I’m in Love – Part 1

“oppa! Kumohon, belum saatnya mereka tau. Aku akan memberitau mereka sendiri, tapi tidak sekarang. Kumohon oppa, untuk sekarang jagalah rahasia ini untukku.” Hwa Yeon menggigit bibirnya kuat, mencoba menahan isak tangis yang hendak keluar dari bibirnya. Yesung memandang Hwa Yeon sendu, kemudia dengan cepat menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Arraseo, tenanglah. Bernafaslah dengan benar. Oppa tidak mau kau harus masuk UKS atau lebih parah, RS karena asmamu kambuh. Oppa yakin kau tidak membawa Inchalermu sekarang. Betul kan?” Hwa Yeon yang tadinya siap menangis, langsung terkekeh.

“Bagaimana oppa tau kalau aku tidak membawa Inchalerku?” tanya Hwa Yeon manja.

“Cih, oppa mengenal dirimu luar dalam chagiya.” Hwa Yeon mengerucutkan bibirnya sebal, tapi kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh oppanya itu.

“Oppa memang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangimu oppa. Gomawo ne, buat semuanya.” Yesung terkekeh kemudian mengangguk pelan. Dikecupnya lembut puncak kepala Hwa Yeon kemudian menumpukan dagunya dipuncak kepala gadis itu.

“Jangan pernah tinggalkan oppa. Oppa tidak siap kehilangan adik oppa yang paling manis.” Ujar Yesung lirih. Hwa Yeon terenyah, ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak akan meninggalkan oppa, aku berjanji.”

Aku tidak akan meninggalkanmu oppa. Setidaknya, tidak sekarang.

.

.

.

Title: I’m in Love

Author: Kim Hwa Yeon

Genre: school life, friendship, romance

Cast:

  • Kim Hwa Yeon (OC)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Kibum (Super Junior)
  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung as Hwa Yeon’s oppa (Super Junior)

Other:

  • Kim Young Woon a.k.a Kangin as Hwa Yeon’s appa
  • Park Jung Soo a.k.a Leeteuk as Hwa Yeon’s eomma (GS)
  • Tan Hangeng a.k.a Hankyung as Kyuhyun’s appa
  • Kim Heechul a.k.a Heechul as Kyuhyun’s eomma (GS)

I'm in Love

Warning:

typo bertebaran, cerita tidak menarik

Disclaimer:

Kyuhyun punya Sparkyu, SME, Super Junior, orangtuanya, ELF, dan Tuhan YME. Saya cuma pinjem nama. Hihihi

Note:

Oke… akhirnya author publish juga part 1 nya. Chapter ini sedikit pendek karena bikinnya ngebut. Gapapaya? Maaf lama ngepostnya… Oke, jadi sekarang..Silahkan baca kalau anda ingin baca. Saya ga masalah dengan silent readers. Saya lebih menghargai orang yang menjadi silent reader dari pada ngebash disini.

Disini juga ada Gender Switch untuk leeteuk dan heechul, jadi yang tidak suka lebih baik tekan tombol back yang berada di pojok kiri atas. Hehehe.

Terimakasih ^^

 NB: Bold untuk flashback

***

I’m in Love chapter 1

Started

 .

.

.

Hwa Yeon mematut dirinya sekali lagi di kaca kamarnya, lalu kembali mengulas senyum di bibirnya saat tau kalau dirinya sudah terlihat sempurna.

Apa aku bisa? Aku tidak yakin akan bisa melakukannya, tapi… aah, sudahlah. Kau harus semangat Hwayeon-ah. Fighting!!!!

“Pagi eomma, appa, oppa.” Hwayeon mengecup pipi ketiga orang paling berharga miliknya kemudian mendaratkan bokongnya di kursi yang kosong yang terletak tepat disebelah oppanya.

“Eoh, pagi chagiya.” Gumam Yesung acuh. Yesung, namja itu menatap makanan yang terjadi didepannya dengan mata berbinar-binar. Tanpa aba-aba, tangan kanannya terjulur hendak mengambil sepotong paha ayam goreng tapi belum sempat ia menyentuhnya…

Plak!

“Aaaaah, kenapa eomma memukulku?! Aku ingin makan! Lapar lapar lapar.” Rajuk Yesung sambil kembali mencoba meraih ayam goreng yang berada di hadapannya.

