Archive | May 2015

Romantic Waltz~#100DayOurBlog-Hyo Jin side(Part 6)^^

Tittle  :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Author         : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght : Chapter

Ratt   : G-Semi M

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Makasih yang udah sempetin baca FF Author part sebelumnya yh^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Author kan udah pernah bilang kalau belum berbakat membuat FF Chapter tapi tolong di comment yh^^

Disini mualai ada pergeseran ratting yh~ hhe..

Sedikit ada NC- Author gak tahan kalau gak ada NC, eh?-

Biar jadi referensi gitu~

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

Sebelumnya..

Aku benci Eun Hye eonni.

.

Chapter 6 : ‘Our’ private show-2-

.

.

Seperti biasa kami pergi ke Cafe Spicywings. Cafe langganan kami.

Yoon Hee langsung duduk, begitu juga Hwayeon yang biasanya duduk disamping Yoon Hee.

“Hwayeon, bisa pindah?” pintaku sebelum aku duduk.

“Wae?!” tanya Hwayeon tak suka. Ya! Berisik sekali maknae ini. Tak tau kah aku sedang dalam keadaan emosi? Jinjja.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.”

Hwayeon yang sudah duduk kini berdiri dengan malas. Dia pindah ke bangku diamana seharusnya aku duduk. Dan yang pasti itu bersebelahan dengan Eun Hye eonni.

“Biasa.” ucap kami berempat kompak.

Tak lama, pesanan yang biasa kami pesan sudah ada dimeja kami.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan.

Kalau kalian bisa melihat ekspresi di wajah kami kalian akan ketakutan. Ekspresu kami berbeda-beda namun itulah yang membuat klaian ketakutan.

Wajah Hwayeon mulai berubah menjadi pucat. Akhir-akhir ini dia seperti itu terus. Entah kenapa.

Eunhye? Well, wajahnya terlihat seperti orang yang hilang harapan. Apa dia habis dibuang oleh Ricky? Atau oleh namja satunya lagi? Ternyata ia bisa sedih juga? Semakin memikirkan itu aku semakin tak bisa mengendalikan emosiku.

Yoon Hee? Matanya sangat sembab. Sepertinya ia habis menangis. Mungkin pasiennya terjadi sesuatu. Aku tak peduli.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Hwayeon meninggalkan kami.

“Oh hp kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong” Hwayeon memberikan pengumuman sebelum akhirnya benar-benar keluar.

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Aku ikut-ikutan keluar. Berada disini bisa membuat emosiku memuncak.

Aku kembali ke apartementku. Kurasa Cuma tempat itulah yang paling cocok untuk menenangkan pikiranku.

Drttt..drrt..

Ricky-evil-pabbo is calling

Aish, maunya apa sih?

Tak kuhiraukan panggilan darinya. Apa aku salah? Terlalu kejam? Ya! Siapa yang menjadi korban,eoh?

Tok tok tok

Aish, siapa lagi coba?

Dengan langkah kesal aku membuka pintu dan untuk kesekian kalinya aku menyesal.

Ia Ricky.

“Tunggu. Apa yang membuatmu menjauhiku?” tanyanya pelan.

“Kau pikirkan saja sendiri!”

Saat hendak menutup pintu, Ricky menahannya. Ia masuk dan mengunci apartementku.Ia menatapku marah.

“Kau selalu seperti ini! Seakan semua salahku!” ia mulai meninggikan nada bicaranya.

“Tidak! Ini bukan salahmu! Ini salahku!!”

Aku menangis. Mungkin ini sedikit berlebihan. Namun, kalian pasti akan melakukan hal yang sama jika namja yang kalian sukai hanya memanfaatkan kalian kan?

“Hyo Jin, tatap aku.” Aku masih menunduk. Enggan melihatnya.

“Hyo Jin, tatap aku sekarang!” ia mulai berteriak padaku. Tapi aku masih tak mengangkat wajahku.

“Cho Hyo Jin!!!”

“Wae?? Kau ingin memarahiku lagi? Silahkan!!! Aku benci kau!! Pergi!! Jangan pernah mencariku lagi!!” Aku menatapnya tajam. Kulihat ia sedikit terhentak saat aku berteriak padanya.

“Hyo Jin, apa ini karna Eun Hye?” tanyanya pelan sambil menahan wajahku agar terus menatapnya.

“Kalau iya kenapa? Kalau bukan kenapa?”

“Jawab aku Cho Hyo Jin!”

“Iya!!! Ini semua karna perlakuan khususmu pada Eun Hye eonni! Kau memeluknya! Kau memberinya sebucket bunga mawar! Sedangkan aku? Aku hanya dapat satu tangkai! Daebak! Dan apa itu EunEun pabbo dan ChangChang sunbae? Imut sekali,eoh!”

Grep

“Jadi kau cemburu?” Tiga kata itu sangan menancap dihatiku.

“Kalau iya kenapa?” aku mengalihkan pandanganku.

“Tatap aku.”

Tidak! Jangan suara itu! Suara lembut itu masuk ke telingaku. Perlahan aku menatap kembali matanya. Ia menatap dengan lembut. Aku terhisap dalam keindahan matanya.

“Itulah yang kutunggu selama ini.” Ia tersenyum lalu menarik tengkukku sehingga wajahku semakin dekat dengannya.

CUP

Ia menciumku sangat lembut. Tak ada nafsu yang terasa. Hanya luapan kasih sayang yang terasa. Tak mau munafik aku mengalungkan tanganku di lehernya. Makin lama ciuman kami semakin panas. Aku mendorong dadanya karna pasokan udaraku sudah menipis. Akhirnya ia melepaskan ciumannya. Kami saling menatap satu sama lain sambil mengatur nafas kami. Udara disekitar kami sudah terasa sangat panas. Hanya satu yang ada dipikiranku..

Apa kita akan melakukan ‘itu’?

“Hyo Jin, mianhae sudah membuatmu cemburu. Tapi sungguh. Eun Hye itu hanya hoobaeku saja. Kami sudah seperti oppa dan yedongsaeng saja. Tidak lebih. Sungguh.”  Ricky mengatakan itu sambil memelukku erat.

“Baiklah aku percaya itu. Tapi aku ini siapa?” aku mempoutkan bibirku.

“Kau adalah milikku.”

Setelah itu ia kembali mempersatukan bibirnya dengan bibirku. Sedikit berbeda kanra sedikit menuntut. Aku memperdalam ciuman kami. Rasanya aku tidak ingin terlepas dari bibir itu.

“eummhhhh” desahku tertahan saat Ricky mulai memasukan lidahnya kedalam mulutku. Lidahnya bergerak lincah di dalam. Aku terbuai oleh permainan lidahnya tanpa kau sadari bajuku sudah terjatuh dilantai. Entah kapan ia melepasnya. Yang pasti sekarang aku merasa malu. Aku melepas ciumanku dan menutupi dadaku dengan kedua tanganku.

“Kau tidak usah malu, chagi~  Aku janji aku tidak akan menyakitimu.” Ricky menurunkan kedua tanganku.

“A-aku malu, Ricky-ah.” Kuyakin wajahku pasti sudah sangat merah. Aish, molla~

“Tenang saja. Kau sangat cantik.” Ia mulai menjilat leherku sesekali menghisap dan menggigitnya,

“Aahh, hahh, hahh.. Jangan terlalu banyak, Ricky-ah” aku berkata sambil berusaha menahan desahanku.

“Jangan ditahan sayang.”

“Aahh, hahh.. Ini terlalu nikmat!” Aku tak dapat menahan desahanku saat Ricky mulai memainkan tangan dan mulutnya di kedua dadaku.

“Shall we?” tanyanya sambil mengangkat alisnya sebelah.

“Sudah basah kenapa tidak mandi saja sekalian?” aku menyeringai. Ricky menggendongku ala bride menuju kamarku. Kalian pasti tau kan kelanjutannya?

Tidak? Astaga. Baiklah aku akan mendeskripsikannya sedikit saja..

  • Hubungan antara namja dan yeoja
  • Tanpa pakaian
  • Saling menghangatkan
  • Memasuki dan dimasuki
  • Kasur
  • Desahan
  • Bergesekan

Sudah tau kan? Yasudah jangan diganggu dulu yah.. Lagi sibuk ^^

TBC-

Bagaimana? GJ yah? Mianhae yah~~

Author lagi gak punya ide banget..

Tapi Author masih mengharapkan comment buat Author introspeksi gitu^^

Likenya juga boleh kok..

Silent reader? Author gak larang tapi kalau bisa tinggalkan jejak yh~~

Gomawo yang udah mau baca..

~Cho Hyo Jin

Advertisements

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 6)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Park Ji Min

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 6!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

 

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

 

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

 

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

 

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

 

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

 

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

 

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

 

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

 

Hyojin..

 

Kau ini kenapa?

 

 

Aku berjalan gontai menyusul Hwayeon yang kini tengah berbincang dengan Yoonhee. Hyojin? Dia berada di belakangku, entah sedang apa..

Kami kini berada di dalam mobil milik Yoonhee.

Apakah sesibuk itu menjadi seorang dokter? Lihat saja wajahnya… nampak begitu lelah. Mungkinkah ia kurang tidur? Ingin sekali aku bertanya tapi.. sudahlah.. perasaanku masih bercampur aduk.

Setelah beberapa menit berkendara menggunakan mobil milik Yoonhee, kini kami telah sampai disebuah café. Spicy Wings café. Aku sengguh merindukan café ini, senyaman-nyamannya café lain tapi café ini sudah mengerti diriku. Apa aku melantur?

Kami berempat duduk di tempat biasa kami. Formasinya selalu sama. Hwayeon-Yoonhee-Aku-Hyojin. Namun..

“Hwayeon, bisa pindah?” pinta Hyojin pada Hwayeon sebelum ia benar-benar duduk.

Hah? Mengapa ia pindah? Biasanya juga ia berada di sisiku. Tapi… ini….

“Wae?!” gerutu Hwayeon.

“Aku lebih tua darimu. Sudah, turuti saja.” Balas Hyojin. Mengapa ia begitu tiba-tiba berubah? Hey! Setidaknya jika ia memang sedang ada masalah, bukankah lebih baik ia bercerita atau berterus terang pada kami? Kami ini temannya…

Hyojin pun duduk di tempat dimana Hwayeon berada.

“Biasa.” Ucap kami berempat kompak. Kami semua sehati rupanya. Itu berarti tidak ada masalah di antara kami berempat bukan?

Tak lama, pesanan kami berempat pun sudah terhidang di atas meja kami. Hmmm…. aku sungguh lapar. Semalaman aku tidak makan, dan hanya menangis meratapi nasibku yang menyedihkan ini.

“Kalian semua kenapa?” tanya Hwayeon memecah keheningan. Yah.. suasana ini memang sungguh hening. Tidak biasanya kami begini.

Kami semua hening. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Hwayeon tadi. Aku hanya diam dan terus menatap makananku yang pada akhirnya tidak ingin ku makan. Entahlah, hanya saja aku mendadak jadi malas makan dan hanya memasukan beberapa suap saja ke dalam mulutku.

“Aku pulang. Ada yang menjemputku diluar.” Ucap Hwayeon kemudian pergi meninggalkan kami. Haa~ pasti Kyuhyun. Andai saja Taehyung bisa setia seperti Kyuhyun.

“Oh! HP kalian harus standby ya. Mungkin aku harus menghubungi kalian untuk mengatakan sesuatu. Arraseo? Annyeong.” Jelas Hwayeon kemudian segera bergegas keluar.

Aish…. dia main pergi saja..

“Aku juga mau pulang, moodku sedang tidak bagus.” Ucap Hyojin tiba-tiba kemudian segera pergi. Bagaimana dia bisa… ahh, sudahlah.

“Eonni. Apa kau ingin pulang juga?” tanya Yoonhee padaku. Yaah, kini memang hanya tersisa aku dan Yoonhee disini.

“Mungkin.” Jawabku.

“Biar aku antar.” Tawarnya.

Kami segera meninggalkan café dan menuju ke mobil milik Yoonhee. Entah karena ada perasaan apa, aku tiba-tiba saja mendadak canggung. Perasaanku tidak enak. Sungguh.

“Eonn… oh tunggu sebentar.” Ucapan Yoonhee terpotong oleh dering ponsel miliknya.

Yoonhee pun mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.

“Taengi oppa.” Ucapnya.

Apa aku tidak salah dengar? Ta-Taengi? Panggilan yang manis…. Eo? Yoonhee sudah punya namjachingu? Tapi.. Taengi itu siapa? Namja seperti apa dia itu?

“……”

“Ne. tiga kali tetapi kau tidak menjawab semuanya.”

“……”

“Gwaenchanha. Telepon aku saat kau tidak sibuk .”

“…….”

“Annyeong Taengi oppa.”

Yoonhee mematikan ponselnya.

“Siapa dia?” tanyaku dingin.

“Taehyung oppa.”  Tuturnya. Tae-Taehyung? Apa dia itu Taehyung namjachinguku? Tu-tunggu, jika begitu berarti.. dia..

“Namjachingumu?”

“Ani.” Jawabnya setelah terdengar kikikan kecil dari mulutnya itu.

“Tunangan.”

“Aish… ani eonni.” Bantahnya.

Apa Yoonhee menyembunyikannya? Menyembunyikan sesuatu dariku? Mungkin dia bukanlah tunangan namja bernama Taehyung itu. Tapi, Taehyung itu ada banyak. Jika Taehyung yang di maksudnya adalah Kim Taehyung, jangan-jangan dia adalah Yoonie yang dimaksud Taehyung selama ini??

Yoonhee adalah yeoja yang selalu bertelepon dengan Taehyung? Berarti.. mantan Taehyung bukanlah yeoja bernama Yoonie……..

………..

Tega sekali kau…..

………..

Yoonhee…..

“Ohh, aku ingin turun disini.” Pintaku pada Yoonhee.

“Wae? Dari sini kerumahmu cukup jauh.”

“Aku ada keperluan.” Elakku dari keadaan sesungguhnya.

Keadaan sebenarnya adalah aku mencurigainya memiliki hubungan dengan Taehyung. Jika sampai benar ia berhubungan dengan TaeTaeku, aku tidak akan memaafkannya. Tapi, apa untungnya? Toh Taehyung juga tidak merasa bersalah padaku atas kejadian semalam. Namjachingu macam apa dia itu?

Yoonhee segera menepikan mobilnya.

“Gomawo Yoonhee.” Ucapku sambil bersiap-siap turun.

Aku berjalan gontai menyusuri jalan. Dari sini memang masih sangat jauh dari rumahku. Sungguh.  Ini jauh sekali. Tapi, aku tidak ingin pulang. Dirumah begitu sendiri, aku takut jika aku menjadi depresi. Beban pikiranku sudah berada di ambang batas dan rasa sakit di hatiku sudah tidak bisa dihilangkan lagi sepertinya. Ini sudah keterlaluan! Hidupku sudah tak ada gunanya lagi.

Aku kini berada di dalam bus. Bus yang akan membawaku menuju rumah sejatiku. Rumah tempat Eomma, Appa dan Jimin oppa berada. Lebih baik aku menemui mereka sebelum aku menjadi gila.

Aku turun di sebuah halte bus. Haa~ aku sudah lama sekali tidak kemari. Aku malas berjalan kaki sebenarnya.. tapi rumahku jauh dari halte bus. Aku menyusuri jalan yang sepi. Sejak dulu sampai sekarang  jalan ini masih saja sepi.

Aku melewati sebuah jembatan. Sebenarnya ada 2 jalan untuk menuju rumahku, melewati rumah-rumah dan melewati jembatan dan aku memilih untuk melewati jembatan dari pada melewati rumah-rumah. Memang mungkin bodohku ini akut, aku justru memilih rute yang jauh.  Tapi tidak apa-apa.. aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku dari Tae-

Tiba-tiba saja bayangan ketika Taehyung mencium yeoja itu kembali terbesit di benakku. Mengapa hal menyakitkan itu kembali muncul? Aku sudah berusaha menghilangkannya.. aku bahkan sudah berkeinginan untuk melupakannya.

Tae…

Mengapa kau selalu ada dalam benakku?

Mengapa bayangan menyedihkan itu muncul kembali saat aku mengingatmu?

Apa karena aku merindukanmu saat ini?

Benarkah aku merindukanmu yang sudah menghancurkan hidupku?

Mengapa harus kau yang sungguh-sungguh ku cintai?

Mengapa ?

Mengapa rasanya sungguh sakit?

Mengapa kau mempermainkanku?

Aku….. membencimu……

Haruskah ku akhiri saja hidup menyedihkanku ini?

Sungguh aku tak kuasa menahan sakit ini seorang diri.

Apalah artinya hidupku ini tanpamu..

Tae…

Jika kau bisa meninggalkanku demi keluarga kecilmu itu….

Aku pun juga bisa…

…. meninggalkanmu untuk selamanya.

Aku berdiri.

Bersiap-siap untuk merasakan sakit sesaat ketika ragaku menghantam benda-benda yang ada di bawah sana.

Bersiap-siap untuk melihat dunia yang belum pernah dilihat Eomma, Appa, dan Jimin oppa sebelumnya.

Bersiap-siap untuk kehilangan kesempatan kembali bersenda gurau dengan keluargaku.

Bersiap-siap untuk tidak akan pernah melihat teman-temanku lagi.

Bersiap-siap untuk menghapus semua memori tentang TaeTae kesayanganku secara instan.

“Tae… aku sungguh menc-“

“Hentikan!!!” seru seorang namja kemudian menarikku dari ujung jembatan tempat aku berdiri kemudian memelukku erat.

Kami terjatuh ke tengah jembatan. Aku berusaha berlari kembali menuju tepian jembatan namun lengan namja itu menahanku. Menahanku dengan sangat kuat.

“Eunhye! Sadarlah! Apa yang kau lakukan?! Bodoh!” Seru namja yang tak lain adalah oppaku sendiri. Park Jimin.

“Lepaskan aku, oppa! Aku ingin mati saja… dia sudah menghancurkan hidupku! Untuk apa aku ada disini jika aku hidup tanpanya?!” rontaku. Tapi Jimin oppa makin mengeratkan pelukannya hingga aku terdiam.

“Sadarlah!!! Tenanglah… tenanglah…. ada oppa disini.. kau bisa menceritakan segalanya pada oppa.” Bujuknya.

Kakiku terkulai lemas. Perlahan-lahan tubuhku mulai jatuh terduduk. Untungnya lengan Jimin oppa memelukku erat. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Ia menenangkanku, mengusap lembut kepalaku..

“Sudah.. sudah… kau bisa cerita padaku. Untung saja aku lewat daerah sini. Feelingku berkata untuk melalui jalan ini. Feelingku benar kan, kau akan melakukan bunuh diri disini. Awalnya aku malas.. tapi jika aku tidak jadi lewat sini, kau pasti sudah lewat dari dunia ini kau tahu?!” omel Jimin oppa.  Hiish.. aku ini sedang sedih, sekarang aku malah diomeli.

“Oppa……” lirihku.

“Ah, mianhae… aku malah mengomelimu. Kajja pulang. Eomma dan Appa pasti senang melihatmu. Kau sudah lama tidak pulang.”

Aku menggeleng. Aku tidak ingin eomma dan appaku khawatir melihat kondisi putrinya yang sekarat dan hilang harapan ini.

Untuk sekarang ini.. kurasa… TIDAK. Meskipun aku rindu mereka.

“Wae?” tanyanya.

“Tak apa. Aku tak ingin Eomma dan Appa tahu apa yang sudah terjadi pada putrinya ini.” jelasku.

“Geurom… jika eomma dan appa tak boleh tahu, aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Kau wajib menceritakannya padaku!”

Haiish.. kenapa aku memiliki oppa yang begitu penasaran dengan hidupku sih? Dia saja tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Siapa yeojachingunya, berapa mantannya, apa yang ia lakukan sekarang.. dasar oppa menyebalkan!

“Baiklah. Akan kuceritakan padamu.”

“Haa! Itu baru namanya dongsaeng yang baik!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.”

“Hiyaaa!! Kau malah memporak-porandakan rambutku sekarang. Apa kau tidak tahu kalau menyisir rambut ini memelukan waktu yang lama? Sudah-sudah.. aku ingin pulang.”

“Yak! Pulang? Kau baru saja pulang..”

“Pulang ke rumahku. Bukan ke rumah kita, oppa.”

“Wae?? Kau tega ya.. paling tidak bertemu dulu dengan eomma dan appa.. nanti aku antar kau pulang.”

