The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 6)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Park Ji Min

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 6!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

 

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

 

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

 

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

 

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

 

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

 

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

 

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

 

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

 

Hyojin..

 

Kau ini kenapa?

 

 

Aku berjalan gontai menyusul Hwayeon yang kini tengah berbincang dengan Yoonhee. Hyojin? Dia berada di belakangku, entah sedang apa..

Kami kini berada di dalam mobil milik Yoonhee.

Apakah sesibuk itu menjadi seorang dokter? Lihat saja wajahnya… nampak begitu lelah. Mungkinkah ia kurang tidur? Ingin sekali aku bertanya tapi.. sudahlah.. perasaanku masih bercampur aduk.

Setelah beberapa menit berkendara menggunakan mobil milik Yoonhee, kini kami telah sampai disebuah café. Spicy Wings café. Aku sengguh merindukan café ini, senyaman-nyamannya café lain tapi café ini sudah mengerti diriku. Apa aku melantur?

Kami berempat duduk di tempat biasa kami. Formasinya selalu sama. Hwayeon-Yoonhee-Aku-Hyojin. Namun..

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin pada Hwayeon sebelum ia benar-benar duduk.

Hah? Mengapa ia pindah? Biasanya juga ia berada di sisiku. Tapi… ini….

“Wae?!” gerutu Hwayeon.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.” Balas Hyojin. Mengapa ia begitu tiba-tiba berubah? Hey! Setidaknya jika ia memang sedang ada masalah, bukankah lebih baik ia bercerita atau berterus terang pada kami? Kami ini temannya…

Hyojin pun duduk di tempat dimana Hwayeon berada.

“Biasa.” Ucap kami berempat kompak. Kami semua sehati rupanya. Itu berarti tidak ada masalah di antara kami berempat bukan?

Tak lama, pesanan kami berempat pun sudah terhidang di atas meja kami. Hmmm…. aku sungguh lapar. Semalaman aku tidak makan, dan hanya menangis meratapi nasibku yang menyedihkan ini.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan. Yah.. suasana ini memang sungguh hening. Tidak biasanya kami begini.

Kami semua hening. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Hwayeon tadi. Aku hanya diam dan terus menatap makananku yang pada akhirnya tidak ingin ku makan. Entahlah, hanya saja aku mendadak jadi malas makan dan hanya memasukan beberapa suap saja ke dalam mulutku.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Ucap Hwayeon kemudian pergi meninggalkan kami. Haa~ pasti Kyuhyun. Andai saja Taehyung bisa setia seperti Kyuhyun.

“Oh! HP kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Jelas Hwayeon kemudian segera bergegas keluar.

Aish…. dia main pergi saja..

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Ucap Hyojin tiba-tiba kemudian segera pergi. Bagaimana dia bisa… ahh, sudahlah.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanya Yoonhee padaku. Yaah, kini memang hanya tersisa aku dan Yoonhee disini.

“Mungkin.” Jawabku.

“Biar aku antar.” Tawarnya.

Kami segera meninggalkan café dan menuju ke mobil milik Yoonhee. Entah karena ada perasaan apa, aku tiba-tiba saja mendadak canggung. Perasaanku tidak enak. Sungguh.

“Eonn… oh tunggu sebentar.” Ucapan Yoonhee terpotong oleh dering ponsel miliknya.

Yoonhee pun mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.

“Taengi oppa.” Ucapnya.

Apa aku tidak salah dengar? Ta-Taengi? Panggilan yang manis…. Eo? Yoonhee sudah punya namjachingu? Tapi.. Taengi itu siapa? Namja seperti apa dia itu?

“……”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“……”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk .”

“…….”

“Annyeong Taengi oppa.”

Yoonhee mematikan ponselnya.

“Siapa dia?” tanyaku dingin.

“Taehyung oppa.”  Tuturnya. Tae-Taehyung? Apa dia itu Taehyung namjachinguku? Tu-tunggu, jika begitu berarti.. dia..

“Namjachingumu?”

“Ani.” Jawabnya setelah terdengar kikikan kecil dari mulutnya itu.

“Tunangan.”

“Aish… ani eonni.” Bantahnya.

Apa Yoonhee menyembunyikannya? Menyembunyikan sesuatu dariku? Mungkin dia bukanlah tunangan namja bernama Taehyung itu. Tapi, Taehyung itu ada banyak. Jika Taehyung yang di maksudnya adalah Kim Taehyung, jangan-jangan dia adalah Yoonie yang dimaksud Taehyung selama ini??

