I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Title: I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Author: Jung Yoonhee

Cast:

~ Jung Yoonhee (OC)

~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:

~ Other VIXX member

Genre: romance, comedy

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

Happy Anniversary my bias, VIXX 
Moga-moga suka dan enjoy.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

Kita bagaikan sepasang sayap yang selalu terbang bersama. Jika salah satu diantara kita hilang, yang satu lagi pasti tidak akan bisa terbang sendiri. Begitulah kisah cinta kita.
-Kim Wonshik & Jung Yoonhee-

*Yoonhee POV*

Aku menarik koperku, lalu duduk disebuah bangku.

-flashback-

“Choi ahjumma!”

“Nona Jung, kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabari aku. Kalau mengabariku kan kau bisa kujemput.”

“Baru tadi subuh sampai. Ahjumma pasti sedang tidur. Jadi, bagaimana kabarmu ahjumma?”

“Sangat baik, sangat bahagia, dan sangat terkejut.”

Aku tesenyum kearahnya. Tidak ada yang berbeda disini. Bangunan dual anti dengan taman buatan disekelilingnya. Choi ahjumma, pembantu andalan keluarga kami yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Hanya usianya sajalah yang bertambah.

“Masuklah nona.”

Choi ahjumma mengambil semua bawaanku.

“Kenapa Tuan dan Nyonya Jung tidak ikut?”

“Setelah kuliah, aku kembali untuk bekerja. Eomma dan appa tetap di Amerika untuk mengurus perusahaan.”

“Arraseo. Anda mau makan apa nona?”

“Hoamm.. aku lebih baik tidur.”

“Masih jet lag?”

“Hem, aku tidur ya ahjumma.”

Aku naik ke kamarku. Setelah beres-beres dan mandi, aku tidur.

Drtt drtt

“Nugusaeyo?”

“Ini aku Nona Jung, Tuan Hwang.”

“Tuan Hwang annyeonghasaeyo.”

“Annyeong. Suaramu serak, ada apa?”

“Hehe, baru bangun tidur.”

“Ohh.. hahaha.. Janji kita nanti siang jadi.”

“Jadi, apa alamatnya sudah Tuan berikan?”

“Nanti ada mobil yang menjemput. Nona Jung saja yang berikan alamatnya ke saya.”

“Baiklah.”

“Selamat pagi Nona Jung. Maaf mengganggu.”

“Gwaenchanha, annyeonghasaeyo.”

Aku terpaksa bangun. Aku berjalan gontai ke bawah.

“Ahjumma, bisa buatkan aku 2 gelas kopi?” kududukan diriku dikursi meja makan.

“Untuk apa nona?” tanya Choi ahjumma bingung.

“Aku sangat mengantuk, sedangkan aku harus siap-siap kerja.”

“Oh, arraseo. Tunggulah sebentar nona.”

Satu jam berlalu. Semua yang kusiapkan sudah selesai.

Din din

Sebuah mobil van putih terparkir didepan rumahku.

“Ahjumma, aku sudah dijemput. Aku pergi dulu ya.” pamitku seraya berjalan keluar.

“Baiklah nona. Hati-hati.” dia mengantarku sampai pintu.

Sang supir membukakan pintunya untuuku. Kurang lebih 15 menit dari rumahku ke tempat tujuan.

Citt

“Wae?! Kenapa berhenti mendadak.” bentakku kaget.

“Mianhae, tapi orang-orang didepan sangat membuat rusuh.”

“Aish..”

Klek

Bam

Aku keluar dari mobil, dan mencoba menerobos masuk.

“Pemisi. Maaf, permisi. Aww! Hey, berhenti menginjak!”

Percuma, tubuhku terlalu pendek jika dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang, aku sudah ada diluar kerumunan lagi.

Ish!

“Yeobusaeyo Tuan Hwang. Aku sudah ada didepan entertaimentmu, tapi disini penuh sekali. Aku tidak bisa masuk.”

“Maaf karena itu. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengawalmu. Tunggulah sebentar.”

“Kamsahamnida Tuan Hwang.”

Cukup lama, sampai akhirnya kerumunan itu terbelah.

Dua orang lelaki tinggi besar menghampiriku.

“Nona Jung?” tanyanya tegas.

“Ne.”

“Ikutlah kami.”

Mereka berdua mengawalku sampai masuk kedalam gedung.

