Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 7

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Nih, author kasih pasrt 7 nya. Maaf agak lama yang ngepost, soalnya kemarin ada urusan mendesak, jadi ga bisa ngepostt sama sekali. Maaf membuat kalian menunggu. Nah, jadi sekarang silahkan dinikmati bacaannya. Ini agak pendek, tapi gppa ya. Author bikinnya juga sambil teler soalnya. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

Akhirnya, Setelah acara paksa memaksa yang tadi dilakukan Kyuhyun, dan Heechul ahjumma, pada akhirnya aku mengalah. Memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kapal. Ini kulakukan untuk Heechul ahjumma, dia begitu menyayangiku, dan dia terus memohon -well memaksa sebenarnya- agar aku datang ke acara mereka.

Aku mempersiapkan seluruh keperluanku dibantu oleh eomma. Yah, walah eomma tidak sepenuhnya membantu karena yang dilakukan eomma dari tadi hanyalah meceramahiku. Appa sendiri hanya duduk diam diatas kasurku sambil memperhatikan aku dan eomma mempersiapkan keperluanku.

“Apa kau yakin sudah membawa semuanya?” aku memutar mataku dan mengangguk mengiyakan. Ini sudah ke-3 kalinya eomma bertanya hal itu padaku.

“Dompet?”

“Sudah.”

“Charger?”

‘Sudah.”

“Keperluan mandi?’

“Sudah.”

“Bedak-bedak?”

“Sudah.”

“Lalu-“

“Sudah eomma, aku sudah menyiapkan semuanya. Eomma tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi.” Aku merasakan kepalaku ditepuk dari belakang, dan saat aku menoleh. Appa sudah berada di belakangku sambil tersenyum manis.

“Sampai kapanpun, kau tetap menjadi gadis kecil appa dan eomma.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pasrah, hahhh……terserah mereka sajalah.

Kami pergi menuju pelabuhan bersama Kyuhyun oppa. Heechul ahjumma dan Hankyung ahjussi sudah berangkat lebih dulu tadi. Dan mereka bilang, mereka akan menunggu kami dikapal.

.

Aku memandangi kapal pesiar dengan nama Cho group dengan gugup. Sialan, apa kapal ini tidak berlebihan. Maksudku, Ya ampun…Ini terlalu berlebihan. Kapal ini terlalu besar kalau hanya dipakai untuk melakukan party yang paling-paling hanya didatangi kurang lebih 300 orang.

Tapi…demi Tuhan. Kita hanya berlayar 2 hari dan kita akan menggunakan kapal super megah ini? Astaga, Heechul ahjumma memang keterlaluan. Apa ya kira-kira pendapat eomma dan appa? Aish, mereka pasti keluarga yang boros.

“Hey, kenapa kita berdiri diluar terus? Apa kau tidak ingin masuk?” aku menoleh, menghadap Kyuhyun oppa yang saat ini berada di sampingku. Loh, kemana yang lain? Perasaan aku kemari bersama Ravi oppa, eomma, dan juga appa deh. Kenapa yang tersisa hanya Kyuhyun?

Aku menengokan kepalaku ke kanan dan kekiri, tapi aku tidak bisa menemukan mereka dimanapun. Aku kembali memandang Kyuhyun, dan dia saat ini menatapku dengan kening berkerut. Apa yang salah?

“Kau sedang mencari apa sih?” tanyanya bingung sambil ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kanan kiri, berusaha mencari apa yang kucari. Tapi, apa dia bodoh? Dia bahkan tidak tau apa yang kucari kan? Percuma saja dia menengok-nengokkan kepalanya sampe lepas juga. Ck, pabbo.

“Ravi oppa, eomma, dan appa kemana? Kok tidak ada?” tanyaku bingung. Aku sedikit menyipitkan mataku saat memandang Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dari pada diriku. Aduh, silau sekali sih?! Tidak bisakah matahari itu meredupkan cahayanya sebentar? Membuat mataku sakit saja!

