Finnaly find my love #100DaysOurBlog (HwaYeon side) – Part2

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family.
Rating: G
Length: chapter

Note:
Tadaaaaa… ketemu lagi dengan aku. Hehehe, ini dia part2nya. Pada penasaran ga nih? Hehehe, gimana gimana ff kita? bagus ga? Maaf ya kalo emank masih kurang memuaskan kalian semua para readersku tercinta. Kami udah berusaha semaksimal mungkin buat bikin cerita yang menarik buat kalian loh. Hm… Oke, cukup basa basinya. Ini ff kan lumayan panjang, jadi kita bagi jadi 10 chapter tiap sidenya. Tiap hari bakal kita publish satu persatu, jadi di baca ya. Kita bakal usahain bikin cerita yang menarik dan kok.Mohon dihargai, bikin cerita kayak gini susah soalnya, ga gampang. Kalo kalian juga author, kalian pasti tau kan. Nah jadi, mohon hargai karya kami. Kalo emank ga suka, jangan ngebash ya. cukup tekan tombol back di sudut kiri atas aja. Oke oke
Happy readings guys, annyeong ^^

 
 
 

-o0o-

 
 
 

Aku menyeret koperku dengan ribet. Biasanya Ravi oppa yang membawakan koperku seperti ini. Aku tidak pernah pergi jauh tanpa Ravi oppa sebelumnya. Aiiihssh!

Aku benar-benar kacau karena baru mempersiapkan segala keperluanku untuk di Jeju tadi pagi. Setelah sempat uring-uringan karena tertidur di dalam mobil Kyuhyun kemarin, aku langsung bergegas membersihkan tubuhku dan mempersiapkan keperluanku.

Well, aku tidak mengerjakan semuanya sendiri. Aku dibantu oleh Lee ahjumma dan Song ahjumma. Aku sempat ditegur oleh mereka karena selalu mempersiapkan sesuatu dengan mendadak dan terburu-buru.

Setelah semuanya siap, aku langsung minta di antar oleh Park ahjussi ke Incheon Airport. Aku tidak bisa menghubungi Kyuhyun karena aku tidak punya nomor ponselnya. Jadi ya, pasrah saja. Ketemu untung, kalau tidak yasudah. Mau bagaimana lagi?

Aku menoleh ke sana kemari sedari tadi, tapi belum juga menemukan dimana Kyuhyun berada.. Aish. Ribet sekali mau pergi saja. Tau begini, lebih baik aku pergi sendiri, kan jadinya tidak pusing seperti ini. Pake acara cari-carian segala. Hah~

“Hwaayeon-ssi! Disini!” aku menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang berada di depan coffee shop sambil melambai-lambaikan tangannya dengan tenang padaku. Aiiih, kenapa dia keren sekali? Padahal dia tidak melakukan apapun, hanya melambaikan tangannya saja.

Aiiigo.

“Penerbangan kita jam berapa?” tanyaku langsung, tepat saat aku sudah berada di depannya.

“Kita harus segera naik. Kajja.”

Aku mengikuti langkah lebarnya dengan susah payah. Astaga, apakah dia tidak sadar kalau kakinya itu sangat panjang?! Cepat sekali! Koper ini juga sangat menggangguku.

“Yak! Tunggu sebentar! Sadarkah kau kakimu itu sangat panjang? Santailah sedikit!” bentakku jengkel saat aku berhasil menyusulnya dengan tertatih tatih.

Duk!

“Akh, appo!” aku mengusap keningku pelan. Apa namja itu bodoh? Aku suruh dia berjalan pelan, bukan berhenti berjalan. Auuuugh, mengesalkan sekalii! Bagaimana mungkin aku menyukai namja seperti ini? Michindaeee!

“Aiish! Kenapa kau berhenti tiba-tiba? Sakit tau!” aku menghentakkan kakiku kesal. Dia malah memandangiku sembari menaikkan salah satu alisnya. Oh Astaga. Aku bisa gila. Orang ini benar-benar.

Dan apa? Ya Tuhan! Sekarang dia meninggalkanku? Gezzzz, awas saja namja itu.

Aku masuk ke ruang tunggu dengan perasaan kesal. Tidak terlalu kami menunggu, kami langsung naik keatas pesawat. Aku duduk tepat disamping jendela pesawat, sedangkan Kyuhyun berada di sampingku.

Kami berada di kabin yang cukup luas. Hanya ada 12 kursi disini. Tentu saja, ini kan kelas bisnis. Haaah, kabin ini benar-benar sangat luas jika mengingat hanya ada 12 kursi penumpang yang bahkan tidak terisi penuh.
Ada 6 kamar yang mungkin cukup luas di bagian kiri. Sedangkan seluruh kursi penumpang disini hanya ada di bagian kanan kabin. Kalau kami mau, kami boleh saja tidur di dalam kamar, tapi buat apa? Hanya ke Jeju saja masa harus menggunakan fasilitas kamar itu segala? Tidur di kursi inipun sudah sangat nyaman.

Belum lagi ada sebuah minibar di ujung kabin. Kudengar sih, makanannya sangat enak, tapi… masa bodo. Aku bisa makan di tempat lain. Makan di dalam pesawat hanya membuatku mual dan pusing.

Aku memasang headphoneku, melemaskan tubuhku dan menatap keluar jendela pesawat. Aku masih kesal pada namja yang sekarang sedang tertidur disebelahku. Dia sama sekali tidak minta maaf padaku. Aiiih, bagaimana mungkin ada namja sepertinyaaa? Begitu kami masuk tadi, dia langsung menjatuhkan dirinya di kursi lalu tertidur.