“Maaf, aku ingin ke toilet.” pintaku canggung.

“Apa perlu kami antar?” tanya mereka dengan wajah datar.

“Tidak perlu!”

“Kalau begitu, anda ditunggu Tuan Hwang di ruang latihan lantai 3.”

“Baiklah.”

Setelah dari toilet, aku lansung ke lantai 3.

“Ini ruangan.. ehmm.. bukan. Yang ini ruangan….bukan bukan.”

Aku berjalan mengendap-endap bak seorang pencuri. Tempat ini terlalu luas, dan terlalu banyak ruangan disini.

“Yak! Bagaimana bisa fans masuk kesini?” seseorang memergokiku.

“Mwo? Aku?” aku membalikan badan ke arah si tukang tuduh.

Dia seorang lelaki. Badannya tinggi kurus dibalut oleh hoodie hitam. Dia membawa sebotol air mineral dan juga badanya penuh dengan keringat.

“Keluarlah sebelum aku panggil pengawal.” suruhnya dingin.

“Panggil saja. Aku ingin keruang latihan, ada perlu. Lagipula aku fans siapa?” lawanku tak mau kalah.

“Lebih baik kau keluar.” suruhnya dengan lebih dingin lagi.

“Andwe.”

Aku melepaskan tangannya yang terus mendorongku.

“Lepas atau aku akan berteriak!” ancamku marah.

“Silahkan saja kalau berani.”

“AAAA!!!! TOLONG ADA PENCULIK DISINI!!!”

Beberapa orang keluar dari ruangannya. Mereka semua mengerumuni kami.

“Nona Jung.” pangil salah seorang.

“Tuang Hwang. Lelaki ini terus mencoba mengusirku.” aku berjalan mendekati Tuan Hwang.

“Apa itu sesuatu yang pantas, Wonshik?” tanya Tuan Hwang pada lelaki tadi.

“Wonshik?” ulangku berbisik.

“Masuklah.” Tuan Hwang mengajakku masuk keruangan latihan yang cukup besar.

“Ini Nona Jung. Dan Nona Jung ini VIXX.” dia memperkenalkanku pada enam orang.

“Tuan Hwang, Yoonhee saja tolong.” bisikku malu-malu.

“Oh, baiklah Yoonhee. Aku ada sedikit keperluan. Kau bisa bertanya atau berkenalan dulu sebelum rekaman.”

“Arraseo. Annyeonghasaeyo Tuan Hwang.”

“Annyeonghasaeyo.”

Tuan Hwang meninggalkan kami bertujuh.

“Hemm.. baiklah. Seperti yang sudah Tuan Hwang beritahu tadi, aku adalah Jung Yoonhee. Aku sudah bersekolah musik sejak SMA. Aku tinggal di Amerika dan sengaja kesini karena ada tawaran dari Tuan Hwang untuk menjadi composer dan juga produser kalian. Ngomong-ngomong siapa kalian tadi?”

“VIXX.” ucap salah satu diantara mereka.

“Aku tidak tahu siapa kalian. Jadi mari berkenalan.”

Mereka membuat baris melintang. Aku mendekati orang pertama.

“Siapa namamu?”

“Aku Jung Taekwoon atau Leo. Posisiku vocalist.”

Terlalu dingin dan cuek. Taekwoon itu menakutkan. Begitu kesan pertamaku.
Aku berjalan ke orang kedua.

“Aku Lee Jaehwan, stage nameku Ken. Aku juga vocalist.”

Begitu semangat dan energik. Pasti susah berhenti untuk bicara. Itu kesan pertama yang Ken beri padaku.

Aku berjalan ke orang ketiga.

“Aku Lee Hongbin, aku vocalist dan juga rapper.”

Cool, tampan, tapi bukan tipeku.

Aku berjalan ke orang selanjutnya.

“Aku Cha Hakyeon, stage nameku N. Aku leader, vocalist dan juga dancer disini.”

Tidak ada aura leader, adanya dia lebih terlihat sebagai orang yang banyak sekali aegyo. Seperti perempuan berkulit gelap. Itulah N menurutku.

Aku menatap orang kelima.

“Akh.. kau itu Wonshik. Iya kan?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Ne. Namaku Kim Wonshik, stage nameku Ravi. Aku rapper. Maaf atas kejadian tadi.” dia membungkuk padaku.

“Gwaenchanha.”

Wonsik memberikan kesan pertama yang buruk padaku. Skip saja.