“Ah, mereka sudah naik ke kapal dari tadi. Kau saja yang keasikkan bengong. Lagipula, kenapa kau kaget sekali melihat kapal ini, seharusnya, anak keluarga chaebol kim sudah terbiasa dengan tingkat kemewahan seperti ini bukan? Keluarga kalian bahkan lebih kaya dari pada keluarga kami.” Aku memutar mataku malas. Memangnya tidak boleh apa kalau aku takjub saat melihat kapal ini? Aku kan memang tidak pernah naik kapal pesiar sebelumnya. Bukannya katrok atau apa, tapi aku tidak ada kepentingan apapun sampai harus naik kapal pesiar segala.

Aku kembali memandang kapal pesiar dihadapanku dengan bingung. Aku tidak yakin aku sanggup mengikuti acara ini. Lihatlah, tempatnya saja sudah berlebihan seperti ini. Aku tidak yakin kalau pesta yang nanti Heechul ahjumma selenggarakan akan menjadi pesta sederhana. “Sudahlah, ayo kita masuk. Kita sudah terlalu lama berdiam diri. Disini panas.” Aku membiarkan diriku ditarik oleh Kyuhyun oppa menaiki kapal itu.

Aku memandangi sekelilingku dengan takjub. Sialan, ini benar-benar indah dan sangat mewah. Laut yang seharusnya biasa-biasa saja entah kenapa bisa terlihat begitu menakjubkan dari atas sini. Apa lagi fasilitas kapal ini yang sungguh…fantastis.

Kapal ini memiliki kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan yang sudah bisa kutebak sangat mewah dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar.

Naik kapal ini tidak akan membuatmu merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki 3 ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan. Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 300 kursi. Teater ini terdapat diburitan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap kelautan lepas. Dan yang pasti, itu semua terdapat di kabin paling atas. Benar-benar paling atas alias atap.

Pokoknya, semua yang ada disini adalah WOW. Aku tidak akan bertanya dari mana mereka bisa mendapatkan kapal semacam ini, akan aneh kalau aku bertanya tentang itu. “Kenapa dari tadi kau suka sekali melamun?Ayo kita kekamar. Aku akan menunjukkan kamar kita padamu.” Aku menurut saat ia menarikku menuju ke geladak bawah kapal, dan menuntunku menuju ke salah satu ruangan yang berada tepat di ujung kabin.

Waw, bahkan di dalam kapal, kamar ini memakai sisem pin? Ck ck ck, amazing. Aku mengintipnya yang sedang memasukkan pin, dan dia memencet tombol 100100 dan tadaaaaa, pintu terbuka. Hal pertama yang kulihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ranjang berukuran King Size yang berada di pojok tengah kamar.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, ada sofa, meja rias, meja kerja, lemari, kamar mandi tentu saja, dan yang pasti ada ranjang. Kamar ini bernuansa putih, mataku terasa sakit karena hampir semuanya berwarna putih, kecuali ubin dan dinding kamar yang baru kusadari kedap suara. Well, berarti kalau aku berteriak-teriak disini tidak ada orang yang akan mendengar kan dari luar?

Hmm, ada sebuah pintu geser juga yang menghubungkan kamar ini ke balkon yang tepat menghadap laut. Aku berlari esana, membuka pintunya, dan berjalan ke balkon dengan semangat menggebu.

Sreeeekkk!

“Hiiiiah!!!!! INDAHNYA!!!!” aku memandangi hamparan air laut dihadapanku dengan senang. Uuuuah, lautnya indah sekali. Apa lagi karena ada pantulan sinar matahari, efek-efek sinarnya yang terdapat di dalam pantulan air laut sungguh menambah kadar keindahan lautnya.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari perutku. “Kau suka?” aku mengangguk menanggapi pertanyaan Kyuhyun oppa. Tentu saja aku suka, tidak mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukai lautan. Pokoknya aku suka, aku pikir aku akan betah berada disini.

Eh tapi, dimana kamar Ravi oppa, eomma, dan appa ya? Apa mungkin Kyuhyun tau? Haruskah aku bertanya? Hmmm, “Oppa, apa kau tau dimana kamar Ravi oppa, eomma dan appa?” tanyaku penasaran. “Tentu saja aku tau, kamar mereka ada disebelah kamar kita kok. Aku sudah mengaturnya supaya kau tidak jauh-jauh dari keluargamu dan teman-temanmu. Kabin ini aku khususkan untuk keluarga dan teman-teman kita saja. Tamu-tamu lain akan berada di kabin lain.”

