My Story on 14-4 (Part 2)

Title: My Story on 14-4 (Part 2)
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Hwayeon

Genre: romance, comedy, friendship
Length: Chapter
Rating: PG-15

Moga-moga rame. Amin.
Ayo dong commentnya ditunggu ini.
Terimakasih buat yang udah ngelike “My Story on 14-4” baik itu Prolog ataupun Part 1 nya. (Yang kebelakang like juga ya ‘-‘)b)
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

Hari besar itu tiba. Aku seperti biasa memakai seragam dokterku, dan juga rambut dikucir satu. Tak lama 3 sedan putih melintas didepanku.

“Adik manis, itukah kau?” seseorang keluar dari mobil sedan yang berada ditengah.

“Kau lagi!?”

Dia terkekeh. Balutan tuxedo hitam dan dasi merahnya sangat tidak cocok untuk datang ke rumah sakit. Baik sebagai pengunjung, ataupun seorang pasien.

“Menunggu aku ya?” tanyanya antusias.

“Enak saja. Ada tamu penting yang harus aku temui.”

“Ohh iya Yoonhee, kau masih ingat namaku kan?”

“Pokoknya margamu Kim.” ketusku.

“Setidaknya kau masih ingat aku, sedikit. Ayo kita masuk, kau dokter kan?”

“Kau masuk saja sendiri. Untuk apa mengajakku? Aku kan sudah bilang, ada tamu penting yang harus aku temui. Lagipula, kalau kau sakit masih banyak dokter lain yang ada didalam dan tidak sibuk.” nada suaraku mulai meninggi.

“Tapi..”

“Kalau kau mau ganggu aku, lebih baik kau pulang!” kali ini aku benar-benar membentaknya.

Dia tersenyum. Dirogohnya saku belakangnya dan diambilnya dompetnya itu.

“Mungkin membantu, dan mungkin kau juga mengerti.”

Dia menyerahakan secarik kartu berwarna silver gelap. Aku mengambilnya secara kasar, lalu membacanya selintas.

“Omo, kau..”

Dia mengangguk. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum culas penuh kemenangan.

“Kau… mau menyogokku ya?” tanyaku heran.

Ditariknya kartu itu. Itu kartu ATMnya. Pabbo namja.

“Bukan yang ini.” Lagi-lagi dia merogoh saku belakangnya lalu meyerahkan secarik kartu berwarna putih.

“Maksudku kartu yang ini.” Diserahkannya kartu itu padaku.

“Oh, kau mau membohongiku lagi?” kataku jengkel. Direbutnya kartu itu dari tanganku.

“Apa kau tidak lihat? Ini kartu nama perusahaan Medical and Drugs South Korea. Perusahaan farmasi terbesar dan terkaya di Korea Selatan…”

“Aku tahu. Kau dapat mulung dari mana?” selaku.

“Mwo?! Kau.. itu..kau aish.. menyebalkan sekali.” ucapnya yang mulai naik darah.

“Dikira aku bodoh? Namanya jelas-jelas bukan namamu. Darimana aku bisa percaya.”

“Aku anak pemilik perusahaan ini.”

“Terserah. Jangan ganggu aku, itu saja yang kuinginkan.”

Seseorang dari mobil yang sama dengan Wonshik keluar dan memotong pembicaraan kami.

“Apa ada masalah tuan muda?” tanyanya perhatian.

Dia seorang yeoja yang masih muda tapi lebih tua daripada kami berdua. Mukanya seperti itu habisnya. Dandananya rapi dengan rambut tersanggul.

“Cih, apa itu panggilan sayang kalian? Kampungan.”

Aku berbalik meninggalkan Wonshik yang tengah berdebat kecil dengan yeoja itu.

“Sudah kubilang jangan keluar sampai aku minta.” bisik Wonshik yang masih terdengar cukup jelas ditelingaku.

“Arraseo tuan muda, tapi kurasa yeoja itu mengganggumu.” bisik yeoja itu membalas. Ya ampun. Apa mereka tidak tahu berapa Hz yang dipakai saat berbisik?

“Memang dia menggangu. Dari mukanya saja mengganggu.” bisikannya semakin dipelankan. Tapi tetap saja terdengar olehku.

“Yak! Apa kalian membicarakan diriku dibelakang? Sangat tidak sopan.” ucapku yang tidak bisa menahan amarah. Aku berbalik dan menatap geram mereka berdua.

“Kau pikir dirimu lebih sopan. Dia itu anak pemilik perusahaan Medical and Drugs South Korea!” bentak sang yeoja keras.

“Memang aku peduli?! Ekh, tunggu apa kau bilang? Medical-and-Drugs-South-Korea? Jadi dia benar?” ucapku perlahan tertahan malu.

“Kau kira aku bohong?!” yeoja itu membentakku lebih keras.

