Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 6

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Yeeeeeey, update juga part 6 nya. Baca ya. Jangan bosen loh ya. Ini lanjutannya part 5 kemaren ya. Gimana gimana? Jelek ya ceritanya? Maaf ya, author udah berusaha semaksimal mungkin kok. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

“HwaYeon!” aku menoleh dan tersenyum lalu melambaikan tanganku sedikit heboh pada Yoonhee eonni yang berada cukup jauh dihadapanku.

“Kajja eonni.” Aku mendahului HyoJin dan Eunhye eonni berjalan menuju YoonHee eonni.

“Eeeeoh, kau terlihat lebih baik. Padahal terakhir kali aku melihatmu kau tidak lebih baik dari pada zombie.” Ujarku langsung.

“Diamlah, kita pergi sekarang. Kajja.” Sebelum aku mengikuti langkah YoonHee eonni, aku terpaku ditempatku.

Yeoja itu…

Yeoja itu berada disana…

Berada di depan sana, bersama dengan Kyuhyun.

Mereka terlihat sangat akrab.

Sialan.

Jadi siapa sebenarnya yeoja itu?!

Aku membeku saat tiba-tiba yeoja itu menoleh padaku dan menyeringai, Kyuhyun juga ikut berbalik menghadapku dan melambaikan tangannya padaku, mengucapkan perpisahan.

Sialan.

Yeoja itu… mempermainkanku!

 

“Eonni pabbo!” Aku menghampiri Yoon Hee eonni yang sudah menunggu kami di sudut sana untuk mengalihkan pikiranku dengan kejadian tadi. Mata YoonHee eonni bengkak? Ada apa dengannya? Sepertinya habis nangis? Apa dia ada masalah?

“Kenapa matamu eonni?” Aku mengerutkan keningku bingung, dan memutuskan untuk bertanya. Aku khawatir padanya, tentu saja.

Bukannya menjawab, YoonHee eonni malah memegang matanya yang sembab. Aih, apa dia bodoh?

“Belum tidur.” ujarnya meyakinkan.

“Jinjja?” tanyaku memastikan.

“Ne”

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.”rengekku pada mereka. Aku memang lapar. Aku belum memakan apapun dari pagi. Ish, itu semua karna Eunhye eonni dan HyoJin eonni. Menyebalkan.

Kami semua naik kedalam mobil YooHee eonni, dan dia membawa kami semua munuju café favourite kami. Spicy Wings café. Hmm, café ini milikku sebenarnya.

Aku langsung dudukdengan posisi biasa, aku duduk disebelah YoonHee eonni

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin eonni sebelum dia duduk. Ish mau apa sih dia?

“Wae?!” tanyaku jengkel. Aku tidak suka pindah-pindah tempat!

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”Ck, aku mengangkat pantatku dari kursi dengan malas. Huh, kalau saja aku tidak mengingat moodnya yang buruk hari ini, aku tidak sudi menurut!

“Biasa.” ucap kami berempat kompak. Wow, kami sudah sinkron ternyata. Hahaha. Tak butuh waktu yang lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami. Pelayannya juga tadi sempat mengangguk padaku. Ah dia baik, haruskah kunaikkan gajinya? Ahahaha

“Kalian semua kenapa?” tanyaku memecah keheningan. Aku benci keheningan. Keheningan membuatku gugup. Dan harusnya, saat kami berkumpul, kami itu berisik. Kalau kami diam, berarti ada yang salah. Dan kurasa, memang ada sesuatu yang salah. Entahlah.

Ah, kalau begini aku malah mengingat surat terror itukan? Sialan!

Drrrtt Drrtt

Aku tersentak saat hp dalam kantong celanaku tiba-tiba bergetar. Ternyata ada pesan dari Kyuhyun oppa.

 

Keluarlah, aku sudah menunggumu diluar. Bukankah kita akan ke Rumah sakit? Ayo, kita kesana berjalan kaki dari sini. Hitung-hitung olahraga. Cepatlah

-Kyuhyun

 

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Aku menjejalkan ponselku kembali kedalam saku celanaku dan beranjak dari kursiku, bersiap keluar.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Ujarku mengingatkan sebelum akhirnya aku pergi keluar café, menemui pangeranku yang sudah menunggu diluar café.

 

.

 

Aku mengeratkan gandengan tanganku pada lengan Kyuhyun. Saat ini kami sedang berjalan santai, menuju rumah sakit. Kyuhyun bilang kalau ia ingin mengobrol dengan Ravi oppa. Katanya sih, ingin membahas tentang pernikahanku. Tapi, tidak tau juga.