“Ah jinjja? Gomawo, kau baik sekali.” Aku terkikik saat Kyuhyun oppa menempatkan sebuah ciuman di tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukaannya, aduh kenapa dia suka sekali mengerjai leherku? Bagian itu sangat sensitive. Ck, dia pasti sengaja deh. Dasar namja mesum. “Ish oppa, berhenti mencumbuku. Ini bahkan masih pagi.” Ujarku resah sambil menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari rengkuhannya. Tapi bukannya lepas, pelukannya malah semakin kencang. Ck, dia kembali dalam mode menyebalkan lagi sepertinya.

“Diam dan nikmatilah. Arraseo?” aku akhirnya pasrah saat Kyuhyun oppa lagi-lagi menanamkan bibirnya di lekukan leherku, menciumnya dan menggigitnya sesekali. Aku sendiri memejamkan mataku dan memasrahkan tubuhku dalam rengkuhannya. Sesekali aku menggigit bibir bawahku saat ia menghisap leherku seperti vampire untuk mencegah desahan lolos dari bibirku. Aku tidak ingin, sesuatu yang yang tidak seharusnya kami lakukan malah jadi kami lakukan jika saja aku tidak bisa menahan diri dan membuat desahan lolos dari bibirku.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri, memberikan akses lebih untuk Kyuhyun, untuk lebih menjelajahi leherku. “Ahhhh.” Aku tidak mampu lagi menahan desahanku. Kyuhyun oppa semakin beringas menjamah leherku.

“O-oppa. Berhentih, k-kita harus ke atas sekarang. Engh-yang lain p-pasti sudah me-nunggu k-kita.” Sekuat tenaga aku mencoba untuk menjaga suaraku agar terdengar normal, tapi suit sekali, apa lagi saat Kyuhyun oppa mengigit leherku. Aduh, jangan sampai dia meninggalkan bekas.

Aku terseyum saat mendengar dengusannya. Ah, pasti dia kesal karena kegiatannya lagi-lagi terganggu. Hahahaha, mungkin dia memang ditakdirkan agar tidak bisa berbuat mesum padaku sebelum kami resmi menjadi sepasang suami istri. “Ck, kau selalu menggangguku. Baiklah baiklah, lebih baik kita keatas sekarang dari pada eommaku yang cerewet itu melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan.”

Kyuhyun oppa mengecup lherku lembut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan membimbingku untuk keluar kamar. Saat diluar kamar, aku bertemu dengan YoonHee eonni yang sedang berdiri di depan kamar seseorang. Kamar siapa ya? Apa mungkin itu kamarnya? “Apa yang kau lakukan eonni?”

“E-eoh, a-aku hanya lewat kok. L-lebih baik kita ke atas. Ayo.” Aku mengerutkan keningku bingung. Kenapa dia kelihatan gugup? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi baru saja aku mau bertanya lagi, tiba-tiba pinti di depan kami berderit terbuka.

“Eoh, chagi? Kenapa kau ada disini? Kenapa kalian tidak langsung keat-as.” Aku berniat menjawab, tapi urung kulakukan saat aku malah melihat Ravi oppa dan YoonHee eonni saling berpandangan. Tatapan keduanya saling menghujam, tapi yang membuatku bingung adalah…

Tatapan Ravi oppa pada YoonHee eonni. Ia terlihat marah, kecewa, kaget, sedih, entahlah. Tapi 1 kesimpulan yang aku dapat, Ravi oppa saat ini sedang menahan emosinya. Nah, lain lagi dengan YoonHee eonni, tatapannya seakan ia meminta maaf kepada Ravi oppa. Oh oh oh, apa sesuatu terjadi diantara mereka tanpa aku ketahui?

Aku terus memandangi mereka dengan sedikit menyelidik. Apa yah kira-kira yang terjadi diantara mereka? Apa mereka bertengkar? Tapi karena apa? YoonHee eonni dan Ravi oppa juga tidak mengatakan apapun padaku. Well, ini aneh. Baru saja aku ingin membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun oppa menyentak pinggangku pelan. Aku menoleh heran padanya, dan aku malah melihatnya menggeleng. Apa maksudnya? Dia tidak membolehkanku buka mulut? Tapi aku penasaran.

