Romantic Waltz~~#100DayOurBlog- Hyo Jin side^^(Prologue)

Tittle   :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Choi Jonghyun (Changjo Teentop)

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Mr.Lee(OC)

Min Hae Won (OC)

PD Kim (OC)

Author  : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght  : Chapter

Ratt    : G

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

.

Prolog~

.

.

Suasana kota ini cukup ramai. Terlihat seorang yeoja yang sedang berjalan dengan waspada menuju sebuah cafe. Cafe Spicywings tepatnya. Yeoja itu memakai kacamata hitam dengan hoodie berwarna putih dan denim. Penampilannya terbilang casual tapi modis.

Ia berjalan sambil melihat waspada ke arah kiri dan kanannya seperti ada yang sedang mengejarnya.

Dan sekarang yeoja itu berhasil memasuki cafe yang ia tuju. Tak sengaja ia bertemu salah satu sahabatnya-Yoon Hee- dipintu masuk. Mungkin karna sedang menyamar, sahabatnya itu tidak mengenalinya sehingga ia menegur sahabatnya

*Hyo Jin POV*

Ah… Susah sekali menjadi artis yang sedang naik daun. Kemana-mana harus menyamar. Padahal aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku saja. Merepotkan.

“Yoonhee!” sapaku didepan pintu. Mungkin karna merasa terpanggil ia menengokkan kepalanya.

“Annyeong.” Balasnya singkat.

Kami berjalan masuk ke dalam, Eunhye yang sudah duduk di salah satu bangku dekat jendela sedang asik sendiri.

“Aku mau latte.” Pinta Yoon Hee  pada seorang waiters yang baru saja lewat.

“Aku mau spons cake.” Pintaku antusias. Aku lelah sekali jadi tak masalah jika aku makan sedikit banyak kan?

Tak lama pesananku datang. Yoon Hee menyesap lattenya sembari mendelik kearahku.

“Apa kau tahu acara persahabatan SJ Hotel itu? Aishh, Hwayeon benar-benar membuatku bingung. Lagipula dimana dia? Lama sekali sih?! Dasar maknae.”

“Yoonhee, waegeurae?” ia  menggeleng, lalu perlahan mengucek matanya-sepertinya ia belum tidur- terbukti dengan  lingkaran hitam dimatanya.

“Mian, aku terlambat. Tadi macet.” Ujar Hwa Yeon singkat.

Tanpa basa basi, Hwa Yeon menduduki satu-satunya kursi kosong yang ada meja ini. Tak  ia indahkan gerutuan kami, sebaliknya, ia mengalihkan pandangannya  pada waitress yang kebetulan sedang berjalan menuju ke sini sambil membawa buku menu ditangannya.

“yang biasa.” Ujarnya  singkat lagi.

Waitress itu sempat tertegun sebentar, kaget mungkin? Entahlah aku tak peduli juga.  Memang maknae ini sedikit aneh. Waitress itu kemudian tersenyum kepadanya sambil mengangguk kemudian membalikkan badannya.

Kami hanya bisa menatap Hwa Yeon dengan tatapan yang-entahlah-

“Jadiiii… Kenapa kita berkumpul sekarang? Kita baru berkumpul kemarin. Aku sibuk. Ravi oppa menjejaliku pekerjaan yang tak kumengerti. Oppa pabbo itu menyuruhku untuk mengurus perusahaan secara aktif dari minggu lalu. Aku pusing dibuatnya. Memakai kemeja, jas, rok sepan, oh my! Itu bukan gayaku sama sekali. Bayangkan saja, aku harus duduk mendekam di sebuah ruangan, membaca laporan tentang keuangan, saham, yaah apapun itu bersama orang orang yang tidak kukenal pula. Hello, mending juga aku be-“ Hwa Yeon memulai cerita legendanya lagi(?)

“Oke oke, kami mengerti. Maaf maknae. Aku cuma ingin bertanya tentang ituloh. Pesta persahabatan perusahaanmu yang diadakan setelah launching SJ hotel di Jeju itu. Kami bertiga mendapat undangannya. Aku ditugaskan mengisi acara di pesta persahabatannya. Aku bingung, aku dipasangkan dengan seorang pianis bernama err siapa itu? Changyun? Changhyun? Yah siapapun itu lah. Aku tidak kenal dengan lelaki itu. Lalu, kau minta aku bawakan berapa lagu? Terus lagu apa saja? Aku sudah menelfon assisten oppamu untuk bertanya, tapi aku disuruh bertanya langsung padamu. Memangnya kau yang menangani proyek ini? Kenapa kau tidak perna bercerita pada kami eoh?” Aku mulai menyaingi Hwa Yeon dengan perkataanku yang tak kalah pendek dengannya.

