Cure That Foolish #100thDayOurBlog -Yoonhee Side- (Prologue)

Title: Cure That Foolish

Author: Jung Yoonhee

Cast:

o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:

o Kim Hwayeon
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Taehyung aka V (BTS)

Genre: comedy, romance, friendship

Length: Chapter

Rating: PG-13

Happy 100th day for our blog.
Moga-moga makin rame, makin banyak readers, da juga ada yang comment. AMIN.
Thank you buat semua readers. Tanpa kalian kita the nothing ‘-‘)/
Ini FF karangan kita berempat dan saling berhubungan. Jadi kalo mau lebih rame, kalian bisa baca semua FF ini dari sisi author berempat.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Semua awal kisah saat aku bertemu pasangan hidupku yang sangat cerewet, payah, dan penakut akut.
-Jung Yoonhee-


Dialah wanita terkejam yang dapat membuatku jatuh hati.
-Kim Wonshik-

*Yoonhee POV*

Aku berjalan menghampiri meja resepsionis.

“Tolong cek apa aku ada jadwal operasi dari jam 11 sampai 1 siang nanti.” tanyaku pada suster Lee, suster andalan sekalius kaki tanganku.

Dia memutar lembaran-lembaran kertas dipapan dada putihnya.

“Operasi selanjutnya jam 14.15 nanti.” ucapnya memastikan.

“Baiklah kalau begitu aku keluar dulu. Ada janji. Annyeong.”

“Baiklah, hati-hati dokter. Selamat bersenang-senang.” ucapnya, lalu membungkuk.

Aku berjalan keluar dari tempat kerjaku menuju tempat parkir khusus dokter.

“Huft.” keluhku sesampainya didalam mobilku. Operasi tadi cukup menguras tenagaku. Memang dasar pekerjaan.

Akupun mengendarai kendaran roda empat itu.

“Pabbo, kenapa jalannya jauh sekali. Apa mereka tidak bisa memilih tempat yang lebih dekat dari rumah sakit?” sesalku selama perjalanan.

Akhirnya aku sampai ditempat tujuan. Spicy Wings café, sebuah café berkelas yang cukup sepi dan teduh.

“Yoonhee!” sapanya didepan pintu. Suara merdu familiar milik Hyojin membuatku menengok.

“Annyeong.” balasku.

Kami berjalan masuk ke dalam, Eunhye yang sudah duduk di salah satu bangku dekat jendela sedang asik sendiri.

“Aku mau latte.” pintaku pada seorang waiters yang baru saja lewat.

“Aku mau spons cake.” pinta Hyojin antusias.

Tak lama pesananku datang. Aku menyesap latteku sembari mendelik kearah Hyojin yang sedang asik berkicau.

“Apa kau tahu acara persahabatan SJ Hotel itu? Aishh, Hwayeon benar-benar membuatku bingung. Lagipula dimana dia? Lama sekali sih?! Dasar magnae.”

Suaranya memang merdu, tapi kepalaku sedang malas menerima suara-suara itu. Otakku semakin berkedut dibuatnya.

“Yoonhee, waegeurae?” Aku menggeleng, lalu perlahan mengucek mataku yang belum terpejam selama 2 hari. Pasti lingkaran hitam itu sudah muncul. Beberapa kata prihatin keluar dari mulut Hyojin. Terdengar seperti bergumam bagiku.

Aku menguap berkali-kali. Lalu menatap Eunhye eonni yang sedang asik melukis sendiri di buku sketsa besarnya. Daritadi dia belum bicara, saking asiknya. Seandainya pekerjaanku sesantai itu.

“Mian, aku terlambat. Tadi macet.” Hwayeon yang baru datang dengan nafas tersenggal-senggalnya langsung duduk disampingku, bangku yang satu-satunya kosong.

Satu lagi si biang rusuh datang.

“yang biasa.” pesan Hwayeon pada seorang waiters.

“Jadiiii… Kenapa kita berkumpul sekarang? Kita baru berkumpul kemarin. Aku sibuk. Ravi oppa menjejaliku pekerjaan yang tak kumengerti. Oppa pabbo itu menyuruhku untuk mengurus perusahaan secara aktif dari minggu lalu. Aku pusing dibuatnya. Memakai kemeja, jas, rok sepan, oh my! Itu bukan gayaku sama sekali. Bayangkan saja, aku harus duduk mendekam di sebuah ruangan, membaca laporan tentang keuangan, saham, yaah apapun itu bersama orang orang yang tidak kukenal pula. Hello, mending juga aku be-”

“Oke oke, kami mengerti. Maaf magnae. Aku cuma ingin bertanya tentang ituloh. Pesta persahabatan perusahaanmu yang diadakan setelah launching SJ hotel di Jeju itu. Kami berempat mendapat undangannya. Aku ditugaskan mengisi acara di pesta persahabatannya. Aku bingung, aku dipasangkan dengan seorang pianis bernama err siapa itu? Changyun? Changhyun? Yah siapapun itu lah. Aku tidak kenal dengan lelaki itu. Lalu, kau minta aku bawakan berapa lagu? Terus lagu apa saja? Aku sudah menelfon assisten oppamu untuk bertanya, tapi aku disuruh bertanya langsung padamu. Memangnya kau yang menangani proyek ini? Kenapa kau tidak perna bercerita pada kami eoh?”

