The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 2)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Ini diaa part 2 nya, mian yaa.. author ngepostnya telat banget soalnya bikin FF ini tuh susah.. author harus muter otak berkali-kali supaya bisa bikin cerita yang bagus dan juga menarik buat reader-reader semua..

FF ini dalam rangka 100 hari blog ini di buat.. dan ini murni hasil pemikiran para author di Spicy Wings’s House

Semoga kalian suka ya..

No plagiat..

No bash..

Oke?

Happy Reading^^

Kami sudah sampai… Karena aku salah satu tamu penting, aku bisa menginap di hotel ini. itu kabar baiknya, kabar buruknya aku harus bekerja keras sampai acara launching hotel ini dilaksanakan. Tapi tak apa.. setidaknya aku bisa merasakan kemewahan hotel ini secara gratis. Bagus!

Aku memasuki kamar ku. Kamar ini sungguh luas. Aku meletakan barang-barangku di bawah TV yang tersedia di kamarku itu.

Kurebahkan diriku diatas kasur, perlahan-lahan kupejamkan kedua mataku dan mulai menuju alam mimpi. Melepas lelah, menghilangkan kepenatan yang ada dalam kepalaku itu lah yang kuinginkan belakangan ini. Sekarang aku mendapatkan kesempatan itu.

-Kreeek-

Terdengar suara pintu terbuka. Suara itu terdengar begitu jelas.. tidak mungkin jika itu suara pintu dari kamar tetangga. Begitu juga dengan derap kaki yang semakin mendekat ke arah ku. Derap kaki itu pun berhenti tepat di sebelahku.

Kuberanikan diriku untuk melihat siapa pemilik derap kaki itu. . tapi, aku takut. Bagaimana jika dia adalah orang jahat yang ingin macam-macam? Salahku juga karena tidak mengunci pintu kamarku tadi.

Hembusan nafas seseorang. Aku merasakan hembusan nafas itu tepat di wajahku. Berarti wajah kami berada dalam jarak yang dekat.

Dengan segera, aku membuka mataku dan yang kudapati adalah..

“Kim Taehyung?! Apa yang kau..”

“Ssstt.. biarkan seperti ini sebentar saja.”

“Tapi Tae, apa kau tidak pegal jika harus terus menunduk seperti itu?”

“Tidak apa-apa.. asal kau selamat aku tidak apa-apa.”

“Maksudmu?”

“Tadi ketika aku sedang berjalan dekat resepsionis, aku melihat ada seorang namja yang menyebut namamu dan meminta petugas untuk membawanya menuju kamarmu. Aku yakin dia bukan namja baik-baik.”

“Namja?”

-Knock knock-

“Nona Park, apa anda di sini? Saya sudah mencari anda sejak tadi.”

Terdengar suara dari luar. Benar saja apa yang dikatakan Taehyung tadi, itu suara namja.

“HyeHye, sudah kubilang kan tadi? Dia pasti ingin mencelakakanmu. Kita baru saja bersatu, aku tidak ingin berpisah denganmu!” rengek Taehyung.

Itu…. bentuk khawatir yang berlebihan……..

“Nona Park, saya sudah membawa laporan yang anda minta tentang persiapan launching SJ Hotel.” Lanjut namja itu.

“Apa kau Harim-ssi?” tanyaku memastikan.

“Iya nona, sejak 15 menit yang lalu saya sudah berusaha menghubungi nona tetapi tidak ada jawaban. Bisakah nona keluar dari kamar sekarang? Jadwal nona hari ini adalah mengecek keseluruhan hotel.” Lanjut namja bernama Harim itu.

“Baik. Terimakasih sudah mengingatkanku, Harim-ssi. Aku akan menemuimu 5 menit lagi di lobby.”

Ternyata namja itu adalah Harim. Tangan kananku dalam proyek persiapan launching SJ Hotel. Dia salah satu assistantku juga. Sebenarnya ini memang bukan tugasku sebagai seorang designer interior tapi sebagai sahabat yang baik, membantu tidak masalah kan?

“Tae…”

“Ne?”

“Kau bilang namja itu akan macam-macam denganku..”

“Bisa saja kan? Memangnya HyeHye-ku kenal dengan dia?”

“Tentu saja aku mengenalnya pabbo… kalau tidak, bagaimana aku bisa langsung mengetahui namanya??” Namjachinguku ini ada-ada saja. Haishh.

“Aku.. tidak tahu, aku hanya khawatir saja. Apa itu salah?”