Aaah, aku mengerti sekarang. Tuhan kan menciptakan semua manusia dengan adil. Kalau wajahnya tampan seperti malaikat, sikapnya menyebalkan seperti setan *Hiiiaaaa dihajar Sparkyu -.-* Yayaya, mungkin seperti itu.

Aku memejamkan mataku. Menikmati lagu yang kini melantun memasuki indra pendengaranku. Menghanyutkan perasaanku.

 

 

changgae bureooneun gaeulbarameun teong bin maeumeul seuchyeo ganeunde
chagawojin byeoge gidaeeomeolli balgaoneun saebyeokhaneul baraboayo

Angin musim gugur yang berhembus ke jendela melewati hati kosongku
Aku bersandar di dinding dingin dan melihat langit fajar yang cerah.

bogo sipjiman gakkai gal su eobseo ijen geudae gyeoteul tteonagaya hae
oerowosseotdeon naui memareun geu du nune keugo ttatteutan sarangeul jueotdeon

Aku merindukanmu, tapi aku tidak bisa mendekatimu, aku harus pergi sekarang
Kamu, yang memberiku cinta yang besar dan hangat dalam kesendirianku.

geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul huhoehaljido moreujiman geudael saranghagi ttaemuniya
geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eobtjiman seulpeum soge geudael jiwoyaman hae

Aku mungkin menyesal meninggalkanmu, tapi itu karena aku mencintaimu
Aku tidak bisa melupakan bahwa aku mencintaimu, hanya kamu
Tapi, aku perlu menghapusmu dan kesedihanku

nunbusin haessal arae manheun saramdeureun useum jieumyeo geotgo itjiman
chagapgeman neukkyeojineun gaeul haneulcheoreom on sesangi natseolge boyeo

Di bawah sinar matahari yang cerah, orang-orang tertawa dan berjalan
Tapi seperti langit musim gugur yang dingin, seluruh dunia tampak asing

saranghajiman tteonal subakke eobseo jigeum i sungani neomu himdeureo
eoduwotjiman naneun al su isseosseo geudae nungae heureuneun nunmureul

Aku mencintaimu tapi aku harus meninggalkanmu, ini sangat sulit
Saat itu gelap tapi aku tahu bahwa air mata mengalir dari matamu

nan geudaeege sangcheomaneul jujiman eonjengan nae maeumeul ihaehal su itgetji

Aku hanya memberikanmu luka.
Tapi suatu hari, Kau akan memahami hatiku

geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul huhoehaljido moreujiman geudael saranghagi ttaemuniya
geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eobtjiman seulpeum soge geudael jiwoyaman

Aku mungkin menyesal meninggalkanmu, tapi itu karena aku mencintaimu
Aku tidak bisa melupakan bahwa aku mencintaimu, hanya kamu
Tapi aku perlu menghapusmu dan kesedihanku.

geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul huhoehaljido moreujiman geudael saranghagi ttaemuniya
geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eobtjiman saranghaneun geudaeyeo annyeong

Aku mungkin menyesal meninggalkamu, tapi itu karena aku mencintaimu
Aku tidak bisa melupakan bahwa aku mencintaimu, hanya kamu.
Tapi cintaku, selamat tinggal

(Wendy SM Rookies – Because I Love You)

 

Oh astaga, demi apapun. Kenapa lagunya sedih sekali? Rasanya ingin sekali aku menangis. Tapi masa aku menangis sekarang? Ini kan tempat umum. Tapi… arti lagu ini sungguh menyebalkan.

Kalau memang cinta, kenapa meninggalkannya? Siapa sih yang membuat lagu ini. Dia harus benar-benar menyedihkan. Membuat lagu sesedih ini, membuat yang mendengarnya ingin menangis saja.

Uuuugh, aku sensitive sekali. Aku baru menyadarinya sekarang, padahal sudah banyak orang yang mengatakan kepadaku sebelum, tapi aku tidak mau mendengarkan mereka. Tapi ternyata mereka memang benar. Aku memang sangat sensitive.

Aku sebal sekali dengan lagu ini. Hatiku seperti tercabik-cabik saat mendengarnya. Aku tidak mau kalau kisah cintaku harus berakhir seperti itu. Itu sangat menyakitkan dan menyeramkan. Aku tidak ingin meninggalkan ataupun ditinggalkan oleh orang yang kucintai.

Aku ingin cinta kami abadi. Kalau memang pada akhirnya kita harus berpisah, aku tidak ingin kami berpisah secara sepihak. Apapun alasannya, aku ingin tetap berada di sisi orang yang kucintai. Betapa sulitnya itu, betapa menyakitkannya itu. Aku tetap ingin bersamanya.

Aku tidak peduli jika bumi harus terbelah untuk memisahkanku dengan orang yang kucintai. Aku tidak perduli jika langit harus hancur. Aku ingin bersama orang yang kucintai. Selamanya.

Puk!

Aku menoleh kaget saat merasakan berat di pundakku. Kepala Kyuhyun sekarang sudah berada dipundakku. Ia masih tertidur. Aku bersiap memindahkan kepalanya tapi tiba-tiba dia bersuara, masih dengan mata tertutup.

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja” walaupun saat ini aku sedang mendengarkan music, suaranya tetap saja terdengar. Aku akhirnya mengangguk dan membiarkan pundakku menjadi tumpuan kepalanya. Jujur saja, kepalanya sungguh berat, rasanya pundakku keram, tapi aku tidak ingin menginterupsinya. Dia terlihat kelelahan.

