The Art of Love (Prologue) #100th Day Our Blog -Eunhye Side-

Title : THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V (BTS)

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky (Teen Top)

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Waaahh, ga kerasa udah 100 hari yeeayy!!

FF ini sengaja dibuat author dan teman-teman untuk ngerayain 100 hari blog kita.

Ini asli loh karya kita berempat, semoga readers semua suka ya bacanya~

Makasih buat readers yang udah setia baca dan juga follow blog kita #terharu

Ke depannya kita-kita bakal berusaha buat lebih baik lagi, mohon dukungannya ya~

No copy, No bash, but please give your comment oke? Thanks.

Happy Reading^^

 

‘Perjalanan cinta tak akan selalu mulus, disitulah letak seni dari cinta.’

-Kim Taehyung & Park Eunhye-

*Eun Hye POV*

Hari ini, hari dimana aku harus mengejar dead line ku habis-habisan . Design ruangan rumah client ku itu harus diserahkan besok tapi hari ini aku harus berkumpul dengan sahabatku di café langganan kami, Spicy Wings café. Café yang sejak zaman kami sekolah hingga sekarang masih sering kami kunjungi. Hm,, mau tidak mau aku harus membawa kerjaanku ke café. Ku harap mereka akan mengerti.

Ah… Sungguh melelahkan. Pekerjaanku sejak 1 minggu lalu akhirnya sudah dalam tahap akhir. Tidak sia-sia juga aku mengerjakannya disini, paling tidak aku tidak membuang-buang waktu meskipun kegiatan hari ini hanya sekedar berkumpul dan mengobrol santai saja dengan sahabatku, bukan?

“Mian, aku terlambat. Tadi macet.”

Ku alihkan pandanganku dari kertas sketsa yang sejak tadi jadi fokus utamaku pada sumber suara itu. Hwayeon. Memang magnae itu selalu terlambat, yah namanya juga dia. Jika tidak terlambat, kami patut mencurigainya.

“Ck.” Aku hanya mendecak pelan kemudian melanjutkan kembali kegiatanku yang terhenti tadi.

Tak lama, sepertinya ada seseorang yang menghampiri meja kami bertiga.

“yang biasa.” Ucap Hwayeon. Ah, pasti itu waitress.  Biarlah lebih baik kuurusi pekerjaanku yang hampir selesai ini.

Tiba-tiba saja perasaanku tak enak. Seperti ada yang memperhatikanku. Penasaran, kualihkan pandanganku dan menemukan Hwayeon tengah menatapku dan Hyojin. Dengan segera kupasang tatapan seolah-olah mengatakan

‘Untuk apa kau melihat-lihat? Tidakkah kau melihat bahwa aku tengah sibuk bekerja? Dasar magnae pabbo!’

 

“Jadiiii… Kenapa kita berkumpul sekarang? Kita baru berkumpul kemarin. Aku sibuk. Ravi oppa menjejaliku pekerjaan yang tak kumengerti. Oppa pabbo itu menyuruhku untuk mengurus perusahaan secara aktif dari minggu lalu. Aku pusing dibuatnya. Memakai kemeja, jas, rok sepan, oh my! Itu bukan gayaku sama sekali. Bayangkan saja, aku harus duduk mendekam di sebuah ruangan, membaca laporan tentang keuangan, saham, yaah apapun itu bersama orang orang yang tidak kukenal pula. Hello, mending juga aku be-“ Hwayeon angkat bicara.

“Oke oke, kami mengerti. Maaf magnae. Aku cuma ingin bertanya tentang ituloh. Pesta persahabatan perusahaanmu yang diadakan setelah launching SJ hotel di Jeju itu. Kami berempat mendapat undangannya. Aku ditugaskan mengisi acara di pesta persahabatannya. Aku bingung, aku dipasangkan dengan seorang pianis bernama err siapa itu? Changyun? Changhyun? Yah siapapun itu lah. Aku tidak kenal dengan lelaki itu. Lalu, kau minta aku bawakan berapa lagu? Terus lagu apa saja? Aku sudah menelfon assisten oppamu untuk bertanya, tapi aku disuruh bertanya langsung padamu. Memangnya kau yang menangani proyek ini? Kenapa kau tidak perna bercerita pada kami eoh?” Hyojin yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.

