Find My Love #100thDaysOurBlog (HwaYeon side) – Part1

Title: Finnaly find my love Part1 ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family.
Rating: G
Length: oneshoot

Note:
Okeey, ini dia part1nya. dibaca ya, jangan sampe bosen soalnya ceritanya masih cukup panjang.
Maap juga kalo kurang puas sama alurnya, mohon maklum yah.. masih pemula, jadi masih harus banyak belajar.
Maap juga kalo misalnya ketemu banyak typo ditengah-tengah. Sekali lagi mohon maklum.
Omong-omong, makasih ya buat para readers yang bersedia kasih kita respon positif, ngelike post kita misalnya. kita hargain banget loh. Sekali lagi makasih, semoga kalian diberkati. Hehehe
Ah, ini kan FF project kita berempat, dan ff ini adalah side-ku. Kalau kalian mau, kaliam bisa baca side lainnya juga. Dipostnya barengan kok.
Sekali lagi makasih, jangan lupa comment ya.
Happy reading ^^

-o0o-

Aku memasukkan belanjaanku ke dalam bagasi mobil, lalu menjalankan mobilku menuju ke rumah. Rasanya lelah sekali, padahal kami kan hanya berbelanja.
Aiigo.

Haaah, aku benar-benar harus berolahraga mulai sekarang sepertinya. Tubuhku benar-benar sangat lemah dan uuuuugh, sungguh menjengkelkan. Mungkin aku harus meminta bantuan Ravi oppa untuk menemaniku berolahraga?
Hmmm.. yoga mungkin? Kkkk~ Kenapa aku malah ingin sekali melihat Ravi oppa mengikuti yoga dan memelintir tubuhnya tak jelas? Aaaah, pasti lucu sekali.

Drrtt Drrtt

Kuangkat telepon, dan menekan tombol speaker setelahnya.

“Yeobosaeyo, Nona muda…?”

“Ne?”

“Kabar buruk! Kabar buruk!”

“Ada apa ahjumma?”

“Tuan muda, anu. Sakit. Rumah sakiit.” Ngomong apa sih dia sebenarnya?

“Ravi oppa? Dia memang ada jadwal check up di rumah sakit. Tadi dia sudah pamit padaku ahjumma.”

“Aniiya!! Tadi tuan muda pingsan setelah beberapa kali mengeluh perutnya sakit.”

“Aaah, pingsan toh. Tunggu tunggu, pingsan? PINGSAN? PINGSAN kau bilang?! DIMANA DIA SEKARANG. CEPAT KATAKAN! OMOOOOOOO!!!!! Dimana dimana dimana.”

“Itu anu, di Seoul Hospital.”

“Seoul Hospital?! Itukan tempat Yoon Hee eonni bekerja?! Aiish, baiklah baiklah. Aku akan segera kesana.”

Tut!

Kumatikan telfon dan menyetir mobilku dengan panic. Aiiish, oppa sakit? Pingsan? Hello, Ravi oppa pingsan? Aaaah, dunia pasti sudah terbalik. Aiih!

Aaah, tapi apa benar? Bukan leluconkah? Ravi oppa kan menyebalkan. Apa dia sedang bercanda? Tapi, arrrghhh. Masa bercanda sampai segininya, ini sih keterlaluan namanya. Iiiish, oppa jeongmal pabboya!

-o0o-

“Dimana kamar pasien bernama Kim Wonshik?” ujarku cepat pada bagian apa ya? Resepsionis mungkin? Aah, tak taulah apa namanya. Aku sedang panik!!!

“Dimana kamar pasien bernama Kang Haneul?” ujar seseorang disebelahku dengan cepat pula. Aku menoleh, dan betapa terkejutnya aku, saat melihat kalau orang yang berada disebelahku itu ternyata adalah namja yang tadi kulihat di café! Wow, dunia memang sempit.

Eeeh? Kenapa malah jadi melantur begini? Aku kan sedang terburu-buru

“Aniya aniya, aku dulu. Dimana kamar Ravi oppa. Cepat beritahu aku!” cecarku sedikit panic.

“Ah itu-“

“Tidak tidak tidak! Beritahu nomor kamar Haneul lebih dahulu.” Aku menggeram saat ucapan suster yang sudah hampir menjawab pertanyaanku terpotong oleh namja itu. Heol, kenapa namja itu menyebalkan sekali?

“Aku lebih dulu sampai! Cepat beritahu aku nomor kamar oppaku!” ujarku sambil melotot pada namja disampingku. Dia balas melotot padaku? HAH?! Dia pikir aku takut apa? Jinjja.

“Aku duluan!” geramnya dengan suara rendah nan sexy. Well, aku memutar mataku malas lalu kembali memandang suster yang sekarang menatap kami bingung dengan mata memelas. Hah, kasian juga suster itu kalau kupikir-pikir. Ahahaha.

“Sus, beritahu aku dimana kamar Lee Jun-“

“KAMI DULUAN!” ujarku dan namja disampingku berbarengan. Kami saling menatap dengan kesal, sampai akhirnya ia mengalah dan mengalihkan tatapannya terlebih dahulu.

Namja yang baru datang tadi menampilkan wajah ngeri saat memandangku. Alah, masa bodo. Apa peduliku.

“Cepat katakan! Dimana kamar oppaku!” ujarku geram. Susah sekali sih? Aku kan Cuma menanyakan nomor kamar Ravi oppa!

“Gadis ganas.” Aku mendelik saat mendengar namja itu menggumam. Tapi, aku memutuskan untuk memperhatikan suster saja, tidak ingin bertengkar lebih lanjut.

“emmm.. kamar VVIP no.1” nah gitu dong! Dari tadi kek! Membuang waktuku saja!
Dengan cepat kularikan tubuhku dari sana setelah menggumamkan sedikit permintaan maaf sekaligus terimakasih pada suster tersebut.

Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati Ravi oppa terbaring dengan wajah pucat dan kaki tangan terikat.
Kok dia diikat sih? Memangnya dia sakit jiwa apa? Dokter yang mengikatnya harus kutuntut sepertinya. Hmm, ide bagus. Haruskah?

Hmm. Kulepaskan ikatan kaki dan tangan Ravi oppa lalu duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang. Ada sedikit memar melingkar di pergelangan tangan dan kakinya berkat ikatan tadi. Huh, makluk tak berperasaan mana yang memperlakukan oppaku seperti itu? Lagi pula, masa pasien dari ruangan VVIP diperlakukan dengan kurang ajar seperti itu?

Aneh sekali. Semuanya aneh.

Hm, Berbeda dengan kamar inap biasanya, ranjang di kamar VVIP itu ranjang berukuran King Size. Ada 2 AC di ruangan ini. Hm, menurutku terlalu berlebihan, tapi tetap saja. Ini memang dibutuhkan. Aku ingin orang yang kusayang merasa nyaman, walaupun dia berada di rumah sakit. Yah, sebenarnya ini hampir terlihat seperti sebuah kamar hotel, yang memperjelas kalau ini adalah sebuah ruang inap hanyalah mesin-mesin yang tak kumengerti fungsinya yang berada tepat di samping kiri ranjang Ravi oppa.

Aku mendudukan diriku di kursi yang tersedia di sebelah ranjang Ravi oppa lalu merentangkan tanganku sejenak untuk merenggangkan tubuhku yang kaku karna kelelahan.

Lalu, aku melirik bungkusan bubur yang tadi diberikan oleh Lee ahjumma sebelum dia pulang.

“Tenanglah, oppamu tidak akan kenapa-napa. Dia hanya butuh beberapa istirahat. Nah, sekarang kau makanlah. Ahjumma sudah membuatkan bubur kesukaanmu. Kau pasti belum makan kan? Dihabiskan ya? Ahjumma pulang dulu.”

“Gomawo ahjumma. Ahjumma juga harus beristirahat. Aku akan kembali ke rumah besok pagi.”

“Arraseo, jaga dirimu eoh?”

“Arraseo. Gomawoyo.”

Aku tersenyum mengingatnya. Lee Ahjumma mengurusku dan ravi oppa dengan sangat baik. Sejujurnya aku merindukan Eomma dan Appa, tapi mereka terlalu sibuk di Canada. Yasudahlah.
Aku memutuskan unuk memakan bubur itu untuk menghilangakan perasaan laparku. Perutku kosong seharian, aku benar-benar belum memakan apapun dari tadi pagi. Satu-satunya yang masuk keperutku hanyalah Ice Cappucino yang tadi kuminum saat berada di café. Hah, aku benar-benar lapar sekarang.

Aku menghabiskan bubur itu dengan cepat, aku memakannya seperti orang yang tidak penah melihat makanan. Aku memakannya dengan sangat rakus. Aku lapar sih. Sampai akhirnya buburnya pun tandas, aku membuang bungkusannya di tempat sampah lalu kembali menepatkan diriku di kursi yang berada di ranjang Ravi oppa.
Aku menggenggam tangan Ravi oppa yang sedikit dingin lalu mengecupnya pelan.

“Oppa, kau harus bangun. Jangan tinggalkan aku sendiri ne? Aku masih membutuhkanmu oppa, apa jadinya aku tanpamu?” gumamku lirih. Aku merebahkan kepalaku diatas tanganku yang bertumpu di ranjang dan kehampaan mulai menghampiriku dan semua… gelap.

Aku terbangun akibat sebuah usapan di kepalaku. Kutegakkan tubuhku lalu merenggangkannya sejenak. Seluruh badanku terasa kaku. Aku mengucek mataku kemudian kembali membuka mataku dengan perlahan, membiasakan bias cahaya yang mulai menusuk retina mataku.

Dan pemandangan yang pertama kali kulihat adalah Ravi oppa dengan wajah pucat yang tengah tersenyum simpul.
“Kenapa kau tidur disini eoh? Pulanglah, kau pasti lelah. Tidur dalam posisi tadi selama semalaman? Mungkin kau harus melakukan massage? Badanmu pasti kaku.” Aku merasakan mataku panas, bisabisanya namja itu berkata seperti itu setelah membuatku panic setengah mati semalam? Dia benar-benar.

“Oppa kau! APA YANG KAU LAKUKAN EOH? PINGSAN? USUS BUNTU? TIDAK MAU DIOPERASI PULA?! YANG BENAR SAJA! KAU MEMBUATKU KHAWATIR! BAGAIMANA KALAU KAU TIDAK SELAMAT LALU KAU.. LALU KAU.. KAU..”

“ssshhh, tenanglah. Oppa selamat kan? Jangan berfikir yang aneh-aneh. Oppa tidak akan meninggalkanmu. Oppa ada disini kan, lihat? Oppa juga baik-baik saja. Kau terlalu khawatir chagi…” Aku diam saja saat Ravi oppa merengkuhku kedalam sebuah pelukan. Aku menangis dalam pelukannya, hah… sangat menenangkan berada di dalam pelukannya. Wanita yang akan menjadi istrinya, sangat sangat sangat sangat sangatttttttttt beruntung. Huuh.

“Chaaaaa, coba sini oppa liat wajahmu. Aiiigo, jangan cemberut seperti ini. Kau terlihat jelek kau tau?”

“Yakkkk!”

“Ahahaha arraseo, arraseo oppa bercanda. Nah sekarang. Pulanglah, beristirahatlah dirumah.”

