Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Part 1)

Title: Cure That Foolish #100thDayOurBlog
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)

Genre: comedy, romance, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-13

FF special 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Mana pasien itu?” tanyaku dengan nafas tersenggal-senggal ketika bertemu dengan suster Lee.

“Ada disini.” suster Lee memanduku sampai ke ruang IGD.

Seseorang namja sedang berbaring kesakitan diatas ranjang. Darah segar mengalir dari kepala, tangan, dan juga kakinya.

Suster Lee menutup tirai disekeliling ranjang dan aku memulai tugasku.

“Suster Lee apa kau sedang bercanda?!” bentakku setelah penanganan tadi selesai.

“Mi-mian..hamnida. Ak-aku panik, jadi ti-tidak tahu harus a-apa..”

“Itu hanya luka-luka ringan tanpa luka dalam, pendarahan, ataupun kerusakan organ dalam. Yang paling parah hanya satu, keseleo pergelangan kaki. Dan kau menelponku, dokter ahli bedah?!” nada suaraku semakin meninggi.

“Dokter IGD juga sedang istirahat, aku tidak tahu harus apa.”

“Kau mengizinkan dokter rontgen dan juga dokter IGD istirahat, dan teganya membiarkan dokter bedah yang belum tidur 2 hari menangani masalah sesepele ini?!! Kau sudah bekerja disini berapa lama?!”

“Mi-mianhae..”

“Maafkan aku, kepalaku benar-benar sakit sekarang. Aku mau istirahat diruanganku.”

“Ta-tapi..”

“Apa lagi?!”

“Ada pasien yang mengeluh sakit perut tetapi kehilangan kesadaran saat perjalanan kemari.”

“Ck.”

Suster Lee menunjukkan seorang pasien berpakaian formal sedang berbaring tak sadarkan diri. Jas luar yang dipakainya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih dan juga dasi biru tua yang sudah dikendorkan.

“Orang kaya.” dugaku dalam hati.

Kaki jenjangnya ditutupi celana saten hitam. Cukup muda untuk berpakaian seformal itu. Muda, berintelek, kaya, seksi, dirumah sakit, sakit perut, pingsan, ehm.. sudah lupakan.

“Tekanan darah?” tanyaku mengalihkan semua pikiran aneh itu diotakku.

“130/92” jawab suster Lee cepat juga.

“Sakit perut?”

“Ne.”

Aku memasukkan stetoskopku kebalik kemeja yang dia kenakan.

“ARGHHH!!”

“YAK MWO-YA?!” aku langsung melepaskan stetoskop yang kupakai.

Aku berjalan mundur perlahan karena kaget mendapati pasienku yang tadi pingsan sekarang sudah sadarkan diri. Ditambah teriak-teriak.

“JAUHI BENDA MENGERIKAN ITU DARI TUBUHKU!!” teriaknya histeris.

“Yak igo mwo-ya? Kau tenanglah!” pintaku sembari berjalan mendekat.

“KAU DOKTER? KAU MENYEBUT DIRIMU DOKTER? JAUHI AKU, AKU BENCI DOKTER!!” dia mengacung acungkan telunjuknya ke wajahku. Tatapannya seakan sedang menghakimi.

“Bi-bisakah anda tenang..”

Aku mencar-cari nama yang ada dibagian bawah kasur ini.

“.. Ravi-ssi..?”

“ANDWE! AKU MAU, AW.. ARGHH..” keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Dipeluknya perutnya sendiri sembari menggertakan gigi.

“Waegeurae? Apa perutmu sakit?” tanyaku khawatir.

“AKU BILANG JANGAN MENEKAT! JAUH.. ARGHH!!”

“Aku akan membantumu.”

“INI HANYA SEMBELIT. SUNGGUH. JANGAN PEGANG, AWW!”

Aku menatap suster Lee dan beberapa suster yang baru datang karena keributan ini.

“Sekarang?” tanya para perawat.