Hmm, aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit. Aku merindukan Ravi oppa. Sudah 4 hari aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana keadaanya sekarang ya? Apa dia baik-baik saja? Apa yoonhee eonni memperlakukannya dengan baik? Aku tidak sempat bertanya pada dokter itu tadi di café. Hah, pabbo.

“Hey, kenapa kau diam saja? Biasanya kau cerewet.” Aku mengerucutkan bibirku sebal. Memangnya aku seperti itu ya? Hah, kenapa semua orang mengataiku cerewet? Aku kan tidak cerewet.

“Aniya, gwaencaha. Aku hanya memikirkan Ravi oppa. Apa dia baik-baik saja kutinggal 4 hari? Kuharap dia tidak berulah dengan bekerja di rumah sakit. Aku akan membunuhnya kalau aku sampai melihatnya bekerja saat kita sampai nan-“

Brak!!!

Sreeett!!!

“Arrrghhh!!” aku meringis saat seseorang tiba-tiba saja menabrakku. Bukan hanya itu, aku merasakan sebuah benda dingin nan tajam mengiris lenganku. Siala, perih sekali siapa sih?

Aku menengok dan dengan cepat, dan disana, diujung jalan sana. Yeoja itu berada disana sambil membawa sebuah pisau lipat, dan darah bercucuran dari pisau itu. Darahku.

“Omo, apa kau baik baik saja?! Lenganmu berdarah!” aku tidak menghiraukan Kyuhyun yang berteriak-teriak heboh. Lenganku memang perih, tapi perasaan takutku lebih mendominasiku saat ini.

Aku merasa kakiku lemas. Tulangku serasa copot dari persendiannya. Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Aku takut. Siapapun, bantu aku.

Brukkk!!!

“Ya ya ya!!! Kau kenapa? Apa sakit? Aiiish, siapa sih yang berani-berani melakukan hal ini? Sialan, aku akan membunuh orang itu jika aku menemukannya. Gwaenchana? Ayo. Kita segera ke rumah sakit, kita harus membalut lukamu.” Aku diam, sama sekali tidak berniat menanggapi kalimat Kyuhyun. Aku merasa lemas, Ya ampun. Kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku? Kenapa?

Sreeettt!

Aku tergolek lemas di dalam gendongan Kyuhyun oppa. Ya ampun, bagaimana mungkin aku bisa bertemu Ravi oppa dalam keadaan seperti ini? Aku tidak ingin Ravi oppa mengkhawatirkanku. Dia bahkan lagi sakit. Oh Tuhan…Apa yang harus aku lakukan?

 

.

 

“Hyung, tolong balut luka ini. Cepatlah!” desak Kyuhyun geram. Saat ini kami sudah berada di Seoul Hospital. Setelah tadi Kyuhyun membopongku kemari sambil berlari, dia langsung membawaku ke dalam ruangan dokter yang tidak kukenal, dan langsung membaringkanku di ranjang pasien yang berada di ruangan itu.

“Arra, biarkan dia disitu dulu. Biar aku ambilkan peralatannya. Chakkaman!” aku diam, memandang kosong pada langit-langit ruangan ini. Bau alcohol mulai menusuk indra penciumanku.

“Ada apa dengannya? Bagaimana bisa dia terluka seperti ini, eoh?” aku meringis saat dokter itu menuangkan alcohol di atas lukaku tanpa aba-aba. Dasar dokter sialan, dia kira itu tidak sakit apa?

“Seseorang berniat melukainya. Aaargh, andai saja aku terus mengawasinya, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Sialan, siapapun yang membuatnya terluka akan kubunuh dengan tanganku sendiri. Shit!” aku mendengarkan seluruh ucapanku Kyuhyun dengan kening berkerut. Dokter ini benar-benar tidak memberikanku waktu untuk bernafas. Hah, sakit sekaliii!!!

“Tenanglah kyu, Mungkin dia tidak sengaja.” Ujar dokter itu perhatian. Cih, tidak sengaja dari mana? Jelas-jelas yeoja itu sudah merencanakan semuanya dengan matang. Kurang ajar, kalau saja pisau itu melenceng sedikit saja ke kanan, mungkin sekarang aku akan berada di dalam ruang operasi untuk merenggang nyawa.

“Tidak sengaja apanya? Aku yakin kejadian ini sudah di rekayasa. Dia sudah mendapat berbagai surat ancaman, yang mengatakan kalau orang itu akan membunuhnya. Kau kira aku bisa diam saja jika tunanganku diperlakukan seperti itu?”

“MWO? Tunangan? Dia?!” aku memandang dokter itu dengan kening berkerut, kenapa reaksinya heboh sekali? Memangnya kenapa kalau kami sudah bertunangan?

“Ne, dia tunanganku. Kami akan segera menikah.” Ujar Kyuhyun lembut sambil menatapku.

