My Story on 14-4 (Part 1)

Title: My Story on 14-4 (Part 1)

Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Kim Wonshik aka Ravi (VIXX)

Other cast:
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Hwayeon

Genre: romance, comedy, frindship
Length: Chapter
Rating: PG-15

Maap lanjutannya lama. Author banyak kerjaan.
Abisnya nungguin yang komen gaada, jadi lama. #ngelestapireal
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.
.
.
.

“Aura kutukan black day itu sangat kental didalam dirimu.”

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku serius.

“Ada seorang namja baik dan tampan yang dapat meghapus segala kutukanmu itu..”

“Apa ada? Kau berbohong ya?”

Ahjumma itu menggeleng.

“Lalu dimana aku harus mencarinya?” nada bicaraku semakin serius.

“Jodoh tak perlu dicari. Tak lama kau akan menemuinya.”

Suasana café itu mendadak serius. Semua orang menatap kearahku seakan sedang melihat orang yang terkutuk. Ehmm, kayanya aku memang orang yang terkutuk.

“Sudahlah Yoonhee. Oh, iya lebih baik kau pergi ke rumah sakit sebelum terlambat. Sebentar lagi waktu istirahatmu akan berakhir.” Hyojin mendorong-dorong tubuhku untuk berdiri. Eunhye pun ikut-ikutan mendorong tubuhku.

“Eonni, kalian ini kenapa?” rontaku.

“Sudah diam saja. Ini aku membelikanmu vanilla latte favoritmu. Sana cepat pergi.” Mereka mendorongku sampai kepintu keluar. Memang normal itu tabu ya bagi kami.

Aku pun berbalik dan..

“Aww! Panas!” jeritnya.

Berkat kecerobohanku, seluruh isi vanilla latteku menjadi pulau di kemeja putih yang dipakainya.

“Aishh.. mianhae. Aku tidak melihatmu.” ucapku dengan nada memelas.

Tubuhnya tinggi semampai dengan postur tubuh yang kecil berisi. Dengan kedua tangannya yang kekar, dia mencoba untuk mengusap badannya yang tersiram vanilla latteku.

“Mianhae.” Aku mengatakan rasa bersalahku untuk kedua kalinya dengan nada yang lebih keras lagi agar dia mendengarnya.

Dia menatapku dengan tatapan marahnya. Ekspresinya sangat jengkel. Wajahnya oval. Matanya yang tidak terlalu besar, hidung mancung dan bibir kecilnya. Dia tampan. Apa mungkin dia jodohku?

“Ada seorang namja baik dan tampan yang dapat meghapus segala kutukanmu itu..”
“Jodoh tak perlu dicari. Tak lama kau akan menemuinya.”

Kata-kata ajhumma peramal tadi tiba-tiba terlintas dipikiranku. Apa dia orangnya?

“Yak, pendek. Kau tidak punya mata ya?!” ujarnya jengkel.

“Pendek? Aku maksudmu?” tanyaku linglung.

“Iya, kenapa? Tidak suka?” nada suaranya semakin meninggi.

“Dasar tinggi.” desisku pelan.

“Oohh.. kau berani juga ya? Pendek menyebalkan.” sorot matanya semakin menyala-nyala. Ternyata terdengar juga ya?

“Aku pendek saja menyebalkan. Apalagi kau yang tinggi?” ejekku tak mau kalah.

“Aishh..” dia menggeram marah menunjukkan urat-urat lehernya yang ditarik emosi.
Dengan kasar, dia memberikan HPnya padaku.

“Tulis nomormu. Aku akan menelponmu untuk bayar ganti rugi.” ucapnya dengan nada yang sudah mulai pelan. Kurasa dia ingin menyudahi aksi teriak-teriakan ini.

“Baiklah.”

Dengan patuh aku mengetik nomor HPku. Gini-gini aku juga yeoja yang bertanggung jawab. Aku pun mengembalikan HPnya setelah selesai mengetik.

