My Story on 14-4 (Prolog)

Title: My Story on 14-4 (Prolog)
Author: Jung Yoonhee

Cast:
o Jung Yoonhee (OC)
o Someone

Other cast:
o Park Eunhye
o Cho Hyojin
o Kim Hwayeon

Genre: romance, comedy
Length: Chapter
Rating: PG-15


Ini FF special for My Birthday.
Buat yang gatau black day itu apa. Coba cari di abang kita tercinta, abang Google.
Typo? Itu mata kalian yang salah bukannya author #gamaudisalahin.
Kesamaan cerita mungkin author ga sengaja ‘-‘)v
No plagiat.
No bash.
Jangan lupa comment.

WARNING:
Membaca ini dapat membuat anda tidak mengerti dan berpikir lebih keras lagi. Bagi para orang-orang yang banyak pikiran, dianjurkan dulu untuk berdoa sebelum membacanya. Tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang pintar yang jalan pikirannya sama dengan author untuk mengerti. Kalian hebat. Bagi para orang terpilih yang dapat membaca FF ini, Happy Reading. ^^

.
.
.

*Yoonhee POV*

Seketika café ini menjadi gaduh karena kedatangan kami. Aku dan teman-temanku, geng Spicy Wings ini. Sudah menjadi hal yang rutin, setiap akhir minggu kami berkumpul dan bersantai.

“HAHAHAHA..” tawa kami terdengar begitu bergema dan menggelegar.

“Bisakah kalian pelankan sauara kalian sedikit?!” seorang pengunjung café risih dan memarahi kami.
Hwayeon bangkit dari duduknya dan memanggil pemilik café ini. Mereka sedikit berdiskusi, lalu Hwayeon menuliskan sebuah cek dan memberikannya kepada pemilik café itu.

“Kalian semua tidak ada yang boleh protes. Aku ini sudah membeli seluruh café ini, beserta isinya. Jadi kalian daim saja. Aku yang berkuasa disini.” Setelah pidato singkat Hwayeon itu berakhir, kami bertiga bertepuk tangan. Ini adalah café ketujuh yang dia beli karena kejadiannya sama seperti ini. Ada pengunjung yang protes, Hwayeon langsung membelinya. Jika ada yang tidak setuju, Hwayeon akan mengusir orang yang menurutnya mengganggu itu. Uang bukanlah yang dimasalahkan oleh Hwayeon. Walaupun dia yang paling muda, dialah yang menikah paling pertama. Cho Kyuhyun, namja kaya itu adalah suami Hwayeon. Itu kenapa uang tidak masalah bagi uri magnae. Oh, iya ada sesuatu yang paling aku benci kalau kita berkumpul seperti ini. Karena mau membahas apapun pasti topic itu pasti akan terungkit lagi.

“Ini, kalian harus datang mau tidak mau.” ujar Hyojin sembari membagikan undangan pernikahannya dengan Yoo Changhyun diakhir Desember nanti.

“Kau akan datang dengan namjachingumu kan?” tanya Hyojin dengan nada mengejek.

Nah, ini lah topic yang paling kubenci.

“Eonni, mana mungkin Yoonhee punya namjachingu. Dia kan…”

“..sibuk…”

“..galak…”

“..cuek…”

“..dan pabbo!”

“Yak, Hwayeon, pabbo tidak masuk hitungan!” ujarku membela diri. Sudah biasa aku diejek seperti ini. Masalahnya semuanya itu benar. Hwayeon dan Hyojin terlalu teliti dalam hal nilai menilai.

“Sudahlah. Kalian jangan ganggu Yoonhee terus.” Eunhye yang daritadi hanya diam akhirnya angkat bicara. Dialah satu-satunya orang yang membelaku. Beruntung Jungkook punya istri sebaik ini. Gomawo mature eonni.

“Eunhye eonni, jangan bela Yoonhee pabbo terus dong. Dia kan jomblo yang kena kutukan black day.”

“YAK! Hwayeon magnae menyebalkan tutup mulutmu!” ujarku kesal.