“Ne.” suaraku tegas meyakinkan.

“MWO-YA! KAU MAU APAKAN AKU? LEPAS!!”

Beberapa utas tali melingkar erat dipergelangan tangan dan kakinya. Aku memegang perutnya. Mengabaikan segala rintihan dan teriakan yang memekakaan darinya. Dan aku mulai mencoba untuk mendiagnosa. Akhirnya aku dapat.

“Sediakan ruang operasi.” pintaku.

“MWO? APA SEMBELIT HARUS DIOPERASI?!” tanyanya dengan nada yang masih tinggi.

“Tenanglah Ravi-ssi..”

“KAU SURUH AKU TENANG?! KAU INGIN MEMBUNUHKU DALAM OPERASI INI?!”

“Suster Lee dan yang lain cepat siapkan ruang operasi untuk pasien kita yang satu ini.”

“ANDWE! LEPAS ATAU KUTUNTUT RUMAH SAKIT INI.”

“Silkahkan tuntut kami. Kami professional dan dilindungi hukum.”

Aku mengacungkan sebuah jarum suntik yang sudah berisi obat bius yang daritadi sudah kusiapkan. Sekali, aku langsung menusuknya di salah satu pembuluh darah di pergelangan tangannya.

“APA YANG KAU SUNTIKAN PADAKU? SUNTIK MATI?!!” tanya Ravi seakan ingin menangis.

“Bukan. Suntik kebiri.” jawabku jengkel.

“NEO! BERANINYA!!”

“Mian karena harus berbuat kasar padamu. Tapi kau adalah pasienku yang sangat “special”.”

Aku mulai mendorong kasur itu kedalam ruang operasi. Selama perjalanan aku menyaksikan bagaimana suara jeritan histeris seorang Ravi perlahan melemah dan akhirnya tertidur pulas akibat obat bius mujarabku tadi.

Sampailah kita diruang operasi.

Aku segera mempersiapkan operasi. Segalanya. Dari memakai baju operasi, mencuci tangan, melihat hasil cek Ravi dan berdoa, kebiasaanku. Berharap operasi ini berjalan seperti biasa.

Aku berjalan mendekati Ravi yang terbius di ranjang opperasi yang dingin. Kini dia hanya memakai baju operasi.

“Kita mulai operasi hari ini atas nama pasien Ravi Kim.” ucapku memulai.

Tanganku mulai bergerak diperut bagian bawah Ravi. Sudah kubilang dari awal. Muda, berintelek, kaya, seksi,… dia benar-benar seksi. Perutnya dihiasi kota-kotak berjumlah enam buah. Warna kulitnya yang coklat mengkilap membuatku terpana. Kunobatkan, dialah pasien terseksi selama aku menjadi dokter. Ekh, sudah. Ini operasi, aku harus konsentrasi.

“Huft.. terimakasih atas kerja keras kalian.” aku menyeka keringat didahiku setelah operasi itu selesai.

“Terimakasih dr. Jung.” ucap perawat serempak.

Aku keluar dari ruang operasi.

“dr. Jung, apa kau masih marah?” tanya suster Lee yang mengikutiku dibelakang.

“Sedikit.”

“Mianhamnida dokter, aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Gwaenchanha.”

Drtt drtt

“Abeoji!”

“Ada dimana? Apa sedang sibuk?”

“Ada dirumah sakit, baru saja selesai operasi tadi. Waegeurom?”

“Ke ruanganku.”

Aku menutup telpon tadi setelah mendapat perintah.

“Direktur?” tanya suster Lee bingung.

“Siapa lagi.” aku setengah berlari meninggalkan suster Lee.

Knock knock

Aku menatap pintu jati yang sangat gagah itu.

dr. Jung Yoonseok, Sp.BS.
Direktur

“Masuk.” perintah dari dalam.

Aku segera membuka pintu itu lalu masuk.

“Abeoji.” panggilku.

