Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 4)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela. Aku melakukan peregangan, lalu bangkit dari tidurku. Kutatap Hyunwoo dikamar sebelah yang masih tertidur. Jam berapa sekarang? Oh.. jam 5.

Hari ini merupakan hari bebas. Aku bisa kemana saja sesukaku. Oke, aku putuskan untuk mandi, lalu berjalan-jalan keluar semebari cari kudapan dan juga beberapa oleh-oleh.

Aku berjalan perlahan, aku tidak mau membangunkan Hyunwoo yang sepertinya tidak tahu kalau aku sudah bangun.

Pemandangan yang indah. Awal musim semi kali ini banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya sejak pagi.

Perhatianku teralihkan pada sebuah benda.

Tapi bagaimana ini, aku ada di negara orang.. akh, baru ingat. Aku bisa bahasa Jepang, hehe.

“Apa ini?” tanyaku dalam bahasa Jepang.

“Sa-ru-bo-bo.” eja sang pedagang.

“Sarubobo?” Aku mengambil boneka sarubobo yang warnanya menarik perhatianku.

“Sarubobo warna pink untuk keberuntungan dalam hal cinta.”

“Cinta?”

Pedagang itu mengeluarkan sarubobo yang lainnya.

“Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja, sarubobo hijau untuk kesehatan, sarubobo kuning untuk keberuntungan dalam hal kekayaan, serta sarubobo hitam untuk menghilangkan kesialan.” jelasnya.

Aku mengamati benda itu sebentar, menarik.

Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku kembali ke hotel.

Klek

“Dari mana saja?” Hyunwoo sudah berdiri mendekatiku saat aku membuka pintu.

“Hanya jalan-jalan.”

“Kau tahu betapa khawatirnya aku. Apa kata appa jika kau hilang.” bentaknya semakin keras.

“Mianhae. Sudahlah, jangan marah-marah. AKu tidak suka dimarahi.”

Hug

“Mwo-ya?” rontaku.

“Jangan ketus begitu. Maaf sempat membentakmu tadi.”

“Gwaenchanha.”

Aku melepaskan pelukan Hyunwoo dan perlahan mundur.

“Aku akan berkemas. Jam 12 nanti kita pulang kan?”

“Ne.”

Jam 10 kami check out. Kami segera ke bandara, dan menunggu disana.

“Kau marah padaku?” Hyunwoo yang tidak tahan suasana ini mulai angkat bicara.

Aku menggeleng pelan.

“Lalu kenapa sikapmu berubah setelah aku menyatakan persaanku. Atau kau marah karena aku cium?”

Aku mengangkat bahuku.

“Yoonhee..” ucapnya lirih.

“Oppa.” balasku tak mau kalah.

“Jangan marah lagi.”

Drtt drtt

“Abeoji.”

“Kau pulang hari ini?”

“Ne. Jam 12 nanti pesawatnya take off.”

“Appa jemput ya, sekalian kita makan bersama seperti yang kamu mau.”

“Oke. Dengan eomeoni kan?”

“Pasti. Ajak juga Hyunwoo.”

“Arraseo. Aku tutup teleponnya ya.”

“Ne. Annyeong.”

Tut

“Oppa, appa mengajakmu makan bersama kami.” laporku.

“Tidak masalah.”

Panggilan untuk pesawat kami diumumkan.

Kami berjalan masuk.

Setelah 2 jam perjalanan udara, akhirnya kami kembali ke kampung halaman.

“Eomeoni!” aku berlari kearah eommaku yang berdiri disamping appa.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya appa.

“Menyenangkan.” jelasku singkat.

Kami berempat memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran di taman kota.

“Hyunwoo, apa Yoonhee nakal disana?” tanya eomma sesaat sebelum pesanan kami datang.

“Dia sempat kabur tadi pagi.” adu Hyunwoo enteng.

“Yoonhee-ya! Kau ini, mau hilang di negara orang?!” bentak eomma dan appa berbarengan.

“Eomeoni, abeoji! Tenanglah, buktinya aku masih ada disini.”

Aku menatap Hyunwoo yang duduk disampingku.

“Dasar pengadu.” desisku.

Hyunwoo hanya tersenyum tak bersalah.

“Oh iya, eomeoni, abeoji. Igo.” aku memberikan dua boneka sarubobo berwarna hijau kepada mereka.

“Igo mwo-ya?” tanya mereka berbarengan.

“Namanya sarubobo. Sarubobo hijau akan membawa keberuntungan dalam hal kesehatan. Aku mendoakan agar kalian sehat selalu.”

“Gomawo anakku.”

“Ne. Cheonma.”

Aku mengambil satu lagi sarubobo dari tasku.

“Apa oppa mau juga?”

“Ani. Oppa tidak percaya pada hal seperti itu.”