Aku kembali mencoba untuk berbicara, tapi lagi lagi Kyuhyun oppa menyentak lenganku kemudian menggeleng. “Jangan ikut campur urusan mereka sayang. Lebih baik kita pergi keatas. Ayo.” Aku mendengus pasrah saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menarikku menjauh dari sana. Untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan aku bisa melihat kalau YoonHee eonni memandang Ravi oppa frustasi, sedangkan Ravi oppa sendiri hanya memandang YoonHee eonni dalam diam. Tapi kalau kulihat dari sorot mata Ravi oppa, aku tau Ravi oppa sedang menahan sesuatu yang tidak kumengerti.

Aku berjalan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Kyuhyun oppa yang kelewat cepaat. Aduh, rasanya aku seperti diseret-seret.

“Hei, pelanlah sedikit! Tanganku sak-“ langkahku otomatis terhenti, “Kau, kenapa kau ada disini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kapal ini? Sialan, apa kau berniat membunuhku ditempat ini?”

Aku memandang yeoja didepanku dengan tatapan menyalang, yeoja itu membalas tatapanku sambil tersenyum ‘sok’ polos. Sialan yeoja itu. Apa dia ingin berakting? Aku lupa, disebelahku ada Kyuhyun oppa.

Aku bisa merasakan tatapan menghujam Kyuhyun oppa untukku dari sampingku, tapi aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku pada yeoja didepanku. Yeoja yang selama minggu ini sudah menguntit dan mengancamku terang-terangan. Yeoja yang ternyata baru kuketahui, kalau dia adalah mantan tunangan Kyuhyun oppa.

“Apa-apaan kau HwaYeon-ah? Kenapa kau berkata seperti itu pada Haneul? Dia bahkan tidak melakukan apapun padamu!” aku tersentak mundur saat tiba-tiba Kyuhyun oppa membentakku. Aku memandangnya kaget, dan dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Uuugh, sakit sekali.

“Apa-apaan sih oppa? Lepas” aku merintih, mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun oppa di pergelangan tanganku. “Akkh, s-sakit, lepash!” aku meronta, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan pergelangan tanganku, tapi hasilnya nihil. Siaan apa-apaan sih namja ini?

“Sudahlah kyu, kau menyakitinya jika seperti itu. Lepaskan dia, kasian.” Huh? Dia benar-benar sedang berakting rupanya, jelas-jelas dia senang kalau aku disakiti Kyuhyun oppa seperti tadi. Dia bahkan menginginkan kematianku. Kurang ajar! “Tapi dia menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tau kau yeoja baik-baik Haneul-ah, tidak mungkin kau melakukan sesuatu seperti yang dia tuduhkan barusan kan? Aku sangat mengenalmu.” Aku terperangah. Sialan, jadi Kyuhyun oppa sedang membelanya sekarang? Kyuhyun opa lebih membela yeoja itu dibandingkan aku calon istrinya sendiri.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lepaskan saja dia, mungkin dia hanya tidak suka dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.” Aku mengernyit, kenapa dia malah membuatku terlihat seperti yeoja pencemburu dan posesif? “Maaf soal itu, Haneul-ah. Dia memang sedikit kekanakan. Lebih baik kita keatas saja. Ayo, berjalanlah bersama kami.” Ajak Kyuhyun oppa lembut pada yeoja sialan itu.

Ya ampun, apa-apaan sih Kyuhyun oppa, jangan bilang kalau dia tidak percaya padaku. Aku menyentak tanganku yang dicengkramnya saat melihat perhatian Kyuhyun oppa beralih kepada yeoja sialan itu. “Hei, kau itu kenapa sih? Ayo kita keatas. Kita pasti sudah ditunggu eomma.”