“Apa kau sudah menyiapkan segalanya untuk seminar?”

“Hem.” anggukku cepat.

“Apa yang terjadi dengan matamu?”

Aku memegang kedua mataku yang kelihatannya pasti mengerikan saat ini.

“Aku belum tidur.”

“Berapa lama?”

Aku menggigit bibir bawahku kecil.

“Dua?!” bentak appaku ketika mendapati aku mengacungkan dua jari kearahnya.

“Ne. Banyak pekerjaan.” jawabku membela diri.

“Apa karena seminar nanti? Jangan terlalu dipikirkan. Pulanglah sekarang dan tidur, besok kau boleh bekerja lagi.”

“Jinjja? Aku boleh pulang? Yey!!”

Aku segera keluar dari ruangan appa.

“dr. Jung!” suster Lee tergopoh gopoh menghampiriku.

“Suster Lee tebak..”

Suster Lee mengernyitkan dahinya karena bingung melihatku.

“Aku-boleh-PULANG! Yeyy!!” jeritku lepas.

“Aku turut bahagia dokter, tapi..”

“Tapi..”

“Pasien yang tadi sudah bangun.”

“Secepat itu? Kuat juga dia. Apa aku salah memberi dosis? Suster Lee, apa aku salah member dosis?”

“Animida, dokter. Kita melakukan semuanya sesuai dengan standard an ketentuan yang berlaku.”

“Fiuh.. baguslah. Aku pulang ya kalau begitu.”

“Tapi..”

“Tapi apa lagi?”

“Dia sedang mengamuk lagi sekarang.”

“Mwo?!”

“Dia tidak mau dipegang atau didekati oleh siapapun termasuk aku. Dia juga tidak mau diam dan mencoba untuk berlari. Aku khawatir kalau..”

“Aishh.. ayo kesana.”

Aku berlari ke kamar VVIP no.1 dan langsung membuka secara kasar pintunya.

“Ravi-ssi! Apa yang sedang kau lakukan?” bentakku ketika mendapati Ravi sedan berjongkok diranjangnya. Beberapa perawat ada disekeliling ranjang seaakan menunggu ayam agar tidak kabur.

“APA YANG KAU MAU LAKUKAN PADA PERUT INDAHKU INI, EOH?! KAU INGIN MENCURI ABSKU?!!”

“Kau baru saja operasi. Seperti yang kukatakan dari awal.”

“DARI AWAL AKU SUDAH BILANG. INI S-E-M-B-E-L-I-T. KENAPA KAU LANCANG? KAU MAU MEMBUNUHKU TANPA SEPENGETAHUANKU?!”

“Iya. Harusnya kulakukan selagi sempat.”

“YAK!”

“Kalau tidak dioperasi, perutmu akan tetap sakit. Usus buntu kecilmu itu akan meledak karena kelebihan muatan. lalu sampah-sampah itu akan mengotori bagian tubuhmu yang lainnya. Perlahan mereka akan busuk, lalu kau akan mati perlahan. Ravi-ssi yang matinya karena pembusukan bagian dalam tubuh akibat sampah yang menumpuk di usus buntu meledak.”

“YAK HENTIKAN!”

“Kau yang hentikan semua ini!”

“DIKIRA HANYA KAU SAJA YANG BISA LANCANG? AKU JUGA BISA!”

Dia akhirnya turun dari ranjang lalu melepaskan selang infus dengan paksa.

“LIHAT AKU!!”

Aku hanya bisa mencoba untuk tenang. Tapi darah segar perlahan membasahi baju rumah sakit yang dipakainya.

“Ra-ravi-ssi… perut…” ucapku lirih.

“MWO?” tantangnya.

Aku menunjuk perutnya dari kejauhan. Perlahan kedua matanya mengikuti ke arah itu.

“ARGHHHH!!!!!” teriaknya seakan ingin mati.

