Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 3)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Aku merasakan tangan Hyunwoo menutup jendela disampingku. Aku juga merasakan selimut yang Hyunwoo pakaikan padaku mulai membuat tubuhku hangat. Dan ada lagi yang hangat..

“Saranghae Yoonhee-ya..”

Cup

Pipiku..

Tak lama Hyunwoo memelukku , lalu tertidur.

Sungguh, aku tidak ingin suasana ini segera berakhir.

“Yoonhee-ya, kita sudah sampai.” Hyunwoo mengusap rambutku lembut, namun hal itu bisa membangunkanku.

Akhirnya kita sampai juga dengan selamat di Jepang.

Dia membantuku untuk berdiri. Masih jam 1 subuh disini. Jelas, aku masih mengantuk.

Hyunwoo menuntunku ke bandara.

“Duduklah, aku yang akan ambilkan kopernya.” Aku menunggu disebuah bangku panjang dibandara, sedangkan Hyunwoo mengambil koperku dan juga kopernya.

“Ayo ke hotel.” kami berjalan keluar. Didepan Hyunwoo membberhentikan sebuah taksi, kami berdua masuk.

“Grand Paradise.” ucap Hyunwoo pada sang supir.

Tak lama taksi mulai bergerak.

Kami berhenti disebuah hotel mewah dan besar yang sudah disewa oleh penyelengara acara.

“Atas nama Yoonhee Jung dan Hyunwoo Kim.” ucap Hyunwoo kepada sang resepsionis dengan bahasa Inggris.

Sang resepsionis memberikan dua buah kunci. Kamar 312 dan juga 314.

Kami berjalan memasukki lift.

“Yoonhee..”

“Ne.”

Hyunwoo menunjuk sebuah papan yang ada.

Lift sedang dalam perbaikan.

“Kurasa kita haru naik tangga.” Hyunwoo tersenyum kearahku.

Dengan susah payah, aku menarik koperku kekamar. Meskipun ada dilantai 3, tapi tetap saja yang namanya tangga. Melelahkan.

“Berat?” tanya Hyunwoo saat aku berusaha menaiki anak tangga pertama.

“Ne.”

Satu lantai akhirnya aku lewati. Penyiksaan ini namanya.

“Perlu bantuan?” tanya Hyunwoo yang berjalan cukup jauh didepanku.

“Ani. Gwaenchanha.”

“Pabbo.” Hyunwoo berhenti, lalu menyimpan kopernya dipinggir.

“Kjja.” Hyunwoo mengangkat koperku dan menyimpannya disamping kopernya.

“Yoonhee, ayo duduk dulu sebentar.”

Aku duduk disamping Hyunwoo yang tengah duduk juga. Kami ada ditengah-tengah lantai 2 dan 3.

“Yoonhee..”

“Hem?”

“Jika ada di tangga bersamamu, aku jadi ingat sesuatu.”

Aku memutar otakku. Kejadian di tangga apa yang kita..

“Yak oppa!” rontaku protes. Perlahan wajahku memerah.

“Wae? Wajahmu mulai matang.” Hyunwoo menunjuk pipiku yang paling merah.

“Lupakan kejadian itu!” aku meronta makin keras.

“Wae? Itu adalah saat-saat terbaik dihidupku. Apa harus kita ulang?”

“Andwe!” aku berdiri, lalu kembali mengangkat koperku.

“Pabbo! Oppa pabbo!!” keluhku sembari berteriak.

Akhirnya sampai lah kita dilantai 3.

“Mau kamar 312, 314, diluar, atau satu kamar denganku?” goda Hyunwoo.

“Yak oppa, jangan bercanda! Aku mau 314.”

“Ini tuan putri.” dia memberikan kunci kamar 314 ketanganku.

Kami berjalan ke kamar kami masing-masing.

“Bersebelahan?” tanyaku sesampainya didepan kamar.

Memang, kamar 312 dan 314 itu bersebelahan.

“Bukalah.” perintah Hyunwoo.

Aku membuka kamar itu. Diawali dari kamar mandi yang cukup luas. Pancuran, bathtub, kaca besar didepan wastafel, dan tak ketinggalan klosetnya. Lalu ada lemari yang didalamnya ada sepasang handuk mandi. Dibawahnya terdapat rak yang menyimpan beberapa pasang sandal. Semakin kedalam, ada televisi plasma, kulkas kecil, dua buah sofa, meja bundar kecil, dan yang terbaik adalah satu kasur queen size.

“Bagus..” decak Hyunwoo. Dia berkeliling kamarku.

“Yoonhee, ada ini ternyata.” dia menunjuk sebuah pintu seukuran pintu pada biasanya.

“Igo mwo-ya?” tanyaku pada Hyunwoo.

“Fellingku.” dia memutar kunci yang ada pada pintu itu.

Krek

“Benarkan.” ucap Hyunwoo bangga.

Ohh.. ternyata ini pintu antara bilik. Pintu yang langsung tehubung dengan kamar Hyunwoo.

“Bagus.” bisik Hyunwoo.

“Mwo? Apa oppa mengatakan sesuatu tadi?”

“Ani.”