“Mwoya? Lalu bagaimana dengan Kang Haneul? Bukankah kau akan segera menikah dengannya?” aku membeku, sialan! Apa lagi sekarang?

“Apa maksudmu? Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan gadis itu. Hubungan kami sudah berakhir 3 tahun yang lalu, saat ia memutuskan untuk meninggalkanku dan memilih lelaki lain yang menurutnya lebih baik.” Aku merasakan seperti jantungku baru saja ditikam oleh ribuan pisau. Dia bilang dia tidak pernah berpacaran? Tapi sekarang aku tau kalau dia sudah hampir menikah 3 tahun yang lalu? Dia sudah pernah bertunangan? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Kenapa?

“Apa? Tapi minggu lalu dia bercerita padaku kalau kalian sudah memutuskan untuk kembali bersama, dan kalian akan segera melangsungkan pernikahan kalian di Jeju. Jadi dia berbohong?”

“Mwo? Aku tidak mungkin kembali bersamanya, apa lagi menikahinya! Aku mencintai HwaYeon-ku. Sialan yeoja itu, berani-beraninya dia mengarang cerita seperti itu. Kurang ajar. Aku harus menemuinya lain kali.”

Astaga, kepalaku pening. Semuanya terjadi terlalu cepat dan tiba-tiba. Semua ini, bagaimana bisa… oh ya ampun. Aku tersenyum kecut, benar juga. Aku belum mengenal Kyuhyun dengan baik, aku belum mengenalnya secara mendalam, aku bahkan hampir tidak tau apapun tentang dirinya. Bagaimana bisa aku memutuskan untuk benar-benar menikahinya jika posisi kami seperti sekarang ini? Ini semua terlalu rumit.

Semua persoalan ini… aku benar-benar merasa kacau. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memutuskan untuk tidak jadi menikah dengannya? Hah! Itu konyol!

Lalu apa…?

Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Sudahlah kyu, jangan diambil hati. Mungkin dia masih labil sehabis mengalami kecelakaan itu. Maklumi saja. Jjja, lenganmu sudah selesai. Aku akan menuliskan beberapa resep obat untukmu agar luka itu cepat mongering dan bisa mengurangi rasa sakitnya. Lenganmu terluka cukup dalam.” Aku hanya diam, sama sekali tidak berniat menanggapi ucapan dokter tampan itu.

Pikiranku sepenuhnya terpusat pada semua hal aneh yang kualami semenjak aku mengenal Kyuhyun. Semuanya, terror yang kudapat. Itu semua terjadi setelah aku bertemu Kyuhyun bukan? Tapi anehnya, di dalam surat ancaman itu. Tidak ada satupun foto Kyuhyun, hanya ada fotoku selama di Jeju, tapi tidak ada foto Kyuhyun.

Tidakkah itu aneh? Selama di Jeju Kyuhyn bahkan menempeliku setiap saat. Lalu bagaimana mungkin dia tidak ikut mengancam untuk membunuh Kyuhyun? Dan juga, dibandara tadi pagi, bukankah yeoja itu mengobrol bersama Kyuhyun?

Apa mungkin gadis itu…

Oh tidak!

Semoga pikiranku salah.

Tidak mungkin kalau mantan tunangan Kyuhyun yang melakukan semua itu bukan? Ya ampun. Jangan sampai.

 

.

 

Aku dan Kyuhyun bergandengan tangan sambil memasuki ruangan Ravi oppa yang sudah 3 hari ini tidak aku kunjungi. Ravi oppa sedang sangat terpaku dengan laptopnya sehingga tidak menyadari kedatanganku dan Kyuhyun oppa. Sialan, kenapa dia bekerja? Oppa nakal! Dengan langkah berderap, kurebut laptopnya, kututup, dan dengan cepat kulempar keatas sofa.

“Yak! Apa yang kau lakukan! Aku sedang bekerja!”

“Memangnya siapa yang memperbolehkan oppa bekerja eoh?” tanyaku sinis. Ravi oppa menggerutu sebentar kemudian memandang tanganku yang terbalut dengan curiga.

“Tanganmu, kenapa?” tanya curiga? Aku menelan salivaku gugup. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kan? AKu takut akan reaksinya nanti. Apa aku harus berbohong? Aduh, apa alasannya ya?

“Eummm, i-ini. I-ini hanya karena aku jatuh tadi saat perjalanan kesini. Aku tersandung. Jadi begini deh.” Ujarku sambil tertawa gugup. Ravi oppa memandangku datar. Hah, dia pasti tau kalau aku berbohong.

Aaargh, pabboya!