Aku menyimpan sarubobo itu kembali ke tempatnya.

“Abeoji, bagaimana rumah sakit saat aku pergi?” aku mencoba mengalihkan topik.

“Begitulah. Pasienmu, Ravi Kim sangat lucu.”

“Lucu?”

“Iya, dia lugu dan juga sangat pabbo. Sama sepertimu.”

“Hahaha..”

“Tapi dia kurang ajar.” sela Hyunwoo dingin.

“Mwo?!” tanyaku tak menyangka.

“Dari kemarin, pasien Yoonhee yang bernama Ravi itu terus menganggu.”

“Benar begitu Yoonhee?” ucap eomma seakan mau marah.

“Dia hanya menelponku. Itu saja.” jawabku membela.

“Tapi dia menganggumu dan juga oppa.”

“Dia pasienku oppa. Kenapa kau jagi menyebalkan begini sih?”

“Kau yang kenapa jadi begini.”

“Eitss, cukup sudah. Apa kalian sedang bertengkar?” appa menghentikan cekcok kami.

Aku membuang muka. Dadaku daritadi naik turun menahan amarah. Hyunwoo benar-benar bukan Hyunwoo yang kukenal.

Drtt drtt

“Suster Lee, waegeurae?”

“Dokter, pasien kita, Ravi Kim wajahnya pucat sekali.”

“Pucat? Kenapa bisa begitu? Apa ada infeksi?”

“Aku juga kurang tahu. Keringat dingin juga terus keluar.”

“Baiklah, aku akan kesana segera.”

Aku menutup telepon itu, lalu berdiri.

“Abeoji, eomeoni. Maaf ada pasien yang mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi sekarang. Maaf acara makan ini tidak berjalan lancar karenaku. Aku akan menebusnya lain kali.”

“Kalau begitu, mau appa antar?”

“Gwaenchanha abeoji. Aku akan naik taxi.”

“Kalau begitu oppa ikut.” Hyunwoo ikut-ikutan berdiri.

“Andwe. Tunggu disini. Setidaknya gantikan aku, dan temani abeoji dan eomeoni untuk makan.”

Hyunwoo kembali duduk.

“Aku pergi, Abeoji, eomeoni, oppa.” aku membungkuk, lalu segera berlari keluar.

“Ravi oppa!” panggilku ketika memasukki kamarnya.

Benar saja apa yang dikatakan suster Lee. Muka pucat, keringat dingin.

“Sejak kapan kau begini?” tanyaku resah.

“Sejak kemarin malam.” jawabnya lemah.

“Pabbo, kenapa tidak beritahu appaku?”

“Aku takut padanya.”

“Aishh, bisa-bisanya kau takut. Apa ada yang sakit?”

“Perut.”

“Apa karena jahitannya? Ada infeksi?”

“Bukan..”

“Lalu?”

“…lapar.”

“Aish, hadapkan badanmu kekiri.”

Ravi menuruti perintahku. Kini dia membelakangiku.

“Kenapa kau tidak mencoba untuk buang angin.”

“Memangnya harus aku coba ya? Aku kira tunggu sampai angin itu keluar secara alami.”

“Pabbo!”

“Yak, aku lebih tua daripadamu Yoonhee.”

“Mianhae oppa.”

“Akhirnya minta maaf juga kau.”

“Bukan masalah itu.”

“Lalu?”

Plak

“YAK!” jerit Ravi.

Prett

“Akhirnya!” ucapku lega.

“Mianhae.” ucap Ravi malu.

Dia mengusap pantatnya yang mungkin meninggalkan tanda telapak tanganku disana.

“Selamat! Akhirnya kau buang angin juga! Sekarang kau boleh makan.”

“Yoonhee..”

Secara tak sadar aku memeluk Ravi. Apa-apaan aku ini? Dia pasien pertama yang kupeluk?

“Ehmm.. mian.” ucapku canggung.

“Tunggu sebentar.” aku berjalan keluar dan mendapati suster Lee berjalan melewati kamar ini.

“Suster Lee. Tolong bawakan pasien Ravi Kim makanan ya.”

“Baiklah. Apa dia sudah sembuh?”

“Dia pucat karena lapar. Pabbo memang.”

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku ambilkan makananya.”

“Gomawo.”

Aku kembali masuk. Ravi yang masih tidur miring sedang mengusap pantatnya.

“Mianhae. Apa sakit?”

“SANGAT! PABBO! SUATU SAAT LAGI AKU PASTI AKAN MEMBALASNYA!”

“MWO?! MEMBALAS? KAU MAU PUKUL PANTATKU? SILAHKAN. KAU PUKUL PANTATKU, KUBUNUH KAU!”

“Hehehe.. bercanda. Damai.”

“Lupakan. Igo.”

“Igo mwo-ya?”

“Tidak baik kalau kau langsung makan. Mulailah dengan memakan yang manis dulu.”

