I’m in Love // Part 2 – [Secret]

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Note:

Okee….. Ini dia part 2 nya. Author udah buru-buru beresin ini biar kalian ga kelamaan nunggu. Jadi maaf kalau kurang memuaskan. Masalah cintanya belakangan ya.. Ini masih family hehehe. Selamat baca. Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak. Gomawo ^^

.

.

.

I’m in Love

Part 2

Secret

 .

.

.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Sreeettt!

Cklek!

Kyuhyun tersenyum kecil, betapa menggemaskannya wajah Hwayeon tadi saat ia mendekatkan wajahnya. Kyuhyun kembali meluruskan arah pandangnya, dan mulai menyalakan mobil.

Hwayeon akhirnya menghembuskan nafas lega, ia membuka matanya perlahan dan mengintip Kyuhyun dari sudut matanya. Hwayeon terus menatap Kyuhyun dalam keheningan, membiarkan matanya memaku gambaran Kyuhyun, seakan ia takut akan melupakannya kelak.

Hwayeon berkali-kali berdehem pelan akibat suasana canggung yang kini memenuhi mobil mereka. Hwayeon bergerak tak nyaman dalam duduknya, sedikit membuat Kyuhyun risih. “Bisakah kau berhenti bergerak seperti itu? Kau membuatku risih” Hwayeon tersentak, ia menolehkan kepalanya dan menunduk seketika saat disuguhkan tatapan tajam khas seorang Cho Kyuhyun. “Mi-mianhae…” cicit Hwayeon pelan.

Kyuhyun menghela nafasnya berat, lalu melirik Hwayeon yang masih saja menunduk di tempatnya. “Maaf kalau kau bosan, aku tidak biasa berbicara saat sedang menyetir. Toh, kau juga satu-satunya wanita yang duduk dimobilku selain keluargaku dan dia.” Kyuhyun mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir. Tapi Hwayeon masih mendengarnya dengan jelas. “Dia siapa?” tanya Hwayeon spontan, jangan lupa… diiringi tatapan super polosnya.

Kyuhyun tersentak “T-tidak, bukan siapa-siapa.” Jawab Kyuhyun canggung. Hwayeon yang emang dasarnya suka kurang peka, malah kembali bertanya. “eyyy, dia siapa maksudmu? Tadi kau bilang… yang duduk dimobilmu ini hanya keluargamu dan dia kan? Dia siapa?” tanya Hwayeon tak tau diri. Kyuhyun menggeram, cengkramannya di roda kemudi semakin mengerat sampai buku-buku jarinya memutih. “Itu bukan urusanmu!” sentak Kyuhyun tajam.

Hwayeon langsung terdiam, gadis itu langsung mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun menjadi kearah luar jendela. Well, sepertinya gadis itu sakit hati, terlihat dari raut wajahnya yang mengeruh. Seakan tersadar, Kyuhyun menoleh singkat pada Hwayeon dan kemudian melenguh frustasi saat melihat wajah cemberut Hwayeon. “Ma-“

“Hentikan mobilnya.” Potong Hwayeon dingin. Kyuhyun melebarkan matanya kaget, tapi dia tetap menghentikan laju mobilnya. Kyuhyun memandang Hwayeon dengan pandangan bertanya “A-“

Cklek!

Sreet!

Cklek

Brakkk!

Kyuhyun melongo ditempatnya, tapi sedetik kemudian ia sadar… Hwayeon sudah berada cukup jauh didepannya. Ia dengan cepat ikut keluar dari mobil dan mengejar yeoja itu. “Yak! Apa yang kau lakukan!” pekik Kyuhyun panic saat melihat Hwayeon menyetop sebuah taxi.

Hwayeon berusaha tak mengindahkan Kyuhyun, dan berusaha masuk ke bangku penumpang. “Yak! Tidak bisa, kau harus pulang bersamaku. Aku tidak mau dicincang oleh oppamu!” Hwayeon terdiam, lalu dengan cepat ia menoleh pada Kyuhyun yang terlihat bingung. “Aku pastikan Yesung oppa tidak akan melakukan apapun padamu.”

Sreeett

Brakk

Kyuhyun terus terpaku ditempatnya saat taxi yang dipakai Hwayeon mulai melaju. Meninggalkannya sendirian ditengah jalan seperti anak hilang. “Maafkan aku…” desah Kyuhyun pelan sambil menatap lagit biru diatas kepalanya. Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba menetralkan dadanya yang entah kenapa berdenyut-denyut menyakitkan. Dan akhirnya, Kyuhyun memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Kyuhyun berjalan pelan kembali kemobilnya, ia kemudian menjalankan mobilnya ke tempat yang selama ini ia hindari, sebuah tempat yang membuat hatinya terkubur dalam-dalam. Sebuah tempat yang sudah menjadi tempat peristirahatan terakhir kekasih hatinya… Kim Min Jung.