“Bakat berbohongmu memang tidak pernah berkembang sejak kecil. Baiklah-baiklah. Oppa percaya sementara ini. Tapi ingat, oppa pasti tau apa yang terjadi sebenarnya. Kau tidak pernah bisa menyembunyikan apapun pada oppa.” Aku melirik Kyuhyun oppa dari sudut mataku. DIa terlihat sama gugupnya denganku. Bagus, kuharap dia tidak mengatakan apapun pada Ravi oppa.

Pandangan Ravi oppa lalu beralih pada Kyuhyun, dan keningnya langsung berkerut seketika.

“Eeeeh? Kenapa Kyuhyun ada disni? Dan juga, bagaimana dengn pelaunchingannya? Apa berjalan lancar? Bisa-bisanya kau tidak menguhubungiku sama sekali Kim Hwa Yeon-ssi.” Ujarnya sinis. Aku nyengir kali ini, aku memang hanya sekali menghubunginya selama di Jeju, biasalah. Sibuk.

“Hehehe mianhae, aku sibuk. Aah oppa, aku ingin bilang sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku dan Kyuhyun, emmm…kami memutuskan untuk segera menikah.”

“MWOYA???? Bagaimana bisa? Kenal saja baru! Tidak tidak. Aku tidak mengijinkan. Kau juga masih kecil. Tidak tidak. Tidak boleh.” Aku membulatkan mataku kaget. Apa-apaan? Kenapa dia tidak memperbolehkan? Oh ayolah!

“Ah wae?! Aku sudah besar! Umurku sudah cukup untuk menikah!”

“Andwae chagi. Kau masih terlalu muda.”

“Ish oppa!”

“A.N.D.W.A.E!”

“WAE! WAE! WAE!”

“Pokoknya tidak boleh, kau masih kecil. Oppa masih belum bisa melepasmu chagi. Apa lagi pada namja mesum seperti Kyuhyun? Jangan harap!”

“Aiiih aku sudah besar oppa, dan lagi, Kyuhyun tidak semesum itu~”

“Ani. Menurutlah pada oppa sesekali!”

“Andwae. Jebal ne~?”

“Tidak, sekali tidak tetap tidak!”

“Oppa!”

“Tidak!!”

“Aaah Oppa!!!! Jebal! Ne? Ne?”

“Tidak bisa sayang. Tidak boleh.” Ucapnya memaksa. Hah! Aku harus merobohkan pendiriannya!

“Ogi!”

“Aish, arraseo arraseo, oppa mengalah. Tapi tidak dalam jangka waktu yang dekat kan? Kau masih kecil. Kau tidak akan becus menjadi seorang ibu rumah tangga. Hiiiih, membayangkannya saja membuatku merinding.” Aku menyengir saat Ravi oppa akhirnya memperbolehkanku. Ya ampun, ternyata membujuk Ravi oppa itu mudah sekali. Ah benar juga, sejak kapan ravi oppa sulit dibujuk? Hahaha.

“Yeeeay, aku memang oppa terbaik. Tapi oppa, eomma dan appa tidak akan mengijinkan aku menikah kalau kau belum menikah. Kau juga harus menikah oppa. Kita menikah bersama sama.”

“mwoya? Kau gila? Oppa bahkan tidak punya pacar.”

“Ayolah oppa, jebal.”

“Tapi oppa memang benar benar tidak punya pacar. Lalu oppa menikah dengan siapa? Patung?”

“Aku tidak mau tau! Pokoknya oppa harus punya calon istri! Aku memberi waktu oppa 3 bulan, kalau oppa tidak bisa, oppa tidak akan aku akui sebagai oppaku lagi!”

“Yak! Mana bisa begitu!”

“Bodo, aku tidak peduli. Pokonya, aku hanya memberi oppa waktu 3 bulan. Oppa harus bisa mendapat calon istri dalam jangka waktu segitu jika oppa benar-benar menyayangiku.”

“Aish, terserahmu saja. Kalau gitu, bantu aku sekarang. Aku ingin mandi.”

“Oke, aku akan mengambil air. Tunggu sebentar.” Aku benar-benar melupakan kehadiran Kyuhyun oppa sampai aku tiba-tiba teriakanya saat aku tengah berusaha membuka kancing piyama Ravi oppa.

“Apa yang kau lakukan Kim Hwa Yeon?” tanyanya dengan wajah merah padam dan tangan terkepal. Eeeh? Ada apa dengannya? Memangnya aku melakukan kesalahan apa lagi? Kenapa dia suka sekali marah-marah?

“Aku? Membuka baju Ravi oppa tentu saja.” Jawabku polos.

“Untuk apa kau membuka bajunya? Kalian kakak adik demi Tuhan. Kalin tidak mungkin…astaga!”