“Tenanglah sekertaris Han. Dia memang tidak tahu.” ucap Wonshik menenangkan.

Wonshik menatapku. Wajahnya yang menyebalkan menahan tawa. Oke, aku kalah sekarang.

“Ayo masuk dr. Jung, bisakah?” godanya.

Aku masuk duluan, kemudian Wonshik menyusulku. Kulihat kebelakang terdapat rombongan orang-orang. Ada manager, direktur, bendahara, 2 bagian kemanan, bahkan ada 3 pemilik perusahaan yang berencana untuk ikut menyumbang. Begitu kata Wonshik padaku. Dia yang memperkenalkan itu semua padaku.

“Baiklah, jadi ini adalah ruang operasi. Disini alat-alatnya sangat canggih. Dokter-dokter bedah disini juga sangat ahli dan cekatan dalam hal mendiagnosa ataupun dalam hal membedah pasien. Kita lanjutkan ke ruang X-RAY. Ruang X-RAY yang satu..”

“Tunggu dr.Jung.” sela Wonsik ditengah-tengah penjelasanku.

“Ada yang mengganggu Tuan Kim?” tanya sekertaris Han.

“Aku mau membicarakan masalah yang lebih detail lagi dengan dr. Jung. Empat mata. Jadi kalian tolong memisahkan diri dari kami berdua, dan lakukan survey sendiri.” pintanya tegas.

“Ta-tapi Tuan muda..”

“Aku tidak ingin disela, sekertaris Han. dr.Jung ayo kita pergi.” Wonsik menarik tanganku untuk masuk ke seuah ruangan.

Krek

“Kau harus diam saat masuk ruangan ini, tinggi.” ucapku memperingatkan.

Kami berdua masuk ke ruangan itu. Sepi, hening, tentram. Hanya terdengar satu atau dua mesin.

“Ruangan apa ini?” tanya Wonsik penasaran. Matanya meneliti dengan setail setiap sudutnya.

“Ruang bayi.” ucapku singkat.

“Ruang bayi?!” nada suaranya sedikit naik.

Dengan sigap, aku menahan mulutnya dengan telapak tanganku.

“Kau ini. Sudah kubilang jangan berisik. Kau ingin bayi-bayi ini bangun?”

“Tidak, tapi seingatku, ruang bayi bukan yang ini.”

Aku mendehem pelan.

“Ini ruangan khusus untuk bayi-bayi yang dibuang dan menunggu untuk dibawa pulang atau diadopsi.”

“Kasihan.” Sorotan matanya mulai berubah. Didekatinya seorang bayi, lalu digendongnya.

“Ibu mana yang tega membuang anaknya?” tanyanya pelan.

“Mereka punya masalah, dan alasannya masing-masing. Kita tidak tahu itu kan?”

“Kalau kau menjadi seorang anak, apa kau akan membuangnya?”

“Mau dia anak sah atau tidak, mau dia cacat atau sehat, mau dia perempuan ataupun laki-laki. Aku akan menganggapnya sebagai seorang anak dan tulus mencintainya. Ini janjiku sebagai seorang ibu dan juga seorang dokter.”

“Aku suka wanita yang tegar sepertimu.”

Dikembalikannya bayi itu ke tempat tidurnya.

“Huh? Apa maksudmu?”

Wonshik berjalan mendekatiku.

“Yak, tinggi, kau mau apa?”

“Shtt.. kau bisa membangunkan bayi-bayi itu nanti.” bisikknya.

“Wonshik-ssi.” ucapku lirih.

“Yoonhee..”

Dia menempatkan tangannya dipundakku.

“…ada benang.” dia mengambil seutas benang lepas dipundakku, lalu meniupnya.

“Go-gomawo.” ucapku canggung.

Krek

Sekertaris Han muncul dari balik pintu.

“Tuan muda, Tuan besar akan datang sebentar lagi. Dia ingin langsung mendengar presentasinya.”

“Kalau begitu, ayo. dr. Jung, kau bisa melakukan presentasinya dengan baik dan memuaskan appaku kan?” tanya Wonsik meragukan.

“Tentu saja bisa.” jawabku mantap.

Aku dan Wonshik berkumpul dengan rombongan tadi, lalu pergi ke ruang meeting.

Tak lama, seorang pria paruh baya menyusul ke ruang meeting. Semua rombongan itu membungkuk. Oh, jadi ini Tuan Kim, yang sebenarnya.

“Annyeonghasaeyo. Saya dr.Jung yang akan menjelaskan tentang rumah sakit hari ini.”

Dia hanya mengangguk angkuh mendengar sapaanku.

Aku memulai presentasi itu. Semuanya berjalan lancar sampai akhir.