.

Kyuhyun memandang kuburan didepannya dengan pandangan sendu. Tangan kanannya terulur untuk sekedar meraba dan mengelus nisan yang bernamakan Kim Min Jung diatasnya. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, menikmati semilir angin yang terus menerus membelai lembut wajah rupawannya.

Tes!

Kyuhyun membuka matanya saat dirasakan sebuah tetesan air jatuh tepat mengenai wajahnya. Kyuhyun menoleh pada kuburan dihadapannya seketika sambil tersenyum kecut. “Hujan emmh? Apa kau tidak merindukanku? Kau mengusirku dari sini dengan menurunkan hujan? Aku bahkan sudah lama tidak berkunjung… harusnya kau merindukan kekasihmu yang tampan ini kan?” Kyuhyun terdiam setelahnya, lalu tersenyum simpul. “Kurasa aku sudah mulai gila, tidak bisakah kau kembali? Tidak tau kah kau kalau sekarang… ada seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dihidupku, dan dia…benar-benar mirip denganmu… hampir terlihat seperti duplikat dirimu…”

Kyuhyun menghela nafasnya. Tubuhnya lunglai, ia jatuh terduduk di saping kuburan tersebut dengan pandangan kosong. Ia kemudian menarik kakinya, menekuknya kemudian memeluknya dengan kedua tangannya kemudian menenggelamkan wajahnya disana. “Dia sama sepertimu kau tau? Datang tiba-tiba, meluluh lantakkan hatiku seenaknya. Membuatku terjerat dalam pesonanya. Tapi aku takut… Aku tidak berani… Tidak bisakah kau membantuku? Aku tidak mau sampai jatuh hati padanya, aku tidak mau ditinggalkan lagi didunia ini sendirian… Aku tidak mau dia meninggalkanku seperti kau meninggalkanku, eotteokhaehajyo?”

Kyuhyun tetap diam di posisi itu sambil terus bermonolog, lalu tak lama Ia kemudian bangkit berdiri. “Aku harus pulang, aku tidak mau eomma dan appa khawatir padaku… Aku pamit ne? Akan kuusahakan untuk berkunjung kesini menemanimu karena aku tau kau kesepian disini, dan aku juga tau kalau kau benci kesepian. Baik-baiklah disana, aku mencintaimu…” dan akhirnya Kyuhyun beranjak pergi.

Tak lama setelah Kyuhyun masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar wilayah pemakaman, seorang yeoja dengan seragam yang sama dengan yang Kyuhyun kenakan berjalan mendekati makam tersebut.

Gadis itu kemudian duduk ditempat yang tadi diduduki oleh Kyuhyun dan air mata otomatis mengalir keluar saat tubuhnya menempel dengan rumput dibawahnya.

Tes

Tes

Tes

Gadis itu menengadahkan wajahnya keatas, mengamati langit mendung diatas kepalanya. “Eonni… bogoshipoyo” ujar gadis itu lirih. Air mata mulai mengaliri pipi gadis itu dengan semakin deras. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh mengenai makam dihadapannya.

Gadis itu terus menangis, terisak dihadapan makam bernamakan Kim Min Jung itu tanpa memperdulikan sekitarnya. Tubuh gadis itu sudah basah total, tapi sepertinya gadis itu bahkan tidak berpikir ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Gadis itu terus terisak, melampiaskan segala kesedihan dan keresahan hatinya. Meluapkan segala emosi yang sudah ia tahan sejak lama. “Eonni, kembalilah… Aku ingin bertemu denganmu eonni, Eomma dan appa juga pasti sangat merindukan eonni… hanya saja ego mereka mungkin terlalu besar. Eomma dan appa tidak tau kalau aku sering datang kesini untuk mengunjungi eonni. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak berani mengatakannya pada eomma ataupun appa, oppa pun tidak tau. Aku takut mereka marah dan melarangku untuk menemui eonni, padahal aku sangat merindukan eonni. Aku tidak tau kenapa mereka begitu murka jika aku ingin menanyakan tentang eonni pada mereka. Padahal eonni, kita tidak pernah bermasalah bukan? Kenapa mereka begitu menyebalkan? Hiks hiks. Apa mereka begitu membenci eonni karena masih belum bisa menerima kenyataan kalau eonni meninggalkan kami semua? Mereka bodoh kalau begitu eonni! Mereka sangat bodoh! Mereka pikir aku berbeda denganmu, tapi mereka tidak tau! Kenyataannya aku akan pergi juga dengan cara yang sama denganmu. Hiks hiks. Mereka menyebalkan hiks hiks. Apa mereka akan membenciku juga saat aku tiada nanti? Eotteokhaehajyo? Aku lelah eonni. Hiks hiks hiks…”

Lagii, gadis itu terisak lagi. Sepertinya gadis itu memiliki banyak cadangan air mata. Lihat saja, matanya sudah memerah dan membengkak besar, tapi masih tetap saja bisa memproduksi air mata sebanyak itu. “Hiks.. eonni hiks.. kembalilah..”