Aku mendekati orang yang terakhir.

“Yang terakhir?”

“Aku Han Sanghyuk, panggil aku Hyuk saja. Aku ini vocalist dan juga dancer.”

Imut, tampan, seperti anak kecil, menarik, garis wajah tegas. Terlalu banyak aku memujimu Hyuk, tapi memang itulah dirimu.

“Hemm.. aku harus panggil kalian siapa?” aku kembali kedepan.

“Oppa saja!” seru Ken.

“Oppa, apa kalian tidak keberatan?”

“Tidak.” ucap semuanya.

“Bisakah kau ceritakan tentang dirimu pada kami?” sela Hyuk.

“Simpel saja. Aku Jung Yoonhee. Aku baru saja lulus kuliah. Aku suka musik, awalnya sebagai hobi, tapi sekarang malah jadi pekerjaan. Aku tinggal di Amerika sudah 18 tahun.”

“Masalah cintamu?” Hyuk menyela lagi.

“Cinta? Aku tidak begitu suka pria barat. Aku lebih memilih pria Asia untuk jadi pasangan. Seumur hidupku ini akku belum pernah berpacaran.”

“Umurmu?” tanya mereka penasaran.

“19.” ucapku enteng.

“Wah…” mereka berdecak kagum.

“Sudah cukup? Sekarang ayo seriusnya. Semuanya pemanasan. Vocalist dengan vocalist, rapper dengan rapper.”

Mereka melakukan pemanasan. Selanjutnya aku menyuruh mereka untuk tampil didepanku. Para vocalist menyanyi, dan rapper melakukan rap, tentunya.

“Dalam rangka menyambut anniversary kalian, aku disuruh untuk membantu kalian membuat album yang berbeda. Aku telah memutuskan dan menyepakatinya bersama dengan Tuan Hwang. Satu lagu bersama, dan sisanya kalian semua harus bernyanyi sendiri-sendiri. Perlu diingat. Kalian harus membuat lagunya juga sendiri, aku hanya membantu kalian. Temanya adalah STARLIGHT, itu nama fans kalian?”

“Ne.”

“Para rapper juga harus bernyanyi. Ya, sedikit tapi harus ada.”

Semuanya diam.

“Ada yang keberatan?” tanyaku ragu-ragu.

Semuanya menggeleng.

“Kita akan mulai rekaman esok hari. Ini lagunya, aku baru saja membuat lagunya dan membagi-baginya. Semuanya kebagian menyanyi. Hongbin dan Wonshik kalian tidak keberatan kan?”

“Ani.” ucap keduanya.

“Aku hanya tidak bisa membuat lirik rap. Disini siapa yang biasanya membuat lirik rap?”

Wonshik mengangkat tangannya.

“Ayo kita bertemu dan buat lirik rap utuk lagu ini. Sepulang dari sini ke rumah ku. Apa bisa?”

Dia mengangguk.

“Sekian untuk hari ini. Wonshik oppa, kjja.”

Kami diantar oleh supir untuk sampai kerumahku.

“Aku pulang ahjumma.” sapaku saat masuk rumah.

“Eomma?” bisik Wonshik tragu-ragu.

“Jelas-jelas aku panggil ahjumma. Dia pembantuku.” balasku berbisik.

“Oh, ahjumma.” sapanya.

“Ini siapa nona?” tanya Choi ahjumma heran.

“Rekan bisnis. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Ohh..”

Aku dan Wonshik naik dan masuk ke ruang kerjaku.

“Ini sangat canggung.” Wonshik berbicara pelan.

“Wae?”

“Aku masih merasa bersalah karena tadi, tapi ada yang lain. Sesuatu mengganjal membuatku canggung.”

“Apa itu? Tidak biasa berdua dengan perempuan?”

“Entahlah.”

“Akh.. sudahlah kita selesaikan saja pekerjaan kita.”

Berjam-jam kami habiskan diruangan ini untuk membuat lirik rap. Choi ahjumma juga sudah bulak balik membawakan makanan dan juga minuman.

“Matamu sangat bagus.” Wonshik mencari topic.

“Menyindir?” aku menatapnya.

“Matamu besar, namun ada lingkaran hitam. Kau belum tidur?”

“Jet lag. Tahu lah. Aku jadi bingung, harus tidur jam berapa.”

“Tidurlah kalau begitu. Ini sudah jam 7.”

