Find My Love #100DaysOurBlog (HwaYeon side) – Prolog

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family.
Rating: G
Length: oneshoot

Note:
Ini merupakan FF project buat seratus harinya blog kita resmi dibuka. Cerita ini juga merupakan karangan kita berempat sendiri. Mungkin kalo ada kesamaan, itu brarti ga disengaja. Mohon jangan copy paste FF ini ya, jangan ngebash juga disini. Kalo emnk ga suka, bisa tekan tombol back aja, simple kan? Okeoke?
Happy readiing, hope all of you would like it ^^ Saranghae. Gomawoo, annyeong~

-o0o-

* All Hwa Yeon POV*

Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam Spicy Wings Café dengan cepat. Kuedarkan pandanganku sejenak, kemudian melangkahkan kakiku kearah meja yang sudah dipenuhi oleh para teman-temanku.
“Mian, aku terlambat. Tadi macet.” Ujarku singkat.

Tanpa basa basi, kuarahkan diriku menduduki satu-satunya kursi kosong yang ada meja ini. Tak kuindahkan gerutuan mereka, sebaliknya, kualihkan pandanganku pada waitress yang kebetulan sedang berjalan menuju ke sini sambil membawa buku menu ditangannya.

“yang biasa.” Ujarku singkat lagi. Waitress itu sempat tertegun sebentar, kaget mungkin? Entahlah aku tak peduli juga. Waitress itu kemudian tersenyum kepadaku sambil mengangguk kemudian membalikkan badannya.

Hmm.. kenapa sepi sekali ya? Biasanya mereka berisik bukan? Penasaran, kini kualihkan pandangan mataku pada mereka.

Ups…

apa aku membuat ulah? Perasaan tidak bukan? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Heol.

“Jadiiii… Kenapa kita berkumpul sekarang? Kita baru berkumpul kemarin. Aku sibuk. Ravi oppa menjejaliku pekerjaan yang tak kumengerti. Oppa pabbo itu menyuruhku untuk mengurus perusahaan secara aktif dari minggu lalu. Aku pusing dibuatnya. Memakai kemeja, jas, rok sepan, oh my! Itu bukan gayaku sama sekali. Bayangkan saja, aku harus duduk mendekam di sebuah ruangan, membaca laporan tentang keuangan, saham, yaah apapun itu bersama orang orang yang tidak kukenal pula. Hello, mending juga aku be-“

“Oke oke, kami mengerti. Maaf magnae. Aku cuma ingin bertanya tentang ituloh. Pesta persahabatan perusahaanmu yang diadakan setelah launching SJ hotel di Jeju itu. Kami berempat mendapat undangannya. Aku ditugaskan mengisi acara di pesta persahabatannya. Aku bingung, aku dipasangkan dengan seorang pianis bernama err siapa itu? Changyun? Changhyun? Yah siapapun itu lah. Aku tidak kenal dengan lelaki itu. Lalu, kau minta aku bawakan berapa lagu? Terus lagu apa saja? Aku sudah menelfon assisten oppamu untuk bertanya, tapi aku disuruh bertanya langsung padamu. Memangnya kau yang menangani proyek ini? Kenapa kau tidak perna bercerita pada kami eoh?”

Aku menggaruk tengkukku bingung. Dia cerewet sekali. Aku lelah dan mengantuk sekarang. Kerjaan yang diberikan ravi oppa sangat banyak, aku tidak sanggup beristirahat walau hanya sebentar. Memejamkan mata saja rasanya sulit mengingat ada banyak sekali tumpukan dokumen yang belum kubaca di kantor. Oh Tuhan! Aku harus selesai membacanya hari ini. Eotteokhae?

Tapi tunggu. Apa maksudnya ya? Aku sama sekali tidak mengerti. Sj hotel di Jeju? Hotel apap pula itu, aku tidak pernah dengar. Pesta persahabatan apa juga? Changyun? Eh atau Changhyun? Yah siapapun itu. Aku juga tidak kenal. Aneh sekali.

“Apa kau yakin menelfon nomor yang benar eonni? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sj Hotel? Hotel mana itu? Aku tidak pernah dengar.”

“Mwoya? Tidak pernah dengar? Aku tidak mungkin salah menelfon, buktinya dia mengenalmu dan menyuruhku untuk bertanya padamu. Bagaimana sih? Mungkin kau yang lupa.”