“Aeh.. kau memikirkan sesuatu yang kotor ya?”

“Pabbo. Bukan!”

“Aku mau tidur.” aku berbalik dan mulai berbaring dikasurku.

“Tidurlah.” Hyunwoo menyusul, lalu duduk disofa kamarku.

“Kenapa disini? Tidur sana.” perintahku.

“Disini juga aku bisa tidur.”

“Kau kan punya kasur disebelah, tidurlah dikasur, bukan disofa.”

“Kalau begitu, geser sedikit.”

“Mwo?! Kau mau macam-macam?”

“Bercanda Yoonhee, jangan marah. Aku akan tidur disofa. Jika aku tidur bersamamu, bisa-bisa appa marah dan menghapusku dari daftar mantu.”

“Mantu.. sana tidur! Di kasurmu.”

“Tapi..”

“Sana oppa! Jangan manja, atau aku akan marah.”

“Ne. Arraseo. Aku akan tidur dikasurku. Jangan marah-marah, nanti cepat tua..”

Hyunwoo beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekatiku.

“..selamat tidur.”

Cup

Dia mengecup keningku, lalu pergi kekamarnya.

Pintu lintas itu sengaja kami biarkan terbuka, yah.. itulah kesepakata kami. Aku pasti membutuhkan Hyunwoo untuk membangunkanku, berguna bukan?

Akhirnya kami berdua tertidur.

“Yoonhee, sudah jam 5. Kita harus siap-siap.” Hyunwoo membangunkanku, seperti yang sudah aku bilang.

Kami berdua bersiap-siap, lalu pergi ke balai pertemuan yang sudah ditetapkan.

Seminar ini sangat berarti bagiku. Setelah penelitian selama 5 tahun tentang masalah penyakit salah satu organ dalam, akhirnya aku berhasil. Dan sekaranglah saatnya bagiku untuk menunjukannya kepada mata dunia.

“Presentasi anda tadi begitu luar biasa dokter Jung.” beberapa dokter senior menjabat tanganku.

“Kau berhasil! Yoonhee jjang!” Hyunwoo memberikan kedua jempolnya padaku sesudah aku selesai presentasi.

Aku hanya tersenyum membalas pujian itu.

“Ayo kita makan. Seminar selanjutnya akan dimulai saat sore hari.” Hyunwoo membawaku keluar dari balai pertemuan.

Dia membawaku ke sebuah kedai ramen.

“Maaf pinggir jalan. Tapi aku tahu, tempat seperti ini adalah gayamu.”

Aku terkekeh. Hyunwoo memang paling bisa membuatku tertawa seperti ini.

Drtt drtt

“Abeoji!”

“Bagaimana presentasimu?”

“Berjalan dengan sangat lancar dan pendapatku diterima banyak orang.”

“Selamat anakku. Apa Hyunwoo bersamamu?”

“Ne. Hyunwoo oppa yang menjagaku dengan baik disini.”

“Baguslah. Berikan HPmu sebentar ke Hyunwoo.”

Aku menyodorkan HPku pada Hyunwoo.

“Appa.” ucapku singkat.

Hyunwoo mengangguk, lalu menerima telepon itu.

“Abeoji.”

“…”

“Ne. Arraseo.”

“…”

“Ne abeoji. Annyeong.”

Hyunwoo mengembalikan HPnya padaku.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Biasa, menyuruhku untuk menjaga bayi besar yang satu ini.”

“Aishh.. appa ini. Aku kan sudah besar.”

Drtt drtt

“Telepon lagi?” tanya Hyunwoo heran.

Aku tersenyum menanggapinya.

Panggilan masuk dari nomor asing?

“Nugusaeyo?” tanyaku hati-hati.

“Yoonhee!”

“Kau lagi. Wae?”

“Dimana kau? Bukannya kau yang harusnya mengecekku pada pagi hari?” nada suaranya mengebu-gebu.

“Aku sedang pergi.”

“Kemana? Kenapa harus pergi? Karena kau pergi, dokter Jung tua cerewet ini yang harus melakukan pengecekan setiap paginya.”

“Dokter Jung tua cerewet mana maksudmu?!”

“Ituloh, dokter direktur disini. Jung Yoonmo kalau tidak salah. Ekh tunggu, jangan-jangan..”

“Ne. Dia appaku tahu!!”

“Oh, ja-jadi dia appamu?” suaranya mulai pelan.

“Ne. Kenapa? Ada masalah?”

“Mi-mian, aku tidak tahu.”

“Kalau tidak tahu janagn sok tahu.”

Tut

“Nugu?” tanya Hyunwoo heran.

“Pasien kurang ajar.” aku membanting HP ku ke meja.

“Kukira namjachingumu.” ucapnya enteng.

“Aishh, mana mau aku dengan namja seperti itu.”

Drtt drtt

“Apa lagi?!”

“Yoonhee. Mianhae, aku tidak bermaksud.”

“Makanya punya mulut jangan dipakai untuk ceplas ceplos begitu saja!”

“Aku benar-benar tidak tahu. Oh iya, ngomong-ngomong kau..”