Aku kembali menatap keluar jendela dan kembali terfokus pada music yang melantun di gendang telingaku. Lagu apa ini sekarang?

 

 

I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours
When he has the chance
Take you to every party
Cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done
When I was your man
Do all the things I should have done
When I was your man

(Bruno mars-When I was your man)

 

See? Lagu galau lagi. Astaga, semua yang terjadi pagi ini sungguh menjengkelkan. Bahkan music saja malah mmbuatku kesal. Ckckck. Ada apa denganku sebenarnya?

Kyuhyun sudah kembali duduk dengan tegak setelah mendengar pengumuman kalau pesawat sudah siap mendarat. Aku juga merapihkan rambutku sedikit lalu menunggu saat yang tepat kami akan keluar dari pesawat ini.

Aku dan Kyuhyun akhirnya berdiri dan ikut berdesakan keluar. Beberapa kali aku tersenggol orang dan hampir saja tersungkur jatuh kalau saja tangan Kyuhyun tidak melingkari pinggangku dan menahan tubuhku.

“Gomawo.” Gumamku canggung. Darahku selalu berdesir saat ia membuat kontak fisik denganku. Tiba-tiba kenangan saat ia tiba-tiba menciumku saat hendak ke rumah sakit semalam melintasi benakku. Oh oh, pipiku terasa terbakar!

Aku tersentak sadar kembali saat ia berjalan sambil menarik pinggangku turun dari pesawat. Bahkan saat sudah turun dari pesawat, ia tetap tidak melepaskan rangkulan tangannya dipinggangku. Kami jadi terlihat seperti pasangan muda yang tengah berbulan madu saat ini. Astaga.

Aku dan Kyuhyun berdiri berdampingan sambil menunggu koper kami. Saat sudah mendapatkannya, ia membawa kopernya dan juga koper milikku. Jadi kedua tangannya penuh dengan koper. Tangannya yang tadi merangkulku sudah berubah menjadi menarik kedua koper, sedangkan aku hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Aku tidak tau sebenarnya kami pergi kemana, tapi aku percaya padanya.

Jadi saat ia berjalan menuju parkiran, aku pun mengikutiinya. Kami berhenti didepan sebuah mobil sport berwarna kuning terang. Aku tidak tau ini mobil milik siapa. Kenapa kami berhenti di depan sini? Jangan bilang…

“Masuklah.” Aku melongo saat ia berjalan kearah belakang mobil, memasukkan koper ke bagasi, lalu masuk sendiri ketempar kursi kemudi.

“Kau tidak mau masuk?” tanyanya bingung dari dalam mobil, setelah membuka kaca bagian penumpang. Aku segera tersadar dan masuk ke dalam mobil. Dia membawaku menembus indahnya pulau Jeju kesebuah hotel yang kuyakini adalah SJ Hotel, hotel yang akan dilaunchingkan besok.

“Kita akan menginap disini selama beberapa hari kedepan. Password kamarmu 100100 . Kajja. Kita sudah ditunggu.” Aku hanya menurut dan mengikuti semua peintahnya. Saat ia memberiku kunci kamar pun aku hanya diam dan mematuhinya.

Kamarku dan kamarnya bersebrangan. Jujur saja, aku menyukai hotel ini. Sangat anggun dan terkesan ramah lingkungan. Aura yang terpancar dari bangunan ini berbeda dengan bangunan lainnya. Biasanya, aura yang terpancar dari sebuah bangunan hotel itu kesannya kaku dan arogan dan Jujur saja aku tidak meyukainya.

Tapi hotel ini, entahlah. Rasanya sangat berbeda. Arsitekturnya yang terkesan minimalis namun elegan semakin menambahkan kesan yang indah. Tidak hanya itu, hotel inipun sangat canggih.

CCTV terletak diseluruh penjuru ruangan, itu sudah pasti. Semua hotel juga pasti seperti itu. Tapi, berbeda dengan hotel lain, hotel ini memakai password sebagai kode kamar. Jadi semua tamu harus membuat passwordnya masing-masing saat di resepsionis. Kemudian mereka akan mendapat kartu sebagai akses naik turun lift, ah dan kartu itu juga diperlukan untuk di dalam kamar.

Di kamar, didinding tepat setelah pintu kamar ada sebuah tempat menaruh kartu. Dan kartu itu harus diletakkan disana agar semua lampu dan AC dapat berjalan dengan lancar. Tidak seperti hotel lain, kartu itu dilengkapi alat sensor khusus yang hanya bisa membaca kode yang berada di kartu itu. Jadi, kalian tidak akan bisa mengganti kartu itu dengan kartu lain. Kalau kalian mengganti kartunya, ya… siap siap saja berada dalam kondisi gelap gulita dan kepanasan karena AC akan mati secara otomatis.

Ah dan jangan lupa, ada alarm juga disetiap pintu kamar. Jika salah memasukkan password sebanyak 3x, maka alarm akan berbunyi. Dan jika alarm sudah berbunyi, para petugas pasti akan langsung mendekat ke lokasi. Jadi mustahil jika ingin melakukan kejahatan disini. Keamanannya ganda. Keren sekali pokoknya.

Setelah mengecek seluruh penjuru kamar, kurebahkan diriku diatas kasur. Kupejamkan mataku dan mulai beristirahat. Berleha-leha sejenak tidak masalah kan? Aku ingin berjalan-jalan di sekitar hotel. Aku juga harus menemui seseorang, yah itu yang Kyuhyun katakan tadi. Tapi aku lelah, jadi mungkin aku akan tidur sebentar, baru nanti pergi melihat-lihat.

Ahhh, lelahnya.

 

 

Ting Tong!