“Yak eonni pabbo, sudah kubilang aku ini tidak tau. Kenapa kau memaksa sekali sih? Aku itu baru bekerja seminggu yang lalu. Mana bisa aku menangani proyek hotel dalam waktu seminggu. Memanganya SW hotel itu..”

“SJ” gumamnya membenarkan.

“Yaya, SJ hotel itu bisa dibangun dalam kurun waktu 1 minggu? Kau itu aneh sekali eonni. Aku memang benar-benar tidak tau tentang proyek ini.”

“Tapi-“

Drrtt Drrtt

“Chakkaman.” Gumamku singkat pada Hyo Jin eonni. Kulihat Caller ID yang menelpon. Hmm, ravi oppa ternyata kebetulan sekali.

“Yeo-“

“Yak bocah! Kemana kau?! Ini masih jam kerja! Cepat kembali kemari! Ada yang ingin aku rundingkan denganmu. Mendesak!”

“Mwoya? Bisakah kau ngomong dengan pelan? Kepalaku pusing mendengar suaramu yang jelek seperti bebek itu. Dan juga, aku tidak mau bekerja. Aku benci! Nan shireo! Jinjja shireo!”

“MWORAGO?! CEPAT KEMARI BOCAH!”

“A.N.D.W.A.E.”

“HAISH! Terserahmu sajalah. Baiklah baiklah, kau tidak perlu kemari. Dimana kau sekarang? Aku akan menyuruh assistenku untuk mengantarkan dokumen peluncuran hotel terbaru kita padamu. Aku ingin kau menanganinya. Aku tidak bisa menanganinya. Aku akan pergi ke rumah sakit untuk check up. Bisakan? Jaebal, eoh?”

“Check up? Oppa sakit apa? Tidak enak badan? Perut oppa sakit lagi? Oppa memang harus check up, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan oppa. Arra? Aku akan menangani proyek hotel itu. Serahkan saja padaku. Eum, assisten oppa bisa mengantarkan dokumen itu ke café biasa oke? Aku menunggu disini.”

“Arraseo. Gomawo ne, kau memang bisa diandalakan. Annyeong. Pulanglah kerumah setelah ini dan beristirahatlah, tidak perlu ke kantor, kau pucat akhir-akhir ini. kita bertemu di rumah nanti malam ne? Kau bisa bertanya apa yang tidak kau mengerti nanti, annyeong.”

“Annyeong.”

Hah, it’s gonna be a long day.

Aku benci bekerja!! Arrgh, yasudahlah. Demi oppa.

Huh, tubuhku lelah sekali. Kupejamkan mataku dan bersandar ke sandaran kursi. Aku ingin tidur…

“Kau pucat sekali.” Aku tersentak saat Yoon Hee eonni tiba-tia bergumam seperti itu. Hmm, sangat teliti. Aku juga menyadarinya pagi ini. Ahh, biasalah dokter.

“Eum. Aku hanya kelelahan. Banyak kerjaan, yah kau tau lah.” Ujarku sambil memutar mataku malas. Omong-omong. Tidak hanya aku yang kelelahan. Kami berempat, semuanya terlihat seperti zombie. Wajah pucat, kantung mata, tubuh lemas. Well, kami masih satu spesies berarti.

“Jangan bekerja terlalu serius. Kau itu penyakitan. Kalau kau sakit, aku juga yang susah. Jadi lebih baik kau datang ke Rumah Sakit sore ini. Aku akan memberimu beberapa vitamin.” Ujarnya tegas dengan mata sayu. Ciih, enak saja dia main suruh-suruh. Dia sendiri terlihat seperti hampir sekarat, seharusnya dia memberi beberapa vitamin untuk dirinya sendiri.

Dasar dokter.

“Aku tidak mau ke Rumah sakit. Aku sibuk. Kau saja yang minum vitamin, kau lebih terlihat seperti akan mati 5 menit lagi pabbo.”

“Kau! Pokoknya harus datang, kalau tidak aku akan menyeretmu sendiri.”

“Tidak! Aku tidak akan ke RS! Pembicaraan ditutup.”