“Jinjja? Sudah jam 7 lagi? Hoamm..”

“Tidurlah. Aku yang akan selesaikan, sekalian untuk membuat lagu. Apa tidak apa-apa jika aku sampai malam disini.”

“Silahkan saja. maaf membebani pekerjaanku padamu.”

“Gwaenchanha.”

Aku mulai tertidur.

“Hoamm..” aku duduk dimeja makan dalam keadaan setengah sadar.

“Selamat pagi Nona Jung.”

“Wonshik mana?”

“Baru saja pulang jam 4.”

“Memang sekarang jam berapa?”

“6, nona.”

“Aku ada janji jam 7 nanti. Bisa buatkan aku bekal, jus, dan jua kopi?”

“Tentu saja.”

Aku segera mandi dan menyiapkan keperluan pekerjaan.

Mobil van putih itu sudah menunggu didepan rumahku pada pukul 7.

“Kurasa aku akan pulang malam.” pesanku pada Choi ahjumma.

Aku segera pergi.

“Selamat pagi Wonshik oppa.” sapaku sesampainya di gedung entertainment.

“Selamat pagi juga. Tidur nyenyak semalam?”

“Lumayan. Oppa bagaimana?”

“Cukup lah. Maaf sempat ketiduran dirumahmu kemarin.”

“Gwaenchanha.”

Hari itu kami memulai rekaman. Perlu waktu dua hari, sampai akhirnya rekaman suara itu menjadi benar-benar bagus.

“Aku akan membantumu mengaransement.” Wonshik kembali ingin membantuku.

“Boleh.”

4 hari berlalu. Dan lagu VIXX pertama sudah selesai. Cukup cepat. Tapi kurasa kita akan dikejar deadline. Tanggal lirisnya 2 bulan setengah lagi.

“Besok ini kita akan membuat MV.”

Begitu pesan Tuan Hwang. Kita akan menginap di pulau Jeju selama 3 hari.

Pagi-pagi benar aku sudah berkumpul di gedung entertainment bersama Tuan Hwang, VIXX, beberapa cameramen, make up artist, wardrobe artist dan juga seorang yeoja yang tidak kukenal.

“Siapa dia?” tanyaku pada Hyuk.

“Model MV kita. Dia itu salah satu fans beruntung yang terpilih.” jelas Hyuk.

“Ohh..”

Kami akhirnya pergi ke Jeju dan mulai membuat MV.

“Apa benar? Enak sekali dia. Di MV ini dia diperebutkan 6 orang?” gumamku.

“Cemburu eoh?” tanya Wonshik mendekat.

“Ani.”

“Tenanglah. Dia itu hanya fans Hyuk yang fanatic saja. Dia tidak akan macam-macam dengan member lain.”

“Lalu? Apa yang harus kutenangkan?”

Wonshik meninggalkanku untuk mengambil gambar.

Keesokkan harinya adalah hari terakhir di Jeju.

“Hari ini akan menjadi hari bebas kalian.” seru Tuan Hwang yang sontak mendapat sorakan dari semuanya.

“Ayo kita naik paralayang.” ajak Hongbin.

Para member VIXX, aku dan juga fans beruntung itu pergi ke sebuah bukit untuk paralayang.

“Satu paralayang untuk dua orang.” perintah sang coach.

“Ya berarti yeoja dengan yeoja saja.” N mengambil keputusan.

“Andwe! Aku mau dengan Hyuk.” si fans fanatik itu menggengam lengan Hyuk.

Cih, sangat centil.

“Kalau begitu Yoonhee denganku.” Wonshik menarik tanganku lalu kami naik kesalah satu paralayang.

Dalam hitungan ketiga, kami semua terbang bersama.

Semua pemandangan disini sangat indah dari atas, kecuali itu.

“Cemburu?” tanya Wonshik sembari terkekeh.

“Kau selalu bertanya apa aku cemburu atau tidak. Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Kalau kau tidak cemburu, untuk apa memperhatikan merka berdua?”

Aku kembali meluruskan pandanganku pada Hyuk dan yeoja itu yang terbang dibawah kami.

“Iya, aku cemburu.” ungkapku mengaku.

“Sejak kapan suka Hyuk?”

“Sejak awal bertemu.”

“Wow.”

“Jangan bilang-bilang.”

“Oke. Rahasiamu aman padaku.”