Yoonhee adalah yeoja yang selalu bertelepon dengan Taehyung? Berarti.. mantan Taehyung bukanlah yeoja bernama Yoonie……..

………..

Tega sekali kau…..

………..

Yoonhee…..

“Ohh, aku ingin turun disini.” Pintaku pada Yoonhee.

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.” Elakku dari keadaan sesungguhnya.

Keadaan sebenarnya adalah aku mencurigainya memiliki hubungan dengan Taehyung. Jika sampai benar ia berhubungan dengan TaeTaeku, aku tidak akan memaafkannya. Tapi, apa untungnya? Toh Taehyung juga tidak merasa bersalah padaku atas kejadian semalam. Namjachingu macam apa dia itu?

Yoonhee segera menepikan mobilnya.

“Gomawo Yoonhee.” Ucapku sambil bersiap-siap turun.

Aku berjalan gontai menyusuri jalan. Dari sini memang masih sangat jauh dari rumahku. Sungguh.  Ini jauh sekali. Tapi, aku tidak ingin pulang. Dirumah begitu sendiri, aku takut jika aku menjadi depresi. Beban pikiranku sudah berada di ambang batas dan rasa sakit di hatiku sudah tidak bisa dihilangkan lagi sepertinya. Ini sudah keterlaluan! Hidupku sudah tak ada gunanya lagi.

Aku kini berada di dalam bus. Bus yang akan membawaku menuju rumah sejatiku. Rumah tempat Eomma, Appa dan Jimin oppa berada. Lebih baik aku menemui mereka sebelum aku menjadi gila.

Aku turun di sebuah halte bus. Haa~ aku sudah lama sekali tidak kemari. Aku malas berjalan kaki sebenarnya.. tapi rumahku jauh dari halte bus. Aku menyusuri jalan yang sepi. Sejak dulu sampai sekarang  jalan ini masih saja sepi.

Aku melewati sebuah jembatan. Sebenarnya ada 2 jalan untuk menuju rumahku, melewati rumah-rumah dan melewati jembatan dan aku memilih untuk melewati jembatan dari pada melewati rumah-rumah. Memang mungkin bodohku ini akut, aku justru memilih rute yang jauh.  Tapi tidak apa-apa.. aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku dari Tae-

Tiba-tiba saja bayangan ketika Taehyung mencium yeoja itu kembali terbesit di benakku. Mengapa hal menyakitkan itu kembali muncul? Aku sudah berusaha menghilangkannya.. aku bahkan sudah berkeinginan untuk melupakannya.

Tae…

Mengapa kau selalu ada dalam benakku?

Mengapa bayangan menyedihkan itu muncul kembali saat aku mengingatmu?

Apa karena aku merindukanmu saat ini?

Benarkah aku merindukanmu yang sudah menghancurkan hidupku?

Mengapa harus kau yang sungguh-sungguh ku cintai?

Mengapa ?

Mengapa rasanya sungguh sakit?

Mengapa kau mempermainkanku?

Aku….. membencimu……

Haruskah ku akhiri saja hidup menyedihkanku ini?

Sungguh aku tak kuasa menahan sakit ini seorang diri.

Apalah artinya hidupku ini tanpamu..

Tae…

Jika kau bisa meninggalkanku demi keluarga kecilmu itu….

Aku pun juga bisa…

…. meninggalkanmu untuk selamanya.

Aku berdiri.

Bersiap-siap untuk merasakan sakit sesaat ketika ragaku menghantam benda-benda yang ada di bawah sana.

Bersiap-siap untuk melihat dunia yang belum pernah dilihat Eomma, Appa, dan Jimin oppa sebelumnya.

Bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan kembali bersenda gurau dengan keluargaku.

Bersiap-siap untuk tidak akan pernah melihat teman-temanku lagi.

Bersiap-siap untuk menghapus semua memori tentang TaeTae kesayanganku secara instan.

“Tae… aku sungguh menc-“

“Hentikan!!!” seru seorang namja kemudian menarikku dari ujung jembatan tempat aku berdiri kemudian memelukku erat.

Kami terjatuh ke tengah jembatan. Aku berusaha berlari kembali menuju tepian jembatan namun lengan namja itu menahanku. Menahanku dengan sangat kuat.

“Eunhye! Sadarlah! Apa yang kau lakukan?! Bodoh!” Seru namja yang tak lain adalah oppaku sendiri. Park Jimin.