“Tapi ada benarnya juga apa yang Hwayeon katakan. Dulu semasa SMA kita sepakat untuk menikah pada usia 24 tahun. Hwayeon menikah lebih awal, 23 tahun. Aku 24 tahun, dan Hyojin kan menikah tahun ini saat usianya 25 tahun. Tapi kau, belum punya namjachingu. Apa kita harus ke peramal? Kurasa hari lahirmu ada sangkut pautnya dengan black day. Kau kena kutukan black day!” Eunhye berteriak lantang. Dengan wajah brilian, telunjuk yang mengarah pasti ke wajahku dan bibirku yang mempout. Semua pengunjung café akhirnya melirik kearahku. Ya Tuhan, kenapa teman-temanku tidak ada yang normal? -.-“

“Itu benar. Dia kena kutukan black day..” seorang ahjumma berdiri. Pakaiannya hitam-hitam. Make upnya juga hitam. Kulitnya sepucat mayat. Dia adalah mayat menor hidup yang tengah meneror café Hwayeon /begitu kesimpulanku/.

“.. biarkulihat gigimu.”

“Mwo?”

Belum sempat aku menolak, dia sudah menarik daguku dan dengan paksa membuka mulutku.

“Gigimu bagus. Sikat gigi berapa kali?”

“2 kali. Pagi sesudah bagun tidur, dan juga malam sebelum tidur.”

“Bagus. Hindari makanan yang mengandung banyak gula ya.”

Aku hanya mengangguk saja.

“Tunggu, kau ini siapa?” sela Hwayeon.

“Aku adalah mantan peramal yang merangkap sebagai dokter gigi. Ini kartu namaku. Kalau ingin pasang behel sedang ada promo.”

“Apa iya?” Eunhye langsung merebut kartu nama itu.

“Panggil aku Nn. Kim.”

“Nn. Kim, apa kau bisa memasangkan behelnya digigiku? Lihat gigiku begitu berantakan.” Eunhye membuka mulutnya lebar-lebar.

“Yak, eonni. Kita membutuhkannya sebagai peramal bukannya dokter gigi.” ucap Hyojin yang sepertinya sudah naik pitam.

“Kalau kau benar peramal, coba ramalkan bagaimana pernikahanku dengan Changhyun nantinya?”
Ahjumma itu memejamkan matanya dan mulai mengacak-acak wajah Hyojin.

“Changhyun akan kewalahan.” jawabnya mantab.

“Wae?” tanya Hyojin heran.

“Karena kau itu yeoja yang agresif.”

“Woahh.. bagaimana kau tahu?” Ahjumma itu tersenyum.

“Ada lagi yang mau diramal?” tantangnya.

“Bisakah kau ramalkan kapan suamiku Cho Kyuhyun akan bangkrut?” Hwayeon mendekatkan wajahnya kearah ahjumma peramal itu.

“Hwayeon pabbo. Apa maksudmu itu?” protesku.

“Aku bosan hidup kaya dengan Kyuhyun. Apa aku harus cari suami miskin?” tanyanya tanpa nada berdosa sedikitpun.

“Yak! Hwayeon jinjja pabbo!” bentakku. Dasar magnae gila.

Ahjumma peramal itu mengacak-acak wajahku.

“Aura kutukan black day itu sangat kental didalam dirimu.”

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku serius.

“Ada seorang namja baik dan tampan yang dapat meghapus segala kutukanmu itu..”

“Apa ada? Kau berbohong ya?”

Ahjumma itu menggeleng.

“Lalu dimana aku harus mencarinya?” nada bicaraku semakin serius.

“Jodoh tak perlu dicari. Tak lama kau akan menemuinya.”

Suasana café itu mendadak serius. Semua orang menatap kearahku seakan sedang melihat orang yang terkutuk. Ehmm, kayanya aku memang orang yang terkutuk.

“Sudahlah Yoonhee. Oh, iya lebih baik kau pergi ke rumah sakit sebelum terlambat. Sebentar lagi waktu istirahatmu akan berakhir.” Hyojin mendorong-dorong tubuhku untuk berdiri. Eunhye pun ikut-ikutan mendorong tubuhku.

“Eonni, kalian ini kenapa?” rontaku.

“Sudah diam saja. Ini aku membelikanmu vanilla latte favoritmu. Sana cepat pergi.” Mereka mendorongku sampai kepintu keluar. Memang normal itu tabu ya bagi kami.
Aku pun berbalik dan..

“Aww! Panas!” jeritnya.

Berkat kecerobohanku, seluruh isi vanilla latteku menjadi pulau di kemeja putih yang dipakainya.

—TBC—

Advertisements

Leave a Reply Here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s