Ravi mengambil botol yang kuberikan.

“Air gula.”

“Air gula?”

“Eommaku dulu sering membuatkannya untukku.”

“Apa enak?”

“Sudah, minum saja, cerewet.”

Ravi langsung meneguk air gula pemberianku.

“Pelan-pelan pabbo. Nanti tersedak.”

Ravi memelankan tegukannya itu sampai pada tegukan terakhir.

“Yak pabbo. Berhenti memanggilku pabbo. Aku ingatkan sekali lagi, aku lebih tua.”

“Yasudah. Kalau begitu aku akan memanggilmu oppa pabbo.”

“Maaf menganggu, tapi makan sudah datang.” suster Lee menghampiri kami. Dia menyerahkan sebaki penuh makanan kepada Ravi.

“Makanlah. Ayo suster Lee.” aku menarik suster Lee untuk keluar.

“Tunggu! Bisa bantu aku untuk duduk?”

Aku membantunya. Ravi menyimpan kedua tangannya kebahuku. Tanganku melingkar di dadanya. Sekali dorongan.

“Gomawo.” Ravi sudah duduk.

“Sudah? Kalau ada apa-apa panggil aku atau suster saja ya.”

Belum ada tiga langkah kami keluar.

“Yoonhee!”

“Mwo?” tanyaku jengkel.

“Temani aku makan.”

“Huft.. suster Lee. Bisakah kau temani aku juga sebentar?” aku ikut-ikutan meminta.

Aku dan suster Lee duduk dipinggir ranjang. Menyaksikan “pangeran” Ravi menyantap makannya.

“Oh iya. Suster Lee ini untukmu.”

“Boneka?”

“Sarubobo. Sarubobo biru untuk keberuntungan dalam sekolah dan kerja.”

“Kamsahamnida dokter, tapi maaf dokter. Aku masih ada kerjaan.” pamit suster Lee sembari berdiri.

“Baiklah suster. Maaf menganggu.”

“Gwaenchanha. Aku pergi dulu ya dokter.”

Suster Lee keluar dari kamar. Hanya tersisa kami berdua.

“Mana untukku?” tagih Ravi.

“Kau mau? Bukankah para namja menganggap kalau benda seperti ini bodoh?”

“Aku tidak.”

“Iya, aku lupa. Kau kan bukan namja.”

“Yak! Kau ini menyebalkan sekali. Cepat beri aku satu.”

“Igo.”

“Hitam?”

“Mencegah dirimu dari segala kesialan.”

“Kau mengata-ngataiku?”

“Ani. Itu memang kenyataan.”

“Aku ingin yang lain.”

“Tidak ada lagi.”

Aku menunjukkan semua sarubobo yang kupunya.

“Kurasa yang cocok untukmu sudah aku berikan kepada eomma dan appaku.” ucapku menjelaskan.

“Aku mau yang ini.” dia mengambil sarubobo pink dari dalam tasku.

“Tidak boleh!” aku merebutnya.

“Wae? Itu ada sepasang.”

“Itu punyaku.”

“Untukmu dan namjachingumu?” duganya cepat.

“Dia tidak mau. Dia bilang ini benda bodoh.” aku tertunduk, lalu menyimpan sarubobo itu kembali kedalam tasku.

“Wajahmu jadi muram.”

“Jinjja?”

“Aku salah bicara ya? Mianhae.”

“Gwaenchanha.”

“Yoonhee, bisa minta tolong?”

“Ada apa lagi?”

“Karena Hwayeon pergi aku belum membasuh tubuhku. Bisa tolong kau yang basuhkan?”

“Hah?!”

“Hanya bagian atas saja. Bagian bawahnya biar aku saja.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Aku berjalan kekamar mandi dan mengambil baskom berisi air hangat beserta dengan handuknya.

“Biar aku yang buka.”

Aku membukakan kancing baju rumah sakit milik Ravi. Kutanggalkan baju itu dari tubuhnya.

“Jadi ini yang namanya masalah? Berbuat mesum dirumah sakit?” suara yang tiba-tiba datang itu
mengagetkanku.

“Oppa…” panggilku lirih.

“Keluar. Aku ingin bicara.”

Aku mengikuti apa yang dia mau.

“Kau ini apa-apaan?!” bentaknya tak kira-kira.

“Oppa, pelankan suaramu.” aku mencoba menenagkan.

“Apa harga dirimu sudah habis?!”

“Oppa!”

“Mianhae. Oppa hanya tidak suka kau dekat-dekat namja itu. Dia bukan orang baik-baik.”

“Kenapa kau berkata seperti itu. Dia itu oppa dari temanku.”

“Pokoknya jauhi dia.”

“Terserah oppa.”

Dengan cepat aku langsung masuk ke kamar Ravi, lalu mengunci pintunya.