“Aku akan telepon sesudah kemeja ini selesai dilaundry.” ujarnya dengan nada mengancam.

“Lakukan apa yang ingin kau lakukan.”

Aku pun meninggalkannya dan segera masuk ke mobilku yang terparkir tak jauh dari café itu.

“Sial.” ucapku singkat. Kuakui aku memang ceroboh, tapi hari ini bukanlah hari yang tepat untuk melakukan hal seceroboh itu terutama dengan orang yang semenyebalkan itu. Hari ini adalah hari ketiga aku magang di salah satu rumah sakit di Korea. Hari yang cukup sibuk dan melelahkan. Mungkin moodku belum begitu baik.

Dengan tenang aku mengendarai mobil sedan hitamku ke tempat tujuan.

“Ada seorang namja baik dan tampan yang dapat meghapus segala kutukanmu itu..” “Jodoh tak perlu dicari. Tak lama kau akan menemuinya.” kuulangi kata-kata ajhumma peramal tadi dengan nada menegejek.

“Apa kau bodoh? Bagaimana namja semenyebalkan itu bisa masuk kedalam pikiranmu!” aku mulai menghina-hina diriku sendiri.

Drtt drtt

HPku bergetar. Sederet angka yang tak kukenal menelpoku masuk.

“Nugusaeyo?” tanyaku sopan.

“Suaramu ditelpon sangat berbeda. Berat seperti namja. Kau ini yeoja atau namja?” suara diujung sana terdengar familiar.

Wait, ini..

“Yak tinggi, ada apa? Apa bajumu sudah selesai di laundry?” ucapku malas disertai desahan nafas berat yang putus asa. Kenapa hidupku harus dihadapkan dengan cobaan terberat, yaitu si tinggi menyebalkan?

“Belum. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang.” nada suaranya tetap sama, tenang namun menyebalkan.

“Lalu?” tungkasku. Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang.

“Kau sedang menyetir ya?” nada suaranya berubah menjadi kesal.

“Sudah tahu untuk apa bertanya.” ucapku dengan kesal tak mau kalah.

“Yak! Kalau sedang menyetir jangan telepon. Bahaya. Nanti kalau kau hilang konsentrasi, lalu tabrakan. Kau mati, siapa yang bayar uang laundry kemejaku?” dia menyentakku keras, sampai-sampai membuatku terpenjat.

“Kalau sudah tahu bahaya, untuk apa menelpon?!”

Sebuah bentakkan kuberikan padanya. Tombol merah itu aku pencet, dan percakapan kami usai. Namja aneh.

Kuparkirkan mobil sedanku ke pakriran khusus dokter. Lupakan dia sebentar Yoonhee, dan fokuslah dalam pekerjaanmu.

Drtt drtt

“Kau sudah selasai menyetir? Sekarang kau dimana?”

“Aku ada di tempat kerjaku. Wae? Apa kemejamu sudah selesai dilaundry?”

“Belum. Aku hanya merindukanmu.”

“Cukup main-mainnya, tinggi. Telepon aku saat kemejamu sudah selesai dilaundry saja. Itu kesepakatan kita tadi.”

“Tapi ak..”

“APA?!”

“Lihat kepintu.”

Seorang namja yang memiliki wajah familiar yang sangat menyebalkan itu tengah berdiri didekat pintu lobby. Dilambaikan jemarinya itu sembari tersenyum padaku.

“Apa yang kau lakukan?!” bentakku seraya menghampirinya.

“Memastikan kau tetap hidup.” jawabnya enteng.

Aishh.. kubalikkan badanku dan mengabaikan si tinggi yang tengah memanggil-manggil namaku.

Drtt drtt

“Apa lagi, tinggi?” bentakku jengkel.

“Pabbo eonni, ini aku. Siapa si tinggi? Namjachingumu?”

“Lupakan. Ada apa menelpon.”

“Aku ingin mengajakmu nonton besok sore. Luangkan waktumu untuk menonton ya.”

