My Story on 14-4 (Part 3)

Title: My Story on 14-4 (Part 3)
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Hwayeon

Genre: romance, comedy, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-15

Ini adalah chapter terakhir dari “My Story on 14-4” /yah../
Semoga kalian suka FF chapter perdana author 3.
Tunggu FF chapter author yang lainnya. Untuk sekarang nikmati dulu FF lainnya karya author 3. ‘-‘)b
Maaf kalo selama ini author ada salah kata ato hal-hal yang lain.
Author ga maksud buat ngebash ato nyidir pihak mana pun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Esok hari pun tiba, setelah kerja, aku langsung berdandan seadanya untuk kencan. Kulirik jam tanganku ini sudah pukul 9 lebih, bagaimana ini. Kau memberikan kesan pertama yang buruk. Aku cepat-cepat ke restoran itu. seorang pelayan mengantarkanku ke meja yang sudah dipesan oleh Hwayeon sebelumnya. Aku duduk dengan gelisah. Bagaimana kalau pria itu jelek? Bagaimana kalau pria itu tua? Bagaimana kalau pria itu tampan, tapi tidak menyukaiku? Bagaimana kalau pria itu duda? Arghh!! Pabbo, harusnya aku bertanya dulu pada Hwayeon. Namja jenis apakah yang akan kukencani nantinya. Aku mengacak-acak rambutku histeris. Menyesal aku mengikuti kencan ini.

“Ini pesanannya nona.” seseorang datang dari arah belakang lalu memberikanku sebuah tudung saji seng yang tertutup.

“Mi-mian, tapi aku belum memesan. Mungkin kau..”

Dia membuka tudung sajinya.

“Tung-tunggu.. ini??”

“Chicken Cordon Blue..”

Aku mendongak mendapati Wonshik yang daritadi bediri disana.

“Kau, lagi.” desisku kesal.

“Jangan marah dulu, aku mau menjelaskan semuanya.”

Dia duduk didepanku dan mulai berkata-kata.

“Tidak ada maksud apapun tentang apa yang appaku katakan. Dia hanya tidak ingin aku bergaul dengan sembarang orang..”

“Kenapa tidak kau turuti?” selaku.

“Hah?”

“Jelas-jelas appamu tidak ingin kau bergaul denganku.”

“Bukan begitu, tap..”

Byur

“Terimakasih Wonshik sudah membuat kencanku hari ini berantakan. Aku harap kita tidak bertemu lagi.”
Aku berderi meninggalkan dia dan tatapan heran para pengunjung lain.

“Aku ingin ke Amerika.”

Aku tersikap mendengar perkataanya itu. Aku berbalik dan melihat dia yang tengah berdiri dengan wajah dan bajunya basah oleh anggur merah yang kubanjur padanya beberapa saat lalu.

“Aku ingin ke Amerika.” ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih lantang.

“Baguslah. Nikmati perjalananmu. Selamat bersenang-senang.” Aku keluar dari restoran itu ke parkiran mobil.

Aku harus cari dalang dari masalah ini semua.

“Hwayeon!”

“Mwo-ya? Jangan berteriak! Kyuhyun dan anakku sedang tidur.”

“Akh, mian. Aku akan kesana.”

“Hah? Mwo?!”

“Annyeong.” Dengan kecepatan yang lumayan tinggi aku pergi ke rumah Hwayeon.

Knock knock

“Pabbo. Kenapa kau bertamu malam-malam.”

“Masuk.”

Aku mendorong tubuh Hwayeon untuk duduk disofanya.

“Kau diam. Jawab aku jika perlu.”

Hwayeon masih melongo bingung.

“Sekarang jawab aku. Apa tadi aku benar-benar ada kencan?”

Dia mengangguk.

“Apa benar itu si tinggi?”

Dia semakin mengernyitkan dahinya.

“Wonshik. Kim Wonshik, kau tahu dia?”

Dia kembali mengangguk.

“Kan dia teman kencanmu.” ucapnya enteng.

“Teman kencan?!”

“Jangan teriak. Sudah kubilang Kyuhyun dan anakku sedang tidur.”

“Kenapa tidak kau beritahu sebelumnya padaku?” tanyaku mulai marah.

“Kukira kalian sudah saling kenal. Lagipula Wonshik menyuruhku untuk tutup mulut. Ada apa sih sebenarnya?!”

“Tega.”

“Ada apa?”

Drtt drtt

HP Hwayeon bergetar.