“Andwae. Nanti mereka khawatir. Jebal oppa.. aku ingin pulang sekarang.”

Jimin oppa mengantarku pulang menggunakan mobilnya. Selama di dalam mobil, aku menceritakan semuanya. Bagaimana awal bertemunya aku dengan Taehyung sampai dengan apa yang aku alami baru-baru ini. Termasuk juga dengan kecurigaanku terhadap Yoonhee.

Kalian tahu yang dikatakan Jimin oppa padaku?

“Jika ia memang mencintaimu, ia pasti akan kembali. Ia diam mungkin karena ia ingin memberikanmu waktu untuk sendiri, atau ia ingin mempersiapkan kejutan untukmu sebagai permintaan maafnya.”

Kira-kira, itu yang dikatakannya. Benar juga. Aku tak perlu terlarut dalam kesedihan. Kejutan? Aku memang menyukainya. Tapi, kejutan terakhir dari Taehyung membuatku sedikit membenci kejutan.

Oh iya! Buku sketsaku! Buku sketsa itu tertinggal di rumah Taehyung. Haruskah aku ke sana untuk mengambilnya kembali? Ah, tidak.. tidak usah. Aku masih terlalu canggung jika harus bertemu dengannya. Aku masih belum siap. Tapi, aku harus apa tanpa buku sketsa itu? Setidaknya aku masih bisa menyelesaikan sketsa design rumah Taehyung. Baiklah….

Aku akan mengambilnya.

“Oppa, turunkan aku disini saja.”

“Wae? Rumahmu kan masih jauh.”

“Tak apa, aku ada perlu sebentar.” Aku merasa sepertinya pernah mengalami kejadian seperti ini. Dimana ya?

“Perlu apa? Oppa antar saja. Kau mau ke mana?”

“Eumm…. aku… mau…. akuu…”

“Ke rumah Taehyung? Ada yang tertinggal? Sekaligus meminta maaf?” terkanya. Well, aku memiliki oppa yang sok tahu. Tapi kali ini ia menebak dengan tepat.

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Arraseo. Oppa akan turunkan kau disini. Semoga beruntung. Fighting!” serunya.

Setelah Jimin oppa menurunkan aku disini, ia segera berlalu. Aku masih berdiri di tempatku sampai aku melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Taehyung.

TaeTae.. aku akan menemuimu…

Aku merindukanmu..

Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Ini dia. Ini rumah TaeTae kesayanganku.

Aku akan segera masuk..

Tae, aku tak sabar ingin melihatmu dan meme…….luk…..mu…..

Langkahku terhenti. Nafasku tercekat. Apa-apaan ini?! Kejadian macam apa lagi yang aku lihat sekarang ini? TaeTaeku… memeluk… yeoja lain? Lagi?! Berapa banyak yeojachingunya sih? Apa aku sudah termasuk yang kesekian untuknya? Padahal.. dia… yang pertama untukku. Tunggu… bukankah itu Yoonhee? Rupanya… dugaanku ini benar…

Taehyung nampak begitu menyayanginya. Dia bahkan mengusap-usap punggung Yoonhee? Berani-beraninya dia…. ah, sudahlah.. percuma aku terus berada di sini. Ekor mataku menangkap sesuatu yang berada di meja dekat pintu. Buku sketsaku! Segera saja ku raih buku itu kemudian segera pergi.

Aku segera keluar dari rumah Taehyung dan pergi ke tempat yang jauh dari kata ramai. Rumahku. Rumahku yang tenang dan damai. Tahanlah tangisanmu, Eunhye. Di rumah kau bisa menangis sepuas yang kau mau..

-***-

Kau..

Jahat,

Tae…

Padahal aku datang untuk memperbaiki hubungan kita.. tapi kau nampak sama sekali tidak peduli dengan kelanjutan hubungan kita dan memilih bersama yeoja lain. Ia bahkan temanku sendiri. Aku tahu aku ini masih jauh dari kata ‘sempurna’ tapi.. aku memiliki cinta yang sempurna untukmu.

Tidakkah kau tahu akan hal itu, Tae?

Tidakkah kau menyadari hal itu?

Tanpa sadar, aku mulai bernyanyi dengan bersimbah air mata..

Aku bernyanyi untukmu, Tae..

Meskipun aku tahu kau tak dapat mendengarnya..

Tapi ku harap, kau dapat merasakannya..

Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata

(The long night is following you as it flows)
I sigani neol ttara heuryeojineun geot gata
(Time follows you and fades)
Wae meoreojyeo ga wae dahji anheul mankeum gaseo..

(Why are you getting farther away? So far that I can’t reach you?)

Tell me why meoreojyeo ga why
(Tell me why, you’re so far away, why)
Ni nunen deo isang naega boiji anhni uh

(Can’t you see me in your eyes anymore?)

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae
(Goodbyes are even more painful)

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata
(I can’t go on if you’re not here)

Saranghaejwo saranghaejwo
(Love me, love me)
Dasi nae pumeuro wajwo

(Come back to my arms)
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over
Love is not over, over, over

Sarangiran apeugo apeun geot yeah
(Love is so painful)
Ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

(Goodbyes are even more painful)

~BTS – Love is Not Over~

Kau tahu? Hubungan kita ini begitu rumit. Sama seperti seni yang rumit. Tapi aku harap hubungan kita ini berakhir dengan indah, sama seperti seni yang berakhir dengan sebuah karya yang indah..

Drrtt… Drrtt..

Ku abaikan ponselku untuk sementara waktu. Mencoba untuk menstabilkan suaraku yang serak akibat menangis.

Satu kali.. dua kali.. tiga kali…

Ponselku terus berdering.

Pada dering ke empat aku menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselku.

“Yeoboseyo..”

“Yak! Mengapa tak kau angkat?” Itu… Taehyung…

“……..”

“HyeHye? Kau baik-baik saja?”

“Tidak sampai kau bisa menjelaskan semua yang sudah kau lakukan..”

“Ini tidak seperti yang.. tunggu, kau.. habis  menangis ya? Suaramu serak..”

“Sudah lah… mungkin ini keputusan yang terbaik..”

“Apa maksudmu? Keputusan apa?”

“Kita berpisah saja Tae…”

“HyeHye… dengarkan dulu. Aku menyayangimu. Sungguh. Yang kau lihat hanya kecelakaan. Itu semua diluar dugaanku. Percayalah.”

“Baik.. aku mengerti kalau itu hanya kecelakaan.. tapi apa pantas itu disebut kecelakaan? Kau mencium mantanmu. Mantan istrimu.”

“Mwo?! Dia bukan mantan istriku. Dia memang mantanku tapi dia bukan mantan istriku. Ia memintaku kembali untuk menikahinya. Anak itu bukan anakku. Dia ditinggal kekasihnya. Jadi-“

-Tut!-

Aku memutuskan sambungan telepon itu..

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya? Atau apa?

Aku benar-benar bingung..

Drrt.. Drrtt..

Taehyung..

Ia kembali meneleponku.

Aku akan mengangkatnya… baik, akan ku angkat.. apa yang ingin kau jelaskan lagi sebenarnya huh?

“Jangan tutup dulu!”

“…….”

“Aku minta maaf. Semua ini hanya salah paham. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku tahu hubungan kita begitu rumit. Tapi aku harap hubungan kita akan berakhir indah seperti layaknya sebuah karya seni. Kau tahu kan? Aku sungguh berharap itu terjadi.”

“…….”

“HyeHye… bicaralah sesuatu.. aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. bicaralah.. katakan sesuatu.. apa saja..”

“Apa saja?”

“Apapun… katakanlah… biarkan aku tahu isi hatimu.”

“Berhenti…”

“Mwo?”

“Berhenti menghubungiku mulai sekarang. Aku tak ingin mendengar suaramu.”

“Hye-“

-Tut!-

Mianhae Tae.. aku hanya butuh waktu sendiri.. ku harap kau mengerti.

Mianhae… aku membencimu…

Saranghae….

Setelah puas menangis akhrinya aku pun tertidur. Hahh.. sudah kusut wajahku ini, ditambah lagi dengan mataku yang sembab. Bagus. Wajahku sekarang sudah sesuram perasaanku. Selamat Eunhye.. wajahmu kini tidak lebih seram dari arwah-arwah yang penasaran.

Ohh! Hari ini ya?! Hwayeon mengajak kami semua pergi berlayar. Aku harus segera bersiap-siap! Omona! Aku belum berkemas sama sekali.. eotteokhae?? Hwayeon pasti sudah menungguku. Hyojin juga ikut kan? Yoonhee… aish! Bertemu dengannya lagi?! Sudah lah… aku tidak akan banyak bicara padanya. Lebih baik ku simpan saja perasaan ini seorang diri. Cukup masalah ini hanya aku dan Taehyung yang menyelesaikannya.

“Eonni… apa mobil yang menjemputmu sudah sampai? Jika sudah segeralah naik. Aku menunggumu di sini.”

Itu adalah isi dari pesan suara yang diberikan Hwayeon padaku sejak……. 1 jam yang lalu?! Haiishh… aku ini tidur macam apa sampai-sampai tidak menyadari ponselku berbunyi.

Aku segera membereskan semua keperluanku. Benar-benar sungguh sibuk. Pagi-pagi sudah sesibuk ini… haiish.. lelahnya.

Aku membawa semua barang-barangku ke bawah. Memang sudah ada mobil yang berada di depan gerbang rumahku. Tapi ya sudah lah…

Aku memberikan barang-barangku pada seorang namja yang sudah berdiri di luar mobil.

Aku lelah. Aku mengantuk. Sungguh.. aku akan segera tidur sa-

Aku yakin aku tidak akan bisa tidur begitu aku melihat namja yang ada di dalam mobil itu.

Kim Taehyung?!

“HyeHye..” panggilnya lirih. Aku tak menjawabnya.

Segera saja aku masuk ke dalam mobil dan segera mencari posisi ternyaman untuk tidur. Sialnya, tidak ada satupun posisi yang nyaman. Mungkin satu-satunya tempat ternyaman adalah dengan bersandar pada bahu Taehyung. Tapi tak mungkin kulakukan bukan?

Aku memejamkan mataku.. berusaha untuk masuk ke alam mimpi.. tapi aku tetap saja tidak bisa. Jadi kubiarkan diriku tersadar walau mataku ini terpejam.

“HyeHye…” panggil Taehyung lagi. Aku diam, meneruskan aktingku untuk berpura-pura tidur. “Kau lelah ya? Wajahmu begitu pucat. Matamu bahkan sembab. Apa semalaman kau menangisiku? Kau tak perlu menangis, HyeHye. Aku tahu aku salah. Aku banyak bersalah padamu. Aku tahu kau tidak akan mendengarnya. Tapi aku akan tetap mencurahkan semua isi hatiku padamu.” Lanjutnya.

Siapa yang bilang aku tidak mendengarmu? Aku mendengarnya. Mendengar semua yang kau ucapkan. Aku ini memang munafik. Aku tak ingin melihatmu, mendengar suaramu, berdekatan denganmu. Tapi itu salah, hatiku berkata bahwa aku merindukanmu, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin berada di dekatmu. Berada bersamamu saat ini membuatku sungguh senang. Meskipun aku harus berpura-pura tidur agar bisa dekat denganmu.. tapi itu tak masalah.

Taehyung memindahkan kepalaku ke bahunya.

Ini memang yang kuinginkan.. bersandar pada bahumu. Ini adalah psisi ternyaman. Sungguh, rasanya aku ingin menangis saat ini. aku merindukan saat-saat kita bersama..

“HyeHye.. “ Taehyung mengusap kepalaku lembut. Belaian ini yang sungguh ku rindukan. Taehyung mengecup keningku sekilas. Jika boleh, jika aku bisa, aku akan menangis dalam pelukannya sekarang. Sesegera mungkin.

Ojik neo hanaman boyeo

(I can only see you)
Na ojik neo bakken anboyeo

(I can only see you alone)
Bwa gongjeonghaji gongpyeonghaji neohante ppaegon da ijen dan harudo neo eopsineun Please
(Look, I’m fair with everyone else but you Now I can’t live a day without you, please)

Kkwak jabajwo nal anajwo

(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me, can you trust me
Kkwak kkeureoanajwo

(Pull me in tight)
Kkwak jabajwo nal anajwo
(Hold me tight, hug me)
Can you trust me, can you trust me
Jebal jebal jebal kkeureoanajwo

(Please, please, please pull me in and hug me)

~BTS – Hold Me Tight~                                         “
Selama bernyanyi ia terus mengusap kepalaku. Ia mengusap kepalaku lembut.

Aku berusaha mati-matian untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh.

Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus memaafkannya? Apa yang harus aku lakukan.

Tiba-tiba saja pipi kananku terasa basah. Seperti ada tetesan air yang mengenai permukaan kulitku. Jangan-jangan..

“Mianhae, HyeHye.. aku tak seharusnya begini. Aku memang cengeng. Aku bukanlah namja yang kau harapkan. Tak seharusnya aku menangis seperti ini. Tapi hal yang kurindukan belakangan ini telah mendominasi perasaanku. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu. Hanya bersamamu. Bukannya berjauhan seperti ini. Andai kau mendengarnya..” ucapnya lirih.

Sungguh aku tidak tahan lagi..

Segera kuangkat kepalaku kemudian mengecup pipi kanannya.

“Aku mendengarnya.. aku mendengar semuanya. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merindukanmu.” Ucapku.

“Mianhae… jeongmal saranghae.” Ucapnya kemudian memelukku.

Aku menangis. Menangis bahagia. Menumpahkan seluruh kerinduanku padanya. Aroma tubuh Taehyung yang sudah lama tak ku hirup kini kembali menyeruak di indera penciumanku. Aku merindukan aroma ini. Aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Memeluknya erat. Aku tak ingin kehilangannya untuk yang kesekian kalinya.

“Hey, HyeHye… sudah jangan menangis.. ssshhh.. uljima… kalau kau menangis lagi, wajahmu jadi tambah bengkak tahu.” Ejeknya.

Hiiyaa!! Namja ini benar-benar.. baru saja kita berdamai…

Tapi aku tahu maksudnya adalah untuk menghiburku.

Aku merindukanmu..

Kini sampailah aku di dermaga. Kulihat pasangan iblis Hwayeon dan Kyuhyun, Hyojin dan juga… ChangChang sunbae!! Huwaa! Ia disini?! Ini pasti menyenangkan. Oh iya.. Yoonhee dimana ya?

Kami turun dari mobil dan menghampiri mereka. Taehyung merengkuh pundakku. Benar-benar nyaman rasanya..

Tak lama, sebuah mobil pun tiba dan lihatlah siapa yang turun dari mobil itu..

Yoonhee dan…. eo? Nugu? Namja? Namjachingunya? Tunangannya? Atau apa? Sudahlah, aku malas membahas urusan yang bukan urusanku. Meskipun aku memang ingin tahu sih..

-Hug-

Omo! Apa-apaan ini?!

Yoonhee memeluk Taehyung?!

Aish!! Jinjja!

Mereka berbisik-bisik?!

……………………..

Tae..

Kita baru saja berbaikan….

-TBC-

I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Title: I’m Your Fans #AnniversaryVIXX

Author: Jung Yoonhee

Cast:

~ Jung Yoonhee (OC)

~ Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:

~ Other VIXX member

Genre: romance, comedy

Length: Oneshoot

Rating: PG-13

Happy Anniversary my bias, VIXX 
Moga-moga suka dan enjoy.
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

Kita bagaikan sepasang sayap yang selalu terbang bersama. Jika salah satu diantara kita hilang, yang satu lagi pasti tidak akan bisa terbang sendiri. Begitulah kisah cinta kita.
-Kim Wonshik & Jung Yoonhee-

*Yoonhee POV*

Aku menarik koperku, lalu duduk disebuah bangku.

-flashback-

“Choi ahjumma!”

“Nona Jung, kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabari aku. Kalau mengabariku kan kau bisa kujemput.”

“Baru tadi subuh sampai. Ahjumma pasti sedang tidur. Jadi, bagaimana kabarmu ahjumma?”

“Sangat baik, sangat bahagia, dan sangat terkejut.”

Aku tesenyum kearahnya. Tidak ada yang berbeda disini. Bangunan dual anti dengan taman buatan disekelilingnya. Choi ahjumma, pembantu andalan keluarga kami yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Hanya usianya sajalah yang bertambah.

“Masuklah nona.”

Choi ahjumma mengambil semua bawaanku.

“Kenapa Tuan dan Nyonya Jung tidak ikut?”

“Setelah kuliah, aku kembali untuk bekerja. Eomma dan appa tetap di Amerika untuk mengurus perusahaan.”

“Arraseo. Anda mau makan apa nona?”

“Hoamm.. aku lebih baik tidur.”

“Masih jet lag?”

“Hem, aku tidur ya ahjumma.”

Aku naik ke kamarku. Setelah beres-beres dan mandi, aku tidur.

Drtt drtt

“Nugusaeyo?”

“Ini aku Nona Jung, Tuan Hwang.”

“Tuan Hwang annyeonghasaeyo.”

“Annyeong. Suaramu serak, ada apa?”

“Hehe, baru bangun tidur.”

“Ohh.. hahaha.. Janji kita nanti siang jadi.”

“Jadi, apa alamatnya sudah Tuan berikan?”

“Nanti ada mobil yang menjemput. Nona Jung saja yang berikan alamatnya ke saya.”

“Baiklah.”

“Selamat pagi Nona Jung. Maaf mengganggu.”

“Gwaenchanha, annyeonghasaeyo.”

Aku terpaksa bangun. Aku berjalan gontai ke bawah.

“Ahjumma, bisa buatkan aku 2 gelas kopi?” kududukan diriku dikursi meja makan.

“Untuk apa nona?” tanya Choi ahjumma bingung.

“Aku sangat mengantuk, sedangkan aku harus siap-siap kerja.”

“Oh, arraseo. Tunggulah sebentar nona.”

Satu jam berlalu. Semua yang kusiapkan sudah selesai.

Din din

Sebuah mobil van putih terparkir didepan rumahku.

“Ahjumma, aku sudah dijemput. Aku pergi dulu ya.” pamitku seraya berjalan keluar.

“Baiklah nona. Hati-hati.” dia mengantarku sampai pintu.

Sang supir membukakan pintunya untuuku. Kurang lebih 15 menit dari rumahku ke tempat tujuan.

Citt

“Wae?! Kenapa berhenti mendadak.” bentakku kaget.

“Mianhae, tapi orang-orang didepan sangat membuat rusuh.”

“Aish..”

Klek

Bam

Aku keluar dari mobil, dan mencoba menerobos masuk.

“Pemisi. Maaf, permisi. Aww! Hey, berhenti menginjak!”

Percuma, tubuhku terlalu pendek jika dibandingkan dengan mereka. Dan sekarang, aku sudah ada diluar kerumunan lagi.

Ish!

“Yeobusaeyo Tuan Hwang. Aku sudah ada didepan entertaimentmu, tapi disini penuh sekali. Aku tidak bisa masuk.”

“Maaf karena itu. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengawalmu. Tunggulah sebentar.”

“Kamsahamnida Tuan Hwang.”

Cukup lama, sampai akhirnya kerumunan itu terbelah.

Dua orang lelaki tinggi besar menghampiriku.

“Nona Jung?” tanyanya tegas.

“Ne.”

“Ikutlah kami.”

Mereka berdua mengawalku sampai masuk kedalam gedung.

“Maaf, aku ingin ke toilet.” pintaku canggung.

“Apa perlu kami antar?” tanya mereka dengan wajah datar.

“Tidak perlu!”

“Kalau begitu, anda ditunggu Tuan Hwang di ruang latihan lantai 3.”

“Baiklah.”

Setelah dari toilet, aku lansung ke lantai 3.

“Ini ruangan.. ehmm.. bukan. Yang ini ruangan….bukan bukan.”

Aku berjalan mengendap-endap bak seorang pencuri. Tempat ini terlalu luas, dan terlalu banyak ruangan disini.

“Yak! Bagaimana bisa fans masuk kesini?” seseorang memergokiku.

“Mwo? Aku?” aku membalikan badan ke arah si tukang tuduh.

Dia seorang lelaki. Badannya tinggi kurus dibalut oleh hoodie hitam. Dia membawa sebotol air mineral dan juga badanya penuh dengan keringat.

“Keluarlah sebelum aku panggil pengawal.” suruhnya dingin.