Sreeeeet

“Aaah EOMMA!!!! KEMBALIKAN! AKU MAU AYAM GORENGKU! AISH! KEMARIKAN!!!!!!” Hwayoen mengernyitkan dahinya tak suka saat Yesung terus saja berteriak dan merengek agar eommanya mengembalikan ayam gorengnya. Gadis itu kemudian memejamkan matanya, kepalanya terasa berdenyut-denyut, dadanya terasa sesak, dan pandangannya sedikit mengabur.

Kangin, sang appa ternyata meyadari keanehan buah hatinya. Ia memperhatikan anaf perempuannya itu dengan lekat, sedikit khawatir saat menapati wajah pucat anak gadis satu-satunya itu. “Kau tidak enak badan Hwayeon-ah? Wajahmu pucat sekali. Kalau sakit, jangan memaksakan masuk sekolah. Minta izin saja, biar oppamu yang meminta izin pada wali kelasmu.” Ujar Kangin perhatian.

Sejenak ruang makan tersebut hening, Yesung suda mengalihkan pandangannya dari pujaan hatinya –baca: ayam goreng- dan beralih memandang sang adik yang tak dipungkiri, wajahnya sangat pucat. Yesung mndesah dalam hati, dadanya sesak, ingin sekali ia berteriak kepada adik keras kepalanya itu untuk tidak bersikap sok kuat lagi.

Baru saja Yesung ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tiba-tiba tangannya digenggam diam-diam oleh Hwayeon dibalik meja. Yesung menggeram samar saat menyadari apa maksud adiknya itu.

Hwayeon akhirnya membuka matanya dan memaksakan sebuah senyum lemah. “Aniya appa, aku hanya kelelahan saja. Aku tiak mungkin ijin hari ini, banyak sekali ulangan. Aku juga tidak ingin tertinggal pelajaran. Aku akan tetap sekolah. Lagian, aku kan sekelas dengan Yesung oppa, kalau aku tidak kuat, aku akan meminta oppa membawaku ke UKS atau pulang. Jangan khawatir arra?” Kangin memandang anak gadis satu-satunya itu dengan ragu. Tapi pada akhirnya, ia hanya menghela nafas dan mengangguk.

Suasana kembali hening, Yesung akhirnya merebut ayam goreng dari tangan Leeteuk dan memakannya dengan cepat memmbuat suasana yang tadinya hening jadi ricuh akibat gelak tawa dan perdebatan Leeteuk dengan Yesung. “Dasar anak nakal, bahkan eomma dan appa belum makan. Setidaknya biarkan yang tua dulu, sopanlah sedikit bocah.”

Yesung melanjutkan makannya dengan tenang, sama sekali tidak mengindahkan teguran Kangin dan tatapan membunuh yang Leeteuk berikan untuknya. Hwayeon tersenyum simpul melihatnya. Diam-diam ia berdoa dalam hati. Berharap agar Tuhan berkenan memperpanjang umurnya, memperbolehkannya merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi, bersama orang-orang yang ia cintai.

Dan di sisi lain, Yesung pun berdoa dalam diam tanpa menghentikan kegiatan makannya. Berilah adikku kekuatan. Aku tau dia lelah, aku tau dia sakit, tapi dia tidak mungkin bertahan selamanya…Karena itu bantu adikku, aku tidak bisa membantunya…hanya kau yang bisa, bantu kami. Aku belum ingin kehilangan adikku satu-satunya, salah satu penyemangat hidupku.

 .

 .

-o0o-

 .

 .

Hwayeon berjalan pelan di lorong sekolah dengan tatapan kosong, sama sekali tidak menyadari kehadiran namja-namja dan yeoja yang tengah menatapnya dengan pandangan kagum dan mata berbinar.

Yesung yang sedari tadi merangkul Hwayeon sendiri hanya bisa diam, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari kedua belah bibir mereka. Seakan ada sesuatu yang mengunci mulut mereka. Yesung mengeratkan rangkulannya pada Hwayeon, dan menuntun adiknya itu ke taman belakang sekolah.

Yesung mengajak Hwayeon duduk di hamparan rumput tepat di depan danau buatan yang berada di taman itu dan kembali merangkul pundak sang adik. Hwayeon diam, menikmati segala perlakuan manis oppanya tanpa protes sedikitpun.