“Yaiiish! Kau benar-benar. Ah terserahmu lah. Aku lelah, aku akan tidur. Bangunkan saja aku nanti.” Heol, enak sekali dia tidur sedangkan aku harus menunggu tumpukan dokumen yang harus kubaca. Ah, nasib ya nasib.

Kuedarkan pandanganku dengan malas. Eun Hye eonni dari tadi tidak bersuara karena sibuk menggambar. Kudengar dengar sih dia punya klien baru. Hm.. semoha saja kliennya sekarang cowo, jadi kan mereka bisa jadian. Eun Hye eonni sudah terlalu tua untu menjomblo kkk.

Lalu, Ah, Hyo Jin eonni juga sedang bertengkar dengan managernya. Masalah pesta persahabatan SJ hotel itu sepertinya. Ah, bodo amat lah. Bukan urusanku.

Dan yang terakhir, well. Si dokter sedang tidur. Yah biarkan saja. Aku juga sedang malas berkicau.

Deg!

Mata itu. Aku terkunci pada kedua mata itu. Indah. Sangat menganggumkan. Kupandangi lelaki yang ada cukup dekat di seberangku dengan intens. Indah sekali, hatiku bergetar saat memandang matanya. Seperti ada sesuatu didalam matanya yang menarikku untuk menjelajahinya.

Aku menahan nafasku saat ia membalas tatapanku. Kami bertatapan dalam diam dalam waktu yang cukup lama. Dia tampan, rambutnya bergelombang indah dengan warna coklat Hazel, warna yang sama dengan matanya. Oh Tuhan, bagaimana mungkin kau ciptakan makhluk sindah itu?

1 detiik…

2 detiik…

3 detiik…

Oke! Kualihkan pandanganku seketika. Rasanya jantungku akan lepas seketika jika kulanjutkan menatapnya. Kalau dilihat-lihat, sepertinya dia sedang bekerja. Dia menggunakan jas seperti yang dipakai oleh Ravi oppa saat pergi ke kantor. Melihat laptop dan dokumen yang tersedia di meja, juga beberapa lelaki yang juga memakai jas disana, sepertinya mereka sedang melakukan meeting. Tapi kenapa meeting di café? Bukankah biasanya meeting di perusahaan ya? Meeting room?

Ahh, mungkin café ini terlihat seperti meeting room bagi mereka. Kkkk ada-ada saja.
Ahh, lama sekali assisten Ravi oppa untuk datang kemari. Jarak dari kantor kesini kan tidak jauh-jauh amat. Aah, macet kah? Mungkin? Yaya mungkin saja.

Hmm.. Kupandang lagi lelaki tadi. Siapa ya namanya? Tampan sekali. Aku menginginkannya. Hehehe.

“Kim Hwa Yeon. Kim Hwa Yeon!” siapa yang memanggil ku? Aaaaah, assisten Ravi oppa sepertinya. Kuangkat tanganku dan melambaikannya.

“Disini!” seruku sedikit terlalu kencang. Aku menyengir saat beberapa pelanggan menoleh padaku dan menggerutu.
Assisten Ravi oppa ikut melambai padaku, dan menghampiriku. Dia memberikan bertumpuk-tumpuk dokumen yang sama sekali tidak kumengerti. Entahlah, dia bilang, aku harus selesai membaca ini sekarang. Gila!

“Yeobosaeyo, suster Lee. Ada apa?”

“….”

“MWO?! Apa sudah tahu apa saja cedera atau luka yang pasien dapat?”

“…”

“Aiiish, aku ada dijalan, tunggu aku.”

Kupandangi Yoon Hee eonni dengan bingung. Ada apalgi dengan dokter itu? Kecelakaan lagi? Hah, aku bosan mendengar tentang hal itu. Itu hal biasa bagi dokter bukan? Hm… sulit juga menjadi seorang dokter. Hehe. Untung aku tidak jadi belajar kedokteran. Malas

“Yak, aku harus segera ke rumah sakit. Ada pasien korban kecelakaan lagi. Aku pergi ne, annyeong.”

“Eeeeh tunggu!”

“Wae?”

“Kau harus datang ke pesta persahabatan SJ hotel itu oke?Aku yang menanganinya kata Ravi oppa, datanglah sebagaitamu kehormatanku. Oke? Jebal.”

“Ah wae? Aku sibuk! Andwae. Aku tidak akan datang. Yang lain saja, sudahlah, aku sibuk. Annyeong.”