“Panggil saja. Aku ingin keruang latihan, ada perlu. Lagipula aku fans siapa?” lawanku tak mau kalah.

“Lebih baik kau keluar.” suruhnya dengan lebih dingin lagi.

“Andwe.”

Aku melepaskan tangannya yang terus mendorongku.

“Lepas atau aku akan berteriak!” ancamku marah.

“Silahkan saja kalau berani.”

“AAAA!!!! TOLONG ADA PENCULIK DISINI!!!”

Beberapa orang keluar dari ruangannya. Mereka semua mengerumuni kami.

“Nona Jung.” pangil salah seorang.

“Tuang Hwang. Lelaki ini terus mencoba mengusirku.” aku berjalan mendekati Tuan Hwang.

“Apa itu sesuatu yang pantas, Wonshik?” tanya Tuan Hwang pada lelaki tadi.

“Wonshik?” ulangku berbisik.

“Masuklah.” Tuan Hwang mengajakku masuk keruangan latihan yang cukup besar.

“Ini Nona Jung. Dan Nona Jung ini VIXX.” dia memperkenalkanku pada enam orang.

“Tuan Hwang, Yoonhee saja tolong.” bisikku malu-malu.

“Oh, baiklah Yoonhee. Aku ada sedikit keperluan. Kau bisa bertanya atau berkenalan dulu sebelum rekaman.”

“Arraseo. Annyeonghasaeyo Tuan Hwang.”

“Annyeonghasaeyo.”

Tuan Hwang meninggalkan kami bertujuh.

“Hemm.. baiklah. Seperti yang sudah Tuan Hwang beritahu tadi, aku adalah Jung Yoonhee. Aku sudah bersekolah musik sejak SMA. Aku tinggal di Amerika dan sengaja kesini karena ada tawaran dari Tuan Hwang untuk menjadi composer dan juga produser kalian. Ngomong-ngomong siapa kalian tadi?”

“VIXX.” ucap salah satu diantara mereka.

“Aku tidak tahu siapa kalian. Jadi mari berkenalan.”

Mereka membuat baris melintang. Aku mendekati orang pertama.

“Siapa namamu?”

“Aku Jung Taekwoon atau Leo. Posisiku vocalist.”

Terlalu dingin dan cuek. Taekwoon itu menakutkan. Begitu kesan pertamaku.
Aku berjalan ke orang kedua.

“Aku Lee Jaehwan, stage nameku Ken. Aku juga vocalist.”

Begitu semangat dan energik. Pasti susah berhenti untuk bicara. Itu kesan pertama yang Ken beri padaku.

Aku berjalan ke orang ketiga.

“Aku Lee Hongbin, aku vocalist dan juga rapper.”

Cool, tampan, tapi bukan tipeku.

Aku berjalan ke orang selanjutnya.

“Aku Cha Hakyeon, stage nameku N. Aku leader, vocalist dan juga dancer disini.”

Tidak ada aura leader, adanya dia lebih terlihat sebagai orang yang banyak sekali aegyo. Seperti perempuan berkulit gelap. Itulah N menurutku.

Aku menatap orang kelima.

“Akh.. kau itu Wonshik. Iya kan?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Ne. Namaku Kim Wonshik, stage nameku Ravi. Aku rapper. Maaf atas kejadian tadi.” dia membungkuk padaku.

“Gwaenchanha.”

Wonsik memberikan kesan pertama yang buruk padaku. Skip saja.

Aku mendekati orang yang terakhir.

“Yang terakhir?”

“Aku Han Sanghyuk, panggil aku Hyuk saja. Aku ini vocalist dan juga dancer.”

Imut, tampan, seperti anak kecil, menarik, garis wajah tegas. Terlalu banyak aku memujimu Hyuk, tapi memang itulah dirimu.

“Hemm.. aku harus panggil kalian siapa?” aku kembali kedepan.

“Oppa saja!” seru Ken.

“Oppa, apa kalian tidak keberatan?”

“Tidak.” ucap semuanya.

“Bisakah kau ceritakan tentang dirimu pada kami?” sela Hyuk.

“Simpel saja. Aku Jung Yoonhee. Aku baru saja lulus kuliah. Aku suka musik, awalnya sebagai hobi, tapi sekarang malah jadi pekerjaan. Aku tinggal di Amerika sudah 18 tahun.”

“Masalah cintamu?” Hyuk menyela lagi.

“Cinta? Aku tidak begitu suka pria barat. Aku lebih memilih pria Asia untuk jadi pasangan. Seumur hidupku ini akku belum pernah berpacaran.”

“Umurmu?” tanya mereka penasaran.

“19.” ucapku enteng.

“Wah…” mereka berdecak kagum.

“Sudah cukup? Sekarang ayo seriusnya. Semuanya pemanasan. Vocalist dengan vocalist, rapper dengan rapper.”

Mereka melakukan pemanasan. Selanjutnya aku menyuruh mereka untuk tampil didepanku. Para vocalist menyanyi, dan rapper melakukan rap, tentunya.

“Dalam rangka menyambut anniversary kalian, aku disuruh untuk membantu kalian membuat album yang berbeda. Aku telah memutuskan dan menyepakatinya bersama dengan Tuan Hwang. Satu lagu bersama, dan sisanya kalian semua harus bernyanyi sendiri-sendiri. Perlu diingat. Kalian harus membuat lagunya juga sendiri, aku hanya membantu kalian. Temanya adalah STARLIGHT, itu nama fans kalian?”

“Ne.”

“Para rapper juga harus bernyanyi. Ya, sedikit tapi harus ada.”

Semuanya diam.

“Ada yang keberatan?” tanyaku ragu-ragu.

Semuanya menggeleng.

“Kita akan mulai rekaman esok hari. Ini lagunya, aku baru saja membuat lagunya dan membagi-baginya. Semuanya kebagian menyanyi. Hongbin dan Wonshik kalian tidak keberatan kan?”

“Ani.” ucap keduanya.

“Aku hanya tidak bisa membuat lirik rap. Disini siapa yang biasanya membuat lirik rap?”

Wonshik mengangkat tangannya.

“Ayo kita bertemu dan buat lirik rap utuk lagu ini. Sepulang dari sini ke rumah ku. Apa bisa?”

Dia mengangguk.

“Sekian untuk hari ini. Wonshik oppa, kjja.”

Kami diantar oleh supir untuk sampai kerumahku.

“Aku pulang ahjumma.” sapaku saat masuk rumah.

“Eomma?” bisik Wonshik tragu-ragu.

“Jelas-jelas aku panggil ahjumma. Dia pembantuku.” balasku berbisik.

“Oh, ahjumma.” sapanya.

“Ini siapa nona?” tanya Choi ahjumma heran.

“Rekan bisnis. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Ohh..”

Aku dan Wonshik naik dan masuk ke ruang kerjaku.

“Ini sangat canggung.” Wonshik berbicara pelan.

“Wae?”

“Aku masih merasa bersalah karena tadi, tapi ada yang lain. Sesuatu mengganjal membuatku canggung.”

“Apa itu? Tidak biasa berdua dengan perempuan?”

“Entahlah.”

“Akh.. sudahlah kita selesaikan saja pekerjaan kita.”

Berjam-jam kami habiskan diruangan ini untuk membuat lirik rap. Choi ahjumma juga sudah bulak balik membawakan makanan dan juga minuman.

“Matamu sangat bagus.” Wonshik mencari topic.

“Menyindir?” aku menatapnya.

“Matamu besar, namun ada lingkaran hitam. Kau belum tidur?”

“Jet lag. Tahu lah. Aku jadi bingung, harus tidur jam berapa.”

“Tidurlah kalau begitu. Ini sudah jam 7.”

“Jinjja? Sudah jam 7 lagi? Hoamm..”

“Tidurlah. Aku yang akan selesaikan, sekalian untuk membuat lagu. Apa tidak apa-apa jika aku sampai malam disini.”

“Silahkan saja. maaf membebani pekerjaanku padamu.”

“Gwaenchanha.”

Aku mulai tertidur.

“Hoamm..” aku duduk dimeja makan dalam keadaan setengah sadar.

“Selamat pagi Nona Jung.”

“Wonshik mana?”

“Baru saja pulang jam 4.”

“Memang sekarang jam berapa?”

“6, nona.”

“Aku ada janji jam 7 nanti. Bisa buatkan aku bekal, jus, dan jua kopi?”

“Tentu saja.”

Aku segera mandi dan menyiapkan keperluan pekerjaan.

Mobil van putih itu sudah menunggu didepan rumahku pada pukul 7.

“Kurasa aku akan pulang malam.” pesanku pada Choi ahjumma.

Aku segera pergi.

“Selamat pagi Wonshik oppa.” sapaku sesampainya di gedung entertainment.

“Selamat pagi juga. Tidur nyenyak semalam?”

“Lumayan. Oppa bagaimana?”

“Cukup lah. Maaf sempat ketiduran dirumahmu kemarin.”

“Gwaenchanha.”

Hari itu kami memulai rekaman. Perlu waktu dua hari, sampai akhirnya rekaman suara itu menjadi benar-benar bagus.

“Aku akan membantumu mengaransement.” Wonshik kembali ingin membantuku.

“Boleh.”

4 hari berlalu. Dan lagu VIXX pertama sudah selesai. Cukup cepat. Tapi kurasa kita akan dikejar deadline. Tanggal lirisnya 2 bulan setengah lagi.

“Besok ini kita akan membuat MV.”

Begitu pesan Tuan Hwang. Kita akan menginap di pulau Jeju selama 3 hari.

Pagi-pagi benar aku sudah berkumpul di gedung entertainment bersama Tuan Hwang, VIXX, beberapa cameramen, make up artist, wardrobe artist dan juga seorang yeoja yang tidak kukenal.

“Siapa dia?” tanyaku pada Hyuk.

“Model MV kita. Dia itu salah satu fans beruntung yang terpilih.” jelas Hyuk.

“Ohh..”

Kami akhirnya pergi ke Jeju dan mulai membuat MV.

“Apa benar? Enak sekali dia. Di MV ini dia diperebutkan 6 orang?” gumamku.

“Cemburu eoh?” tanya Wonshik mendekat.

“Ani.”

“Tenanglah. Dia itu hanya fans Hyuk yang fanatic saja. Dia tidak akan macam-macam dengan member lain.”

“Lalu? Apa yang harus kutenangkan?”

Wonshik meninggalkanku untuk mengambil gambar.

Keesokkan harinya adalah hari terakhir di Jeju.

“Hari ini akan menjadi hari bebas kalian.” seru Tuan Hwang yang sontak mendapat sorakan dari semuanya.

“Ayo kita naik paralayang.” ajak Hongbin.

Para member VIXX, aku dan juga fans beruntung itu pergi ke sebuah bukit untuk paralayang.

“Satu paralayang untuk dua orang.” perintah sang coach.

“Ya berarti yeoja dengan yeoja saja.” N mengambil keputusan.

“Andwe! Aku mau dengan Hyuk.” si fans fanatik itu menggengam lengan Hyuk.

Cih, sangat centil.

“Kalau begitu Yoonhee denganku.” Wonshik menarik tanganku lalu kami naik kesalah satu paralayang.

Dalam hitungan ketiga, kami semua terbang bersama.

Semua pemandangan disini sangat indah dari atas, kecuali itu.

“Cemburu?” tanya Wonshik sembari terkekeh.

“Kau selalu bertanya apa aku cemburu atau tidak. Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Kalau kau tidak cemburu, untuk apa memperhatikan merka berdua?”

Aku kembali meluruskan pandanganku pada Hyuk dan yeoja itu yang terbang dibawah kami.

“Iya, aku cemburu.” ungkapku mengaku.

“Sejak kapan suka Hyuk?”

“Sejak awal bertemu.”

“Wow.”

“Jangan bilang-bilang.”

“Oke. Rahasiamu aman padaku.”

Kami terbang dalam waktu yang cukup lama. Dan sampai akhirnya kami mendarat.

Kami kembali ke hotel untuk check out, lalu makan siang, dan kembali ke Korea.

“Aku duduk disini ya.” Wonshik duduk disampingku.

“Mereka sudah jadian. Fans itu dan Hyuk. Jangan beritahu siapa-siapa, ini sangat rahasia.”

“Lalu kenapa kau memberitahuku?” tanyaku heran.

“Aku merasa kalau kau pantas tahu.”

“Biarkan saja. Mereka sangat pantas dan serasi. Sama-sama menarik, sama-sama tinggi. Aku juga setuju.”

Kami bertatapan.

“Sakit hati?” wonshik mengernyitkan dahinya.

“Ani.” ucapku polos.

“Bagusnya aku suka pada perempuan yang tidak terlalu tinggi.” Wonshik mengelakkan pandangannya dariku.

“Hah?”

“Ani, tidurlah. Perjalannannya cukup jauh.”

“Tap..”

Wonshik memegang pipiku dan mernaruh kepalaku ke bahunya.

“Tidur saja. Jangan banyak bicara.”

Aku mulai memejamkan mataku.

“Kita sampai.” Wonshik membangunkanku.

“Apa besok kita akan mulai rekaman lagi?” tanya Leo didepan semua member yang lain.

“Ne. Kurasa akan lebih mudah bila dimulai dari Leo, Ken, N, Hyuk, Hongbin dan yang terakhir Wonshik.” jelasku.

“Oh, baiklah.” ucap Leo mengerti.

“Ngomong-ngomong, kenapa hanya Ravi saja yang dipanggil dengan nama asli? Kalian ada apa-apa ya? Kalian pacaran?” Ken mulai penasaran.

“Ani!” ucapku dan Wonshik dengan serempak.

“Aku hanya lebih suka panggil Ravi oppa Wonshik saja. Lebih enak.” jelasku sejelas-jelasnya.

“Aduhh.. kalian ini lucu sekali.” Hyuk ikut-ikutan.

“Akh, sudahlah. Aku pulang ya semua. Annyeonghasaeyo.” aku berpamitan lalu pulang.

“Selamat datang nona. Apa kau lelah?”

“Aku ingin teh hangat. Tolong kirimkan kekamarku ya.”

Aku naik kekamarku untuk mandi dan melanjukan pekerjaanku.

Knock knock

“Ne.”

“Nona, ini tehnya.”

“Kamsahamnida ahjumma.”

“Apa ada yang salah nona?”

“Menurutmu aku ini kenapa ahjumma?”

“Wajahmu seperti orang yang patah hati.”

“Jinjja? Apa sangat terlihat?”

“Sangat. Apa anda sedang bertengkar dengan lelaki yang kemarin datang ke rumah?”

“Siapa? Wonshik? Dia hanya temanku.”

“Kelihatannya lebih nona.”

“Hah?”

“Maaf nona, bukannya saya ingin ikut campur. Kalau begitu, saya permisi.”

Choi ahjumma keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa ahjumma mengatakan hal seperti itu? Apa aku dengan wonshik cocok? Mana mungkin. Sudahlah lupakan. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk.

“Selamat pagi semuanya.”

“Pagi Yoonhee. studio Rekamannya bagus sekali.” puji N.

“Jinjja? Ini milikku.”

“Jinjja?! Kau anak orang kaya ya?” duga Ken cepat.

“Tidak juga. kita bahas lagi nanti ya. Leo oppa, masukklah.”

Rencanaku hari ini adalah hari percobaan. Semuanya mencoba bernyanyi. Sisanya kubantu merombak atau juga menambahkan.

Barulah keesokan harinya, rekaman dimulai. Hari ini adalah hari bagi Leo untuk rekaman suara. Butuh waktu 3 hari untuk rekaman dan juga 2 hari untuk aransement. Selanjutnya Ken. Bagusnya dia cepat. 4 hari untuk rekaman dan juga lagunya sudah diaransemen. Setelah Ken, ada N. 4 hari rekaman dan 3 hari aransemen. Lalu ada Hyuk, 3 hari rekaman, 3 hari aransemen. setelah itu Hongbin. Dia cukup sulit 6 hari rekaman, 3 hari aransemen. Yang terakhir yang menurutku paling sulit.

“Oppa, seriuslah sedikit. Sudah satu minggu lebih kita rekaman. Tapi tidak ada yang bagus.” ucapku mulai putus asa.

“Mianhae. Ini yang terakhir. Aku janji.”

Akhirnya pekerjaanku selesai. Wonshik membutuhkan waktu 8 hari untuk rekaman dan juga 3 hari untuk aransemen.

“Setelah ini kau mau apa?” tanya Wonshik setelah selesai rekaman.

Aku mengangkat bahuku.

“Kita makan yuk.”

Wonshik mengajakku ke restoran local didekat studio.

“Untukmu.”

“Igo mwo-ya?”

Aku memperhatikan kotak hadiah pemberian Wonshik.

“Kalung?” tanyaku seusai membuka kotak itu.

“Platina. Aku harap kau suka bentuknya.”

“Wing?”

“Ne. Kau suka?”

“Sangat.”

“Biar kupasangkan.”

Wonshik berpindah ke belekangku. Diambilnya kalung itu, lalu dipakaikan pada leherku.
“Dalam rangka apa kau memberikan kalung ini padaku?”

“Hadiah saja. Jaga baik-baik ya.”

-skip time-

Tepat di hari anniversary VIXX. Album itu liris.

“Igo.” semua member VIXX berkunjung kerumahku.

“Album? Dan tanda tangan?”

“Ne. Kami ingin kau menyimpan album itu satu. Ngomong-ngomong, apa besok kau bisa makan bersama dengan kami dan juga Tuan Hwang?”

“Mian. Aku pulang ke Amerika malam ini.”

“Yah.. sayang sekali. Kalau begitu kami semua pamit ya.”

Semua member pulang, kecuali satu.

“Yoonhee, aku ingin rekaman.” pinta Wonshik singkat.

“Untuk lagu yang mana?” tanyaku penasaran.

“Laguku.”

Kami berdua naik taksi untuk sampai ke studioku.

“Baiklah. Kita mulai.”

Lampu rekaman menyala.

Lagu yang dia bawakan ini menceritakan seorang lelaki yang mengagumi seorang wanita yang mengagumi orang lain. Singkatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Baru kali ini aku mendengar Wonshik menyanyi sebagus ini. Semuanya lancar dan mulus-mulus saja.

“Bagus sekali oppa.” aku hendak mematikan tombol rekaman itu.

“Jangan lepaskan headphonemu Yoonhee.” pintanya.

Aku kembali duduk dan membenarkan headphone ku.

“Waegeurae?” tanyaku bingung.

“Aku tahu kalau kita baru kenal. Dan aku ingin mengenalmu lebih lagi. Aku tidak melarangmu untu ke Amerika lagi, dan aku juga tidak mau basa-basi. Aku suka padamu sejak pandangan pertama. Membentakmu di entertainment, dan menuduhmu sebagai fans kami hanyalah siasatku untuk bicara denganmu. Memang kedengarannya bodoh, hehe.. Aku mulai berani untuk mendekatimu. Aku sangat senang bisa kerumahmu dan membantumu. Tapi akhirnya aku tahu kalau kau menyukai orang lain. Hatiku sakit, tapi ternyata hati kita terluka secara bersamaan. Hyuk memiliki wantia lain. Mungkin Tuhan berpihak padaku. Kalung wing yang kuberikan itu, itu adalah kalung pasangan. Kau punya bagian kanan, dan aku bagian kirinya. Kalau kau mau lihat, nih. Aku selalu memakainya, berharap kita bisa selalu bersama seperti sepasang sayap yang terbang bersama. Kali-kali, ayo kita terbang bersama lagi. Dan inilah yang terakhir yang dapat kuberikan padamu. Lagu ciptaanku sendiri yang khusus tertuju untukmu. Judulnya “I’m Your Fans.” Karena memang itu aku, mengagumimu. Sifat dan juga fisikmu. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

“Oppa..” panggilku lirih.

Air mataku mulai berlinang.

“Haduh Yoonhee, maaf banyak bicara. Apa kau tidak akan ketinggalan pesawat.”

“Oppa..” panggilku lebih keras lagi.

“Ne Yoonhee.”

“Apa aku harus menjawabnya?” tanyaku ragu-ragu.

“Jujur aku sangat pesimis. Tapi itu terserah padamu.”

“Aku tidak mau fansmu mengejarku dan juga mengincarku. Hubungan kita hanya sebatas profesionallitas pekerjaan saja ya. Mianhae.”

“Gwaenchanha. Kau boleh matikan rekaman ini. Aku akan mengantarmu ke bandara.”

Kami keluar dari studio. Wonshik meminjam mobil entertainment untuk mengantarku.

