Too Much Love

Title: Too Much Love
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Im Caerin (OC)
o Mark Tuan (GOT7)

Other cast:
o Park Jinyoung aka Jr (GOT7)
o Wang Jackson (GOT7)
o Moon Joomi

Genre: romance, hurt, friendship
Length: Oneshoot
Rating: G

Author juga bingung ma jalan ceritanya, tapi semoga kalian ngerti apa yang author maksud.
Bikinnya buru-bru. Maap kalo ga rame *bow*
Maaf kalo ada salah-salah kata. Author ga maksud buat ngebash ato nyindir pihak manapun.
Just Fun, okay?
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment
For Readers, Happy Reading ^^
.
.
.

*Caerin POV*

Gelar perempuan popular di sekolahku mungkin dapat kusabet. Para namja dari berbagai tingkat tahu siapa aku, bahkan tak jarang mereka juga pernah memandangku.

“Kau masih menyukainya?” pertanyaan itu sontak membuatku berhenti berlenggak.

“Kenapa kau masih menyukai orang yang belum jelas menyukaimu. Padahal ada ak disini yang masih menunggumu.” sambungnya.

Aku berbalik kearah suara dan menatapnya.

“Molla. Kalau suka ya suka saja. Apa urusanmu?” ketusku.

“Bisakah kau memberikan aku kesempatan?” pintanya dengan desahan nafas berat.

“Bisa. Aku akan menjadi yeojachingumu tanpa cinta sedikit pun. Kita akan mulai kapan?”

Dia diam, tak menjawab. Aku meninggalkan Jackson yang terlihat frustasi, dan kembali melenggak.

“Caerin!” panggil Joomi, dia adalah sahabatku.

“Kenapa murung? Apa yang terjadi?” dirangkulkannya lengan itu kebahuku.

“Molla. Kadang aku hanya berpikir.”

“Tentang?”

Aku menghela afas berat.

“Masalah cinta?” duganya cepat.

Aku mengangguk pelan.

“Kadang aku berpikir untuk menyerah dengan perasaanku dan memilih untuk menerima Jackson ketimbang harus menunggu lagi. Tapi a..”

Joomi yang mulai mengerti mengusap punggungku. Ditatapnya diriku dengan tatapan penuh perhatian.

“..aku..tidak bisa.” lanjutku.

“Kalau begitu ya jangan. Aku hanya temanmu. Aku tidak bisa berbuat banyak dalam mencampuri urusan cintamu. Benar kan?”

Aku kembali mengangguk pelan.

“Ayo masuk. Nanti kita ketinggalan rombongan.” Joomi menarikku masuk kedalam kampus. Hari ini ada kunjungan dari kampus ke kampus bersama SMA dimana aku belajar. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Sayangnya, aku dan Joomi harus terpisah. Bagusnya, aku satu kelompok dengan dia. Sialannya, aku satu kelompok dengan Jackson.

“Membosankan.” desis Jinyoung yang berdiri tepat disebelahku. Aku menatapnya. Dialah orang yang kusuka itu. Memang hal-hal seperti ini bukanlah gayanya. Aku hanya bisa terkekeh mendapati dia menguap berkali-kali karena bosan. Tapi akhirnya kusadari, ada sepasang mata yang manatapku. Kuarahkan kepalaku mencari hal yang menggangu itu.

“Jackson, lagi.” batinku kesal.

“Baiklah sekarang kita akan masuk kedalan ruang kelas bisnis managemen.”

Rombongan kami memasuki kelas itu dan berdiri dibelakang sembari melihat suasana belajar disana.

“Pstt.. Jinyoung..” salah seorang mahasiswa memanggil Jinyoung. Anehnya, malah aku yang melihatnya. Kini dia sedang tersenyum kearahku.

“Pstt.. Jinyoung..” panggilnya sekali lagi. Kutatap Jinyoung yang tengah tertidur sembari berdiri.

“Jinyoung, ada yang memanggilmu.” Bisikku sembari menyikut lengannya yang terlipat.
“Ekh, apa?” tanyanya.

“Itu ada yang..”

“Mark tolong maju kedepan dan jelaskan apa keunggulan kelas kita.” perintah dosen mengalihkan konsentrasiku saat berbicara dengan Jinyoung. Orang yang tadi memanggil Jinyoung langsung berdiri dan menuju kedepan kelas.

“Ehm.. dikelas, ada..banyak pelajaran, terus.. ehm..ehh.” seluruh isi kelas mentertawakan dia, yang kini kutahu kalau namanya adalah Mark.

“Hahahaha..” tawa Jinyoung paling mendominasi sekarang. Kurasa mereka saling kenal.
Mark kini menggaruk kepalanya menahan malu. Dia tersenyum miring kearahku, lagi? Apa arti dibalik senyuman itu?

Waktu kunjungn telah selesai. Ini adalah kelas terakhir yang harus kami kunjungi.

“Tunggu, aku ingin bicara.” Tangan itu mencengkram lenganku kuat.

“Appo! Wae geurae?!” ketusku kasar. Aku melepaskan cengkraman itu dengan kasar pula.