Gadis itu merebahkan kepalanya dipundak Yesung kemudian menghembuskan nafas berat. Tadi sebelum masuk sekolah, mereka pergi ke rumah sakit karena obat yang biasanya dikonsumsi Hwayeon sudah habis.

Tapi apa yang mereka dapatkan? Mereka hanya membawa kabar buruk.

Tok Tok Tok!

“Masuk” sahut seseorang dari dalam ruangan. Hwayeon dan Yesung saling berpandangan lalu tersenyum menguatkan satu sama lain. Mereka akhirnya masuk kedalam ruangan dengan canggung.

Bau bahan kimia dan obat-obat langsung memenuhi indra penciuman mereka. Hwayeon tersenyum canggung, begitu juga dengan Yesung. Mereka saat ini sedang berada di dalam ruangan dokter pribadi Hwayeon, baru saja Hwayeon melakukan cek rutin untuk meminta obat baru, karena obat lamanya sudah habis.

“Duduklah Hwayeon-ah, Yesung-ah.” Ujar seorang pria yang sudah tidak bisa dibilang muda dengan seragam dokter. Yesung dan Hwayeon akhirnya duduk tepat dihadapan dokter itu.

Dokter itu memandang wajah pucat Hwayeon dan Yesung secara bergantian. Raut bimbang terlihat kontras di wajahnya, namun yang paling jelas adalah raut kasihan. Hwayeon benci melihatnya, karena ia benci merasa di kasihani. “Aku sudah memiliki hasil tes mu tadi Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu memecah keheningan.

Tubuh Hwayeon menegang seketika. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Ia merasakan firasat tidak enak. Yesung di samping Hwayeon mulai menggenggam tangan Hwayeon dan meremasnya lembut, mencoba menyalurkan kekuatannya untuk sang adik ya ia tau sedang sangat ketahutan saat ini.

“Kau…Kau harus segala melakukan operasi pencangkokkan jantung Hwayeon-ah.” Ujar dokter itu pelan.

Deg!

Tubuh Hwayeon membeku seketika dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak. Keadaan Yesung tidak berbeda jauh dengan Hwayeon, namja itu membelalak lebar dengan mulut menganga seakan tidak percaya denga apa yang baru saja ia dengar. “A-apa?” tanya Yesung tak percaya.

Dokter itu memandang dua anak remaja di hadapannya dengan sedih. “Jantung adikmu sudah tidak bisa berjalan seperti seharusnya lagi Yesung-ah. Kita harus bertindak cepat, Jantungnya sudah tidak bisa lagi memompa darah dengan benar. Kita harus melakukan pencangkokkan jantung secepatnya atau…… adikmu tidak akan selamat Yesung-ah.” Ujar dokter itu lirih.

Yesung terdiam, otaknya bekerja dengan keras, mencoba meresapi seluruh ucapan dokter yang bagai bom tadi. Ia menoleh dan hatinya seakan teriris. Adiknya hanya diam dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Tangan yang tadi ia genggam terasa licin karena keringat. “T-tapi mencari jantung yang cocok itu sangat sulit.” Lirih Yesung lagi. Hwayeon merasakan tubuhnya melemas, seakan seluruh persendian ditubuuhnya telah lepas. Air mata menetes dari pelupuk mata yeoja itu dengan cepat.

“Ya, memang sangat sulit, perbandingannya hanya 1:1.000.000”

Duar!

Yesung dan Hwayeon kembali merasakan bagai mendapata serangan bom. Keduanya terdiam, membiarkan pikiran mereka berkelana ke suatu tempat yang jauh. Entah kemana, tanpa tujuan.

“T-tapi, B-bagaimana bisa? Hwayeon selalu meminum obatnya dengan teratur sesuau anjuran paman, tapi kenapa tidak ada perubahan? Bukannya semakin membaik malah semakin memburuk seperti ini?” ujar Yesung frustasi. Hwayeon mendengus kemudian tersenyum kecut. “Oppa, obat yang aku minum tidak akan membuat penyakitku sembuh.” Ujar Hwayeon pelan dan terang saja membuat Yesung terkejut setengah mati.

