Cure That Foolish #100th Day -Yoonhee Side- (Part 5)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13


Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

“Akh.” aku berjalan cepat ke kamar mandi. Rutinitasku sehabis bangun tidur, buang air kecil.

“Huah…” Ravi tengah meregangkan tubuhnya saat aku keluar dari kamar mandi menyelesaikan rutinitas tadi.

“Pagi sekali kau bangun.” tanyanya.

“Kau juga.” jawabku tak mau kalah.

“Kemari.” pinta Ravi sembari melambaikan tangannya padaku.

Aku berjalan mendekatinya.

“Wae?”

“Aku…”

Ravi menggantungkan kalimatnya, membuatku penasaran.

“Apa jahitannya terbuka lagi? Apa perutnya sakit lagi? Apa ada bagian lain yang sakit? Apa sih dia? Membuatku penasaran saja.” pertanyaan tadi hanya tertahan sampai tenggorokanku. Sekarang otakku dipenuhi pertanyaan pada diriku sendiri.

“..mau..”

“Apa yang kau mau? Palli, beri tahu aku!” ucapku jengkel.

“..buang air kecil. Eotteokhae?”

Aku membuang nafas berat karena putus asa. Ya Tuhan, dia begitu…aish..

“Buang saja.” jawabku mulai naik darah.

“Bagaimana caranya? Kalau aku berdiri lagi nanti jahitannya terbuka. Nanti kau akan mencoba untuk membunuhku lagi.”

Aku membuka lemari kecil disamping ranjangnya.

“Igo.”

“Igo mwo-ya? Apa aku harus buang air didalam jerigen?”

“Itu memang tempat untuk buang air. Masukkan saja lalu pipis seperti biasa.”

Mukanya perlahan pasrah.

“Kenapa wajahmu.”

“Ani.” elaknya cepat.

Dia memasukkan “tempat penampungan itu” kebalik selimut.

“Ehmm…” dia bergeming cukup keras.

“Berisik!” aduku yang mulai terganggu.

“Selang infusnya begitu pendek. Tanganku yang sebelah harus memegang benda ini dan yang diinfus ini harus memegang benda yang itu. Bantu aku.”

“MWO?! KAU KIRA AKU APA?!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahan.” dia mebujukku manja.

“Lakukan dengan cepat, dan sampai mengenaiku.” aku merebut “tempat penampungan itu” yang masih bersembunyi dibalik selimut secara kasar.

“Siap. Tahan disana ya.” ucapnya penuh kemenangan.

Aku menempatkan diriku lebih dekat lagi dengan ranjangnya. Tanganku sebelah kanan memegang “tempat penampungan itu” sedangkan arah tubuhku membelakanginya.

“Eh.. ehmm..ah…” Ravi menggeliat geliat diranjang dalam posisi terlentang. Kau tahu kan dia sedang apa? Apa lagi kalau bukan berusaha mengeluarkan ehem..

“Permisi, Ravi Kim anda.. ups, maaf.”

Shyt! Pasti suster Lee dan Lee ahjumma salah paham!

“Tunggu, sedikit lagi!” ronta Ravi karena tubuhku langsung reflek mengejar mereka.

“Karena kau, suter Lee dan Lee ahjumma salah paham!”

“Mian tapi aku benar-benar harus buang air, dan kau benar-benar harus membantuku… akh lega rasanya.. Sudah selesai. Gomawo ne.”

“Ikh!” aku langsung melepaskan “tempat penampungan itu” dari tanganku dan berjalan keluar.

“Suster Lee.” aku memanggil suster Lee yang sedang duduk bersebelahan dengan Lee ahjumma didepan.

“Mian atas kejadian tadi, kami tidak tahu.” suste Lee memasang muka bersalahnya.

“A-ani jangan salah paham suster Lee i-itu tadi hany-hanya..”

“Gwaenchanha. Kami akan tutup mulut.”

“Bukan begitu!”

“Yoonhee! Ambil jerigen ini sebelum kutendang dan isinya keluar semua.” teriak Ravi dari dalam.

“Tunggu sebentar cerewet.” balasku teriak.

“Dokter Jung. Aku akan pulang. Tolong titip ini, ini pesanan Tuan Kim.” Lee ahjumma memberikanku dua kotak makan dan juga satu keresek pakaian.

“Oh, baiklah.”

Aku perlahan beranjak. Sebelum itu, aku membalikkan badanku menatap suster Lee dan Lee ahjumma yang sedang menahan tawanya.