“Aku melihat semuanya tadi. Ternyata benar apa duagaanku. Kau-Playgirl.” Ucapnya mengeja perlahan. Tapi langsung membuatku tersinggung.

“Yak! Mwo-ya?! Apa kau baru saja memakiku?” tanyaku yang mulai naik darah.

“Kau bukan orang yang kusuka lagi. Aku membencimu saat ini.” ucapnya serius.

“Silahkan saja. Memangnya siapa yang butuh cinta monyetmu itu? Tuan Jackson penggerutu.” balasku memaki.

“Huft, Playgirl simulut kasar.” desisnya menghina.

“Caerin, aku sudah lapar. Ayo ke kantin. Maaf Jackson, aku pinjam Caerin dulu ya. Annyeong.” Joomi menarik tanganku cepat meninggalkan Jackson.

“Ada apalagi antara kau dengan Jackson?” tanya Joomi penasaran.

“Seperti biasa. M-E-N-G-E-S-A-L-K-A-N.”

“Kalian ini bertengkar seperti pasangan suami istri.” kata Joomi mengejek.

“Tidak dan tidak akan pernah.” sumpahku.

Joomi dan aku akhirnya sampai ke kantin kampus.

“Caerin!” panggil Jinyoung. Sontak kami berdua langsung menengok kearah suara. Jinyoung, orang yang memanggil kami tengah duduk dengan Mark.

“Kesempatan.” Joomi menarik tanganku mendekati mereka.

“Duduklah.” Perintah Mark ramah.

Aku duduk disamping Jinyoung, sedangkan Joomi duduk bersampingan dengan Mark. Kami duduk bersebrangan seakan sedang dalam acara Double Date.

“Aku Mark. Saudara jauhnya Jinyoung.” ucapnya dengan senyumannya yang lebar.

“Aku Joomi. Baru tahu kalau kalian itu ternyata saudara jauh.” ucap Joomi sok kenal.

Mereka kini sedang menatapku seakan menunggu sesuatu.

“Apa harus?” bisikku dalam hati.

“A-aku Caerin.” jelasku singkat.

“Salam kenal Joomi, Caerin. Sebagai tanda perkenalan, aku akan mentraktir kalian hari ini.” Mark mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan yang ada dikantin sekolah, lalu memesankan dua jus jambu untukku dan juga Joomi.

“Bagaimana dikampus? Ada yeoja yang kau suka?” tanya Jinyoung antusias.

“Belum ada sejauh ini. Mungkin sebentar lagi.” Mereka berdua kembali tertawa dengan akur, seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Kalau kau? Bagaimana yeojachingumu?” tanya Mark pada Jinyoung dengan nada yang menggoda.

“Ya.. begitulah. Kemarin kita baru pergi ke Namsan untuk memasang gembok.” ucap Jinyoung bangga.
Joomi langsung menatapku hati-hati memberikan kode. Aku un membalas tatapan Joomi.

“Aku tahu, dan aku sedang hancur saat ini.” Mungkin itu yang dapat kukatakan. Sakit, ini namanya ditolak sebelum mengungkapkan.

“Jusnya sudah datang.” Mark membagikan jus itu untukku dan juga Joomi.

“Caerin, tadi Mark bilang kalau dia menyukaimu.” ucap Jinyoung enteng.

“Yak, Jinyoungie!” sela Mark.

“Betul hyung. Kalau tidak ada yang mau denganmu, kedua yeoja ini bisa kau pilih.” lanjut Jinyoung.

“Kau ini. Apa maksudmu?!” bentak Mark pelan.

“Sudahlah, kita harus segera berkumpul. Busnya sudah datang. Lain kali kita bahas lagi. Annyeong hyung.” Jinyoung bangkit dari duduknya dan mengajak kami berdua untuk berdiri juga.

“Annyeong.” pamitku dan Joomi berbarengan.

Joomi berjalan disampingku, dan aku hanya bisa memandangi punggung Jinyoung yang berjalan didepanku.

“Caerin..” panggil Joomi sedikit berbisik.

“Gwaenchanha.” jawabku menenangkan.

Semenjak hari itu aku menjadi hancur. Jackson yang mengata-ngataiku, Jinyoung yang pada kenyataanya sudah punya yeojachingu, lalu apalagi? Bagusnya aku masih punya Joomi. Dan juga aku harus lebih giat belajar agar lulus diujian akhir.

Mimpi buruk itu akhirnya datang. Setelah 3 minggu penantian, akhirnya ujian akhir dimulai. Hari pertama adalah ujian Bahasa. Lumayan bisa sih.

“Caerin!” panggil seseorang ketika aku sedang berjalan pulang.

“Mark oppa?” aku menghampiri Mark yang sedang duduk dimotor hitam besarnya.

“Sudah pulang?” tanyanya.

“Hari ini pulang cepat karena ujian. Mau bertemu dengan Jinyoung?” tawarku.

“Ani. Aku hanya bosan, jadi aku mampir disini dulu untuk lihat-lihat.”

“Oh..”

“Mau pulang?”

“Ekh?”

Aku merasakan angin sepoi-sepoi meniup rambutku. Setidaknya angin ini dapat menenangkan pikiranku yang kalang kabut.

