Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 6)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee
Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

Aku mencoba memfokuskan pandanganku. Nuansa biru tua mendominasi disini.

Baru aku sadari, aku bukan dirumah sakit.

“Selamat pagi Yoonhee.” sapanya dengan suara parau.

Cup

Dia memberikanku sebuah morning kiss singkat.

“Oppa, kita dimana?” tanyaku yang masih rebahan belum sadar.

“Dirumahku. Kau ketiduran didepan kamar Ravi kemarin, daripada disitu, mending kubawa kau pulang saja.”

“Ahhh..” aku mendesah pelan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan diatasku?” tanyaku seakan ingin marah.
Aku perlahan mulai mengeliat. Tapi tubuh Hyunwoo yang lebih besar dibading tubuhku membuatku tidak berdaya.

“Menatapmu dari atas sini.”

“Awas oppa, kau sangat berat!” bentakku.

“Tahan sebentar. Aku sangat menantikan hal ini.” dia memgang bahuku agar tidak bergerak terlalu banyak.

“Aku tidak suka! Turun dari sana!” bentakku menjadi-jadi.

Hyunwoo makin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Oppa!!” rontaku ketika Hyunwoo mulai mengecupi leherku.

Aku mencakar punggung telanjang Hyunwoo.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mersakan kebahagiaan.”

“Oppa! Berpikirlah yang jernih!”

Aku menendang perut Hyunwoo.

“Argh!” rintihnya sembari bergeser kesebelahku.

Aku segera berlari. Memikirkan bahwa kesempatan seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Aku berlari sepanjang jalan dari rumah Hyunwoo kerumahku yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kukendarai mobilku ke rumah sakit.

“Omo, dokter Jung. Apa yang terjadi?” tanya beberapa suster saat aku sampai dilobby.

Aku tidak mendengarkan mereka, aku terus berlari sampai akhirnya aku sampai disini.

“Oppa.” aku langsung membuk a pintu kamar Ravi, tanpa permisi tanpa mengetuk, aku langsung duduk dibangku yang ada disamping ranjang.

“Oppa.” panggilku sekali lagi. Ravi masih asik dengan laptopnya.

“Apa masih marah padaku? Apa kau masih jijik padaku? Aku khilaf kemarin, aku hany..”

Ravi memotong pembicaraanku dengan menelpon seseorang.

“Yeobusaeyo?”

“…”

“Jam 1? Kalau begitu berhati-hatilah banyak orang jahat diluar sana.”

“…”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucapku setelah Ravi menutup teleponnya.

Ravi tetap diam, bahkan dia tidak menatapku. Air mata perlahan mulai membasahi pipiku, semakin deras, bahkan semakin deras.

“Mianhae.” lirihku sembari menunduk. Kurasakan air mata yang semakin lama semakin deras terus keluar.

“Kau disini?” tanyanya riang.

Akhirnya dia menganggapku.

“Opp..”

“Ne, Ravi-ssi. Apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?”

“Suster Lee?” tanyaku heran.

“Bisa tolong aku untuk berdiri?” dia tersenyum pada suster Lee.

Suster Lee mendekati Ravi, lalu membantunya untuk berdiri.

Aku bangkit dari tempat duduk.

“Suster Lee, bagaimana kau bisa tahu kalau seorang pasien yang habis dioperasi boleh berjalan-jalan tanpa kursi roda? Bagai..” aku mulai membentak-bentak suster Lee.

“Berisik.” desisnya seakan ingin membunuhku.

Dulu kudukku langsung berdiri mendengarnya.

“Mwo?” tanyaku dengan hati-hati.

“Suster Lee, kjja.” ajak Ravi.

Mereka sudah pergi meninggalkanku.

Denagn gontai aku berjalan ke ruanganku.

“Arghhh!!!” aku membanting pintu ruanganku kasar.

Aku segera masuk kekamar mandi untuk mandi. Kubiarkan air dari pencuran mengalir seiring dengan mengalirnya air mataku.

“Brengsek! Wanita macam apa kau ini Yoonhee?!” aku memaki diriku sendiri.
Kujambak rambutku frustasi.

Hancur.. hidup Yoonhee berakhir. Tidak ada lagi yang namanya harga diri dihidupku. Semuanya musnah.

Kuputuskan diriku untuk keluar. Kukendarai mobilku berkeliling kota. Sampai akhirnya aku memberhentikan mobilku dibandara.

Aku duduk disebuah restoran dibandara.

“Kentang tumbuk, zupa soup, dan satu frozen yogurt.” pesanku kepada salah satu pelayan.