Aku melangkah mundur, member bentangan jarak antara diriku dan dirinya. Aku menggeleng sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak mau keatas. Tidak jika bersama yeoja sialan itu!” aku melihatnya, aku melihat Kyuhyun oppa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan menggertakan giginya. Kenapa reaksi Kyuhyun oppa harus seperti itu? Apa mungkin…Kyuhyun oppa masih mencintainya? Masih mencintai yeoja itu? Mantan tunangannya?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan berbagai pikiran buruk yang saat ini menggelayuti kepalaku. “Jangan membantahku Kim HwaYeon, kau tau aku tidak suka dibantah.” Aku tetap menggelengkan kepalaku keras kepala, dan melangkah mundur saat ia melangkah maju untuk menangkapku.

“Apa yang kau lakukan?” desisnya marah dengan wajah merah padam. Aku memandang mereka berdua bergantian. Kyuhyun oppa saat ini sedang menahan amarahnya, aku tau itu. Tapi yeoja sialan itu, yeoja sialan itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Yeoja itu lagi-lagi menggumamkan kata ‘mati’ tanpa suara. “Mianhae, kyu. Mungkin aku harus pergi. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian” Sialan, peran apa lagi yang saat ini dia mainkan?

“Apa? Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini. Kau sama sekali tidak merusak apapun. Ini semua terjadi hanya karena sifat kekanakannya.” Aku menganga kaget. Apa Kyuhyun oppa baru saja membelanya lagi? Dan berbalik menyalahkanku? Apa Kyuhyun oppa baru saja memilihnya, disbanding diriku? Calon istrinya sendiri?

“O-oppa?” panggilku kaget. Tanpa sadar aku melangkah mundur saat melihat tatapan yang Kyuhyun oppa berikan untukku. Jelas sekali kalau Kyuhyun oppa benar-benar marah padaku, karena yeoja sialan itu.

“Kurasa, kau harus menenangkan pikiranmu.” Ujarnya datar.

Aku memucat, dengan cepat aku menggeleng. Kenapa semuanya malah jadi tambah runyam seperti ini? “Apa maksud oppa? Oppa, tidak sadarkah kau? Yeoja itu, mantan tunanganmu itu, dialah yang mengancamku! Dialah yang menguntitku selama kita berada di Jeju, dia juga yang sudah melukai lenganku kemarin!!!!” aku berteriak, melampiaskan seluruh ketakutan dan amarah yang sudah terkumpul didalam diriku. Aku merasakan mataku memanas saat melihat Kyuhyun oppa malah menggeleng dan menatapku tajam.

“Kau keterlaluan. Bagaimana mungkin bisa kau menuduh yeoja baik-baik sepertinya dengan tuduhan seperti itu? Ak tau kau takut. Aku juga tau kau cemburu. Tapi tidak begini caranya, au benar-benar membuatku kecewa. Kurasa aku harus memikirkan lagi ucapanku untuk memperistrimu. Kurasa kau belum cukup dewasa.”

“A-apa?”

“Kau sudah mendengarnya, dan aku tidak berniat untuk mengulangnya. Kau harus menenangkan dirimu sendiri kurasa. Aku akan meninggalkanmu sekarang.” Aku diam, membeku ditempatku saat melihat Kyuhyun oppa menjauh dari jarak pandangku bersama yeoja itu. Yeoja sialan yang saat ini sedang menatapku penuh kemenangan dengan seulas senyum mengerikan yang tersemat di bibirnya.

Ya Tuhan, apa aku baru saja…dicampakkan?

Aku merasakan tenggorokanku kering. Mataku memanas, dan saat aku menyadarinya, pipiku sudah basah oleh air mata. Sialan, dadaku sesak sekali.

Duk! Duk! Duk!

Aku menepuk-nepuk dadaku panic. Dadaku, aku tidak bisa bernafas. Tolong, tolong aku. Kyuhyun oppa, tolong aku.

“OMO HWAYEON!!!” aku jatuh terduduk di lantai yang dingin masih sambil menepuk-nepuk dadaku. Dadaku sesak, berkali-kali pula aku tersedak tangisanku sendiri. Aku mendengar langkah kaki berderap menghampiriku.

“Tidak tidak tidak. Bernafaslah dengan benar Hwayeon-ah, bernafaslah dengan benar!” aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak bisa, sulit. Itu terlalu sulit.