“Sebentar ne. Yeobusaeyo?”

“Hwayeon. Gagal.”

“Apanya?”

“Kencan itu. Itu ide buruk. Dia marah besar padaku dan juga appaku. Tidak mungkin kita akan berbaikan kembali.”

“Serahkan padaku. Besok aku akan membuat janji kencan lagi.”

“Terlambat. Aku sudah ada di Amerika.”

“Sekarang?”

“Aku langsung ke bandara setelah dari restoran. Ngomong-ngomong terimakasih telah membantuku selama ini.”

“Jangan sungkan. Maaf atas apa yang telah terjadi ya.”

“Gwaenchanha. Itu salahku. Annyeong.”

Hwayeon menutup teleponnya dan menatap mengintimidasi kearahku.

“Apa yang kau lakukan pada Wonshik?”

“Tidak ada. Aku hanya membanjurnya dengan anggur merah karena dia menyebalkan.”

“Yak Neo! Lama-lama aku akan membanjurmu juga. Kau juga menyebalkan!”

Aku mengangkat bahu.

“Dia akan pergi ke Amerika hari ini!”

“Memang kenapa?”

“Eonni pabbo! Kejar dia!”

Aku segera berlari dan kembali mengendarai mobilku ke bandara. Paksaan dari Hwayeon membuatku mati kutu.

“Pabbo! Aku tidak mau tahu. Dia harus kembali lagi ke sini, dan berkencan lagi denganmu.”

“Berisik Hwayeon. Kau ingin aku marah dan hilang fokus lalu kecelakaan?”

“Kejar dia. Pastikan dia kembali bersamamu.”

“Arraseo.”

Aku menutup telpon dan segera berlari masuk ke bandara. Beberapa orang menatapku heran. Menyangka aku adalah turis yang sudah kebelet buar air. Mungkin tatapan itu sama seperti saat aku mengguyur anggur merah ke arah Wonshik. Kita impas sekarang. Harga diri kita menjadi rendah.

“Wonshik!” pangilku ketika mendapati seseorang mirip Wonshik sedang berjalan memasuki tempat keberangkatan.

“Wonshik oppa!” panggilku lebih keras lagi. Akhirnya dia menengok ke arahku.

“Pastikan kau menelponku untuk minta ganti uang laundry dan juga maaf atas baju yang tadi. Aku akan ganti rugi baju itu juga…”

Dia tersenyum kecil.

“..Hwayeon yang akan bayar.” lanjutku.

-Besok Malam-

“Berhasil?” tanya Hwayeon menepuk pundakku yang tengah terduduk dibar.

“Ani.”

“Kau bilang tidak seenteng itu? Dia akan pulang 3 tahun lagi.” Hwayeon menenangkan/?

“Terserah lah.”

“Selama itu berkencan apa tidak jatuh cinta?” tanya Eunhye yang langsung membuat aku, Hwayeon dan Hyojin mendelik.

“Apa salah?” Eunhye bertanya membela diri.

“Tidak sih. Betul juga kata Eunhye. Apa kau tidak jatuh cinta padanya.” Hyojin menambahi.

Desahan nafas beratku membuat mereka langsung mengambil kesimpulan.

“Kau jatuh cinta?” duga mereka cepat.

“Hah?” tanyaku yang beum connect.

“Uri pabbo Yoonhee jatuh cinta!” teriak Hwayeon keras.

“Tidak!” tungkasku.

“Lalu?” hwayeon menggantungkan kalimatnya.

Aku menggeleng lemah.

“Baguslah. Berarti kencan ini berhasil, dan kau tidak akan jomblo lagi. Yey!” teriak Hwayeon penuh kemenangan.

“Tapi aku membencinya.” desisku pelan.

“Cih, mana ada yang bilang cinta tapi benci juga?” eunhye jengkel.

“Kau tidak tahu rasanya ditolak appanya sebelum berpacaran.” lanjutku.

“Masa?” Hwayeon mengejek.

“Appanya sangat membenciku.” lanjutku menjelaskan.

“Sudahlah. Lupakan dia dulu sejenak. Hari ini kan hariku untuk melepas masa lajang. Ayo minum.” Hyojin mengangkat gelas birnya.

Betul juga kata Hyojin. Masih banyak yang lebih pantas kupikirkan ketimbang cinta. Toh, nanti cintaku akan berakhir tragis seperti yang lainnya. Aku kan kena kulukan black day.

