Find My Love #100DaysOurBlog (HwaYeon side) – Part 4

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:
Annyeong, ketemu lagi deh sama author. Jangan bosen ya. Hehehe. Ini dia, author kasi part 4 nya. Bagian ini agak berbeda sama yang lain soalnya disini author padu dengan sedikit mystery.
Hmmm, sebenernya author udah males banget nih bikin ff. Gatau kenapa, ga semangat aja. Jadi author bikin ini seadanya, jadi maaf kalo critanya kurang memuaskan. Mohon maklum.
Maaf juga kalo misalnya di tengah-tengah nemu banyak typo.
Maaf juga kalau misalnya ada kesamaan cerita, itu tidak sengaja pasti.
Happy reading guys, jangan lupa comment ya. Annyeong ^^

 

-o0o-

 

“MWOYA!!! Apa-apaan tempat ini?!” aku memandang sekelilingku dengan ngeri. Semuanya, semua yang berada disini, benar benar sangat tidak…pantas! Ya ampun! Demi apapun, bagaimana mungkin ada tempat seperti ini?!

“Wae? Tempat ini indah. Orang-orang yang ke Jeju, apalagi yang ingin berbulan madu pasti ingin ke tempat ini. Makanya aku bawa kau kesini. Harusnya kau suka.” Aku mengernyit ngeri saat mataku mendapat penglihatan yang menurutku sangat menjijikan.

“Indah dari bagian mana? Ya, kalau bagi mereka yang sedang berbulan madu sih boleh boleh saja! Tapi kita?! Untuk apa kita kesini dan melihat semua ini?! Ini menggelikan!”

“Oh ayolah, ini indah. Coba lihat di sekelilingmu. Ini itu sumber pengetahuan. Kau bisa tau banyak posisi dari sini. Lihat.”

“Tidak tidak tidak! Aku tidak berminat, tidak tertarik! Lebih baik kita pulang. Jebal.”

“Iiish, tapi kita baru sampai. Tempat ini juga sangat indah.”

“Oh ayolah, disini sangat menggelikan!” Aku kembali memandang ngeri sekelilingku dan mengacak-acak rambutku frustasi. Tempat ini membuatku merinding!

“Hei, lihatlah itu!”

“Apa?” aku menengok dan mengikuti arah telunjuk Kyuhyun. Apa-apaan…..

“YAK! MWOYA!!! KENAPA ADA PATUNG BERBENTUK SEPERTI ITU?!!??!?!?!?” teriakku histeris.

“AHAHAHAHAHAHAHA LIHATLAH. ITU SANGAT BESAR. HAHAHAHA. BERURAT! HAHAHAHA”

“SIALAN KAU CHO KYUHYUN! AKU MEMBENCIMU! DASAR PERVERT!”

“AHAHAHAHA KIM HWA YEON PABBO!”

Kesal melihatnya tertawa, aku memandangnya marah. Tapi bukannya berhenti tertawa, dia malah memperkencang suara tawanya, membuat kami sukses jadi pusat perhatian. Hah, namja ini cari mati rupanya.

Tak!

Hah! Berhenti tertawa juga dia. Aku memandang wajahnya yang merah padam dengan polos. Sekuat tenaga aku mencoba menahan senyumku.

“K I M H W A Y E O N ?”

“ne?” jawabku manis.

*hah* APA YANG KAU LAKUKAN PADA KYUHYUN JUNIOR? Aaaaaah, sakit sekali bodoh!”

“Ahahahahaha memangnya apa yang aku lakukan?” tanyaku sambil mengulum senyum. Kyuhyun mendelik marah dengan wajah merah padam, dan aku sudah tidak dapat lagi menahan tawaku.

“Ahahahahaah, rasakan! Hahahaha.” Aku otomatis berlari saat ia hampir merengkuhku. Akhirnya kami bermain kejar-kejaran di taman itu tanpa menghiraukan orang-orang yang memandang kami bingung. Aku benar-benar puas sekarang.

“Kemarin kau gadis nakal!”

“Ahjussi kenapa? Apa sakit?” ujarku menggoda.

“YAK!”

“Aahahahaha pabbo!” Aku tetap tertawa dalam pelukannya saat ia sudah berhasil menangkapku. Saat ini posisinya sedang memelukku dari belakang. Dan ia kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku.

“Gadis nakal. Tadi itu sakit sekali bodoh. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Kan kau juga yang rugi.” Aku terkekeh saat ia menggigit-menggigit kecil leherku.

“Kenapa aku yang rugi?”

“Itukan akan jadi milikmu nanti.”

“Yaaa~!”

“Ehehehe arraseo arraseo. Lagipula memang benar kan? Ini akan menjadi milikmu cepat atau lambat.” Aku tidak menjawab karena pikiranku sudah terbang entah kemana. Aku mengerang saat ia mengulum telingaku. Well, itu bagian yang sangat sensitive.

“Berhenti menggangguku!” ujarku pelan sambil menggerakan tuubuhku, berusaha melepaskan diri dari rengkuhannya.