“Tenanglah dan cobalah untuk tiduran.” pintaku tergesa-gesa.

Aku menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU? LIHAT, SEKARANG AKU BERDARAH!”

“Tenanglah.”

“TENANG, TENANG! KAU BILANG KAU DOKTER.”

“Memang, makanya tenang, ada aku disini.”

“AKU AKAN MATI!!”

“Tidak. Aku ini dokter yang sudah berpengalaman.”

“BOHONG!”

“DIAM BODOH. KAU ADALAH NAMJA PENAKUT YANG SANGAT BERISIK. TIDAK ADA RUGINYA JIKA DUNIA KEHILANGAN DIRIMU YANG SEBEGITUNYA TAKUT MATI!”

“K-kau..”

“SEKARANG DIAM! SEKALI LAGI KAU BERTERIAK. KAU AKAN MATI DITANGANKU!”

Dia menutup mulutnya rapat-rapat lalu menatapku.

“Suster Lee, tolong ikat lagi pasien ini dan juga sumpal mulutnya.”

“Ne.” suster Lee dan beberapa perawat lainnya cepat melakukan seperti yang kutugsakan. Diikatnya kembali tangan dan kaki Ravi, lalu mulutnya diberi sumpalan kain.

“Bagus. Sekarang yang lain keluar.”

Semuanya mengikuti apa yang kuminta. Sekarang hanya ada aku dan namja berisik ini.

Aku membuka bajunya yang sekarang sudah basah karena darah.

“Hem..ah…rr..” gumamnya rancu.

“Diam! Lihat, karena ulahmu jahitannya lepas. Aku harus menjahitnya lagi.”

“RRR!” rontanya lebih keras lagi.

Aku menyiapkan benang dan jarum jahit, tak lupa alcohol dan juga betadine. Satu lagi hal yang tidak boleh kelewatan.

“Aku akan mulai menjahit. Sebagai ganjaran, aku akan memakai obat bius lokal. Sehingga kau bisa lihat, apa yang akan kulakukan padamu.”

“AA!!” rintihnya ketika aku mulai menjahit. Tidak sakit sebenarnya, tapi hal seperti ini akan meninggalkan luka psikis bagi pasiennya. Biarlah, biar dia kapok.

“Sudah selesai.” aku melepaskan kain penyumpal dari mulutnya.

“TEGA! KAU ADALAH YEOJA TERKEJAM YANG PERNAH KUTEMUI.”

“Dan kau adalah namja penakut terberisik yang pernah kutemui. Dan juga cengeng. Kau menangis.” aku menunjuk mata Ravi yang tidak besar namun berair itu.

“Ani!” bentahnya sembari menyeka air dari matanya itu.

“Terserah padamu tuan.”

Aku meninggalkan Ravi didalam.

“Sinting. Siapa juga orang tua yang bisa-bisanya melahirkan anak seperti itu.” hinaku dalam hati.

Drtt drtt

“Siapa lagi ini?” aku bertanya-tanya. Hari ini sepertinya aku sibuk sekali.

Sederet nama pemanggil masuk itu membuatku tersenyum.

“Taengie oppa, waegeurae?”

“Yoonie!” jeritnya antusias.

“Ne oppa. Wae?” tanyaku antusias juga.

“Ani. Aku hanya belum menelponmu hari ini. Sedang sibuk?”

“Tadi ada operasi kecil, tapi sekarang sudah selesai. Pasienku yang tadi itu benar-benar menyebalkan.”

“Jinjja? Sabar ya Yoonie.”

“Hehe, kalau oppa sedang apa?”

“Biasa, memikirkanmu.”

“Aish jinjja..”

“Apa kau akan pulang hari ini?”

“Molla. Tadi aku juga gagal pulang. Tapi izin dari appa sudah ada.”

“Kalau begitu, malam ini tidur dirumah baruku saja. Dekat kok dari rumah sakit.”

“Boleh?”

“Boleh, tapi kuncinya ada padaku.”