Tak kuindahkan segala gebrakan dari Hyunwoo.

“Yoonhee! Maaf membentakmu. Aku hanya cemburu.”

Aku menutup kedua telingaku lalu berjalan mendekati Ravi.

“Sini. Biar aku basuh tubuhmu.”

“Mianhae. Karenaku..”

“Lupakan. Oh iya. Igo.”

“Tapi katamu sarubobo ini milikmu.”

“Ambilah. Berikan ini untuk orang yang kau suka.”

“Tapi..”

“Kurasa saat ini aku perlu sarubobo hitam. Aku sangat sial hari ini.”

“Tidurlah disini. Temani aku.”

“Hah?”

“Aku kesepian. Tidurlah disofa. Hwayeon bilang sofanya sangat empuk, dan pakai ini. Malam hari disini sangat dingin.”

“Oppa..”

“Jika kau ingin mandi, kurasa bajuku yang pembantuku bawakan masih ada beberapa potong. Kalau kau ingin sikat gigi juga semua perlengkapannya ada dikamar mandi. Pakai handuk yang dilaci. Itu belum kupakai..”

“Oppa!”

“Ne?”

“Kamsahamnida.”

“Cheonma.”

Setelah membasuh badan Ravi, aku segera mandi. Meninggalkan Ravi yang sdedang sibuk membasuh tubuh bagian bawahnya.

“Yoonhee, mau makan?” tanya Ravi sekeluarnya aku dari kamar mandi.

“Tidak aku tidak berselera.” tolakku halus.

“Kau belum makan daritadi.”

“Tak apa. Aku tidak lapar.”

“Ngomong-ngomong..”

“…kau lucu sekali memakai bajuku. Semuanya kepanjangan, tapi..”

“Wae?”

“Kenapa kau memakai jaket. Dan kenapa juga kau melipat tanganmu didada?”

Perlahan wajahku memerah.

“Itu..”

“Ohh.. sudah cukup. Aku mengerti. Kau tidak memakainya saat malam ya? Sama seperti Hwayeon.” potong Ravi tergagap-gagap. Untungnya kali ini dia tidak pabbo seperti biasanya.

“Kalau yang satu lagi?” lanjut Ravi bertanya.

“Satu lagi?” tanyaku bingung.

“Dalam bagian bawah.” jelasnya.

“Ohh.. tadi aku mengorek-ngorek tasku. Ternyata ada cadangan.”

“Lucu juga. Menyimpan cadangan di tas.”

“Yak oppa pabbo. Jangan bahas itu lagi.”

“Arraseo.”

Aku duduk disofa yang mirip seperti kasur itu.

Sekarang sudah jam 7 malam lagi. Akhirnya aku bisa tidur lebih awal.

Ravi masih duduk dengan laptop diatas pangkuannya.

“HP ku, tolong.” pintanya sembari menunjuk HPnya yang ada di meja samping ranjang.

“Igo.”

Dia mulai mengotak atik HPnya dan mulai menelpon orang.

“Lee ahjumma, tolong belikan aku pakaian wanita beserta dengan dalamnya.”

“…”

“Aeh.. jangan berpkiri yang macam-macam. Pokoknya belikan saja. Aku mau barang itu besok pagi. Oh iya, aku juga titip sarapan untuk besok pagi. 2 porsi ya.”

“…”

“Jangan tanya kenapa dan buat siapa. Yang penting buat saja. Oke ahjumma? Kamsahamnida.”

“Kau menelpon siapa?”

“Pembantuku.”

Drtt drtt

“Taengi oppa.”

“Yoonie, kata Jung ahjumma kau bertengkar dengan Hyunwoo?”

“Ne.”

“Wae?”

“Dia menyebalkan itu saja. Sudahlah oppa. Aku tidak ingin membahas itu sekarang. Aku mau tidur”

“Tumben kau tidur jam 7. Tidur dimana kau?”

“Rumah sakit.”

“Ohh.. jaga dirimu baik-baik ya. Dan juga jangan bertengkar dengan Hyunwoo lagi. Arraseo?”

“Ne. Arraseo. Annyeong.”

“Annyeong.”

“Nugu?” tanya Ravi penasaran.

“Saudaraku.”

“Itu panggilan sayang kalian?”

“Iya.”

“Lucunya. Seandainya aku punya satu darimu.”

“Mwo?”

“Ani. Kau tidurlah. Kelihatannya kau lelah sekali hari ini.”

“Sedikit.”

“Tidur lah kalau begitu. Selamat malam.”

“Ne. Selamat malam, oppa pabbo.”

Perlahan mataku tertutup. Hanya bayangan samar Ravi saja yang tengah asik didepan laptopnya subjek terakhir yang kulihat sebelum tidur.

Ravi, maaf merepotkan. Dan juga maaf melibatkanmu didalam masalah hidupku.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s