tersenyum miring.

Hwayeon kembali merengut saat jawaban Kibum malah semakin membangkitkan jiwa penasarannya. “A-“

“Ini pesanannya, selamat menikmati.” Ucapan Hwayeon terhenti saat seorang pelayan datang untuk mengantarkan pesanannya dan… pesanan kibum mungkin?

Hwayeon memandang pelayan yang sibuk menata hidangan dengan bingung. “Aaah, chogiyo, bukankah aku hanya memesan segelas vanilla latte ya?” tanya Hwayeon bingung.

Lagi!!!

Kibum kembali terkekeh. Lama-lama Hwayeon merasa kalau kekehan Kibum terdengar sangat menyebalkan ditelinganya, kenapa? Tentu saja karena hanya mendengar kekehan Kibum saja Hwayeon malah merona sendiri. Hwayeon mendelik sebal kearah Kibum, membuat kekehan Kibum menjadi semakin parah. “Aish!” gumam Hwayeon sebal, gadis itu kemudian menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalari pipinya.

Kibum tersenyum pada pelayan yang memandang Hwayeon bingung, lalu mengusirnya lembut lewat isyarat tangannya. “Itu aku yang memesan tadi sebelum aku menghampirimu. Kita akan berkencan, jadi lebih baik kalau perutmu terisi penuh kan?” Hwayeon mengangguk malas, lalu mulai menikmati hidangan yang ada didepannya. Kibum memesankan pasta untuk mereka berdua, dan segelas capucino untuk dirinya sendiri.

Mereka berdua menikmati makannya dalam diam. Tidak ada percakapan yang terjalin diantara mereka. Kibum menyelesaikan makannya lebih dulu. Kibum hanya menghabiskan waktunya menunggu Hwayeon selesai makan dengan memandangi gadis itu.

Ada setitik rasa kagum di dalam hatinya saat melihat Hwayeon. Entah kenapa, Kibum merasa ada sesuatu tentang Hwayeon yang harus ia pecahkan… entah apa itu…

“Hwayeon-ah…” panggil Kibum lembut.

“Ne?”

“Sudah selesai?” Hwayeon mengangguk singkat sebagai jawaban. Kibum bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya kearah Hwayeon. Hwayeon menyambut uluran tangan Kibum lalu ikut bangkit berdiri.

Kibum membimbing Hwayeon keluar café setelah namja itu membayar makanan mereka. Hwayeon berdecak kagum saat ia sebuah mobil audi R-8 terparkir manis di hadapannya. Mobil itu berwarna silver metalik, dengan bodynya mulus yang membuat Hwayeon terpana.

Hwayeon sebenarnya bukanlah seorang penggila mobil, ia bahkan tidak mengerti apapun tentang dunia otomotif seperti itu, hanya saja… Ia sangat menginginkan mobil itu. Ia sudah menyukainya sejak mobil itu pertama kali diluncurkan. Sebut saja, ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada mobil itu.

Hwayeon menyaksikan Kibum yang membuka pintu mobil itu dengan raut kagum. “Mobil ini milik mu oppa?” pekik Hwayeon senang. Kibum tersenyum simpul, “Ya, ini milik oppa. Ayo, cepat naik.”

Hwayeon masuk ke dalam mobil dengan semangat, senyum lima jari terukir jelas di kedua belah bibirnya. Kibum yang sudah masuk ke dalam mobil ikut tersenyum senang saat melihat senyum manis milik gadis itu.

“Pakai seat beltmu, atau… mau oppa yang pakaikan?” goda Kibum pelan. Hwayeon dengan buru-buru memakai seat beltnya dengan wajah merona. Bukan… bukan karena godaan Kibum, tapi karena ingatannya berkelana ke kejadian kemarin saat Kyuhyun memakaikan seat beltnya.

Pada saat itu, ia sangat kaget. Ia kira Kyuhyun berniat menciumnya. Eh ternyata, Kyuhyun hanya memakaikan seat belt untunya. Dia memang namja sialan batin Hwayeon yakin. “Ah, kita mau kemana oppa?” tanya Hwayeon tiba-tiba.

Kibum tersenyum miring, lalu menjawab tanpa menatap Hwayeon. “Menurutmu?” tanyanya singkat. “Aku tak tau!!! Makanya aku bertanya. Kita mau kemana?” tanya Hwayeon manja sambil melancarkan aegyonya.

Kibum melirik Hwayeon dari ekor matanya, dan dengan cepat memfokuskan pandangannya kembali kearah jalan saat ia mendapati raut wajah Hwayeon yang menurutnya menggemaskan. “Kita akan bermain ke Lotte World. Kau suka?”

“OMO?!? JINJJAYO?!? KYA!!! OPPA MEMANG YANG TERBAIK!!!” pekik Hwayeon senang sambil menggoyang-goyangkan lengan Kibum. “H-hey! Jangan seperti itu! Kau mau kecelakaan ya?!” kali ini Kibum yang memekik kaget karena mobil mereka hampir saja oleng jika ia tidak cepat tanggap.

Hwayeon tersenyum tanpa dosa. “Ah mianhae, aku terlalu senang.” Jawab Hwayeon polos. Kibum menghela nafasnya saat mendapati ucapan polos gadis itu, Kekanakan sekali… tapi ia pantas berlaku seperti itu batin Kibum bingung.

Hwayeon masih tersenyum senang sampai ia mengingat satu hal. “Eh, tapi-“.

Kibum menoleh, menanti lanjutan ucapan Hwayeon, tapi Hwayeon malah terdiam. Tapi… Jantungku bagaimana? Apa kuat? Ah, semoga saja kuat. Aku akan segera meminum obatnya. Hah, jangan sampai jantungku kambuh saat bersama Kibum oppa. Bisa gawat nanti. Ahhh semoga Tuhan menyertaiku hari ini batin Hwayeon dalam diam.

“Tapi apa Hwayeon-ah?” Hwayeon kembali terseret ke dunia nyata saat Kibum bertanya. “Ah, a-aniya.” Jawab Hwayeon terbata-bata. Kibum mengangguk singkat, Ada sesuatu yang dia sembunyikan ujar Kibum dalam hati.

Hening

“Sepi sekali… Boleh aku menyalakan lagu oppa?” tanya Hwayeon tak yakin. Kibum menoleh singkat pada Hwayeon kemudian mengangguk mengiyakan. Hwayeon dengan cepat membuka tasnya dan mencari sesuatu

Tada!

Ketemu!

Hwayeon kemudian mencolokkan Flashdisk yang ditemukannya di tasnya. Dan tanpa menunggu lama, suara lembut para sekumpulan namja mulai membelai gendang telinga mereka berdua.

Georeooneun ne moseubeul damgoman
Sipeunde haruedo su baek beonssik
Eojjeodaga ireoke dwaenneunji
Teong bin nae maeumi
Sumeul swige haneun neoigie

I want to capture the image of you walking to me, hundreds of times a day
How did I become like this? You’re the one who makes my empty heart breathe

Aju jogeuman aswiumdo
Geu seounhamdeuldo arajuji motaenneunji
Nal yongseohae, nal yongseohae baby
Nuni majuchineun oneureun kkok hal mal inneunde

But I didn’t know your smallest disappointments or sadness
Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Kkumiramyeon jokesseo kkumiramyeon meomchwojwo
Don’t leave me, don’t leave me
Jadagado neol bulleo ajikdo apeunga bwa
Don’t leave me, don’t leave me

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there
Don’t leave me, don’t leave me
I call out to you even in my sleep, I’m still hurting
Don’t leave me, don’t leave me

Hyujitonggwa gachi neol biwobwado
Sseudi sseun yakcheoreom neol baeteobwado
Saebyeongnyeoke chwihae neol tohaebwado
Manggajin sigyecheoreom doedollyeobwado

I try emptying you out along with my trash can
I try spitting you out like bitter medicine
I try vomiting you by getting drunk
I try turning time back like a broken clock

Kamkamhan bam, chagaun gonggi, dal geurimja
Geu soge i gireul honja geotneun guna
Ne nunbit, ttaseuhan sumsori, yeppeun eolgul
Jeo eodum soge sarajyeo ganeun guna

On a dark night, cold air, shadowed moon
I’m walking alone
Your eyes, warm breath, pretty face
It’s disappearing into the darkness

Aju jogeuman aswiumdo
Geu seounham deuldo pureojuji motaenneunji
Nal yongseohae, nal yongseohae forgive
Uri majuchineun
Oneureun kkok hal mal inneunde

But I didn’t comfort your smallest disappointments or sadness
Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Kkumiramyeon jokesseo kkumiramyeon meomchwojwo
Don’t leave me, don’t leave me
Jadagado neol bulleo ajikdo apeunga bwa
Don’t leave me, don’t leave me

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there
Don’t leave me, don’t leave me
I call out to you even in my sleep, I’m still hurting
Don’t leave me, don’t leave me

Naega baraneun daero haji anhado joha
Meori sogeun ontong neoro gadeuk hae baby
Neoro inhae himina
Jigeum jabeun du son nochima
Nan yeogiseo neol wihae inneun geol

You don’t have to do what I want
My head is filled with you baby
I get strength from you, don’t let go of my hands
I’m right here for you

Saldaga jichil ttaedo neoreul bomyeo useosseo
Stay with me, stay with me
Eonjena gippeul ttaedo nega meonjeo tteoolla
Stay with me, stay with me

When I’m tired from life, I smile by looking at you
Stay with me, stay with me
Whenever I’m happy, I think of you first
Stay with me, stay with me

Don’t leave me, tteonajima

Don’t leave me, don’t leave me

[Super Junior – Don’t Leave Me]

Eh? Kenapa lagu pertama udah lagu mellow kayak begini? Parah hahahaha batin Hwayeon. Hwayeon melirik kearah Kibum, gadis itu sontak meringis saat melihat Kibum mengerutkan keningnya.

Hwayeon mencoba tenang, menunggu lagu berikutnya terputar. Semoga bukan lagu yang aneh batin Hwayeon berharap.