Gadis itu terus terisak disana, tanpa tau kalau hari mulai menjelang malam. “Eonni, aku sudah mengetahui tentang Kyuhyun, tambatan hati eonni… Namja yang sealu eonni ceriatakan padaku lewat surat-surat yang eonni kirimkan padaku.” Tanpa sadar gadis itu tersenyum tulus, lalu memejamkan matanya. “Dia tetap sama seperti apa yang eonni beritahu padaku. Dia menyebalkan, dia pintar, tinggi, dan tampan. Ahirnya aku mengerti maksud eonni tentang wajahnya yang boros umur, hihihi. Walau begitu dia tetap tampan eonni. Dia juga masih belum bisa melupakanmu eonni, apa yang bisa kulakukan eonni? Aku menyukainya, bolehkah?”

Gadis itu menahan nafasnya saat dadanya bergemuruh, berdenyut denyut nyeri mendapatkan kenyataan menyedihkan ini. “Bisakah kau merelakannya eonni…? Untuk…ku?” lirih gadis itu pelan.

Seusai gadis itu menyelesaikan kalimatnya, langit bergemuruh. Gadis itu kemudian tersenyum sambil memandangi llangit. “Apa itu sebuah ya? Atau tidak?” tanya gadis itu lembut. Lalu tiba-tiba, sebuah daun kering jatuh tepat dihadapan gadis itu. Gadis itu kemudian tersenyum dan kembali memandangi langit diatas kepalanya. “Gomawo eonni…”

.

Hwayeon turun dari taxi yang ditumpanginya setelah membayar sang supir dan mengucapkan terimakasih. Disana, didepan pintu… ia bisa melihat sang oppa menatapnya dengan pandangan sengit.

Hwayeon menghembuskan nafasnya, sepertinya gadis itu haru bersiap-siap dimarahi oleh sang oppa yang saat ini tengah terlihat sangat marah. Terlihat dari tangannya yang terkeal disamping tubuhnya dan rahangnya yang mengatup keras.

Hwayeon berjalan kea rah Yesung sambil meringis, membayangkan ia akan dicincang oleh oppanya setelah ini membuatnya merasa mual. “A-annyeong o-oppa.” Sapa Hwayeon canggung. Hwayeon tersentak kaget dan sontak menunduk kaku saat melihat Yesung mendelik kearahnya.

Yesung yang melihat hwayeon menunduk kaku hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan mengacak – ngacak rambutnya bingung. “Kau! Kemana saja kau! Tidak lihat apa ini sudah hampir tengah malam eoh? Kau mau membunuh ku karena khawatir padamu ya?! Kau juga tidak memikirkan eomma dan appa?! Eomma sampai pingsan saat tidak bisa menghubungi ponselmu dari sore tadi! Aish!”

Hwayeon semakin menunduk dalam saat mendengar bentakan Yesung, gadis itu meremas-remas ujung roknya tak beraturan sambil menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah pada keluarganya. Ia merasa sangat m…

Sreett

“Jangan lakukan itu lagi. Oppa mohon, kami semua mengkhawatirkanmu. Demi Tuhan, kau itu yeoja. Dan tidak bisakah kau mengerti? Eomma sangat takut jika kau nanti akan menghilang meninggalkan kami.” Lirih Yesung sambil terus mengeratkan pelukannya. Tubuh Hwayeon sontak menegang kaku mendengar ucapan Yesung.

Hwayeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu balas memeluk Yesung dengan cepat. “Aku tidak mungkin meninggalkan kalian!” ujar Hwayeon tak kalah lirih. Dan tanpa Hwayeon ketahui, Yesung meneteskan air matanya sedih saat mendengar ucapan Hwayeon tadi.

Tapi pada akhirnya kau akan meninggalkan kami semua jika kau tetap bertahan dalam kekerasan kepalamu itu sayang… batin Yeusng nelangsa.

Tap

Tap

Tap

Brakkk!

“OMO!!! HWAYEON-AH!!!” Hwayeon tersentak kaget saat tiba-tiba tiba tubuhnya seakan terlempar dan terhempas seketika ke dalam pelukan Leeteuk. Leeteuk terus menangis dan terus memeluk Hwayeon, mengabaikan Hwayeon yang terlihat kebingungan. “Eomma mengkhawatirkanmu sayang! Kau tidak bisa dihubungi dari tadi sore, eomma hampir menelpon polisi kalau saja appamu tidak melarang dan mengatakan kalau kau harus hilang 24jam dulu baru eomma bisa menelpon polisi untuk melaporkan kehilanganmu. Hiks hiks. Kau benar-benar membuat eomma cemas!” Hwayeon mendengarkan seluruh perkataan Leeteuk dengan seksama. Dadanya berdenyut denyut sakit saat mengetahui bagaimana cemasnya orangtuanya tentang keadaannya padahal hal seperti ini harusnya tidak akan membuat kehebohan sebesar ini bukan?