Ia menggaruk tengkuknya bingung.

“Apa kau yakin menelfon nomor yang benar eonni? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sj Hotel? Hotel mana itu? Aku tidak pernah dengar.”Hwa Yeon bertanya. Aku hanya dapat berpalm face mendengarnya.

“Mwoya? Tidak pernah dengar? Aku tidak mungkin salah menelfon, buktinya dia mengenalmu dan menyuruhku untuk bertanya padamu. Bagaimana sih? Mungkin kau yang lupa.” Aku mulai kesal dengan kepikunan maknae satu ini, semakin lama semakin menjadi#prayformaknae

“Yak eonni pabbo, sudah kubilang aku ini tidak tau. Kenapa kau memaksa sekali sih? Aku itu baru bekerja seminggu yang lalu. Mana bisa aku menangani proyek hotel dalam waktu seminggu. Memanganya SW hotel itu..” Hwa Yeon tak kalah emosi.

“SJ” gumamku membenarkan.

“Yaya, SJ hotel itu bisa dibangun dalam waktu 1 minggu? Kau itu aneh sekali eonni. Aku memang benar-benar tidak tau tentang proyek ini.” Hwa Yeon mulai surut emosinya. Dan kembali duduk dengan tenang.

“Tapi-“

Drrtt Drrtt

“Chakkaman.” Gumamnya  singkat pada ku.

“Yeo-“

“Yak bocah! Kemana kau?! Ini masih jam kerja! Cepat kembali kemari! Ada yang ingin aku rundingkan denganmu. Mendesak!” dapat kuprediksi kalau itu berasal dari oppanya yang katanya bernama Ravi itu.

“Mwoya? Bisakah kau ngomong dengan pelan? Kepalaku pusing mendengar suaramu yang jelek seperti bebek itu. Dan juga, aku tidak mau bekerja. Aku benci! Nan shireo! Jinjja shireo!” Hwa Yeon mulai ikut berteriak. Banyak pengunjung mulai memandangnya. Untung saja cafe ini sudah dibeli oleh Hwa Yeon. Jadi tidak ada yang protes.

“MWORAGO?! CEPAT KEMARI BOCAH!”

“A.N.D.W.A.E.”

Aku menutup kupingku. Ini terlalu berisik. Lebih baik aku tidak mendengarkannya. Setelah tidak terdengar teriakan aku melepaskan tanganku yang sedari tadi menutup telingaku.

“Kau pucat sekali.” Hwa Yeon  tersentak saat Yoon Hee tiba-tia bergumam seperti itu. Hmm, sangat teliti. Ahh, biasalah dokter.

“Eum. Aku hanya kelelahan. Banyak kerjaan, yah kau tau lah.” Ujarnya sambil memutar matanya malas.

Omong-omong. Tidak hanya dia yang kelelahan. Kami berempat, semuanya terlihat seperti zombie. Wajah pucat, kantung mata, tubuh lemas. Well, kami masih satu spesies berarti. Sepertinya…

“Jangan bekerja terlalu serius. Kau itu penyakitan. Kalau kau sakit, aku juga yang susah. Jadi lebih baik kau datang ke Rumah Sakit sore ini. Aku akan memberimu beberapa vitamin.” Ujar Yoon Hee tegas dengan mata sayu.

“Aku tidak mau ke Rumah sakit. Aku sibuk. Kau saja yang minum vitamin, kau lebih terlihat seperti akan mati 5 menit lagi pabbo.”

‘Ah, mulai lagi’

Mereka selalu bertengkar hanya karna masalah yang sepele. Lebih baik aku diam saja. Percuma dilerai.

“Kau! Pokoknya harus datang, aku akan menyeretmu sendiri.”

“Tidak! Aku tidak akan ke RS! Pembicaraan ditutup.”

“Yaiiish! Kau benar-benar. Ah terserahmu lah. Aku lelah, aku akan tidur. Bangunkan saja aku nanti.” Yoon Hee akhirnya menutup pertengakaran dengan dengkuran halus yang ia keluarkan. Ia sangat lelah.

Sejak tadi Eun Hye eonni dari tadi tidak bersuara karena sibuk menggambar. Katanya  dia punya klien baru.

Aku mulai lelah tapi tiba-tiba handphoneku berbunyi.

‘PD Kim’

Oh tidak, aku sedang tidak ingin berdebat lagi.Bisa-bisanya ia menelponku setelah menceramahiku 3 jam nonstop karna menolak kontrak sebuah iklan yang katanya akan membuatku semakin terkenal itu. Aish, tapi ya sudahlah aku angkat saja.

“Yeoboseo.” Ucapku malas.