Aiiish, siapa sih yang menganggu tidurku?

Dengan malas aku beranjak dari kasur dan berjalan sempoyongan menuju kearah pintu. Dengan setengah sadar, aku membuka pintu kamar. Daaaan, Kyuhyun lah yang ternyata membangunkanku.

Dia berdiri di depan pintu amarku hanya menggunakan t-shirt dan celana pendek. Hm, sangat casual tapi dia tetap terlihat tampan dan menawan. Haah, aku bisa semakin menyukainya kalau begini caranya.

“Waeyo Kyuhyun-ssi? Aku lelah. Lebih baik kau kembali beberapa jam lagi.” Aku hendak menutup pintu setelah selesai mengucapkan kalimatku, tapi dia menahan pintuku dengan kakinya agar tidak tertutup. Aku mengerang lalu mendesis sebal.

“Aiiih wae?! Aku lelah! Kembalilah beberapa jam lagi! Aku ingin tidur!” bentakku kesal. Kucoba menutup pintunya, tapi pintu itu dengan bodohnya tidak mau tertutup. Aaaaaaaaaaaaaaargh, aku kesal!

Kutinggalkan pintu kamarku dalam keadaan terbuka, dan kembali ke kasur. Aku mengubur diriku didalam selimut dan mulai memejamkan mataku lagi. Huh! Kalau dia yang tidak mau pergi, aku saja yang pergi. Mudah kan?

“Uuuuuuuaaaaaaaaaaaaagh! Apa yang kau lakukan?!” teriakku histeris. Dengan spontan, aku memeluk lehernya dan mengubur wajahku diceruk lehernya. Dia mengangkatku dengan mudah. Apa dia gila? Aku ingin tidur, kenapa dia menganggu sekali?

Saat aku sudah selesai dengan keterkejutanku, tanpa berpikir aku menjitak kepalanya yang kebetulan berada dekat dalam jangkauan tanganku.

Tak!

“Auuuu, yak! Kenapa kau memukulku.” Teriaknya geram.

Karena kau menyebalkan. Kau mengganggu tidurku, karena kau terlalu tampan, karena kau selalu membuat jantungku berdetak cepat, dan karena kau sudah membuatku jatuh hati padamu!

Cup!

Aku melotot saat lagi-lagi dia mengecup bibirku. Apa-apaan dia itu?! Kenapa suka sekali membuatku terkejut dan kenapa dari kemarin dia menciumku terus? Siapa dia memangnya? Aaargh!

“Aku ingin mengajakmu berkeliling. Kajja. Lagipula, ada seseorang yang harus kau temui. Desaigner yang sudah membuat kamar hotelmu tampak indah. Mereka sudah menunggu dilantai bawah. Ayo.” Dia menurunkanku dengan lembut, lalu menggenggam tanganku dan mengarahkanku untuk keluar dari kamar.

Hei, tapi aku belum memperbaiki wajah dan bajuku. Pasti berantakan sekali, aduh. Bisa-bisa aku dikira habis diperkosa oleh namja disampingku ini. Tapi bodo amatlah, siapa yang berada disini memangnya? Hanya kolega-kolega bisnis ravi oppa. Mana berani mereka berbicara yang tidak-tidak? Well, kecuali mereka siap perusahaan mereka gulung tikar dalam hitungan detik.

Jantungku lagi-lagi berdetak cepat dan darahku berdesir. Aku memandangnya lewat sudut mataku, dan jantungku hampir melompat keluar dari dalam tuubuhku saat melihatnya tersenyum padaku. Aaah astaga, senyumnya sexy sekali.

Aku memandang pemandangan didepanku dengan seksama. Dia terus menjelaskan padaku tentang system hotel ini dll. Tapi sejujurnya aku tidak memperhatikan. Aku terpaku pada hamparan pohon sakura yang berada di halaman belakang hotel. Aku berjalan lurus kedepan tanpa menghiraukan Kyuhyun sama sekali.

Aku berjalan menuju tengah-tengah taman lalu memandang sekelilingku dengan takjub. Aku menyukai sakura, dan ini sangat indah.

Ah ya ampun, aku harap aku bisa membawanya pulang ke rumah. Ini benar-benar sangat indah!

“Apa kau menyukainya?” tanya sebuah suara disampingku. Aku mengangguk antusias tanpa sadar. Aku menengadahkan kepalaku ke langit lalu memejamkan mataku, menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali dengan perlahan.

Aku tersenyum saat ingatan-ingatan masa keciku mulai terlintas di benakku. Memori tentangku dan keluargaku yang tengah piknik ditengah hamparan pohon sakura dulu. Mengingat semua itu, aku jadi merindukan eomma dan appa.

Eomma… Appa… bogoshipoyo…

Aku lagi-lagi menghela nafas dalam lalu menghembuskan pelan-pelan dengan teratur, mencoba mengatur emosiku. Kemudian aku memuka mata dan menoleh. Ternyata Kyuhyun masih disni, tepat disampingku, dan memandangku dengan tatapan penuh arti. Kupikir dia akan mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba dia malah tersenyum dan beranjak pergi, meninggalkanku sendirian disini.

Aku terpaku dalam kesendirianku. Memandang punggungnya yang menjauh dengan perasaan bergejolak. Hmm.. ini seperti, déjà vu.

 

Aku berjalan menyusulnya saat ia hampir menghilang dari pandanganku. Aku tidak tau dia sedang menuju kemana, tapi aku tau kalau ini mengarah ke restaurant. Ada cukup banyak orang di restaurant saat ini. Sedang makan siang sepertinya, ini memang sudah lewat jam makan siang.