“Sshhh…berhentilah bergerak seperti itu sebelum sesuatu terbangun dari tidurnya.” Aku menelan salivaku gugup saat ia berbisik di telingaku dengan suara parau sambil mengulumnya sesekali.

“B-berhentii.” Keluhku pelan. Tidak berani bergerak, setelah mendengar ancamannya barusan.

“Kenapa aku harus berhenti? Tidakkah kau menikmatinya?” Aku menggeleng lemas saat bibirnya tiba-tiba sudah berada di tengkukku.

“T-tidak! Kita tidak seharusnya melakukan ini. Jebal.”

“Oke. Aku akan bersabar.” Desahnya tak rela. Akhirnya ia melepaskan pelukannya.

“Kalau begitu, kita pergi saja dari sini. Tempat ini membuatku ingin segera menyantapmu. Kajja.” Ah ya ampun. Apa mungkin dia kecewa? Karena aku menolak? Ah, tidak mungkin. Kenapa dia harus marah. Wajar saja kalau aku menolak kan? Huh, sungguh membingungkan.

Aku bersiap untuk mengikutinya, tapi mataku malah tertuju pada siluet seorang yeoja yang ada di balik sebuah patung. Aku menatapnya bingung. Kenapa dia menatapku?

Yeoja it uterus berpandangan denganku. Sampai akhirnya, yeoja itu menggerakkan bibirnya, sepertinya memberitahuku sesuatu

Mati

Aku tersentak saat aku mengetahui maksud ucapannya. Aku menahan nafasku saat ia menyeringai dan langsung pergi dari tempat asalnya.

Sialan, siapa yeoja itu?

 

-o0o-

 

Aku duduk diam di mobil tanpa berani bersuara. Sialan, benar-benar sialan. Siapa yeoja tadi? Sialan sialan sialan. Apa yang diinginkan yeoja tadi? Apa dia seorang psikopat? Buronan?

Shit!

Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku melaporkannya? Tapi aku tidak punya bukti apapun. Sialan.

Apa mungkin dia mantan kekasih Kyuhyun?

Oh astaga, itu bahkan lebih sial lagi.

Haruskah aku bertanya padanya?

“Kyu.” Panggilku pelan. Dia menengok padaku, ah ya ampun. Haruskah aku bertanya? Konyol sekali pertanyaanku!

Sialan!

“Ne?”

“Aku ingin bertanya.”

“Eoh? Tentang apa.” Aku mengulum bibirku ragu. Ini konyol!

“Kau… emm, apa kau memiliki mantan kekasih?” sialan sialan sialan. Aku terlihat seperti wanita pencemburu.

Sialan!

“Apa?”

“Yaaa, apa kau memiliki mantan kekasih?” ulangku ragu. Oh tidak, apa aku membuatnya marah? Kenapa dia memandangku seperti itu? Apa aku salah bertanya?

“Tidak. Aku tidak memiliki seorang mantan kekasih.” Jawabnya sambil mengerutkan keningnya. Hei, kenapa dia malah terdengar ragu. Haruskah aku mempercayai jawabannya?

“Benarkah?” tanyaku memastikan.

“Ya, aku tidak punya seorang mantan kekasih. Aku belum pernah berpacaran sebelumnya.” Aku memandangnya ragu. Apa dia mengatakan yang sebenarnya? Kenapa aku merasa tidak yakin? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan?

“Baiklah, aku percaya padamu.” Aku semakin yakin kalau ada sesuatu yang dia sembunyikan saat aku mendengarnya menghela nafas lega. Oh benar-benar sial. Setelah aku mengetahui kalau ada seorang psikopat yang menguntit kami, sekarang aku tau kalau Kyuhyun menyembunyikan sesuatu tentang masa lalunya.

Oh tidak

Moodku langsung hilang. Aaaaarrrgh, aku hanya ingin pulang sekarang!

“Sebenarnya kita akan pergi kemana? Jangan membawaku ke tempat-tempat aneh seperti tadi! Itu menjijikan!” ujarku kesal.

“Oke oke, kau tidak perlu semarah itu. Lagipula, tempat tadi itu bagus. Cocok untuk pasangan-pasangan muda maupun tua yang sedang terjerat cinta. Nama tempatnya saja Loveland, Love Island. Isinya berkaitan dengan cara menunjukkan cinta. Betulkan? Ada museumnya loh, kau mau kesana?”

“Menunjukkan cinta apanya. Itu sih cara melampiaskan nafsu, bukan menunjukkan cinta.” Gerutuku kesal. Aku mendengarnya terkekeh disampingku, dan itu semakin membuat kadar kekesalanku semakin meningkat.

“Well, memang seperti itu. Temanya saja sex. Yah, kau sudah lihat sendiri tadi. Hehehe, reaksimu tadi lebih bagus dari prediksiku. Good girl. Hahaha.”

“Cih, dasar mesum.” Desisku kesal.

“Hei, tenanglah sedikit. Kenapa kau marah-marah terus? Nanti cepat tua loh.” Aku mendelik marah dan dia langsung meringis. Hah!

“Aku ingin mengajakmu ke museum teddy bear. Apa kau suka boneka?”

“Apa kau bilang teddy bear?” tanyaku tak percaya.