“Baiklah tunggu sebentar.”

30 menit kemudian makananku datang. Kusantap semuanya satu-satu. Mengapa tidak enak? Bukankah restoran ini terkenal dengan kentang tumbuk dan juga zupa soupnya? Oh.. ini perasaanku saja.

“Frozen yogurt anda.”

Aku memainkan frozen yogurt pesananku.

Hatiku benar-benar hancur. Bahkan rasanya hati nuraniku tidak bisa menerima siapa diriku ini.

Aku keluar dari restoran itu setelah selsai makan. Sesak, bukan karena terlalu kenyang. Ini rasa sesak yang berbeda. Bukan, bukan karena aku pilek atau penyakit paru-paru. Ini bahkan lebih sesak daripada itu semua.

“Eonni pabbo!” ketiga temanku keluar dari pintu kedatangan domestik.

“Kenapa matamu eonni?” tanya Hwayeon khawatir.

Aku memegang mataku yang sembab.

“Belum tidur.” ujarku meyakinkan.

“Ohh..kjja. Aku ingin makan, lapar.” rujuk Hwayeon.

Aku mengendarai mobilku ke Spicy Wings café, café langganan kami.

Aku langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disampingku.

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin sebelum dia duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya Hyojin duduk.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Perlahan wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Seakan dia sedang dikejar-kejar oleh hantu. Kutatap Eunhye. Wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Kini, kutatap Hyojin yang sepertinya sedang menahan emosi.

“Aku tidak lebih parah daripada mereka.” decakku dalam hati.”

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Hyojin ikut-ikutan keluar.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanyaku pada satu-satunya lawan bicaraku.

“Mungkin.”

“Biar aku antar.”

Kami berdua masuk ke mobilku. Eunhye mendadak canggung.

“Eonn.. oh, tunggu sebentar.”

Drtt drtt

Sebuah panggilan masuk dari Taehyung.

Aku menekan tombol loud speaker dan terus mengemudi.

“Taengi oppa.”

“Yoonie, apa kau menelponku tadi?”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“Mianhae. Aku sedang sibuk.”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk.”

“Arra. Maaf ya Yoonie, oppa masih ada yang harus dilakukan.”

“Annyeong Taengi oppa.”

“Annyeong Yoonie.”

Tut

“Siapa dia?” tanya Eunhye dingin.

“Taehyung oppa.” jelasku.

“Namjachingumu?”

Aku terkekeh mendengarnya.

“Ani.” jawabku.

“Tunangan.”

“Aishh.. ani eonni.”

“Ohh, aku ingin turun disini.”

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.”

Aku segera menepikan mobilku.

“Gomawo Yoonhee.” ucapnya sembari bersiap-siap untuk keluar.

“Annyeong.”

Eunhye keluar lalu berjalan gontai.

“Ada apa dengan dia?” tanyaku.

Aku segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit.

Satu lagi operasi menungguku.

Knock knock

Aku kembali berkunjung ke kamar Ravi setelah operasi, tanpa kapok.

Knock knock

Tak ada jawaban dari dalam.Aku langsung membuka pintu itu.

“Ravi oppa..” panggilku.

Pantas saja tak ada jawaban, kamar ini.. kosong?

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dari luar kamar.

“Dimana dia?” tanayku bingung.

“Sudah check out. Dongsaengnya dan seorang pria menjemputnya tadi.”

“Hah.. Hwayeon..”

“Ravi-ssi bilang kalau dia sedang marah dan sedang tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Jinjja? Dia bilang seperti itu?”

Suster Lee mengangguk pelan.

Aku berjalan cepat kearah parkiran mobil.

Drtt drtt

“Hwayeon, kenapa oppamu kau bawa pulang tanpa izinku?”

“Yoonie, ini oppa.”

“Oh, Taengi oppa. Waegeurae?”

“Bukankah kau yang bilang untuk menelponmu.”

“Akh, betul.”

“Kerumah oppa saja. Kita cerita disini.”

“Kirimkan aku alamatmu.”

“Akan oppa SMS nanti.”

“Baiklah.”

Setelah mendapatkan SMS dari Taehyung oppa, aku langsung kerumahnya.

Knock knock

“Sebentar.” perintah Taehyung dari dalam.

Klek

“Yoonie..” paggil Taehyung.

Hug

“Oppa..” aku menenggelamkan wajahku ke dada Taehyung.

“Wae?”

Aku kembali terisak. Kali ini air mataku yang hampir kering keluar lagi

“Kita masuk ya.” ajak Taehyung.

Taehyung mendudukanku disofa.