Dan disinilah kita sekarang berdiri. Bandara.

“Sampai disini kita?” tanya Wonshik mencoba tegar.

“Mianhae.” ucapku super merasa bersalah.

Wonshik mengulurkan tangannya, aku pun membalas.

Syutt

Wonshik menarikku lalu mendekapku.

“Oppa!” seruku kaget.

Cup

Wonshik mulai menciumku dan perlahan melumatnya. Aku pun membalas.

“Oppa.” Aku menghentikan kegiatan itu.

“Sampai jumpa Yoonhee.”

“Sampai jumpa Wonshik oppa.”

-flashback end-

1 tahun berlalu semnjak kejadian itu. Disinilah aku, duduk dibandara sembari menonton acara talkshow Korea.

“Jadi Ravi. Kau sudah punya pacar?” tanya sang MC.

“Calon pacarku takut jika para fans membencinya.”

“Tragis sekali. Apa ada salam untuk orang yang kau suka atau para fans?”

“STARLIGHT, aku menyukai seorang gadis. Dia sangat baik. Tetapi dia menolakku demi kalian. Aku sebenarnya sangat mencintainya, aku memohon kepada kalian semua STARLIGHT. Tolong restuilah kami.”

“Wah.. itu pesan untuk STARLIGHT yang sangat berani.” puji sang MC.

“Ada lagi.”

“Apa itu? Pesan untuk orang yang kau suka?”

“Changi. Kapan kau ke Korea lagi? Jika sudah sampai. Kabari aku, aku akan menjemputmu. Jangan naik taksi. I miss you, Saranghae.”

Aku terkekeh melihat tingkah genit Wonshik.

“Baru menontonnya?” bisik orang disebelahku.

Aku menoleh kesumber suara.

Cup

Bibir kami bertemu sekilas.

“Oppa?” aku menarik bibirku dari bibir Wonshik.

“Ayo pulang.” Wonshik menarik tanganku untuk berdiri.

“Kenapa kau tahu aku ada di Korea?”

“Choi ahjumma memberitahuku. Oh iya, apa pertanyaanku satu tahun lalu sudah dipikirkan lagi?”

“Yang mana?”

“Memintamu untuk menjadi pacarku.”

“Entahlah.”

Aku meninggalkan Wonshik.

“Yoonhee jawablah.”

“Tentu saja iya! Dasar tidak peka!” aku membentaknya kecewa.

“Jinjja?!” wonshik membulatkan matanya.

“Bawakan koperku! Aku ingin makan oppa.” pintaku ketus.

Wonshik membawa koperku dan berlari mengejarku.

“Apa kata-katamu tadi sungguh-sungguh?” tanya Wonshik yang belum percaya.

“Kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran.”

“Apa yang membuatmu menerimaku?”

Aku memperlihatkan kalung pemberian Wonshik.

“Kalau aku tidak menyukaimu, ini sudah aku buang.” ucapku enteng.

Hug

“Yak! Seorang fans tidak boleh begitu pada idolnya.” ucapku dingin.

“Saranghae.” ucapnya tulus.

“Nado oppa.” balasku.

Wonshik melepaskan pelukannya.

“Ayo kita makan. Biar oppa yang traktir. Mau makan dimana?” tanyanya antusias.

“Rumahku, boleh?”

“Sangat boleh. Oppa juga ingin menceritakan ini pada Choi ahjumma. Kjja.”

Wonshik menggenggam tanganku untuk keluar.

“Besok kita ke Jeju untuk naik paralayang lagi?” tanya Wonshik ditengah perjalanan.

“Lagi?”

“Aku kan sudah bilang. Kita pasti akan terbang bersama lagi.”

“Baiklah, jika itu yang oppa mau.”

“Terimakasih sudah menerimaku Yoonhee.”

“Ani, terimakasih sudah mencitaiku oppa.”

“Saranghae.”

“Aku sudah muak mendengarnya oppa.”

“Yak, kita kan suah berpacaran. Jangan ketus begitu dong dengan pacarmu ini.” bentak Wonshik.

“Ne oppa. Arraseo, jangan ketus.” turutku.

“Saranghae oppa.” ujarku sembari mengecup pipinya.

—END—

Find My Love #100DaysOurBlog ( HwaYeon side ) – Part 7

Title: Finnaly find my love ( 100th project’s )

Cast:
• Kim Hwa Yeon
• Cho Kyuhyun (SJ)

Other:
• Kim Wonshik a.k.a Ravi (VIXX) as Hwa Yeon’s oppa
• Cho Ahra a.k.a Ahra as Kyuhyun’s noona
• Kim Young Woon a.k.a Kangin (SJ) as Hwa Yeon’s appa
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (SJ) as Hwa Yeon’s eomma
• Tan Hangeng a.k.a Hankyung (SJ) as Kyuhyun’s appa
• Kim Heechul a.k.a Heechul (SJ) as Kyuhyun’s eomma
• Jung Yoon Hee
• Park Eun Hye
• Cho Hyo Jin

Author: Kim Hwa Yeon
Genre: Romance, Comedy, Hurt, Friendship, Family, Mystery.
Rating: G
Length: Chapter

Note:

Nih, author kasih pasrt 7 nya. Maaf agak lama yang ngepost, soalnya kemarin ada urusan mendesak, jadi ga bisa ngepostt sama sekali. Maaf membuat kalian menunggu. Nah, jadi sekarang silahkan dinikmati bacaannya. Ini agak pendek, tapi gppa ya. Author bikinnya juga sambil teler soalnya. Maaf kalo kurang memuaskan. Tapi walaupun begitu, tetep gaboleh copas ya. Gaboleh merepost ff ini tanpa seijin kami. Jangan ngebash, dan jangan lupa comment juga ya.

Oke oke?

Happy reading guys ^^

.

.

.

-o0o-

Akhirnya, Setelah acara paksa memaksa yang tadi dilakukan Kyuhyun, dan Heechul ahjumma, pada akhirnya aku mengalah. Memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kapal. Ini kulakukan untuk Heechul ahjumma, dia begitu menyayangiku, dan dia terus memohon -well memaksa sebenarnya- agar aku datang ke acara mereka.

Aku mempersiapkan seluruh keperluanku dibantu oleh eomma. Yah, walah eomma tidak sepenuhnya membantu karena yang dilakukan eomma dari tadi hanyalah meceramahiku. Appa sendiri hanya duduk diam diatas kasurku sambil memperhatikan aku dan eomma mempersiapkan keperluanku.

“Apa kau yakin sudah membawa semuanya?” aku memutar mataku dan mengangguk mengiyakan. Ini sudah ke-3 kalinya eomma bertanya hal itu padaku.

“Dompet?”

“Sudah.”

“Charger?”

‘Sudah.”

“Keperluan mandi?’

“Sudah.”

“Bedak-bedak?”

“Sudah.”

“Lalu-“

“Sudah eomma, aku sudah menyiapkan semuanya. Eomma tenanglah. Aku bukan anak kecil lagi.” Aku merasakan kepalaku ditepuk dari belakang, dan saat aku menoleh. Appa sudah berada di belakangku sambil tersenyum manis.

“Sampai kapanpun, kau tetap menjadi gadis kecil appa dan eomma.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pasrah, hahhh……terserah mereka sajalah.

Kami pergi menuju pelabuhan bersama Kyuhyun oppa. Heechul ahjumma dan Hankyung ahjussi sudah berangkat lebih dulu tadi. Dan mereka bilang, mereka akan menunggu kami dikapal.

.

Aku memandangi kapal pesiar dengan nama Cho group dengan gugup. Sialan, apa kapal ini tidak berlebihan. Maksudku, Ya ampun…Ini terlalu berlebihan. Kapal ini terlalu besar kalau hanya dipakai untuk melakukan party yang paling-paling hanya didatangi kurang lebih 300 orang.

Tapi…demi Tuhan. Kita hanya berlayar 2 hari dan kita akan menggunakan kapal super megah ini? Astaga, Heechul ahjumma memang keterlaluan. Apa ya kira-kira pendapat eomma dan appa? Aish, mereka pasti keluarga yang boros.

“Hey, kenapa kita berdiri diluar terus? Apa kau tidak ingin masuk?” aku menoleh, menghadap Kyuhyun oppa yang saat ini berada di sampingku. Loh, kemana yang lain? Perasaan aku kemari bersama Ravi oppa, eomma, dan juga appa deh. Kenapa yang tersisa hanya Kyuhyun?

Aku menengokan kepalaku ke kanan dan kekiri, tapi aku tidak bisa menemukan mereka dimanapun. Aku kembali memandang Kyuhyun, dan dia saat ini menatapku dengan kening berkerut. Apa yang salah?

“Kau sedang mencari apa sih?” tanyanya bingung sambil ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kanan kiri, berusaha mencari apa yang kucari. Tapi, apa dia bodoh? Dia bahkan tidak tau apa yang kucari kan? Percuma saja dia menengok-nengokkan kepalanya sampe lepas juga. Ck, pabbo.

“Ravi oppa, eomma, dan appa kemana? Kok tidak ada?” tanyaku bingung. Aku sedikit menyipitkan mataku saat memandang Kyuhyun yang jauh lebih tinggi dari pada diriku. Aduh, silau sekali sih?! Tidak bisakah matahari itu meredupkan cahayanya sebentar? Membuat mataku sakit saja!

“Ah, mereka sudah naik ke kapal dari tadi. Kau saja yang keasikkan bengong. Lagipula, kenapa kau kaget sekali melihat kapal ini, seharusnya, anak keluarga chaebol kim sudah terbiasa dengan tingkat kemewahan seperti ini bukan? Keluarga kalian bahkan lebih kaya dari pada keluarga kami.” Aku memutar mataku malas. Memangnya tidak boleh apa kalau aku takjub saat melihat kapal ini? Aku kan memang tidak pernah naik kapal pesiar sebelumnya. Bukannya katrok atau apa, tapi aku tidak ada kepentingan apapun sampai harus naik kapal pesiar segala.

Aku kembali memandang kapal pesiar dihadapanku dengan bingung. Aku tidak yakin aku sanggup mengikuti acara ini. Lihatlah, tempatnya saja sudah berlebihan seperti ini. Aku tidak yakin kalau pesta yang nanti Heechul ahjumma selenggarakan akan menjadi pesta sederhana. “Sudahlah, ayo kita masuk. Kita sudah terlalu lama berdiam diri. Disini panas.” Aku membiarkan diriku ditarik oleh Kyuhyun oppa menaiki kapal itu.

Aku memandangi sekelilingku dengan takjub. Sialan, ini benar-benar indah dan sangat mewah. Laut yang seharusnya biasa-biasa saja entah kenapa bisa terlihat begitu menakjubkan dari atas sini. Apa lagi fasilitas kapal ini yang sungguh…fantastis.

Kapal ini memiliki kabin yang memiliki serambi tersendiri. Setiap lantai kapal memiliki jendela yang bisa digeser. Kapal pun memiliki ruangan yang sudah bisa kutebak sangat mewah dengan balkon menghadap ke laut lepas dan geladak untuk berjalan. Ini adalah fasilitas untuk pertemuan besar.

Naik kapal ini tidak akan membuatmu merasa sedang berada di lautan, tetapi di rumah dengan fasilitas relaksasi. Kapal ini memiliki 3 ruang publik, layaknya sebuah taman di kompleks perumahan. Ada juga sebuah gelanggang es, lapangan golf kecil, dan satu teater luar ruang dengan lebih dari 300 kursi. Teater ini terdapat diburitan kapal dibangun dengan gaya amfiteater Yunani kuno. Pada siang hari, teater ini berubah fungsi jadi kolam renang, sedangkan pada malam hari bisa disulap menjadi teater terbuka menghadap kelautan lepas. Dan yang pasti, itu semua terdapat di kabin paling atas. Benar-benar paling atas alias atap.

Pokoknya, semua yang ada disini adalah WOW. Aku tidak akan bertanya dari mana mereka bisa mendapatkan kapal semacam ini, akan aneh kalau aku bertanya tentang itu. “Kenapa dari tadi kau suka sekali melamun?Ayo kita kekamar. Aku akan menunjukkan kamar kita padamu.” Aku menurut saat ia menarikku menuju ke geladak bawah kapal, dan menuntunku menuju ke salah satu ruangan yang berada tepat di ujung kabin.

Waw, bahkan di dalam kapal, kamar ini memakai sisem pin? Ck ck ck, amazing. Aku mengintipnya yang sedang memasukkan pin, dan dia memencet tombol 100100 dan tadaaaaa, pintu terbuka. Hal pertama yang kulihat saat pintu itu terbuka adalah sebuah ranjang berukuran King Size yang berada di pojok tengah kamar.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, ada sofa, meja rias, meja kerja, lemari, kamar mandi tentu saja, dan yang pasti ada ranjang. Kamar ini bernuansa putih, mataku terasa sakit karena hampir semuanya berwarna putih, kecuali ubin dan dinding kamar yang baru kusadari kedap suara. Well, berarti kalau aku berteriak-teriak disini tidak ada orang yang akan mendengar kan dari luar?

Hmm, ada sebuah pintu geser juga yang menghubungkan kamar ini ke balkon yang tepat menghadap laut. Aku berlari esana, membuka pintunya, dan berjalan ke balkon dengan semangat menggebu.

Sreeeekkk!

“Hiiiiah!!!!! INDAHNYA!!!!” aku memandangi hamparan air laut dihadapanku dengan senang. Uuuuah, lautnya indah sekali. Apa lagi karena ada pantulan sinar matahari, efek-efek sinarnya yang terdapat di dalam pantulan air laut sungguh menambah kadar keindahan lautnya.

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari perutku. “Kau suka?” aku mengangguk menanggapi pertanyaan Kyuhyun oppa. Tentu saja aku suka, tidak mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukai lautan. Pokoknya aku suka, aku pikir aku akan betah berada disini.

Eh tapi, dimana kamar Ravi oppa, eomma, dan appa ya? Apa mungkin Kyuhyun tau? Haruskah aku bertanya? Hmmm, “Oppa, apa kau tau dimana kamar Ravi oppa, eomma dan appa?” tanyaku penasaran. “Tentu saja aku tau, kamar mereka ada disebelah kamar kita kok. Aku sudah mengaturnya supaya kau tidak jauh-jauh dari keluargamu dan teman-temanmu. Kabin ini aku khususkan untuk keluarga dan teman-teman kita saja. Tamu-tamu lain akan berada di kabin lain.”

“Ah jinjja? Gomawo, kau baik sekali.” Aku terkikik saat Kyuhyun oppa menempatkan sebuah ciuman di tengkukku, membuat bulu kudukku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukaannya, aduh kenapa dia suka sekali mengerjai leherku? Bagian itu sangat sensitive. Ck, dia pasti sengaja deh. Dasar namja mesum. “Ish oppa, berhenti mencumbuku. Ini bahkan masih pagi.” Ujarku resah sambil menggerak-gerakkan tubuhku agar bisa terlepas dari rengkuhannya. Tapi bukannya lepas, pelukannya malah semakin kencang. Ck, dia kembali dalam mode menyebalkan lagi sepertinya.

“Diam dan nikmatilah. Arraseo?” aku akhirnya pasrah saat Kyuhyun oppa lagi-lagi menanamkan bibirnya di lekukan leherku, menciumnya dan menggigitnya sesekali. Aku sendiri memejamkan mataku dan memasrahkan tubuhku dalam rengkuhannya. Sesekali aku menggigit bibir bawahku saat ia menghisap leherku seperti vampire untuk mencegah desahan lolos dari bibirku. Aku tidak ingin, sesuatu yang yang tidak seharusnya kami lakukan malah jadi kami lakukan jika saja aku tidak bisa menahan diri dan membuat desahan lolos dari bibirku.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri, memberikan akses lebih untuk Kyuhyun, untuk lebih menjelajahi leherku. “Ahhhh.” Aku tidak mampu lagi menahan desahanku. Kyuhyun oppa semakin beringas menjamah leherku.

“O-oppa. Berhentih, k-kita harus ke atas sekarang. Engh-yang lain p-pasti sudah me-nunggu k-kita.” Sekuat tenaga aku mencoba untuk menjaga suaraku agar terdengar normal, tapi suit sekali, apa lagi saat Kyuhyun oppa mengigit leherku. Aduh, jangan sampai dia meninggalkan bekas.

Aku terseyum saat mendengar dengusannya. Ah, pasti dia kesal karena kegiatannya lagi-lagi terganggu. Hahahaha, mungkin dia memang ditakdirkan agar tidak bisa berbuat mesum padaku sebelum kami resmi menjadi sepasang suami istri. “Ck, kau selalu menggangguku. Baiklah baiklah, lebih baik kita keatas sekarang dari pada eommaku yang cerewet itu melakukan sesuatu yang tidak kuharapkan.”

Kyuhyun oppa mengecup lherku lembut untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia akhirnya melepaskan pelukannya, dan membimbingku untuk keluar kamar. Saat diluar kamar, aku bertemu dengan YoonHee eonni yang sedang berdiri di depan kamar seseorang. Kamar siapa ya? Apa mungkin itu kamarnya? “Apa yang kau lakukan eonni?”

“E-eoh, a-aku hanya lewat kok. L-lebih baik kita ke atas. Ayo.” Aku mengerutkan keningku bingung. Kenapa dia kelihatan gugup? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi baru saja aku mau bertanya lagi, tiba-tiba pinti di depan kami berderit terbuka.

“Eoh, chagi? Kenapa kau ada disini? Kenapa kalian tidak langsung keat-as.” Aku berniat menjawab, tapi urung kulakukan saat aku malah melihat Ravi oppa dan YoonHee eonni saling berpandangan. Tatapan keduanya saling menghujam, tapi yang membuatku bingung adalah…

Tatapan Ravi oppa pada YoonHee eonni. Ia terlihat marah, kecewa, kaget, sedih, entahlah. Tapi 1 kesimpulan yang aku dapat, Ravi oppa saat ini sedang menahan emosinya. Nah, lain lagi dengan YoonHee eonni, tatapannya seakan ia meminta maaf kepada Ravi oppa. Oh oh oh, apa sesuatu terjadi diantara mereka tanpa aku ketahui?

Aku terus memandangi mereka dengan sedikit menyelidik. Apa yah kira-kira yang terjadi diantara mereka? Apa mereka bertengkar? Tapi karena apa? YoonHee eonni dan Ravi oppa juga tidak mengatakan apapun padaku. Well, ini aneh. Baru saja aku ingin membuka mulut, tiba-tiba Kyuhyun oppa menyentak pinggangku pelan. Aku menoleh heran padanya, dan aku malah melihatnya menggeleng. Apa maksudnya? Dia tidak membolehkanku buka mulut? Tapi aku penasaran.

Aku kembali mencoba untuk berbicara, tapi lagi lagi Kyuhyun oppa menyentak lenganku kemudian menggeleng. “Jangan ikut campur urusan mereka sayang. Lebih baik kita pergi keatas. Ayo.” Aku mendengus pasrah saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menarikku menjauh dari sana. Untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan aku bisa melihat kalau YoonHee eonni memandang Ravi oppa frustasi, sedangkan Ravi oppa sendiri hanya memandang YoonHee eonni dalam diam. Tapi kalau kulihat dari sorot mata Ravi oppa, aku tau Ravi oppa sedang menahan sesuatu yang tidak kumengerti.

Aku berjalan, sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Kyuhyun oppa yang kelewat cepaat. Aduh, rasanya aku seperti diseret-seret.

“Hei, pelanlah sedikit! Tanganku sak-“ langkahku otomatis terhenti, “Kau, kenapa kau ada disini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam kapal ini? Sialan, apa kau berniat membunuhku ditempat ini?”

Aku memandang yeoja didepanku dengan tatapan menyalang, yeoja itu membalas tatapanku sambil tersenyum ‘sok’ polos. Sialan yeoja itu. Apa dia ingin berakting? Aku lupa, disebelahku ada Kyuhyun oppa.

Aku bisa merasakan tatapan menghujam Kyuhyun oppa untukku dari sampingku, tapi aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku pada yeoja didepanku. Yeoja yang selama minggu ini sudah menguntit dan mengancamku terang-terangan. Yeoja yang ternyata baru kuketahui, kalau dia adalah mantan tunangan Kyuhyun oppa.

“Apa-apaan kau HwaYeon-ah? Kenapa kau berkata seperti itu pada Haneul? Dia bahkan tidak melakukan apapun padamu!” aku tersentak mundur saat tiba-tiba Kyuhyun oppa membentakku. Aku memandangnya kaget, dan dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Uuugh, sakit sekali.