Kami terbang dalam waktu yang cukup lama. Dan sampai akhirnya kami mendarat.

Kami kembali ke hotel untuk check out, lalu makan siang, dan kembali ke Korea.

“Aku duduk disini ya.” Wonshik duduk disampingku.

“Mereka sudah jadian. Fans itu dan Hyuk. Jangan beritahu siapa-siapa, ini sangat rahasia.”

“Lalu kenapa kau memberitahuku?” tanyaku heran.

“Aku merasa kalau kau pantas tahu.”

“Biarkan saja. Mereka sangat pantas dan serasi. Sama-sama menarik, sama-sama tinggi. Aku juga setuju.”

Kami bertatapan.

“Sakit hati?” wonshik mengernyitkan dahinya.

“Ani.” ucapku polos.

“Bagusnya aku suka pada perempuan yang tidak terlalu tinggi.” Wonshik mengelakkan pandangannya dariku.

“Hah?”

“Ani, tidurlah. Perjalannannya cukup jauh.”

“Tap..”

Wonshik memegang pipiku dan mernaruh kepalaku ke bahunya.

“Tidur saja. Jangan banyak bicara.”

Aku mulai memejamkan mataku.

“Kita sampai.” Wonshik membangunkanku.

“Apa besok kita akan mulai rekaman lagi?” tanya Leo didepan semua member yang lain.

“Ne. Kurasa akan lebih mudah bila dimulai dari Leo, Ken, N, Hyuk, Hongbin dan yang terakhir Wonshik.” jelasku.

“Oh, baiklah.” ucap Leo mengerti.

“Ngomong-ngomong, kenapa hanya Ravi saja yang dipanggil dengan nama asli? Kalian ada apa-apa ya? Kalian pacaran?” Ken mulai penasaran.

“Ani!” ucapku dan Wonshik dengan serempak.

“Aku hanya lebih suka panggil Ravi oppa Wonshik saja. Lebih enak.” jelasku sejelas-jelasnya.

“Aduhh.. kalian ini lucu sekali.” Hyuk ikut-ikutan.

“Akh, sudahlah. Aku pulang ya semua. Annyeonghasaeyo.” aku berpamitan lalu pulang.

“Selamat datang nona. Apa kau lelah?”

“Aku ingin teh hangat. Tolong kirimkan kekamarku ya.”

Aku naik kekamarku untuk mandi dan melanjukan pekerjaanku.

Knock knock

“Ne.”

“Nona, ini tehnya.”

“Kamsahamnida ahjumma.”

“Apa ada yang salah nona?”

“Menurutmu aku ini kenapa ahjumma?”

“Wajahmu seperti orang yang patah hati.”

“Jinjja? Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Apa anda sedang bertengkar dengan lelaki yang kemarin datang ke rumah?”

“Siapa? Wonshik? Dia hanya temanku.”

“Kelihatannya lebih nona.”

“Hah?”

“Maaf nona, bukannya saya ingin ikut campur. Kalau begitu, saya permisi.”

Choi ahjumma keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa ahjumma mengatakan hal seperti itu? Apa aku dengan wonshik cocok? Mana mungkin. Sudahlah lupakan. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk.

“Selamat pagi semuanya.”

“Pagi Yoonhee. studio Rekamannya bagus sekali.” puji N.

“Jinjja? Ini milikku.”

“Jinjja?! Kau anak orang kaya ya?” duga Ken cepat.

“Tidak juga. kita bahas lagi nanti ya. Leo oppa, masukklah.”

Rencanaku hari ini adalah hari percobaan. Semuanya mencoba bernyanyi. Sisanya kubantu merombak atau juga menambahkan.

Barulah keesokan harinya, rekaman dimulai. Hari ini adalah hari bagi Leo untuk rekaman suara. Butuh waktu 3 hari untuk rekaman dan juga 2 hari untuk aransement. Selanjutnya Ken. Bagusnya dia cepat. 4 hari untuk rekaman dan juga lagunya sudah diaransemen. Setelah Ken, ada N. 4 hari rekaman dan 3 hari aransemen. Lalu ada Hyuk, 3 hari rekaman, 3 hari aransemen. setelah itu Hongbin. Dia cukup sulit 6 hari rekaman, 3 hari aransemen. Yang terakhir yang menurutku paling sulit.

“Oppa, seriuslah sedikit. Sudah satu minggu lebih kita rekaman. Tapi tidak ada yang bagus.” ucapku mulai putus asa.