“Apa maksudmu?” tanya Yesung geram. “Obat itu hanya membuat jantungku bekerja normal oppa, obat itu hanya membantu jantungku agar bisa memompa darah dengan benar, jadi intinya. Obat itu tidak menyembuhkan penyakitku. Obat itu seperti penyambung nyawaku oppa, obat itu hanya memperlambat penyakitku supaya tidak bertambah parah.” Yesung diam, tangannya terkepal dan wajahnya memerah menahan emosi. “Maka dari itu, jika aku tidak meminum obat itu, aku bisa saja langsung terkapar tidak sadarkan diri karena jantungku sudah sangat rusak.” Ujar Hwayeon dengan lidah kelu. Yesung sendiri memilih diam, membiarkan adik tersayangnya melanjutkan perkataannya. “Dan juga, tidak jarang setelah transplantasi jantung ada komplikasi… Bagaimana kalau aku……” Hwayeon tidak sanggup mengakhiri kalimatnya dan akhirnya, air matanya kembali mengalir dari pelupuk mata gadis itu.

Yesung terenyuh, dadanya terasa sakit, dan kepalanya pening karena memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa adik kecilnya itu. Yesung menelan salivanya dengan susah payah, “Lalu, menurut dokter, sampai kapan dia bisa bertahan?” tanya Yesung takut tanpa memandang sang dokter. Yesung hanya memandang Hwayeon yang terus menyucurkan air mata dengan dada sesak.

Dokter itu kembali menghela nafas, “itu…itu tergantung keputusan Hwayeon.” Ujar dokter itu pelan. “Keputusan yang mana?” tanya Yesung bingung. “Kalau dia ingin sembuh, dia harus mau menjalankan perawatan intensif di rumah sakit atau……kalian harus siap dengan kemungkinan terburuk.” Ucapan dokter itu terhenti. “Hwayeon bisa saja kehilangan hidupnya, dengan kata lain….meninggal.” ujar dokter itu sedih.

Hwayeon menggeleng sedih, sudah ia duga akan seperti ini jadinya. “Tidak, aku tiak akan menjalankan perawatan apapun, dok.” Yesung yang terkejut langsung saja memandang Hwayeon marah. “Apa maksudmu?! Kau harus mengikuti perawatan itu! Aku ingin kau sembuh!” marah Yesung. Hwayeon memandang oppanya lembut. “kalau aku menjalankan perawatan itu, maka sebagian besar waktuku akan kuhabiskan di rumah sakit oppa, dan itu tidaklah mungkin karena aku harus sekolah dan orang tua kita akan curiga jika aku tidak berada di rumah.” Yesung terperangah dibuatnya. Matanya memerah, air mata sudah berada di ujung pelupuk matanya, siap keluar dan mengalir. “Lalu kau mau menyerah begitu?! Kita beritahu saja eomma dan appa kalau begitu!”

Hwayeon terbelalak dan dengan cepat merebut ponsel Yesung yang baru saja Yesung keluarkan dan hendak menelepon kedua orangtuanya. “Kau gila?!” bentak Hwayeon marah. “Kau yang gila bodoh! KAU YANG GILA!” teriak Yesung frustasi. Namja itu terisak kencang kemudian meraih Hwayeon kedalam dekapannya. “K-kumo-hon hiks…. Jalankan hiks perawatan hiks ini… hiks hiks… oppa ingin kau selamat sayang, oppa mohon hiks hiks… oppa mohon.” Hwayeon menggeleng sedih kemudian tangisnya pun ikut pecah. Hatinya sudah lelah membawa beban seberat ini sendirian. Ia sudah mencoba bertahan sejak 1 tahun terakhir semenjak ia di vonis mengalami penyakit jantung stadium empat. Tapi mengetahui hidupnya sudah diujung tanduk, ia seakan ingin menyerah. Tapi bagaimana bisa? Ia tidak mau meninggalkan orang-orang yang ia sayang, tapi ia juga tidak mau membuat orangtuanya sedih jika mereka mengetahui tentang hal ini. “Mianhae oppa.” Ujar Hwayeon tempat ditelinga Yesung. Tangis Yesung terdengar semakin keras saat mendengar ucapan adiknya yang seakan menjadi vonis mati untuknya.

Hwayeon beralih menatap dokter yang sedari tadi memperhatikan mereka dan memberikan dokter itu sebuah senyum kecut. “Tolong berikan aku obat yang pas dok, aku mohon, karena aku tidak bisa menjalankan perawatan intensif itu.” Ujar Hwayeon tanpa melepaskan rengkuhan Yesung. Yesung sendiri saat ini tengah memeluk Hwayeon dengan posesif dan masih sesenggukan tentu saja. “tentu saja.” Jawab dokter itu lembut.