“Apa-apaan sih oppa? Lepas” aku merintih, mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun oppa di pergelangan tanganku. “Akkh, s-sakit, lepash!” aku meronta, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan pergelangan tanganku, tapi hasilnya nihil. Siaan apa-apaan sih namja ini?

“Sudahlah kyu, kau menyakitinya jika seperti itu. Lepaskan dia, kasian.” Huh? Dia benar-benar sedang berakting rupanya, jelas-jelas dia senang kalau aku disakiti Kyuhyun oppa seperti tadi. Dia bahkan menginginkan kematianku. Kurang ajar! “Tapi dia menuduhmu yang tidak-tidak. Aku tau kau yeoja baik-baik Haneul-ah, tidak mungkin kau melakukan sesuatu seperti yang dia tuduhkan barusan kan? Aku sangat mengenalmu.” Aku terperangah. Sialan, jadi Kyuhyun oppa sedang membelanya sekarang? Kyuhyun opa lebih membela yeoja itu dibandingkan aku calon istrinya sendiri.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lepaskan saja dia, mungkin dia hanya tidak suka dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.” Aku mengernyit, kenapa dia malah membuatku terlihat seperti yeoja pencemburu dan posesif? “Maaf soal itu, Haneul-ah. Dia memang sedikit kekanakan. Lebih baik kita keatas saja. Ayo, berjalanlah bersama kami.” Ajak Kyuhyun oppa lembut pada yeoja sialan itu.

Ya ampun, apa-apaan sih Kyuhyun oppa, jangan bilang kalau dia tidak percaya padaku. Aku menyentak tanganku yang dicengkramnya saat melihat perhatian Kyuhyun oppa beralih kepada yeoja sialan itu. “Hei, kau itu kenapa sih? Ayo kita keatas. Kita pasti sudah ditunggu eomma.”

Aku melangkah mundur, member bentangan jarak antara diriku dan dirinya. Aku menggeleng sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak mau keatas. Tidak jika bersama yeoja sialan itu!” aku melihatnya, aku melihat Kyuhyun oppa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya dan menggertakan giginya. Kenapa reaksi Kyuhyun oppa harus seperti itu? Apa mungkin…Kyuhyun oppa masih mencintainya? Masih mencintai yeoja itu? Mantan tunangannya?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan berbagai pikiran buruk yang saat ini menggelayuti kepalaku. “Jangan membantahku Kim HwaYeon, kau tau aku tidak suka dibantah.” Aku tetap menggelengkan kepalaku keras kepala, dan melangkah mundur saat ia melangkah maju untuk menangkapku.

“Apa yang kau lakukan?” desisnya marah dengan wajah merah padam. Aku memandang mereka berdua bergantian. Kyuhyun oppa saat ini sedang menahan amarahnya, aku tau itu. Tapi yeoja sialan itu, yeoja sialan itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Yeoja itu lagi-lagi menggumamkan kata ‘mati’ tanpa suara. “Mianhae, kyu. Mungkin aku harus pergi. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadiranku. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian” Sialan, peran apa lagi yang saat ini dia mainkan?

“Apa? Tidak, jangan pergi. Tetaplah disini. Kau sama sekali tidak merusak apapun. Ini semua terjadi hanya karena sifat kekanakannya.” Aku menganga kaget. Apa Kyuhyun oppa baru saja membelanya lagi? Dan berbalik menyalahkanku? Apa Kyuhyun oppa baru saja memilihnya, disbanding diriku? Calon istrinya sendiri?

“O-oppa?” panggilku kaget. Tanpa sadar aku melangkah mundur saat melihat tatapan yang Kyuhyun oppa berikan untukku. Jelas sekali kalau Kyuhyun oppa benar-benar marah padaku, karena yeoja sialan itu.

“Kurasa, kau harus menenangkan pikiranmu.” Ujarnya datar.

Aku memucat, dengan cepat aku menggeleng. Kenapa semuanya malah jadi tambah runyam seperti ini? “Apa maksud oppa? Oppa, tidak sadarkah kau? Yeoja itu, mantan tunanganmu itu, dialah yang mengancamku! Dialah yang menguntitku selama kita berada di Jeju, dia juga yang sudah melukai lenganku kemarin!!!!” aku berteriak, melampiaskan seluruh ketakutan dan amarah yang sudah terkumpul didalam diriku. Aku merasakan mataku memanas saat melihat Kyuhyun oppa malah menggeleng dan menatapku tajam.

“Kau keterlaluan. Bagaimana mungkin bisa kau menuduh yeoja baik-baik sepertinya dengan tuduhan seperti itu? Ak tau kau takut. Aku juga tau kau cemburu. Tapi tidak begini caranya, au benar-benar membuatku kecewa. Kurasa aku harus memikirkan lagi ucapanku untuk memperistrimu. Kurasa kau belum cukup dewasa.”

“A-apa?”

“Kau sudah mendengarnya, dan aku tidak berniat untuk mengulangnya. Kau harus menenangkan dirimu sendiri kurasa. Aku akan meninggalkanmu sekarang.” Aku diam, membeku ditempatku saat melihat Kyuhyun oppa menjauh dari jarak pandangku bersama yeoja itu. Yeoja sialan yang saat ini sedang menatapku penuh kemenangan dengan seulas senyum mengerikan yang tersemat di bibirnya.

Ya Tuhan, apa aku baru saja…dicampakkan?

Aku merasakan tenggorokanku kering. Mataku memanas, dan saat aku menyadarinya, pipiku sudah basah oleh air mata. Sialan, dadaku sesak sekali.

Duk! Duk! Duk!

Aku menepuk-nepuk dadaku panic. Dadaku, aku tidak bisa bernafas. Tolong, tolong aku. Kyuhyun oppa, tolong aku.

“OMO HWAYEON!!!” aku jatuh terduduk di lantai yang dingin masih sambil menepuk-nepuk dadaku. Dadaku sesak, berkali-kali pula aku tersedak tangisanku sendiri. Aku mendengar langkah kaki berderap menghampiriku.

“Tidak tidak tidak. Bernafaslah dengan benar Hwayeon-ah, bernafaslah dengan benar!” aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak bisa, sulit. Itu terlalu sulit.

Ya ampun, aku tidak ingin mati sekarang.

“Yak! Lakukan sesuatu! Kau kan dokter! Bantu adikku! Kumohon, selamatkan adikku!” aku memandang Ravi oppa yang sedang menatap YoonHee eonni yang berdiam ditempatnya dengan mata basahku. Aku bisa melihat YoonHee eonni tersentak dengan mata terbelalak. “Nafas buatan! Berikan dia nafas buatan! Cepat!”

Dadaku naik turun dengan cepat. Kepalaku sudah terasa pening, dan aku mulai merasa semua yang berada di sampingku mulai membelah diri dan berputar-putar disekelilingku. Sampai tiba-tiba aku merasakan seseorang menciumku, lebih tepatnya memberikan nafas buatan untukku. Ravi oppalah yang memberikan nafas buatan itu untukku. Aku terengah dengan tubuh lunglai di dalam pelukan Ravi oppa.

“Oh ya ampun sayang, kau membuat oppa hampir mati karena serangan jantung.” Aku diam, sama sekali tidak menanggapi ucapan Ravi oppa. Aku hanya memandang kosong mata Ravi oppa, dan tak lama kemudian, aku menangis. Aku menangis di dalam pelukan Ravi oppa, dihadapan YoonHee eonni.

“Shhh, tenanglah sayang. Kyuhyun hanya sedang terguncang. Harusnya kau tidak menuduh Haneul seperti itu sayang. Itu memang sedikit keterlaluan.” Aku memandang Ravi oppa terkejut. Dia mendengar semuanya? Dan sekarang dia juga tidak percaya padaku? “Aku mengatakan yang sebenarnya oppa.” Ucapku lemah.

“Tidak, kau hanya cemburu. Kyuhyun benar, kau masih sedikit kekanakan. Tidak seharusnya kau berbuat seperti itu. Kau bahkan akan segera menikah.”

“Oppa juga tidak mempercayaiku?” tanyaku tak percaya.

“Mi-mianhae. Bukan begitu maksud oppa. Oppa hany-“ aku engangkat tanganku. Mengisyaratkan Ravi oppa ntuk berhenti berbicara. Dengan sekuat tenaga, aku bangkit berdiri dan melepaskan pelukan Ravi oppa di tubuhku.

“Oppa tidak mempercayaiku.” Well, itu peryataan, bukan pertanyaan.

“Hwa-“

“Cukup! Aku pergi sekarang. Terimakasih.” Aku langsung berjalan gontai dari sana. Tak kuindahkan teriakan Ravi oppa dan YoonHee eonni yang mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku berjalan keluar kabin menuju geladak kapal. Aku memandangi laut itu dengan tidak berminat. Sialan, apa yang kulakukan disini saat ini?

Harusnya hari ini kami bersenang-senang. Harusnya aku menghabiskan waktuku untuk berkumpul bersama keluargaku dan keluarga Kyuhyun. Harusnya hari ini menjadi hari yang sempurna. Tapi sekarang semuanya hancur. Semuanya hancur karena yeoja itu.

Yeoja sialan yang terobsesi pada Kyuhyun dan berniat membunuhku. Yeoja siaan yang lebih Kyuhyun pilih dibaningkan diriku. Ya Tuhan, bahkan Ravi oppa juga tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa gunanya lagi aku disni jika tidak ada yang percaya padaku?

Harusnya dari awal aku tidak ikut. Harusnya dari awal aku tidak datang. Andai saja aku tidak datang, aku pasti tidak akan bertemu lagi dengan yeoja sialan itu…

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Aku tersentak kaget dan otomatis membalikkan badanku. Dihadapanku, yeoja sialan itu berdiri disana, dan menataku dengan mata menyorot tajam.

“Apa yang kau inginkan dariku?!” tanyaku geram.

“Aku? Aku ingin kau mati!” aku memucat. Sialan.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku mati?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”

“Kau, kau sudah merebut Kyuhyunku! Kau sudah merebut kepunyaanku! Dan aku akan membunuh siapapun yang berniat mengambil Kyuhyun dariku, termasuk kau!” aku membatu saat tiba-tiba yeoja sialan itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari belakang punggungnya. Aku berjalan mundur saat ia berjalan maju, sambil menggenggam pisau lipat itu di tangan kanannya.

Aku terus melangkah mundur sampai akhirnya aku terpojok, aku sudah berada di ujung geladak, menempel dengan tiang pembatas.

“Terperangkap hah? Kukira membunuhmu akan sulit mengingat begitu banyak orang yang menjagamu. Tetapi ternyata, melakukannya sungguh sangat mudah. “

Aku memandangnya geram, saat ini ia sudah berada tepat dihadapanku dan ia sedang bermain-bermain dengan pisaunya di sekitar wajahku.

“Kupikir, Kyuhyun tidak benar-benar mencintaimu.”

“A-apa?”

“Ya, kukira Kyuhyun hanya menjadikanmu pelarian dariku.”

“Apa maksudmu?!”

“Yah, kau sudah melihat sendiri bukan. Kyuhyun bahkan lebih memilih mempercayaiku dibandingkan dirimu yang saat ini berstatus sebagai calon istrinya.” Aku terdiam. Yeoja ini benar, Kyuhyun bahkan lebih memilihnya dibandingkan aku. Apa aku benar-bena hanya dia gunakan sebagai pelampiasan semata?

Sreeeet!

“Arrrrkkkhhh, apa yang kau- Uuuugh” aku membungkukkan tubuhku. Aku melihat kearah perutku, dan sebuah pisau menancap disana. Baju yang kukenakan sobek dan dipenuhi dengan darahku sendiri. Bau anyir memenuhi indra penciumanku. AKu tidak memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba teriakan orang-orang membuatku menengok.

“ASTAGA!!! HWAYEON!!!” di sana, didepan sana. Kyuhyun oppa, Ravi oppa, dan YoonHee eonni berdiri disana sambil memandangku ngeri.Mungkin teriakan mereka membuat yang lain penasaran, tak lama kemudian, hampir semua orang menyusul kami. Aku bisa melihat eomma dan appa dari sini. Mereka terlihat ngeri. Terlihat, seperti akan segera pingsan.

Aku menatap perutku yang tertusuk kemudian mengalihkanku pada Kyuhyun oppa yang tengah memandangku dengan mata melebar khawatir dan kaget. Aku menatap mereka nanar, mereka…mereka yang tadinya tidak mempercayaiku.

“Aaaaarghh!!!!!!” aku berteriak saat tiba-tiba yeoja sialan itu menarik pisau itu dari perutku sambil berbisik lirih tepat di telingaku. “Kau pantas mati.”

Tubuhku linglung, dan saat aku sadar, aku sedang berada dalam posisi hampir jauh ke laut, hanya saja Tangan seseorang menggenggam tanganku, bukan tanganku, tapi lebih tepatnya gelangku. menahanku agar tidak tercebur kedalam laut.

Aku menengok, dan mendapati Kyuhyun oppa berada disana, menahan gelangku dengan sekuat tenaga. Aku melihat air mata jatuh dari sudut matanya, dan ia terus menatapku. Sambil tersenyum menguatkan, padahal jelas-jelas ia menangis, menangis untukku…

Aku memfokuskan tatapanku pada Kyuhyun oppa, mengesampingkan perasaan sakit di perutku, dan adrenalinku yang terpacu. Aku tidak bisa berenang. Aku tidak yakin aku akan selamat. Aku menengok kebawah, dan yang kulihat hanyalah air laut yang beriak akibat tekanan kapal.

“Tidak, tidak, kumohon lihat aku. Jangan sekalipun melihat kebawah! Lihat aku!” aku kembali menatap Kyuhyun oppa, dan saat ini Kyuhyun oppa tengah menatapku dengan wajah pias. “Raih tanganku! Cepat!” aku mencobanya, tapi aku tidak bisa. Aku putus asa, dan aku menangis.

“Aku tidak bisa!” isakku lemah, aku mencoba menggapai tangannya, tapi sia-sia.

“Ya! Kau bisa! Kau pasti bisa!”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa oppa! AKU TIDAK BISA!” teriakku putus asa sambil menangis saat lagi-lagi usahaku untuk menggenggam tangan Kyuhyun oppa tidak berhasil.

“Tidak, Hwayeon-ah oppa mohon! Raihlah tangan kami. Oppa mohon.” Aku memandang Ravi oppa yang juga menyerukan tangannya kebawah. AKu berusaha untuk menggapainya, tapi lagi-lagi aku gagal.

Perutku mulai terasa semakin sakit. Aku merasa pusing, dan semakin lemah. Tanganku gemetar, dan mataku mulai berkabut.

“Aku tidak bisa oppa.” Aku memandang mereka semua dengan air mata bercucuran. Ya ampun, apa hidupku akan berakhir saat ini? Aku melihat eomma dari bawah sini sedang menangis histeris di pelukan appa. Appa sendiri menatapku khawatir.

Aku tidak kuat.

“Mianhae.” Gumamku pelan saat aku merasakan gelang ditanganku akhirnya putus. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku menatap mereka. Mereka semua yang berada diatas kapal, yang tengah menatapku dengan mata membulat besar dan air mata berderai.

Aku bisa melihat dari tempatku sekarang, kalau Kyuhyun mau melompat, tapi ditahan oleh keluarga kami. Aku melemparkan senyum terakhirku untuk mereka, dan memejamkan mataku. Memasrahkan diriku sepenuhnya pada-Nya.

Kalau kau memang ingin memanggilku sekarang, aku siap. Tapi seandainya aku boleh memilih, aku tetap ingin berada disini, bersama dengan orang yang aku cintai. Bersama orang yang aku sayangi. Kumohon…

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

“HWAYEON-AH!!!”

“HWAYEON!!!!”

“ANAKKUUUUUUUUU!”

“PUTRIKU!!!”

“TIDAK HWAYEON, TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!”

BYUUURRRRRR!!!!!

Aku mendengar teriakan dan tangisan mereka semua. Sampai akhirnya semuanya hilang, tergantikan dengan suara riak air yang berada di sekelilingku.

Lukaku terasa seperti disayat kembali saat terkena air laut. Perih, uuugh sakit sekali.

Eomma, tolong aku. Appa… Ravi oppa, kumohon tolong aku. Aku sakit, siapapun tolong aku. Eonni

Uhuk!

Aku mencoba berenang keatas, tapi tidak bisa. Air menekanku kebawah, dan aku tebatuk. Tersedak air laut. Paru-paruku terasa begitu perih. Aku bisa merasa kalau aku akan segera mati karena aku bisa merasakan maut tengah mengintaiku. Ingin membawaku bersama mereka ke tempat dimana orang mati seharusnya berada.

Seluruh kenangan silih berganti memasuki benakku. Membuat dadaku semakin sesak, semakin membuatku merasa kehilangan sesuatu yang entah sejak kapan sudah menjadi bagian dari hidupku…

Aku berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun oppa menuju ke Spicy Wings café. Kyuhyun oppa bilang kalau ia ingin makan disana bersamaku, berdua. Aku sendiri tidak menolah saat ia mengajakku ke sana.

Kyuhyun oppa memaksa untuk pergi kesana dengan berjalan kaki. Katanya sih ingin olahraga. Kami berjalan berdampingan dari kantorku menuju ke café. Jaraknya tidak jauh, hanya cukup berjalan 15 menit, dan kami sudah sampai.

“Ah tuan, nona, silahkan masuk.” Aku mengangguk saat manager cafeku ini keluar untuk melayaniku dan Kyuhyun.

Aku tersenyum kepadanya, dan mengikutinya bersama Kyuhyun dari belakang. Ia membawaku ke tempat paling pojok, dekat kaca, dan mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Kyuhyun duduk bersebrangan. Setelah kami memesan makan, pelayan pergi, meninggalkanku dan Kyuhyun yang terdiam.

“Ekhem.” Aku menengok dan menatap Kyuhyun yang baru saja berdeham.

“A-Aku, aku ingin memberikanmu ini.” Aku memandang kotak yang disodorkan Kyuhyun oppa dimeja dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanyaku bingung, sambil meraih kotak itu dan membukanya.

“Gelang.”

“Gelang? Untuk apa kau memberikanku gelang? Ini bukan ulang tahunku. Dan juga, ini bukan tanggal yang special bukan?” tanyaku bingung.

“Aku hanya ingin memberikannya padamu. Aku disuruh eomma memberikan gelang itu padamu, eomma bilang, gelang itu melambangkan ikatan cinta kita.” Aku mengangguk-ngangguk saja. Gelang ini cukup sederhana, karena gelang ini hanyalah gelang yang terlihat dibuat sendiri oleh tangan dengan benang-benang.

“Kau harus memakainya saat kita pergi besok. Eomma inin kau memakainya.” Aku mengangguk, kemudian tanpa basa basi memasukkan kembali kotak itu kedalam tasku.

“Arraseo, gomawo ne.”

“Ne, Cheonma.”

 

 

 

“Tenanglah, tidak akan ada yang berani menyakitimu. Oppa akan menjagamu. Kyuhyun juga akan menjagamu. Shhhh, kasian sekali adik oppa hmm? Hah, sekarang tidurlah. Ayo.” Aku diam, menurut saat Ravi oppa membaringkanku telentang di kasurnya dan langsung memelukku dari samping. Menepuk-nepuk punggungku, dan memaksaku untuk tidur.

“Tidurlah sayang. Jalja~”

Cup

Aku memejamkan mataku saat merasakan sebuah kecupan menempati dahiku. Aku membalas pelukan Ravi oppa dan menyamankan senderan dadaku didalam pelukannya.

“Gomawo oppa, aku menyayangi oppa. Jalja~”

“Nado saranghae chagi.”

 

 

 

“Eomma, appa! Eoh, ahjumma, ahjussi, annyeonghasaeyo” Aku sedikit membungkukkan badanku saat melihat ada emma dan appanya kyuhyun. Kenapa mereka ada disini?

“Eoh, kalian sudah datang. Duduklah duduklah kemari. Ada yang ingin kami omongkan.” Kami menurut, Aku, Kyuhyun, dan Ravi oppa, duduk disalah satu sofa panjang yang kosong. Aku menatap eomma dan appaku bingung. Sebenarnya ada apa?