(Hey Hey Well.. Hey Hey)

(Hey Hey Well.. Hey Hey)


Jigeum naega haryeoneun mari
Jom isanghalji molla
Waeinji neon jom eoryeowoseo
Nan neul jjeoljjeolmaenikka
Itorok wonhage doego
Oh baby baby Please don’t go
Dangsin ape mureup kkulhneun geosdo
I modeun ge neomu jayeonseureowo

What I’m about to say, might sound strange
I don’t know why but, you’re a bit hard for me, I’m always struggling
I want you so bad, oh baby baby please don’t go
Everything, even kneeling before you feels so natural now


Haneopsi jakku aewonhage hae
Jenjang jamjocha mot jage dwae
Dodaeche I gamjeongi mwonji moreugessjanha

I keep begging you, endlessly
Dammit, I can’t even fall asleep
I can’t figure out what this feeling is


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji Neon chago tteugeowo

You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again You’re cold and hot


Eoneu nal mariya nega
Oerowo ul ttaee
Naega geu nunmul dakkajulge
Budi heorakhandamyeon
Byeoreun unmyeongeul deonjyeo
Ganjeolhi jeolhi wonhage dwaesseo
Onjongil galguhae tto jeolmanghae
Wa modeun ge nollaul ppuniya


One day, when you’re lonely and crying
I’ll wipe away those tears, if you would allow me
The stars show my fate and now I desperately want you
All day, I’m in desire and despair, everything is just so amazing


Eotteon susigeorodo bujokhan
Romaentikboda jom deo bokjaphan
Dodaeche I gamjeongi mwonji moreugessjanha

No word is enough to describe this
A bit more complicated than romantic
I can’t figure out what this feeling is


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji
Neon chago tteugeowo

You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again
You’re cold and hot


Mok taoreuneun da jeoksyeooneun
Masbogo sipeun geudaeya
Deureojwo deureojwo
Badajwo badajwo
I say naneun geunyang da joha
Naneun geunyang da joha
I say ne modeun ge da joha
Ne modeun ge da joha
And I say areumdaun neo
Areumdaun neo
And I say nae geosi doeji

My throat is burning up, I wanna taste the wet you
Listen to me (listen to me) Accept me (accept me)
I say, I just like it all (I just like it all)
I say, I like everything about you (I like everything about you)
And I say, beautiful you (beautiful you) . And I say, be mine


Neon chago tteugeowo devil
Han yeoreum sonagi syawo
Dalgwojin onmomeul jeoksyeoon dwie
Geurigon tto mok taoge haji
Neon jeo meon samagui sogeum
Saeppalgan jeokdoui geuneul
Han sungan kwaerageul masboge hagon
Geurigo tto mok taoge haji


You’re cold and hot, devil. Like a midsummer rain shower
After drenching my hot body, you burn up my throat again
You’re the salt of the faraway desert, a shadow of the red hot equator
You make me taste a moment of pleasure then you burn up my throat again


Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Neon chago tteugeowo
Moktaoge haji
Neon devil tteugeowo

You’re cold and hot
You’re cold and hot
You’re cold and hot
You burn up my throat, you’re a devil, so hot

[Super Junior – Devil]

*sekalian promosi, ayo ELF di tonton yah MVnya!!! Download juga lagunya di melon, naver atau apapun lah. Kita dukung uri oppa!!! KYA!!! Di tonton ya MVnya, jangan lupa dilike. Tapi nontonnya yang official yaaah. SMTWON. Okeh? Pay pay*

Hwayeon lagi-lagi meringis. Apa lagunya tidak ada yang wajar? Gadis itu lagi-lagi menoleh kea rah Kibum dan sukses kembali meringis saat melihat kerutan di kening kibum semakin dalam.

Hwayeon kemudian menunduk dengan wajah memerah menahan malu. Wajahnya semakin memerah saat ia mendengar Kibum berdeham di sampingnya dengan canggung. Pabboya rutuk Hwayeon dalam hati.

Hening…

Suasana hening seketika. Aura di dalam mobil tiba-tiba berubah canggung, apa lagi saat lagu sistar – touch my body mulai melantun, memenuhi seluruh penjuru mobil.

“Ekhem” Hwayeon spontan menoleh saat lagi-lagi ia mendengar suara dehaman kibum. Kibum melirik Hwayeon lewat sudu matanya, lalu tersenyum singkat. “Selera lagumu cukup bagus.” Ujar Kibum tiba-tiba diiringi dengan senyum menawannya.

Hwayeon sontak tertawa canggung saat mendengar ucapan Kibum. Baru saja ia mau memblas perkataan kibum,

Deg!

Hwayeon sontak menahan nafasnya dan mencengkram seat beltnya dengan sangat erat saat tiba-tiba dadanya terasa nyeri.

Deg!

Deg!

Deg!

Hwayeon memejamkan matanya dan menggigit bibirnya saat rasa sakit itu semakin menyerang dadanya dengan membabi buta. Kibum yang bingung karena Hwayeon tidak membalas ucapannya akhirnya menoleh.

Namja itu mengerutkan keningnya bingung saat ia melihat Hwayeon memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya dan menggenggam seat belt dengan sangat erat. Jangan lupa, wajahnya juga menunjukkan ekspresi kesakitan.

“Hey Hwayeon-ah, ada yang salah?” tanya kibum curiga. Dan kecurigaannya semakin menjadi-jadi saat melihat Hwayeon yang tiba-tiba membuka matanya dan memasang ekspresi baik-baik saja yang sudah jelas terlihat kalau itu hanyalah acting

Hwayeon memandang Kibum singkat lalu mengalihkan pandangannya dengan cepat sambil meredam rasa sakit di dadanya. “Ah, gwaencahana. Aku hanya pusing.” Kilah Hwayeon cepat.

Kibum mengangguk, pura-pura mengerti. Diam-diam Hwayeon merogoh tasnya, mencoba mencari obat miliknya. Ketika Hwayeon berhasil menemukannya, ia membuka botolnya dari dalam tas, dan mengambil obatnya dengan cepat.

Ia melirik kesekeliling mobil, dan berhenti pada Kibum. “Oppa, kau memiliki air?” tanya Hwayeon cepat, sedikit terlalu cepat. “Ya tentu saja, ada di kursi belakang.” Jawab Kibum santai.

Hwayeon dengan cepat memutar badannya menghadap belakang dan mengambil debuah botol minuman yang masih tersegel. Ia membukanya dengan cepat. Secepat kilah ia memasukkan obatnya yang tadi sudah ia ambil diam-diam ke dalam mulut dan mulai meneguk obat itu dengan bantuan air yang baru saja ia dapatkan.

Tanpa Hwayeon sadari, Kibum sedari tadi menangkap seluruh kegiatan Hwayeon. Aku semakin yakin, ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan batin Kibum sambil tetap menatap lurus jalanan didepannya.

Hwayeon diam sejenak sambil memejamkan matanya, membiarkan obatnya suapaya bereaksi. Dadanya berdebum menyakitkan secara tak karuan. Setelah beberapa lama, akhirnya gadis itu bernafas lega saat rasa sakit di dadanya mulai mereda.

Hwayeon mulai membuka matanya, kemudian mencoba menimbang nimbang sesuatu. “Oppa, kurasa kita tidak perlu ke Lotte World.” Ujar Hwayeon 100% bohong. Demi apa, dia ingin sekali ke Lotte World, tapi tidak dengan keadaannya yang melemah seperti ini!

Ia tidak mau mengambil konsekuensi jika saat bermain nanti jantungnya tiba-tiba berulah. “Apa? Kenapa? Kauu tidak suka? Tapi tadi kau semangat sekali?” tanya Kibum bertubi-tubi. Hwayeon bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur? HELL NO!

“Aku hanya merasa kurang sehat.” Jawab Hwayeon pelan. Well, dia tiba bohong kan masalah itu? “Hah, baiklah… lalu kau ingin kita kemana?” tanya Kibum akhirnya mengalah.

“Bagaimana kalau pantai?” tanya Hwayeon tiba-tiba antusias saat memikirkan indahnya pantai. “Baiklah, kita kepantai.” Putus Kibum akhirnya. “Yeaaayyy!!! Gomawo oppa, saranghae!!!” pekik Hwayeon riang.

Kibum tersenyum dalam diam, wajahnya bersemu dan jantungnya berdegup kencang saat mengingat kalimat terakhir Hwayeon tadi. Dasar bocah batin Kibum gemas.

Perjalanan mereka tidak memakan waktu yang lama. Mereka kini sudah berada di pantai. Pantai yang Kibum pilih lumayan terpencil, tidak banyak pengunjung disana. Hanya ada beberapa turis yang terlihat berjemur disana, ada yang berselancar melihat ombaknya cukup besar. Ada juga banyak bocah yang bermain layangan ataupun berlari-lari dan membuat istana pasir di bagian pantainya.

Kibum dan Hwayeon berjalan berdampingan. High heels yang tadi diapakai Hwayeon saat pergi sudah dilepas, dan ditenteng oleh gadis itu.

Mereka kemudian duduk di tengah-tengah pasir, berjemur dengan teriknya sinar matahari. Mereka berdua terdiam, membiarkan keheningan menarik mereka berdua kedalam buaiannya.

Tiba-tiba saja Kibum berdiri. “Oppa mau kemana?” tanya Hwayeon bingung. “Berselancar.” Jawab Kibum singkat tanpa menoleh. Hwayeon bersedekap bingung. Berselancar? Berselancar…? Tunggu… apa tadi Kibum bilang? Berselancar?!

“Oppa bisa berselancar?!” Pekik Hwayeon keras dengan suara melengkik tinggi. Kibum yang sudah berada jauh didepan meringis. “Tentu saja aku bisa. Tidak perlu terkejut seperti itu.” Ujar Kibum sok.

Hwayeon mencibir saat mendengar jawaban Kibum, tpi tak ayal ia mulai merasa Kibum… Entahlah, Kibum selalu membuat dirinya terpana sejak mereka pertama kali bertemu di sekolah waktu itu.

Hwayeon akhirnya ikut bangkit berdiri dan berlari-lari kecil menghampiri Kibum. “tunggu aku!” pekik gadis itu tertahan. Kibum menghela nafasnya dalam dalam, tidak perlu memekik seperti itu terus kan bisa cibirnya gemas dalam hati.

Hwayeon mengekori Kibum saat Kibum menyewa sebuah papan selancar. Hwayeon tidak mengomentari apapun, gadis itu hanya mengekori Kibum kemanapun Kibum pergi, membuat Kibum gemas sendiri.

“Kenapa kau mengekoriku terus sih?” tanya kibum gemas. Hwayeon hanya menatap Kibum polos, “Memangnya tidak boleh?”. Kibum terdiam, iya juga ya? Kan tidak ada yang melarang?

Tapi tetap saja, rasanya tidak nyaman diekori seperti itu. Kibum Menggaruk tengkuknya bingung sekaligus frustasi. “Kau..” ujar kibum tiba-tiba.

Hwayeon mengerjap, yeoja itu kemudian mengangkat telunjuknya dan menunjuk wajahnya sendiri dengan tampang kelewat polos. “Aku? Aku kenapa?” tanyanya bingung. “Diam disini oke? Jangan kemana-mana.” Tegas Kibum.

Hwayeon memutar bola matanya malas lalu menjawab dengan lunglai. “Baiklah-baiklah dasar menyebalkan.” Gumam gadis itu pelan. Kibum mengernyitkan dahinya, “Apa tadi kau bilang?”

“Ah aniya, lupakan. Sana ppergi, aku ingin melihatmu berselancar.” Kibum menyeringai mendengar nada meremehkan dalam kalimat itu. Dengan peraya diri namja itu bergegas ke dalam air.

Hwayeon duduk di hamparin pasir tanpa melepaskan pandangannya dari Kibum. Kibum terus berjalan kedalam air dan berhenti saat air sudah menutupi bagian pinggan dan paha kebawah.