Aku mengikuti Kyuhyun dari belakang saat dia mengarahkan dirinya kearah sepasang orang muda yang juga sedang makan disini. Tapi, aku sepertinya familiar dengan wanita yang duduk disitu. Aku tidak bisa memastikannya karena yeoja itu duduk memunggungiku.

“Noona.”

“Eonni!!!!!” Otomatis aku berteriak kaget saat melihat orang yang tadi dipanggil Kyuhyun dengan sebutan Noona itu ternyata EunHye eonni. Kenapa dia ada disini? Kan acara pelaunchingannya masih 3 hari lagi? Rajin amat.

“Eh? Annyeong Hwayeon-ah. Kemarilah, duduk bersama kami. Kau juga Kyu.” Aku menurut dan duduk disamping EunHye eonni. Kutahan sebentar perasaan penasaranku dan lebih memilih namja yang sekarang berada di samping kiriku. Hm, namja ini cukup imut. Siapa dia ya?

“Nugu?” tanyaku spontan pada namja di samping kiriku ini. Namja itu memandangku dengan senyum kekanakan lalu tiba-tiba saja mengacak-acak rambutku yang memang masih sedikit kusut karena belum sempat ku sisir sebelum kesini.

“Aku Kim Taehyung. Panggil saja aku V oppa,adik manis.” Aku merona tanpa bisa kucegah saat ia memanggilku manis. Ya ampun, namja dari mana dia ini?

“Kim? Marga kita sama, oppa.” Ujarku sok imut. Aku mendengar Eunhye eonni mendengus disebelah kananku, tapi aku tidak peduli.

“Ne, marga kita sama. Hehehehe, kau benar-benar anak manis. Padahal kata Eunhye, kau yeoja garang.” Aku memutar mataku lalu mendelik pada Eunhye eonni yang berada di samping kananku, yang saat ini sedang pura-pura tidak memperhatikan.

“Ah, jangan dengarkan apapun kata Eunhye eonni. Dia memang begitu. Soalnya dia pabbo, gajauh beda sama Yoonhee dan Hyojin yang juga sama pabbonya.”

Tak!

“Auuu yak! Kenapa eonni memukulku! Sakit tau!” Aku mengusap kepalaku kesal sambil mengerucutkan bibirku sebal. Kenapa dia suka sekali memukul kepalaku? Aish, kalau aku amnesia karena sering dipukuli bagaimana? Kan dia juga yang rugi. Siapa lagi yang berani melawannya kalau bukan aku?

“Kau, tutup mulutmu magnae. Jangan mencoba menjelek-jelekkanku didepan namja chinguku sendiri.” Ujarnya datar. Haaaah, memangnya aku peduli?

“Apa peduliku? Memangnya kenapa kalau dia namja chingumu, lalu- tunggu, apa tadi kau bilang? Namjachingu? N.a.m.j.a.c.h.i.n.g.u?”

“Ne. N.a.m.j.a.c.h.i.n.g.u.! Karna itu, jangan menjelek jelekkan ku seperti itu, kecuali kau ingin mati ditanganku.”

“MWORAGO?!” teriakku shok. Aku memandang V oppa yang sedang nyengir kuda dengan horror.

“Kau, bagaimana mungkin oppa mau menjadi namjachingu Eunhye eonni?” tanyaku jail.

Tak!

“Yak!”

“Yak! Apa maksudmu. Kau memang benar-benar! Aish, bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan makhluk ajaib sepertimu? Yeoja aneh! Sinting!” aku meringis ngeri saat dia memandangiku sangar seperti itu. Kenapa berlebihan sekali? Aku kan hanya bercanda. Tidak perlu semarah itu.

“Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau tidak perlu marah seperti itu.” Ujarku malas sambil memutar bola mataku.

“Hah, terserahmu saja lah.” Ujarnya pasrah. Aku sih hanya tersenyum puas.

“Kalian sudah saling kenal?” tiba-tiba suara Kyuhyun membuatku menoleh. Ah, aku benar-benar melupakan kehadirannya karena asik menggoda Eunhye eonni tadi.

“Ne, kami sudah kenal. Memangnya kau tidak tau? Bukankah aku pernah memberitahumu kalau aku mengenal adik Ravi-ssi dengan baik?” tanyanya bingung. Kyuhyun sendiri hanya mengangguk-ngangguk acuh.

“Baguslah kalau kalian sudah kenal, aku juga malas memperkenalkan kalian. Nah, jadi HwaYeon-ah, ini Eunhye noona, dia yang sudah berjasa membuat hotel ini tampak indah.” Aku memiringkan kepalaku ke kiri lalu memandang Eunhye eonni bingung.

“Kau, desaignernya?” tanyaku bingung. Eunhye eonni sendiri hanya mengangguk singkat.

“Kenapa eonni tidak bilang? Tidak pernah cerita sama sekali. Kemarin juga, saat kita mengobrol di café, kau tidak membahas ini.” Tanyaku bingung.

“Yah, kau juga tau kan akhirnya. Buat apa diperpanjang. Sudahlah, aku mau makan. Pembicaraan ditutup. Sana pergi, jangan menggangguku.” Eeeeeh? Apa aku sedang diusir?

“Hah! Aku diusir bahkan dari hotelku sendiri. Terserah padamu lah.” Aku beranjak bangun dari kursi dengan malas lalu berjalan kearah lift.

Aku merasa…melupakan sesuatu.

Tunggu, astaga! Aku lupa membawa kartunya. Jadi sekarang bagaimana bisa aku menggunakan liftnya? Aiiih.