“Ah, kami ingin membahas tentang pernikahan kalian.” Pekik eomma kyuhyun membuatku terkejut. Kenapa heboh sekali yang mau menikah itu siapa? Tapi, tunggu dulu deh. Perasaan aku belum bilang apapun pada eomma dan appa?

“eeh? Tapi ahjumma, saya belum memberitahu apapun pada eomma dan appa.”

“Aish, mereka sudah tau kok. Ya kan teuki-ah, kangin-ah? Jadi bagaimana bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” ya ampun, bersemangat sekali eommanya Kyuhyun itu?

“Kami belum tau ahjumma, tapi sepertinya masih beberapa bulan lagi. Aku menunggu Ravi oppa mendapat pasangan terlebih dahulu. Jadi kami bisa menggelar pernikahan kami bersamaan.” Ujarku lembut, memohon pengertian.

“Ah jinjja? Baiklah kalau begitu, kita bisa bicarakan itu nanti lagi. Ah, sebenarnya aku ingin mengajak kalian pergi berlayar. Aku mengadakan pesta, pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-30 di kapal pesiar. Datang ne? Kalian wajib datang pokoknya. Arraseo? Aku tidak menerima penolakan.”

“Arraseo-arraseo, chullie-ya. Jjaaa, sekarang sudah malam. Kalian pulanglah, biar anak-anakku bisa beristirahat. Kami pasti datang. Kapan acaranya?” kali ini eomma yang menjawab. Hmm, melihat interaksi mereka. Sepertinya mereka dekat? Apa mereka berteman dari awal?

“Lusa. Oke? Aku tunggu kedatangan kalian. Kalau begitu kita pergi sekarang. Ayo Hannie, Kyunnie. Annyeong Teuki-ah, Kangin-ah.” Ujar eomma Kyuhyun keras. Haish, ahjumma itu berisik sekali.

“Ne, annyeong, chullie-ah.”

 

 

 

“Kim Hwa Yeon aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cho Kyuhyun.”

 

 

 

“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Aku tau, tapi kau mencintaiku.”

 

 

 

“Kau kekanakan!”

“Kau juga!”

 

 

 

“Aku mempercayaimu.”

“Kau memang harus mempercayaiku.”

 

 

 

“Aku kecewa padamu, Kim HwaYeon.”

 

 

 

“Kau keterlaluan.”

 

 

 

“Kyuhyun benar chagi, kau memang keterlauan.”

 

 

 

“Kau pantas mati!”

 

 

Semua kalimat yang pernah kudengar, semua kejadian yang pernah alami, semuanya berputar dengan cepat dalam waktu singkat. Aku kembali mengingat semuanya baik-baik dan menatanya dengan baik di dalam kepalaku.

Semuanya, mulai dari kenangan yang menyenangkan, dan mengerikan, termasuk kejadian tadi. Sebelum akhirnya aku tercebur dan tenggelam disini. Di lautan yang dingin, dan hening. Aku merasa kosong, dan semuanya…hitam

Semua wajah orang-orang yang kukenal bertebaran di dalam benakku, semuanya. Mulai dari Ravi oppa, emma, appa, heechul ahjumma, hankyung ahjussi, kyuhyun, eunhye eonni, yoonhee eonni, hyojin eonni, bahkan v oppa dan Lee, Song ahjumma pun ikut bertebaran di dalam pikiranku.

Eoma…appa…ravi oppa… mianhae, tidak bisa menemani kalian

-TBC-

The Art of Love #100thDayOurBlog -Eunhye Side- (Part 5)

THE ART OF LOVE

Author: Park Eunhye

Cast:

  • Park Eun Hye
  • Kim Tae Hyung a.k.a   V

Other:

  • Kim Hwa Yeon
  • Jung Yoon Hee
  • Cho Hyo Jin
  • Yoo Chang Hyun a.k.a  Ricky
  • Cho Kyu Hyun
  • Kim Taehyung’s ex girlfriend
  • Unknown little girl

Rating:  G

Genre:  Hurt, Comedy, Romance, Friendship

Length : Chapter

Annyeong readers^^

Berjumpa lagi di part 5!! Mian yaa.. author ngepostnya telat (lagi)

Jeongmal miahae nae readers!

Kondisi author lagi kurang enak sekarang, tapi author tetep berusaha yang terbaik buat readers..

Gimana? Suka ga sama FF nya? ini dalam rangka 100 hari Spicy Wings’ House.. dan ini murni hasil pemikiran kami berempat.

Semoga kalian suka ya..

Makasih buat yang udah like dan baca FF kami… #terharu

Hati-hati ada typo, guys..

No plagiat..

No bash..

But, like and comment ya…

Oke?

Happy Reading^^

Besok adalah acara launching SJ hotel dan magnae pabbo itu malah pergi jalan-jalan dengan namjachingunya, Kyuhyun. Bukan namjachingu sih, calon (?) habis mereka cocok. Kurestui mereka..

Aku pun ingin jalan-jalan juga sebenarnya… tapi aku masih memikirkan TaeTae. Akhir-akhir ini masa lalunya membuat kepala sekaligus dadaku sakit. Apa mungkin aku sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan lamamu? Atau masa lalumu yang terus mengejarmu? Entahlah, aku tak tahu.

Kuputuskan untuk mengunjungi tempat spa yang juga berada di hotel ini. Kepala sakit, badan pegal, lelah, kurang tidur, kini bisa ku kurangi dengan treatment-treatment disini.

Tubuhku memang perlu refreshing…

2 jam kemudian treatmentku pun selesai. Sengja kupilih treatment yang paling lengkap agar tubuhku bisa rileks dengan maksimal.

Sungguh segar sekali rasanya! Spa tadi benar-benar luar biasa…

Kuraih ponselku dari dalam tas dan terkejut melihat ponselku penuh pemberitahuan..

5 missed call from TaeTae Alien

 

5 unread messages from TaeTae Alien

 

7 unread chats from TaeTae Alien

 

3 unread chats from Jimin oppa

Hiyaa! Ponselku banjir notifikasi!!

Kulihat satu persatu notifikasi yang ada.

Pesan-pesan yang dikirim oleh Taehyung berisi..

‘HyeHye… kau dimana?’

 

‘HyeHye?? Kau marah?’

 

‘Jawab telponku, HyeHye..’

 

‘Kau sedang buang air ya? Cepatlah! Balas pesanku sesegera mungkin ya kalau sudah..’

 

‘Kau masih tidur? Kalau iya, cepatlah bangun. Aku menunggumu di depan pintu kamarmu.’

 

‘Kau kencan dengan sunbae kesayanganmu itu ya?! Cepatlah kembali! Aku cemburu!’

‘Kau dimanaaa?? Aku sungguh merindukanmu! Kau tahu? Aku sakit sekarang. Aku terkena HyeHye sick. Cepatlah tunjukan wajahmu, HyeHye..’

 

Isi pesannya bodoh… haha.. tapi baru kutinggal beberapa jam saja kau sudah sebegitu rindunya ya? Baiklah.. aku akan segera menemuimu.. dasar bodoh..

Sekarang, pesan dari Jimin oppa..

‘Eunhye, kalau kau pulang,, bawakan aku oleh-oleh dari Jeju ya!’

 

‘Omong-omong, mawar di rumah sudah mekar! Bagus sekali! Sayang kau tidak ada disini.. mau ku kirimkan satu? Haha..’

 

‘pulanglah jika ada waktu ya, aku punya hadiah untukmu..’

Isi pesanku dengan Jimin oppa seperti layaknya oppa dan dongsaeng.. saling memberi kabar, saling memberi informasi, dan saling merindukan satu sama lain. Tidak ada yang spesial sebenarnya..

Aku akan kembali ke hotel dan menemui TaeTae , tapi aku masih harus menyelesaikan urusanku sedikit.

Hari sudah sore. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat..

Kini aku menyusuri lorong hotel tempat dimana kamarku berada.

TaeTae?? Dia… masih disana. Menungguku.

Aku menghampirinya yang tertidur sambil bersandar pada pintu kamarku. Aku duduk di sebelahnya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai..

Saat bangun saja tampan, apalagi kalau tidur? Wajahnya bagaikan malaikat.

Ku sisir poni Taehyung yang sedikit menutupi wajahnya menggunakan jemariku lalu ku usap lembut pipinya.

“Aku menyayangimu, Tae…” lirihku.

Kudekatkan wajahku pada pipi Taehyung yang mudah ku jangkau..

Aku,ingin sekali mengecup pipimu…

Bolehkah?

Sudah sedikit lagi jarak dari permukaan bibirku menyentuh pipinya. Tapi tiba-tiba..

-Chu-

Yang ku kecup adalah… bibirnya…

Sebenarnya… aku belum menyentuh apapun.. tapi sepasang benda lembut milik Taehyung itu yang lebih dulu menghampiri milikku.

Kulihat ia terkikik geli melihat ekspresi wajahku yang tidak karuan..

“Hey, kau dari mana saja?? Aku menunggumu sejak pagi.” Tanya Taehyung kemudian mengusap pipiku lembut.

“Aku tadi.. aku pergi Spa tadi pagi,, lalu aku menyelesaikan beberapa urusanku. Tidak lama kok, setelah itu aku kembali. Mianhae membuatmu menunggu sampai tertidur disini.” Sesalku.

“Tidak lama? Dari terakhir kali aku meneleponmu, ini sudah sekitar 5 jam. 5 jam itu lama, HyeHye.”

“Selama itu kah? Huwaa! Maafkan aku…”

“Sudah, tidak apa-apa. Sekarang, apa yang mau kau lakukan?”

“Entahlah.. kau?”

“Rencanaku… aku ingin menemanimu kemanapun.”

“Kau ini bisa saja… “ ucapku malu-malu

“Appa! “ jerit seorang anak kecil kemudian berlari dan memeluk Taehyung.

Appa? Anak ini memanggil Taehyung dengan sebutan ‘Appa’? Aku salah dengar kan?

Kulihat Taehyung tidak terkejut sama sekali. Apa dia mengenal anak ini?

Jangan-jangan….

“Hey,, kau ini anak siapa?? Kau datang dari mana?” Tanya Taehyung.

“Appa….” rengek anak itu. Aku hanya memandangi mereka berdua heran.

Mungkin kalau orang lain melihat ini, mereka pasti akan mengira kami adalah sebuah keluarga yang bahagia.

…Mungkin…..

“Aku ini bukanlah appamu, anak manis. Sudah, kembali pada eommamu…” ucap Taehyung lembut. Anak itu tersenyum kemudian segera berlari meninggalkan kami berdua.

Kini aku terus menatap Taehyung yang tengah tersenyum manis.

Tae..

Kau menyukai anak-anak ya?

Aku senang kau menyukai anak-anak…

Karena kau mungkin akan menyayangi anak kita nanti…

“HyeHye….” panggil Taehyung. Aku tersentak kaget dan hanya menatapnya.

“Aku ingin….” ia menggantungkan kalimatnya kemudian ia meraih tanganku.

Kulihat ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan..

“……. ingin berdiri. Bantu aku berdiri.. jebal.. punggungku sakit karena dari tadi tertidur disini.” Lanjutnya. Huh! Kukira ada apa..

Aku membantunya berdiri kemudian membantunya berjalan menuju kamarnya.

Ohhh benar! Aku harus segera membereskan dekorasi ballroom, membuat pidato sambutan, dan yang penting,, Mandi!

Setelah membantu Taehyung duduk di atas kasurnya, aku segera berpamitan dan meninggalkan kamarnya kemudian mandi.

-***-

“Ya, letakan karpetnya disini.. iya, benar disitu. Bunganya pindahkan ke sana.. warnanya tidak sesuai, cepat pindahkan! Apa berat? Mari kubantu…. Tunggu! Letakkan podiumnya disana. Tidak, kurang ke tengah, pindahkan sedikit ke kanan.. ya, bagus!”

Aku membantu pekerja untuk mendekorasi ballroom. Taehyung? Dia ingin membantu sebenarnya, hanya saja kularang sampai sakit di punggungnya membaik. Untungnya Harim membantuku juga.

Lukisan-lukisan ini bagus ya? Tentu saja, itu semua dibuat oleh Taehyung. Dia memang hebat!

Tak terasa aku mendekorasi hingga malam.. cukup larut, hanya sampai pukul 10 malam. Tapi tidak sepenuhnya mendekorasi karena sisa waktunya kugunakan untuk menyusun pidato. Gara-gara menjadi tamu resmi, aku jadi harus membuat pidato. Aku ini tak pandai berkata-kata.. tapi tak apa, setidaknya namaku bisa menjadi lebih terkenal.. sedikit..

“HyeHye! Buka mulutmu.. Aaaa~” perintah Taehyung tiba-tiba ketika aku sedang sibuk menulis pidato. Ia memasukan sesendok nasi beserta lauk-pauk kedalam mulutku. Aku hanya melongo menatapnya.

“Kau sejak tadi belum makan. Ini sudah larut, besok ada acara penting dan kau tidak boleh sakit.” Tegurnya.

Benar juga, sedari tadi aku hanya sibuk bekerja sampai lupa untuk makan. Ternyata dia perhatian.. sungguh perhatian. Tapi, bukankah dia dari tadi di kamarnya?”

“Sudah? Ayo Aaa~” perintah Taehyung lagi.

“Aaah.. sudah letakkan, aku bisa makan sendiri Tae. Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan beristirahatlah.”

“ANDWAE! Aku yakin kau tidak akan melanjutkan makanmu. Itu membuatku tidak bisa beristirahat karena terus khawatir akan dirimu. Sudah, lanjutkan pekerjaanmu.. aku suapi saja..”

“Tapi Tae..”

“Uh-uh! Jangan protes! Aaa~”

Dia.. cukup keras kepala juga.. mau bagaimana lagi.. meskipun sedikit malu karena disuapi TaeTae di tempat umum begini, tapi aku senang karena ia peduli dan sayang padaku.

Kami berjalan menyusuri koridor hotel. Kira-kira sekarang sudah pukul 11 malam. Sudah terlalu larut.

“Selamat malam HyeHye.. semoga tidurmu nyenyak malam ini..” ucap TaeTae sebelum akhirnya kami berpisah menuju kamar masing-masing.

“Ne. kau juga..”

“Mimpikan aku ya? Saranghae..”

“You too.. Saranghae..”

-***-

Huaahh… lelahnya!!! Tidur larut membuatku bangun terlambat saking pulasnya aku tidur.

Drrtt…Drrttt…

Ah, ChangChang sunbae..

“Yeobo-“

“EunEun pabbo! Bersabarlah,, kau akan melihat dia!”

“Nugu?”

“Pujaan hatiku!”

“Oooh.. artis itu?”

“Yak! Berhentilah memanggilnya ‘artis itu’ dia juga mempunyai nama!”

“Eoh? Kalau begitu kenapa kau tidak pernah memberi tahuku namanya?”

“Itu karena kau tidak pernah bertanya.. pabbo!”

“Iya juga… kalau begitu, beritahu aku siapa nama yeoja itu…”

“Baiklah… apa kau penasaran?”

“Ne.”

“Apa kau ingin tahu?”

“Ne!”

“Apa kau sungguh ingin tahu?”

“Ne!!”

“Benarkah?”

“Yaish!! Jinjja!!! Cepat beritahu aku!! Kau ingin menguji kesabaranku, sunbae?!”

“Ahaha!! Arraseo.. kau ini galak sekali..”

“………”

“iya.. iyaaaa! Aku beritahu.. namanya ada-“

“Oh, sunbae.. nanti kutelepon lagi.. Annyeong.”

-Tut!-

Sebenarnya aku sengaja menghentikan pembicaraanku dengan ChangChang sunbae. Tidak akan seru jika aku tahu sekarang.. lebih baik aku cari tahu sendiri siapa yeoja itu. Lag pula mereka akan berduet kan? Pasti mudah mengenali yeoja itu.. Haaa! Kau sekarang tidak pabbo lagi Eunhye! Kau cerdas!

-Knock Knock-

Pintu kamarku ku ketuk. Siapa ya yang mengetuk pintu?

Ku lihat keluar melalui lubang yang berada pada badan pintu dan yang kulihat adalah….

..NOTHING!

Tidak ada apapun  atau siapapun di luar sana. Akh, mungkin orang iseng..

-Knock Knock-

Lagi-lagi pintu kamarku diketuk.. siapa sih? Kurang kerjaan sekali dia.. tanpa melihat lebih dulu, aku segera membuka pintu dan yang sejak tadi mengetuk pintu adalah…

“Ahjumma!”

Anak kecil yang kemarin?! Mau apa dia kemari???

“Uh.. eum… a-ada apa anak manis?” tanyaku canggung.

“Appa!”

“Appa?”

“Appa dimana??”

“Appamu? Aku tidak tahu…. kau kan anaknya..”

“Huaaaa!!!!!! Appa!!! Aku ingin Appa!!” tangis anak itupun pecah seketika.

Hiyaaa!!! Apa-apaan anak ini?? Aku memang tidak tahu dimana Appanya… haduh..

“Ssst… uljima.. uljima ne? Jangan menangis lagi.. sudah yaa…. Ahjumma belikan es krim nanti.. sudah yaa… uljima….” bujukku. Anak itu tetap saja menangis. Aku harus bagaimana?

-Kreek-

Pintu kamar di sebelahku dibuka.. dan yang terjadi adalah..

Anak itu berhenti menangis setelah melihat siapa yang membuka pintu.

“Appa!” Jerit anak itu.

“Eoh? Annyeong..” sapa Taehyung kemudian mengelus kepala anak itu.

Aku heran, mengapa anak itu senang sekali mengecap TaeTaeku ini sebagai appanya.. dia itu belum memiliki momongan tahu! Seenaknya saja.. ini salah satu alasan mengapa aku membenci anak kecil.

“HyeHye… mengapa dia menangis tadi?”

“Molla. Tiba-tiba saja dia begitu.”

Taehyung menggendong anak itu kemudian tersenyum padanya. Sungguh kelakuan ini tidak bisa dibiarkan! Berbagai macam pemikiran muncul dalam benakku tapi yang paling mendominasi adalah…

Bagaimana kalau itu memang anak dari Taehyung?

“Mengapa kau menangis?” tanya Taehyung pada anak itu.

“Aku mencari appa. Tapi ahjumma ini tidak mau memberi tahu.” anak itu menunjukku lalu mengeratkan pelukannya pada Taehyung.

Sungguh anak ini menyebalkan sekali.. masih kecil saja sudah menyebalkan bagamana kalau dewasa nanti? Dia pasti akan menjadi yeoja murahan..

“Aku memang tidak tahu dimana appanya..” Aku membela diri.

“Bohong! Ahjumma itu bohong buktinya, ahjumma itu menyembunyikan appa dikamar sebelahnya.” Bantah gadis kecil itu.

Hiiyyaaaa!!! Anak ini ingin sekali kubunuh!!!

“Kau tidak boleh begitu…. itu tidak sopan. Jadi maksudmu, aku ini appamu?”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu, jika aku appamu maka dia adalah eommamu.”

“Eomma?”

“Ne. Ayo minta maaf dulu pada eomma karena sudah tidak sopan tadi.” Perintah Taehyung.

Tae… kau ternyata masih sempat memikirkan aku ya?? Aku sungguh terharu kau memintanya memanggilku dengan sebutan eomma.. tapi sayangnya aku tidak sudi dipanggil begitu oleh gadis kecil yang genit seperti dia. Lagi pula, ia mana mau memanggilku begitu.

Gadis itu sempat terdiam sesaat lau ia mulai membuka mulutnya..

“Eo..eo…eom…eommm…eomm..ahjumma mianhamnida!” ucapnya cepat. Benar kan dia tidak akan mau memanggilku begitu. Baguslah.

“Kau harus memanggil-“

“Tidak apa-apa, Tae.. aku memang bukan eommanya. Sudahlah Tae, turunkan dia mungkin sudah saatnya dia kembali pada orang tuanya.” Ucapku.

Taehyung mengangguk kemudian menurunkan anak itu.. anak itu segera berlari menjauh kemudian menghilang dari pandangan kami. Huft, hampir saja aku kehilangan kesabaran..

“Tae, kau bersiap-siaplah.. acara launching dimulai 8 jam lagi. Aku ingin kau terlihat keren, jadi bersiaplah.” Saranku lalu segera berbalik masuk kedalam kamarku.