“Entahlah. Aku sedang sibuk, kau kan tahu sendiri.”

“Pabbo! Itu kenapa namja tidak ada yang menyukaimu. Kau itu workaholic sibuk yang jomblo dan juga pabbo.
Pokoknya aku tunggu besok. Jangan lupa bawa si tinggi namjachingumu itu.”

“Yak, Hwayeon..”

Tut tut

Aishh.. satu lagi penderitaan dihidupku.

-Besok Sore-

“Aku berani bertaruh, Yoonhee pasti tidak akan datang.” ucap Hyojin yang sudah tidak sabar.

“Tenang dia pasti datang.” Hwayeon menenagkan.

“Ma-af ter.. terlam-bat.” ucapku tersenggal-senggal.

“Sudah kubilang. Dia itu tepat janji, tapi tidak pernah tepat waktu.” Hwayeon memberikan selembar tiket bioskop yang sudah dipesannya daritadi.

“Eunhye dengan Jungkook. Hyojin dengan Changhyun. Hwayeon denganku. Lalu kau dengan siapa Yoonhee?” absen Kyuhyun menyindir. Suami istri tak ada bedanya.

“Oppa. Sudah biarkan dia. Percuma menyindir, dia tidak akan punya namjachingu dalam jangka dekat ini.” timbal Hwayeon.

“Aishh.. jinjja..” desisku kesal. Kalau tahu ini acara “romantis bersama pasangan” aku tidak akan datang. Menjadi bual-bualan, itu pasti yang akan aku dapatkan. Kami bertujuh masuk dan langsung duduk berderetan dengan formasi Kyuhyun-Hwayeon-Eunhye-Jungkook-Changhyun-Hyojin-Aku-Kosong..

“Datang dengan pacar “idaman”?” sindir Hyojin keras.

“Dasar pasangan yang mau menikah.” ejekku tak mau kalah.

“Memang.” Hyojin memamerkan cincin tunangan yang Changhyun beri.

“Kau iri Yoonhee? Aku masih punya banyak teman yang senasib denganmu. Mau kukenalkan?” tanya Changhyun dengan bumbu sindiran juga.

“Kalian ini..” ucapku dengan amarah yang ditahan.

“Sudahlah, filmnya mau mulai.” Hyojin menyudahi.

Lampu perlahan dimatikan. Keaadaan gelap membuatku susah melihat.

“YAK!” aku terpenjat ketika mendapati popcorn jatuh ke pangkuanku. Semua pengunjung menatap kami kini dengan tatapan mengintimidasi. Oke, diam. Aku tahu. Aku hanya kaget.

“Mianhae.” Orang yang menumpahkan popcornnya mengambil tempat popcorn dari pangkuanku.

“Ting-gi?” tanyaku hati-hati.

“Ekh, ternyata kau pendek. Dunia sempit ya.” ucapnya sembari tesenyum tanpa dosa.

Dia duduk disampingku. Sialan, dunia memang sempit.
Film dimulai. Aku baru menyadari. Ini film horror?

“Kau takut tidak?” tanya tinggi sok ramah.

Aku tak menjawab. Daritadi aku hanya mencari posisi duduk yang enak. Jika tinggi teman sebelahku, semua posisi juga dapat membuatku risih.
Baris J. disini kami duduk. Jika kalian lihat, setiap ada adegan yang mengejutkan, Hwayeon akan bersembunyi kedalam pelukan Kyuhyun. Begitu juga Jungkook yang langsung merangkul Eunhye, Changhyun dan Hyojin yang sama-sama berhadapan menutup mata mereka. Tapi hanya aku yang paling terganggu. Bukan, aku tidak cemburu. Sedikit mungkin.

“Jangan pegang-pegang.” bisikku mengancam.

“Aku takut. Bolehkah aku memegang tanganmu.” tanya Tinggi sembari berusaha amerangkul lengan atasku. Wajahnya seperti anak kelas 5 SD yang buang air kecil dicelana.