“Tidak. Tapi kekhawatiranmu itu berlebihan.”

“Mianhae. Aku memang terlalu menjagamu. Aku ini over protective. Tapi itu karena aku menyayangimu.”

“Aku tahu. Tapi kau tidak perlu begitu. Kau ini terlalu kekanak-kanakan.”

“Aku tahu, aku akan berubah sesegera mungkin. Aku akan mengembangkan sisi dewasaku. Kau hanya perlu menunggu saja. Ini tidak akan lama.”

“Baik, aku pergi ya.. kau juga masih ada urusan di sini bukan?”

“Ne. semangat HyeHye!”

Kubalas Taehyung dengan senyuman kemudian segera menemui Harim di Lobby. Benar-benar hari yang melelahkan memang, tapi aku senang Hotel ini akan segera diresmikan dan dibuka.

Setelah sampai, aku dan Harim langsung berkeliling hotel dan mengecek persiapan satu per satu. Karena hotel ini besar, tentu daftar persiapannya juga tidak sedikit, ya.. mungkin kalau dijilid akan jadi sebuah modul saking banyaknya.

“Hm… vas bunganya oke, dekorasi yang ini juga bagus. Hm, tolong lepaskan lukisan yang itu.. lukisan itu tidak cocok coba pindahkan lukisan ini dengan lukisan di sebelah sana.. ya, lukisan yang itu. Nah, lebih baik.. Hei, jangan letakan disana meja itu jadi menghalangi.. pindahkan ke sana. Bukan.. bukan…. ke sebelah sana, dekat kursi itu.. Arrgghhh… tinggalkan, biar aku yang memindahkannya.”

Pekerja itu akhirnya menjauh dari pandanganku. Tapi aku melihat pekerja itu seperti sedang berbicara pada seseorang entah siapa itu aku tak peduli. Aku mulai mengangkat meja itu namun pekerja itu kembali berjalan menghampiriku.

“Um, nona.. biar saya ban-“

“Sudah sana! Aku bisa sendiri.” Aku mengusir pekerja itu. Sungguh, pekerja itu membuatku  jengkel.

Pekerja itu akhirnya berlalu lagi. Dan seperti yang tadi, seseorang sepertinya tengah berbicara padanya lalu, dia kembali lagi menghampiriku.

“Um, nona.. saya ban-“

“Hiyaaa!! Kau! Sudah urusi saja hal yang lain!” bentakku.

Pekerja itu pun pergi (lagi) dan seperti tadi, seseorang memanggilnya lalu berbicara padanya.

“Yak! Kau ini! Dia yeoja, seharusnya kau tetap membantunya! Bukannya malah pergi! Ah sudahlah! Aku saja yang membantunya!” Suara orang itu sepertinya ku kenal. Benar saja, akhirnya orang yang sedari tadi menyuruh pekerja itu menampakkan dirinya. Dari suaranya saja aku sudah mengenalinya, siapa lagi kalau bukan..

“TaeTae!”

“Butuh bantuan?”

“Tidak apa, aku bisa sendiri. Kau bukannya ada urusan ya?”

“Hahaha.. ini adalah urusanku. Tugasku untuk mendekor.. aku bekerja sama dengan Cho Kyuhyun. Mari, aku bantu. Kau ingin memindahkan meja ini ke sebelah mana?”

Rupanya kami bekerja sama dengan orang yang sama pula. Ini lucu.

“Sana.. dekat kursi itu..”

“Baik.. angkat di hitungan ketiga ya.. 1..2..3.. angkat!”

Setelah kami memindahkan meja yang menyebalkan itu dan juga membereskan beberapa tatanan dekorasi, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi hotel mewah ini.

Hotel ini benar-benar hebat!

Aku tak menyangka bisa mendesign hotel sehebat ini.

Hiyaa!! Aku ingat! Aku mendesign hotel ini.. aigoo, bagaimana aku bisa lupa kalau aku mendesign hotel sekeren ini? Benar-benar bodoh!

Aku dan Tae kini menuju bagian taman yang berada di lantai 25. Taman ini indah dan… HEY! Banyak sekali mawar putih disini!! Aku segera berlari menghampiri kumpulan mawar putih yang tumbuh disana. Saking senangnya, aku bahkan sampai melupakan namja yang sejak tadi berada di sampingku.

Aku benar-benar menyukai mawar putih!