Seorang anak SMA tingkat akhir pulang malam bukanlah hal aneh bukan? Yah walaupun dia adalah seorang yeoja. Tapi tetap saja kelakukan eommanya ini memang diluar batas wajar orang tua normal. Orang tuanya terkesan sangat protektif padanya…

Setelah akhirnya bisa menguasai diri, Hwayeon mulai membalas pelukan leeteuk dan mulai menenangkan leeteuk yang terus saja menangis sambil merapalkan kata ‘anakku’ entah untuk apa. “sudahlah eomma, jangan menangis terus. Aku sudah tidak apa-apa bukan? Aku sudah sampai rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Jadi berhentilah cemas sekarang. Arrachi? Aku baik-baik saja eomma.”

Cukup lama Hwayeon membujuk, akhirnya tangisan leeteuk mulai mereda sedikit demi sedikit. Hwayeon melepaskan pelukannya saat merasa tangisan Leeteuk mulai berangsur angsur berhenti.

Leeteuk yang sudah bisa mengendalikan diri dan berhenti menangis mulai menempatkan dirinya kembali ke pelukan Kangin, sang suami yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.

Setelah Leeteuk kembali ke pelukan Kangin, barulah Hwayeon menatap Kangin yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu dengan pandangan menegur. “lain kali hubungi kami sebelum melakukan Sesutu. Kau harus mengerti sayang, kau harus paham tentang hal ini. Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi di masa depan. Kau harus selalu memberitahu kami semuanya. Kau mengerti? Berhentilah membuat kami semua khawatir seperti ini. Kau sudah dewasa, jadi bersikaplah dewasa.” Tegur Kangin. Hwayeon mengangguk kaku kemudian menatap Leeteuk yang tengah menatapnya dengan pandangan sendu dari dalam pelukan Kangin, lalu matanya teralih pada sosok Yesung yang sedari taditerabaikan olehnya.

Yesung berdiri tepat disamping Kangin dan Leeteuk. Yesung juga menatapnya dengan pandangan menegur, tapi selain itu.. Ada kilatan khawatir yang terpancar jelas dari sorot matanya.

Hwayeon paham jelas apa yang membuat Yesung khawatir setengah mati, bahkan mungkin lebih khawatir dari Leeteuk, eommanya sendiri. “Kau.harus.menjelaskannya.padaku.nanti!” Hwayeon mengangguk samar saat ia berhasil membaca ucapan tanpa suara Yesung yang ditujukan untuknya.

“Sudahlah, lebih baik kita masuk, ayo sayang. Seragammu agak basah. Cepatlah mandi air hangat dan bergabunglah dimeja makan. Eomma akan segera menyiapkan makan malam untuk kita. Ayo cepat, eomma tidak mau kau sakit.” Hwayeon langsung masuk kedalam rumah digiring oleh Yesung, dan tanpa banyak kata, Yesung langsung menggiring hwayeon kedalam kamar gadis itu dan menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi.

Hwayeon menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mandi, dan saat gadis itu keluar dari kamar mandi, Yesung masih setia berada didalamm kamarnya. Tiduran dikasur sambil memeluk boneka Hello Kitty raksasa yang menjadi hadial ulang tahun ke-16 Hwayeon dari Yesung.

Hwayeon tersenyum saat melihat Yesung yang sepertiya sangat terfokus dengan aksinya memeluk boneka Hello Kitty raksasa tersebut sampai sampai tidak sadar kalau Hwayeon sudah keluar dari kamar mandi. “Serius sekali.” Gumam hwayeon pelan sambil tersenyum simpul.

Yesung yang mendengar suara Hwayeon menyapu indra pendengarannya sontak terbangun. Namja itu langsung mendudukan dirinya dikasur dengan posisi yang nyaman lalu memeluk boneka Hello kitty lain yang ukurannya lebih kecil, yang bertebaran dikasur Hwayeon. “Kemarilah.” Ujar yesung sambil menepuk nepuk tempat disebelahnya.

Hwayeon tersenyum kecil lalu menyanggupi permintaan Yesung. Ia berjalan mengitari ranjang lalu duduk di sisi yang bersebrangan dengan Yesung. Hwayeon kemudian mengambil boneka raksasanya yang berada disamping Yesung lalu beralih membawa boneka itu kedalam pelukannya.