Ya ampun, aku tidak ingin mati sekarang.

“Yak! Lakukan sesuatu! Kau kan dokter! Bantu adikku! Kumohon, selamatkan adikku!” aku memandang Ravi oppa yang sedang menatap YoonHee eonni yang berdiam ditempatnya dengan mata basahku. Aku bisa melihat YoonHee eonni tersentak dengan mata terbelalak. “Nafas buatan! Berikan dia nafas buatan! Cepat!”

Dadaku naik turun dengan cepat. Kepalaku sudah terasa pening, dan aku mulai merasa semua yang berada di sampingku mulai membelah diri dan berputar-putar disekelilingku. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang menciumku, lebih tepatnya memberikan nafas buatan untukku. Ravi oppalah yang memberikan nafas buatan itu untukku. Aku terengah dengan tubuh lunglai di dalam pelukan Ravi oppa.

“Oh ya ampun sayang, kau membuat oppa hampir mati karena serangan jantung.” Aku diam, sama sekali tidak menanggapi ucapan Ravi oppa. Aku hanya memandang kosong mata Ravi oppa, dan tak lama kemudian, aku menangis. Aku menangis di dalam pelukan Ravi oppa, dihadapan YoonHee eonni.

“Shhh, tenanglah sayang. Kyuhyun hanya sedang terguncang. Harusnya kau tidak menuduh Haneul seperti itu sayang. Itu memang sedikit keterlaluan.” Aku memandang Ravi oppa terkejut. Dia mendengar semuanya? Dan sekarang dia juga tidak percaya padaku? “Aku mengatakan yang sebenarnya oppa.” Ucapku lemah.

“Tidak, kau hanya cemburu. Kyuhyun benar, kau masih sedikit kekanakan. Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Kau bahkan akan segera menikah.”

“Oppa juga tidak mempercayaiku?” tanyaku tak percaya.

“Mi-mianhae. Bukan begitu maksud oppa. Oppa hany-“ aku engangkat tanganku. Mengisyaratkan Ravi oppa ntuk berhenti berbicara. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Ravi oppa di tubuhku.

“Oppa tidak mempercayaiku.” Well, itu peryataan, bukan pertanyaan.

“Hwa-“

“Cukup! Aku pergi sekarang. Terimakasih.” Aku langsung berjalan gontai dari sana. Tak kuindahkan teriakan Ravi oppa dan YoonHee eonni yang mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku berjalan keluar kabin menuju geladak kapal. Aku memandangi laut itu dengan tidak berminat. Sialan, apa yang kulakukan disini saat ini?

Harusnya hari ini kami bersenang-senang. Harusnya aku menghabiskan waktuku untuk berkumpul bersama keluargaku dan keluarga Kyuhyun. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna. Tapi sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur karena yeoja itu.

Yeoja sialan yang terobsesi pada Kyuhyun dan berniat membunuhku. Yeoja siaan yang lebih Kyuhyun pilih dibaningkan diriku. Ya Tuhan, bahkan Ravi oppa juga tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa gunanya lagi aku disni jika tidak ada yang percaya padaku?

Harusnya dari awal aku tidak ikut. Harusnya dari awal aku tidak datang. Andai saja aku tidak datang, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan yeoja sialan itu…

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Aku tersentak kaget dan otomatis membalikkan badanku. Dihadapanku, yeoja sialan itu berdiri disana, dan menataku dengan mata menyorot tajam.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” tanyaku geram.

“Aku? Aku ingin kau mati!” aku memucat. Sialan.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku mati?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”

“Kau, kau sudah merebut Kyuhyunku! Kau sudah merebut kepunyaanku! Dan aku akan membunuh siapapun yang berniat mengambil Kyuhyun dariku, termasuk kau!” aku membatu saat tiba-tiba yeoja sialan itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari belakang punggungnya. Aku berjalan mundur saat ia berjalan maju, sambil menggenggam pisau lipat itu di tangan kanannya.

Aku terus melangkah mundur sampai akhirnya aku terpojok, aku sudah berada di ujung geladak, menempel dengan tiang pembatas.