Matahari pagi membangunkanku. Ini masih jam 6 pagi. Tapi jam 9 nanti acara pernikahan Hyojin. Aku bangun dan merasakan sakit kepala yang teramat. Pasti aku minum banyak kemarin. Aku segera turun untuk sarapan, tapi kepalaku tidak mau dikompromi. Sakit kepala ini membuatku malas untuk berbuat apa-apa. Berharaplah kalau salah satu dari mereka, geng Spicy Wings membuatkanku makanan.

Tara..

Hanya ada satu strip obat dan juga sepucuk surat.

Pabbo minum terlalu banyak kemarin. Makan obatnya atau kau akan jadi pabbo untuk selamanya.
Pasti Hwayeon lagi. Aku segera meminum obat itu dan bergegas ke salon sebelum terlambat.

Brak

“Appo! Sialan koper!” Aku memaki-maki koper yang tengah tergeletak ditengah jalan. Koper sialan itu hanpir membuat jempol kakiku keleseo. Dasar! Lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan padamu.

 2,5 jam aku dirias dan juga ditata. Akhirnya aku bisa pergi ke pesta Hyojin.

“Yoonhee!” pasangan Jungeun menyapaku. Anak mereka yang masih kecil ada dipelukan Jungkook.

“Bagaimana kepalamu?”

“Sedikit sakit. Tapi tadi aku sudah minum obat.”

“Baguslah.”

“Eonni pabbo!” Panggil Hwayeon sembari mendekat. Dibelakang, Kyuhyun menggandeng anak mereka yang usianya 2 tahun.

“Kau kemarin minum banyak sekali!”

“Oh ya?”

“Merepotkan kami tahu tidak!”

“Mian.”

“Ngomong-ngomong dia belum datang?”

“Dia?”

“Itu, Hyojin datang.”

Semua mata terpaku pada Hyojin dan Ricky yang sedang berjalan kearah pelaminan.

Satu lagi, temanku sudah punya keluarga baru.

“Kapan menyusul?” tanya Ricky sesaat setelah pesta dimulai.

“Tega ya kalian. Tidak ada yang mau menungguku.” candaku.

Tiga pasangan itu terkekeh. Untungnya aku masih punya teman-teman yang baik dan pengertian padaku.

“Yoonhee.” Seseorang dari belakang melingkarkan tangannya kepnggangku.

“MWO-YA!” aku meronta dan mendapati Wonshik yang berbuat seperti ini.

“Annyeong.” Sapanya ramah.

“Ini baru tiga hari, kau kan harusnya pergi selama tiga tahu. Kok sudah pulang?!”

“Pabbo. Kau mabuk karenaku kan?”

“Tidak.”

“Ini.”

“Igo mwo-ya?”

“Tagihan laundry.”

“Cih. Aku tidak bawa banyak uang. Nanti saja.”

“Satu lagi.”

Wonshik berlutut didepanku.

“Menikahlah denganku, jomblo terkutuk.” ucapnya sembari menyodorkan kotak beludru yang terbuka dan memamerkan cincin platina didalamnya.

Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya aku mengerti apa yang Wonshik maksud. Kuperjapkan mataku berkali-kali untuk memastikan kalau Wonshik yang aku lihat ini bukan fatamorgana.

“Yoonhee-ya.” panggil Wonshik memastikan kalau aku belum mati.
“Berdiri.” pintaku ketus.

Wonshik yang linglung hanya melongo dan tak lama mengikuti kemauanku.

“Peluk aku.” pintaku cepat.

Wonshik yang berlaku lamban membuatku gemas. Aku merangkulkan tanganku ke pinggangnya lalu menyembunyikan wajahku yang merona malu bahagia didadanya.

“Itu adalah kata-kata paling “romantis” dari seorang namja untukku.” ejekku pelan.

“Dan inilah kelakuan paling aneh seorang yeoja dalam menerima sebuah lamaran.” balasnya mengejek.

“Ceritakan cerita cintamu.” pinta Wonshik saat mengantarkanku pulang.

“Aku pernah menyukai seorang namja, tapi chingunya yang malah menyukaiku, aku pernah menyukai seorang sunbae yang jelas-jelas dari awal tidak menyukaiku. Aku pernah menyukai seseorang yang sama-sama menyukaiku, tapi akhirnya dia berpacaran dengan hobae. Ada juga sunbae yang membuatku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi dia sudah punya yeojachingu. Semua cerita cintaku tidak pernah menemukan titik terang. Bahkan cinta pertamaku malah berpacaran dengan sahabatku sendiri. Menyakitkan bukan?”