“Suster Lee!”suster Lee menatapku ragu-ragu.

“Shhh…” lanjutku sembari menempelkan jari telunjuk ke bibirku.

“Ne. Shhh…” suster Lee melakukan hal yang sama.

“Ini pesananmu yang diantarkan Lee ahjumma. Dia langsung pulang tadi.” aku mendekati Ravi yang tengah asik dengan laptopnya.

“Ohh.. didalam ada baju beserta dengan dalamannya. Ambil lah. Itu milikmu.” ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop.

“Milikku? Kapan aku minta?”

“Ambil saja. Anggap saja hadiah dariku karena sudah merawatku selama ini. Sekarang kau mandi.”

Aku membawa keresek baju itu masuk. Ada celana jeans dan juga sepotong kaos hitam yang cukup bermerek, dan mahal pastinya. Ditambah ini.

“Pakaian dalam?” tanyaku dalam hati.

Aku mengeluarkan satu pasang pakaian dalam berwarna hitam yang berkilap.

“Bagaiman apa dalamannya sempit?” tanya Ravi sesudah aku mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang Ravi berikan tadi.

“Tidak. Kau tahu ukurannya dari siapa?”

“Aku hanya menebak-nebak saja. Kalau tidak seukuran dengan Hwayeon ya lebih kecil.”

“Tapi kenapa pakaian dalamnya harus berkelip.”

“Uhuk..uhukk..” Ravi langsung tersedak mendengar perkataanku tadi.

“Itu aku…” belum selesai Ravi bicara, seseorang membuka pintu kamar ini. Ternyata itu suster Lee.

“Dokter Jung! Ada kecelakaan beruntun yang cukup parah. Semua korban yang jumlahnya 11 orang mengalami luka berat. Bahkan salah satu diantaranya mengalami luka yang cukup serius dekat jantung.” jelas suster Lee gelisah.

“Segera hubungi dokter spesialis jantung.”

“Sudah kami lakukan. Dia ada diperjalannan sekarang.”

“Huft… baiklah.”

Aku mengambil jas dokterku, lalu berlari keluar.

“Semoga beruntung pabbo!” teriak Ravi.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari sepanjang koridor. Akhirnya sampai juga diruang operasi. Setelah melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa aku lakukan sebelum operasi, aku menghampiri pasien itu.

Beruntungnya dia, kaca yang menembus dadanya tidak lebih kekiri. Jika itu terjadi, dia pasti sudah mati seketika.

“Maaf terlambat.” ucap dokter yang baru masuk.

“Ternyata kau oppa.”

“Yoonhee-ya. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

“Senang juga bisa bekerja sama denganmu oppa.”

Selama 3 jam lebih kami melakukan operasi itu. Aku, dokter ahli bedah dibantu oleh Hyunwoo, dokter ahli jantung dan juga beberapa dokter junior.

Tidak sampai disitu. Masih ingat? Masih ada 10 lagi orang yang harus kuoperasi.

“Huft..” aku mendudukan diriku dibangku depan kamar operasi.

Drtt drtt

“Eonni pabbo! Kenapa sulit sekali untuk menghubungimu sih?”

“Mianhae. Tadi ada banyak operasi.”

“Kau tahu kan kita pulang dari Jeju besok siang?”

“Memangnya kenapa?”

“Bisa jemput kami dibandara jam 1 siang?”

“Kalau tidak ada operasi.”

“Andwe! Kosongkan jadwalmu besok jam 1.”

“Ne, arraseo.”

“Jangan lupa!”

“Ne.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Aku menyimpan HPku kembali kekantong celana.

“Yoonhee.” panggil orang disampingku.

“Omo, oppa! Sejak kapan duduk disini?”

“Maaf atas kejadian kemarin.” Hyunwoo menyederkan badannya ke bagku.

“Kemarin?”

“Membentakmu, memarahimu, terlalu posesif, dan terlalu mengekangmu. Aku baru ingat, kau adalah tipe orang yang paling benci itu semua.” jelasnya sembari menatapku.

“Gwaenchanha. Justru aku yang ingin minta maaf. Sangat tidak sopan. Berteriak, membentakmu. Emosiku sedang tidak baik kemarin.” jelasku juga.

“Mari sepakati ini. Lupakan masalah itu.”