Kibum naik keatas papan selancar dan duduk disana. Hwayeon memandang Kibum bingung, Kenapa dia diam? Batin Hwayeon tak mengerti. Tak lama kemudian, Kibum merebahkan tubuhnya di papan seluncur dan mulai mendayung dengan tangannya.

Hwayeon memandang Kibum dengan kagum sekaligus cemas saat beberapa kali Kibum masuk kedalam air saat menghindari ombak yang mungkin tidak diinginkan (?)

Hwayeon berdecak saat ia melihat sebuah ombak yang cukup besar tidak jauh dari tempat Kibum saat ini. Kibum juga sepertinya melihatnya, dengan cepat Kibum mengubah arah papan kea rah pantai.

Kibum lalu mulai mendayung. Hwayeon memekik saat melihat ombak pecah dan Kibum mulai terdorong. Hwayeon bertepuk tangan dengan riang dan memekik girang saat melihat Kibum berhasil berdiri dan bermain dengan ombak tadi. Hwayeon bahkan sampai berdiri dan melompat-lompat seperti anak kecil.

Pandangan mata Hwayeon akhirnya bertemu dengan Kibum yang juga tengah tersenyum senang. Hwayeon mengangkat kedua jempolnya dan mengarahkannya pada Kibum dengan senyum lima jari terpatri dibibirnya. “OPPA JJANG!!!!” pekik gadis itu senang.

Hwayeon menunggu dengan senang saat Kibum mulai keluar dari laut dan berjalan dengan tenang kearahnya. “Omo!! Bagaimana oppa bisa berselancar seperti itu?! Oppa keren sekali!!!” puji Hwayeon terus terang.

Kibum tersenyum lalu mengangkat bahunya yang kokoh itu dengan acuh. “Aku pernah berada di Amerika.” Jawab Kibum santai. “OMO JINJJA?! PANTAS SAJA!!!” teriak Hwayeon tiba-tiba membuat Kibum tersentak.

“Aish! Kenapa kau suka sekali berteriak sih?” gerutu Kibum sebal sambil mendudukan dirinya di hamparan pasir pantai. Hwayeon mengikuti Kibum duduk dan tetap menatap Kibum dengan senyum polosnya.

Kibum jengah juga lama-lama dipandangi begitu oleh Hwayeon. “Kau mau coba?” tanya Kibum tiba-tiba.

“Ha? Coba? Coba apa?” jawab Hwayeon cengo.

Kibum menghela nafasnya. Kenapa dia lamban sekali? Pertanyaanku selalu dijawab dengan pertanyaan. Ya ampun. Aku bisa gila batin Kibum frustasi. “Berselanjar tentu saja. Memangnya kita ngomongin apa dari tadi?!”

“Amerika?” jawab Hwayeon terlalu polos. Kibum menepuk jidatnya. “berselancar! Maksudku berselancar!” geram Kibum frustasi.

“Oh” jawab Hwayeon sambil mengangguk ngangguk.

Hanya itu?! Jerit Kibum dalam hati. Yeoja ini benar-benar…

“Jadi, mau tidak?” tanya Kibum lagi, mencoba bersabar.

“Apanya?”

“ARRGRHHHH!!! TIDAK! TIDAK TAU! LUPAKAN!” geram Kibum frustasi. Hwayeon merengut bingung. Kenapa juga dia marah-marah, aku kan tidak melakukan kesalahan apapun, yah begitulah kira-kira isi kepala Hwayeon saat ini.

“Yasudah..” cibir Hwayeon tak suka. Kibum menggeram samar mendengarnya. Namja itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain dan tubuh Kibum membeku seketika. Hwayeon melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah kibum. “Hellow?” tanya Hwayeon bingung.

Penasaran, akhirnya Hwayeon mengikuti arah pandang Kibum dan sukses terbelalak. “Suzy…” geram Hwayeon samar. Kibum seakan tersentak ke dunia nyata saat mendengar geraman Hwayeon. “Kau… mengenalnya?” tanya Kibum terkejut.

Hwayeon diam, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Kibum. Gadis itu mlah dengan cepat bangkit berdiri dengan tangan terkepal dan mulai meangkah lebar menuju siluet gadis dengan rambut panjang kecoklatan yang saat ini tengah mematung sambil menatapnya.

Kibum jelas terkejut, apa lagi saat melihat Hwayeon berlari dan menerjang Suzy dengan kecepatan setan sehingga membuat kedua tubuh gadis itu terjerembab ke pasir. Kibum berlari menghampiri mereka, hendak bertanya.. Tapi urung ia lakukan saat mendengar suara Hwayeon menggelegar.

“YAK BAE SUZY – SSI !!! BAGAIMANA BISA KAU DATANG KESINI!!! AKU MEMBENCIMU!!!” teriak Hwayeon tiba-tiba saat mereka berdua sudah kembali berdiri dan berhadapan. Bae Suzy, gadis yang berada di hadapan Hwayeon pun ikut berteriak tak kalah berang.

“HAH!!! TENTU SAJA AKU BISA DATANG KESINI BODOH!! INI TEMPAT UMUM, DAN AKU JUGA MEMBENCIMU KIM HWAYEON – SSI !!!” balas Suzy sengit.

“KAU !!!!”

“MWOOO !!!”

“AKU SANGAT MEMBENCIMU !!!”

“HAH!! KAU PIKIR AKU TIDAK ?!? AKU LEBIH MEMBENCIMU !!!”

“KAU MENYEBALKAN SEKALIII !!”

“KAU JUGA !!!”

“KAU PENDEK !!!”

“KAU LEBIH PENDEK DARIKU BODOH !!!”

“BERHENTI MENGATAIKU BODOH, BODOH !!!”

“TIDAK MAU !!! KAU MEMANG BODOH !!!”

“YAAAK ! BAE SUZY PABBO !!!”

“CIH ! KIM HWAYEON PABBO !”

“YAAAA !!!”

“YAAAAAAAAAAA !!!”

Kibum kembali membelalak saat menyaksikan pertengkaran sengit kedua gadis itu. “YA!! K-“

“ASTAGA!!!!! AKU MERINDUKANMU!!! KYAAA!!! KENAPA DUNIA INI SEMPIT SEKALI!!!” pekik Suzy tiba-tiba sambil membawa Hwayeon kedalam pelukannya. Kibum melongo seketika Apa yang sebenarnya terjadi disini? Batin Kibum bingung.

Entah menguap kemana otak jeniusnya, dua orang gadis yang selalu membuat emosinya meluap sampai ke ubun-ubun kini malah berpelukan sambil menyerukan kalimat-kalimat tentang merindukan dan lain lain yang tidak ia mengerti.

“Omo, aku tidak tau kalau kau juga pindah ke Seoul. Kau sungguh menyebalkan, hilang tanpa kabar. Jahat sekali, kau sudah tidak menganggapku teman ya?!” seru Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. Suzy berdecak gemas.

Gadis itu kemudian menjepit pipi chubby Hwayeon dengan jemarinya dan menariknya keras keras. “OMO!! YA YA YA YA!!! LEPASKAN… SAKITTTTT!!!!” jerit Hwayeon histeris sambil memukul mukul tangan Suzy yang bersarang di pipinya.

“Hueeeee, sakit sekalii!!! Jangan gunakan tenaga kudamu untuk mencubit pipiku! Demi apa, aku sudah SMA bodoh! Aku bukan lagi anak SD! Ck, kau benar-benar!” gerutu Hwayeon sebal sambil mengelus-ngelus lembut pipinya yang ia yakini sekarang tengah memerah akibat cubitan tak berperikemanusiaan yang baru saja Suzy lancarkan padanya.

“cerewet.” Desis Suzy gemas, gadis itu sepertinya benar-benar bernafsu dengan pipi Hwayeon. Terlihat dengan tangannya yang terkepal, menahan hasratnya untuk mencabuli (?) pipi Hwayeon.

Hwayeon akhirnya teringat satu hal. Ia ingat ia datang ke sini bersama Kibum. Hwayeon menoleh, dan melihat Kibum masih setia melongo tidak jauh dari tempat mereka berdiri. “Oppa, kemarilah!!!” panggil Hwayeon sambil melambai-lambaikan tangannya heboh seperti anak kecil.

Kibum tersadar dari acara melongonya dan dengan cepat menghampiri Hwayeon dengan degup jantungnya yang bertalu tak karuan. “Suzy-ah, kenalkan ini Kibum oppa… Kibum oppa, kenalkan, ini temanku sejak kecil namanya Suzy.” Ujar Hwayeon santai.

“Bae Suzy…” Lirih Kibum sambil memaku Suzy ditempatnya

“Kibum oppa…” ujar Suzy tak kalah lirih.

Hwayeon mengernyit bingung saat merasakan suasana diantara mereka bertiga tiba tiba terasa sangat canggung.

Ekhem

Hwayeon berdehem pelan, kemudian menyapukan pandangannya pada Suzy dan Kibum yang masih setia terpaku pada satu sama lain. “Kalian… sudah saling kenal?” tanya Hwayeon hati-hati, tapi tidak ada satupun yang menjawab.

Hwayeon lalu terpaku pada mata Suzy. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa mereka saling menatap dengan pandangan berlueran cinta seperti itu? Mereka berpacaran kah?

Hwayeon terus memperhatikan mereka berdua sampai akhirnya Kibum lebih dulu memutus kontak matanya dengan Suzy dan berdehem. “Lama tidak bertemu… suzy-ah.” Sapa Kibum kaku. “Ne..” jawab suzy singkat sambil meremas tangannya gugup.

“Kalian saling kenal? Kalian ada hubungan apa?” tanya Hwayeon curiga. Hwayeon semakin curiga saat melihat mata Suzy yang bergerak-gerak gelisah dan tangannya yang semakin erat bertautan.

“K-kami…”

“Kami hanya teman, aku pernah satu SMP dengannya.” Jawab Kibum memotong ucapan Suzy. Kini Hwayeon menatap Kibum bingung. “Begitukah?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. “T-tentu ahaha” jawab Suzy kaku.

Suzy terdiam, lalu ia menyadari satu hal. “Kalian sendiri ada hubungan apa?”

“Ah, kami hanya t-“

“Dia kekasihku.” Ujar Kibubm cepat, kali ini memotong ucapan Hwayeon.

Hwayeon melotot heboh, begitu juga dengan suzy. “apa???/APAAA??!!!” Suzy bergumam tak percaya, sedangkan Hwayeon tidak segan-segan berteriak sambil melotot kearah Kibum.

“YA KIM KIBUM!!! APA MAKSUDMU MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU!!!” pekik Hwayeon heboh. Kibum sampai menutup telinganya dengan tangannya, takut-takut kalau gendang telinganya akan pecah akibat teriakan super power milik Hwayeon.