Aku tersenyum melihat hamparan mawar putih di hadapanku ini. Jadi teringat masa kecilku ketika berkebun bersama Jimin oppa dan juga eomma. Ketika itu aku merajuk pada eomma agar seluruh halaman hanya ditanami mawar putih saja. Wajar saja, sejak kecil aku ini memanglah white rose holic. Terkadang eomma juga memanggilku white rose. Selain karena aku menyukai mawar putih, ada alasan lain aku dipanggil begitu. Eomma bilang aku ini cantik tapi membahanyakan juga, sebab dulu aku suka sekali memukuli orang dan Jimin oppa adalah korban kekal ku. Hehe..

Aku merindukan masa-masa laluku. Sayangnya, aku jauh dari mereka.

Tiba-tiba saja Taehyung memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahuku. Aku sempat terkejut. Tapi aku mulai membiasakan diriku terhadap tingkahnya yang sering mengejutkanku.

“Ada apa?” tanyanya, “Apa ada masalah?” lanjutnya lagi.

“Tidak.. tidak ada apa-apa.”

“Kau baik-baik saja? Kau sepertinya nampak sedih.”

“Nan gwaenchanha.. aku hanya merindukan keluargaku. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka karena aku tinggal jauh dari mereka.”

Taehyung melepaskan pelukannya kemudian memutarku sehingga menghadapnya.

“Kau tak perlu khawatir.. ada aku disini. Aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu mengenal kata ‘kesepian’. Aku menyayangimu.” Taehyung mengecup keningku.

Untuk sesaat aku merasakan kenyamanan dan kehangatan yang diberikannya padaku. Inikah hasil perubahannya menuju lebih dewasa? Secepat itukah? Bersikaplah manis seperti ini, Tae. Tanpa sadar aku tersenyum.

Rasanya, sungguh campur aduk antara bahagia dan juga takut. Takut jika nanti aku harus kehilangannya. Bagaimana kalau nanti dia menghianatiku? Bagamana kalau dia hanya menjadikanku pelampiasannya saja? Bagaimana jika… Akh, sudahlah. Selama dia masih di hadapanmu, kau tak perlu risau Eunhye..

“HyeHye, kau suka taman ini?” tanya Taehyung setelah kami duduk di bangku yang berada tidak jauh dari kami.

“Sangat! Aku sangat sangat sangat menyukainya! Apa lagi ada banyak sekali mawar putih disini. Ini akan menjadi tempat favoritku!”

“Benarkah? Sebagai informasi, aku yang meminta agar ditanami banyak mawar putih karena aku tahu kau menyukai mawar putih. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan mengunjungi taman ini.”

“Kau yakin?”

“Yup.”

“Sayangnya, aku tidak percaya padamu! Tugasmu hanya mendekorasi, bukan berkebun Tuan Kim…..”

“Aku juga mendekorasi taman, Nona Park.”

“Begitu? Akan kutanyakan pada Kyuhyun nanti..”

“Haa!! Andwae! Baiklah.. baiklah… aku mengaku! Aku tidak mendekor taman dan juga tidak meminta pekerja menanami mawar putih..”

“Aku tahu itu….”

“Mianhae…”

“Gwaenchanha.. aku tahu maksudmu itu untuk menghiburku kan? Sudahlah tak usah dipikirkan..”

“Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang?”

“Hm. Kajja.. tapi kau yang traktir ya…”

“Arraseo, gadis kecil.” Taehyung mengacak-acak pucuk kepalaku.

“Yak!”

Bagus Tae.. kau aku senang dengan perubahanmu.. Meski kesal kau menghancurkan tatanan rambutku, tapi aku senang kau lebih bersikap seperti ini. Perlahan-lahan kau akan mengenal Park Eunhye yang ceria dan manja.. Hahaha..

-***-

Sesampainya di restaurant, aku segera memesan sebuah tenderloin steak dan juga cappucino float begitu juga dengan Taehyung.

Oh iya.. aku hampir saja lupa.. aku harus menanyakan perkembangan ChangChang sunbae!

“Yeoboseyo…”

“Yeoboseyo… yak, ada apa telepon?”

“Salah? Aku hanya ingin menanyakan perkembanganmu..”

“Tidak.. perkembanganku? Hanya begitu-begitu saja..”

“Hei! Bagaimana bisa tidak ada perkembangan? Kau ini sunbae yang payah!”

“Jaga bicaramu, pabbo! Kau dimana? Akan kususul kau!”

“Aku di Jeju! Kemarilah kalau berani!”

“Dasar hoobae menyebalkan! Wait, Jeju? Sedang apa kau disana?”