“Ya, apa kau tidak suka?”

“Uaaaaaaghhh!!!! Aku mau aku mau. Apa bagus? Huaaaa, pasti lucu sekali! Aku suka teddy bear, yah walaupun aku lebih sua hello kitty sih. Tapi aku suka teddy bear. Kau tidak bercanda kan?”

“Tentu tidak. Kita sedang dalam perjalanan kesana saat ini.”

“Hiiiah! Gomawo, ternyata kau tidak semenyebalkan yang kukira.”

“Jadi selama ini kau menganggapku menyebalkan?” tanyanya dengan alis bertaut. Kenapa dia terkejut? dia kan memang menyebalkan.

“Ya, kau kan memang menyebalkan. Kenapa harus terkejut seperti itu?”

“Kau, Cuma kau yang berani mengataiku seperti itu. Kau memang tidak seperti yeoja kebanyakan. Kau sangat blak-blakkan.”

“Well, kau adalah orang ke seratus sembilan puluh empat yang bilang seperti itu padaku.” Ujarku tenang.

“Kau menghitungnya?” tanyanya bingung. Aku mengangkat bahuku acuh. Aku memang menghitungnya sejak aku berumur 10 tahun.

“Ya, aku memang menghitungnya.” Jawabku santai. Itu memang kerjaanku, habis aku penasaran, berapa banyak orang yang akan mengatakan hal itu padaku dan sejauh ini, hanya ada seratus sempilan puluh empat orang yang mengatakannya secara langsung padaku.

“Kau manis.”

“Hmmm, kau orang ke tiga ratus tujuh puluh delapan yang mengatakannya padaku.”

“Akan kupastikan, aku yang tersering mengatakannya.” Aku menengok, menatapnya yang tengah menatapku dengan seksama.

“Perhatikan jalananmu bodoh.” Aku tanpa sadar membentaknya saat aku sadar bahwa ia mengabaikan jalanan di depannya. Sialan, kalau kita kecelakaan bagaimana? Namja ini benar-benar cari mati.

“Baik baiklah tuan puteri. Jja, bersiaplah. Kita akan segera sampai sebentar lagi.”

Aku mengangguk antusias dan kembali duduk tenang di tempatku. Jalanan disini sangat lenggang. Udaranya pun sejuk. Aku benar-benar menikmati suasana di pulau ini. Aku menyukai segala sesuatu tentang pulau ini, kecuali bagian psikopat dan rahasia yang kyuhyun simpan.

Aku ingin kembali kemari suatu saat nanti bersama suamiku. Hah, apa bisa ya?

Omong-omong tentang suami. Umurku sekaraang sudah 23 tahun, kurasa sudah waktunya aku mencari pendamping hidup bukan? Tapi sayangnya sampai sekarang aku belum menemukan seseorang yang menurutku tepat.

Aku bahkan belum pernah berpacaran. Yah, memang sih banyak lelaki yang berharap aku menerima cinta mereka, tapi aku tidak bisa. Entahlah, seperti ada dorongan dari dalam diriku agar aku menunggu seseorang.

Tapi sekarang, semenjak aku bertemu Kyuhyun. Aku merasa ini bersama namja ini. Aku merasa sangat…berbeda. Aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan bersama namja lain saat aku bersamanya. Aku merasa lengkap. Aku merasa bahagia.

Sebenarnya perasaan apa yang saat ini tengah melingkupiku? Aku bingung dan aku bingung harus bertanya pada siapa. Mungkin aku harus menemlpon Ravi oppa nanti malam. Aku yakin Ravi oppa bisa membantuku.

Aku juga ingin bercerita tentang yeoja yang tadi. Apa aku harus menceritakannya pada Kyuhyun? Ah, tidak tidak. Bisa-bisa dia mengira aku mengkhayal. Haruskah aku bercerita pada Ravi oppa? Yayaya, mungkin aku harus bercerita padanya untuk meminta saran.

Hah, aku penasaran. Bagaimana ya reaksi Ravi oppa jika kukatakan tentang yeoja tadi. Apa dia akan histeris, biasa saja, atau malah tidak percaya pada ceritaku?

Haruskah aku menghubunginya sekarang? Atau nanti malam saja ya seperti rencana awal?

“Yak! Berhenti melamun seperti itu. Kita sudah sampai. Ayo.” Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara merdu Kyuhyun menusuk gendang telingaku.

“E-eoh.” Aku melepas seat beltku dan beralih keluar dari mobil.

Waw, ini dia. Teddy bear museum. Hal pertama yang langsung terjerat pandanganku adalah sebuah patung berbentuk apa ya? Buku sepertinya, dengan tulisan TEDDY BEAR MUSEUM. Aku bisa melihat dari sini kalau patung itu dipakai banyak wisatawan untuk berfoto. Lihat saja, saat ini saja sudah ada sekitar 5 orang yang sedang mengantri untuk berfoto disana. Aigo.