“Eoh? Lalu urusan kantor bagaimana?” tanyaku bingung. Kalau dia ada disini, lalu aku tidur di rumah. Siapa yang bekerja? Jangan-jangan…

“Tentu saja oppa yang bekerja. Tuh, oppa sudah meminta assisten oppa untuk membawakan beberapa pekerjaan oppa.” ujarnya sambil menunjuk laptop dan ipad yang entah sejak kapan sudah berada di meja nakas di samping kanan ranjang. Aku menyipitkan mataku sembari menatapnya.

“Oppa, kau tidak akan berfikir kalau aku kan membiarkanmu bekerja dalam keadaan seperti ini kan?”

“Loh memangnya kenapa? Oppa harus bekerja. Ada rapat penting hari ini dengan perusahaan Cho corp. Aku harus memberitahu mereka tentang pengalihan proyek ini padamu bukan?”

“Biar aku saja yang urus. Oppa tidak perlu bekerja. Aku bisa kok tenang saja.” Ujarku sok tenang. Tapi, ah eotteokhae? Aku bahkan tidak mengerti bagaimana berjalannya sebuah meeting. Aiigo. Aku seperti mengumpankan diriku ke kandang buaya. Eomma, eotteokhae………..

“Eh? Kau yakin? Oppa saja. Oppa masih sanggup. Oppa bisa melakukan meeting itu lewat video call kok.” Aaah, memangnya bisa seperti itu? Aku tidak tau.

“Tidak! Tetap saja tidak bisa. Sudahlah. Oppa harus istirahat. Aku pergi ne? Jaga diri baik-baik. Aku akan kembali nanti malam. Annyeong.”

“Arraseo, annyeong.”

Aku keluar dari ruang rawat Ravi oppa dengan gontai. Tubuhku kaku, aku ingin sekali beristirahat dan melakukan massage. Kepalaku juga cukup pusing. Pelaunchingan hotel hanya tinggal dihitung hari lagi. 3 hari lagi. Dan aku bahkan belum membaca dokumen-dokumen yang kemarin diberikan oleh assisten Ravi oppa padaku. Ah ya Tuhan, apa aku mampu mengatasi hal ini?

Haaaah, kenapa masalah tidak ada habisnya begini? Apa salahku sebenarnya? Aku merasa tidak melakukan apapun yang jahat. Kenapa Tuhan malah menghukumku dengan hukuman menyebalkan seperti ini? Uuugh, sebal!

Ah, tapi yasudahlah. Kau harus menerimanya bukan Kim Hwa Yeon? Toh ini juga kau lakukan untuk menyenangkan oppamu satu-satunya. Huh, andai saja oppa tidak sakit… tanganku gatal ingin menghajarnya, mungkin aku bisa menundanya sementara sampai dia sembuh.

Hihihihi, Senyumku mengembang saat menyadari betapa konyolnya pikiranku. Haah, padahal ini masih pagi dan hari ini aku menjadi hari yang sangat sangat sangat panjang. Jja, lebih baik aku bersemangat.

Kim Hwa Yeon fighting!!!

Dan akhirnya disinilah aku, duduk di meja belajarku dikamar dengan laptop tepat dihadapanku, sedangkan berbagai dokumen sudah berhamburan tak tentu arah di seluruh permukaan mejaku. Sudah satu jam berlalu sejak aku pulang dan mulai mempelajari seluruh dokumen-dokumen ini.

Aku benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk mencerna semua hal yang tertulis di dalam dokumen. Sesekali aku menelpon Ravi oppa untuk bertanya hal yang tidak kumengerti, rasanya ingin sekali aku menyerah. Ranjangku berada tepat di samping meja belajar ini, jika saja aku tidak peduli dengan hal ini. Aku mungkin sudah merebahkan tubuhku di ranjang itu sejak satu jam yang lalu.

Aku memejamkan mataku dan mulai menyenderkan punggungku ke senderan kursi untuk menahan besarnya hasratku untuk segera menenggelamkan diriku dihamparan kasur yang entah kenapa terlihat sangat menggiurkan hari ini.
Aku ingin tidur. Tidak bisakah aku tidur sebentar, lalu aku akan mempelajari dokumen ini nanti? Aku lelah…
Aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan segala pikiran jahatku tentang menenggelamkan diri di hamparan selimut sutra di atas ranjang. Aku harus menyelesaikan membaca dokumen ini karena aku harus menghadiri rapat sore nanti. Uuuuugh, gedung tempat rapatnya jauh sekali lagi.

Ya ampun…

Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi dan mendengus keras. Bagaimana mungkin pikiranku bisa sekacau ini padahal hari masih sangat pagi. Bahkan dokumen yang harus kubaca baru keselesaikan seperempatnya. Masih banyak hal yang harus kulakukan dan kupelajari, dan aku merasa muak karena itu.

Sebenarnya, semua tentang pekerjaan ini… aku mengerti sebagian, tentu saja. Aku kan kuliah jurusan bisnis. Dari SMP juga aku sudah dijejalkan pembelajaran tentang bisnis oleh eomma dan appa. Aku mulai diajarkan tentang cara mengolah keuangan, memegang saham, dll. Aku muak sekali. Aku tidak suka dengan hal ini. Bekerja seperti ini, aku tidak bisa.

Aku merasa seperti terbelenggu jika aku bekerja seperti ini. Gedung kantor, pakaian resmi, sikap formal, itu sama sekali bukan diriku. Aku tidak suka dikekang, aku ingin bebas. Kuakui, aku punya jiwa yang liar dan bebas. Tapi untuk kali ini, untuk pertama kalinya aku mengalah dan menuruti semua keinginan eomma dan appa.
Saat Ravi oppa mulai menyuruhku aktif dikantor, aku menerimanya. Aku menjalaninya dengan cukup baik –kurasa-, aku hanya ingin menyenangkan Ravi oppa, eomma, dan appa. Sejak dulu, aku jarang sekali menaati aturan mereka, apalagi melakukan apa yang mereka suruh. Nyaris tidak pernah.