Aku kembali menuju meja Eunhye eonni, lalu menghampiri Kyuhyun dengan canggung.

“Emm…Kyuhyun-ssi?” panggilku ragu. Dia menoleh kearahku dengan kening berkerut.

“Ada apa?” tanyanya bingung. Aku menggaruk tengkukku bingung.

“Itu, aku…Aku lupa membawa kartunya, tertinggal dikamar. Aku tidak bisa menggunakan lift jadinya. Bisakah aku meminjam kartumu?”

“Kebiasaan.” Desis Eunhye eonni pelan, tapi masih terdengar cukup jelas olehku. Aku meringis, ini memang kebiasaanku.

“Hah, baiklah. Lebih baik kita kembali bersama. Aku juga ingin tidur. Kajja.” Aku hampir saja berbalik saat tiba-tiba suara Eunhye eonni menginterupsi langkahku.

“Kalian tidak berniat tidur bersama kan?” tanyanya lantang. Aku melotot horror, lalu menggeleng panic. Apa yang dia pikirkan? Enak saja dia ngomong! Aku bukan wanita seperti itu!

“Sembarangan saja kau ngomong eonni. MAsa kami tidur bersama?! Kau gila ya?! Hiih!” aku langsung dengan cepat berbalik pergi dan berjalan kearah lift sambil menghentakkan kakiku kesal. Wajahku terasa seperti terbakar, ya ampun. Bagaimana bisa dia- oh astaga!

Aku hanya diam saat Kyuhyun akhirnya menyusulku dan kami berdua naik ke dalam lift dalam diam. Aku melirik kearahnya lewat sudut mataku, dan aku melihat jejak senyum dibibirnya.

“Hwayeon-ssi.”

“Ne?” jawabku tanpa memandangnya. Jantungku berdebar-debar. Apa yang mau dia bahas?

“Aku…Nanti malam, maukah kau makan malam bersamaku? Emm, berdua?” aku memandangnya heran dan dia dengan cepat menambahkan, “Ah, ini bukan ajakan kencan. Aku hanya ingin kita sedikit mengenal satu sama lain ja-“

“Oke.” Potongku cepat. Dia terlalu cerewet.

“Apa?” tanyanya seperti orang bego. Sekuat tenaga aku berusaha menahan senyum yang hampir saja terbit dibibirku.

“Oke. Aku akan makan malam bersamamu berdua. Jam berapa kau akan menjemputku?”

“Jam7. Aku akan menjemputmu jam 7.” Ujarnya tegas sambil tersenyum kekanakan. Ya ampun, sebegitu senangnya kah?

“Baiklah, aku akan menunggumu di kamarku jam 7.”

Ting!

Aku segera keluar dari dalam lift, berjalan cepat kearah kamarku dan masuk dengan cepat pula. Dadaku menghangat dan darahku berdesir cepat.

Aku akan makan malam dengannya. Hanya berdua. Bagus, bagus untukmu Hwayeon-ah. Kau harus tampil cantik malam ini. Hah, aku tidak sabar menantikannya.

 

 
.

 

 

Aku mematut tubuhku sekali lagi dikaca.

Perfect

Aku hanya mengenakan celana jeans dan t-shirt putih. Aku juga memoles sedikit make up pada wajahku, agar wajahku terlihat lebih cerah. Aku juga mengenakan stiletto Jimmy Cho kesayanganku. Aku juga memasang anting kesayangku. Hmmm, cukup cantik.

Huh, aku gugup sekali. Aku mungkin memang sering kali melakukan dinner dengan lelaki lain. Tapi sekarang ada yang berbeda. Aku merasa tekanan yang berbeda di dadaku.

Ting Tong!

Aku menengkan deru nafasku lalu berjalan dengan hati-ahti kearah pintu. Aku membuka pintu, dan aku membeku.
Saat ini, Kyuhyun sedang berdiri dihadapanku hanya memakai t-shirt putih dan celana jeans panjang sepertiku. Hm, warna baju kami sama. Hehehe, jodoh sepertinya. Tapi, sungguh. Kyuhyun saat ini terlihat sangat tampan dan mempesona. Aku merasa ada yang berbedaa dengan dirinya. Entahlah, auranya terasa berbeda. Terasanya menyenangkan.

“Apa kau sudah siap?” tanyanya lembut membuatku tersentak bangun dari khayalanku. Aku mengangguk kaku sebagai jawaban pertanyaannya tadi.

“Kalau gitu, ayo. Kita pergi sekarang.”

“Tunggu, aku ambil tasku dulu.” Aku masuk kedalam kamar, membiarkan pintu kamarku terbuka. Toh, dia juga sudah pernah masuk kamarku tadi pagi kan.

Aku mengambil tas tanganku yang berada tergeletak di ranjang lalu berjalan cepat ke luar kamar dan menutup pintunya. Aku memandang tangan Kyuhyun yang terjulur, lalu menggenggamnya tanpa ragu. Dia juga membalas genggaman tanganku. Kami berjalan dengan tenang kearah lift.

“Kau…cantik.” Ujarnya seketika kami masuk kedalam lift. Aku menundukkan wajahku malu lalu menatapnya dari sudut mataku diam-diam. Wajahku semakin memanas saat aku melihat kalau dia juga sedang memandangku sambil tersenyum simpul.

“G-gomawo.” Ujarku pelan. Aduh, kenapa lift ini lama sekali?

Ting!