Yesung memandang danau didepannya dengan tidak berminat. Kepalanya terasa sangat pusing.”Apa kau tidak menyayangi oppa?” tanya Yesung tiba-tiba, sukses membuat Hwayeon terperangah. “Apa maksudmu oppa?!” tanya Hwayeon kaget.

Yesung tersenyum kecut. “Kau tidak mau menjalani perawatan itu, tidakkah kau mengerti perasaan oppa? Dan lagi, apa kau bisa membayangkan bagaimana sedihnya eomma dan appa nanti saat mengetahui semuanya? Kau tau, kita tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya dari mereka”

Hwayeon tau, Hwayeon tau ia sudah menyakiti oppanya dengan keputusannya tadi, tapi ia harus bagaimana lagi? Ia belum siap kalau harus membiarkan kedua orangtuanya tau tentang hal ini.

Tidak sekarang…

Ia tidak siap….

Tidak siap dikasihani dan diperlakukan seperti orang sakit, walaupun dia memang sakit.

Hwayeon membawa tangannya melingkari pinggang Yesung dan menelusupkan kepelanya ke dada bidang oppanya itu. “Kumohon, mengertilah oppa. Aku belum ingin eomma dan appa tahu tentang hal ini. Karena itu, aku tidak mau menjalankan perawatan itu. Tapi…aku berjanji akan menjalankannya nanti, saat waktunya tepat.” Ujar Hwayeon lembut, mencoba menenangkan oppanya yang sedang gusar. Walaupun kenyataannya, ucapannya tadi semakin membuat Yesung sedih setengah mati.

Cup!

Yesung mengecup puncak kepala Hwayeon dengan lembut, lalu menumpukkan dagunya diatas puncak kepala Hwayeon. “Berjanjilah kau akan bertahan sampai donor itu ada. Kumohon…… Oppa tidak ingin kehilanganmu sayang.” Hwayeon mengangguk kecil sebagai jawaban.

Mereka berdua terus terdiam dalam posisi itu sapai akhirnya suara bell menginterupsi mereka. Yesung membawa Hwayeon bangkit berdiri, hendak menuntun Hwayeon kembali kedalam kelas mereka karena mereka sudah melewatkan 4 jam pelajaran karena pergi ke rumah sakit tadi.”Tunggu.” ujar Hwayeon cepat.

Yesung memandang Hwayeon bingung. “Kenapa? Kau sakit? Apa kita perlu ke rumah saki lagi?” cerca Yesung panic seketika. Hwayeon mendengus kemudian menggeleng. “Aniya, bukan itu. Oppa, kenalkan aku pada temanmu.” Yesung memandang Hwayeon aneh, lalu tiba-tiba tangannya terjulur memegang dahi adiknya.

“tidak panas.” Gumam Yesung bingung.

Hwayeon menggeram. “Aaku serius, oppa. Kumohon, kenalkan aku padanya.”

“Siapa sih yang kau maksud?”

“siapa lagi?” jawab Hwayeon malas.

“Eh? Siapa memangnya?” Yesung mengernyit bingung dengan tampang polos, membuat emosi Hwayeon langsung melayang ke ubun-ubun.

“Yah! Oppa benar-benar bodoh!” umpat Hwayeon kesal.

“Yak!! Sopanlah sedikit!!! Memangnya siapa sih?!”

“CHO KYUHYUN!” ujar Hwayeon tanpa sadar berteriak. Yesung tersentak kemudian menatap Hwayeon sambil melongo. “Mwoya?!CHO KYUHYUN?!” teriak Yesung juga. Tidak jauh dari tempat mereka, Cho Kyuhyun, namja yang dari tadi namanya diteriaki oleh sepasang kakakberadik itu mengernyit bingung. “Mereka bertengkar? Lalu kenapa membawa-bawa namaku segala? Kepala besar sialan.” Umpat namja itu sambil lalu.

