Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 2)

Title: Cure That Foolish
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)
o Kim Hyunwoo

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Knock knock

“Siapa?” tanya dari dalam.

Aku langsung membuka pintu itu.

“Wah.. dr.Jung, benarkan?” tanyanya antusias.

Aku menghampiri ranjangnya. Ravi tengah tiduran. Ikatannya sudah dibuka. Pasti yeoja tadi marah padaku karena pasangannya diikat seperti orang gila, tapi memang dia gila.

“Kata suster Lee kau mencariku kemarin. Waegeurom?” tanyaku ketus.

“Aku lapar.” ucapnya polos.

“Lalu?”

“Mau makan.”

“Belum buang angin, belum boleh makan.”

Ravi mempotkan bibirnya.

Knock knock

Kami berdua menatap kearah pintu.

“Dokter Jung, anda dicari direktur.”

“Oh, arraseo. Aku akan keluar nanti.”

Pintu kembali tertutup.

“Siapa itu?” tanya Ravi penasaran.

“Suster lah jelas. Kau tidak lihat apa pakaiannya?” Huft, dia benar-benar bodoh.

“Ohh.. lalu direktur itu?”

“Yang memimpin sekaligus empunya rumah sakit ini.”

“Ohh.. kau ingin dipecat?” dunganya cepat. Dia menunjuk wajahku sembari tersenyum menyebalkan.

“Cih! Kata siapa?” aku menangkis tangannya.

“Kau kan melakukan malpraktek padaku. Sudah pantas kalau kau di..”

Mulutnya ertutup saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“A-apa yang mau kau-kau lakukan?” tanyanya gelisah.

“Diam atau kutekan jahitanmu!”

Ravi membulatkan matanya, dan aku menatapnya dalam-dalam.

“Mau kemana lagi?” tanyanya saat aku berjalan mundur.

“Keluarlah. Jelas.”

“Tapi kau har..”

Klek

Aku menutup pintu kamar itu, lalu berjalan mendekati suster Kang yang sedang menunggu didepan.

“Huft.. Maaf lama suster Kang.”

“Gwaenchanha.”

“Apa appa ada di..”

“Sajangnim.” suster Kang langsung mengubah raut wajahnya, lalu membungkuk.

“Mwo? Abeoji..” aku perlahan menengok kebelakang.

“Yoonnhee! Dari tadi appa mencarimu.”

“A-ada pekerjaan yang harus aku lakukan tadi.”

“Sudahlah, ayo ikuti appa.”

Aku berjalan mengikuti appa yang berjalan lebih depan dibanding aku. Dan sampailah kita di kantin rumah sakit.

“Duduklah, appa akan memesan makanan. Kau ingin apa?”

“Ramyun dan tteokbokki!”

“Kau ini. Makan makanan yang seperti itu.”

“Hehe, aku juga mau lemonade. Gulanya setegah.”

“Arra, arraseo anakku yang cerewet.”

“Hehe..”

Aku tersenyum. Mengenang masa-masa saat aku bersama eomma dan appa. Berkumpul, tertawa, dan saling berbagi kisah. Aku bahkan sampai lupa, kapan terakhir kita berkumpul. Masalah pekerjaanlah kendalanya.

“Apa yang kau pikirkan Hee-ya?” tanya appaku lembut.

“Animida abeoji. Aku hanya sedang memikirkan abeoji dan eomeoni. Kapan-kapan kita makan bersama ya.”

“Appa sih boleh-boleh saja. Tapi kamu kan sibuk, kapan ada waktu?”

“Hemm.. bagaimana kalau nanti saat aku pulang seminar. Kosongkan jadwal operasi ya abeoji.”

“Arraseo. Makanlah, ramennya nanti dingin.”

“Ne. Aku akan makan dengan baik.”

Hri ini appa menyuruhku pulang cepat karena nanti malam aku harus terbang malam ke Jepang untuk seminar selama 2 hari.

“Apa yang harus Yoonhee lakukan saat luang seperti ini?” tanyaku saat memasuki mobil.