“Aku ada urusan. Sudah ya.. saat kutelepon kau lagi nanti, aku ingin mendengar perkembanganmu! Annyeong.”

Huh! Sunbae yang payah.. mendekati yeoja saja tidak bisa.. namja macam apa dia itu…

“Menelepon siapa?” Tanya Taehyung.

“Oh, ini.. aku habis menelepon ChangChang sunbae.”

“Oh, dia lagi… memangnya kau dekat dengannya?”

“Iya.. kami dekat dari kami sekolah. Dia seniorku..”

“Hm.. begitu ya..”

Kenapa raut wajahnya begitu? Memang ada yang salah ya? ChangChang sunbae kan memang seniorku..

“Noona.”

Sebuah suara mengagetkanku. Itu tidak mungkin suara Taehyung…

Segera saja kubalikan badanku, dan yang kudapati adalah…

“Eonni!!!!!”

“Eh? Annyeong Hwayeon-ah. Kemarilah, duduk bersama kami. Kau juga Kyu.”  Ucapku pada Hwayeon dan juga Kyuhyun.

Mereka pun segera menghampiri kami. Hwayeon duduk disebelahku sedangkan Kyuhyun duduk disebelah Taehyung.

“Nugu?” Tanya Hwayeon spontan pada Taehyung.

Kulihat Taehyung tersenyum menanggapi pertanyaan Hwayeon itu kemudian dia mengacak-acak rambut Hwayeon. Hahaha.. rasakan itu Hwayeon.

“Aku Kim Taehyung. Panggil saja aku V oppa,adik manis.” Ucap Taehyung kemudian.

Hey, Sejak kapan Taehyung dipanggil dengan sebutan V? Aku harus meminta penjelasannya nanti.

Kulihat pipi Hwayeon memerah.. Aigoo.. kenapa magnae garang ini bisa jinak oleh Tae? Mungkin Tae pernah menjinakan seekor beruang grizzly.. Hm..

“Kim? Marga kita sama, oppa.” Ucap Hwayeon.

“Cih” Berlagak manis rupanya.. tunggu saja sampai iblisnya keluar..

“Ne, marga kita sama. Hehehehe, kau benar-benar anak manis. Padahal kata Eunhye, kau yeoja garang.”

Kulihat Hwayeon mendelik ke arahku. Segera ku alihkan pandanganku ke arah lain. Memangnya aku salah? Itu fakta.. perlu dicatat, Hwayeon adalah yeoja garang. Itu adalah fakta mutlak!

“Ah, jangan dengarkan apapun kata Eunhye eonni. Dia memang begitu. Soalnya dia pabbo, gajauh beda sama Yoonhee dan Hyojin yang juga sama pabbonya.”

Yak! Apa maksudnya dia itu! Aish!! Yeoja satu ini benar-benar….

-Tak!-

Aha! Menjitak Hwayeon adalah hal yang sangat ingin kulakukan sejak lama.. dan sekarang itu terwujud.. rasakan kau magnae kurang ajar!

“Auuu yak! Kenapa eonni memukulku! Sakit tau!” rintih Hwayeon.

“Kau, tutup mulutmu magnae. Jangan mencoba menjelek-jelekkanku didepan namja chinguku sendiri.” Ucapku datar. Akhirnya satu sahabatku tahu kalau aku mempunyai namja chingu..

“Apa peduliku? Memangnya kenapa kalau dia namja chingumu, lalu- tunggu, apa tadi kau bilang? Namjachingu? N.a.m.j.a.c.h.i.n.g.u?” Memang dasar magnae pabbo.. otaknya lamban sekali..

“Ne. N.a.m.j.a.c.h.i.n.g.u.! Karena itu, jangan menjelek jelekkan ku seperti itu, kecuali kau ingin mati ditanganku.“ ancamku. Hahaha.. lihat wajah Hwayeon sebegitu paniknya dia..

“MWORAGO?!” jerit Hwayeon.

“Kau, bagaimana mungkin oppa mau menjadi namjachingu Eunhye eonni?” tanya Hwayeon pada Taehyung.

Yaish!! Magnae ini benar-benar….

-Tak!-

“Yak!” jerit  Hwayeon lagi.

““Yak! Apa maksudmu. Kau memang benar-benar! Aish, bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan makhluk ajaib sepertimu? Yeoja aneh! Sinting!”

Kutatap Hwayeon dengan hawa membunuh. Kurasa tatapan seperti itu cocok untuk yeoja yang kurang ajar seperti dia.. huft..dia membuatku naik darah saja.