Tak ingin terlibat dalam pembicaraan mereka, aku memilih untuk diam dan mendengarkan pembicaraan mereka sambil kembali melanjutkan kegiatan ku. Menggambar. Sungguh melelahkan sekali, meskipun hanya menggambar tapi ini tak semudah kelihatannya. Sudah beberapa hari ini aku kurang tidur segera setelah menyelesaikan ini aku akan tidur untuk waktu yang lama. Aku berjanji pada diriku sendiri.

Sepertinya pembicaraan Hyojin dan Hwayeon itu menyangkut launching SJ Hotel yang diadakan di Jeju itu. Bukankah itu salah satu hotel yang ku designkan? Hm,, mungkin iya mungkin juga tidak. Tapi kurasa iya. Entahlah terlalu banyak bangunan yang ku designkan sampai lupa. Tunggu, sepertinya aku diundang ke acara persahabatan launching hotel itu. Benar tidak ya? Aku lupa!

Drrtt Drrtt

Ponsel Hwayeon berbunyi.

“Yeo-“

“……”

“Mwoya? Bisakah kau ngomong dengan pelan? Kepalaku pusing mendengar suaramu yang jelek seperti bebek itu. Dan juga, aku tidak mau bekerja. Aku benci! Nan shireo! Jinjja shireo!”

“…….”

“A.N.D.W.A.E.”

“…….”

“Check up? Oppa sakit apa? Tidak enak badan? Perut oppa sakit lagi? Oppa memang harus check up, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan oppa. Arra? Aku akan menangani proyek hotel itu. Serahkan saja padaku. Eum, assisten oppa bisa mengantarkan dokumen itu ke café biasa oke? Aku menunggu disini.”

“……..”

“Annyeong.”

Sepertinya Ravi sunbae sakit. Seperti yang sering kudengar dari Hwayeon, belakangan ini dia memang sering mengalami sakit perut. Semoga dia baik-baik saja. Kasihan juga Hwayeon harus menanggung beban oppanya.

Bagaimana dengan Hyojin? Kudengar konflik dengan managernya belum juga selesai. Soal apa ya? Hyojin tidak pernah mau bercerita padaku. Hm, tak apalah lagi pula aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan tak baik mencampuri urusan orang bukan?

“Kau pucat sekali.”

Dari suaranya, sepertinya aku mengenalinya. Benar saja, itu Yoonhee. Sejak kapan dia datang? Entahlah. Aku kembali fokus menggambar sketsa yang sudah 95% jadi itu.

“Eum. Aku hanya kelelahan. Banyak kerjaan, yah kau tau lah.” Jawab Hwayeon.

“Jangan bekerja terlalu serius. Kau itu penyakitan. Kalau kau sakit, aku juga yang susah. Jadi lebih baik kau datang ke Rumah Sakit sore ini. Aku akan memberimu beberapa vitamin.” Yoonhee membalas.

“Aku tidak mau ke Rumah sakit. Aku sibuk. Kau saja yang minum vitamin, kau lebih terlihat seperti akan mati 5 menit lagi pabbo.”

“Kau! Pokoknya harus datang, aku akan menyeretmu sendiri.”

“Tidak! Aku tidak akan ke RS! Pembicaraan ditutup.”

“Yaiiish! Kau benar-benar. Ah terserahmu lah. Aku lelah, aku akan tidur. Bangunkan saja aku nanti.”

Mereka ini seperti kucing dan anjing. Ketika bertemu selalu saja bertengkar#-_-) Tapi tak jarang juga mereka akur malah saking akurnya mereka berdua bekerja sama membully ku. Hyojin pun suka ikut bergabung membully ku kadang-kadang. Dasar para dongsaeng tidak sopan. Aiishh.. jinjja! Oke, kembali fokus Eunhye, jangan biarkan konsentrasimu buyar.