“Oke. Kita lakukan semuanya seperti biasa, seperti tidak perah terjadi apa-apa.”
“Baiklah. Apa kau mau makan. Ini sudah jam 7, dan kita belum makan dari siang. Ani, bahkan pagi mungkin.”

“Menawarkan Yoonhee makan? Yakin akan aku tolak?”

“Akh, Yoonhee yang sekarang masih suka makan juga ya.”

Kami memutuskan untuk makan bersama di kantin rumah sakit.

“Bagaimana pasienmu, si Ravi itu.” tanya Hyunwoo ditengah-tengah makan.

“Baik. Tumben bertanya.”

“Hanya bertanya. Habis ini kita masih ada operasi kan?”

“Lagi?”

“Ada pasein yang dikirim dari rumah sakit lain. Apa tidak ada yang memberitahumu?”

“Hah.. tidak ada yang memberitahuku, padahal aku yang melakukan operasi.”

“Haha..” Hyunwoo mengusap kepalaku.

“..cepat habiskan. Operasi itu mulai 10 menit lagi.”

“Arraseo oppa.” aku tersenyum padanya. Akhirnya senyuman itu keluar lagi.

Sehabis makan, kami langsung kembali ke ruang operasi.

“Kau tadi keren sekali oppa, dapat menunjukan dengan jelas apa pe..” belum selesai aku bicara, Hyunwoo sudah menarik tanganku ke sisi pojok belakang.

Brak

Hyunwoo menempatkan kedua lengannya diantaraku.

“Oppa..” tanyaku mulai takut.

Hyunwoo hanya diam menatapku. Perlahan wajahnya didekatkan kewajahku.

“Oppa! Kau mau apa?” tanyaku dengan nada yang lebih keras.

“Sebentar saja. Aku ingin sekali menciummu.” suaranya mendadak parau. Astaga, dia sangat…seksi?

“Ini tempat umum oppa. Lagipula, kau ini kenapa?” kudorong dada bidang Hyunwoo agar pergi dan menghentikan aksinya ini.

“Sekali saja.”

Hyunwoo menarik daguku, dan menempelkan dahinya kedahiku.

“Oppa jebal!”

“Sekali, hanya sekali.” paksanya.

“Op..”

Cup

Ciuman ini bahkan lebih ganas dari 10 tahun lalu, lebih romantis daripada kemarin, bahkan lebih panas dari musim panas di Korea.

“Opp-oppa.. hen-ti..kan!” pintaku disela-sela ciuman panas kami itu.

Hyunwoo memindahkan tanganku keatas bahunya. Dia ingin agar aku melingkarkan tangannya di leher Hyunwoo. Tubuh Hyunwoo mulai mendesakku, dia perlahan maju dan meletakkan tangannya dipinggulku.

“Op..”

Rintihanku harus terhenti kembali. Hyunwoo mengigit bibir bawahku. Otomatis aku langsung membuka mulutku. Belum sempat aku menutupnya kembali Hyunwoo sudah memasukkan lidahnya kedalam mulutku. Tak pernah Hyunwoo menciumku seperti ini. Serasa dia sedang meluapkan segala rindu dan emosinya padaku.

Panas ditubuhku mulai meningkat. Aura yang dia pancarkan tak pernah membuatku bosan. Kupejamkan mataku dan mencoba untuk menikmati ciuman yang membabi buta ini dan coba mengikuti alurnya.

“Yoonhee!” kudengar suara lain memanggilku.

Cepat-cepat kudorong Hyunwoo dan kulepaskan ciumannya itu.

“Ravi oppa. Ini bukan seperti, tunggu.. siapa yang membolehkanmu untuk berjalan-jalan?”

Ravi berjalan mendekat. Dadanya mulai naik turun.

Buk

“Oppa!”

Aku mendorong Ravi yang baru saja menonjok Hyunwoo sampai hidungnya berdarah.

“Apa kau gila?!” bentakku.

“Kau yang gila Yoonhee! Sedang apa tadi?! Menjual diri? Murahan!”

Plak

“Jaga bicaramu. Memangnya tidak boleh berbuat seperti itu kepada orang yang kita cintai? Ini hidupku, harga diriku. Urus saja milikmu sendiri. Jangan ikut campur.” aku menampar Ravi dan mencoba memperingatkannya.

Ravi menatapku dalam.

“Aku hanya ingin memberitahumu. Dia itu bukan namja baik-baik, dia..”