“Sekian presentasi dari saya. Terimakasih atas perhatian anda sekalian.” Aku menutup presentasi itu.
Wonshik beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiriku.

“Mianhae.”

Dirangkulkannya tangan itu kepinggangku, lalu bibirnya menyentuh bibirku. Kita berciuman? Didepan orang banyak?! Bahkan didepan appanya?!!!

Brak

“Wonshik, apa apaan ini?!” bentak Tuan Kim sembari menggebrak meja.

Wonsik melepaskan ciuman singkat itu lalu memandangku. Matanya berkabut dan dadanya naik turun seakan sulit bernafas. Begitu juga denganku. Kuakui, memang ciuman ini tidak panas, tapi ini adalah pertama kalinya untukku, dan juga untuknya, kurasa.

“Semuanya keluar! Kecuali kau, Wonshik-ssi.” bentak Tuan Kim sekali lagi.

Semuanya menuruti apa yang diperintahkan Tuan Kim, begitu pula aku.

“Apa kau ini masih punya harga diri? Apa yang kau lakukan tadi?! Memalukan! Bikin jelek nama keluarga. Lagipula, siapa yeoja tadi? Yeojachingumu? Dari kaum mana dia? Apa dia sama seperti kita?”

“Abeoji!”

“Ingat itu. Jangan pernah bikin malu nama keluarga! Jaga harga diri!”

Suara itu terdengar menegangkan dari luar. Aku bahkan masih bisa mendengar percakapan diruang meeting yang sama sekali tidak kedap suara. Salahnya diriku mendengar percakapan itu. Kaum? Apa ini berbicara tentang kasta? Kuakui, aku dari kaum menengah keatas. Tapi setidaknya aku berintelek, pintar, dan juga seorang dokter. Bisa-bisanya Tuan Kim memandangku sebelah mata. Bukan harga diri Wonshik yang hilang, tapi harga diriku yang diinjak-injak.

Tak lama Tuan Kim yang angkuh itu keluar dari ruang meeting dan bergegas pulang.

“Yoonhee..”

Wonshik yang baru keluar memanggil namaku. Sepertinya dia tahu kalau aku mendengar semua percakapan tadi.

“..maafkan appaku berkata seperti itu. Dia tidak ber..”

Plak

Aku menamparnya keras.

“Yoonhee…” panggilnya lirih.

“Kau menciumku didepan orang-orang berduit itu! Kau menciumku, kau tahu itu?! Kau membuat harga diriku jatuh! Apa maksudmu tadi?! Biar appamu menatap aku wanita murahan, eoh?! Harga diriku diinjak-injak karenamu tahu!”

“Yoonhee, mian..”

Plak

“Aku sudah puas menamparmu sekarang. Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir kalinya, tinggi.”

Aku berjalan menjauh darinya. Tidak Yoonhee, kau tidak boleh menangis. Semua orang akan menatapmu lebih rendah nantinya. Apa ini bagian dari kutukan juga? Selain jomblo, apa garis hidupku juga keras?

Drtt drtt

“Yeobusaeyo?”

“Eonni, besok ada kencan. Aku sudah mengatur tempat dan jadwal. Tunggu…kau menangis?”
Aku menyeka air mataku. Ternyata air itu mengalir juga.

“Ani. Lanjutkan. Beritahu aku kapan dan dimana kencan itu.”

“Tumben kau mau ikut acara kencan yang aku buat. Kencannya besok, jam 9 malam di restoran local dekat perempatan.”

“Arraseo. Aku akan kesana besok. Gomawo. Annyeong.”

“Annyeong.”

Mungkin benar kata peramal, si Nn.Kim. aku harus cepat-cepat mencari namja, agar kutukan black dayku bisa hilang.

Esok hari pun tiba, setelah kerja, aku langsung berdandan seadanya untuk kencan. Kulirik jam tanganku ini sudah pukul 9 lebih, bagaimana ini. Kau memberikan kesan pertama yang buruk. Aku cepat-cepat ke restoran itu. seorang pelayan mengantarkanku ke meja yang sudah dipesan oleh Hwayeon sebelumnya. Aku duduk dengan gelisah. Bagaimana kalau pria itu jelek? Bagaimana kalau pria itu tua? Bagaimana kalau pria itu tampan, tapi tidak menyukaiku? Bagaimana kalau pria itu duda? Arghh!! Pabbo, harusnya aku bertanya dulu pada Hwayeon. Namja jenis apakah yang akan kukencani nantinya. Aku mengacak-acak rambutku histeris. Menyesal aku mengikuti kencan ini.

“Ini pesanannya nona.” seseorang datang dari arah belakang lalu memberikanku sebuah tudung saji seng yang tertutup.

“Mi-mian, tapi aku belum memesan. Mungkin kau..”

Dia membuka tudung sajinya.

“Tung-tunggu.. ini??”

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s