“Hei! Apa maksudmu! Aku hanya ingin menyeka tubuhnya! Kau benar-benar.”

“Andwae andwae. Biar aku yang melakukannya. Walaupun kalian kakak adik, tapi kau yeoja dan dia namja. Bagaimana mungkin kau yang melakukan hal seperti ini?” aku membiarkan Kyuhyun oppa mengambil alih pekerjaanku menyeka tubuh Ravi oppa. Sedangkan Ravi oppa sendiri malah memandangku dengan pandangan bertanya yang juga hanya bisa kujawab dengan gendikkan bahu.

Sikap Kyuhyun oppa terkadang memang sangat menyebalkan. Kadang ia terlalu romantic, terlalu kekanakan, terlalu posesif, terlalu protektif. Ah pokoknya serba selalu. Ya kan? Dia juga terlalu tinggi, terlalu tampan, dan banyak terlalu lainnya yang kalau kusebut, ff ini bisa penuh dengan segala ‘terlalu’nya

Cleck!

“Ravi-ssi ka- OMO! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALIAN GAY?!” aku terkejut melihat Yoon Hee eonni lagi-lagi masuk saat situasi yang kurang pas.. Tapi apa? Gay? Aku tertawa ngakak saat mendengar ucapan Yoon Hee eonni, ya ampun. Masa mereka gay? Eonni yang satu ini benar-benar pabbonya sudah overload.

Ahahaha, kalau dihitung-gitung. Berarti ini kedua kalinya Kyuhyun dikatai sebagai seorang gay. Hahahaha payah! Mungkin mukanya memang muka-muka orang gay. Hahaha

“Apa maksudmu eonni? Mereka bukan gay Kyuhyun itu kekasihku! Enak saja kau! Hahaha” aku kembali tertawa saat melihat wajah masam Kyuhyun oppa dan ravi oppa. Ya ampun mereka sangat lucu.

“aku akan pergi dan akan kembali saat pasien sedang tidak, err… sibuk.” Putus Yoonhee eonni tiba-tiba. Aku sih mengangguk ngangguk saja.

Aku mengamati Yoon Hee eonni yang keluar dari kamar ini dengan seksama kemudian mengalihkan pandanganku pada Ravi oppa dan memandangnya curiga.

“Kau, ada hubungan apa dengannya?”

“Eemm, hanya pasien dan dokter.”

“Cih, geotjimal. Kalau begitu, sepertinya kau sudah punya calon istri. Ingat oppa, waktumu hanyalah 3 bulan!”

“Aish! Arraseo arraseo! Cerewet sekali!”

“Ah, kuharap oppa bisa membuatnya menerimamu sebagai calon istrimu. Arra?”

“Yaish! Tenanglah! Itu urusan oppa, arrachi? Oppa pasti melakukannya, oppa kan menyayangimu.”

“Ehehehehe, arraseo. Jja, diamlah dulu sekarang. Biar Kyuhyun oppa bisa membersihkan tubuhmu. Kau bau.” Candaku pelan. Aku tersenyum geli saat mendengar gerutuan Kyuhyun oppa dan Ravi oppa. Aaah, mereka sungguh imut.

“Hei, omong-omong bagaimana pertemuan pertama kalian? Apa di kantor?” tanya Ravi oppa tiba-tiba memecah keheningan. Aku memandang Kyuhyun oppa, penuh harap. Apa ya jawabannya?

“Pertemuan pertama kami? Di café, Spicy wings café. Hmmm, saat itu dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka berempat kalau aku tidak salah ingat.”

“Ah benarkah? Kau bersama HyoJin, Eunhye, dan Yoonhee, Hwayeon-ah?” tanya Ravi oppa memotong pembicaraan Kyuhyun oppa. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Dia terlihat seperti zombie saat itu. Ahhh, tapi saat itu dia berisik. Padahal dia terlihat hampir sekarat. Apa daya tahan tubuhnya memang kuat?” lanjut kyuhyun oppa.

“Apanya? Dia itu penyakitan! Hah! Dikitd ikit sakit! Dikit-dikit sakit! Menyusahan saja!”

“Yak! Oppa tidak suka?! Oppa tidak mau mengurusku lagi? Begitu?” tanya marah. Sialan memang mereka.

“Yak! Tidak perlu marah chagi. Oppa hanya bercanda!”

“Ish, aku benci oppa.”

“Ya, oppa hanya bercanda chagi.”

“Bodo! Aku benci!

“Yaish! Arraseo, mianhae eoh?”

“Cih!” aku membuang pandanganku darinya, ceritanya sih aku sedang ngambek. Hehehe.

“Lanjutkan ceritamu Kyu.” Uja Ravi oppa pada Kyuhyun. Sialan mereka.