“Gwaenchanha, aku akan mengambilnya. Kau dimana?”

“Persiapan ke Jeju.”

“Mwo?! Jadi daritadi kau mempermainkanku?”

“Hehe.. mian.. apa Yoonieku ini sudah makan.”

“Akh betul, aku sampai lupa.”

“Mwo?! Kau lupa makan? selain suka lupa tidur, kau jadi lupa makan sekarang?”

“Aku terlalu sibuk untuk seminar nanti.”

“Yaampun Yoonie, sudah berapa hari kau belum tidur?”

“Dua.”

“Jinjja pabbo. Percuma kalau pinta tapi mata panda. Cantikmu meluntur nanti. Pergi istirahat sana.”

“Ne, aku akan tidur.”

“Baiklah, Yoonie sayang, annyeong.”

“Ne Taengi oppa, annyeong.”

Tut

“Taehyung oppa..” decakku dalam hati.

“dr. Jung, ayo kita operasi.” suster Lee menghampiriku.

“Akh benar. Kjja.”

Sekarang sudah pukul 17.35. Semua pekerjaanku sudah selesai hari ini.

“Mau kemana dr. Jung?” tanya suster Lee saat aku berkemas.

“Pulang.”

“Kalau begitu hati-hati. Selamat istirahat dokter.”

“Gomawo. Aku titip rumah sakit ya.”

Yes, akhirnya aku bisa pulang. Sudah kuputuskan, aku akan tidur.

Klek

“Home sweet home!” teriakku didepan pintu rumah. Akirnya aku bisa pulang juga. Aku membuka bajuku, lalu mengantinya dengan baju tidur.

Hahh… kuregangkan diriku diranjang.

“AKU MERINDUKANMU!” aku memeluk bantalku gemas.

Drtt drtt

“Ne..”

“Do-dokter.. kau sedang apa?”

“Kira-kira apa yang dilakukan orang saat jam 11 malam.”

“Ohh..maaf menganggumu. Tapi pasien itu..”

“Yang mana?”

“Yang sering mengamuk, Ravi Kim. Dia mencarimu.”

“Bilang aku mati.”

“Ta-tapi dokter, bisakah anda kerumah sakit.”

“Arghh!!”

“Mi-mian..apa aku salah bicara?”

“Ani.. aku dijalan.”

Aku berjalan gontai untuk berganti pakaian, lalu keluar.

Huft, si namja sialan itu mengganguku saja. Tapi tak apalah, setidaknya aku sudah tidur, walaupun cuma 6 jam.

“Akh aku kelupaan sesuatu.”

Aku mengambila teleponku. Maaf aku harus telepon saat mengemudi, ini sangat penting.

“Suster Lee, kau dinas sampai malam kan hari ini?”

“Ne. Waegeurom?”

“Aku daritadi belum makan. Bisa belikan aku tteokbokki, 6 cumi kerning dan juga satu pack coke kaleng?”

“Ne.”

“Aku mau saat aku sampai itu semua sudah ada. Aku lapar.”

“Arraseo.”

“Gomawo. Maaf merepotkan.”

“Gwaenchanha.”

“Dokter, ini pesananmu.” suster Lee menyerahkan satu keresek penuh berisi pesananku setibanya aku dirumah sakit.

“Gomawo.”

“Ne.”

“Ngomong-ngomong, pasien kita, Ravi Kim. Kenapa lagi dia?”

“Entahlah, dia mencarimu daritadi.”

“Oh.. baiklah.”

Aku berjalan ke kamar VVIP no. 1. Suara samar-samar terdengar dari dalam kamar. Aku berjalan mendekat dan mengintip dari pintu.

“ssshhh, tenanglah. Oppa selamat kan? Jangan berfikir yang aneh-aneh. Oppa tidak akan meninggalkanmu. Oppa ada disini kan, lihat? Oppa juga baik-baik saja.” Ravi memeluk seseorang berambut panjang yang tengah duduk disamping kasur.