Aku berjalan beriringan dengan Kyuhyun sambil memandangi pemandangan di sekitar museum ini. Di samping kiri gedung itu, ada sebuah dinding berwarna hitam yang lagi lagi bertuliskan TEDDY BEAR MUSEUM dilengkapi dengan beberapa gambar yang aku tidak tau apa namanya. Hm, gambar itu diletakkan berderet dan tentu saja gambarnya ada teddy bear. Bagaimana menggambarkannya ya? Hmm, gambar itu diletakkan di dinding seperti jadwal film bioskop. Ya benar benar, seperti jadwal film bioskop.

Sedangkan gedungnya sendiri, bentuknya seperti topi. Bagian dasarnya berbentu bulat, sedangkan bagian tengahnya meruncing keatas. Dan jangan lupa, sepenuhnya terbuat dari besi dan kaca. Hmmm, menarik. Siapa ya arsiteknya. Mungkin aku harus menyewa jasanya untuk project perusahaan lain kali. Hahaha.

Kami mulai melangkah masuk ke dalam gedung. Aku melihat disana terdapat dua buah pilar yang di atasnya tertulis TESEUM ART GALERY. Hmm, Teseum? Teddy bear museum? Hahaha, unik sekali. Ah, di depan pilar tersebut pun ada boneka teddy bear yang cukup besar dalam keadaan berdiri dan seperti tengah tertawa. Yang di sekelah kiri itu namja, sedangkan yang dikanan itu yeoja. Ya mapun, kenapa lucu sekali?

Aku terus berkeliling keliling museum ini tanpa bisa berhenti berdecak kagum. Demi apapun, ini indah sekali. Dan lihat! Itu ada boneka teddy bear berbentu seperti Marilyn Monroe. Boneka itu memakai wig pirang dan mengenakan gaun putih khas Marilyn Monroe. Ahahaha, benar-benar menggelikan.

Ah, aku juga tadi melihat teddy bear yang sedang bergaya gangnam style. Boneka itu memakai baju seperti yang di pakai oleh Park Jae-sang atau yang lebih dikenal dengan sebutan PSY. Jangan lupa, disamping boneka itu, terdapat sebuah iklan yang bertuliskan TEDDYBEAR STYLE. Hhiihihi, museum ini benar-benar tidak mengecewakanku.
Jujur saja, aku benar benar kagum dengan museum ini. Arsitekturnya indah, isinya pun tak kalah indah. Dan yang lebih utama, semuanya benar-benar murni teddy bear. Teddy bear itu pun bergaya seperti kehidupan sehari-hari, ada yang menggambarkan zaman perang, pertemanan, kekeluargaan, bahkan cinta. Ada juga yag menyerupai bintang-bintang terkenal entah itu bintang dalam negeri ataupun luar negeri.

Hmmm, aku bingung. Kenapa dari tadi Kyuhyun tidak bersuara ya? Aku mengintipnya dari sudut mataku, dan aku hanya mendapatinya sedang menatap boneka teddy bear yang terlihat seperti tengah melangsungkan pernikahan.
Teddy bear yang namja menggunakan setelan jas hitam, sedangkan yang yeoja mengenakan gaun pengantin berwarna putih.

Kenapa dia memandangi boneka itu? Apa dia menyukainya?

“Ayo, kita sudah terlalu lama berada disini. Lebih baik kita pulang.” Eeeh? Kenapa tiba-tiba? Aku masih belum puas.

“Cepat sekali? Aku masih ingin berada disini.” Ucapku memelas. Aku menghentakkan kakiku kesal saat melihatnya menggeleng tegas.

“Aaaah, tapi aku masih ingin disini, kau pulang saja sendiri kalau begitu. Aku akan pulang ke hotel sendiri menggunakan taxi.”

“Tidak bisa, kau pergi bersamaku, berarti kau juga harus pulang bersamaku. Ayolah, kita sudah berada disini lebih dari 3 jam. Kalau kau belum puas, kita besi beli beberapa boneka di toko yang ada di ujung sana.”

“Iiish, tapi aku masih ingin melihat-lihat.”

“Tidak, kita pulang sekarang. Ayo, kita beli beberapa boneka untukmu.” Iiish, kenapa dia memaksa sekali sih? Aku kan masih ingin berada disini. Aaaah, aku masih betah berada disini. Kyuhyun pabbo. Dia menyebalkan. Sebal sebal sebal.

Aku merengut kesal saat ia menarikku paksa menuju ke toko souvenir yang ada di sudut sana. Huh, yasudahlah. Masih untung namja menyebalkan ini mau membelikan beberapa boneka untukku. Kali ini dia kumaafkan.
Aku diam saja dari tadi, Kyuhyunlah yang sibuk memilihkan banyak boneka untukku. Wow, berapa banyak yang dia beli sebenarnya? Pasti mahal, haruskah aku yang membayarnya sendiri? Dia mengambil bonekanya kelewatan sih! Banyak sekali!

“Biar aku saja yang bayar.” Aku merogoh tasku, mencari dompetku dan mengeluarkan sebuah kartu kreditku. Well, kartu kredit Ravi oppa sebenarnya, karena tagihannya akan masuk ke Ravi oppa. Hehehe.