“Kim Hwa Yeon. Kim Hwa Yeon!”

Tiba-tiba ada suara yang mengganggu. Arrgghh!! Suara siapa lagi itu? Mengganggu saja!

“Disini!” Hwayeon menjawab. Sialnya, Hwayeon berteriak cukup keras. Apa dia lupa kalau dia berada di depanku? Untung saja telingaku ini sudah kebal dengan teriakan kencangnya itu. Aishh..

Seseorang membawa banyak sekali kertas-kertas dan juga map dan meletakannya diatas meja kami. Sepertinya Hwayeon mengenalinya. Mungkin itu asisstant Ravi sunbaenim.
“Yeobosaeyo, suster Lee. Ada apa?”

“…”

“Lalu?”

“…”

“Apa hasilnya sudah keluar?”

“…”

“Aishh.. aku ada dijalan. Tunggu aku.”

Aku menatap Yoonhee heran. Apa kali ini ada pasien yang kecelakaan lagi? Haish, kenapa pasien kecelakaan selalu menjadi tanggung jawab Yoonhee ya? Benar-benar pasien yang aneh. Lagipula, bukankah mereka harusnya menghubungi bagian UGD? bukan langsung bagian syaraf aneh sekali.

“Yak, aku harus segera ke rumah sakit. Ada pasien kecelakaan lagi. Aku pergi ne, annyeong.”

“Eeeeh tunggu!” sela Hwayeon.

“Wae?”

“Kau harus datang ke pesta persahabatan oke? Tamu kehormatanku. Oke? Jebal.”

“Ah wae? Aku sibuk! Andwae. Aku tidak akan datang. Yang lain saja, sudahlah, aku sibuk. Annyeong.”

Setelah perdebatan kecil Yoonhee dan Hwayeon itu, Yoonhee segera meninggalkan café. Dia terburu-buru sekali.

“Naah, berarti kalian berdua yang wajib datang. Arra? Aku tidak menerima penolakan.” Ujar Hwayeon.

Aku hanya mengangguk pasrah. Begitu juga dengan Hyojin.

Sebenarnya aku tak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan karena selain menggambar, ponselku sejak tadi terus dibanjiri dengan pesan masuk dari tempatku bekerja. Katanya, akan diadakan sebuah pertemuan dengan client baru dan aku harus sesegera mungkin kesana. Huft.

“Aku harus pergi. Annyeong.” Ucapku yang kemudian bergegas keluar dari café.

Aish, client baru? Untung saja pekerjaanku ini sudah selesai. Belakangan ini tempat kerjaku memang dibanjiri oleh pelanggan yang meminta untuk di designkan tapi, dari sekian banyak pegawai kenapa harus aku yang menangani banyak sekali proyek? Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak.

Drrrtt…Drrrttt…

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo.”

“Soojin-ah, musseun iriya?”

“Nona Park, pertemuan hari ini kau tidak perlu datang. Pelanggan itu memintamu untuk menemuinya di rumahnya. Katanya akan lebih efektif jika kau langsung melihat bangunan yang akan kau design.”

“Geuraeyo? Hm.. baiklah. Kirimkan aku alamatnya. Aku akan segera kesana.”

“Algeseumnida.”

Setelah mendapat pesan yang berisi alamat calon clientku, dengan segera kupacu mobilku dengan cepat menuju alamat yang dituju. Untung saja, alamat itu tidak terlalu jauh dari café.

-***-

Jadi ini rumahnya? Besar juga. Arsitekturnya juga bagus. Sepertinya orang itu memiliki selara seni yang tinggi.

..Knock knock..

“Annyeonghaseyo?” aku mengucapkan salam.

Tak lama, pintu itu pun terbuka dan sesosok yang kulihat adalah…

“Eunhye-ah, silahkan masuk.”

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s