“Hyunwoo..” erangku keras.

“Kenapa dengan dia?” tanya Taehyung penasaran.

“Dia mencoba untuk meniduriku.”

“Mwo?! Beraninya dia! Apa Jung ahjussi dan Jung ahjumma tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Akan oppa beritahu nanti. Sudahlah jangan menangis.”

“Jangan! Jangan beritahu eomma dan appa.”

“Wae?”

“Itu aib. Berjanjilah hanya oppa dan aku saja yang tahu.”

“Arraseo.”

“Masalahnya ada yang lain.”

“Apa itu?”

“Ada orang lain yang mengetahui hal ini dan marah besar padaku.”

“Namjachingumu?”

“Ani.”

“Dia suka padamu?”

“Ani! Molla-yo..”

“Atau mungkin dia juga merasa jijik.”

“Itu spekulasi pertama yang paling masuk akal.”

Taehyung mengusap punggungku.

“Harga diri. Harga diriku sudah hilang oppa..” aduku kembali menangis.

“Sudahlah Yoonie. Pulanglah dan cobalah untuk istirahat.”

Aku beranjak dari dudukku.

“Gomawo oppa.”

“Kau lesu. Oppa khawatir, mau oppa antar?”

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja. Annyeong.”

“Hati-hati Yoonhee.”

Aku mengendarai mobilku pulang. Seseorang tengah berdiri didepan pintu seakan menunggu sesuatu.

“Apa yang kau mau?” tanyaku ketus.

“Yoonhee, oppa minta maaf.”

“Untuk?”

“Kejadian tadi pagi. Oppa benar-benar tidak bisa mengontrol diri.”

“Bukankah kau bahagia.”

“Yoonhee, jangan marah. Mohon maafkanlah oppa.”

“Apa pantas? Kau yakin kalau aku akan memaafkanmu?”

“Ya.”

“Ya sudah. Pulanglah.”

“Kau memaafkanku?”

“Semua orang bisa khilaf kan? Bahkan aku khilaf karena bisa-bisanya menerima ciumanmu kemarin.”

“Maaf atas kejadian itu juga.”

“Aku ingin tidur. Oh iya, besok aku akan pergi bersama teman-temanku menggunakan kapal pesiar selama 2 hari. Perginya besok pagi. Kau mau ikut?”

“Apa boleh?” tanyanya ragu.

“Setidaknya agar eomma dan appa tidak khawatir.”

“Baiklah. Selamat malam Yoonhee. Maaf sekali lagi.” pamitnya.

“Selamat malam.” balasku.

Aku masuk kedalam rumah. Setidaknya satu masalah sudah selesai, dengan vepat dan mudah. Tinggal satu masalah lagi, Ravi.

Aku mencoba untuk tidur. Walaupun aku sudah mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja aku seperti sedang melihat Ravi. Aku bisa gila karena ini.

Drtt drtt

“Eonni!”

“Ne?”

“Bersiaplah. Setengah jam lagi akan ada mobil yang menjemputmu.”

“Setengah jam? Arraseo.”

“Annyeong.”

Hahh.. kumulai pagi dengan gerutuan. Aku-sangat-mengantuk. Sungguh!

Setengah jam yang sudah ditunggu. Mobil yang sudah menjemput ada didepan rumahku.

Klek

“Selamat pagi Yoonhee.”

“Pagi oppa.’’

Aku dan Hyunwoo langsung pergi ke dermaga.

Sudah ada Hwayeon, namja yang tidak kuketahui bersama dengan Hwayeon, Hyojin, namja yang tidak kukenal bersama Hyojin, Eunhye, dan..

“Taengi oppa!”

Hug

Taehyung langsung membalas pelukanku.

“Kenapa ada Hyunwoo?” bisik Tehyung pas ditelingaku.

“Dia minta maaf kemarin. Kumaafkan saja. Sesama manusia harus saling memaafkan bukan?” bisikku mebalas.

“Itu terserah padamu. Tapi yang jelas kau harus tetap jaga diri dan hati-hati.”

“Taehyung.” panggil Hyunwoo yang sudah berdiri dibelakangku.

“Oh, hyung. Lama tak bertemu.” Taehyung melepaskan pelukan kami, lalu menjabat tangan Hyunwoo.

“Angga kalau oppa tidak tahu apa-apa ya.” bisikku pada Taehyung.

Aku meninggalkan Taehyung dan mulai berjalan-jalan berkeliling kapal dengan Hyunwoo.

“Ha-neul?” bisik Hyunwoo ragu-ragu.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s