Yup, akhirnya aku putuskan untuk berkeliling Korea. Sudah lama aku tidak melakukan ini. Dimulai dari mengunjungi beberapa situs, berbelanja, dan akhirnya aku ada disini. Direstoran dipinggir jalan.

“Lime Mojito, tolong. Dan juga tuna mushroom. Kamsahamnida.” pesanku kepada seorang pelayan.

Aku menyandarkan tubuhku dan mengamati jalanan Korea yang semakin sibuk. Sampai akhirnya pandanganku harus kualihkan.

“Dasar anak zaman sekarang. Apa tidak punya tempat lain untuk berciuman?” tanyaku saat melihat sepasang insan tengah berciuman dibangku kota.

Aku menundukkan kepalaku dan kembali mengingat. Namjachingu terakhirku, kita putus saat dia masuk ke perkuliahan. Berarti itu sudah 10 tahun yang lalu?! Aku baru sadar, selama itu aku menjomlo?

Drtt drtt

Sederet angka yang tak kukenali mucul dilayar HPku. Kutekan saja tombol hijaunya.

“Dokter Jung!” panggilnya sedikit berteriak.

Aku sedikit menjauhkan HP itu, lalu mendekatkannya kembali.

“Nugusaeyo?” tanyaku penasaran.

“Ravi. Ravi Kim.” ucapnya bangga.

Aishh.. dia lagi.

“Apa yang kau mau?” tanyaku jengkel.

“Makan. Aku daritadi mau makan.”

“Sudah aku bilang. Belum buang angin belum boleh makan!”

Aku merasakan sesuatu yang aneh..

“Mianhamnida. Mianhamnida.” ucapku sembari membungkuk. Sial, aku lupa, aku sedang ada di restoran.

“Hahahaha!!! Pabbo!”

“Yak! Diam atau..”

“Atau apa? Tekan jahitanku?”

“Aishh.. jinjja. Kau dapat nomorku dari mana?”

“Tak sulit mendapatkan nomormu disini. Apa gunanya para suster?”

“Jinjja.. tutup teleponnya, dan hapus nomorku secepatnya.”

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh seorang pasien memiliki nomor dokter yang merawatnya?”

“Cih!”

“Maaf, pesanannya datang. Lime mojito dan tuna mushroom.” seorang pelayan datang, lalu menyodorkan pesananku.

“Kamsahamnida.”

“Sial. Kau makan?” tanyanya jengkel.

“Memang apa urusanmu?”

“Aku mau! Teganya k..”

Tut

“Berisik.” decakku dalam hati. Gara-gara dia, selera makanku berkurang. Tapi, ini mahal. Aku harus menghabiskannya.

Aku akhirnya pulang dai jalan-jalanku itu. Aku segera berkemas untuk pergi. Setelah menyiapkan segala keperluan, aku baru ingat sesuatu. Laporan-laporan yang harus aku bawa masih ada di rumah sakit.

Ini baru jam 8 malam. Dan pesawatku take off pada 11 malam. Aku segera ke rumah sakit dan mengambil laporan itu.

“Mianhae” suara samar-samar itu terdengar lagi dari kamar Ravi.

Aku berjalan mendekati pintu, dan kembali mengintip.

“Lakukan dengan benar, pabbo.” bentak Ravi cukup keras.

“Ne ne, arraseo pangeran.” Yeoja itu membasuh Ravi yang sudah telanjang dada. Astaga, mereka begitu intens. Ditambah mereka bercakap-cakap layaknya sepasang suami istri.

“Aaah, dia memang begitu. Biasa lah, orang tua. Banyak omong.” mereka berdua tertawa lepas.

Oke, ini sudah kelewatan.

Aku membanting pintu itu dan menatap mereka dengan tatapan mengintrogasi.

Baru aku sadari, yeoja itu…

“Omo, Hwa Yeon?!” ucapku tak percaya.

“Eeeh? Eonni? Sedang apa kau disini Kau tidak bekerja?”

Aku berjalan maju mendekati mereka.