“Ya lalu aku memandanginya, sebenarnya aku ingin menegurnya karena dia sungguh berisik. Aku sedang meeting saat itu, dan kami tidak bisa berkonsentrasi karena kerusuhan yang dibuatnya dan teman-temannya. Tapi saat ia memandangku, aku merasa seluruh kekesalanku padanya langsung menguap. Entahlah. Padahal dia saat itu memandangiku dengan mata pandanya.”

“Mata panda?”

“Ne. Ada lingkaran hitam dibawah kedua belah matanya waktu itu, seperti panda.” Sindir Kyuhyun oppa. Kurang ajar.

“Ah, dia memang suka begadang. Dan mata itu, ya itu hasilnya. Sudah berkali-kali aku memarahinya tentang hobby begadangnya itu, tapi dia tidak pernah mau mendengarkanku. Sampai-sampai aku harus bekerja sama dengan Ahjumma di rumah untuk memberikan sedikit obat tidur untuknya yang kami campur di dalam jusnya.” Heeiii! Bisakah mereka berhenti membicarakanku seakan aku tidak berada dalam satu ruangan dengan mereka? Kenapa mereka berdua bisa menyebalkan seperti ini?

“Jinjja? Wah, parah sekali berarti. Aku harus memaksanya tidur bersamaku saat kami sudah menikah nanti kalau begitu.” Oh oh, namja satu itu benar-benar

“Cih, awas saja kalau kau menodai pikiran adikku yang polo situ. Kubunuh kau.” Ujar Ravi oppa sengit. Aduuuh, kenapa mereka kekanakan sekali? Membuatku pusing saja!

“Ah sudahlah, kalian berisik. Tungguhlah disini sebentar. Oppa sudah boleh pulang hari ini kan? Kita pulang sekarang. Aku akan memanggil suster dulu.” Baru saja aku mau melangkah keluar, tiba-tiba saja Kyuhyun oppa menahanku. Heeeh? Kenapa dia bergerak cepat sekali? Dia tadi ada di kursi di sebelah ranjang Ravi oppa kan? Kenapa aku tidak sadar waktu dia pindah?

“Biar aku saja. Kau mengobrollah dengan oppamu.” Aku mengangguk, membiarkan Kyuhyun oppa yang keluar untuk memanggil suster. Sebenarnya, ada sebuah tombol khusus di samping kanan ranjang untuk memanggil dokter dan suster, tapi lebih enak di panggil sendiri. Hehehe Itu menurutku sih.

“Kemarilah.” Aku menurut saa Ravi oppa menyuruhku mendekat dan duduk di sebelah tempatnya berbaring. Aku ditariknya, jadi aku jatuh telentang. Dan tiba-tiba saja, aku sudah berada di dalam rengkuhan Ravi oppa. Hmm, nyaman sekali.

“Ada apa? Tidakkah kau ingin bercerita pada oppa?” aku menegang. Haruskah aku bercerita padanya? Sekarang? Kurasa tidak.

“Nanti saja oppa. Di rumah saja ne?”

“Arraseo, terserahmu saja. Hmmm, bagaimana Kyuhyun?” aku mengerutkan kening dengan pegantin topic yang terlalu tiba-tiba.

“Well, sejauh ini dia baik. Dia juga romantic, dan juga posesif.” Aku tersenyum saat tanpa sengaja aku mengingat bagaimana Kyuhyun oppa selalu mengklaim diriku. Dia memang sangat posesif.

“Hmmm, posesif ya? Wah, hidupmu tidak akan tenang kalau begitu chagi.” Aku memutar mataku malas. Ravi oppa memang benar, hidupku tidak akan pernah tenang. Kenapa? Oh bayangkan saja, seumur hidupku, aku selalu dikelilingi oleh namja namja yang posesif dan over protektif. Dan sekarang, bertambah lagi namja yang protektif padaku. Mati sajalah.

“Ish oppa menyebalkan. Geundae oppa, oppa benar-benar merestui kami berdua kan? Kalau saja oppa tidak merestui aku dengan Kyuhyun. Aku masih bisa membatalkannya oppa. Keputusan oppa dan eomma, appa nanti sangat berharga untukku. Jika saja salah satu diantara kalian ada yang menolah, aku bisa membatalkannya.” Aku tersentak maju saat Ravi opa mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

“Oppa merestui kalian sayang. Kyuhyun, well. Sejauh ini dia terlihat baik. Oppa juga sudah mengenalnya cukup lama. Dan oppa yakin, dia bisa menjagamu sama seperti oppa dan appa menjagamu selama ini. Jadi ya, oppa sepenuhnya merestui kalian.” Ujar Ravi oppa lembut aku tersenyum dan menengadahkan kepalaku, memandang Ravi oppa yang juga tengah menatapku lembut.