“Chaaaaa, coba sini oppa liat. Aiiigo, jangan cemberut seperti ini. Kau terlihat jelek kau tau?”

“Yakkkk!”

Yeoja? Itu yeoja? Apa dia pacarnya? Istrinya? Eommanya? Atau pembantunya?

“Ahahaha arraseo, arraseo oppa bercanda. Nah sekarang. Pulanglah, beristirahatlah dirumah.”

Aku berjalan menjauh. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk masuk.

Aku meningalkan sepasang makhluk hidup itu, dan berjalan masuk keruanganku.

Kududukan diriku disebuah kursi besar yang empuk dibelakang meja kerjaku. Aku menyandarkan diriku nyaman. Kulipat tanganku dan mulai terpejam.

“Siapa yeoja itu?” timpalku dalam hati.

Knock knock

“Masuk.” perintahku.

“dr. Jung, ini laporan bulan ini.” suster Lee berjalan mendekati mejaku.

“Akh.. gomawo.” aku mengambil dua tumpuk map tebal dari tangan suster Lee.

“Suster Lee, aku mau tanya.”

“Apa itu dokter?” balasnya bertanya.

“Apa tadi Ravi Kim kedatangan tamu?”

“Iya, setahuku dua yeoja. Yang satu sudah tua, mungkin eomma atau pembantunya. Yang satu lagi masih muda.”

“Yang masih muda itu cantik tidak?”

“Hemm.. mengapa kau bertanya seperti itu dokter?”

“Aku hanya penasaran saja, siapa juga yeoja yang mau dekat-dekat dengan namja seperti itu? Sudah penakut, cerewet, payah, dan juga merepotkan.”

“Cemburu?”

“ANI!”

Suster Lee menatapku bingung.

“Mi-mianhae..” ujarku.

“Gwaenchanha.”

“Sudah, lupakan. Suster, sekarang temani aku makan ya.”

“Ne.”

15 menit berlalu sejak aku ke kamar Ravi. Mungkin sekarang yeoja itu sudah pergi.

Aku berjalan ke kamar VVIP no.1.

“Masih ada dia.” ucapku ketika mengintip dari pintu. Kudapati gadis itu masih ada didalam. Dia tengah tertidur, bersama Ravi. Dikira siapa dia? Seorang yeoja berani-beraninya tidur bersama namja, dikamar rumah sakit? Kukira keduanya sudah sinting.

Aku berjalan mundur dan perlahan menjauh.

“Dokter, apa kau ketiduran disini?”

“Hah?” suara suster Lee membangunkanku. Ternyata aku ketiduran diruanganku. Kapan aku berjalan sampai kesini?

“Ini sudah jam 5 pagi. Aku akan pulang, jadi tidak apa-apa ya dok jika anda melakukan pengecekan sendiri?”

“Gwaenchanha. Terimakasih atas kemarin, maaf merepotkan.”

“Akh, jangan sungkan dok. Annyeong. Fighting.”

Aku tertawa mendengar kata “fighting” dari suster Lee, seakan-akan dia sedang menyindirku yang tidak kuat menghadapi Ravi seorang diri, tapi itu memang benar.

Setelah mandi dan bersiap-siap, aku langsung menyusuri koridor rumah sakit. Pekerjaanku setiap pagi.
Melakukan inspeksi keliling.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku kepada korban kecelakaan kemari, Kang Haneul namanya.

“Sudah baikkan. Kapan aku bisa pulang?”

“Hari ini juga sudah bisa.”

“Kamsahamnida.”

“Ne, cheonma.”

Beberapa kamar sudah aku masuki. Sampai akhirnya aku tiba dikamar ini.

Knock knock

“Siapa?” tanya dari dalam.

Aku langsung membuka pintu itu.

“Wah.. dr.Jung, benarkan?” tanyanya antusias.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s