“Sudahlah, tidak perlu menyembunyikan semua ini lagi chagi. Apa kau tidak bosan jika kita backstreet terus? Mulai sekarang biarkan orang orang tau kalau kau adalah milikku. Aku tidak tahan melihatmu terus dikerubungi namja namja ganjen di sekolah. Lagipula, suzy temanmu juga… Jadi kurasa tidak ada salahnya jika dia tau hubungan kita yang sebenarnya.” Ucap kibum panjang lebar, namun dalam hati namja itu memelas… berharap hwayeon tidak akan menyiksanya setelah ini.

“MWOYA! APA MAKSUD-“

Cup!

Mata Hwayeon semakin melotot saat dengan kurang ajarnya bibirnya dibungkan oleh bibir Kibum. “Sttt… diamlah, jangan cerewet.” Ujar kibum setengah meringis. Tamatlah riwayatnya setelah ini.

Berbeda dengan Hwayeon, beda lagi dengan Suzy. Yeoja itu melotot, matanya seperti siap keluar dari tempatnya saat melihat Kibum mengecup bibir Hwayeon tadi. Matanya berkaca-kaca, dan siap menjatuhkan air matanya.

Suzy dengan cepat menstabilkan emosinya. Saat sudah mendingan, gadis itu akhirnya buka suara. Menginterupsi kegiatan pelotot-pelototan(?) yang sedang dilakukan oleh Kibum dan Hwayeon.

“Selamat ne, aku tidak tau kalau kau sudah ada yang punya. Kau mendahuluiku, hehehe. Ah, sudah sore. Aku harus kembali. Mian ne? Aku akan menghubungimu nanti Hwayeon-ah. Annyeong”

Kibum tersenyum ditempatnya saat melihat Suzy pergi sambil menangis. Sudah kuduga, dia masih mencintaiku! ASA !

Tak!

“Auuuh! Yak! Apa-apaan sih!” gerutu Kibum ak terima saat tiba-tiba saja Hwayeon menjitak kepalanya.

“Pacar hah? Apa maksudmu sih? Aish, suzy jadi salah paham kan!!! Ah aku tau, kau pasti ada apa-apa dengan suzy kan?” selidik hwayeon

Skak Mat

Kibum sudah tidak bisa lagi berkelit untuk saat ini. “Itu.. Hah, baiklah aku akan memberitahumu. Tapi ada syaratnya.”

“Syarat? Apa lagi sih? Cepat katakan!”

“Kau harus menjadi kekasihku.”

“…”

-TBC-

Advertisements

Shhttt…

Title: Shhttt…
Author:Jung Yoonhee

Cast: Jung Yoonhee (OC), Kim Wonshik aka Ravi (VIXX) ll Other cast: Kim Jiwon (Wonshik sister), Park Eunhye, Cho Hyojin, Kim Hwayeon, Cho Kyuhyun (Super Junior), Yoo Changhyun aka Ricky (Teen Top) ll Genre: romance, comedy, nc. frienship, family ll Length: Oneshoot ll Rating: NC-21

Note:
Udah lama ga ngepost. Parada kangen ga ‘-‘)?
Kali ini kembali dengan FF yadong yang membuat author candu. Jadi pengennya bikin nc terus #darisedikityadongjadimakinyadong
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^

Summary:
‘Nafsu dapat merubah seseorang’

!Prohibition!
No plagiat.
No bash.

.

.

.

*Wonshik POV*

Kududukan diriku di sofa ruang keluarga. Sesekali menghandukkan rambutku yang masih basah sehabis mandi.

“Wonshik hyung. Aku tidak tahu bagaimana tentang yeoja lain. Tapi Hyojin sangat menikmati sex before married. Kurasa kau harus mencoba itu pada Yoonhee malam ini.” nasehat Changhyun dari tadi terus berkutat dipikiranku.

Drtt drtt

Ponselku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kyuhyun hyung.

“Coba makan ini!
1. Madu dapat membuat kau cepat ereksi. Madu juga dapat membuat klitoris Yoonhee membengkak, itu akan memudahkan dia untuk menerima rangsangan.
2. Semangka meningkatkan kemampuan seksualmu, Wonshik.
3. Seledri dapat membuat hubungan seks kalian semakin mengairahkan.
Ikuti nasehatku ini. Jangan lupa dimakan.
Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )”

“Mwo?! Apa Kyuhyun hyung gila?!” teriakku yang nyaris tidak percaya.

“Yak Wonshik!” eommaku yang datang entah kapan menegurku. “Berteriak malam-malam seperti ada apa saja.”

“Mianhae eomma.” ucapku tertunduk.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” Kata-kata itu kembali melintas. Ya Tuhan, maafkan aku. Yoonhee, oppa mencintaimu, arra.

“Eomma, bisa buatkan aku kimbab tapi sayurnya diganti dengan seledri?” pintaku cepat.

“Eh..” gernyit eommaku binggung. “Tapi sudah jam 9 malam. Apa saat acara pelepasan masa lajangmu tadi kau tidak makan?”

“Bukannya begitu. Ini untuk kudapan malamku dengan Yoonhee.” ucapku malu-malu.

“Ohh..” eomma mulai berjalan kedapur. Dia membuka kulkas lalu mengeluarkan sekantung keresek “Untungnya seledrinya ada.” ucap eomma lega. Bahkan aku lebih lega.

“Banyakin seledrinya eomma. Terus apa ada semangka dan madu?” pintaku mulai bawel.

“Coba cari di kulkas.”

Aku beranjak dari ruang keluarga ke dapur.

Jja.. ada dong. Aku segera memotong semangka dan menyimpannya ke atas piring. Aku juga mengambil 2 cangkir serupa dan 2 sendok teh untuk madu.

“Igo.” eomma menyodorkan sepiring penuh kimbab yang berisi seledri. Aku menyeringai, nasehat Changhyun dan Kyuhyun membuatku lupa diri.

“Pakai ini bawanya.” eomma memberikan sebuah nampan padaku, dan juga setermos kecil air hangat.

“Gomawo eomma. Maaf merepotkan.” aku mengecup pipi eommaku, lalu berjalan ke lantai atas. Ke kamar ku, yang ada Yoonhee disana.

“Yak yadong! Yak!!” teriak Yoonhee sesampainya aku didepan kamar. Apa dia tahu apa yang akan lakukan padanya?

Krek

*Woonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku duduk di kasur di kamar Wonshik. Berulang kali aku menggertakkan gigiku kesal. Aishh… mereka benar-benar gila. Tidak yang tua, tidak yang muda… APA-APAAN MEREKA INI?!!! Apa alasan dan tujuan member hadiah-hadiah ini sih?! Kotak pertama, ada buku tentang tips, cara, dan juga langkah-langkah bercinta berserta dengan gambarnya dari The Oldest-one Eunhye eonni. Kotak kedua, ada sex toys dan juga beberapa obat perangsang dari Pervert Hyojin. Kotak terakhir, aku dapat beberapa potong pakaian dalam dan juga gaun tidur yang kurang bahan dan tembus pandang.

Drtt drtt

Aku mendapat video call dari si magnae gila itu.

“Wae?!” bentakku.

Ketiganya tertawa puas.

“Bagaimana hadiahnya?” tanya Hyojin penasaran

“Gila! Kalian semua gila!!”

“Tapi aku yakin itu pasti akan bermanfaat.” ucap Eunhye sambil terus menahan tawa.

“Dan hadiah dariku itu eon, harus dipakai.” perintah Hwayeon. “Lelaki suka itu.” lanjutnya berbisik.

“Jangan terlalu sering pakai sex toys, itu hanya untuk membantu.” Hyojin menambahkan.

“Kalian suda gila, yadong pula.”dengusku jengkel. “Ngomong-ngomong dimana kalian?” tanyaku penasaran.

“Club malam, dengan para suami kami.” pamer ketiganya.

“Aishh.. kalian ini. Mentang-mentang aku yang paling terakhir menikah, jadi kalian bisa menyobongkan diri seperti itu.”

“Eonnie, sudah dulu ya. Kita mau party.” pamit Hwayeon.

“Yak! Harusnya ini jadi hariku!”

“Sebentar, jangan dimatikan dulu.” Hyojin merebut ponsel Hwayeon. “Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”

“Mwo?! Apa kau gila?!!”

“Lakukan saja. Annyeong.”

Tut

“Yak yadong! Yak!!”

Krek

“Yoonhee, jangan bertiak malam-malam. Malu sama tetangga.” ujar Wonshik yang baru saja masuk.

“Mianhae oppa.” ucapku pelan.

Rambut basah, handuk dipundak, nampan penuh makanan. Wonshik oppa lebih mirip korban banjir tampan yang baru saja dapat sembako.

Wonshik berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menurunkan kotak-kotak sialan itu dan menaruhnya dikolong kasur. Aroma tubuh Wonshik perlahan masuk memenuhi rongga hidungku. Membuatku lebih tenang dan terhanyut.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.” sepertinya nasehat gila Hyojin itu sudah meracuni otakku.

“Aaa…” Wonshik menyuapiku sepotong kimbab yang sudah menyentuh bibirku.

Aku menarik kepalaku mundur, “Seledri?” tanyaku bingung.

“Oppa lebih suka pakai seldri. Sudah, buka mulutmu. Aaa…” aku segera memasukkan kimbab tadi lalu menerima suapan kimbab lainnya dari Wonshik.

“Seret ya?” tanya Wonshik perhatian. Diambilnya beberapa sendok madu lalu menumpahkannya ke cangkir yang berisi air hangat. Diaduknya madu itu, lalu disodorkannya padaku.

“Gomawo oppa. Ngomong-ngomong kenapa kau sebegitu sibuk sampai membuatkan ini semua?”

Wonshik hanya tersenyum tipis sembari terus menyuapiku kimbab itu.

Knock knock

Krek

“Aduh, romantis sekali sih kalian ini. Mentang-mentang besok ingin menikah.” ejek Jiwon diambang pintu.

Aku dan Wonshik bertatapan dan menahan tawa.

“Oppa, boleh pinjam Yoonhee sebentar?” Jiwon mengisyaratkan agar aku berjalan mendekatinya.

“Sebentar ya oppa.” aku turun dari kasur. Meninggalkan Wonshik yang masih terus makan.

“Minum dulu.” perintah Wonshik yang sedang menyodorkan gelas maduku.

Setelah meneguk madu itu, aku dan Jiwon keluar dan masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar Wonshik.

Hug

“Ekh, eonni..” sentakku kaget.

“Jiwon saja. Pangkatmu tetap lebih tinggi dariku biarpun aku lebih tua.” dia melepaskan pelukan itu lalu menyeka air matanya. “Aku tidak percaya kalau hari ini adalah malam terakhir kalian lajang. Besok kau sudah menikah dengan oppaku yang satu itu. Kau akan jadi bagian dari keluarga Kim nantinya. Aku sangat senang, kau adalah yeoja yang tepat sebagai pendamping Wonshik oppa.” ucapnya dengan air mata haru.