“Ah, Hyo Jin. Kau sedang dimana? Apa kau sedang santai?” PD Kim terdengar bahagia sekali.

“Hmm… Aku sedang berada di cafe biasa. Sedang bersama chinguku. Waeyo? Anda terdengar sangat bahagia.” Entahlah aku sedikit penasaran.

“Kau tau? Partnermu sudah datang! Dia tampan sekali! Kau tidak akan menyesal dipasangkan dengannya. Oh ya ia akan datang ke gedung jam 15.00. bisakah kau datang? Hargailah kerja kerasnya.” Aku hanya memutar mataku malas.

“Kenapa aku harus datang? Anda kan bisa mewakiliku.” Tawarku dengan menggunakan aegyo dan puppy eyes yang sebenarnya tak akan terlihat olehnya.

“Kau tau? Dia rela menunda tour besarnya hanya untuk acara ini! Kau harus datang!!!! Aku tak mau tau!!!” ucapnya. Ani, teriaknya.

“Ne!ne! Arraseo!! Aku akan kesana! Tapi mungkin akan terlambat. Sudah ya, aku tutup telponnya.”

Tut

Kuputuskan sambungan telpon itu. Jinjja! Dia itu selalu mengekangku.

Huh! Aku menidurkan kepalaku di meja. Jujur, aku lelah. Tadi malam baru saja aku tampil di acara music di Singapore(mangarang bebas). Dan itu sangat melelahkan. Aku mencoba untuk menjernihkan pikiranku yang sangat kacau. Namun, sepertinya aku belum diperbolehkan untuk hidup tenang. Tiba-tiba Yoon Hee mendapat telpon.

“Yeobosaeyo, suster Lee. Ada apa?”

“….”

“MWO?! Arraseo. Aku akan segera kesana. Eum, sementara ikat dulu saja sampai aku datang ke sana.”

“…”

“Arraseo, gomawo suster lee.” Kami semua memandangi Yoon Hee dengan bingung.

“Yak, aku harus segera ke rumah sakit. Ada pasien mengamuk lagi. Aku pergi ne, annyeong.” Pamit Yoon Hee.

“Eeeeh tunggu!” Hwa Yeon menahan Yoon Hee.

“Wae?” jawab Yoon Hee.

“Kau harus datang ke pesta persahabatan oke? Tamu kehormatanku. Oke? Jebal.” Hwa Yeon memohon.

“Ah wae? Aku sibuk! Andwae. Aku tidak akan datang. Yang lain saja, sudahlah, aku sibuk. Annyeong.” Yoon Hee segera keluar dari cafe.

“Naah, berarti kalian berdua yang wajib datang. Arra? Aku tidak menerima penolakan.” Ujarnya garang.

Aku dan Eun Hye eonni mengangguk malas-malasan dan mengerjakan pekerjaan kami masing-masing lagi-lebih tepatnya Eun Hye eonni, karna aku hanya sedang berusaha tidur-.

EunHye eonni sepertinya mendapat sms, dari tadi dia menoleh pada hpnya terus.

“Aku harus pergi. Annyeong.”Eun Hye segera pergi meninggalkan kami. Heol, sekarang tinggal aku dan maknae berisik ini. Aku tidak yakin bisa tidur dengan nyenyak.

“EONNI!!!! AKU BUTUH GAUN!”

Tuh kan? Sudah terbukti…

“Gaun? Gaun apa? Aku punya banyak. Kau ingin pinjam?” kataku sedikit malas. Ayolah, bisakah aku mendapat waktu tidur yang cukup? Kurasa tidak untuk hari ini.

“Anni. Aku harus beli gaun. Aku tidak punya gaun di lemariku.Temani aku ne? ku tidak mengerti bagaimana memilih gaun yang bagus.” Yah, kupikir-pikir lebih baik aku berjalan-jalan sebentar sebelum menuju ke gedung managementku. Lagi pula masih lama.

“Errr, tapi gaun itu tidak murah loh.” Aku hanya takut ia akan menguras dompetku (lagi)

“Ah, itu sama sekali tidak masalah untukku. Kajja.” Aku menghela nafas lega. Ini berarti ia yang bayar. Kau selamat dompetku tercinta. Tapi…

“Loh? Sekarang? Lalu, dokumenmu?”

“Ah, bodo amat. Kajja. Kita pergi.” Ia menarik tanganku. Yah, aku tak mungkin melawannya.

“Oke. Kajja.”

-skip time-

“Eonni, kita dimana? Aku tidak tau ini dimana.” Hwa yeon menarik tanganku. Aku hanya tersenyum padanya.