“Mianhae. Ini yang terakhir. Aku janji.”

Akhirnya pekerjaanku selesai. Wonshik membutuhkan waktu 8 hari untuk rekaman dan juga 3 hari untuk aransemen.

“Setelah ini kau mau apa?” tanya Wonshik setelah selesai rekaman.

Aku mengangkat bahuku.

“Kita makan yuk.”

Wonshik mengajakku ke restoran local didekat studio.

“Untukmu.”

“Igo mwo-ya?”

Aku memperhatikan kotak hadiah pemberian Wonshik.

“Kalung?” tanyaku seusai membuka kotak itu.

“Platina. Aku harap kau suka bentuknya.”

“Wing?”

“Ne. Kau suka?”

“Sangat.”

“Biar kupasangkan.”

Wonshik berpindah ke belekangku. Diambilnya kalung itu, lalu dipakaikan pada leherku.
“Dalam rangka apa kau memberikan kalung ini padaku?”

“Hadiah saja. Jaga baik-baik ya.”

-skip time-

Tepat di hari anniversary VIXX. Album itu liris.

“Igo.” semua member VIXX berkunjung kerumahku.

“Album? Dan tanda tangan?”

“Ne. Kami ingin kau menyimpan album itu satu. Ngomong-ngomong, apa besok kau bisa makan bersama dengan kami dan juga Tuan Hwang?”

“Mian. Aku pulang ke Amerika malam ini.”

“Yah.. sayang sekali. Kalau begitu kami semua pamit ya.”

Semua member pulang, kecuali satu.

“Yoonhee, aku ingin rekaman.” pinta Wonshik singkat.

“Untuk lagu yang mana?” tanyaku penasaran.

“Laguku.”

Kami berdua naik taksi untuk sampai ke studioku.

“Baiklah. Kita mulai.”

Lampu rekaman menyala.

Lagu yang dia bawakan ini menceritakan seorang lelaki yang mengagumi seorang wanita yang mengagumi orang lain. Singkatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Baru kali ini aku mendengar Wonshik menyanyi sebagus ini. Semuanya lancar dan mulus-mulus saja.

“Bagus sekali oppa.” aku hendak mematikan tombol rekaman itu.

“Jangan lepaskan headphonemu Yoonhee.” pintanya.

Aku kembali duduk dan membenarkan headphone ku.

“Waegeurae?” tanyaku bingung.

“Aku tahu kalau kita baru kenal. Dan aku ingin mengenalmu lebih lagi. Aku tidak melarangmu untu ke Amerika lagi, dan aku juga tidak mau basa-basi. Aku suka padamu sejak pandangan pertama. Membentakmu di entertainment, dan menuduhmu sebagai fans kami hanyalah siasatku untuk bicara denganmu. Memang kedengarannya bodoh, hehe.. Aku mulai berani untuk mendekatimu. Aku sangat senang bisa kerumahmu dan membantumu. Tapi akhirnya aku tahu kalau kau menyukai orang lain. Hatiku sakit, tapi ternyata hati kita terluka secara bersamaan. Hyuk memiliki wantia lain. Mungkin Tuhan berpihak padaku. Kalung wing yang kuberikan itu, itu adalah kalung pasangan. Kau punya bagian kanan, dan aku bagian kirinya. Kalau kau mau lihat, nih. Aku selalu memakainya, berharap kita bisa selalu bersama seperti sepasang sayap yang terbang bersama. Kali-kali, ayo kita terbang bersama lagi. Dan inilah yang terakhir yang dapat kuberikan padamu. Lagu ciptaanku sendiri yang khusus tertuju untukmu. Judulnya “I’m Your Fans.” Karena memang itu aku, mengagumimu. Sifat dan juga fisikmu. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

“Oppa..” panggilku lirih.

Air mataku mulai berlinang.

“Haduh Yoonhee, maaf banyak bicara. Apa kau tidak akan ketinggalan pesawat.”

“Oppa..” panggilku lebih keras lagi.

“Ne Yoonhee.”

“Apa aku harus menjawabnya?” tanyaku ragu-ragu.

“Jujur aku sangat pesimis. Tapi itu terserah padamu.”

“Aku tidak mau fansmu mengejarku dan juga mengincarku. Hubungan kita hanya sebatas profesionallitas pekerjaan saja ya. Mianhae.”