“Lepaskan aku, oppa! Aku ingin mati saja… dia sudah menghancurkan hidupku! Untuk apa aku ada disini jika aku hidup tanpanya?!” rontaku. Tapi Jimin oppa makin mengeratkan pelukannya hingga aku terdiam.

“Sadarlah!!! Tenanglah… tenanglah…. ada oppa disini.. kau bisa menceritakan segalanya pada oppa.” Bujuknya.

Kakiku terkulai lemas. Perlahan-lahan tubuhku mulai jatuh terduduk. Untungnya lengan Jimin oppa memelukku erat. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Ia menenangkanku, mengusap lembut kepalaku..

“Sudah.. sudah… kau bisa cerita padaku. Untung saja aku lewat daerah sini. Feelingku berkata untuk melalui jalan ini. Feelingku benar kan, kau akan melakukan bunuh diri disini. Awalnya aku malas.. tapi jika aku tidak jadi lewat sini, kau pasti sudah lewat dari dunia ini kau tahu?!” omel Jimin oppa.  Hiish.. aku ini sedang sedih, sekarang aku malah diomeli.

“Oppa……” lirihku.

“Ah, mianhae… aku malah mengomelimu. Kajja pulang. Eomma dan Appa pasti senang melihatmu. Kau sudah lama tidak pulang.”

Aku menggeleng. Aku tidak ingin eomma dan appaku khawatir melihat kondisi putrinya yang sekarat dan hilang harapan ini.

Untuk sekarang ini.. kurasa… TIDAK. Meskipun aku rindu mereka.

“Wae?” tanyanya.

“Tak apa. Aku tak ingin Eomma dan Appa tahu apa yang sudah terjadi pada putrinya ini.” jelasku.

“Geurom… jika eomma dan appa tak boleh tahu, aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Kau wajib menceritakannya padaku!”

Haiish.. kenapa aku memiliki oppa yang begitu penasaran dengan hidupku sih? Dia saja tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Siapa yeojachingunya, berapa mantannya, apa yang ia lakukan sekarang.. dasar oppa menyebalkan!

“Baiklah. Akan kuceritakan padamu.”

“Haa! Itu baru namanya dongsaeng yang baik!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.”

“Hiyaaa!! Kau malah memporak-porandakan rambutku sekarang. Apa kau tidak tahu kalau menyisir rambut ini memelukan waktu yang lama? Sudah-sudah.. aku ingin pulang.”

“Yak! Pulang? Kau baru saja pulang..”

“Pulang ke rumahku. Bukan ke rumah kita, oppa.”

“Wae?? Kau tega ya.. paling tidak bertemu dulu dengan eomma dan appa.. nanti aku antar kau pulang.”

“Andwae. Nanti mereka khawatir. Jebal oppa.. aku ingin pulang sekarang.”

Jimin oppa mengantarku pulang menggunakan mobilnya. Selama di dalam mobil, aku menceritakan semuanya. Bagaimana awal bertemunya aku dengan Taehyung sampai dengan apa yang aku alami baru-baru ini. Termasuk juga dengan kecurigaanku terhadap Yoonhee.

Kalian tahu yang dikatakan Jimin oppa padaku?

“Jika ia memang mencintaimu, ia pasti akan kembali. Ia diam mungkin karena ia ingin memberikanmu waktu untuk sendiri, atau ia ingin mempersiapkan kejutan untukmu sebagai permintaan maafnya.”

Kira-kira, itu yang dikatakannya. Benar juga. Aku tak perlu terlarut dalam kesedihan. Kejutan? Aku memang menyukainya. Tapi, kejutan terakhir dari Taehyung membuatku sedikit membenci kejutan.

Oh iya! Buku sketsaku! Buku sketsa itu tertinggal di rumah Taehyung. Haruskah aku ke sana untuk mengambilnya kembali? Ah, tidak.. tidak usah. Aku masih terlalu canggung jika harus bertemu dengannya. Aku masih belum siap. Tapi, aku harus apa tanpa buku sketsa itu? Setidaknya aku masih bisa menyelesaikan sketsa design rumah Taehyung. Baiklah….

Aku akan mengambilnya.

“Oppa, turunkan aku disini saja.”

“Wae? Rumahmu kan masih jauh.”

“Tak apa, aku ada perlu sebentar.” Aku merasa sepertinya pernah mengalami kejadian seperti ini. Dimana ya?

“Perlu apa? Oppa antar saja. Kau mau ke mana?”