Tapi…hanya untuk kali ini. Benar-benar hanya untuk kali ini. Kalau aku benar-benar sudah muak dan aku tidak tahan untuk melakukan hal ini, aku akan berhenti. Aku akan mengatakannya dan Ravi oppa, emma, dan appa. Aku yakin mereka akan mengerti.

Yah, semoga saja sih.

Kriiieettt!!!

Aku menoleh kaget saat mendengar pintu kamarku berderit terbuka. Song ahjumma muncul dari balik pintu sambil membawa sebuah nampan berisi susu dan roti. Aku tersenyum hangat dan mempersilahkannya masuk.
Song ahjumma berjalan mendekatiku dan menyerahkan susu dan roti yang tadi dibawanya kepadaku. Au menerimanya dengan senang hati, lalu menaruhnya di samping laptopku. Saat ahjumma mau berbalik aku membanggilnya dengan manja.

“Ahjumma~” panggilku dengan suara mendayu. Hmm, rasanya aku ingin bermanja-manja sekarang. Dia berbalik dan seketika melempparkan senyum hangatnya padaku.

“Ada apa nona muda?” tanyanya lembut. Aku mengerucutkan bibirku sebal saat mendengar panggilan formalnya. Uuugh, aku tidak menyukainya.

“Panggil aku Hwayeon, ahjumma. Harus berapa kali aku bilang padamu, aku tidak menyukai panggilan itu.”

“hah, baiklah baiklah. Ada apa Hwayeon-ah? Kau terlihat kelelahan akhir-akhir ini. Beristirahatlah dengan benar, bagaimana kalau kau sakit?” Aku tersenyum senang mendengar nada menegur dalam suaranya. Sosoknya begitu mengingatkanku pada eomma. Dialah yang menggantikan posisi eomma sejak beberapa tahun yang lalu, saat eomma dan appa memutuskan untuk pindah sementara ke Canada untu mengurus bisnis mereka disana.

“Hehehe, aku memang lelah sekali ahjumma. Banyak sekali pekerjaan. Huh, aku tidak tau bagaimana mungkin Ravi oppa dan appa bisa tahan mengerjakan pekerjaan sebanyak ini setiap hari. Kalau aku yang mengerjakan ini setiap hari, aku yakin aku bisa berakhir di rumah sakit jiwa.” Jawabku asal. Aku tersenyum kembali saat melihat Song ahjumma lagi-lagi melemparkan senyum hangat padaku.

“Jangan mengeluh terus. Jalani saja, lumayan kan, hitung-hitung belajar. Jjja, sekarang kau makanlah. Beristirahatlah sebentar jika kau sudah selesai dengan semua pekerjaanmu. Aku takut kau akan tumbang seperti oppamu jika kau terlalu memforsir dirimu. Arraseo?”

“Ne, ahjumma~” aku memandang Song ahjumma yang mulai berjalan kearah pintu lalu menghilang dengan senyum senang. Setidaknya ada yang mengkhawatirkanku.
Aku memutuskan untuk menghabisi susu dan roti yang tadi dibawakan oleh Song ahjumma lalu dengan cepat menyelesaikan seluruh pekerjaanku. Aku tidak tau berapa banyak waktu yang kulewati, saat aku selesai. Tau-tau hari sudah siang.

Aku segera memutuskan untuk tidur sebentar setelah membereskan pekerjaanku itu. Aku mungkin memang terlau memforsir tenagaku sejak kemarin. Jadi sekarang aku butuh istirahat jika ingin semuanya berjalan dengan lancar saat rapat nanti. Huh, semua dewi keberuntungan menaungiku nanti.

Semoga…

-o0o-

Aku berdiri canggung di samping Cho Kyuhyun. Namja yang kutemui di café dan rumah sakit yang ternyata adalah CEO dari Cho corp. rekan bisnis oppaku, dan sekarang sedang bersamaku ditengah-tengah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa pria paruh baya dan sekarang tengah menatapku dengan kening berkerut.
Hmmm, dunia memang sempit. Kalau dihitung-hitung, ini adalah ketiga kalinya aku bertemu dengannya. Bertemu tiga kali tanpa disengaja itu jodoh kan namanya? Hahahaha.

Tapi….

Aiih, eotteokhae? Aku malu. Juga takut. Malu karena sekarang aku sedang berada di samping lelaki yang diam-diam kukagumi, dan takut karena aku tengah dipelototi oleh banyak orang. Yah, kebanyakan sih lelaki paruh baya yang sudah tua. Aku harus memanggil mereka apa ya? Masa harabeoji? Dia kan bukan kakekku? Lalu ahjussi? Ah, andwae. Dia juga bukan pamanku. Lalu apa dong? Tuan? Hmm, boleh juga. Tapi kenapa aku malah lebih merasa senang yah disbanding takut? Apa karena Kyuhyun sedang berada disampingku? Mungkinkah?

Hmmm, apa dia juga menyukaiku ya? Eh tapi mana mungkin. Dia menyebalkan sekali saat berhadapan denganku. Atau sikapnya memang menyebalkan dari cetakannya? Ah entahlah. Aku pusing.

“Ah, tuan-tuan. Aku akan memperkenalkan rekanku. Kim Hwa Yeon, adik dari Pemilik sekaligus CEO YW Corp yang sudah sangat berjasa bagi kita dalam proses pembangunan hotel ini.” Aku tersentak saat suara indah nan merdunya berhasil membuatku terbangun dari berbagai fantasi yang mulai terbentuk di otakku.
Dengan cepat aku membungkuk hormat dihadapan mereka lalu memperkenalkan diriku dengan anggun dan sedikit percaya diri.

“Annyeonghasaeyo, Kim Hwa Yeon imnida. Saya adik dari Kim Wonshik, CEO YW Corp. Saya akan menggantikan beliau untuk menangani proyek ini.” Ucapku singkat dan sopan. Beberapa dari mereka ada yang mengangguk, tapi ada juga yang terlihat bingung.