Hwayeon menatap Yesung yang masih melongo sambil memandangisnya dengan malas. Masa seterkejut itu sih? Bukannya oppanya sudah tau yah? Hiih! “Kau kan sudah kenal dengannya.” Ujar Yesung setelah bisa mengontrol diri. “Aku ingin dekat dengannya, lalu berteman, allu bersahabat, lalu berpacaran, lalu bertunangan, lalu menikah, lalu…”

“Stop!” potong Yesung. “Kau gila…” ujar Yesung tiba-tiba. Hwayeon hanya tersenyum lembut kemudian memandang Yesung sambil tersenyum cerah. “Oppa, aku mencintai Kyuhyun. Aku menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya walaupun aku tau dia itu titisan iblis dan sangat menyebalkan. Bantu aku ne? Setidaknya aku ingin mati sebagai miliknya….” Ucap Hwayeon tanpa sadar.

Yesung terdiam, dan akhirnya ia mengangguk. “Arraseo, oppa akan membantumu. Jja, ayo kita kembali ke kelas. Kajja.” Yesung kali ini berjalan lebih dulu di depan Hwayeon, dan saat itulah air matanya kembali mengalir. Kau pasti selamat Hwayeon-ah, oppa percaya itu. Kita akan berbahagia bersama. Kau akan menikah bersama dengan Kyuhyun seperti impianmu. Dan kau juga akan mati sebagai milik Kyuhyun, saat sudah tua nanti….

Yesung dan Hwayeon masuk ke kelas dengan cuek tanpa sedikitpun mengindahkah guru yang sedang mengajar didepan kelas, toh…guru itu juga sepertinya tidak peduli. Buktinya Yesung dan Hwayeon hanya dilirik sekilas lalu semuanya berjalan seperti biasa lagi seakan tidak ada yang terjadi.

Hwayeon berjalan kearah tempat duduknya sambil diam-diam melirik Kyuhyun yang tempat duduknya tepat berada di samping kanannya. Kyuhyun menggeliat risih di duduknya saat merasakan gadis di samping kirinya terus menatapnya intens dengan mata berbinar-binar yang tidak Kyuhyun ketahui maksudnya.

Kyuhyun menggerak-gerakkan bolpoin di tangannya dengan gusar. Ia melirik Hwayeon dari ekor matanya, dan ia harus menyesai keputusannya itu karena ia malah mendapati gadis itu menatapnya sambil tersenyum, errrr….mesum?

Kyuhyun akhirnya menggeram, “berhenti memandangiku dengan pandangan tak senonoh seperti itu!” bentak Kyuhyun pelan. Hwayeon tersentak kaget, gadis itu melirik Kyuhyun gugup lalu dengan cepat memperbaiki posisi duduknya yang entah sejak kapan berubah kearah kanan, dan mencoba memfokuskan pikirannya kearah papan tulis.

Hentikan seluruh pemikiran anehmu itu Kim Hwayeon, Kyuhyun bahkan tidak sudi menatapmu… bagaimana mungkin kalian bisa menikah, cih! Mimpimu terlalu tinggi. Berada di dekatnya saja kau harus bersyukur. Jangan mengharapkan sesuatu yang kau tau tidak akan mungkin bisa kau dapatkan.

Hwayeon tersenyum kecut, hilang sudah binar-binar kebahagiaan yang tadi sempat hinggap diwajahnya saat menatap sang pujaan hati. Gadis itu kemudian memusatkan seluruh perhatiannya kearah papan tulis dan mulai mencatat pelajaran tersebut.

Lain dengan Hwayeon, lain lagi dengan Kyuhyun. Namja itu mengernyit bingung saat ia melihat dengan jelas perubahan raut wajah Hwayeon yang awalnya cerah menjadi sangat mendung dan kelabu. Dalam hati ia berfikir, Ada apa dengan yeoja itu?

Well, jadi pada akhirnya Kyuhyun hanya memperhatikan wajah Hwayeon dari tempatnya duduk dalam diam melalui ekor matanya. Namja itu sepertinya sama sekali tidak sadar kalau ia sudah menjadi pusat perhatian satu kelas.

“Kyu…”

“Kyuhyun…”

“Cho Kyuhyun…”

“Yah bocah setan!”

Plak!

Kyuhyun tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah penghapus melayang tepat dihadapannya, hampir saja mengenai wajah tampannya, kalau saja ia tidak menghindar dengan cepat.”Yak! kenapa kau melempariku penghapus Changmin-ah?!” bentak Kyuhyun tak terima.