“Kalau tahu takut. Untuk apa menonton?” tanyaku menyindir.

“Dikira bioskop ini hanya punyamu? Ini tempat umum tahu.” Wonsik membentakku. Aku hanya melongo. Lagi-lagi semua pengunjung menatap kami kini dengan tatapan mengintimidasi. Kalian bisa nobatkan Tinggi dan aku sebagai pasangan terberisik didalam bioskop hari ini. Ekh, tunggu. Jangan pakai kata pasangan. Menjijikan.

“Kau kok tidak takut?” tanya tinggi penasaran.

“Karena aku bukan penakut sepertimu… lelaki jadi-jadian.” desisku pelan.

“Kau ingin aku teriak lagi. Oke.” Tinggi membuka mulutnya lebar-lebar. Mengambil ancang-ancang untuk berteriak.

“Diam. Dasar kau memalukan.” aku menutup mulutnya dengan tanganku.

“Makanya pinjamkan tanganmu untukku pegang.” dia tersenyum penuh kemenangan ketika aku hanya pasrah saja. Aku tak habis pikir. Orang tua macam mana yang memiliki anak sepenakut ini. Dan juga genit.

“Argghh!!” teriak si tinggi.

“Argghh!!” teriakku ikut-ikutan.

“Kau takut juga ternyata?” tanya si tinggi sembari mendelik.

“Ani. Aku teriak karena kau berteriak ditelingaku.” elakku.

“Memangnya kapan aku teriak.”

“Aishhh.. terserah padamu.”

Film akhirnya selesai. 2 jam penderitaan bagiku.

“Bagaimana filmnya tadi? Sangat menakutkan tahu. Apalagi saat..” hah, iya-iya. Katakan apa yang kau mau katakan tinggi. Aku sama sekali tidak fokus menonton karena kau terus mengangguku.

“Jadi ini si tinggi namjachingumu?” tanya Hwayeon yang mendapati kalau si tinggi masih memegang lenganku.

“Ani. Ini tidak, bukan.. apa yang kau maksud..” ujarku membela diri.

“Wonshik Kim? Lama tak bertemu.” Kyuhyun berjalan maju mendekati tinggi, lalu menjabat tangannya.

“Hyung. Lama juga tak bertemu.” ucap tinggi membalas. Jadi namanya Kim Wonshik?

“Jadi kau namjachingu Yoonhee? Akhirnya kau punya yeojachingu juga ya. Dilihat-lihat, kalian ini senasib ya. Sama-sama jomblo awet. Kita tunggu undangannya ya.” ucap Kyuhyun. Memang dasar Hwayeon dan Kyuhyun sama-sama memiliki lidah yang tajam. Terimakasih loh.

“Jadi pedek itu Yoonhee?” goda Wonshik sembari membungkukkan badannya menatap wajahku.

“Diam tinggi.” ketusku memalingkan wajah darinya.

“Kelihatannya aku lebih tua darimu. Mulai sekarang panggil aku Wonshik oppa. Mengerti adik manis?” lanjutnya menggoda.

“Diam tinggi!” aku menginjak kaki Wonshik.

“Aww!” rintihnya.

“Jangan ganggu aku!” ujarku memperingatkan.

Aku segera berpamitan dan langsung menuju ke parkiran mobil.

“Sialan hari ini.” umpatku didalam mobil.

Aku pun segera pulang dan tidur. Melupkan kejadian memalukan hari ini.

Terlambat? Aishh.. kebiasan buruk Yoonhee! Aku segera mengendarai mobilku menuju rumah sakit. Matahari sudah naik cukup tinggi. Pasti penampilanku saat ini sangat berantakan.
Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit sembari menyisir rambut kusut baru bangun tidurku. Masalahnya pagi ini ada rapat. Pasti aku kena tegur.

Knock knock

“Masuk.” perintah suara dari dalam.

Aku pun segera masuk. Semua dokter dan staff sedang berkumpul disini.