“Eumm…. aku… mau…. akuu…”

“Ke rumah Taehyung? Ada yang tertinggal? Sekaligus meminta maaf?” terkanya. Well, aku memiliki oppa yang sok tahu. Tapi kali ini ia menebak dengan tepat.

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Arraseo. Oppa akan turunkan kau disini. Semoga beruntung. Fighting!” serunya.

Setelah Jimin oppa menurunkan aku disini, ia segera berlalu. Aku masih berdiri di tempatku sampai aku melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Taehyung.

TaeTae.. aku akan menemuimu…

Aku merindukanmu..

Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Ini dia. Ini rumah TaeTae kesayanganku.

Aku akan segera masuk..

Tae, aku tak sabar ingin melihatmu dan meme…….luk…..mu…..

Langkahku terhenti. Nafasku tercekat. Apa-apaan ini?! Kejadian macam apa lagi yang aku lihat sekarang ini? TaeTaeku… memeluk… yeoja lain? Lagi?! Berapa banyak yeojachingunya sih? Apa aku sudah termasuk yang kesekian untuknya? Padahal.. dia… yang pertama untukku. Tunggu… bukankah itu Yoonhee? Rupanya… dugaanku ini benar…

Taehyung nampak begitu menyayanginya. Dia bahkan mengusap-usap punggung Yoonhee? Berani-beraninya dia…. ah, sudahlah.. percuma aku terus berada di sini. Ekor mataku menangkap sesuatu yang berada di meja dekat pintu. Buku sketsaku! Segera saja ku raih buku itu kemudian segera pergi.

Aku segera keluar dari rumah Taehyung dan pergi ke tempat yang jauh dari kata ramai. Rumahku. Rumahku yang tenang dan damai. Tahanlah tangisanmu, Eunhye. Di rumah kau bisa menangis sepuas yang kau mau..

-***-

Kau..

Jahat,

Tae…

Padahal aku datang untuk memperbaiki hubungan kita.. tapi kau nampak sama sekali tidak peduli dengan kelanjutan hubungan kita dan memilih bersama yeoja lain. Ia bahkan temanku sendiri. Aku tahu aku ini masih jauh dari kata ‘sempurna’ tapi.. aku memiliki cinta yang sempurna untukmu.

Tidakkah kau tahu akan hal itu, Tae?

Tidakkah kau menyadari hal itu?

Tanpa sadar, aku mulai bernyanyi dengan bersimbah air mata..

Aku bernyanyi untukmu, Tae..

Meskipun aku tahu kau tak dapat mendengarnya..

Tapi ku harap, kau dapat merasakannya..

Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata

(The long night is following you as it flows)
I sigani neol ttara heuryeojineun geot gata
(Time follows you and fades)
Wae meoreojyeo ga wae dahji anheul mankeum gaseo..

(Why are you getting farther away? So far that I can’t reach you?)

Tell me why meoreojyeo ga why
(Tell me why, you’re so far away, why)
Ni nunen deo isang naega boiji anhni uh

(Can’t you see me in your eyes anymore?)

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

(Goodbyes are even more painful)

~BTS – Love is Not Over~

Kau tahu? Hubungan kita ini begitu rumit. Sama seperti seni yang rumit. Tapi aku harap hubungan kita ini berakhir dengan indah, sama seperti seni yang berakhir dengan sebuah karya yang indah..

Drrtt… Drrtt..

Ku abaikan ponselku untuk sementara waktu. Mencoba untuk menstabilkan suaraku yang serak akibat menangis.

Satu kali.. dua kali.. tiga kali…

Ponselku terus berdering.

Pada dering ke empat aku menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselku.

“Yeoboseyo..”

“Yak! Mengapa tak kau angkat?” Itu… Taehyung…

“……..”

“HyeHye? Kau baik-baik saja?”

“Tidak sampai kau bisa menjelaskan semua yang sudah kau lakukan..”

“Ini tidak seperti yang.. tunggu, kau.. habis  menangis ya? Suaramu serak..”

“Sudah lah… mungkin ini keputusan yang terbaik..”

“Apa maksudmu? Keputusan apa?”

“Kita berpisah saja Tae…”

“HyeHye… dengarkan dulu. Aku menyayangimu. Sungguh. Yang kau lihat hanya kecelakaan. Itu semua diluar dugaanku. Percayalah.”

“Baik.. aku mengerti kalau itu hanya kecelakaan.. tapi apa pantas itu disebut kecelakaan? Kau mencium mantanmu. Mantan istrimu.”