“Apa-apaan?” aku memandangnya dengan kening berkerut saat ia malah memandangku dan kartu kredit yang kusodorkan dengan tatapan menyalang. Apa yang kulakukan memangnya?

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti. Dia menunjuk kartu kredit yang kusodorkan dengan penuh emosi.

“Ini, apa maksudmu?” Aku semakin mengerutkan keningku bingung saat ia menggertakan giginya dan mengatupkan rahangnya. Hei, sebenarnya apa yang salah dengan lelaki ini?

“Ini? Tentu saja untuk membayar belanjaan itu.”

“Kau gila? Apa kau pikir aku akan membiarkanmu membayarnya?” Hei! Tidak perlu berteriak juga! Sebenarnya apa yang salah dengannya? Kenapa emosian sekali? Aih, namja gila.

“Lalu siapa yang membayarnya kalau bukan aku? Kau?”

“Ya, tentu saja aku. Siapa lagi? Dengar ya, disaat kau bersamaku. Kau tidak boleh mengeluarkan uangmu sepeserpun. Biar aku yang mengurus segala keperluanmu.”

“Kenapa harus seperti itu? Aku juga punya uang! Aku bisa membayar keperluanku sendiri!”

“Tidak, sudah kubilang, saat bersamaku, kau tidak boleh mengeluarkan uangmu sepeserpun. Ingat, aku tidak suka dibantah.”

“Tapi kenapa?!” tanyaku frustasi. Namja ini benar-benar membuatku pusing. Selalu bersikap seenaknya. Oh ya ampun, bagaimana bisa ada orang sepertinya? Kenapa dia menyebalkan sekali, dan kenapa aku bisa menyukai namja ini? Aish, michindae.

“Karena kau milikku.” Aku mendengus saat lagi-lagi mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Sialan, dia benar-benar lelaki menyebalkan. Lagi-lagi dia mengklaim diriku sebagai miliknya. Memang siapa dia? Pacar saja bukan. Seenaknya sekali.

Drrttt Drrrtt

Aku merogoh saki celanaku untuk mengeluarkan ponselku yang baru saja bergetar. Nomor tidak dikenal? Aku membuka pesannya dan… oh sial!

 

Apa kau menikmati kebersamaanmu dengannya? Nikmatilah selagi bisa karena sebentar lagi aku akan mengirimmu ke neraka

 

Tanganku bergetar. Oh tidak, siapa yang mengirimiku sms kurang ajar seperti ini? Aku memandang sekelilingku dengan awas, mencoba mencari seseorang yang mungkin terlihat mencurigakan.

Pandanganku terhenti pada sosok yeoja yang sama seperti yeoja yang tadi berada di Loveland. Yeoja dengan hoodie hitam bertuliskan DIE dengan huruf besar berwarna putih. Sebenarnya siapa yeoja itu? Kenapa dia terasa begitu dendam denganku? Apa salahku padanya?

“Hei, ada apa denganmu?” aku tersentak saat mendengar suara Kyuhyun di depanku. Dengan gugup, kumasukkan ponselku kembali ke dalam saku celanaku dan menggeleng.

“T-tidak. Tidak ada apa-apa. Lebih baik kita pulang. Aku ingin pergi dari sini.” Ujarku pelan, aku takut. Yeoja itu, yeoja itu masih disana. Masih menatapku dengan tajam dengan seringaian menakutkan yang teretak jelas dibibirnya.

“Baiklah ayo.” Aku diam saat Kyuhyun menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari dalam museum. Kuberanikan diriku menengok ke tempat yeoja tadi berdiri, dan yeoja itu masih disana. Masih tetap diposisinya. Tapi yang berbeda sekarang adalah, dia sedang membuat gerakan menebas leher dengan tangannya sambil menggumamkan kata ‘DIE’ tanpa suara.

 

.

 

Aku menatap hamparan laut di depanku dengan kosong. Pikiranku kembali berkelana pada kejadian siang tadi. Siapa sebenarnya yeoja itu? Ada apa dengannya? Apa salahku padanya? Kenapa dia melakukan hal itu padaku?
Seluruh pertayaan itu terus bergulir di dalam kepalaku. Aku merasa takut dan tidak berdaya. Andai saja aku tau apa yang yeoja itu inginkan…

 

Puk!

 

“Aaakkh, appo.” Aku mengelus kepalaku yang tiba-tiba saja mendapat hadiah entah dari siapa. Aku menatap sebuah amplop kucel yang tadi jatuh bebas di atas kepalaku dengan bingung. Milik siapa ini?

Aku mengambilnya dengan ragu. Apa mungkin ini pesan dari yeoja yang sejak tadi siang menguntitku?

Berdasarkan pikiran itu, dengan cepat aku menengokkan kepalaku ke belakang, mencari sosok yeoja yang mungkin saja berada disini, memandangku dengan seringain jahat dari kejauhan. Tapi tidak, aku tidak bisa menemukan siapapun kecuali beberapa bule yang sedang bermesraan dan Kyuhyun yang terlihat sedang lari menghampiriku.