“Terperangkap hah? Kukira membunuhmu akan sulit mengingat begitu banyak orang yang menjagamu. Tetapi ternyata, melakukannya sungguh sangat mudah. “

Aku memandangnya geram, saat ini ia sudah berada tepat dihadapanku dan ia sedang bermain-bermain dengan pisaunya di sekitar wajahku.

“Kupikir, Kyuhyun tidak benar-benar mencintaimu.”

“A-apa?”

“Ya, kukira Kyuhyun hanya menjadikanmu pelarian dariku.”

“Apa maksudmu?!”

“Yah, kau sudah melihat sendiri bukan. Kyuhyun bahkan lebih memilih mempercayaiku dibandingkan dirimu yang saat ini berstatus sebagai calon istrinya.” Aku terdiam. Yeoja ini benar, Kyuhyun bahkan lebih memilihnya dibandingkan aku. Apa aku benar-bena hanya dia gunakan sebagai pelampiasan semata?

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” aku membungkukkan tubuhku. Aku melihat kearah perutku, dan sebuah pisau menancap disana. Baju yang kukenakan sobek dan dipenuhi dengan darahku sendiri. Bau anyir memenuhi indra penciumanku. AKu tidak memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba teriakan orang-orang membuatku menengok.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” di sana, didepan sana. Kyuhyun oppa, Ravi oppa, dan YoonHee eonni berdiri disana sambil memandangku ngeri.Mungkin teriakan mereka membuat yang lain penasaran, tak lama kemudian, hampir semua orang menyusul kami. Aku bisa melihat eomma dan appa dari sini. Mereka terlihat ngeri. Terlihat, seperti akan segera pingsan.

Aku menatap perutku yang tertusuk kemudian mengalihkanku pada Kyuhyun oppa yang tengah memandangku dengan mata melebar khawatir dan kaget. Aku menatap mereka nanar, mereka…mereka yang tadinya tidak mempercayaiku.

“Aaaaarghh!!!!!!” aku berteriak saat tiba-tiba yeoja sialan itu menarik pisau itu dari perutku sambil berbisik lirih tepat di telingaku. “Kau pantas mati.”

Tubuhku linglung, dan saat aku sadar, aku sedang berada dalam posisi hampir jauh ke laut, hanya saja Tangan seseorang menggenggam tanganku, bukan tanganku, tapi lebih tepatnya gelangku. menahanku agar tidak tercebur kedalam laut.

Aku menengok, dan mendapati Kyuhyun oppa berada disana, menahan gelangku dengan sekuat tenaga. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya, dan ia terus menatapku. Sambil tersenyum menguatkan, padahal jelas-jelas ia menangis, menangis untukku…

Aku memfokuskan tatapanku pada Kyuhyun oppa, mengesampingkan perasaan sakit di perutku, dan adrenalinku yang terpacu. Aku tidak bisa berenang. Aku tidak yakin aku akan selamat. Aku menengok kebawah, dan yang kulihat hanyalah air laut yang beriak akibat tekanan kapal.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” aku kembali menatap Kyuhyun oppa, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatapku dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” aku mencobanya, tapi aku tidak bisa. Aku putus asa, dan aku menangis.

“Aku tidak bisa!” isakku lemah, aku mencoba menggapai tangannya, tapi sia-sia.

“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” teriakku putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahaku untuk menggenggam tangan Kyuhyun oppa tidak berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Aku memandang Ravi oppa yang juga menyerukan tangannya kebawah. AKu berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi aku gagal.

Perutku mulai terasa semakin sakit. Aku merasa pusing, dan semakin lemah. Tanganku gemetar, dan mataku mulai berkabut.

“Aku tidak bisa oppa.” Aku memandang mereka semua dengan air mata bercucuran. Ya ampun, apa hidupku akan berakhir saat ini? Aku melihat eomma dari bawah sini sedang menangis histeris di pelukan appa. Appa sendiri menatapku khawatir.

Aku tidak kuat.

“Mianhae.” Gumamku pelan saat aku merasakan gelang ditanganku akhirnya putus. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap mereka. Mereka semua yang berada diatas kapal, yang tengah menatapku dengan mata membulat besar dan air mata berderai.