Aku tersenyum miris mengenang semua kisahku semenjak pertama mengenal apa itu cinta.

“Pabbo.” ejek wonshik pelan.

“Tapi aku punya kisah yang lebih pabbo ketimbang diriku…” Aku mendehem pelan sembari mengelus cincin platina yang sudah melingkar manis di jari tengahku.

“Kuharap kisah cintaku berakhir pada seorang namja pabbo yang sering sekali kubanjur.” lanjutku.

“Pasti kisah cintamu berakhir bahagia ditanganku. Sekarang kita sudah sampai. Kjja.” Wonshik memintaku untuk turun sesampainya didepan rumahku.

“Ommo!” gumamku mendapati pintu rumah tidak terkunci.

Suara tawa mendominasi ruang tamu rumahku. Wonshik yang berdiri dibelakngku menjaga bagian belakang.

“Eomma. Appa panggilku cepat ketika mendapati mereka adalah orang yang paling mudah kukenali.

“Nn. Kim?” Ingat cenanyang itu kan sekarang dia sedang duduk manis di sofa ku. Apa dia mau bilang kalau kutukan ini akhirnya berakhir?

“Yoonhee.” panggil seseorang yang membuat bulu kudukku beridiri karena takut.

“Tu-tuan Kim?” tanyaku hati-hati.

“Eomma, appa!” panggil Wonshik.

“Hah? Nn. Kim itu eommamu?” tanyaku bingung.

Kedua pasangan orang tua itu menatap kami. Disuruhnya kami untuk duduk.

“Ini acara perjodohan. Eomma dan Nn. Kim sudah setuju. Begitu juga dengan appa dan juga Tuan Kim. Kapan kalian akan menikah?” jelas eommaku cepat, sekali.

“Mwo? Perjodohan?” Keluhku yang nyaris tidak percaya. Semuanya? Semua yang kulewati ini acara perjodohan? Sangat rapi dan terencana. Aku salut pada orang yang ikut campur tangan didalamnya.

“Sejak awal, Nn. Kim dan eomma sudah bersahabat. Kita sepakat menikahkan kalian. Kebetulan, Hwayeon temanmu mau membantu kami. Singkatnya Hwayeon dan kami setuju, lalu acara perjodohan ini berlangsung. Tapi karena Tuan Kim dan appamu cerewet, mereka jadi menyusun rencana agar acara perjodohan kalian tidak berjalan mulus. Tuan Kim memarahimu dan mengata-ngataimu, sedangkan appamu menyuruh Wonshik untuk pergi ke Amerika untuk membuktikan cintamu. Tenyata kau marah dan Wonshik mau-mau saja untuk disuruh pergi. Untungnya appamu menahan wonshik untuk tidak pergi.”

“Itu betul, Yoonhee maafkan aku.” ucap Tuan Kim menenangkan.

“Wonshik apa kau tahu tentang ini?” tanyaku marah.

Dia menggeleng.

“Aku baru tahu saat appmu mengejarku ke bandara dan menyuruhku untuk tidak pergi. darisitu aku baru tahu kalau kita sedang diuji.” jelasnya.

Aku membuang nafas berat karena lega. Aku berdoa, cerita cintaku tidak akan menjadi rumit seperti yang sebelumnya.

Berbulan-bulan semenjak kejadian itu. Aku sedang berdiri menatap cermin. Wonshik yang berdiri dibelakangku sedang memeluk perutku yang sudah mulai membesar dengan lembut.

“Yeoja atau namja?” tanyaku mengelus telapak tangannya.

“Namja, bisakah?”

“Tentu, penghapus kutukan black dayku.” Aku memainkan ceincin pernikahan kami yang melingkar manis di jari manisnya.

“Apa jadinya kalau bukan aku yang menikahimu?” tanyanya berbisik ditelingaku.

“Aku akan jomblo untuk waktu yang lebih lama lagi.” Terimakasih sudah menikahiku.” Jawabku cepat

“Ani. Terimakasih sudah mau menikahiku.”

Cup

Wonshik mengecup bibirku sekilas.

“Ngomong-ngomong Yoonhee. Masih ingat 2 baju yang kau basahi itu? Seingatku kau belum membayarnya.”

“Yak! Suamiku yang kaya tapi perhitungan. Bisakah lupakan itu?”

—END—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s