“Memangnya apa yang terjadi pada beliau hingga harus digantikan segala? Launching hotel ini hanya 3 hari lagi. Kenapa dia tidak bertanggung jawab seperti itu?” ujar seorang pria paruh baya dengan raut sombong.

Heol.

Oh astaga, menjengkelkan sekali orang itu? Ingin rasanya kutendang wajahnya tapi, Tenang. Aku harus tenang. Aku sedang berada di ruang meeting. Tenanglah Kim Hwa Yeon.

Aku mengambil nafas pelan kemudian menghembuskannya perlahan. Aku memandangnya dengan sedikit jengkel, namun tetap professional. Cih, padahal aku ingin sekali menendangnya dengan higheels yang sedang kukenakan. Pasti lumayan sakit jadinya kalau kutendang dia menggunakan ini.

“Beliau sedang berada di rumah sakit. Beliau terkena usus buntu, kemarin sudah dioperasi tapi beliau harus berada di rumah sakit setidaknya 1 minggu, jadi beliau tidak bisa bekerja untuk sementara waktu,” ujarku tenang, tegas, dan sedikit berwibawa kkk.

“Ah, begitukah? Apa kau bisa diandalkan? Kau bahkan terlihat seperti gadis manja yang hanya bisa meminta tanpa berusaha sedikitpun. Apa kami bisa mempercayaimu?”

Aku mengepalkan tanganku saat lagi-lagi pak tua itu berulah. Oh oh, tidak bisakah kutebas saja lehernya biar urusannya kelar? Gezzz, aku ingin melumatnya sampai habis lalu kuinjak injak ke tanah. Auuuugh! Lelaki tua menyebalkan. Aku memejamkan mataku sejenak, lagi lagi mengontrol emosiku yang siap meledak dengan benar lalu kembali memandang pak tua itu dengan tajam.

“Oh tentu saja, saya adalah adik dari Kim Wonshik, CEO sekaligus pemilik perusahaa ke-3 terbesar di dunia. Apa kau pikir saya tidak bisa diandalkan?” tanyaku dengan suara manis dibuat-buat. Dia terlihat malu dan tidak bisa berkutik. Hah! Rasakan kau pak tua jelek!

“Baiklah, aku percaya padamu gadis muda. Kuharap kau tidak mengecewakan.” Sesaat kami beradu pandangan kembali, dan suasana di dalam ruangan langsung berubah menjadi mencekam. Lalu aku mendengar Cho Kyuhyun, namja disebelahku berdehem dan berhasil mendapatkan perhatian seluruh peserta rapat.

Selanjutnya, ia menerangkan beberapa hal tentang heem, sesuatu yang tidak kumengerti, mereka membahas tentang pengalihan saham, dan tetek bengeknya, walau tidak mengerti aku dengan berbaik hati memperhatikannya. Lihat baik-baik, memperhatikanNYA! Bukan ucapanNYA!

Rapat yang seharusnya berjalan hanya 2 jam, berakhir pada 2 jam lebih lama karna ada beberapa masalah yang untungnya bisa langsung dibereskan. Yah, bukan masalah rumit tentu saja karena namja disebelahku ini dapat dengan mudah mengatasinya. Hmmm, membuatku semakin menyukainya saja. Kkkk~

Ruangan yang tadinya ramai mulai senggang. Beberapa orang mulai menyalamiku dan sedikit mengobrol denganku. Beberapa pria muda yang menjadi peserta meeting pun seperti melakukan pendekatan terang terangan padaku, tapi tidak kutanggapi sama sekali. Aku tidak merasa tertarik pada mereka. Aku tertarik pada namja yang sampai sekarang masih setia berada di sisiku. Menjelaskan tentang segala hal yang berkaitan dengan pelaunchingan hotel ini dan sebagainya. Suaranya merdu sekali. Rasanya nyaman mendengar suara yang merdu itu.

Hah… andai aku bisa mendengar suara merdunya itu setiap hari. Aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi.

“Hei! Kau itu mendengarkanku tidak?”

“Eoh? Tentu saja aku mendengarkanmu.”

“Gezzz, baiklah. Kita harus pergi ke Jeju besok.” Ujarnya tiba-tiba dan tentu saja mengagetkanku. Apa-apaan? Besok?! Hiiih, baru saja aku memujinya kenapa dia langsung berubah menyebalkan. Mungkin aku tidak boleh memujinya. Haish!

“Apaa? Besok?! Aku belum bilang pada Ravi oppa. Aku juga belum membeli tiket dan sebagainya. Aku belum mempersiapkan apapun.”

“Aku sudah membelikan tiket untuk kita berdua. Aku juga sudah menelvon ravi hyung. Kalau kau masih tidak yakin, kau bisa pamit langsung padanya. Tapi kau tetap harus berangkat denganku besok pagi ke Jeju. Ada banyak hal yang harus kita urus. “ Aku mengangguk pasrah kemudian membereskan dokumen-dokumenku yang berceceran dimeja dan bersiap pulang.

Aku sudah cukup lelah hari ini dan tujuanku hanyaah satu. Rumah! Aku ingin pulang, dan cepat-cepat menenggelamkan diriku di kasur.

“Kau pulang sendiri?”

“Omo!” aku meloncat kaget saat tiba-tiba dia sudah berada di belakangku entah sejak kapan. Aku mengelus dadaku, kemudian memandang dia kesal, jengkel.

“Bisakah kau muncul secara normal tanpa mengejutkanku seperti itu?” gumamku kesal.

“Aku tanya, apa kau pulang sendiri Hwa Yeon-ssi?” aku memandangnya sesaat, bingung. Lalu aku menggeleng. Aku memang tidak membawa mobil. Tadi habis dari rumah sakit, aku pulang ke rumah untuk bersiap-siap dan pergi kemari naik taksi, jadi aku bisa beristirahat sejenak di taxi. Sudah kubilang kalau aku lelah.