“Tenang saja. Kau tidak salah mengajakku untuk memilih gaun.” Ucapku sambil menebar senyum indahku.

Ia hanya mengangguk paham. Dan sampailah kami disebuah butik yang terkenal.

“Anyeong, Hae Won-ssi” sapaku pada seorang yeoja. Yeoja itu melihat kearahku dan langsung tersenyum.

“Omo!! Hyo Jin-ssi. Apa kau mau membeli gaun lagi?” tanyanya ramah. Aku menggelengkan kepalaku pelan.

“Ani, aku hanya mengantar chinguku. Ia ingin membeli gaun. Bisakah Anda memilihkan beberapa gaun yang cocok untuknya? “ tanyaku ramah.

“Tentu saja. Silahkan Anda menunggu di ruang VVIP. Kami akan membawakannya kesana.” Nyonya Hae Won mengantarkan kami menuju ruang VVIP. Dan kami menunggu sampai pelayan butik ini datang dengan gaun-gaun yang mereka pilihkan.

.

.

“Ini bagaimana? Ini bagus.” Hwa Yeon menunjukan sebuah gaun padaku. Aku melihatnya sekilas.

“Andwae. Terlalu pendek.”Hwa Yeon mengambil gaun yang lain.

“Kalau ini?”tanyanya lagi.

“Terlalu panjang.” Jawabku singkat.

“Ini?”

“Warnanya jelek.”

“Ini?”

“Aku tidak suka modelnya.”

“kalau begitu, yang ini saja.”

“Aaah, itu bagus, tapi.. tidak. Terlalu terbuka!”

“Yaaaaak! Kau saja yang pilih kalau gitu!” Hwa Yeon berteriak kepadaku. Ya! Sudah baik aku mengantarkannya dan membantunya memilih gaun. Dan sekarang dia meneriakiku? Heol. Daebak.

“Aaah, kau benar-benar tidak fashionable. Payah. Kau itu yeoja beneran bukan?”Aku memandangnya dari atas sampai bawah.

“BUKAN!” jawabnya jengkel. Aku mengedarkan pandanganku kearah gaun-gaun.

‘Hey, gaun itu bagus.’ Aku mengambil gaun itu dan menyodorkannya pada Hwa Yeon.

“Emmm. Ini saja. Cocok dengan kepribadianmu. Tidak terlalu feminism, kesannya lembut dan galak sekaligus. Hm.. cocok cocok.”ucapku.

“Yak pabbo. Itu baju yang pertama kali ku pilih.” Ujarnya datar, jengkel.

“Aaaah, jinjja? Kupikir, beda.”

“Sama!”

“Anni anni. Beda pokoknya beda. Ini bagus. Instingku tidak pernah salah. Sana coba,” paksaku padanya.

“yayaya arraseo. Tunggu sebentar. Jika kau mengatakan ini jelek lagi, akan ku gantung kau di atap. Awas saja.” Ia segera pergi menuju kamar ganti.

Hey, apa dia tak sadar kalau bajunya masih kupegang? Dasar maknae bolot.

“Kenapa kau belum ganti?” tanyaku pura-pura tidak tau.

“bajunya saja kau pegang. Dasar pabbo!” katanya.

“YA! Kau yang pabbo!” dasar maknae..

.

.

Aku sedang melihat gaun-gaun terbaru di butik ini. Sungguh, maknae ini lama sekali.

Dan tiba-tiba Hwa Yeon keluar dengan anggun dan memutar badannya. Kuakui dia sangat cantik.

“Eotte?” tanyanya –sok- imut.

“Hm.. bagus!” ia menyengir dan mematut dirinya kembali dikaca.

.

.

.

Setelah selesai membeli gaun, akupun pergi menuju gedung managementku. Untung saja tidak terlalu jauh sehingga aku bisa berjalan kaki. Kembali aku menutup mataku dengan kacamata hitamnya.

“Aish, setampan apa sih namja itu sehingga PD Kim seperti itu? “ omelku pada diri sendiri. Aku berhenti sejenak untuk membeli ice cream. Sepertinya ice cream greentea sangat enak untuk dimakan.

Setelah aku membeli, aku kembali berjalan. Saat sedang berada di persimpangan jalan aku berjalan sambil menjilat ice creamku.

Tiba-tiba seorang namja menabrakku dari belakang sehingga ice creamku jatuh. Yah, jatuh ketanah .

“Ah, ice creamku!” teriakku. Aku pun memberi deathglare padanya.

-TBC-

Apa kah kalian menyukainya? Minta like sama commentnya dong ^^

Jangan lupa baca FF yang lain juga yah^^

Semoga pada nungguin chapter selanjutnya~~

Gomawo~~

~Cho Hyo Jin

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s