“Mwo?! Dia bukan mantan istriku. Dia memang mantanku tapi dia bukan mantan istriku. Ia memintaku kembali untuk menikahinya. Anak itu bukan anakku. Dia ditinggal kekasihnya. Jadi-“

-Tut!-

Aku memutuskan sambungan telepon itu..

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya? Atau apa?

Aku benar-benar bingung..

Drrt.. Drrtt..

Taehyung..

Ia kembali meneleponku.

Aku akan mengangkatnya… baik, akan ku angkat.. apa yang ingin kau jelaskan lagi sebenarnya huh?

“Jangan tutup dulu!”

“…….”

“Aku minta maaf. Semua ini hanya salah paham. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku tahu hubungan kita begitu rumit. Tapi aku harap hubungan kita akan berakhir indah seperti layaknya sebuah karya seni. Kau tahu kan? Aku sungguh berharap itu terjadi.”

“…….”

“HyeHye… bicaralah sesuatu.. aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. bicaralah.. katakan sesuatu.. apa saja..”

“Apa saja?”

“Apapun… katakanlah… biarkan aku tahu isi hatimu.”

“Berhenti…”

“Mwo?”

“Berhenti menghubungiku mulai sekarang. Aku tak ingin mendengar suaramu.”

“Hye-“

-Tut!-

Mianhae Tae.. aku hanya butuh waktu sendiri.. ku harap kau mengerti.

Mianhae… aku membencimu…

Saranghae….

Setelah puas menangis akhrinya aku pun tertidur. Hahh.. sudah kusut wajahku ini, ditambah lagi dengan mataku yang sembab. Bagus. Wajahku sekarang sudah sesuram perasaanku. Selamat Eunhye.. wajahmu kini tidak lebih seram dari arwah-arwah yang penasaran.

Ohh! Hari ini ya?! Hwayeon mengajak kami semua pergi berlayar. Aku harus segera bersiap-siap! Omona! Aku belum berkemas sama sekali.. eotteokhae?? Hwayeon pasti sudah menungguku. Hyojin juga ikut kan? Yoonhee… aish! Bertemu dengannya lagi?! Sudah lah… aku tidak akan banyak bicara padanya. Lebih baik ku simpan saja perasaan ini seorang diri. Cukup masalah ini hanya aku dan Taehyung yang menyelesaikannya.

“Eonni… apa mobil yang menjemputmu sudah sampai? Jika sudah segeralah naik. Aku menunggumu di sini.”

Itu adalah isi dari pesan suara yang diberikan Hwayeon padaku sejak……. 1 jam yang lalu?! Haiishh… aku ini tidur macam apa sampai-sampai tidak menyadari ponselku berbunyi.

Aku segera membereskan semua keperluanku. Benar-benar sungguh sibuk. Pagi-pagi sudah sesibuk ini… haiish.. lelahnya.

Aku membawa semua barang-barangku ke bawah. Memang sudah ada mobil yang berada di depan gerbang rumahku. Tapi ya sudah lah…

Aku memberikan barang-barangku pada seorang namja yang sudah berdiri di luar mobil.

Aku lelah. Aku mengantuk. Sungguh.. aku akan segera tidur sa-

Aku yakin aku tidak akan bisa tidur begitu aku melihat namja yang ada di dalam mobil itu.

Kim Taehyung?!

“HyeHye..” panggilnya lirih. Aku tak menjawabnya.

Segera saja aku masuk ke dalam mobil dan segera mencari posisi ternyaman untuk tidur. Sialnya, tidak ada satupun posisi yang nyaman. Mungkin satu-satunya tempat ternyaman adalah dengan bersandar pada bahu Taehyung. Tapi tak mungkin kulakukan bukan?

Aku memejamkan mataku.. berusaha untuk masuk ke alam mimpi.. tapi aku tetap saja tidak bisa. Jadi kubiarkan diriku tersadar walau mataku ini terpejam.

“HyeHye…” panggil Taehyung lagi. Aku diam, meneruskan aktingku untuk berpura-pura tidur. “Kau lelah ya? Wajahmu begitu pucat. Matamu bahkan sembab. Apa semalaman kau menangisiku? Kau tak perlu menangis, HyeHye. Aku tahu aku salah. Aku banyak bersalah padamu. Aku tahu kau tidak akan mendengarnya. Tapi aku akan tetap mencurahkan semua isi hatiku padamu.” Lanjutnya.