Aaah, eonni itu memang menyebalkan. Sudahlah, dia memang sibuk. Dokter.

“Naah, berarti kalian berdua yang wajib datang. Arra? Aku tidak menerima penolakan.” Ujarku garang. Mereka mengangguk malas-malasan dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing lagi.
EunHye eonni sepertinya mendapat sms, dari tadi dia menoleh pada hpnya terus. Itu menyebalkan.

“Aku harus pergi. Annyeong.” Tuh kan! Mereka benar-benar menyebalkan. Berarti sekarang, tinggal tersisa aku dan Hyo Jin eonni. Hm.. omong-omong, aku kan tidak punya gaun?! Astaga!

“EONNI!!!! AKU BUTUH GAUN!”

“Gaun? Gaun apa? Aku punya banyak. Kau ingin pinjam?”

“Anni. Aku harus beli gaun. Aku tidak punya gaun di lemariku.Temani aku ne? ku tidak mengerti bagaimana memilih gaun yang bagus.”

“Errr, tapi gaun itu tidak murah loh.” Oh astaga, aku memutar mataku dengan malas. Hello, itu sama sekali bukan masalah untuk seorang Kim Hwa Yeon, adik dari seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan terbesar ke-3 didunia. Hah!

“Ah, itu sama sekali tidak masalah untukku. Kajja.”

“Loh? Sekarang? Lalu, dokumenmu?” Ah benar juga, bagaimana dengan dokumen? Aah, biar sajalah.

“Ah, bodo amat. Kajja. Kita pergi.”

“Oke. Kajja.”

-o0o-

“Ini bagaimana? Ini bagus.”

“Andwae. Terlalu pendek.”

“Kalau ini?”

“terlalu panjang.”

“Ini?”

“Warnanya jelek.”

“Ini?”

“Aku tidak suka modelnya.”

“kalau begitu, yang ini saja.”

“Aaah, itu bagus, tapi.. tidak. Terlalu terbuka!”

“Yaaaaak! Kau saja yang pilih kalau gitu!”

“Aaah, kau benar-benar tidak fashionable. Payah. Kau itu yeoja beneran bukan?”

“BUKAN!” jawabku jengkel. Sudah beribu-ribu gaun yang ku pilih, tetap saja dia tolak. Haish, apa semua yeoja selalu seperti dia? Menjengkelkan sekali kalau begitu.

“Emmm. Ini saja. Cocok dengan kepribadianmu. Tidak terlalu feminim, kesannya lembut dan galak sekaligus. Hm.. cocok cocok.”

“Yak pabbo. Itu baju yang pertama kali ku pilih.” Ujarku datar, jengkel.

“Aaaah, jinjja? Kupikir, beda.”

“Sama!”

“Anni anni. Beda pokoknya beda. Ini bagus. Instingku tidak pernah salah. Sana coba,”

“yayaya arraseo. Tunggu sebentar. Jika kau mengatakan ini jelek lagi, akan ku gantung kau di atap. Awas saja.” Aku berbalik dengan cepat ke kamar pas, tapi tunggu. Ada yang terlupakan. Apa ya?

Kubuka pintu kamar pas, lalu berpikir. Tunggu dulu, Bajunya dimana?

Ahhh!! Masih dipegang Hyo Jin eooni! Pabbo dasar! Cepat-cepat aku keluar dari kamar pas dan merebut baju yang masih d pegang oleh Hyo Jin eonni.

“Kenapa kau belum ganti?”

“bajunya saja kau pegang. Dasar pabbo!” Aku kembali ke kamar pas dan mengganti bajuku. Aku mematut diriku di kaca dengan bingung. Heol, siapa itu yang ada di kaca? Itu bukan aku. Gaun ini sangat cantik. Aku suka. Hmm, tidak salah aku mengandalkan Hyo Jin eonni yang pabbo itu.

Aku keluar dari kamar pas dengan langkah anggun. Aku memutar tubuhku saat berada di depan Hyo Jin eonni.
“Eotte?” tanyaku sok imut

“Hm.. bagus!” aku menyengir dan mematut diriku kembali dikaca. Tiba-tiba pikiranku berkelana pada lelaki yang tadi kulihat di café. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Aku punya firasat, aku akan segera bertemu dengannya entah dimana…

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s