Nah, akhirnya sampai juga d lobbi. Kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Beberapa pelayan yang melihat kami hanya menunduk lalu cepat-cepat menghilang. Begitu juga dengan orang-orang lain yang kami jumpai. Kebanyakan mereka langsung cepat-cepat pergi, atau malah memandangi kami dengan tatapan aneh sambil tersenyum.
Kukira kami akan pergi makan di hotel, tapi ternyata dia mengajakku pergi ke café yang kebetulan letaknya tepat di samping hotel. Hmm, mungkin café ini harus kubeli juga. Kan lumayan, pasti untung banyak. Apa lagi tempatnya cukup strategis.

Aku ditarik Kyuhyun masuk ke dalam café itu, dan aku berubah kebingungan. Kenapa? Kenapa café ini sepi sekali? Tidak ada orang satupun disini kecuali pelayan yang sudah menunggu di satu-satunya meja yang terdapat lilin diatasnya.

Aku mengikutin Kyuhyun tetap dalam diam dan kebingungan. Kami duduk berhadapan, dan pelayan yang tadi menunggu kami langsung menghilang di balik pintu dapur. Aku memandang Kyuhyun dengan pandangan bertanya. Dia sendiri hanya meringis.

“Café ini milikku. Aku mengosongkan café ini 1 jam yang lalu. Aku tidak ingin acara kita diganggu oleh siapapun.” Katanya penuh makna. Aku mengangguk saja walaupun masih bingung.

“HwaYeon-ah”

“Ne?”

“Kita menggunakan banmal saja ne? Rasanya tidak enak jika kita terus bersikap formal. Aku tidak menyukainya.”

“Baiklah. Jadi, kita hanya berdua disini?” tanyaku bingung.

“Yaa, tentu saja. Apa kau bisa menemukan orang lain disini selain kita dan pelayan?”

“Ani.”

“Nah, itu kau sudah jawab sendiri.” Aku tersenyum ketika melihatnya tersenyum.

Kami saling berpandangan dalam diam. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara ataupun mengalihkan pandangan kami. Ya Tuhan, bagaimana mungkin kau menciptakan makhluk seindah dirinya? Aku menginginkannya.

“Ceritakan tentang dirimu.”

“Hah?” tanyaku bego.

“Ceritakan tentang dirimu. Apa saja. Aku ingin tau.” Ujarnya lembut. Aku memperbaiki dudukku dan kembali menatapnya. Oke. Baiklah kalau dia menginkannya.

“Well, tidak banyak yang perlu kau ketahui tentang diriku. Aku anak ke-2 dari 2 bersaudara. Ayahku Kim Youngwoon, eomma lebih suka memanggilnya Kangin sedangkan aku lebih suka memanggilnya Racoon. Sedangkan eommaku bernama Park -Kim- Jung soo, appa lebih suka memanggilnya Leeteuk sedangkan aku lebih suka memanggilnya Teuki. Emma dan appa sekarang berada di Canada dan baru akan pulang saat ulang tahunku bulan depan. Dan terakhir, oppaku, tentu saja kau sudah mengetahuinya bukan? Oppaku bernama Kim Wonshik, kami sekeluarga lebih suka memanggilnya Ravi. Dan yang terakhir aku. Kim Hwayeon. ”

“Aku saat ini berumur 23 tahun. Bulan depan umurku akan bertambah jadi 24 tahun. Aku kuliah jurusan bisnis, tapi aku tidak pernah bekerja. Satu-satunya hal yang kukerjakan adalah menjahili teman-temanku dan Ravi oppa. Aku memiliki beberapa café di Seoul, tapi kupikir itu hanya kujadikan asset. Aku juga memiliki beberapa aset yang tersebar di Seoul, Jeju, dan Nami. Aku suka menghabiskan waktuku dengan berkumpul bersama teman-temanku atau pergi ke kantor bersama Ravi oppa untuk membantunya. Kadang, kalau aku sedang merasa marah atau sedih, aku suka pergi sendiri kepantai dan menenangkan diri, atau mengubur diriku lama-lama di dalam pelukan Ravi oppa. Aku sudah mulai bekerja di perusahaan sejak minggu lalu atas perintah Ravi oppa, eomma, dan appa. Yah…hanya itu saja sepertinya. Tidak banyak yang perlu diketahui bukan?”

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum padaku.

“Apa yang kau sukai dan tidak kau sukai?”

“Hmmm, aku sangat menyukai pantai. Kalau aku boleh memilih, aku ingin pergi ke pantai bersama suamiku jika berbulan madu nanti. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama suamiku di pantai berdua. Bermalam di pondok yang berada di pinggir pantai, romantic kan? Aku suka sesuatu yang berbau romantic. Aku tidak suka sesuatu yang menyakitkan ataupun menyedihkan. Perasaanku sangat sensitive. Aku bisa saja tiba-tiba marah dan menangis disaat bersamaan, atau menangis dan tertawa I saat bersamaan.”

“Well, itu cukup seram.” Potongnya sambil tersenyum. Aku mengabaikannya dan melanjutkan.

“Sudah kubilang, aku sangat sensitive. Selain pantai, aku sangat menyukai bunga. Aku menyukai bunga sakura, sangat. Aku juga sangat menyukai buku. Aku ini sebenarnya novel holic. Hehehe, jika kau kekamarku, kau pasti bisa melihatnya sendiri. Aku punya perpustakaan novelku sendiri di kamar. Aku menyukai sesuatu yang berakhir bahagia, dan membenci sesuatu yang berakhir menyedihkan. Kenapa?”