“Dokter Jung.” panggil manager rumah sakit, dr.Song.

“JUNG YOONHEE!” panggilnya sekali lagi dengan geram.

Aku menatapnya sekilas lalu langsung menunduk malu.

“Sudah terlambat, melamun lagi. Kau orang baru disini. Jaga sikap. Ingat itu dr. Jung. Aku memperingatkanmu.” lanjutnya marah.

“Ne. Mianhae jeongmal.” ucapku lirih.

“Yang lain boleh keluar, dr. Jung diam disini. Aku ingin bicara.” pinta dr. Song tegas.

Semua orang menuruti perintahnya. Setelah semua orang keluar, dr. Song menyuruhku untuk duduk.

“Kau tahu rapat tadi membicarakan apa?” tanya dr.Song.

“Tidak, maaf aku terlambat. Aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Aku pegang kata-katamu itu. Jadi, rapat tadi membicarakan tentang kunjungan besok Jumat oleh perusahaan farmasi terkaya di Korea. Namanya Medicine and Drugs South Korea. Perusahaan itu juga penyumbang terbesar bagi rumah sakit ini.” jelasnya.

“Iya. Lalu?” tanyaku mulai curiga.

“Aku ingin kau jadi penerima tamu mereka. Pemilik perusahaan itu akan datang berkeliling dan berkunjung.

Dia juga akan mengecek tenaga kerja disini. Apakah layak untuk tetap diberi sumbangan atau tidak. Aku mohon kerja samanya, dr. Jung.” lanjutnya menjelaskan.

“Baiklah. Tapi kenapa harus aku.”

“Kau pandai berkata-kata dan juga sering tertawa. Tidak seperti dokter-dokter disini yang memiliki wajah suram.” Katanya dengan sedikit humor.

“Baiklah. Aku mengerti.”

“Kau boleh keluar sekarang.”

Aku keluar dari ruang rapat. Hari jumat berarti lusa? Aku mulai menyiapkan semuanya. Menyusun kata-kata, mempelajari ruangan-ruangan yang ada, membuat presentasi, menghafal nama-nama dokter yang ada beserta susunannya, dan yang paling sulit adalah sopan santun serta tata karma. Bahkan aku juga ikut mendekor rumah sakit.

Hari besar itu tiba. Aku seperti biasa memakai seragam dokterku, dan juga rambut dikucir satu. Tak lama 3 sedan putih melintas didepanku.

“Adik manis, itukah kau?” seseorang keluar dari mobil sedan yang berada ditengah.

“Kau lagi!?”

Dia terkekeh. Balutan tuxedo hitam dan dasi merahnya sangat tidak cocok untuk datang ke rumah sakit. Baik sebagai pengunjung, ataupun seorang pasien.

“Menunggu aku ya?” tanyanya antusias.

“Enak saja. Ada tamu penting yang harus aku temui.”

“Ohh iya Yoonhee, kau masih ingat namaku kan?”

“Pokoknya margamu Kim.” ketusku.

“Setidaknya kau masih ingat aku, sedikit. Ayo kita masuk, kau dokter kan?”

“Kau masuk saja sendiri. Untuk apa mengajakku? Aku kan sudah bilang, ada tamu penting yang harus aku temui. Lagipula, kalau kau sakit masih banyak dokter lain yang ada didalam dan tidak sibuk.” nada suaraku mulai meninggi.

“Tapi..”

“Kalau kau mau ganggu aku, lebih baik kau pulang!” kali ini aku benar-benar membentaknya.

Dia tersenyum. Dirogohnya saku belakangnya dan diambilnya dompetnya itu.

“Mungkin membantu, dan mungkin kau juga mengerti”

Dia menyerahakan secarik kartu berwarna silver gelap. Aku mengambilnya secara kasar, lalu membacanya selintas.

“Omo, kau..”

Dia mengangguk. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum culas penuh kemenangan.

“Kau… mau menyogokku ya?” tanyaku heran.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s