Namja yang tadi melemparkan penghapusnya kearah Kyuhyun hanya menyengir polos, menampilkan deretan giginya yang rapih. “Habisnya kau diam saja, kau dipanggil seonsaengnim dari tadi. Makanya, kau harus memperhatikan seonsaengnim dikelas, perhatikan papan tulis, pelajarannya ada disana, bukan di paha adiknya hyung kepala besar itu.” Celetuk Changmin tak tau diri.

Kyuhyun merasakan wajahnya memanas, emosinya sudah naik ke ubun-ubun.Rasanya sudah mulai ada asap yang keluar dari kepalanya. “Diamlah kau bodoh.”gumam Kyuhyun geram. Hwayeon yang sedari tadi diam mulai menampilkan sebuah senyum kecil. Sedikit merona saat tau Kyuhyun sedari tadi menatapi pahanya yang terpampang jelas mengingat seragam yeoja sangatlah minim.

“Ada apa memanggilku tadi seonsaengnim?” Hwayeon seakan tertarik kedalam dunia nyata lagi saat mendengar suara merdu Kyuhyun memenuhi gendang telinganya. “Hah… Aku bilang, kau akan satu kelompok dengan Kim Hwayeon. Kau harus membimbingnya, nilainya di pelajaran ipa sungguh kacau. Aish, aku sampai pusing melihatnya.” Hwayeon mengernyit tak terima, kenapa gurunya itu malah membuatnya terlihat seperti seorang yeoja bego?

Akhirnya Hwayeon buka suara, “Apa maksud seonsaengnim? Nilaiku tidak separah itu.” Gerutu Hwayeon sebal. “Apanya yang tidak separah itu eoh? Nilaimu bahkan diambang kematian Hwayeon-ah! Aku heran bagaimana mungkin kau bisa masuk jurusan ipa dengan nilai sekacau itu! Aigooo!” pekik seonsaengnim itu pusing.

Hwayeon mencebik bibirnya kesal, kemudian mengerucutkan bibirnya sebal. “Karena nilai pelajaran ipsku bahkan lebih parah dari itu.” Gumam Hwayeon kesal. “Hah…pantas saja.” Hwayeon mendelik sangar saat mendengar gumaman gurunya itu. Kyuhyun sendiri malah mengulas senyum kecil, bahkan namja itu tidak terlihat tersenyum sama sekali karena ia hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Benar-benar sedikit sampaisampai tak terlihat. Tapi sungguh, namja itu tengah tersenyum.

Melihat kelakuan Hwayeon tanpa sadar sudah membuat namja itu kembali mengingat masa lalunya… masa lalunya dengan seseorang yang sangat dia sayangi…

Kyuhyun tersentak kembali saat mendengar suara gurunya itu LAGI. “Kau sanggup kan Cho Kyuhyun?” tanya guru itu harap-harap cemas. “Ne, aku sanggup. Aku akan mengajarkannya.” Jawab Kyuhyun tegas. “Aaah, baguslah. Kau memang murid baik. Ah yasudah, sekarang coba buka buku paket kalian halaman……. Bla bla la.

Tanpa ada satu orangpun sadari, Yesung tersenyum girang. Rencananya berhasil, ialah dalang dibalik semuanya, dia yang meminta guru mereka untuk meminta Kyuhyun menjadi guru pribadi Hwayeon. Ia bahkan sampai mengancam guru mereka dengan iming-iming dipecat kalau sampai Kyuhyun menolak suruhannya untuk mengajari Hwayeon secara pribadi.

Sebenarnya Yesung sudah berniat membantu Hwayeon dari awal, karena dari awal… Ia langsung tau kalau adiknya itu jatuh hati pada Pangeran Iblis kita, Cho Kyuhyun. Dan setelah mendapat berbagai sepak terjang sejak tadi pagi, ia semakin measa keputusannya itu tepat. Ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakan adiknya itu. Adik yang sangat disayanginya. Bagian dari hati dan jiwanya.

Kuharap kau bisa segera menemukan kebagaiaanmu adikku sayang…

Waktu terasa berjalan sangat cepat. Suasana kelas sudah menjadi sangat sepi. Sesekali terdengar suara petir menyambar. Hwayeon masih terus bergulat dengan buku matematika dihadapannya. Sesekali bibirnya mencebik kesal lalu merpalkan bebagai sumpah serapah yang tidak cocok ia katakan, dan sukses membuat Kyuhyun yang juga masih setia duduk ditempatnya meringis ngeri.