Tapi sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kamar, Taehyung menarikku lalu mendekapku erat. Kemudian ia mengecupi leherku tanpa berhenti. Setelah bosan dengan tempat itu dia ganti mengecupi permukaan bibirku. Awalnya hanya mengecup, lama-lama ia menjilati permukaan bibirku dan menyesapnya sesekali. Ini menjadi ciuman yang basah. Aku tidak mengerti mengapa kelakuannya seperti ini.. ini terkesan…. agresif?

Tiba-tiba Taehyung menghentikan aksinya. Kemudian ia segera memalingkan wajahnya dariku.

“Mianhae aku tidak bermaksud.. aku.. ini diluar kendaliku.. untung saja belum jauh.. masuklah, persiapkan dirimu. Aku akan menunjukan sesuatu padamu ketika pesta persahabatan. Siapkan dirimu dan juga mentalmu.” Ucapnya kemudian masuk ke kamarnya.

Mengapa… dia jadi aneh?

Mempersiapkan diri itu oke, tapi mempersiapkan mental? Untuk apa?  Memangnya kejutan darinya sebegitu luar biasa? Hm.. aku jadi ingin tahu.. mungkinkah itu satu truk mawar putih? Kuharap iya.. hihi..

Aku tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara formal itu. Launching SJ Hotel yang ku design kan. Aku sugguh gugup karena aku akan berpidato. Ini bukanlah sembarang berpidato. Bukan juga seperti berpidato di depan teman-teman ketika masa sekolah. Ini adalah acara penting. Aku harus berpidato dihadapan ratusan tamu undangan, para pimpinan perusahaan, dan juga orang-orang penting lainnya… sungguh, ini luar biasa!

Aku mengenakan dress putih selutut tanpa lengan, lalu kupakai lagi blezzer hitam untuk menambah kesan formal. Untuk rambutku, ku ikat ekor kuda. Aku hanya berusaha tidak menghilangkan kesan formal dalam penampilanku mengingat aku harus berpidato di hadapan kalangan atas.

Sekarang sudah pukul 6 malam. 1 jam lagi acara akan dimulai.

Kulangkahkan kakiku menuju lift. Sungguh, aku gugup sekali karena aku berpidato tidak lama setelah acara dimulai.

“Waeyo? Kau terlihat sangat gugup.” Tanya Taehyung yang sejak tadi mengikutiku dari belakang.

“Hmm.. Aku gugup sekali Tae… detak jantungku begitu abnormal… bagaimana kalau aku salah kata? Bagaimana kalau aku lupa materi pidatoku? Bagaimana kalau melakukan hal yang konyol? Bagaimana kal-“

-Chu-

Taehyung mengecup bibirku sekilas dan itu membuatku terdiam seketika. Namja itu kini malah tersenyum. Apa mungkin ini yang ingin dia tunjukan?

“Bukan ini yang akan kutunjukan.” Ucapnya santai.

“Eh?” ucapannya menjawab pertanyaan di benakku. Chemistry kita cukup kuat rupanya..

“Aku hanya ingin tahu apa detak jantungmu juga akan abnormal ketika kucium..”

Benar-benar datar… ekspresinya sungguh datar!

“Mwo?”

“Lagipula kau ini berisik sekali. Tindakan ku tadi hanya untuk mengurangi kegugupanmu.”

Apa yang dia bilang? Justru tindakannya membuatku akan mati seketika. Bagaimana jika jantungku meledak akibat berdetak terlalu kencang? Itu mati konyol namanya. Mati hanya karena dicum oleh namjachingunya sendiri. Benar-benar konyol!

Sampailah kami di ballroom. Ketika kami hendak memasuki ballroom, tiba-tiba seorang namja meneriaki namaku dan juga Taehyung..

“Neo! Pabbo dan V!” kami menoleh ke sumber suara dan yang kami dapati adalah..

“ChangChang sunbae!” seruku.

“Annyeong.. kalian serasi… hahah..”

“Kau juga nampak hebat, Ricky-ssi.” Sahut Taehyung.

“Aigoo.. uri EunEun cantik sekali hari ini… kemari, sunbae peluk dulu.”

Tiba-tiba Taehyung memeluku..

“Tidak akan ku biarkan itu terjadi Ricky-ssi.”

“Aku.. tahu. Aku hanya bercanda.. kajja. Aku sudah tidak sabar ingin sekali berkolaborasi bersamanya… hiyaa! Palli!”

Kami bertiga memasuki ballroom. Kata-kata yang pertama kali kami lontarkan adalah.. ‘WHOA’

Sungguh ini merupakan pesta high class.. mewah dan sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka hasil dekorasiku dibantu pekerja lainnya bisa nampak semewah ini.. aku tak percaya.. tolong siapapun cubit aku..

Hwayeon ada dimana ya? Hyojin juga tidak terlihat sama sekali. Aku harus menjari mereka dimana?? Melihat jalan saja tidak bisa karena tempat ini penuh dengan tamu-tamu undangan.

Yaiishh! Mereka ada dimana sih??

Aku, Taehyung dan juga ChangChang sunbae menoleh ke arah pintu ballroom. Keributan apa yang tercipta disana? Meskipun tidak dapat melihat dengan jelas, aku masih bisa mendengar keributan yang terjadi di sana..

“Eo?” Akhirnya aku menemukan Hwayeon tengah duduk sendiri.. Ada apa dengannya kali ini?

Aku hendak menghampiri Hwayeon, namun ia pergi… sepertinya untuk melaksanakan acara serah terima..

Aigoo! Sudah acara serah terima lagi?! Itu berarti aku harus bersiap-siap!

“Hadirin sekalian, sekarang mari kita dengarkan pidato sambutan dari designer hotel ini, Park Eunhye! Untuk nona Park, saya persilahkan waktu dan tempatnya..”

Sambut sang event oranizer. Aku pun melangkah naik ke atas panggung.. ku tatap wajah-wajah pemilik dompet tebal di seluruh penjuru ruangan ini dan akhirnya aku terfokus menatap 1 namja. Namja yang kucintai, Kim Taehyung. Namja itu sekarang tengah memberikan sebuah senyuman semangat untukku.

Ini aneh, rasanya semua ketakutanku senantiasa sirna tatkala memandangnya…

“Annyeong haseyo, hadirin semua……….”

*Skip Time*

“……. Kamshahamnida.”

Riuh tepuk tangan tamu undangan memenuhi ballroom ini. Aku jadi lega sekarang. Ketakutanku berhasil kulalui.. ini berkat dia..

“HyeHye!! Kau hebat! Pidatomu bagus dan juga lancar!” Puji Taehyung saat aku sudah kembali menemuinya.

“Tidak juga.. sebenarnya aku sungguh gugup tadi. Tapi entah mengapa tiba-tiba semuanya itu hilang ketika aku berada di depan sana dan menatap…..”

“Benar kan? Kalau sudah menatap banyak orang, kau pasti akan lebih baik.” Potong Taehyung cepat. Aish! Namja ini bodoh atau apa sih?

“Justru itu membuatku tambah gugup! Aku belum selesai bicara, kau sudah memotongnya…yang aku tatap sedari tadi itu adalah KAU!”

Dia hanya melongo. Kemudian..

-Chu-

Dia mengecup keningku…

Tunggu, dia mengecupku?! Ditengah kerumunan orang banyak?! Omona! Aku malu sekali.. kerasakan wajahku kini memanas. Pasti wajahku sudah merah, semerah kuah Tom Yum Gong..

“Persiapkan dirimu, ne? Aku punya kejutan luar biasa untukmu.” Ucapnya.

Apa kejutannya ya? Aku penasaran..

Acara berlangsung sukses! Kini saatnya Pesta Persahabatan dimulai! Aku sungguh menantikan saat-saat ini begitupun juga dengan Taehyung.

“Ayo ayo, sekarang semua yeoja berbaris menyamping disebelah kananku, dan para namja berbaris berhadapan dengan para yeoja di samping kiriku. Ayo ayo.”

Ucap MC tiba-tiba..

Aku berada di seberang Taehyung sekarang. Di kiri ku ada Hwayeon dan disebelahnya ada Hyojin. Hyojin dengan siapa ya? Aku tidak bisa melihatnya karena terhalang tubuh Kyuhyun. Haish..

“Oke, sekarang kita akan bermain game!!! kiss competition. Oke, jadi nanti, lampu akan dimatikan, dan semua orang wajib mencari seorang pasangan kalian masing-masing untuk dicium dalam keadaan gelap gulita. Oke? Mengerti semuanya? Pada aba-aba ke-3. 1…2…3…“ seru MC itu.

Dan dalam sekejap suasana menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apapun. Hanya jeritan-jeritan yang kudengar..

“Kau dimana?!” Itu… Suara Taehyung!

“Disini!” Seruku.

“Gotcha!” desis seorang namja setelah berhasil meraih tanganku. Aku tak tahu dia siapa, tapi kuharap itu TaeTae.

Namun tiba-tiba saja seseorang menabrak kami dan membuat kami terlepas. Ha~ jika tadi gagal, berarti dia bukan Taehyung. Taehyung pasti akan menggenggamku erat.

Lampu telah menyala kembali. Aku melihat para namja yang tengah mencium pasangannya.. tapi aku? Aku hanya memandangi mereka..

Aku melihat Hwayeon dengan Kyuhyun. Dasar pasangan iblis..

Aku melihat Hyojin dengan namjanya yang tidak ku ketahui..

Lalu aku melihat pasangan yang seharusnya tidak terdaftar…

….Kim Taehyung dengan yeoja lain….

Dan aku melihat namjachinguku berciuman dengan yeoja lain tepat di hadapanku. Sungguh… ini benar-benar terjadi di depan kedua mataku. Mereka bahkan terlihat begitu mesra.

Taehyung melepas ciumannya dengan yeoja itu..

MWO?!

Yeoja itu adalah yeoja yang dipantai waktu itu.. mantan Taehyung.

Yeoja murahan yang tidak tahu diri!

Hooh… sekarang bisa ku simpulkan..

Taehyung sering menelepon seorang yeoja yang kuketahui bernama ‘Yooni’. Percakapan terakhir, Taehyung nampak mengkhawatirkannya. Percakapan itu terjadi setelah ia bertemu Yeoja kotor ini. Itu berarti selama ini Taehyung masih berhubungan dengan mantannya itu yang bernama Yooni. Dan mereka sekarang bermesraan dihadapanku. Bagus!

“Teruskan saja.. untuk apa berhenti?! “ Seruku pada Taehyung dan yeoja itu.

Mereka segera menoleh padaku terutama Taehyung. Ia nampak begitu terkejut.

“Ani.. HyeHye.. aku bisa-“

“Bisa apa? Menduakan aku? Membohongiku? Mempermainkan aku? Jadi kau menjadikanku sebagai pelampiasanmu? Begitu? Huh! Terimakasih Tae.. terimakasih sekali..”

Aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Kulihat yeoja keparat itu tersenyum penuh kemenangan.

“Yak! Eunhye! Dengarkan dulu!” Cegah Taehyung. Aku menepis lengannya yang mencengkeram tanganku. Aku menatapnya.. menatap kedua mata namja yang telah melukai hatiku ini. tanpa terasa, air mataku mengalir dan membuat mataku yang semua begitu cerah kini nampak sembab dan bengkak. Taehyung menatapku panik. Untuk sesaat, kami saling bertatapan sampai akhirnya yeoja sialan itu datang memeluk Taehyung dari belakang. Membuatku sadar bahwa aku harus pergi. Aku tidak boleh mengganggu acara mereka kan?

“Terimakasih atas kejutanmu hari ini, Tae…” aku melepas genggamanya kemudian segera berlari menjauh.

Katanya, ia takut jika aku meninggalkannya tapi apa sekarang? Dia yang meninggalkanku. Dia yang melukaiku.

Katanya, ia akan selalu ada disisiku. Tapi? Dia berada di sisi yeoja lain. Dia berselingkuh dihadapanku.

Sungguh…..

AKU MEMBENCIMU KIM TAE HYUNG!

Dengarlah itu baik-baik…..

…..Chagi….

Aku mengasingkan diriku. Aku butuh ChangChang sunbae… Kau ada dimana?? Aku membutuhkanmu, sunbae… Hatiku terasa sungguh pedih… benar-benar pedih… Kau dimana? Apa kau sedang bersiap-siap? Jika ya, hiburlah hoobaemu ini dengan alunan pianomu yang mengagumkan itu…

Benar saja… sekarang aku bisa melihat ChangChang sunbae berada di atas panggung sayangnya aku tidak bisa melihat yeoja yang bernyanyi itu, padahal dia adalah yeoja yang disukai sunbae! Aihh sial! Hanya saja… suara penyanyi itu aku seperti mengenalinya…  Hm..

Aku diam.

Diiringi oleh musik bernuansa romantis, dan juga disuguhi pemandangan pasangan-pasangan muda yang tengah menyalurkan perasaan cinta mereka satu sama lain.

Ditengah-tengah  kebahagian orang-orang itu dari kejauhan aku melihat….

Taehyung!

Aku sebisa mungkin membuat diriku agar tidak dikenalinya. Ia tampak mencari seseorang. Apa ia mencariku? Apa ia datang untuk meminta maaf? Apa dia….

Tidak.. dia tidak datang mencariku. Dia mencari gadis kecil yang genit itu. Taehyung menggandeng tangan gadis kecil itu dan membawanya pada…. What? Yeoja mantannya?! Apa gadis kecil itu adalah anak dari mantannya Taehyung? Jika ya, berarti aku….

Aku memacari sesorang yang sudah berkeluarga?!

Oomona! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti….

Taehyung….

Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini…

Aku ingin tahu bagaimana bisa kau di panggil ‘appa’ oleh gadis kecil itu..

Aku ingin tahu apa hubunganmu dengan yeoja bernama Yoonie itu..

Aku ingin tahu mengapa kau terlihat begitu tidak peduli padaku sekarang?

Kenapa Tae??

Aku gila karena hadirmu dihidupku.. dan sekarang kau ingin membuatku gila karena kau mencampakanku?

Kau bahkan tidak mencariku…..

Kau ini sungguh……  KEJAM!

Penampilan ChangChang sunbae dan yeoja artis itu berakhir. Wah… penampilan mereka keren sekali.. musik yang mereka ciptakan mengalun manis di pendengaranku. Aku suka itu! Setidaknya, itu bisa menghiburku sedikit..

“EunEun pabbo!” seru ChangChang sunbae setelah turun dari panggung. “Ini untukmu! Kau adalah orang yang spesial untukku!” lanjutnya sambil memberiku sebucket mawar berwarna kuning sebagai lambang persahabatan.

“Gomawo sunbae…”

“Pidatomu tadi hebat.. kau memang hoobaeku yang yang paling spesial! Aku bangga padamu.”

“Aku terharu… gomawo. Sunbae bisa saja.. Oh iya, yeoja yang bersamamu tadi itu namanya siapa?”

“Oh dia itu… Eh? Apa yang terjadi dengan matamu?”

”Ah! Ani. Mungkin ini karena aku kurang tidur.. aku sugguh lelah.. lebih baik aku pergi sekarang. Annyeong.”

Tidak.. ChangChnag sunbae tidak boleh tahu apa yang terjadi padaku…

-***-

Akhirnya. Kami berada di pesawat. Seoul… aku merindukanmu!!

Kuputuskan untuk kembali ke Seoul menggunakan pesawat bersama Hyojin, dan pasangan iblis ini.

Aku tidak kembali bersama Taehyung karena kalian juga tahu masalahnya bukan? Aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan.

Meski tidak ingin sedih, tapi sepertinya wajahku menunjukan bahwa aku sungguh sangat sengsara ya? Apa seperti itu? Apa separah itu sampai-sampai penumpang lain menatapku ngeri??

Ah, Hyojin…. dia juga menekuk wajahnya.. ada apa ya? Perihal managernya lagi? Kenapa dia tidak cerita? Mungkin ia masih kesal..

Sepertinya.. sedari tadi aku bertanya dan menjawabnya sendiri… mungkin aku mengalami tekanan batin sekarang…

“HwaYeon!” Seru Yoonhee saat kami sampai di bandara.

Ah, sudah sampai ya? Apa boleh kucium tanah ini? Aku merindukan tanah ini….

Hwayeon menoleh dan melambaikan tangannya.

“Kajja eonni.” Ajak Hwayeon kemudian berlari mendahului kami. Aku dan Hyojin.

Tumben sekali Hyojin tidak berbicara padaku.. padahal ia adalah orang yang paling sering berbicara denganku entah apapun topiknya.

Hyojin..

Kau ini kenapa?

-TBC-

Romantic Waltz~#100DayOurBlog-HYo Jin side (Part 5)

Tittle   :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Min Sunghyun (OC)

Author          : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght  : Chapter

Ratt    : G-Semi M

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Makasih yang udah sempetin baca FF Author part sebelumnya yh^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Author kan udah pernah bilang kalau belum berbakat membuat FF Chapter tapi tolong di comment yh^^

Disini ada pergeseran ratting yh~ hhe..

Sedikit ada NC- Author gak tahan kalau gak ada NC, eh?-

Biar jadi referensi gitu~

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

Sebelumnya..

“Berarti kita impas.” Kataku sambil tersenyum lebar. Kulihat Ricky hanya mengerutkan dahinya dan menatapku bingung. Kubiarkan saja ia penasaran. Hha..

Lebih baik aku kembali ke hotel untuk istirahat. Besok adalah hari penting. Aku tak boleh menggagalkannya. Fighting!

.

Chapter 5: ‘Our’-private- show~

.

.

Pagi cerah telah tiba..

Yah, aku harus bersiap-siap. Malam ini bukanlah malam yang biasa. Malam ini aku  akan tampil bersama namja yang telah mengisi hatiku. Mungkin malam ini hubungan kami akan mendapat perkembangan. Boleh kah aku berharap?

Aku memasang earphone,u unutk berlatih lagu yang akan kami tampilkan nanti. Yah, Love Song- Adele. Keren kan?

Berhubung aku sedang malas keluar kamar jadi kuputuskan untuk diam di dalam kamar.

.

.

.

Sudah malam? Daebak!!! Tak terasa sama sekali. Untung saja aku sudah mandi dan sekarang tubuhku sudah dibalut gaun merah tanpa lengan selutut yang kuberi saat menemani Hwa Yeon membeli gaun. Dan ini sangat bagus. Hae Won-ssi memang hebat.

Tok tok tok

Aish, siapa itu? Mengganggu saja. Tidak taukah ia kalau aku sedang sibuk(baca: mengaca)? Aku berjalan malas menuju pintu dan membukanya. Sungguh aku sanagt menyesal saat melihat sang pelaku..

“Anyeong, HyoHyo yedongsaeng tercantikku!!!” siapa lagi kalau bukan EvilKyu oppa. Aku hanya memutar mataku malas.

“Apa maumu? Kau ini mengganggu saja, oppa. Oh ya, apa yeoja yang waktu itu kau ceritakan adalah Hwa Yeon?” tanyaku heran.

“Yup. Tepat sekali! Aku pun kaget saat mengetahui kalau Hwa Yeon-ku itu sahabatmu. Kenapa kau tidak pernah mengenalkannya padaku? “ ia menatapku dengan pandangan meremehkan.

“Tak perlu kukenalkan kau pasti akan mencarinya. Eh, tadi kau bilang apa? Hwa Yeon ku?” heol, hebat sekali dia sudah meng-klaim Hwa Yeon miliknya. Jangnan aniya.

“Iya. Hari ini aku kan mengenalkannya pada Eomma dan Appa.” Kata Kyuhyun sambil duduk di kasurku. Dasar tak sopan.

“Oh ya, Eomma dan Appa ingin bertemu denganmu. Jadi mereka menyuruhku untuk datang bersamamu.”tambahnya sambil merebahkan badannya dikasur. Sia-sia tuxedo hitam itu ia pake jika hanya untuk tidur. Dasar kebo.

“Mwo? Ajhuma dan Ajusshi datang? Aku kangen sekali~ Baiklah, kajja. Aku tak sabar bertemu dengannya.” Aku menarik tangannya.

“Ya! Cho Hyo Jin!!” ia berteriak karna hampir jatuh saat aku menariknya. Setelah mengunci pintu aku berjalan bersama Kyuhyun. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan menggandeng tanganku.

“Sudah lama kita tak seperti ini. Terakhir saat kita masih di SMP. Kapan lagi kita punya moment saat kita akrab? Haha..” Kyuhyun terkekeh. Aku tersenyum  dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya.

Well, memang kami jarang sekali akur. Jadi lebih baik kita gunakan moment ini untuk akrab. Haha..