“Jiwon, aku jadi terharu.” aku juga ikut-ikutan menangis haru.

“Akh, sudahlah, Igo.” Jiwon menyodorkan kotak beludru yang cukup besar. “Buka ini bersama Wonshik ya. Berjanjilah untuk memakainya selalu.” pintanya seraya tersenyum.

“Gomawo.” ucapku tulus.

Aku keluar dari kamar Jiwon sembari terus menatap kotak beludru itu. Iya juga ya, ini malam terakhirku menjadi seorang lajang. Dan besok, aku sudah masuk ke keluarga Kim.

Krek

Aku melihat Wonshik tengah duduk di, tengah-tengah kasur, sembari memakan beberapa potong semangka.

“Buku tentang Tips, Cara dan Langkah-langkah bercinta… boleh juga.” ucapnya keras.
Aku hanya menatap Wonshik bingung. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Wonshik membuka kotak kedua. “Wahh.. dilbo, vibrator dan hemm.. apa ini obat perangsang Yoonhee?” tanyanya sembari mengangkat-angkat bungkusan obat. Aku mengernyitkan dahiku binggung. Dari mana wonshik bisa dapat barang-barang seperti itu? Ekh, tunggu..

“Sexy..” ucapnya parau. Aku melihat tangan Wonshik yang sedang mengepaskan salah satu pakaian dalam kurang bahan dan tembus pandang.

“Yak!”

Buk

“Arghh!!!” jerit Wonshik sembari memegang samping kepalanya.

Kini Wonshik sudah tiduran dipangkuanku. Aku mengusap-usap kepalanya prihatin.

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.”

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapnya manja.

Astaga, Wonshik oppa sangat lucu jika bermanja-manjaan seperti ini.

*Yoonhee POV end*

*Wonshik POV*

“Makanya, jangan suka kurang ajar oppa.” ucapnya sembari terus mengusap kepalaku.

“Kau ini yang kelewatan. Memukulku dengan kotak sekeras itu. Bagaimana kalau nanti kepalaku berdarah, lalu aku amnesia. Aku lupa siapa kau, lupa kalau besok kita seharusnya menikah. Aku bisa mati kalau begitu.” ucapku manja.

Yoonhee hanya tersenyum.

Aku menghadapkan kepalaku ke arah perut Yoonhee. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkan.

“Kata-kata Changhyun tadi tidak ada salahnya. Sex before married mungkin berkesan. Semangat ya! : )” yup, ini lah saatnya.

“Ahh..” desahnya pelan.

“Wae?” tanyaku mulai khawatir. Otomatis aku segera duduk dan menatapnya bingung.
“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” Yoonhee mulai menggeliat. Apa efek madunya sudah bekerja? Ekpresi wajah Yoonhee mulai menunjukkan kalau dia tidak nyaman. Berkali-kali dia menyilangkan kedua kakinya.

“Kurasa aku harus ke kamar mandi.” ucap Yoonhee sembari memegang memegang perut bagian bawahnya.

Grab

“Oppa!” teriak Yoonhee kaget.

*Wonshik POV end*

*Yoonhee POV*

Aku terus mengusap kepala Wonshik. Bahkan Wonshik sampai memutar posisinya menjadi menghadap tubuhku. Hembusan nafasnya menyejukkan dari perutku kebahawah.

“Dengarkan nasehatku. Sex before married itu berkesan. Cobalah itu malam ini.”
astaga Hyojin, itu membuatku benar-benar gila.

“Ahh..” desahku pelan.

“Wae?” tanya Wonshik yang langsung duduk.

“Aku mersakan sesuatu yang aneh.” aku merasakn tubuhku mulai tidak enak. Apa aku terlalu banyak makan? Tapi bukan. Bukan ini rasanya jika terlalu kenyang. Kusilangkan kedua kakiku. Rasanya dari sini, vaginaku mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus ke kamar mandi.” aku memegang memegang perut bagian bawahku, lalu turun dari kasur.

Grab

“Oppa!” teriakku.

Belum jalan jauh, tapi Wonshik sudah menarikku kembali. Mendudukanku dipangkuannya. Kurasakan sesuatu yang menonjol dari balik celananya. Berbenturan dengan vaginaku, dan itu membuatku makin tidak nyaman. Berulang kali aku mencari posisi enak diposisi yang awkward ini.

“Yoonhee.. jangan bergerak-gerak terus. Kau tidak tahu apa yang dampaknya bagiku.” Wonshik memjamkan matanya sembari menunduk saat bicara seperti itu.

“Gwaenchanha oppa?” aku mengusap telinganya sampai turun ke dagu.

“Erghh..” erangnya berat.

Benda itu semakin jelas terasa dari balik celananya. Ini dampaknya? Apa aku membuat Wonshik tegang?

“Oppa, kurasa aku benar-benar harus pergi.” pamitku setengah takut.

Wonshik tidak membalas.

“Oppa..” panggilku memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Opp…erghh..” erangku saat Wonshik memelukku dengan eratnya. Wonshik akhirnya mengangkat kembali kepalanya, lalu memendamkannya ke leherku. Berulang kali Wonshik menghirup nafas panjang dan dalam, lalu mengeluarkannya dengan helaan nafas. Udara panas itu membuatku bergidik.

“Eh.. oppa, kita mau apa? Bagaimana kalau eomma tahu?” kataku dengan nafas tersenggal.

“Bilang saja kalau aku ini sudah menjadi lelaki dewasa.” katanya enteng.

Wonshik melepaskan pelukannya. Helaan nafas lega lepas dari mulutku. Kurasa Wonshik akan berhenti sampai disitu, tapi kelegaan itu harus kutepis. Kedua tangan Wonshik kali ini mengelus leherku. Aku terpaksa memejamkan mata, merasakan berbagai sentuhan yang Wonshik berikan. Dan aku sadar, aku sedang menikmatnya saat ini. ‘Nafsu dapat merubah seseorang’ memang benar. Kucondongkan badanku, sampai payudaraku dengan enaknya menempel ke dada bidang Wonshik.

“Kau suka?” tanyanya dengan kekehan.

Wonshik mulai menciumi keningku. Ciumannya turun ke kedua kelopak mataku, lalu ke ujung batang hidungku. Jantungku berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Deru nafasku bergemuruh, tapi nafas Wonshik lebih bergemuruh daripadaku. Wonshik kini menciumi pipiku, menjilatnya, lalu berhenti didepan telingaku.

“Apa harus kita lakukan?” tanyanya dengan deru nafas yang berat.

Aku membelalakan mataku. Kami bertatapan. Kabut nafsu jelas terlihat di mata kami. Dan dengan pintarnya kau bertanya, oppa. Setelah apa yang kau lakukan ini? Apa kau mau ereksimu tertahan? Membiarkanku tidak jadi orgasme? Wanita bisa depresi jika gagal bercinta tahu! Sex before married, atau apapun itu, kau yang telah memulainya oppa.

Aku meraih tengkuk Wonshik, “Pabbo.” bisikku didepan bibirnya. Kemudian, aku menciumnya. Mengemut bibir bawahnya, bahkan menggigitnya gemas. Lama, Wonshik hanya berdiam. Menutup mulunya seperti tidak menyukai ciumanku. Aish.. pasti aku ini wanita murahan dihadapannya. Wonshik melepaskan tangannya dari leherku, aku pun terpaksa melepaskan ciumanku. Penyesalan memenuhi kepalaku. Bagaimana nafsu bisa membuatku lupa diri. Menginginkan nafsu ini agar segera tersalurkan, sedangkan Wonshik sebenarnya masih ragu untuk berbuat hal ini. Wonshik mensejajarkan wajah kami. Memberikanku forehead kiss. Dengan nafas berat, dan desahan kami yang terdengar diseisi kamar.

“Kau tahu kan?” akhirnya Wonshik mulai berbicara. “Yang harusnya mengendalikan permainan adalah pria.” aku tersikap mendengar perkataannya tadi. Wonshik memegang pinggangku kuat, lalu dengan cepat membalikan tubuhku. Posisi kami sekarang terbalik. Wonshik setengah menindih tubuhku. Aku menatap Wonshik yang sedang asik menghirup aroma tubuhku.

“Welcome to the game, miss.” kata Wonshik sekilas.

“Ahh..” desahan dariku akhirnya lepas disaat Wonshik langsung membuka mulutku, dan mengajak lidahku bermain didalam mulutnya. Begitu pula dia. Lidah kami terus bertautan, dan tangan lihai Wonshik mulai menyentuh payudaraku. Meremas gundukan yang masih tertahan pakaian itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang satunya menahan bobot tubuhnya agar tidah menimpaku. Lidah kami terus bermain, makin dalam dan lebih intens. Aku mendesah didalam mulut Wonshik, dan Wonshik mendesah berat didalam mulutku.

Satu persatu kancing piyamaku mulai Wonshik bebaskan dari lubangnya. Begitu perlahan dan lembut. Sampai Wonshik melepaskan cuiuman kami. Padahal aku sedang sangat menikmatinya. Wonshik mengangkat sedikit badanku, mengambil piyama itu, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tak lama, ditariknya juga celana panjang piyamaku, lalu dilemparnya juga. Aku sudah setengah telanjang sekarang. Menyisakan pakaian dalam saja. Kupalingkan wajahku. Kedua tanganku memeluk diriku, dan menekuk kedua lututku. Mencoba menyembunyikan segala privasi dan benda sensitive yang dapat menaikkan nafsu.

Wonshik berlutut di kasur. Membiarkan tubuhku diantaranya. Matanya terus menatapku, dari ujung kepala, sampai ke pusar. Lalu senyuman khasnya muncul,“Jangan malu begitu.” ujar Wonshik sembari melepas piyama yang dia kenakan, dan juga celananya. Lalu melempar keduanya.

“Maaf nona, tapi bisakah kau membantuku?” pintanya menggoda. Wonshik menarik kedua tanganku, menyuruhku untuk duduk. Diposisikannya kepalaku sejajar dengan dada bidang miliknya. Aku hanya bisa terpana. Kulit kecokelatan, bisep dengan otot kerasnya. Badan atletis tingginya mampu menghipnotisku. Tanganku seakan bergerak sendiri. Menyentuh kedua dada dengan nipple yang semakin mengeras disana.

Serasa tak tahan, Wonshik meraih kedua tanganku, dan menuntunnya ke bawah. Melewati otot perutnya yang sangat sempurna dengan pinggang kecil yang sangat mengundang untuk dipeluk. Dan disinilah aku sekarang. Menatap ereksi Wonshik yang masih tertutup celana dalam. Benda itu menyembul keluar seakan minta pembebasan. Bahkan lebih dari itu. Organ yang seakan hidup itu meminta sentuhan, kemanjaan, dan liang.

“Wow..” aku hanya bisa berdecak kagum.

Wonshik menyimpan tanganku dipinggir tubuhnya. “Bisakah kau membukakannya untukku? Tanganku akan sangat sibuk sekali nantinya.” pinta Wonshik penuh arti.