Hwayeon menenggelamkan wajahnya disana, sama sekali tidak berniat wajah Yesung. “Sekarang katakana. Dari mana saja kau seharian ini eoh? Kukira kau akan kerja kelompok dengan Kyuhyun, tapi saat aku menelpon bocah itu. Dia bilang kalian tidak jadi kerja kelompok karena ada halangan. Kau tau? Saat mendengar kau hilang dia juga ikut panic bersamaku. Hah… Kau benar-benar sudah membuat banyak orang cemas hari ini.” Ujar Yesung panjang lebar.

“Mianhae.” Jawab Hwayeon singkat, padat, dan jelas.

Yesung menghela nafasnya kasar, adiknya itu memang sanat keras kepala. Percuma saja memaksanya, tidak akan berguna jika memang gadis itu tidak menginginkannya. Itu sama saja seperti kita menguras air laut, tidak akan pernah ada hasilnya. Hanya pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga.

Yesung mengusap wajahnya kasar, merasa bingung menghadapi Hwayeon yang sekarang. “Tidak bisakah kau menceritakannya padaku? Kau hanya perlu menceritakannya padaku jika kau memang enggan menceritakannya pada eomma dan appa.” Bujuk Yesung lembut.

Hwayeon diam, memikirkan ucapan Yesung baik baik dalam hati. Haruskah? Batin Hwayeon bingung.

Menyerah, akhirnya Hwayeon memutuskan untuk bercerita pada Yesung. “Oppa, sebenarnya aku…” Hwayeon menghentikan ucapannya, merasa ragu harus mengatakan hal ini pada oppanya atau tidak. Yesung diam, membiarkan Hwayeon bicara tanpa hambatan. “A-aku, aku sering pergi mengunjungi Min eonni akhir-akhir ini.” Cicit Hwayeon pelan. Yesung terdiam, mencoba mencerna maksud kalimat yang baru saja Hwayeon lontarkan.

Hening

Yesung terus terdiam, sedangkan Hwayeon duduk gelisah ditempatnya. Diamnya Yesung malah semakin memperburuk kegugupannya. “Katakan sesuatu oppa, jangan diam saja! Aku jadi bingung kalau kau terus d-“

“APA?!!??!?” pekik Yesung keras. Hwayeon tersentak mundur dengan tubuh menegang kaku saat mendengar pekikan Yesung yang terdengar nyaring ditelinganya. “KAU BILANG APA TADI?!” teriak Yesung geram. Hwayeo mengkeret takut ditempatnya. “t-tidak perlu berteriak sekeras itu kan bisa..” cicit Hwayeon takut.

Yesung mendelik dari tempatnya, sedangkan Hwayeon semakin menunduk. Sudah menebak kalau reaksi Yesung akan sehisteris ini. Dalam hati gadis itu merutuki keputusannya tadi untuk berkata jujur pada Yesung. “Kau bilang kau – aish! Kenapa kau melakukannya?! kalau eomma tau, eomma akan sangat marah padamu kau tau!” bentak Yesung dengan suara rendah

Brakkk

“Melakukan apa? Hwayeon melakukan apa sampai sampai kau bilang kalau eomma akan marah emmh? Kalian membicarakan apa sejak tadi?” Yesung dan Hwayeon langsung membeku saat mendengar suara eommanya dari ambang pintu. Hwayeon melirik gugup kearah Yesung sedangkan Yesung terus terfokus pada eommanya.

Yesung kemudian tertawa canggung saat terus-terusan dipandangi tajam oleh Leeteuk. “A-ah, t-tidak apa-apa eomma. Eomma tenang saja. Bagaimana kalau kita turun saja? Appa pasti sudah menunggu kita dibawah sejak tadi hehehe.” Leeteuk menatap Yesung tajam, tau kalau anak laki-lakinya itu tengah berbohong.

Yesung akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah-baiklah, aku akan jujur pada eomma.” Kali ini Hwayeon yang mendelik kaget. Matanya membulat dengan tangan terkepal merasa marah pada Yesung. “YAK! Oppa sudah berjanji padaku untuk merahasiakannya dari eomma dan appa!!!!” teriak hwayeon tanpa sadar.

Sedetik kemudian gadis itu merutuki kebodohannya yang malah mengungkapkan rahasianya tanpa sadar pada Leeteuk. Leeteuk sendiri mengerutkan kening tak suka saat indra pendengarannya mendengar kalimat yang menyebalkan-menurutnya-

Dalam hati Yesung memaki Hwayeon yang dengan bodohnya mengatakan sesuatu yang jelas-jelas akan membuat orangtua mereka semakin curiga. “Apa yang kalian berdua sembunyikan dari eomma eoh?” tanya Leeteuk penuh selidik.