“Gwaenchanha. Kau boleh matikan rekaman ini. Aku akan mengantarmu ke bandara.”

Kami keluar dari studio. Wonshik meminjam mobil entertainment untuk mengantarku.

Dan disinilah kita sekarang berdiri. Bandara.

“Sampai disini kita?” tanya Wonshik mencoba tegar.

“Mianhae.” ucapku super merasa bersalah.

Wonshik mengulurkan tangannya, aku pun membalas.

Syutt

Wonshik menarikku lalu mendekapku.

“Oppa!” seruku kaget.

Cup

Wonshik mulai menciumku dan perlahan melumatnya. Aku pun membalas.

“Oppa.” Aku menghentikan kegiatan itu.

“Sampai jumpa Yoonhee.”

“Sampai jumpa Wonshik oppa.”

-flashback end-

1 tahun berlalu semnjak kejadian itu. Disinilah aku, duduk dibandara sembari menonton acara talkshow Korea.

“Jadi Ravi. Kau sudah punya pacar?” tanya sang MC.

“Calon pacarku takut jika para fans membencinya.”

“Tragis sekali. Apa ada salam untuk orang yang kau suka atau para fans?”

“STARLIGHT, aku menyukai seorang gadis. Dia sangat baik. Tetapi dia menolakku demi kalian. Aku sebenarnya sangat mencintainya, aku memohon kepada kalian semua STARLIGHT. Tolong restuilah kami.”

“Wah.. itu pesan untuk STARLIGHT yang sangat berani.” puji sang MC.

“Ada lagi.”

“Apa itu? Pesan untuk orang yang kau suka?”

“Changi. Kapan kau ke Korea lagi? Jika sudah sampai. Kabari aku, aku akan menjemputmu. Jangan naik taksi. I miss you, Saranghae.”

Aku terkekeh melihat tingkah genit Wonshik.

“Baru menontonnya?” bisik orang disebelahku.

Aku menoleh kesumber suara.

Cup

Bibir kami bertemu sekilas.

“Oppa?” aku menarik bibirku dari bibir Wonshik.

“Ayo pulang.” Wonshik menarik tanganku untuk berdiri.

“Kenapa kau tahu aku ada di Korea?”

“Choi ahjumma memberitahuku. Oh iya, apa pertanyaanku satu tahun lalu sudah dipikirkan lagi?”

“Yang mana?”

“Memintamu untuk menjadi pacarku.”

“Entahlah.”

Aku meninggalkan Wonshik.

“Yoonhee jawablah.”

“Tentu saja iya! Dasar tidak peka!” aku membentaknya kecewa.

“Jinjja?!” wonshik membulatkan matanya.

“Bawakan koperku! Aku ingin makan oppa.” pintaku ketus.

Wonshik membawa koperku dan berlari mengejarku.

“Apa kata-katamu tadi sungguh-sungguh?” tanya Wonshik yang belum percaya.

“Kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran.”

“Apa yang membuatmu menerimaku?”

Aku memperlihatkan kalung pemberian Wonshik.

“Kalau aku tidak menyukaimu, ini sudah aku buang.” ucapku enteng.

Hug

“Yak! Seorang fans tidak boleh begitu pada idolnya.” ucapku dingin.

“Saranghae.” ucapnya tulus.

“Nado oppa.” balasku.

Wonshik melepaskan pelukannya.

“Ayo kita makan. Biar oppa yang traktir. Mau makan dimana?” tanyanya antusias.

“Rumahku, boleh?”

“Sangat boleh. Oppa juga ingin menceritakan ini pada Choi ahjumma. Kjja.”

Wonshik menggenggam tanganku untuk keluar.

“Besok kita ke Jeju untuk naik paralayang lagi?” tanya Wonshik ditengah perjalanan.

“Lagi?”

“Aku kan sudah bilang. Kita pasti akan terbang bersama lagi.”

“Baiklah, jika itu yang oppa mau.”

“Terimakasih sudah menerimaku Yoonhee.”

“Ani, terimakasih sudah mencitaiku oppa.”

“Saranghae.”

“Aku sudah muak mendengarnya oppa.”

“Yak, kita kan suah berpacaran. Jangan ketus begitu dong dengan pacarmu ini.” bentak Wonshik.

“Ne oppa. Arraseo, jangan ketus.” turutku.

“Saranghae oppa.” ujarku sembari mengecup pipinya.

—END—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s