“Entahlah. Aku hanya merasa, setiap orang pantas mendapat sesuatu yang indah di akhir. Aku benci binatang, kecuali binatang imut-imut seperti kelinci, anjing, dll. Aku tidak suka disentuh dan aku tidak suka diabaikan. Aku sangat egois dan kekanakan. Aku ingin, semua yang kuinginkan sebisa mungkin dituruti atau aku akan merajuk. Aku suka makan, tapi aku tidak suka baso dan daging. Aku benci daging karena aku tidak bisa mencernanya. Rasanya sulit sekali untuk dikunyah dan kutelan, jadi tidak, aku tidak suka daging, kecuali kalau daging itu sangat empuk dan bisa kucerna. Aku suka babi, tapi aku benci jeroan.”

“Wow, cukup banyak banyak yang harus diingat sepertinya.” Ujarnya sambil tersenyum geli. Aku menggendikkan bahuku tak peduli dan terkikik.

“Oke, karena kau sudah mau berbaik hati berbagi cerita. Aku juga akan menceritakan tentang diriku padamu sedikit.” Seorang pelayan datang dan meletakkan sepiring spagethi di hadapanku dan Kyuhyun. Aku diberikan milkshake vanilla hangat, sama dengan Kyuhyun juga.

“Kita akan melanjutkan sambil makan. Makanlah.” Aku mengangguk dan mulai memakan makananku sambil menatapnya yang tengah tersenyum. Kenapa dia senyum terus?

“Aku adalah anak ke-2 dikeluargaku, sama sepertimu. Aku punya seorang Noona, namanya adalah Cho Ahra, dia sudah berumur 29 tahun, sudah menikah dan saat ini sudah punya seorang anak perempuan berumur 2 tahun. Noona lebih suka memanggilku dengan sebutan Captain Cho atau little boy. Ahra noona saat ini berada di Jepang karena dia harus ikut dengan suaminya. Lalu eommaku yang cantik, namnya Kim -Cho- Heechul. Eommaku sangat cantik, tapi sama sekali tidak lembut.”

“Dia selalu memanggilku dengan sebutan bocah tengil atau setan. Lalu appa, namanya Cho Hankyung. Dia adalah sosok yang paling kukagumi dan kuhormati. Penmbawaannya sangat tenang tapi juga tegas, dia juga sangat menyayangi kami semua, terlebih eomma. Mereka saat ini tinggal di Seoul bersamaku, di mansion. Lalu, hanya satu hal yang aku suka. Aku menyukai game, dan aku sangat tidak suka jika ada orang lain yang menggangguku saat aku bermain game. Aku juga sangat pandai bermain ski. Aku memiliki julukan, ‘EvilKyu’. Diberikan oleh teman-temanku. Apa kau juga punya julukan?”

“Ne, tentu saja. Teman-temanku menjulukiku ‘Puteri Lidah Tajam’ ” ujarku malu. Ya ampun, ini aib namanya.

“Benarkah? Hahaha, lucu sekali.” Aku mengerucutkan bibirku sebal. Kenapa dia malah mentertawakanku? Julukan noonanya untuknya saja aneh. Little boy? Cih, little dari bagian mananya. Aneh sekali.

“Jangan melakukannya.” Aku memandangnya aneh. Melakukan apa maksudnya?

“Melakukan apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Itu, mengerucutkan bibirmu seperti itu. Jangan melakukannya lagi. Jangan melakukannya dihadapanku ataupun dihadapan lelaki lain. Mengerti?”

“Kenapa aku harus menurutimu?” protesku jengkel. Enak saja main suruh-suruh.

“Apa kau mengerti?” tanyanya lagi, sama sekali tidak memperdulikan protesan ku.

“Okey, terserahmu saja.” Ujarku pasrah.

“Bagus. Kau sudah menghabiskan makananmu kan? Kalau gitu, kita pergi sekarang.”

“Ne.”

Kyuhyun beranjak lebih dulu dariku lalu berbincang sejenak dengan salah satu pelayan. Kyuhyun sepertinya menginteruksikan pelayan itu untuk melakukan sesuatu karena yang dilakukan pelayan itu dari tadi hanyalah mengangguk-ngangguk.

Setelah selesai mengobrol, Kyuhyun akhirnya menoleh padaku dan membimbingku keluar dari café. Kami langsung kembali ke hotel, tanpa mampir kemana-mana terlebih dahulu. Kyuhyun mengantarku sampai dengan pintu masih dengan senyum tersemat di bibir sexynya.

“Selamat tidur, tuan putri. Semoga mimpimu indah.” Ujarnya sambil tersenyum geli.

“Semoga mimpimu juga indah, pangeran.” Gerutuku sebal. Aku hampir saja masuk ke dalam kamar sampai ia lagi-lagi memanggilku. Dengan cepat aku berbalik menghadapanya dan…

Cup!

“Selamat malam.” Ujarnya tiba-tiba lalu dengan cepat menghilang dibalik pintu kamarnya sendiri. Aku menyentuh bibirku dengan tanganku lalu tersenyum geli. Ada-ada saja namja itu.

“Selamat malam.” Ujarku lirih sambil menatap pintu yang tertutup itu. Aku berbalik lagi dan masuk ke dalam kamarku, menghapus make upku, dan mengganti bajuku dengan piyama.

Aku merangkak naik ke tempat tidur dan membaringkan diriku ditengah-tengah kasur sambil tersenyum tidak jelas. Aku merasa sangat senang hari ini, setidaknya aku sudah tau sedikit tentag namja itu, namja yang kusukai.
Huh, semoga saja aku bisa mengetahui lebih banyak nantinya. Hm… kalau begitu aku harus tidur sekarang. Aku ingin bangun pagi dan berkeliling besok. Hah, semoga saja besok bisa lebih indah dari hari ini.

Hmmmm, selamat malam pangeranku.

 

 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s