Siapa yang bilang aku tidak mendengarmu? Aku mendengarnya. Mendengar semua yang kau ucapkan. Aku ini memang munafik. Aku tak ingin melihatmu, mendengar suaramu, berdekatan denganmu. Tapi itu salah, hatiku berkata bahwa aku merindukanmu, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin berada di dekatmu. Berada bersamamu saat ini membuatku sungguh senang. Meskipun aku harus berpura-pura tidur agar bisa dekat denganmu.. tapi itu tak masalah.

Taehyung memindahkan kepalaku ke bahunya.

Ini memang yang kuinginkan.. bersandar pada bahumu. Ini adalah psisi ternyaman. Sungguh, rasanya aku ingin menangis saat ini. aku merindukan saat-saat kita bersama..

“HyeHye.. “ Taehyung mengusap kepalaku lembut. Belaian ini yang sungguh ku rindukan. Taehyung mengecup keningku sekilas. Jika boleh, jika aku bisa, aku akan menangis dalam pelukannya sekarang. Sesegera mungkin.

Ojik neo hanaman boyeo

(I can only see you)
Na ojik neo bakken anboyeo

(I can only see you alone)
Bwa gongjeonghaji gongpyeonghaji neohante ppaegon da ijen dan harudo neo eopsineun Please
(Look, I’m fair with everyone else but you Now I can’t live a day without you, please)

Kkwak jabajwo nal anajwo

(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me, can you trust me
Kkwak kkeureoanajwo

(Pull me in tight)
Kkwak jabajwo nal anajwo
(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me
Jebal jebal jebal kkeureoanajwo

(Please, please, please pull me in and hug me)

~BTS – Hold Me Tight~                                         “
Selama bernyanyi ia terus mengusap kepalaku. Ia mengusap kepalaku lembut.

Aku berusaha mati-matian untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh.

Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus memaafkannya? Apa yang harus aku lakukan.

Tiba-tiba saja pipi kananku terasa basah. Seperti ada tetesan air yang mengenai permukaan kulitku. Jangan-jangan..

“Mianhae, HyeHye.. aku tak seharusnya begini. Aku memang cengeng. Aku bukanlah namja yang kau harapkan. Tak seharusnya aku menangis seperti ini. Tapi hal yang kurindukan belakangan ini telah mendominasi perasaanku. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu. Hanya bersamamu. Bukannya berjauhan seperti ini. Andai kau mendengarnya..” ucapnya lirih.

Sungguh aku tidak tahan lagi..

Segera kuangkat kepalaku kemudian mengecup pipi kanannya.

“Aku mendengarnya.. aku mendengar semuanya. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merindukanmu.” Ucapku.

“Mianhae… jeongmal saranghae.” Ucapnya kemudian memelukku.

Aku menangis. Menangis bahagia. Menumpahkan seluruh kerinduanku padanya. Aroma tubuh Taehyung yang sudah lama tak ku hirup kini kembali menyeruak di indera penciumanku. Aku merindukan aroma ini. Aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Memeluknya erat. Aku tak ingin kehilangannya untuk yang kesekian kalinya.

“Hey, HyeHye… sudah jangan menangis.. ssshhh.. uljima… kalau kau menangis lagi, wajahmu jadi tambah bengkak tahu.” Ejeknya.

Hiiyaa!! Namja ini benar-benar.. baru saja kita berdamai…

Tapi aku tahu maksudnya adalah untuk menghiburku.

Aku merindukanmu..

Kini sampailah aku di dermaga. Kulihat pasangan iblis Hwayeon dan Kyuhyun, Hyojin dan juga… ChangChang sunbae!! Huwaa! Ia disini?! Ini pasti menyenangkan. Oh iya.. Yoonhee dimana ya?

Kami turun dari mobil dan menghampiri mereka. Taehyung merengkuh pundakku. Benar-benar nyaman rasanya..

Tak lama, sebuah mobil pun tiba dan lihatlah siapa yang turun dari mobil itu..

Yoonhee dan…. eo? Nugu? Namja? Namjachingunya? Tunangannya? Atau apa? Sudahlah, aku malas membahas urusan yang bukan urusanku. Meskipun aku memang ingin tahu sih..

-Hug-

Omo! Apa-apaan ini?!

Yoonhee memeluk Taehyung?!

Aish!! Jinjja!

Mereka berbisik-bisik?!

……………………..

Tae..

Kita baru saja berbaikan….

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s