Aku hanya bisa tertegun. Melihat keindahan yang baru saja aku lihat. Pertama kali dihidupku.

Wonhik tertawa kecil. Melihat aku yang seperti dihipnotis. Melogo dangan takjub. Dan saat itulah tangan Wonshik mulai sibuk. Dia menjelajahi punggungku. Membuka kaitan bra yang masih kupakai. Melepaskannya dari tubuhku, lalu menjatuhkannya dipinggir kasur. Diraihnya kedua gundukanku. Dielus samapai nipple keduanya tegak sempurna. Meremasnya sedikit keras, sampai aku harus terus mendesah karenanya. Peganganku hanya satu. Aku meremas celana dalam Wonshik, lalu menariknya mundur. Membebaskan si junior untuk bernafas lega.

Wonshik kembali menidurkan tubuhku. Belum puas hanya dengan meremas payudaraku, dia bahkan memulai yang lebih. Semua alat geraknya bekerja dengan sangat sinergis. Lidah sibuk menjilati payudara sebelah kanan, tangan kiri meremas payudara kiri, dan tangan kanan sedang berusaha melepaskan celana dalam. Wonshik lebih hebat dalam hal ini. Bahkan lebih terlatih dari yang kukira, padahal ini kali pertamanya.

Wonshik tersenyum bangga setelah kami berdua telanjang sempurna. Dia mengecup bibirku pelan, lalu bergerak turun, ke lipatan yang sudah daritadi basah.

“Oppa..” panggilku. Taganku langsung menarik lehernya agar kembali ke atas. “Memang pria yang mengendalikan permaian, tapi…” aku menggantungkan perkataanku. Kini Wonshik menatapku bingung bercampur penasaran. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataanku tadi. “tapi…bisakah wanita disini yang memegang aturan? Dengarkan aku, oppa. Dalam permainan malam ini. Tidak ada yang namanya kiss mark. Oppa tahu kan seperti apa gau pengantinku? Gaun kemben dengan punggung terekspos. Kalau sampai ada kiss mark yang terlihat. Apa kata tamu lain. Lalu, tidak ada yang namanya oral, anal, fisting, fingering, blowjob, footjob, handjob, 69, atau hal-hal aneh lainnya. Mala mini hanya permainan biasa, dan berakhir pada ronde pertama. Jika oppa keberatan, maka permainan berakhir.” Perkataanku hanya mendapatkan balasan berupa tatapan kecewa plus marah dari Wonshik. “Apa permainan akan berakhir?” ucapku menantang Wonshik.

Mungkin aku salah kata. Tantanganku itu membuat Wonshik membuktikan lebih siapa dirinya. Diciumnya bibirku dengan kasar. Kedua tangannya meremas payudaraku. Perlahan tangan itu turun sampai dipinggulku. Dan memberikanku satu hentakan keras.

“Yak appo!!” aku mendorong tubuh Wonshik dan melepaskan ciuman kami. Air mata perlahan turun dari mataku. Rasa perih dan banyaknya darah akibat “peperangan” membuat suasana hatiku tidak bisa dikontorol. Marah, sakit, nafsu, semuanya bercampur aduk. “Apa tidak punya mulut?! Setidaknya beri tahu dulu jika ingin masuk. Ini sama saja saat oppa masuk ke rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” Wonshik hanya tersenyum. Aku terus memukul dadanya dengan kedua tanganku. Ini sungguh menyebalkan.

“Hey, hey..” Wonshik menarik kedua tanganku dan menyimpan mereka diatas kepalaku, lalu menahannya dengan tangan kirinya.

“Shhtt… jangan marah.” bisiknya ditelingaku.

Chu

“Mianhae, oppa yang salah. Kita lakukan lebih lembut?”

Tak lama kemudian, Wonshik menarik juniornya mundur. Mendesak untuk masuk lagi, dengan lebih halus. Berulang kali Wonshik menyodokku dengan lembut.

“Ahhh.. oppa. Kemarilah.” aku menarik dagu Wonshik. Menghisap bibirnya. Sensasi perih dan semua otot tegang membuat tubuhku menolak pada awalnya. Tapi sampai diamana kenikmatan itu mulai melanda tubuh dan batin kami berdua. Wonshik menumbuk G-spotku. Membuat tubuhku mengeliat minta lebih.

“Fas..ahhh…ter..oppa!” pintaku setengah menjerit.

“As your wish.”

Wonshik mempercepat genjotannya. Kedua tangannya dipinggulku, sedikit meremasnya. Dia juga mulai mengecupi seluruh tubuhku, tapa meninggalkan bekas. Dan tiba-tiba gelombang itu datang. Semuanya seakan naik. Aku memjamkan mataku. Tak salah lagi, aku akan orgasme.

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..”

Wonshik memegang daguku.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucapnya tersenggal-senggal. Aku segera mengikuti kemauannya. “Bersama..” berselang dari aba-abanya, kami berdua berhasil mencapai puncak masing-masing.

Wonshik langsung merebahkan tubuhnya diatasku. Berat badan Wonshik membuatku mengerang pelan. Aku memeluknya. Wonshik pun membalas.

“Terimakasih. Malam ini indah sekali.” pujinya sembari mengusap kepalaku. Wonshik mengecup bibirku sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di leherku.

Bayang-bayang hitam mulai menyelimuti mataku. Rasa kantuk akibat kelelahan batin dan fisik ini mengharuskan aku untuk tidur. Dan aku pun akhirnya tertidur, tanpa melepaskan kontak kami berdua.

*Yoonhee POV end*

*Author POV*

“Op..pahh.. aku mau….ehh kelu..ar..hh..” rintih Yoonhee penuh desahan.

“Buka matamu, Yoonhee. Aku ingin melihat matamu saat orgasme.” ucap Wonshik tersenggal-senggal. “Bersama..”

Tak lama Wonshik merebahkan tubuhnya diatas Yoonhee. Mereka berciuman, lalu tertidur.

“Daebak..” ucap Jiwon kagum dan kaget. Ini live sex pertamanya yang dilihat secara tidak sengaja. Desahan berisik yang membahana membuat Jiwon penasaran apa yang sedang kedua insan itu lakukan. Jiwon memutar kenop pintu perlahan, dan sialannya pintu itu tidak terkunci. Jadi untuk beberapa menit terakhir, Jiwon terpaku menyaksikan hal itu.
“Eomma harus tahu.” tekadnya bulat.

Jiwon menutup pintu, lalu mengendap-endap berjalan mundur.

Buk

Sebuah yangan langsung menutup mulut Jiwon untuk tidak bersuara.

“Eomma.” panggil Jiwon pelan.

“Eomma sudah lihat. Oppamu memang sudah dewasa.” ucap Nyonya Kim seraya tertawa.

*Author POV end*

.

.

.

*Yoonhee POV*

Dengan make up sederhana, dan juga gaya tata rambut yang tidak terlalu rumit, aku segera membuka bajuku dibalik tirai. Mempersilahkan dua orang ini membantuku memasangkan gaun pengantin milikku.

“Hehehe..” aku dapat mendengar kalau dari tadi mereka menahan tawa mereka.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehem..” salah satu dari mereka akhirnya menjawab. “Malam kemarin pasti sangat menyenangkan. Kiss marknya banyak sekal nona.”

Mwo?! Tanpa pikir panjang, aku segera melihat refleksiku di kaca. Benar saja kata mereka. Banyak sekali kiss mark yang berbekas dari bagian bawah payudaraku sampai ke perut. Dan aku dapat melihat beberapa dibagian dalam pahaku. Wonshik sialan…

“Ahh.. mianhae.” ucapku kikuk. Merasa terpojokan, itulah aku sekarang. Tak dapat mengelak karena ada bukti, sangat memalukan.

Beberapa menit kemudian, setelah gaun pernikahanku akhirnya terpasang dibadanku, tirai terbuka.

“Wahh.. yeppo!!” teriak Hwayon yang daritadi menunggu dibalik tirai.

Ada Hwayeon dengan anak lelakinya yang dituntun, Eunhye yang menggendong bayinya, dan Hyojin yang tengah mengandung anak ketiga. Trio sahabat sialan, kini sudah ada disini, pernikahanku.

Aku tersenyum malu-malu sembari mendekati mereka yang tak kalah cantiknya.

“Tunggu.” Hyojin melangkah mundur. Dia mendelik tajam kearahku, lalu berjalan kearahku, dan memberikanku sebuah pelukan. “Akhirnya.. Yoonhee berhasih bercinta kemarin malam.” ujar Hyojin dengan senangnya.

Aku segera meraih mulut Hyojin, lalu membekamnya dengan teapak tanganku.

“Jangan berisik, Hyojin pabbo… bagaiman kalau yang lain dengar. Mana disini banyak anak-anak lagi.”

Hyojin melepaskan tanganku dari mulutnya, lalu kembali ke posisis awal.

“Habisnya caramu berjalan itu sangat terlihat kalau kau baru bercinta kemarin malam. Bagaimana rasanya?” tanya Hyojin mulai cerewet.

Aku hanya tersenyum tipis, mengingat kejadian kemarin malam dengan segala sisi putih dan hitamnya.

“Nona Jung, sebentar lagi acara akan dimulai. Para tamu harap ke aula.” ucap kepala EO yang tiba-tiba datang keruanganku.

Aku mengangguk cepat, lalu Hwayeon, Eunhye dan Hyojin segera keluar.

Tak lama appaku datang. Dengan setelan jas, dia memberikan lengannya untukku. Aku menyambutnya dengan riang bercampur haru. Satu tarikan nafas panjang kuambil. Pintu aula terbuka. Dan nafas panjang aku keluarkan. Kami berjalan. Disinilah aku, melangkah menuju pelaminan. Tapi kalian harus tahu satu hal. Semua ototku tertarik akibat kemarin malam. Tegang, kaku, dan pegal membuat aku sedikit sulit berjalan. Tapi aku harus tampil professional bukan? Didepan semua tamu ini?

Wonshik sudah ada didepanku. Balutan jas membuat ubuh atletisnya semakin indah. Rambut hazelnya yang bediri memberikan kesan sexy padanya. Diambah kalung dengan liontin sayap berbahan paltina bergantung dilehernya. Kalung pasangan untuuku dan Wonshik dari adik ipar tercinta. Inilah suamiku, Wonshik Kim.

Wonshik memberikan hormat pada appaku. Lalu appa menyerahkan tanganku ke pegangan Wonshik.

“Hallo cantik.” bisiknya menggoda.

“Hallo oppa… pabbo.” balasku dengan pout face. “Meningalkan banyak sekali bekas ditempat yang tertutup pintar sekali kau oppa.” bisikku kesal.

Wonshik hanya terkekeh seakan tak salah.

“Kedua mempelai silahkan memberikan hormat kepada para hadirin.” ucap sang pendeta. Kami berdua memutar posisi, lalu memberikan hormat.