Aku bisa melihat dari tempatku sekarang, kalau Kyuhyun mau melompat, tapi ditahan oleh keluarga kami. Aku melemparkan senyum terakhirku untuk mereka, dan memejamkan mataku. Memasrahkan diriku sepenuhnya pada-Nya.

Kalau kau memang ingin memanggilku sekarang, aku siap. Tapi seandainya aku boleh memilih, aku tetap ingin berada disini, bersama dengan orang yang aku cintai. Bersama orang yang aku sayangi. Kumohon…

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

“HWAYEON-AH!!!”

“HWAYEON!!!!”

“ANAKKUUUUUUUUU!”

“PUTRIKU!!!”

“TIDAK HWAYEON, TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

BYUUURRRRRR!!!!!

Aku mendengar teriakan dan tangisan mereka semua. Sampai akhirnya semuanya hilang, tergantikan dengan suara riak air yang berada di sekelilingku.

Lukaku terasa seperti disayat kembali saat terkena air laut. Perih, uuugh sakit sekali.

Eomma, tolong aku. Appa… Ravi oppa, kumohon tolong aku. Aku sakit, siapapun tolong aku. Eonni

Uhuk!

Aku mencoba berenang keatas, tapi tidak bisa. Air menekanku kebawah, dan aku tebatuk. Tersedak air laut. Paru-paruku terasa begitu perih. Aku bisa merasa kalau aku akan segera mati karena aku bisa merasakan maut tengah mengintaiku. Ingin membawaku bersama mereka ke tempat dimana orang mati seharusnya berada.

Seluruh kenangan silih berganti memasuki benakku. Membuat dadaku semakin sesak, semakin membuatku merasa kehilangan sesuatu yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari hidupku…

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun oppa menuju ke Spicy Wings café. Kyuhyun oppa bilang kalau ia ingin makan disana bersamaku, berdua. Aku sendiri tidak menolah saat ia mengajakku ke sana.

Kyuhyun oppa memaksa untuk pergi kesana dengan berjalan kaki. Katanya sih ingin olahraga. Kami berjalan berdampingan dari kantorku menuju ke café. Jaraknya tidak jauh, hanya cukup berjalan 15 menit, dan kami sudah sampai.

“Ah tuan, nona, silahkan masuk.” Aku mengangguk saat manager cafeku ini keluar untuk melayaniku dan Kyuhyun.

Aku tersenyum kepadanya, dan mengikutinya bersama Kyuhyun dari belakang. Ia membawaku ke tempat paling pojok, dekat kaca, dan mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Kyuhyun duduk bersebrangan. Setelah kami memesan makan, pelayan pergi, meninggalkanku dan Kyuhyun yang terdiam.

“Ekhem.” Aku menengok dan menatap Kyuhyun yang baru saja berdeham.

“A-Aku, aku ingin memberikanmu ini.” Aku memandang kotak yang disodorkan Kyuhyun oppa dimeja dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanyaku bingung, sambil meraih kotak itu dan membukanya.

“Gelang.”

“Gelang? Untuk apa kau memberikanku gelang? Ini bukan ulang tahunku. Dan juga, ini bukan tanggal yang special bukan?” tanyaku bingung.

“Aku hanya ingin memberikannya padamu. Aku disuruh eomma memberikan gelang itu padamu, eomma bilang, gelang itu melambangkan ikatan cinta kita.” Aku mengangguk-ngangguk saja. Gelang ini cukup sederhana, karena gelang ini hanyalah gelang yang terlihat dibuat sendiri oleh tangan dengan benang-benang.

“Kau harus memakainya saat kita pergi besok. Eomma inin kau memakainya.” Aku mengangguk, kemudian tanpa basa basi memasukkan kembali kotak itu kedalam tasku.

“Arraseo, gomawo ne.”

“Ne, Cheonma.”

 

 

 

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

 

 

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

 

 

 

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

 

 

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

 

 

 

“Kau kekanakan!”

“Kau juga!”

 

 

 

“Aku mempercayaimu.”

“Kau memang harus mempercayaiku.”

 

 

 

“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

 

 

 

“Kau keterlaluan.”

 

 

 

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

 

 

 

“Kau pantas mati!”

 

 

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s