*Hah* *hah* *hah*. Kau, ini sudah *hah* malam, kenapa *hah* kau *hah* berada di luar ? *Hah* *Hah* Aku *Hah* mencarimu dari tadi *Hah* *Hah*” Aku menatapnya dengan alis bertaut, dia lari kesini? Niat sekali.

“Aku hanya bosan dikamar, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dipantai. Duduklah, kau sangat terlihat seperti habis melakukan marathon.” Candaku lembut. Dia akhirnya duduk disebelahku, lalu tiba-tiba saja tatapannya tertuju pada surat kucel yang tadi kupungut.

“Apa itu?” tanyanya bingung. Aku mengangkat bahuku.

“Aku juga tidak tau. Aku baru saja berniat membacanya.” Aku melihatnya memandangiku ragu, kemudian mengangguk. Aku mencoba menenangkan debar jantungku dan mulai membuka amplop surat itu. Didalam amplop itu terdapat secarik kertas yang terlipat, dan lembaran lembaran lain yang belum sempat ku ambil, dan anehnya, aku bisa mencium bau anyir darah dari sini.

Aku menghembuskan nafasku perlahan dan mulai mengumpulkan keberanianku. Aku membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya dalam diam.

 

Aku melihatmu. Aku selalu melihatmu dari kejauhan. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, aku akan menghancurkanmu. Aku akan membunuhmu secara perlahan, aku akan membuatmu merasakan kesengsaraan. Aku ingin melihatmu menderita. Bersabarlah, aku akan membawamu kedalam lubang neraka secepatnya. Kau, dan seluruh orang yang berada di sekelilingmu, akan segera mati!

 

Aku menjatuhkan kertas itu ke pasir. Tubuhku bergetar ketakutan. Sialan, siapa sebenarnya yeoja itu. Kenapa dia mengancamku, kenapa dia mengangguku. Sial sial sial. Apa yang akan dia lakukan pada orang-orang disekitarku.

Kau, dan seluruh orang yang berada di sekelilingmu, akan segera mati!

Bagai ada alarm yang berdengung di kepalaku. Dengan cepat aku mengambil amplop tadi, dan mengambil kertas-kertas lain yang berada disana.

Aku menatap kertas yang barusan kuambil dengan ngeri. Itu bukan kertas surat, tapi lembaran lembaran foto yang terciprat darah. Aku melihat seluruh fotonya. Semuanya ada disana. Foto semua orang yang kusayang berada di dalam sana.

Semuanya ada disana

YoonHee eonni, EunHye eonni, HyoJin eonni, Eomma, Appa, Ravi oppa, V oppa, Kang ahjussi, Lee ahjumma, Song ahjumma. Tapi tidak ada foto Kyuhyun disana. Tidak ada satupun foto Kyuhyun disana. Tapi disana, ada berbagai fotoku saat bermain di pantai kemarin, ada fotoku saat berenang di air terjun kemarin, ada foto Ravi oppa dan YoonHee eonni di RS, ad foto EunHye eonni dengan V oppa di pantai, ada foto HyoJin eonni dengan seorang namja di lobi hotel. Ya Tuhan!

Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia melakukan hal ini padaku?

Aku merasakan mataku memanas. Tanganku bergetar, menjatuhkan lembaran foto yang barusan kupegang. Bercak darah mengenai jari jari tanganku. Aku merasa takut. Ya ampun.

“Oh astaga, Hwayeon.” Aku bergetar dala pelukan Kyuhyun. Dia baru saja memelukku, menggumamkan berbagai kalimat penenang yang bahkan tidak bisa kuserap.

Dia ada disini.

Dia akan membunuhku.

Dia akan menyakiti orang yang kusayang.

Sial, tangisanku pecah. Aku terisak di dalam pelukannya, aku takut. Aku takut. Aku menenggelamkan wajahku di lehernya sambil memeluknya erat. Ya Tuhan, apa ini. Apa yang sedang terjadi sebenarnya, kenapa semuanya berubah menjadi semakin rumit?

Aku terus menangis di dalam pelukannya. Tubuhku bergetar hebat, dan yang Kyuhyun lakukan sedari tadi hanyalah balas memelukku dan mencoba menenangkanku.

“Shhhh, tenanglah. Aku ada disini. Aku akan melindungimu. Kumohon tenanglah, berhentilah menangis sayang. Berhentilah menangis.” Aku menggelengkan kepalaku di tengah tangisanku. Tenang? Bagaimana bisa aku tenang? Ya ampun, apa yang harus kulakukan.

“Sudah…Shhhh, aku akan melindungimu. Tenanglah kumohon.” Perlahan tangisanku mulai reda, yang tersisa hanyalah isakan kering yang sungguh menyiksa. Dadaku terasa terhimpit, aku tidak bisa bernafas dengan benar. Sialan, penyakit sialan, kumohon jangan sekarang.

Aku menepuk nepuk dadaku dengan panik.

Uuugh, aku tidak bisa bernafas.

“Ya! Ada apa denganmu! Ya!” Aku terus menepuk dadaku, sakit, sesak. Aku tidak bisa bernafas. Tidak tidak tidak. Kumohon jangan sekarang!

“Se-sakh…” aku terus menepuk dadaku panik. Sialan, aku merasa hampir sekarat. Kepalaku pening.