“Tapi, oppa akan membunuhnya kalau dia sampai menyakiti adik kecil oppa yang satu ini.” Aku memekik kaget saat Ravi oppa mengigit puncak hidungku, lalu mengecup dahiku lembut. Uuuugh, sakit sekali.

“Sakit bodoh!” gerutuku pelan sambil mengusap hidungku yang tadi digigitnya. Hah, pasti merah deh. Ish, Ravi oppa pabbo.

“Ck, berhentilah mengatai oppa bodoh.” Aku mengerucutkan bibirku sebal, tapi aku tidak membalas apapun perkataannya.

Krriiiieeet!!!

Aku mendengar suara pintu berderit terbuka. Saat aku ingin bangun dari posisiku, Ravi oppa menahanku. Ish, siapa sih yang datang? Apa Kyuhyun oppa dan dokter?

“Eoh, kenapa posisi kalian intim sekali? Kalian kakak adik. Astaga. Aku bisa gila!” aku terkekeh saat mendengar sebuah suara yang sudah kukenal dengan cukup baik. Ternyata Kyuhyun oppa, jadi dia yang datang? Hahahaha, cemburuan sekali sih? Padahal aku kan hanya berpelukan dengan oppa kandungku sendiri. Cih.

“Lalu apa masalahmu, Cho? Dia adikku.” Aku tersenyum dalam diam saat mendengar mereka berdebat. Kenapa mereka memalukan sekali? Bukankah kalau Kyuhyun sudah datang, berarti dokter dan susternya juga datang? Aish!

Aku dengan cepat beranjak dari posisiku dan duduk di kasur. Tak kuindahkan gerutuan Ravi oppa. Dan menyapa dokter dan suster yang tengah tersenyum penuh arti sambil menatapku.

“Eoh? Kau dokter yang tadi kan? Annyeong. Ah, tolong lepaskan alat-alat aneh itu dari tubuh oppaku ne? Kami mau pulang.” Ujarku cepat. Dokter itu tersenyum kemudian mengangguk. Aku hanya mengamati mereka dari pinggir ranjang, bersebelahan bersama Kyuhyun, saat mereka melepas alat-alat yang tidak kumengerti itu.

“Nah, sudah selesai. Ravi-ssi, anda harus mengkonsumsi obat yang sudah kuberikan barusan. Minum sebanyak 3x sehari setelah makan. Jangan lupa ganti perbannya setiap 6 jam sekali supaya lukanya tidak terinfeksi. Baiklah, kalau gitu saya pamit undur dulu. Selamat sore.”

“Ah ne, selamat sore. Gomawo ne, dokter.” Ucapku mendahului Ravi oppa.

“Ne, cheonma.”

Aku membereskan seluruh barang-barang Ravi oppa, dan menyuruh Kyuhyun oppa untuk membawanya dan mengambil mobil. Aku segera beralih ke sebelah Ravi oppa, meletakkan tangannya dibahuku, dan mulai membantunya berdiri, dan memapahnya. Astaga, dia berat sekali.

“Omo, oppa berat sekali!” gerutuku sebal. Aku berjalan tertatih-tatih sambil membopong Ravi oppa. Aduh, kenapa berat sekali sih? Padahal Ravi oppa tidak membebankan seluruh berat tubuhnya padaku. Bagaimana kalau dia membebankan seluruh berat tubuhnya padaku? Bisa-bisa aku langsung jatuh. Ck!

“Ish, Kau saja yang lemah. Bisa tidak? Oppa bisa berjalan sendiri kok.” Aku memutar mataku malas saat mendengarnya meringis. Cih, sok jagoan sekali namja satu ini. Aku menyampirkan tangan kananku di pinggan Ravi oppa, sedangkan tanagn kiriku kupakai untuk menggenggam tangan Ravi oppa yang tersampir di bahuku.

“Pelan-pelan saja. Sebentar lagi juga sampai. Kyuhyun oppa pasti sudah menunggu diluar.” Aku tak mengindahkan gerutuannya, dan membawanya berjalan perlahan menuju ke luar RS, dan benar saja. Mobil Kyuhyun oppa sudah standby disana. Hmmm, mobil audi R8 berwarna silver. Wow, mobil yang bagus. Tapi siapa yang mengantar mobil itu kesini? Supir Kyuhyun? Tapi kemana supirnya? Ah sudahlah, bukan urusanku.

Aku membantu Ravi oppa untuk masuk ke dalam mobil, dan aku ikut masuk dan duduk bersama Ravi oppa. Kuharap Kyuhyun mengerti, aku ingin duduk menemani Ravi oppa.