“Ya. Aku akan pulang sendiri dengan taksi.” Dia menaikkan salah satu alisnya, sepertinya bingung?

“Aku lelah tadi, jadi aku tidak mau membawa mobil. Aku ingin beristirahat saat perjalanan kesini. Perjalanan dari rumahku ke perusahaanmu ini cukup jauh. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan tertidur dijalan lalu berimbas dengan kecelakaan.” Jawabku cepat. Dia mengangguk-ngangguk kemudian berjalan disampingku yang tengah berjalan keluar gedung. Aiiih, aku lelah. Kenapa rasanya pintu keluar itu jaraknya jauh sekali sih?
“Biar ku antar.” Aku menolehkan kepalaku dengan cepat. Kaget, bingung. Apa aku salah dengar? Dia mau mengantarku? Yang benar? Mungkin telingaku salah dengar?

“Apa? Kau bilang apa tadi?”

“Biar aku yang mengantarmu. Apa kau akan pulang ke rumah? Atau ada tempat lain yang ingin kau tuju?” aku memandangnya sakratis. Kesurupan apa namja itu? Padahal dari tadi sikapnya menunjukkan seakan-akan dia tidak peduli padaku dan menjauhiku layaknya hama. Sekarang dia malah beramah tamah, menawarkan mengantarkanku pulang pula. Apa dia berkepribadian ganda?

“Hei! Kenapa diam? Aku bertanya apa kau ingin diantar rumahmu.”

“Ah, aku tidak ingin ke rumah. Aku akan kerumah sakit. Aku mau mengunjungi Ravi oppa. Aku merindukannya.”
“Begitukan? Baiklah, aku antarkan kau ke rumah sakit. Seoul hospitalkan ? ayo, kebetulan aku juga akan menjenguk temanku. Kajja.”

Aku menurut saja saat ia menggandeng tanganku dan membawaku ke dalam mobilnya. Kami duduk dalam diam. Hening sekali mobil ini.

Sesekali aku mencuri-curi pandang melihatnya lewat sudut mataku, dan yang kudapat hanyalah bibirnya yang tengah mengulas senyum simpul.

Drrtt Drrtt

“Yeobeosaeyo?” ujarku pelan. Kulihat Kyuhyun menengok sebentar padaku, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada jalan didepan.

“Hwa Yeon-ssi. Bisakah kau kesini?”

“Eh? Aku memang sedang dalam perjalanan ke sana. Memangnya ada apa? Apa ada masalah? Ada sesuatu yang terjadi dengan oppaku?”

“Ah, anniya. Itu, emmm.. saya hanya ingin meminta bantuan anda HwaYeon-ssi. Tubuh pasien harus dibersihkan.”
“Ah benarkan? Lalu kenapa? Bersihkan saja.” Tanyaku bingung. Kenapa rebut sekali? Kalau memang harus dibersihkan yang bersihkan saja. Suruh saja orang itu mandi sendiri. Kan dia sudah besar -_-

“Aaah, itu dia masalahnya Hwayeon-ssi. Pasien harus dibersihkan. Dan dia menolak suster maupun dokter manapun untuk membantunya untuk membasuh tubuhnya. Dia bilang, dia hanya menginginkan anda untuk membantunya mandi, atau dia tidak akan mandi dan tidak mau perbannya disentuh. Jadi Hwayeon-ssi. Bisakah kau… memandikannya?”

“Mwoya? Memandikan?” pekikku ngeri. Aku berdehem saat Kyuhyun lagi-lagi menengok padaku dengan mata membulat besar. Ah, mungkin suaraku terlalu keras. Aku meringis menanggapinya.

“Ne. Pasien harus dimandikan. Emm, bukan dimandikan juga sih sebenarnya. Hanya dibasuh dengan handuk basah.”

“Ta-tapi, itu berarti aku harus membuka bajunya sus. Apa tidak ada dokter lelaki di sana?” tanya memelas. Oh ya ampun. Masa aku harus melakukan hal seperti itu pada oppaku sendiri? Memalukan!

“Pasien menolak dan bersikeras agar anda yang memandikannya. Bisakah? Saya mohon. Pasien harus dimandikan agar perbannya juga bisa diganti. Kalau perbannya tidak diganti, nanti jahitannya dan lukanya bisa terlepas dan terinfeksi. Kalau jahitannya terlepas itu artinya harus dijahit ulang, kalau luka infeksi, makanya harus operasi lagi. Kalau operasi lagi berarti har-”

“Aaah, baiklah baiklah. Aku akan segera kesana. Aku sudah dalam perjalanan. Terimakasih sus.” Aku mematikan teleponku kemudian memasukkan kembali ponselku kedalam saku celana. Aku duduk dengan tidak nyaman di jok mobil. Memikirkan aku harus memandikan Ravi oppa, membuatku merinding. Hiiih, melihatnya telanjang dada atau berpakaian minim sih memang sudah biasa. Tapi aku kan tidak pernah menyentuhnya dalam keadaan seperti itu. Kalau membasuhnya berartikan aku harus menyentuhnya? Yakan? Huaaaa, eotteokhae? Ah sudahlah, tidak perlu kupikirkan juga. Dia toh oppaku sendiri.

Aku menoleh kearah jendela kemudian memandangi langit yang penuh dengan hamparan bintang. Aku memejamkan mataku sejenak, menenangkan pikiranku dan juga jantungku. Dari tadi, jantungku tidak mau berhenti berdetak kencang. Saat bersama dengan Kyuhyun, jantungku selalu bekerja dengan tidak lazim, dan ini membingungkan.
Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya…

“Heii, bangunlah.. kita sudah sampai.” Aku tersentak saat sebuah suara masuk kedalam gendang telingaku. Aku menengok dan mendapati wajah Kyuhyun berada tepat dihadapanku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku. Oh astaga.