“Ummmmhh!!!” aku tersentak saat tiba-tiba Kyuhyun menciumku, eh tidak! Dia tidak menciumku, dia memberikanku nafas buatan. Ya ampun.

Aku memandangnya yang juga sama terengahnya dengan diriku dengan wajah merah padam.

“G-gomawo.” Aku melihatnya mengangguk sambil berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“Kita kembali kehotel ayo.” Aku menggeleng. Tidak, aku masih ingin disini. Aku ingin menghubungi Ravi oppa. Aku merindukannya. Aku juga ingin menghubungi eomma dan appa.

“Ani. Aku ingin disini sebentar lagi. Aku ingin menghubungi Ravi oppa, eomma, dan appa. Aku merindukan mereka.” Ujarku tercekat. Aku tiba-tiba teringat dengan surat tadi, ya Tuhan. Semoga saja yeoja itu tidak benar-benar melakukan sesuatu pada orang-orang yang kusayang.

“Kalau gitu, telfon lah mereka. Aku akan menemanimu di sini.” Aku mengangguk kemudian mencoba menghubungi Ravi oppa. Ravi oppa langsung mengangkatnya di dering kedua.

“Hei chagi. Kenapa kau baru menelfon sekarang?” Ah ya ampun, aku merasa ingin menangis. Aku merindukan Ravi oppa. Aku juga takut yeoja itu akan melakukan sesuatu yang buruk pada Ravi oppa.

“Hei, mianhae oppa. Aku baru sempat menghubungimu sekarang.” Ujarku pelan. Astaga, suaraku serak sekali. Jangan sampai Ravi oppa mencurigai sesuatu. Aku tidak ingin Ravi oppa banyak pikiran. Dia sedang sakit.

“Jinjja? Gwaenchana. Chagi, ada apa denganmu? Kau terdengar seperti habis menangis. Apa ada yang menyakitimu disana? Apa kau baik-baik saja?” aku menggeleng tanpa sadar dengan mata berkaca-kaca. Ah aku lupa, dia tidak akan bisa melihat anggukanku.

“Aniya oppa. Nan gwaencahana. Tidak ada yang menyakitiku.” Suaraku tercekat. Oh ya ampun, rasanya aku ingin mengadu padanya dan menangis. Hiks… oppa.

“Kau sama sekali tidak bisa membohongi oppa chagi. Katakan yang sebenarnya. Ada apa denganmu? Apa ada yang menyakitimu? Apa Kyuhyun menyakitimu.” Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Kyuhyun tidak menyakitiku, sebaliknya, dia selalu membuatku merasa aman oppa, sama sepertimu dan appa. Aku merasa dilindungi saat bersamanya. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, mencoba menahan isakan.

“Ani oppa. Tidak ada apa-apa. Kyuhyun juga tidak menyakitiku.” Aku mencengkram ponselku dengan erat, sedangkan tangan kiriku yang terbebas menepuk pelan dadaku. Dadaku mulai sesak. Peyakit sialan!

“Chagi……..”

“Hiks… Gwaenchana oppa! Aku sudah bilang aku tidak apa-apa! Aku hanya merindukanmu!” Aku tidak bisa menanhannya, pada akhirnya aku menangis. Uuugh, aku ingin memeluk Ravi oppa. Aku ingin pulang.
Ravi oppa tidak menjawab apapun. Dia terus diam sampai akhirnya tangisanku mereda. Uuugh, aku benar-benar ingin pulang sekarang.

“Oppa tau ada sesuatu yang salah denganmu. Tidak apa-apa kalau kau masih belum siap untuk bercerita pada oppa. Tapi kau bisa bercerita pada oppa kapan saja saat kau siap. Arraseo? Baik-baiklah sayang karena oppa sedang tidak bisa menjagamu saat ini. Arrachi?”

“Eum! Oppa…”

“Ne chagi?”

“Bogoshipho.”

“Nado chagi, nado bogoshiphoyo.”

“Sudah malam, oppa tidur ne? Cepat sembuh ne oppa. Saranghae~”

“Nado saranghae~”

Tut!

Grep!

Aku kembali menangis di pelukan Kyuhyun. Ya ampun, kenapa aku cengeng sekali. Aku bahkan belum menghubungi eomma dan appa.

“Sekarang hubungi kedua orangtuamu. Siapa tau perasaanmu bisa sedikit membaik.” Aku mengangguk saat ia melepas pelukannya. Ia merangkul bahuku dan tersenyum menenangkan padaku. Dengan perlahan, aku mencoba menghubungi nomor eomma. Eomma mengangkatnya dalam dering pertama.

“Omo chagiiii, kau belum tidur? Disana sudah malam bukan? Bogoshipo chagiya”

“Eommaaaa, nado bogoshipo. Aku belum tidur, aku merindukan eomma. Bagaimana kabar eomma dan appa sekarang?”

“Eomma dan appa baik-baik saja chagi. Apa kau berada di Jeju? Eomma menelpon oppa mu kemarin, dan dia bilang kau sedang berada di Jeju, menggantikannya untuk mewakili perusahaan kita saat launching SJ hotel ya?”