Hwayeon dan Kyuhyun terus berdiam diri, tidak ada satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan. “Kau tidak pulang?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Hwayeon mendongakkan kepalanya lalu mengalihkan tatapan yang tadi terarah pada buku, menjadi terarah pada Kyuhyun. “Eum… nanti, aku harus menyelesaikan mencatat ini. Besok kan ulangan, aku tidak mau nilaiku jelek lagi.” Gerutu Hwayeon sambil tanpa sadar mengeluarkan aegyonya.

“Aaah, bagaimana kalau kita mulai belajar hari ini saja?” tanya Kyuhyun bersemangat. Entah setan apa yang merasuki dirinya saat ini. Eh tunggu, tapi Kyuhyun kan setan? Aah, berarti malaikat. Entah malaikat apa yang merasuki Kyuhyun saat ini, karena namja itu saat ini sedang tersenyum lembut dengan mata berbinar-binar sambil memandang Hwayeon lekat. “Ah, boleh juga. Lalu kita belajar dimana? Tidak mungkin kita terus disekolah kan? Ini sudah sore lagipula.” Ujar Hwayeon sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi melakukan aegyo tanpa sadar.

Kyuhyun memandang Hwayeon lembut, “Dirumahku saja. Ayo. Cepat bereskan buku-bukumu itu.” Kyuhyun kemudian membereskan buku-bukunya sendiri lalu dengan cepat beranjak dari duduknya. “Aku tunggu di parkiran, jangan lama-lama.” Ujar Kyuhyun sambil lalu.

Tak selang berapa lama, Hwayeonpun bergegas menyusul Kyuhyun ke parkiran. Hwayeon berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong. Matanya terus menatap pada satu object yang berada di parkiran, menunggu dirinya.

Tap tap tap

Kyuhyun menoleh saat merasakan kehadiran seseorang, Kyuhyun memandang Hwayeon yang berjalan terpogoh-pogoh dengan datar. “Hah…hah…hah…” kenapa rasanya parkiran jauh sekali dari kelas?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung, namja itu terus saja memandang Hwayeon lekat, sedangkan Hwayeonnya sendiri masih sibuk menetralkan deru nafasnya. Ya ampun, padahal jarak kelas dan parkiran tidak jauh-jauh amat. Tapi oh Tuhan, lihatlah! Gadis itu seperti baru saja selesai mengikuti lari marathon. Ck.

“Yasudahlah, ayo cepat.” Kyuhyun menarik tangan Hwayeon, membawa gadis itu kedepan sebuah mobil sport berwarna merah terang.

Cklek!

Brugh!

“Aaahhhh…!” Hwayeon meringis pelan. Namja sialan, dia kira aku barang apa main lempar-lempar begitu batin Hwayeon kesal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu melipat tangannya didepan dada. Kesal.

Kyuhyun masuk kedalam mobil lalu melempar tasnya kebelakang. Namja itu kemudian memasang seatbelt miliknya, menyamankan duduk, lalu bersiap untuk menyalakan mobil. Tapi itiba-tiba Kyuhyun menoleh dan mendapati Hwayeon yang tengah mengerutkan wajahnya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap di depan dadanya.

Kyuhyun memandang Hwayeon lekat kemudian menghembuskan nafas berat. “Pakai seat beltmu.” Ujar Kyuhyun datar. “Nan shireo!” ujar Hwayeon sambil memalingkan wajah kearah kaca. Kyuhyun menggeram samar, namja itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hwayeon secara tiba-tiba. “Pakai.” Tegur Kyuhyun dengan suara rendah.

Hwayeon terpaku. Sialan, suaranya terlalu seksi batinnya menjerit. Mendapati Hwayeon malah terdiam, Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Tangannya teralih kearah wajah Hwayeon. Hwayeon sendiri semakin membeku. Ia bahkan menahan nafasnya.

“A-apa yang mau kau lakukan?!” pekik Hwayeon dengan suara pelan. Dadanya berdebar tidak karuan saat Kyuhyun malah mendekatkan wajahnya. Hwayeon memejamkan mata, dan akhirnya……

Tbc/END?

PS: Ayoooo, part depan mau dibikin NC ga nih? Hehehehehe*ketawa setan*

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s