Seakan dari kami berempat hanya Hyojin dan Hwayeon saja yang bisa bicara. Entahlah, aku terlalu malas untuk membuang energi. Mungkin aku dan Eunhye sependapat.

Sofa empuk dan lembut dicafé ini membuatku sangat nyaman, ditambah latte yang kuminum tadi masih hangat dan membuat tubuhku merasa hangat juga. Kupejamkan mataku meski sulit untuk tertidur kerena duo biang rusuh ini berbicara seakan ada dihutan belantara.

Drtt Drtt

“Chakkaman.” ucap Hwayeon singkat.

“Yeo-”

“…”

“Mwoya? Bisakah kau ngomong dengan pelan? Kepalaku pusing mendengar suaramu yang jelek seperti bebek itu. Dan juga, aku tidak mau bekerja. Aku benci! Nan shireo! Jinjja shireo!”

“…”

“A.N.D.W.A.E.”

“…”

“Check up? Oppa sakit apa? Tidak enak badan? Perut oppa sakit lagi? Oppa memang harus check up, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan oppa. Arra? Aku akan menangani proyek hotel itu. Serahkan saja padaku. Eum, assisten oppa bisa mengantarkan dokumen itu ke café biasa oke? Aku menunggu disini.”

“…”

“Annyeong.”

Entah apa yang mereka bicarakan ditelepon, tapi Hwayeon yang duduk disampingku sangat gusar. Itu membuatku terusik dan kembali sakit kepala.

“Kau pucat sekali.” tanyaku dengan mata panda yang masih sayu.

“Eum. Aku hanya kelelahan. Banyak kerjaan, yah kau tau lah.” jawabnya malas.

Omong-omong. Tidak hanya aku yang kelelahan. Kami berempat, semuanya terlihat seperti zombie. Wajah pucat, kantung mata, tubuh lemas. Well, kami masih satu spesies berarti.

“Jangan bekerja terlalu serius. Kau itu penyakitan. Kalau kau sakit, aku juga yang susah. Jadi lebih baik kau datang ke Rumah Sakit sore ini. Aku akan memberimu beberapa vitamin.” perintahku tegas dengan mata sayu.

“Aku tidak mau ke Rumah sakit. Aku sibuk. Kau saja yang minum vitamin, kau lebih terlihat seperti akan mati 5 menit lagi pabbo.”

“Kau! Pokoknya harus datang, aku akan menyeretmu sendiri.”

“Tidak! Aku tidak akan ke RS! Pembicaraan ditutup.”

Aku menutup kedua telingaku lalu kembali terpejam karena Hwayeon terus menaikkan nada suaranya.

“Yaiiish! Kau benar-benar. Ah terserahmu lah. Aku lelah, aku akan tidur. Bangunkan saja aku nanti.”

Akhirnya aku berhasil tertidur.

“Kim Hwa Yeon. Kim Hwa Yeon!” siapa lagi itu? Apa ada makhluk hidup bertambah disini?

“Disini!” teriak Hwayeon tak mau kalah.

Oke. Masalah tidur hari ini aku menyerah.

Drtt drtt

Benda mati itu juga ikut-ikutan bersuara.

Huft, telepon dari rumah sakit.

“Yeobosaeyo, suster Lee. Ada apa?”

“Ada pasien yang kecelakaan lalu lintas beberapa waktu lalu.”

“Lalu?”

“Kurasa kakinya patah. Dia meronta keras daritadi.”

“Apa hasilnya sudah keluar?”

“Ehmm.. itu… bagian rontgen sedang istirahat.”

“Aishh.. aku ada dijalan. Tunggu aku.”

Aku segera berkemas dan beranjak dari dudukku.

“Yak, aku harus segera ke rumah sakit. Ada pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas, kurasa parah. Aku pergi ne, annyeong.” pamitku.

“Eeeeh tunggu!” tahan Hwayeon.

“Wae?” tanyaku heran

“Kau harus datang ke pesta persahabatan oke? Tamu kehormatanku. Oke? Jebal.” pintanya memelas.

“Ah wae? Aku sibuk! Andwae. Aku tidak akan datang. Yang lain saja, sudahlah, aku sibuk. Annyeong.”

Hwayeon mempoutkan bibirnya. Bukannya apa-apa, karena pekerjaanku, aku tidak bisa membuat janji seenaknya saja. Namanya juga pekerjaan mulia. Tidak boleh diganggu.

Aku setengah berlari ke parkiran. Segera kukendarai mobil sedan hitamku ke Seoul Hospital, rumah sakit dimana aku bekerja.

“Mana pasien itu?” tanyaku dengan nafas tersenggal-senggal ketika bertemu dengan suster Lee.

“Ada disini.” suster Lee memanduku sampai ke ruang IGD.

Seseorang namja sedang berbaring kesakitan diatas ranjang. Darah segar mengalir dari kepala, tangan, dan juga kakinya.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s