Aku diam, terpaku menatap matanya yang indah. Kami diam dalam posisi ini, dan entah siapa yang memulai… saat aku sadar, bibirku sudah menempel dengan bibirnya. Ia memejamkan matanya perlahan, dan dengan cepat aku menguasai diriku sendiri dan ikut memejamkan mata.

Kami berada dalam posisi ini beberapa detik, sampai kemudian ia menjauhkan wajahnya terlebih dahulu. Aku menghembuskan nafasku yang ternyata dari tadi kutahan, kemudian membuka mataku. Aku mendapatinya tengah tersenyum kearahku.

Pipiku terasa panas, aku menunduk dan mengaitkan jemariku yang terjalin dan bertumpu diatas pahaku. Dia meraih wajahku dan membawaku agar kembali menatap matanya. Oh astaga, aku bisa gila! Jangan menyentuhku dan jangan menatapku dengan pandangan sesexy itu!

“Lebih baik kita turun sekarang. Kajja.” What? Bagaimana bisa dia berikap seperti itu? Santai sekali? Padahal tadi itu ciuman pertamaku. Ciuman yang seharusnya kuberikan pada namja yang kelak akan menjadi suamiku.
Aku terhentak sadar saat ia sudah berada disampingku, membuka pintu mobil dan mempersilahkanku keluar. Aku lagi-lagi terpaku saat ia mengulurkan tangannya. Aku memandanginya lagi sejenak, lalu kuraih tangannya yang terjulur dengan ragu.

Ia menarikku keluar dari dalam mobil kemudian membimbingku menuju kedepan kamar Ravi oppa. Dia menggenggam jariku dan melemparkan senyum hangat padaku. Kami berdua berjalan dalam dian sampai akhirnya langkah kami terhenti tepat didepan pintu kamar ravi oppa. Kami berdua berdiri canggung tepat didepan pintu ruangan ravi oppa.

“A-aku… Terimakasih, atas tumpangannya, Kyuhyun-ssi . Aku akan menemuimu dibandara besok pagi.” Dia mengangguk canggung kemudian memasukkan tangannya kedalam saku. Kaitan tangan kami sudah terlepas tadi, dia sendiri yang melepasnya dan jujur saja itu mengecewakanku. Aku masih ingin menggenggam tangannya yang hangat itu.

“oke. Aku akan menunggumu besok. Berhati-hatilah saat pulang nanti, selamat malam Hwayeon-ssi.” Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh dengan perasaan campur aduk. Kenapa rasanya tidak rela melihatnya pergi? Padahal besok kami akan bertemu lagi.

Eeeh? Tunggu tunggu. Kenapa aku berpikir seperti itu? Kugeleng-gelengkan kepalaku, kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan Ravi oppa.

“Annyeong oppa.” Sapaku ringan. Aku meletakkan tasku di sofa yang ada disudut ruangan kemudian tanpa basa basi mengambil baskom kecil dan handuk yang sudah berada di nakas yang berada di sebelah ranjang Ravi oppa.
Kuambi baskom tersebut lalu membawanya ke kamar mandi dan mengisinya dengan air panas. Camkan, panas! Bukan hangat. Hahaha.

Aku keluar dari kamar mandi sambil membawa baskom berisi air panas itu lalu duduk di kursi yang berada di sebelah kasur Ravi oppa. Hmm, kursi yang menjadi hak patenku sepertinya.

Aku menaruh baskom itu diatas meja nakas, kemudian mulai mencoba melucuti piyama rumah sakit yang tengah dipakai Ravi oppa. Ravi oppa memandangku aneh, aku jadi tidak nyaman. Aku menoleh kearahnya dan bertanya.

“Wae?” tanyaku bingung. Dia menggeleng, kemudian menunjuk-nunjuk wajahku. Reflek, aku memegang wajahku, mengecek jika ada sesuatu yang aneh. Tapi, aku tidak mendapati apapun di wajahku.

“Apa ada yang salah dengan wajahku?”

“Ani, kau hanya terlihat berbeda.” Aku memandangnya bingung. Ada-ada saja Ravi oppa.

“Kau terlihat seperti orang… jatuh cinta.”

Uhuk uhuk

Aku terbatuk saat Ravi oppa mengatakan hal itu, bagaimana mungkin dia bisa menyadarinya? Aku bahkan tidak pernah memberitahunya apapun. Woooh, sepertinya dia juga sedang merasakannya. Hmm..

“A-apa maksud opa? Hahahaha oppa ada-ada saja. Jangan bicara yang aneh-aneh.” Aku dengan cepat membereskan acara membuka kancing baju Ravi oppa, kemudian mengambil handuk dan mencelupkannya kedalam baskom.

“Kau… sama sekali tidak bisa berbohong.” Ujarnya datar. Aiiih, aku memang tidak pandai berbohong. Well, entah aku yang tidak pandai berbohong atau dia yang terlalu mengenalku dengan baik. Tapi tetap saja, menjengkelkan sekali. Dengan kesal kuletakkan handuk yang baru saja kucelupkan air panas itu ke dadanya tanpa memerasnya.

Rasakan!

“Panas! YAK! Kau mau membunuhku ya?!” aku tertawa lalu cepat-cepat mengambil handuk panas itu dari dadanya dan memerasnya di baskom.

“Mianhae” aku tersenyum saat mengucapkannya, dan dia mengerucutkan bibirnya sok imut. Hahaha, sangat tidak cocok dengan image ‘sok’ tegasnya.

“Lakukan dengan benar, pabbo.”

“Ne ne, arraseo pangeran.” Aku tersenyum dan mulai membasuh tubuhnya sambil bercerita padanya tentang pengalamanku di kantor Kyuhyun tadi. Aku juga menceritakan padanya si pak tua menyebalkan yang tadi berada di ruang meeting. Ituloh, pak tua menyebalkan yang ingin kutendang itu.