Saat sampai di ballroom aku terkagum-kagum menatap sekitar. Ini hebat sekali! Megah dan luas!!! Aku merasa sangat beruntung disini. Ini semua pasti kerjaan Eun Hye eonni. Dia memang perfectionis. Dasar yeoja golongan darah A~

“Omona! Ini hebat sekali! Eun Hye eonni sangat hebat! Eh? Itu Hwa Yeon. Sana, dekati dia.” Ujarku. Kyuhyun menggeleng.

“Hey, aku bisa bersama dia nanti. Kita kan sedang dalam acara ‘mari-kita-berbaikan-‘,ingat?” aku terkekeh mendengarnya. Kami kembali tertawa tapi aku merasa sedikit aneh saat melihat Hwa Yeon. Apa dia cemburu? Jangan-jangan ia belum tau kalau aku dan Kyuhyun itu sepupu? Ah, tak mungkin. Pasti ia tau.

Aku mendatangi Tan Ajusshi dan Ajjuma. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Kami sekedar membagi cerita setelah lama tidak bertemu.

Selama acara ini aku selalu bersama Kyuhyun oppa. Ia selalu menggandeng tanganku. Banyak yang mengira kami adalah pasangan kekasih. Tapi Kyuhyun oppa akan mengatakan,

“Bukan. Ia hanya sepupuku. Yeojachinggu ku adalah penyelenggara acara ini.” Ujarnya mantap. Wah, aku iri padamu Hwa Yeon. Kapan aku mendapat orang seperti Kyu oppa? Mungkin nanti.

Eh? Hwa Yeon kok seperti ingin menangis? Apa karna kami bersama?

“Hwa Yeon? Kenapa ia selalu melihat kepada kita?” tanyaku penasaran. Kyuhyun melirik sekilas.

“Entah, mungkin ia sedang melamun. Ia kan suka melamun.” Kyuhyun menaggapinya dengan santai.

Kulihat Hwa Yeon pergi keluar ruangan. Sambil menangis?

Hwa Yeon memang suka melamun. Tapi ia tidak pernah melamun sambil menangis. Apa jangan-jangan..

“Oppa, apa kau sudah bilang pada Hwa Yeon kalau kita sepupu?” Kyuhyun terkaget dan baru menyadari sesuatu.

“Aish, aku lupa mengatakannya. Pantas saja ia melihat kearah kita. Lho? Kemana dia? “ Kyuhyun panik.

“Ia keluar dari ruangan tadi. Sepertinya ia cemburu dan salah sangka. Cepatlah kejar dia oppa.” Aku mendorong Kyuhyun untuk keluar ruangan. Dasar couple rusuh.

Tapi aku juga tidak melihat Ricky. Dia kemana? Ah! Itu dia! Eun Hye eonni lagi? Aigo, dia benar-benar. Tapi Eun Hye eonni itu sedang bersama namja lain kan? Hebat sekali eonni tertua ini. Ia punya dua namja .

Prok prok prok

Aku bertepuk tangan pelan. Aku sudah membulatkan pilihanku. Aku membenci Eun Hye eonni.

Saat semua orang berdansa dengan romantis termasuk couple rusuh-Kyuhyun&Hwa Yeon- Hebat sekali mereka sudah berbaikan. Aku hanya bisa diam dan duduk, Ricky tidak ada niatan untuk mengajakku berdansa? Ah, aku lupa. Kan masih ada Eun Hye eonni.

Entah berapa lama aku melamun, tiba-tiba mc acara tersebut berkata,

“ Ayo ayo, sekarang semua yeoja berbaris menyamping disebelah kananku, dan para namja berhadapan dengan para yeoja disamping kiriku. Ayo ayo.” Dengan langkah gontai aku menuju kesana. Mungkin akan sedikit membantu menenangkan pikiranku.

“Oke, sekarang kita akn bermain game!!! Kiss Competion. Oke, jadi nanti, lampu akan dimatikan, dan semua orang wajib mencari seorang pasangan klaian masing-masing untuk dicium dalam keadaan gelap gulita. Oke? mengerti semuanya? Pada aba-aba ke-3. 1…2…3…

Cleck

Mwo? Ini kiss competion? Aku harus apa? Ini gelap sekali! Eomma! Aku takut! Ricky!!

“Apa kau Hyo Jin?” aku kenal suara itu. Itu Ricky!

“Ricky?”

“Ternyata memang kau.”

Cup.

Ia menciumku dengan lembut. Astaga, ia menciumku setelah berselingkuh didepan mataku? Kau harus sadar, Hyo Jin.

Saat aku memberontak, aku menyesalinya. Karna semakin aku memberontak, ciuman itu semakin dalam. Ah, aku menyerah. Ricky tetap menciumku dengan lembut tak ada kesan nafsu dalam ciumannya.

Cleck

Ricky melepaskan ciumannya dan menatapku lekat. Aku hanya bisa menundukan kepalaku. Ia menagngkat daguku lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Ayo siap-siap. Sebentar lagi kita tampil.”

What the?! Kupikir dia akan mengatakan hal romantis! Ternyata … yah, aku sweatdrop seketika.

Akhirnya aku tampil bersama Ricky. Yah, aku tak dapat melihat wajah Ricky lagi. Setiap menatap matanya aku merasa tatapannya seakan menyelami pikiranku. Selama aku menyanyi aku hanya fokus pada lagu.

“Kau mengagumkan tadi” katanya.

“Gomawo.”

“Kau masih marah?”

“Ani”

“Baiklah kalau kau masih marah. ini untukmu”

Ricky memberikan setangkai mawar merah padaku. Ini romantis.

“Goma- eh?”

Saat hendak mengucapkan terimakasih . Ricky sudah menghilang.

Saat cari, aku menemukannya bersama Eun Hye eonni lagi. Lagi? Dan apa itu? Sebucket mawar kuning? Astaga, aku satu tangkai dan dia sebuket? Luar biasa.

Aku benci Eun Hye eonni.

.

.

.

“Hwa Yeon!” teriak Yoon Hee. Well, aku memutuskan untuk pulang bersama Hwa Yeon dan Eun Hye eonni. Walaupun suasana sedikit-sangat- canggung saat bersama Eun Hye eonni.

“Kajja eonni.” Hwa Yeon meninggalkan kami berdua. Kulihat Hwa Yeon sibuk dengan Yoon Hee. Dan aku hanya bisa diam tanpa menganggap ada nya Eun Hye eonni.

Sudah kubilangkan? Aku benci Eun Hye eonni.

­-TBC-

Wah, ini sangat aneh T_T

Maaf yah kalau geje..

Author 2 memang belum berbakat~

Jadi minta commentnya yah^^

Gomawo yang mau baca~

~Cho Hyo Jin

Romantic Waltz~#100DayOurBLog-Hyo Jin side (part 4)

Tittle   :  Romantic Waltz#SP 100 days~ Hyo  Jin side^^

Cast   :

Cho Hyo Jin

Yoo Changhyun (Ricky Teentop)

Other :

Cho Kyuhyun

Jung Yoon Hee

Park Eun Hye

Min Sunghyun (OC)

Author          : Cho Hyo Jin a.k.a Author 2~~

Genre : romance, drama

Leght  : Chapter

Ratt    : G

 Anyeong~~

Tak terasa Spicywing sudah 100 hari!!! Yeah~~

Author 2 mencoba membuat FF chapter^^

Makasih yang udah sempetin baca FF Author part sebelumnya yh^^

Semoga gak geje dan kalian semua suka

Author kan udah pernah bilang kalau belum berbakat membuat FF Chapter tapi tolong di comment yh^^

Biar jadi referensi gitu~

Jadi ini cerita part Hyo Jin nya yah..

Urutannya Hwa Yeon, Yoon Hee, Eun Hye baru Hyo Jin..

Jadi sebelum baca ini harus baca yang mereka dulu hhe^^

Sorry bisa post sekarang, kemarin koneksi internetnya hilang hhe^^

Oh iya, judul ini diambil dari lagu klasik jadi jangan berfikir kalau ini ada hubungannya sama tarian waltz..

Oke, jadi Happy reading yah~~

—————————————————————————————————–

Summary:

‘Karna setiap alunan nada dari jarimu dapat membuatku semakin mencintaimu’-Hyo Jin

‘Cinta dan bermain piano itu sama. Sama-sama menggunakan perasaan’-Ricky

‘Our melodies can make a harmonies’-Ricky & Hyo Jin

Sebelumnya..

“Kau tidak apa-apa?” kurasa aku mengenal suara itu. Dimana yah? Kulirik sedikit dari sela-sela jariku.

“Omo! Hyo Jin? Kenapa kau ada disini?”

Dan ternyata dia adalah…

.

Chapter 4 : Revenge

.

.

“ Sunghyun? Kenapa kau ada disini?” kataku pelan. Ia mengangguk pelan lalu duduk didekatku.

“Itu tidak terlalu penting. Jadi, apa yang terjadi? Ceritalah. Kau tau kan kita sudah bersahabat sejak dulu. Kau bisa bercerita padaku.” ia mengalihkan pandangannya padaku.

Ah, aku ingin kalian berkenalan dengannya. Ia adalah Min Sunghyun. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Sebelum bertemu anggota gank Scipy aku sudah bersahabat dengannya. Dulu kami terpisah karna Sunghyun harus pindah ke luar kota. Dan kami bertemu di Jeju!!

“Well, sekarang ada seorang namja yang sedang menarik perhatianku akhir-akhir ini. Ia adalah pianis muda yang tampan. Walaupun baru beberapa hari bersamanya, tapi kami memiliki moment yang tak terlupakan. Tapi ternyata bukan hanya aku saja yang merasakannya..” aku menekuk lututku lagi dan menenggelamkan wajahku.

“Maksudmu? Ada orang ketiga?Bagaimana kalau kau labrak saja dia? Kau kan Cho Hyo  Jin! Haha..”  Sunghyun mengelus punggungku lembut. Ia masih sama seperti dulu.

“Yeah, awalnya aku juga mengatakan hal yang sama. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika orang itu adalah sahabatku? Kau tau kan aku tidak bisa membuat sahabatku menangis?” aku menghela nafas sambil menghapus jejak air mata yang kembali terukir dipipiku.

“Jadi dia sahabatmu? Kau belum berubah ternyata. Masih saja memendam semuanya sendiri tak peduli kau akan terluka atau tidak. Karna itulah kau gampang tersakiti. Kau terlalu baik pada semuanya sehingga mereka tidak tau kalau kau menderita.” Sunghyun mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang turun dari mataku.

“Kau itu tidak pernah memahami perasaanmu sendiri. Selalu menunjukan wajah bahagia walaupun itu sangat menyakitkan bagimu. Menganggap dirinya tidak akan pernah bersedih.”

Pluk

“Aw!! Appo!! Kau jahat sekali padaku!!” Aku memukul lengannya keras karna ia memukul kepalaku keras sekali. Ia tertawa.

“Tapi itulah daya tarikmu. Semua orang tidak tau kau selalu bekerja keras demi mereka. kau lelah demi menyenangkan mereka. Kau tidak pernah menunjukan wajah lelahmu karna akan membuat mereka khawatir. Kau itu yeoja hebat.” Sunghyun mengusap kepalaku pelan.

Aku memeluk Sunghyun erat. Hanya ia yang sangat memahamiku. Hanya ia yang tau lebih banyak dari sahabat-sahabatku yang lain. Hanya dia yang bisa menenangkan aku. Hanya dia..

“Ya! Hyo Jin! Siapa namja yang membuat sahabatku menangis separah ini, eoh? Biar kupukul perutnya sampai ususnya keluar.” Ia membalas pelukanku. Aku tersenyum.

“Gomawo, Sunghyun-ah.”

“Itulah gunanya sahabat.” Jawabnya mantap.

Kami masih berpelukan erat. Untung saja daerah sini sangat sepi. Mungkin karna belum ada yang kesini.Aku melepaskan pelukanku. Kami saling menatap dan tersenyum. Rasa pedih kini sudah musnah.

Oh ya, kenapa Sunghyun bisa berada disini?

“Kenapa kau bisa disini?” tanyaku sambil merebahkan tubuhku dipasir. Ia mengikutiku.

“Aku? Aku sedang melakukan penelitian. Aku kaget melihat seorang yeoja sedang berlari sambil menagis di daerah sini. Karna daerah ini memang belum pernah dikunjungi orang lain. jadi tempat yang cocok untuk penelitian. Kau?” ia memejamkan matanya.

“Aku akan mengisi sebuah acara pelanuchingan hotel di dekat sini. Nah, namja yang kumaksud tadi adalah namja yang akan mengiringiku saat nanti. Bagaimana kalau kau datang kesana? Aku bisa memasukan namamu kedalam list tamu khusus. Datang ya?” Aku menggunakan puppy eyesku supaya ia ikut. Ia terkekeh.

“Entahlah. Aku tidak tau bisa datang atau tidak. Akan kuusahakan. “ Ia kembali mengusap kepalaku.

Sepertinya tidak rugi jika aku menghabiskan hari ini dengannya. Yah, hitung-hitung menghilangkan stressku. Kenapa tidak?

“Apa kau kosong hari ini?” tanyaku.

“Tentu. Itulah alasan aku bisa bersamamu sekarang. Wae?”

“Mau kah kau menemaniku? Hitung-hitung nostalgia masa kecil? Hehe..”

“Tentu saja. Dengan senang hati.”

Memangnya hanya Ricky yang bisa bersama orang lain? Aku pun bisa. Maafkan aku Sunghyun-ah.

*Hyo Jin Pov end*

*Ricky POV*

Aigo, yeoja itu kemana sih? Ice cream ini mengganggu saja! Kubuang ice cream itu dan kembali mencari Hyo Jin.

Untuk apa tadi aku berhenti mengejarnya coba? Dasar pabbo.

Mungkin aku harus bertanya pada Eun Eun pabbo. Ini semua salahnya! Kenapa ia memelukku coba? Aish..

“Yeoboseyo?” ucapku.

“Yeoboseyo.”

“Hiiyaaa!! EunEun! Eotteohke?!”

“Mwo?”

“Dia marah…”

“Nugu? Artis itu?”

“Ne..”

“Haish! Kau apakan dia?! Akh, dasar pabbo! Sunbae pabbo!”

“Bagus ya! Terus saja mengataiku bodoh! kau lebih bodoh tahu!”

“Yak! Sunbae ini menyebalkan! Sudahlah urus saja masalahmu sendiri!”

-Tut!-

Aish, bisa-bisanya ia menutup telpon dariku! Kutelpon saja lagi.

Drrtt..Drrtt..

“Sekarang apa?!” tanyanya ketus.

“Jebal! Bantulah sunbaemu yang handsome ini!”

“Mwo?! Sudah jangan ganggu aku lagi!!”

“Yak! EunEun pabbo!”

Dasar tidak membantu! Baiklah aku akan mencarinya lagi.

*Ricky POV End*

*Hyo Jin POV*

Seperti yang sudah disepakati, kami pergi ke tempat-tempat yang menarik di daerah ini.

“Hyunie, kau tau kan kalau aku ingin wisata kuliner disini? Kau tau tempat makan yang enak?” tanyaku dengan mata berbinar-binar.

“Aigo, kau masih Hyo Jin yang rakus! Tapi kenapa badanmu bisa seperti ini? Kau kan makannya banyak.” Ia mengatakan itu dengan wajah datarnya.

“Ya! Sekarangkan aku sudah menjadi public figure! Sudah pasti aku harus menjaga penampilanku! Apalagi aku sedang dalam puncak ketenaranku! Hha..”

“Baiklah, Nona Cho. Sekarang berhentiah berkicau karna kita akan pergi sekarang.” Katanya. Ia menunjukan sebuah mobil sport yang –sangat-keren. Dan warnanya biru!! Warna kesukaanku!

“Apa ini punyamu? Kau sudah sukses! Daebak! Aku bangga menjadi sahabatmu!!” aku memberikan kedua jempolku. Ia terkekeh.

“Tentu saja. Apa kau tidak pernah mendengar Prof. Min yang baru saja meneliti tentang keajaiban laut?”

“Jinjja?! Itu kau? Kenapa kau baru bilang,eoh? Mianhae, Prof. Min. Haha..” aku tertawa. Yah, beginilah kami dulu. Saling menyemangati, selalu tertawa.

“Apa kau punya yeojachinggu?”

“Sudah. Bahkan ia sudah berganti status menjadi istriku.”

MWO!!!!!

“Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?!! Lalu dimana istrimu? Aku ingin melihatnya!” kataku antusias.

“Benarkah? Baiklah. Kita ke rumahku. Semoga saja SungHee sudah pulang sekolah.”

“SungHee?”

“Ia anakku.”

WHAT THE?

“Teganya kau!! Tidak mengundangku! Dan sekarang kau sudah punya anak?! Daebak!” aku memukul kepalanya.

“Aish, sudahlah. Mari masuk. Aku sudah kangen dengan My Baby.” Katanya sambil menggunakan aegyo yang jijik dimataku.

-skip time-

“Kita sudah sampai!”

Rumahnya sederhana namun elegant. Dia memang sudah sukses.

“Yeobo? Dia Hyo Jin?” terdengar suara yeoja yang menyambut kami di ruang tamu. Aku tersenyum ramah.

“Omo!!! Cho Hyo Jin sedang berada di rumahku!!! Aku harus apa? Hyo Jin, aku fans beratmu!!!” ternyata istrinya merupakan Jinieus juga. Aku terharu.

“Chagi-a, sebenarnya Hyo Jin itu adalah sahabatku sejak lama.” Jelas Sunghyun.

“Kenapa kau tidak bilang kalau sahabatmu itu Hyo Jin? Jadi suamiku adalah sahabat Hyo Jin? Ah, beruntung sekali aku menikah denganmu!!” ia menciumi pipi Sunghyun yang tertawa melihat istrinya seperti itu.

“Jadi begini, bolehkan kalau Hyo Jin menghabiskan hari ini di rumah? Tapi ia ingin mencoba makanan khas sini. Kau bisa kan?” Sunghyun berkata dengan santai pada istrinya.

“Tentu saja! Demi Hyo Jin!!” Dia memang hardfans-ku. Aku terharu mendengarnya..

Yah, hari ini mungkin akan menyenangkan!

-skip time-

Waktu menjelang sore. Sebaiknya aku pulangke hotel. Untung Sunghyuhn mau mengantarku. Yah, Kurasa Ricky sudah mencariku dari tadi.

“Kajja.” Ajak Sunghyun.

“Ne. “

Setelah sampai di  hotel kulihat Ricky sedang duduk tak tenang di lobby. Aku menghampirinya.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

Ia menegokan kepalanya dan langsung memelukku erat.

“Mianhae.. mianhae.. walau aku tak tau apa yang membuatmu marah. Kumohon maafkan aku.” Aku memeluknya erat juga. Ternyata itu menyakiti hatinya. Kami hanya diam menikmati pelukan kami. Tiba-tiba..

“Jinie, kau melupakan ini.” Seru seseorang. Ricky melepaskan pelukannya dan menatap namja itu lekat.

“Ah, Hyunie. Gomawo. By the way, terimakasih untuk hari ini. Lain kali kita jalan bersama lagi yah..” ucapku sambil tersenyum. Aku memeluk Sunghyun lagi ia membalasnya tak kalah hangat. Tapi pelukan kami tiba-tiba terpisah oleh Ricky.

“Jangan lama-lama. “ Ricky menarik tanganku keras sehingga tangaku terasa sakit. Kulihat Sunghyun hanya terkekeh dan membalikan badannya untuk pulang ke rumah. Tega sekali dia.

“Kenapa kau menarik tanganku?”

“Kenapa kau pergi bersama namja itu?”

“Kau cemburu?”

“Tidak. Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

“Bohong”

“Tidak”

“Bohong”

“Baiklah. Aku cemburu!”

Apa tadi yang dia katakan? Ia cemburu? Artinya ia suka padaku? Kenapa hati ini bahagia sekali? Entahlah..

“Berarti kita impas.” Kataku sambil tersenyum lebar. Kulihat Ricky hanya mengerutkan dahinya dan menatapku bingung. Kubiarkan saja ia penasaran. Hha..

Lebih baik aku kembali ke hotel untuk istirahat. Besok adalah hari penting. Aku tak boleh menggagalkannya. Fighting!

-TBC-

Gimana? Masih gak rame yah?

Maaf yah kalau gak rame^^

Tapi Author masih nunggu comment dari kalian buat introspeksi diri…

Gomawo yang udah mau baca..

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~~

~Cho Hyo Jin