Kami kembali menghadap pendeta. Sang pendeta mulai membacakan beberapa ayat dan juga hal-hal lazim lainnya disaat pernikahan.

“Apa yang kau lakukan pasti ada ganjarannya oppa.” lanjutku berbisik.

“Apa itu? Tidak dapat jatah di malam pertama?” balasnya mencoba berguyon.

“Ani.” ucapku datar.

“Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?” perkataan pendeta saat ini menjadi latar lain bagi kami berdua.

“Malam ini aku yang pegang kendali.” ucapku sambil tersenyum culas.

Wonshik memberiku tatapan kaget sekilas.

“Wonshik Kim?” tanya pendeta sekali lagi.

“Akh.. hemm.. Mianhae. Aku sangat gugup.” ucap Wonshik berbohong.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Wonshik Kim bersediakah anda menerima Yoonhee Jung sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” ucap Wonshik tegas.

“Yoonhee Jung bersediakah anda menerima Wonshik Kim sebagai teman sekaligus pendamping hidupnya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne. Aku bersedia.” kataku sama tegasnya.

Pendeta mengangkat tangnnya memberikan berkat, “Kasih dan berkat penyertaan Tuhan menyertai bahtera rumah tangga kalian. Ingatlah, apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” pendeta menurunkan tangannya. “Kedua mempelai boleh saling berciuman.” izinnya.

Wonshik segera menarik pinggangu, lalu mendekapku.

“Kau bilang kau yang akan pegang kendali malam ini kan? Jadi biarlah aku yang pegang kendali diciuman ini, Yoonhee-ssi.” ucapannya selalu menggoda.

“Nona Kim, panggil aku hari ini dengan sebutan Nona Kim, Tuan Kim.” aku segera mendorong tengkuknya, lalu kami pun berciuma di hari bahagia kami.

—END—

Be Mine~

Tittle    : Be Mine?

Cast     :

Kim Han Bin (B.I Ikon)

Cho Hyo Jin

Other   :

Kim Dong Hyuk ( Donghyuk Ikon)

Genre: romance, NC

Ratt      : NC17!

Author : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Warn   : panen typo, geje, aneh

Anyeong readers!!!!

Author 2 come back dengan Oneshot lagi~~

Dan tentunya NC *smirk*

Author berharap pada menantikan Author 2 ^^

Jadi ini buat kalian semua yang udah mau baca FF Author 2~~

Happy Reading

———————————————————————-

*Hyo Jin POV*

When you love someone just be brave to say

That you want him to be with you

When you hold your love

Dont ever let it go

Or you will your change yo make your dream come true

Ku akhiri nyanyianku di selasar kelas X. Apa kalian berfikir aku sedang bernyanyi di depan banyak orang? Jawabannya salah. Selasar ini sangat sepi karana waktu baru menunjukan pukul 6 pagi. Jadi aku tak perlu khawatir ada yang memergokiku bernyanyi.

“Wah, suaramu ternyata bagus sekali, murid baru.” Suara itu sukses membuatku terkejut.

Aku menatap heran. Jujur ini adalah minggu ketigaku di Top High School, wajar saja jika aku belum begitu mengenal semua orang disini.

“Mianhae. Nuguseyeo?” tanyaku sopan.

“Ah, aku lupa. Kenalkan aku Kim Hanbin. Tapi aku sering dipanggil B.I.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Omona! Tampan sekali..

“Naneun Hyo Jin. Cho Hyo Jin immida. Dari kelas X-4.” Aku membalas jabatan tangannya dan berusaha tersenyum semanis mungkin.

“Aku dari XI- 3. Kelas kita bersebrangan.” Ia masih tersenyum.

GLUP

Dia sunbae ku!!

“Ah, mianhae. Aku tidak mengenalimu, sunbae.” Ucapku sambil membungkukan badanku. Kurang ajar sekali aku.

“Gwaenchana. Panggil aku B.I oppa saja.” Ia mengelus rambutku pelan.

“Ne, B.I sunbae.”

PLAK

Ia menyentil dahiku dengan jarinya.

“Aw, appoyo~”

“Sudah kubilang panggil aku B.I oppa. Jangan pakai sunbae. Itu sedikit menjijikan.” Katanya sambil memasang wajah jijik. Aku terkekeh pelan.

“Baiklah, B.I oppa~” aku mengucapkannya dengan sedikit malu-malu.

“Kau suka bernyanyi? “ tanyanya padaku.

“Nde. Aku suka sekali. Nan norae johayo! Oppa?” kataku antusias.

“Aku tidak bisa bernyanyi tapi aku bisa rapp.” Katanya.

“Wah? Jinjja? Bagaimana kalau kita kolaborasi? Aku menyanyi dan oppa rap? Otte?” aku memberi usul.

“Bukan ide yang buruk. Apa kau tau lagu Me You?” tanyanya.

“Kalau tidak salah itu lagu dari San E feat Yerin 15&?”

“Nde. Kau benar. Kau bisa?”

“Tentu saja!”

“Oke.”

(lirik San E – Yerin)

Wah, dia hebat sekali! Dia mengagumkan!

“Hyo Jin..” ia memanggilku dengan lembut.

“Aku rasa aku ja-”

“Hanbin-ah!!! Aku mencarimu dari tadi!!!”

Sepertinya aku mengenal suara ini. Jangan- jangan dia..

“Eh? Hyo Jin?” tuh kan benar, dia adalah..

“Dong Hyuk oppa? Kenapa ada disini?”

“Kau kenal Dong Hyuk?” tanya B.I oppa.

“Tentu saja, B.I! Dia itu sepupuku yang paling cantik~” Dong Hyuk oppa merangkul pundakku. Ia selalu saja datang disaat yang tidak tepat.

*Author pov *
Semenjak kejadian tersebut, Hanbin selalu memikirkan Hyo jin.
“Dont know what I suppose to do, cant think of anyone else but you, and I regret I’m feeling you, baby i’m in love with you”

Hanbin bersenandung di balkon kamarnya.
Ya,itu adalah tempat kesukaan Hanbin. Sikap Hanbin berubah menjadi jarang makan, selalu tersenyum sendiri. Tak di sangka ada 2 pasang mata yang melihat Hanbin bersenandung. Yah, mereka adalah…
“Chagi,dia sedang jatuh cinta rupanya. Siapa yah kira-kira yang sudah mengambil hati uri Hanbin?” Ucap Mr. Kim yang datang bersama istri nya. Mereka appa dan umma dari Hanbin.

“Aish.. appa!umma! Mengagetkan saja!” Ucap Hanbin.
“Baby, kenapa Kau tidak bilang pada umma kalau Kau sedang jatuh cinta? Kan umma bisa memberimu saran padamu.”kata Kim umma sambil membelai surai hitam Hanbin.
“Mianhae umma. Aku belum sempat bilang sama appa dan umma. Umma, appa. Di sekolahku ada murid baru dia kelas 10. Saat aku datang pagi 2 hari yang lalu, aku tak sengaja mendengar dia bernyanyi dan suaranya sangat indah, kuberanikan diri untuk mengajaknya bicara. Dia selalu tesenyum ramah. Dan senyumannya manis sekali!!!! Tapi diganggu oleh Donghyuk. Dia sepupunya Donghyuk.*pout*” ucap Hanbin kepada appa dan umma nya.
“aigoo.. uri Hanbin sudah besar. Sudah bawa saja dia ke rumah. Kau nyatakan cinta padanya. Appa takin dia tidak akan menolakmu. Lalu, Kau bisa melakukan ‘itu’ bersama dengan nya. Tenang appa dan umma tidak akan menggangu.” Ucap Kim appa dan mendapat respon jitakan dari Kim umma.
“Ya! Chagi! Jangan memberi saran yang aneh-aneh!” Ucap umma. Yah.

“Tapi mungkin itu bisa dicoba. Coba Kau Ajak dia ke rumah. Bawa dia saat Hujan deras. Sehingga dia tidak bisa pulang. Haha..” ucap Kim umma asal. Hanbin berfikir tidak jelek juga rencana appa dan umma.

*Author pov end*
*Hanbin pov*
Aku selalu menunggu Hujan deras datang dan inilah hari yang diberikan Tuhan untukku. Hujan mengguyur kota ini sangat deras dan Hujan ini bermula dari jam 9 pagi. It’s a lucky day! Kring.. kring..

Bel pulang pun berbunyi. Segera kuambil tas dan keluar kelas menuju teras sekolah.

Lucky! Hyo Jin ada disana juga. Dan dia bersama chingu dan Donghyuk.
“Ah, Jinie. Oppa tidak bisa menemanimu hari ini. Oppa ada kerja kelompok. Umma dan appa sedang di luar kota. Mianhae.” Ucap Donghyuk. Berarti umma dan appa Hyo Jin sedang tidak di rumah?

Yes! Rencana umma dan appa emang jjang banget!!!

“Anyeong, ada apa nih?”
“Ah, Hanbin. Bisa kah Kau menemani Hyo Jin? Orang tuanya sedang mengunjungi Eonni-Eonni nya. Keluarga ku sedang di luarkota dan Kau taukan aku harus kerja kelompok dengan Jinhwan hyung.”ucap Donghyuk.
“Ah, tidak perlu oppa. Aku biasa sendirian di rumah kok. Tidak perlu oppa.” Hyo jin terlihat kaget saat Donghyuk menyuruhku untuk menemaninya. Dan tiba-tiba…

Jeder!!!!!

Kilat disusul geluduk datang.
“Aaaa!!!!” Hyo jin reflex memelukku. Oh, ternyata dia takut guntur.
“Itu yang namanya sering sendirian? Guntur saja takut. Nanti kalau Kau Malah memeluk yang lain gimana?”godaku.
“Aish.. oppa!! Jangan menakutiku.” Ucapnya manja. Lucu sekali. Aku sudah tidak kuat untuk memakannya.
“Bagaimana kalau di rumah oppa aja? Ada appa dan umma oppa. Jadi Kau menginap saja. Kebetulan besok sabtu kan? Kapan Orang tua mu pulang?”Tanyaku.

“Hari senin. Hmm.. baiklah aku akan menginap. Tapi hanya satu hari. Sisanya aku akan menginap di rumah Donghyuk oppa.”
“Baiklah. Kajja. Selagi hujannya berhenti.”
“Nde.” Yuhu!!! Aku berhasil. Sebenarnya Donghyuk sudah memperbolehkan aku untuk memiliki Hyo Jin. Dan sebenarnya, Orangtua Donghyuk ada di rumah. Dan Donghyuk tidak ada kerja kelompok. Benar -benar teman yang baik kan?