Hwayeon mengerjap gugup, sedangkan Yesung diam-diam memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan yang cukup untuk membuat Leeteuk percaya pada mereka berdua. “Hwayeon bilang dia…” Yesung sengaja menghentikan kalimatnya, sedikit menikmati perubahan raut wajah Hwayeon yang sedemikian memelas sekarang.

Leeteuk sendiri menunggu dengan cemas, apa yang akan dikatakan Yesung? Leeteuk sama sekali tidak ada clue. “Hwayeon… Hwayeon menghilangkan gelang pemberian eomma dan appa tahun lalu di sekolah.” Ujar Yesung tiba-tiba.

“MWOOO?!!!!???” Suara teriakan itu menggema di seluruh penjuru kamar bernuansa pink tersebut. Bukan hanya Leeteuk yang berteriak, Hwayeonpun berteriak karena kaget dengan alasan menyebalkan yang baru saja Yesung lontarkan.

Gadis itu dengan cepat menyapukan pandangannya ketangannya saat perhatian Leeteuk masih tertuju sepenuhnya pada Yesung, dan bersyukur saat melihat gelang pemberian eomma dan appanya tahun lalu ternyata memang tidak ada pergelangan tangannya.

Hwayeon langsung menyengir kaku saat Leeteuk beralih menatapnya dengan tajam. “Benar itu?” tanya Leeteuk dengan suara lembut, namun bagai lonceng kematian bagi Hwayeon. “N-ne” cicit Hwayeon pelan. Aish, eomma menyeramkan sekali. Padahal aku tidak benar-benar menghilangkan gelang itu, tapi kenapa aku tetap terintimidasi oleh tatapannya? Aish, eomma pasti belajar dari Heechul ahjumma. Ck, Heechul ahjumma itu memang menyebalkan batin Hwayeon nelangsa.

Tak!

“APPO!” teriak Hwayeon kaget saat tiba-tibakepalanya terasa sakit karena dijitak oleh Leeteuk. “Sakit tau! Eomma menyebalkan!” rajuk Hwayeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ck, itu gelang mahal bocah! Bisa-bisanya kau menghilangkannya, kau mau eomma cincang ya?!” Hwayeon mengkeret seketika.

“Ish! Aku kan tidak sengaja!” sungut Hwayeon kesal, sesekali ia mendelik pada Yesung yang tengah menahan tawa. ”Tidak sengaja tidak sengaja! Tetap saja! Itu warisan keluarga dasar bodoh!”

Tak!

“Aish! Berhenti menjitakku! Kepalaku pusing!” ujar Hwayeon kesal sambil menghentak hentakkan kakinya. Leeteuk menatap Hwayeon gemas kemudian mencubit pipi gadis itu kencang-kencang sampai gadis itu berteriak. “OMO OMO!!! EOMMA LEPAS!! HIAH SAKIIT! EOMMAA PABBO!!!LEPASSS!!! EOMMA!!!”

Hwayeon memukul mukul pelan tangan Leeteuk yang bertengger manis di pipinya dengan cepat, berharap sang eomma segera melepaskan cubitannya di pipi gembulnya. Leeteuk terkekeh senang saat menatap hasil perbuatannya di pipi anak gadisnya itu.

Hwayeon meringis, mengelus elus pipinya yang terasa panas dan sakit akibat cubitan dahsyat Leeteuk. “Pokoknya eomma mau kau besok pulang dengan membawa gelang itu, awas saja kalau tidak. Rasakan sendiri akibatnya chagiii~” Hwayeon bergidig ngeri saat membayangkan dirinya disiksa oleh Leeteuk dengan cara yang sungguh menyiksa versinya.

Yesung yang sedari tadi menahan tawa, tak sanggup lagi membendung tawanya. Akhirnya ia tertawa lepas bahkan sampai terbatuk-batuk, membuat Hwayeon kesal setengah mati. “Ahahaha, sudahlah eomma. Lebih baik kita kebawah, kasihan appa menunggu sendirian dibawah. Hihihihi.”

Hwayeon pasrah saja saat digandeng Leeteuk keluar kamar dan turun kearah meja makan. Kangin ternyata sudah duduk dimeja makan dengan kening berkerut sambil memandangi Leeteuk yang menggandeng Hwayeon, dan Yesung yang sedari tadi tidak berhenti tertawa.

Leeteuk dan Yesung akhinya duduk disamping Kangin, sedangkan Hwayeon duduk disamping Yesung.

Pak!

“Aww! Sakit bodoh!” umpat Yesung saat merasakan kakinya berdenyut-denyut nyeri. Hwayeon sendiri mengejek Yesung sambil memeletkan lidahnya. “ra~sa~in!” ejek Hwayeon tanpa suara.

Leeeteuk memandang kelakukan kekanakan hwayeon dan yesung sambil tersenyum, sedangkan Kangin malah mengerutkan kenngnya tak mengerti. “Ada apa?” tanya Kangin bingung.