“Yoonhee, ramennya datang. Makan dulu sebelum dingin.” Hyunwoo menyela percakapan kami.

“Ne oppa.” turutku.

“Tutup teleponnya, sekarang.” suara Hyunwoo makin tegas.

“Ne oppa.”

“Siapa itu? Namjachingumu?” Ravi kembali bicara keras.

“Memangnya apa urusannya denganmu?” ketusku.

“Tunggu, aku belu..”

Tut

“Siapa sih dia?” Hyunwoo bertanaya serius.

“Pasienku dan juga oppanya temanku.” ucapku pelan.

“Ohh.. oppa tidak begitu menyukainya. Dia sangat menganggu.”

Aku hanya mengangguk pelan. Hyunwoo sedang marah?

“Yoonhee, makan.” Hyunwoo menyuruhku lagi.

“Ne oppa. Aku akan makan dengan baik.”

Suasana menjadi canggung. Apa ini salahku? Ani. Ini semua salah Ravi.

“Terimakasih untuk makannya.” ucap kami serempak.

“Hyunwoo oppa, kau marah?” tanyaku mencoba memcah suasana canggung ini.

“Ani. Aku ingin berjalan-jalan. Mau ikut.”

Aku mengangguk antusias.

Sore datang terlalu cepat. Setelah berjalan-jalan, kami ke hotel untuk mandi. Baru akhirnya kami kembali ke seminar.

“Seminar selesai.” ucap Hyunwoo senang.

“Tapi kita harus pulang dan kembali bekerja.” aku menyeret diriku dari lobby hotel ke lift. Sekarang liftnya sudah sembuh.

“Aku ingin diam dikamarmu dulu. Ayo minum the malam-malam.” ajak Hyunwoo.

Aku segera mengiyakan ajakan Hyunwoo itu.

Aku membuka pintu kamar, dan kami berdua masuk.

Hyunwoo sedang asik meracik the, sedangkan aku baru selesai membasuh tubuh.

“Ini. Manis seperti dirimu.” goda Hyunwoo sembari memberikan secangkir the padaku.

Kami berjalan kebalkon. Hari ini adalah bulan purnama. Malam indah yang tidak boleh dilewatkan.

“Malam yang indah.” ucap Hyunwoo sependapat denganku.

“Hem..” aku mengirup teh itu, lalu meminumnya.

“Bagimana kalau kita menyelesaikan masalah kita yang belum selesai.”

Aku berhenti meminum teh itu.

“Apa harus?” tanyaku.

“Aku hanya benci semua itu berakhir dengan mudahnya.”

“Itu namanya takdir oppa.”

“Kalau saja aku tidak meninggalkanmu. Maafkan aku.”

“Sudah kubilang, lupakan masalah itu.”

“Ayo kita mulai dari awal…”

Aku menatap Hyunwoo, begitupun dia.

“Saranghae Yoonhee-ya.”

Drtt drtt

“Aish.. menggangu sekali.” Hyunwoo mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Yeobusaeyo?” tanyaku ditelepon.

“Yoonhee, kau belum jawab aku. Apa tadi itu namjachingumu?”

“Huft.. Ravi-ssi..”

“Oppa saja, tolong.”

“Ravi oppa. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi tolong jangan ganggu aku.”

“Jawab aku dulu.”

“Hm… ne. Dia namjachinguku.”

Ravi terdiam sejenak.

“Baiklah kalau begitu. Maaf menggangumu.”

Ravi menutup teleponnya terlebih dahulu.

“Dia lagi?” duga Hyunwoo.

Aku mengangguk pelan. Baru kali ini aku mendengar suara Ravi sesendu itu.

Drtt drtt

“Biar oppa.” Hyunwoo merebut HP dari tanganku.

“Yeobusaeyo.” tanyanya tegas.

“…”

“Oh, Taehyung. Sebentar ya.”

Hyunwoo menekan tombol speaker.

“Yoonie!” teriak Taehyung.

“Taengi oppa!” balasku.

“Kau sedang dengan Hyunwoo hyung?”

Aku menatp Hyunwoo sekilas, lalu kembali menjawab.

“Ne.”

“Wah.. lihat Yoonie oppa. Pasti kau kembali ceria.”

“Hehe..”

“Hyung, aku titip saudaraku yang paling kusayang ini ya.”

“Serahkan padaku.”

“Aku tidak ingin menggangu. Annyeong.”

“Annyeong.” ucap kami serempak.

Aku menutup telepon itu dan menyimpannya disaku celanaku.

“Sampai dimana kita tadi?” tanya Hyunwoo kembali serius.

“Sampai di..”

Cup

Omo! Hyunwoo mengecupku..? Ini, ciuman yang sama saat 10 tahun lalu? Hal ini kembali terulang? Tunggu, tapi ada yang berbeda. Desakan ini. Hatiku yang terdalam sepertinya merasakan sesuatu.

“Maaf oppa, sepertinya aku harus tidur.” aku perlahan mundur, melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Akh betul, kau harus tidur. Tidurlah.”

“Selamat malam oppa.”

“Ne. Selamat malam.”

Jantungku masih berdegup dengan cepat. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hyunwoo pun sudah tertidur.

Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s