Perjalanan kami ke rumah dijalani dengan sangat hening karena tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Aku sendiri hanya bersender di bahu Ravi oppa, dan Ravi oppa memelukku dari samping. Kyuhyun sendiri hanya focus untuk menyetir.

“Emh oppa, masuklah ayo.” Aku kembali membopong Ravi oppa masuk kedalam rumah ddibantu oleh Kyuhyun oppa. Dari luar pintu, aku sudah bisa mendengar suara orang-orang tertawa dan berteriak. Suara siapa saja ya? Kok ramai sekali? Apa eomma dan appa sudah pulang?

Baru saja aku mau membuka pintu, pintu itu malah sudah terbuka lebih dulu dari dalam. Lee ahjumma berdiri didepan pintu sambil tersenyum ramah.

“Mari masuk, Tuan muda, Nona muda. Tuan dan nyonya besar sudah menunggu kalian. Ada tamu juga, mari.” Aku ikut masuk kedalam, masih tetap sambil membopong tubuh berat Ravi oppa.

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

Aku mengantar mereka sampai pintu keluar, dan kembali masuk kedalam rumah. Ravi oppa sudah tidak ada, mungkin sudah ke kamar. Aku bertemu eomma dan appa yang ternyata masih berada di ruang keluarga. Aku menghampiri mereka, dan duduk ditengah-tengah mereka berdua.

“Bagaimana kabarmu, chagi?” aku menyenderkan tubuhku ke tubuh appa yang saat ini tengah merangkulku dan memandang eomma dengan sayang.

“Aku baik-baik saja eomma.”

“Jinjja? Baguslah. Hmm, lenganmu itu kenapa?”

“Ah itu, tadi siang aku jatuh tersandung. Jadi lecet deh.”

“Ck, makanya hati-hati kalau berjalan.” Kali ini appa bersuara. Aku memutar mataku malas mengucek mataku yang sedikit berair. Aku mengantuk.

“Lelah? Tidurlah dulu. Kita masih bisa mengobrol besok. Jja, jalja chagi.”

“Ne eomma, appa. Jalja.” Aku beranjak dari pelukan appa dan berjalan menuju kamar Ravi oppa setelah mengucapkan salam pada eomma dan appa. Saat aku masuk kedalam kamar Ravi oppa, Ravi oppa sedang duduk dikasur sambil membaca sebuah kertas kucel yang…oh sial, bukankah itu kertas ancaman yang kemarin! Sial!

Aku langsung berlari kearah Ravi oppa dan merebut kertas itu dari genggamanannya. Ah, bagaimana bisa Ravi oppa menemukannya? Aku kan menyimpannya didalam tasku. Aku meremas surat itu dengan gugup dan memandang Ravi oppa yang masih diam sambil menunduk di atas kasurnya.

“Apa itu?” tanya Ravi oppa irih. Oh tidak, apa yang harus kukatakan.

“I-itu…”

“Jawab oppa, apa itu? Surat macam apa itu? Ya ampun, apa ada seseorang yang mengancammu? Yang menyakitimu? Katakan pada oppa!” aku tersentak saat tiba-tiba saja Ravi oppa menatapku sambil melotot dengan mata merah dan wajah merah pula. Tangannya terkepal tepat di samping tubuhnya. Ah eotteokhae? Dia marah!

“Oppa, i-itu…”

“Katakan yang sebenarnya!” potong Ravi oppa dengan mata menyalang marah. Sialan, dia benar-benar marah.

“Ya” ucapku jujur. Aku melihatya terperangah. Matanya membulat, dan rahangnya mengatup. Aku mencoba melanjutkan, berusaha untuk jujur sebisa mungkin.

“Ya, aku diancam seseorang oppa. Aku juga disakiti seseorang. Lenganku ini, aku mendapat luka ini bukan karena jatuh. Tapi karena orang itu berusaha menyakitiku. Aku sudah mengalaminya selama di Jeju oppa.” Aku melihat Ravi oppa mendesis geram, dan seperti mencoba mengontrol emosinya. Aku memandang Ravi oppa putus asa, aku merasa bersalah. Harusnya aku tidak membuatnya marah seperti ini.

“Neo Gwaenchana? Kemarilah. Tidurlah bersama oppa malam ini.” Aku mengangguk, kemudian merangkak naik keatas kasur Ravi oppa. Ravi oppa sendiri sedikit bergeser, memberikan tempatnya untukku. Aku langsung memeluk Ravi oppa sesaat setelah aku berada di sampingnya.

Aku merasakan hembusan nafas Ravi oppa di pucuk kepalaku, dan dia akhirnya balas memelukku, sesekali mengecup puncah kepalaku.

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s