“Ne eomma. Aku sedang berada di Jeju.”

“Ah jinjja? Arraseo. Bagaimana kabarmu sayang? Baik-baik saja bukan?”

“Ne eomma. Aku baik baik saja. Eomma kapan pulaang, aku merindukan eomma dan appa.”

“Eomma dan appa akan pulang sebelum ulangtahunmu kok chagi. Mungkin Tahun baru, eomma sudah berada di Korea. Apa yang sedang kau lakukan sekarang chagi?”

“Aku sedang duduk di pinggir pantai eomma.”

“Apa? Sendiri?!”

“Aniya, aku ditemani seseorang.”

“Ah, eomma kirra… Baik-baiklah sayang. Jaga dirimu baik-baik. Ah, apa kau ingin berbicara dengan appamu? Dari tadi dia berisik minta mendengar suaramu chagi. Kasih tidak?”

“Ahaha, kasih saja eomma. Aku juga merindukan appa.” Aku tersenyum saat membayangkan appa tengah merecoki eomma yang saat ini sedang berbicara denganku. Haha, pasti lucu.

“Hei chagi. Appa merindukanmu sayang. Bagaimana keadaanmu?”

“Aku juga merindukan raccoon apa. Aku baik-baik saja appa.”

“ish, bocah nakal. Berhenti memanggil appa dengan panggilan itu. Ah, kata eomma mu kau sedang duduk di pinggir pantai bersama seseorang. Siapa?” Hmm, mulai lagi deh appaku yang protektif.

“Hanya seorang teman, appa.”

“Jinjja? Namja? Yeoja?”

“Namja.”

“Siapa namanya?” aku memutar mataku malas. Kenapa appa kepo sekali sih?

“Cho Kyuhyun. Namanya Cho Kyuhyun. Dia CEO Cho corp appa.”

“Cho Kyuhyun? Ah, appa tau orang tuanya. Gwaenchana. Ah, baik-baiklah kau disana. Eomma dan appa harus kembali bekerja.”

“Ne~”

“Tidurlah! Jangan membiasakan dirimu tidur malam-malam.” Aku tersenyum mendengar nada teguran dari suaranya. Ya ampun, aku merindukan mereka berdua.

“Arraseo appa. Aku akan segera kembali ke hotel dan tidur setelah ini. Jangan khawatir. Eomma dan appa selamat bekerja ne. Jangan melupakan aku dan Ravi oppa neeee.”

“Ne, appa dan eomma tidak mungkin melupakan kalian berdua sayang. Kalian itu permata berharaga milik eomma dan appa. Tidurlah sekarang, sampai salam appa untuk Kyuhyun. Selamat malam chagi. Mimpi indah.”

“Ne~ Annyeong appa. Saranghae.”

“Ne chagi, annyeong. Nado saranghae.”

Tut!

Aku menyandarkan kepalaku di bahu Kyuhyun oppa dan memejamkan mataku. Hah, perasaanku sudah sedikit membaik setelah menghubungi eomma dan appa tadi. Semoga mereka baik-baik saja. Aku merindukan mereka.

“Kau dapat salam dari appa, kyu.”

“Jinjja?”

“Ne.”

“Ah, arraseo. Lebih baik kita kembali ke hotel sekarang. Kajja. Ini sudah larut malam.” Aku menurut saat ia mengajakku berjalan santai menuju ke hotel. Kami berjalan dalam diam, tidak ada satupun dari kami yang bersuara.

Sampai akhirnya kami sampai di depan kamar kami masing-masing. Aku takut. Aku tidak ingin tidur sendiri. Kalau aku takut, biasanya aku akan meminta tidur ditemani Ravi oppa. Tapi sekarang Ravi oppa tidak ada.

“Kyu.” Ia menoleh sambil tersenyum kearahku. Haruskah aku memintanya?

“Aku takut, maukah kau menemaniku tidur? Malam ini saja.” Aku memandangnya penuh harap. Kulihat kyuhyun terdiam beberapa saat, mungkin memikirkan permintaan anehku. Tapi akhirnya ia mengangguk dan tersenyum padaku.

“Baiklah. Malam ini saja.” Aku mengangguk kemudian menarik tangannya masuk kedalam kamarku. Aku langsung merangkak naik keatas kasurku dan menepuk kasur disampingku.

“Kemarilah.” Ujarku lembut. Dia melepas sandalnya, dan ikut naik keatas kasur, merebahkan tubuhnya tepat disampingku, mengahadap kearahku. Aku dengan cepat beralih menghadapnya dan memeluknya, mengubur wajahku di dada bidangnya, kemudian menyamankan posisiku. Aku juga bisa merasakan dia melingkarkan tangannya di perutku.

“Jalja~” Ujarku lembut. Sebuah kecupan mendarat di puncah kepalaku, membuatku tersenyum.

“Jalja~” balasnya tak kalah lembut, dan akhirnya aku terlelap… Biarlah masalahku diselesaikan nanti, yang kuinginkan saat ini hanyalah tidur. Berharap besok… semuanya akan kembali berjalan lancar.

 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s