“Kau sudah punya namjachingu?” tanyanya sedikit berteriak. Suaranya terdengar samar karena mesin motornya.

“Belum.”

“Kalau begitu sama. Oh iya, tadi aku lihat disekolahmu tidak ada yang cantik.”

“Hah?”

“Lupakan. Apa rumahmu yang ini?”

“Masih harus jalan sedikit kedepan. Kamsahamnida.”

“Ne. Cheonma.”

Selama tiga hari aku melaksanakan ujian ini, dan selama tiga hari ini juga Mark selalu mengantarku pulang. Jinyoung terus menjodohkanku dengan Mark. Dasar namja sialan. Dia tidak tahu apa, aku itu menyukai dia bukan saudara jauhnya!

Hari ini adalah hari terakhir. Jinyoung tengah bercakap-cakap dilobby utama sekolah.

“Caerin! Mark mau bertemu.” Jinyoung berjalan menghampiriku.

“Apaan sih? Kenapa harus aku?” ketusku dalam hati.

“Annyeong semuanya. Selamat sudah menempuh ujian akhir ini dengan baik.” Mark menghampiri kami.

“Apa dia tidak sibuk selama dikampusnya?” pikirku dalam hati.

“Dilihat-lihat Mark cocok juga dengan Caerin.”

“Jinyoungie!”

“Jangan begitu Jinyoung.” Joomi yang daritadi diam akhirnya angkat bicara.

Kami menatap Joomi heran, dan juga kaget pastinya.

“Ohh.. jadi yang menyukai Mark itu Joomi. Tak apa, kalian cocok juga.”

“Aku mau pulang.” Aku meninggalkan mereka dan pergi pulang.

“Kau sudah tahu kalau Jinyoung punya yeojachingu?” suara Jackson terdengar dari belakang.

“Kalau sudah tau memangnya kenapa?”

Dia terkekeh dan menatapku rendah.

“Pasti sudah punya incaran lain, Playgirl.” desisnya penuh penekanan.

“Cukup Jackson. Jangan ganggu!” Joomi mendorong tubuh Jackson entah sejak kapan dia datang. Bagusnya, Jackson menanggapi hal itu. Dia perlahan berjalan pergi.

“Kau tidak apa-apa kan Caerin?”

“Wae? Kenapa harus kau?!”

“Apanya?”

Aku menghela nafas berat.

“Apa benar kau menyukai Mark oppa?” tanyaku hati-hati.

Joomi terdiam.

“Aku.. jujur, aku menyukainya.”

“Hahaha… Caerin kita move on!”

“Wae? Kenapa malah ketawa?” tanyaku heran.

“Aku tidak menyukainya. Tenang saja. Lagipula aku setuju kalau kau dengan namja seperti Mark.”

Jadi seperti itu kenyataanya.

-Skip Time-

Sudah 1 bulan ini aku dan Mark menjadi dekat. HTS mungkin status kami saat ini.

“Caerin..”

“Ne?”

“Saranghae.”

Aku menatap Mark sembari tersenyum.

“Ada yang harus aku bicarakan.” ucap kami serempak.

“Oppa dulu.” pintaku.

“Baiklah. Minggu ini, aku akan pindah ke Amerika untuk melanjutkan studiku. Dan kira-kira aku baru pulang 4 sampai 5 tahun mendatang. Kalau kau? Tadi mau bicara apa?”

Aku terdiam sembari mengaduk-aduk sup yang kupesan direstoran ini.

“Ani. Selamat belajar.” ucapku pasrah.

Mark tersenyum lebar, lalu mengusap rambutku pelan.

“Aku akan merindukanmu.” bisik Mark.

“Nado.”

-Skip Time-

3 tahun telah berlalu. Mark benar-benar pergi. Kami sudah tidak pernah berhubungan lagi, tapi aku masih berharap padanya.

“Caerin, selamat atas kelulusanmu.” Jackson memberikan ku sebucket bunga. Hubungan kami sudah lebih baik sekarang, tapi tidak lebih dari seorang teman.

“Caerin!” Joomi langsung memelukku. Kami pun mengambil beberapa foto.

“Tak disangka, waktu berjalan sangat cepat. Serasa baru masuk SMA, ekh ternyata sekarang kita semua sudah lulus kuliah.” Komentar Joomi sembari melihat foto-foto yang tadi kami ambil.

Aku hanya terkekeh menanggapi sahabat cerewetku yang satu ini.

“Caerin, chukae.” Jinyoung menjabat tanganku. Tak banyak yang bisa lakukan kecuali tersenyum. Bagaimana tidak. Yeojachingunya sedang berdiri disampingnya. Lagipula, aku masih menantikan Mark. Itulah janji yang kubuat sendiri.

“Mark tidak ada?” tanya Joomi kembali.

Aku hanya menggeleng sembari berusaha untuk tersenyum.

Tiba-tiba seluruh pandanganku terhalang oleh telapak tangan seseorang.

“Caerin, miss me?” bisiknya ditelingaku.

Suara ini… akhirnya dia kembali.

—END—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s