“Ini aku sedang bekerja pabbo! Aku yang seharusnya bertanya! Apa yang kau lakukan disini pada pasienku? Kau mau memperkosanya?” bentakku.

Hwayeon melemparku handuk yang dipakai untuk membasuh Ravi.

“Yak! Kenapa kau melempariku handuk basah! Pabbo!” ucapku dengan nada yang mulai naik.

“Kau yang pabbo! Mana mungkin aku memperkosa namja sepertinya.” ujar Hwayeon sambil menunjuk Ravi oppa yang masih terbaring di atas kasur.

Aku mengangkat alisku sebelah.

“Dia itu oppaku eonni! Ravi oppa! Aiiih, kau jinjja, pabboya!” Hwayeon menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian melipat tangannya di depan dada dan memandangku dengan kesal.

Perlu waktu sampai akhirnya kata-kata itu dapat diserap otakku.

“M-mwo? D-dia? Tapi namanya Wonshik, bukan Ravi.” Hwayeon memutar bola matanya malas. Benar ternyata, aku ini pabbo.

“Yayaya terserah kau saja. Ah, kalau ada kau, aku pulang saja oke? Aku sibuk. Oh ya oppa, besok pagi aku harus pergi ke Jeju dengan CEO Cho corp itu, doakan aku ne? Aku gugup sekali!” Hwayeon berpamitan dengan Ravi.

“Ah jinjja? Arraseo, oppa doakan. Dan emmm, hati-hatilah selama disana.” balas Ravi.

“Arraseo, annyeong oppa, annyeong pabbo.” Hwayeon keluar dari kamar ini, meninggalkan kami berdua.

“Hahahaha!!! Pabbo!” Ravi menunjuk nunjuk wajahku yang perlahan memerah.

“Diam!” bentakku.

“Ternyata aku ada teman pabbo.. ekh, kau menangis? Wae?”

Aku tertegun mendengar perkataan Ravi tadi.

“A-ani!” ucapku tegar. Aku menyeka air mata yang mulai membasahi pipiku. Ternyata benar, aku menangis. Tapi kenapa?

“Dokter Jung, waegeurae?”

Aku menangis semakin keras. Entah apa sebabnya, tapi air mata ini tidak dapat berhenti. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku juga mengigit bibir bawahku agar isakkannya tidak terdengar, tapi apa daya, suara isakkan itu semakin keras.

“Yoonhee.. benarkan itu namamu? Wae? Kenapa kau menangis?” Ravi mulai menarik tangan yang menutupi wajahku.

“DIAM! Aku sudah bilang kau untuk diam kenapa kau terus menggangguku?!” aku melepaskan tangannya dengan kasar.

“Yoonhee.. Apa kau malu? Atau kau marah? Ada apa, cerita saja.” tanyanya melembut.

“Berisik!” bentakku makin menjadi-jadi.

Ravi menggernyitkan dahinya.

“Kau ini kenapa sih?” tanyanya pelan, namun heran.

“Kau yang kenapa?!”

Aku berlari keluar.

“Iya, aku ini kenapa?” tanyaku dalam hati. Aku mendudukan diriku disebuah kursi didepan kamar Ravi. Aku menyeka air mataku yang daritadi mengalir. Apa sih aku ini? Menangis tanpa sebab. Hey Yoonhee, sebenarnya untuk siapa sih air mata ini? Dan untuk siapa air mata ini sebenarnya?

Drtt drtt

“Yoonie!”

“Ta-taengi oppa..”

“Suaramu seperti baru menangis, wae?”

“Ani. Gwaenchanha.”

“Ada orang yang membuatmu marah? Jengkel? Malu? Sedih?”

“Ani oppa, gwaenchanha. Tolong lupakan masalah itu.”

“Arraseo. Dengar-dengar dari Jung ajjushi, kau akan pergi hari ini. Kemana?”

“Jepang, untuk seminar.”

“Woah.. Yoonie memang jjang!”

“Hehe.. ada apa menelpon Taengi oppa?”

“Oppa hanya sedang bingung.”

“Wae?”

“Ani. Gwaenchanha.”