Leeteuk terkekeh sebentar, mencoba mengabaikan perdebatan kedua anaknya yang berisik. “Gelang Hwayeon hilang, ituloh, gelang yang kita berikan tahun lalu.” Kekeh Leeteuk. “APA?!” ujar kanggin kaget tanpa sadar berteriak.

Hwayeon tak menghiraukan tatapan tajam Kangin dan tetap sibuk berdebat dengan Yesung.

“Racoon appa tidak boleh marah, eomma sudah memarahiku, jadi racoon appa tidak boleh ikut-ikutan. Nanti appa cepat tua loh. Kalo appa tua, nanti appa tambah jelek. Kalau appa jelek, nanti eomma pindah hati.” Ucap Hwayeon asal.

Kangin dengan segera mendelik, namun sedetik kemudian mengela nafasnya pasrah. Percuma saja memaksa berdebat dengan anak bungsunya itu, ia akan tetap kalah. “Terserahmu sajalah~” jawab Kangin malas.

Hwayeon sendiri hanya terkekeh dan mulai makan. Makan malam dikeluarga itu cukup ramai, oh tentu saja. Ada biang keributan didalamnya, jadi tidak heran kalau kelurga itu selalu ramai setiap saat.

“Ah yaaa, aku lupa memberitahumu. Kau harus datang ke Mom House café besok ne.” ujar Leeteuk tiba-tiba, memotong perdebatan Hwayeon dan Yesung tentang siapa yang lebih selesai makan *abaikan*.

Hwayeon seketika teralih pada Leeteuk, mengabaikan Yesung yang cemberut karena aktivitasnya berantemnya diganggu oleh sang eomma. “Untuk apa kesana?” tanya Hwayeon bingung. “Ah, eomma hanya baru saja mencoba mengikutkanmu kencan buta. Ehehe.” Jawab Leeteuk tanpa dosa disertai cengengesan khasnya. “Mwo? Untuk apa?”

“Ya tidak apa-apa sih. Eomma hanya ingin.” Jawab Leeteuk sekenanya. Hwayeon sweatdrop seketika.

Kenapa eommaku seperti ini sih ? ._. batin Hwayeon bingung.

“Dengan siapa?” tanya Hwayeon spontan. “Inikan kencan buta, masa eomma beritahu sih? Nanti tidak asik jadinya. Tapi dia anak Heechul dan Hangeng kok, jadi kau tenang saja.” Yesung dan Kangin yang menyimak percakapan ibu dan anak itu mengernyitkan dahinya bingung. Yang bodoh disini siapa sebenarnya?

Hwayeon memiringkan kepalanya, memasang pose berfikir. “Siapa namanya?” tanya Hwayeon lagi. “Ah eomma lupa namanya, tapi dia tampan kok.” Jawab Leeteuk sambil tersenyum sumringah. “Ah jinjja? Apa dia tinggi?” Hwayeon akhirnya ikut-ikutan semangat. “Ya tentu saja! Kau pendek jika dibandingkan dengan dirinya, kalau tidak salah tingginya… eum.. 184”

“Huuuuaaaa, tinggi sekali dia itu? Apa dia mengkonsumsi tiang listrik eomma?” tanya Hwayeon bodoh. “Mungkin saja.” Jawab Leeteuk menanggapi tingkah bodoh anaknya. Keduanya mengangguk-ngangguk bersama seakan puas dengan pikirin mereka. Mengabaikan Yesung dan Kangin yang enatap mereka berdua datar.

“Apa dia pintar?”

“Ya, setau eomma dia pintar. Dia bisa dibilang jenius.”

“Wah benarkah? Dia umur berapa?”

“Tak tau, 18 / 19 mungkin. Mungkin sepantaran oppamu.”

“Apa kepalanya besar seperti Yesung oppa?” tanyanya tak tau diri, membuat Yesung geram.

“YAK!!!! / tidak, hanya saja dia pintar, mungkin dahinya lebar.”

“Ahh, apa dia bisa olahraga?”

“Eomma tak tau, tapi setau eomma dia masuk klub basket di sekolah.”

“Dimana sekolahnya?”

“Eomma tak tau, eomma lupa.”

“Apa dia tau kalau pasangan kencannya itu aku?”

“Tidak, kau tau sendiri bagaimana Heechul. Yeoja itu pasti hanya menyuruh anaknya itu untuk datang ke café untuk kencan dengan seseorang yang sudah ia pilihkan, tanpa memberitahu keterangan lebih. Yaah, you know lah”

“benar juga.” Jawab Hwayeon sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Baiklah, aku akan tidur. Ah, jam berapa aku harus kesana?”

“10 kalau tidak salah. Ah jangan lupa, cari gelangmu!”