“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau tidak perlu marah seperti itu.” Ucapnya sambil memutar bola matanya

Kalau tidak niat, tak perlu minta maaf.. dasar pabbo..

“Hah, terserahmu saja lah.” Ucapku  pasrah. Aku sudah lelah menghadapi yeojagarang macam dia.

“Kalian sudah saling kenal?” tiba-tiba suara Kyuhyun muncul saat keadaan mulai reda.

“Ne, kami sudah kenal. Memangnya kau tidak tau? Bukankah aku pernah memberitahumu kalau aku mengenal adik Ravi-ssi dengan baik?” ucapku pada Kyuhyun.

“Baguslah kalau kalian sudah kenal, aku juga malas memperkenalkan kalian. Nah, jadi HwaYeon-ah, ini Eunhye noona, dia yang sudah berjasa membuat hotel ini tampak indah.” jelas Kyuhyun.

Kini Hwayeon menatapku bingung. Kenapa harus menatapku dengan bingung seperti itu sih? Mungkin dia tidak menyangka..

“Kau, desaignernya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kenapa eonni tidak bilang? Tidak pernah cerita sama sekali. Kemarin juga, saat kita mengobrol di café, kau tidak membahas ini.” tanya Hwayeon bingung.

“Yah, kau juga tau kan akhirnya. Buat apa diperpanjang. Sudahlah, aku mau makan. Pembicaraan ditutup. Sana pergi, jangan menggangguku.” Ucapku sedikit ketus.

Maaf saja ya, aku hanya tidak ingin yeoja itu menggodaku lebih lama lagi. Lagi pula makanan kami sudah datang.

“Hah! Aku diusir bahkan dari hotelku sendiri. Terserah padamu lah.” Ucapnya pasrah.

Hwayeon segera beranjak dari duduknya kemudian bergerak menuju lift. Tapi, mendadak dia berbalik dan kembali menghampiri kami.

“Emm…Kyuhyun-ssi?” panggilnya.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Itu, aku…Aku lupa membawa kartunya, tertinggal dikamar. Aku tidak bisa menggunakan lift jadinya. Bisakah aku meminjam kartumu?“

Haish… kukira ada masalah yang berat ternyata hanya masalah kartu akses?

“Kebiasaan..” desisku.

“Hah, baiklah. Lebih baik kita kembali bersama. Aku juga ingin tidur. Kajja.” Ucap Kyuhyun seraya mulai berdiri.

“Kalian tidak berniat tidur bersama kan?” tanyaku asal dengan suara yang cukup keras.

“Sembarangan saja kau ngomong eonni. Masa kami tidur bersama?! Kau gila ya?! Hiih!” omel Hwayeon.

Memangnya salah? Aku kan hanya bertanya..

Hwayeon dan Kyuhyun segera berlalu menuju lift dan menghilang dari pandanganku ketika pintu lift tertutup.

“Um.. Tae, setelah ini kita akan kemana?” tanyaku pada Taehyung.

“Entahlah. Kau ingin kita kemana? Jalan-jalan ke luar hotel?”

“Ide yang bagus!”

Setelah selesai makan, kami mengunjungi beberapa tempat yang menarik di sekitar hotel dan membeli beberapa barang-barang yang lucu..

Ketika sudah puas berkeliling, kami pun kembali ke hotel. Padahal aku masih ingin bersamanya.. tapi karena hari sudah malam dan juga kami harus menjaga kondisi tubuh karena launching hotel akan dilakukan dalam waktu yang dekat, jadi kami harus pulang. Sayang sekali. Untungnya, kamarku dan kamarnya bersebelahan.

Kukeluarkan barang-barang hasil jalan-jalanku bersama Taehyung tadi. Ada topi, baju, kalung, dan boneka..

Topi dan baju ini kubeli di toko fashion…

Kalung ini kubeli di tempat perhiasan…

Boneka ini…

Aku tidak membelinya…

Boneka ini adalah hasil dari permainan ambil boneka yang dimainkan Taehyung.

Dia hebat! Aku suka boneka ini.

Kupeluk boneka beruang coklat dengan pita merah ini dan membawanya menuju balkon kamarku.

Ketika keluar, aku mendapati Taehyung juga berada di balkon kamarnya dan dia tampak tengah menelpon seseorang. Aku tidak tahu siapa..

Tapi sepertinya aku mendengar dia menyebut..

…Yoonhee…

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s