“Aaah, dia memang begitu. Biasa lah, orang tua. Banyak omong.” Kami tertawa setelah ia selesai mengucapkan kalimat itu, dan tawa kami berhenti saat tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar.

Yoon Hee eonni..

“Omo, Hwa Yeon?!”

“Eeeh? Eonni? Sedang apa kau disini Kau tidak bekerja?”

“Ini aku sedang bekerja pabbo! Aku yang seharusnya bertanya! Apa yang kau lakukan disini pada pasienku? Kau mau memperkosanya?”

Eeeehhhh? Yang benar saja!

Aku berdiri kemudian melempar handuk basah yang ada di tanganku dan ups… itu tepat kearah mukanya. Hahaha rasakan! Makanya jangan omong aneh-aneh. Kkkk~

“Yak! Kenapa kau melempariku handuk basah! Pabbo!”

“Kau yang pabbo! Mana mungkin aku memperkosa namja sepertinya.” Ujarku sambil menunjuk Ravi oppa yang masih terbaring di atas kasur.

“Dia itu oppaku eonni! Ravi oppa! Aiiih, kau jinjja, pabboya!” aku menghentakkan kakiku kesal ke lantai yang dingin kemudian melipat tanganku di depan dada dan memandangi Yoon Hee eonni dengan kesal.

“M-mwo? D-dia? Tapi namanya Wonshik, bukan Ravi.” Aku memutar mataku malas. Pabbo sekali dia. Aiiih, status dokternya mungkin harus dipertanyakan kembali. Pabbo ckckck

“Yayaya terserah kau saja. Ah, kalau ada kau, aku pulang saja oke? Aku sibuk. Oh ya oppa, besok pagi aku harus pergi ke Jeju dengan CEO Cho corp itu, doakan aku ne? Aku gugup sekali!”

“Ah jinjja? Arraseo, oppa doakan. Dan emmm, hati-hatilah selama disana. “

“Arraseo, annyeong oppa, annyeong pabbo.” Aku beranjak keluar ruangan sambil tertawa cekikikan. Astaga, lihat wajah Yoon Hee eonni tadi, jelek sekali. Hahaha Payah sekali. Ah mereka sepertinya dekat. Bodo amat siih. Lebih baik aku pulang sekarang. Hmm.. pulang dan mempimpikan pangeranku? Kkkk~ gagasan yang bagus.
Aku berjalan santai kearah pintu keluar. Baru saja aku mau mencegat taxi, lagi-lagi aku dikagetkan oleh seseorang.

“Ah, kita bertemu lagi.”

“Oh astaga! Bisakah kau berhenti mengagetkanku?!” tanyaku geram. Hmm, aku memang sangat sensitive saat sedang lelah. Maklum saja.
Aku menoleh dan menatapnya tajam. Ia meringis ngeri kemudian mundur 1 langkah. Heol, apa aku semengerikan itu? ._.

“Errr, maaf Hwayeon-ssi. Kau tidak perlu seganas itu.” Aku melengos malas kemudian kembali memperhatikan perhatianku kearah jalan, bersiap keluar mencari taxi.

Tapi baru satu langkah aku berjalan,
“Hai, Hwayeon-ssi.”

“Aish! Apa lagi sih? Aku mau pulang!” jawabku gusar. Aku lelah dan ngantuk! Walaupun dia adalah lelaki yang kusukai tapi tetap saja! Aku mengantuk dan lelah, dan sudah kubilang kalau aku sangat sesitif saat sedang lelah!

“Biar aku yang antar.” Eeeh? Lagi?

“Eeeeh? Kau mau mengantarku lagi? Tidak perlu lah, aku bisa pulang sendiri. Ada taxi didepan sana. Kau pulang saja sendiri. Besok kita harus berangkat pagi bukan?”

“Tidak apa-apa. Tidak baik seorang wanita pergi malam-malam sendirian. Memakai taxi pula. Tidak aman. Lebih baik aku antar. Ayo.” Haaah, lagi-lagi aku pasrah saat ia menyeretku ke tempat parkir, dan membawaku memasuki mobilnya.

Ada sesuatu yang berdentum di dadaku saat ia memegang tanganku. Darahku berdesir cepat, namun dengan cepat pula kutepis semua itu. Ini sudah malam dan aku lelah, aku tidak mau begadang karena memikirkannya nanti, hiiih.

“Emmm, rumahku ada di jalan-“

“Aku sudah tau. Rumah kita searah, hanya berbeda beberapa rumah saja.”

“Mwo? Jinjja? Aku tidak tau.”

“Tentu saja kau tidak tau.” Aku mengerucutkan bibirku sebal mendengar jawabannya. Menyebalkan sekali. Seakan ddia mengerti bagaimana aku saja. Tapi dia memang ada benarnya. Aku bahkan hampir tidak kenal semua tetanggaku. Aaaah, aku harus berbaur lain kali.

Hmmm… Omong-omong bagaimana dengan besok ya? Aku penasaran….

-o0o-

Aku bangun dari tidur cantikku kemudian merenggangkan tubuhku sejenak. Aku duduk diatas kasurku lalu mengucek mataku perlahan. Haaah, lelah sekalii.

Aku mengedarkan pandanganku dengan bingung. Seingatku, terakhir kali, aku sedang berada di dalam mobil bersama Kyuhyun. Omo! Kyuhyun?! Lalu bagaimana bisa aku berada disini? Omo!!! Apa dia yang mengangkatku? Yang membaringkanku di kasur? Astaga!

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Bagaimana bisa aku tertidur di mobilnya lagi? Dan kenapa dia tidak membangunkanku saja? Aish, ini sungguh memalukan!

Pabboya Kim Hwa Yeon!

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s