“Ck arraseo, aku tidur. Pay pay.” Hwayeon langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi ke kamar tidurnya, meninggalkan Leeteuk, Kangin, dan Yesung di meja makan. “Apa perjodohan ini akan berhasil?” tanya Leeteuk tiba-tiba memecah keheningan. “Pasti berhasil.” jawab Yesung tanpa ragu.

-o0o-

Pagi menjelang, seberkas sinar matahari mulai memaksa menorobos masuk gorden pink yang masuk menutupi jendela. Hwayeon masih tertidur pulas di kasurnya dikelilingi koleksi boneka boneka hello kittynya.

Mata yang awalnya terpejam itu mulai bergetar perlahan, membuka sedikit demi sedikit.. Sampai akhirnya mata itu terbuka dengan sempurna. Hwayeon mengerjapkan matanya, mencoba memfokuskan pandangannya.

Kemudian gadis itu menoleh kearah jam kecil berbentuk hello kitty yang terletak tepat diatas nakas yang berada di samping ranjangnya.

09:17

“OMO!!! AKU TERLAMBAT!!!” pekik Hwayeon tiba-tiba. Gadis itu dengan cepat bangun dari ranjangnya dan berlari tak tentu arah. “Kamar mandi mana sih?!” gadis itu mengedarkan pandangannya.

Pak!

“Dasar bodoh!” umpat gadis itu pada dirinya sendiri kemudian masuk ke kamar mandi yang ternyata tepat berada di belakangnya.

Gadis itu melakukan ritual mandinya dalam waktu kurang lebih setengah jam. Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi berbalut bathrobe yang lagi-lagi berwarna pink. Secepat kilat gadis itu berlari kearah lemari, dan langsung membuka lemarinya.

Gadis itu mengambil baju secara acak dan langsung mengenakannya. Kemudian gadis itu beralih ke meja rias, dan memoleskan sedikit make up diwajahnya.

Perfect.

Gadis itu mematut dirinya sekali lagi di kaca, memastikan jika penampilannya sudah sempurna. Gadis itu hanya mengenakan gaun berwarna kuning lembut selutut dengan model tali spaghetti. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi punggungnya.

Gadis itu menarik nafasnya sejenak lalu tersenyum sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Setela yakin, ia menyambar tas dan sepatunya yang berwarna senada dengan bajunya, dan tak lama kemudian-

Tada!

Semuanya selesai.

Hwayeon langsung berlari keturun kelantai bawah, dan manyamperi meja makan. Disana, sudah ada Leeteuk, Kangin, dan Yesung. “Aku pergi dulu ne~” pamit Hwayeon cepat. Hwayeon mengecup masing-masing pipi kiri dan kanan mereka lalu dengan cepat beralih dari sana.

“Annyeong!!!” pamitnya sambil lalu.

Hwayeon berjalan tergesa-gesa ke café yang dimaksud Leeteuk. Jarak rumah mereka dengan café yang eeteuk maksud tidaklah jauh, maka dari itu Hwayeon lebih memilih untuk berjalan kaki, lagi pula… Jika sekarag ia ingin kencan, untuk apa membawa mobil? Ia yakin pihak namja itu pasti akan membawa mobil. Kalau tidak yaaaaa, yasudahlah.

Kriiing

Hwayeon melangkah masuk ke dalam café itu dan memilih tempat yang berada di ujung, disebelah kaca. Hwayeon kemudian mendudukkan dirinya disana. Seorang pelan datang menghampirinya. “Mau pesan apa agasshi?” tanya pelayan itu sopan.

Hwayeon menatapnya lalu tersenyum sopan pula. “Vanila lattenya 1. Gomawo.” Ujar Hwayeon ramah. Pelayan itu tersenyum sejenak lalu membalikkan dirinya.

Kriiing

Perhatian Hwayeon teralih saat mendengr suara bel yang menandakan ada orang lain yang masuk ke dalam café. Hwayeon menunggu dengan tegang ditempatnya. Kira-kira seperti apa teman kencannya sekarang? Baikkah? Tampankah? Seperti yang eommanya bilang semalam?

Kebetulan Hwayeon memilih kursi yang membelakangi pintu masuk, jadi ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang datang. Sampai tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.

Hwayeon menoleh dengan gugup, dan apa yang kini tengah ia hadapi sungguh membuatnya bingung dan merasa sedikit mengganjal.

“Oppa?” sapa Hwayeon bingung. Orang yang tadi menyentuh pundak Hwayeon sepertinya juga terkejut.

“Omo! Bukankah kau Kim Hwayeon? Adik dari Yesung hyung?” ujar pria itu dengan nada ramah. Seulas senyum juga mulai tampak menghiasi bibir pria itu.

“Ne, benar.” Jawab Hwayeon sambil tersenyum tak kalah ramah.

“Ah aku yang akan menjadi teman kencanmu hari ini jika kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Kibum oppa…”

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s