Plak

“Sekali lagi bicara yang bukan-bukan, aku akan menamparmu lagi. Kjja oppa.” aku menarik Hyunwoo ke ruanganku. Meninggalkan Ravi yang tengah tertunduk disana.

“Aw, apa ada yang patah?” tanya Hyunwoo sembari sedikit mendongak.

Kami sedang duduk berhadapan di sofa ruanganku. Di pangkuanku ada sekotak obat dan juga beberapa kapas yang penuh dengan darh dari hidung Hyunwoo.

Aku melihat, apa yang terjadi pada hidung Hyunwoo yang terus mengalirkan darah.

Kumiringkan kepalaku dan sedikit menunduk.

“Tidak ada. Sudah kubilang, jangan coba-coba menciumku. Jadinya begini kan.”

“Biarlah, yang jelas aku bahagia atas ciuman yang tadi.”

“Bahagia? Kau sangat nafsu oppa.”

“Tapi kau menikmatinya bukan?”

Aku tersenyum miring.

“Sudahlah.” aku mengganti kapas dari hidung Hyunwoo. Darahnya sudah mulai berhenti sekarang.

“Sekali lagi?” tanya Hyunwoo sembari mengangkat alisnya.

Puk

Aku menepuk dahinya pelan.

“Sudah begini, masih berani mencium ku lagi?”

“Siapa takut.”

Hyunwoo memindahkan kotak obat itu kesamping tubuhku.

Dia mulai menaiki tubuhku, lalu dia menimpaku.

Cup

Benar katanya. Dia berani menciumku lagi.

Hyunwoo kembali melakukan aksinya yang sempat terhenti.

“Kalian benar-benar pasangan mesum.” Ravi tengah berdiri didepan pintu sembari mengamati kami berdua.

“Op..” aku memukul dada Hyunwoo yang tidak mau melepaskan ciuman itu.

“Terus saja lanjutkan kegiatan “mulia” kalian itu. Sama-sama yadong memang serasi.”

“Oppa, tunggu!” akhirnya aku berhasil lepas dari ciuman Hyunwoo.

Kukejar Ravi yang tengah berjalan menuju kamarnya.

“Oppa, tunggu!” panggilku keras.

Ravi langsung berhenti, lalu membalikkan tubuhnya kearahku.

“Aku tidak menyangka kalau kau seperti ini.”

“Oppa, kenapa kau marah?”

“Apa tidak boleh? Apa aku harus diam saja? Melihat kau bersama namja lain membuatku.. akh lupakan. Aku sudah muak padamu Yoonhee. Tadinya aku menyusul untuk minta maaf, tapi ternyata, kau lebih cabul daripada yang kukira.”

“Oppa,aku bisa jelaskan.”

“Jangan-bicara-lagi-padaku. Aku muak melihat wajahmu Yoonhee. Sekarang pergi.”

Ravi segera masuk kekamarnya, lalu mengunci pintu itu.

“Oppa, dengarkan dulu.” pintaku sembari mengebrak-gebrak pintu dari luar.

“Baik, kau boleh marah padaku. Kau boleh menganggapku wanita murahan atau apapun itu, tapi kau tidak boleh mendiamkan aku. setidaknya dengar penjelasanku dulu oppa!”

Tidak ada respon dari dalm. Selama apapun aku menunggu, Ravi benar-benar tidak mendengarku.

“Oppa!” panggilku sekali lagi.

Aku mersakan sesuatu keluar dari diriku. Air mata tanpa sebab itu keluar lagi. Aku menyekanya, namun air mata itu tidak berhenti mengalir. Kali ini untuk apa air mata itu? Apa karena aku malu? Apa karena aku…

“Oppa! Buka lah, kumohon.” teriakku lagi.

Aku mencoba mengebrak pintu itu lagi. Tapi jawabanya tetap sama. Diam membisu.

Aku menyandarkan diriku kepintu. Air mata tanpa sebab ini masih keluar.

Aku kaui aku memang salah. Tapi apa urusannya dengan Ravi? Kenapa bisa-bisanya dia marah sampai begitu?

“Kumohon oppa, biarkan aku masuk, dan maafkanlah aku.” bisikku penuh dengan isakkan.

“Oppa!” aku berteriak kencang.

Hari sudah pagi. Kurasakan diriku ada diatas sofa. Aku ada didalam ruangan?

“Sudah bangun?” taya seseorang yang baru saja masuk.

“Oppa?”

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s