*skip time*
Kami datang disaat yang Tepat. Setelah kami masuk kedalam rumah, Hujan besar langsung mengguyur.
“Appa,umma. Aku pulang!” Teriak ku saat memasuki rumah.
“Nde. Aigoo, siapa dia? Manis sekali. Apa dia yeojachingumu? Perkenalkan aku ibunya Hanbin.”
“Anyeong, Naneun Cho Hyo Jin immida. Aku hoobae nya  Hanbin oppa.”
“Aigoo… manis sekali.. Tapi lihat kalian basah kuyup begini. Biar umma ambilkan handuk dulu ya. Kalian ke kamar dulu saja.” Kata Kim umma.
“Nde, umma.” Ucapku sambil melepas jaketku dan menggangtungnya.
“Emmmm, oppa. Aku tidur dimana?” tanya Hyo Jin.
“Kau tidur satu kamar denganku. Tenang kita pisah ranjang.kajja.” ucapku lalu mengantarnya ke kamarku.

Well, sebenarnya aku berbohong dan di kamarku hanya ada satu ranjang. Kamarku terbilang rapih dan wangi cowok banget.

“Wah, kamar oppa bersih Sekali.. pasti sudah banyak yeoja yang pernah masuk sini.” Ucap hyo jin.

“Ani. Baru Kau saja yang masuk ke kamar ini.” Ucapku sesantai mungkin. Sebenarnya dari tadi aku sudah menahan nafsuku begitu melihat pakaian hyo jin yang tercetak jelas karna kebasahan. Sungguh membuat celanaku menyempit.
*Hanbin pov end*
*Hyo Jin pov*
Yes.. rencanaku berhasil!!

Aku bisa masuk kamar Hanbin oppa.

Sengaja tadi aku membasahi bajuku dengan air Hujan sehingga pakaian dalamku tercetak jelas. Kulihat Hanbin kecil sudah mulai menampakan diri. Bisa kulihat dari celananya yang tiba-tiba mengembung. Disini akan kupasang image sebagai anak polos.
“Hyo jin, Hanbin! Umma masuk yh?” Teriak Kim umma.

“Aigoo.. Hyo jin Kau basah kuyup!! Liat pakaianmu tembus pandang sekali! Cepat pakai baju ini! Nanti Kau flu. ” Ucap umma nya Hanbin oppa.
“Nde.” Jawabku sambil tersenyum. Hey, tak apa kan kalau mencari perhatian dari calon mertua? Kkk~

Kim umma pun pergi meninggalkan kita berdua lagi. Dan lebih jjang nya Kim umma mengunci kamar nya dari luar.

Dan masalah ganti baju, di kamar Hanbin oppa tidak ada kamar mandi!!!!
” Oppa, dimana aku bisa ganti baju?” Tanyaku pura-pura polos.

“Disini saja.” Jawabnya dingin.
“Mwo?! Shireo! Kan ada oppa! Aku malu!” Kataku sambil membalikan badanku. Ini adalah rencanaku. Apa salahnya jual mahal dulu? Aku tidak ingin terlihat murahan.
“Malu? Apa Kau tidak malu sekarang? Lihat bajumu sangat transparan! Terlihat seperti telanjang dimata namja!”

Hup

Hanbin sudah memelukku dari belakang. Dan lihat rencanaku berhasil. Ia mulai menghisap leherku dan membuat tanda kepemilikannya. Tangan nya yang gatel sudah meremas pelan dadaku. Aku berusaha mendesah sekeras mungkin agar ia melanjutkannya.
“Aish. Emmpt.. ahhh.. oppahh.. nikmatth.. ah!” Aku berteriak karna Hanbin oppa sedang menarik nipple ku kasar. Ia mulai ganas, dan aku suka keganasannya.

Segera kubalikan badanku dan langsung melumat bibirnya. Dia membalas tak kalah kuat dengan lumatanku. Dia mulai mendominasi permainan. Dia menggendongku ala bride style menuju ranjang sedangnya tanpa melepaskan tautan bibir kami. Kami pun sudah terbaring di kasur dengan posisi Hanbin oppa diatas.
“Ah, oppa sangat tidak suka melihat Kau menggunakan seragam ini.” Katanya terengah setelah melepaskan tauran bibir kami.
“Kalau begitu.. lepaskan saja oppa..” Kataku dengan nada manja sambil memainkan jariku di dadanya.
“Wah, ternyata Kau nakal chagi. Dan sepertinya little Hanbin sudah bagun sejak tadi. Karna Kau yang telah membangunkan nya.. ” Hanbin menggantung kalimat nya lalu mendekatkan mulutnya menuju telingaku.
“Play and servis me well,baby” setelah mengucapkan itu, Hanbin mulai menjilati telingaku sesekali menggigit daun telingaku.
“Siapa takut?” Kataku dengan menunjukan muka bad girl ku. Segera kumainkan little Hanbin dan liatlah oppa, Kau akan menikmatinya.

Pasti.
*Hyo Jin pov end*

*Author pov *

Kalau kalian berfikir hari in sangat dingin itu tidak berlaku bagi dua manusia berbeda gender yang sedang saling  menghangatkan badannya satu sama lain dengan sang namja yang sedang mendorong sesuatu yang berada diantara pahanya kearah salah satu hole yang berada di badan sang yeoja.

“Ahh.. O-oppahh.. fas..fasterrr..ngah~” Hyo Jin tidak dapat menahan desahannya karna Hanbin tidak berhenti menyentuh titik terdalamnya yang menimbulkan friksi kenikmatan tiada tara.

“Kau… Ergh! Sempit!Kenapa masih sempit?” Hanbin mengerang nikmat. Ia bingung bagaimana Hyo Jin masih sempit sedangkan ia sudah membobolnya berkali-kali. Ah, tentunya dengan pengaman.

“Ah.. Akh! D-disituh.. sentuh lagihhh.. sshhh…” Hyo Jin menarik kepala Hanbin menuju dadanya. Hanbin mengerti kode yang diberikan Hyo Jin.

Ia pun meneggelamkan kepalanya didada Hyo Jin. Ia menghisap nipple Huyo Jin yang sudah sangat bengkak karna tadi saat foreplay ia sudah memainkannya.

“Iyah.. Seperti ituhh.. lebihhh dalam ahh~ D-deeper~”

Hyo Jin dapat merasakan Hanbin membesar dalam dirinya. Ia pun membantu pergerakan dengan menggerakan badannya berlawanan arah denagn Hanbin sehingga Hanbin dapat menyentuh titik terdalam Hyo Jin lagi tak lupa Hyo Jin memainkan otot kewanitaannya sehingga Hanbin tergenggam erat oleh Hyo Jin.

“Shit! KAu tau saja kalau aku akan klimaks. Baiklah mari kita selesaikan!” Hanbin semakin brutal menggerakkan miliknya. Hyo Jin tak mau kalah.

Sampai kira-kira 10 menit, mereka klimaks sambil menyebutkan nama pasangan mereka.

“Gomawo Hyo Jin. Ini hebat.” Hanbin mencium puncuk kepala Hyo Jin. Hyo Jin hanya mengangguk. Ia sangat kelelahan. Hanbin memeluk Hyo Jin dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Hyo Jin. Dan mereka segera pergi kedunia mimpi.

*skip time*
Sinar matahari menembus tirai jendela Hanbin. Hyo jin yang sedari tadi sudah bangun, sekarang sedang Asik melihat wajah namja yang baru saja mengambil keperawanannya.

Hyo jin merasa wajah Hanbin semakin tampan dan sexy setelah melakukan ‘itu’.

Sebenarnya Hanbin sudah bangun. Tapi ia ingin melihat reaksi hyo jin.

“Jangan melihatku terus. Aku tau aku tampan.” Kata Hanbin mengagetkan Hyo jin.
“Mian oppa.. aku tak se-”
“Mana morning kiss nya?” Ucapan Hyo jin terputus oleh Hanbin.

“Emmmm.. morning kiss kan hanya untuk orang yang pacaran..” kata Hyo jin sambil menundukkan kepalanya.
“Ya! Emang kita gak pacaran?” Ucap Hanbin gemas.
“Oppa belum menyatakan perasaan kepadaku. Kemarin oppa hanya mengambil keperawanan ku saja.” Ucap Hyo jin sambil mempoutkan bibirnya.

“Aigoo.. baiklah.. Hyo Jinie, jadilah yeojachingu ku. Ini perintah! Kalau menolak akan ku masukan lagi little Hanbin.”  Ancam Hanbin. Hey, asal kau tau itu tidak pantas disebut little!
“Apa kalau aku menerima mu Kau tidak akan melakukan itu?” Ucap hyo jin menggoda.
“Tentu saja tidak. Kalau Kau menerimaku akan kugagahi Kau sebanyak-banyaknya sampai little Hanbin tak bisa bangun lagi.”

“Nde. Aku menerimamu. Saranghaeyo oppa” ucapku sambil memberikan morning kiss padanya.
“Emph.. oppah… sudah..” ucap Hyo Jin berusaha melepaskan tautan bibirnya.
“Wae?? Kau tidak suka??” Tanya Hanbin.
“Aku ingin mandi oppa. Badanku lengket karna spermamu. Lihat!” Ucap Hyo jin sambil menunjuk dadanya.
“Mana ?sini oppa pegang.” Tanpa meminta izin Hyo Jin, ia meremas dada Hyo jin lagi.
“Chagi!! Umma bawakan makanan untuk kali-” Kim appa dan Kim umma terpaku melihat Hanbin sedang memangku Hyo jin sambil menghisap nipple Hyo jin.

Sedangkan Hyo jin sedang memainkan milik Hanbin. Hanbin  melihat kedua orang tua nya sedang menganga melihat badan Hyo Jin yang bisa dibilang err… seksi..

Segera Hanbin menutupi badan Hyo Jin dengan selimut dan Hyo jin langsung bersembunyi di balik selimut.

“Mian mengganggu aktivitas kalian… ” ucap Kim umma.

Brakk..

Pintu kamar Hanbin dibanting oleh Kim appa. Sedetik kemudian terdengar suara desahan dari Kim umma dan erangan dari Kim appa. Hanbin dan Hyo jin hanya terkekeh.

“Sepertinya kau akan punya adik baru, oppa.” Kata Hyo Jin disela tertawaannya.

“Mungkin saja. Haha. Jadi bagaimana kalau yang tadi dilanjutkan? Lihatlah! Dia sudah sangat bersemangat.” Hanbin menatap memelas pada Hyo Jin.

Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

Rumah Hanbin dipenuhi oleh suara desahan Kim umma dan Hyo jin. Jangan lupa erangan maut dari Hanbin dan Kim appa.

Oh ya, kalau Kau datang ke rumah nya pasti Kau mencium bau sperma dimana-mana. Pasalnya pasangan Kim appa dan Kim umma ini melakukan nya berkali-kali dan selalu berpindah tempat. Gaul!!

END

Akhirnya selese juga ff nc gagal ini.

Idenya author dapet waktu kejebak Hujan di sekolah author.

Dan kebetulan author adalah murid pindahan.

Semoga kisah ini benar-benar terjadi pada author !!! *ngucapmantra*

Sampai bertemu di ff yg lain..

~Cho Hyo Jin