“Aehh.. balas dendam ya.”

“Ani.. oppa ada urusan sebentar. Annyeong. Have safe flight.”

“Ne oppa. Annyeong.”

Aku menutup telepon itu. Hah.. aku sampai lupa tujuan utamaku ke rumah sakit.

Aku berjalan keruanganku dan mengambil laporan yang tertinggal dimeja kerjaku.

Oke, saatnya untuk pergi.

“Dokter Jung.” panggil suster Lee dilobby utama.

“Oh, suster Lee. Dinas malam?”

“Ne. Apa dokter mau pergi sekarang?”

“Hem.”

“Baiklah kalau begitu. Semoga sukses dan selamat sampai tempat tujuan.”

“Gomawo. Oh iya, suster Lee. Aku titip rumah sakit dan juga appa ya. Jangan sampai dia terlalu lelah.

Aku takut dia sakit. Dan juga titip semua pasienku ya. Aku mengandalkanmu.”

“Ne. Arraseo.”

“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong.”

Aku mengendarai mobilku meninggalkan rumah sakit. Bandara adalah tujuanku selanjutnya.

Aku menarik koperku memasukki bandara. Tiket dan passport sudah ada ditangan kananku.

“Yoonhee-ya.” dia menepuk pundakku dari belakang.

“Hyunwoo oppa..” balasku.

“Lama tak bertemu.”

Kami berdua tersenyum. Benar katanya, kita sudah lama tidak bertemu.

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya memulai percakapan.

“Begitulah. Cukup sukses sampai akhirnya bisa bekerja sama denganmu bukan?”

Dia terkekeh, aku sangat merindukan tawa itu.

“Apa yang aku lihat Yoonhee?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ani. Kalau kau, bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku balik.

“Begitulah. Cukup sukses sampai akhirnya bisa bekerja sama denganmu bukan?”

“Aeh.. jangan ikuti kata-kataku! Kebiasaan.”

“Masih ingat ternyata.”

Kami berdua kembali tekekeh.

Banyak yang kami bicarakan, sampai akhirnya panggilan maskapai penerbangan kami diumumkan.

Kami berjalan masuk ke pesawat. Kelas bisnis, ini tempat kami. Aku duduk dekat jendela sedangkan Hyunwoo disebelahku.

“Jadi, apa kau sengaja ke Korea untuk menjemputku?” tanyaku saat pesawat sudah mulai terbang.

“Ani. Aku sudah kembali tinggal di Korea 2 bulan lalu.”

“Kenapa kau tidak mengabariku?”

“Aku tahu kau sibuk, jadi aku urus saja sendiri.”

“Oppa ini. Dimana kau tinggal.”

“Tak jauh dari Seoul Hospital. Itu rumah sakitmu kan?”

“Ne.”

“Itu akan menjadi tempat kerjaku.”

“Jinjja? Kenapa appa tidak memberitahuku ya?”

“Aku bilang pada appa agar dia tidak memberitahumu dulu.”

“Kau ini. Membuatku menjadi sangat bodoh didepanmu.”

“Memang.” Hyunwoo mengacak-acak rambutku.

“Masih tetap pabbo..” dia menggantungkan kalimatnya.

“..polos..”

“..lugu..”

“..dan manis..”

“Akh, sudahlah. Aku ingin tidur.” aku menyudahi suasana canggung ini.

“Selamat malam kalau begitu, Yoonhee.”

“Ne Hyunwoo oppa. Selamat malam.”

Aku mulai memejamkan mataku, dan sampai akhirnya semuanya benar-benar gelap.

Aku merasakan tangan Hyunwoo menutup jendela disampingku. Aku juga merasakan selimut yang Hyunwoo pakaikan padaku mulai membuat tubuhku hangat. Dan ada lagi yang hangat..

“Saranghae Yoonhee-ya..”

Cup

Pipiku..

Tak lama Hyunwoo memelukku , lalu tertidur.

Sungguh, aku tidak ingin suasana ini segera berakhir.

—TBC—

Advertisements

2 thoughts on “Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 2)

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s